Anda di halaman 1dari 23

LAPORAN PRAKTIKUM ELEKTRONIKA I PERCOBAAN 06 TRANSISTOR SEBAGAI SAKLAR

DISUSUN OLEH :

NAMA NIM KELOMPOK ASISTEN

: NURUL ASTUTI : J1D110211 : 3 (TIGA) : IKA RISTIYA DEVI

KEMENTRIAN PENDIDIKAN NASIONAL UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM PROGRAM S-1 FISIKA BANJARBARU 2011

LEMBAR PENGESAHAN PRAKTIKUM ELEKTRONIKA I

Nama NIM Kelompok Judul Percobaan Tanggal Percobaan Fakultas Program Studi Asisten

: Nurul Astuti : J1D110211 : 3 (Tiga) : Transistor Sebagai Saklar : 16 Nopember 2011 : MIPA : Fisika : Ika Ristiya Devi

NILAI

Banjarbaru, Asisten

2011

(Ika Ristiya Devi)

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Transistor adalah kependekan dari transfer resistor, istilah yang memberikan petunjuk tentang bagaimana perangkat tersebut bekerja, arus yang mengalir pada rangkaian output ditentukan oleh arus yang mengalir pada rangkaian input. Karena transistor adalah perangkat tiga terminal, satu elektroda harus digunakan secara bersama-sama oleh rangkaian input dan output. Sedangkan transistor bipolar adalah komponen aktif yang menggunakan aliran elektron sebagai prinsip kerjanya didalam bahan (Sutrisno,1987). Transistor telah banyak menghasilkan penemuan alat semikoduktor lain termasuk rangkaian terpadu (IC). Dalam mempelajari transistor, kita akan mempelajari hubungan antara arus basis, emitter dan kolektor pada transistor bipolar, diagram rangkaian CE dan memberi nama tiap terminal, kurva basis hipotesis dan sekumpulan kurva kolektor dan tiga daerah operasi pada kurva kolektor transistor bipolar. Transistor sangat berperan penting dalam suatu rangkaian atau komponen elektronika (Anonim1, 2010). Sebelum tahun 1950, semua peralatan elektronika menggunakan tabung hampa, dan pada saat itu industri kita didominasi oleh bola- bola lampu dengan nyala yang redup. Pemanas dari tabung hampa ini membutuhkan daya beberapa watt. Oleh karena itu, peralatan yang menggunakan tabung hampa membutuhkan catu daya yang sangat besar dan menimbulkan banyak panas. Hal ini yang membuat para disainer kuatir. Kesudahannya peralatan yang berat dan kuno itu, pada saat itu demikian tersebar luas (Malvino,1985). Pada tahun 1951, Shockley menemukan transistor junction yang pertama. Ini merupakan salah satu penemuan yang besar, yang akan merubah segalanya. Pada saat itu tiap orang kagum dan meramalkan sesuatu yang besar akan terjadi. Kenyataannya, ramalan yang besar tersebut melampaui apa yang diharapkan (Malvino,1985). Perubahan yang paling menyolok terjadi dalam bidang computer. Transistor bukan memperbaiki industry computer, tetapi menciptakannya. Ssebelum tahun

1950, sebuah computer menempati seluruh ruangan dan harganya berjuta juta dolar. Tetapi, pada saat ini suatu computer yang lebih baik, cukup diletakkan di atas meja dan berharga hanya beberapa ratus dollar (Malvino,1985).

1.2 Tujuan Tujuan dari percobaan ini adalah sebagai berikut: 1. Mempelajari karakteristik transistor sebagai saklar. 2. Memahami keadaan saturasi dan cut-off.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

