Anda di halaman 1dari 54

1

BAB I
PENDAHULUAN


Pertumbuhan perekonomian yang terus meningkat serta berkembangnya
daerah-daerah baru sebagai pusat pemukiman penduduk, mengakibatkan kebutuhan
masyarakat akan bertambah pula. Di daerah Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam,
peningkatan pembangunan terus ditingkatkan baik dalam bidang perekonomian,
pendidikan, komunikasi dan transportasi.
Dalam bidang pembangunan transportasi tidak terlepas dari jembatan.
Pembangunan suatu jembatan bertujuan untuk menunjang pertumbuhan arus lalu
lintas yang menghubungkan jalan yang dipisahkan oleh sungai, rawa, jurang atau
yang lainnya.
Konstruksi jembatan yang penulis rencanakan dalam laporan ini mempunyai
panjang bentang 10.8 m ; lebar 7 m dan tergolong dalam kelas 2B. lantai jembatan
terbuat dari beton bertulang dengan mutu beton K 250 dengan tebal lantai 20 cm,
mutu baja U-24, bentang jembatan diletakkan diatas pondasi sumuran.
Pembahasan dan poenulisan Projeck Work ini hanya dibatasi pada
perencanaan pondasi sumuran di salah satu abutment. Dalam perencanaan pondasi
sumuran ini, pembebanan yang bekerja pada jembatan dihitung berdasarkan Pedoman
Perencanaan Pembebanan Jembatan Jalan Raya (PPPJJR-1987). Untuk perhitungan
analisa lainnya berdasarkan literature yang berhubungan dengan perencanaan pondasi
sumuran.
Kesimpulan yang diperoleh dalam perencanaan kembali ini antara lain :
kedalaman pondasi 2 m dari lantai kerja abutment, pondasi 3,5 m, tebal dinding
sumuran 30 cm, tulangan berdiameter 16 20 cm dan tulangan vertikal digunakan
diameter 16 - 20 cm.


2

BAB II
DASAR TEORI

Pondasi adalah bagian dari suatu bangunan yang berfungsi sebagai penahan
beban bangunan dan diteruskan kelapisan tanah keras. Pondasi sumuran biasanya
digunakan apabila lapisan tanah keras berada pada kedalaman 2 7 m. menurut buku
keterangan Tarzaghi dan RB. Peck, tahun 1991, dengan judul Mekanika Tanah dalam
praktar Rekayasa, jilid II, dijelaskan bahwa pondasi sumuran lebih besar dari 5
(DFG/B>5). Berdasarkan penjelasan tersebut, maka untuk memindahkan beban-
beban yang bekerja pada jembatan ke atas lapisan tanah keras dipakai pondasi
sumuran.
Untuk mencapai sasaran dalam perencanaan pondasi sumuran, pada bab ini
dibahas beberapa teori dan penggunaan rumus dari beberapa referensi yang
berhubungan dengan perencanaan pondasi sumuran.

2.1 Pembebanan
Beban yang bekerja pada pondasi merupakan beban-beban yang diteruskan dari
bangunan diatasnya. Beban-beban tersebut terdiri dari beban primer, beban sekunder,
beban khusus dan kombinasi pembebanan. Beban-beban tersebut dihitung
berdasarkan Pedoman Pembebanan Jembatan Jalan Raya (PPJJR) 1987.

2.1.1 Beban Primer
Beban primer merupakan beban utama pada perencanaan konstruksi jembatan.
Beban primer terdiri dari beban mati, beban hidup, dan beban kejut. Beban mati
adalah semua beban yang berasal dari beban sendiri dari konstruksi jembatan
tersebut. Berat konstruksi jembatan bangunan atas terdiri berat gelagar, berat lantai
kendaraan, berat lapisan aspal dan berat plat injak dan p ipoa pembuang. Pada
konstruksi bangunan bawah dari jembatan yang diperhitungkan adalah berat abutmen
dan berat tanah diatas abutmen. Beban hidup adalah semua beban yang berasal
3

kendaraan-kendaraan atau segala sesuatu yang memiliki beban yang akan melewati
jembatan tersebut. Beban hidup terdiri dari beban D dan beban T. Beban T
merupakan beban terpusat dari lantai kerja yang dihitung berdasarkan beban
kendaraan truk roda ganda (dual wheel loat) sebesar 10 ton. Sedangkan beban D
merupakan beban yang bekerja pada jalur lalulintas yang terdiri dari beban garis (P)
dan beban terbagi rata (q). beban terbagi rata yang bekerja pada bentang jembatan
yang kurang dari 30 meter ditetapkan sebesar :
Q = 2,2 t/m ..(2.1)
Dimana :
Q = Beban terbagi rata (t/m)
Perhitungan penggunaan beban D digunakan berdasarkan (PPPJJR 1987),
yaitu untuk jembatan dengan lebar lantai kendaan lebih besar dari 5,5 m, beban D
sepenuhnya (100%) dibebankan pada lebar jalur tersebut, sedangkan selebihnya
dibebankan setengah (50%) dari beban D, seperti diperlihatklan pada gambar G.2.1
halaman 4.










G.2.1. Ketentuan penggunaan beban D
Sumber : PPPJR 1.3.28.189

Untuk lebar jalur yang lebih kecil dari 5,5 m, beban D sepenuhnya dibebankan pada
seluruh lebar jembatan, beban hidup yang bekerja di atas trotoar ditetapkan sebasar
4

500 kg/m
2
. Untuk menghitung beratnya beban yang kejut yang timbul akibat dari
pengaruh getaran dan pengaruh dinamis lainnya, digunakan persamaan :

K = 1 + ..( 2.2 )
Besar beban kejut adalah :
K = k x P ..( 2.3 )

Dimana :
K = Koefisien kejut
L = Panjang batang (m)
P = Beban garis (ton)
K = Beban kejut (ton)

2.1.2 Beban Sekunder
Beban sekunder yang mempengaruhi kontruksi pondasi pada jembatan yang
memperhitungkan meliputi beban akibat pengaruh tekanan angin, gaya traksi, gaya
rem dan gaya gempa bumi. Secara dapat dihitung dengan persamaan :

W = P x A ....(2.4)

Dimana :
W = Besarnya tekanan angin ( kg )
P = Beban angin yang bekerja ( 150 kg/m )
A = Luas bidang yang terkena angin ( m
2
)

Untuk gaya rem yang bekerja pada arah memanjang jembatan tertinggi 1.8 m diatas
permukaan lantai kendaraan ditetapkan sebesar 5 % dari beban D. Menurut (PPPJJR
1987), besarnya gaya gempa bumi dapat dihitung dengan persamaan :

Gh = E x M .....( 2.5 )
5


Dimana :
Gh = Gaya akibat gempa bumi ( ton )
E = Koefisien gempa
M = Beban dari kontruksi ( ton )

Besarnya koefisien gempa tergantung dari jenis tanah dan daerah gempa.

