Anda di halaman 1dari 23

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Penelitian Sampah adalah semua barang/benda atau sisa barang/benda yang sudah tidak berguna dan terbuang dari kegiatan sehari-hari (Darmadi, 2008:28). Jadi sampah merupakan produk buangan yang pada umumnya berbentuk benda padat, dengan komposisi bahan organik dan anorganik. Sumber sampah yang terbanyak dari pemukiman dan pasar tradisional. Sampah pasar khusus seperti pasar sayur mayur, pasar buah, atau pasar ikan, jenisnya relatif seragam, sebagian besar (95%) berupa sampah organik sehingga lebih mudah ditangani. Sampah yang berasal dari pemukiman umumnya sangat beragam, tetapi secara umum minimal 75% terdiri dari sampah organik dan sisanya anorganik. Sampah yang terkumpul dapat menumpuk dan membusuk sehingga sangat mengganggu kesehatan, lingkungan, serta mempengaruhi mutu estetika (Sudradjat, 2007:7). Di sisi lain, pesatnya pertumbuhan industri di Indonesia telah mengakibatkan terbentuknya sampah kota yang lebih beragam. Khususnya limbah jenis Bahan Berbahaya dan Beracun (B3) meningkat dua kali lipat dalam satu dekade. Timbulnya limbah B3 pada tahun 1990 di Indonesia adalah 4,3 juta ton. Jumlah ini meningkat menjadi 8,8 juta ton pada tahun 1998. Diperkirakan lebih dari 75% limbah B3 berasal dari industri manufaktur, 5-10% dari rumah tangga, dan sisanya dari sumber-sumber lain. Kondisi ini telah mengakibatkan terjadinya

gangguan lingkungan, yang belum terpantau dengan baik. Menurut Anonymous (1997) Dikhawatirkan beban pencemaran oleh limbah B3 akan meningkat sepuluh kali lipat pada tahun 2010, terutama dari jenis limbah logam dan toksikan organik non-biodegradable yang dapat terbioakumulasi di lingkungan hidup (Budi, Jodie, Ninok, 2010:36). Sampah juga kerap dijadikan kambing hitam berbagai bencana, sebagai contoh tahun 2005, di Leuwi Gajah, di mana tumpukan sampah di TPA tersebut menghasilkan gas dan menimbulkan ledakan. Sampah dinyatakan sebagai salah satu penyebab banjir, dimana saluran pembuangan air mengandung sampah yang berlebihan sehingga kehilangan fungsi utamanya sebagai tempat aliran air (Rendro, 2010:253). Fenomena sampah sebagai material sisa maupun residu merupakan akibat logis dari aktivitas manusia. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata buangan sampah kota adalah 0,5 kg/kapita/hari. Dengan mengalikan data tersebut dengan jumlah penduduk di beberapa kota di Indonesia yang dipublikasikan oleh NUDS (National Urban Development Strategy) tahun 2003 maka dapat diketahui prakiraan potensi sampah kota di Indonesia, yaitu sekitar 100.000 ton/hari (Sudradjat, 2007:9). Timbulnya sampah terus meningkat seiring dengan meningkatnya pertumbuhan penduduk. Ironisnya, fasilitas pengelolaan sampah di hampir semua kota di Indonesia masih terbatas. Mengiringi diundangkannya Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 18 Tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah, pola lama pengelolaan sampah di Indonesia yang berupa Pengumpulan-Pengangkutan-

Pembuangan (P3) mulai bergeser ke Pemilahan-Pengolahan-PemanfaatanPembuangan residu (P4). Pergeseran paradigama pola pengelolaan sampah tersebut berlangsung dengan cukup segnifikan di beberapa kota metropolitan, seperti Surabaya dan Jakarta, di mana terdapat peran aktif dari Dinas Kebersihan, yang mendapat dukungan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM), Praktisi, serta program Corporate Social Responsibility (CSR) dari perusahan-perusahan industri yang bernuansa penyelamatan lingkungan (Budi, Jodie, Ninok, 2010:35). Pengelolaan sampah menurut Kuncoro Sejati (2009:24) adalah semua kegiatan yang dilakukan untuk menangani sampah sejak ditimbulkan sampai dengan pembuangan akhir. Penangan sampah tidaklah mudah karena sangat kompleks, mencakup aspek teknis, ekonomis dan sosio politis. Aspek teknis dapat dijelaskan bahwa proses penanganan sampah meliputi beberapa fase yaitu, penampungan, pengumpulan sampah, pemindahan sampah, pengangkutan dan pembuangan akhir. Aspek ekonomis adalah permasalahan sampah berkaitan dengan persoalan perbandingan antara input retribusi sampah dengan yang diterapkan dengan output yang dikeluarkan pemerintah daerah untuk mengelola sampah. Aspek sosio politik pengelolaan sampah berkaitan dengan persoalan hubungan/kerja sama antara pemerintah daerah dalam menangani sampah (Kuncoro Sejati, 2009:32-33). Berdasarakan yang dikemukakan oleh Kuncoro Sejati, penanganan sampah di bagi menjadi tiga aspek yaitu yang pertama, aspek teknis adalah proses penangan sampah dari awal sampai akhir. Kedua, aspek ekonomis adalah perbandingan antara input dan output retribusi atau anggaran dalam pengelolaan sampah. Ketiga, aspek sosio politik adalah kerja sama pemerintah daerah dalam proses penanganan sampah.

