Anda di halaman 1dari 10

SEMINAR NASIONAL VIII SDM TEKNOLOGI NUKLIR YOGYAKARTA, 31 OKTOBER 2012 ISSN

SINTESIS TETRA ETIL ETILEN DIFOSFONAT SEBAGAI SENYAWA PERANTARA LIGAN RADIOFARMAKA TETROFOSMIN
Arysca W s!" Sa#r a 1$, Aa!% &a!a' a( Wa!%saa#)a*a 2$
1$ S+,-.a( T !%% T+,!-.-% N",. r/BATAN 2$ P"sa# T+,!-.-% N",. r Ba(a! 0a! Ra0 -)+#r /BATAN E)a .1 arysca23 s!"2s4)a .2"%)2ac2 0

ABSTRAK
SINTESIS TETRA ETIL ETILEN DIFOSFONAT SEBAGAI SENYAWA PERANTARA LIGAN RADIOFARMAKA TETROFOSMIN. Penelitian ini bertujuan untuk mensintesis senyawa perantara tetrofosmin sebagai sediaan subtitusi produk impor melalui serangkaian tahap proses. Tahap pertama adalah mensintesis senyawa 1,2-dibromo etana sebagai bahan baku untuk tahap kedua. Dibromo etana disintesis dengan cara mereaksikan brom cair dengan gas etilen yang dihasilkan dari oksidasi etanol dengan asam fosfat pekat pada suhu 21 !". Proses kedua digunakan untuk memproduksi tetra etil etilen difosfonat. Prosesnya melibatkan fraksinasi-destilasi campuran dibromo etana dengan trietil fosfit pada suhu 1#$-1$ !". %esidu dari proses tersebut selanjutnya di-fraksinasi-&akum pada suhu 1' !", tekanan 1 mm(g untuk mengambil produknya. Produk dari tahap kedua ini selanjutnya digunakan untuk tahap ketiga )sintesis 1,2difosfino etana* dengan proses reduksi menggunakan +itium ,luminium (idrida )+i,l( #*. -arakterisasi dari masing-masing tahap dilakukan dilakukan dengan instumen .pektrofotometer /ourier Transform 0nfra %ed )/T-0%* untuk mengetahui gugus fungsional penyusun senyawa sebagai parameter keberhasilan. (asil pengujian menunjukkan keberhasilan sintesis hanya sampai pada sintesis tetra etil etilen difosfonat. 1esarnya yield atau rendemen dari tahap pertama adalah 2#,#34, sedangkan untuk tahap kedua adalah 2#,$14. Kata kunci : Sintesis, Tet !"!s#in, FT$IR.

ABSTRA%T
T&E SYNT&ESIS OF TETRA ET&YL ET&YLENE DIP&OSP&ONATE AS AN INTERMEDIATE RADIOP&ARMA%E'TI%AL %OMPO'ND OF TETROFOSMIN LIGAND. This study aims to synthesi5e of intermediate compound of tetrofosmin as substitute of imported product through a series of processing stages. The first stage was directed to synthesi5e 1,2-dibromo ethane as a raw material for the second stage. Dibromo ethane was synthesi5ed by reacting li6uid bromine with ethylene which produced from the o7idation of ethanol with concentrated phosphoric acid at 21 !". The second stage was used to produce tetra ethyl ethylene diphosphonate )phosphorane*. This process in&ol&ed fractionation-distillation a mi7ture of dibromo ethane and triethyl phosphite at 1#$-1$ !". ,fterward, the residues were &acuum-fractiona5ed at 1' !", pressure 1 mm(g to take the product. The product of this second stage would be used for the third stage )synthesis of 1,2-diphosphino ethane* with a reduction process using +ithium ,luminum (ydride )+i,l( #*. The characteri5ation of each stage were subjected to determine compiler clusters of compound as success parameters. These were carried out by /ourier Transform 0nfra %ed )/T-0%* .pectrophotometer instrument. The results showed that the success of the synthesi5e process was achie&ed only at the preparation of tetra ethyl ethylene diphosphonate. The yield of first stage ethane is 2#,#34, while for the second is 2#,$14. Ke()! * : S(nt+esis, Tet !"!s#in, FT$IR.

PENDA&ULUAN
Pembangunan kesehatan merupakan upaya untuk memenuhi salah satu hak dasar rakyat, yaitu hak untuk memperoleh pelayanan kesehatan yang STTN$BATAN , PTNBR$BATAN

bermutu, seperti yang diamanatkan dalam Undangundang Dasar 1945 pasal 28 dan Undang-undang nomor 3 tahun 2!!9 tentang "esehatan# Dalam $istem "esehatan %asional &$"%', di bidang obat, A (sca, *kk

SEMINAR NASIONAL VIII SDM TEKNOLOGI NUKLIR YOGYAKARTA, 31 OKTOBER 2012

menegaskan arti penting pendekatan iptek dalam membangun kemandirian#(1) Di bidang riset kedokteran, penggunaan *at*at radioakti+ akhir-akhir ini semakin berkembang dengan pesat# Perkembangan di ,ndonesia ini -ukup beralasan .ika ditin.au dari berbagai segi, dan mempunyai prospek di masa mendatang, mengingat potensi pengadaan dan aplikasinya di berbagai bidang, khususnya di bidang kedokteran nuklir# Untuk tu.uan diagnosis, pemeriksaan kedokteran nuklir dapat dilakukan dengan mudah dan akurat, yaitu prosedur non-in/asi+, sedangkan untuk tu.uan terapi, pengobatan dengan radiasi sering men.adi pilihan apabila pengobatan -ara kon/ensional mengalami kegagalan#(2) 0ampir seluruh organ dalam tubuh dapat didiagnosis dengan teknik kedokteran nuklir# Penggunaan radio+armaka untuk pen-itraan dan diagnosis +ungsi .antung, radio+armaka 1eknesium99m metoksi isobutil isonitril &99m1--2,3,' dan 1eknesium-99m tetro+osmin &99m1--tetro+osmin' sering di.adikan sediaan unggulan#

