Anda di halaman 1dari 1

Tuhan Selalu Bersama Kalian Hari-hari normal tinggal di kawasan endemik kemiskinan di sebuah kota metropolitan.

Diantara rimbun kardus dan kayu lapuk sebagai dinding pembatas, antara dunia luar dengan apa yang mereka sebut rumah, meskipun dari sudut estetis ini sangat jauh dari kriteria penilaian. Standar yang cukup realistis dengan pendapatan yang hanya bisa untuk memenuhi perut saat lapar, dan mengenyahkan kebutuhan sekunder, apalagi tersier. amun, itu tidaklah menjadi alasan bagi mereka untuk menegakkan ajaran kebenaran, dimana mushola kecil yang didirikan begitu sederhana, namun sangat mewah diantara bangunan-bangunan lain di sekitarnya itu selalu penuh ketika panggilan ad!an berkumandang. "nilah mereka yang tinggal di bantaran Kali #ode, dimana mayoritas bukanlah kaum yang hidup dengan pilihan kemewahan, dan menikmati status sosial istimewa. Tinggal dengan kesederhanaan, kemajemukan, dan kebersamaan menjadi kekayaan sosial, dan membentuk sebuah rantai kehidupan yang mengagumkan, dan menginspirasiku, yang sesekali mengayuh pedal sepeda melintasi liukan meander sungai yang memanjang, membelah Kota $ogyakarta. Dan ketika sore datang dari atas jembatan mereka yang berhenti melihat Kali itu dari atas kendaraan dan kaca mobil mereka, hanya sejenak sebelum mereka kembali melanjutkan perjalanan mereka dan takkan pernah kami tahu apa yang ada dalam benak mereka. Barangkali iba, belas kasihan, atau mungkin muncul kemudian sebuah keprihatinan, dan kepedulian untuk selanjutnya mengarah kepada tindakan riil, untuk membantu mereka yang tinggal di bantaran kali itu, untuk memperbaiki kualitas kehidupan. Sebenarnya masyarakat hanya butuh