Anda di halaman 1dari 7

Pergeseran Bahasa Saat dilahirkan ke dunia ini, manusia mulai belajar bahasa.

Sedikit demi sedikit, bahasa yang dipelajari olehnya sejak kecil semakin dikuasainya sehingga jadilah bahasa yang ia pelajari sejak kecil itu sebagai bahasa pertamanya. Dengan bahasa yang dikuasai olehnya itulah, ia berinteraksi dengan masyarakat di sekitarnya. Beranjak remaja, ia sudah menguasai lebih dua atau lebih bahasa. Semua itu ia peroleh ketika berinteraksi dengan masyarakat atau ketika di bangku sekolah. Hal ini menyebabkan ia menjadi dwibahasawan atau multibahasawan. Ketika menjadi dwibahasawan atau multibahasawan, ia dihadapkan pada pertanyaan, yaitu manakah di antara bahasa yang ia kuasai merupakan bahasa yang paling penting? Di saat-saat seperti inilah terjadinya proses pergeseran bahasa, yaitu menempatkan sebuah bahasa menjadi lebih penting di antara bahasa-bahasa yang ia kuasai. ontoh yang dapat dikemukakan berdasarkan ilustrasi di atas adalah sebagai berikut. Seorang anak bahasa pertamanya adalah bahasa !. "alu, ketika sekolah dia menguasai bahasa B. "ambat laun ia menyadari bahwa bahasa B lebih penting atau membawa man#aat yang sangat besar baginya. Hal ini membuat dia lebih memilih bahasa B daripada bahasa ! dalam berinteraksi. Dengan demikian, posisi bahasa ! sebagai bahasa yang utama bagi si anak menjadi bergeser sebagai bahasa yang $termarginalkan% atau dinomorduakan. Kasus seperti ini disebut dengan kasus pergeseran bahasa. !kan tetapi, #aktor kedwibahasaan bukanlah satu-satunya #aktor penyebab terjadinya pergeseran bahasa. &erdapat beberapa #aktor lain yang juga merupakan penyebab yang sangat rentan terhadap peristiwa pergeseran bahasa. Pertama, faktor perpindahan penduduk. Hal ini sesuai dengan pernyataan haer '())*+,*(-, pergeseran bahasa (language shift) menyangkut masalah penggunaan bahasa oleh seorang penutur atau sekelompok penutur yang bisa terjadi sebagai akibat perpindahan dari satu masyarakat tutur ke masyarakat tutur yang lain. Pergeseran bahasa juga dapat terjadi karena masyarakat yang didatangi jumlahnya sangat kecil dan terpecah-pecah. Dengan kata lain, pergeseran bahasa bukan disebabkan oleh masyarakat yang menempati sebuah wilayah, melainkan oleh pendatang yang mendatangi sebuah wilayah. Kasus seperti ini pernah terjadi di beberapa wilayah kecil di .nggris ketika industri mereka berkembang. Beberapa bahasa kecil yang merupakan bahasa penduduk setempat tergeser oleh bahasa .nggris yang dibawa oleh para buruh industri ke tempat kecil itu. Kedua, pergeseran bahasa juga disebabkan oleh #aktor ekonomi. Salah satu #aktor ekonomi itu adalah industrialisasi. Kemajuan ekonomi kadang-kadang mengangkat posisi sebuah bahasa menjadi bahasa yang memiliki nilai ekonomi tinggi 'Sumarsono dan Partana, ())(+(/0-. Kasus ini dapat dicermati pada bahasa .nggris. 1auh sebelum bahasa .nggris muncul, bahasa yang pertama sekali dipakai di tingkat internasional adalah bahasa "atin. Bahasa ini menjadi bahasa yang dipilih oleh masyarakat, terutama masyarakat pelajar. 2amun, seiring dengan berkembangnya 3aman, bahasa "atin kemudian ditinggalkan orang. Konon katanya bahasa ini ditinggalkan karena terlalu rumitnya struktur bahasa "atin ini. lambat laun karena kerumitan ini orang beralih kepada bahasa Prancis. Bahasa ini memiliki kedudukan layaknya bahasa "atin dulu. !kan tetapi, sebagaimana bahasa "atin, bahasa ini kemudian ditinggalkan orang. Karena