memudahkan bagi operator di rumah sakit untuk menyiapkannya# ,nilah salah satu kelebihan sediaan 99m 1--tetro+osmin# ;leh karena itu, melihat peluang penggunaannya ke depan yang akan lebih memudahkan dan relati+ lebih praktis, penelitian pembuatan sediaan yang terakhir ini perlu dilakukan# Di sisi lain sediaan 99m1--tetro+osmin ini memang belum diproduksi di dalam negeri# Penelitian untuk penyediaan sediaan ini pun masih sangat minim, apalagi dengan bebagai larangan dan pembatasan bahan-bahan kimia impor# S !#+s s S+!ya3a T+#r-'-s) ! Proses sintesis tetro+osmin se-ara umum terbagi dalam tiga tahapan# 1ahap pertama, dilakukan sintesis tetra etil etilen di+os+onat &+os+oran' dari trietil +os+it dan 1,2-dibromo etana# "edua, reduksi +os+oran dengan <i=l04 sehingga diperoleh senya4a 1,2-di+os+ino etana# 1ahap terakhir, reaksi adisi etil /inil eter pada senya4a 1,2-di&+os+ino' etana#(>) $e-ara umum tiap tahapan reaksi sintesis tersebut diperlihatkan seperti pada gambar persamaan di ba4ah ini ?

TEORI
S+0 aa! 55)Tc/MIBI 0a! 55)Tc/#+#r-'-s) ! s+6a%a Ra0 -'ar)a,a "!#", M(!ca *iaPe "usi!n I#a.in. 3aru-baru ini, beberapa 99m1--senya4a kationik isonitril telah dikembangkan assessment infark perfusion# 1eknesium-99m dipilih karena murah dan +oton gamma yang dipan-arkan 14! ke5 yang sesuai untuk pen-itraan &imaging' kamera gamma# 88mTc-metho7y isobutyl isonitril &99m1-2,3,' adalah salah satu sediaan yang men.an.ikan# (3) 99m 1--2,3, atau sering disebut .uga 99m1-sestamibi adalah radio+armasi bertanda 99m1sebagai agen infark myocardial#(4) $enya4a tetro+osmin &1,2-bis (di-62etho7yethyl8 phosphino) ethane' adalah gugus ligan berkelat dua yang termasuk ke dalam kelompok diphosphines#(5) Dalam bidang kedokteran nuklir, tetro+osmin digunakan sebagai radio+armaka untuk pen-itraan .antung#( ) 2elalui proses penandaan &labeling' dengan 1eknesium, sediaan yang dihasilkan ini men.adi sediaan baru sebagai pengganti 99m1--2,3,#(5) Pada 2,3,, penandaan dengan 1eknesium harus dilakukan dengan pemanasan# Dalam penggunaannya, penyuntikkan pertama dilakukan kepada pasien dalam keadaan istirahat dan pada +ase kedua pasien diberikan 9beban:, baik dengan berolahraga di atas treadmill atau pemberian obat yang bere+ek +armakologi# ;bat disuntikkan di pun-ak stress, kemudian pen-itraan dilakukan# $ementara itu, pada penandaan tetro+osmin, dapat dilakukan tanpa proses pemanasan sehingga lebih

Ga)6ar 12 S !#+s s #+#ra +# . +# .+! 0 '-s'-!a#

Ga)6ar 22 S !#+s s 1,2/0 '-s' !- +#a!a

Ga)6ar 32 S !#+s s #+#r-'-s) !

$alah satu senya4a yang patut men.adi perhatian dalam reaksi tahap pertama ini adalah senya4a 1,2-dibromo etana &3r@2043r'# Permasalahan dari senya4a ini adalah tidak di.ual di pasaran karena alasan keamanan#(8,9) ;leh karena itu, se-ara mandiri dalam penelitian ini harus dilaksanakan sintesis sebelum melaksanakan ketiga tahapan proses tersebut# Untuk mensintesis senya4a dibromo etana &sering disebut .uga dibromo etilen' sebagai bahan

STTN$BATAN , PTNBR$BATAN

A (sca, *kk

SEMINAR NASIONAL VIII SDM TEKNOLOGI NUKLIR YOGYAKARTA, 31 OKTOBER 2012 ISSN dasar tahap pertama, se-ara teoritis persamaan reaksinya adalah berikut?

%amun demikian, kegiatan penelitian ini lebih di+okuskan pada pembuatan senya4a perantara, yaitu sintesis tetra etil etilen di+os+onat#

