Anda di halaman 1dari 8

Metode Pemeriksaan Mampu Ukur Suatu Rancangan Ditinjau dari Spesifikasi Produk Dengan Bantuan Checklist

I Made Londen Batan Laboratorium Metrologi Industri Jurusan Teknik Mesin FTI - ITS Abstrak Menurut standar ISO 9000, penerapan kualitas harus sudah mulai dari perancangan. Disebutkan juga, bahwa apa yang dicantumkan oleh desainer pada perancangan sebagai spesifikasi produk harus diperiksa setelah produk tersebut dibuat. Untuk itu, peninjauan terhadap perancangan dari segi kontrol kualitas, yaitu pemeriksaan penetapan spesifikasi geometris produk sangat perlu dilakukan. Metode pemeriksaan yang dikembangkan, diharapkan dapat digunakan oleh seorang desainer, manufaktur dan seorang kontrol kualitas untuk memeriksa, apakah rancangan suatu produk sudah benar ditinjau dari penetapan spesifikasi produk, artinya apakah spesifikasi yang ditetapkan dapat diperiksa atau tidak. Metode yang dikembangkan dilengkapi dengan sebuah checklist, yang dapat dipakai sebagai dokumentasi. Kata kunci: ISO 9000, kontrol kualitas, spesifikasi produk, manufaktur, checklist.

Persyaratan rancangan suatu produk adalah rancangan yang dapat dirakit, dapat didaur ulang, bebas dari korosi atau karat, biaya yang rendah dan dapat dimanufaktur serta dapat diperiksa hasil akhimya. Secara umum dapat dikatakan, bahwa produk yang dihasilkan harus memenuhi 3 aspek penting, yaitu: kualitas, biaya yang rendah, jadual (waktu) yang tepat. Ketiga aspek ini sering disebut dengan segitiga aspek produk. Akan tetapi, sebagian besar industri manufaktur di Indonesia, khususnya industri otomotif (kendaraan bermotor) atau industri berat, masih belum merancang produknya sendiri. Mereka umumnya menerima pesanan dalam bentuk gambar-gambar teknik. Berdasarkan atas gambar tersebut selanjutnya akan dilakukan proses pembuatan. Pada proses pembuatan sering timbul masalah, antara lain rancangan yang tidak dapat direalisasi atau ongkos pembuatan yang tinggi. Hal ini bisa disebabkan karena rancangan yang salah, fasilitas atau sarana yang tidak cukup atau peralatan yang dimiliki jauh ketinggalan, sumber daya manusia yang tidak memenuhi kualifikasi dari persyaratan yang dibutuhkan. Demikian pula halnya pada proses pemeriksaan produk, sering kali produk tidak dapat diperiksa, bukan karena tiadanya alat ukur, tetapi prinsip perancangan 7

yang salah, misalnya salah memberi toleransi, salah memberi ukuran, sehingga setelah dirakit fungsi produk tidak terpenuhi. Spesifikasi Produk Spesifikasi produk adalah syarat mutlak dan sangat penting bagi seorang desainer dalam merancang suatu produk. Spesifikasi produk yang salah akan mengakibatkan hal yang fatal, misalnya produk tidak dapat dibuat atau produk tidak dapat dirakit, sehingga produk tidak memenuhi fungsinya. Pemberian spesifikasi geometris/toleransi pada suatu komponen atau produk tergantung dari beberapa faktor, yaitu: fungsi, perakitan, pembuatan dan inspeksi. Fungsi komponen Setiap kompcnen terdiri dari beberapa elemen (bagian-bagian komponen). Elemen tersebut bisa berupa garis, bidang atau profil. Jika elemen tersebut mempunyai arti yang sangat penting dan menentukan fungsi komponen/produk secara terpadu, maka elemen tersebut disebut dengan elemen fungsi dan harus diberi toleransi, apakah itu toleransi linier, bentuk, orientasi, lokasi atau toleransi simpang putar. Disamping itu elemen tersebut dapat juga dipakai sebagai datum (referensi)