semakin maju perekonomian di .nggris yang ditandai oleh adanya re4olusi industri orang kemudian beralih ke bahasa .nggris. Bahasa ini akhirnya menjadi bahasa internasional, mengalahkan bahasa "atin dan bahasa Prancis. Sekarang orang berbondong-bondong belajar bahasa .nggris. Bahkan demi bahasa .nggris, orang rela meninggalkan bahasa pertamanya. Kedudukan bahasa .nggris ini semakin diperkuat oleh adanya perusahaan-perusahaan baik swasta maupun negeri yang menjadikan bahasa .nggris sebagai salah satu persyaratan yang harus dipenuhi oleh para pelamar kerja. Bukan hanya itu. Di tingkat perguruan tinggi saja lulus &567" merupakan salah satu syarat untuk dapat mengikuti sidang sarjana. 8engapa hal ini bisa terjadi9 1awabannya tentu saja karena 6ropa merupakan penguasa ekonomi di dunia ini. Ketiga, pergeseran bahasa menurut Sumarsono dan Partana '())(+(/0- juga disebabkan oleh sekolah. Sekolah sering juga dituding sebagai #aktor penyebab bergesernya bahasa ibu murid karena sekolah biasanya mengajarkan bahasa asing kepada anak-anak. Hal ini pula yang kadangkala menjadi penyebab bergesernya posisi bahasa daerah. Para orang tua enggan mengajari anaknya bahasa daerah karena mereka berpikir bahwa anaknya akan susah memahami mata pelajaran yang disampaikan oleh gurunya dengan menggunakan bahasa .ndonesia. !kibatnya anak tidak mampu berbahasa daerah atau paling tidak anak hanya dapat memahami bahasa daerah tanpa mampu berinteraksi. (. Pemertahanan Bahasa Di atas telah dijelasakan bahwa pergeseran bahasa terjadi perpindahan penduduk, ekonomi, sekolah. !kan tetapi, terdapat pula masyarakat yang tetap mempertahankan bahasa pertamanya dalam berinteraksi dengan sesama mereka meskipun mereka adalah masyarakat minoritas. Berkaitan dengan hal ini, pemertahanan bahasa ina di Peunayong, Banda !ceh, dapat samasama dicermati. 6tnis yang sudah ada di Sumatera sejak abad ke-: ini telah membuktikan bahwa meskipun berposisi sebagai masyarakat minoritas, mereka ternyata tetap mampu keberadaan bahasa mereka yaitu bahasa ina. Hal ini ditandai oleh mampunya anak-anak mereka dalam berbahasa ina padahal peralihan generasi masyarakat ini sudah cukup lama. ;ang perlu digarisbawahi adalah bahasa ina yang dikuasai oleh masyarakat cina di Peunayong ini adalah bahasa Haak 'barangkali dapat dikatakan dialek-. 8emang belum ada penelitian lebih lanjut tentang pemertahanan bahasa ina dialek Haak di Peunayong. !kan tetapi, penulis sempat beberapa kali melakukan obser4asi. Dalam obser4asi itu penulis sangat sering melihat anak-anak etnis &ionghoa ini berinterkasi dengan menggunakan bahasa ina dialek Haak ini. Selain itu juga, dalam ranah keluarga kasus yang sama juga penulis temukan. !ntara ayah dan ibu, orang tua dan anak-anak, mereka sama-sama berinteraksi dengan menggunakan bahasa ina diale Haak sebagai perantara meskipun tak dapat dipungkiri bahwa banyak masyarakat ina di Peunayong tidak mampu berbahasa 8andarin. ;ang menarik adalah meskipun mereka merupakan masyarakat minoritas, sebagian masyarakat etnis &ionghoa ini mampu menguasai bahasa !ceh dengan baik bahkan dapat dikatakan ke#asihan mereka berbahasa !ceh mampu menandingi penutur asli bahasa !ceh sendiri walaupun tak dapat dipungkiri bahwa terdapat pula sebagian masyarakat etnis &ionghoa itu hanya memahami bahasa !ceh, tetapi tidak mampu mela#alkannya. !pakah bahasa ina etnis

