Anda di halaman 1dari 15

LAPORAN TUTORIAL BLOK VII PEMICU 3 Batuk terus menerus pada Bayi

Disusun Oleh : Kelompok I


Ketua Sekretaris Anggota : : : Novrita Sitorus Christin Iglesia Theresia Andriyani Elsa Sri Gantina Sella Betty. S Irma Suryani Manggala Putra Krismenda Sigiro Christy N. Tarigan (12000002) (12000041) (12000021) (12000011) (12000012) (12000042) (12000022) (12000032) (12000031)

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS HKBP NOMMENSEN TAHUN 2012/2013

Pemicu :
Seorang ibu membawa anak laki-lakinya yang berumur 9 bulan berobat ke rumah sakit dengan keluhan batuk seperti sura menggonggong terutama malam hari. Hal in sudah dialami ank sejak 3 hari yang lalu. Sejak 1 hari ini, anak tampak kesusahan bernafas Dan suara tangisannya terdengar serak. Pada pemeriksaan fisik didapati : anak laki-laki, usia 9 bulan, berat badan 8,5 kg, Temperatur 37,7oC Thoraks : Simetris fusiformis, retraksi intercostl (+) HR : 110 x/ i, regular, desah (-) RR : 50 x/ i, regular, stridor inspiratoar (+)

More Info :
Laboratorium : Hb 12 gr %, Leukosit 9.500/mm3, Trombosit 245.000/ mm3 Difftel : 1/0/50/9/25/15 Foto AP neck X-Ray : Steeple sign (+)

Unfamilliar Terms :
-

Masalah :
Batuk, seperti suara menggonggong pada malam hari. Sulit bernafas & suara tangisan serak.

Analisa masalah :
Perubahan cuaca Mikroorganisme

Reaksi antigen

Mengivasi mukosa

demam

peradangan

Mukosa berlebihan

Gangguan plica vocalis

sesak

Stridor inspirator

Suara serak

Hipotesa :
Laringo tracheo bronkitis akut (CROUP)

Learning Issue :
1. Diagnosa Banding sesak nafas, batuk disertai suara serak. 2. Infeksi respiratory akut (definisi dan klasifikasi) 3. All about CROUP 4. Patofisiologi CROUP 5. Pemeriksaan Penunjang 6. Penatalaksanaan : Farmakologi Non farmakologi

7. Pencegahan 8. Komplikasi dan Prognosis

Learning Issue 1 Diagnosa Banding Batuk Disertai Suara Serak dan Sesak Nafas
Diagnosa Penyakit Laringotracheo -bronchitis Usia Sering Terjadi 3 bulan 3 tahun Riwayat Keluarga Croup 3 bulan 3 tahun Biasanya coryza (hidung mampat) Croup Spasmodik Riwayat Keluarga Croup 3 bulan 3 tahun Minimal ada coryza Mendadak , selalu malam hari Laringotracheitis akut Riwayat Keluarga Croup Biasanya coryza Sedang, 12-48 jam (+), bervariasi (37,840,50C Laringitis Anak sekolah dan dewasa Tidak ada Biasanya coryza Bervariasi , 12 jam 4 hari (+), bervariasi (37,839,4)0C Laringitis Difteri Semua Usia Imunisasi (-) atau tidak adekuat Biasanya faringitis Lambat, selama 2-3 hari (+), biasanya (37,838,5)0C Epiglotitis Akut 1-8 tahun Kadangkadang coryza Cepat, 412 jam (+), biasanya 39,50C + + + Progresif 12 jam -7 hari RPT dan RPK Prodromal Awitan Gejala dan Demam (+), bervariasi (37,840,50C Tidak ada + + Serak & Batuk menggonggong

Learning Issue 2 Infeksi Respiratory Akut


IRA (infection respiratory acute) adalah infeksi saluran pernafasan akut yang mengandung 3 unsur, yaitu infeksi, infeksi akut dan saluran pernafasan Infeksi adalah masuknya mikroorganisme ke dalam tubuh dan berkembang biak sehingga

menimbulkan gejala penyakit (depkes RI 2007) Infeksi akut adalah infeksi yang berlangsung sampai denagn 14 hari untuk menunjukkan proses akut Saluran pernafasan adalah organ pernafasan yang dimulai dari rongga hidung (cavum nasi)hingga alveoli. KLASIFIKASI Acute infection rhinitis Pharingitis Acute sinusitis Laringo trakheo bronkhitis Epiglotitis Bronkitis akut Bronkiolitis akut Pneumonia

ISPA : Acute infection rhinitis Pharingitis Acute sinusitis

ISPB : Laringo thrakeo bronkhitis Epiglotitis

Bronkitis akut Bronkiolitis akut Pneumonia

Learning Issue 3 All About CROUP


Defenisi croup Croup adalah suatu grup penyakit heterogen yang mengenai laring,infra/subglotis,trakea dan bronkus.karakteristik croup adalah batuk yang menggongong , suara serak ,stridor inspirasi dengan atau tanpa adanya obstruksi jalan nafas.