2.1.3 Kombinasi Pembebanan :
Kombinasi pembebanan dihitung untuk menjaga kemungkinan-kemungkinan
timbulnya pengaruh beban yang ada pada kontruksi jembatan yang bekerja pada
kontruk si jembata.

Tabel. Kombinasi Pembebanan
Kombinasi Pembanan
Tegangan yang digunakan
dalam % terdapat tegangan
izin
Kom I+H +K + Ta = T
Kom II M+ Ta + Ah + Gg + A + Sr + Tm +
Kom III Kom I + Rm + Gg + A + Sr + Tm + S
Kom IV M + Gh + Tag + Ahg + Tu +
Kom V M + PI
Kom VI M + H + K + Ta + S + Tb
100 %
125 %
140 %
150 %
130 %
150 %

Sumber : PPPJJR SKBI 1.3.28.1987
Dimana :
A = Beban mati
Ah = Gaya akibat aliran dan hanyutan
Ahg = Gaya akibat aliran dan hanyutan pada saat terjadi gempa
Gg = Gaya gesek pasda tumpukan
6

(H+K) = Beban hudup dengan beban kejut
M = Beban mati
PI = Gaya-gaya pada waktu pelaksanaan
Rm = Gaya rem
S = Gaya sentripugal
Sr = Gaya akibat susut dan rangkak
Tg = Gaya tekanan tanah akibat gempa
Tb = Gaya tumbuk
Tu = Gaya angkat
Ta = Gaya akibat tekanan tanah
Tm = Gaya akibat tekanan suhu


2.2 Analisa Kontruksi pondasi.
Dalam pondasi ini didasari dari bentuk dan ukuran yang telah di hitung oleh
konsultan perencana. Analisa yang dilakukan meliputi analisa tekanan tanah pada
dinding pondasi dan analisa poertulangan, baik tulang melingkar maupun tulang
vertikal.


2.2.1 Analisa Tekanan Tanah Pada Dinding Pondasi
Dalam merencanakan pondasi, sering didasarkan atas keadaan yang
menyakinkan tidak jadi keruntuhan atau penurunan total. Dalam menghitung tekana
tanah tersebut diperlukan data berat jenis tanah (), nilai kohesi tanah (c) dan sudut
geser dalam (). Jika kita tidak memperoleh data tanah dari laboratorium, maka dapat
memperolehnya dari data CPT. Untuk mengatahui berat jenis tanah yang berasal dari
data CPT dapat dihitung dengan menginterpolasikan harga N dari tabel penafsiran
hasil penyelidikan tanah.



7

Menurut rankine ( Hary C.H, 1994 ), tekanan tanah aktif dan tekanan tanah
pasif diperoleh dengan persamaan :

Ka =
u
u
sin 1
sin 1
+

..(2.6)
Kp =
u
u
sin 1
sin 1
+

..(2.7)

Untuk tekanan tanah aktif pada dasar dinding dapat digunakan persamaan :

Pad = x H x Ka ...(2.8)

Maka besarnya tekanan tanah aktif adalah :

Pa = H
2
x x Ka ..(2.9)

Pada beban terbagi rata besarnya tekanan tanah aktif dinyatakan dalam persamaan
berikut ini :

Pa = q x Ka x H (2.10)
Dimana :
Ka = Koefisien tanah aktif
Kp = Koefisien tanah pasif
= Sudut geser dalam
Pad = Tekanan tanah aktif pada dinding pondasi (t/m
2
)
Pa = Tekanan tanah aktif total (t/m)
Pa = Tekanan tanah aktif akibat beban terbagi rata (t/m)
H = Kedalaman pondasi (m)
= Berat jenis tanah (t/m
3
)
q = Beban terbagi rata (t/m)
8

untuk menghitung besarnya tekanan tanah pasif total digunakan persamaan :

Pp = H
2
x x Kp (2.11)

Pada beban terbagi rata persamaan yang digunakan untuk tekanan tanah pasif adalah :

Pp = q x Kp x H .(2.12)

Dimana :
Pp = Tekanan tanah pasif total (t/m)
Pp = Tekanan tanah pasif akibat beban terbagi rata (t/m)

2.2.2 Analisa Penulangan
Analisa penulangan pondasi sumuran sangat penting dilakukan agar
kemampuan dan kekokohan penulangan yang direncanakan mampu menerima dan
menyalurkan beban-beban yang bekerja diatas dengan baik. Menurut Gideon Kusumo
(1994) penulangan sumuran dapat dilakukan dengan menggunakan persamaan-
persamaan berikut ini :

E
01
=
Pu
Mu
............................................................................................................. (2.13)
E
02
= 1/30 xht 2 (jika < 2, diambil 2) .......................................................... (2.14)
Eo = eo1 + eo2 .................................................................................................... (2.15)
E1 = C1 x C2
2
100
)
`

ht x
lk
x ht ........................................................................... (2.16)
E2 = 0,15 x ht ..................................................................................................... (2.17)
Etot = eo + e1 + e2 .............................................................................................. (2.18)
Sb.V=
fc x Ag x
Pu
85 , 0 u
........................................................................................ (2.19)
9

Sb.H=
ht
Etot
x
fc x Ag x
Pu
1 85 , 0 u
............................................................................. (2.20)
Ast = Pg x Ag ..................................................................................................... (2.21)

Dimana :
Pu = Beban rencana (ton)
Mu = Momen rencana S (cm
2
)
Fc = Mutu beton (Mpa)
E = Eksentrisitas (m)
= Faktor reduksi tulangan
Ast = Luas tulangan vertikal (cm
2
)
ht = Diameter pondasi
Ag = Luas pondasi sumuran (cm
2
)
Menurut Cha-Kia Wang (1994), untuk menjamin kekuatan tulangan melingkar akan
melebihi kekuatan selimut beton dan dengan mengambil kekuatan selimut beton 90
% dari kekuatan inti beton atau 0,75 Fc, maka digunakan persamaan :

Ps = 0,45 x
fy
fc
x
Ac
ag
(

1 ................................................................................. (2.22)
Ps =
Ac
Asp
.......................................................................................................... (2.23)
Asp = As x x (Dc db) .................................................................................... (2.24)
Ac = As x x Dc
2
x s ........................................................................................ (2.25)
Ag = x x D
2
................................................................................................ (2.26)

