Anda di halaman 1dari 28

7

BABII
TINJAUANPUSTAKA

A. Penyembuhan Luka Post Sectio Caesaria
1. Pengertian Luka Sectio Caesaria
a. Pengertian Sectio Caesaria
Sectio Caesaria secara umum adalah operasi yang dilakukan
untuk mengeluarkan janin dan plasenta dengan membuka dinding
perut dan uterus (Wiknjosastro, 2005).
b. Luka
Luka adalah gangguan dalam kontinuitas sel-sel kemudian
diikuti dengan penyembuhan luka yang merupakan pemulihan
kontinuitas tersebut (Brunner dan Suddart, 2001). Pengertian luka
sectio caesaria adalah gangguan dalam kontinuitas sel akibat dari
pembedahan yang dilakukan untuk mengeluarkan janin dan plasenta,
dengan membuka dinding perut dengan indikasi tertentu.
2. Klasifikasi Jenis Luka Sectio Caesaria
Menurut Wiknjosastro (2005), luka Sectio Caesaria dapat
diklasifikasikan menjadi 3 jenis yaitu:
a. Sectio Caesaria Transperitonealis Profunda
Merupakan pembedahan yang paling banyak dilakukan dengan
insisi di segmen bawah uterus. Keunggulan pembedahan ini adalah
perdarahan luka insisi tidak seberapa banyak. Bahaya peritonitis tidak
8
besar. Parut pada uterus umumnya kuat sehingga bahaya rupture uteri
dikemudian hari tidak besar karena dalam masa nifas segmen bawah
uterus tidak seberapa banyak mengalami kontraksi seperti korpus uteri,
sehingga luka dapat sembuh lebih sempurna.
b. Sectio Caesaria Klasik atau Sectio Caesaria Corporal
Merupakan pembuatan insisi pada bagian tengah korpus uteri
sepanjang 10-12 cm dengan ujung bawah di atas batas plika vesiko
uterine. Insisi ini dibuat hanya diselenggarakan apabila ada halangan
untuk melakukan sectio caesaria transperitonealis profunda (misalnya
melekat eratnya uterus pada dinding perut karena Sectio Caesaria yang
dahulu, insisi di segmen bawah uterus mengandung bahaya perdarahan
banyak berhubungan dengan letaknya plasenta pada plasenta previa).
Kekurangan pembedahan ini disebabkan oleh lebih besarnya bahaya
peritonitis, dan kira-kira 4 kali lebih bahaya rupture uteri pada
kehamilan yang akan datang. Sesudah Sectio Caesaria klasik sebaiknya
dilakukan sterilisasi atau histerektomi.
c. Sectio Caesaria Ekstraperitoneal
Sectio Caesaria ini dilakukan untuk mengurangi bahaya infeksi
puerperal, akan tetapi dengan kemajuan pengobatan terhadap infeksi,
pembedahan Sectio Caesaria ini sekarang tidak banyak lagi dilakukan.
Pembedahan tersebut sulit dalam tehniknya.


9
3. Penyulit yang Biasa Terjadi pada Tindakan Operasi Sectio Caesaria
Menurut Wiknyosastro (2005), penyulit yang biasa terjadi pada
tindakan Operasi Sectio Caesaria antara lain :
a. Pada Ibu
1) Infeksi Purperalis
Pasien yang mengalami sectio caesaria karena plasenta previa
karena perdarahan dan karena ketuban pecah dini resikonya lebih
besar dari pada pasien yang mengalami sectio caesaria elektif.
2) Perdarahan
Perdarahan banyak bisa timbul pada waktu pembedahan jika
cabang arteri uterina ikut terbuka atau karena uterina uteri.
3) Komplikasi-komplikasi lain, seperti luka kandung kemih,
embolisme paru, komplikasi ini jarang terjadi.
4) Suatu komplikasi baru yang tampak kemudian, ialah kurang
kuatnya parut pada dinding uterus, sehingga pada kehamilan
berikutnya terjadi rupture uteri.
b. Pada Anak
Nasib anak yang dilahirkan dengan Sectio Caesaria banyak
tergantung dari keadaan yang menjadi alasan untuk medan sering kali
terjadi peritoneum tidak dapat dihindarkan.



