Anda di halaman 1dari 20

KEBIJAKAN FISKAL DAN UPAH DALAM ISLAM

A. PENDAHULUAN Kebijakan fiskal adalah suatu tindakan yang dilakukan oleh pemerintah untuk meningkatkan kesejahteraan umum melalui kebijakan penerimaan dan pengeluaran pemerintah, mobilisasi sumberdaya, dan penentuan harga barang dan jasa dari perusahaan. Menurut Samuelson dan Nordhaus, kebijakan fiskal dinyatakan sebagai suatu proses pembentukan perpajakan dan pengeluaran masyarakat dalam upaya menekan fluktuasi siklus bisnis, dan ikut berperan dalam menjaga pertumbuhan ekonomi, penggunaan tenaga kerja yang tinggi, bebas dari laju inflasi yang tinggi dan berubah-ubah. Dalam konteks ekonomi kapitalis, kebijakan fiskal sangat erat kaitannya dengan target keuangan negara yang ingin dicapai. Dengan kata lain, target Anggaran endapatan dan !elanja Negara "A !N# yang ingin dicapai oleh pemerintah, karena instrumen yang digunakan dalam kebijakan fiskal adalah penerimaan dan pengeluaran negara Kebijakan fiskal yang dilakukan oleh negara-negara $ropa dan Amerika Serikat baru muncul pada tahun %&'(-an. Sebelum tahun tersebut, pemerintah negara-negara Kapitalis, hanya menjadikan pajak sebagai sumber pembiayaan negara sedangkan pengeluaran pemerintah hanya dijadikan sebagai alat untuk membiayai kegiatan-kegiatan pemerintah tanpa melihat dampaknya terhadap perekonomian nasional baik secara mikro maupun makro. Sejak terjadinya depresi ekonomi yang melanda dunia pada tahun %&'(, negara-negara Kapitalis menghadapi permasalahan yang besar dengan turunnya pendapatan pemerintah, perekonomian yang lesu, pengangguran yang meluas, dan inflasi. Kebijakan moneter yang selama ini digunakan pemerintah untuk menstabilkan ekonomi tidak dapat mengatasi depresi ekonomi. Sampai akhirnya )ohn M. Keynes pada tahun %&'* menerbitkan bukunya yang terkenal +,he -eneral ,heory of $mployment .nterest and Money/. !uku Keynes ini merupakan peletak dasar diberlakukannya kebijakan fiskal oleh negara yang pada saat itu digunakan untuk mengatasi depresi ekonomi terutama di Amerika Serikat. )adi kebijakan fiskal dalam perekonomian Kapitalis baru muncul sejak abad 0(. )ika dalam Sistem $konomi Kapitalis, kebijakan fiskal baru diberlakukan pada abad 0(, maka bagaimanakah kebijakan fiskal dalam Sistem $konomi .slam1

B. SYARA MEWAJIBKAN NEGARA MELAYANI UMAT Ke2ajiban negara atas rakyatnya adalah melayani dan mengurusi urusan umat. 3al ini ditegaskan Nabi SA4 dalam sabdanya5 Seorang imam (khalifah) adalah pemelihara dan pengatur urusan (rakyat), dan dia akan diminta pertanggungjawabannya terhadap rakyatnya. (HR Bukhari dan uslim). Salah satu urusan umat yang 2ajib dilaksanakan oleh negara " !aulah "slamiyah# adalah mengatur ekonomi dengan tujuan meningkatkan kesejahteraan rakyat sehingga pada akhirnya negara menjadi kuat. !entuk ke2ajiban negara atas masalah ini diatur melalui institusi !aitul Mal, disamping penegakkan syari6at lainnya oleh negara seperti syari6at yang mengatur mekanisme dan transaksi ekonomi "caracara memperoleh harta dan mengembangkannya atau in7estasi, membelanjakan harta atau konsumsi#, penerapan sanksi "u#ubat# atas pelanggaran hukum, dan penegakkan keamanan yang akan mengayomi akti7itas ekonomi masyarakat sehingga kegiatan ekonomi menjadi lancar. !aitul Mal merupakan suatu institusi khusus di ba2ah Khalifah yang mengatur sumber-sumber pemasukan harta "pendapatan# negara baik dari sumbersumber pemasukan tetap "rutin# maupun yang bersifat temporal. Kemudian mengalokasikannya sebagai pengeluaran yang bersifat rutin maupun temporal. 3arta yang dikumpulkan Khalifah dan para 2alinya di dalam !aitul Mal menjadi hak kaum Muslimin dan syara$ me2ajibkan negara membelanjakannya secara syar$i untuk membayar jasa yang diberikan indi7idu kepada negara, mengatasi kemiskinan dan kelaparan, tunjangan dan penyediaan lapangan kerja, modal usaha bagi masyarakat, pembangunan infrastruktur dan pelayan publik, dan lain-lainnya. Kebijakan Khalifah atas !aitul Mal baik dari sisi pemasukan maupun belanja negara yang ditentukan secara syar$i, merupakan bagian dari penerapan syari6at .slam sehingga tujuan-tujuan !aitul Mal adalah juga tujuan-tujuan syari6at .slam.

