Anda di halaman 1dari 29

BAB I PENDAHULUAN

A.

Latar Belakang Persepsi dan kognisi merupakan suatu proses psikologis yang sangat dipengaruhi oleh berbagai macam hal. Kognisi pada dasarnya ialah sebuh proses berpikir yang di dalamnya terdapat berbagai macam aspek, yaitu pencarian, penerimaan, pemaknaan, penyimpanan, dan bagaimana

menggunakan informasi-informasi tersebut. Proses psikologis lain yang berperan dalam proses ini ialah persepsi, yaitu kemampuan seorang individu memberi makna pada informasi-informasi yang telah diperolehnya. Hubungan dan pengaruh budaya ini tentu sangat menentukan perbedaan dan persamaan persepsi atas proses berpikir seorang individu. Individu dibesarkan sesuai dengan nilai-nilai tertentu yang berlaku dalam masyarakatnya dan diturunkan secara turun-temurun. Nilai-nilai yang dianut inilah yang sangat menentukan bagaimana seseorang dapat mempersepsi objek-objek yang ditangkap melalui proses kognisinya. Misalkan ketika ia menerima informasi tentang maraknya ibu-ibu yang bekerja sebagai wanita karier yang sukses dan secara tidak langsung keluarganya sedikit terbengkalai, maka seorang individu akan mempersepsikannya secara berbeda. Mungkin bagi sebagian orang yang masih menganut sistem budaya konvesional (seorang dengan budaya jawa namun masih memegang teguh ajaran budayanya) akan menganggap bahwa hal itu tidak dibenarkan menurut persepsinya. Seperti yang dijelaskan oleh Umar Kayam (2008) dalam www.kompas.com bahwa wanita merupakan teman

belakang atau dalam bahasa jawa disebut sebagai kanca wingking yang merupakan pengembangan dialektika budaya adiluhung yaitu seorang yang bertugas menjaga nilai-nilai luhur di dalam rumah. Hal itu mungkin akan dipersepsi lain oleh orang dari latar belakang budaya yang berbeda.

Berdasarkan latar belakang inilah, maka kami akan mengupas lebih jauh mengenai kognisi, persepsi, serta hubungan budaya dengan kedu proses tersebut.

B.

Masalah Masalah yang timbul dari penyusunan makalah ini: Apakah definisi kognisi? Apakah definisi persepsi? Apakah terdapat hubungan antara kognisi dan intelegensi?

C.

Maksud dan Tujuan Maksud serta tujuan dari penyusunan makalah ini adalah untuk mengetahui: a) Memberikan pemahaman mengenai definisi kognisi b) Memberikan pemahaman mengenai definisi persepsi c) Memberikan pemahaman mengenai hubungan kognisi dan intelegensi

D.

Metode Penulisan Dalam penyusunan makalah ini, penyusun menggunakan metode literatur yang diambil dari beberapa buku yang berkaitan dengan masalah yang dibahas serta situs-situs internet yang berkaitan. Selain itu penulis juga menggunakan metode deskriptif praktis, artinya dengan menggambarkan keadaan masalah yang ditulis berdasarkan beberapa buku yang terkait.

E.

Sistematika Penulisan 1) Bab I. Pendahuluan 2) Bab II. Isi A. Kognisi

B. Persepsi C. Hubungan antara Kognisi dan Intelegensi 3) Bab III. Kesimpulan Daftar Pustaka

BAB II KOGNISI DAN PERSEPSI

A. KOGNISI Kognisi adalah istilah umum yang mencakup seluruh proses mental yang mengubah masukan-masukan dari indera menjadi pengetahuan (Matsumoto, 2008). Menurut Tri Dayakisni (2008) salah satu proses dasar kognisi ialah pemberian kategori pada setiap benda atau obyek atas dasar persamaan dan perbedaan karakternya. Selain kedua hal di atas, pemberian kategori juga biasanya didasarkan pada fungsi dari masing-masing objek tersebut. Proses-proses mental dari kognisi mencakup persepsi, pemikiran rasional, dan seterusnya. Ada beberapa aspek kognisi, yaitu kategorisasi (pengelompokkan), memori (ingatan) dan pemecahan masalah (problem solving). Budaya dan Memori Memori ialah proses pengolahan informasi dalam kognitif yang meliputi pengkodean, penyimpanan, pemanggilan kembali informasiinformasi tersebut. Dalam hubungannya dalam penyimpanan dan pemanggilan kembali informasi-informasi tersebut, memori dibedakan menjadi memori jangka pendek (short term memory) yang jangka waktu menyimpan informasi tidak lebih dari 15-25 detik dan memori jangka panjang (long term memory) atau memori yang menyimpan informasi relatif permanen meskipun kadang ada kesulitan dalam memanggilnya kembali (Dayakisni, 2008).

Ross dan Millson (Matsumoto dalam Dayakisni, 2008) melakukan sebuah penelitian dengan membandingkan daya ingat pelajar Amerika dan pelajar Ghania. Mereka menduga bahwa tradisi oral membuat orang lebih baik dalam kemampuan daya ingatnya. Penelitian mereka ini ialah dengan membacakan cerita dengan suara yang keras dan membandingkan bahwa pelajar Ghania secara umum dapat mengingat isi cerita lebih baik daripada pelajar Amerika. Masih dalam Matsumoto (1996), Cole (1971) menemukan hal lain bahwa sekalipun masyarakat non-literate dapat mengingat isi cerita lebih baik namun kemampuan mereka dalam mengingat daftar kata cenderung lebih lama. Serial Position Effect merupakan salah satu aspek memori yang paling dikenal karena pada hipotesa ini juga menerangkan bahwa seorang individu akan mampu mengingat lebih baik bagian pertama yang dibaca (primary effect) atau bacaan terakhir dari daftar kata yang harus diingat (recency effect). Meskipun demikian Wagner (dalam Matsumoto, 1996 dalam Dayakisni, 2008) menjelaskan bahwa primary effect ini juga berhubungan dengan pendidikan. Ia membandingkan kelompok anak Moroccan antara yang sekolah dan yang tidak pernah mendapat pendidikan. Hasilnya ialah primary effect cenderung lebih kuat pada anak yang pernah mengenyam pendidikan. Budaya dan Problem Solving Proses menyelesaikan masalah atau problem solving ini merupakan sebuah usaha yang digunakan untuk menemukan urutan yang benar dari alternatif-alternatif penyelesaian suatu masalah dengan mengarah pada satu tujuan pemecahan yang ideal. Penyelesaian masalah ini biasanya juga sangat tergantung dari pendidikan dan pengalaman-pengalaman yang kita temukan dalam kehidupan sehari-hari. Banyak sekali teori-teori psikologi yang telah mencoba menjelaskan mengenai problem solving ini, namun 5

