Anda di halaman 1dari 66

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah Tugas perkembangan pada masa remaja menuntut perubahan besar dalam peralihan dari masa kanak-kanak menuju masa dewasa. Perubahan besar yang dimaksud salah satunya adalah ketika masa kanak-kanak dan masa puber terdapat pertentangan dengan lawan jenis, masuk masa remaja berarti mempelajari hubungan baru lawan jenis dengan tujuan bagaimana bergaul dengan lawan jenis dan teman sebaya. Sehingga agar tugas perkembangan remaja dalam hal ini adalah siswa kelas XI SMK Diponegoro 1 Rawamangun Jakarta Timur tersebut optimal maka perlu adanya bimbingan dan konseling yang terkait dengan aspek pribadi-sosial individu. Syamsu Yusuf (2009:55), salah satunya adalah memiliki kemampuan berinteraksi sosial (human relationship), yang diwujudkan dalam bentuk hubungan persahabatan, persaudaraan atau silaturahmi dengan sesama manusia. Berkaitan dengan hubungan sosial, remaja harus menyesuaikan diri dengan orang di luar lingkungan keluarga, dan kelompok teman sebaya (peer group). Kuatnya pengaruh kelompok sebaya terjadi karena remaja lebih banyak berada di luar rumah bersama dengan teman sebaya. saling mencontoh atau meniru, bisa saling curhat dan berbagi. Kelompok teman sebaya memiliki aturan dan norma sosial tertentu yang harus dipatuhi oleh remaja sebagai anggota kelompoknya.

Didalam kelompok remaja lebih banyak bergantung dengan aturan dan norma yang berlaku dalam kelompok, disebabkan oleh adanya motivasi remaja untuk menuruti ajakan dalam kelompoknya cukup tinggi, karena menganggap aturan kelompok adalah yang paling benar serta ditandai dengan berbagai usaha yang dilakukan remaja agar diterima dan diakui

keberadaannya dalam kelompok. Kondisi emosional yang labil pada remaja juga turut mendorong individu untuk lebih mudah melakukan konformitas. Kebutuhan untuk diterima dalam kelompok sebaya menyebabkan remaja melakukan perubahan dalam sikap dan perilaku sesuai dengan perilaku anggota kelompok teman sebaya. Hal ini disebutkan oleh Hurlock (1980:213) yang menjelaskan demikian pula bila anggota kelompok mencoba minum alkohol, obat-obat terlarang atau merokok, maka remaja cenderung mengikutinya tanpa memperdulikan akibatnya bagi diri mereka sendiri. Hal tersebut tidak mengherankan, karena terkadang remaja begitu ingin diterima sehingga akan melakukan apapun sesuai penilaian dan persetujuan dari kelompok teman sebaya agar diterima dan diakui keberadaannya dalam kelompok. Sarwono (2009:106) melakukan tindakan yang sesuai dengan norma sosial dalam psikologi sosial dikenal sebagai konformitas. Baron dkk. (dalam Sarwono, 2009:106) Konformitas adalah suatu bentuk pengaruh sosial dimana individu mengubah sikap dan tingkah lakunya agar sesuai dengan norma sosial. Dari pengertian konformitas yang disebutkan oleh para ahli maka dapat disimpulkan bahwa konformitas merupakan perilaku sama

dengan orang lain sesuai dengan norma yang ada. Kiesler & Kiesler (dalam Sarwono, 2001:173) Adanya konformitas dapat dilihat dari perubahan perilaku atau keyakinan karena adanya tekanan dari kelompok, baik yang sungguh-sungguh ada maupun yang dibayangkan saja. Tekanan yang terjadi didalam kelompok baik langsung maupun tidak langsung akan menyebabkan perubahan prilaku remaja. perubahan ini terjadi sebagai usaha remaja untuk menyesuaikan diri dengan norma kelompok. Remaja yang tidak menyesuaikan diri dengan norma kelompok akan menyebabkan kesenjangan antar anggota kelompok. Kuatnya pengaruh norma kelompok pada perilaku remaja memicu munculnya perilaku-perilaku yang tidak sesuai dengan norma masyarakat. Agar remaja sebagai peserta didik berkembang sesuai tujuan pendidikan dibutuhkan suatu upaya mengembangkan dan memfasilitasi potensi peserta didik. Upaya ini merupakan bagian dari tanggung jawab bimbingan dan konseling disekolah diorientasikan pada upaya memfasilitasi perkembangan peserta didik yang meliputi aspek pribadi, sosial, karir dan belajar. Havighurst (dalam Hurlock, 1994:220) berpendapat bahwa kelompok teman sebaya adalah suatu kelompok yang terdiri dari remaja yang mempunyai usia, sifat, dan tingkah laku yang sama dan ciri-ciri utamanya adalah timbul persahabatan. Konsep konformitas seringkali digeneralisasikan untuk masa remaja karena dari banyak penelitian terungkap, salah satunya adalah penelitian Solomon Asch (dalam Sarwono, 2009:107-108)

menunjukan bahwa orang cenderung melakukan konformitas. Yang kedua penelitian yang dilakukan oleh Rambe (dalam Sarwono, 2009:111-112) terkait tawuran remaja yang menunjukan hasil remaja memiliki

kecenderungan untuk melakukan konformitas. Hal tersebut dapat dimengerti mengingat pada masa remaja proses pemantapan diri sedang berlangsung sehingga remaja akan lebih rentan terhadap pengaruh perubahan dan tekanan yang ada di sekitarnya. Dari beberapa pendapat diatas dapat disimpulkan Dasar utama dari konformitas adalah ketika individu melakukan aktivitas dimana terdapat dorongan yang kuat untuk melakukan sesuatu yang sama dengan yang lainnya, walaupun tindakan tersebut merupakan cara-cara yang menyimpang. Remaja yang mempunyai tingkat konformitas tinggi akan lebih banyak tergantung pada aturan dan norma yang berlaku dalam kelompoknya, sehingga remaja cenderung mengatribusikan setiap aktivitasnya sebagai usaha kelompok, bukan usahanya sendiri. Monks, dkk, (2006:283) Apabila kelompok tersebut dirasa menguntungkan maka remaja akan berbuat sesuai dengan tuntutan (pemimpin-pemimpin) kelompoknya. maka kecenderungan melakukan konformitas semakin banyak. Konformitas terhadap tekanan teman sebaya pada remaja dapat menjadi positif dan negatif. konformitas remaja yang positif yaitu seperti keterlibatan remaja dengan kumpulan atau sebuah organisasi yang mengumpulkan uang untuk kegiatan kemanusiaan, menghabiskan waktu dengan anggota dari perkumpulan dan dengan mengajak juga terlibat dalam

kegiatan-kegiatan yang positif; sedangkan konformitas remaja yang negatif yaitu seperti menggunakan bahasa yang asal-asalan, mencuri, coret mencoret, dan mempermainkan orang tua dan guru. Berdasarkan uraian tersebut dapat dikatakan bahwa teman sebaya merupakan sumber penghargaan lebih besar daripada ibu dan ayah mereka Hal ini dapat terjadi karena dalam hubungan dengan teman sebaya tidak ditemui adanya pengharapan dan tuntutan yang membebani sebagaimana halnya dari orang tua. Hubungan dengan teman sebaya yang ditujukan dengan interaksi yang terus terjalin dengan teman sebaya membuat remaja mempersepsi dirinya berdasarkan cerminan dari penilaian teman sebaya. Penilaian orang lain menurut persepsi individu yang bersangkutan dan penilaian diri yang dilakukan oleh dirinya sendiri mempengaruhi konsep diri remaja Hurlock (1980) mengemukakan, konsep diri merupakan inti dari pola perkembangan kepribadian seseorang yang akan mempengaruhi berbagai bentuk sifat. Jika konsep diri positif, anak akan mengembangkan sifat-sifat seperti kepercayaan diri, harga diri dan kemampuan melihat dirinya secara realistis, sehingga akan menumbuhkan penyesuaian yang baik. Sebaliknya apabila konsep diri negatif, dapat membentuk kepribadian remaja yang tidak sehat seperti rendah diri, tidak percaya diri, pemalu dan sebagainya. konsep diri mempunyai pengaruh yang cukup besar terhadap perilaku individu, yaitu individu akan bertingkah laku sesuai dengan konsep diri yang dimiliki.

Menurut pendapat Hurlock diatas dapat diambil kesimpulan bahwa Konsep diri sangat mempunyai peranan penting untuk menyeimbangkan prilaku remaja dengan tatacara perilaku pergaulannya dengan teman sebayanya. remaja juga tidak terjebak pada prilaku konformitas yang dapat menyebabkan kerugian pada dirinya. Maka dari itu perlu adanya bimbingan agar remaja dapat berkembang dan tumbuh secara optimal sehingga dapat mengetahui bakat dan minatnya. Realitas yang terjadi dari hasil pengamatan peneliti ketika beberapa bulan memberikan layanan bimbingan konseling disekolah terjadi venomena dikalangan remaja dalam hal ini adalah siswa. hasil dari pengamatan tersebut venomena yang terjadi banyak di kalangan remaja dalam melakukan hubungan interaksi sosial membentuk kelompok kecil untuk saling berbagi, bercerita, mengobrol, bercanda, dan lain sebagainya. Uniknya prilaku anggota kelompok tersebut memiliki kesamaan baik dalam menggunakan bahasa, cara bercanda, maupun gaya hidup. Seperti : ayo men kita ke kantin, sama Ae kaya temen gue, speak ae lu, ah dia mah ngehe dan lain sebagainya. Venomena prilaku tersebut mengantarkan peneliti kedalam pertanyaan apakah konsep diri yang mendasari remaja untuk melakukan konformitas. Berdasarkan permasalahan di atas maka peneliti ingin melakukan penelitian dengan judul Hubungan Konsep Diri Remaja Dengan Konformitas Teman Sebaya

B. Identifikasi Masalah Dalam rumusan masalah ini peneliti mencoba mengangkat

permasalahan siswa Sekolah Menengah Atas karena merupakan masa remaja madya dengan segala bentuk perubahan dan permasalahan. terutama dalam bidang pribadi dan sosial yang harus di hadapi menuju kedewasaan. Adapun identifikasi masalah ini adalah : 1. Bagaimana gambaran umum perilaku konformitas teman sebaya yang dilakukan remaja kelas XI SMK Diponegoro 1 Jakarta Timur pada Tahun Ajaran 2012-2013? 2. Bagaimana gambaran umum konsep diri pada remaja kelas XI SMK Diponegoro 1 Jakarta Timur pada Tahun Ajaran 2012-2013? 3. Apakah terdapat hubungan yang signifikan antara konsep diri remaja dengan konformitas teman sebaya di kelas XI SMK Diponegoro 1 Jakarta Timur pada Tahun Ajaran 2012-2013? C. Pembatasan Masalah Berdasarkan identifikasi masalah di atas maka permasalahan yang dapat dibatasi pada hubungan konsep diri remaja dengan konformitas teman sebaya di kelas XI SMK Diponegoro 1 Jakarta Timur pada Tahun Ajaran 2012-2013 D. Rumusan Masalah Apakah ada hubungan konsep diri remaja dengan konformitas teman sebaya di kelas XI SMK Diponegoro 1 Jakarta Timur pada Tahun Ajaran