&ionghoa ini telah mengalami pergeseran9 Sejauh ini setahu penulis belum ada yang meneliti. !kan tetapi, dari gejala-gejala yang teramati sekarang, tampaknya bahasa ini belum mengalami pergeseran karena ia masih digunakan sesuai dengan #ungsi. Ketika berinteraksi dengan masyarakat etnis !ceh, masyarakat etnis &ionghoa menggunakan bahasa .ndonesia atau bahasa !ceh sebagai perantara. 2amun, bahasa yang dipakai akan berbeda ketika masyarakat etnis &ionghoa ini berinteraksi dengan sesama mereka. Dalam konteks ini bahasa yang mereka pakai tetap bahasa ina. Pemertahanan bahasa !ceh sebagai bahasa pertama juga dapat dikatakan masih baik. 2amun, berkaitan dengan pemertahanan bahasa !ceh ini kiranya perlu diberikan batasan antara pemertahan bahasa !ceh di kota dan pemertahanan bahasa !ceh di desa. 1ka dibandingka dengan di kota, pemertahanan bahasa !ceh di desa jauh lebih baik. Sangat sedikit didapati anak-anak desa yang tidak mampu berbahasa !ceh. Hal ini tentu saja terjadi karena orang tua dalam lingkungan keluarga berinteraksi dengan sang anak menggunakan bahasa !ceh. Dengan demikian, bahasa .ndonesia menjadi bahasa kedua bagi si anak dan umumnya bahasa ini diperoleh si anak ketika ia telah berada di bangku sekolah. Kasus ini akan sangat berbeda dengan kasus yang terjadi di kota. Di kota pemertahanan bahasa !ceh cenderung lebih memudar. Banyak didapati anak-anak di kota yang tidak mampu berbahasa !ceh padahal orang tua mereka kedua-duanya adalah penutur bahasa !ceh. 7aktor penyebabnya seperti tuntutan sekolah. Banyak guru di sekolah perkotaan menggunakan bahasa .ndonesia sebagai pengantar dalam proses pembelajaran. Hal ini menimbulkan anggapan bagi orang tua bahwa sang anak harus diajarkan bahasa .ndonesia. 1ika tidak diajarkan, anak dianggap akan terhambat memahami materi pelajaran yang disampaikan oleh guru. Kasus pemertahanan bahasa juga terjadi pada masyarakat "oloan yang berada di Bali. Kasus pemertahanan bahasa 8elayu "oloan ini disampaikan oleh Sumarsono ' haer, ())*+,*0-. 8enurut Sumarsono, penduduk desa "oloan yang berjumlah sekitar tiga ribu orang itu tidak menggunakan bahasa Bali, tetapi menggunakan sejenis bahasa 8elayu yang disebut bahasa 8elayu "oloan sejak abad ke-,< yang lalu ketika leluhur mereka yang berasal dari Bugis dan Pontianak tiba di tempat itu. !da beberapa #aktor yang menyebabkan mereka tetap mempertahankan bahasa 8elayu "oloan. Pertama, wilayah pemukiman mereka terkonsentrasi pada satu tempat yang secara geogra#is aak terpisah dari wilayah pemukiman masyarakat Bali. Kedua, adanya toleransi dari masyarakat mayoritas Bali untuk menggunakan bahasa 8elayu "oloan dalam berinteraksi dengan golongan minoritas "oloan meskipun dalam interaksi itu kadang-kadang digunakan juga bahasa Bali. Ketiga, anggota masyarakat "olan mempunyai sikpa keislaman yang tidak akomodati# terhadap masyarakat, budaya, bahasa Bali. Pandangan seperti ini dan ditambah dengan terkonsentrasinya masyarakat "olan ini menyebabkan minimnya interaksi #isik antara masyakat "oloan yang minoritas dan masyarakat Bali yan mayoritas. !kibatnya pula menjadi tidak digunakannya bahasa Bali dalam berinteraksi intrakelompok dalam masyarakat "oloan. Keempat, adanya loyalitas yang tinggi dari masyarakat 8elayu "oloan sebagai konsekuaensi kedudukan atau status bahasa ini yang menjadi lambang identitas diri masyarakat "oloan yang beragama .slam= sedangkan bahasa Bali dianggap sebagai lambang identitas masyarakat Bali yang beragama Hindu. 5leh karena itu, penggunaan bahasa Bali