Transistor adalah komponen aktif yang menggunakan aliran elektron sebagai prinsip kerjanya di dalam bahan. Sebuah transistor memiliki tiga daerah dadah yaitu daerah emitter, daerah basis dan daerah disebut kolektor. Transistor ada dua jenis yaitu NPN dan PNP. Transistor memiliki dua sambungan: satu antara emitter dan basis, dan yang lain antara kolektor dan basis. Karena itu, sebuah transistor seperti dua buah dioda yang saling bertolak belakang yaitu dioda emitter-basis, atau disingkat dengan emitter dioda dan dioda kolektor-basis, atau disingkat dengan dioda kolektor. Bagian emiter-basis dari transistor merupakan dioda, maka apabila dioda emitter-basis dibias maju maka kita mengharapkan akan melihat grafik arus terhadap tegangan dioda biasa. Saat tegangan dioda emitter-basis lebih kecil dari potensial barriernya, maka arus basis (Ib) akan kecil. Ketika tegangan dioda melebihi potensial bariernya, arus basis (Ib) akan naik secara cepat ( Brophy, 1969 ). Ada tiga cara yang umum untuk memberi arus bias pada transistor, yaitu rangkaian CE (Common Emitter), CC (Common Collector) dan CB (Common Basis). Namun saat ini akan lebih detail dijelaskan bias transistor rangkaian CE. Dengan menganalisa rangkaian CE akan dapat diketahui beberapa parameter penting dan berguna terutama untuk memilih transistor yang tepat untuk aplikasi tertentu. Tentu untuk aplikasi pengolahan sinyal frekuensi audio semestinya tidak menggunakan transistor power, misalnya ( Brophy, 1969 ). Rangkaian Common Emitter (CE) adalah rangkain yang paling sering digunakan untuk berbagai aplikasi yang menggunakan transistor. Dinamakan rangkaian CE, sebab titik ground atau titik tegangan 0 volt dihubungkan pada titik emiter. Ada beberapa notasi yang sering digunakan untuk mununjukkan besar tegangan pada suatu titik maupun antar titik. Notasi dengan 1 subscript adalah untuk menunjukkan besar tegangan pada satu titik, misalnya VC = tegangan kolektor, VB = tegangan basis dan VE = tegangan emiter. Ada juga notasi dengan

2 subscript yang dipakai untuk menunjukkan besar tegangan antar 2 titik, yang disebut juga dengan tegangan jepit. Diantaranya adalah : VCE = tegangan jepit kolektor- emiter VBE = tegangan jepit basis - emiter VCB = tegangan jepit kolektor - basis

Gambar 2.1. Rangkaian CE Notasi seperti VBB, VCC, VEE berturut-turut adalah besar sumber tegangan yang masuk ke titik basis, kolektor dan emiter ( Edwards, 1993 ). Hubungan antara IB dan VBE tentu saja akan berupa kurva dioda. Karena memang telah diketahui bahwa junction basis-emiter tidak lain adalah sebuah dioda. Jika hukum Ohm diterapkan pada loop basis diketahui adalah : IB = (VBB - VBE) / RB ( 2.1 )

VBE adalah tegangan jepit dioda junction basis-emiter. Arus hanya akan mengalir jika tegangan antara basis-emiter lebih besar dari VBE. Sehingga arus IB mulai aktif mengalir pada saat nilai VBE tertentu.

Gambar 2.2. Kurva IB -VBE

Besar VBE umumnya tercantum di dalam databook. Tetapi untuk penyerdehanaan umumnya diketahui VBE = 0.7 volt untuk transistor silikon dan VBE = 0.3 volt untuk transistor germanium. Nilai ideal VBE = 0 volt (Edwards, 1993 ). Sekarang sudah diketahui konsep arus basis dan arus kolektor. Satu hal lain yang menarik adalah bagaimana hubungan antara arus basis IB, arus kolektor IC dan tegangan kolektor-emiter VCE. Dengan mengunakan rangkaian-01, tegangan VBB dan VCC dapat diatur untuk memperoleh plot garis-garis kurva kolektor. Pada gambar berikut telah diplot beberapa kurva kolektor arus IC terhadap VCE dimana arus IB dibuat konstan.

Gambar 2.3 Kurva kolektor

Dari kurva ini terlihat ada beberapa daerah yang menunjukkan daerah kerja transistor. Pertama adalah daerah saturasi, lalu daerah cut-off, kemudian daerah aktif dan seterusnya daerah breakdown ( Malvino, 1999 ).

