Anda di halaman 1dari 31

SEORANG LAKI-LAKI TUA YANG MENGELUH LETIH, LESU, TAK BERTENAGA

Kelompok 4
03006028 03006034 0300*+,0 0300*+,* 0300803, 03008043 03008+04 03008+05 03008+*, 03008+83 0300824+ 03008242 030082,4 A !!"# $%#&'#m# A%"e( )#m"% No-" El". K'/m#e.# N/%/l H"0#1#' A%" # M# # S"k# # A%12 Ok&#%"# 3#1# 4"&%" A /!%#' 4"&%"."# R#'m# N"2k'ol#. Re0l1 N/ !k1 6"01#.&/&" T"mo&'e# S&ep'# "e T%" M/.&"k#7#&" No%(#%#' I88#&" BT M9 A8m#

4AKULTAS KE9OKTERAN UNI:ERSITAS TRISAKTI

3#k#%&#, +6 9e.em;e% 20+0

BAB I $EN9AHULUAN
Pneumonia usia lanjut mempunyai angka mortalitas mendekati 40%. Tingginya angka mortalitas ini disebabkan oleh penyakit penyerta dan kondisi tertentu seperti diabetes melitus, payah jantung kronik, penyakit vaskuler, penyakit paru obstruksi kronik (PPOK , peminum alkohol dan penyakit!penyakit lainnya. Penyakit!penyakit tersebut di atas umumnya terdapat pada usia lanjut. "enurut gambaran klinik pneumonia dibagi atas typical pneumonia dan atypical pneumonia atau pneumonia yang tidak khas. Typical pneumonia se#ara klinik ditandai dengan demam tinggi, perasaan dingin, nyeri dada dan batuk produkti$, terdapat leukositosis, se#ara radiologis biasanya melibatkan satu %obus. Kuman penyebab yang sering antara lain adalah Streptococcus pneumoniae, Hemophilus influenzae, Klebsiella pneumoniae, Staphylococcus aureus, bakteri aerob gram negati$ dan bakteri aerob. Atypical pneumonia sering tanpa gejala demam, rasa dingin, batuk tidak produkti$, nyeri kepala, mialgia, leukositosis yang tidak terlalu tinggi. &e#ara radiologis didapatkan gambaran

bronkopneumonia.

BAB II LA$ORAN KASUS


Pak 'ndi, () th, mengeluh letih, lesu dan tak bertenaga sejak seminggu. 'da batuk berdahak yang sebenarnya sudah dirasakannya sejak % bulan terakhir. Kadang!kadang ia demam tapi tidak tinggi. &esak na$as mulai dirasakan sejak sepuluh hari terakhir tapi tidak disertai mengi. *yeri dada tidak ada. +erat badannya semakin turun mungkin karena makan dan minumnya memang kurang. Pak 'ndi jarang ke dokter karena selama ini ia merasa sehat!sehat saja. ,a hanya kha-atir terserang stroke seperti ayahnya yang seingatnya menderita ken#ing manis dan darah tinggi. Pada pemeriksaan $isik a-al didapatkan . kira!kira berumur tujuh puluh tahunan, tampak sakit sedang, gi/i kurang, tinggi badan %(4 #m, berat badan 40 kg, tekanan darah %(0120 mmhg, suhu 34,) 5, pernapasan 6471mnt, nadi %0071mnt, teratur. Tidak tampak kelainan pada kulit. Kelenjar getah bening leher dan kelenjar tiroid tidak membesar. +unyi jantung , dan ,, normal, tidak ada +8 tambahan, irama teratur, tidak terdengar bising maupun bunyi gesek peri#ardial. Pada perkusi paru!paru didapatkan bunyi sonor, pada auskultasi terdengar ronki basah halus di bagian basal, nyaring. 9inding abdomen lemas, nyeri tekan tidak ada, bising usus dalam batas normal. :epar teraba satu jari b.a.#, tumpul, tidak nyeri tekan. ;ien tak teraba. 'sites tidak ada. Keempat ekstremitas tidak paresis atau plegia. Tidak ada edema. Tidak ada pembengkakan pada sendi. Pada pemeriksaan laboratorium sementara baru didapatkan hasil . :b %0 g%, lekosit 20001mm3, hematokrit 62%, trombosit 64(.0001mm3, gula darah se-aktu 6)4 mg1dl Pada anamnesis lanjutan diketahui bah-a Pak 'ndi pernah mengeluarkan dahak ber#ampur darah. &elama ini Pak 'ndi mengobati batuknya dengan obat!obat -arung saja tapi batuknya tidak berkurang. Pak 'ndi dulunya adalah seorang perokok berat. Pak 'ndi tidak pernah menderita asma.

9ari hasil pemeriksaan laboratorium kemudian didapat . :b',5 ),0%, laju endap darah % jam pertama 2( mm, &<OT )2, &<PT %%), =reum (0 mg1dl, kreatinin 6,30 mg1dl, asam urat 2,6 mg1dl, kolestrol total 640 mg1dl, trigliserida 630 mg1dl, albumin 6,( g1dl, Kalium 6,) me>1dl, *atrium %30 me>1dl =rin . protein ?6, glukosa ?6, keton ?%, sedimen lekosit %0!%01;P+ 5@A . tampak in$iltrat pada kedua lapang paru dengan gambaran bronkiektasia di paru kanan, Kedua sinus lan#ip, 5TA ()%.