banyak juga yang akhirnya meneliti mengenai pengaruh budaya dengan problem solving terhadap masalah-masalah yang tidak biasa ditemui dalam kehidupan sehari-hari. Cole (dalam Dayakisni, 2008) memberi kesimpulan akhir pada penelitiannya bahwa orang Liberia menyelesaikan masalah mereka dengan berpikir logis akan menyesuaikan dengan konteks permasalahannya. Ketika masalah yang diberikan merupakan sebuah konsep dan mengunakan material yang sudah mereka kenal, maka orang Liberia akan mampu berpikir logis sama baiknya dengan orang Amerika. Ketika masalah yang akan dihadapinya tidak pernah ia temui sebelumnya, maka mereka cenderung mengalami kesulitan mengenai langkah-langkah awal dari penyelesaian masalah tersebut. Dalam perbandingan ini, namun tidak dapat dikatakan bahwa orang Liberia mempunyai problem solving yang lebih rendah dibandingkan dengan orang Amerika, karena mungkin saja orang Amerika juga akan memiliki problem solving tidak sebaik orang Liberia ketika dihadapkan pada masalah-masalah yang belum pernah ditemui sebelumnya. Penelitian yang dilakukan oleh Cole ini mendapat berbagai macam respon karena dinilai adanya bias-bias budaya dalam percobaannya sehingga ia perlu melakukan tiga kali percobaan untuk sampai pada kesimpulan yang telah disampaikan sebelumnya. Percobaan-percobaan yang dilakukan Cole antara lain : Pada percobaan 1 ini ia menggunakan sebuah piranti yang memiliki banyak tombol, panel, dan lubang sehingga untuk dapat membuka piranti tersebut (dan mendapat hadiah yang ditaruh di dalamnya), ia harus mampu mengkombinasikan berbagai tombol dan merancang penyelesaian-penyelesaian lain untuk membuka piranti tersebut. Prosedur yang terdapat dalam penelitian ini iallah : (1) kemampuan

menekan tombol yang tepat untuk dapat melepas kelerang; (2) memasukkan kelerang ke dalam lubang yang tepat agar panel dapat terbika dan selanjutnya piranti pun akan terbuka. Hasil penelitian menunjukkan bahwa orang Amerika yang berusia di bawah 10 tahun tidak mampu menyelesaikannya dengan mudah, namun pada orang dewasa Amerika, mereka dapat mengkombinasikan berbagai

penyelesaian sehingga dapat menyelesaikannya dengan mudah. Hal ini tidak ditemukan pada subjek-subjek orang Liberia , baik pada usia muda maupun usia dewasa. Hal yang dirasa menjadi bias dalam penelitian ini ialah orang Amerika yang dianggap lebih familiar dengan penggunaan alat-alat yang menggunakan banyak tombol dibandingkan dengan orang Liberia. Oleh karena itu, Cole melakukan penelitian yang kedua. Pada percobaan kedua ini, Cole menggunakan alat percobaan kotak terkunci beserta kunci-kuncinya. Hal ini dirasa kurang bias karena pertimbangan bahwa orang Liberia juga telah familiar terhadap hal-hal semacam ini. Prosedur dalam menyelesaikan masalah pun masih sama dengan percobaan pertama. Hasilnya menunjukkan bahwa orang Liberia mampu menyelesaikannya dengan baik dan menggunakan waktu yang hampir sama dengan orang Amerika. Percobaan ketiga yang dilakukan ialah prosedur gabungan dari percobaan pertama dan percobaan kedua. Subjek diminta membuka kotak dengan kunci-kunci yang harus diambil dari piranti yang tertutup. Langkah yang harus dilakukan untuk membuka piranti tersebut ialah menekan tombol yang tepat, mengambil kelereng, dan memasukkan kelereng pada lubang yang tepat pula. Hasil pada percobaan ketiga ini sama dengan hasil pada percobaan pertama.

B. PERSEPSI Kalau berbicara tentang persepsi, kita biasanya menganggap bahwa kita bisa melihat hal-hal yang benar-benar faktual atau nyata di dunia sekitar kita. Menurut Matsumoto (2008), dalam psikologi tradisional, sensasi dan persepsi adalah tentang memahami bagaimana kita menerima stimulasi dari lingkungan dan bagaimana kita memproses stimulus tersebut. Persepsi biasanya dimengerti sebagai bagaimana informasi yang berasal dari organ yang tersetimulasi diproses, termasuk bagaimana informasi tersebut diseleksi, ditata, dan ditafsirkan. Persepsi mengacu pada proses di mana informasi inderawi diterjemahkan menjadi sesuatu yang bermakna.

BEBERAPA KOMENTAR UMUM TENTANG PENGARUH BUDAYA PADA PERSEPSI Persepsi dan Realitas Salah satu hal yang harus disadari tentang persepsi adalah bahwa persepsi kita atas dunia belum tentu mewakili secara persis realitas fisik dunia atau indera kita. Poinnya di sini adalah bahwa persepsi kita tentang dunia yang penuh tidak selalu cocok dengan realitas fisik dan sensasi yang kita terima lewat sistem penglihatan kita. Contohnya adalah saat kita menutup satu mata kita, dan kita tetap bisa mengalami atau melihat dunia seolah-olah utuh. Meski ada satu area yang darinya mata kita tidak menerima cahaya, kita tidak bisa melihat bagian visual itu sebagai sesuatu yang hilang. Otak kitalah yang mengisinya sehingga seolah-olah seluruh wilayah visual kita bisa terlihat. Selain itu, pengalaman sehari-hari kita dengan temperatur dan sentuhan juga menunjukkkan fenomena ini. Hal itu bisa terbukti pada eksperimen seperti berikut: Isilah tiga mangkuk dengan air satu mangkuk dengan air panas, satu dengan air es, dan satu lagi dengan air hangat. Masukkan tangan kita ke dalam mangkuk berisi air panas untuk 8

