Anda di halaman 1dari 1

Karena menggunakan lemak sebagai sumber energi, maka proses pembentukan energi berlangsung melalui pembakaran lemak.

Proses pembakaran lemak dapat meningkatkan jumlah senyawa keton dalam tubuh yang merupakan senyawa sisa pembakaran lemak. Keton inilah yang dianggap dapat mencegah kerusakan sistem saraf pusat yang pada akhirnya dapat menurunkan frekuensi kejang.

Diet ketogenik sesungguhnya berbentuk pola makan yang mengandung unsur lemak sangat tinggi dan karbohidrat sangat rendah. Pola makan seperti ini menyerupai kondisi orang yang kekurangan makan berat (starvation) dimana tubuh terpaksa akan membakar lemak dan bukan karbohidrat sebagai sumber enerjinya. Dalam keadaan normal, karbohidrat di dalam tubuh akan diubah menjadi glukosa dan kemudian akan dialirkan melalui pembuluh darah sebagai bahan bakar termasuk ke otak. Namun bilamana tidak ada karbohidrat, maka hati akan mengubah lemak menjadi asam lemak (fatty acid) dan keton. Keton ini akan menuju ke otak menggantikan glukosa sebagai sumber enerji. Adanya peningkatan keton dalam darah yang disebut dengan ketosis ini, terbukti dapat mengurangi serangan kejang epilepsi secara bermakna.

Cara kerja Diet Ketogenik


Dalam keadaan normal, tubuh kita mengubah glukosa yang kita dapat dari makanan menjadi energi. Namun tubuh hanya menyimpan glukosa dalam jangka 24 jam. Ketika seorang anak tidak mengkonsumsi makanan selama 24 jam, dia akan menghabiskan seluruh simpanan glukosanya. Tanpa glukosa untuk dibakar menjadi energi, tubuhnya akan mulai menggunakan lemak cadangan di tubuh. Diet ketogenik memastikan proses pembakaran lemak ini terus berlangsung. Diet ini memaksa tubuh anak membakar lemak sepanjang waktu dengan konsumsi kalori yang rendah dan lemak yang tinggi. Sekitar 80% sumber kalori akan berasal dari lemak. Sedangkan sisanya dari karbohidrat dan protein. Setiap kali jam makan, anak mengkonsumsi lemak 4 kali lebih banyak daripada protein dan karbohidrat. Jumlah makanan dan cairan yang dikonsumsi setiap waktu makan harus diperhitungkan dengan seksama sesuai dengan berat tubuh anak. Pola makan ini memimik kelaparan sehingga anda harus berkonsultasi dengan dokter ketika melaksanakan diet ini. Diet ini senantiasa harus dikonsultasikan dengan tim medis berpengalaman.