Anda di halaman 1dari 39

BAB

PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG

NFEKSI Saluran Pernafasan Akut (ISPA) adalah penyebab utama morbiditas

dan mortalitas penyakit menular di dunia. Hampir empat juta orang meninggal

akibat ISPA setiap tahunnya, 98% disebabkan oleh penyakit infeksi saluran pernapasan bawah. Tingkat mortalitas ISPA sangat tinggi pada bayi, anak-anak, dan orang lanjut usia, terutama dinegara-negara dengan pendapatan per kapita rendah dan menengah. Begitu pula ISPA merupakan salah satu penyebab utama konsultasi atau rawat inap di fasilitas pelayanan kesehatan terutama pada bagian perawatan anak. Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA) merupakan salah satu penyebab kematian yang paling banyak terjadi pada anak di negara sedang berkembang. Infeksi Saluran Pernapasan Akut ini menyebabkan 4 dari 15 juta perkiraan kematian pada anak berusia di bawah 5 tahun pada setiap tahunnya sebanyak dua pertiga kematian tersebut adalah bayi (WHO, 2003). Menurut World Health Organization (WHO) memperkirakan insidens Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) di negara berkembang dengan angka kematian balita di atas 40 per 1000 kelahiran hidup adalah 15%-20% pertahun pada golongan usia balita. Infeksi saluran pernafasan akut (ISPA) banyak menyerang balita batasan 0-5 tahun, sebagian besar kematian Balita di Indonesia karena ISPA. Balita merupakan faktor resiko yang meningkatkan morbiditas dan mortalitas infeksi saluran pernafasan akut (ISPA). Khususnya pnemonia karena pada usia balita daya tahan tubuh mereka belum terlalu kuat (Santoso, 2007).

LAPORAN EPIDEMIOLOGI KESLING DI PUSKESMAS MAMBORO

Di Indonesia terjadi lima kasus diantara 1000 bayi atau Balita, ISPA mengakibatkan 150.000 bayi atau Balita meninggal tiap tahun atau 12.500 korban perbulan atau 416 kasus perhari, atau 17 anak perjam atau seorang bayi tiap lima menit (Siswono, 2007). Data kasus dari jumlah pasien penderita ISPA di Kalimantan Timur mencapai 632.500 keluarga yang mempunyai balita dengan kasus. Sedangkan data yang diperoleh dari Puskesmas Temindung Samarinda, penderita ISPA pada bulan Januari sampai dengan bulan Desember 2010 tercatat sebanyak 8025 orang. Sedangkan dari bulan Januari sampai dengan bulan Juni 2011 tercatat sebanyak 3976 orang. Kasus ISPA di Puskesmas Temindung menempati urutan kedua selama bulan Juni 2011. (Rekam medis Puskesmas Temindung, 2011). Jumlah penderita penyakit ISPA di wilayah kerja Puskesmas Maamboro berjumlah 1740 orang pada tahun 2010, pada tahun 2011 penderita ISPA berjumlah 1993 dan pada tahun 2012 penderita ISPA berjumlah 960 (Data Sekunder Puskesmas Mamboro). Prevalensi penyakit Alergi dilaporkan meningkat, diperkirakan lebih dari 20% populasi di seluruh dunia menderita penyakit yang diperantarai oleh IgE, seperti asma, rinokonjungtivitis, dermatitis atopik atau eksema, dan anafilaksis.Untuk kasus asma, WHO memperkirakan terjadi pada 5%-15% populasi anak diseluruh dunia. Di Indonesia prevalensi penyakit alergi yang telah diteliti pada beberapa golongan masyarakat atau rumah sakit menunjukkan variasi, misalnyadata dari Poliklinik Alergi-Imunologi Anak RSCM dari pasien anak yangmenderita alergi, sekitar 2,4% berupa alergi susu sapi. Jumlah penderita penyakit alergi di wilayah kerja Puskesmas Mamboro berjumlah 617 orang pada tahun 2010, pada tahun 2011 penderita alergi berjumlah 472 dan pada tahun 2012 alergi berjumlah 209 (Data Sekunder Puskesmas Mamboro). Menurut WHO (1980), diare adalah buang air besar encer atau cair lebih dari tiga kali sehari. Dimana pada dunia ke-3, diare adalah penyebab kematian paling umum kematian balita, membunuh lebih dari 1,5 Juta orang pertahun. Diare

LAPORAN EPIDEMIOLOGI KESLING DI PUSKESMAS MAMBORO

kondisinya dapat merupakan gejala dari luka, penyakit, alergi (Fructose, Lactose), penyakit dan makana atau kelebihan Vitamin C dan biasanya disertai sakit perut dan seringkali enek dan muntah. Dimana menurut WHO (1980) diare terbagi dua berdasarkan mula dan lamanya, yaitu diare akut dan diare kronik. Di Indonesia terutama di daerah pedesaan penyakit yang penularannya berkaitan dengan air dan lingkungan masih merupakan masalah bagi masyarakat, sering merupakan penyakit endemis di suatu wilayah dan kadang-kadang timbul sebagai letusan penyakit dan bahkan dapat menimbulkan wabah penyakit. Data United Nations Children's Fund (UNICEF) dan World Health Organization (WHO) pada 2009, diare merupakan penyebab kematian nomor 2 pada balita di dunia, nomor 3 pada bayi, dan nomor 5 bagi segala umur. Data UNICEF memberitakan bahwa 1,5 juta anak meninggal dunia setiap tahunnya karena diare. Menurut data Badan Kesehatan Dunia (WHO), Diare adalah penyebab nomor satu kematian balita di seluruh dunia. Di Indonesia, diare adalah pembunuh balita nomor dua setelah ISPA (Infeksi Saluran Pernapasan Akut). Sementara UNICEF (Badan Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk urusan anak) memperkirakan bahwa, setiap 30 detik ada satu anak yang meninggal dunia karena Diare. Jumlah penderita penyakit diare di wilayah kerja Puskesmas Mamboro berjumlah 427 orang pada tahun 2010, pada tahun 2011 penderita diare berjumlah 434 dan pada tahun 2012 diare Mamboro). Penyakit saluran pencernaan seperti gastitis. Masyarakat pada umumnya mengenal gastritis dengan sebutan penyakit maag yaitu penyakit yang menurut mereka bukan suatu masalah yang besar, misalnya jika merasakan nyeri perut maka mereka akan langsung mengatasinya dengan makan nasi, kemudian nyerinya hilang. Penyakit gastritis ini bila tidak di atasi dengan cepat maka dapat menimbulkan perdarahan (hemorha gastritis) sehingga banyak darah yang keluar dan berkumpul di berjumlah 609 (Data Sekunder Puskesmas

LAPORAN EPIDEMIOLOGI KESLING DI PUSKESMAS MAMBORO

lambung, selain itu juga dapat menimbulkan tukak lambung, kanker lambung sehingga dapat menyebabkan kematian (Harison, 2000:1550, dalam, Hastuti:2007). Badan penelitian kesehatan dunia WHO mengadakan tinjauan terhadap beberapa negara dunia dan mendapatkan hasil persentase dari angka kejadian gastritis di dunia, diantaranya Inggris 22%, China 31%, Jepang 14,5%, Kanada 35%, dan Perancis 29,5%. Di dunia, insiden gastritis sekitar 1,8-2,1 juta dari jumlah penduduk setiap tahun. Insiden terjadinya gastritis di Asia Tenggara sekitar 583.635 dari jumlah penduduk setiap tahunnya. Prevalensi gastritis yang dikonfirmasi melalui endoskopi pada populasi di Shanghai sekitar 17,2% yang secara substantial lebih tinggi dari pada populasi di barat yang berkisar 4,1% dan bersifat asimptomatik. Gastritis biasanya dianggap sebagai suatu hal yang remeh namun gastritis merupakan awal dari sebuah penyakit yang dapat menyusahkan kita. Persentase dari angka kejadian gastritis di Indonesia menurut WHO adalah 40,8%. Angka kejadian gastritis pada beberapa daerah di Indonesia cukup tinggi dengan prevalensi 274,396 kasus dari 238,452,952 jiwa penduduk ( Kurnia, Rahmi:2011). Sedangkan di Indonesia sudah pernah di lakukan penelitian kuman Helicobacter Pylori tetapi belum dalam skala besar pada pasien gastritis yang dapat menimbulkan ulkus lambung namun dari pemeriksaan yang dilakukan pada pasien gastritis sekitar 60-70% ditemukan kuman (Harison, 2000:1551, dalam Hastuti:2007). Jumlah penderita penyakit gastritis di wilayah kerja Puskesmas Mamboro berjumlah 294 orang pada tahun 2010, pada tahun 2011 penderita gastritis berjumlah 275 dan pada tahun 2012 penderita gastritis berjumlah 252 (Data Sekunder Puskesmas Mamboro). Hipertensi berasal dari dua kata, hiper=tinggi dan tensi=tekanan darah, merupakan penyakit yang sudah lama dikenal. Menurut American Society of Hypertension (ASH), pengertian hipertensi adalah suatu sindrom atau kumpulan gejala kardiovaskuler yang progresif, sebagai akibat dari kondisi lain yang kompleks dan saling berhubungan (Sani,2008). Hipertensi adalah suatu gangguan pada