beberapa detik, dan kemudian pindahkan ke air hangat. Air itu akan terasa dingin. Tunggu beberapa menit; setelah itu masukkan tangan kita ke dalam air es, dan kemudian ke air hangat lagi. Air itu akan terasa hangat. Temperatur air yang hangat itu tidak berubah. Yang berubah adalah persepsi kita tentangnya. Seperti yang terdapat pada Dayakisni (2008), kunci jawaban masalah di atas adalah pengalaman. Seperti yang diungkapkan para pengagum teori-teori empiris, manusia akan secara terus-menerus melakukan interpretasi terhadap tanda-tanda (dunia) dan dengan mudah tersesat oleh pengalaman terdahulu untuk melakukan phenomenal absolutism (bahwa manusia secara naif mengambil kesimpulan dari apa yang dirasakan dan bukan dari realitas sebenarnya). Dari proses-proses tersebut selanjutnya orang akan belajar bahwa dunia ini adalah dalam bentuk tiga dimensi. Segall (dalam Dayakisni, 2008) menjelaskan bahwa persepsi bukanlah stimulus penentu tetapi lebih merupakan produk dari interaksi antara stimulus dengan pengalaman. Persepsi dan Pengalaman Salah satu hal yang kita ketahui tentang persepsi kita adalah bahwa persepsi itu berubah. Persepsi kita juga berubah bila kita mengetahui lebih banyak tentang sesuatu. Contohnya, bagi kebanyakan orang, apa yang ada di bawah kap mobil merupakan pemandangan campur aduk yang tak rapi. Tapi bagi mereka yang mempelajari mesin, pemandangan itu akrab dan terdeferensiasi menjadi benda-benda yang lebih spesifik karburator, blok mesin, alternator, dan lain-lain. Selama beberapa tahun Chase dan Simon (Matsumoto, 2008) mempelajari orang-orang yang ahli dalam bidang tertentu. Mereka secara konsisten menemukan bahwa ketika orang belajar lebih banyak tentang sesuatu, mereka akan melihatnya secara berbeda dari saat pertama kali 9

melihatnya. Jadi, jelas sekali bahwa bagaimana kita akan melihat sesuatu itu berubah seiring pengalaman kita dengan hal itu. Bagaimana seseorang dari latar belakang budaya yang sangat berbeda melihat sesuatu yang amat familier bagi kita? Dan bagaimana kita akan melihat sesuatu yang familier bagi mereka dan asing bagi kita? Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut, seorang guru di Australia mempunyai pengalaman menarik yang menunjukkan perbedaan kultural dalam persepsi ini. Di sebuah sekolah untuk anak-anak suku Aborigin, guru ini sedang mencoba mengajarkan sebuah permainan who touched me?. Dalam permainan ini semua berdiri melingkar dan anak yang jadi akan ditutup matanya. Kemudian ada satu anak dari lingkaran yang akan berjalan diam-diam dan menyentuh anak yang tertutup matanya lalu kembali ke tempatnya. Tutup mata itu dibuka dan anak yang jadi harus menebak siapa yang menyentuhnya. Guru itu melihat bahwa anak-anak Aborigin tidak benar-benar ingin bermain. Meski begitu, mereka tetap melakukan permainan itu untuk menghormati sang guru. Setelah permainan itu, sang guru menemukan bahwa murid-muridnya menjadi tidak kooperatif dan enggan mencoba apapun yang ia usulkan. Mereka menolak belajar alphabet. Guru itu pun mengira bahwa mereka sedang berpura-pura bodoh atau nakal. Sama halnya ketika guru menganggap anak-anak Aborigin berpurapura bodoh atau nakal, anak-anak suku Aborigin justru menganggap gurunyalah yang bodoh. Anak-anak Aborigin itu bisa dengan mudah melihat tapak kaki siapa yang ada di tanah dengan melihat sepintas. Jadi bagi mereka guru itu telah meminta mereka untuk memainkan sesuatu yang bagi anak-anak Aborigin sangat bodoh sampai mereka tak mengerti kenapa itu bisa menjadi sebuah permainan.

10

Persepsi Pengecapan Kebanyakan orang pernah mengalami perubahan kesukaan makanan. Sebagian alasannya barangkali terkait dengan perubahan proporsi dari jenis-jenis saraf pengecapan di mulut (Matsumoto, 2008). Kita semua tahu bahwa anak-anak suka makanan yang manis dan bahwa mereka biasanya sangat pilih-pilih dengan makanan secara umum. Sifat ini mungkin sebagian disebabkan oleh kenyataan bahwa makanan yang sama punya rasa yang berbeda bagi anak-anak dan orang dewasa. Contohnya, sebatang coklat mungkin akan terasa terlalu manis bagi orang tua yang punya lebih saraf manis ketimbang saraf pahit dan asam. Bagi anak berusia 3 tahun, yang punya lebih banyak saraf pahit disbanding rata-rata orang dewasa, batang coklat yang sama mungkin akan terasa sedikit pahit. Beberapa penelitian juga dilakukan untuk mengetahui perbedaan kemampuan mengecap yang diseabbkan oleh perbedaan budaya. Doty (Berry dalam Dayakisni, 2008) melaporkan kekurangmampuan orangorang Kaukasia untuk mengecap subtansi yang mengandung PTC (phenilthiocarbamide). Ia juga menambahkan sekitar 30% orang Kaukasia dikatakan buta kecap atau lidah karena kebiasaan mengecap subtansisubtansi yang lebih kasar ketimbang subtansi yang biasa dikecap orangorang non-Kaukasia.

PENGARUH-PENGARUH BUDAYA PADA PERSEPSI VISUAL Pengetahuan Tradisional tentang Ilusi Visual Ada banyak kajian psikologi di bidang persepsi yang meneliti ilusi optik, yaitu persepsi yang mengandung diskrepansi atau perbedaan antara kenampakan sebuah benda dengan benda itu sesungguhnya. Seringkali, ilusi-ilusi optik terjadi karena asumsi-asumsi yang keliru tentang karakteristik stimulus dari benda yang dipersepsi.

11

Salah satu ilusi optik yang paling popular adalah ilusi Mueller-Lyer. Dalam ilusi ini ada dua garis yang masing-masing memiliki tanda panah di ujungnya. Tanda panah pada salah satu garis itu mengarah ke luar, menjauhi garisnya, sedangkan pada garis yang lain mengarah ke dalam. Penelitian menunjukkan bahwa subjek-subjek yang melihat dua gambar tersebut biasanya menilai bahwa garis dengan panah yang mengarah ke dalam adalah yang lebih panjang. Tapi hal ini hanya ilusi, karena kedua garis itu sebenarnya sama panjang.

Ilusi Mueller-Lyer

Ilusi lain yang popular adalah ilusi horizontal/vertikal. Dalam ilusi ini dua garis dengan panjang yang sama ditempatkan secara saling tegak lurus. Ketika para subjek diminta menilai garis mana yang lebih panjang, biasanya mereka memilih garis yang vertikal.

Ilusi Horizontal/Vertikal

12

Ilusi ketiga yang juga terkenal adalah ilusi Ponzo. Dalam ilusi ini dua garis horizontal ditempatkan sejajar, satu di atas yang lain. Setelah itu ditarik dua garis diagonal yang lebih rapat di ujung atas daripada di bawah. Ketika para subjek melihat gambar ini, mereka biasanya mengatakan bahwa garis horizontal yang ada di atas lebih panjang daripada garis horizontal di bawahnya. Tentu saja, kedua garis tersebut sebenarnya sama panjang.