Etiologi Virus penyebab tersering sindrom croup (sekitar 60% kasus) adalah Human Parainfluenza virus type 1 (HPIV-1), HPIV-2,3, dan 4, virus influenza A dan B, Adenovirus, Respiratory Synctyal virus (RSV), dan virus campak. Meskipun jarang , pernah juga ditemukan Mycoplasma pneumonia.

Epidemiologi Croup berasal dari bahasa Anglo-Saxon yang berarti tangisan keras. Penyakit ini pertama kali dikenal pada tahun 1928. Sifat penyakit ini adalah self-limited, tetapi kadang-kadang cenderung menjadi berat bahkan fatal. Sebelum kortikosteroid digunakan secara luas, 30% kasus croup harus dirawat di RS dan 1,7% memerlukan intubasi endotrakea. Akan tetapi, setelah kortikosteroid telah digunakan secara luas, kasus croup yang memerlukan perawatan di RS menurun drastic, dan intubasi endotrakea jarang dilakukan. Di Alberta, lebih dari 60% anak didiagnosis croup derajat ringan, 4% (satu dari 170 anak memerlukan perawan di RS) dan 4% (satu dari 4500 anak) harus di intubasi.

Syndrome Croup biasanya terjadi pada anak berusia 6 bulan 6 tahun, dengan puncaknya pada usia 1-2 tahun. Akan tetapi, croup dapat juga terjadi pada anak usia 3 bulan dan diatas 15 tahun. Penyakit ini lebih sering terjadi pada anak laki-laki daripada anak perempuan, dengan rasio 3:2. Angka kejadiannya meningkat pada musin dingin dan musim gugur, tetapi penyakit ini tetap dapat terjadi sepanjang tahun. Pasien croup merupakan 15% dari seluruh pasien dengan infeksi respiratori yang berkunjung ke dokter. Kekambuhan sering terjadi pada usia 3-6 tahun dan berkurang sejalan dengan pematangan struktur anatomi saluran respiratori ats. Hampir 15% pasien syndrome croup mempunyai keluarga dengan riwayat penyakit yang sama.

Klasifikasi croup Secara umum croup di bagi menjadi 2 yaitu: 1. viral croup Ditandai oleh gejala infeksi respirasi ,gejala obstruksi saluran pernafasan berlangsung selama 3-5 hari. 2. Spasmodic croup Terdapat faktor atopik, tanpa gejala prodromal ,anak tiba-tiba mengalami gejala obstruksi saluran nafas , biasanya pada waktu malam menjelang tidur ,serangan terjadi sebentar ,kemudian normal kembali.

Berdasarkan derajat kegawatan croup dibagi menjadi 4 yaitu:

1. Croup Ringan Ditandai dengan adany batuk menggongong yang kadang-kadang muncul,stridor yang terdengar ketika beristirahat /tidak beraktivitas,dan retraksi dinding dada. 2. Croup Sedang Ditandai dengan ba5uk menggongong yang sering timbul , stridor yang mudah didengar ketika pasien beristirahat , retraksi dinding dadayang sedikit terlihat ,tetapi tidak ada gawat nafas .

3. Croup Berat Ditandai dengan batuk menggongong yang sering timbul,stridor inspirasi yang terdengar jelas ketika pasien beristirahat ,dan kadang-kadang disertai dengan stridor ekspirasi , retraksi dinding dada dan gawat nafas. 4. Ancaman gagal nafas Batuk kadang tidak jelas ,terdengar stridor (kadang-kadang sangat jelas ketika pasien beristirahat), gangguan kesadaran dan letargi.