%!an tidaklah &ami mengutus engkau ( uhammad) ke'uali sebagai rahmat bagi semesta alam. "8S. Al-Anbiyaa5 %(9# Dalam ,afsir .bnu Katsir, .bnu Katsir menerangkan bah2a, Allah ,a:ala mengabarkan bah2a Dia telah menjadikan Muhammad sebagai rahmat bagi semesta alam- ;aitu, Dia mengutusnya sebagai rahmat untuk kalian semua. !arangsiapa yang menerima rahmat dan mensyukuri nikmat ini, niscaya dia akan berbahagia didunia dan di akhirat, sedangkan barangsiapa yang menolak dan menentangnya niscaya dia akan merugi di dunia dan di akhirat. .ni menunjukkan bah2a tujuan kebijakan !aitul Mal terhadap pemasukan dan pengeluaran negara harus selaras dengan menyelamatkan rakyat "Muslim maupun non-Muslim# dari yang menyebabkan kesengsaraan seperti kemiskinan, hutang yang tidak dapat dibayar, kelaparan, pengangguran, bencana alam, kebodohan, gejolak harga "inflasi maupun deflasi# karena ketidakseimbangan pasar, yang secara umum dapat dikatakan sebagai kebijakan untuk mengeluarkan negara dan masyarakat dari resesi ataupun depresi ekonomi. )uga kebijakan atas !aitul Mal bertujuan untuk menciptakan kebahagian bagi setiap rakyatnya dengan melakukan suatu kebijakan untuk meningkatkan kesejahteraan baik dari sisi kesadaran ruhiyah antara lain melalui pendidikan, maupun dari sisi kemampuan dan kekayaan materi dengan mengupayakan suatu perekonomian yang tumbuh, bahkan tumbuh pesat "booming#, tanpa mengabaikan mekanisme distribusi ekonomi yang adil. ,ujuan-tujuan dari kebijakan pengelolaan harta negara tersebut, sudah dilakukan oleh !aulah "slamiyah yakni sejak <asulullah bersama para sahabat mendirikan negara .slam ""slami' State# di Madinah, dan dilanjutkan oleh Khulafaur <asyidin, para Khalifah di masa Khilafah =mayyah, Khilafah Abasiyyah, hingga Khilafah =tsmaniyyah. )adi kebijakan-kebijakan atas pemasukan dan pengeluaran harta negara yang disertai dengan tujuan "dampak# yang diinginkan terhadap perekonomian bukanlah sesuatu hal yang baru di dalam .slam dan ia merupakan bagian dari Sistem $konomi .slam sebagai suatu ke2ajiban negara. Dengan kata lain kebijakan fiskal sebagai suatu istilah yang baru, sebenarnya sudah dilakukan sejak tegaknya negara .slam di Madinah.

C. KEBIJAKAN FISKAL DAN DISTRIBUSI EKONOMI Secara umum fungsi kebijakan fiskal adalah fungsi alokasi, distribusi dan stabilisasi perekonomian. Dalam hal alokasi, maka digunakan untuk apa sajakah sumber-sumber keuangan negara, sedangkan distribusi menyangkut bagaimana kebijakan negara mengelola pengeluarannya untuk menciptakan mekanisme distribusi ekonomi yang adil di masyarakat, dan stabilisasi adalah bagaimana negara menciptakan perekonomian yang stabil. Kebijakan fiskal dalam Sistem $konomi Kapitalis, hanyalah merupakan suatu kebutuhan untuk pemulihan ekonomi "e'onomy re'o(ery# akibat krisis dan untuk menggenjot perekonomian agar dapat mencapai pertumbuhan yang positif sehingga tumpuan utama kebijakan fiskal Negara Kapitalis adalah pertumbuhan ekonomi "e'onomi' growth#. Dalam Sistem $konomi .slam, kebijakan fiskal merupakan suatu ke2ajiban negara dan menjadi hak rakyat, sehingga kebijakan fiskal bukanlah semata-mata sebagai suatu kebutuhan untuk perbaikan ekonomi maupun untuk peningkatan kesejahteraan rakyat. )uga kebijakan fiskal dalam Sistem $konomi .slam tidak bertumpu pada pertumbuhan ekonomi seperti dalam Sistem $konomi Kapitalis tetapi mengacu pada penciptaan mekanisme distribusi ekonomi yang adil, karena hakikat permasalahan ekonomi yang melanda umat manusia adalah berasal dari bagaimana distribusi harta di tengah-tengah masyarakat terjadi. %. os pemasukan dan pengeluaran negara .slam "daulah .slamiyah# Abdul 8adim >allum dalam bukunya al)*mwal fi !aulah al)&hilafah, membagi sumber-sumber pendapatan negara dalam ' kelompok yaitu 5 %. !agian +ai dan &haraj? meliputi harta yang tergolong fai bagi seluruh kaum Musliminin dan pajak "dlaribah# terhadap kaum Musliminin sebagai ke2ajiban mereka ketika negara mengalami krisis keuangan sehingga tidak mampu membiayai belanja negara terutama yang berifat 2ajib. Kelompok ini terdiri atas5

a. ghanimah, mencakup ghanimah, anfal, fai, dan khumus. b. kharaj.


c. status tanah, mencakup tanah-tanah yang ditaklukkan secara paksa " uswah#, tanah ,-.usyriyah, as shawafi, dan tanah-tanah yang dimiliki oleh negara, tanah-tanah milik umum dan tanah-tanah yang dipagar dan dikuasai negara.

d. ji/yah.

e. fai, yang meliputi data-data pemasukan dari "harta# as shawafi, ,-.usyur,


%@A harta rika/ dan barang tambang, tanah yang dijual atau dise2akan, harta as shawafi dan harta 2aris yang tidak ada pe2arisnya.

f. pajak "dlaribah#
0. !agian emilikan =mum? harta dari kepemilikan umum ini adalah milik seluruh kaum Musliminin, sedangkan negara berfungsi me2akili ummat dalam mengelola harta jenis kepemilikan umum ini, untuk kemudian digunakan bagi kemaslahatan kaum Musliminin dan seluruh 2arga negara "termasuk non muslim#. An-Nabhani dan Abdul 8adim >allum menjelaskan, bah2a yang dimaksud dengan kepemilikan umum itu adalah5 a. Basilitas@ Sarana umum yang jika tidak ada pada suatu negeri@ komunitas akan menyebabkan banyak orang bersengketa untuk mencarinya, seperti air, padang rumput, jalan-jalan umum. b. !arang tambang yang jumlahnya tak terbatas "sangat besar#, seperti tambang minyak dan gas bumi, emas dan logam mulia lainnya, timah, besi, uranium, batu bara, dan lain-lainnya. c. Sumber daya alam yang sifat pembentukannya menghalangi untuk dimiliki indi7idu, seperti laut, sungai, danau. '. !agian ShadaCah? bagian ini menyimpan harta-harta Dakat yang 2ajib beserta catatannya. Kelompok ini berdasarkan jenis harta Dakat, yaitu5 a. Dakat "harta# uang dan perdagangan. b. Dakat pertanian dan buah-buahan. c. Dakat "ternak# unta, sapi, dan kambing. Kemudian untuk pengeluaran "belanja# negara, Abdul 8adim >allum

mengelompokkannya menjadi E bagian yang meliputi pembiayaan bagian-bagian !aitul Mal itu sendiri, seksi-seksinya, dan biro-biro. %. Seksi dar al &hilafah, yang terdiri dari5 a. Kantor Khilafah. b. Kantor enasihat " ustasyaarin# c. Kantor d. Kantor 0. Seksi u$awin 0afwidl. u$awin 0anfid/.