BAB III $EMBAHASAN


I (o%m#." K#./. I0e &"&#. $#."e *ama . +apak 'ndi

8enis Kelamin . ;aki!laki =mur A #m e.". Keluhan utama . ;etih lesu tak bertenaga sejak seminggu. . () thn

Keluhan Tambahan. +atuk berdahak sejak % bulan terakhir 9emam tapi tidak tinggi &esak na$as sejak %0 hari terakhir +erat badannya semakin turun. "akan dan minum kurang Pernah mengeluarkan dahak ber#ampur darah

A #m e.". &#m;#'# < +agaimana -arna sputumB 8umlahnya sedikit atau banyakB 'pakah sputum berbau busukB Konsistensi sputum mukoid atau purulenB

+agaimana lingkungan sekitar tempat tinggal pasienB 'pakah demam disertai dengan keringat malamB 'pakah mempunyai ri-ayat penyakit lainB 'pa saja obat yang telah dikonsumsi sebelumnyaB +agaimana pola makan pasienB +agaimana pola +'K C +'+B

Ai-ayat Penyakit &ekarang . ! ;etih lesu tak bertenaga sejak seminggu ! +atuk berdahak sejak % bulan terakhir ! 9emam tapi tidak tinggi ! &esak na$as sejak %0 hari terakhir ! +erat badannya semakin turun. ! "akan dan minum kurang Ai-ayat Penyakit 9ahulu . Pernah mengeluarkan dahak ber#ampur darah Ai-ayat Kebiasaan Ai-ayat keluarga . ! dahulu adalah seorang perokok berat. . ! ayah pasien penderita hipertensi dan diabetes mellitus serta pernah terserang stroke. Ai-ayat Pengobatan . Pak 'ndi mengobati batuknya dengan obat!obatan -arung tapi tidak berkurang.

$eme%"k.## 4"."k

9ata 'ntropometri T+ . %(4 #m , ++ D 40 kg +", . %(,4 (++ EE, *D%),0!66,2

Keadaan =mum Tampak sakit sedang, gi/i kurang, kira!kira berumur tujuh puluhan. Tanda Fital T9 :A AA . %(0120 :ipertensi stage ,, 8*5 F,, . %007 1m, teratur *ormal . 647 1menit Ta#hypnoe

&uhu . 34,)G5 &ub$ebris &tatus <eneralisata "ata ;eher Thora7 . . . ! Kelenjar getah bening dan kelenjar tiroid tidak membesar 8antung . ! +8 , dan ,, *ormal ! Tidak ada +unyi 8antung tambahan ! ,rama Teratur ! +ising (! , bunyi gesek peri#ardial (! Paru . ! Pada perkusi didapatkan bunyi sonor ! Aonki basah halus di bagian basal, nyaring.

'bdomen .

9inding abdomen lemas, nyeri tekan tidak ada, 's#ites (! =sus . bising dalam batas normal.

:epar . teraba % jari b.a.#., tumpul, tidak nyeri tekan. ;ien H7tremitas . . tidak teraba.

edema !1! Paresis1plegia !1! Pembengkakan sendi !1

$eme%"k.## L#;o%#&o%"/m :#%"#;el N"l#" No%m#l H#."l $eme%"k.## 9'A': . :emoglobin ;ekosit :ematokrit Trombosit &<OT &<PT <9& =reum Kreatinin :b'%5 ;H9 'sam urat %3!%( g1dl 0000!%0000 1mmI 40!4)% %00.000!400.0001mmI 0!40 u1; 0!4% u1; E%40 mg1dl %0!40 mg1dl 0,0!%,0 mg1dl 4!(,4% E %0 mm1jam 6,4 L 0,4 mg1dl %0 g% 20001mmI 62% 64(.0001mmI )2 u1; %%) u1; 6)4 mg1dl (0 mg1dl 6,30 mg1dl ),0% 2( mm1jam 2,6 mg1dl 'nemia * J * K K K K K K K K I &e%p%e&#."

Kolesterol total Trigliserida 'lbumin Kalium *atrium =A,* . Protein <lukosa Keton &edimen ;eukosit

E 600 mg1dl %60!%20 mg1dl 3,) ! 0,0g1dl 3,0 L 0,0 me>1dl %30!%40 me>1dl

640 mg1dl 630 mg1dl 6,( g1dl 6,) me>1dl %30 me>1dl

K K J J J

! !

?6 ?6 ?%

kemungkinan $ungsi ginjal menurun &uspek 9" K, menandakan adanya in$eksi saluran kemih

0!31;P+

%0!%01;P+

Pemeriksaan Penunjang Aontgen dada .

! 5TA D ()% kardiomegali (*D M00% ! Pada kedua lapangan paru tampak in$iltrate dengan gambaran bronkiektasis di paru kanan menandakan in$eksi kronis ! Kedua sinus lan#ip (normal 4#k&o% %"."ko p#."e < ! ! =sia () tahun Ai-ayat perokok berat

$e%m#.#l#'# p#0# p#."e <

M#.#l#' ;esu tak bertenaga

9#.#% M#.#l#' Keluhan Pasien ! 9" ! 'nemia

H"po&e.".