Dimana :
Ps = Perbandingan antara volume dari tulangan melingkar dengan
volume dari inti untuk panjang S
Asp = Volume dari tulangan melingkar (cm
3
)
Ac = Volume dari inti untuk panjang S (cm
2
)
10

Ag = Luas pondasi sumuran (cm
2
)
Fc = Mutu beton (Mpa)
Fy = Mutu baja tulangan (Mpa)
Db = Diameter tulamngan melingkar (cm)
Dc = Diameter inti (cm)
As = Luas tulangan melingkar (cm
2
)
S = Jarak antara tulangan melingkar (cm)


Menurut Margaret dan Gunawan (1990), untuk menentukan tebal diding
sumuran dapat digunakan persamaan :

bs = bs
A x n t x
pr
o s
+ ) 1 ( 100
(2.27)

dimana :
bs = Tegangan beton (kg/cm
2
)
bs = Tegangan ijin beton (kg/cm
2
)
t = Tebal dinding (cm)
n = Perbandingan elastisitas antara baja dengan beton
A = luas Penampang (cm
2
)


2.3 Analisa Daya Dukung Pondasi
Daya dukung tanah adalah tekanan maksimum yang dapat dipikul tanah tanpa
terjadinya kelongsoran atau penurunan. Kemampuan daya dukung dapat dihitung
berdasarkan daya dukung izin dan daya dukung terhadap kekuatan bahan.



11

2.3.1 Daya Dukung Berdasarkan Data
Menurut Mayerhof (1986), kemampuan daya dukung tanah dihitung
menggunakan persamaan :

Qa =
2
3
50
|
.
|

\
| +
B
F B
x
qc
bila B > F4 .(2.28)
Dimana :
qa = Daya dukung izin (kg/cm
2
)
qc = Nilai konus (kg/cm
2
)
B = Dimensi dari sumuran (m)
F3,F4 = Nilai konstanta yang tergantung dari satuab yang terpakai.

Tabel. Faktor Konversi
F Satuan
S1 (m) F ps (ft)
1
2
3
4
0,50
0,08
0,30
0,20
2,5
4,0
1,0
4,0
Sumber : Bowles, 1991 (sifat-sifat fisis dan geoteknik tanah)


2.3.2 Daya Dukung Tanah Terhadap Kekuatan Bahan
Daya dukung tanah yang di hitung berdasarkan kekuatan dari bahan yang
digunakan sebagai pembentuk pondasi. Menurut Sarjono (1990), besarnya daya
dukung terserbut dihitung dengan menggunakan persamaan :

P = b x A ..(2.29)
12

Dimana :
P = Daya dukung tana ( kg )
b = Tegangan izin bahan ( kg/m
2
)
A = Luas penampang pondasi ( m )

Penampang pondasi dihitung dengan persamaan :

A = Fb x n Fe .(2.30)
Fb =
1
/
4
x x ( dl
2
dl
2
) .(2.31)

Dimana :
Fb = Luas penampang dinding pondasi ( m
2
)
N = Koefisien perbandingan elastisitas
Fe = Luas penampang tulangan ( m
2
)
dl = Diameter luas pondasi ( m )
d2 = Diameter dalam pondasi ( m )


2.4 Analisa Stabilitas Konstruksi pondasi
Stabilitas konstruksi adalah kemampuan konstruksi dalam menahan beban-
beban yang bekerja di atasnya tanpa mengalami pergaseran, guling dan penurunan.
Perencanaan kostruksi harus memperhitungkan stabilitas konstruksi terhadap beban
yang bekerja agar konstruksi yang di rencanakan aman pada saat penggunaan.








13

2.4.1 Stabilitas Terhadap Guling
Menurut Margeret dan Gunawan (1990), stabilitas konstruksi terhadap guling
dapat dihitung dengan persamaan :

FK = 2 >

Fk
Mo
Mr
.....(2.32)
Mr = Gaya arah vertikal x lengan .. (2.33)
Mo = Gaya arah horizontal x lengan ...(2.34)

Dimana :
Mr = Momen penahan ( t.m )
Mo = Momen guling ( t.m )


2.4.2 Stabilitas Terhadap Geser
Menurut Margeret dan gunawan (1990) Besarnya stabilitas geser dihitung
dengan persamaan :

FK : 5 , 1 > FK
PH
Fr
(2.35)
Fr = R tg + ( C x B ) + Pp (2.36)

Dimana :
Pr = Tegangan geser ( t )
PH = Tekanan memanjangan ( t.m )
R = Besarnya gaya reaksi arah vertikal ( t )
B = Lebar abutment
= Sudut geser
14

C = Kohesif tanah
Pp = Tekanan tanah pasir

2.4.3 Tegangan Kontak
Menurut Margaret dan Gunawan (1990), besarnya tegangan kontak dapat
dihitung dengan persamaan :

|
.
|

\
|
=
B
xey
B
xex
As
P
q
q 6 6
1
min
max
.(2.37)

2.4.4 Penurunan Pondasi
Berdasarkan Ir. Soedjono HS, 1991, penurunan permukaan dapat dihitung
dengan persamaan :

S =
0
1
log
P
P
S
H
.(2.38)
C =
PO
P 5 , 1
.(2.39)

Dimana :
S = Penurunan
P1 = Tekanan tanah setelah ada bangunan (kg/cm
2
)
P0 = Tekanan tanah sebelum ada bangunan (kg/cm
2
)
C = Indeks of compressibility
P = Nilai konus (kg/cm
2
)





15


Besarnya tekanan tanah setelah bangunan selesai dapat dihitung dengan persamaan :

P1 = P0 + P (2.40)
P =
) 30 2 / 1 ( ) 30 2 / 1 (
) (
htg L x htg B
L x B
+ +
...(2.41)
q =
L x B
w
....(2.42)
Po = 1 x h1
2
( h
2
h ) ...(2.43)






















16

C
2%
2%
L
BAB III
PERHITUNGAN


3.1 Beban Mati
3.1.1 Beban aspal







Maka beban aspal:
B aspal = P x L x t x Bj
= 10.8 m x 7 m x 0.05 m x 2.2 t/m
3

= 8.316 ton



Untuk 1 abutmen adalah :
B aspal = x B aspal
= x 8.316 ton
= 4.158 ton






17

3.1.2 Beban Trotoar
Trotoar pada jembatan ini dibuat dari beton bertulang dengan berat jenis beton
2,4 t/m, lebar 0.65 m, tinggi 0.25 m, panjang 10.8 m, untuk lebih jelas dapat dilihat
pada gambar dibawah ini :