ashalih ad !aulah, yang terdiri dari5

a. !iro *mir 1ihad.

b. !iro para 2ali "gubernur# c. !iro para 3adli. d. !iro ashalih ad !aulah, seksi-seksi dan biro-biro lain, serta fasilitas umum. seperti orang-orang fakir, miskin, yang dalam keadaan '. Seksi Santunan? seksi ini bertugas memberikan santunan kepada yang berhak menerimanya, membutuhkan, yang berhutang, yang sedang dalam perjalanan, para petani, para pemilik industri, dan lain-lain yang menurut Khalifah mendatangkan kemaslahatan bagi kaum Muslimin serta layak diberi subsidi. F. Seksi )ihad, meliputi5 a. !iro pasukan, yang mengurus pengadaan, pembentukan, penyiapan dan pelatihan pasukan. b. !iro persenjataan "amunisi#. c. !iro industri militer. A. Seksi enyimpanan 3arta >akat? bagian ini menyalurkan Dakat kepada hanya E golongan yang berhak menerima Dakat, selama masih ada harta Dakat yang di dalam !aitul Mal, dan jika tidak terdapat lagi harta Dakat di dalam !aitul Mal maka seksi ini tidak dibiayai. *. Seksi enyimpanan 3arta emilikan =mum. 9. Seksi =rusan Darurat@ !encana Alam "ath 0hawaari#. E. Seksi Anggaran !elanja Negara "al uwa/anah al *mmah#, engendali =mum "al uhasabah al *mmah#, dan !adan enga2as "al 0. Kebijakan fiskal dari sisi penerimaan negara Dalam perekonomian Kapitalis, sumber utama penerimaan negara berupa pajak dan hutang. Di luar kedua sumber utama penerimaan negara tersebut, negara juga memperoleh pendapatannya dari restribusi "pungutan@ semacam pajak yang berlaku di tingkat daerah#, keuntungan !=MN, denda-denda dan perampasan yang dijalankan pemerintah, pencetakan uang, dan hadiah "hibah#. 3al tersebut berbeda dengan kebijakan fiskal dari sisi penerimaan !aitul Mal. 4ertama dilihat dari pos Bagian +ai dan &haraj. Dalam bagian ini, sebagian seksiseksi penerimaan !aitul Mal berhubungan langsung dengan dak2ah dan jihad. !aulah &hilafah yang menyebarkan .slam ke seluruh penjuru dunia dan jika berhasil melakukan penaklukan "futuhat# baik di negeri-negeri .slam yang sebelumnya berada dalam kekuasaan bangsa-bangsa kafir, maupun di negeri-negeri bangsa kafir itu sendiri, maka akan banyak pemasukan !aitul Mal dari anfal atau ghanimah, fa$i, ura#abah#.

dan khumus. )adi semakin .slam disebarkan ke seluruh penjuru dunia melalui dak2ah dan jihad semakin banyak harta pemasukan bagi !aitul Mal dari harta rampasan perang. emasukan lainnya adalah kharaj "the land ta5#. &haraj merupakan hak kaum Muslimin atas tanah yang diperoleh "dan menjadi bagian dari ghanimah# dari orang-orang kafir, baik melalui peperangan maupun melalui perjanjian damai. Setiap penduduk "Muslim dan non Muslim# yang memanfaatkan tanah kharaj di2ajibkan membayar kharaj kepada negara. Nilai kharaj yang diambil oleh negara atas tanah tersebut dihitung berdasarkan kandungan tanahnya dengan memperhatikan kondisi lingkungan tanah tersebut. Sedangkan terhadap negeri yang penduduknya masuk .slam seperti .ndonesia, atau tanah yang statusnya bukan tanah kharaj, maka kharaj tidak berlaku, karena tanah tersebut merupakan tanah $usyuriyah yang 2ajib dikeluarkan Dakatnya. emasukan lainnya adalah ji/yah "the head ta5#. 1i/yah merupakan hak Allah yang diberikan kepada kaum Muslimin dari orang-orang kafir sebagai tanda tunduknya mereka kepada .slam. 1i/yah masih terkait dengan hasil dak2ah dan jihad kaum Muslimin dalam !aulah &hilafah. ihak yang 2ajib membayar ji/yah adalah para ahli kitab yaitu orang-orang ;ahudi dan Nasrani dan yang bukan ahli kitab seperti orang-orang Majusi, 3indu, !udha dan Komunis yang telah menjadi 2arga negara .slam. 1i/yah diambil dari orang-orang kafir laki-laki, telah baligh dan berakal sehat. 1i/yah tidak 2ajib atas 2anita, anak-anak dan orang gila. 1i/yah akan berhenti dipungut oleh negara jika orang kafir tersebut telah masuk .slam. )uga ji/yah tidak 2ajib jika orang kafir yang bersangkutan tidak mempunyai kemampuan membayarnya karena kefakiran atau kemiskinannya. Sumber penerimaan lainnya dalam bagian ini adalah $6syur. $6syur dipungut terhadap pedagang penduduk kafir harby atas barang dagangan mereka yang mele2ati perbatasan negara. ,indakan ini dilakukan sebagai perlakuan setara karena negara mereka telah melakukan pungutan "cukai# atas pedagang Muslim yang mele2ati perbatasan negara mereka. $6syur juga dipungut terhadap pedagang kafir d/immi yang mele2ati perbatasan, disebabkan adanya perjanjian damai antara kaum Muslimin dengan mereka yang salah satu poinnya menyebutkan tentang $usyur ini, tetapi jika $usyur tidak disebutkan dalam perjanjian damai maka tidak boleh mengambil $usyur dari pedagang kafir d/immi. )adi $6syur dipungut karena adanya sebab-sebab syara$. Sedangkan jika tidak ada sebab-sebab seperti di atas, maka pungutan terhadap perdagangan lintas negara "cukai# hukumnya haram,