! kurangnya oksigen &esak na$as +atuk berdahak 'nemia Keluhan pasien Keluhan pasien :b . %0,0 mg% ! ,n$eksi Paru ! ,n$eksi Paru ! gangguan $ungsi ginjal ! kurang intake makanan :iperglikemi <9& . 6)4 mg1dl :b'%5 ),0 % Ai-ayat keluarga 9" <lukosuria Kolestrol total 640 mg1dl Trigliserida 630 mg1dl Ketonuria +", E60 (%(,4 :ipertensi Tekanan mm:g. <i/i kurang +", . %(,4 Pemeriksaan $isik (inspeksi Aonki basah halus di bagian 'uskultasi paru basal, nyaring :epar teraba % jari b.a.#., Palpasi abdomen tumpul ,n$eksi &aluran kemih <angguan $ungsi ginjal ;ekosit %0!%01 ;P+ =reum (0 mg1dl Prostatitis, Pielone$ritis 9iabetik ne$ropati ! :epatomegali darah %(0120 ! ri-ayat merokok ! keturunan ! 9iabetes "elitus ! 'nore7ia ! ,n$eksi Paru ! 9" yang tidak terkontrol

Kreatinin 6, 30 mg1dl Proteinuria (?6 'sam urat tinggi (2,6 'nemia (:b . %0 9islipidemia Kolesterol total 640 mg1dl Trigliserida 630 mg1dl <angguan paru Aon#hi basah halus di basal, +ronkopneumoni, nyaring bronkiektasis, 5a +atuk berdahak ber#ampur darah PPOK Ao terdapat in$iltrat kedua paru, gambaran bronkiektasis paru kanan Perokok berat &esak na$as Takipnoe (6471mnt <angguan hepar &<OT C &<PT meningkat :epatomegali Pada palpasi teraba tumpul 'lbumin (hipoalbuminemia Kardiomegali menurun :ipertro$i ventrikel kiri e# hipertensi Perlemakan alkoholik e# 9" hati non 9iabetes "elitus

Paru,

5TA ()% ( 5ardiomegaly :ipertensi stage 6 9islipidemia

Kelainan elektrolit

Kalium dan *atrium turun

9ehidrasi Penurunan $ungsi ginjal

Pembahasan masalah . %. ;etih lesu tak bertenaga yang didapatkan pada pasien dapat disebabkan oleh N

a. 9iabetes "elitus. Kekurangan insulin pada diabetes mellitus mengakibatkan berkurangnya pembakaran glukosa di otot1jaringan. Hnergi yang seharusnya diperoleh dari pembakaran glukosa tidak terpenuhi sehingga timbul kelelahan. b. 'nemia Kadar hemoglobin yang rendah pada pasien mengakibatkan kurangnya transport oksigen ke jaringan, sedangkan oksigen dibutuhkan pada proses fosforilasi oksidatif untuk menghasilkan energy. #. Kekurangan Oksigen akibat penyakit parenkim paru. 6. &esak na$as &esak na$as yang terjadi pada pasien ini dapat diakibatkan oleh . a. Penyakit paru. Timbul dan beratnya sesak na$as tergantung pada seberapa luas bronkitis kronis yang terjadi serta seberapa jauh kolaps paru dan destruksi jaringan paru yang terjadi sebagai akibat in$eksi berulang (,&P' . Pada pasien ini kemungkinan karena anemia sehingga mengakibatkan sirkulasi oksigen terganggu. b. <agal jantung kiri. 9ispnea dirangsang oleh distensi kapiler, meningkatnya rigiditas paru, terganggunya pertukaran udara akibat udema interstitial, alveoli, dan bronkus. Pada pasien ditemukan tekanan darah yang tinggi disertai kardiomegali. Kami men#urigai adanya gagal jantung kiri.

&esak na$as pada gagal jantung kiri diakibatkan oleh tekanan dalam kapiler tinggi yang disebabkan oleh meningkatnya tekanan ventrikel kiri dan atrium kiri. Penderita dengan gagal jantung kiri menunjukkan ventilasi yang restrikti$, menurunnya kapasitas vital paru sebagai konsekuensi terdesaknya udara di dalam alveoli oleh #airan interstitial atau darah (pe#ahnya kapiler atau keduanya, akibatnya paru menjadi kaku (rigid dan #omplian#e menurun. Kapiler paru baik dari bron#hial maupun alveoli bermuara pada v. pulmonalis, akibatnya pada tekanan v. pulmonalis yang tinggi terjadi kongesti baik di kapiler alveoli maupun kapiler bronkus. &elanjutnya terjadi udema pada mukosa bron#hial, bahkan pe#ahnya kapiler menyebabkan batuk produkti$ dan mungkin hemoptosis. 3. +atuk berdahak +atuk produkti$ berlangsung kronik dan $rekuen, jumlah sputum bervariasi umumnya jumlahnya banyak terutama pagi hari setelah adanya perubahan posisi tidur atau bangun dari tidur. &putum bisa mukoid, purulen, dapat memberikan bau tidak sedap. Pada kasus yang sudah berat, misalnya pada sa##ular bronkiektasis, sputum jumlahnya banyak sekali, purulen dan apabila ditampung beberapa lama tampak terpisah menjadi 3 lapisanN a. ;apisan atas agak keruh terdiri atas mukus, b. ;apisan tengah jernih, terdiri atas saliva #. ;apisan terba-ah keruh, terdiri atas nanah dan jaringan nekrotik dari bronkus yang rusak (#ellular debris . 4. 'nemia 'nemia pada pasien mungkin disebabkan oleh penyakit ginjal kronik. Penyakit ginjal pada pasien menyebabkan penurunan $ungsi ginjal termasuk dalam hal produksi eritropoetin. Hritropoetin merupakan hormon yang ber$ungsi dalam pembentukan