METODE
Ba(a! 3ahan-bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah etanol absolut, asam +os+at pekat, dan brom buatan A-2er-k untuk sintesis 1,2dibromo etana# $intesis tetra etil etilen di+os+onat &+os+oran' dilakukan dengan proses destilasi dari hasil tahap pertama yang direaksikan dengan senya4a trietil +os+it# 3ahan utama yang diperlukan adalah trietil +os+it buatan =ldri-h# 0asil tetra etil etilen di+os+onat selan.utnya direduksi dengan <i=l04 untuk mendapatkan senya4a 1,2-di+os+ino etana# 3ahan-bahan yang diperlukan, yaitu ? <i=l0 4 dan dietil eter buatan A2er-k, gas nitrogen, larutan 0@l %, dan %a2$;4# A.a# Peralatan yang dibutuhkan dalam sintesis tahap pertama adalah labu leher tiga 5!! ml, -orong tetes 5! ml, termometer, dua buah botol trapping, sebuah elemeyer dengan outlet, kran gelas & stop cock' dan pipa-pipa ka-a penghubung berserta selang penghubungnya# <abu leher tiga 5!! ml, kolom +raksinasi &/igrid column', kondersor, termometer, labu penampung, dan elemeyer trapping kosong untuk tahap kedua# <abu leher tiga 2 <, -orong tetes 5!! ml, temometer dan pipa masukan gas nitrogen, kondensor, labu kosong, dan dua buah elemeyer trapping untuk tahap ketiga# Peralatan pendukung lain untuk prosesnya sendiri adalah heater and stire plate, magnetic stirrer, pompa /akum, pompa sirkulasi air pendingin dan stati+# 7ara K+r*a 1# $intesis 1,2-dibromo etana "e dalam botol trapping kedua &paling akhir', dimasukkan larutan %a;0 1 % sampai kira-kira pipa masukan ter-elup tepat pada permukaan atas larutan# 1u.uh mililiter brom dimasukkan ke dalam elemeyer dan 1! ml aBuadest pada permukaan atasnya agar brom tidak menguap# $elan.utnya pada masingSTTN$BATAN , PTNBR$BATAN

masing botol trapping didinginkan dengan es batu pada bagian luarnya, sedangkan pada elemeyer berisi brom hanya dengan air sa.a# <abu utama diisi dengan 2! ml etanol absolut kemudian dilan.utkan dengan 4! ml asam +os+at pekat# @ampuran reaktan perlahanlahan dipanaskan sambil diaduk sampai suhu 23! C@, kemudian alkohol absolut mulai diteteskan dari -orong dengan ke-epatan ratarata satu tetes per detik# 3agian stop cock &lihat gambar' ditutup bila gas etilen sudah mulai terbentuk dan dibuka kembali bila ter.adi arus balik pada labu yang berisi brom# $uhu dalam labu utama di.aga antara 25!-3!! C@ untuk memberikan kondis gas yang konstan dan optimum# ;perasi dihentikan bila brom telah berubah 4arna men.adi pirang dan agak bening# 2# $intesis tetra etil etilen di+os+onat &+os+oran' "e dalam labu leher tiga &labu utama' dimasukkan 314 gram &1,89 mol' trietil +os+it dan 2!! gram &1,!5 mol' dibromo etana# @ampuran dipanaskan pada suhu 145-15! C@ selama 1,5-2 .am dengan ke-epatan pengadukan sedang# Proses di.alankan sampai etil bromida yang menetes pada labu penampung tidak ada lagi# $etelah dingin, diambil hasil etil bromida yang tertampung kemudian disisihkan untuk dilan.utkan proses +raksinasi-/akum dari sisa residu yang ada pada labu utama# Alemeyer trapping ditambahkan pada u.ung kondensor dan dihubungkan ke pompa /akum# Proses +raksinasi dilakukan terhadap sisa residu pada tekanan 1 mm0g# Pemanasan dilakukan se-ara bertahap untuk mengambil beberapa +raksi produk# Produk tetra etil etilen di+os+onat diambil dari +raksinasi suhu 1 ! C@# $intesis 1,2-di+os+ino etana $ebelum proses di.alankan, disiapkan dry ice untuk pendinginan# "edua elemeyer trapping diisi dengan air brom untuk menangkap gas yang keluar dari proses reduksi nantinya# Pipa masukan gas nitrogen dihubungkan dengan selangnya dan dialirkan gas nitrogen dengan ke-epatan perlahan# "e dalam labu utama, dimasukkan -ampuran 4! gram <i=l04 &1,!5 mol' dalam 1 liter eter, kemudian ditutup kembali dan didinginkan dengan dry ice pada sisi luarnya, suhu ! C@# @ampuran 1!! gram &!,33 mol' tetra etil etilen di+os+onat dan 18! ml eter ditambahkan melalui -orong tetes se-ara perlahan-lahan sambil diaduk dengan magnetic

3#

A (sca, *kk

SEMINAR NASIONAL VIII SDM TEKNOLOGI NUKLIR YOGYAKARTA, 31 OKTOBER 2012

stirer# "e-epatan rata-rata satu tetes per detik, atau proses selama 3 .am# $etelah proses selesai, -ampuran diamkan selama semalam pada suhu kamar# 0ari berikutnya dilakukan poses hidrolisis &menggunakan rangkaian alat yang sama' dengan penambahan 8!! ml asam klorida % tetes demi tetes sambil diaduk dengan magnetic stirer# $etelah proses hidrolisis selesai, dua lapisan yang terbentuk dipisahkan dengan -orong pisah dan diambil lapisan eternya# Ater yang terpisahkan ditampung dalam eleyemer kemudian ditambahkan %a2$;4 untuk menyerap air dan didiamkan semalam dalam kondisi tertutup rapat# 0ari berikutnya lapisan eter yang telah disaring, di+os+ino etana diambil menggunakan rangkaian alat +raksinasi-destilasi pada suhu 1!9 C@#