LAPORAN EPIDEMIOLOGI KESLING DI PUSKESMAS MAMBORO

pembuluh darah yang mengakibatkan suplai oksigen dan nutrisi, yang dibawa oleh darah, terhambat sampai ke jaringan tubuh yang membutuhkannya. Tubuh akan bereaksi lapar, yang mengakibatkan jantung harus bekerja lebih keras untuk memenuhi kebutuhan tersebut. Bila kondisi tersebut berlangsung lama dan menetap, timbulah gejala yang disebut sebagai penyakit tekanan darah tinggi

(Vitahealth,2005). Sejumlah 85-90% hipertensi tidak diketahui penyebabnya atau disebut sebagai hipertensi primer (hipertensi esensial atau idiopatik). Hanya sebagian kecil hipertensi yang dapat ditetapkan penyebabnya (hipertensi sekunder). Tidak ada data akurat mengenai prevalensi hipertensi sekunder dan sangat tergantung di mana angka itu diteliti. Diperkirakan terdapat sekitar 6% pasien hipertensi sekunder sedangkan di pusat rujukan dapat mencapai sekitar 35%. Hampir semua hipertensi sekunder didasarkan pada 2 mekanisme yaitu gangguan sekresi hormon dan gangguan fungsi ginjal. Pasien hipertensi sering meninggal dini karena komplikasi jantung (yang disebut sebagai penyakit jantung hipertensi). Juga dapat menyebabkan strok, gagal ginjal, atau gangguan retina mata. Hipertensi telah menjadi permasalahan kesehatan yang sangat umum terjadi. Data dari National Health and Nutrition Examination (NHANES) menunjukkan bahwa 50 juta atau bahkan lebih penduduk Amerika mengalami tekanan darah tinggi. Angka kejadian hipertensidi seluruh dunia mungkin mencapai 1 milyar orang dan sekitar 7,1 juta kematian akibat hipertensi terjadi setiap tahunnya (WHO, 2003 dan Chobanian et.al, 2004). Sampai saat ini prevalensi di Indonesia berkisar antara 5-10% sedangkan tercatat pada tahun 1978 proporsi penyakit jantung hipertensi sekitar 14,3% dan meningkatkan menjadi sekitar 39% pada tahun 1985 sebagai penyebab penyakit jantung di Indonesia. Jumlah penderita penyakit hipertensi di wilayah kerja Puskesmas Mamboro berjumlah 229 orang pada tahun 2010, pada tahun 2011

LAPORAN EPIDEMIOLOGI KESLING DI PUSKESMAS MAMBORO

penderita hipertensi berjumlah 171 dan pada tahun 2012 penderita hipertensi berjumlah 157 (Data Sekunder Puskesmas Mamboro). Pada umumnya masyarakat belum menyadari bahwa penularan penyakit dipengaruhi dua faktor penting yaitu perilaku dan kondisi lingkungan masyarakat sendiri. Masyarakat belum mengerti akan hubungan antara kesehatan dengan perilaku dan kondisi lingkungan. Di daerah pedesaan masih banyak masyarakat yang mempunyai perilaku buang air besar di tempat terbuka, menggunakan air dari sarana yang tidak memenuhi syarat kesehatan misalnya menggunakan air dari sungai untuk minum dan masak. Dengan melakukan perilaku praktis sehari-hari, misalnya cuci tangan dengan benar, yaitu dengan menggunakan sabun dan air yang mengalir serta kapan mereka harus cuci tangan, merubah kebiasaan buang air besar di tempat terbuka menjadi perilaku buang air besar di jamban, menjaga kualitas air dan mencegah terjadinya pencemaran air, mulai dari sumber air, cara pengambilan air, cara pengangktan air, cara penyimpanan air, sehingga masyarakat dapat menggunakan air secara hygienis, sudah dapat mencegah terjadinya penularan penyakit. Perilaku praktis tersebut yang belum membudaya di masyarakat. Agar para fasilitator masyarakat yaitu tokoh masyarakat, tokoh agama, guru sekolah, pengurus organisasi masyarakat seperti Tim Kerja Masyarakat, Badan Pengelola, dan lain-lain, mampu meningkatkan kesadaran masyarakat tentang bahayanya penyakit menular, memberikan motivasi cara pencegahan penyakit, sehingga masyarakat mempunyai perilaku praktis untuk meningkatkan kualitas lingkungan dan cara pencegahan penyakit, maka para fasilitator tersebut perlu memahamai epidemiologi sederhana beberapa penyakit yang masih merupakan masalah bagi masyarakat

LAPORAN EPIDEMIOLOGI KESLING DI PUSKESMAS MAMBORO

1.2 TUJUAN KEGIATAN

a. Tujuan Umum Secara umum dalam kegiatan ini diharapkan Mahasiswa mampu memahami dan meningkatkan. Pengetahuan tentang kegiatan Penyakit yang bermasalah dengan Kesehatan Lingkungan. b. Tujuan Khusus Adapun yang menjadi tujuan khusus dalam kegiatan ini adalah : 1. Diharapkan kepada Mahasiswa dapat memahami dan mengetahui tentang Kegiatan Program Epidemiologi Kesehatan Lingkungan di Puskesmas Mamboro 2. Diharapkan kepada Mahasiswa dapat memahami dan mengetahui tentang Penyakit yang berhubungan / bermasalah dengan Kesehatan Lingkungan 3. Diharapkan kepada Mahasiswa dapat meningkatkan ilmu dan pengetahuan yang diperoleh di kampus maupun di lapangan.

LAPORAN EPIDEMIOLOGI KESLING DI PUSKESMAS MAMBORO

BAB

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 TINJAUAN UMUM

ystem pelayanan kesehatan terutama di tingkat Puskesmas tidak lagi berorientasi pada pelayanan kuratif tetapi menjadi lebih pada mendorong masyarakat untuk lebih mau dan mampu serta secara sadar untuk menerapkan

perilaku hidup bersih dan sehat dengan mensinergikan semua upaya-upaya preventifpromotif. Agar tercapai sinergi dari berbagai upaya kesehatan maka ketersediaan datadata, yang kemudian dikelola hingga menjadi informasi adalah kunci utama. Data yang valid dan up to date menjadi entry point dari berbagai perencanaan intervensi yang harus dilakukan Puskesmas. Telah banyak pelajaran di mayarakat yang memperlihatkan bahwa intervensi terkadang tidak menghasilkan output atau bahkan dampak sesuai dengan harapan, kerena perencanaan yang tidak tajam dan atau karena informasi yang berasal dari pengelolaan data-data yang tidak valid dan tidak up to date. Puskesmas Mamboro setiap tahun telah berusaha untuk menyediakan data yang terjamin keakuratan dan kevalidannya melalui penyusunan profil kesehatan. Profil kesehatan Puskesmas Mamboro merupakan paket penyajian informasi kesehatan di wilayah Puskesmas yang relatif komprehensif, yang berisikan berbagai data, baik tentang derajat kesehatan hasil-hasil dari berbagai upaya kesehatan, sumberdaya kesehatan serta data umum dan data lingkungan. Berbagi revisi atau perbaikan telah dilakukan agar data yang disajikan dalam profil ini menjadi lebih mudah untuk ditangkap sehingga informasi tidak menjadi bias, terutama bagi pihak-pihak yang akan menjadikan profil ini sebgai sumbe data

LAPORAN EPIDEMIOLOGI KESLING DI PUSKESMAS MAMBORO

atau informasi bagi kegiatan-kegiatan intervensi pembangunan kesehatan di Kota Palu maupun di Kelurahan Mamboro dan Kelurahan Taipa khususnya.