eritosit. Penurunan eritropoetin menyebabkan berkurangnya produksi eritrosit sehingga kadar hemoglobin juga akan menurun. 0. :iperglikemia <ula darah pasien 6)4 mg1dl menandakan pasien menderita diabetes mellitus. Pemeriksaan :b'%5 ),0% menandakan bah-a kondisi hiperglikemia pada pasien sudah berlangsung lama. Pasien tergolong 9iabetes "elitus dengan pengendalian buruk, ditinjau dari nilai :b'%5 ),0% (O)% , kolesterol total 640 mg1dl (O640 mg1dl , +", %(,4 (M%),0 . (. :ipertensi Tekanan darah pasien %(0120 mm:g tergolong :ipertensi &tage ,, menurut 8*5 F,, (6003 dan P:O!,&: %222. Ai-ayat kebiasaan merokok pada pasien ini turut berperan dalam hipertensi. 9itambah lagi dengan ri-ayat ayah pasien yang merupakan penderita hipertensi. 4. <i/i kurang +", yang diba-ah normal pada pasien ini mungkin disebabkan oleh . %. 'noreksia +erdasarkan anamnesis didapatkan makan dan minum pasien kurang, hal ini dapat menyebabkan pasien kekurangan kalori yang didapat dari makanan sehingga terjadi peme#ahan #adangan lemak sehingga berat badan pasien turun. 6. 9iabetes mellitus Pada diabetes mellitus, pembentukan /at asam lemak berkurang sedang peme#ahan /at lemak meningkat. Hnergi yang seharusnya didapatkan dari

pembakaran glukosa tidak terpenuhi sehingga akan meningkatkan peme#ahan /at lemak (lipolisis dari jaringan adiposa, sehingga berat badan pasien akan menurun. ). Aonki basah halus di bagian basal, nyaring. Aonki basah pada pasien diakibatkan adanya in$iltrate pada paru seperti yang terlihat pada gambaran $oto thora7. 2. :epatomegali C gangguang $ungsi hepar Pada pasien didapatkan hepar teraba % jari di b.a.#. "enurut kelompok kami, hal ini dapat dikarenakan kondisi tubuh pasien yang kurus ataupun karena adanya hepatomegali akibat kelainan hati. &elain karena hepatomegali, kami men#urigai adanya kelainan hati dari hepar yang teraba tumpul serta kenaikan nilai &<OT dan &<PT yang didapatkan pada pasien. Kami men#urigai adanya perlemakan hati non! alkoholik pada pasien mengingat adanya $aktor resiko 9iabetes "elitus serta hipertrigliseridemia. Pada diabetes mellitus terjadi peningkatan suplai asam lemak ke hati. :al ini men#etuskan terjadinya perlemakan hati non!alkoholik sesuai dengan the two hit theory yang dikemukakan oleh 9ay and 8ames (,P9 jilid , Hdisi ,F hal 4(6 . %. Hit pertama terjadi akibat peningkatan asam lemak ke hati yang disebabkan berbagai keadaan, seperti dislipidemia, diabetes mellitus, dan obesitas. 'sam lemak bebas di dalam hati akan mengalami metabolisme lebih lanjut menjadi trigliserida atau digunakan untuk pembentukan lemak lainnya. :al ini menyebabkan penumpukan lemak di hepatosit. 6. Hit kedua, bertambahnya asam lemak di hati akan menimbulkan peningkatan oksidasi dan esteri$ikasi lemak. Proses ini akan menyebabkan peningkatan stress oksidati$. Ketika stress oksidati$ yang terjadi di hati melebihi kemampuan perla-anan anti oksidan, maka aktivasi sel stelata dan sitokin pro!in$lamasi akan berlanjut dengan in$lamasi progresi$, pembengkakan hepatosit dan kematian sel, pembentukan badan Mallory, serta $ibrosis. %0. ,n$eksi saluran kemih

Pasien menderita 9" , dan juga didukung oleh $aktor umur ( lansia sehingga mengakibatkan sistem imun menurun, yang dapat mengakibatkan penurunan $ungsi ginjal sehingga glukosa yang seharusnya direabsorpsi malah diekskresi sehingga terjadi glukosuria, dan didukung oleh kurangnya gi/i pasien yang mengakibatkan rentannya terkena in$eksi saluran kemih dan pada hasil laboratorium menunjukan adanya lekosit yang tinggi. Pasien %%. 9islipidemia Pasien menderita 9iabetes "ellitus sehingga tidak dapat menggunakan glukosa sebagai sumber energi, sehingga terjadi peme#ahan jaringan adiposa (lipolisis . ;ipolisis oleh lipoprotein lipase akan menghasilkan free fatty acid dan gliserol. <liserol kemudian diba-a ke hepar lalu melalui proses glukoneogenesis. &edangkan free fatty acid mengalami beta!oksidasi menjadi '#etyl!5o' yang kemudian oleh citrate synthase diubah menjadi sitrat dan ikut dalam siklus asam sitrat. *amun, kadar free fatty acid yang meningkat pada 9" menghambat kerja citrate synthase sehingga terjadi penumpukan '#etyl!5o', yang akhirnya akan diubah menjadi . %. 5holesterol, sehingga akan terjadi peningkatan kadar kolesterol total seperti yang didapatkan pada pasien ini. 6. Keton, yang akan diekskresi melalui urine (seperti yang didapatkan pada pasien dan juga dalam bentuk aseton oleh paru. 3. Free fatty acid melalui proses sintesis de *ovo. Free fatty acid yang meningkat akan diubah menjadi trigliserida, sehingga akan didapatkan peningkatan kadar trigliserida seperti pada paasien. %6. <angguan paru Terjadinya pneumonia berhubungan dengan jumlah bakteri yang teraspirasi, penurunan daya tahan tubuh pejamu dan virulensi koloni bakteri di oro$aring. Pada penderita pneumonia usia lanjut yang berada di rumah, umumnya terdapat