2012-2013 E. Tujuan Penelitian Tujuan dari meneliti masalah ini adalah untuk mengetahui hubungan konsep diri remaja dengan konformitas teman sebaya di kelas XI SMK Diponegoro 1 Jakarta Timur pada Tahun Ajaran 2012-2013 F. Manfaat Penelitian Hasil penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat untuk: 1. Memperoleh khazanah keilmuan dalam bidang Bimbingan dan Konseling yang dapat dijadikan referensi bagi peneliti selanjutnya. 2. Memberikan sumbangan bagi ilmu pengetahuan khususnya di bidang Bimbingan dan Konseling tentang hubungan konsep diri remaja dengan konformitas teman sebaya 3. bagi orang tua, penelitian ini dapat digunakan agar dapat memperoleh gambaran tentang keadaan remaja saat ini dan lebih memberikan perhatian, penghargaan dan mengarahkan anak kepada hal-hal positif agar memiliki konsep diri yang positif. 4. bagi siswa, penelitian ini dapat dijadikan sebagai bekal pengetahuan dalam mengenal dan memahami pentingnya konsep diri yang positif dalam kehidupan sehari-hari sehingga remaja tidak terjebak dan terbawa oleh pengaruh negatif dari konformitas teman sebaya

BAB II KAJIAN TEORI, KERANGKA BERPIKIR DAN HIPOTESIS

A. KAJIAN TEORI 1. KONFORMITAS a. Pengertian Konformitas Baron, dkk 2008 (Sarwono: 2009:105) mendefinisikan konformitas adalah suatu bentuk pengaruh sosial dimana individu mengubah sikap dan tingkah lakunya agar sesuai dengan norma sosial. Sedangkan menurut Sarwono (2001:182) berpendapat bahwa konformitas adalah prilaku sama dengan orang lain yang didorong oleh keinginan sendiri. Konformitas terhadap kelompok teman sebaya ternyata merupakan suatu hal yang paling banyak terjadi pada masa remaja. Agar remaja dapat diterima dalam kelompok acuan maka penampilan fisik merupakan potensi yang dimanfaatkan untuk memperoleh hasil yang menyenangkan yaitu merasa terlihat menarik atau merasa mudah berteman. Konformitas muncul pada masa remaja awal yaitu antara 13 tahun sampai 16 atau 17 tahun, yang ditunjukkan dengan cara menyamakan diri dengan teman sebaya dalam hal berpakaian, bergaya, berperilaku, berkegiatan dan sebagainya. Sebagian remaja beranggapan bila mereka berpakaian atau menggunakan aksesoris yang sama dengan yang sedang diminati kelompok acuan, maka timbul rasa percaya diri dan kesempatan

10

diterima kelompok lebih besar. Oleh karena itu, remaja cenderung menghindari penolakan dari teman sebaya dengan bersikap konform atau sama dengan teman sebaya. seperti yang diungkapkan oleh Shepard (Kamanto, 2004:175) yang mendefinisikan konformitas merupakan bentuk interaksi yang di dalamnya seseorang berprilaku terhadap orang lain sesuai dengan harapan kelompok. Sears (1985:76) memandang konformitas sebagai bentuk khusus dari ketaatan yang dilakukan karena adanya tekanan kelompok. Bentuk tekanan kelompok sebagai motif untuk berprilaku konfrom mencakup harapan untuk diberi penghargaan dari kelompok atau untuk menghindari hukuman, Theodore, (1985:321) Zebua dan Nurdjayadi mengungkapkan Konformitas adalah satu tuntutan yang tidak tertulis dari kelompok teman sebaya terhadap anggotanya namun memiliki pengaruh yang kuat dan dapat menyebabkan munculnya perilaku-perilaku tertentu pada remaja-anggota kelompok tersebut (http://abudaud2010.blogspot.com/2010/08/konformitas.html: di akses pada tanggal 22 Mei 2013). Sears (1985:76) berpendapat bahwa bila seseorang menampilkan perilaku tertentu karena disebabkan oleh orang lain menampilkan perilaku tersebut, disebut konformitas. Zebua dan Nurdjayadi (Swandono dkk, 2013:9) mengemukakan bahwa konformitas pada remaja umumnya terjadi karena mereka tidak ingin dipandang berbeda dengan teman-temannya. Pada remaja, tekanan teman sebaya lebih dominan. Hal ini disebabkan oleh besarnya keinginan

11

untuk menjaga harmonisasi dan penerimaan sosial dalam kelompok. Kiesler & Kiesler (Sarwono, 2001:172) menyatakan bahwa konformitas adalah perubahan prilaku atau keyakinan karena adanya tekanan dari kelompok baik yang sungguh-sunggu ada maupun yang dibayangkan saja. Dengan demikian secara garis besar konformitas adalah

kecenderungan berperilaku sama dengan orang lain akibat adanya tekanan individu atau kelompok. Tekanan tersebut dapat berupa tekanan secara langsung atau tidak langsung dengan tujuan supaya individu diterima orang lain atau terhindar dari masalah. b. Teman Sebaya Hurlock (1980:214) Kelompok sebaya memberikan sebuah dunia tempat kawula muda dapat melakukan sosialisasi dalam suasana di mana nilai-nilai yang berlaku bukanlah nilai-nilai yang ditetapkan oleh orang dewasa melainkan oleh teman-teman seusianya. Menurut Santoso (1992:82-85) Dalam kelompok sebaya individu merasakan adanya kesamaan satu dengan yang lainya seperti di bidang usia, kebutuhan dan tujuan yang dapat memperkuat kelompok. di antara anggota kelompok merasakan adanya tanggung jawab di atas keberhasilan dan kegagalan kelompoknya. Sedangkan menurut Syamsu Yusuf (2000:60) Teman sebaya adalah sekelompok anak yang mempunyai kesamaan dalam minat, nilai-nilai, sifat-sifat kepribadian dan pendapat. Kesamaan inilah yang menjadi

12

faktor utama pada anak dalam menentukan daya tarik hubungan interpersonal dengan teman seusianya. Kelompok teman sebaya disebut juga peer groups yakni kelompok anak sebaya yang dapat berinteraksi dan bersosialisasi. Dalam berinteraksi dan bersosialisasi secara tidak langsung remaja akan menemukan nilai-nilai yang telah lakukan atau disepakati oleh teman sebayanya. Teman sebaya yaitu suatu kelompok anak-anak yang memiliki tingkat usia dan ciri-ciri yang sama dan memiliki kesenangan yang sama. (http://zaturasmith34.blogspot.com/2013/03/definisi-teman-sebaya.html. diakses 14 Mei 2013). Chaplin. J.P. (2000:357) mendefinisikan teman sebaya merupakan satu kelompok dengan mana anak mengasosiasikan dirinya. Dengan kata lain teman sebaya merupakan sekelompok kawan yang seusia atau yang memiliki persamaan, baik secara sah maupun secara psikologi Dengan beberapa pendapat tersebut dapat disimpulkan bahwa yang dimaksud dengan teman sebaya adalah suatu kelompok baru yang anggotanya di luar anggota keluarga yang mempunyai kesamaan nilainilai, sifat-sifat, pendapat, minat dan usianya rata-rata sejajar atau relatif sama. Biasanya mereka sering bertemu sehingga timbul keakraban serta dapat memberikan rasa aman yang satu dengan yang lainnya.

13

c. Konformitas Teman Sebaya Konformitas dapat terjadi dalam beberapa bentuk dan

mempengaruhi aspek-aspek kehidupan remaja. Konformitas (conformity) muncul ketika individu meniru sikap atau tingkah laku orang lain di karenakan tekanan yang nyata maupun yang dibayangkan oleh mereka. Tekanan untuk mengikuti teman sebaya menjadi sangat kuat pada masa remaja. Konformitas terhadap tekanan teman sebaya, remaja dapat menjadi positif dan negatif. Remaja terlibat dengan tingkah laku sebagai akibat dari konformitas yang negatif, seperti menggunakan bahasa yang asalasalan, mencuri, coret mencoret, dan mempermaikan orang tua dan guru. Namun banyak konformitas pada remaja yang tidak negatif dan merupakan keinginan untuk terlibat dalam dunia teman sebaya, misalnya berpakaian seperti teman-temannya dan ingin menghabiskan waktu dengan anggota dari perkumpulan. Keadaan seperti ini dapat melibatkan aktivitas sosial yang baik, misalnya ketika suatu perkumpulan mengumpulkan uang untuk alasan yang benar. Kesimpulannya, konformitas teman sebaya merupakan ide yang umum dalam kehidupan remaja. Kekuatannya dapat diamati pada hampir tiap sisi kehidupan remaja, pilihan mereka atas baju yang ingin dipakai, musik yang ingin didengarkan, bahasa, nilai-nilai, aktivitas liburan dan lain-lain. Orang tua, guru dan orang dewasa lainnya dapat membantu remaja untuk menghadapi tekanan teman sebaya.

14

d. Jenis Konformitas Menurut Myers (Sarwono, 2009:111) terdapat dua jenis

konformitas, yaitu compliance dan acceptance. 1). Compliance Individu bertingkah laku sesuai dengan tekanan kelompok, sementara secara pribadi ia tidak menyetujui tingkah laku tersebut. 2). Acceptance Tingkah laku dan keyakinan individu sesuai dengan tekanan kelompok yang diterimanya. e. Aspek-Aspek Konformitas Konformitas sebuah kelompok acuan dapat mudah terlihat dengan adanya ciri-ciri yang khas. Sears (1985:85-87) mengemukakan secara eksplisit bahwa konformitas remaja ditandai dengan adanya tiga hal sebagai berikut: 1). Kekompakan Kekuatan yang dimiliki kelompok acuan menyebabkan remaja tertarik dan ingin tetap menjadi anggota kelompok. Eratnya hubungan remaja dengan kelompok acuan disebabkan perasaan suka antara anggota kelompok serta harapan memperoleh manfaat dari keanggotaannya. Semakin besar rasa suka anggota yang satu terhadap anggota yang lain, dan semakin besar harapan untuk memperoleh manfaat dari keanggotaan kelompok serta semakin

15

besar kesetiaan mereka, maka akan semakin kompak kelompok tersebut. Kekompakan tersebut dapat dipengaruhi oleh hal-hal sebagai berikut: a). Penyesuaian Diri Kekompakan yang tinggi menimbulkan tingkat

konformitas yang semakin tinggi. Alasan utamanya adalah bahwa bila orang merasa dekat dengan anggota kelompok lain, akan semakin menyenangkan bagi mereka untuk mengakui kita, dan semakin menyakitkan bila mereka mencela kita.

kemungkinan untuk menyesuaikan diri akan semakin besar bila kita mempunyai keinginan yang kuat untuk menjadi anggota sebuah kelompok tertentu. b). Perhatian terhadap Kelompok Peningkatan konformitas terjadi karena anggotanya

enggan disebut sebagai orang yang menyimpang. Seperti yang telah kita ketahui, penyimpangan menimbulkan resiko ditolak. Orang yang terlalu sering menyimpang pada saat-saat yang penting diperlukan, tidak menyenangkan, dan bahkan bias dikeluarkan dari kelompok. Semakin tinggi perhatian seseorang dalam kelompok semakin serius tingkat rasa takutnya terhadap penolakan, dan semakin kecil kemungkinan untuk tidak meyetujui kelompok.