10
4. Komplikasi Luka
a. Hematoma
Balutan dilihat terhadap perdarahan (hemoragi) pada interval
yang sering selama 24 jam setelah pembedahan. Setiap perdarahan
dalam jumlah yang tidak semestinya dilaporkan. Pada waktunya,
sedikit perdarahan terjadi pada bawah kulit. Hemoragi ini biasanya
berhenti secara spontan tetapi mengakibatkan pembentukan bekuan
didalam luka. J ika bekuan kecil, maka akan terserap dan tidak harus
ditangani. Ketika lukanya besar dan luka biasanya menonjol dan
penyembuhan akan terhambat kecuali bekuan ini dibuang. Proses
penyembuhan biasanya dengan granulasi atau penutupan sekunder
dapat dilakukan.
b. Infeksi
Stapihylococcuss Aureus menyebabkan banyak infeksi luka
pasca operatif. Infeksi lainnya dapat terjadi akibat escherichia coli,
proteus vulgaris. Bila terjadi proses inflamatori, hal ini biasanya
menyebabkan gejala dalam 36 sampai 48 jam. Frekwensi nadi dan
suhu tubuh meningkat, dan luka biasanya membengkak, hangat dan
nyeri tekan, tanda-tanda lokal mungkin tidak terdapat ketika infeksi
sudah mendalam.
c. Dehiscene dan Eviserasi
Dehicence adalah gangguan insisi atau luka bedah dan eviserasi
adalah penonjolan isi luka. Komplikasi ini sering terjadi pada jahitan
11
yang lepas, infeksi dan yang lebih sering lagi karena batuk keras dan
mengejan.
5. Proses Penyembuhan Luka
Menurut Moya, Morison (2003) proses fisiologis penyembuhan
luka dapat dibagi ke dalam 3 fase utama, yaitu:
a. Fase Inflamasi (durasi 0-3 hari)
J aringan yang rusak dan sel mati melepaskan histamine dan
mediator lain, sehingga dapat menyebabkan vasodilatasi dari
pembuluh darah sekeliling yang masih utuh serta meningkatnya
penyediaan darah ke daerah tersebut, sehingga menyebabkan merah
dan hangat. Permeabilitas kapiler darah meningkat dan cairan yang
kaya akan protein mengalir ke interstitial menyebabkan oedema lokal.
b. Fase destruksi (1-6 hari)
Pembersihan terhadap jaringan mati atau yang mengalami
devitalisasi dan bakteri oleh polimorf dan makrofag. Polimorf menelan
dan menghancurkan bakteri. Tingkat aktivitas polimorf yang tinggi
hidupnya singkat saja dan penyembuhan dapat berjalan terus tanpa
keberadaan sel tersebut.
c. Fase Proliferasi (durasi 3-24 hari)
Fibroblas memperbanyak diri dan membentuk jaring-jaring
untuk sel-sel yang bermigrasi. Fibroblas melakukan sintesis kolagen
dan mukopolisakarida.


12
d. Fase Maturasi (durasi 24-365 hari)
Dalam setiap cedera yang mengakibatkan hilangnya kulit, sel
epitel pada pinggir luka dan sisa- sisa folikel membelah dan mulai
berimigrasi di atas jaringan granulasi baru.
6. Tipe Penyembuhan Luka
Menurut Moya, Morison (2003) proses penyembuhan luka akan melalui
beberapa intensi penyembuhan, antara lain:
a. Penyembuhan Melalui Intensi Pertama (Primary Intention)
Luka terjadi dengan pengrusakan jaringan yang minimum,
dibuat secara aseptic, penutupan terjadi dengan baik, jaringan granulasi
tidak tampak, dan pembentukan jaringan parut minimal.
b. Penyembuhan Melalui Intensi Kedua (Granulasi )
Pada luka terjadi pembentukan pus atau tepi luka tidak saling
merapat, proses penyembuhannya membutuhkan waktu yang lama.
Penyembuhan
c. Melalui Intensi Ketiga (Secondary Suture)
Terjadi pada luka yang dalam yang belum dijahit atau terlepas
dan kemudian dijahit kembali, dua permukaan granulasi yang
berlawanan disambungkan sehingga akan membentuk jaringan parut
yang lebih dalam dan luas.
13
7. Faktor yang Mempengaruhi Penyembuhan Luka Sectio Caesaria
Menurut Craven dan Hirnle (2000), yang mempengaruhi penyembuhan
luka dapat digolongkan menjadi dua yaitu:
a. Faktor Luka
1) Kontaminasi Luka
Tehnik pembalutan yang tidak adekuat, bila terlalu kecil
memungkinkan invasi dan kontaminasi bakteri, jika terlalu
kencang dapat mengurangi suplay oksigen yang membawa nutrisi
dan oksigen.
2) Edema
Penurunan suplay oksigen melalui gerakan meningkat
tekanan intersisial pada pembuluh darah.
3) Hemoragi
Akumulasi darah menciptakan ruang rugi juga sel-sel mati
yang harus disingkirkan.