ditolah untuk kegiatan-kegiatan intrakelompok terutama dalam ranah agama. Kelima, adanya kesinambungan pengalian bahasa 8elayu "oloan dari generasi terdahulu ke genarasi berikutnya. 8asyarakat 8elayu "oloan ini, selain menggunakan bahasa 8elayu "oloan dan bahas Bali, juga menggunakan bahasa .ndonesia. Bahasa .ndonesia diperlakukan secara berbeda oleh mereka. Dalam anggapan mereka bahaa .ndonesia mempunyai kedudukan yang lebih tinggi daripada bahasa Bali. Bahasa .ndonesia tidak dianggap memiliki konotasi keagamaan tertentu. .a bahkan dianggap sebagai milik sendiri dalam kedudukan mereka sebagai rakyat .ndonesia. 5leh karena itu, mereka tidak keberatan menggunakan bahasa .ndonesia dalam kegiatan-kegiatan keagamaan. /. Kepunahan Bahasa >ntuk memahami perihal kepunahan bahasa, alangkah baiknya jika terlebih dahulu dicermati kembali konsep pergeseran bahasa. Dalam konsep pergeseran bahasa ini dikatakan bahwa bahasa mengalami pergeseran jika pemakaian antara bahasa pertama dan bahasa kedua tidak seimbang. Ketika keseimbangan ini tidak ada lagi, dua kemungkinan yang akan muncul. Kemungkinan yang pertama adalah bahasa pertama tetap bertahan, kedua bahasa pertama tersingkirkan oleh bahasa kedua. Dari kedua kemungkinan ini, yang mengarah kepada kepunahan adalah kemungkinan kedua. Bagaimana kemungkinan ini bisa terjadi9 >ntuk menjawab hal ini, cermati kembali kasus 7isher yang telah disebutkan di atas. Pada kasus yang ditemukan oleh 7isher tergambar bahwa masyarakat monolingual yang menguasai bahasa pertamanya kembali menjadi masyarakat monolingual yang menguasai bahasa kedua. !pabila kasusnya seperti ini dikatakanlah bahasa pertama yang pada mulanya dipakai oleh suatu guyup tutur menjadi punah karena guyup tutur tersebut lebih mengutakan bahasa kedua 'secara total meniggalkan bahasa pertamanya-. Bagaimanakah sebuah bahasa dikatakan punah9 !pakah ketika sebuah bahasa yang tidak dipakai lagi di seluruh dunia disebut sebagai bahasa yang telah punah ataukah sebuah bahasa yang tidak dipakai lagi dalam sebuah guyup tutur, tetapi masih dipakai dalam guyup tutur juga disebut dengan bahasa yang punah. Berkaitan dengan hal ini, pendapat yang dikemukakan oleh Dorian 'Sumarsono dan Partana, ())(+(<*- dapat menjadi bahan acuan kita. Dorian mengemukakan bahwa kepunahan bahasa hanya dapat dipakai bagi pergeseran total di dalam satu guyup saja dan pergeseran itu terjadi dari satu bahasa ke bahasa yang lain bukan dari ragam bahasa yang satu ke ragam bahasa yang lain dalam satu bahasa. !rtinya, bahasa yang punah tidak tahan terhadap persaingan bahasa yang lain bukan karena persaingan pertise antarragam bahasa dalam satu bahasa. Berdasarkan penjelasan Dorian ini, dapat disimpulkan bahwa kepunahan bermakna terjadinya pergeseran total dari satu bahasa ke bahasa yang lain dalam satu guyup tutur. Selanjutnya, Kloss 'Sumarsono dan Partana, ())(+(<:- menyebutkan bahwa ada tiga tipe utama kepunahan bahasa, yaitu ',- kepunahan bahasa tanpa terjadinya pergeseran bahasa, '(kepunahan bahasa karena pergeseran bahasa, dan '/- kepunahan bahasa nominal melalui metamor#osis. &ipe pertama yang disebutkan oleh Kloss terjadi karena lenyapnya guyup tutur pemakai saut? bahasa yang disebabkan oleh bencana alam. Dalam sebuah tradisi lisan yang hidup di @anuata, misalnya, diceritakan bahwa sebuah pulau besar bernama Kuwee terhancurkan oleh letusan