16

2). Kesepakatan Pendapat kelompok acuan yang sudah dibuat memiliki tekanan kuat sehingga remaja harus loyal dan menyesuaikan pendapatnya dengan pendapat kelompok. Kesepakatan tersebut dapat di pengaruhi oleh hal-hal sebagai berikut: a). Kepercayaan Penurunan melakukan konformitas yang drastis karena hancurnya kesepakatan disebabkan oleh faktor

kepercayaan. Tingkat kepercayaan terhadap mayoritas akan menurun bila terjadi perbedaan pendapat, meskipun orang yang berbeda pendapat itu sebenarnya kurang ahli bila dibandingkan anggota lain yang membentuk mayoritas. Bila seseorang sudah tidak mempunyai kepercayaan terhadap pendapat kelompok, maka hal ini dapat mengurangi ketergantungan individu terhadap kelompok sebagai sebuah kesepakatan. b. Persamaan Pendapat Bila dalam suatu kelompok terdapat satu orang saja tidak sependapat dengan anggota kelompok yang lain maka konformitas akan turun. Kehadiran orang yang tidak sependapat tersebut menunjukkan terjadinya perbedaan yang dapat

berakibat pada berkurangnya kesepakatan kelompok. Jadi dengan persamaan pendapat antar anggota kelompok maka konformitas akan semakin tinggi.

17

c. Penyimpangan terhadap pendapat kelompok Bila orang mempunyai pendapat yang berbeda dengan orang lain dia akan dikucilkan dan dipandang sebagai orang yang menyimpang, baik dalam pandangannya sendiri maupun dalam pandangan orang lain. Bila orang lain juga mempunyai pendapat yang berbeda, dia tidak akan dianggap menyimpang dan tidak akan dikucilkan. Jadi kesimpulan bahwa orang yang menyimpang akan menyebabkan penurunan kesepakatan

merupakan aspek penting dalam melakukan konformitas. 3). Ukuran Kelompok Serangkaian eksperimen menunjukan bahwa konformitas akan meningkat bila ukuran mayoritas yang sependapat juga meningkat setidak-tidaknya sampai tingkat tertentu, Eksperimen yang dilakukan oleh Asch (1951) yang mengubah ukuran mayoritas dari dua sampai 16 orang untuk melakukan aktifitas yang sama dan pada waktu yang bersamaan menghasilkan. tingkat

konformitas yang paling tinggi ukuran kelompok yang optimal adalah tiga atau empat orang. Asch (Sears, 1985:88-89). Dengan demikian berdasarkan hasil eksperimen yang dilakukan oleh Asch menyimpulkan bahwa tingkat konformitas yang paling kuat terjadi antara tiga sampai empat orang. lebih dari tiga sampai empat orang tingkat konformitas tidak sekuat tiga atau empat orang.

18

Berbeda dengan Penelitian yang dilakukan oleh Wilder (1977) yang berbanding terbalik dari penelitian Asch. Wilder memberikan kejelasan bahwa yang menimbulkan perbedaan konformitas yang terjadi bukan jumlah orang semata-mata. Hasil penelitian Wilder menyimpulkan bahwa pengaruh kelompok pada konformitas tidak terlalu besar akan tetapi yang menjadi pengaruh utamanya adalah jumlah pendapat lepas (independent opinion) dari kelompok yang berbeda atau dari individu, Wilder (Sears, 1985:90) Dengan demikian hasil penelitian Wilder menjelaskan ukuran kelompok diatas tiga atau empat orang hanya sedikit mempengaruhi konformitas bila kelompok bertindak sebagai suatu kesatuan jumlah individu dalam kelompok tersebut tidak akan menimbulkan pengaruh. Akan tetapi penilaian lepas dari orang di luar kelompok dapat meningkatkan konformitas. f. Faktor Yang Mempengaruhi Konformitas Ada empat faktor yang perlu diperhatikan yang dapat

mempengaruhi konformitas (Baron dan Byrne, 2003:56-57), yaitu: 1). Kohesivitas Kohesivitas dapat didefinisikan sebagai derajat ketertarikan yang dirasa individu terhadap suatu kelompok. Semakin besar kohesivitas, maka akan tinggi keinginan individu untuk melakukan konformitas terhadap kelompok. Sebaliknya jika kohesivitas rendah tekanan terhadap konformitas juga rendah. Sarwono (2001:182-185)

19

menambahkan kohesivitas adalah perasaan keterpaduan, antar anggota kelompok. Semakin besar keterpaduan atau cohesiveness maka semakin besar pula pengaruhnya pada perilaku individu. Dengan demikian kohesivitas memunculkan efek yang kuat terhadap konformitas 2). Ukuran kelompok Sehubungan dengan hal ini masih terdapat perdebatan mengenai besar kecilnya jumlah anggota dalam suatu kelompok yang mempengaruhi konformitas. Namun jika jumlah anggota melebihi tiga orang akan meningkatkan konformitas. Besarnya kelompok, kelompok yang kecil lebih memungkinkan melakukan konformitas daripada kelompok yang besar. Sarwono (2001:183). Sedangkan Winder, 1977 (Sears, 1985:90) berkesimpulan bahwa pengaruh ukuran kelompok terhadap konformitas tidak terlalu besar. Jumlah pendapat lepas dari kolompok berbeda atau dari individu merupakan faktor pengaruh utama. Bond dan Smith, 1996 (Baron dan Byrne, 2003:57) mengungkapkan studi-studi terkini menemukan bahwa konformitas cenderung meningkat seiring dengan

meningkatnya ukuran kelompok. jadi semakin besar kelompok tersebut maka semakin besar pula kecenderungan kita untuk ikut serta. 3). Norma Sosial Ada dua macam norma sosial yaitu norma deskriptif dan

20

norma

injungtif.

Norma

deskriptif

adalah

norma

yang

mendeskirpsikan apa yang sebagian besar orang lakukan dan norma injungtif adalah norma yang menetapkan apa yang harus dilakukan. (Sears dkk, 2009: 259) pengaruh normatif terjadi ketika kita mengubah prilaku kita untuk menyesuaikan diri dengan norma kelompok atau standar kelompok agar kita diterima secara sosial. Individu sering menyesuaikan prilkunya sesuai dengan norma yang ada agar individu tersebut diterima dengan baik oleh lingkungan sekitarnya. Theodore (1985:321) mengungkapkan sebagian besar konformitas muncul kerena adanya norma-norma 2. KONSEP DIRI a. Pengertian Konsep Diri Menurut Burns (Clara R. P, 1988:2) konsep diri adalah hubungan antara sikap dan keyakinan tentang diri kita sendiri sedangkan menurut Wrightsman, dkk 1993 (Sarlito, 2009:53) mengemukakan bahwa konsep diri merupakan sekumpulan keyakinan dan perasaan seseorang mengenai dirinya. Perasaan dan keyakinan seseorang berkaitan dengan bakat, minat, kemampuan, penampilan dan lain sebagainya. Seseorang yang memiliki keyakinan dengan mempunyai handphone tidak bagus tidak dapat dihargai oleh orang lain maka ketika ia mengeluarkan handphonenya orang tersebut akan hilang kepercayaan dirinya karena takut tidak dihargai orang lain. Sarlito W. Sarwono (2009:54) Konsep diri pada dasarnya

21

merupakan suatu skema, yaitu pengetahuan yang terorganisasi mengenai sesuatu yang kita gunakan untuk menginterpretasikan pengalaman. Sedangkan Clara R. P (1988:3) berpendapat bahwa konsep diri merupakan sikap dan pandangan individu terhadap seluruh keadaan dirinya. Hal ini berkaitan dengan intropeksi diri dan persepsi diri. ketika telah melakukan sesuatu atau melihat sesuatu yang akhirnya menjadikan apa yang dilihat dan dirasakan sebagai pembelajaran diri. Dengan demikian konsep diri dapat diartikan secara umum sebagai keyakinan, pandangan atau penilaian seseorang, perasaan dan pemikiran individu terhadap dirinya yang meliputi kemampuan, karakter, maupun sikap yang dimiliki individu. Konsep diri merupakan penentu sikap individu dalam bertingkah laku, artinya apabila individu cenderung berpikir akan berhasil, maka hal ini merupakan kekuatan atau dorongan yang akan membuat individu menuju kesuksesan. Hal ini sependapat dengan dengan Fitts (Agustiani, 2009:139) yang mengatakan bahwa konsep diri berpengaruh kuat terhadap tingkah laku seseorang. Sebaliknya jika individu berpikir akan gagal, maka hal ini sama saja mempersiapkan kegagalan bagi dirinya. Monks (2006:22) berpendapat bahwa konsep diri (self-concep) dan harga diri (self-esteem) akan turun bila seseorang tidak dapat melaksanakan tugas perkembangan dengan baik. Berdasarkan pendapat para ahli diatas, maka dapat disimpulkan bahwa pengertian konsep diri dapat meliputi:

22

1). Siapa individu menurut individu 2). Dalam posisi mana individu berada 3). Apa yang baik dan yang tidak baik yang dilakukan Individu Konsep diri positif cenderung menyenangi dan menghargai diri mereka sendiri menghadapi suatu permasalahan dengan berfikir positif dan menerima perbedaan. Individu dengan konsep diri yang positif juga memiliki rasa aman dan percaya diri yang tinggi, memiliki kepercayaan dan keyakinan diri untuk menanggulangi masalah dengan jiwa besar. Sedangkan individu yang memiliki konsep diri yang negatif hanya memperhatikan dirinya sendiri sepanjang waktu, tidak pernah puas, takut kehilangan sesuatu,, takut tidak diakui, iri kepada mereka yang memiliki kelebihan Dalam konteks pendidikan terdapat karakter siswa yang memiliki konsep diri yang positif dan negatif. Hurlock mengemukakan bahwa ciriciri konsep diri siswa yang menunjukan kecenderungan positif dalam hal kesadaran hubungan dengan lingkungan, perbedaan penampilan antara laki-laki dalan perempuan, peduli akan penampilan diri, sikap bertanggung jawab, memiliki kepercayaan diri, dan melihat sesuatu lebih objektif dan realistis. Sedangkan ciri-ciri konsep diri yang negatif tampak pada perasaan rendah diri sehingga cenderung menyesuaikan diri secara berlebihan, berusaha memperoleh persetujuan lingkungan, egosentrik,