b. Faktor Umum
1) Usia
Makin tua pasien, makin kurang lentur jaringan.
2) Nutrisi
Pada penyembuhan luka kebutuhan akan nutrisi meningkat seiring
dengan stress fisiologis yang menyebabkan defisiensi protein,
14
nutrisi yang kurang dapat menghambat sintesis kolagen dan terjadi
penurunan fungsi leukosit.
3) Obesitas
Pada pasien obesitas jaringan adiposa biasanya mengalami
avaskuler sehingga mekanisme pertahanan terhadap mikroba sangat
lemah dan mengganggu suplay nutrisi kearah luka, akibatnya
penyembuhan luka menjadi lambat.
4) Medikasi
Pada beberapa obat dapat mempengaruhi penyembuhan luka,
seperti steroid, anti koagulan, anti biotik spektrum luas.
c. Faktor lokal
1) Sifat injuri
Kedalaman luka dan luas jaringan yang rusak mempengaruhi
penyembuhan luka, bahkan bentuk luka.
2) Adanya infeksi
J ika pada luka terdapat kuman patogen penyebab infeksi, maka
penyembuhan luka menjadi lambat.
3) Lingkungan setempat
Dengan adanya drainase pada luka. PH yang harusnya antara 7,0
sampai 7,6 menjadi berubah sehingga mempengaruhi penyembuhan
luka. Selain itu, adanya tekanan pada area luka dapat mempengaruhi
sirkulasi darah pada daerah luka.
15
8. Teknik pre operasi dalam mencegah Infeksi pada Proses
Penyembuhan Luka Sectio Caesaria
a. Tehnik Aseptik
Selama satu abad terakhir, ilmu kedokteran mengalami
kemajuan yang sangat pesat. Kemajuan terpenting yang telah dicapai
adalah kemajuan untuk memanipulasi atau melakukan pembedahan
tubuh manusia tanpa kekhawatiran akan terjadinya infeksi. Dengan
kemampuan ini, pembedahan terapi intravena, prosedur diagnostik
invasif, penyuntikan obat-obatan, perawatan luka serta seluruh
tindakan-tindakan pembedahan, bisa dikerjakan. Dasar dari
kemampuan ini adalah sekumpulan cara yang dikenal sebagai teknik
aseptik (Van Way III dan Buerk, 1990).
Tehnik aseptik didasarkan pada pengandaian bahwa infeksi
berasal dari luar, yang kemudian masuk dalam tubuh. Untuk mencegah
terjadinya infeksi, harus dipastikan bahwa setiap prosedur dikerjakan
sedemikian rupa agar bakteri tidak dapat masuk. Prosedur dikerjakan
di daerah yang steril di mana semua bakteri telah dimusnahkan,
termasuk bakteri yang biasa menetap di kulit penderita. Semua
instrumen, benang, serta cairan yang dipakai disucihamakan terlebih
dulu. Tangan ahli bedah harus dibersihkan dari bakteri dan ditutupi
dengan sarung tangan karet (Van Way III dan Buerk, 1990).
16
b. Mensucihamakan Kulit
Dalam keadaan normal di permukaan kulit teredapat bakteri
karena itu kulit harus dibersihkan dari semua kotoran dan
disucihamakan dengan larutan antiseptik. Dikenal beberapa larutan
antiseptik antara lain:
1) Yodium
Merupakan salah satu antiseptik tertua yang masih dipakai.
Yodium merupakan antiseptik yang ampuh, yodium juga bersifat
toksik dan dapat membakar kulit.

2) Yodofor
Merupakan kombinasi antara yodium dengan suatu molekul
organik. Ia tersedia dalam bentuk larutan mengandung detergen
yang digunakan untuk membasuh tangan.\

3) Alkohol
Banyak dipakai sebagai antiseptik untuk injeksi muskular,
meski membersihkan kulit, ia tidak cukup membunuh bakteri.
Karena itu, kebiasaan mengusap kulit dengan alkohol sebelum
menyuntik barangkali merupakan tindakan yang tidak perlu.\

4) Merkuri
Merupakan antiseptik yang cukup ampuh. Merkuri klorida
bersifat toksik untuk kulit. Yang lebih efektif adalah senyawa-
senyawa merkuri organik, di mana timerosol merupakan senyawa
17
yang paling sering dipakai. Senyawa-senyawa ini relatif nontoksik,
tetapi sukar menembus kulit. Bersifat bakteriostatik, bukan
bakterisit.