Maka beban trotoar untuk satu bentang adalah :
Berat =

x t x Pjembatan x Bj x 2 sisi
=

x 0.25 m x 10.8 m x 2.4 t/m


3
x 2 sisi
= 3.726 ton

Untuk beban trotoar yang bekerja pada satu abodment adalah :
Berat =
1
/
2

x 3.726 ton
= 0.7452 ton






18

3.1.3 Beban Tiang Sandaran
Sandaran terbuat dari beton bertulang dengan berat jenis 2.5 t/m. Terdapat di
dua sisi jembatan. Untuk perhitungan trotoar di bagi beberapa pias yaitu :
















Maka beban sandaran adalah :
Pias I = P x L x t x Bj
= 0.55 m x 0.15 m x 0.10 m x 2.4 t /m
= 0.0198 ton
Pias II = x alas x tinggi x bj
= 0.16 m x 0.4 m x 0.10 m x 2.4 t/m
= 0.00768 ton
Plas III = 0.16 m x 0.4 m x 0.1 m x 2.4 t/m
= 0.00768 ton
Total = 0.03516 ton

19

Untuk beban tiang sandaran adalah :
Bts = Total x 6 buah tiang sandaran x 2 sisi
= 0.03516 t x 6 buah x 2 sisi
= 0.421 ton
Maka. Untuk satu buah abutment adalah :
Bts = x total
= x 0.421 ton
= 0.2105 ton

3.1.4 Berat Plat Lantai Jembatan
Plat lantai tersebut terbuat dari beton bertulang dengan lebar 7 m, panjang
bentang 10.8 m, serta volume beton 2,4 t/m
3
, tebal plat lantai 0,2 m, dapat dilihat
pada gambar dibawah ini :








Maka besarnya beban plat lantai adalah :
Pias I = P x L x t x Bj
= 10.8 m x 8.4 m x 0.2 m x 2,4 t/m
3

= 43. 5456 ton

Beban pada satu buah abutment adalah :
Beban =1/2 x 43. 5456 ton
= 21.7728 ton

20

3.1.5 Beban Plat Injak
Plat injak terbuat dari beton bertulang dengan Bj.beton 2,4 t/m
3
, panjang 3 m,
lebar 7 m, dan tinggi 0.3 m.










Untuk beban plat injak adalah :
Pias I = P x L x t x Bj
= 3 m x 7 m x 0.3 m x 2,4 t/m
3

= 15.12 ton
Pias II = P x L x t x Bj
= 0.2 m x 7 m x 0.05 m x 2,4 t/m
3

= 0.168 ton


Beban total plat injak adalah :
Beban total = pias I + pias II
= 15.12 ton + 0.168 ton
= 15.288 ton




21

3.1.6 Tembok Pengarah











Untuk beban tembok pengarah adalah :
Pias I = P x L x T x BJ.beton
= 2.5 m x 0.4 m x 0.1 m x 2.4 t/m
3
= 0.24 ton
Pias II = P x L x T x BJ.beton
= 2.4 m x 0.05 m x 0.3 m x 2.4 t/m
3
= 0.0864 ton
Pias III = P x L x T x BJ.beton
= 2.5 m x 0.4 m x 0.85 m x 2.4 t/m
3
= 2.04 ton
Pias IV = P x L x T x BJ.beton
= 3 m x 0,6 m x 0.25 m x 2.4 t/m
3
= 1.08 ton

Volume keseluruhan tembok pengarah adalah :
Beban Total = pias I + Pias II + Pias III + Pias IV
= 0.24 ton + 0.0864 ton + 2.04 ton + 1.08 ton

= 3.4464 ton
22


Maka beban untuk 1 abutmen adalah :
Beban = 3.4464 ton x 2 buah
= 6.8928 ton

3.1.7 Diafragma
Diafragma terbuat dari beton bertulang dengan Bj.beton 2,4 t/m
3
adalah :












Berat = P x L x t x Bj
= 0.45 m x 0.3 m x 1.6 m x 2.4 t/m
3

= 0.5184 ton

Total = 0.5184 ton x 15 Buah
= 7.776 ton


Maka beban untuk satu abutment adalah :
Beban = x 7.776 ton
= 3.888 ton
23


3.1.8 Beban Gelagar
Gelagar terbuat dari beton bertulang dengan berat jenis beton 2,4 t/m
3
.
perhitungan gelagar dibagi dalam beberapa pias yaitu :














Berat = P x L x t x Bj
= 10.8 m x 0.40 m x 0.75 m x 2.4 t/m
3

= 7.776 ton

Berat total gelagar adalah
Berat total = 7.776 ton x 4 buah
= 31.104 ton

Maka, berat gelagar pada satu buah abutment adalah :
Berat = x 31.104 ton
= 15.552 ton



24

I
II
III
IV
V
VI
VII
VII
IX
X XI
3.1.9 Beban Abutment
Pada suatu kontruksi jembatan, abutment dan poer saling berhubungan begitu
pula dengan sayap abotment. Untuk perhitungan beban pada abutment, maka dibagi
dalam beberapa pias, dapat dilihat pada gambar di bawah ini.






















Luas abutmen adalah :
Pias I = P x T x L x Bj
= 0.2 m x 10 m x 0.35 m x 2.4 t/m
3

= 1.68 ton
25


Pias II = P x L x t x Bj
= 0.4 m x 10 m x 1.35 m x 2.4 t/m
3
= 12.96 ton

Pias III = P x L x t x Bj
= 0.8 m x 10 m x 0.3 m x 2.4 t/m
3
= 5.76 ton

Pias IV = P x L x t x Bj
= 1.10 m x 10 m x 0.5 m x 2.4 t/m
3
= 13.2 ton

Pias V = P x L x t x Bj
= 0.8 m x 10 m x 2.6 m x 2.4 t/m
3
= 49.92 ton

Pias VI = x alas x t x P x Bj
= (0.3 m x 0.5 m) x 10 m x 2.4 t/m
3
= 1.8 ton

Pias VII = x alas x t x P x Bj
= (0.4 m x 0.5 m) x 10 m x 2.4 t/m
3
= 2.4 ton


Pias VIII = x alas x t x P x Bj
= ( 0.8 m x 0.3 m) x 10 m x 2.4 t/m
3
= 2.88 ton

26

Pias IX = x alas x t x P x Bj
= (0.8 m x 0.3 m) x 10 m x 2.4 t/m
3
= 2.88 ton

Pias X = P x L x t x Bj
= 0.8 m x 10 m x 0.8 m x 2.4 t/m
3

= 15.36 ton

Pias XI = P x L x t x Bj
= 0.8 m x 10 m x 0.8 m x 2.4 t/m
3


= 15.36 ton

Berat keseluruhan abutmen adalah :
Berat Total = I + II + III + IV + V + VI + VII + VIII + IX + X + XI
= 1.68 ton + 12.96 ton +5.76 ton +13.2 ton + 49.92 ton + 1.8 ton + 2.4
ton + 2.88 ton + 2.88 ton + 15.36 ton + 15.36 ton
= 124.2 ton