Model pengelolaan sampah di Indonesia ada dua macam, yaitu urugan dan tumpukan. Model pertama merupakan cara yang paling sederhana, yaitu sampah dibuang di lembah atau cekungan tanpa memberikan perlakuan. Urugan atau model buang dan pergi ini bisa saja dilakukan pada lokasi yang tepat, yaitu bila tidak ada pemukiman di bawahnya, tidak menimbulkan polusi udara, polusi pada air sungai, longsor, atau estetika. Model ini umumnya dilakukan untuk suatu kota yang volume sampahnya tidak begitu besar (Sudradjat, 2007:10-11). Umumnya pengelolaan sampah di luar negeri, khususnya Eropa, sudah dimulai di rumah tangga, yaitu dengan memisahkan sampah organik dan anorganik. Kantong sampah terbuat dari bahan yang bisa didaur ulang. Warna kantong dibedakan antara sampah organik dan anorganik. Kantong sampah organik biasanya berwarna hijau, sedangkan kantong sampah anorganik berwarna cokelat. Adapun kantong sampah barang beracun berwarna merah. Selain dilokasi perumahan, pemerintah setempat juga menyediakan tempat sampah di lokasi strategis untuk tempat buang sampah dilokasi umum. Konstruksi tempat sampah sedemikian rupa sehingga mudah diangkut oleh truk sekaligus bersama tempat sampahnya ke lokasi pengolahan (Sudradjat, 2007:16-17). Masalah sampah mutlak harus ditangani secara bersama-sama antara pemerintah dan masyarakat itu sendiri. Dalam undang-undang nomor 18 tahun 2008 pasal 5 yaitu pemerintah dan pemerintahan daerah bertugas menjamin terselenggaranya pengelolaan sampah yang baik dan berwawasan lingkungan sesuai dengan tujuan sebagaimana dimaksud dalam undang-undang ini. Menurut Taliziduhu Ndraha (2011:76-78),

Fungsi pemerintah yaitu fungsi pelayanan adalah jasa yang tidak diprivatisasikan dan layanan civil termasuk layanan birokrasi. Fungsi pembangunan adalah meningkatkan kondisi ekonomi masyarakat lemah. Dan fungsi pemberdayaan adalah peningkatan bargaining position dan bargaining power suatu pihak agar mampu berhadapan secara relatif sejajar dengan pihak lain dalam rangka menciptakan rasa keadilan bersama melalui solusi (kesepakatan) yang saling menguntungkan. Berdasarkan yang dikemukakan oleh Taliziduhu Ndraha, fungsi pemerintahan adalah memberikan pelayanan terhadap masyarakat, salah satunya dalam pengelolaan sampah, meningkatkan kondisi ekonomi masyarakat dengan menyediakan sarana dan prasarana dalam pengelolaan sampah, dan peningkatan bargaining position dan bargaining power suatu pihak agar mampu berhadapan secara relatif sejajar dengan pihak lain dalam rangka menciptakan rasa keadilan bersama melalui solusi (kesepakatan) yang saling menguntungkan dalam pengelolaan sampah. Dinas Perumahan, Tata Ruang dan Kebersihan (DISPERTASIH) Kabupaten Bandung terdiri dari berbagai bidang yaitu bidang pengembangan kawasan, bidang pengembangan perumahan, bidang penataan ruang, bidang penataan dan pengendalian bangunan, bidang pemukiman dan bidang kebersihan. Yang mempunyai tugas dalam pengelolaan sampah yaitu bidang kebersihan. Tugas pokok bidang kebersihan Kabupaten Bandung adalah memimpin, mengkoordinasikan dan mengendalikan tugas-tugas di bidang pelayanan kebersihan meliputi pelayanan kebersihan, kerjasama pengelolaan sampah dan pengembangan sarana dan prasarana.1 Bidang kebersihan mempunyai empat unit pelaksana teknis dinas (UPTD) sesuai wilayah yaitu Soreang, Ciparay, Bale

Dokumen bidang kebersihan 2013.

Endah, Rancaekek. Tugas UPTD Kabupate Bandung adalah memimpin, merencanakan, melaksanakan mengevaluasi dan melaporkan pengelolaan sebagian fungsi dinas di bidang pelayanan pengangkutan sampah dan tinja.2 Kabupaten Bandung memiliki luas wilayah 176.239 Ha, terdiri dari 31 kecamatan, 267 desa, 9 kelurahan dengan jumlah penduduk tahun 2010 adalah sebanyak 3.215.548 jiwa.3 Berdasarkan laporan akuntabilitas kinerja Dinas Perumahaan, Tata Ruang dan Kebersihan (DISPERTASIH) Kabupaten Bandung tahun 2012 jumlah volume sampah yang di hasilkan 4871 volume sampah yang terangkut 714 /hari. Sedangkan