5) Chlorhexidine Gluconate
Chlorhexidine gluconate banyak dipakai karena bersifat
bakterisit dengan aktivitas anti mikroba yang berlangsung secara
terus menerus. Karena tidak mengiritasi, larutan ini sering
digunakan untuk mensucihamakan tangan dan kulit daerah operasi.

6) Providon Iodin
Providon Iodin Adalah senyawa kompleks dari iodin dan
providon, dikenal sebagai antiseptik halogen yang dapat
mengadakan presipitasi protein dan merusak enzim kuman.
Larutan ini digunakan sebagai antiseptik kulit menjelang operasi.
Saat mensucihamakan kulit daerah operasi, prinsip yang
utama adalah mulai dari tengah dan bekerja ke arah luar. Pada luka
yang terkontaminasi, kulit di sekitarnya disucihamakan terlebih
dahulu, baru kemudian lukanya. Daerah yang disucihamakan harus
jauh lebih luas dari lapangan operasi yang disucihamakan.
9. Perawatan Luka Operasi
Luka perlu ditutup dengan kasa steril, sehingga sisa darah dapat
diserap oleh kasa. Dengan menutup luka itu kita mencegah terjadinya
18
kontaminasi (kemsukan kuman), tersenggol, dan memberi kepercayaan
pada pasien bahwa lukanya diperhatikan oleh perawat.
Sehabis operasi, luka yang timbul langsung ditutup dengan kasa
steril selagiu dikamar bedah dan biasanya tidak perlu diganti sampai
diangkat jahitannya, kecuali bila terjadi perdarahan sampai darahnya
menembus diatas kasa, barulahdiganti dengan kasa steril. Pada saat
mengganti kasa yang lama perlu diperhatikan tehnik asepsis supaya tidak
terjadi infeksi. J ahitan luka dibuka setengahnya pada hari kelima dan
sisanya dibuka pada hari keenam atau ketujuh (Oswari, 2005).
10. Status kesehatan yang mempengaruhi proses penyembuhan luka
Sectio caesaria
a. Sectio caesaria pada ibu hamil yang menderita Diabetes Melitus
Keadaan ini tidak berbeda dengan kehamilan non diabetes.
Penatalaksanaan diabetes lebih mudah, karena pasien dapat makan
karbohidrat peroral segera setelah periode pasca bedah ketika
kebutuhan insulin menurun dengan tajam. Biasanya dipilih glukosa
dan insulin intra vena untuk mengelola periode pra dan intra bedah
dalam kasus sectio caesaria dibawah anestesi umum. Penderita
Diabetes Melitus yang melahirkan Sectio caesaria baik sebagai
prosedur yang direncanakan maupun tidak berada dalam peningkatan
resilko intra uterin pasca bedah dan infeksi luka menurut Diamond
dan rekan (1986) dikutip oleh Michael, (1996). Setiap perhatian perlu
ditujukan untuk menghindarkan infeksi, dan resiko sangat tinggi,
19
pemberian antibiotika profilaksis merupakan hal yang sesuai
(Michael, 1996).
b. Sectio caesaria elektif pada hipertensi kehamilan
Diagnosis preeklamsi berat sudah ditegakkan, kecendrungan untuk
kelahiran janin segera. Beberapa kekhawatiran, antara lain serviks
yang kurang siap sehingga induksi persalinan kurang berhasil, adanya
perasaan darurat karena keparahan preeklamsi, dan perlunya
mengkoordinasikan perawatan neonatal, mendorong sebagian dokter
untuk menganjurkan sectio caesaria elektif (Cunningham, G, 2005).