Ilusi Ponzo

Teori-teori Dominan tentang Ilusi Optik Ada tiga teori utama yang dikembangkan untuk menjelaskan efek ilusi optik, yaitu: 1. Carpentered World Theory atau Teori Lingkungan Buatan Teori ini menyatakan bahwa orang, seperti hanlnya sebagian besar orang Amerika, terbiasa melihat benda-benda yang berbentuk kotak. Tinggal di lingkungan yang didominasi bentuk kotak, secara tak sadar kita cenderung menduga akan bertemu dengan benda-benda dengan sudut atau pojok berbentuk kotak. Kita sudah melakukan ini begitu lama sehingga kita tak lagi sadar bahwa kita menafsirkan berbagai benda seolah-olah berbentuk persegi padahal stimulus aktualnya tidak tegak lurus dengan mata kita. Kita hanya melihatnya seolah-olah bentuknya persegi. 13

2. Front-Horizontal Foreshortening Theory atau Teori Pemendekan Horizontal-Depan Teori ini menyatakan bahwa kita menafsirkan garis vertikal di mata kita sebagai garis horizontal yang terentang sampai kejauhan. Dengan demikian, kita akan menafsirkan garis vertikal pada ilusi

vertikal/horizontal sebagai sebuah garis yang terentang menjauhi kita. Sekali lagi, kita akan menduga bahwa sebuah garis akan punya ukuran lebih panjang bila berada jauh dari kita. Karena itu, kita melihat garis vertikal tersebut lebih panjang daripada yang horizontal, yang tidak terlihat terentang menjauh. 3. Symbolizing-Three-Dimensions-in-Two-Dimensions Menyimbolkan-Tiga-Dimensi-dalam-Dua-Dimensi atau Teori

PENELITIAN LINTAS-BUDAYA TENTANG ILUSI VISUAL Beberapa penelitian lintas-budaya tentang persepsi visual menantang pemahaman-pemahaman tradisional tentang ilusi optik. Bahkan sudah semenjak 1905, W.H.R. Rivers membandingkan efek ilusi Muller-Lyer dan horizontal/vertikal pada kelompok dari Inggris, pedesaan India, dan Papua Nugini. Ia menemukan bahwa orang Inggris melihat dua garis pada ilusi Muller-Lyer lebih berbeda panjangnya daripada orang-orang dari kelompokkelompok lainnya. Ia juga menemukan bahwa orang India dan Papua Nugini lebih tertipu oleh ilusi horizontal/vertikal daripada orang Inggris. Hasil-hasil ini cukup mengejutkan. Sebelumnya, mereka yakin bahwa orang India dan Papua Nugini lebih primitif dan akan lebih tertipu oleh ilusiilusi tersebut daripada orang Inggris yang lebih berpendidikan dan lebih beradab. Tapi hasilnya menunjukkan bahwa ada efek ilusi tersebut berbeda antarbudaya, dan bahwa ada sesuatu selain pendidikan yang turut memengaruhi bagaimana orang tertipu oelh ilusi-ilusi itu. Para peneliti itu

14

kemudian menyimpulkan bahwa pasti ada pengaruh budaya pada bagaimana kita melihat dunia. Hasil-hasil yang didapatkan Rivers tadi dapat dijelaskan dengan Teori Lingkungan Buatan maupun Teori Pemendekan Horizontal-Depan. Pada Teori Lingkungan Buatan, akan dinyatakan bahwa sebagian besar orang Amerika dan Inggris, dalam penelitian Rivers, sudah terbiasa melihat bendabenda yang berbentuk persegi. Sebaliknya, orang-orang di India dan Papua Nugini lebih terbiasa dengan lingkungan yang lebih bundar dan ileguler. Terhadap ilusi Muller-Lyer, orang Inggris akan cenderung melihatnya sebagai sudut-sudut persegi yang memproyeksikan kedalaman ke arah menjauhi atau mendekati kita. Namun orang India dan Papua Nugini tinggal di budaya di mana lingkungannya tidak terlalu banyak memuat benda-benda buatan manusia. Kecenderungan mereka untuk membuat kesalahan perseptual dalam hal ini lebih kecil daripada orang Inggris. Karena itulah orang Inggris lebih sering salah dalam menafsirkan ilusi Muller-Lyer daripada orang India dan Papua Nugini. Pada Teori Pemendekan Horizontal-Depan dapat membedakan perbedaan cultural dalam penelitian Rivers. Di India dan Papua Nugini terdapat lebih sedikit gedung yang menghalangi jarak pandang orang. Karena itu, orang India dan Papua Nugini lebih mengandalkan petunjuk kedalaman daripada orang Inggris dan membuat lebih banyak kesalahan dalam menilai gambar horizontal/vertikal. Sedangkan Teori MenyimbolkanTiga-Dimensi-dalam-Dua-Dimensi menyatakan bahwa di budaya-budaya Barat, orang lebih banyak memperhatikan hal-hal yang tertera di atas kertas daripada orang dari budaya lain. Secara lebih khusus, orang Barat menghabiskan lebih banyak waktu untuk belajar menafsirkan gambar daripada orang dari budaya non-Barat. Karena itu orang-orang di Papua Nugini dan India lebih sulit tertipu ilusi Muller-Lyer karena gambar tersebut lebih asing bagi mereka. Tapi mereka akan lebih tertipu oleh ilusi horizontal/vertikal karena hal itu lebih mewakili cara hidup mereka. 15

Untuk melihat apakah temuan-temuan Rivers juga berlaku pada lebih banyak budaya secara umum, Segall dkk (Matsumoto, 2008) membandingkan orang dari tiga kelompok masyarakat industri dengan empat-belas kelompok masyarakat non-industri pada ilusi Muller-Lyer dan horizontal/vertikal. Hasilnya menunjukkan bahwa efek ilusi Muller-Lyer lebih kuat pada kelompok-kelompok industri. Sebaliknya, efek ilusi horizontal/vertikal lebih kuat pada kelompok non-industri. Mereka menemukan bahwa efek ilusi-ilusi tersebut menurun dan hamper menghilang seiring pertambahan usia. Wagner (1977) mengkaji persoalan ini dengan menggunakan beberapa versi ilusi Ponzo dan membandingkan jawaban orang-orang dari lingkungan desa dan kota, yang sebagian melanjutkan pendidikan dan sebagian tidak. Wagner menemukan bahwa ada pengaruh lingkungan perkotaan dan pengalaman sekolah pada ilusi Muller-Lyer. Pollack dan Silvar (1967) menunjukkan bahwa efek ilusi Muller-Lyer terkait dengan kemampuan untuk mendeteksi kontur, dan kemampuan ini akan menurun seiring pertambahan umur. Untuk melihat teori mana teori rasial ataukah teori pembelajaran lingkungan yang lebih benar, Stewart (1973) menguji efek ilusi Muller-Lyer pada anak-anak kulit hitam dan putih yang tinggal di satu kota yang sama. Ia tak menemukan perbedaan antara kedua kelompok ini. Kemudian ia membandingkan beberapa kelompok anak usia sekolah dasar di Zambia yang berasal dari lingkungan kota yang penuh dengan benda arsitektur serta yang berasal dari lingkungan pedesaan yang minim benda arsitektur. Ia menemukan bahwa efek ilusi ini tergantung pada sejauh mana seorang anak tinggal di lingkungan berarsitektur. Ia juga menemukan bahwa seiring pertambahan usia, efek ilusi ini berkurang, yang menunjukkan bahwa baik hasil belajar maupun sifat bawaan punya peran dalam perbedaan cultural yang tampak ini. Hudson (1960) mencoba mengembangkan sebuah tes proyektif mirip Thematic Apperception Test untuk digunakan pada suku Bantu di Afrika Selatan. 16