dalam labu utama dan mengembalikan pereaksi yang tidak bereaksi sempurna# 1rapping pertama ber+ungsi untuk men.ebak sisa etanol yang tidak teroksidasi men.adi etilen# Proses pen.ebakannya dilakukan dengan botol kosong yang diturunkan suhunya menggunakan es batu pada sisi luarnya# 2elalui -ara ini, etanol yang tidak bereaksi akan men-air kembali, sedang gas etilen yang terbentuk akan dialirkan ke labu berikutnya# 1rapping kedua berupa botol yang diisi larutan %a;0 1 % dimana pipa masukan harus mengenai permukaan atas larutannya# 1rapping ini ber+ungsi untuk menangkap brom yang terdesak keluar dari elemeyer sebelumnya karena proses airasi oleh gas etilen# Diharapkan brom tidak keluar bebas ke lingkungan tetapi bereaksi terlebih dahulu dengan larutan %a;0 sesuai persamaan? Br2 9%$ < 2 Na< 9a>$ ? 2 NaBr 9a>$ &larutan kekuningan' Pada bagian lain, yaitu stop cock &kode 5' ber+ungsi sebagai pembuang gas-gas lain yang tidak terlalu penting pada saat a4al pemanasan# "arena itu, selama pemanasan a4al, kondisinya harus dibuka terlebih dahulu sampai gas etilen dihasilkan, dan baru kemudian dapat ditutup# Proses karakterisasi a4al terhadap produk hasil sintesis dilakukan dengan mengambil beberapa perbandingan si+at +isikanya terlebih dahulu# <angkah a4al ini diambil untuk membandingkan produk yang diharapkan &1,2dibromo etana' dengan data standar dan isomernya &1,1-dibromo etana' berdasarkan re+erensi pustaka, serta sebagai data pendukung untuk karakterisasi si+at kimia selan.utnya# 0asil dari perbandingan antara sampel produk dan data standar ditun.ukkan pada 1abel 1#
Ta6+. 12 P+r6a!0 !%a! 0a#a ' s ,a sa)=+. =r-0", $i+at Eisik Garna 1,1-dibromo etana1! bening, sedikit -oklat 2,!55 1,512>> 1,2-dibromo etana11 bening 2,1>3 1,53>5-1,5395 0asil Pengukuran $ampel Produk kekuningan 2,! >

&ASIL DAN PEMBA&ASAN


$intesis tahap pertama, prosesnya dilakukan dengan mereaksikan brom dan gas etilen hasil oksidasi etanol dengan asam +os+at pekat pada suhu 21! C@# Dalam proses ini asam +os+at pekat bertindak .uga sebagai katalisator# 7&3/7&2/O&
&3PO8 210 :7

9.$

7&2;7&2 9%$ Br 7&27&2 Br 9.$

7&2;7&2 9%$ < Br2 9.$

Ga)6ar 82 U! # =+ra.a#a! s !#+s s 1,2/0 6r-)- +#a!a

Unit alatnya ditun.ukkan pada Dambar 4# Pada labu utama &tempat pembentukan gas etilen (kode 1)' menggunakan labu leher tiga yang terhubung dengan kolom re+luks# "ontak etanol absolut dengan asam +os+at pekat panas menghasilkan gas etilen dengan tekanan yang -ukup besar# ;leh karena itu, digunakan kolom re+luks untuk mengurangi tekanan yang berlebihan

Densitas &gHml' ,ndeks bias

1,5395

0+!%a! r+'+r+!s s#a!0ar 1,2/0 6r-)+#a!a 0a! 1,1/0 6r-)- +#a!a#

"arakterisasi selan.utnya dilakukan dengan mempertimbangkan si+at kimianya, yaitu menggunakan instrumen spektro+otometer E1-,F merek ,F Prestige-21 $hima*du# 0asil pengukuran spektrum serap in+ramerah antara sampel dan

STTN$BATAN , PTNBR$BATAN

A (sca, *kk

SEMINAR NASIONAL VIII SDM TEKNOLOGI NUKLIR YOGYAKARTA, 31 OKTOBER 2012 ISSN standar 1,2-dibromo etana dapat dilihat pada Dambar 5#

Ga)6ar @2 Ga)6ar =+!%%a6"!%a! s=+,#r") s+ra=a! !'a)+ra( sa)=+. 0a! s#a!0ar 1,2/0 6r-)- +#a!a2

Dari gambar tersebut telihat ada kesamaan serapan in+ramerah antara sampel dan standarnya pada beberapa bilangan gelombang# "esamaan pertama yang dapat diidenti+ikasi adalah pada bilangan gelombang 58 ,3 -m-1, kesamaan kedua pada 143 ,9> -m-1 dan ketiga pada 2954-29>8 -m-1# ,denti+ikasi terhadap kesamaan pertama spektrum tersebut merupakan daerah serapan untuk ikatan tekuk @-3r &51!- ! -m-1', sedang untuk kesamaan kedua dan ketiga adalah daerah serapan untuk ikatan tekuk @-0 &135!-14>! -m -1' dan ulur @-0 &285!-3!!! -m-1'# $ementara itu, dari gambar tersebut di atas terlihat .uga adanya ketidaksamaan serapan spektrum in+ramerah antara sampel dan standarnya, yaitu pada bilangan gelombang 1>34,!1 -m-1# Dari literatur menun.ukkan bah4a pada daerah tersebut adalah daerah serapan aldehid &1>2!-1>4! -m -1' dan kemungkinan lain adalah serapan untuk ikatan @I@ ulur# 1emuan senya4a aldehid dimungkinkan karena ada sebagian alkohol yang teroksidasi oleh asam +os+at, dan terba4a oleh gas etilen sehingga ber-ampur dengan produk dibromo etana# $edang untuk senya4a karbon ikatan rangkap dua, kemungkinan berasal dari sisa gas etilen yang ber-ampur dengan produk dan belum keluar terbebas ke atmos+ir, atau dengan kata lain larut dalam dibromo etana# "ebutuhan bahan untuk proses sintesis ini adalah 8! ml asam +os+at pekat dan 4! ml etanol absolut# $ementara itu, .umlah etanol yang dimasukkan setelah ter.adi pembentukan etilen tidak terhitung karena dalam tahap ini yang dipakai sebagai pereaksi pembatasnya adalah brom# 0asil perhitungan, menun.ukkan 1!! ml brom &densitas 3,12 gHml, 32 I 159,32 gHmol' dihasilkan 1,2-dibromo etana sebanyak 15! ml &densitas 2,! > gHml, 32 I 18>,8 gHmol', atau menghasilkan yield sebesar 84,4>J# 0asil sebesar STTN$BATAN , PTNBR$BATAN