gunung berapi Pulau &onga dan Pulau Sheperd. Sejumlah kecil penduduknya yang tersisa kemudian kembali dari pengungsian menuju ke Pulau yang lebih besar yaitu Pualu 6#ate. 8ereka membawa pula salah satu dialek 6#ate dan berinteraksi dengan menggunakan dialek tersebut 'Kushartanti, dkk 'eds-, ())A+,<:-. &ipe kedua terjadi karena bergesernya pemakaian bahasa pertama. Kasus ini termasuk kasus yang paling banyak terjadi dan tentu saja kepunahan karena pergeseran bahasa ini disebabkan oleh berbagai #aktor. Sebut saja misalnya masyarakat !borijin !ustralia. !kibat datangnya penduduk baru dari 6ropa, beberapa bahasa !borijin !ustralia punah. Selain itu, banyak bahasa masyarakat !borijin punah secara paksa, yaitu dengan adanya tekanan dari pihak pendatang 6ropa. Benerasi tuanya ditekan untuk memaksa anak-anak mereka menggunakan bahasa .nggris. Dengan kata lain, punahnya beberapa bahasa masyarakat !borijin disebabkan oleh tidak seimbangnya kontak bahasa, yaitu dominasi kelompok berkuasa yang memberikan tekanan yang sangat kuat terhadap bahasa penduduk yang dikuasainya. Sebagian penduduk 8aori, misalnya, karena dijajah oleh orang 6ropa, mengganti bahasa .bunya dengan bahasa .nggris, sementara yang masih mempertahankan bahasa 8auri pun #asih berbahasa .nggris 'Kushartanti, dkk 'eds-, ())A+,<:-. Pakar budaya dan bahasa >ni4ersitas 2egeri 8akassar '>28-, Pro#. Dr. Cainuddin &aha, mengatakan bahwa pada abad ini diperkirakan A) persen dari A.))) bahasa di dunia terancam punah, atau setiap dua pekan hilang satu bahasa. Selanjutnya, dikatakan olehnya bahwa Kepunahan tersebut bukan karena bahasa itu hilang atau lenyap dari lingkungan peradaban, melainkan para penuturnya meninggalkannya dan bergeser ke penggunaan bahasa lain yang dianggap lebih menguntungkan dari segi ekonomi, sosial, politik atau psikologis. Di .ndonesia sendiri, katanya, keadaan pergeseran bahasa yang mengarah kepada kepunahan ini semakin nyata dalam kehidupan sehari-hari terutama di kalangan keluarga yang tinggal di perkotaan. Pergeseran ini tidak hanya dialami bahasa-bahasa daerah yang jumlah penuturnya sudah sangat kurang 'bahasa minor-, tetapi juga pada bahasa yang jumlah penuturnya tergolong besar 'bahasa mayor- seperti bahasa 1awa, Bali, Banjar, dan "ampung, termasuk bahasa-bahasa daerah di Sulawesi Selatan seperti Bugis, 8akassar, &oraja, dan 8assenrempulu 'http+DDwww.gatra.comD())0-):-),Dartikel-. Sumber lain, yaitu &empo menyebutkan bahwa sebanyak ,) bahasa daerah di .ndonesia dinyatakan telah punah, sedangkan puluhan hingga ratusan bahasa daerah lainnya saat ini dalam keadaan terancam punah. &emuan ini didapat dari hasil penelitian para pakar bahasa dari sejumlah perguruan tinggi. 8enurut Kepala Pusat Bahasa Departemen Pendidikan 2asional, Dendy Sugono, sepuluh bahasa daerah yang telah punah itu berada di .ndonesia bagian timur, yakni di Papua sebanyak sembilan bahasa dan di 8aluku >tara satu bahasa. Salah satu penyebab lunturnya bahasa daerah adalah #enomena ketertarikan generasi muda mempelajari bahasa asing ketimbang bahasa daerah. 8ereka juga enggan untuk menggunakan bahasa daerahnya untuk komunikasi keseharian. !sim mengatakan bahwa ada beberapa #aktor yang menjadi penyebab kepunahan bahasa daerah. Pertama, 4italisasi etnolinguistik. .a mencontohkan bahasa .brani yang dulu hampir punah. 2amun, karena adanya 4italitas yang tinggi untuk menghidupkan kembali bahasa .brani, bahasa tersebut kini menjadi bahasa nasional. Kedua, kata !sim, adalah #aktor biaya dan keuntungan. Selama ini kecenderungan orang belajar bahasa adalah karena #aktor berapa biaya yang dikeluarkan dan seberapa besar keuntungan yang diperoleh kelak. .a