Daerah Aktif Daerah kerja transistor yang normal adalah pada daerah aktif, dimana arus IC konstans terhadap berapapun nilai VCE. Dari kurva ini diperlihatkan bahwa arus IC hanya tergantung dari besar arus IB. Daerah kerja ini biasa juga disebut daerah linear (linear region). Jika hukum Kirchhoff mengenai tegangan dan arus diterapkan pada loop kolektor (rangkaian CE), maka dapat diperoleh hubungan : VCE = VCC - ICRC (2.2)

Dapat dihitung dissipasi daya transistor adalah : PD = VCE.IC (2.3)

Rumus ini mengatakan jumlah dissipasi daya transistor adalah tegangan kolektor-emitor dikali jumlah arus yang melewatinya. Dissipasi daya ini berupa panas yang menyebabkan naiknya temperatur transistor. Umumnya untuk transistor power sangat perlu untuk mengetahui spesifikasi PDmax. Spesifikasi ini menunjukkan temperatur kerja maksimum yang diperbolehkan agar transistor masih bekerja normal. Sebab jika transistor bekerja melebihi kapasitas daya PDmax, maka transistor dapat rusak atau terbakar. Daerah Saturasi Daerah saturasi adalah mulai dari VCE = 0 volt sampai kira-kira 0.7 volt (transistor silikon), yaitu akibat dari efek dioda kolektor-base yang mana tegangan VCE belum mencukupi untuk dapat menyebabkan aliran elektron. Daerah Cut-Off Jika kemudian tegangan VCC dinaikkan perlahan-lahan, sampai tegangan VCE tertentu tiba-tiba arus IC mulai konstan. Pada saat perubahan ini, daerah kerja transistor berada pada daerah cut-off yaitu dari keadaan saturasi (OFF) lalu menjadi aktif (ON). Perubahan ini dipakai pada system digital yang hanya mengenal angka biner 1 dan 0 yang tidak lain dapat direpresentasikan oleh status transistor OFF dan ON.

Gambar 2.3. Daerah cut off Transistor

Daerah Breakdown Dari kurva kolektor, terlihat jika tegangan VCE lebih dari 40V, arus IC menanjak naik dengan cepat. Transistor pada daerah ini disebut berada pada daerah breakdown. Seharusnya transistor tidak boleh bekerja pada daerah ini, karena akan dapat merusak transistor tersebut. Untuk berbagai jenis transistor nilai tegangan VCEmax yang diperbolehkan sebelum breakdown bervariasi. VCEmax pada databook transistor selalu dicantumkan juga(Anonim2, 2010).

BAB III METODE PERCOBAAN

3.1 Waktu dan Tempat Praktikum Praktikum dilaksanakan pada hari Rabu tanggal 16 Nopember 2011 pada pukul 08.00 WITA, bertempat di Laboratorium Pengembangan Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Lambung Mangkurat Banjarbaru.

3.2 Alat dan Bahan Adapun alat dan bahan yang digunakan pada perobaan kali ini yakni sebagai berikut : 1. 2. 3. 4. 5. 6. Power Suply, sebagai sumber tegangan Kabel-kabel digunakan sebagai alat untuk menyambung rangkaian. Resistor sebagai penghambat dalam rangkaian Multimeter untuk mengukur nilai tegangan dan arus dalam rangkaian Transistor NPN dan PNP, sebagai penyearah dalam rangkaian LED digunakan sebagai hambatan pada rangkaian.

3.3 Prosedur Kerja 1. Membuat rangkaian setara seperti gambar 3.1 di bawah ini dengan mengganti RL dengan lampu LED dan RB= 22 K. Melengkapi tabel 3.1

Gambar 3.1 rangkaian dengan mengganti RL menjadi lampu LED

Tabel 3.1 Hasil pengamatan rangkaian terhadap arus dan tegangan No VCC (volt) 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 IC(A) IB (A) IC: IB VBE VCE

2. Merangkai rangkaian seperti gambar 3.2 dengan mengganti RL dengan lampu LED dan RB= 22K. Melengkapi tabel 3.2

Gambar 3.2 mengganti lampu RL dengan lampu LED dan RB =22K

Tabel 3.2 Hasil pengamatan rangkaian terhadap arus No VCC (volt) 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 IC(A) IB (A) IC: IB

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1

Hasil 3,30K IC(mA) 2,2 2,5 1,5 0,8 2,2 4,5 4 3,9 3,4 3,7 4 4,2 IB(mA) 1,5 4,5 2 0,5 1,3 1,2 3,3 0,6 3,2 1,5 1,2 1,8 VBE(mV) VCE(mV) 0,5 0,2 0,6 0,7 1,3 2 1 0,8 1,4 0,3 0,6 0,5 0,3 0,3 0,2 0,1 0,9 1,1 0,4 0,2 0,4 0,8 0,5 0,3

