Anda di halaman 1dari 34

BAB 1 PENDAHULUAN 1.

1 Latar Belakang Mortalitas dan morbilitas pada wanita hamil dan bersalin adalah masalah besar di Negara berkembang. Kematian saat melahirkan biasanya menjadi faktor utama mortalitas wanita pada puncak produktivitasnya. Angka kematian ibu maternal berguna untuk menggambarkan tingkat kesadaran perilaku hidup sehat, status gizi kesehatan ibu dan anak, kondisi kesehatan lingkungan dan tingkat pelayanan kesehatan lingkungan. Tingkat pelayanan kesehatan terutama untuk ibu hamil, waktu melahirkan dan masa nifas (wordpress.com/nifas.) Menurut laporan Badan Kesehatan Dunia (WHO) mencatat bahwa angka ibu nifas meningkat tiap tahunnya. Pada tahun 2007 diperkirakan 60% atau sekitar 598.000 dari jumlah tersebut sebanyak 10% ibu meninggal dunia ketika masa nifas terjadi dalam 24 jam pertama. Pada tahun 2009 ibu nifas sebanyak 80% atau sekitar 860.000 dan yang meninggal dunia sekitar 20%. Sementara pada tahun 2011 jumlah ibu nifas mengalami peningkatan 5% dari tahun sebelumnya atau sekitar 928.000 dengan angka (wordpress.com/AKI) Angka Kematian Ibu (AKI) merupakan salah satu indikator dari derajat kesehatan. Angka kematian ibu juga merupakan salah satu target yang telah ditentukan dalam tujuan pembangunan millenium yaitu tujuan MDGs 5 yaitu meningkatkan kesehatan ibu. AKI di Indonesia masih tertinggi di Negara ASEAN yaitu AKI di Malaysia 41 per 100.000 kelahiran hidup, Singapura 6 per 100.000, kematian ibu nifas sebanyak 398.000

Thailand 44 per 100.000 kelahiran hidup, Vietnam 160 per 100.000, Filipina 170 per 100.000 kelahiran hidup. Berdasarkan data SDKI (Survey Demografi dan Kesehatan Indonesia) AKI di Indonesia terus mengalami penurunan. Pada tahun 2005AKI di Indonesia yaitu 262 per 100.000 kelahiran hidup, tahun 2006 yaitu 255 per 100.000 kelahiran hidup, dan tahun 2007 menjadi 228 per 100.000 kelahiran hidup. Target Millenium Development Goalds (MDGs) AKI di Indonesia tahun 2015 harus mencapai 125 per 100.000 kelahiran hidup (Barata, 2008). Berdasarkan Survei Fakultas Kedokteran Universiatas Andalas tahun 2008, AKI di Sumatera Barat sebesar 212 /100.000 Kelahiran Hidup. Tahun 2012, AKI belum dapat ditentukan karena yang berwenang untuk mengeluarkan AKI adalah Badan Pusat Statistik. Namun dilhat dari kejadian jumlah kematian, jumlah kematian ibu di Provisnsi Sumatera Barat sudah mengalami penurunan dari 129 orang pada tahun 2011 menjadi 99 orang pada tahun 2012. Menurut Profil Kesehatan Kabupaten Sijunjung tahun 2009, Angka kematian Ibu (AKI) jika dibandingkan Angka Nasional 420 per 100.000 kelahiran hidup maupun Propinsi 229 per 100.000 kelahiran hidup pada tahun 2007 ternyata Kabupaten Sijunjung masih lebih baik dari angka tersebut. Di Indonesia (2012) jumlah ibu nifas dalam beberapa tahun terakhir terlihat mengalami peningkatan sedangkan angka kematian ibu nifas mengalami penurunan. Pada tahun 2009 angka ibu nifas diperkirakan sebesar 96.000 dengan jumlah kematian sebanyak 12%. Pada tahun 2010 sebanyak 125.000 ibu nifas dengan angka kematian sebanyak 7%. Sedangkan pada tahun 2011 jumlah ibu nifas sebanyak 176.000 dengan angka kematian sebanyak 4%. Sementara pada

tahun 2012 enam bulan terakhir ibu nifas sebanyak 198.300 dengan angka kematian ibu sebanyak 3% (wordpress.com/AKI). Asuhan masa nifas sangat diperlukan dalam periode ini karena masa nifas merupakan masa kritis untuk ibu dan bayinya. Paling sedikit 4 kali kunjungan pada masa nifas sehingga dapat menilai status ibu dan bayinya, untuk mendeteksi masalah, mengobati bila terjadi komplikasi pada ibu dan bayi, memberikan pendidikan tentang kesehatan dan menjelaskan tentang kebutuhan dasar ibu nifas seperti bernafas dengan normal, makan dan minum yang cukup, ambulasi, eliminasi dan lain-lain yang di butuhkan oleh ibu nifas (Anggraini, 2010) Dalam kehidupan sehari-hari yang kita temui dimasa kini, banyak ibu-ibu yang setelah persalinan dia banyak dibantu oleh keluarga dalam memenuhi semua kebutuhannya. Padahal dalam prosesnya jika ibu itu melahirkan secara normal ibu sudah dapat melakukan kegiatanya sendiri tanpa dibantu oleh keluarga, hal seperti ini banyak kita temui di Rumah Sakit, BPS dan tempat bersalin lainnya, termasuk di BPS Wilayah Kerja Puskesmas Gambok Kabupaten Sijunjung Tahun 2013, kebanyakan ibu-ibu yang melahirkan secara normal hanya sebagian ibu-ibu saja yang dapat memenuhi kebutuhannya secara mandiri. Maka dengan dasar itu penulis tertarik untuk mengetahui gambaran pelaksanaan keperawatan mandiri (self care) pada ibu nifas fisiologis pada ibu post partum 1-3 hari di BPS Wilayah Kerja Puskesmas Gambok Kabupaten Sijunjung Tahun 2013.

1.2 Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan, maka rumusan masalah penelitian adalah apa saja yang dilakukan ibu postpartum fisiologis dalam memenuhi kebutuhan dasar di BPS Wilayah Kerja Puskesmas Gambok Kabupaten Sijunjung Tahun 2013.