/hari. Melihat kondisi tersebut persentase

pelayanan penganan sampah di Kabupaten Bandung sebesar 14,66%.4 Rendahnya pelayanan penanganan sampah diakibat dari kurangnya armada penangkutan sampah dan kurangnya perawatan terhadap kendaraan pengangkutan sampah. Selain itu, kesadaraan masyarakat dalam mengelola sampah pun di Kabupaten Bandung masih kurang. Saluran-saluran air, merupakan tempat favorit untuk membuang sampah. Akibatnya terjadi genangan di musim hujan karena saluran air yang tidak dapat berfungsi optimal akibat timbunan sampah di dalamnya. Bahkan untuk membuang sampah ditempat yang disediakan saja, banyak anggota masyarakat yang tidak dapat memenuhinya. Kondisi ini akhirnya akan berpengaruh pada kesehatan masyarakat.5

2 3 4 5

Dokumen bidang kebersihan 2013. Dokumen bidang kebersihan 2013. Laporan Akuntabilitas Kinerja DISPERTASIH Tahun 2012.

Hasil wawancara dengan Nandi Endiana (Staff lapangan bidang kebersihan wilayah Rancaekek Kabupaten

Bandung) 20 Desember 2012 di wilayah Rancaekek.

Berdasarkan uraian latar belakang tersebut maka peneliti bermaksud untuk melakukan penelitian mengenai PERAN PEMERINTAH DALAM

PENGELOLAAN SAMPAH (Studi Kasus Pada Dinas Perumahan, Tata


Ruang dan Kebersihan Kabupaten Bandung).

1.2 Identifikasi Masalah Berdasarkan latar belakang di atas peneliti membuat identifikasi masalah sebagai berikut : 1. Bagaimana pelayanan yang dilakukan oleh pemerintah Kabupaten Bandung dalam penanganan sampah ? 2. Bagaimana pembangunan yang dilakukan oleh pemerintah Kabupaten Bandung dalam penanganan sampah? 3. Bagaimana pemberdayaan yang dilakukan oleh pemerintah Kabupaten Bandung dalam penanganan sampah ?

1.3 Maksud dan Tujuan Penelitian Berdasarakan uraian identifikasi masalah sebelumnya maka maksud dan tujuan dari penelitian ini adalah : 1. Mendeskripsikan dan menganalisis pelayanan yang dilakukan oleh pemerintah Kabupaten Bandung dalam penanganan sampah.

2. Mendeskripsikan dan menganalisis pembangunan yang dilakukan oleh pemerintah Kabupaten Bandung dalam penanganan sampah. 3. Mendeskripsikan dan menganalisis pemberdayaan yang dilakukan oleh pemerintah Kabupaten Bandung dalam penanganan sampah.

1.4 Kegunaan Penelitian Kegunaan dari penelitian ini adalah sebagai berikut : 1. Bagi kepentingan akademis, penelitian ini diharapkan dapat menjadi media untuk mengaplikasikan berbagai teori yang telah dipelajari, sehingga selain berguna bagi pengalaman peneliti sendiri, juga bagi pengembangan ilmu pengetahuan khususnya ilmu pemerintahan. Untuk hasil akhirnya, penelitian ini diharapkan dapat memperkuat atau memperbaiki teori-teori yang sudah ada, khususnya yang berkaitan dengan variabel-variabel di dalam penelitian ini. 2. Bagi kepentingan Dinas Perumahan, Tata Ruang dan Kebersihan (DISPERTASIH) di Kabupaten Bandung, penelitian ini diharapkan dapat memberikan masukan atau bahan rujukan mengenai peran pemerintah dalam pengelolaan sampah. 3. Bagi penulis sendiri, penelitian ini diharapkan dapat memberi pengetahuan empiris, mengenai peranan pemerintah dalam pengelolaan sampah di Kabupaten Bandung.

1.4 Kerangka Pemikiran Peranan (role) merupakan aspek dinamis kedudukan (status). Apabila seseorang melaksanakan hak dan kewajibannya sesuai dengan kedudukannya, dia menjalankan suatu peranan. Hal itu sekaligus berarti bahwa peranan menentukan apa yang diperbuatnya bagi masyarakat serta kesempatan-kesempatan apa yang diberikan oleh masyarakat kepadanya. Menurut Soerjono Soekanto (2006:213), Peranan lebih banyak menunjuk pada fungsi, penyesuaian diri, dan sebagai suatu proses. Jadi, seseorang menduduki suatu posisi dalam masyarakat serta menjalankan suatu peranan. Berdasarkan yang dikemukakan Soerjono Soekanto, peranan merupakan aspek dinamis kedudukan atau status seseorang. Seseorang akan dinyatakan melaksanakan peranan setelah menjalankan hak dan

kewajibannya sesuai dengan kedudukannya. Hak dan kewajiban tersebut juga menentukan tindakan-tindakan seseorang dalam melaksanakan pelayanan. Masyarakat akan memberikan kesempatan-kesempatan atas tindakan-tindakan tersebut. masyarakat akan memberikan tanggapan-tanggapan atas peranan yang yang dilakukan oleh seseorang. Menurut Levinson peranan mungkin mencangkup tiga hal, yaitu sebagai berikut. a. Peranan meliputi norma-norma yang dihubungkan dengan posisi atau tempat seseorang dalam masyarkat. Peranan dalam arti ini merupakan rangkain peraturan-peraturan yang membimbing seseorang dalam kehidupan kemasyarakatan. b. Peranan merupakan suatu konsep tentang apa yang dapat dilakukan oleh individu dalam masyarkat sebagai organisasi. c. Peranan juga dapat dikatakan sebagai prilaku individu yang penting bagi struktur sosial masyarakat (dalam Soerjono Soekanto, 1964:204). Berdasarkan yang dikemukakan Levinson dalam buku Soerjono Soekanto,