sebagaimana yang disebutkan dalam hadits yang diri2ayatkan =Cbah bin 6Amir, Nabi SA4 bersabda5 0idak akan masuk surga orang yang memungut bea 'ukai (pajak) Selain itu, jika negara mengalami suatu kondisi sehingga !aitul Mal tidak mampu membiayai ke2ajiban-ke2ajibannya, maka ke2ajiban ini beralih kepada kaum Muslimin. Dengan kondisi seperti ini, negara berhak memungut pajak "dlaribah7 ta5es# terhadap kaum Muslimin.

!an pada harta)harta mereka ada hak untuk orang miskin yang meminta dan orang miskin yang tidak mendapat bagian "8S. AdD-DDariyaat5 %&# ajak ini hanya dikenakan terhadap kaum Muslimin, dan tidak boleh terhadap 2arga negara non Muslim. engenaan pajak dilakukan dari sisa nafkah "setelah dikurangi kebutuhan hidup#, dan harta orang-orang kaya yaitu dari sisa pemenuhan kebutuhan primer dan sekundernya yang ma6ruf. )umlah pajak yang dipungut secara makro harus ekui7alen dengan jumlah kebutuhan !aitul Mal yang dipergunakan untuk memenuhi ke2ajiban-ke2ajiban !aitul Mal, sehingga pajak tidak boleh dipungut melebihi kebutuhan sebagaimana mestinya. Kemudian jika kebutuhan !aitul Mal telah terpenuhi dan !aitul Mal sudah mampu memenuhi ke2ajibanke2ajibannya dari sumber-sumber penerimaan rutin, maka pungutan pajak harus dihentikan. Negara juga mendapatkan penerimaan dari %@A harta rika/, harta 2arisan yang tidak ada lagi ahli 2arisnya, harta tidak sah yang dimiliki pejabat negara dan harta orang murtad. Sistem $konomi Kapitalis tidak memiliki sumber penerimaan dari pemilikan umum karena sistem ini hanya mengakui dua macam kepemilikan, yaitu pemilikan indi7idu "pri(ate pro(erty# dan pemilikan negara "state pro(erty#. Sistem ini juga menempatkan kebebasan indi7idu dalam hal kepemilikan selama diperoleh dengan cara-cara yang sah menurut hukum Kapitalisme.

engakuan .slam akan kepemilikan umum "*l syara$ berikut5

ilkiyyah al *mmah7 'olle'ti(e

pro(erty# selain kepemilikan indi7idu dan kepemilikan negara, didasarkan pada dalil

Dari Abu Khurasyi dari sebagian sahabat Nabi SA4, <asulullah bersabda5

&aum

uslimin itu berserikat dalam tiga hal, yaitu air, padang rumput dan api

%0idak ada penguasaan (atas harta milik umum) ke'uali bagi *llah dan Rasulnya. Sumber penerimaan !aitul Mal dari Bagian 4emilikan 6mum yang mempunyai potensi sangat besar dalam membiayai pengeluaran !aitul Mal adalah dari barang tambang dan sumber daya alam. Negeri-negeri .slam yang sebagian besar terletak di bagian Selatan bumi ini telah dianugerahi Allah S4, dengan kekayaan alam yang sangat melimpah. Anugerah ini merupakan suatu potensi yang sangat besar untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat dan kekuatan negara. Sumber pemasukan !aitul Mal berikutnya adalah Bagian Shada#ah. !agian ini meliputi, pertama? Dakat ternak unta, sapi dan kambing. &edua? Dakat tanaman "hasil pertanian# dan buah-buahan. &etiga? Dakat nu#ud@mata uang "emas dan perak#, dan keempat? Dakat atas keuntungan dari perdagangan. >akat merupakan suatu ke2ajiban kaum Muslimin dan salah satu pilar dari rukun .slam. Seorang Muslim yang membayar Dakat merupakan implimentasi "ibadah ritual# hubungannya dengan Allah S4, seperti halnya seorang Muslim yang melaksanakan ke2ajiban shalat, puasa dan ibadah haji.

!an dirikanlah shalat, tunaikanlah /akat dan ruku$ lah beserta orang)orang yang ruku. "8S. Al-!aCarah5 F'# ,ugas negara di adalah !aitul memungut Mal pada Dakat pos dari Bagian kaum Muslimin dan

mengumpulkannya

Shada#ah,

kemudian

menyalurkannya sesuai ketentuan syara$. )ika 2ajib Dakat menolak membayar Dakat, maka negara berhak memaksanya agar memenuhi ke2ajibannya.

%*mbillah /akat dari sebagian harta mereka, dengan /akat itu kamu membersihkan dan mensu'ikan mereka, dan mendoalah untuk mereka, sesungguhnya do$a kamu itu (menjadi) ketenteraman jiwa bagi mereka. !an *llah engetahui "8S. At-,aubah5 %('# >akat tetap dipungut oleh negara selama masih ada orang yang 2ajib Dakat, dan tidak akan dihentikan ke2ajiban ini meskipun harta Dakat yang terkumpul di !aitul Mal melimpah sedangkan orang yang berhak menerimanya tidak terdapat lagi di dalam negeri. )adi fungsi negara dalam mengelola Dakat semata-mata karena implimentasi ibadah ritual kaum Muslimin terhadap Allah S4,, bukan karena alasan ekonomi. '. Kebijakan fiskal dan distribusi ekonomi dari sisi pengeluaran negara Setiap pos pemasukan di dalam !aitul Mal mempunyai mekanisme masingmasing untuk dikeluarkan atau dibelanjakan oleh negara, sehingga akan mempunyai 7ariasi dampak positif terhadap perekonomian negara dan masyarakat. os penerimaan !aitul Mal dari Bagian +ai dan &haraj harus dikeluarkan negara untuk pos pengeluaran dar al &hilafah, (al uwa/anah al *mmah), 4engendali 6mum (al ashalih ad !aulah, Santunan, uhasabah al *mmah), dan Badan 1ihad, 6rusan !arurat7 Ben'ana *lam (ath 0hawaari), dan *nggaran Belanja 8egara 4engawas (al ura#abah#. Kemudian pos penerimaan dari Bagian 4emilikan 6mum aha endengar lagi aha