1.3 Tujuan Penelitian 1.3.1 Tujuan Umum Tujuan umum pada penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran pelaksanaan keperawatan mandiri pada ibu nifas fisiologi pada ibu post partum 1-3 hari di BPS Wilayah Kerja Puskesmas Gambok Kabupaten Sijunjung Tahun 2013. 1.3.2 Tujuan Khusus 1. Diketahuinya pelaksanaan keperawatan mandiri pada ibu nifas fisiologi pada ibu post partum 1-3 hari dalam pemenuhan kebutuhan bernafas secara normal di BPS Wilayah Kerja Puskesmas Gambok Kabupaten Sijunjung Tahun 2013. 2. Diketahuinya pelaksanaan keperawatan mandiri pada ibu nifas fisiologi pada ibu post partum 1-3 hari dalam pemenuhan kebutuhan nutrisi dan cairan secara normal di BPS Wilayah Kerja Puskesmas Gambok Kabupaten Sijunjung Tahun 2013. 3. Diketahuinya pelaksanaan keperawatan mandiri pada ibu nifas fisiologi pada ibu post partum 1-3 hari dalam pemenuhan kebutuhan eliminasi

secara normal di BPS Wilayah Kerja Puskesmas Gambok Kabupaten Sijunjung Tahun 2013. 4. Diketahuinya pelaksanaan keperawatan mandiri pada ibu nifas fisiologi pada ibu post partum 1-3 hari dalam pemenuhan kebutuhan mobilisasi dan menjaga posisi yang diinginkan secara normal di BPS Wilayah Kerja Puskesmas Gambok Kabupaten Sijunjung Tahun 2013. 5. Diketahuinya pelaksanaan keperawatan mandiri pada ibu nifas fisiologi pada ibu post partum 1-3 hari dalam pemenuhan kebutuhan tidur dan istirahat secara normal di BPS Wilayah Kerja Puskesmas Gambok Kabupaten Sijunjung Tahun 2013. 6. Diketahuinya pelaksanaan keperawatan mandiri pada ibu nifas fisiologi pada ibu post 1-3 hari dalam pemenuhan kebutuhan berpakaian yang sesuai di BPS Wilayah Kerja Puskesmas Gambok Kabupaten Sijunjung Tahun 2013. 7. Diketahuinya pelaksanaan keperawatan mandiri pada ibu nifas fisiologi pada ibu post partum 1-3 hari dalam pemenuhan kebutuhan menjaga suhu tubuh tetap dalam batas normal dengan menyesuaikan pakaian dan mengubah lingkungan di BPS wilayah Kerja Puskesmas Gambok Kabupaten Sijunjung Tahun 2013. 8. Diketahuinya pelaksanaan keperawatan mandiri pada ibu nifas fisiologi pada ibu post partum 1-3 hari dalam pemenuhan kebutuhan menjaga tubuh tetap bersih dan terawat serta melindungi integument di BPS Wilayah Kerja Puskesmas Gambok Kabupaten Sijunjung Tahun 2013.

9. Diketahuinya pelaksanaan keperawatan mandiri pada ibu nifas fisiologi pada ibu post partum 1-3 hari dalam pemenuhan kebutuhan seksualitas di BPS Wilayah Kerja Puskesmas Gambok Kabupaten Sijunjung Tahun 2013. 10. Diketahuinya pelaksanaan keperawatan mandiri pada ibu nifas 1-3 hari dalam pemenuhan kebutuhan perawatan payudara di BPS Wilayah Kerja Puskesmas Gambok Kabupaten Sijunjung Tahun 2013. 11. Diketahuinya pelaksanaan keperawatan mandiri pada ibu nifas 1-3 hari dalam pemenuhan kebutuhan menghindari bahaya lingkungan yang bisa melukai di BPS Wilayah Kerja Puskesmas Gambok Kabupaten Sijunjung Tahun 2013. 12. Diketahuinya pelaksanaan keperawatan mandiri pada masa nifas 1-3 hari dalam berkomunikasi di BPS Wilayah Kerja Puskesmas Gambok Kabupaten Sijunjung Tahun 2013. 13. Diketahuinya pelaksanaan keperawatan mandiri pada ibu nifas 1-3 hari dalam beribadah sesuai dengan keyakinan di BPS Wilayah Kerja Puskesmas Gambok Kabupaten Sijunjung Tahun 2013. 14. Diketahuinya pelaksanaan keperawatan mandiri pada ibu nifas 1-3 hari dalam bekerja dengan tata cara yang mengandung prestasi di BPS Wilayah Kerja Puskesmas Gambok Kabupaten Sijunjung Tahun 2013. 15. Diketahuinya pelaksanaan keperawatan mandiri pada ibu nifas 1-3 hari dalam Bermain atau terlibat dalam berbagai kegiatan rekreasi di BSP Wilayah Kerja Puskesmas Gambok Kabupaten Sijunjung Tahun 2013.

16. Diketahui pelaksanaan keperawatan mandiri pada ibu nifas 1-3 hari dalam Belajar mengetahui atau memuaskan atau rasa penasaran yang menuntun pada perkembangan normal dan kesehatan serta

menggunakan fasilitas kesehatan yang tersedia di BPS Wilayah Kerja Puskesmas Gambok Kabupaten Sijunjung Tahun 2013.

1.4 Manfaat Penelitian 1.4.1 Manfaat bagi Peneliti Kegiatan penelitian dapat menambah pengetahuan, wawasan, dan pengalaman penulis dalam melakukan penelitian khususnya tentang gambaran pelaksanaan keperawatan mandiri pada ibu nifas 1-3 hari di BPS wilayah kerja Puskesmas Gambok Kabupaten Sijunjung Tahun 2013. 1.4.2 Manfaat bagi BPS Hasil penelitian diharapkan dapat sebagai bahan masukan dan informasi bagi Puskesmas Lubuk Buaya dan BPS untuk meningkatkan pelayanan dalam memberikan dukungan kepada ibu-ibu nifas dalam pelaksanaan keperawatan mandiri pada ibu nifas 1-3 hari di BPS wilayah kerja Puskesmas Gambok Kabupaten Sijunjung Tahun 2013. 1.4.3 Manfaat bagi Institusi Pendidikan Sebagai bahan informasi dan bahan tambahan bacaan untuk penelitian lebih lanjut.