Jurnal Teknik Mesin, Volume 2, Nomor 1, Januari 2002

pada sistem toleransi. Secara umum dikatakan bahwa elemen fungsi adalah elemen yang mempunyai kontak dengan elemen lain (komponen lain) dan sangat berarti bagi produk setelah digabungkan. Selain itu, terkadang juga suatu elemen dirancang atau dianggap mempunyai nilai estetika dan diberi toleransi, misalnya suatu permukaan harus berbentuk ellips, bola dan halus, walaupun dia tidak menentukan fungsi komponen (produk). Perakitan Jika komponen atau produk akan disatukan/dirakit dengan komponen/produk lain, maka ukuran dari elemen yang berpasangan harus direncanakan sedemikian rupa, sehingga didapatkan suatu kondisi pasangan, yang disebut dengan suaian atau fits. Hal ini dimaksudkan agar setelah pembuatan, komponen mempunyai sifat mampu tukar yang baik -interchangability. Artinya, komponen. akan bisa dipasangkan dengan komponen pasangannya (contoh poros dengan lubang), walaupun keduanya dibuat ditempat yang berbeda. Menurut ISO 286 terdapat 3 jenis suaian, yaitu. suaian longgar (clearance fit), pas (transition fit) dan suaian paksa (interference fit). Standar itu juga menetapkan dua jenis sistem suaian, yaitu sistem satuan poros (shaft basis system) dan lubang (hole basis system). Dalam penulisan sistem satuan poros, ditetapkan bahwa seluruh poros akan diberi kode h (huruf kecil) dibelakang tanda/angka ukuran diameter (shaft), sedangkan H (huruf besar) untuk sistem satuan lubang. Disarankan untuk memakai salah satu dari sistem suaian ini. Tetapi dalam banyak hal (sesuai dengan fungsi pasangan yang dikendaki), kedua sistem suaian ini sering digunakan secara kombinasi [8]. Dari cara pemasangan komponen, maka akan dapat ditentukan jenis suaian yang sebaiknya dipakai. Disamping itu jenis suaian harus dipilih berdasarkan atas fungsi komponen (produk). Untuk komponen mesin (elemen mesin), secara umum suaiannya adalah longgar dan pas. Untuk komponen khusus, dimana beban selalu dinamis, dan waktu pemakaian komponen tersebut diprediksi lama (long life cycle), maka suaian paksa sering menjadi pilihan utama.

Pembuatan Ditinjau dari aspek pembuatan, yaitu kemampuan manufaktur dari suatu produk (machinability), maka pemberian toleransi harus juga benar-benar direncanakan. Besamya toleransi linier T produk akan berpengaruh terhadap kemampuan proses suatu mesin untuk mencapainya. Kemampuan proses suatu mesin dinyatakan dengan sebuah indeks Cp (process capability). Hubungan indeks Cp ini dengan toleransi T dapat dilihat seperti rumus berikut:
Cp = T 6

dimana T = besamya toleransi linier (mm) = Standar deviasi dari data-data pengukuran Untuk menyatakan apakah kemampuan proses memenuhi syarat untuk mencapai toleransi T dibatasi dengan nilai indeks Cp = 1,33...1,67. Dengan nilai tersebut, maka dapat dinyatakan, bahwa proses pembuatan (pemesinan) adalah dalam kondisi optimum. Untuk Cp 1,33 proses dinyatakan tidak mampu, sedangkan jika Cp > 1,67 proses sangat mahal. Pemeriksaan Perencanaan pemberian toleransi juga tergantung dari cara bagaimana komponen/produk akan diukur dan alat ukur yang dipakai. Hal ini terlihat jelas pada pemberian toleransi orientasi, lokasi atau simpang putar, dimana pemberian kedua toleransi ini akan selalu diikuti dengan penentuan referensi, yang akan dipakai sebagai dasar untuk melakukan pemeriksaan (pengukuran) suatu komponen. Berdasarkan standar ISO 9000, maka sebelum dilakukan pengukuran terhadap besamya toleransi produk T, maka alat ukur yang dipakai untuk mengukur suatu komponen/produk harus mempunyai angka ketidakpastian (uncertainty) U = (0,1...0,2) T. Hubungan tersebut diatas sudah disyaratkan juga oleh Badan Standarisasi Nasional. Oleh karena itu angka ketidakpastian suatu alat ukur mutlak perlu dihitung atau diteliti, sebelum dia dipergunakan. Disamping itu pemberian besarnya toleransi T, sangat tergptung dari kemampuan ukur suatu alat ukur. Kemampuan ukur (measurability) dinyatakan dengan sebuah