harus dikeluarkan untuk 1ihad, 4enyimpanan 4emilikan 6mum dani 6rusan !arurat7 Ben'ana *lam. Sedangkan pos penerimaan dari Bagian Shada#ah harus dikeluarkan hanya untuk 4enyimpanan Harta 9akat dan 1ihad. Di dalam Sistem $konomi Kapitalis tidak mengenal mekanisme pemasukan dan pengeluaran keuangan dan harta negara seperti yang ada pada !aitul Mal. Setiap sumber pemasukan A !N "budget of state# tidak ada pengaturan harus dikeluarkan untuk anggaran apa saja, sebaliknya setiap sumber pemasukan penggunaannya terserah kepada pemerintah dalam membiayai belanja negara dari

10

besaran anggaran yang sudah disetujui parlemen "D <#. Dilihat dari sisi ini saja sudah muncul kerancuan penggunaan keuangan negara dalam hal alokasi anggaran. Aspek politik dari kebijakan fiskal yang dilakukan oleh khalifah adalah dalam rangka mengurusi dan melayani umat. Kemudian dilihat dari bagaimana .slam memecahkan problematika ekonomi, maka berdasarkan kajian fakta permasalahan ekonomi secara mendalam terungkap bah2a hakikat permasalahan ekonomi terletak pada bagaimana distribusi harta dan jasa di tengah-tengah masyarakat sehingga titik berat pemecahan permasalahan ekonomi adalah bagaimana menciptakan suatu mekanisme distribusi ekonomi yang adil. Allah S4, mengingatkan kita tentang betapa sangat urgennya masalah distribusi harta ini dalam firman-Nya5

*pa saja harta rampasan (fai)i) yang diberikan *llah kepada Rasul8ya (dari harta benda) yang berasal dari penduduk kota)kota maka adalah untuk *llah, untuk Rasul, kaum kerabat, anak)anak yatim, orang)orang miskin dan orang)orang yang dalam perjalanan, supaya harta itu jangan beredar di antara orang)orang kaya saja di antara kamu. *pa yang diberikan Rasul kepadamu, maka terimalah. !an apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah. !an bertakwalah kepada *llah. Sesungguhnya *llah amat keras hukumannya. (3S. *l)Hasyr: ;)

Asbabun Nuzul (Fai ialah harta rampasan perang yang diperoleh dari musuh tanpa melalui pertempuran. Pembagiannya berlainan dengan pembagian ghanimah. Sedangkan ghanimah harta rampasan yang diperoleh dari musuh setelah terjadi pertempuran. Pembagian fai sebagai yang tersebut pada ayat ke-7 di surat al-Hasyr. Sedang pembagian ghanimah tersebut pada ayat ke-4 surat al-!nfaal."
Dalam firman-Nya, Allah menjelaskan makna al-fai6 "harta rampasan#,

bagaimana sifatnya dan apa hukum ketetapannya. Al-Bai6 adalah semua harta yang diambil dari orang kafir tanpa pertempuran seperti harta benda milik !ani Nadhir ini.

11

Gleh karena itulah Allah S4, memberikan harta yang mereka tinggalkan itu untuk <asul-Nya sa2. Dan oleh karenanya <asulullah sa2 membagi-bagikannya sesuka hati beliau. !eliau pun menyalurkannya kepada kaum muslimin untuk berbagai jalan kebaikan dan kemaslahatan yang Allah sebutkan pada ayat-ayat berikutnya. .tulah cara pengalokasian dan pendistribusian harta fai6. "Shahih ,afsir .bnu Katsir, ).lid &, 3al. %*, ustaka .bnu Katsir50((*# .mam Ahamd telah meri2ayatkan dari H=mar r.a., ia berkata, +3arta benda !ani Nadhir termasuk harta rampasan yang diberikan Allah kepada <asul-Nya tanpa sebuah penyerbuan dengan mengerahkan kuda ataupun unta, maka harta itu khusus untuk <asulullah. !eliau gunakan sebagai nafkah untuk satu tahun-dalam satu kesempatan ia berkata5 untuk makanan pokok keluarganya selama setahun- dan sisanya beliau gunakan untuk kuda dan peralatan jihad dijalan Allah. IAhmad ".@0A#J "Shahih ,afsir .bnu Katsir, ).lid &, 3al. %*, ustaka .bnu Katsir50((*# Mengenai ayat5 +Supaya harta itu jangan hanya beredar diantara orang-orang kaya saja diantara kamu./ ;akni, Kami jadikan pengaturan distribusi harta fai6 tersebut sedemikian rupa, agar harta itu tidak hanya dimonopoli oleh orang-orang kaya, lalu mereka mempergunakannya untuk melampiaskan ha2a nafsu dan keinginan mereka saja tanpa memperhatikan orang-orang fakir. "Shahih ,afsir .bnu Katsir, ).lid &, 3al. %&, ustaka .bnu Katsir50((*# Mengenai ayat5 +Apa yang diberikan <asul kepadamu maka terimalah dia. Dan apa yang dilarangnya bagimu tinggalkanlah./ ;akni, 2alau bagaimanapun perintah beliau maka laksanakanlah dan 2alau bagaimanapun larangan beliau maka jauhkanlah, karena beiau pasti memerintahkan yang baik dan melarang yang buruk. )uga tercantum dalam ash-Shahiihain, dari Abu 3urairah r.a. bah2a <asulullah sa2 telah bersabda5 +Apabila saya telah memerintahkan sesuatu kepada kalian maka lakukanlah semampu kalian, dan apa yang saya larang maka hindarilah./ "Shahih ,afsir .bnu Katsir, ).lid &, 3al. 0(-0%, ustaka .bnu Katsir50((*# Mengenai ayat5 +Dan bertak2alah kepada Allah. Sesungguhnya Allah sangat keras hukumanNya./

12

;akni, bertak2alah dalam melaksanakan perintah-perintah-Nya dan dalam menghindari larangan-larangan-Nya karena hukuman-Nya sangat keras bagi orang yang melanggar larangan-Nya.