Ia meminta seorang seniman untuk membuat gambar-gambar yang menurut dugaan para ahli psikologi akan membuat anggota suku itu memikirkan emosi-emosi mereka yang mendalam. Para ahli psikologi ini terkejut karena menjumpai bahwa anggota suku Bantu seringkali melihat gambar-gambar tersebut dengan cara berbeda dari yang dimaksudkan. Anggota-anggota suku itu seringkali tidak menggunakan ukuran relatif sebagai petunjuk kedalaman. Dalam ilustrasi yang ada, misalnya, kita akan cenderung melihat bahwa si pemburu bersiap melempar tombaknya pada kijang yang ada di latar depan, sementara ada seekor gajah yang berdiri di atas sebuah bukit sebagai latar belakang. Banyak anggota suku Bantu justru melihat bahwa si pemburu di gambar yang sama sedang bersiap menusuk gajak yang masih bayi. Hudson menemukan bahwa perbedaan-perbedaan dalam persepsi

kedalaman ini terkait dengan pendidikan dan pengalaman dengan budaya Eropa. Dengan kata lain, orang-orang suku Bantu yang terdidik di sekolahsekolah Eropa, atau punya pengalaman lebih banyak dengan budaya Eropa, akan melihat benda-benda seperti halnya orang Eropa. Orang-orang suku Bantu yang tak berpendidikan dan minim pengalaman dengan budaya Barat akan melihat gambar-gambar itu secara berbeda.

17

C. PERKEMBANGAN KOGNITIF DAN INTELEGENSI Intelegensi dalam pandangan orang Amerika ialah sejumlah

kemampuan, keahlian, talenta, dan pengetahuan, yang keseluruhannya merujuk pada kemampuan kognitif dan proses mental. Ruang lingkup dalam proses intelegensi ini ialah memori, kekayaan kosa kata, kemampuan komperehensif, kemampuan matematis, dan berpikir logis. Cara budaya mainstream Amerika mendefinisikan inteligensi mempengaruhi pandangan banyak orang mengenai proses perkembangan kognitif bahwa orang yang berasal dari budaya tertentu lebih cerdas dibanding yang lain. Padahal perbedaan budaya juga sangat berperan dalam menentukan definisi dari intelegensi/kecerdasan ini. Sebagai contoh, seorang yang berada dalam budaya tertentu yang ada di pedalaman, kecerdasan yang harus dimiliki mungkin bukanlah sebuah kecerdasan matematis dalam berhitung, namun kecerdasan dan ketepatan dalam menangkap hewan buruan ataupun menyalakan api dengan kayu bakar. Satu jenis alat tes yang digunakan mungkin menunjukkan hasil yang berbeda pada setiap budaya dikarenakan adanya kemungkinan alat tes yang bias budaya. Oleh karena itu, adanya perbedaan dalam skor intelegensi diantara kelompok-kelompok budaya barangkali merupakan akibat atau hasil dari (1) perbedaan keyakinan tentang apa yang disebut dengan intelegensi; (2) ketidaktepatan pengukuran intelegensi terkait budaya. Para ahli psikologi telah banyak mempelajari bagaimana anak-anak belajar berpikir dan bagaimana mendefinisikan dan mengukur kecerdasan. Skor IQ dapat menjadi faktor penentu yang penting bagi hidup seseorang, hasil tes tersebut harus ditafsirkan dengan amat hati-hati, terutama bila ingin mengkur inteligensi lintas-budaya. Beberapa ahli berpendapat mengenai perlunya memahami inteligensi secara lebih luas untuk mengintegrasikan penelitian lintas-budaya ke dalam teori yang dapat menjelaskan mengapa

18

orang dari berbagai belahan bumi berpikir dan mengembangkan keterampilan mental secara berbeda. Misalnya persepsi bahwa orang Cina itu lebih pintar dibandingkan orang Indonesia (Pribumi). Sebenarnya hal itu hanyalah persepsi kita saja karena sudah terbentuk di lingkungan sekitar kita dan didukung dengan bukti empiris bahwa negeri Cina lebih maju. Teori Perkembangan Kognitif Perkembangan kognitif adalah bidang khusus dalam psikologi yang mempelajari bagaimana perkembangan keterampilan berpikir.

Berdasarkan pengamatan Piaget di Swiss, ia menemukan bahwa ternyata anak-anak dari usia yang berbeda-beda cenderung

memecahkan masalah secara berbeda. Anak-anak berkembang maju melalui 4 tahap seiring pertumbuhan mereka menurut Piaget, yaitu: 1. Tahap sensorimotor Dimulai sejak lahir sampai 2 tahun. Proses permanensi objekkemampuan untuk mengetahui bahwa suatu benda itu tetap ada meski tidak terlihat oleh pandangan mata. Misalnya di Indonesia berkembang mitos bahwa anak kecil memiliki penglihatan yang sensitif sehingga dapat melihat makhluk-makhluk gaib atau yang dikatakan penampakan. Hal itu akan membentuk konsep diri terhadap anak yang didukung oleh lingkungan yang kuat untuk memberikan si anak pemahaman antara konsep magis dan rasionalitas. 2. Tahap pra operasional Usia 2-7 tahun. Di bagi berdasarkan 5 sifat yaitu, Konservasi : kesadaran bahwa adanya kuantitas fisik yang tidak berubah meski bentuk atau penampakannya berubah.

19

Keterpakuan: kecenderungan untuk terfokus pada satu aspek dari suatu persoalan/masalah. Ketidakberhasilan : ketidakmampuan untuk membayangkan penguraian-balik. Egosentrisme: keidakmampuan untuk menggunakan kacamata orang lain dan memahami sudut pandangnya. Animisme: keyakinan bahwa benda-benda mati punya nyawa.