B. Post Partum
1. Definisi Post Partum
Periode Post partum ialah masa enam minggu sejak bayi lahir
sampai organorgan reproduksi kembali kekeadaan normal sebelum hamil.
Periode ini juga disebut puerperium atau trimester keempat kehamilan.
Perubahan fisiologis yang terjadi sangat jelas, walaupun dianggap
normal.(Bobak, 2004).
2. Menurut Bobak (2005), Perubahan fisiologis yang terjadi pada Ibu
post Partum :
a. Sistem Reproduksi dan Struktur Terkait
1) Uterus
a). Proses Involusi
Proses kembalinya uterus kekeadaan sebelum hamil setelah
melahirkan. Proses ini dimulai segera setelah plesenta keluar
akibat kontraksi otot-otot polos uterus.
20
b). Kontraksi
Intensitas kontraksi uterus meningkat secara bermakna segera
setelah bayi lahir, diduga terjadi sebagai respons terhadap
penurunan volume intra uterin yang sangat besar.
c). Afterpains
Kondisi ini banyak terjadi pada primipara, tonus uterus
meningkat sehingga fundus pada umumnya tetap kencang.
Relaksasi dan kontraksi yang periodik sering dialami multipara
dan bisa menimbulkan nyeri yang bertahan sepanjang awal
puerperium.
2) Tempat Plasenta
Setelah palasenta dan ketuban dikeluarkan, kontraksi vaskuler dan
trombosis menurunkan tempat plasenta ke suatu area yang
meninggi dan bernodul tidak teratur. Pertumbuhan endometrium
keatas menyebabkan pelepasan jaringan nekrotik dan mencegah
pembentukan jaringan parut yang menjadi karakteristik
penyembuhan luka.
3) Lokea
Adalah rabas uterus yang keluar setelah bayi lahir lokea mula-mula
berwarna merah, kemudian berubah menjadi merah tua atau merah
coklat. Rabas ini mengandung bekuan darah kecil. Selama dua jam
pertama setelah lahir, jumlah cairan yang keluar dari uterus tidak
boleh lebih dari jumlah maksimal yang keluar selama mentruasi.
21
Lokea dibedakan menjadi tiga yaitu lokea rubra, lokea serosa,
lokea alba.
4) Serviks
Sevik menjadi lunak segera setelah ibu melahirkan, 18 jam pasca
partum, servik memendek dan konsistensinya menjadi lebih padat
dan kembali kebentuk semula.
5) Vagina dan Perineum
Estrogen pasca partum yang menurun berperan dalam penipisan
mukosa vagina dan hilangnya rugae. Vagina yang semula sangat
teregang akan kembali bertahap keukuran sebelum hamil, 6 sampai
8 minggu setelah bayi lahir. Rugae akan kembali terlihat pada
sekitar minggu keempat. Mukosa tetap atropik pada wanita yang
menyusui sekurang- kurangnya sampai menstruasi dimulai
kembali.
6) Topangan otot panggul
Struktur penopang uterus dan vagina bisa mengalami cedera
sewaktu melahirkan dan masalah ginekologi dapat timbul
dikemudian hari.
b. Sistem endokrin
1) Hormon plasenta
Dengan terjadi perubahan hormon yang menyebabkan penurunan
hormone-hormon yang diproduksi oleh organ tersebut.
22
2) Hormon hipofisis dan fungsi ovarium
Waktu dimulainya ovulasi dan menstruasi pada wanita menyusui
dan tidak menyusui berbeda. Kadar prolaktin serum yang tinggi
pada wanita menyusui dampaknya berperan dalam menekan
ovulasi.
c. Abdomen
Abdomen akan terlihat menonjol ketika wanita berdiri dihari
pertama setelah melahirkan dan tampak seperti masih hamil.
Diperlukan sekitar 6 minggu untuk dinding abdomen kembali ke
keadaan sebelum hamil.
d. Sistem Urinarius
Perubahan hormonal pada masa hamil menyebabkan fungsi
ginjal, sedangkan penurunan kadar steroid setelah wanita melahirkan
menurunkan fungsi ginjal selama masa post partum. Fungsi ginjal
kembali normal dalam waktu satu bulan setelah melahirkan.
Diperlukan kira-kira sampai 8 minggu supaya hipotonia pada
kehamilan dan dilatasi pada ureter serta pelvis ginjal kembali
kekeadaan sebelum hamil (Cunningham,1993).
e. Sistem Cerna
1) Nafsu Makan
Ibu biasanya lapar segera setelah melahirkan, sehingga
diperbolehkan menkonsumsi makanan ringan. Dan setelah benar-
23
benar pulih dari efek analgesia, anestesia, dan keletihan,
kebanyakan ibu merasa sangat lapar.
2) Motilitas
Secara khas, penurunan tonus dan motilitas otot tratus cerna
menetap selama aktu yang singkat setelah bayi lahir. Kelebihan
analgesia dan anastesia bisa memperlambat pengembalian tonus
dan motilitas kekeadaan normal.
3) Defekasi
Buang air besar secara spontan bisa tertunda selama 2 sampai 3
hari setelah ibu melahirkan. Keadaan ini bisa disebabkan karena
tonus otot usus menurun selama proses persalinan dan pada awal
masa past partum. Diare sebelum melahirkan, kurang makan, atau
dehidrasi.
f. Payudara
Konsentrasi hormon yang menstimulasi perkembangan payudara
selama wanita hamil (estrogen, progesteron, human chorionic
gonadotropin, prolaktin, kortisol dan insulin) menurun dengan cepat
setelah bayi lahir. Waktu yang dibutuhkan hormon-hormon ini untuk
kembali kekadar sebelum hamil sebagian ditentukan oleh ibu apakah
menyusui atau tidak.
24
1) Ibu tidak menyusui
Payudara biasanya teraba nodular (ada wanita tidak hamil teraba
granular). Nodularitas bersifat bilateral dan difus. Pada wanita
tidak menyusui sekresi dan ekskresi kolostrum menetap selama
beberapa hari pertama setelah melahirkan. Pada saat hari ke 3 atau
ke 4 post partum bisa terjadi pembengkakan (engorgement).
Payudara teregang
(bengkak), keras, nyeri, bila ditekan dan hangat bila diraba
(kongesti pembuluh darah menimbulkan rasa hangat).
2) Ibu yang menyusui
Ketika laktasi terbentuk, teraba suatu massa (benjolan). Tetapi
kantong susu yang terisi berubah posisi dari hari kehari. Sebelum
laktasi dimulai, payudara teraba lunak dan suatu cairan
kekuningan, yaitu kolostrum, dikeluarkan dari payudara. Setelah
laktasi dimulai, payudara teraba hangat dan keras ketika disentuh.
Rasa nyeri akan menetap selama sekitar 48 jam. Susu putih
kebiruan (tampak seperti susu krim) dapat dikeluarkan dari puting
susu. Puting harus dikaji erektilitasnya, sebagai kebalikan dari
inversi dan untuk menemukan apakah ada fisura atau keretakan.
g. Sistem Kardiovaskular
1) Volume Darah
Perubahan volume darah tergantung dari beberapa faktor, misal
kehilangan darah selama melahirkan dan mobilitas serta
25
pengeluaran cairan eksravasular (edema fisiologis). Kehilangan
darah merupakan akibat penurunan volume darah total yang tepat
tetapi terbatas.
2) Curah J antung
Denyut jantung, volume sekuncup, dan curah jantung meningkat
selama masa hamil. Segera setelah wanita melahirkan, keadaan ini
akan meningkat bahkan lebih tinggi selama 30-60 menit karena
darah yang biasanya melintasi sirkuit uero plasenta tiba-tiba
kembali kesirkulasi umum. Nilai ini meningkat pada semua jenis
kelahiran (Bobak, 2005).
3) Tanda-Tanda Vital
Beberapa tanda-tanda vital bisa terlihat, jika wanita dalam keadaan
normal. Peningkatan kecil sementara, baik peningkatan tekanan
darah sistol maupun diastol dapat timbul dan berlangsung selama
sekitar empat hari setelah wanita melahirkan (Bobak, 2005).
4) Varises
Varises ditungkai dan disekitar anus (hemoroid) sering dijumpai
pada wanita hamil. Varises, bahkan varises vulva yang jarang
dijumpai akan mengecil dengan cepat setelah bayi lahir. Operasi
varises tidak dipertimbangkan selama masa hamil.
26
h. Sistem Neurologi
Perubahan neurologis selama puerporium merupakan kebalikan
adaptasi neorologis yang terjadi saat wanita hamil dan disebabkan
trauma yang dialami wanita saat bersalin dan melahirkan.
i. Sistem Muskuloskeletal
Adaptasi sistem muskuloskeletal ibu yang terjadi selama masa hamil
berlangsung secara terbalik pada masa post partum. Adaptasi ini
mencakup hal-hal yang membantu elaksasi dan perubahan ibu akibat
pembesaran rahim.
j. Sistem Integumen
Kloasma yang muncul pada masa hamil biasanya menghilang saat
keamilan berakir. Hiperpigmentasi diareola dan diliniea nigra tidak
menghilang seluruhnya setelah bayi lahir. Kulit yang meregang pada
payudara, abdomen, paha, dan panggul mungkin memudar tetapi tidak
hilang seluruhnya. Kelainan pembuluh darah seperti spider angioma
(nevi), eritema palmar, dan epulis biasanya berkurang sebagai respon
terhadap penurunan kadar estrogen setelah kehamilan berakir. Rambut
halus yang tumbuh dengan lebat pada waktu hamil biasanya akan
menghilang setelah wanita melahirkan. Rambut kasar yang timbul
sewaku hamil biasanya akan menetap. Konsentrasi dan kekuatan kuku
akan kembali pada keadaan sebelum hamil.
27
k. Sistem kekebalan
Kebutuhaan ibu untuk mendapatkan vaksinasi rubela atau untuk
mencegah iso imunisasi yang ditetapkan.
Menurut Bobak (2004), adaptasi psikologis ibu post partum
adalah sebagai berikut :
1) Fase Menerima (taking-in phase)
Fase dependen ialah suatu waktu yang penuh kegembiraan dan
kebanyakan orang tua sangat suka mengomunikasikannya. Fase ini
terjadi selama 1 sampai 2 hari pertama setelah melahirkan,
ketergantungan ibu sangat menonjol. Pada fase ini, ibu
mengharapkan segala kebutuhannya dapat dipenuhi orang lain. Ibu
memindahkan energi psikologisnya kepada anaknya. Di mana ibu
baru memerlukan perlindungan dan perawatan. Fase menerima
berlangsung selama 2 sampai 3 hari.
2) Fase Dependent-Mandiri (fase taking hold)
Dalam fase dependen-mandiri ibu, secara bergantian muncul
kebutuhan untuk mendapat perawatan dan penerimaan dari orang
lain dan keinginan untuk bisa melakukan segala sesuatu secara
mandiri. Fase taking hold berlangsung kira-kira 10 hari.
3) Fase interdependent
Pada fase ini perilaku interdependent muncul, ibu dan keluarganya
bergerak maju sebagai suatu sistem dengan para anggota keluarga
saling berinteraksi. Hubungan antara pasangan, walaupun sudah
28
berubah dengan adanya seorang anak kembali menunjukkan
banyak karekteristik awal. Fase interdependents (letting-go)
merupakan fase yang penuh stress bagi orang tua. Kesenangan dan
kebutuhan sering berbagi dalam masa ini. Tuntutan utama ialah
menciptakan suatu gaya hidup yang melibatkan anak, tetapi dalam
beberapa hal, tidak melibatkan anak. Pasangan ini harus berbagi
kesenangan yang bersifat dewasa.