%Hai orang)orang yang beriman, sesungguhnya sebahagian besar dari orang)orang alim <ahudi dan rahib)rahib 8asrani benar)benar memakan harta orang dengan jalan batil dan mereka menghalang)halangi (manusia) dari jalan *llah. !an orang) orang yang menyimpan emas dan perak dan tidak menafkahkannya pada jalan *llah, maka beritahukanlah kepada mereka, (bahwa mereka akan mendapat) siksa yang pedih, "8S. At-,aubah5 'F# )uga dalam hadits Nabi SA45 1ika pada suatu pagi di suatu kampung terdapat seseorang yang kelaparan, maka *llah berlepas diri dari mereka. 0idak beriman pada)&u, tidak beriman pada)&u, orang yang tidur dalam keadaan kenyang, sementara ia tahu tetangganya kelaparan. (Hadits 3udsi) Karena itu, kebijakan fiskal di dalam .slam didasari oleh suatu politik ekonomi "as siyasatu al i#tishadi# yang bertujuan mencapai distribusi ekonomi yang adil, sebagaimana yang dikemukakan Abdurrahman Al Maliki, yaitu menjamin pemenuhan kebutuhan-kebutuhan primer "al)hajat al)asasiyah7 basi' needs# perindi7idu secara menyeluruh, dan membantu tiap-tiap indi7idu di antara mereka dalam memenuhi kebutuhan-kebutuhan sekunder dan tersiernya "al)hajat al)kamaliyah# sesuai kadar kemampuannya. )aminan pemenuhan kebutuhan-kebutuhan primer ini meliputi? pertama, jaminan kebutuhan-kebutuhan primer bagi tiap-tiap indi7idu dan kedua, jaminan kebutuhan-kebutuhan primer bagi rakyat secara keseluruhan.

13

)aminan pemenuhan kebutuhan-kebutuhan primer katagori pertama adalah jaminan akan sandang, pangan dan papan dan merupakan jaminan secara langsung terhadap setiap indi7idu yang mempunyai penghasilan tetapi tidak mencukupi untuk memberikan nafkah kebutuhan-kebutuhan pokok terhadap diri dan keluarganya, atau terhadap setiap indi7idu yang tidak memiliki kemampuan untuk memberikan nafkah kebutuhan pokok terhadap diri dan keluarganya. Kebijakan ini termasuk kebijakan transfer payment karena negara memberikan secara cuma-cuma harta berupa uang atau barang kepada seseorang. Sedangkan pembiayaan pemenuhan kebutuhan primer katagori pertama ini oleh negara dianggarkan pada Seksi Santunan. )aminan pemenuhan kebutuhan-kebutuhan primer katagori kedua meliputi keamanan, pendidikan dan kesehatan. ,iga perkara ini, merupakan unsur penting bagi perekonomian. Keamanan berfungsi melindungi dan mengayomi akti7itas perekonomian masyarakat sehingga kegiatan ekonomi menjadi lancar. endidikan merupakan pilar yang melahirkan sumber daya manusia yang sangat dibutuhkan untuk melakukan pembangunan fasilitas-fasilitas negara dan fasilitas-fasilitas umum yang dibutuhkan rakyat termasuk yang dibutuhkan bagi aktifitas perekonomian, untuk membangun sistem pertanian, industri "termasuk industri senjata#, perdagangan dan jasa yang tangguh, berkualitas dan efisien. Kesehatan merupakan unsur yang sangat mempengaruhi kinerja seseorang bagi ekonomi dirinya dan keluarganya, bagi syirkah tempat dia bekerja, bagi perekonomian masyarakat dan negara. Dalam menjamin keamanan di dalam negeri, dilakukan dengan cara menegakkan syariat yang berkaitan dengan sanksi terhadap orang yang melanggar dan memperkosa hak-hak asasi manusia. Sedangkan jaminan keamanan dari ancaman musuh di luar negeri dilakukan dengan menegakkan jihad. terhadap jaminan keamanan ini terletak pada anggaran belanja negara !aulah dan 1ihad. Negara menjamin pendidikan dari tenaga pengajar "guru@dosen#, tempat pendidikan dan berbagai fasilitas yang dibutuhkan untuk penyelenggaraannya. )aminan akan pendidikan ini juga termasuk jaminan hidup yang layak bagi para guru. embiayaan anggaran pendidikan ini terdapat pada Seksi ashalih ad)!aulah. Dari aspek kesehatan, negara berke2ajiban menyediakan dokter, obatobatan, rumah sakit dan tempat pelayanan kesehatan lainnya, serta berbagai sarana kesehatan, termasuk riset di bidang kesehatan. elayanan kesehatan ini diberikan embiayaan ashalih ad)