2.2 GAMBARAN UMUM PUSKESMAS MAMBORO 1. Visi, Misi, dan Strategi Puskesmas a. Visi Sebagai Unit Pelaksanan Teknis Dinas Kesehatan Kota Palu (UPTD), Puskesmas Mamboro mempunyai tugas dan fungsi (TUPOKSI) sebagai pusat pembangunan kesehatan masyarakat, pusat pembinaan kesehatan keluarga dan pembiayaan lintas sektor untuk mendukung terwujudnya kemampuan dan kemauan hidup sehat masyarakat Kelurahan Mamboro juga merupakan pusat pelayanan kesehatan rawat jalan tingkat pertama. Dalam rangkaian pelaksanaan fungsinya tersebut Puskesmas Mamboro mempunyai Visi yaitu Menjadi Puskesmas Terdepan Di Kecamatan Palu Utara Menuju Palu Utara Kecamatan Sehat Untuk Semua Tahun 2014. Visi ini selaras dengan visi Dinas kesehatan Kota Palu dan visi Pemerintah daerah Kota Palu. Visi menjadi Puskesmas Terdepan Di Kecamatan Palu Utara adalah gambaran competition spirit yang sedang dibangun bersama oleh UPTD Puskesmas Mamboro untuk menjadi Puskesmas yang paling baik dalam pelaksanaan upaya kesehatan,baik upaya kesehatan

personalmaupun upaya kesehatan masyarakat. Upaya kesehatan yang diberikan diharapakan dapat dijangkau dan menjangkau seluruh lapisan masyarakat di Kelurahan Mamboro dan Taipa tanpa diskriminasi, dan memberikan output SPM yang optimal yang pada akhirnya diharapkan berdampak pada meningkatnya status kesehatan masyarakat di Kecamatan Palu Utara.

LAPORAN EPIDEMIOLOGI KESLING DI PUSKESMAS MAMBORO

b. Misi Dalam rangka mewujudkan Visi yaitu Menjadi Puskesmas Terdepan Dikecamatan Palu Utara Menuju Palu Utara Kecamatan Sehat Untuk Semua Tahun 2014. Serta untuk mendukung visi dan misi Dinas Kesehatan Kota Palu, maka misi Puskesmas Mamboro disusun sebagai berikut: 1. Menurukan angka kematian ibu, bayi dan resiko penularan penyakit melalui penguatan kerjasama lintas sector dan lintas program. 2. Meningkatkan peran serta masyarakat dalam upaya penyehatan lingkungan dan penerapan PHBS. 3. Meningkatkan upaya kesehatan bagi masyarakat miskin, resiko tinggi, dan pekerja. 4. Meningkatkan mutu dan akses layanan secara adil dan berkualitas. 5. Meningkatkan disiplin, kompetensi, serta tanggung jawab tenaga kesehatan. Strategi Puskesmas Mamboro untuk menujudkan Visi dan Misi adalah sebagai berikut: Mengembangkan pola pola pelayanan kesehatan yang cepat, tepat,mudah, ramah, antisipatif dan profesional yang sesuai prosedur pelayanan dan standar mutu pelayanan. Mengembangkan sistem informasi kesehatan, PWS dan

surveillance serta mengembangkan sistem penctatan dan pelaporan yang terkoordinasi, valid dan akurat. Meningkatkan kinerja dan integrasi program promkes dan kesehtan lingkungan melalui advokasi serta pemberdayaan masyrakat. Membangun, memantapkan, dan memperkuat koordinasi lintas program dan lintas sektor.

LAPORAN EPIDEMIOLOGI KESLING DI PUSKESMAS MAMBORO

10

Menerapkan gugus kendali mutu pada setiap pelayanan kesehatan di Puskesmas. Mendorong petugas untuk meningkat kinerja, pengetahuan dan tanggung jawab melalui penerapan rewards and punishment.

2.3 GAMBARAN MASYARAKAT DI WILAYAH PUSKESMAS MAMBORO a. Kependudukan Tahun 2006 penduduk di wilayah kerja Puskesmas Mamboro berjumlah 11.239 jiwa. Sedangkan pada tahun 2007 jumlah penduduk Mamboro adalah 11.628 jiwa dan pada tahun 2008 berjumlah 11.739 jiwa. Pada tahun 2009, berdasarkan data BPS, jumlah penduduk di wilayah kerja Puskesmas Mamboro sedikit bertambah menjadi 11.742 jiwa. Sedangkan pada tahun 2010 jumlah penduduk meningkat 0,96% menjadi 11.855 jiwa. b. Tingkat Pendidikan Pendidikan adalah hal yang mutlak di perlukan masyarakat untuk mencapai atau meningkat tingkat kesejahteraan hidup. Bahkan tingkat pendidikan dianggap berasosiasi positif dengan tingkat kemiskinan. Hal ini berarti bahwa jika tingkat pendidikan masyarakat rendah maka tingkat kemiskinan penduduk juga meningkat demikian pula sebaliknya. Di wilayah Puskesmas Mamboro terdapat berbagai jenis sarana pendidikan yaitu 10 SD, Empat buah SMP/MTSN dan dua buah SMA. Kelurahan Mamboro bahkan merupakan kompleks sekolah kesehatan dimana terdapat berbagai sekolah kesehatan setingkat DIII kesehatan baik negeri maupun swasta. Akses ketingkat pendidikan setingkat universitas ( UNTAD ) juga bukan merupakan hambatan karena hanya berjarak 7 KM. Dengan sedemikian lengkapnya sarana dan prasarana pendidikan dan ditengah mahalnya pembiayaan pendidikan, secara nyata tingkat pendidikan masyarakat di wilayah kerja Puskemas Mamboro tengah mengalami

LAPORAN EPIDEMIOLOGI KESLING DI PUSKESMAS MAMBORO

11

peningkatan terutama bagi usia 10 tahun keatas. Hal ini menunjukkan bahwa masyarakat sadar akan pentingnya pendidikan.

2.4 GAMBARAN SOSIAL EKONOMI, LINGKUNGAN DAN BUDAYA a. Sosial Ekonomi Di Lihat dari jumlah masyarakat miskin, Secara umum penduduk kelurahan mamboro terlihat sedikit lebih baik keadaan sosial ekonominya dibandingkan penduduk Kelurahan Taipa. Dari 3,440 jiwa (774 KK) masyarakat miskin (miskin) yang dicakup program Jamkesmas, 51,08% diantaranya adalah masyarakat Kelurahan Taipa atau mencapai 45,6% dari jumlah penduduk di kelurahan Taipa menurut BPS tahun 2010. Adapun jumlah masyarakat yang tercakup dalam program Jamkesda tahun 2010, masing-masing adalah 350 jiwa ( 197 KK ) di Kelurahan Mamboro dan 315 jiwa ( 106 ) di Kelurahan Taipa. Secara keseluruhan penduduk miskin di wilayah kerja Puskemas Mamboro baik yang terdaftar dalam program Jamkesmas maupun Jamkesda adalah 4.105 jiwa ( 1.077 KK ) atau 34,6% dari total penduduk yang ada di wilayah kerja Puskesmas Mamboro menurut BPS 2010. Secara keseluruhan jumlah masyarakat miskin di wilayah kerja Puskesmas Mamboro cenderung mengalami penurunan yaitu dari 4.577 jiwa atau 1.087 KK atau 38,98% dari jumlah penduduk pada tahun 2009 menjadi 4.105 jiwa (1.077KK) atau 34,6% pada tahun 2010 atau menurun sekitar 4,4%

b. Lingkungan Wilayah puskesmas mamboro yang terdiri dari 13 RW dan 54 RT, merupakan daerah urban yang terletak di Wilayah Kecamatan Palu Utara. Selain merupakan lingkungan yang dikelilingi laut dan pegunungan, juga merupakan lingkungan pendidikan kesehatan dan lingkungan markas

LAPORAN EPIDEMIOLOGI KESLING DI PUSKESMAS MAMBORO

12

komando Brimob. Keadaan ini memberi Konsekuensi tersendiri yaitu menjadi tingginya angka migrasi masuk dan meningkatkan jumlah pemukiman baru. Secara epidemiologis, pada kondisi seperti ini memungkinkan terjadinya perubahan pola distribusi penyakit karena mobilitas penduduk yang tinngi, apalagi kondisi ini didukung oleh adanya terminal induk di kelurahan mamboro dan pelabuhan feri di kelurahan taipa, yang memungkinkan meningkatnya resiko bagi penduduk di wilayah kerja puskesmas mamaboro untuk mendapat paparan penyakit dari penduduk yang dating atau singgah. Beban epidemiologis juga akan semakin besar terutama dengan dijadikannya kecamatan Palu Utara sebagai kecamatan pusat industri di kota palu.

c. Budaya Walaupun angka migrasi masuk cukup tinngi, namun karena sebagian besar penduduk di wilayah kerja Puskesmas Mamboro adalah penduduk asli yang bersuku kaili. Sehingga cenderung budaya dan terutama perilaku (kebiasaan) atau pola hidup masyarakat sehari-hari adalah hampir sama. Pengambilan-pengambilan keputusan di masyarakat juga masih patemalistik dan mendahulukan pendapat-pendapat orang tua dan tokoh-tokoh masyarakat.