1.5 Ruang Lingkup Ruang lingkup penelitian berupa kemampuan ibu nifas dalam pelaksanaan keperawatan mandiri yang meliputi:Usaha bernafas dengan normal, makan dan minum yang cukup, eliminasi, mobilisasi, tidur dan istirahat, memilih dan mengenakan pakaian yang pantas dan nyaman, mempertahankan suhu tubuh, menjaga kebersihan tubuh dan memeliharan kesehatan, seksualitas,perawatan payudara, menghindari bahaya lingkungan, komunikasi dengan orang lain, beribadah menurut kepercayaan, Bekerja dengan tata cara yang mengandung prestasi, Bermain atau terlibat dalam berbagai kegiatan rekreasi, Belajar mengetahui atau memuaskan atau rasa penasaran yang menuntun pada perkembangan normal dan kesehatan serta menggunakan fasilitas kesehatan yang tersedia. Populasi penelitian adalah semua ibu nifas di BPS wilayah kerja Puskesmas Gambok Kabupaten Sijunjung. Desain penelitian adalah deskriptif.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Pengertian 2.1.1 Pengertian Ibu Masa Nifas Fisiologis Masa Puerperium atau masa nifas mulai setelah partus selesai,dan berakhir setelah kira-kira 6 minggu.Akan tetapi, seluruh alat genitalia baru pulih kembali seperti sebelum ada kehamilan dalam waktu 3 bulan. (Sarwono, 1983) Masa nifas (Puerperium) adalah masa setelah plasenta lahir dan berakhir ketika alat-alat kandungan kembali seperti keadaan sebelum hamil.Masa nifas berlangsung selama 6 minggu atau 42 hari,dan secara keseluruhan akan pulih dalam waktu 3 bulan (Anggraini,2010). Dalam pengertian lain masa nifas adalah masa setelah kelahiran bayi, selama tubuh beradaptasi ke keadaan sebelum hamil, dimana ibu dipulangkan kerumah setelah 1-2 hari (Ladewig, 2006). Dalam Pengertian lain Suherni (2009) memberikan pengertian masa nifas atau puerperium adalah masa atau waktu waktu sejak bayi dilahirkan dan plasenta keluar lepas dari rahim sampai enam minggu berikutnya, disertai dengan pulihnaya kembali organ-organ yang berkaitan dengan kandungan, yang mengalami perubahan seperti perlukaan dan lain sebagainya berkaitan saat melahirkan. Masa Nifas atau puerperium dimulai sejak 1 jam setelah lahirnya plasenta sampai dengan 6 minggu (42 hari) setelah itu (Sarwono, 2008) Masa nifas berasal dari bahasa latin, yaitu puer yang artinya bayi dan parous yang artinya melahirkan atau berarti masa sesudah melahirkan, dengan kata lain masa nifas adalah masa sesudah persalinan dan kelahiran bayi, plasenta, serta

selaput yang diperlukan untuk memulihkan kembali organ kandungan seperti sebelum hamil dengan waktu kurang lebih 6 minggu. (Sitti Saleha, 2009) Masa Nifas (Puerperium) adalah masa setelah plasenta lahir dan berakhir ketika alat-alat kandungan kembali seperti keadaan sebelum hamil.Masa nifas berlangsung selama 6 minggu atau 42 hari,dan secara keseluruhan akan pulih dalam waktu 3 bulan (Anggraini, 2010). Puerperium adalah masa sesudah persalinan yang diperlukan untuk pulihnya kembali alat kandungan yang lamanya 6 minggu (Obstetri Fisiologi, 1983)

2.2 Keperawatan Mandiri (Self Care) Dorethea Orem Teori Keperawatan Orem Pandangan teori Orem dalam tatanan pelayanan keperawatan ditujukan kepada kebutuhan individu dalam melakukan tindakan keperawatan mandiri serta mengatur dalam kebutuhannya. Dalam konsep praktik keperawatan Orem mengembangkan tiga bentuk teori Self Care, yaitu: 1. Perawatan Diri Sendiri (Self Care) Merupakan aktivitas dan inisiatif dari individu serta dilaksananakan oleh individu itu sendiri dalam memenuhi serta mempertahankan kehidupan, kesehatan serta kesejahteraan, pada ibu nifas fisiologi harus dapat melakukan pelaksanaan keperwatan secara mandiri yang berkaitan dengan pemenuhan kebutuhan dasar seperti: bernafas secara normal, makan dan minum, eliminasi, ambulasi, tidur dan istirahat dan lain sebagainya.

10

2. Self Care Defisit Merupakan bagian penting dalam perawatan secara umum di mana segala perencanaan keperawatan diberikan pada saat perawatan

dibutuhkan. Keperawatan dibutuhkan seseorang pada saat tidak mampu atau terbatas untuk melakukan Self Carenya secara terus menerus. Self Care defisit ini hanya dilakukan apabila ibu nifas tersebut

membutuhkan bantuan tenaga kesehatan atau keluarga dalam melakukan pelaksanaan keperawatan mandirinya dalam melakukan pemenuhan kebutuhan dasar, tapi sebaiknya ibu nifas fisiologi harus mampu melakukan pelaksanaan keperawatan mandiri guna mempercepat proses penyembuhan. 3. Teori Sistem Keperawatan Merupakan teori yang menguraikan secara jelas bagaimana kebutuhan perawatan diri pasien terpenuhi oleh perawat atau pasien sendiri. Teori sistem keperawatan ini menjelaskan apakah pelaksanaan keperawatan ibu nifas fisiologi dapat dilakukan sendiri atau sepenuhnya dengan bantuan tenaga kesehatan atau keluarga, jika dilakukan dengan dibantu oleh tenaga kesehatan maka ibu nifas tersebut dikatakan tidak dapat melakukan pemenuhan kebutuhan secara mandiri atau ibu nifas tersebut dalam keadaan nifas yang tidak normal dan harus dibantu dengan tenaga kesehatan atau keluarga.