14

secara cuma-cuma "gratis# kepada seluruh masyarakat sehingga negaralah "!aitul Mal# yang menanggung seluruh biaya kesehatan ini bukan masyarakat. Anggaran yang menangani pembiayaan kesehatan terdapat pada Seksi emenuhan atas tiga kebutuhan primer katagori ashalih ad)!aulah. kedua ini bersifat

menyeluruh, artinya seluruh rakyat apakah orang miskin atau kaya, dari keluarga pengusaha atau bukan, pria atau 2anita, tua atau muda, kulit hitam atau putih, Muslim atau non Muslim, memiliki hak yang sama untuk mendapatkan jaminan keamanan, pendidikan dan pelayanan kesehatan secara gratis. Karena perkara pemenuhan kebutuhan primer ini menjadi sasaran utama kebijakan fiskal dibandingkan anggaran yang lainnya, maka khalifah tidak boleh melalaikan anggarannya di dalam !aitul Mal, sebab ia merupakan suatu ke2ajiban yang harus dilaksanakan negara dan merupakan hak setiap indi7idu yang tidak mampu memenuhi kebutuhannya akan pangan, sandang dan papan. )uga hak seluruh rakyat untuk mendapatkan jaminan keamanan, pendidikan dan pelayan kesehatan secara gratis. !ahkan jika !aitul Mal tidak mampu lagi membiayai anggaran ini, sedangkan perkara ini merupakan ke2ajiban negara terlepas apakah ada harta di dalam !aitul Mal ataukah tidak, maka ke2ajiban untuk membiayai anggaran perkara tersebut beralih kepada kaum Muslimin, yakni dengan berhaknya negara memungut pajak "dlaribah# terhadap kaum Muslimin yang mempunyai kelebihan harta. Dengan satu langkah kebijakan fiskal dalam penjaminan kebutuhan primer di atas, maka negara telah membangun suatu infrastruktur ekonomi dan dengan itu terbentuklah suatu karakteristik struktur perekonomian sehingga negara telah membuka satu pintu distribusi ekonomi yang adil, karena orang-orang yang kurang memiliki kemampuan dari sisi ekonomi disantuni oleh negara dengan penjaminan pemenuhan kebutuhan-kebutuhan pokoknya. )uga setiap orang mendapatkan hak yang sama dalam keamanan akan hartanya, akan usahanya "pertanian, industri dan perdagangan, jasa, dan lain-lain#, ji2anya dan keluarganya. 3ak yang sama akan pendidikan, sehingga semua orang pada hakikatnya memiliki kesempatan yang sama untuk memperoleh ilmu dan keahlian "skill#. Dengan ilmu dan keahlian inilah modal dasar bagi seseorang mencari nafkah bagi diri dan keluarganya, serta untuk meningkatkan kekayaannya. !aitul Mal masih memiliki dua instrumen dari dua sumber pemasukan negara untuk semakin mempertajam distribusi harta di tengah-tengah masyarakat. ;aitu

15

instrumen 4enyimpanan Harta &epemilikan 6mum dan instrumen Harta 9akat.

4enyimpanan

3arta yang termasuk kepemilikan umum merupakan harta milik umat sehingga umat berhak mendapatkan manfaat dari harta milik umum dan tidak seorangpun yang berhak menguasai harta milik umum tersebut. Dalam memanfaatkan harta milik umum ada yang bisa dimanfaatkan secara langsung oleh umat seperti air, padang rumput, api, jalan-jalan umum, laut, sungai, danau dan terusan yang besar, dan ada juga yang tidak mudah memanfaatkannya secara langsung seperti minyak bumi, gas, dan barang-barang tambang. =ntuk dapat memanfaatkannya, aset milik umum tersebut harus dieksplorasi dan diolah dengan usaha yang keras dan biaya yang besar. Maka pihak yang 2ajib untuk mengelola kepemilikan seperti ini adalah negara selaku 2akil umat. endapatan yang diperoleh dari eksplorasi dan produksi "pengolahan# atas harta milik umum tersebut digunakan untuk menutupi seluruh biaya operasional pengelolaannya serta dibelanjakan untuk kepentingan umat sebagai bagian dari kebijakan ekonomi negara. embelanjaan dari harta milik umum ini dianggarkan dalam pos pengeluaran 4enyimpanan Harta 4emilikan 6mum. ada sisi kebijakan negara atas pemanfaatan hasil pengelolaan harta milik umum untuk kepentingan umat inilah diatur mengenai mekanisme distribusi ekonomi. Kebijakan ekonomi negara ini dilakukan berdasarkan aspek strategis dari sisi sosial ekonomi masyarakat dan keuangan negara. !isa saja khalifah melakukan kebijakan membagikan harta milik umum seperti air ledeng, listrik, !!M, gas elpiji secara gratis "transfer payment# ke tempat-tempat tinggal ataupun tempat usaha masyarakat, atau menjualnya dengan harga yang murah "subsidi# atau dengan harga pasar. Dengan harta milik umum ini pula negara melakukan transfer payment terhadap penduduk yang mengalami musibah atau bencana alam dan dialokasikan dalam anggaran 6rusan !arurat7 Ben'ana *lam. erkembangan Daman dari sisi sains dan teknologi, luasnya 2ilayah dan besarnya jumlah penduduk serta ancaman dari luar negeri berpotensi besar menambah beban keuangan negara sehingga bisa jadi sumber-sumber penerimaan negara dari pos penerimaan Bagian +ai dan &haraj tidak mencukupi untuk menutupi seluruh ke2ajiban-ke2ajiban !aitul Mal. =ntuk menutupi kekurangan anggaran ini, sebelum khalifah melakukan kebijakan penarikan pajak atas kaum Muslimin, maka negara boleh menutupinya dari penerimaan harta milik umum sehingga jika mencukupi belanja negara, penarikan pajak tidak boleh dilakukan.

16

Dengan mengambil kebijakan ini, pos penerimaan dari Bagian 4emilikan 6mum sebagian digunakan untuk membiayai pos pengeluaran lainnya seperti pos !ar al)&hilafah, ashalih ad)!aulah, Santunan, dan 1ihad. Dari penerimaan harta ashalih ad)!aulah dan membantu pemilikan umum, negara dapat membelanjakannya untuk membangun fasilitasfasilitas umum yang dianggarkan dalam Seksi perekonomian masyarakat dalam bentuk subsidi ataupun pinjaman modal di sektor pertanian, perkebunan, perikanan, kehutanan, industri, perdagangan dan jasa yang dianggarkan dalam Seksi Santunan. .nstrumen terakhir !aitul Mal yang berfungsi pula dalam menciptakan mekanisme distribusi ekonomi adalah Dakat. Akan tetapi Dakat tidak murni sebagai kebijakan ekonomi. >akat semata-mata merupakan implimentasi ibadah ritual seorang Muslim kepada ,uhannya yang mempunyai dampak sosial ekonomi di masyarakat. enyaluran harta Dakat dari anggaran 4enyimpanan Harta 9akat harus dilakukan hanya terhadap E golongan yang disebutkan dalam firman Allah S4,5