27

I
II
III
V
IV
VI
VII
VII
3.1.10 Beban Wing Wall
Beban wing wall atau sayap yang terbuat dari beton bertulang dengan
Bj.beton 2,4 t/m
3
, yang dapat dilihat pada gambar dibawah ini :















Untuk beban Wing Wall adalah :
Pias I = P x L x t x Bj
= 2.60 m x 0.6 m x 0.5 m x 2.4 t/m
3

= 1.872 ton

Pias II = x

x t x Pjembatan x Bj
= x (

) x 0.3 m x 2.6 m x 2.4 t/m


3

= 0.468 ton



28

Pias III = P x L x t x Bj
= 2.6 m x 0.4 m x 0.96 m x 2,4 t/m
3
= 2.396 ton

Pias IV = P x L x t x Bj
= 0.6 m x 0.4 m x 1.2 m x 2.4 t/m
3
= 0.6912 ton

Pias V = x alas x t x P x Bj
= x 2.2 m x 1.5 m x 0.4 m x 2,4 t/m
3

= 1.584 ton

Pias VI = x alas x t x P x Bj
= x 0.2 m x 0.5 m x 0.4 m x 2.4 t/m
3

= 0.048 ton

Pias VII = P x L x t x Bj
= 0.2 m x 0.4 m x 0.7 m x 2.4 t/m
3
= 0.1344 ton

Pias VIII = x alas x t x P x Bj
= x 0.8 m x 0.3 m x 0.4 m x 2.4 t/m
3
= 0.1152 ton

Berat Total wing wall adalah :
Berat total = Pias I + Pias II + Pias III + Pias IV + Pias V + Pias VI + Pias VII +
Pias VIII
= 1.872 ton + 0.468 ton + 2.396 ton + 0.6912 ton + 1.584 ton +
0.048 ton + 0.1344 ton + 0.1152 ton
= 7.3088 ton
29

I
II
III
IV
V
VI
VII
VII
Maka, beban wing wall adalah :
Beban = 7.3088 ton x 2 sisi
= 14.6176 ton

3.1.11 Beban Tanah Diatas Poer
Beban tanah diatas poer dengan BJ. Tanah 1,75 t/m
3
, untuk lebih jelas dapat
dilihat pada gambar dibawah



















Berat tanah pour pada abutment adalah sbb ;
Pias I = P x L x t x Bj tanah
= 0.6 m x 9.2 m x 2.85 m x 1.7 t/m
3

= 26.7444 ton
30

Pias II = x alas x t x P x Bj
= x 0.2 m x 0.5 m x 9.2 m x 1.7 t/m
3

= 2.16 ton
Pias III = P x L x t x Bj tanah
= 0.2 m x 9.2 m x 1 m x 1.7 t/m
3

= 3.128 ton

Pias IV = x alas x P x t x Bj tanah
= x 0.8 m x 0.3 m x 9.2 m x 1.7 t/m
3

= 1.876 ton

Pias V = x alas x P x t x Bj tanah
= x 0.6 m x 0.5 m x 10 m x 1.7 t/m
3

= 2.55 ton

Pias VI =

x t x Pjembatan x Bj
= (

) x 0.5 m x 10 m x 1.7 t/m


3

= 5.95 ton

Pias VII = P x L x t x Bj tanah
= 1 m x 10 m x 0.8 m x 1.7 t/m
3

= 13.6 ton

Pias VIII = x alas x P x t x Bj tanah
= x 0.8 m x 0.3 m x 10 m x 1.7 t/m
3

= 2.04 ton



31

Maka, berat total tanah pour pada abutment adalah :
Berat total = Pias I + Pias II + Pias III + Pias IV + Pias V + Pias VI + Pias VII
+Pias VIII
= 26.7444 ton + 2.16 ton + 3.128 ton + 1.876 ton + 2.55 ton + 5.95 ton
+ 13.6 ton + 2.04 ton
= 58. 0484 ton

3.1.12 Elestomerik Bearing
















V = P x L x t x Bj Karet
= 0.45 m x 0.40 m x 0.05 m x 0.9 t/m
3

= 0.0081 ton/m
3

Total = 2 abutment x 4 gelagar x 0.0081 ton/m
3

= 0.0648 ton
Maka Beban-Beban Mati Keseluruhan Adalah :
32

Tabel. Total pembebanan
NO MUATAN-MUATAN BEBAN (ton)
1 Aspal 4.158
2 Trotoar 0.7452
3 Tiang sandaran 0.2105
4 Pelat Lantai 21.7728
5 Pelat Injak 15.288
6 Tembok Pengarah 6.8928
7 Gelagar 15.552
8 Diafragma 3.888
9 Abutment 124.2
10 Wing wall 14.6176
11 Tanah Poer 58.0484
12 Elestomerik Bearing 0.0648

Total 265.438















33

3.2 Beban Hidup
3.2.1 Beban Garis ( P )
Menurut PPJJR- 1987, besar beban garis diambil 12 ton digunakan sebesar 70
%. Maka, beban P dapat dihitung :
P1 = 12 ton x 70 %
= 8,4 t
Satu lajur untuk 3,5 m
Bgr 1 = % 50
75 , 2
xLx
P

= % 50 5 , 3
75 , 2
4 , 8
mx x
t

= 5,345 t

Untuk lajur untuk 7 m
Bgr 2 = % 100
75 , 2
xLx
P

= % 100 7
75 , 2
4 , 8
mx x
t

= 21,382 t
Maka beban garis pada bentangan adalah
Bgr = 5,345 + 21,382
= 26,727 t