11

Dari ketiga teori diatas yang akan dibahas secara terperinci yaitu tentang teori keperawatan diri sendiri dalam memenuhi kebutuhan dasar pada ibu nifas secara normal. Dalam hal pemenuhan dasar pada ibu nifas fisiologis ini diharapkan sebagian besar ibu-ibu dapat memenuhi kebutuhan dasarnya secara mandiri. Perawatan Diri Sendiri (Self Care) merupakan aktivitas dan inisiatif dari individu serta dilaksananakan oleh individu itu sendiri dalam memenuhi serta mempertahankan kehidupan,kesehatan serta kesejahteraan. Teori Self Care meliputi: 1. Self Care Agency Merupakan suatu kemampuan individu dalam melakukan perawatan diri sendiri, yang dapat dipengaruhi oleh usia, kesehatan dan lain-lain, Dalam masa nifas fisiologi ibu harus dapat melakukan pelaksanaan keperawatan secara mandiri yang berkaitan dengan pemenuhan kebutuhna dasar antara lain bernafas dengan normal, makan dan minum yang cukup, eliminasi, mobilisasi, tidur dan istirahat, dan lain-lain. 2. Theurapetic Self Care Demand Tuntutan atau permintaan dalam perawatan diri sendiri yang merupakan tindakan mandiri yang dilakukan dalam waktu tertentu untuk perawatan diri sendiri dengan menggunakan metode dan alat dalam tindakan yang tepat. Pelaksanaan keperawatan ini berkaitan dengan cara pengobatan dan alat-alat kesehatan yang harus digunakan sesuai dengan keadaan penderita.

12

3.3 Pemenuhan Kebutuhan Dasar Pada Ibu Nifas Fisiologi Yang Meliputi 16 Komponen (Teori Virginia Henderson) Dalam masa nifas, alat-alat genitalia interna maupun eksterna akan berangsur-angsur pulih seperti ke keadaan sebelum hamil. Untuk membantu mempercepat proses penyembuhan pada masa nifas, maka ibu nifas membutuhkan pendidikan kesehatan seperti personal hygiene, istirahat dan tidur dan lain-lain. Pemenuhan kebutuhan dasar yang harus dilakukan ibu nifas fisiologis sebagai manusia normal antara lain: a. Bernapas secara normal Sistem pernafasan atau respirasi berperan dalam menjamin ketersediaan oksigen untuk kelangsungan metabolisme sel-sel tubuh dan pertukaran gas. Pernapasan atau ventilasi pulmonal merupakan proses pemindahan udara dari dan ke paru-paru. Proses bernapas terdiri atas dua fase, yaitu inspirasi dan ekspirasi. Pada keadaan normal, frekuensi pernafasan pada orang dewasa sekitar 18-22x/menit, dengan irama teratur, serta inspirasi lebih panjang dari ekspirasi.(Tarwoto, 2010). b. Makan dan minum dengan cukup Nutrisi atau gizi adalah zat yang diperlukan oleh tubuh untuk keperluan metabolismenya. Kebutuhan gizi pada masa nifas terutama bila menyusui akan meningkat 25%, karena berguna untuk memproduksi air susu, semua itu akan meningkat 3 kali dari kebutuhan biasa.

13

Makanan yang dikonsumsi berguna untuk melakukan aktivitas, metabolisme, cadangan dalam tubuh, proses memproduksi ASI serta sebagai ASI itu sendiri yang akan dikonsumsi bayi untuk pertumbuhan dan perkembangan. Zat gizi berfungsi sebagai penghasil organ, untuk pergerakan, serta kerja fisik. Sebagian zat gizi berperan dalam pembentukan dan perbaikan jaringan tubuh serta berperan sebagai pelindung dan pengatur (Tarwoto, 2010) Dalam pelaksanaan keperawatan mandiri yang berkaitan dengan pemenuhan kebutuhan dasar makan dan minum pada ibu nifas yang perlu diperhatikan yaitu bagaimana cara ibu tessebut melakukan pemenuhan kebutuhannya dibantu atau melakukan sendiri, jenis makanan apakah memenuhi syarat 4 sehat 5 sempurna atau tidak, dan jumlah atau porsi makanannya. Masalah yang akan timbul apabila tidak terpenuhinya nutrisi dan cairan adalah kelancaran metabolisme dalam tubuh akan terhambat,daya tahan tubuh sehingga mudah terjangkit penyakit,dan memperlambat penyembuhan luka pada alat-alat reproduksi. c. Eliminasi Eliminasi merupakan proses pembuangan sisa-sisa metabolisme tubuh baik yang berupa urine maupun fekal (Tarwoto, 2010). Eliminasi terdiri dari dua yaitu eliminasi urine (kebutuhan buang air kecil) dan eliminasi alvi/fekal (kebutuhan buang air besar).

14

Setelah melakukan proses melahirkan yang sangat lama dan membuang banyak energi ibu diminta untuk beristirahat dan mengganti cairan serta nutrisi yang hilang, selain itu dalam waktu 6 jam postpartum ibu diminta untuk buang air kecil secara mandiri, tanpa harus ditolong oleh keluarganya.Volume berkemih yang normal untuk ibu nifas yaitu < 100cc,dan berwarna kekuningan jadi ibu juga harus memperhatikan pemenuhan kebutuhan cairannya. Begitu juga halnya dengan eliminasi fekal merupakan proses pengeluaran sisa pencernaan melalui anus, ibu postpartum fisiologis diharapkan dapat BAB setelah hari kedua postpartum, konsistensi yang normal yaitu lembek, dan berwarna coklat kekuningan, sebaiknya ibu dapat melakukannya sendiri. d. Mobilisasi (Ambulasi) Ambulasi dini merupakan kebijakan agar secepat mungkin ibu postpartum fisoilogis dapat bangun dari tempat tidur dan secepat mungkin ibu dapat berjalan yaitu 2 jam setelah melahirkan, ambulasi dini ini berguna untuk memperlancar sirkulasi darah dan mengeluarkan cairan vagina (Sitti Saleha, 2009) Dalam hal pemenuhan kebutuhan dasar secara mandiri yang berkaitan dengan ambulasi ini dilihat kemampuan ibu,ibu diharapkan dapat melakukan kegiatan miring kekanan, kekiri dan mencoba untuk duduk, serta berjalan secara mandiri tanpa bantuan keluarga dan tenaga kesehatan (Tarwoto, 2010).