2.5 TINJAUAN PENYAKIT a. ISPA ISPA merupakan singkatan dari Infeksi Saluran Pernafasan Akut, istilah ini diadaptasi dari istilah dalam bahasa Inggris Acute Respiratory Infections (ARI). Penyakit infeksi akut yang menyerang salah satu bagian dan atau lebih dari saluran nafas mulai dari hidung (saluran atas) hingga alveoli (saluran bawah) termasuk jaringan adneksanya seperti sinus, rongga telinga tengah dan pleura (WHO, 2003).

LAPORAN EPIDEMIOLOGI KESLING DI PUSKESMAS MAMBORO

13

Penyakit ISPA merupakan penyakit yang sering terjadi pada anak, karena sistem pertahanan tubuh anak masih rendah. Kejadian psenyakit batuk pilek pada balita di Indonesia diperkirakan 3 sampai 6 kali per tahun, yang berarti seorang balita rata-rata mendapat serangan batuk pilek sebanyak 3 sampai 6 kali setahun (Depkes RI, 2001). Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA) adalah penyakit infeksi akut yang dapat menyerang saluran pernapasan bagian atas dan bawah (Erlien, 2008). b. Penyakit Kulit Alergi Istilah alergi digunakan pertama kali digunakan oleh Clemens Von Pirquet tahun 1906 diartikan sebagai reaksi pejamu yang berubah bila terpajan dengan bahan yang sama untuk kedua kalinya atau lebih. Reaksi hipersensitivitas oleh robert Coombs dan philip HH Gell tahun 1963 dibagi dalam 4 tipe reaksi berdasarkan kecepatan dan mekanisme imun yang terjadi, yaitu tipe I, II, III dan IV. Reaksi hipersensititas tipe I yang disebut juga reaksi cepat atau reaksi anafilaksis atau reaksi alergi, timbul segera sesudah tubuh terpajan alergen. Alergi ialah reaksi imunologis berlebihan dalam tubuh yang timbul segera atau dalam rentan waktu tertentu setelah eksposisi atau kontak dengan zat yang tertentu (alergen) (Judarwanto, 2005). Alergi atau hipersensitivitas tipe I adalah kegagalan kekebalan tubuh di mana tubuh seseorang menjadi hipersensitif dalam bereaksi secara imunologi terhadap bahan-bahan yang umumnya imunogenik (antigenik)atau dikatakan orang yang bersangkutan bersifat atopik. Dengan kata lain, tubuh manusia berkasi berlebihan terhadap lingkungan atau bahan-bahan yang oleh tubuh dianggap asing dan berbahaya, padahal sebenarnya tidak untuk orang-orang yang tidak bersifat atopik. Bahan-bahan yang menyebabkan hipersensitivitas tersebut disebut alergen (wikipedia, 2008).

LAPORAN EPIDEMIOLOGI KESLING DI PUSKESMAS MAMBORO

14

c. Diare Diare atau penyakit diare berasal dari kata diarrola (bahasa yunani) yang berarti mangalir terus, merupakan suatu keadaan abnormal dari pengeluaran tinja yang terlalu frekuen. Hipokrates memberikan definisi diare sebagai suatu keadaan abnormal dari frekuensi dan kepadatan tinja. Diare adalah buang air besar dengan frekuensi yang tidak normal (mengikat) dan konsistensi tinja yang lebih lembek atau cair (Suharyono, 1991). Menurut WHO (1980), diare adalah buang air besar encer atau cair lebih dari tiga kali sehari. Dimana pada dunia ke-3, diare adalah penyebab kematian paling umum kematian balita, membunuh lebih dari 1,5 Juta orang pertahun. Diare kondisinya dapat merupakan gejala dari luka, penyakit, alergi (Fructose, Lactose), penyakit dan makana atau kelebihan Vitamin C dan biasanya disertai sakit perut dan seringkali enek dan muntah. Dimana menurut WHO (1980) diare terbagi dua berdasarkan mula dan lamanya, yaitu diare akut dan diare kronik d. Gastritis Gastritis atau lebih dikenal sebagai maag berasal dari bahasa yunani yaitu gastro, yang berarti perut/lambung dan itis yang berarti

inflamasi/peradangan. Gastritis bukan merupakan penyakit tunggal, tetapi terbentuk dari beberapa kondisi yang kesemuanya itu mengakibatkan peradangan pada lambung. Biasanya, peradangan tersebut merupakan akibat dari infeksi oleh bakteri yang sama dengan bakteri yang dapat mengakibatkan borok di lambung yaitu Helicobacter pylori. Tetapi faktor-faktor lain seperti trauma fisik dan pemakaian secara terus menerus beberapa obat penghilang sakit dapat juga menyebabkan gastritis. Secara histologis dapat dibuktikan dengan inflamasi sel-sel radang pada daerah tersebut didasarkan pada manifestasi klinis dapat dibagi menjadi akut dan kronik (Hirlan, 2001 : 127).

LAPORAN EPIDEMIOLOGI KESLING DI PUSKESMAS MAMBORO

15

e. Hypertensi Hipertensi atau tekanan darah tinggi, adalah meningkatnya tekanan darah atau kekuatan menekan darah pada dinding rongga di mana darah itu berada. Tekanan Darah Tinggi (hipertensi) adalah suatu peningkatan tekanan darah di dalam arteri. (Hiper artinya Berlebihan, Tensi artinya

tekanan/tegangan; jadi, hipertensi adalah Gangguan sistem peredaran darah yang menyebabkan kenaikan tekanan darah diatas nilai normal. Istilah hipertensi diambil dari bahasa Inggris hypertension. Hypertension merupakan istilah kedokteran yang populer untuk menyebutkan penyakit tekanan darah tinggi. Hipertensi atau lebih dikenal dengan penyakit darah tinggi adalah suatu keadaan dimana sesorang mengalami peningkatan darah diatas normal yaitu lebih dari 140/90 mmHg (Rahma, 2009). Hipertensi diindikasikan dengan kondisi tekanan darah sistolik seseorang diatas 140 mmHg dan tekanan diastolik diatas 90 mmHg. Hal ini terjadi akibat menyempitnya pembuluh darah sehingga menaikkan tekanan darah. Hipertensi dikategorikan menjadi hipertensi esensial dan hipertensi sekunder. Hipertensi esensial terjadi dengan sebab yang belum diketahui, sedangkan hipertensi sekunder terjadi akibat dari penyakit ginjal, kelainan endokrin, penurunan fungsi organ tubuh, atau karena pemakaian obat (Howel et al. 2004). Hipertensi merupakan masalah kesehatan masyarakat baik di Negara maju maupun negara berkembang. Hipertensi merupakan suatu keadaan tanpa gejala, dimana tekanan yang abnormal tinggi di dalam arteri menyebabkan meningkatnya risiko terhadap stroke, aneurisma, gagal jantung, serangan jantung dan kerusakan ginjal (Armilawati 2007). Seseorang dikatakan mengalami hipertensi jika memiliki tekanan darah sistolik 140 mmHg atau tekanan darah diastolik 90 mmHg atau keduanya.