ini belum maksimal karena dari proses pemurnian ada sedikit residu yang tidak bisa diambil, sehingga -urah residu tersebut diasumsikan sebagai limbah yang tak bisa diproses lagi# Kika ditin.au ulang masalah prosesnya ternyata menghasilkan beberapa senya4a samping# Pada proses oksidasi etanol sendiri ternyata tidak semua etanol dapat habis bereaksi sehingga harus diambil dengan memberikan trapping pendinginan sebelum mereaksikan ges etilen dengan brom -air# $ementara itu, pada reaksi utamanya &airasi etilen pada brom' menun.ukkan dua reaktan tersebut tidak dapat bereaksi se-ara simultan# =da sebagian dari kedua reaktan yang terbebas keluar menu.u labu yang berisi larutan %a;0# =danya sebagian reaktan yang tidak bereaksi inilah yang mempengaruhi besarnya yield atau rendemen# $intesis tahap kedua, dilakukan dengan mereaksikan dibromo etana dengan trietil +os+it# Feaksi di.alankan dengan proses destilasi-+raksinasi pada suhu 145-15! C@ selama 2 .am# $kema reaksi diperlihatkan pada Dambar dan unit peralatan sintesisnya diperlihatkan pada Dambar >#

Ga)6ar A2 S,+)a r+a,s s !#+s s #+#ra +# . +# .+! 0 '-s'-!a#2

Ga)6ar B2 U! # =+ra.a#a! s !#+s s #+#ra +# . +# .+! 0 '-s'-!a#2

<abu utama &kode 1' adalah tempat reaksi antara trietil +os+it dan dibromo etana dengan pemanasan# "olom +raksinasi digunakan untuk memisahkan produk yang disintesis# Pada u.ung kondensor dipasang labu yang didinginkan pada sisi luarnya untuk menampung etil bromida sebagai hasil samping dari reaksi ini &kode 2'# $etelah etil bromida habis menetes, -ampuran reaktan yang ada pada labu utama didinginkan kembali pada suhu kamar#

A (sca, *kk

SEMINAR NASIONAL VIII SDM TEKNOLOGI NUKLIR YOGYAKARTA, 31 OKTOBER 2012

Proses selan.utnya adalah +raksinasi-/akum dari residu yang ada pada labu utama dengan menggunakan kolom /igrid, pada tekanan 1 mm0g dan suhu 1 ! C@# Eraksinasi dilakukan sesuai teori dimana dimungkinkan adanya +raksi lain yang tidak sempurna bereaksi dengan dibromo etana# Eraksi+raksi ini harus diambil berdasarkan karakteristik titik didih yang berbeda, yaitu?

Ga)6ar C2 U! # =+ra.a#a! 'ra,s !as /Da,") #+#ra +# . +# .+! 0 '-s'-!a#2

Dambar rangkaian alatnya dapat dilihat pada Dambar 8# Penggunaan elemeyer kosong &kode 3' pada proses ini lebih ditu.ukan sebagai pengaman agar +raksi produk yang tertampung dalam labu tidak mudah keluar dan ikut terserap pompa /akum# $pektrum serap analisis spektro+otometri E1,F hasil sintesis menggunakan dibromo etana hasil eksperimen dan standar pembanding dapat dilihat pada Dambar 9#

Ga)6ar 52 Ga)6ar =+!%%a6"!%a! s=+,#r") s+ra=a! !'a)+ra( #+#ra +# . +# .+! 0 '-s'-!a# (as . s !#+s s )+!%%"!a,a! 0 6r-)- +#a!a (as . s !#+s s 0a! s#a!0ar =a6r ,2

0asil gabungan kedua gambar tersebut, terlihat bah4a kedua spektrogram memiliki kesamaan untuk daerah-daerah serapan in+ra merahnya, 4alaupun pada beberapa titik kesamaannya memiliki perbedaan .umlah pun-ak# Daerah serapan 29!2,8>-2981,95 -m-1 dan 1388,>514>>,4> -m-1 adalah daerah serapan karakteristik senya4a karbon untuk ikatan ulur @-0 dan tekuk @0# $ementara itu, untuk indenti+ikasi senya4a tetra etil etilen di+os+onat ada pada daerah serapan 124>,94-1255, -m-1 dan 92!,!5-1!29,99 -m-1# "edua daerah tesebut menun.ukkan karakteristik untuk daerah serapan ikatan +os+onat &123!-12 ! -m-1' dan ikatan P-;-F &9!!-1!5! -m-1'# 0asil yang tidak diharapkan .ustru terdapat pada 34>9,58-3483,44 -m-1 yang merupakan daerah serapan ;-0# =da dua kemungkinan penyebab +enomena seperti ini# Pertama, kedua senya4a tetra etil etilen di+os+onat tersebut benarbenar mengandung air# Perlakuan untuk menyerap sisa air dari hasil sintesis sebenarnya sudah dilakukan dengan menambahkan serbuk %a2$;4, tetapi hasilnya .uga belum memuaskan seperti yang ditun.ukkan oleh gambar di atas# =danya gugus pengganggu ini kemungkinan karena kontaminasi dari luar, baik pada saat proses karena menggunakan pendingin maupun kebersihan labu penampung yang digunakan# Permasalahan seperti ini sebenarnya dapat diabaikan karena konsentrasi airnya sangat ke-il dan reaksi tahap berikutnya &tahap 3' .uga berhubungan dengan air untuk menghidrolisis sisa pereduktornya# Penyebab kedua kemungkinan berasal dari pembentukan ikatan hidrogen antar molekulnya# Kika ditin.au dari bentuk molekulnya -ukup beralasan karena gugus +os+onat yang -enderung elektropositi+ dapat menarik hidrogen dari ikatan karbonnya# Feaktan yang dibutuhkan adalah 1!! ml trietil +os+it dan 32 ml dibromo etana# Dengan menggunakan dibromo etana hasil sintesis sebelumnya, diperoleh +raksi terakhir tetra etil etilen di+os+onat &pada suhu 1 !C@' sebanyak 2! ml# =nalisis perhitungan terhadap produk yang dihasilkan, diperoleh yield atau rendemen sebesar 24,51J# 0asil sebesar ini memang -ukup rendah .ika ditin.au untuk proses sintesis bahan# %amun untuk sintesis senya4a yang akan digunakan dalam dunia +armasi sebagai obat, hasil seperti ini -ukup bagus mengingat sintesis untuk bahan baku obat atau obatnya sendiri biasanya dihasilkan dalam .umlah yang sedikit# Kika ditin.au ulang reaksi pembentukan produknya, akan dihasilkan dua senya4a samping, yaitu dietil etilen +os+onat &+raksi ,' dan dietil etilen +os+onat bromida &+raksi ,,' yang memiliki titik didih diba4ah tetra etil etilen di+os+onat# 0al ini