15

e. Tidur dan istirahat Kebutuhan aktivitas atau pergerakan, istirahat dan tidur merupakan satu kesatuan yang saling berhubungan dan saling mempengaruhi. Tubuh membutuhkan aktivitas untuk kegiatan fisiologis dan membutuhkan istirahat dan tidur untuk pemulihan (Tarwoto, 2010) Wanita pasca persalinan harus cukup istirahat, pada pemenuhan kebutuhan tidur dan istirahat ini ibu nifas dianjurkan untuk tidur malam kira-kira 7-8 jam / hari, dan tidur siang kira-kira 2-3 jam/hari, pasca persalinan ibu harus tidur terlentang untuk mencegah perdarahan kurang lebih selama 8 jam, disini ibu diharapkan untuk melakukan pemenuhan kebutuhannya secara mandiri, guna mempercepat proses pemulihan. f. Memilih pakaian yang sesuai Sebaiknya pakaian terbuat dari bahan yang mudah menyerap keringat karena produksi keringat menjadi banyak. Pada saat hamil dan setelah melahirkan produksi keringat lebih meningkat dibanding sebelum hamil (Tarwoto, 2010). Ibu diharapkan dapat memilih pakaian, memakainya serta melepaskan seluruh pakaiannya secara mandiri. g. Menjaga suhu tubuh tetap dalam batas normal dengan menyesuaikan pakaian dan mengubah lingkungan Suhu tubuh ibu nifas sangat mempengaruhi keadaannya,suhu badan dalam nifas hendaknya normal dan tiap kenaikan suhu diatas 380C harus dianggap sebagai tanda infeksi, kecuali kalau nyata disebabkan oleh hal-hal lain (Obstetri Fisiologi, 1983)

16

Menjaga suhu tubuh tetap normal ini dapat dilakukan dengan cara memperhatikan keadaan ruangan yang ditempati apakah terlalu panas atau terlalu dingin dan memperhatikan pakaian yang dipaki oleh ibu, ibu diharapkan dapat memenuhi kebutuhannya secara mandiri. h. Menjaga tubuh tetap bersih dan terawat serta melindungi integument Kebersihan sangat dipengaruhi oleh nilai individu dan kebiasaan, kebersihan perorangan adalah suatu tindakan untuk memelihara kebersihan dan kesehatan seseorang untuk kesejahreraan fisik dan psikis (Tarwoto, 2010) Diharapkan ibu nifas fisiologi dapat melakukan pemenuhan kebutuhan dasarnya sendiri dalam menjaga kebersihan diri seperti mandi 2x sehari, kebersihan rambut, kebersihan kulit, vulva hygiene, dll. Tujuan umum perawatan diri adalah untuk mempertahankan perawatan secara mandiri dapat melatih hidup sehat dan bersih (Glori, 2009) i. Seksualitas Setelah persalinan pada masa ini ibu menghadapi peran baru sebagai orang tua sehingga sering melupakan perannya sebagai pasangan. Namun segera setelah ibu merasa percaya diri dengan peran barunya dia akan menemukan waktu dan melihat sekelilingnya serta menyadari bahwa ia sudah kehilangan dalam kehidupannya yang juga penting. Anjurkan ibu untuk:

17

1. Secara fisik, aman untuk memulai hubungan suami istri begitu darah merah berhenti dan ibu dapat memasukkan satu atau dua jarinya kedalam vagina tanpa rasa nyeri. 2. Banyak budaya yang mempunyai tradisi menunda hubungan suami istri sampai waktu tertentu setelah 40 hari atau 6 minggu pasca persalinan. 3. Kerjasama dengan pasangan dalam merawat dan memberikan kasih sayang pada bayinya sangat dianjurkan. Masalah yang timbul jika tidak diperhatikan kebutuhan seksualitas selama masa nifas adalah akan menimbulkan rasa nyeri pada ibu. Pemenuhan kebutuhan dasar seksualitas pada ibu nifas ini tidak hanya berhubungan intim saja tapi termasuk dalam belaian suami / keluarga, dan sentuhan dari suami / keluarga (Tarwoto, 2010). j. Perawatan Payudara Perawatan payudara dilakukan secara rutin agar tidak terjadi pembengkakan akibat bendungan ASI. Anjuran-anjuran yang harus di berikan kepada ibu antara lain: 1. Ajarkan ibu untuk menjaga kebersihan payudara terutama putting susu. 2. ajarkan cara perawatan pada putting susu yang lecet,dan pembengkakan pada payudara 3. menggunakan BH yang menyokong payudara.

18

Perawatan payudara yang lebih penting dilakukan yaitu apakah ibu melakukan pengompresan, membersihkan, mencuci dan menyusukan anak secara rutin supaya tidak terjadi bendungan yang lebih berlanjut dan ibu nyaman saat bayi menyusu karena tidak merasakan sakit dan nyeri, diharapkan ibu dapat melakukan pemenuhan tersebut secara mandiri. Masalah yang timbul jika tidak dilakukan perawatan payudara yaitu akan terjadi pembengkakan payudara dan bendungan ASI (Tarwoto, 2010). k. Menghindari bahaya lingkungan yang bisa melukai Keselamatan adalah suatu keadaan seseorang atau lebih yang terhindar dari ancaman bahaya atau kecelakaan. Kecelakaan merupakan kejadian yang tidak dapat diduga dan tidak diharapkan yang dapat menimbulkan kerugian, sedangkan keamanan adalah keadaan aman dan tentram (Tarwoto, 2010) Diharapkan ibu nifas dapat menghindari segala bentuk bahaya dan kecelakaan, dan berhati-hati dalam berbagai kegiatan seperti: berjalan, makan, dan menggunakan alat-alat atau benda-benda tajam, karena masa nifas merupakan masa yang rentan terhadap bahaya sekecil apapun. l. Berkomunikasi dengan orang lain dalam menungkapkan emosi, kebutuhan, rasa takut, atau pendapat. Komunikasi sebagai kegiatan sehari-hari yang dilaksanakan individu berhubungan erat dengan perilaku individu itu sendiri. Dalam berkomunikasi dengan ibu nifas kita harus hati-hati karena masa nifas ibu masih merasa sensitif, hal yang perlu diperhatikan dalm pelaksanaan