peningkatan koloni gram negati$. "ekanisme tersebut dihubungkan dengan pemakaian antibiotik serta tubuh yang lemah dengan adanya penyakit kronik. Turunnya daya tahan tubuh dihubungkan juga dengan imunitas humoral dan imunitas seluler, malnutrisi, perokok berat dan penyakit sistemik pada pasien ini yaitu 9". %3. Kardiomegali Kardiomegali pada pasien dapat disebabkan akibat hipertro$i ventrikel kiri. :ipertro$i ventrikel kiri merupakan reaksi1respon terhadap kenaikan afterload (systemic vascular resistence yang tinggi . "ula!mula merupakan hal yang bersi$at protekti$, tetapi kemudian dapat menunjukkan dis$ungsi ventrikel kiri. ;F: sering didapatkan pada hipertensi. attern daripada ;F: tergantung dari tipe beban. Pada pasien ini terdapat hipertensi yang menyebabkan kelebihan beban tekanan (pressure overload berakibat hipertro$i miokard tidak disertai bertambahnya kapasitas volume ;F dinamakan concentric hypertrophy, penyebab dis$ungsi diastoli# dimana $ungsi relaksasi ;F menurun dan dapat terjadi gagal jantung diastolik. %4. <angguan $ungsi ginjal Kenaikan kadar ureum dan kreatinin plasma serta adanya proteinuria pada pasien menunjukkan adanya kelainan $ungsi ginjal. &elain itu berdasarkan rumus Ko#k#ro$t! <ault didapatkan ;Q< pasien telah menurun. Kami men#urigai adanya penyakit ginjal diabetik yang sudah berlangsung kronis pada pasien ini yang menyebabkan penurunan $ungsi ginjal dalam hal ekskresi dan konversi natrium, yang menyebabkan hiperuri#emia dan hiponatremi pada pasien.

Pato$isiologi . Aentan in$eksi (bronkopneumoni

DM + Lansia

(&istem imun menurun &istem imun menurun

<injal <lukosuria Aentan in$eksi (,&K

:iperlipidemia <g.8antung (kardiomegali :ipertensi stage 6

:iperglikemi :epatomegali ;ipolisis me masa lemak EE ++ menurun Ai-.obat

9"#! o.". < +ronkiektasis e.# bronkopneumoni 'tas dasar . =sia lanjut, adanya in$eksi kronis, +atuk berdahak sejak % bulan terakhir, 9emam yang rekuren, &esak na$as (9ispnoe sejak %0 hari terakhir, +erat badannya semakin turun, :emopthisis, Aonki basah halus di bagian basal, <ambaran bronkiektasis pada $oto Ao. $e #&#l#k.# ### < +ronkiektasis . ! Aa-at inap !"en#iptakan lingkungan yang baik bagi pasien . men#egah1 menghentikan rokok, menghindari debu1asap !9rainase postural (untuk mengeluarkan sputum dengan bantuan gravitasi, agar pasien lebih mudah berna$as

! Oksigenasi ! Qisioterapi (tirah baring, posisi berrubah!ubah agar tidak terjadi dekubitus 9" . *on $armakologi . %. Aehidrasi 6. Oksigenasi 3. Terapi gi/i medis Prinsipnya adalah melakukan pengaturan pola makan yang didasarkan pada status gi/i pasien dan melakukan modi$ikasi diet berdasarkan kebutuhan individual. Tujuan dari terapi gi/i medis adalah untuk men#apai dan mempertahankan . i. Kadar glukosa darah mendekati normal ! ! ! ii. iii. <lukosa puasa berkisar 20!%30 mg1dl <lukosa darah 6 jam setelah makan E %)0 mg1dl Kadar :b'%5 E 4%

Tekanan darah M %301)0 mm:g Pro$il lipid . Kolesterol ;9; E %00 mg1dl

Kolesterol :9; R 40 mg1dl Trigliserida E %00 mg1dl iv. +erat badan senormal mungkin

4. ;atihan jasmani

Prinsip latihan jasmani memenuhi beberapa hal, seperti . ! ! ! ! Qrekuensi . dilakukan se#ara teratur 3!0 kali per minggu ,ntensitas . ringan dan sedang ((0!40% ma!imum heart rate 9urasi . 30!(0 menit 8enis . latihan jasmani endurans (aerobi# untuk meningkatkan kemampuan kardiorespirasi seperti, jalan, "o##in#, berenang, bersepeda. Qarmakologik . "et$ormin meningkatkan kerja insulin pada sel hati dan menurunkan produksi glukosa hati. 9idapatkan perbaikan konsentrasi rata!rata &<PT, peningkatan sensiti$itas insulin, dan penurunan volume hati pada pasien yang mendapat terapi met$ormin 3 @ 000 mg1hari selama 4 bulan. &itagliptin terikat protein plasma hanya 3)% <em$ibro/il menunjukkan ';T dan konsentrasi lipid setelah pemberian % bulan. :ipertensi . Falsartan 40 mg 2x sehari. Target pencapaian tekanan darah 130/80. +ronkopneumoni . Pemberian antibiotik Pemeriksaan tambahan . %. Hvaluasi hipertensi 'namnesis . ! lamanya menderita hipertensi

! keluhan dari P8K, gagal jantung, penyakit serebro vaskular, penyakit vaskular peri$er. ! analisis diet penderita, konsumsi garam, alkohol, kokain, saturated fatty acid (&Q' ! obat!obat yang diminum saat ini yang mungkin mempunyai akibat kenaikan tekanan darah atau mengurangi e$ek obat anti hipertensi. ! :asil dan e$ek samping obat anti hipertensi yang pernah diminum. Pemeriksaan $isik . ! ! pemeriksaan leher . struma, 8FP, thrill dan bruit pada '. 5arotis. Pemeriksaan jantung . menentukan i#tus #ordis. ,#tus #ordis yang melebar dan bergeser ke lateral dan kaudal mengindikasikan ;F:. ! Pemeriksaan Hkokardiogra$i untuk melihat ;F:

6. Perlemakan hati non!alkoholik ! ultrasonogra$i, in$iltrasi lemak di hati akan meningkatkan di$us ekogenisitas (hiperekoik, bri#ht liver bila dibandingkan dengan ginjal. 3. Pneumonia ! ! Pemeriksaan sputum ( utk men#ari kuman +T' L&uspek Tb Tes tuberkulinS&uspek Tb

$%o! o.".< 'd vitam . dubia ad malam

'd $un#tionam 'd &anationam

. dubia ad malam . dubia ad malam

BAB I: TIN3AUAN $USTAKA


Penyakit yang menyebabkan kerusakan parenkim paru . PPOK Hm$isema 5a Paru Pneumonia I (ek." S#l/%# Kem"' ,n$eksi saluran kemih merupakan in$eksi yang melibatkan struktur mulai tempat dibentuknya urin (glomerulus sampai dengan muara saluran urin di meatus uretra eksterna dengan didapatkannya mikroorganisme di urin yang disertai gejala sebagai tanda adanya in$eksi. ,stilah bakteriuria sering pula digunakan karena diketahui bah-a sebagian besar (20% penyebab ,&K adalah bakteri. Terdapatnya mikroorganisme di urin merupakan syarat untuk

diagnosis ,&K. 9i satu sisi pada penderita geriatri sering terjadi gejala yang mengarah kepada ,&K namun pemeriksaan bakteriologik urin tidak menunjang. 9i sisi lain pada pemeriksaan urin sering ditemukan lekosituria yang banyak tanpa gejala ,&K yang khas. Qaktor Predisposisi &elain menurunnya status imunitas dan diabetes yang la/im meningkatkan risiko ,&K se#ara umum, pada penderita geriatri juga terdapat beberapa keadaan yang meningkatkan risiko untuk kejadian ,&K. Perempuan usia lanjut tetap mempunyai risiko lebih tinggi daripada laki!laki untuk menderita ,&K. 9emikian pula -arga usia lanjut yang tinggal di panti biasanya lebih mudah menderita ,&K daripada mereka yang masih mampu tinggal di tengah!tengah masyarakat. "ereka dengan status gi/i kurang memiliki risiko ,&K sebanyak )!%6 kali lebih tinggi dibandingkan mereka dengan status gi/i normal. <angguan $aal kogniti$ seperti demensia (terutama demensia sedang sampai berat akan mengakibatkan usaha pera-atan diri sendiri terganggu. Kemampuan untuk mandi dengan bersih, membersihkan daerah genitalia tidak dapat dilakukan se#ara mandiri. +isa terjadi seorang penderita geriatri dengan demensia berat menjadi lupa mandi atau lupa membersihkan genitalia sesudah de$ekasi sehingga area perineum terpajan dengan bakteri lebih lama. 9epresi yang juga sering terdapat pada penderita geriatri mempunyai gejala antara lain kehilangan minat, keengganan untuk mera-at diri, termasuk membersihkan area genitalia. Keadaan itu menyebabkan meningkatnya kemungkinan ,&K pada penderita geriatri dengan gangguan mood. <angguan menurunnya minat dapat berdampak pada menurunnya asupan makan, sehingga status nutrisi menurun akibat menurunnya daya tahan tubuh.

Prostatitis kronis merupakan $aktor predisposisi tersering pada penderita usia lanjut laki!laki. +atu saluran kemih juga merupakan $aktor risko yang harus dipertimbangkan terutama jika terjadi ,&K berulang. <ejala dan tanda ,&K "enurunnya na$su makan hampir selalu menjadi gejala a-al berbagai jenis in$eksi pada penderita geriatri termasuk ,&K. Penurunan na$su makan tersebut sayangnya sering dianggap sebagai sesuatu hal yang biasa pada -arga usia lanjut sehingga keluarga tidak begitu mempermasalahkannya. Perlu di-aspadai bah-a perubahan na$su makan tidak saja berperan sebagai tanda a-al adanya penyakit yang serius, namun juga merupakan kondisi yang menurunkan status gi/i dan kekebalan seseorang, apalagi pada usia lanjut. 8ika keadaan dibiarkan maka keadaan umum penderita akan semakin lemah dan penderita #enderung lebih banyak berbaring. Kondisi kelemahan tubuh akan menurunkan status $ungsionalnya, sehingga penderita #enderung immobile. Kondisi tersebut mempunyai berbagai dampak yang sangat luas. Penurunan status $ungsional yang berujung pada tirah baring lama sering mengakibatkan inkontinensia urin. 8ika penderita menggunakan popok dan tidak kerap diganti dengan yang bersih dan kering, maka daerah genitalia akan terus menerus menjadi area yang sangat baik untuk berkembang biaknya bakteri penyebab ,&K. ,nkontinensia urin sendiri sering merupakan gejala ,&K pada penderita geriatri. Kondisi lebih jauh adalah mun#ulnya gejala perubahan kesadaran, delirium atau perubahan perilaku yang sering disalah!ta$sirkan oleh keluarga dan tenaga kesehatan sebagai perubahan kepribadian atau stroke. &indrom delirium yang sesungguhnya sedang terjadi itu juga merupakan salah satu bentuk gejala yang mun#ul pada ,&K. Penderita boleh jadi menjadi hipoakti$, hiperakti$, pola tidurnya berubah, atau $aal kogniti$nya menurun.