10

peranan mencakup tiga hal. Pertama, peranan merupakan penilaian dari perilaku seseorang yang berada di masyarakat. Perilaku seseorang yang berkaitan dengan posisi dan kedudukannya di masyarakat. Perilaku tersebut diatur dengan peraturan yang berlaku untuk membimbing seseorang di masyarakat. Kedua, peranan merupakan konsep-konsep yang dilakukan oleh seseorang dalam masyarakat sesuai dengan kedudukannya. Ketiga, peranan merupakan perilaku seseorang yang penting bagi struktur sosial masyarakat. Menurut Taliziduhu Ndraha (2011:76) fungsi pemerintah yaitu : 1. Pelayanan adalah jasa yang tidak diprivatisasikan dan layanan civil termasuk layanan birokrasi. 2. Pembangunan adalah meningkatkan kondisi ekonomi masyarakat lemah. 3. Pemberdayaan adalah peningkatan bargaining position dan bargaining power suatu pihak agar mampu berhadapan secara relatif sejajar dengan pihak lain dalam rangka menciptakan rasa keadilan bersama melalui solusi (kesepakatan) yang saling menguntungkan. Menurut Riyaas Rasyid (dalam Surjadi, 2009:40), sejauh ini dikenal ada tiga fungsi kategori urusan pemerintahan daerah yaitu : a. Urusan yang sifatnya sebagai pelayanan pemerintahan kepada masyarakat. b. Urusan yang sifatnya dapat memberikan dapak positif pada peningkatan pertumbuhan pembangunan dan ekonomi masyarakat. c. Urusan yang sifatnya dapat membuka peluang bagi pemerintah daerah untuk menggali dan meningkatkan sumber-sumber pendapatan asli daerah. Berdasarakan yang dikemukakan oleh Taliziduhu Ndraha dan Riyas Rasyid fungsi pemerintah yaitu pertama, pelayanan adalah jasa publik yang tidak privatisasikan atau pelayanan pemerintah kepada masyarakat. Kedua, pembangunan adalah meningkatkan dapak positif pada peningkatan pertumbuhan pembangunan dan ekonomi masyarakat. Dan ketiga, pemberdayaan adalah peningkatan bargaining

11

position dan bargaining power suatu pihak agar mampu berhadapan secara relatif sejajar dengan pihak lain dalam rangka menciptakan rasa keadilan bersama melalui solusi (kesepakatan) yang saling menguntungkan dan meningkatkan sumber-sumber pendapatan asli daerah. Menurut Hanif Nurcholis (2005:179-184) pemerintahan baik pusat maupun daerah mempunyai tiga fungsi utama: Fungsi pertama, yaitu public services functions berarti pemerintah wajib memberikan pelayanan publik secara perorangan maupun khalayak/publik. Fungsi kedua pemerintahan adalah membangun fasilitas publik untuk sarana menumbuhkan perekonomian daerah (development for economic growth functions). Fungsi ketiga dari pemerintahan adalah memberikan perlindungan pada masyarakat (protective functions). Dengan demikian fungsi pemerintahan yang dikemukakan oleh Hanif Nurcholis yaitu pemerintah wajib memberikan pelayanan publik secara perorangan maupun khalayak/publik, membangun fasilitas publik untuk sarana menumbuhkan

perekonomian daerah dan memberikan perlindungan pada masyarakat. Menurut Surjadi (2009:40-42) bahwa penyelenggaraan fungsi pemerintah daerah mencangkup penyelenggaraan urusan-urusan pemerintahan daerah yang dapat dikelompokkan menjadi 4 (empat) urusan yaitu: a. Urusan memberikan pelayanan pemenuhan kebutuhan/kepentingan masyarakat (pulic interest) maupun mengatasi masalah-masalah masyarakat (public affairs). b. Urusan pemberdayaan masyarakat (public energazing), agar masyarakat mampu memenuhi kepentingan dan masalah-masalahnya dengan kekuatan sendiri (enabler). c. Urusan pemerintahan daerah dalam upaya meningkatkan kemampuan finansial (revenue improvement) sebagai karakteristik daerah otonom yang memiliki hak dan kewenangan mengurus rumah tangganya sendiri yang di buktikan dengan kemampuan dalam pembiayaan penyelenggaraan urusan-urusan daerah.