Batan, Metode Pemeriksaan Mampu Ukur

indeks yaitu Cg. Cg adalah merupakan perbandingan antara besamya toleransi produk T yang akan diukur dibagi dengan standar deviasi dari hasil pengukuran. Harga indeks diatas dinyatakan dengan persamaan dibawah:
dimana: n =jumlah data yang diolah. Harga n bervariasi berdasarkan ketetapan perusahaan. Secara umum n = 10 untuk perusahaan Bosch, BMW atau Motorolla. Sedangkan perusahaan otomotif Amerika Ford menetapkan n = 15. Jika Cg > 1 untuk Ford atau Cg > 1,33 untuk Bosch atau BMW, maka alat ukur yang dipakai untuk mengukur toleransi T mempunyai kemampuan ukur yang baik. Akan tetapi penetapan atau pemakaian n ilai indeks tersebut hanya disyaratkan untuk produksi massa dan belum ditetapkan sebagai persyaratan dalam ISO 9000.
Cg = n%T

Untuk melengkapi metode tersebut, diperkenalkan dan dirancang serta dikembangkan metode pemeriksaan mampu ukur suatu perancangan produk ditinjau dari pemberian spesifikasi geometris. Untuk memeriksa apakah rancangan (spesifikasi) produk dapat diperiksa atau tidak, langkahlangkah berikut dapat dipakai sebagai pegangan. Langkah-langkah yang dikembangkan terdiri dari 5 langkah.

Hubungan antara Toleransi dengan Biaya Untuk mendapatkan nilai toleransi T (toleransi linier) yang diinginkan, maka pihak perancang proses harus mempunyai mesin atau harus tersedia peralatan yang sesuai. Demikian pula dengan jenis proses dan operator yang akan menjalankan mesin tersebut. Secara prinsip dinyatakan, semakin teliti toleransi yang ingin dicapai/dikerjakan (T semakin kecil -presisi), semakin tinggi biaya pembuatannya. Hal ini disebabkan karena untuk mendapatkan nilai T yang kecil kemungkinan besar diperlukan proses yang lebih banyak, sehingga biaya produksipun bertambah besar. Hubungan antara besarnya toleransi T dan biaya pembutan relatif (relative cost product) dapat dinyatakan dalam Gambar 1. Akan tetapi, hubungan tersebut tidak linier dan dapat berbeda-beda untuk perusahaan yang berbeda karena sangat tergantung dari metode pembuatan, peralatan yang dipakai dan operator mesin yang tersedia. Metode Pemeriksaan Perancangan Langkah-langkah Pemeriksaan Mampu Ukur Untuk memastikan apakah rancangan suatu produk dapat dimanufaktur, sudah dikembangkan suatu metode perancangan untuk manufaktur [2].