Tabel 4.1 Hasil pengamatan pada transistor NPN input 1,5V NO 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 VCC 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12

Tabel 4.2 Hasil pengamatan pada transistor NPN input 0V NO 1 2 3 4 5 6 7 8 VCC 1 2 3 4 5 6 7 8 3,30K IC(mA) 3 3,5 3,8 4,2 4,6 4,8 5 5,6 IB(mA) 2,9 3,9 3 3,2 5,1 6,3 5,9 5,7

9 10 11 12

9 10 11 12

5,9 6,3 6,7 6,8

5,6 6 5,7 5,9

4.2

Perhitungan

Menghitung penguat arus = IC / IB =2,2 / 1,5 = 1,467 A Tabel 4.3 Hasil perhitungan pada transistor NPN input 1,5 V NO 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 VCC 3,3K IC(mA) 2,2 2,5 1,5 0,8 2,2 4,5 4 3,9 3,4 3,7 4 4,2 IB(mA) 1,5 4,5 2 0,5 1,3 1,2 3,3 0,6 3,2 1,5 1,2 1,8 = IC / IB 1,47 0,56 0,75 1,6 1,69 3,75 1,21 6,5 1,06 2,47 3,33 2,33

Tabel 4.4 Hasil perhitungan pada transistor NPN input 0 V NO 1 2 3 4 VCC 1 2 3 4 3,30K IC(mA) 3 3,5 3,8 4,2 IB(mA) 2,9 3,9 3 3,2 = IC / IB 1,034 0,897 1,267 1,313

5 6 7 8 9 10 11 12

5 6 7 8 9 10 11 12

4,6 4,8 5 5,6 5,9 6,3 6,7 6,8

5,1 6,3 5,9 5,7 5,6 6 5,7 5,9

0,902 0,762 0,847 0,982 1,054 1,05 1,175 1,153

4.3 Pembahaasan Transistor dapat difungsikan sebagai saklar dengan memanfaatkan dua keadaan transistor yaitu keadaan saturasi (sebagai saklar tertutup) dimana dapat menghantarkan arus listrik pada keadaan tersebut dan keadaan cut off (sebagai saklar terbuka) dimana tidak dapat menghantarkan arus listrik pada keadaan tersebut. Pada percobaan digunakan transistor NPN dengan tegangan input 1,5V dan 0V serta menggunakan hambatan berupa resistor 3,3k. Setelah semua rangkaian tersusun maka diukur arus pada kolektor dan basis menggunakan ampermeter serta mengukur besarnya tegangan yang mengalir pada basis emiter dan kolektor emiter dengan nilai VCC yang diubah-ubah dari (1-12)V dan menggunakan transistor dengan tegangan input 1,5V. Hasil percobaan dapat dilihat pada tabel 4.1 dimana arus dan tegangan yang diukur memiliki nilai yang naik turun tidak konstan naik ataupun konstan turun. Sedangkan untuk transistor dengan tegangan input 0V hanya diukur arus yang mengalir pada rangkaian yaitu pada arus kolektor dan arus basis dengan VCC yang diubah-ubah besarnya dari 1V hingga 12V. Hasil percobaan dapat dilihat pada tabel 4.2, menurut data yang ditemukan untuk arus basis dan arus kolektor terjadi kenaikan. Data percobaan yang telah diperoleh kemudian diperhitungkan untuk mencari seberapa besar penguat arus () pada rangkaian, dimana arus penguat diperoleh dari arus pada kolektor (IC) yang dibagi dengan arus pada basis (IB). Perhitungan arus penguat untuk transistor dengan tegangan input 1,5V dapat dilihat pada tabel 4.3 dari perhitungan yang diperoleh dapat diperlihatkan dalam

sebuah grafik seperti yang tertuang pada grafik 1. Penguat arus untuk transistor dengan tegangan input 1,5V tidak stabil. Sedangkan untuk penguat arus pada transistor dengan tegangan input 0V dapat dilihat pada tabel 4.4 dan grafik dapat dilihat pada grafik 5. Dapat dilihat bahwa perubahan penguat arus tidak begitu nampak jauh berbeda dari satu VCC ke VCC lainnya. Hubungan antara Ic dan Vcc dapat dilihat dalam bentuk grafik, untuk tegangan input 1,5V dapat dilihat pada grafik 3 yang menunjukkan bahwa arus colektor berubah naik turun terhadap Vcc dan untuk tegangan input 0V dapat dilihat pada grafik 6 dimana arus kolektor konstan naik terhadap Vcc yang semakin besar tegangannya.