23

mengabaikan peraturan dan hukum-hukum yang diharapkan untuk dipatuhi, tidak mampu mempelajari apa yang benar dan apa yang salah, serta tidak dapat bertanggung jawab. Dari uraian di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa seseorang yang memiliki konsep diri yang positif ditandai oleh penilaian diri secara realistis, bersikap positif pada diri sendiri dan orang lain, percaya diri (self-confidence), memiliki ketegasan dan spontan, optimistis, mampu menangani masalah atau konflik pribadi secara efektif, tampil bebas, memiliki kehangatan dalam hubungan sosial, memiliki harapan hidup, dan mampu merencanakan sesuatu untuk perwujudan harapan-harapan hidupnya secara positif dan dinamis. pemahaman individu tentang segala potensi, memahami

kelebihan dan kelemahan yang dimiliki akan membantu individu dalam menghadapi tuntutan jaman, sehingga tidak terbawa arus, mampu menyesuaikan diri dan pada akhirnya mampum hidup di masyarakat dengan memiliki konsep diri yang positif

b. Aspek-Aspek Konsep Diri Konsep diri merupakan gambaran mental yang dimiliki oleh seorang individu memiliki tiga aspek yaitu pengetahuan yang dimiliki individu mengenai dirinya sendiri, pengharapan yang dimiliki individu untuk dirinya sendiri serta penilaian mengenai diri sendiri (Calhoun dan Acocella, 1990:67-71).

24

1). Pengetahuan Dimensi pertama dari konsep diri adalah pengetahuan. Pengetahuan yang dimiliki individu merupakan apa yang individu ketahui tentang dirinya. Hal ini mengacu pada istilah-istilah

kuantitas seperti usia, jenis kelamin, kebangsaan, pekerjaan dan lainlain dan sesuatu yang merujuk pada istilah kualitas, seperti individu yang egois, baik hati, tenang, dan bertemparemen tinggi. Pengetahuan bisa diperoleh dengan membandingkan diri individu dengan kelompok pembandingnya. Pengetahuan yang dimiliki tidaklah menetap sepanjang hidupnya. Pengetahuan bisa berubah dengan cara merubah tingkah laku individu tersebut atau dengan cara mengubah kelompok pembanding. 2). Harapan Dimensi kedua dari konsep diri adalah harapan. Selain individu mempunyai satu set pandangan tentang dirinya, individu juga memiliki apa di masa mendatang. Rogers dalam Calhoun dan Acocella (1990:71). Singkatnya, setiap individu mempunyai pengahrapan bagi dirinya sendiri dan pengharapan tersebut berbedabeda pada setiap individu. 3). Penilaian Dimensi terakhir dari konsep diri adalah penilaian terhadap diri sendiri. Individu berkedudukan sebagai penilai terhadap dirinya sendiri setiap hati, penilaian terhadap diri sendiri adalah pengukuran

25

individu tentang keadaannya saat ini dengan apa yang menurutnya dapat dan terjadi pada dirinya. Berdasarkan uaraian di atas dapat disimpulkan bahwa konsep diri yang dimiliki setiap individu terdiri dari tiga aspek, yaitu pengetahuan tentang diri sendiri, harapan mengenai diri sendiri dan penilaian mengenai diri sendiri. Dengan demikian dapat disimpulkan pengetahuan adalah apa yang individu ketahui tentang dirinya baik dai segi kualitas maupun kuantitas, pengetahuan ini bisa diperoleh dengan membandingkan diri dengan kelompok pembanding dan pengetahuan yang dimiliki individu bisa berubah-ubah. Harapan adalah apa yang individu inginkan untuk dirinya di masa yang akan datang dan harapan bagi setiap orang berbedabeda. Sedangkan penilaian adalah pengukuran yang dilakukan individu tentang keadaan dirinya saat ini dengan apa yang menurut dirinya dapat terjadi.

c. Jenis Konsep Diri Proses perkembangan individu dalam kehidupannya akan memepengaruhi konsep dirinya sehingga membentuk dua jenis konsep diri yang pertama adalah konsep diri positif dan konsep diri negatif. R.B. Bruns 1993 (Hutagalung, 2007:23) konsep diri terbagi atas konsep diri negatif dan konsep diri yang positif. Menurut James F. Calhoun, dkk (1990: 72-73) konsep diri negatif adalah satu pandang seseorang tentang dirinya sendiri benar-benar tidak teratur. Dia tidak memiliki perasaan kesetabilan dan keutuhan diri. Dia benar-benar tidak tau siapa dia apa

26

kekuatan dan kelemahannya. F. Calhoun, dkk (1990: 72-74) dasar konsep diri positif adalah berupa penerimaan diri dan juga dapat memahami dan menerima sejumlah fakta yang sangat bermacam-macam tentang dirinya sendiri. Hutagalung, (2007:25) indivdiu yang memiliki konsep diri negatif cenderung tidak dapat mengarahkan kasih sayangnya kepada orang lain karena pada permukaannya mereka banyak sekali mencurahkan waktunya untuk mencintai diri mereka sendiri. Sedangakn Konsep diri positif cenderung menyenangi dan menghargai diri mereka sendiri sebagaimana sikap mereka terhadap orang lain mereka juga termasuk orang yang terbuka dan orang yang tidak mengalami hambatan untuk berbicara dengan orang lain. Secara garis besar individu yang memiliki konsep diri yang positif yaitu individu yang dapat memahami dan menerima segala sesuatu yang ia miliki serta mempunyai cara pandang yaang positif dari segala sesuatu yang terjadi dalam kehidupannya sehingga mereka dapat menumbukan penyesuaikan sosial yang baik. Sedangkan individu yang memiliki konsep diri negatif tidak dapat memahami dan menerima

segala sesuatu yang ia miliki serta mempunyai cara pandang yang tidak realisitis sehingga dalam kehidupannya mereka mengalami penyesuaikan sosial yang kurang baik.

27

Syamsu Yusuf (2009:146) Berpendapat Ciri-ciri pribadi dan prilaku orang yang memiliki konsep diri yang positif dan negatif adalah sebagai berikut. 1). Ciri konsep diri yang positif. a). Merasa yakin dan percaya diri untuk mengatasi masalah yang dihadapai pada dirinya b). Merasa setara dengan orang lain tidak merasa rendah diri dan tidak sombong dalam bersosialisasi c). Tidak mengharapkan pujian dari orang lain dan menerima pujian dengan sewajarnya d). Mampu bangkit kembali dan memperbaiki diri ketika mengalami kegagalan e). Memiliki solidaritas dan kepedulian sosial yang tinggi 2). Ciri konsep diri negatif a). Marah ketika dikritik oleh orang lain dan tidak mau dikritik b). Senang dipuji dan berharapa mendapat pujian dari orang lain c). Bersikap sombong Suka mencela dan meremehkan orang lain d). Kurang bisa akrab dengan teman karena merasa kurang disenangi dan merasa diremehkan oleh temannya e). Bersikap pesimis dan kurang percaya diri

28

d. Faktor yang Mempengaruhi Konsep Diri Fitts (Agustiani, 2009:139) mengemukakan bahwa perkembangan konsep diri seseorang dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor, antara lain: 1). Pengalaman Pengalaman interpersonal yang memunculkan perasaan positif dan perasaan berharga. Pengalaman ini mengacu pada hubungan interpersonal yang dilakukan oleh individu tersebut, terutama hubungan-hubungan interpersonal dengan keluarga. Hal ini disebabkan karena hubungan interpersonal pertama yang dilakukan oleh individu dimulai dalam keluarga. Fitt (Agustiani, 2009:142) diri keluarga menunjukan perasaan dan harga diri seseorang dalam kedudukannya sebagai anggota keluarga. Di dalam keluarga inilah individu mulai merasakan dirinya diterima atau ditolak, dan mulai membentuk harapan-harapan terhadap suatu tujuan hidup juga terhadap tingkah laku 2). Kompetensi dalam area yang dihargai oleh individu dan orang lain. Seseorang tidak dapat begitu saja menilai bahwa ia memiliki fisik yang baik tanpa adanya reaksi dari orang lain yang memperlihatkan bahwa secara fisik ia memang menarik. Begitu juga seseorang tidak dapat menilai bahwa ia memiliki diri pribadi yang baik tanpa adanya reaksi orang lain disekitarnya yang menunjukan bahwa ia memiliki pribadi yang baik.

29

3). Aktualisasi diri, atau implementasi dan realisasi dari potensi pribadi yang sebenarnya. Menurut Willey (Calhoun dan Acocella, 1990:76) dalam perkembangan konsep diri yang digunakan sebagai sumber pokok informasi adalah interaksi individu dengan orang lain. Baldwin dan Holmes (Calhoun dan Acocella, 1990:77) juga mengatakan bahwa konsep diri adalah hasil belajar individu melalui hubungannya dengan orang lain. Yang dimaksud dengan orang lain menurut Calhoun dan Acocella (1990:77-78) yaitu: a). Orang tua Orang tua adalah kontak sosial yang paling awal yang dialami oleh seseorang dan yang paling kuat. Informasi yang diberikan oleh orang lain dan berlangsung hingga dewasa (Copersmith dalam Cahoun dan Acocella, 1990:77),

mengatakan bahwa anak-anak yang tidak memiliki orangtua, disia-siakan oleh orangtua akan memperoleh kesukaran dalam mendapatkan informasi tentang dirinya sehingga hal ini akan menjadi penyebab utama remaja memiliki konsep diri yang negatif. b). Teman Sebaya Kawan sebaya menempati posisi kedua setelah orangtua dalam mempengaruhi konsep diri. Peran yang diukur dalam

30

kelompok sebaya sangat berpengaruh terhadap pandangan individu mengenai jati dirinya sendiri. c). Masyarakat Masyarakat sangat menentukan fakta-fakta yang ada pada seorang anak, seperti siapa bapaknya, ras dan lain-lain sehingga hal ini berpengaruh terhadap konsep diri yang dimiliki seorang individu. Berdasarkan uraian di atas, dapat ditarik kesimpulan bahwa individu tidak lahir dari konsep diri. Konsep diri terbentuk seiring dengan perkembangan individu. konsep diri adalah interaksi individu dengan orang lain, yaitu orangtua, kawan sebaya serta masyarakat.

e. Konsep Diri Remaja Menurut Hurlock (1980:235) pada masa remaja terdapat 8 kondisi yang mempengaruhi konsep diri yang dimilkinya, yaitu: 1). Usia kematangan Remaja yang matang lebih awal diperlukan hampir sama seperti orang dewasa akan mengembangkan konsep diri yang menyenagkan sehingga dapat menyesuaikan diri dengan baik. Tetapi apabila remaja matang terlambat dan diperlukan seperti anak-anak akan merasa bernasib kurang baik sehingga kurang bisa

menyesuaikan diri.