Gambar 1. Hubungan antara Toleransi T dan biaya pembuatan Langkah pemeriksaan tersebut dilihat seperti pada Gambar 2 berikut. Langkah 1 2 dapat

Uraian Pemeriksaan Dimensi Pemeriksaan Toleransi Linier 3 Pemeriksaan Kekasaran Permukaan 4 Pemeriksaan Toleransi Bentuk 5 Pemeriksaan Toleransi Orientasi, Lokasi dan Simpang Putar Gambar 2. Langkah-langkah Pemeriksaan Mampu Ukur Perancangan Metode ini hanya memeriksa spesifikasi rancangan (dalam bentuk gambar teknik), yaitu pemeriksaan dimensi, toleransi serta angka kekasaran permukaan. Sebagai alat bantu metode ini akan dibuat sebuah checklist (lihat Gambar 8 Lampiran). Pada setiap tahapan akan ditanyakan, apakah spesifikasi produk

10 Jurnal Teknik Mesin, Volume 2, Nomor 1, Januari 2002

(dimensi, suaian, toleransi dan lain lain) sudah benar ditinjau dari cara pengukurannya. Jika tidak, maka diusulkan alternatif perbaikan. Diagram alir dari metode pemeriksaan tersebut dapat dilihat pada Gambar.3.

Pemeriksaan Dimensi Penetapan ukuran (dimensi) produk yang dimaksud adalah bagaimana ukuran produk tersebut dicantumkan dalam gambar teknik. Secara umum pemberian ukuran dapat ditetapkan berdasarkan atas fungsi, cara pembuatan atau cara pemeriksaan. Seringkali ukuran ditetapkan hanya sebatas angka (satuan panjang) saja, tanpa melihat, apakah ukuran yang dicantumkan tersebut dapat direalisasi oleh bagian manufaktur serta dapat diperiksa oleh bagian kontrol kualitas, berdasarkan prinsip-prinsip pengukuran standar. Artinya apakah ukuran tersebut dalam kenyataannya dapat diperiksa kebenarannya. Contoh Gambar 4 akan memberikan sedikit gambaran, bagaimana sebaiknya ukuran ditetapkan dan dicantumkan pada gambar teknik. Pemeriksaan Toleransi Linier Pemeriksaan penetapan toleransi linier dapat dilakukan berdasarkan beberapa ketentuan: Jika sebuah poros akan dipasangkan dengan lubang, maka berdasarkan standar ISO 286, besarnya toleransi lubang harus I atau 2 tingkat diatas toleransi poros (misalnya 10 H7/g6). Toleransi linier harus lebih besar daripada toleransi lainnya (toleransi-bentuk, orientasi, lokasi dan simpang putar). Pengukuran toleransi linier, dimana tidak ada penambahan ketentuan (atribut), dilakukan dengan metode 2 titik, baik dengan secara langsung, maupun tidak langsung. Contoh pengukuran dengan metode 2 titik adalah pengukuran diameter luar suatu poros dengan jangka sorong atau mikrometer. Akan tetapi pemeriksaan poros atau lubang dengan persyaratan tambahan E, M atau L memerlukan cara khusus. Cara pengukuran ini dapat dilakukan dengan memakai perhitungan dengan program khusus (perhitungan koordinat) atau dengan pemeriksaan memakai kaliber batas (limit gage). Disarankan untuk pengukuran ini adalah dengan memakai kaliber batas, karena selain murah, mudah untuk dilakukan oleh seorang pengukur mula sekalipun. Sedangkan pengukuran dengan program, hanya dapat dilakukan oleh pengukur yang mengerti program dan cara pemakaiannya

Gambar 3 Diagram alir metode pemeriksaan

Gambar 4. Contoh pemberian ukuran suatu pelat; a) ukuran yang tidak mampu ukur, b) ukuran yang benar