Penatalaksanaan pe%"k.# o;#& 1# 1####, Penatalaksanaan selalu terdiri atas dua modalitas yakni yang non$armakologik dan $armakologik.Program nutrisi yang adekuat juga merupakan bagian dari terapi yang tidak terpisahkan. Tahap demi tahap asupan makanan dan #airan yang menuju optimal harus dikerjakan sesuai kemampuan penderita. 8ika penderita dira-at inap maka program aktivitas harus diran#ang agar penderita tidak mengalami imobilisasi terlalu lama. Terapi $armakologik yang dianjurkan se#ara empiris disesuaikan dengan pola kuman yang ada di setiap tempat. &e#ara umum trimetoprim!sul$ametoksasol masih dapat dibenarkan. <olongan beta!laktam dan se$alosporin juga masih #ukup e$ekti$, namun akhir! akhir ini sudah mulai terdapat ke#enderungan resistensi. &aat ini golongan kuinolon merupakan terapi pilihan se#ara empiris yang bisa diberikan kepada penderita baik yang berobat jalan maupun ra-at inap. ;ama pengobatan minimal tujuh hari. Pada keadaan yang lebih berat atau dengan penyulit sebaiknya diberikan selama %4 hari. Penderita geriatri laki! laki se#ara umum mendapat terapi antibiotik selama %4 hari. Karena penderita geriatri biasanya mempunyai komorbiditas yang multipel maka pemberian obat harus hati!hati dan mempertimbangkan prioritas peme#ahan masalah. Pemberian obat pada ,&K penderita geriatri menga#u kepada prinsip pemberian obat pada usia lanjut umumnya dengan memperhitungkan kelarutan obat, perubahan komposisi tubuh, status nutrisi (kadar albumin , dan e$ek samping obat (mual, gangguan $aal ginjal . Pada penderita ra-at inap atau disertai penyulit, in$eksi pada saluran kemih bagian atas, in$eksi berulang, atau penderita dalam penggunaan kateter, harus dilakukan pemeriksaan untuk memantau $aal ginjal se#ara berkala. B%o kop e/mo " $e%"k.# o;#& 1# 1##

Pneumonia usia lanjut mempunyai angka mortalitas mendekati 40%. Tingginya angka mortalitas ini disebabkan oleh penyakit penyerta dan kondisi tertentu seperti diabetes melitus, payah jantung kronik, penyakit vaskuler, penyakit paru obstruksi kronik (PPOK , peminum alkohol dan penyakit!penyakit lainnya. Penyakit!penyakit tersebut di atas umumnya terdapat pada usia lanjut. Klasi$ikasi "enurut gambaran klinik pneumonia dibagi atas typical pneumonia dan atypical pneumonia atau pneumonia yang tidak khas. Typical pneumonia se#ara klinik ditandai dengan demam tinggi, perasaan dingin, nyeri dada dan batuk produkti$, terdapat leukositosis, se#ara radiologis biasanya melibatkan satu %obus. Kuman penyebab yang sering antara lain adalah Streptococcus pneumoniae, Hemophilus influenzae, Klebsiella pneumoniae, Staph ylococcus aureus, bakteri aerob gram negati$ dan bakteri aerob. Atypical pneumonia sering tanpa gejala demam, rasa dingin, batuk tidak produkti$, nyeri kepala, mialgia, leukositosis yang tidak terlalu tinggi. &e#ara radiologis didapatkan gambaran bronkopneumonia. Klasi$ikasi lain dan pneumonia adalah menurut tempat asal in$eksiN dibagi atas. ! $ommunity ac%uired pneumonia yaitu pneumonia yang didapat dalam masyarakat. ! Hospital ac%uired (nosokomial yaitu pneumonia yang didapat di rumah sakit +erdasarkan etiologi, pneumonia dapat dibagi atas. ! Pneumonia bakteri ! Pneumonia virus ! Pneumonia mikoplasma ! Pneumonia riketsia Pada pneumonia bakteri, kuman penyebab yang sering antara lain Streptococcus pneumonia dan Staphylococcus pyo#enes Patogenesis

Terjadinya pneumonia berhubungan dengan jumlah bakteri yang teraspirasi, penurunan daya tahan tubuh pejamu dan virulensi koloni bakteri di oro$aring. Pada penderita pneumonia usia lanjut yang berada di rumah, umumnya terdapat peningkatan koloni gram negati$. "ekanisme tersebut dihubungkan dengan pemakaian antibiotik serta tubuh yang lemah dengan adanya penyakit kronik. &e#ara kuantitati$ aspirasi bakteri dan oro$aring mungkin akan meningkat pada penderita dengan penurunan kesadaran seperti penyakit degenerati$, kelainan eso$agus, 5F9, trakeostomi, pemasangan pipa lambung, dan pemakaian obat!obatan seperti sedati$. Turunnya daya tahan tubuh dihubungkan juga dengan imunitas humoral dan imunitas seluler, malnutrisi, perokok berat dan penyakit sistemik. Qaktor predisposisi pneumonia adalah penggunaan pipa endotrakeal, pemakaian nebuhaler, adanya super in$eksi dan malnutrisi. :ampir sebagian besar (00%(0% pneumonia yang di dapat di rumah sakit disebabkan oleh hasil aerob gram negati$, dapat juga disebabkan oleh Streptococcus aureus, Hemophillus influenzae 9iagnosis Tidak didapatkan demam pada 60% pneumonia usia lanjut dan dapat tanpa disertai batuk produkti$ dan perasaan dingin. Pada pemeriksaan $isik, tanda klasik seperti perkusi yang redup, suara napas bronkial, ronki basah tidak selalu dijumpai. Qrekuensi pernapasan 64 kali per menit #ukup bermakna pada penderita pneumonia usia lanjut. Pneumonia usia lanjut dapat bersama sama syok septik yang memberi gejala letargi, anoreksi, dan perubahan mental. Pada sebagian besar penderita didapatkan leukosit yang normal atau sedikit meninggi, kadang!kadang didapatkan leukositosis. 9apat terjadi peningkatan ureum, kreatinin dan glukosa, terdapat juga hiponatremi atau hipernatremi, hipo$os$atemiN dapat terjadi hipoksemi yang disebabkan in$eksi akut dan dapat disertai payah jantung, PPOK atau keduanya. Pada pneumonia usia lanjut diagnosis