LAPORAN EPIDEMIOLOGI KESLING DI PUSKESMAS MAMBORO

16

BAB

PEMBAHASAN

3.1 DIAGRAM 5 PENYAKIT TERTINGGI

5 PENYAKIT TERTINGGI YANG DIRAWAT JALAN DI PUSKESMAS MAMBORO 3 TAHUN TERAKHIR

5 Penyakit Tertinggi di Puskesmas Mamboro Tahun 2010


2000 1500 1000 500 0 Juml. Kasus ISPA ISPA 1740 Peny. Kulit Alergi 617 Diare 427 Diare 617 427 1740

294

229

Gastritis 294 Gastritis

Hypertensi 229

Peny. Kulit Alergi

Hypertensi

LAPORAN EPIDEMIOLOGI KESLING DI PUSKESMAS MAMBORO

17

5 Penyakit Tertinggi di Puskesmas Mamboro Tahun 2011


1993 2000 1500 1000 472 500 0 434 275 ISPA Peny. Kulit Alergi ISPA Peny. Kulit Alergi 472 Diare Gastriti s 275 Hypert ensi 171 Diare Gastritis Hypertensi

171

Juml. Kasus

1993

434

5 Penyakit Tertinggi di Puskesmas Mamboro Tahun 2012


ISPA Diare 960 1000 800 600 400 200 0 Juml. Kasus ISPA 960 Diare 609 Gastritis 252 Peny. Kulit alergi 209 Hypertensi 157 252 209 157 609 Gastritis Peny. Kulit alergi Hypertensi

LAPORAN EPIDEMIOLOGI KESLING DI PUSKESMAS MAMBORO

18

3.2 PREDIKSI PENYULUHAN JUMLAH KEGIATAN PENYULUHAN KESEHATAN DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS MAMBORO PENYULUHAN KESEHATAN JUMLAH JUMLAH SELURUH No. PUSKESMAS KELURAHAN KEGIATAN KEGIATAN JUMLAH PENYULUHAN PENYULUHAN MASSA KELOMPOK 1 2 3 4 5 6 MAMBORO 100 57 157 1. MAMBORO TAIPA 47 25 72 SUB JUMLAH !!! 147 82 208 1. Dinas Kesehatan Kota Palu 0 2. Rumah Sakit 0 JUMLAH (KAB/KOTA) 147 82 208 Sumber: Laporan Tahunan Sie. Promkes PKM Mamboro Tujuan dalam program penyuluhan yaitu untuk menurunkan angka kesakitan dan angka kematin dari berbagai 5 macam penyakit yang menjadi permasalahan ataupun priotitas diwilayah kerja Puskesmas Mamboro. PENANGG UNG JAWAB 6 Mahasiswa

KEGIATAN 1 Pengambilan Data

TUJUAN 2 Untuk mengetahui Penyakit yang Tertinggi Untuk memberitahukan kepada pihak Sekolah bahwa akan diadakan Penyuluhan Kesehatan

SASARAN 3 Kepala Puskesmas Mamboro Kepala Sekolah

BIAYA/ SUMBER 4 Rp.75.000

WAKTU 5 Senin, 2 Des 2013

RENCANA KEGIATAN 7 Membuat surat

KET 8 -

Survei Lokasi

Selasa, 3 Des 2013

Mahasiswa Membuat surat

LAPORAN EPIDEMIOLOGI KESLING DI PUSKESMAS MAMBORO

19

Penyuluhan

Memberikan pengetahuan kepada siswa

Pelajar

Rp.250.00 0

Senin, 9 Des 2013

Mahasiswa

-Menyiapkan diri -menyiapkan materi

Evaluasi

Untuk melihat Pelajar apakah ada perubahan sikap dan perilaku dari siswa untuk hidup bersih dan sehat setelah dilakukan penyuluhan

Sabtu, 28 Des 2013

Mahasiswa

Melakukan penilaian dan melihat keadaan lingkungan sekolah tersebut apakah lebih baik dari sebelumnya

-salam pembu ka Perke n alan materi -tanya jawab -kesim pulan -salam penutu p -

LAPORAN EPIDEMIOLOGI KESLING DI PUSKESMAS MAMBORO

20

3.3 RATA-RATA PENDERITA PENYAKIT 3 TAHUN TERAKHIR Jumlah Rata-Rata Penderita 3 Tahun Terakhir Dari 5 Penyakit Tertinggi di Puskesmas Mamboro TAHUN Nama Penyakit 2010 ISPA Peny. Kulit Alergi Diare Gastritis Hypertensi 1740 617 427 294 229 2011 1993 472 434 275 171 2012 960 209 609 252 157 4693 1298 1470 821 557 Jumlah Jumlah Rata-Rata 1564 433 490 274 186

Juml. Rata-Rata 5 Penyakit Tertinggi 3 Tahun Terakhir


2500 2000 1500 1000 500 0 ISPA 2010 2011 2012 Juml. Rata-Rata 1740 1993 960 1564 Peny. Kulit Alergi 617 472 209 433 Diare 427 434 609 490 Gastritis 294 275 252 274 Hypertensi 229 171 157 186

LAPORAN EPIDEMIOLOGI KESLING DI PUSKESMAS MAMBORO

21

3.4 PREDIKSI OBAT MASING-MASING PENYAKIT

PREDIKSI OBAT YANG No NAMA PENYAKIT NAMA OBAT DI PERLUKAN

GG CTM 1 ISPA Dexametasol Paracetamol Grisiofulfin Dexametason CTM 2 Peny. Kulit Alergi Oxytetracyline (saleb kulit) Betametason (saleb) Hidropotison (saleb) Miconazole (saleb) Ketoconasol (tablet) Oralit Cotrimoxasol (tablet) 3 Diare Neudiastop Asam mevenamat Leperamit (novadium) Vitamin C

900 2000 1650 930 35 1650 2000 14 24 tube 12 tube 2 10 tablet 11 140 30 470 40 500

LAPORAN EPIDEMIOLOGI KESLING DI PUSKESMAS MAMBORO

22

Gastritis

Antasida Paracetamol

176 930

Catopril 5 Hypertensi Amilodipin

12,5 mg (147) / 25 mg (280) 105

3.5 TENAGA PERAWAT YANG DIBUTUHKAN

UNIT KERJA PUSKESMAS MAMBORO No. 1 2 3 4 5 6 7 TENAGA KESEHATAN MEDIS PERAWAT & BIDAN FARMASI GIZI TEKNISI MEDIS SANITASI KESMAS JUMLAH TOTAL Rasio Terhadap 100.000 Penduduk JUMLAH 2 18 1 0 0 4 4 29 1,501.48

Sumber: Laporan Tahunan Bagian Kepegawaian PKM Mamboro Ket : Medis Perawat : Dokter, Dokter Gigi, Dr/Drg Spesialis : Termasuk Lulusan DIII & S1

LAPORAN EPIDEMIOLOGI KESLING DI PUSKESMAS MAMBORO

23

Farmasi Gizi

: Apoteker, Asisten Apoteker : Lulusan D1 dan DIII Gizi (SPAG dan AKZI)

Teknisi Medis: Analis, TEM dan Penata Rontgen, Penata Anastesi, dan Fisioterapi Sanitasi Kesmas : Lulusan SPPH, APK, dan DIII Kesehatan Lingkungan : SKM, MPH dll.

Tenaga perawat yang di perlukan dalam pengobatan ini yaitu : 1. Dokter : 1 orang 2. Perawat : 1 orang 3. Apoteker : 1 orang

3.6 NAMA AGENT, MASA INKUBASI, GEJALA KLINIS, & POLA PENULARAN MASING-MASING PENYAKIT Penyakit ISPA a. Agent Penyakit ISPA Agent dari ISPA lebih dari 300 jenis bakteri, virus, dan jamur. Mayoritas penyebab ISPA adalah virus dengan frekuensi lebih dari 90% untuk ISPA bagian atas, sedangkan ISPA untuk bagian bawah frekuensinya lebih kecil (WHO, 1995). Penyakit infeksi saluran nafas akut bagian atas mulai dari hidung, nasofaring, sinus paranasalis sampai dengan laring hampir 90% disebabkan oleh viral, sedangkan infeksi akut saluran nafas bagian bawah hamper 50 % diakibatkan oleh bakteri streptococcus pneumonia adalah yang bertanggung jawab untuk kurang lebih 7090%, sedangkan stafilococcus aureus dan H influenza sekitar 10-20%. Saat ini telah diketahui bahwa infeksi saluran pernapasan akut ini melibatkan lebih dari 300 tipe antigen dari bakteri maupun virus tersebut (WHO, 1995).