Tanda dan gejala : Terdegar suara menggonggong terutama di malam hari. Croup diawali dengan gejala yang menyerupai flu Terjadi pembengkakan pada saluran pernafasan. Gangguan pernafasan, batuk kering dan suara serak biasanya terutama di malam hari. Gangguan pernafasan menyebabkan anak terbangun dari tidur nya . pernafasanya menjadi cepat dan dalam, dan separuh penderita mengalami demam. Croup biasanya berlangsung selama 3-4 hari

Pemeriksaan fisik : Stridor ( bunyi pernafasan yang bernada tinggi ) Sianosis ( warna kulit menjadi kebiruan karena kekurangan oksigen ) Retraksi intercostal ( meningkatnya pemakaian otot-otot leher dan dada sebagai usaha untuk bernafas .

Learning Issue 4 Patofisiologi CROUP


Infeksi virus

Reaksi antigen dan antibodi

Sekresi mucus meningkat

Terjadinya pelepasan mediator sel mast

Iritasi pada pharynx, larynx, dan trakea

Inflamasi dan edema mukosa pada laring dan trakea Terganggunya plica vocalis

Merangsang pusat batuk di medulla

Menyebabkan penyempitan pada subglotis

Suara serak

Obstruksi

Merangsang otot diafragma, laring dan trakea untuk melakukan inspirasi dalam

hiperventilas i Sesak nafas

Meningkatkan kecepatan Dan turbulensi aliran udara yang lewat

Plica vocalis terganggu

epiglotis terbuka udara keluar dengan cepat melalui celah bronkus & trakea

Terdengar stridor

Batuk menggonggong

Learning Issue 5 Pemeriksaan Penunjang


1. Pemeriksaan darah rutin, ditemukan peningkatan leukosit lebih dari 20.000/mm3 2. Pemeriksaan radiologi Pada pemeriksaan radiologis leher posisi posterior-anterior ditemukan gambaran udara steeple sign (seperti menara ) yang menunjukan adanya penyempitan kolumna subglotis. Melelui pemeriksaan radiologis, croup dapat dibedakan dengan berbagai diagnosis bandingnya. Gambaran foto lunak ( intensitas rendah) saluran nafas atas dapat dijumpai sebagai berikut: Pada trakeitis bakterial tampak gambaran membran trakea yang compang camping Pada epiglotitis tampak gambaran epiglotis yang menebal Pada abses retrofaringeal tampak gambaran posterior faring yang menonjol

3. CT-Scan Pemeriksaan CT-Scan dapat terlihat jelas mengambarkan penyebab obstruksi pada pasien dengan keadaan klinis yang lebih berat seperti adanya stridor sejak usia dibawah enam bulan atau strodor pada saataktivitas. Selain itu, pemeriksaan ini juga dilakukan bila pada gambaran radiologi dicurigai adanya massa.

Learning Issue 6 Penatalaksanaan


1. Terapi Inhalasi Terapi uap telah digunakan untuk mengatasi obstruksi jalan nafas pada sindrom croup. Pemakaian uap dinin lebih baik daripada uap panas, karena kulit akan melepuh akibat paparan uap panas. Uap dingin akan melembabkan saluran respiratori, meringankan inflamasi, mengencerkan lendir pada saluran respiratori, sekaligus memberikan efek yang nyaman dan menenangkan bagi anak. Meskipun terapi uap ini dapat menjadi pilihan yang praktis pada sindrom croup, kelembapan yang ditimbulkan oleh terapi uap dapat pula memperberat keadaan pada anak dengan bronkospasme yang disertai mengi, seperti laringotrakeobronkitis atau pneumonia. Saat ini beberapa pusat kesehatan tidak merekombinasikan penggunaan terapi uap.

2. Epinefrin Nebulasi epinefrin akan menurunkan permeabilitas vascular epitel bronkus dan trakea, memperbaiki edema mukosa kosong laring, dan meningkatkan laju udara pernafasan. Efek terapi nebulasi epinefrin timbul dala waktu 30 menit dan bertahan selama 2 jam. Epinefrin yang dapat digunakan adalah : Recemic Epinephrine : dengan dosis 0,5 ml larutan epinephrine 2,25% yang telah dilarutkan dalam 3 ml salin normal. Larutan tersebut diberikan melalui nebulizer selama 20 menit. L-epinephrine : 1:1000 sebanyak 5 ml, diberikakn melalui nebulizer. Efek samping nya terjadi dalam 2 jam

3. Kortikosteroid

Mengurangi edema pada mukosa laring melalui mekanisme antiradang. Uji klinik menunjukkan adanya perbaikkan pada pasien laringotrakeitis ringan-sedang yang diobati dengan steroid oral atau parenteral dibandingkan dengan placebo