STTN$BATAN , PTNBR$BATAN

A (sca, *kk

SEMINAR NASIONAL VIII SDM TEKNOLOGI NUKLIR YOGYAKARTA, 31 OKTOBER 2012 ISSN yang -ukup mempengaruhi besarnya yield disamping dari segi kesempurnaan prosesnya# =danya reaktan yang tidak habis bereaksi .uga akan mengurangi .umlah yield yang didapat# Eraksinasi a4al sangat menentukan .umlah produk yang didapat# Atil bromida yang belum terambil semua dalam proses tersebut .uga dapat mengganggu pada proses +raksinasi-/akum berikutnya# Galaupun etil bromida dapat dipisahkan dari produk pada proses +raksinasi/akum, namun adanya sedikit senya4a samping tersebut akan mempengaruhi reaksi &seperti pada Dambar ' bergeser ke kiri sehingga mengurangi .umlah yield# Pada sintesis tahap selan.utnya &tahap ketiga' dilakukan dengan mereduksi hasil sintesis sebelumnya &tetra etil etilen di+os+onat' dengan reduktor <i=l04# Proses reduksi di.alankan dengan medium dietil eter dan harus didinginkan karena reaksinya yang sangat eksotermis# Pendinginan dilakukan dengan menggunakan dry ice &es kering' yang telah disiapkan sebelumnya#

Proses pendinginan dilaksanakan setelah reaktan pertama &-ampuran <i=l0 4 dalam dietil eter' dimasukkan# Feaktan kedua &-ampuran tetra etil etilen di+os+onat dalam dietil eter' dimasukkan setelah suhu dalam labu utama ter-apai ! C@# Pemasukan dilakukan tetes demi tetes sampai semuanya habis atau di.alankan maksimal selama selang 4aktu 3 .am proses# "ebutuhan reaktan yang dipakai dalam tahapan ini adalah ,5 ml & 9,13 gram' tetra etil etilen di+os+onat, 2>, 5 gram <i=l04, 124,4 ml eter untuk pelarut tetra etil etilen di+os+onat, dan 91,3 ml eter untuk pelarut reduktornya# 0ari berikutnya proses dilan.utkan dengan hidrolisis -ampuran yang ada dalam labu utama# Proses ini dimaksudkan untuk melarutkan sisa reduktor men.adi &ion' garam-garam yang larut dalam air# Dengan memberikan larutan asam klorida %, maka garam-garam tersebut terhidrolisis men.adi garam <i=l@l 4 yang larut dalam air# <i=l&;0'4 L 4 0@l M <i=l@l4 L 02; <i=l&;@205'4 L 4 0@l M <i=l@l4 L @205;0 <i=l@l4 L 02; M <iL L =l3L L 4@l-

Ga)6ar 102 S,+)a r+a,s s !#+s s 1,2/0 '-s' !- +#a!a

Proses pembutan di+os+ino etana dilaksanakan dalam sistem yang bebas oksigen karena si+at produknya yang mudah menyala# ;leh karena itu diperlukan gas nitrogen untuk mengisi sistem yang ada# "e-epatan pemasukan nitrogen dibuat dengan ke-epatan sedang, yaitu sekitar !,5 kg+H-m2#

Ga)6ar 122 U! # =+ra.a#a! ( 0r-. s s 1,2/0 '-s' !+#a!a2

Ga)6ar 112 U! # =+ra.a#a! s !#+s s 1,2/0 '-s' !- +#a!a

Untuk keamanan, selama penger.aan sintesis tahap ini harus benar-benar pre/enti+# =lat pelindung diri &=PD' harus dipersiapkan terlebih dahulu sebelum prosesnya dimulai# "arena reaksi pada proses ini menghasilkan gas yang berbau menusuk, maka harus dipastikan sistem beker.a dalam ruangan yang terkungkung rapat, diminimalisir agar tingkat bahaya yang keluar seke-il mungkin#

Unit peralatan proses hidrolisis ditun.ukkan pada Dambar 12# <arutan asam klorida % dimasukkan melalui -orong tetes sebelah kiri# "arena reaksi antara asam klorida yang -ukup pekat dengan sisa garam reduktor menghasilkan panas, maka penetesan dan pengadukan di.alankan se-ara perlahan-lahan# $uhu di.aga agar kenaikan tidak terlalu tinggi sehingga dapat mengurangi .umlah eter yang keluar karena menguap# Proses hidrolisis menghasilkan dua lapisan *at -air, yaitu lapisan eter yang ada di atas dan lapisan air yang ada di bagian ba4ah# $enya4a di+os+ino etana praktis tidak larut dalam air, sehingga lapisan eter mudah dipisahkan untuk mengambil produknya# $etelah eter terpisahkan dan ditampung dalam elemeyer, %a 2$;4 ditambahkan se-ukupnya untuk mengikat sisa air yang terba4a A (sca, *kk