3. Tahap operasional konkret Usia 6-11 tahun. Anak memperoleh keterampilan berpikir baru dalam menghadapi benda dan kejadian nyata. Mereka bisa membalikkan dalam pikiran-bayangan proses suatu tindakan dan memperhatikan lebih dari satu aspek dari suatu persoalan, mengerti ada sudut pandang berbeda dari pandangan mereka. Dalam memecahkan masalah masih trial-error. 4. Tahap operasional formal Pada usia 11 tahun sampai dewasa. Mengembangkan kemampuan berpikir logis mengenai konsep abstrak, sistematis dalam problem solving. Teori Tahapan Piaget dari Perspektif Lintas Budaya Teori Piaget ini berlangsung seperti empat tahapan tersebut di setiap budaya. Dari beberapa penelitian pada anak-anak Inggris, Amerika, Yunani, dan Pakistan menunjukkan dapat mengerjakan tugas perkembangan Piaget pada tahap yang sama yaitu, tahap operasional konkret (Shayer, Dementriou & Perez, 1988). Penelitian lain menunjukkan adanya variasi kultural pada usia anak di masyarakat yang berbeda-beda dalam pencapaian tahap

perkembangan Piaget yang ketiga dan keempat (tahap operasional

20

konkret dan tahap operasional formal) sehingga menyebabkan tahap perkembangan yang berbeda dengan tahapan-tahapan yang

dikemukakan oleh Piaget. (Dasen, Lavallee, Ngini, dan Retschitzki, 1979; Dasen, 1982). Dalam sebuah penelitian, terdapat variasi yang cukup besar antara tahapan-tahapan perkembangan Piaget dan ketrampilan fisik yang terkait. Jadi anak-anak yang tumbuh dan berkembang dalam suatu budaya dan usia tertentu secara tidak langsung dituntut untuk mempelajari keterampilan-ketrampilan khusus yang sesuai dengan aturan budayanya tanpa dipengaruhi oleh tahapan perkembangan Piaget. Misalnya pada anak-anak zaman dulu yang masih tinggal nomaden atau anak yang tinggal di perkampungan memiliki keterampilan tertentu misalnya berburu. Dalam hal berburu juga diperlukan perhitungan dan strategi yang pas untuk menangkap hewan berburu. Belum tentu pola pikir seperti itu dimiliki oleh anak-anak dan orang dewasa yang tinggal menetap di perkotaan. Teori Piaget berasumsi bahwa penalaran ilmiah yang diasosiaikan dengan tahap operasional formal merupakan puncak perkembangan kognitif, dengan kata lain pemikiran ini menjadi acuan bagi setiap budaya dalam lintas menentukan budaya langkah-langkah mematahkan teori penalaran tersebut ilmiah. dengan

Penelitian

menyatakan bahwa masyarakat yang berbeda budaya menghargai dan mendorong keterampilan dan perilaku yang berbeda-beda. Misalnya, cerdik-cendikiawan yang paling dihormati oleh masyarakat islam tradisional adalah pemuka agama dan penyair. Meskipun pendidikan islam tradisional sudah cukup mencakup pelajaran budaya barat (yang bersifat ilmiah seperti Matematika, Fisika, Kimia), tujuan utamanya ialah mengajarkan pengetahuan umum, iman, dan penghargaan yang 21

mendalam atas puisi dan sastra. Beberapa budaya di dunia tidak sepakat bahwa proses berpikir abstrak merupakan titik perkembangan kognitif yang paling tinggi. Banyak pula budaya yang menganggap bahwa perkembangan kognitif mencakup hubungan antara ketrampilan dan proses berpikir untuk berhasil dalam konteks interpersonal ( well adjusted dalam lingkungannya). Apakah ini berarti bahwa suatu budaya dapat digolongkan terhambat di tahap perkembangan kognitif yang rendah? Jadi tugastugas Piagetian memang merupakan cara yang tepat untuk mengukur tahap tertinggi dalam perkembangan kognitif. Sayangnya tes-tes tersebut tidak selalu bisa dipahami dan diberikan pada budaya-budaya tertentu. Tes operasional formal, tidak bisa menunjukkan apakah orang dari budaya yang berbeda memiliki keterampilan kognitif di bidang lain selain yang dipilih oleh Piaget. Dari pernyataan tersebut timbul pertanyaan tentang sejauh mana tugas-tugas Piagetian lebih tergantung pada pengetahuan sebelumnya dan nilai-nilai budaya ketimbang keterampilan kognitif. Misalnya pada salah satu tes inteligensi hasil adaptasi dari luar Indonesia terdapat kosa kata-kosa kata tertentu yang belum tentu dimengerti oleh orang Indonesia pada tahap

perkembangan tertentu. Pada akhirnya perbedaan dalam satu atau beberapa budaya menyulitkan pengambilan kesimpulan yang valid tentang perbedaan perkembangan kognitif antar budaya terbatas pada aktivitas-aktivitas khusus. Misalnya individu yang bisa menerapkan logika ilmiah pada suatu masalah pekerjaan mungkin akan menggunakan penalaran yang berbeda untuk situasi yang lain.

22

Pengaruh Kultural pada Pengukuran Intelegensi Tes inteligensi menjadi cara untuk membedakan anak-anak yang membutuhkan pendidikan luar biasa dengan anak-anak yang terhambat karena alasan lain. Tidak semua pihak diuntungkan oleh tes inteligensi ini karena tes-tes ini bergantung pada kemampuan verbal dan pengetahuan kultural. Beberapa orang merespon bahwa tes inteligensi itu bias dan tidak mengukur dengan akurat kemampuan orang dari budaya lain. Dalam sebuah kontroversi dikenal perdebatan nature vs culture . Kubu nature berpendapat bahwa dalam skor IQ pada masyarakat dan kelompok-kelompok etnis yang berbeda disebabkan oleh faktor alam atau keturunan. Perbedaan skor inteligensi antar kelompok juga mungkin diakibatkan oleh: 1) Perbedaan definisi inteligensi 2) Ukuran inteligensi yang secara kultural kurang tepat. Seperti yang kita ketahui bahwa tes-tes inteligensi merupakan prediktor yang baik dalam hal keterampilan verbal yang diperlukan untuk bisa berhasil dalam budaya yang terkait dengan sistem-sistem pendidikan formal di masyarakat modern, model yang sekarang semakin banyak diadopsi di seluruh dunia. Pandangan lain yang dipegang oleh ahli psikologi lintas-budaya bahwa tes-tes inteligensi memang mengukur perbedaan yang nyata antara masyarakat yang berbeda, tapi perbedaan tersebut seharusnya tidak dipandang sebagai kekurangan/kelemahan suatu budaya.