12

d. Urusan pemerintah daerah dalam pelaksanaan fungsi mengatur (regulate) untuk kepentingan dan melindungi masyarakat (to protect the people) sesuai peraturan perundangan yang berlaku. Dengan demikian fungsi pemerintahan yang dikemukakan oleh Riyaas Rasyid yaitu urusan memberikan pelayanan pemenuhan kebutuhan/ kepentingan masyarakat diberbagai bidang, urusan pemberdayaan masyarakat, agar masyarakat mampu memenuhi kepentingan dan masalah-masalahnya dengan kekuatan sendiri, urusan pemerintahan daerah dalam upaya meningkatkan kemampuan finansial dan urusan pemerintah daerah dalam pelaksanaan fungsi mengatur. Dari pendapat-pendapat yang dikemukakan para ahli, penelitian ini menggunakan fungsi pemerintah yang dikemukakan oleh Taliziduhu Ndraha yaitu fungsi pelayanan adalah pemerintah wajib memberikan pelayanan terhadap masyarakat. Fungsi pembangunan adalah meningkatkan ekonomi masyarakat dengan cara penyediaan sarana dan prasarana. Fungsi pemberdayaan adalah peningkatan bargaining position dan bargaining power suatu pihak agar mampu berhadapan secara relatif sejajar dengan pihak lain dalam rangka menciptakan rasa keadilan bersama melalui solusi (kesepakatan) yang saling menguntungkan. Undang-undang nomor 18 tahun 2008 pasal 5 yaitu pemerintah dan pemerintahan daerah bertugas menjamin terselenggaranya pengelolaan sampah yang baik dan berwawasan lingkungan sesuai dengan tujuan sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang ini. Dalam peraturan tersebut menjelaskan bahwa pemerintah dan pemerintahan daerah mempunyai tugas untuk

menyelenggarakan pengelolaan sampah.

13

Menurut Kuncoro Sejati (2009:24) Pengelolaan sampah adalah semua kegiatan yang dilakukan untuk menangani sampah sejak ditimbulkan sampai pembuangan akhir. Penanganan sampah dibagi menjadi tiga aspek yaitu aspek teknis, ekonomis dan sosio politis. Aspek teknis dapat dijelaskan bahwa proses penanganan sampah meliputi beberapa fase yaitu : 1. Tahap penampungan adalah masyarakat menampung sampah masingmasing di tempat sampahnya. 2. Tahap pengumpulan sampah adalah pengumpulan sampah setempat dari sumber penghasilan sampah, misalnya pemukiman, pasar, perkantoran, sekolah dan jalan. 3. Tahap pemindahan sampah adalah sampah dipindahkan ke Tempat Penampungan Sementara (TPS). 4. Tahap pengangkutan adalah sampah diangkut menggunakan truk sampah dari TPS ke TPA. 5. Tahap pembuangan akhir adalah pemusnahan sampah di lokasi pembungan akhir. Aspek ekonomis adalah perbandingan antara input retribusi sampah yang diterapkan dengan output yang dikeluarkan pemerintah daerah untuk mengelola sampah. Aspek sosio politik adalah hubungan/kerja sama antara pemerintah daerah dalam menangani sampah (Kuncoro Sejati, 2009:32-33). Berdasarakan yang dikemukakan oleh Kuncoro Sejati, penanganan sampah di bagi menjadi tiga aspek yaitu yang pertama, aspek teknis adalah proses penangan sampah dari awal sampai akhir yang terdiri dari tahap penampungan sampah, tahap pengumpulan sampah dan tahap pemindahan sampah. Kedua, aspek ekonomis adalah perbandingan antara input dan output retribusi pengelolaan sampah. Ketiga, aspek sosio politik adalah kerja sama pemerintah daerah dalam proses penanganan sampah. Peran pemerintah dalam pengelolaan sampah yaitu pelayanan,

pembangunan dan pemberdayaan. Pelayanan penanganan sampah di bagi menjadi dua aspek yaitu teknis dan ekonomis. Pelayanan penanganan sampah di

14

Kabupaten Bandung secara teknis yaitu pengangkutan sampah. Sesuai dengan peraturan daerah Kabupaten Bandung nomor 15 tahun 2012 yaitu pemerintah daerah bertanggung jawab melaksanakan sistem pengangkutan sampah dari sumber sampah ke Tempat Pemrosesan Akhir (TPA). Sistem pengangkutan sebagaimana dimaksud dalam peraturan daerah ini adalah pelayanan

pengangkutan sampah. Masyarakat yang menerima pelayanan pengangkutan sampah, wajib membayar retribusi sampah. Retribusi ini digunakan untuk anggaran pelaksanaan pengelolaan sampah. Untuk itu, pemerintah memerlukan aspek ekonomis dalam pengelolaan sampah. Aspek ekonomis yaitu perbandingan antara input retribusi sampah yang diterapkan dengan output yang dikeluarkan pemerintah daerah untuk mengelola sampah. Fungsi pembangunan dalam penangan sampah dibagi menjadi dua aspek yaitu teknis dan sosio politik. Secara teknis fungsi pembangunan dalam penanganan sampah adalah penyedian fasilitas pengelolaan sampah dan melaksanakan pengelolaan sampah. Sesuai dengan peraturan daerah Kabupaten Bandung nomor 15 tahun 2012 yaitu tugas pemerintah daerah adalah memfasilitasi, mengembangkan, dan melaksanakan upaya pengurangan,

penanganan dan pemanfaatan sampah. Tempat Pembuangan Sementara (TPS) dan Tempat Pembuangan Akhir (TPA) yaitu sarana dan prasarana yang digunakan untuk tempat penampungan sementara dan pembuangan akhir dalam pengelolaan sampah. Untuk meningkatkan sarana dan prasarana dalam penanganan sampah dibutuhkan aspek sosio politik. Aspek sosio politik yaitu hubungan/kerja sama antara pemerintah daerah dalam menangani sampah.