STTN$BATAN , PTNBR$BATAN

SEMINAR NASIONAL VIII SDM TEKNOLOGI NUKLIR YOGYAKARTA, 31 OKTOBER 2012

dalam eter# 0ari berikutnya baru dapat dilan.utkan proses +raksinasi produk# Eraksinasi di.alankan dalam lingkungan bebas oksigen, yaitu dengan menambahkan gas nitrogen# 1rapping air brom tetap diberikan pada u.ung rangkaian alat untuk menangkap gas-gas ra-un sehingga tidak keluar bebas ke lingkungan# Fangkaian alat +raksinasi produk di+os+ino etana ditun.ukkan pada Dambar 13#

Ga)6ar 132 U! # =+ra.a#a! 'ra,s !as =r-0", 1,2/0 '-s' !- +#a!a2

Permasalahan besar mulai mun-ul pada tahap ini# 0asil di+os+ino etana yang diharapkan hanya diperoleh sedikit sekali di dalam residunya, kurang dari 5 ml# Pengambilan produk dilakukan dengan bantuan pem/akuman sistem sehingga produk dapat diambil semua tanpa meninggalkan residu# 1entu sa.a langkah ini diambil dengan asumsi bah4a sisa residu dari +raksinasi eter sebelumnya, benar-benar senya4a di+os+ino etana# Dari kebutuhan reaktan tetra etil etilen di+os+onat sebanyak ,5 ml diperoleh senya4a yang diduga di+os+ino etana hanya sebanyak 2 ml#

Ga)6ar 182 Ga)6ar s=+,#r") s+ra=a! !'ra)+ra( 0ar =r-0", s !#+s s #a(a= ,+# %a2

Proses karakterisasi produk menggunakan instrumen E1-,F menghasilkan kur/a serapan seperti yang ditun.ukkan pada Dambar 14# "arena karakteristik utama dari senya4a di+os+ino etana adalah pada ikatan antara P-0, inilah yang utama untuk di-ari# ,katan P-0 yang memilki daerah serapan karakteristik pada rentang 228!-244! -m-1, pada pengukuran produk ini tidak dapat ditemukan, tidak ada satu pun serapan peak yang mun-ul pada daerah tersebut# "arakteristik lain .ustru mun-ul mengidikasikan adanya gugus +os+onat dan gugus +os+at pada bilangan gelombang 124 ,!2 -m-1 dan 118 ,22 -m-1# 0al ini menun.ukkan bah4a ikatan PI; belum putus padahal ikatan P-;-F seperti dalam tetra etil etilen di+os+onat telah putus# Di sinilah permasalahannya, senya4a di+os+ino etana yang diharapkan terbentuk, tidak ter.adi sempurna# Proses reduksi memang berhasil memutus ikatan eter P-;F tetapi tidak bisa menggantinya dengan atom 0 men.adi P-0, kemudian reduksi .uga belum berhasil mengambil oksigen sehingga gugus PI; masih ada# Permasalahan yang terakhir tersebut sekali lagi adalah dugaan dengan melihat gugus +ungsional dari senya4anya# =nalisis lain yang sebenarnya dapat digunakan untuk mengetahui hasil produk se-ara tepat adalah spektometri massa# Dengan metode ini sampel suatu senya4a dapat ditentukan massa molekulnya se-ara tepat sehingga dapat diketahui .enis senya4anya# =kan tetapi, karena pen.elasan sebelumnya dimana .umlah produk ini sangat sedikit, terpaksa analisis ini tidak bisa dilaksanakan# "etidakberhasilan upaya sintesis tahap ketiga ini dapat disebabkan karena prosesnya yang belum tepat dan optimum# Eaktor pendinginan yang kurang stabil, pen.agaan dari kebo-oran dan pemberian tekanan nitrogen yang terlalu besar dapat menyebabkan senya4a di+os+ino etana tidak terbentuk atau bisa sa.a terbentuk namun dalam .umlah yang ke-il# Proses hidrolisis mungkin .uga dapat men.adi satu salah satu penyebab# Kika ditin.au dari mekanisme reaksi seperti pada Dambar 1!, belum putusnya ikatan PI; dari hasil identi+ikasi spektro+otometer E1-,F mungkin berasal dari reduktornya# "arena untuk memutus ikatan PI; dibutuhkan energi yang lebih besar, perlu bahan reduktor yang lebih banyak atau perlakuan proses yang lebih kuat# $e-ara perbandingan reaktan sudah tidak perlu dika.i lagi karena reduktor yang ditambahkan sudah berlebih# Eenomena yang ada pada proses .ustru memperlihatkan masih banyak reaktan <i=l04 yang tidak habis bereaksi# 1in.auan lain mungkin berasal dari perlakuan proses, yaitu dibutuhkan pengadukan yang kuat agar ikatan tersebut dapat putus# Dengan