23

BAB III PENUTUP

Kesimpulan Kita tidak bisa sepenuhnya percaya pada apa yang kita lihat karena penglihatan berbeda dari dunia faktual dalam pengertian absolutnya. Apa yang kita lihat mungkin berbeda dari apa yang dilihat dan diyakini orang lain. Hal inilah yang dinamakan dengan persepsi. Persepsi dipengaruhi oleh beberapa faktor termasuk usia, pematangan, lingkungan dan situasi latar belakang kebudayaan tetap merupakan penentu yang berpengaruh dalam persepsi kita terhadap dunia (persepsi dapat dibentuk, diubah, dan dipengaruhi oleh kebudayaan di mana kita dibesarkan). Kategorisasi yang merupakan bagian dari proses kognisi ternyata tak berbeda anta budaya bila terkait dengan pengalaman seperti warna, ekspresi wajah, dan bentuk-bentuk geomeetris. Hal ini berarti, proses-proses dasar ini akan sama pada semua orang namun kategori dapat pula menjadi berbeda ketika individu memiliki latar belakang pengalaman kultural yang berbeda. Ketika ada perbedaan kultural yang muncul bukanlah dalam kemampuan kognitif melainkan perbedaan dalam preferensi (pilihan) untuk menggunakan gaya-gaya kognitif tertentu. Hubungan inteligensi sebagai bagian dari proses kognisi memiliki banyak definisi yang dipengaruhi oleh latar belakang budaya. Bagaimana sutau budaya mendefinisikan apa yang disebut cerdas barangkali tidak sama dengan bagaimana budaya lain mendefinisikan inteligensi. Oleh karena itu, pengukuran inteligensi seharusnya disesuaikan dengan kemungkinan

terjadinya bias budaya.

24

Daftar Pustaka
Anonim. Artikel ini diakses di www.kompas.com pada tanggal 22 Agustus 2008. Dayakisni, Tri dan .. 2008. Psikologi Lintas Budaya. Yogyakarta : UMM Press Matsumoto, David. 2008. Pengantar Psikologi Lintas Budaya. Yogyakarta : Pustaka Pelajar

2.1. Fenomenologi
Posted on March 12, 2009 PENDAHULUAN Fenomenologi merupakan salah satu metode penelitian dalam studi kualitatif. Kata Fenomenologi (Phenomenology) berasal dari bahasa Yunani phainomenon dan logos. Phainomenon berarti tampak dan phainen berarti memperlihatkan. Sedangkan logos berarti kata, ucapan, rasio, pertimbangan. Dengan demikian, fenomenologi secara umum dapat diartikan sebagai kajian terhadap fenomena atau apa-apa yang nampak. Pekembangan fenomenologi dimulai oleh Edmund Husserl (1859 1938), yang mematok suatu dasar tidak terbantahkan dengan menggunakan metode fenomenologis. Sebelumnya fenomenologi sebenarnya telah diperkenalkan untuk pertama kaliya oleh J.H. Lambert (1764), dengan memasukkan dalam kebenaran (alethiologia), ajaran mengenai gejala (fenomenologia). Maksudnya adalah menemukan sebab-sebab subjektif dan objektif ciri-ciri bayangan objek pengalaman inderawi (fenomen). Fenomenologi dapat digolongkan dalam penelitian kualitatif murni dimana dalam pelaksanaannya yang berlandaskan pada usaha mempelajari dan melukiskan ciri-ciri intrinsik fenomen-fenomen sebagaimana fenomen-fenomen itu sendiri. Peneliti harus bertolak dari subjek (manusia) serta kesadarannya dan berupaya untuk kembali kepada kesadaran murni dengan membebaskan diri dari pengalaman serta gambaran kehidupan sehari-hari dalam pelaksanaan penelitian. FENOMENOLOGI SEBAGAI TRADISI PENELITIAN Fenomenologi berkenaan dengan pemahaman tentang bagaimana keseharian, dunia intersubyektif (dunia kehidupan) atau juga disebut Lebenswelt terbentuk. Fenomenologi bertujuan untuk menginterpretasikan tindakan sosial kita dan orang 25

lain sebagai sebuah yang bermakna (dimaknai) serta dapat merekonstruksi kembali turunan makna (makna yang digunakan saat berikutnya) dari tindakan yang bermakna pada komunikasi intersubjektif individu dalam dunia kehidupan sosial. (Rini Sudarmanti, 2005) Penelitian fenomenologi mencoba menjelaskan atau mengungkap makna konsep atau fenomena pengalaman yang didasari oleh kesadaran yang terjadi pada beberapa individu. Penelitian ini dilakukan dalam situasi yang alami, sehingga tidak ada batasan dalam memaknai atau memahami fenomena yang dikaji. Menurut Creswell (1998:54), Pendekatan fenomenologi menunda semua penilaian tentang sikap yang alami sampai ditemukan dasar tertentu. Penundaan ini biasa disebut epoche (jangka waktu). Konsep epoche adalah membedakan wilayah data (subjek) dengan interpretasi peneliti. Konsep epoche menjadi pusat dimana peneliti menyusun dan mengelompokkan dugaan awal tentang fenomena untuk mengerti tentang apa yang dikatakan oleh responden. Metode Fenomenologi, menurut Polkinghorne (Creswell,1998: 51-52) Studi fenomenologi menggambarkan arti sebuah pengalaman hidup untuk beberapa orang tentang sebuah konsep atau fenomena. Orang-orang yang terlibat dalam menangani sebuah fenomena melakukan eksplorasi terhadap struktur kesadaran pengalaman hidup manusia. Sedangkan menurut Husserl (Creswell, 1998: 52) peneliti fenomenologis berusaha mencari tentang, Hal-hal yang perlu (esensial), struktur invarian (esensi) atau arti pengalaman yang mendasar dan menekankan pada intensitas kesadaran dimana pengalaman terdiri hal-hal yang tampak dari luar dan hal-hal yang berada dalam kesadaran masing-masing berdasarkan memori, image dan arti. Fenomenolog mencari pemahaman seseorang dalam membangun makna dan konsep kunci yang intersubyektif. Karena itu, menurut Kuswarno penelitian fenomenologis harus berupaya untuk menjelaskan makna pengalaman hidup sejumlah orang tentang suatu konsep atau gejala TEKNIK PENGUMPULAN DATA Pertama, tehnik wawancara yang digunakan dalam penelitian kualitatif adalah wawancara mendalam (indepth interview) merupakan proses memperoleh keterangan untuk tujuan penelitian dengan cara tanya jawab sambil bertatap muka antara pewawancara dengan informasi dengan atau tanpa menggunakan pedoman (guide) wawancara. Peneliti dapat melakukan dua jenis wawancara, yaitu autoanamnesa (wawancara yang dilakukan dengan subjek atau responden) dan aloanamnesa (wawancara dengan keluarga responden). Sebaikya melakukan