15

Peran pemerintah dalam pengelolaan sampah yang terakhir adalah pemberdayaan. Pemberdayaan dalam penanganan sampah secara teknis adalah meningkatkan partisipasi masyarakat dalam pengelolaan sampah dimulai dari tahap penampungan sampah, pengumpulan sampah dan pemindahan sampah. Sesuai dengan peraturan daerah Kabupaten Bandung nomor 15 tahun 2012 yaitu setiap orang dalam pengelolaan sampah rumah tangga dan sampah sejenis rumah tangga wajib mengurangi dan menangani sampah dengan cara yang berwawasan lingkungan. Manfaat dari pengelolaan sampah yaitu menjaga lingkungan dan mengurangi jumlah volume sampah. Menurut Roni dan Ade (2007:79-80) manfaat dari pengelolaan sampah yaitu : 1. Melindungi (mengonservasi) sumber daya yang dimiliki, seperti : 1) Mineral; yang digunakan untuk membuat banyak bahan yang berguna (contoh: bauxite yang digunakan untuk membuat alumunium) 2) Energi; yang digunakan dalam pertambangan, pemanenan, fabrikasi dan transportasi. 3) Kawasan hutan; yang digunkan untuk membuat berbagai macam kertas dan berbagai macam produk olahan kayu. 4) Minyak bumi (petroleum); yang digunakan baik sebagai bahan bakar maupun untuk bahan baku plastik. 5) Lahan; yakni sebagai tempat berbagai kegiatan manusia. 2. Menghemat uang. Mengurangi sampah dapat menghemat uang dalam berbagai cara seperti : 1) Sedikit membuang sampah, akan berkurang kemungkinan untuk membelanjakan uang dan membuang sesuatu yang bisa menjadi sampah. 2) Bisnis menjadi lebih efisien. 3) Pendapatan keluarga lebih baik. 3. Mengurangi dampak buruk terhadap lingkungan. 1) Kulitas lingkungan di beberapa areal seringkali dipengaruhi oleh adanya aktivitas ekstraksi atau eksploitasi sumber daya, misalnya di daerah pertambangan.

16

2) Pengurangan atas penggunaan bahan bakar fosil untuk energi akan mengurangi pembungan gas yang memiliki efek rumah kaca atau sumber polusi lainnya. Berdasarkan yang dikemukakan oleh Ade dan Roni manfaar dari pengelolaan sampah yaitu melindungi sumber daya yang dimiliki seperti mineral, energi, kawasan hutan, minyak bumi dan lahan, Mengurangi sampah dapat menghemat uang dalam berbagai cara seperti bisnis menjadi lebih efisien dan mengurangi dampak buruk terhadap lingkungan. Berdasarkan uraian tersebut, maka penulis mencoba menyusun anggapan dasar sebagai berikut : 1. Fungsi pemerintah adalah pelayanan, pemberdayaan dan pembangunan. 2. Pengelolaan sampah meliputi tiga aspek yaitu pertama, aspek teknis adalah penampungan, pengumpulan sampah, pemindahan sampah, pengangkutan dan pembuangan akhir. Kedua, aspek ekonomi adalah perbandingan antara input dan output retribusi sampah untuk mengelola sampah. Dan ketiga, sosio politik adalah hubungan kerja sama antara pemerintah daerah untuk mengelola sampah. 3. Pengelolaan sampah bermanfaat untuk menjaga lingkungan dan

mengurangi jumlah volume sampah. Berdasarkan anggapan dasar tersebut maka dirumuskan proposisi sebagai berikut : Peran pemerintah dalam pengelolaan sampah di Kabupaten Bandung di bagi menjadi tiga yaitu pelayanan penangan sampah dilihat dari aspek teknis dan aspek

17

ekonomis, pembangunan penanganan sampah dilihat dari aspek teknis dan sosio politik dan pemberdayaan penanganan sampah dilihat dari aspek teknis.