Sesungguhnya /akat)/akat itu, hanyalah untuk orang)orang fakir, orang)orang miskin, pengurus)pengurus /akat, para mu=allaf yang dibujuk hatinya, untuk (memerdekakan) budak, orang)orang yang berhutang, untuk jalan *llah dan untuk mereka yuang sedang dalam perjalanan, sebagai suatu ketetapan yang diwajibkan *llah, dan *llah Asbabun Nuzul Setelah sebelumnya Allah S4, mengungkapkan bantahan-bantahan kaum munafik kepada Nabi sa2 dan celaan mereka terhadap !eliau dalam pendistribusian Dakat, kemudian Allah S4, menjelaskan bah2a sesungguhnya Dia-lah yang membagikannya, menjelaskan hukumnya dan menyelesaikan masalahnya. Dia tidak menyerahkan urusan pembagiannya kepada siapapun selain-Nya. Allah S4, membagikannya kepada mereka yang telah ditentukan. Kaum fakir didahulukan dari aha engetahui lagi aha Bijaksana. (3S. *t)0aubah: >?)

17

golongan lain dalam ayat ini, sebab merekalah yang paling membutuhkan dibanding yang lain, menurut pendapat yang cukup terkenal. Selain itu karena kebutuhan mereka yang sangat. 3al ini diri2ayatkan dari .bnu Abbas r.a., Mujahid, al-3asan al!ashri dan .bnu >aid. "Shahih ,afsir .bnu Katsir, ).lid F, 3al. 0'9, Katsir50((*# Karena itu, menurut Abdul 8adim >allum, Dakat tidak boleh dikeluarkan di luar delapan golongan tersebut sehingga tidak boleh harta Dakat digunakan misalnya untuk membangun sarana-sarana umum, digunakan untuk kebijakan ekonomi. D. UPAH DALAM PERSPEKTIF ISLAM =pah artinya mengambil manfaat tenaga orang lain dengan jalan memberi ganti menurut syarat-syarat tertentu ".dris Ahmad 5 %&E*#. Kebijakan fiskal dalam Sistem $konomi .slam tidak bertumpu pada pertumbuhan ekonomi seperti dalam Sistem $konomi Kapitalis tetapi mengacu pada penciptaan mekanisme distribusi ekonomi yang adil. ustaka .bnu

0empatkanlah mereka (para isteri) di mana kamu bertempat tinggal menurut kemampuanmu dan janganlah kamu menyusahkan mereka untuk menyempitkan (hati) mereka. !an jika mereka (isteri)isteri yang sudah ditala#) itu sedang hamil, maka berikanlah kepada mereka nafkahnya hingga mereka bersalin, kemudian jika mereka menyusukan (anak-anak)mu untukmu maka berikanlah kepada mereka upahnya, dan musyawarahkanlah di antara kamu (segala sesuatu) dengan baik@ dan jika kamu menemui kesulitan maka perempuan lain boleh menyusukan (anak itu) untuknya. (3S *t)0hala# : >). Selanjutntya dalam surat Al-Anfal ayat 09 Allah menegaskan

18

%Hai orang)orang yang beriman, janganlah kamu mengkhianati *llah dan Rasul ( uhammad) dan (juga) janganlah kamu mengkhianati amanat)amanat yang diper'ayakan kepadamu, sedang kamu mengetahui. (3S *l)*nfal : A;).

Asbabun Nuzul #alam Shahiih al-$ukhari dan %uslim disebutkan kisah Hathib bin !bi $altaah& ketika ia menulis surat kepada orang-orang 'uraisy& menginformasikan kepada mereka ren(ana yang akan dilakukan )asulullah sa* terhadap mereka di tahun Fathu %akkah (pembebasan kota %akkah". !llah memberitahukan hal ini kepada )asul-+ya. %aka $eliau pun mengutus utusan untuk menyusul orang yang memba*a surat itu& sekaligus untuk memba*anya kembali ke %adinah. Hathib pun diminta untuk dihadirkan& dan ia mengakui apa yang diperbuatnya. ,-mar bin .haththab bangkit seraya berkata/ 01ahai )asulullah& i2inkanlah saya memenggal lehernya& sebab ia telah mengkhianati !llah& )asul-+ya dan orang-orang yang beriman3 )asulullah sa* bersabda/ Biarkanlah ia. Sesungguhnya ia telah ikut menghadiri perang Badar, dan engkau tidak tahu. Semoga Allah telah melihat dan mengetahui keadaan orang-orang yang ikut perang Badar.

!li bin !bi 4halhah telah meri*ayatkan dari 5bnu !bbas& ia berkata/ 0!manat adalah amal-amal perbuatan yang diamanatkan oleh !llah S14 kepada hamba-hamba-+ya& berupa amal-amal yang *ajib. !bdurrahman bin 6aid berkata/ 0!llah melarang mereka berkhianat kepada !llah dan )asul-+ya sebagaimana yang dilakukan oleh orang-orang munafik. (Shahih Tafsir Ibnu atsir, !Ilid ", #al. $%-$&, 'ustaka Ibnu atsir(%))*+

.mam !ukhari meri2ayatkan dari Abu 3urairah yang mengatakan Nabi Sa2 bersabda 5 %*llah S20 berfirman: B0iga orang yang *ku musuhi pada hari kiamat nanti, adalah orang yang telah memberikan karena *ku, lalu berkhianat@ dan orang yang membeli barang pilihan, lalu ia makan kelebihan harganya@ serta orang yang mengontrak pekerja kemudian pekerja tersebut menunaikan transaksinya sedangkan upahnya tidak diberikan.

19

Dari .bnu Mas6ud, Nabi Sa2 bersabda 5 %*pabila salah seorang diantara kalian, mengontrak (tenaga) seorang ajir (%pekerja), maka hendaklah diberitahu tentang upahnya.

20