19

keperawatan dalam pemenuhan kebutuhan berkomunikasi yaitu berkaitan dengan logat bahasa ibu, nada/intonasi suara ibu, jika ibu berbicara dengan intonasi tinggi berarti ibu tidak ingin diganggu untuk sementara waktu. Teori dasar Freud menekankan pada dorongan insting dari individu untuk melakukan hubungan, baik secara internal maupun eksternal (Anas Tamsuri, 2006) Dukungan Emosional kepada ibu setelah melahirkan sangat dibutuhkan, kebanyakan wanita merasakan emosi-emosi yang kuat setelah melahirkan. Ini adalah hal normal. Beberapa wanita merasa sedih dan khwatir selama beberapa hari, minggu, atau bulan (Tarwoto, 2010) m. Beribadah sesuai dengan keyakinan Masa nifas berlangsung selama 40 hari atau sekitar 6 minggu,pada masa nifas ibu dalam keadaan yang tidak suci untuk itu ibu harus

menunggu hingga keadaannya bersih kembali. Setelah ibu bersih baru ibu dapat beribadah seperti, sholat, puasa, dan lain-lain, selain sholat dan membaca alquran dalam memenuhi kebutuhan beribadah ibu dapat membaca doa-doa atau membaca ayat-ayat yang dihafalnya,dan ibu juga dapat beristigfar semampunya diharapkan ibu dapat melakukannya secara mandiri tanpa dibimbing suami atau keluarga lainnya. n. Bekerja dengan tata cara yang mengandung prestasi Dalam masa nifas ambulasi dini memang diharuskan untuk ibu, namun penambahan kegiatan dengan early ambulation harus dilakukan dengan perlahan, bekerja dengan tata cara yang mengandung prestasi ini dapat dilakukan dengan kegiatan-kegiatan pekerjaan rumah dan

20

mengasuh anak dan dapat dilakukan sendiri secara perlahan dan berangsur-angsur, jadi bukan berarti ibu harus melakukan segala kegiatan rumah tangga secepat mungkin (Tarwoto : 72) o. Bermain atau terlibat dalam berbagai kegiatan rekreasi Dalam hal kegiatan ini ibu nifas harus sering-sering menyusui bayinya agar tercipta suatu ikatan batin antara ibu dan anak dengan hal ini juga ibu dapat bermain dengan bayinya saat menimang dan menyusui serta melakukan pekerjaan rumah tangga seperti menyapu, mengepel, memasak dan kegiatan lainnya secara berangsur-angsur dan hati-hati (Tarwoto, 2010). p. Belajar mengetahui atau memuaskan atau rasa penasaran yang menuntun pada perkembangan normal dan kesehatan serta menggunakan fasilitas kesehatan yang tersedia. Memanfaatkan suatu benda atau alat-alat yang tersedia merupakan belajar dalam memuaskan rasa penasaran ibu, selain pemanfaatan alatalat medis ibu juga harus belajar bagaimana cara merawat bayi baru lahir seperti perawatan tali pusat dan cara memandikan bayi yang benar, terutama ibu yang baru mempunyai 1 anak dengan mengetahui cara-cara tersebut maka ibu tidak akan jenuh dan tidak akan bosan pada masa perawatan. Dan ibu harus dapat melakukan kegiatan tersebut secara mandiri. Contoh : para ibu mengetahui cara perawatan diri dan cara merawat bayi dengan baik dan benar dan ibu sekurang-kurangnya mengetahui cara-cara penggunaan alat-alat medis seperti incubator, oksigen dll.

21

2.4 ALUR FIKIR

INPUT

PROSES

OUTPUT

Memantau semua pelaksanaan keperawatan mandiri pada ibu nifas fisiologi 1-3 hari. Kemampuan ibu: 1. Tidak Dilakukan 2. Dilakukan Dibantu 3. Dilakukan Sendiri
Pelaksanaan keperawatan mandiri pada ibu nifas fisiologis 1-3 hari: 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. Bernafas dengan normal Makan dan minum Pembuangan eliminasi tubuh Bergerakdan mempertahankan posisi yang nyaman Tidur dan istirahat Memilih pakaian yang nyaman Mempertahankan suhu tubuh dalam kondisi normal dengan memodifikasi linkungan 8. 9. Menjaga kebersihan tubuh dan dan memelihara kesehatan dan lindungi kulit Seksualitas

10. Perawatan payudara 11. Menghindari bahaya dilingkunganya 12. Komunikasi dengan orang lain 13. Beribadah sesuai dengan keyakinan 14. Bekerja dengan tata cara yang mengandung prestasi

22

15. Bermain atau terlibat dalam berbagai kegiatan rekreasi 16. Belajar mengetahui atau memuaskan atau rasa penasaran yang menuntun pada perkembangan normal dan kesehatan serta menggunakan fasilitas kesehatan yang tersedia.

Berdasarkan pada alur fikir diatas, karena populasi penelitian adalah ibu nifas, maka pelaksanaan keperawatan mandiri yang diteliti adalah pelaksanaan keperawatan mandiri pada ibu nifas fisiologi 1-3 hari yang meliputi upaya bernafas dengan normal, makan dan minum yang cukup, eliminasi, mobilisasi, tidur dan istirahat, memilih pakaian yang sesuai, menjaga suhu tubuh tetap dalam batas normal dengan menyesuaikan pakaian dan mengubah lingkungan, menjaga tubuh tetap bersih dan terawat serta melindungi integument, seksualitas, perawatan payudara, menghindari bahaya lingkungan yang bisa melukai, berkomunikasi dengan orang lain dalam mengungkapkan emosi, ibadah sesuai dengan keyakinan, bekerja dengan tata cara yang mengandung prestasi, bermain atau terlibat dalam berbagai kegiatan, belajar mengatahui atau memuaskan rasa penasaran yang menuntun pada perkembangan normal dan kesehatan serta menggunakan fasilitas kesehatan yang tersedia.