radiologik ditegakkan bila didapatkan gambaran in$iltrat baru. Tetapi kadang!kadang sulit menilai gambaran radiologik terutama jika didapatkan keadaan dehidrasi. &ering kali in$iltrat belum terlihat pada 64!4) jam setelah pera-atan. <ambaran radiologi kadang!kadang masih tampak normal pada pneumonia dini, pneumonia oleh bakteri gram negati$ dan tuberkulosis endobronkial. Pada pneumonia usia anjut sering didapatkan penyakit penyerta seperti PPOK, gagal jantung dan sindrom ga-at napas pada de-asaN pada keadaan ini gambaran radiologi sangat sukar dinilai.

Penatalaksanaan ,denti$ikasi etiologi penting untuk pengobatan antibiotika. Pemeriksaan bakteri dapat dengan #ara pe-arnaan gram dan sputum, pe-arnaan gram #airan pleura, kultur sputum, kultur darah dan #airan pleura. Kadang!kadang sukar untuk memperoleh sputum yang baik pada pneumoniausia lanjut, karena itu dapat digunakan antibiotik se#ana empirik. 9apat juga dilakukan upaya diagnostik se#ara invasi$ seperti aspirasi transtrakeal, aspirasi endotrakeal dan bronkoskopi. :asil yang didapat pada tindakan diagnostik invasi$ ini tergantung dan keahlian me lakukan prosedur, dibutuhkan nilai yang akurat se#ara mikrobiologi. Pada pneumonia oleh pneumococcus, penisilin adalah obat . Pada pneumonia ringan dapat diberikan per!oral, tetapi pada pneumonia berat dengan malabsorbsi perlu diberikan dengan #ara parenteral, dosis dapat lebih dari %.6 juta unit per hari. Pada bakteremi tidak dibenarkan pemberian penisilin dosis tinggi guna untuk menghindari e$ek samping penisilin seperti anemi hemolitik. Pada penderita yang alergi terhadap penisilin dapat diberikan eritromisin. Pemberian eritromisin intravena dapat mengakibatkan nausea, vomitus, trombo$lebitis dan kehilangan pendengaran yang reversibel terutama pada usia lanjut dengan $ungsi ginjal menurun. Pemberian se$alosporin harus hati!hati pada penderita alergi terhadap penisilin

sebab dapat terjadi reaksi hipersensiti$ si%ang. Terjadinya demam berulang umumnya karena reaksi obat atau terjadi superin$eksi yang terjadi hari keempat sampai ketujuh pengobatan. Qisioterapi diperlukan untuk pengeluaran sputum dan juga untuk men#egah terjadinya dekubitus serta men#egah terjadinya kontraktur.

BAB : 9A4TAR $USTAKA %. Pri#e &', Pilson ;". Patophysiology . #lini#al #on#epts o$ disease pro#ess. Hd (. Hlsevier &#ien#eN 6006. 6. &udoyo 'P, &etiyohadi +, 'l-i ,, &imandibrata K", &etiati &. +uku 'jar ,lmu Penyakit 9alam. Hd ,F. 8akarta . +alai penerbit QK=,N 600(. 3. &ilbernagl &, ;ang Q. <lor 'tlas o$ Patophysiology. *e- Tork. Thieme *e- TorkN 6000. 4. &upartondo. Pendekatan klinik pasien geriatri di ra-at jalan dan ra-at inap. 9alam. 'bstrak Temu ,lmiah <eriatri 6006. Penatalaksanaan Pasien <eriatri1=sia ;anjut se#ara Terpadu dan Paripurna. 8akarta. P,P +agian ,lmu Penyakit 9alam QK=,,6006.%)!6%. 0. &emeraro &T", "otta ". H$$e#tiveness o$ geriatri# evaluation and #are. One!year results o$ a multi#enter randomi/ed #lini#al trial. 'ging ("ilano 600%N%3(0 .320!404.

(. 'delman '". "anaging #hroni# illness. ,n. 'delman '", 9aly "P (eds . T-enty #ommon probelms in geriatri#s. %st ed. *e- Tork."#<ra-!:illN600%.p.3!%4.

BAB :I $ENUTU$ 9emikian hasil diskusi kelompok kami yang telah kami sajikan dalam bentuk makalah ini. Kesimpulan kelompok kami, Pak 'ndi menderita bronkiektasis e.# bronkopneumoni yaitu suatu penyakit yang ditandai dengan adanya dilatasi (ektasi dan distorsi bronkus lokal yang bersi$at patologis dan berjalan kronik, persisten dan irreversibel berdasarkan anamnesis, pemeriksaan $isik dan penunjang. Terimakasih kepada Tuhan T"H atas berkah dan rahmatnya sehingga kami dapat merampungkan makalah ini. Terimakasih kepada tutor yang telah memberikan -aktunya untuk membimbing kami dan terimakasih kepada senmua anggota kelompok yang telah berpartisipasi akti$ dalam proses diskusi maupun pembuatan makalah ini.

Kami memohon maa$ atas keterbatasan dan ketidaksempurnaan makalah ini, oleh karena itu kami mengharapkan saran dari para dosen untuk menyempurnakan keterbatasan kami serta menambah -a-asan kami selaku mahasis-a.