4. Deksametason Diberikan dengan dosis 0,6 mg/kgBB per oral/intramuscular satu kali, dan dapat diulang dalam 6-24 jam. Efek klinis akan tampak 2-3 jam setelah pengobatan. Tidak ada penilitian yang menyokong keuntungan penambahan dosis. Keuntungan pemakaian obat ini adalah : Mengurangi rata-rata tindakan intubasi Mengurangi rata-rata rawat nginap Menurunkan hari perawatan dan derajat penyakit

Selain deksametason, dapat juga diberikan prednisone atau prednisolon dengan dosis 1-2 mg/kgBB (E4).

5. Budesonid Larutan 2-4 mg budesonid (2ml) diberikan melalui nebulizer dan dapat diulangi pada 12 dan 48 jam pertama. Efek terapi nebulasi budesonid terjadi dalam 30 menit, sedangkan kortikosteroid sistemik terjadi dalam satu jam. 6. Intubasi endotrakeal Dilakukan ppada pasien sindrom croup yang berat, yang tidak responsive terhadap terapi lain. Intubasi endotrakeal merupakan terapi alternative selain trakeostomi untuk mengatasi obstruksi jalan nafas. Selain itu, intubasi juga diperlukan bila terdapat peningkatan stridor, peningkatan frekuensi nafas, peningkatan frekuensi nadi, retraksi dinding dada, sianosis, letargi, atau penurunan kesadaran. Intubasi hanya dibutuhkan untuk jangka waktu yang singkat, yaitu hingga edema laring hilang/eratasi.

7. Kombinasi oksigen helium Digunakan oleh beberapa sentra untuk mengatasi sinfrom croup. Helium bersifat inert, tidak beracun, serta mempunyai densitas dan vikositas yang rendah. Hal ini sangat membantu mengurangi obstruksi jalan nafas, yaitu dengan meningkatkan aliran gas dan mengurangi kerja otot-otot respiratori. Bila helium dikombinasikan dengan oksigen, maka oksigenasi darah akan meningkat. Dengan demikian pasien sindrom croup berat akan merasa nyaman dan kemungkinan beasar tidak memerlukkan tindakan intubasi.

Learning Issue 7 Pencegahan


1. Untuk mencegah sesak nafas, mengambil langkah yang sama yang anda gunakan untuk mencegah pilek dan flu. Sering cuci tangan adalah paling penting. Juga menjaga anak anda menjauh dari orang yang sedang sakit. 2. Untuk mencegah infeksi lebih serius, tetap imunisasi anak anda, saat ini imunisasi the Diffteri, Haemophilus Infulenzae tipe b (Hib) dan vaksin campak memberikan perlindungan dari beberapa infeksi yang paling langka, tetapi paling berbahaya.

Learning Issue 8 Komplikasi dan Prognosis


KOMPLIKASI Pada 15% kasus dilaporkan terjadi komplikasi, misalnya otitis media, dehidrasi, dan pneumonia (jarang terjaadi). Sebagian kecil pasien memerlukan tindakan intubasi. Gaga; jantung dan gagal napas dapat terjadi pada pasien yang perawatan dan pengobatan yang tidak adekuat. PROGNOSIS Sindrom croup biasanya self-limited denag prognosis baik.

Kesimpulan
Anak laki-laki yang berumur 9 bulan, dengan keluhan batuk seperti suara menggonggong terutama malam hari, tampak kesusahan bernafas, dan tangisannya terdengar serak. Dari pemeriksaan fisik di dapati, temperaturnya 37,7oC. Dari pemeriksaan thoraks nya didapati, retraksi intercostal, Heart Rate nya meningkat, dan respirasinya juga meningkat. Dan juga pemeriksaannya Foto AP Neck X-Ray nya : Steeple Sign. Jadi, anak tersebut didiagnosa Croup derajat Sedang.

Daftar Pustaka
1. Yangtjik K, Dadiyanti DW. DB. Dalam: Buku Ajar Respirologi Anak. Jakarta: Blai Penerbit IDAI, 2008; 320-329. 2. Sudoyo, aru W dkk. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Jilid 1. Edisi 5. Jakarta : Internal Publishing ; 2009 3. Dorland, W. 2012. Kamus Saku Kedokteran DORLAND. Edisi 28. EGC : Jakarta.