23

2.5 Defenisi Operasional Tabel 2.2 Gambaran Pelaksanaan Keperawatan Mandiri (Self Care) Pada Ibu Nifas Fisiologi 1-3 Hari di BPS Wilayah Kerja Puskesmas Lubuk Buaya Padang Tahun 2012.
No 1 Variabel/Sub Variabel Tingkat Pelaksanaan keperawatan mandiri pada ibu nifas fisiologis 1-3 hari dalam hal bernafas dengan normal 2 Tingkat Pelaksanaan keperawatan mandiri pada ibu nifas fisiologis 1-3 hari dalam hal makan dan minum yang cukup 3 Tingkat Pelaksanaan keperawatan mandiri pada ibu nifas fisiologis 1-3 hari dalam hal eliminasi Mengamati pemenuhan kebutuhan dasar ibu nifas fisiologi dalam hal eliminasi Checklist Observasi -Tidak Dilakukan=0 -Dilakukan dibantu 1 -Dilakukan Sendiri 2 Ordinal Mengamati pemenuhan Kebutuhan dasar ibu nifas fisiologi dalam hal makan dan minum dengan cukup Checklist Observasi -Tidak Dilakukan=0 -Dilakukan dibantu 1 -Dilakukan Sendiri 2 Ordinal Definisi Operasional Mengamati pemenuhan kebutuhan dasar ibu nifas fisiologi dalam hal bernafas dengan normal Alat Ukur Checklist Cara Ukur Observasi Hasil Ukur -Tidak Dilakukan=0 -Dilakukan dengan dibantu 1 -Dilakukan Sendiri 2 Skala Ukur Ordinal

24

Tingkat Pelaksanaan keperawatan mandiri pada ibu nifas fisiologis 1-3 hari dalam hal mobilisasi

Mengamati pemenuahan kebutuhan dasar ibu nifas fisiologi dalam hal ambulasi/mobilis asi Mengamati pemenuhan kebutuhan dasar ibu nifas fisiologi dalam hal istirahat dan tidur

Checklist

Observasi

-tidak dilakukan= 0 -Dilakukan dibantu 1 -Dilakukan sendiri 2

Ordinal

Tingkat Pelaksanaan keperawatan mandiri pada ibu nifas fisiologis 1-3 hari dalam hal istirahat dan tidur

Checklist

Observasi

-Tidak Dilakukan=0 -Dilakukan dibantu 1 -Dilakukan sendiri 2

Ordinal

Tingkat Pelaksanaan keperawatan mandiri pada ibu nifas fisiologis 1-3 hari dalam hal memilih pakaian yang sesuai

Mengamati pemenuhan kebutuhan dasar ibu nifas fisiologi dalam hal memilih pakaian yang sesuai seperti bahan pakaian,memaka i pakaian serta melepaskan pakaian

Checklist

Observasi

-Tidak Dilakukan=0 -Dilakukan dibantu 1 -Dilakukan sendiri 2

Ordinal

Tingkat Pelaksanaan keperawatan mandiri pada ibu nifas

Mengamati pemenuhan kebutuhan dasar pada ibu nifas fisiologi dalam

Checklist

Observasi

-Tidak Dilakukan=0 -Dilakukan dibantu 1 -Dilakukan

Ordinal

25

fisiologis 1-3 hari dalam hal menjaga suhu tubuh tetap normal 8 Tingkat Pelaksanaan keperawatan mandiri pada ibu nifas fisiologis 1-3 hari dalam hal menjaga tubuh tetap bersih

hal menjaga suhu tubuh tetap normal

dibantu 2

Mengamati pemenuhan kebutuhan dasar pada ibu nifas fisiologi dalam hal menjaga tubuh tetap bersih dengan memperhatikan kebersihan kulit, rambut, alat genitalia.

Checklist

Observasi

-Tidak Dilakukan=0 -Dilakukan dibantu 1 -Dilakukan sendiri 2

Ordinal

Tingkat Pelaksanaan keperawatan mandiri pada ibu nifas fisiologis 1-3 hari dalam hal kebutuhan seksualitas

Memantau pemenuhan kebutuhan dasar pada ibu nifas fisiologi dalam hal kebutuhan seksualitas, dalam kebutuhan seksualitas tidak harus berhubun gan intim antara suami dan istri, melainkan bisa berupa sentuhan dan belaian yang lembut dari suami atau keluarga lainnya.

Checklist

Observasi

-Tidak Dilakukan=0 -Dilakukan dibantu 1 -Dilakukan sendiri 2

Ordinal

26

10

Tingkat Pelaksanaan keperawatan mandiri pada ibu nifas fisiologis 1-3 hari dalam hal perawatan payudara

Memantau pemenuhan kebutuhan dasar pada ibu nifas fisiologi dalam hal perawatan payudara

Checklist

Observasi

-Tidak Dilakukan = 0 -Dilakukan dibantu 1 -Dilakukan sendiri 2

Ordinal

11

Tingkat Pelaksanaan keperawatan mandiri pada ibu nifas fisiologis 1-3 hari dalam hal menghindari bahaya sekecil apa pun yang akan timbul.

Memantau pemenuhan kebutuhan dasar pada ibu nifas fisiologi dalam hal menghindari bahaya

Checklist

Observasi

-Tidak Dilakukan = 0 -Dilakukan dibantu 1 -Dilakukan sendiri 2

Ordinal

12

Tingkat Pelaksanaan keperawatan mandiri pada ibu nifas fisiologis 1-3 hari dalam hal berkomunikasi dengan orang lain dalam mengungkapk an emosi

Memantau pemenuhan kebutuhan dasar pada ibu nifas fisiologi dalam hal berkomunikasi

checklist

Observasi

-Tidak Dilakukan=0 -Dilakukan dibantu 1 -Dilakukan sendiri 2

Ordinal

27

13

Tingkat Pelaksanaan keperawatan mandiri pada ibu nifas fisiologis 1-3 hari dalam hal beribadah sesuai dengan keyakinan

Memantau pemenuhan kebutuhan dasar pada ibu nifas fisiologis dalam hal beribadah sesuai dengan keyakinan

Checklist

Observasi

-Tidak Dilakukan=0 -Dilakukan dibantu 1 -Dilakukan sendiri 2

Ordinal

14

Tingkat Pelaksanaan keperawatan mandiri pada ibu nifas fisiologis 1-3 hari dalam hal bekerja dengan tat cara yang mengandung presentasi

Memantau pemenuhan kebutuhan dasar pada ibu nifas fisiologis dalam hal bekerja dengan tata cara yang mengandung presentasi seperti melakukan pekerjaan rumah tangga dan mengasuh bayi

Checklist

Observasi

-Tidak Dilakukan=0 -Dilakukan dibantu 1 -Dilakukan sendiri 2

Ordinal

15

Tingkat Pelaksanaan keperawatan mandiri pada ibu nifas fisiologis 1-3 hari dalam hal bermain atau terlibat dalam berbagai kegiatan