31

2). Penampilan diri Penampilan diri yang berbeda bisa membuat remaja merasa rendah diri. Daya tarik fisik yang dimiliki sangat mempengaruhi dalam pembuatan penilaian tentang ciri kepribadian seorang remaja. 3). Kepatutan gender Kepatutan gender dalam penampilan diri, minat dan perilaku membantu remaja mencapai konsep diri yang baik. Ketidak patutan gender membuat remaja sadar diri dan hal ini memberi akibat buruk pada perilakunya. 4). Nama dan julukan Remaja peka dan merasa malu bila teman-teman

sekelompoknya menilai namanya buruk atau bila mereka memberi nama dan julukan yang bernada cemoohan. 5). Hubungan keluarga Seorang remaja yang memiliki hubungan yang dekat dengan salah satu anggota keluarga akan mengidentifikasi diriya dengan orang tersebut dan juga ingin mengembangkan pola kepribadian yang sama. 6). Teman-teman sebaya Ketika kanak-kanak, konsep diri yang terbentuk lebih banyak dipengaruhi oleh lingkungan terdekatnya yaitu keluarga, namun ketika memasuki masa remaja, ia mempunyai hubungan yang lebih luas daripada hanya sekedar hubungan dalam lingkungan

32

keluarganya. Ia mempunyai lebih banyak teman, lebih banyak kenalan dan sebagai akibatnya, ia mempunyai lebih banyak pengalaman. Semakin banyak interaksi remaja dengan teman sebayanya, maka konsep diri pun akan semakin berkembang. Akhirnya anak akan memperoleh konsep diri yang baru dan berbeda dari apa yang sudah terbentuk dalam lingkungan rumahnya. Teman-teman sebaya mempengaruhi pola kepribadian remaja dalam dua cara, yaitu: a) konsep diri remaja merupakan cerminan dari anggapan tentang konsep teman-temannya tentang dirinya, dan b) ia berada dalam tekanan untuk mengembangkan ciri-ciri kepribadian yang diakui oleh kelompok. Dalam interaksinya, kelompok teman sebaya memiliki syarat-syarat yang harus dipenuhi, yang dapat menyebabkannya diterima atau justru ditolak oleh kelompoknya. Teman sebaya mempengaruhi pola kepribadian remaja dalam dua cara. Pertama, konsep diri remaja merupakan cerminan dari anggapan tentang konsep teman-teman tentang dirinya. Kedua, seorang remaja berada dalam tekanan untuk mengembangkan ciriciri kepribadian yang diakui oleh kelompok. 7). Kreativitas Remaja yang semasa kanak-kanak didorong untuk kreatif dalam bermain dan dalam tugas-tugas akademis, mengembalikan perasaan individualitas dan identitas yang memberi pengaruh yang

33

baik pada konsep dirinya, sebaliknya, remaja yang sejak awal masa kanak-kanak didorong untuk mengikuti pola yang sudah diakui akan kurang mempunyai pasangan identitas dan individualitas. 8). Cita-cita Bila seseorang remaja memiliki cita-cita yang realistik, maka akan mengalami kegagalan. Hal ini akan menimbulkan perasaan tidak mampu dan reaksi-reaksi bertahan dimana remaja tersebut akan menyalahkan orang lain atas kegagalannya. Remaja yang realistis pada kemampuannya akan lebih banyak mengalami keberhasilan daripada kegagalan. Hal ini akan menimbulkan kepercayaan diri dan kepuasan diri yang lebih besar yang memberikan konsep diri yang lebih baik. f. Pengertian Remaja dan Ciri-Cirinya 1). Pengertian Remaja Menurut Hurlock (1980:206) masa remaja adalah usia dimana individu berintegrasi dengan masyarakat dewasa usia dimana anak tidak lagi merasa di bawah tingkat orang yang lebih tua melainkan berada dalam tingkatan yang sama. Monks (2006:259) mengatakan bahwa anak remaja sebetulnya tidak mempunyai tempat yang jelas ia tidak termasuk golongan anak tetapi ia juga tidak termasuk golongan orang dewasa atau golongan tua, remaja berada di antara anak dan orang dewasa.

34

Masa remaja merupakan masa peralihan dari masa kanakkanak menuju masa dewasa sehingga remaja tidak memperoleh status orang dewasa dan juga tidak lagi memiliki status kanak-kanak. Remaja masih harus menemukan tempat dalam masyarakat. Pada umumnya remaja masih belajar di sekolah menengah maupun di perguruan tinggi adapaun yang bekerja mereka tidak memiliki pekerjaan yang tetap. Konopka (Agustiani, 2009:9) membagi masa remaja menjadi tiga bagian, yaitu: a). Masa remaja awal (12-15 tahun) Pada masa ini individu berfokus pada penerimaan bentuk dan kondisi fisik serta adanya konformitas yang kuat dengan teman sebaya. b). Masa remaja pertengahan (15-19 tahun) Pada masa ini ditandai dengan berkembangnya

kemampuan berfikir yang baru. Dimasa ini teman sebaya memepunyai peranan penting namun individu mampu

mengarahkan diri sendiri. c). Masa remaja akhir (19-22 tahun) Pada masa ini remaja menjadi lebih matang dan mempunyai keinginan yang kuat untuk diterima dalam kelompok teman sebaya dan orang dewasa.

35

Berdasarkan beberapa definisi diatas dapat disimpulkan bahwa remaja dari sisi psikologis, remaja adalah masa di mana remaja mengalami perubahan usia, perubahan emosi dan hal-hal yang bersifat abstrak. Dari sisi fisik, remaja adalah usia di mana remaja mengalami perubahan beberapa organ fisiknya. Sedangakan ditinjau dari sisi biologis, remaja adalah mereka yang berusia 12-22 tahun. 2). Ciri-Ciri Masa Remaja Adapun mengenai ciri-ciri masa remaja, menurut Hurlock (1992:207) adalah sebagai berikut: a). Masa remaja sebagai periode yang penting Semua periode dalam rentang kehidupan adalah penting, namun kadar pentingnya berbeda-beda. Ada periode yang penting karena akibat fisik dan ada lagi karena akibat psikologis. Pada periode remaja, kedua-duanya sama-sama penting. Pada awal masa remaja, perkembangan fisik yang cepat disertai dengan perkembangan mental yang cepat. Semua perkembangan ini berdampak pada perlunya penyesuaian mental dan perlunya membentuk sikap, nilai, dan minat baru. b). Masa remaja sebagai periode peralihan Periode peralihan tidak berarti terputus dengan atau berubah dari apa yang telah terjadi sebelumnya, melainkan sebuah peralihan dari satu tahap perkembangan ke tahap

36

perkembangan berikutnya, berarti apa yang telah terjadi sekarang dan yang akan datang. Dalam setiap periode peralihan, status individu tidaklah jelas dan terdapat keraguan akan peran yang harus dilakukan. Pada masa ini, remaja bukan lagi seorang anak dan juga bukan seorang dewasa. Status remaja yang tidak jelas ini juga menguntungkan karena status memberi waktu kepadanya untuk mencoba gaya hidup yang berbeda dan menentukan pola perilaku, nilai, dan sifat yang sesuai bagi dirinya. c). Masa remaja sebagai periode perubahan Tingkat perubahan dalam sikap dan perilaku selama masa remaja, sejajar dengan tingkat perubahan fisik. Selama masa awal remaja, ketika perubahan fisik terjadi dengan pesat, perubahan perilaku dan sikap juga berlangsung pesat, demikian pula sebaliknya. Ada empat perubahan yang bersifat universal yaitu: 1) Intensitas meningginya emosi bergantung pada tingkat perubahan fisik dan psikologis yang terjadi. 2) Perubahan tubuh, minat, dan peran yang diharapkan oleh kelompok sosial untuk dipesankan, menimbulkan masalah baru. 3) Dengan berubahnya minat dan pola perilaku, maka nilai-nilai juga berubah.

37

4) Sebagian perubahan.

remaja

bersikap

ambivalen

terhadap

setiap

d). Masa remaja sebagai usia bermasalah Setiap periode mempunyai masalahnya tersendiri, namun masalah masa remaja sering menjadi masalah yang sulit diatasi baik oleh laki-laki maupun anak perempuan. Ada dua alasan berkaitan dengan kesulitan tersebut yaitu pertama, sepanjang masa kanak-kanak, masalah sebagian diselesaikan oleh orang tua dan guru-guru sehingga sebagian remaja tidak

berpengalaman dalam mengatasi masalah. Kedua, karena para remaja merasa diri mandiri sehingga mereka ingin mengatasi masalahnya sendiri, dan menolak bantuan orang tua dan guruguru. e). Masa remaja sebagai masa mencari identitas Pada tahun-tahun awal masa remaja, penyesuaian diri dengan kelompok masih tetap penting bagi anak laki-laki dan perempuan. Lambat laun mereka mulai mendambakan identitas diri dan tidak puas lagi dengan kesamaan dengan teman-teman dalam segala hal seperti sebelumnya. f). Masa remaja sebagai usia yang menimbulkan ketakutan bagi orang dewasa Majeres (Hurlock, 1992:208) mengungkapkan bahwa banyak anggapan populer tentang remaja yang mempunyai arti

38

yang bernilai, dan sayangnya banyak diantaranya yang bersifat negatif. Anggapan stereotip budaya bahwa remaja adalah anakanak yang tidak rapih, tidak dapat dipercaya dan cenderung merusak, menyebabkan orang dewasa yang harus membimbing dan mengawasi kehidupan remaja muda takut bertanggung jawab dan bersikap tidak simpatik terhadap perilaku remaja yang normal. Stereotip popular juga mempengaruhi konsep diri dan sikap remaja terhadap dirinya. g). Masa remaja sebagai masa yang tidak realistis Remaja cenderung melihat dirinya sendiri dan orang lain sebagaimana yang ia inginkan dan bukan sebagaimana adanya, terlebih dalam hal cita-cita. Dengan bertambahnya pengalaman pribadi dan pengalaman sosial, meningkatnya kemampuan untuk berfikir rasional, remaja yang lebih besar memandang diri sendiri,keluarga, teman-teman, dan kehidupan pada umumnya secara lebih realistis. Dengan demikian, remaja tidak terlampau banyak mengalami kekecewaan seperti ketika masih lebih muda. Ini adalah salah satu kondisi yang menimbulkan kebahagiaan yang lebih besar pada remaja. h). Masa remaja sebagai ambang masa dewasa Dengan semakin dekatnya usia kematangan, para remaja menjadi gelisah untuk meninggalkan stereotip belasan tahun dan untuk memberikan kesan bahwa mereka sudah hampir dewasa.