Batan, Metode Pemeriksaan Mampu Ukur

11

(membutuhkan inspektor dengan sertifikasi tertentu). Sehingga biaya pengukuran dengan cara ini relatif tinggi. Pemeriksaan Kekasaran Permukaan Secara teoritis kekasaran permukaan ratarata aritmetis Ra dan toleransi T dapat dibedakan. Akan tetapi pada kenyataannya adalah sangat sulit untuk memisahkannya. Kekasaran permukaan ditetapkan juga berdasarkan fungsi dari permukaan suatu komponen (elemen). Sampai saat ini belum ada metode/aturan pemeriksaan penetapan angka kekasaran permukaan yang dicantumkan dalam gambar teknik. Dalam praktek dan yang umum dilakukan adalah, jika permukaan tersebut tidak mempunyai fungsi yang jelas, maka Ra diambil T. Sedangkan untuk permukaan dimana suaian longgar terpakai diambil Ra > 1/4 T. Jika komponen direncanakan untuk suain pas, maka Ra > 1/10 T. Untuk permukaan dengan fungsi utama, maka ditetapkan Ra > 1/20 T [Jorden98]. Pemeriksaan Toleransi Bentuk Menurut standar ISO 1101 ada 6 jenis toleransi bentuk, yaitu: toleransi kelurusan, kedataran, kebulatan, kesilindrisan, profil linier dan profil bidang. Pemakaian toleransi bentuk pada gambar dapat mengikuti prinsip seperti berikut: Jika pada satu elemen diberikan toleransi bentuk dan toleransi orientasi, lokasi atau simpang putar bersama-sama, maka besarnya toleransi bentuk tidak lebih besar dari pada toleransi orientasi, lokasi atau simpang putarx). Besamya toleransi bentuk tidak boleh melewati toleransi linier T. Pemeriksaan spesifikasi produk harus didasarkan atas kedua prinsip tersebut. Sedangkan cara mengukur penyimpangan atau toleransi bentuk adalah dengan membandingkan bentuk elemen ukur dengan sebuah normal (misalnya: silinder, pelat sejajar, kereta dorong/eretan dll.). Hasil dari pemeriksaan penyimpangan bentuk akan dihitung dengan prinsip kebutuhan minimum (minimum requirement method). Maksudnya adalah seberapa kecil volume material komponen/produk, yang dibutuhkan untuk dapat memenuhi fungsi dari produk tersebut.

Sebuah contoh pengukuran penvimpangan kelurusan sebuah persegi panjang (kotak) dapat dilihat pada Gambar 5. Dengan memakai prinsip kebutuhan minimum, maka sebuah penggaris (pelat sejajar) akan diletakkan diatas kotak (gambar c). Penyimpangan kelurusan fG adalah jarak terbesar antara penggaris dan kotak (gambar b, c & d). Penyimpangan fG tidak boleh melebihi toleransi yang diijinkan (tG = 0,1 mm). Terlepas dari pengukuran tersebut, tinggi dan lebar kotak akan diukur dengan metode 2 titik.

Gambar 5. Pemeriksaan sebuah toleransi kelurusan pada sebuah kotak; a) pemberian toleransi pada gambar, b) daerah (zone) toleransi, c) dan d) cara pengukuran penyimpangan kelurusan (bentuk konkaf dan konvek)

x)

Toleransi orientasi terdiri dari toleransi ketegaklurusan, kemiringan dan kesejajaran. Toleransi lokasi meliputi toleransi posisi, koaxialitas dan simetri. Sedangkan toleransi simpang putar terdiri dari toleransi simpang putar sirkular dan total [ISO 1101]

12 Jurnal Teknik Mesin, Volume 2, Nomor 1, Januari 2002

Pemeriksaan Toleransi Orientasi, Lokasi dan Simpang Putar Pemeriksaan penyimpangan orientasi, lokasi dan simpang putar suatu rancangan mengacu pada paragraf sebelumnya, yaitu dikatakan bahwa toleransi orientasi, lokasi dan simpang putar harus lebih besar dari pada toleransi bentuk, untuk seluruh elemen pada satu komponen. Pengukuran penyimpangan atau toleransi orientasi, lokasi dan simpang putar harus diawali dengan pemeriksaan datum, setelah itu baru dilakukan pengukuran toleransi itu sendiri. Sehingga pada pemeriksaan toleransi ini selalu dilakukan dua kali atau lebih pengukuran. Contoh pada Gambar 6 menunjukkan bagaimana pemeriksaan toleransi kesejajaran dilakukan. fp adalah penyimpangan kesejaiaran suatu garis/bidang, dan .tidak boleh lebih besar daripada toleransi kesejajaran tp (fp tp = 0,2mm).