Memantau pemenuhan kebutuhan dasar pada ibu nifas fisiologi dalam hal bermain atau terlibat dalam berbagai kegiatan

Checklist

Observasi

-Tidak Dilakukan=0 -Dilakukan dibantu 1 -Dilakukan sendiri 2

Ordinal

28

16

Tingkat Pelaksanaan keperawatan mandiri pada ibu nifas fisiologis 1-3 hari dalam hal belajar mengetahui atau memuaskan rasa penasaran

Memantau pemenuhan kebutuhan dasar pada ibu nifas fisiologis dalam hal belajar mengetahui atau memuaskan rasa penasaran

Checklist

Observasi

-Tidak Dilakukan=0 -Dilakukan dibantu 1 -Dilakukan dibantu 2

Ordinal

29

BAB III METODE PENELITIAN

3.1 Jenis Dan Desain Penelitian Desain penelitian yang digunakan adalah deskriptif yaitu suatu metode yang dilakukan dengan tujuan utama untuk membuat gambaran tentang suatu keadaan secara objektif (Notoadmodjo, 2005). Hasil penelitian ini akan memberi informasi tentang gambaran pelaksanaan keperawatan mandiri pada ibu nifas fisiologis pada ibu post partum 1-3 hari di BPS Wilayah Kerja Puskesmas Gambok Kabupaten Sijunjung Tahun 2013.

3.2 Lokasi dan Waktu Penelitian Penelitian ini telah dilakukan di BPS (Bidan Praktek Swasta) Wilayah Kerja Puskesmas Gambok Kabupaten Sijunjung. Penelitian ini dilakukan pada bulan April sampai dengan bulan Juni Tahun 2012.

3.3 Populasi dan Sampel 3.3.1 Populasi Populasi adalah Keseluruhan objek penelitian atau objek yang diteliti (Notoatmodjo, 2005). Populasi penelitiaan ini adalah seluruh ibu hamil yang mempunyai Taksiran Persalinan (TP) pada bulan April sampai dengan bulan Juni di BPS Wilayah Kerja Puskesmas Lubuk Buaya Padang Tahun 2012. Rata-rata populasi berjumlah 35 orang ibu hamil yang yang mempunyai TP bulan Aprilbulan Juni di 6 BPS Wilayah Kerja Puskesmas Lubuk Buaya Padang tahun 2012.

30

3.3.2 Sampel Sampel adalah sebagian dari keseluruhan objek yang diteliti dan dianggap mewakili seluruh populasi. Dalam menentukan besar sampel dapat digunakan rumus sebagai berikut: ( ) Keterangan : n = Besar sampel N = Besar Populasi D = Tingkat kepercayaan (0,1) (Notoatmodjo, 2005) Jadi sampelnya adalah 26 orang ibu hamil yang mempunyai taksiran persalinan pada bulan April sampai bulan Juni yang terdapat pada kelurahan Lubuk Buaya Padang tahun 2012, dengan instrument pengumpulan data angket dengan cara observasi. Besar sampel untuk setiap BPS didapatkan berdasarkan proporsional dari estimasi rata-rata perbulan dengan rincian sebagai berikut : a. Bidan Laila b. Bidan Eli Fambo = = x 26 = 5.2 = 5 orang

c. Bidan Nofia Alista = d. Bidan Sonya Silvia = e. Bidan Asnimar =

f. Bidan Fitria Hayati =

31

Pengambilan sampel penelitian dilakukan secara quota sampling, dengan kriteria inklusi yaitu, bersedia menjadi responden, bisa baca tulis, responden 1-3 hari post partum. Sedangkan kriteria eksklusi adalah ibu nifas fisiologi, pelaksanaan keperawatan mandiri dalam memenuhi kebutuhan dasarnya selalu dibantu keluarga.

3.4 Pengumpulan Data 3.4.1 Data Primer Data primer adalah data yang didapat secara langsung dari

responden.pengumpulan data dengan cara secara langsung.pengumpulan data dilakukan dengan metode observasi dengan menggunakan checklist. Data primer meliputi Pemenuhan pelaksanaan keperawatan mandiri Pada Ibu Nifas yaitu: Bernafas dengan normal, nutrisi, eliminasi, mobilisasi, tidur dan istirahat, berkostum yang bersih dan nyaman, mempertahankan suhu tubuh, menjaga kebersihan tubuh, seksualitas, perawatan payudara, menghindari bahaya lingkungan, berkomunikasi dengan orang lain, beribadah menurut kepercayaan masing-masing, Bekerja dengan tata cara yang mengandung prestasi, Bermain atau terlibat dalam berbagai kegiatan rekreasi, Belajar mengetahui atau memuaskan atau rasa penasaran yang menuntun pada perkembangan normal dan kesehatan serta menggunakan fasilitas kesehatan yang tersedia.

3.4.2 Data Sekunder Data sekunder adalah data yang diperoleh dari puskesmas Lubuk Buaya Kota Padang yaitu jumlah ibu hamil yang mempunyai taksiran persalinan antara bulan April sampai bulan Juni tahun 2013 sekitar.

32

3.5 Teknik Pengelolaan Data Teknik pengolahan data dilakukan secara manual dan komputerisasi dengan langkah sebagai berikut: a. Pemeriksaan Data Data yang telah dikumpul diperiksa, apakah sudah sesuai dengan tujuan penelitian, memeriksa keragaman data. b. Pemberian Kode Setelah dipastikan kelengkapan data lalu dilakukan pemberian kode atau angka pada setiap jawaban agar memudahkan mengelolah data. c. Memasukkan Data Setelah semua isian format pengumpulan data juga sudah melewati pengkodean, maka langkah selanjutnya adalah memproses data agar data dapat dianalisa. Proses data dilakukan dengan cara memasukkan data menggunakan computer. d. Membersihkan Data Merupakan kegiatan mengecek kembali data yang sudah dientry apakah ada kesalahan atau tidak.

3.6 Analisa Data Data yang digunakan oleh peneliti adalah analisa univariat yaitu analisa pada tiap-tiap variabel atau sub variabel. Analisa dengan statitik deskriptif berupa distribusi frekuensai dan dipresentasekan dengan menggunakan rumus sebagai berikut:

33

P= Keterangan: P = Presentase f = Frekuensi n = Sampel

34