3.2.2 Beban Terbagi Rata
Berdasarkan PPJJR 1987, untuk jembatan 30 m < L < 60 m adalah 2,2
t/m, maka besar beban Btr yang bekerja pada jembatan adalah :
q = 2,2
t
/m
2
1,1 / 60 x ( L 30 )
= 2,2
t
/m
2
1,1 / 60 x ( 10,8 30 )
= 2,552
34


Untuk lajur 3,5
Btr = % 50
75 , 2
xLx
q

= % 50 5 , 3
75 , 2
552 , 2
x x
= 1,624 t
Maka untuk jalur 7 m adalah :
b. Btr = % 100
75 , 2
xLx
q

= % 100 7
75 , 2
552 , 2
x x
= 6,496 t
Untuk gelangan utama menerima beban terbagi rata adalah:
Btr = Btr 1 + Btr 2
= 1.624 ton + 6,496 ton
= 8,12 ton
Maka beban terbagi rata untuk satu bentangan adalah adalah:
Btr = Btr x panjang bentang
= 8,12 x 10,8
= 87,696 ton

Jadi untuk beban terbagi rata yang bekerja pada satu abutment adalah : (D)
Btr = x 87,696
= 43,848 t
Jadi, beban pada jalur adalah :
Bj = Btr + Bgr
= 87,696 + 26,727
= 114,423 ton

35

3.2.3 Beban Hidup pada trotoar
Menurut PPJJR-1987, Beban hidup yang bekerja pada trotoar diambil
sebesar 500 kg/m
2
dan bekerja 60%. Maka beban trotoar untuk 1 bentangan
adalah :
A = ( ) ( ) { } % 60 2 8 , 10 1 . 1 8 , 10 1 . 0
2
x sisi x m x m m x +
= 15,552 t

3.2.4 Beban Hidup Pada Sandaran
Menurut PPPJJR-1987, Beban hidup yang bekerja pada sandaran diambil
sebesar 100 kg/m
2
. Maka beban yang bekerja pada sandaran adalah :
BH
sandaran
= 0,1 t/m
2
x 10,8 m x 2 sisi x 60 %
= 1,296 t
Total beban hidup yang bekerja pada sandaran adalah :
Bts = BH
TROTOAR
+ BH
SANDARAN

= 15,552 t + 1,296 t
= 16,848 t
Beban yang dilimpahkan pada satu abutment :
Bts
abutment
= x Bts
= x 16,848 t
= 8,424 t

Maka, besar beban hidup yang bekerja pada jembatan adalah :
Beban T = 21,7728 t
Beban D = 43,848 t
Beban sandaran = 8,424 t +
Beban Hidup total = 74,045 t




36

3.2.5 Beban Kejut
Menurut PPPJR-1987, beban kejut (K) diperoleh dari hasil perkalian
beban garis dengan koefisien kejut.
K = 1 +
) 50 (
20
L +
= 1 +
) 8 , 10 50 (
20
m +
= 1.328 t

Maka, besar beban kejut adalah :
K = Koef.kejut x P
garis

= x 1.328 x 8.4 t
= 5,577 t

3.2.6 Beban angin
Pengaruh tekanan angin sebesar 150 kg/cm
2
, untuk gelagar diambil 100%,
luas sisa pembebanan yang langsung terkena angin ditambah 50 % luas sisi
bidang lain :
W lantai = 1.8 m x 10,8 m x 0.15 t/m
2
x 100% = 2,916 t
W kendaraan = 2 m x 10,8 m x 0.15 t/m
2
x 100% = 3,24 t
W sandaran = 1 m x 10,8 m x 0.15 t/m
2
x 100% = 1,62 t +
W total =7,776 t


Besarnya beban angin yang bekerja pada 1 abutment :
W = x W total
= x 7,776
= 3,888 t





37

3.2.7 Beban traksi dan rem
Berdasarkan beban rem dan traksi diperkirakan 5 %, dari pada beban D
yang bekerja horizontal dalam sumbu jembatan selain pondasi langsung
ditentukan 0,05 dan beban jalur sebesar 251.11 t adalah :

Rm = 5% x D
= 5% x 43,848 t
= 2,1924 t

Besarnya beban rem untuk 1 abutment :
R abutment = x Rm
= x 2,1924 t
= 1,0962 t


3.2.8 Beban gempa
Untuk bangunan jembatan ini koefisien gempa ditentukan sebesar 0,14
dengan beban mati sebesar t, maka beban gempa yang bekerja adalah :

Eh = E x beban mati
= 0.14 x 265,438 t
= 37,161 t








38

3.2.9 Perhitungan Tekanan Tanah
- Berat Isi Tanah
Berdasarkan kedalaman 2,40 m diperoleh nilai Conus ( gc ) sebesar
184,6 kg/cm
2


q
c
= 184,6 kg/m
2

N =
4
c
q

=
4
/ 6 , 184
2
cm kg

= 46,15 kg/cm
2
.










31 50
31 15 , 46

=
16 20
16




19
15 , 15
=
4
16

60,6 = 19 - 304
=
19
6 , 364

= 19,18 kg / cm
= 1,918
t
/m
39











31 50
31 15 , 46

=
30 40
30

u


19
15 , 15
=
10
30 u

60,6 = 19 u - 570
u

=
19
5 , 721

u = 37,97 kg / cm
u = 38
t
/m

Koefisien tekanan tanah aktif adalah .
Ka1 =
u
u
sin 1
sin 1
+

=
38 sin 1
38 sin 1
+

= 0,238

Koefisien tekanan tanah pasif adalah .
Ka2 =
u
u
sin 1
sin 1

+
=
38 sin 1
38 sin 1

+
= 4,2



40

Tekanan tanah aktif pada arbutment
Pa1 = K x q x h1 x l
= 0,238 x 1 t/m
2
x 4,3m x 8,72m
= 8,924 ton

Pa2 = x x h1 x Ka1 x L
= x 1,918 t/m x 4,3m
2
x0,238 x 8,72m
= 36,8 ton

P total = 8,924 ton + 36,8 ton
= 45,724 ton

Besar momen akibat gaya tekanan tanah
MPa = ( Pa1 x ) + ( Pa2 x

)
= ( 8,924 x 1.918 ) + ( 36,8 x 1,918 )
= 87,699 ton

Tekanan tanah pada sumuran
Pa1 = Ka1 x q x h1 x L x D x 2
= 0,238 x 1 t/m
2
x 4,3 x 8,72 x 3,5 x 2
= 62,468 ton

Pa2 = Ka1 x q x h1
2
x L x D x 2
= 0,238 x 1 t/m
2
x 4,3
2
x 8,72 x 3,5 x 2
= 268,614 ton