39

Berpakaian dan bertindak seperti orang dewasa ternyata belumlah cukup, oleh karena itu remaja mulai memusatkan diri pada perilaku yang dihubungkan dengan status dewasa. Mereka menganggap bahwa perilaku ini akan memberikan citra yang mereka inginkan.

3) Tugas Perkembangan Remaja Tugas perkembangan pada batas tertentu memiliki sifat yang khas disetiap kehidupan seseorang hal ini sependapat dengan Monks (2006:21) yang mengungkapkan bahwa perkembangan dilukiskan sebagai suatu proses yang membawa seseorang kepada suatu pola tingkah laku yang lebih tinggi. Lebih tinggi berarti mengandung lebih banyak differensiasi lebih luas dan lebih banyak kemungkinankemungkinannya. Havighurst (Monks, 2006:260-261) menjelaskan tugas perkembangan remaja berdasarkan penelitian lintas-budaya pada masa usia 12-18 tahun adalah sebagai berikut: a). Perkembangan aspek-aspek biologis b). Menerima peranan dewasa berdasarkan pengaruh kebiasaan masyarakat sendiri c). Mendapatkan kebebasan emosional dari orang tua dan atau orang dewasa yang lainnya d). Mendapatkan pandangan hidup sendiri e). Merealisasi suatu identitas sendiri dan dapat mengadakan partisipasi dalam kebudayaan pemuda sendiri Sedangkan Hurlock (180:209) berpendapat tugas

perkembangan pada masa remaja menuntut perubahan besar dalam

40

sikap dan pola prilaku anak. Perubahan besar yang dimaksud salah satunya adalah ketika masa kanak-kanak dan masa puber terdapat pertentangan dengan lawan jenis, masuk masa remaja berarti mempelajari hubungan baru lawan jenis dengan tujuan bagaimana bergaul dengan lawan jenis dan teman sebaya. Hal ini tidaklah mudah bagi proses masa perkembangan remaja. Blos (Sarlito W. Sarwono, 2003:24) berpendapat bahwa perkembangan pada

hakikatnya adalah usaha penyesuaian diri untuk secara aktif mengatasi stress dan mencari jalan keluar baru dari berbagai masalah dalam proses penyesuaian diri menuju kedewasaan. Selanjutnya Hurlock (1980:209) menjelaskan tentang beberapa tugas perkembangan remaja yang seharusnya bisa dilakukan oleh remaja adalah sebagai berikut: a). Menerima keadaan fisik Seringkali remaja sulit menerima keadaan fisiknya. Karena merasa kecewa dengan pertumbuhan fisiknya yang tidak sesuai dengan harapannya. Diperlukan waktu untuk

memperbaiki persepsi tersebut dan dengan interaksi sosialnya diharapkan remaja dapat mempelajari cara-cara memperbaiki penampilan diri. b). Menerima peran seks dewasa yang diakui masyarakat Pada anak laki-laki tidak banyak ditemui kesulitan. Mereka telah didorong sejak awal masa kanak-kanak. Tapi anak

41

perempuan membutuhkan dorongan untuk memainkan peran sederajat, sehingga mereka mampu menyesuaikan dirinya dalam masyarakat. c). Mempelajari hubungan baru dengan lawan jenis Hal ini dimaksudkan untuk mengetahui hal ihwal jenis dan bagaimana harus bergaul dengan lawan jenis. d). Mengembangkan perilaku sosial yang bertanggung jawab Sebagian besar remaja ingin diterima oleh teman sebayanya, tetapi hal ini sering diperoleh dengan perilaku yang oleh orang dewasa dianggap tidak bertanggung jawab. e). Persiapan perkawinan Kecenderungan kawin muda menyebabkan persiapan perkawinan merupakan tugas perkembangan yang paling penting dalam tahun-tahun remaja. Sarlito w. Sarwono (2003:24-25) ada tiga tahap perkembangan remaja : a). Remaja Awal Seorang remaja pada tahap ini masih terheran-heran akan perubahan-perubahan yang terjadi pada tubuhnya sendiri dan dorongan yang menyertai perubahan-perubahan itu. Perubahan fisik yang terjadi membuat remaja mudah terangsang terhadap lawan jenis. Kepekaan yang berlebihan ini yang ditambah dengan berkurangnya kendali terhadap ego menyebabkan

42

remaja awal sulit untuk mengerti dan dimengerti oleh orang dewasa b). Remaja Madya Pada tahap ini remaja merasa senang kalau banyak teman yang menyukainya dan ada kecenderungan untuk narsis serta menyukai teman yang memiliki sifat yang sama dengan dirinya. Selain itu ia juga berada dalam kondisi kebingungan dalam kondisi emosi yang terjadi dalam dirinya. c). Remaja Akhir Tahap ini adalah masa konsolidasi menuju periode dewasa dan ditandai dengan pencapaian lima hal, yaitu: 1). Minat yang makin mantap terhadap fungsi-fungsi intelek 2). Egonya mencari kesempatan untuk bersatu dengan orang lain dalam pengalaman baru 3). Terbentuknya identitas seksual yang tidak akan berubah lagi 4). Egosentrisme (Terlalu mementingkan diri sendiri dibanding dengan orang lain) 5). Muncul persepsi yang membatasi diri pribadinya dengan masyarakat umum B. Kerangkan Berfikir Kerangka berfikir merupakan tahapan yang harus ditempuh untuk merumuskan hipotesis dengan mengkaji hubungan teoritis antarvariabel penelitian dimana setelah hubungan variabel tersebut didukung oleh teori yang

43

dirujuk setelah itu dilakukan perumusan hipotesis. Adapun kerangka pemikiran dalam penelitian yang dilakukan penulis adalah sebagai berikut:

Tabel 2.1 Kerangka Berfikir KONSEP DIRI


Konsep diri + Percaya diri Tidak merasa rendah diri Tidak mengharapkan pujian dari orang lain Dapat memperbaiki diri dalam kegagalan Memiliki solidaritas tinggi Konsep diri Tidak mau dikritik Senang dipuji Sombong

KONFORMITAS Kohesivitas Ukuran Kelompok Norma Sosial

Tidak bisa berteman akrab karena minder Tidak percaya diri

C. Hipotesis Hipotesis atau hipotesa merupakan jawaban sementara yang masih praduga dalam suatu masalah. Hipotesis yang digunakan pada penelitian ini adalah hipotesis asosiatif atau hubungan. Sugiyono (2012:89) Hipotesis asosiatif adalah suatu pernyataan yang menunjukan dugaan tentang hubungan antara dua variabel atau lebih. Adapun pada hipotesis penelitian ini adalah sebagai berikut:

44

H a. Ada hubungan positif dan signifikan antara konsep diri remaja dengan konformitas teman sebaya H o. Tidak ada hubungan positif dan signifikan antara konsep diri remaja dengan konformitas teman sebaya

45

BAB III METODE PENELITIAN

A. Variabel Penelitian Pada penelitian ini peneliti menggunakan dua variabel yaitu variabel bebas dan variabel terikat. Sugiyono (2012:04) mengemukakan variabel bebas adalah merupakan variabel yang mempengaruhi. Sedangkan variabel terikat adalah yang dipengaruhi atau yang menjadi akibat. Adapun variabel pada penelitian ini adalah konsep diri sebagai variabel bebas dan konformitas sebagai variabel terikat.

B. Definisi Operasional Variabel 1. Konsep diri remaja Konsep diri remaja merupakan sekumpulan keyakinan dan penilaian terhadap dirinya yang meliputi kemampuan, karakter,

penampilan diri maupun sikap yang dimiliki oleh remaja dalam hal ini yang dimaksud remaja adalah siswa SMK 1 Diponegoro Jakarta Timur 2. Konformitas teman sebaya Konformitas teman sebaya adalah kecenderungan berprilaku sama dengan orang lain akibat adanya tekanan individu atau kelompok. Tekanan

46

tersebut dapat berupa tekanan secara langsung atau tidak langsung dengan tujuan supaya individu diterima orang lain atau terhindar dari masalah.

C. Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian tentang hubungan konsep diri remaja dengan konformitas teman sebaya dilaksanakan di SMK Diponegoro 1, Jalan Sunan Giri No.01 Rawamangun Jakarta Timur. Waktu penelitian dimulai dari bulan januari-juli 2013 yang diawali dengan pembuatan proposal penelitian yang kemudian dilanjutkan proses penelitian dan laporan akhir penelitian. Adapun hal yang menjadi dasar dalam pemilihan tempat penelitian yang pertama adalah karena dalam penelitian ini yang menjadi objek penelitian adalah remaja yang berstatus sebagai pelajar yang kedua SMK Diponegoro 1 Jakarta Timur dekat dengan tempat tinggal peneliti sehingga hal ini dapat memudahkan peneliti dalam melakukan penelitian.

D. Jenis Penelitian Pendekatan yang digunakan dalam penelitian adalah metode penelitian kuantitatif suatu metode yang berlandaskan pada filsafat postpositivisme. Metode ini telah memenuhi kaidah-kaidah ilmiah yaitu konkrit/empiris, obyektif, terukur, rasional, dan sistematis. Sugiyono (2010:13).

47

Sugiyono (2010:27) Proses penelitian kuantitatif bersifat linier dimana langkahnya jelas mulai dari rumusan masalah, berteori, berhipotesis, mengumpulkan data, analisis data, membuat kesimpulan dan saran. Dengan demikian penelitian kuantitatif berangkat dari suatu kerangka teori, ataupun gagasan para ahli yang kemudian menjadi permasalahan beserta

pemecahanya dalam bentuk data empiris dilapangan. Dalam menggunakan penelitian kuantitatif dituntut menggunakan angka mulai dari pengumpulan data, penafsiran terhadap data yang diperoleh, dan penampilan dari hasil data. menurut Arikunto, (2010:27) Kesimpulan penelitian akan lebih baik apabila disertai dengan tabel, grafik, bagan, gambar atau penampilan lain.