Peran Pemerintah Dalam Pengelolaan Sampah

Pelayanan Penangan Sampah : 1. Aspek Teknis 2. Aspek Ekonomis

Pembangunan Penangan Sampah : 1. Aspek Teknis 2. Aspek Sosio Politik

Pemberdayaan Penangan Sampah Dari Aspek Teknis

Menjaga Lingkungan dan Mengurangi Volume sampah di Kabupaten Bandung. Diagram 1.1 Model Kerangka Pemikiran (Sumber : Analisis Peneliti, 2013)

1.5 Metode Penelitian Dalam buku Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif, dan R & D (2010,2) yang dibuat oleh Sugiyono, dikutip bahwa: Metodologi penelitian merupakan cara ilmiah untuk mendapatkan data dengan tujuan dan kegunaan tertentu. Berdasarkan hal tersebut terdapat empat kata kunci yang perlu diperhatikan yaitu cara ilmiah, data, tujuan,

18

dan kegunaan. Cara ilmiah berarti didasarkan ciri-ciri keilmuan. Rasional berarti kegiatan penelitian dilakukan dengan masuk akal. Empiris berarti cara-cara yang dilakukan dapat diamati oleh indera manusia. Sistematis artinya proses yang digunakan dalam penelitian itu menggunakan langkahlangkah tertentu yang bersifat logis. Penelitian ini menggunakan metode penelitian deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Penggunaan metode deskriptif karena penelitian ini dimaksudkan untuk menjelaskan dan menggambarkan sifat suatu keadaan yang berjalan pada saat penelitian dilakukan, dalam hal ini Peran Pemerintah dalam pengelolaan sampah di Kabupaten Bandung. Moch. Nazir mengemukakan bahwa metode deskriptif adalah : Suatu metode dalam penelitian suatu status kelompok manusia, suatu objek, suatu set kondisi, suatu sistem pemikiran atau kelas peristiwa pada masa sekarang. Tujuan dari penelitian deskriptif ini adalah untuk membuat deskripsi atau gambaran atau lukisan secara sistematis, faktual, dan akurat mengenai fakta-fakta, sifat-sifat serta hubungan fenomenal yang diselidiki (Nazir, 1998:63). Berdasarkan pengertian tersebut dapat disimpulkan bahwa penelitian deskriptif adalah suatu cara kerja dalam kegiatan penelitian yang bertujuan memberikan gambaran secara sistematis sehingga dapat dikemukakan suatu cara pemecahan masalah. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif. Metode penelitian kualitatif adalah metode penelitian yang berlandaskan pada filsafat postpositivisme, digunakan untuk meneliti pada kondisi obyek alamiah, (sebagai lawannya eksperimen) dimana peneliti adalah sebagai instrumen kunci, teknik pengumpulan data dilakukan secara triangulasi (gabungan), analisis data bersifat induktif/kualitatif, dan hasil penelitian kualitatif lebih menekankan makna dari pada generalisasi (Sugiyono, 2010:9).

19

Menurut Moleong (2007:7) fungsi dan pemanfaatan penelitian kualitatif adalah: 1. Digunakan oleh peneliti bermaksud meneliti sesuatu secara mendalam. 2. Dimanfaatkan oleh peneliti yang berminat untuk menelaah sesuatu latar belakang misalnya tentang motivasi, peranan, nilai, sikap, dan persepsi. 3. Dimanfaatkan oleh peneliti yang ingin meneliti sesuatu dari segi proses. Karakteristik penelitian kualitatif dikemukakan oleh Bogdan dan Biklen dalam Sugiyono (2010:13) adalah sebagai berikut: 1. Dilakukan pada kondisi yang alamiah, (sebagai lawannya adalah eksperimen), langsung ke sumber data dan penelitian adalah intrumen kunci. 2. Penelitian kulitatif lebih bersifat deskriptif. Data yang terkumpul berbentuk kata-kata atau gambar, sehingga tidak menekankan pada angka. 3. Penelitian kualitatif lebih menekankan pada proses daripada produk atau outcom. 4. Penelitian kualitatif melakukan analisis data secara induktif. 5. Penelitian kualitatif lebih menekankan makna (data dibalik yang teramati). Penelitian kualitatif dipilih dengan pertimbangan bahwa dengan melalui penelitian kualitatif diharapkan dan mampu mengkaji masalah penelitian secara mendalam, sehingga dapat mempermudah penjelasan yang bermakna tentang Peran Pemerintah dalam pengelolaan sampah di Kabupaten Bandung.

Teknik Pengumpulan Data Terdapat dua hal utama yang mempengaruhi kualitas data hasil penelitian , yaitu, kualitas instrumen penelitian dan kualitas pengumpulan data (Sugiyono, 2010:137). Kualitas instrumen penelitian berkenaan dengan validitas dan reliabilitas instrumen dan kualitas pengumpulan data berkenaan ketepatan caracara yang digunakan untuk mengumpulkan data. Adapun teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :

20

1. Studi pustaka, yaitu pengumpulan data dengan mempelajari beberapa literatur untuk memperoleh pemahaman tentang konsep-konsep dan teori-teori serta peraturan-peraturan yang berhubungan dengan tema penelitian. 2. Studi lapangan, yaitu pengumpulan data dengan cara mengumpulkan dan meyeleksi data yang diperoleh dari tempat penelitian. Studi lapangan ini diperoleh dengan teknik, a. Observasi, Yaitu pengamatan langsung yang dilakukan oleh peneliti dilokasi penelitian sehingga data yang didapat adalah data yang akurat. Menurut Sutrisno Hadi (dalam Sugiyono, 2010:145) mengemukakan bahwa, Observasi merupakan suatu proses yang kompleks, suatu proses yang tersusun dari pelbagai proses biologis dan psikologis. Dua diantara yang terpenting adalah proses-proses pengamatan dan ingatan. Pelaksana pengelolaan sampah yaitu Dinas Perumahaan, Tata Ruang dan Kebersihan (DISPERTASIH) b. Wawancara Yaitu dengan melakukan tanya jawab langsung dengan narasumber yang dapat diperkirakan dapat memberikan informasi yang diperlukan. Menurut Sugiyono (2010:137), Wawancara digunakan sebagai teknik pengumpulan data apabila peneliti ingin melakukan studi pendahuluan untuk menemukan permasalahan yang harus diteliti dan juga apabila peneliti ingin mengetahui hal-hal dari responden yang lebih mendalam dan jumlah respondennya sedikit/kecil.