Pa3 = x Ka1 x x h1
2
x L x D x 2
= x 0,238 x 1,918 t/m x 4,3
2
x 8,72 x 3,5 x 2
= 257,6 ton

41

Pa4 = ( Ka1 x q x h x L ) + ( Ka1 x q x h
2
x L )
= ( 0,238 x 1 t/m
2
x 4,3 x 8,72 ) + ( 0,238 x 1 t/m
2
x 4,3 x 8,72 )
= 17,848 ton

P total = 62,468 + 268, 614 + 257,6 + 17,848
= 606,53 ton

Tekanan tanah pasif pada abutment
Pp1 = x
w
x h
2
L x 2
= x 1 x 4,3
2
x 8,72 x 2
= 161,233 ton

Pp2 = x Kp2 x

x h
2
x L x 2
= x 4,2x 1,918 t/m x 4,3
2
x 8,72 x 2
= 267,721 ton

Pp total = Pp1 + Pp2
= 161,233 + 267, 721
= 428, 954 ton

Tekanan tanah pasif pada sumuran
Pp1 = Ka1 x
w
x h x L x D x 2
= 0,238 x 1 x 4,3 x 8,72 x 3,5 x 2
= 62,468 ton

Pp2 = x Ka1 x
w
x h
2
x L x D x 2
= Pp1 = x 1 x 4,3
2
x 8,72 x 3,5 x 2
= 134,3 ton

42

Pp total = 62,468 + 134,3
= 196,768 ton

3.2.10 Gaya Gesek
Gg = Koef. x beban bangunan
= 0,16 x 265,438 t
= 42,47 ton.
3.2.11 Tekanan tanah aktif akibat gempa
Tag = koef.gempa x Pp total
= 0,14 x 428,954t
= 60,053 ton

3.3 Perhitungan kombinasi pembebanan
Perhitungan Kombinasi
1.Beban mati ( M ) = 265,438 t
2.Beban hidup ( H ) = 74,045 t
3.Beban kejut ( K ) = 5.577 t
4. Beban tek.tanah( Ta ) = 45,724 t
5.Beban angin ( A ) = 3,888 t
6.Beban rem (Rm ) = 1,0962 t
7.Beban gempa ( Gh) = 37,161 t
8.Tag = 60,053 t
9.Gg = 42,47 t

Kombinasi I = M + H + K + Ta + Tag x 100%
= 265,438 t + 74,045 t+ 5,577 t + 45,724 t + 60,053 t x 100%
= 450,837 ton
Kombinasi II = M + K + Ah + Gg + A + Sr + Tm x 125 %
= 265,438 t + 74,045 t + 0 + 42,47 t + 3,888 t + 0 + 0 x 125%
` = 396,716 ton
43

Kombinasi III = Kom I + Rm + Gg + A + Sr + Tm x 140 %
= 450,837 t + 1,0962 t+ 42,47 t + 3,888 t + 0 + 0 + 0 x 140%
= 499,846 ton
Kombinasi IV = M + Gh + Tag + Gg + Ahg + Tu x 150 %
= 265,438 t + 37,161 t+ 60,053 t + 42,47 t + 0 + 0 x 150%
= 607,683 ton
Kombinasi V = M + Pi x 130 %
= 265,438 t + 0 x 130 %
= 345,069 ton
Kombinasi VI = M + H + K + Ta + S + Tag x 150%
= 265,438 t + 74,045 t + 5.577 t + 45.724 t + 0 +60.053 t x
150%
= 480,8635 ton
Dari keenam kombinasi pembebanan tersebut diambil yang terbesar untuk beban
pada perencanaan pondasi.Terbukti bahwa kombinasi IV mempunyai beban max
sebesar = 607,683 ton

3.4 Daya Dukung Tanah
Daya dukung tanah berdasarkan data lapangan ( CPT ) maka diperoleh hasil
sebagai berikut :
Diketahui :
= 1,918 t/m
u
= 38
Dari table diperoleh nilai sebagai berikut :
Nc = 77,5
Ng = 61,5
N

= 82,3
C = 9,4
D = 3,5 m
Df = 2 m
44

Fk = 3 kg/cm
2

Kedalaman sumuran adalah 2 meter

Maka :
Pa = Df x


= 2 m x 1,918 t/m
3

= 3,836 t/m
3

qu = ( 1,3x C x Nc ) + ( Pa x Ng ) + ( 0,3 x 6 x D x N

)
= ( 1,3 x 9,4 x 77,5 ) + ( 3,864 x 61,5 ) + ( 0,3 x 1,918 x 3,5 x 82,3 )

= 1348,708 t/m
3

qa =
Fk
qu
=
3
708 , 1348
= 0449,569 t/m
2

A = x x D
2
x 2
= x 3,14 x 3,5
2
x 2
= 19,2325 m
2

Pu = qu x Ap x t x D x Fk x Df
= 1348,708 t/m
2
x 19,2325 m
2
x 3,14 x3,5 m x 3 x 2 m
= 1710419,415 ton

Pa =
Fk
Pu
=
3
415 , 1710419
= 570139,805 ton

qa =
50
qc
=
B
f B
2
) 3 ( +



45

Dimana :
F3 = 30 cm
qc = 184 kg/cm
2

B = 200 cm

qa =
50
/ 184
2
cm kg
x
cm
cm cm
200
) 20 200 (
2
+

= 4,232 x 264,5 kg/cm
2

= 1119,364 kg/cm
2
111,936 t/cm
2


Luas sumuran :
Pa = Ap x qa
=19,2325 m
2
x 111,936 t/m
2

= 2152,8 ton
Berat kontruksi sumuran :
Dik :
D = 3,5 m
H = 2 m
t = 30 m

b = 2,5 t/m
2

Maka berat sumuran adalah :
Ws = x t x ( D
2
- y
2
) x H x
b
x 2 sumuran
= x 3,14 x 3,5
2
0,6
2
x 2 x 2,5 x 2 sumuran
= 93,3365 ton

W
isi
= x t x D
2
x
b
x H x 2 sumuran
= x 3,14 x 3,5
2
x 2,5 x 2 x 2 sumuran
= 49,06 t
46

W
isi
total = 49,06 t x 3
= 147.187 ton

Maka berat kontruksi adalah :
Bk = M + H + Ws + Wisi total
= 265,438 + 74,045 + 93,3365 + 147,187
= 580,006
Ketentuan :
Pa > Bk
2152,8 t > 580,006 ( Aman )