LAPORAN EPIDEMIOLOGI KESLING DI PUSKESMAS MAMBORO

24

b. Masa Inkubasi Penyakit ISPA Masa inkubasi adalah rentan dari dan waktu sejak bakteri atau virus masuk kedalam tubuh sampai timbulnya gejala klinis yang disertai dengan berbagai gejalagejala infeksi akut ini berlangsung sampai dengan 14 hari, batas 14 hari di ambil untuk menunjukkan proses akut meskipun untuk beberapa penyakit yang dapat di golongkan dalam ISPA berlangsung lebih dari 14 hari. c. Gejala Klinis Penyakit ISPA Gejala ISPA Ringan Seorang dinyatakan menderita ISPA ringan jika di temukan gejala sebagai berikut : a) Batuk. b) Serak, yaitu bersuara parau pada waktu mengeluarkan suara(misalnya pada waktu berbicara atau menangis). c) Pilek yaitu mengeluarkan lendir atau ingus dari hidung. d) Panas atau demam, suhu badan lebih dari 370C. Gejala ISPA Sedang Seorang dinyatakan menderita ISPA sedang jika di jumpai gejala ISPA ringan dengan disertai gejala sebagai berikut : a) Pernafasan lebih dari 50x/m pada anak umur kurang dari satu tahun atau lebih dari 40 kali/menit pada anak satu tahun atau lebih b) Suhu lebih dari 390C. c) Tenggorokan berwarna merah d) Timbul bercak-bercak pada kulit menyerupai bercak campak e) Telinga sakit atau mengeluarkan nanah dari lubang telinga f) pernafasan berbunyi seperti mendengkur

g) Pernafasan berbunyi seperti mencuit-cuit. Gejala ISPA Berat Seorang dinyatakan menderita ISPA berat jika ada gejala ISPA ringanatau sedang disertai satu atau lebih gejala sebagai berikut :

LAPORAN EPIDEMIOLOGI KESLING DI PUSKESMAS MAMBORO

25

a) Bibir atau kulit membiru, lubang hidung kembang kempis pada waktu bernafas. b) Tidak sadar atau kesadaran menurun. c) Pernafasan berbunyi mengorok dan tampak gelisah. d) Pernafasan menciut, sela iga tertarik ke dalam pada waktu bernafas. e) Nadi cepat lebih dari 60x/menit atau tidak teraba f) Tenggorokan berwarna merah d. Pola Penularan Penyakit ISPA Pencemaran udara diduga menjadi pencetus infeksi virus pada saluran napas bagian atas. ISPA dapat ditularkan melalui air ludah, darah, bersin, udara pernapasan yang mengandung kuman yang terhirup oleh orang sehat ke saluran pernapasannya. Penyakit Kulit Alergi a. Agent Penyakit Kulit Alergi Penyakit alergi pada setiap orang berbeda-beda,tetapi reaksi yang ditimbulkan oleh alergi tersebut relatif lama. Berikut ini adalah beberapa penyebab datangnya penyakit alergi. 1. Makanan. Biasanya makanan dapat mnyebabkan alergi adalah makanan yang mengandung protein tinggi,seperti susu sapi, putih telur, kacang tanah, terigu, kacang kedelai, ikan, jagung, buncis, udang, cumi-cumi, kerang-kerangan, dan lain-lain. 2. Debu dan bulu binatang. 3. Formalin 4. Serbuk bunga 5. Jamur 6. Obat-obatan tertentu.

LAPORAN EPIDEMIOLOGI KESLING DI PUSKESMAS MAMBORO

26

b. Gejala klinis alergi 1. Kulit terasa gatal,baik gatal dalam taraf ringan ataupun berat. Selain gatal,kulit juga mengalami eksim,ruam kemerahan, atau biduran 2. Bibir menebal, muka dan bagian tubuh lainnya tampak bengkak. 3. Bersin-bersin, sulit bernapas, dan hidung berair. 4. Sakit perut, diare, mual, dan muntah. 5. Sakit kepala dan mata berkunang-kunang. 6. Detak jantung kencang, terjadi syok, penurunan tekanan darah yang parah, dan kehilangan kesadaran. Penyakit Diare a. Agent Penyakit Diare Diare dapat disebabkan dari faktor lingkungan atau dari menu makanan. Faktor lingkungan dapat menyebabkan anak terinfeksi bakteri atau virus penyebab diare. Makanan yang tidak cocok atau belum dapat dicerna dan diterima dengan baik oleh anak dan keracunan makanan juga dapat menyebabkan diare. Kadang kala sulit untuk mengetahui penyebab diare. Diare dapat disebabkan oleh infeksi pada perut atau usus. Peradangan atau infeksi usus oleh agen penyebab : 1. Bakteri , virus, parasit ( jamur, cacing , protozoa)

Virus (penyebab diare tersering dan umumnya karena Rotavirus) gejala : Berak-berak air (watery), berbusa, TIDAK ada darah lendir, berbau asam.Virus penyebab diare Viral gastroenteritis atau yang dikenal sebagai "stomach virus", virus perut.

Bakteri - Berak2 dengan darah/lendir , sakit perut. Memerlukan antibioka sebagai terapi pengobatan.

Parasite(Giardiasis) - Berak darah+/- dan lendir, sakit perut. perlu antiparasite. Parasit cryptosporidium atau microsporidium menyebabkan diare yang terjadi pada banyak Odha. Kejadian infeksi parasit ini sudah menurun di AS sejak terapi antiretroviral (ART) dipakai.

LAPORAN EPIDEMIOLOGI KESLING DI PUSKESMAS MAMBORO

27

Macam-macam bakteri dan parasit yang biasa menyerang perut : 1. E. Coli bacteria 2. Salmonella enteritidis bacteria 3. Compylobacter bacteria 4. Shigella bacteria 5. Giardo parasite 6. Cryptosporidium parasite 2. Keracunan makanan/minuman yang disebabkan oleh bakteri maupun bahan kimia.Contoh Obat ARV

Obat ARV: Beberapa jenis obat yang dipakai oleh Odha dapat menyebabkan diare. Hal ini sering berlaku dengan nelfinavir, ritonavir, Kaletra, ddI, foskarnet, tipranavir dan interferon alfa.

Anak sedang terapi dengan pemakaian antibiotilka Bila diare terjadi saat anak sedang dalam pengobatan antibiotika, maka hubungi dokter anda.

Terlalu banyak makan buah mentah atau makanan berlemak

3. kekurangan gizi misalnya : kelaparan, kekurangan zat putih telur Gizi yang buruk. Keadaan ini melemahkan kondisi tubuh penderita, sehingga timbulnya diare akibat penyakit lain menjadi sering dan semakin parah 4. Tidak tahan terhadap makanan tertentu, misalnya : Alergi terhadap susu , si anak tidak tahan meminum susu yang mengandung lemak atau laktosa

Alergi susu,- diare biasanya timbul beberapa menit atau jam setelah minum susu tersebut , biasanya pada alergi susu sapi dan produk-produk yang terbuat dari susu sapi.

Penggunaan obat-obatan tertentu yang tidak dapat diterima oleh jaringan tubuh akan menyebabkan penyakit sampingan berupa diare

5. Immuno defesiensi 6. Reaksi Obat Contoh antibiotik, obat-obat tekanan darah dan antasida yang mengandung magnesium.

LAPORAN EPIDEMIOLOGI KESLING DI PUSKESMAS MAMBORO

28

7. Penyakit Intestinal Penyakit inflamasi usus atau penyakit abdominal. Gangguan fungsi usus, seperti sindroma iritasi usus dimana usus tidak dapat bekerja secara normal b. Masa Inkubasi Penyakit Diare Masa dari masuknya kuman ke dalam tubuh sampai timbulnya gejala atau yang disebut masa inkubasi bervariasi tergantung pada jenis kuman penyebabnya. Shigella misalnya, memiliki masa inkubasi 16 sampai 72 jam, sedangkan masa inkubasi virus berkisar antara 4 sampai 48 jam. Sedangakan parasit umumnya memiliki masa inkubasi yang lebih panjang, seperti Giardia misalanya, memiliki masa inkubasi antara 1 sampai 3 minggu. c. Gejala Klinis penyakit diare Gejala diare atau mencret adalah tinja yang encer dengan frekuensi 4 kali atau lebih dalam sehari, yang kadang disertai : 1. Muntah 2. Badan lesu atau lemah 3. Panas 4. Tidak nafsu makan 5. Darah dan lendir dalam kotoranRasa mual dan muntah-muntah dapat mendahului diare yang disebabkan oleh infeksi virus. Infeksi bisa secara tiba-tiba menyebabkan diare, muntah, tinja berdarah, demam, penurunan nafsu makan atau kelesuan. Selain itu, dapat pula mengalami sakit perut dan kejang perut, serta gejala- gejala lain seperti flu misalnya agak demam, nyeri otot atau kejang, dan sakit kepala. Gangguan bakteri dan parasit kadang-kadang menyebabkan tinja mengandung darah atau demam tinggi.