BAB V PENUTUP

5.1 Kesimpulan Kesimpulan yang dapat di peroleh dari percobaan ini adalah sebagai berikut: 1. Karakteristik transistor sebagai saklar merupakan hubungan antara IC dengan VCC 2. Transistor dapat menjadi saklar jika menggunakan keadaan saturasi dan cut off, dimana saturasi merupakan saklar tertutup yang dapat mengalirkan arus listrik sedangkan cut off merupakan saklar terbuka yang tidak dapat menghantarkan arus listrik.

5.2 Kesimpulan Ketelitian sangat dibutuhkan dalam merangkai komponen dan mengukur arus maupun tegangan.

LAMPIRAN

1. Grafik hasil perhitungan pada transistor NPN input 1,5 V

hubungan penguat arus dengan Vcc


7 6 penguat arus 5 4 3 2 1 0 0 5 Vcc 10 15 y = 0.1945x + 0.9626 R = 0.1775

= IC / IB Linear (= IC / IB)

Grafik 1 hubungan penguat arus dengan Vcc

Hubungan Ib dengan Vcc


5 4.5 4 3.5 3 2.5 2 1.5 1 0.5 0 0

Ib

y = -0.0573x + 2.2561 R = 0.0299

IB(mA) Linear (IB(mA))

5 Vcc

10

15

Grafik 2 hubungan arus basis dengan Vcc

hubungan Ic dengan Vcc


5 4.5 4 3.5 3 2.5 2 1.5 1 0.5 0 0 y = 0.2395x + 1.5182 R = 0.5224

Ic

IC(mA) Linear (IC(mA))

5 Vcc

10

15

Grafik 3 hubungan arus colektor dengan Vcc

7 6 5 Arus 4 IC(mA) 3 2 1 0 0 5 Vcc 10 15 IB(mA) = IC / IB

Grafik 4 hubungan arus dengan Vcc

2. Grafik hasil perhitungan pada transistor NPN input 0 V

Hubungan penguat arus dengan Vcc


1.6 1.4 penguat arus 1.2 1 0.8 0.6 0.4 0.2 0 0 5 Vcc 10 15 y = 0.0046x + 1.0063 R = 0.0097 = IC / IB Linear (= IC / IB)

Grafik 5 hubungan penguat arus dengan Vcc

Hubungan Ic dengan Vcc


8 7 6 5 4 3 2 1 0 0 5 Vcc 10 15 Ic IC(mA) Linear (IC(mA)) y = 0.349x + 2.7485 R = 0.9941

Grafik 6 hubungan arus colektor dengan Vcc

Hubungan Ib dengan Vcc


7 6 5 Ib 4 3 2 1 0 0 5 Vcc 10 15 IB(mA) Linear (IB(mA)) y = 0.2923x + 3.0333 R = 0.6616

Grafik 7 hubungan arus basis dengan Vcc

8 7 6 5 Arus 4 3 2 1 0 0 5 Vcc 10 15 IC(mA) IB(mA) = IC / IB

Grafik 8 hubungan IC, IB, dengan Vcc

DAFTAR PUSTAKA Anonim 1. 2010. Transistor. http://www.wikipedia.org/transistor Diakses pada tanggal 12 Nopember 2011. Anonim2. 2007. Transistor Sebagai Saklar. http://duniaelektronika.blogspot.com/ Diakses pada tanggal 12 Nopember 2011. Brophy.1969. Basic Electronics for Sciences and Engineers, John Willey. Edwards, R. C. L. and D.F. Meyer.1993. Electronics; A Basic Course, McGraw Hill. Malvino,A.P. 1999. Electronics Principle. McGraw Hill. Malvino, Barmawi.1985. Prinsip prinsip Elektronika Jilid 2, Departemen Fisika Institut Teknologi Bandung : Bandung Sutrisno.1987. Elektronika: Teori Dasar dan Penerapannya jilid 1. Penerbit ITB : Bandung

TUGAS PENDAHULUAN 1. Sebutkan beberapa aplikasi dari pemakaian transistor sebagai saklar 2. Bagaimana cara membias transistor agar berfungsi sebagai saklar elektronik 3. Buktikan penguatan transistor Jawab 1.