pengukuran, d) batas penyimpangan, e) dan f) cara pengukuran penyimpangan berbagai bentuk benda kerja. Checklist Untuk membantu pemeriksaan rancangan, dibuat sebuah checklist (Gambar 8 -Lampiran). Checklist berisi beberapa pertanyaan sesuai dengan langkah pemeriksaan. Untuk mengisi checklist seseorang hanya perlu memberi tanda (X) pada jawaban yang sudah tersedia (pada yes atau no). Jika diperlukan jawaban (keterangan) tambahan dapat diterangkan pada kolom remark. Selesai mengisi jawaban, maka pemeriksa rancangan harus mencantumkan catatan pendek sebagai hasil evaluasi, apakah suatu rancangan dapat diukur atau diperbaiki. Sebelum checklist diserahkan, pemeriksa harus menanda tanganinya, sebagai bukti bahwa pemeriksaan sudah dilakukan. Jika rancangan sudah benar, maka gambar dapat diserahkan ke bagian produksi untuk direalisasi. Contoh Aplikasi Metode Pemeriksaan Sebuah poros pendek dirancang dengan spesifikasi produk seperti pada Gambar 7. Sebelum gambar dikirim ke bagian manufaktur, maka rancangan perlu diperiksa, apakah rancangan dengan spesifikasinya dapat dikontrol setelah dibuat atau tidak. Metode pemeriksaan akan digunakan untuk pemeriksaan gambar dengan bantuan checklist, seperti berikut: Langkah 1: Pemeriksaan Dimensi: Cara pemberian ukuran yang ditetapkan desainer adalah sesuai dengan fungsi dan cara manufaktur. Berdasarkan prinsip pengukuran, maka poros diberi ukuran dengan panjang total dan tebal bibir poros. Akan tetapi, karena sudah memenuhi arah fungsi maka dapat dinyatakan bahwa pemberian ukuran sudah benar. Demikian pula dengan diameter kecil dan besar. Seluruh dimensi dapat dengan mudah diukur dengan metode 2 titik, misalnya dengan jangka sorong atau mikrometer. Langkah 2: Pemeriksaan Toleransi Linier: Sistem suaian yang dipakai adalah sistem basis poros. Sedangkan besarnya toleransi linier 10 h6 (-35 m) adalah lebih besar dari nilai toleransi simpang putar 20 m. Seperti halnya langkah sebelumnya,

(a)

(b)

(c)

(d)

(e) (f) Gambar 6. Beberapa pengukuran toleransi kesejajaran suatu garis/bidang, a) pemberian toleransi pada gambar teknik, b) uraian pengukuran penyimpangan, c) cara

Batan, Metode Pemeriksaan Mampu Ukur

13

pemeriksaan toleransi linier (diameter poros) dapat dilakukan dengan metode 2 titik. Langkah 3: Pemeriksaan Kekasaran Permukaan; nilai kekasaran permukaan dari poros Ra = 8 m akan membantu disainer dan bagian perakitan untuk memasang poros ke dalam lubang. Sedangkan Ra untuk bidang putar poros sebesar Ra = 12 m tidak mengurangi fungsi bidang tersebut. Bagaimanapun juga, surface roughness tester adalah salah satu alat untuk mengukur besamya angka kekasaran permukaan poros. Sehingga pemberian Ra = 8 dan 12 m tidak menimbulkan masalah dan dapat diperiksa. Langkah 4: Pemeriksaan Toleransi Bentuk; toleransi bentuk memang tidak dibutuhkan pada gambar ini, karena secara implisit kedataran bidang sudah termasuk didalam toleransi simpang putar. Langkah 5: Pemeriksaan Toleransi Orientasi, Lokasi dan Simpang Putar. Sama seperti langkah 2, maka besarnya nilai toleransi simpang putar akan dengan mudah diperiksa, yaitu dengan meletakkan poros diatas V-block atau dengan mencekam poros dengan chuck standar. Kemudian dilakukan pemeriksaan seperti Gambar 7.b. Cara pemeriksaan penyimpangan simpang putar dilengkapi dengan jarum ukur beserta stand, seluruh pemeriksaan harus dilakukan diatas meja rata. Poros akan diputar, sementara jarum jam akan digerakan naik turun sepanjang diameter (bidang vertikal). Besamya penyimpangan maksimum yang ditunjukan oleh jarum ukur akan dibandingkan dengan toleransi tSP dan tidak boleh melebihi 0,02 mm. Dari semua langkah yang sudah dijelaskan diatas, maka dapat dikatakan bahwa rancangan poros dapat diukur. Artinya poros yang dirancang mempunyai sifat mampu ukur, dan rancangan dapat direalisasi ke bagian produksi.

