Anda di halaman 1dari 6

Nama No Reg

: M. Eka Syaputra : 8323136457

Arsitektur Perbankan Indonesia (API)


A. Pengertian Arsitektur Perbankan Indonesia (API) Dengan tujuan untuk memperkuat fundamental industri perbankan di indonesia, Bank Indonesia mulai tahun 2004 berusaha menerapkan Arsitektur Perbankan Indonesia (API). Arsitektur Perbankan Indonesia merupakan suatu kerangka dasar pengembangan sistem perbankan Indonesia yang bersifat menyeluruh untuk rentang waktu lima sampai sepuluh tahun ke depan. Arsitektur Perbankan Indonesia diharapkan akan dapat memberikan arah, bentuk, dan tatanan industri perbankan untuk rentang waktu lima sampai sepuluh tahun ke depan. Kebijakan pengembangan industri perbankan di masa depan, seperti yang di ungkapkan dalam API, di landasi oleh visi : Menciptakan sistem Perbankan yang sehat,kuat, dan efisien. Menciptakan kestabilan sistem keuangan. Mendorong Pertumbuhan ekonomi sosial. Adanya krisis ekonomi di Indonesia mulai pertengahan tahun 1997 telah Menimbulkan kesadaran bahwa Api adalah Kebutuhan yang mendesak Bagi perbankan Indonesia dalam rangka memperkuat fundamental Industri perbankan. Krisis ekonomi tahun 1997 sebagai puncak dari Serangkaian Liberalisasi sektor perbankan sejak tahun 1980-an telah menunjukkan bahwa industri perbankan nasional belum memiliki kelembagaan perbankan yang kokoh yang didukung dengan infrastruktur perbankan yang baik. Secara Fundametal, sistem perbankan indonesia masih harus diperkuat untuk dapat mengatasi gejolak internal maupun eksternal. Fundamental perbankan nasional yang terbukti belum kokoh merupakan tantangan bukan hanya bagi industri perbankan secara umum. Tetapi juga bagi bank indonesia sebagai otoritas pengawasnya. Menyadari penting nya fundamental perbankan yang lebih kuat dan untuk meningkatkan daya tahan sistem perbankan terhadap fluktuasi perekonomian, maka sejak dua tahun terakhir dengan masukan-masukan berharga dari berbagai pihak, Bank indonesia telah menyelesaiakan penyusunan API. Arsitektur Perbankan Indonesia merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari program restrukturisasi perbankan maupun white paper penyehatan perbankan Nasional pasca IMF. Mendasari luasnya cakupan kebijakan dan implementasi yang akan di tempuh serta jangka

waktu pelaksanaan yang panjang, maka perubahan-perubahan tersebut akan dilakukan secara bertahap. Penerapan Api tidak terlepas dari usaha Bank Indonesia untuk secara bertahap menerapkan praktik terbaik internasional terutama yang mencakup dalam 25 Basel Core Principles For Effective Banking Supervision. Dalam jangka waktu lima tahun ke depan diharapkan Indonesia telah sama dengan negara-negara lain dalam hal penerapan 25 Basel Core Principles. Programprogram API mencakup banyak hal. Program yang lain berkaitan dengan usaha peningkatan kinerja perbankan melalui penerapan Standar good corporate governance yang didukung : Kemampuan Operasional yang tinggi Kemampuan tinggi dalam pengelolaan resiko Ketersediaan infrastruktur pendukung perbankan yang memadai, Keberadaan lembaga pemeringkat kredit domestik, Ada nya SKIM penjaminan kredit yang mencukupi, serta Peningkatan kepercayan nasabah, Dalam usaha mencapai visi API seperti telah di uraikan sebelum Nya, Bank Indonesia telah menetapkan beberapa sasaran yang ingin di capai, sasaran ini nantinya dirumuskan sebagai enam pilar Arsitektur Perbankan Indonesia. Sasaran tersebut adalah : Struktur perbankan domestic yang sehat, mampu memenuhi kebutuhan masyarakat, dan mendorong pembangunan ekonomi nasional, Sistem pengaturan dan pengawasan bank yang efektif sesuai standar internasional. Industri perbankan yang kuat dan berdaya saing tinggi serta memiliki ketahanan menghadapi resiko, Good corporate governance dalam kondisi internal perbankan nasional, Infrastruktur lengkap untuk terciptanya industri perbankan yang sehat, Pelindungan konsumen B. Enam Pilar Api Untuk merealiasikan pencapaian visi API tersebut maka di tetapkan 6 pilar API. Keenam pilar API tersebut adalah sebagai berikut ; a. Menciptakan struktur perbankan domestik yang sehat yang mampu memenuhi kebutuhan masyarakat dan mendorong pembangunan ekonomi nasional yang berkesinambungan.