E. Populasi dan Sempel 1. Populasi Sugiyono (2012:61) populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas objek/subjek yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu. Sehingga peneliti dapat mempelajarinya dan kemudian dapat ditarik kesimpulan. Sedangkan menurut Arikunto (2010:173) Populasi adalah keseluruhan objek penelitian. Objek penelitan adalah siswa kelas XI SMK Diponegoro 1 Jakarta Timur, adapun jumlah spesifikasi populasi siswa kelas XI SMK Diponegoro 1 Jakarta Timur sebayak 97 siswa. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel berikut ini :

48

Tabel 3.1 Populasi penelitian No 1 2 3 4 Kelas XI Multi Media XI Akuntansi XI Administrasi Perkantoran XI Tekhnik Komputer dan Jaringan Total Jumlah Siswa 29 Siswa 19 Siswa 29 Siswa 20 Siswa 97 Siswa

2. Sampel Sempel adalah sebagian atau wakil dari populasi yang diteliti Arikunto (2010:174). Penelitian sempel apabila peneliti bermaksud untuk menggeneralisasikan hasil kesimpulan penelitan bagi populasi. Adapun cara pengambilan sample yang digunakan adalah teknik proportional random sampling yang berarti pengambilan sampel dari anggota populasi secara acak dan berstrata secara proposional. Sampel ini dilakukan ketika anggota populasinya hetergen (tidak sejenis). populasi penelitan tidak semuanya menjadi sample penelitian melainkan hanya perwakilan dari jumlah populasi. Pengambilan sample penelitian peneliti merujuk pada hasil pengembangan Isaac dan Michael. Untuk tingkat kesalahan, 1%, 5%, dan 10% . Populasi SMK Diponegoro 1 Jakarta Timur kelas XI berjumlah 97 siswa maka berdasarkan tabel Isaac dan Michael sample yang dapat dijadikan sebagai penelitian sebanyak. 71 siswa dengan tingkat kesalahan 10% . Sugiyono, (2012:71). Jumlah pengambilan sampel secara random sampling dapat dilihat pada tabel berikut ini :

49

Tabel 3.2 Sampel Penelitian No 1 2 3 4 Kelas XI Multi Media XI Akuntansi XI Administrasi Perkantoran XI Tekhnik Komputer dan Jaringan Total Jumlah Siswa 29 Siswa 19 Siswa 29 Siswa 20 Siswa 97 Siswa Sampel 29/97 X 71 = 21 19/97 X 71 = 14 29/97 X 71 = 21 20/97 X 71 = 15 71 Siswa

F. Teknik Pengumpulan data Untuk memperoleh data tentang gambaran konsep diri remaja dan konformitas teman sebaya diperlukan teknik untuk mengungkapnya. Teknik pengungkapan yang digunakan pada penelitian ini menggunakan teknik pengumpulan data angket tertutup. Dimana responden diminta untuk memilih satu jawaban yang sesuai dengan karakteristik dirinya dengan cara memberikan tanda (X) atau tanda checklist (). Riduwan (2011:72) Model skala pengukuran yang digunakan pada pengungkapan data penelitian dengan menggunakan skala likert. Riduwan (2011:87) sekala likert digunakan untuk mengukur sikap, pendapat, dan persepsi seseorang. Likert menggunakan alternatif respons pernyataan subjek skala 5 (lima). Kelima alternatif respons tersebut diurutkan dari kemungkinan kesesuaian tertinggi sampai dengan kemungkinan kesesuaian terendah. yaitu :

50

Tabel 3.3 Skoring Skala Likert No 1 2 3 4 5 Jawaban Sangat Sering (SS) Sesuai (SE) Kadang-Kadang (KD) Tidak Sesuai (TS) Sangat Tidak Sesuai (STS) Skor + 5 4 3 2 1 1 2 3 4 5

Adapun kreteria jawaban adalah sebagai berikut: 1. Sangat Sesuai (SS), berarti terjadi dari 81-100% 2. Sesuai (SE), berarti terjadi dari 61%-80% 3. Kadang-Kadang (KD), berarti terjadi dari 41%-60% 4. Tidak Sesuai (TS), berarti terjadi dari 21%-40% 5. Sangat Tidak Sesuai (STS), berarti terjadi dari 0%-20%

G. Langkah-Langkah Penyusunan Instrumen Rancangan butir pengungkap yang akan disusun untuk instrumen dapat digambarkan melalui kisi-kisi instrumen yang terdiri dari berbagai aspek dan indikator penelitian. Untuk lebih jelasnya kisi-kisi instrumen dapat dilihat pada tabel berikut ini: Tebel 3.4 Kisi-kisi Faktor Yang Mempengaruhi Konformitas Faktor Kohesivitas Indikator Mencerminkan drajat ketertarikan individu Terdapat rasa keterpaduan atau kesamaan No. Item 1, 5, 8, 9,13, + 1, 5, 8, 1

51

Ukuran Kelompok

Norma Sosial

Memiliki jumlah anggota kelompok lebih 3 orang Memiliki keinginan yang sama antar anggota kelomok. Menuruti kesepakatan kelompok Terbuka terhadap tekanan sosial yang terjadi Mendapat dukungan untuk menolak pendapat anggota kelompok yang lain.

12, 6, 3,7

12, 3

10, 2, 4, 11,14,15

2,4

10,11

Selanjutnya kisi-kisi instrumen penelitian konsep diri dapat dilihat pada tabel berikut ini : Tabel 3.5 Kisi-Kisi Konsep Diri Faktor Konsep diri Positif Indikator Memiliki keyakinan dalam mengatasi masalah Mudah bergaul, Rendah diri dan tidak sombong Tidak mengharapkan pujian dari orang lain Mampu memotivasi diri dalam keterpurukan dan berintropeksi diri Memiliki kepekaan sosial Tidak suka mendapat kritikan Berharap mendapat pujian dari orang lain Sombong dan meremehkan orang lain Kurang bisa menjalin keakraban dengan teman Pesimis dan kurang percaya diri No item 7, 14 2, 17 10, 19 4, 12 16, 3 5, 11 15, 6 13, 20 8, 18 19, 1 + 7 2 10, 19 4, 12 16 5, 11 15, 6 13 8 19 14 17 3 20 18 19 -

Konsep diri negatif

52

H.

Uji Validitas dan Reliabilitas Instrumen 1. Uji Validitas Instrumen Uji validitas dan reliabilitas instrumen menggunakan analisis Product Moment dengan rumus. Sugiyono (2012:228) :

( ) ( ) ( ) ( ) + * ( ) +

Dimana : r = koefisien korelasi n = banyaknya sampel penelitian x = lingkungan keluarga y = pilihan karir Sugiyono, (2012:373) Jika hasil korelasi Product Moment butir pernyataan tersebut lebih besar dari 0,306 dengan N=71 maka butir pernyataan tersebut valid. Sebaliknya jika korelasi butir pernyataan lebih kecil dari 0,306 maka butir pernyataan tersebut tidak valid. Berikut ini disajikan hasil uji coba validitas instrumen. Tabel 3.6 Nomor Item Valid dan Tidak Valid Instrumen Konformitas No. Item yang Valid 2,3,4,5,7,8,9,10,11,12 No. Item yang Tidak Valid 1, 6

53

Tabel 3.7 Nomor Item Valid dan Tidak Valid Instrumen Konsep Diri No. Item yang Valid 1,2,4,5,6,8,9,10,11,12,14,16 ,18,19,20 No. Item yang Tidak Valid 3,7,13,15,17

2. Uji Realibilitas Instrumen Apabila hasil uji reliabilitas seluruh butir instrumen sebesar 0,600 (Sugiyono, 2012:231) maka instrumen tersebut adalah reliabel. Artinya instrumen tersebut dapat digunakan sebagai alat pengumpul data yang akan menghasilkan jawaban yang konsisten. Tabel 3.8 Koefiseinsi Realibilitas Interval Koefisiensi 0,00 - 0,199 0,20 - 0,399 0,40 - 0,599 0,60 - 0,799 0,80 - 1,000 Tingkat Hubungan Sangat Rendah Rendah Sedang Kuat Sangat Kuat

Dari hasil perhitungan data dengan menggunakan software SPSS 17 pada 12 item pernyataan konformitas diperoleh sebesar 958

(terlampir) berdasarkan pada tabel 3.7 diatas maka dapat disimpulkan instrumen tersebut reliabel. Sedangkan untuk 15 item pernyataan konsep diri diperoleh sebesar 934 (terlampir) berdasarkan pada tabel 3.7

54

diatas maka dapat disimpulkan instrumen tersebut reliabel. Hal ini menunjukan bahwa kedua instrumen pernyataan tersebut layak digunakan sebagai alat ukur penelitian.

I.

Teknik Analisis Data Dalam analisis data yang diperoleh peneliti menggunakan teknik Spearman Rank. Sugiyono (2012:245) dengan rumus:

p=1

6 d2 n ( n2 1 )

keterangan : p d2 N = Koefesien korelasi Spearman Rank = Total kuadrat slisih antar ranking = Jumlah sampel penelitian

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Deskripsi Data Hasil Penelitian 1. Karakteristik Responden Hasil penelitian peneliti, menggambarkan karakteristik responden berdasrkan jenis kelamin gambaran tersebut dapat dilihat dalam tabel sebagai berikut :

Tabel 4.1 Jenis kelamin responden Siswa kelas XI SMK Diponegoro 1 Jakarta Timur No 1 2 Jenis Kelamin Siswa Laki-Laki Perempuan 20 Siswa 51 Siswa Jumlah keseluruhan 71 Siswa Jumlah keseluruhan responden penelitian 71 siswa yang terdiri dari 20 laki-laki dan 51 perempuan dimana jumlah responden tersebut terbagi dalam kelas Tekhnik Komputer dan Jaringan, Multimedia, Akuntasi, dan Administrasi Perkantoran.

59

60

2.

Deskripsi Data Konsep Diri dan Konformitas Berdasarkan angket yang telah diberikan kepada responden diperoleh data X (konsep diri remaja) dan Y (konformitas teman sebaya) dengan hasil skor total jawaban responden sebagai berikut : Tabel 4.2 Skor Hasil Instrumen Variabel X (Konsep Diri Remaja) dan Y (Konformitas) Siswa Kelas XI SMK Diponegoro 1 Jakarta Timur Skor Variabel X 63 59 62 70 62 62 61 63 62 63 57 58 61 69 58 60 66 63 63 61 69 61 64 64 66 50 61 62 Y 53 41 49 56 48 51 52 50 51 54 50 42 49 55 46 49 53 52 51 53 56 49 50 53 51 38 48 52

No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28

Responden A B C D E F G H I J K L M N O P Q R S T U V W X Y Z AA AB

61

29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 42 43 44 45 46 47 48 49 50 51 52 53 54 55 56 57 58 59 60 61 62 63 64 65 66 67 68 69 70 71

AC AD AE AF AG AH AI AJ AK AL AM AN AO AP AQ AR AS AT AU AV AW AX AY AZ BA BB BC BD BE BF BG BH BI BJ BK BL BM BN BO BP BQ BR BS

58 58 69 61 59 61 57 55 62 59 66 67 66 60 63 60 66 70 60 60 59 55 62 66 61 63 63 64 70 55 64 57 55 56 55 58 58 64 66 64 65 63 61

50 49 53 50 45 49 51 44 50 47 53 56 48 50 49 47 52 56 47 46 46 43 50 49 46 49 46 48 55 44 52 46 44 47 46 43 46 47 51 52 51 48 47

62

Setelah didapat skor akhir variabel X (konsep diri remaja) dan Y (konformitas teman sebaya) maka dapat di ketahui nilai range, mean, standard deviasi dan varian sebagai berikut :