3.5 penulangan pada sumuran

Diketahui :
Kedalaman sumuran ( H ) = 2 m
Diameter sumuran ( D ) = 3,5 m
Beton cyclop (

b ) = 2,5 t/m
2

Angka ekivalen maks ( n ) = 21
Beton K 250 (Bk -
250)
= 5,5 kg/cm
2

Baja U 24 ( fy ) = 1400 kg/cm
2

Tebal sumuran = 30 cm

Maka :
- Tulangan sumuran
Pr = x
b
x H x D x 1
= x 2,5 t/m
2
x 2 m x 3,5 m x 1
= 8,75 ton
= 8750 kg

47

Aml =
Fy
Pr
=
2
/ 1400
8750
cm kg
kg
= 6,25 cm
2
= 625 mm
2


- Tulangan vertikal
% tul luar = 0,30% - 0,10% x
10 45
10

t

= 0,30% - 0,10% x
10 45
10 30


= 0,243%

A =
100
Pt
x h x t
=
100
243 , 0
x 200 cm x 30 cm
= 14,58 cm
2
= 145,8 mm
2


% tul dalam = 0,30% - 0,10% x
10 45
10

t

= 0,30% - 0,10% x
10 45
10 30


= 0,243%

A =
100
Pt
x h x t
=
100
243 , 0
x 200 cm x 25 cm
= 12,15 cm
2
= 121,5 mm
2




48

- Tulangan horizontal
% tul luar = 0,30% - 0,10% x
10 45
10

t

= 0,30% - 0,10% x
10 45
10 30


= 0,243%

A =
100
Pt
x h x t
=
100
243 , 0
x 200 cm x 30 cm
= 14,558 cm
2
= 145,8 mm
2

% tul dalam = 0,30% - 0,10% x
10 45
10

t

= 0,30% - 0,10% x
10 45
10 30


= 0,243%

A =
100
Pt
x h x t
=
100
243 , 0
x 200 cm x 25 cm
= 12,15 cm
2
= 121,5 mm
2


Jadi tulangan luar pakai 16 20 dengan luas 145,8 mm
2
dan untuk tulangan
dalam dipakai 16 20 mm
2
dengan luas 121,5 mm
2
.




49

3.6 Perhitungan Stabilitas Terhadap Kontruksi
stabilitas abutment terhadap guling
Dik :
Beban abutment = 124,2 ton
Beban tanah diatas poer = 58.0484 ton
Beban pondasi = 93,3365 ton
Beban veltikal = 580,006 ton
Lengan abutment = 1,5 meter
Lengan tanah diatas poer = 1,9 meter
Pondasi = 2 meter
Vertikal = 2 meter

Maka momen penahan adalah :
Momen abutment = 124,2 t x 1,5 m = 186,3t m
Momen tanah diatas poer = 58,0484 t x 1,9 m = 110,929 tm
Momen pondasi = 93,3365 t x 2 m = 186,726 tm
Momen vertical = 580,006 t x 2 m = 1160,012 tm
Total = 1639,33 tm

momen guling = Mgh + Mrm + Mta
= 37,161 t + 1,0962 t + 45,724 t
= 83,981 ton

Jadi,
Fk guling =

mguling
mpenahan
> 1,5
=
t
t
9811 , 83
33 , 1639
> 1,5
= 19,52 t > 1,5 ..( Aman )

50

Stabilitas abutment terhadap geser
Stabilitas terhadap geser dapat dihitung dengan persamaan :
Fk geser =
ph
fr
> 1,5
Diketahui :
Reaksi rm = 1,0962 ton
Gempa = 37,161 ton
Tekanan tanah ( Ta ) = 45,724 ton
Lebar abutment = 2 meter
Sudut geser = 38
Berat isi tanah (

) = 1,918 t/m
3

Koefisien tekanan tanah = 0,238
Tinggi arbutment = 4,3 meter

R = berat sumuran + isi sumuran + abutment
= 93,3356 t + 147,187 t + 124,2 t
= 364,7235 ton

Pp = 2 x C x x x x h
2
x Ka1
= 2 x 9,4 x

x x 1,918 x 4,3
2
x 0,238
= 80,262 ton

Fr = ( R x tan ) + ( 0,67 x C x B ) + Pp
= ( 364,7255 x tan 38 ) + ( 0,67 x 9,4 x 2 ) + 80,262
= 377,811 ton

Ph = Rm + Gh + Ta + Gs
= 1,0962 + 37, 161 + 45,724 + 42,47
= 126,451 ton

51

Maka faktor keamanan terhadap geseran adalah :
Fk =
Ph
Fr
> 1,5
=
451 , 126
81 , 377
> 1,5
= 2,988 > 1,5 .( Aman )



Tegangan kontak pada pondasi
P = W total beban + W sumuran
= 265.438 + 580.006
= 845.444
A
s
= x x D
2
x 2
= x 3.14 x 3.5
2
x2
= 19.232 m
2

= 1923.2 mm
2

M
x
= 50.484 ton
M
y
= 124.2 ton

E
x
=


= 0.059 m



52

E
y
=


= 0.147 m



=



= 43.96 x [1 + 0.177 + 0.441]

= 71.127 < 99

= 71.127 < 449.569 t/m
2


q min = 43.96 [ 1 0.177 + 0.441]

= 55.565


Penurunan
P = x q min
= x 55,565
= 27,782
Qc = 184,6 kg/cm
2

D = 3,5 m
Es = 6 x 1840


Ag =
2
4 / 1 xD x
P
t
> 1,5
53

=
2
5 , 3 14 , 3 4 / 1
782 , 27
x x
> 1,5
= 2,889 t/m
2


Ah = Lx (
Es
g A
)
= 200 cm x (
1840 6
889 , 2
x
)
= 0,0002 cm < 2 ( 5,08 cm )
= 2 x 10
-4
cm < 2 ( 5,08 cm )


























BAB IV
KESIMPULAN DAN SARAN
54



Berdasarkan pengolahan data perhitungan yang telah diuraikan pada BAB III,
maka penulis dapat mengambil beberapa kesimpulan dari Perencanaan Pondasi
Sumuran ini antara lain :

4.1 Kesimpulan
1. Pondasi yang direncanakan dengan beban mati sebesar = 265,438 ton dan
beban hidup sebesar = 74,045 ton.
2. Penurunan yang terjadi sebesar = 2 x 10
4
cm < 5,08 cm (aman)

4.2 Saran
Sebaiknya dalam merencanakan pondasi sumuran hendaknya diperoleh data
lapangan yang cukup lengkap guna demi mempermudah dalam proses perhitungan.