b. Menciptakan sistem pengaturan dan pengawasan bank yang efektif dan mengacu pada standar internasional. c. Menciptakan industri perbankan yang kuat dan memiliki daya saing yang tinggi serta memiliki ketahanan dalam menghadapi risiko. d. Menciptakan corporate governance dalam rangka memperkuat kondisi internal perbankan nasional. e. Mewujudkan infrastruktur yang lengkap untuk mendukung terciptanya industri perbankan yang sehat. f. Mewujudkan pemberdayaan dan perlindungan konsumen jasa perbankan. C. Visi dan Misi Arsitektur Perbankan Indoesia (API) Visi Arsitektur Perbankan Indoesia adalah menciptakan sistem perbankan yang

sehat,kuat,.dan efisien guna mencuptakan kestabilan sistem keuangan nasional dalam rangka mendorong pertumbuhan ekonomi nasional. Misi Arsitektur Perbankan Indonesia Menyediakan sarana edukasi kepada masyarakat secara menarik dengan memanfaatkan teknologi informasi yang tepat guna mengenai: 1. Fungsi dan peran Bank Indonesia dari waktu ke waktu 2. Gedung cagar budaya milik Bank Indonesia dan benda-benda koleksi yang terkait dengan sejarah Bank Indonesia, termasuk pelestariannya 3. Ilmu pengetahuan ekonomi, moneter, dan perbankan yang diperlukan masyarakat setempa D. Program Kegiatan Arsitektur Perbankan Indonesia (API) Pelaksanaan keenam pilar API dijabarkan lebih rinci oleh bank Indonesia dalam program kegiatan pada rentang waktu sepuluh tahun (dari tahun 2004 hingga tahun 2013). Program-program tersebut adalah : a. Program penguatan struktur perbankan nasional, b. Program peningkatan kualitas pengaturan perbankan, c. Program peningkatan fungsi pengawasan, d. Program peningkatan kualitas manajemen dan operasional perbankan, e. Program pengembangan infrastruktur perbankan, f. Program peningkatan perlindungan nasabah

E. Tantangan Terbesar Perbankan Tantangan dalam dunia perbankan juga selalu berubah seiring dengan perubahan yang terjadi dalam industri jasa keuangan secara umum. Di antara banyak tantangan yang saat ini paling di rasakan dalam dunia perbankan adalah tantangan untuk mengelola resiko dengan sebaik-baiknya. Bagi sistem perbankan di indonesia pengelolaan resiko dengan baik masih merupakan sesuatu yang baru. Untuk mewujudkan perbankan indonesia yang lebih kokoh, perbaikan harus dilakukan di berbagai bidang. Terutama untuk menjawab tantangan-tantangan yang dihadapi perbankan dalam beberapa tahun belakangan ini. Tantangan-tantangan tersebut adalah sbb: a. Pertumbuhn kredit perbankan yang masih rendah. b. Struktur perbankan yang belum optimal c. Pemenuhan kebutuhan layanan perbankan yang masih kurang d. Pengawasan bank yang masih perlu ditingkatkan. e. Kapabilitas perbankan yang masih lemah f. Profitabilitas dan efisiensi bank yang tidak mampu bertahan g. Perlindungan nasabah yang masih harus ditingkatkan. h. Perkembangan teknologi informasi. G. Tahap-Tahap Implementasi Arsitektur Perbankan Indonesia (API). Arsitektur perbankan Indonesia dirancang untuk diterapkan dalam kurun waktu sekitar sepuluh tahun. Mengingat panjang nya rentang waktu implementasinya dan untuk menjaga agar pencapaian target lebih dapat termonitor, program implementasi API dilaksanakan secara bertahap dan dimulai tahun 2004 dengan perincian sbb : Penguatan Struktur Perbankan Nasional Tahap penguatan struktur perbankan nasional 1. Memperkuat permodalan bank 2. Memperkuat daya saing BPR 3. Menimgkatkan akses kredit Tahap peningkatan kualitas pengaturan perbankan 1. Memformalkan proses sindikasi dalam membuat kebijakan perbankan. Tahap Peningkatan fungsi pengawasan 1. Meningkatkan koordinasi antar lembaga pengawas. 2. Melakukan konsolidasi sektor perbankan bank Indonesia

3. Meningkatkan kompetensi pemeriksa bank 4. Mengembangkan sistem pengawasan berbaris resiko 5. Meningktakan efektivitas enforcement Tahap Peningkatan kualitas manajemen dan operasional perbankan 1. Meningkatkan good Corporate Governance 2. Meningkatkan kualitas manajemen resiko perbankan 3. Meningkatkan kemampuan Operasional bank. Tahap pengembangan infrastruktur perbankan 1. Mengembangkan biro kredit 2. Mengoptimalkan penggunaan badan pemeringkat kredit. Tahap peningkatan perlindungan nasabah. 1. Menyusun standar mekanisme pengaduan nasabah 2. Membentuk lembaga mediasi independen 3. Menyusun transparasi informasi produk 4. Mempromosikan edukasi untuk konsumen.