C. Konsep Status Gizi
1. Pengertian
Status gizi adalah ekspresi dari keadaan keseimbangan dalam
bentuk dari variabel tertentu atau perwujudan dari nutriture dalam bentuk
variabel tertentu (Supariasa, 2001).
2. Penilaian Status Gizi Secara Langsung
Menurut Supariasa (2001) penilaian status gizi secara langsung ada 4
yaitu:
a. Antropometri
Antopometri secara umum artinya ukuran tubuh nanusia.
Antropometri gizi berhubungan dengan berbagai macam pengukuran
dimensi tubuh dan komposisi tubuh dari berbagai tingkat umur. Secara
umum digunakan untuk melihat ketidakseimbangan asupan protein dan
energi. Ketidakseimbangan ini terlihat pada pola pertumbuhan fisik
29
dan proporsi jaringan tubuh seperti lemak, otot dan jumlah air dalam
tubuh.
Pengukuran antropometri salah satunya Indeks Massa Tubuh
(IMT) terdiri dari berat badan dan pengukuran linear terdiri dari tinggi
badan, panjang badan, lingkar kepala, lingkar dada, LILA dan tinggi
lutut. Beberapa indeks antropometri yaitu BB/U, TB/U, BB/TB,
LILA/U. Adapun Penentuan status gizi berdasarkan IMT adalah :
Berat badan
IMT =
(Tinggi Badan) (m)
2