21

Narasumber yang dapat memberi informasi dalam penelitian kualitatif disebut informan. Adapun teknik pengambilan informasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah dengan menggunakan teknis purposive. Menurut Sugiyono (2010, 85) mengemukakan purposive yaitu teknik penentuan sampel dengan pertimbangan tertentu. Dalam hal ini, informan dalam penelitian ini adalah : 1. Kepala Bidang Kebersihan. 2. Kepala Seksi Pelayanan Kebersihan. 3. Kepala Seksi Pengembangan Prasarana dan Sarana. 4. Kepala UPTD wilayah Rancaekek. 5. Kepala UPTD wilayah Soreang. 6. Kepala UPTD wilayah Bale Endah. 7. Kepala UPTD wilayah Ciparay. c. Dokumentasi Dokumen merupakan catatan peristiwa yang sudah berlalu. Dokumen bisa berbentuk tulisan, gambar, atau karya-karya monumental dari seseorang. Sumber dokumen dari Dina Perumahaan, Tata Ruang Dan Kebersihan (DISPERTASIH) dan bidang kebersihan.

Teknik Analisis Data Analisis data adalah proses mencari dan menyusun secara sistematis data yang diperoleh dari hasil wawancara, catatan lapangan, dan bahan-bahan lain,

22

sehingga dapat mudah dipahami dan tentunya dapat diinformasikan kepada orang lain (Sugiyono, 2010:244). Teknik analisis model Miles dan Huberman (dalam Sugiyono, 2010:266) yaitu data reduction, data display, dan conclusion drawing/verification. Ketiga langkah tersebut dapat dilakukan pada semua tahap dalam proses penelitian kualitatif, yaitu tahapan deskripsi, fokus dan seleksi. Dalam penelitian kualitatif, teknik analisis data yang lebih banyak dilakukan bersamaan dengan pengumpulan data, sesuai dengan metode penelitian deskriptif dengan pendekatan kualitatif, maka analisis data yang dilakukan sepanjang penelitian. Analisis data bertujuan untuk menyederhanakan data kedalam bentuk yang lebih sederhana sehingga mudah dipahami sehingga simpulan yang diambil secara tepat dan sistematis.

Teknik Validasi Data Pada penelitian kualitatif, orang tidak dapat langsung percaya dengan keabsahan data penelitian yang kita peroleh karena sifat penelitian kualitatif yang syarat nilai. Baik itu nilai-nilai dari peneliti, paradigma dan teori yang digunakan, dan nilai-nilai dalam situasi tempat penelitian. Triangulasi ini diartikan sebagai pengecekan data dari berbagai sumber dengan berbagai cara, dan berbagai waktu (Sugiyono, 2010:273). Dengan demikian terdapat tiga jenis triangulasi yaitu triangulasi sumber, triangulasi teknik pengumpulan data, dan triangulasi waktu. Dalam penelitian ini ketiga teknik tersebut dapat diuraikan sebagai berikut : a. Triangulasi Sumber

23

Triangulasi sumber untuk menguji kredibiltas data dilakukan dengan cara mengecek data yang telah diperoleh melalui beberapa sumber. b. Triangulasi Teknik Pengumpulan Data Triangulasi teknik untuk menguji kredibilitas data dilakukan dengan cara mengecek data kepada sumber yang sama dengan teknik yang berbeda. c. Triangulasi Waktu Waktu juga sering mempengaruhi kredibilitas data (Sugiyono, 2010:274).

1.7 Lokasi dan Waktu Penelitian Lokasi penelitian dilakukan Jalan Raya Soreang KM 17 Soreang Komplek Pemda Kabupaten Bandung Telp. (022) 589 1184 /3660 /5012 dan Jalan SoreangBanjaran KM 3 Kabupaten Bandung. Adapun lamanya penelitian dilaksanakan selama 11 bulan, yaitu dari bulan November 2012 - Oktober 2013, dengan perincian sebagai berikut : 1. Studi pustaka/observasi pertama dilakukan pada bulan November 2012 Februari 2013. 2. Usulan penelitian dilaksanakan pada bulan Maret 2013. 3. Penelitian lapangan dilaksanakan pada bulan Maret-Agustus 2013. 4. Pengolahan data dilaksanakan pada bulan Jun-September 2013. 5. Sidang Draf dilaksanakan pada bulan Oktober 2013. 6. Sidang Skripsi dilaksanakan pada bulan Oktober 2013.