LAPORAN EPIDEMIOLOGI KESLING DI PUSKESMAS MAMBORO

29

d. Pola Penularan penyakit diare Penularan penyakit diare adalah kontak dengan tinja yang terinfeksi secara langsung, seperti : Makanan dan minuman yang sudah terkontaminasi, baik yang sudah dicemari oleh serangga atau kontaminasi oleh tangan yang kotor Bermain dengan mainan yang terkontaminasi, apalagi pada bayi sering memasukan tangan/ mainan / apapun kedalam mulut. Karena virus ini dapat bertahan dipermukaan udara sampai beberapa hari. Pengunaan sumber air yang sudah tercemar dan tidak memasak air dengan benar Pencucian dan pemakaian botol susu yang tidak bersih Tidak mencuci tangan dengan bersih setelah selesai buang air besar atau membersihkan tinja anak yang terinfeksi, sehingga mengkontaminasi perabotan dan alat-alat yang dipegang. Penyakit Gastritis a. Klasifikasi Gastritis Menurut Mansyur (2000), gastritis diklasifikasikan menjadi 2 yaitu: a. Gastritis akut merupakan kelainan klinis akut yang jelas penyebabnya dengan tanda dan gejala yang khas. Biasanya ditemukan sel inflamasi akut dan neutrofit. Gastritis akut sering ditemukan, biasanya jinak dan dapat sembuh sendiri merupakan respon mukosa lambung terhadap berbagai iritan lokal. Endotoksin bakteri (setelah makan makanan yang terkontaminasi) alkohol, kafein dan aspirin meripakan agent-agent penyebab yang sering. Obat-obatan lain seperti NSAID (indometasin, ibuprofen, naproksen), sulfanamide, steroid dan digitalis juga terlibat. Beberapa makanan berbumbu termasuk cuka, lada atau mustad dapat menyebabkan gejala yang mengarah pada gastritis. degenerasi pada bagian supervisial yang terpapar zat-zat iritan seperti alkohol, aspirin, steroid dan asam empedu. Jika lakohol diminum bersama aspirin, efeknya akan lebih merusak dibandingkan efek masing-masing agent tersebut

LAPORAN EPIDEMIOLOGI KESLING DI PUSKESMAS MAMBORO

30

secara terpisah. Gastritis erosif haemorrogik difus biasanya terjadi pada peminum berat dan pemakai aspirin. Dapat menyebabkan perlunya dilakukan reseksi lambung. Penyakit yang serius ini akan dianggap tidak akibat stres, oleh sebab keduanya memiliki banyak persamaan. Destruksi sawar mukosa lambung diduga merupakan mekanisme patogenik yang menyebabkan cidera. b. Gastritis kronik jelas berhubungan dengan helikobakteri pylori apalagi jika ditemukan ulkus pada pemeriksaan penunjang. Gastritis kronik menimbulkan atropi beberapa sel fungsional tunika mukosa (Mansjoer, Arifin, jilid 1, edisi 3, 2001). Penyebab tidak jelas, sering bersifat multi faktor dengan perjalanan klinis yang bervariasi. Gastritis kronik ditandai oleh atrofi progresif epitel kelenjar disertai dengan kehilangan sel pametal dan chief cell, akibat produksi asam klorida, pepsin dan faktor intrinsik menurun. Dinding lambung menjadi tipis dan mukosa menpunyai permukaan yang rata, bentuk gastritis ini sering dihubungkan dengan anemia pernisosa, tukak lambung dan kanker. Insiden kanker lambung khususnya tinggi pada anemia pernisiosa (10-15 %). Berjalan perlahan-lahan gejala umum mulai terlihat adanya rasa perih dan terasa penuh dilambung, kehilangan nafsu makan sehingga hanya mampu makan dalam jumlah yang sedikit. b. Etiologi Gastritis akut

Penyebab penyakit ini antara lain : 1) Obat-obatan seperti aspirin, obat anti inflamasi non steroid 2) Alkohol 3) Gangguan mikrosirkulasi mukosa lambung : trauma, luka bakar, sepsis 4) Stres 5) Penggunaan kokain : kokain dapat merusak lambung dan menyebabkan pendarahan dan gastritis

LAPORAN EPIDEMIOLOGI KESLING DI PUSKESMAS MAMBORO

31

Gastritis kronik

Penyebab penyakit ini yaitu : 1) Terinfeksi helikobakter pylori : penemuan bakteri ini dilakukan oleh dua dokter dari Australia yaitu Barry Marshall dan Robin Warre yang menemukan adanya bakteri yang bisa hidup didalam lambung manusia. Penemuan ini mengubah pandangan para ahli mengenai penyeban penyakit lambung termaksud cara pengobatannya. Telah terbukti saat ini bahwa infeksi yang disebabkan oleh Helikobakter pylori pada lambung biasa menyebabkan peradangan mukosa lambung yang disebut dengan gastritis, proses ini biasa berlanjut hingga terjadi ulkus atau tukak bahkan kanker lambung. 2) Asam empedu adalah cairan yang membantu pencernaan lemak, cairan ini di produksi dihati dan dialirkan kekantong empedu. Secara normal cincin pylorus (pada bagian bawah lambung) akan mencegah aliran asam empedu kedalam lambung setelah dilepaskan ke duodenum tetapi apabila cincin tersebut rusak sehingga tidak bisa menjalankan fungsinya dengan baik karena pembedahan maka asam empedu dapat mengakibatkan peradangan dan gastritis kronik. 3) Atropi tunika mukosa 4) Kelainan autoimmune : autommune atrophic gastritis terjadi ketika sistem kekebalan tubuh menyerang sel-sel sehat yang berada dalam dinding lambung. Hal ini mengakibatkan peradangan dan secara bertahap menipiskan dinding lambung, menghancurkan kelenjar penghasil asam lambung dan mengganggu produksi faktor intrinsik (zat yang membantu tubuh mengalir kelambung akan

mengabsorbsi vitamin B-12). 5) Crohns disease : penyakit ini biasanya menyebabkan peradangan kronis pada dinding saluran cerna, namun kadang-kadang dapat juga menyebabkan peradangan pada dinding lambung. Gejala yang dapat ditimbulkan sakit perut

LAPORAN EPIDEMIOLOGI KESLING DI PUSKESMAS MAMBORO

32

dan diare dalam bentuk cairan, tampak lebih menyolok dari pada gejala-gejala gastritis. 6) Radiasi dan kemoterapi : perawatan terhadap kanker seperti kemoterapi dan radiasi dapat mengakibatkan peradangan pada dinding lambung yang selanjutnya dapat berkembang menjadi gastritis dan peptic ulcer. 7) Penyakit bile reflux : bile (empedu) akan melewati serangkaian saluran kecil dan menuju ke usus kecil. Dalam kondisi normal sebuah otot spingncter yang berbentuk seperti cincin akan mencegah empedu mengalir balik kedalam lambung. Tetapi jika katub ini tidak bekerja dengan benar maka empedu akan masuk kedalam lambung dan mengakibatkan peradangan dan gastritis. Penyakit Hypertensi a. Agent Penyakit Hypertensi Agent adalah suatu substansi tertentu yang keberadaannya atau ketidak beradaannya dapat menimbulkan penyakit atau mempengaruhi perjalanan suatu penyakit. Untuk penyakit hipertensi yang menjadi agen adalah: 1. Faktor Nutrisi Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, natrium memegang peranan penting terhadap timbulnya hipertensi. Konsumsi natrium yang berlebih menyebabkan konsentrasi natrium di dalam cairan

ekstraseluler meningkat. Untuk menormalkannya, cairan intraseluler ditarik ke luar, sehingga volume cairan ekstraseluler meningkat. Meningkatnya volume cairan ekstraseluler tersebut menyebabkan meningkatnya volume darah, sehingga berdampak kepada timbulnya hipertensi. o Konsumsi garam dapur (mengandung iodium) yang dianjurkan tidak lebih dari 6 gram per hari, setara dengan satu sendok teh. Dalam kenyataannya, konsumsi berlebih karena budaya masakmemasak masyarakat kita yang umumnya boros menggunakan