STTN$BATAN , PTNBR$BATAN

A (sca, *kk

SEMINAR NASIONAL VIII SDM TEKNOLOGI NUKLIR YOGYAKARTA, 31 OKTOBER 2012 ISSN pendinginan dan pengadukan pelan mungkin kurang bisa memutus ikatannya sehingga proses kontak antar reaktan perlu di.alankan dengan kondisi yang agak -epat untuk memberikan energi yang kuat# Dari kesemua tahapan sintesis sampai senya4a perantara, hasil yang dapat dipertanggung.a4abkan adalah sintesis pertama dan kedua# $intesis 1,2-dibromo etana dan tetra etil etilen di+os+onat dapat dibuktikan dengan instrumen spektro+otometer E1-,F yang menun.ukkan gugusgugus +ungsional penyusunnya# $ementara itu, per-obaan sintesis 1,2-di+os+ino etana tidak menun.ukkan hasil yang diharapkan# 3erbagai kendala yang ditemui, setidaknya dapat di.adikan pengalaman berharga bagaiman suatu penelitian harus dilakukan, dimulai dari peren-anaan, penyiapan alat atau prosedur, dan atau pelaksanaan kegiatan hingga penulisan naskah# PENUTUP K+s )=".a! 3erdasarkan penelitian yang telah dilaksanakan, maka dapat disimpulkan ? 1# 1elah diperoleh senya4a perantara tetro+osmin, yaitu tetra etil etilen di+os+onat &+os+oran' dengan data analisis E1-,F sesuai yang diharapkan# 2# $intesis tahap pertama, yaitu pembuatan 1,2dibromo etana menghasilkan yield sebesar 84,4>J# "arakterisasi terhadap produk menggunakan instrumen spektro+otometer E1,F, memastikan hasil sintesisnya tepat dan menun.ukkan gugus-gugus penyusunnya# Prosedur sintesisnya dilakukan dengan -ara mereaksikan brom -air dengan gas etilen yang dihasilkan dari oksidasi etanol dengan asam +os+at pekat pada suhu 21! C@# 3# $ementara itu, untuk sintesis tahap kedua, yaitu pembuatan tetra etil etilen di+os+onat &+os+oran' menghasilkan yield sebesar 24,51J# "arakterisasi menggunakan instrumen spektro+otometer E1-,F .uga menun.ukkan adanya gugus-gugus penyusun senya4a tersebut# Prosedur sintesis senya4a ini dilaksanakan dengan -ara mem-+raksinasidestilasi -ampuran 1,2-dibromo etana dan trietil +os+it pada suhu 145-15! C@ selama dua .am# Fesidu dari proses tersebut selan.utnya diproses +raksinasi-/akum pada suhu 1 ! C@, tekanan 1 mm0g untuk mengambil +raksi terakhirnya, yaitu tetra etil etilen di+os+onat# 4# $edangkan ketidakberhasilan sintesis tahap ketiga, +aktor utamanya terletak pada proses# Pada sintesis 1,2-di+os+ino etana 4alaupun sudah menyesuaikan dengan prosedur sesuai re+erensi, tetapi belum bisa menghasilkan STTN$BATAN , PTNBR$BATAN

kondisi yang optimum, sehingga produk yang diharapkan tidak terbentuk# Sara! $aran yang dapat diberikan dari penelitian ini adalah perlu adanya penelitian lebih lan.ut untuk memperbaiki proses sintesis senya4a perantara ini agar diperoleh yield yang lebih besar disertai dengan penyederhanaan prosedur#

U7APAN TERIMA KASI&


U-apan terima kasih penulis haturkan kepada ,r# 3angun Gasito, 2#$-# yang telah memberikan membantu dan memberikan arahan beserta bimbingan selama penelitian berlangsung sampai dengan penulisan ini#

DAFTAR PUSTAKA
1# <ampiran ,, "eputusan 2enteri Fiset dan 1eknologi, %o 193H2H"pH,5H2!1! tentang =genda Fiset %asional 2!1!-2!14, halaman 11!-111# 2U"<,$ =#, Pengantar 1eknologi %uklir, Penerbit Fineka @ipta, Kakarta &199>' 152-154# %UF<=,<= N#, ,# D=FUG=1,, Fee/aluasi 2,3, sebagai <igan 99m1--2,3, untuk Pen-itraan 2yo-ardial, Prosiding $eminar %asional $ains dan 1eknologi %uklir, P1%3F3=1=%, 3andung &2!!>'# G,",PAD,=, situs ensiklopedia bebas, 1eknesium-99m-$estramibi, diakses tanggal 22 Eebruari 2!1!# G,",PAD,=, situs ensiklopedia bebas, 1eknesium-99m-1etro+osmin, diakses tanggal 22 Eebruari 2!1!# K# DU@=% "A<<O et#all#, Technetium-88mTetrofosmin as a 9ew %adiopharmaceutical for :yocardial Perfusion 0maging,# K# %u-l# 2ed# 1993, 34? 222-22># F# D;FD;% FA,D, DA;EEFA 1# G;;<<AO and <AG,$ F# @=%%,%D, The .yhthesis of 1#"-Tetrofosmin, a "ompound ;ital to the De&elopment of :yo&iew, Poster o+ >th $ymposium o+ 1he ,nternational ,sotope $o-iety, 18-22 Kune 2!!!, Dresden, Dermany# <=2P,F=% ,, PAF=1UF=% PA2AF,%1=0 FAPU3<," ,%D;%A$,= %; >4 1=0U% 2!!1 1entang Pengelolaan 3ahan 3erbahaya dan 3era-un# A (sca, *kk

2# 3#

4#

5#

>#

8#

SEMINAR NASIONAL VIII SDM TEKNOLOGI NUKLIR YOGYAKARTA, 31 OKTOBER 2012

9#

PAF=1UF=% 2A%1AF, PAF1=%,=% %omor ? !1HPermentanH;1#14!H 1H2!!> 1entang Da+tar 3ahan =kti+ Pestisida yang Dilarang dan Pestisida 1erbatas#

1!# http?Hen#4ikipedia#orgH4ikiH1,1-dibromoethane, diakses tanggal 19 Eebruari 2!1!, pukul ! ?41# 11# http?Hen#4ikipedia#orgH4ikiH1,2-dibromoethane, diakses tanggal 19 Eebruari 2!1!, pukul ! ?4!#

STTN$BATAN , PTNBR$BATAN

A (sca, *kk