menyebutkan bahwa orang rela belajar bahasa .nggris dengan biaya mahal karena ada keuntungan yang diperoleh kelak. &ipe ketiga disebabkan oleh turunnya derajat suatu bahasa menjadi dialek ketika guyup tuturnya tidak lagi menulis dalam bahasa itu dan mulai memakai bahasa lain. Bagaimanakah menghambat kepunahan ini9 bila merujuk pada pendapat !sim yang telah disebutkan di atas, usaha menghambat kepunahan dapat dilakukan dengan beberaapa cara. Pertama, 4italisasi etnolinguistik. @italisasi etnolinguistik ini pernah diterapkan pada bahasa .brani yang dipakai oleh masyarakat ;ahudi. Bahasa ini pernah berada di ambang kepunahan. Hal ini disebabkan oleh banyaknya orang ;ahudi yang dibasmi oleh Hitler dalam sebuah peristiwa yang dikenal dengan nama holocaust. Diperkirakan sebanyak / juta orang ;ahudi dibunuh oleh Hitler. 1umlah ini belum termasuk orang Sla4, orang Polandia non-;ahudi, orang Eoma dan Sinti, kaum 7reemason, kaum Komunis, pria homoseksual, dan saksi ;ehowa. 1ika dikelompokkan, jumlah pembasmian mencapai :) juta jiwa 'Fidada, ())0+/G-. !kibat pembunuhan terhadap / juta orang ;ahudi tersebut, penurut bahasa .brani dengan sendirinya berkurang. 5leh karena itu, untuk menghambat punahnya bahasanya, dilakukanlah 4italisasi etnolinguistik terhadap bahasa .brani sehingga bahasa tersebut sekarang manjedi bahasa nasional. Kedua, yang dapat dilakukan adalah dengan menggiatkan penerbitan majalah berbahasa berbahasa daerah bagi media cetak dan menyediakan program khusus berbahasa !ceh bagi media elektronik. Ketiga, memasukkan sebagian kosakata bahasa daerah ke dalam bahasa nasional. Berkaitan dengan hal ini, sebut saja misalnya bahasa !ceh. Kosakata ini setahu penulis tidak ada dalam bahasa nasional kita, yaitu bahasa .ndonesia. !nda boleh mencermati Kamus Besar Bahasa .ndonesia. Padahal, kosakata bahasa !ceh juga berpotensi menjadi kosakata bahasa .ndonesia layaknya bahasa 1awa, bahasa Sunda, atau bahasa-bahasa daerah lainnya yang sebagian kosakata bahasanya telah menjadi kosakata bahasa .ndonesia. Salah satu contoh yang dapat ditampilkan adalah timplak. Kata ini mempunyai arti mencela atau celaan '!boe Bakar, dkk. ,G<A+G<A-. Kata ini sangat cocok menjadi kosakata bahasa .ndonesia. Secara kaidah bahasa, yaitu konsep peluluhan, bunyi awal kata ini memenuhi syarat peluluhan. 1ika bunyi awal diluluhkan, kata timplak akan menjadi menimplak jika diimbuhkan imbuhan me2- dan dapat pula menjadi penimplakan jika diimbuhkan kon#iks peN-an. Dari segi pela#alan pun, kosakata ini tidak sulit dila#alkan oleh penutur nonbahasa !ceh. Kasus yang sama juga dapat diterapkan pada kata padubawa. Dari segi pela#alan, kata ini sangat mudah dila#alkan oleh penutur nonbahasa !ceh. Selain itu, konsep pela#alan juga memenuhi kata ini. 1ika dilekatkan imbuhan me2-, kata ini menjadi memadubawa, atau jika dilekatkan a#iks pe2-, kata tersebut akan menjadi pemadubawa(-an). Keempat, menjadikan bahasa daerah sebagai mata pelajaran wajib di berbagai jenjang pendidikan, bukan semata-semata hanya mata pelajaran muatan lokal dan juga dimasukkan ke uji >KBD. 1ika bahasa !ceh, berarti uji >KB!, yaitu uji kemahiran bahasa !ceh. Kelima, membentuk jurusan atau jika memungkinkan #akultas di perguruan tinggi yang khusus membidangi bahasa daerah. "ulusan-lulusan dari jurusan ini akan diterjunkan ke sekolah, media

massa baik cetak maupun elektronik yang memiliki program atau jam tayang yang menggunakan bahasa daerah sebagai perantara dan tentunya diimbangi dengan insenti# yang layak.