Tabel 4.3 Deskriptif Statistik Variabel X dan Y N KonsepDiri Konformitas Valid N (listwise) 71 71 71 Range 20.00 18.00 Mean 61.7042 49.1549 Std. Deviation Variance 4.09318 3.73267 16.754 13.933

Adapun frekuensi untuk variabel X (konsep diri) dan Y (konformitas teman sebaya) dapat juga digambarkan dalam bentuk diagram yaitu sebagai berikut : Grafik 4.1 Diagram Variabel X (Konsep Diri Remaja)

63

Grafik 4.2 Diagram Variabel Y (Konformitas Teman Sebaya)

B. Analisis Data Hasil analisi data variabel X (konsep diri remaja) dan Y (konformitas teman sebaya) dapat diketahui pada tebel berikut ini :

Tabel 4.4 Hasil Analisis Korelasi Variabel X dan Y


VAR00001 Konsep Diri Product Sig. (2-tailed) N Konformitas Product Sig. (2-tailed) N **. Correlation is significant at the 0.01 level (2-tailed). 71 .789
**

VAR00002 1 .789
**

.000 71 1

.000 71 71

64

Berdasarkan hasil pengolahan data tersebut dapat diinterpretasikan terdapat hubungan yang signifikan antara konsep diri remaja dengan konformitas teman sebaya, karena berdasarkan tabel di atas signifikasi korelasi menunjukan nilai pada nilai 789 sama dengan 0,789 lebih besar dari

0,227 dengan taraf signifikansi 5%. Dengan demikian maka

Ho berada pada daerah penolakan dan Ha diterima artinya terdapat hubungan yang positif dan signifikan antara konsep diri remaja dengan konformitas teman sebaya. Untuk mengetahui signifikansi koefisien korelasi dapat dihitung menggunakan uji t sebagai berikut : 0,789 0,789 0,789

Hasil perhitungan uji t diatas diperoleh pada

3,82 lebih besar dari

1,980 dengan taraf kesalahan 5% uji dua fihak dan dk 69,

sehingga Ha diterima yang berarti terdapat hubungan yang positif dan signifikan antara konsep diri remaja dengan konformitas teman sebaya.

65

C. Pembahasan Hasil Penelitian Berdasarkan perhitungan dengan menggunakan analisa koefesien korelasi dimana nilai korelasinya 0.789 maka diketahui sebesar 0,622

artinya kontribusi konsep diri terhadap konformitas sebanyak 62%, dan 38% ditentukan oleh faktor lain seperti pola asuh orang tua. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa hubungan konsep diri remaja dengan konformitas teman sebaya pada siswa kelas XI di SMK Diponegoro 1 Rawamangun Jakarta Timur terdapat hubungan yang positif dan signifikan. Konsep diri dapat diartikan secara umum sebagai keyakinan, pandangan atau penilaian seseorang, perasaan dan pemikiran individu terhadap dirinya yang meliputi kemampuan, karakter, maupun sikap yang dimiliki individu Calhoun dan Acocella (1990:77-78) mengemukakan bahwa salah satu faktor yang mempengaruhi konsep diri remaja adalah teman sebaya begitu juga dengan ungkapan Hurlock (1980:235) yang menyatakan konsep diri remaja selain di pengaruhi oleh lingkungan terdekatnya yaitu keluarga di pengaruhi juga oleh teman sebanya. Semakin banyak interaksi remaja dengan teman sebayanya maka konsep diri pun akan semakin berkembang. Sedangkan teman sebaya memiliki kecenderungan kesamaan dalam minat, nilai-nilai, sifat-sifat kepribadian dan pendapat. Kesamaan inilah yang menjadi daya tarik hubungan interpersonal dengan teman seusianya. Sehingga memiliki kecendrungan untuk berprilaku konfromitas sangat mudah dilakukan. Hal ini sesuai dengan penjelasan Shepard (Kamanto, 2004:175), yang

66

mendefinisikan konformitas merupakan bentuk interaksi sosial yang di dalamnya seseorang berprilaku terhadap orang lain sesuai dengan harapan kelompok. Interaksi sosial juga berdampak terhadap perkembangan konsep diri individu. Sehingga remaja yang melakukan konformitas salah satunya didasari oleh konsep dirinya. Mengapa demikian, karena alasan remaja melakukan konformitas mempunyai keterpaduan dengan ciri-ciri konsep diri remaja. Zebua dan Nurdjayadi (Swandono dkk, 2013:9), konformitas pada remaja umumnya terjadi karena mereka tidak ingin dipandang berbeda dengan teman-temannya. Pandangan ini muncul untuk melakukan konformitas karena adanya penilaian diri. Sedangkan penilaian diri menurut Calhoun dan Acocella, (1990:67-71) merupakan aspek dari konsep diri. Sehingga konsep diri memiliki peranan atau kontribusi dalam individu untuk melakukan konformitas. Dengan demikian prilaku konformitas teman sebaya dapat dilakukan oleh remaja yang memiliki jenis konsep diri yang positif maupun konsep diri yang negatif. Adapun kuatnya kecenderungan prilaku konformitas teman sebaya yang bersifat positif maupun negatif pada remaja yang memiliki konsep diri yang positif dan negarif perlu adanya penelitan lebih lanjut.

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan di SMK Diponegoro 1 Rawamangun Jakarta Timur dapat disimpulkan sebagai berikut : 1. Konsep diri remaja adalah konsep diri yang semakin berkembang baik yang dihasilkan dari interaksinya dengan keluarga maupun dengan interaksinya diluar keluarganya, baik itu teman-temannya maupun pengalaman-pengalamannya. 2. Konformitas teman sebaya, remaja dapat menjadi positif dan negatif. Seperti remaja terlibat dengan tingkah laku sebagai tidak baik adalah akibat dari konformitas yang negatif. Begitupun sebaliknya. 3. Sebagaimana hasil perhitungan korelasi antara konsep diri remaja dan konformitas teman sebaya diperoleh hasil pengolahan data adalah 0.789 dan besar daripada adalah 0.277, dapat di sebut juga lebih

dengan taraf signifikasi 5%. Dengan demikian

hasil penelitian mendukung hipotesis (Ha) yang menyatakan terdapat hubungan positif dan signifikan antara konsep diri remaja dengan konformitas teman sebaya pada siswa kelas XI SMK Diponegoro 1 Rawamangun Jakarta Timur.

67

68

B. Saran Berdasarkan pada kesimpulan, maka peneliti memberikan saran sebagai berikut : 1. Bagi Guru Penelitian ini dapat membantu guru khususnya guru bimbingan dan konseling untuk lebih memberikan layanan pribadi dan sosial kepada siswa dan mengarahkan siswa untuk terlibat aktif dalam kegiatan ekstrakulikuler pelayanan yang diberikan dapat mengembangkan kreatifitas siswa. Kegiatan ekstrakulikuler juga dapat membantu siswa untuk mengembangkan konsep diri yang positif dan membantu siswa terhindar dari prilaku konformitas yang negatif. 2. Bagi Orangtua Diharapkan pada orang tua agar selalu menanamkan nilai-nilai agama, norma dan etika disertai dengan rasa penuh kasih sayang dan perhatian kepada anak agar terbentuk pada anak memiliki konsep diri yang positif, mamapu berprilaku sesuai norma dan dapat bermasyarakat dengan baik tanpa melakukan prilaku konformitas yang tidak baik. 3. Bagi Siswa Hasil penelitian ini diharapkan dapat membantu siswa sebagai bekal pengetahuan dalam mengenal dan memahami pentingnya konsep diri yang positif dalam kehidupan sehari-hari sehingga remaja tidak terjebak dan terbawa konformitas yang bersifat negatif.

69

DAFTAR PUSTAKA

Agustiani, Hendriyanti. (2009). Psikologi Perkembangan. Bandung: Refika Aditama Ali, Muhammad dan Asrori, Muhammad. (2012). Psikologi Remaja. Jakarta: Bumi Aksara Arikunto, S. (2010). Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek. Jakarta: Rineka Cipta. Baron, Robert A & Byrne, Donn. 2005. Psikologi Sosial. Jakarta: Erlangga. Cahoun, J.F. and Acocella, J.R. (1990). Psikologi tentang penyesuaian dan Hubungan Kemanusiaan (Terjemahan). Edisi 3. Semarang: IKIP Semarang Press. Chaplin, C.P. (2000). Kamus Lengkap Psikologi. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada Hurlock, Elizabeth. (1997). Psikologi Perkembangan. Jakarta: Erlangga. Hutagalung, Inge. (2007). Pengembangan Kepribadian. Jakarta: PT. Macana Jaya Cemerlang Monks, F.J., Knoers, A. M. P., Haditono, S.R. (1991). Psikologi Perkembangan: Pengantar dalam berbagai bagiannya (cetakan ke-7). Yogya: Gajah Mada University Press Newcomb, Theodore M. dkk (1985). Psikologi Sosial. Edisi 3. Bandung: CV. Diponegoro. Pudjijogyanti, Clara R. (1988). Konsep Diri Dalam Pendidikan. Jakarta: ARCAN Riduwan. (2011). Belajar Mudah Penelitian Untuk Guru-Karyawan dan Peneliti Pemula. Bandung: Alfabeta Santoso, Slamet. (1992). Dinamika Kelompok. Jakarta: Bumi Aksara Sarwono, Sarlito W. dan Meinarno Eko A. (2009). Psikologi Sosial. Jakarta: Salemba Humanika

70

Sarwono, Sarlito Wirawan. (2003). Psikologi Remaja. Edisi Revisi. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada Sarwono, Sarlito Wirawan. (2001). Psikologi Sosial. Jakarta: Balai Pustaka Sears, David O. dkk (2009). Psikologi Sosial. Edisi 15. Jakarta: Prenada Media Grup Sears, Davis O. dkk (1985). Psikologi Sosial (Terjemahan). Jilid 2. Jakarta: Erlangga Sobur, Alex. (2003). Psikologi Umum. Bandung: CV. Pustaka Setia Sugiyono. (2012). Statistika Untuk Penelitian. Bandung: Alfabeta Sugiyono. (2010). Metode Penelitian Pendidikan Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D. Bandung: Alfabeta Sunarto, Kamanto. (2004). Pengantar Sosiologi. Edisi Revisi. Jakarta: Lembaga Penerbit Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia Swandono. dkk (2013). Konformitas Dalam Novel Teenlit Rahasia Bintang Karya Dyan Nuranindya. Surakarta: Jurnal Penelitian BASASTRA Yusuf L.N, Syamsu. (2000). Psikologi Perkembangan Anak dan Remaja. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya Yusuf L.N, Syamsu. (2009). Program Bimbingan Konseling di Sekolah. Bandung: RIZQI Press

http://abudaud2010.blogspot.com/2010/08/konformitas.html http://zaturasmith34.blogspot.com/2013/03/definisi-teman-sebaya.html