26

wawancara mulai dengan pertanyaan yang mudah, mulai dengan informasi fakta, hindari pertanyaan multiple, jangan menanyakan pertanyaan pribadi sebelum building raport, ulang kembali jawaban untuk klarifikasi, berikan kesan positif, dan kontrol emosi negatif. Kedua, teknik observasi sebagai upaya peneliti untuk menyajikan gambaran realistik perilaku atau kejadian, menjawab pertanyaan, membantu mengerti perilaku manusia, dan evaluasi. Bungin (2007: 115) mengemukakan beberapa bentuk observasi dalam penelitian kualitatif, yaitu observasi partisipasi, observasi tidak terstruktur, dan observasi kelompok tidak terstruktur. Observasi partisipasi (participant observation) adalah metode pengumpulan data penelitian melalui pengamatan dan pengindraan dimana peneliti benar-benar terlibat dalam keseharian responden. Observasi tidak berstruktur adalah observasi yang dilakukan tanpa menggunakan guide observasi sehingga menuntut peneliti harus mampu mengembangkan daya pengamatannya dalam mengamati suatu objek. Oservasi kelompok adalah observasi yang dilakukan secara berkelompok terhadap suatu atau beberapa objek sekaligus. Ketiga, review dokumen ini dilakukan bertujuan untuk mengetahui fakta dan data tersimpan dalam bentuk dokumentasi berupa surat-surat, catatan harian, cenderamata, laporan, artefak, foto, dan sebagainya. Sifat utama data ini tak terbatas pada ruang dan waktu sehingga memberi peluang kepada peneliti untuk mengetahui hal-hal yang pernah terjadi di waktu silam. Keempat, Focus Group Discussion (FGD) adalah teknik pengumpulan data yang umumnya dilakukan pada penelitian kualitatif dengan tujuan menemukan makna sebuah tema menurut pemahaman sebuah kelompok. Teknik ini digunakan untuk mengungkap pemaknaan dari suatu kalompok dan menghindari pemaknaan yang salah dari seorang peneliti terhadap fokus masalah yang sedang diteliti. Secara lebih rinci pendekatan dalam mengumpulkan data secara berkelanjutan dapat diperluas dalam area kualitatif (Creswell, 1994), ada empat tipe dasar cara mengumpulkan data: 1. Observasi Mengumpulkan data lapangan dengan cara memimpin observasi sebagai peserta * Mengumpulkan data lapangan dengan cara memimpin observasi sebagai observer * Mengumpulkan data di lapangan dengan cara menhabiskan waktu lebih banyak sebagai seorang peserta dari pada seorang observer * Mengumpulkan data dilapangan dengan cara menghabiskan waktu lebih banyak

27

sebagao seorang observer daripada seorang peserta * Mengumpulkan data dilapangan dengan pertama kali melakukanobservasi sebagai orang luar dan kemudian bergerak masuk kedalam observasi sebagai orang dalam 2. Wawancara Menata hal-hal yang tidak terstruktur, wawancara open-ended dan melakukan catatan wawancara * Menata hal-hal yang tidak terstruktur, wawancara open-ended, menggunakan audiotape dalam wawancara dan menterjemahkan hasil wawancara * Menata hal-hal yang semi terstruktur, menggunakan audiotape menterjemahkan hasil wawancara * Menata wawncara kelompok, menggunakan audiotape menterjemahkan hasil wawancara 3. Dokumen * Menyimpan jurnal selama studi penelitian * Memiliki peserta yang menyimpan jurnal atau catatan selama studi penelitian * Mengumpulkan surat-surat tanggapan dari peserta * Melakukan analisa dokumen publik (contohnya materi arsip) * Menjelaskan autobiografi dan biografi * Memiliki informan yang memiliki foto atauvideo 4. Audio-visual material * * * * * * Menjelaskan jejak fakta-fakta fisik Video atau film sebuah situasi sosial atau individu/kelompok Memeriksa foto dan video Mengumpulkan suara contohnya suara musik Mengumpulkan e-mail Memriksa proses atau objek ritual

TEKNIK ANALISIS DATA Analisis data pada penelitian fenomenologi oleh cresswel, 1996, dibagi dalam beberapa langkah penelitian antara lain: * Peneliti memulai mengorganisasikan semua data atau gambaran menyeluruh tentang fenomena pengalaman yang telah dikumpulkan * Membaca data secara keseluruhan dan membuat catatan pinggir mengenai data

28

yang dianggap penting kemudian melakukan pengkodean data * Menemukan dan mengelompokkan makna pernyataan yang dirasakan oleh responden dengan melakukan horizonaliting yaitu setiap pernyataan pada awalnya diperlakukan memiliki nilai yang sama. Selanjutnya, pernyataan yang tidak relevan dengan topik dan pertanyaan maupun pernyataan yang bersifat repetitif atau tumpang tindih dihilangkan, sehingga yang tersisa hanya horizons (arti tekstural dan unsur pembentuk atau penyusun dari phenomenon yang tidak mengalami penyimpangan) * Pernyataan tersebut kemudian di kumpulkan ke dalam unit makna lalu ditulis gambaran tentang bagaimana pengalaman tersebut terjadi * Selanjutnya peneliti mengembangkan uraian secara keseluruhan dari fenomena tersebut sehingga menemukan esensi dari fenomena tersebut. Kemudian mengembangkan textural description (mengenai fenomena yang terjadi pada responden) dan structural description (yang menjelaskan bagaimana fenomena itu terjadi) * Peneliti kemudian memberikan penjelasan secara naratif mengenai esensi dari fenomena yang diteliti dan mendapatkan makna pengalaman responden mengenai fenomena tersebut * Membuat laporan pengalaman setiap partisipan. Setelah itu, gabungan dari gambaran tersebut ditulis. KESIMPULAN Dari pembahasan di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa fenomenologi merupakan suatu metode analisa berusaha memahami realitas sebagaimana adanya dalam kemurniannya. Penelitian fenomenologi mencoba menjelaskan atau mengungkap makna konsep atau fenomena pengalaman yang didasari oleh kesadaran yang terjadi pada beberapa individu. Peneliti dalam hal ini dapat mengembangkan arti dari individu dan juga meminta kepada individu untuk menggambarkan pengalaman hidup mereka sehari-hari. Data yang dikumpul berkaitan erat dengan penelitian yang berlangsung dan dalam peneliti berusaha mendekati objek kajiannya secara kritis serta pengamatan yang cermat, dengan tidak berprasangka terhadap konsepsi-konsepsi manapun sebelumnya. Akhir laporan studi fenomena adalah pembaca memiliki pengertian yang lebih baik terhadap esensi , struktur invarian (atau esensi) dari pengalaman, pengenalan dari satu kesatuan yang utuh (single unifying meaning) dari pengalaman yang ada.

29