Gambar 7. a) Gambar poros dengan spesifikasi (rancangan - mampu ukur), b) cara pengukuran penyimpangan simpang putar dari bidang Kesimpulan Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa penerapan metode pemeriksaan ini tidak sulit. Akan tetapi memerlukan pengetahuan khusus tentang toleransi, alat ukur serta metode pengukuran standar. Checklist yang dibuat sangat praktis dan singkat serta bermanfaat sebagai dokumentasi, seperti apa yang dituntut oleh standar ISO 9000. Referensi [1] Aberle, W., Brinkmann, B., Mueller, H., 1990, Pruefterfahren Form- und Lagetoleranzen. Beuth-Kommentare, DIN e.V. Berlin, Koeln. [2] Batan, I Made Londen, Bobby O.P.S, Achmad Mulyana dan Sutikno, 2001, "Metode Perancangan Untuk Manufaktur Berbasis Komputer", Jurusan Teknik Mesin FTI-ITS. [3] Batan, I Made Londen, 2001, "Software Perancangan Produk. Quality In Research" Fakultas Teknik Universitas Indonesia.. [4] Batan, I Made Londen, 2000, .Methodik zur Behandlung und Dokumentation von Formund Lagetoleranzen in

14 Jurnal Teknik Mesin, Volume 2, Nomor 1, Januari 2002

Zertifizierungsprozess. VWF Veriag, Berlin, [5] Henzold, G., 1995, Handbook of Geometrical Tolerancing - Design, Manufacturing and Inspection, Willey and Sons Ltd. Singapore, England,

[6] Jorden, W., 1998, Formund Lagetoleranzen, Carl Hanser Verlag. Muenchen.. [7] Taufiq Rochim & Sri Hardjoko Wiriomartono, 1991, "Spesifikasi Geometris, Metrologi Industri & Kontrol Kualitas", Laboratorium Teknik Produksi. Jurusan Teknik Mesin FTI ITB.

Lampiran

ME
Manufact ure Engineering Division

MEASURABILITY CHECKLIST Name of Part :

Page : From : Checked by :

Date : Drawing Number :

Customer Step 1 2 3 Desription Apakah dimensi pada gambar sesuai dengan cara pengukuran? Apakah penetapan toleransi linier sudah benar? Apakah angka kekasaran permukaan yang dicantumkan pada gambar memenuhi fungsi produk yang dirancang? Apakah penetapan toleransi bentuk (kelurusan, kedataran, kebulatan atau kesilindrisan dan profil linier serta bidang) sudah benar? Apakah penetapan toleransi orientasi (ketegak-lurusan, kemiringan atau kesejajaran), lokasi (posisi, koaksialitas atau simetri) atau toleransi simpang putar (linier atau total) sudah benar? Yes No

Phone : Remark

Comment **

Signature :

Checked and Approved by :

Keterangan : ** Diisi sesuai dengan rangkuman keterangan yang berasal dari kolom remark. Pada bagian mana saja dari rancangan produk yang memerlukan perbaikan.

Gambar 8. Checklist untuk evaluasi mampu ukur rancangan (contoh)

Beri Nilai