LAPORAN EPIDEMIOLOGI KESLING DI PUSKESMAS MAMBORO

33

garam. Indra perasa kita sejak kanak-kanak telah dibiasakan untuk memiliki ambang batas yang tinggi terhadap rasa asin, sehingga sulit untuk dapat menerima makanan yang agak tawar. o Minuman berkafein dan beralkohol.Minuman berkafein seperti kopi dan alkohol juga dapat meningkatkan resiko hipertensi o Juga terbukti adanya hubungan antara resiko hipertensi dengan makanan cepat saji yang kaya daging. Makanan cepat saji juga merupakan salah satu penyebab obesitas (berat badan berlebih ). Dilaporkan bahwa 60% penderita hipertensi mempunya berat badan berlebih. 2. Faktor Kimia Mengkonsumsi obat-obatan seperti kokain, Pil KB Kortikosteroid, Siklosporin, Eritropoietin, Penyalahgunaan Alkohol, Kayu manis (dalam jumlah sangat besar). 3. Faktor Biologi Penyebab tekanan darah tinggi sebagian besar diketahui, namun peniliti telah membuktikan bahwa tekanan darah tinggi berhubungan dengan resistensi insulin dan/ atau peningkatan kadar insulin (hiperinsulinemia). Keduanya tekanan darah tinggi dan resistensi insulin merupakan karakteristik dari sindroma metabolik , kelompok abnormalitas yang terdiri dari obesitas, peningkatan trigliserid, dan HDL rendah (kolesterol baik) dan terganggunya keseimbangan hormon yang merupakan faktor pengatur tekanan darah. 4. Faktor Fisik o Tekanan darah juga dipengaruhi oleh aktivitas fisik, dimana akan lebih tinggi pada saat melakukan aktivitas dan lebih rendah ketika beristirahat.

LAPORAN EPIDEMIOLOGI KESLING DI PUSKESMAS MAMBORO

34

o Gaya hidup yang tidak aktif (malas berolah raga) bisa memicu terjadinya hipertensi pada orang-orang memiliki kepekaan yang diturunkan o Berat badan yang berlebih akan membuat seseorang susah bergerak dengan bebas. Jantungnya harus bekerja lebih keras untuk memompa darah agar bisa menggerakkan berlebih dari tubuh terdebut. Karena itu obesitas termasuk salah satu yang meningkatkan resiko hipertensi. b. Gejala Klinis Penyakit Hypertensi Meningkatnya tekanan darah seringkali merupakan satusatunya gejala pada hipertensi essensial. kadang-kadang hipertensi essensial berjalan tanpa gejala dan baru timbul gejala setelah komplikasi pada organ sasaran seperti pada ginjal, mata,otak, dan jantung. gejalagejala-gejala seperti sakit kepala, mimisan, pusing, migrain sering ditemukan sebagai gejala klinis hipertensi essensial. Pada survei hipertensi di Indonesia tercatat gejala-gejala sebagai berikut: pusing, mudah marah, telinga berdengung, mimisan(jarangan), sukar tidur, sesak nafas, rasa berat di tengkuk, mudah lelah, dan mata berkunang-kunang. Gejala akibat komplikasi hipertensi yang pernah dijumpai adalah: Gangguan penglihatan, Gangguan saraf, Gagal jantung,Gangguan fungsi ginjal, Gangguan serebral (otak), yang mengakibatkan kejang dan pendarahan pembuluh darah otak yang mengakibatkan kelumpuhan, gangguan kesadaran hingga koma. Sebelum bertambah parah dan terjadi komplikasi serius seperti gagal ginjal, serangan jantung, stroke, lakukan pencegahan dan pengendalian hipertensi dengan merubah gaya hidup dan pola makan. beberapa kasus hipertensi erat kaitannya dengan gaya hidup tidak sehat. seperti kurang olah raga, stress, minum-minuman, beralkohol, merokok,

LAPORAN EPIDEMIOLOGI KESLING DI PUSKESMAS MAMBORO

35

dan kurang istirahat. kebiasaan makan juga perlu diqwaspadai. pembatasan asupan natrium (komponen utama garam), sangat disarankan karena terbukti baik untuk kesehatan penderita hipertensi.

LAPORAN EPIDEMIOLOGI KESLING DI PUSKESMAS MAMBORO

36

BAB

4
yaitu:

PENUTUP

4.1 KESIMPULAN Dari Hasil Data yang diperoleh di Puskesmas Mamboro dapat ditentukan bahwa Penyakit yang paling menonjol dipuskesmas Mamboro yaitu 5 penyakit Tertingi

a. Penyakit infeksi lakut lain pada saluran pernafasan bagian atas (ISPA) b. Penyakit Kulit Alergi c. Diare d. Gastritis (Maag) e. Penyakit tekanan darah tinggi (Hypertensi) ISPA merupakan singkatan dari Infeksi Saluran Pernafasan Akut, istilah ini diadaptasi dari istilah dalam bahasa Inggris Acute Respiratory Infections (ARI). Penyakit infeksi akut yang menyerang salah satu bagian dan atau lebih dari saluran nafas mulai dari hidung (saluran atas) hingga alveoli (saluran bawah) termasuk jaringan adneksanya seperti sinus, rongga telinga tengah dan pleura (WHO, 2003). Alergi adalah gejala penyakit berupa rasa gatal,Kemerahan dikulit,bintikbintik kecil merata diseluruh tubuh ataupun bentol-bentol yang luas dengan permukaan yang lebih tinggi dari kulit sekitar yang timbul setelah seseorang memakan suatu makanan ataupun bersentuhan dengan suatu bahan tertentu. Alergi

LAPORAN EPIDEMIOLOGI KESLING DI PUSKESMAS MAMBORO

37

bisa disebabkan oleh makan dan juga zat penyebab lainnya seperti cuaca, debu, dan sebagainya. Diare adalah buang air besar (defekasi) denganjumlah yang lebih banyak dari biasanya (normal 100-200 ml perjam tinja), dengan tinja berbentuk cair atau setengah cair (setengah padat), dapat pula disertai frekuensi defekasi. Penyalitm diare ditimbulkan oleh makanan, miniman, virus dan bakteri, dan juga alkohol. Kuman penyakit diare ditularkan melalui air dan makanan, tangan yang kotor, berak sebarang tempat dan botol susu yang kurang bersih. Gastritis atau lebih dikenal sebagai maag berasal dari bahasa yunani yaitu gastro, yang berarti perut/lambung dan itis yang berarti inflamasi/peradangan. Gastritis bukan merupakan penyakit tunggal, tetapi terbentuk dari beberapa kondisi yang kesemuanya itu mengakibatkan peradangan pada lambung. Biasanya, peradangan tersebut merupakan akibat dari infeksi oleh bakteri yang sama dengan bakteri yang dapat mengakibatkan borok di lambung yaitu Helicobacter pylori. Tetapi faktor-faktor lain seperti trauma fisik dan pemakaian secara terus menerus beberapa obat penghilang sakit dapat juga menyebabkan gastritis. Hipertensi atau tekanan darah tinggi, adalah meningkatnya tekanan darah atau kekuatan menekan darah pada dinding rongga di mana darah itu berada. Tekanan Darah Tinggi (hipertensi) adalah suatu peningkatan tekanan darah di dalam arteri. (Hiper artinya Berlebihan, Tensi artinya tekanan/tegangan; jadi, hipertensi adalah Gangguan sistem peredaran darah yang menyebabkan kenaikan tekanan darah diatas nilai normal.

LAPORAN EPIDEMIOLOGI KESLING DI PUSKESMAS MAMBORO

38

4.2 SARAN Pihak Puskesmas Mamboro harus terus berupaya memperbaiki Status Derajat Kesehatan Masyarakat agar jumlah penderita penyakit semakin menurun. Diharapkan kepada Tenaga Kesehatan untuk lebih meningkatkan program Penyuluhan Kesehatan pada Masyarakat. Diharapkan kepada Masyarakat agar terus berupaya untuk memperbaiki Sanitasi Lingkungan dan berupaya meningkatkan PHBS Rumah Tangga. Perlu adanya kerja sama antara pihak Puskesmas, Aparat Desa, dan Masyarakat dalam menjaga Kebersihan Lingkungan. Diharapkan kepada Mahasiswa untuk lebih bekerja sama dalam

menyelesaikan tugas Kelompok yang diberikan oleh Dosen.

LAPORAN EPIDEMIOLOGI KESLING DI PUSKESMAS MAMBORO

39