Kriteria :
Status gizi kurus tingkat berat : <17,0
Status gizi kurus tingkat ringan : 17,0-18,5
Status gizi normal : <18,5-25,0
Status gizi gemuk tingkat ringan : >25,0-27,0
Status gizi gemuk tingkat berat : >27
b. Klinis
Pemeriksaan klinis adalah metode yang sangat penting untuk
menilai status gizi masyarakat. Metode ini didasarkan atas perubahan-
perubahan yang terjadiyang dihubungkan dengan ketidakcukupan zat
gizi. Hal ini dapat dilihat pada jaringan epitel (supervisial ephitelial
tissues) seperti kulit, mata, rambut, dan mukosa oral atau pada organ-
organ yang dekat dengan permukaan tubuh yang dekat dengan
permukaan tubuh seperti kelenjar tubuh.
30
Metode ini umumnya untuk survei klinis secara cepat (rapid
clinikal surveys). Survei ini dirancang untuk mendeteksi secara cepat
tanda-tanda klinis umum dari kekurangan salah satu atau lebih zat gizi.
Disamping itu digunakan untuk mengetahui tingkat status gizi
seseorang dengan melakukan pemeriksaan fisik yaitu tanda (sign) dan
gejala (symptom) atau riwayat penyakit.
c. Biokimia
Penilaian stus gizi dengan biokimia adalah pemeriksaan
spesimen yang diuji secara laboratoris yang dilakukan pada berbagai
macan jaringan tubuh. J aringan tubuh yang digunakan antara lain:
darah, urin, tinja dan juga beberapa jarinhgan tubuh seperti hati dan
otot. Metode ini digunakan untuk suatu peringatan bahwa
kemungkinan akan terjadi keadaan malnutrisi yang lebih parah lagi.
d. Biofisik
Penentuan status gizi secara biofisik adalah metode penentuan
status gizi dengan melihat (khususnya jaringan) dan melihat
perubahan struktur jaringan. Umumnya dapat digunakan dalam situasi
tertentu seperti kejadian buta senja epidemik (epidemic of night
blindnes). Cara yang digunakan adalah test adaptasi gelap.
3. Penilaian status gizi secara tidak langsung
Menurut Supariasa, (2001) Penilaian status gizi secara langsung di
bagi 3 yaitu:

31
a. Survei konsumsi makanan
Survei konsumsi makanan adalah metode penentuan status
secara tidak langsung dengan melihat jumlah dan jenis zat gizi yang
dikonsumsi. Pengumpulan data konsumsi makanan dapat memberikan
gambaran dengan konsumsi berbagai zat gizi pada masyasarakat,
keluarga dan individu.
b. Statistik Vital
Pengukuran status gizi dengan statistik vital adalah dengan
menganalisis data beberapa statistik kesehatan seperti angka kematian
berdasarkan umur, angka kematian dan angka kesakitan akibat
penyebab tertentu dan data lainnya yang berhubungan dengan gizi.
Penggunaannya dipertimbangkan sebagai bagian dari indikator tidak
langsung pengukuran status gizi masyarakat.
c. Faktor ekologi
Malnutrisi merupakan masalah ekologi sebagai hasil interaksi
beberapa faktor fisik, biologis dan lingkungan budaya. J umlah
makanan yang tersedia sangat tergantung dari keadaan ekologi seperti
iklim, tanah, irigasi. Pengukuran faktor ekologi dipandang sangat
penting untuk mengetahui penyebab malnutrisi disuatu masyarakat
sebagai dasar untuk melakukan program intervensi gizi.
Malnutrisi merupakan penyebab yang sangat penting dari
kelambatan penyembuhan luka. Sejumlah indikator yaitu malnutrisi
kalori /protein. Pentingnya pemantauan secara ketat terhadap berat
32
badan indikator malnutrisi lainnya pada pasien dengan cidera berat,
setelah operasi besar, dan saat terdapat septikemia, sangat ditekankan
(Moya, Morison, 2003) .




















33
D. Kerangka Teori










Gambar 2.1
Sumber dari : Craven, R. F & Hirnle, C.J . (2000) dan Moya, Morison (2003).


E. Kerangka konsep



Gambar 2.2 kerangka konsep








Faktor Pendukung yang
mempengaruhi proses
penyembuhan luka
1. Faktor Luka
a. Kontaminasi Luka
b. Edema
c. Hemoragi
2. Faktor Umum
a. Usia
b. Status gizi
c. Obesitas
d. Medikasi
3. Faktor lokal
a. Sifat injuri
b. Adanya infeksi
c. Lingkungan setempat

Proses Penyembuhan Luka :
- Fase Inflamasi
- Fase destruksi
- Fase Proliferasi, Fase Maturasi.
Status gizi ibu
Proses penyembuhan luka
post Sectio Caesaria
34
F. Variabel penelitian
Variabel dalam penelitian ini tediri dari variabel dependent (tergantung) dan
variabel independent (bebas).
1. Variabel independent
Yang dimaksud dengan variabel independen dalam peneletian ini adalah
status gizi ibu.
2. Variabel Dependent
Yang dimaksud dengan variabel dependent dalam penelitian ini adalah
proses penyembuhan luka.

G. Hipotesa
Ada hubungan status gizi ibu terhadap penyembuhan luka post Sectio
Caesaria di ruang Dewi Kunti RSUD Kota Semarang.