Anda di halaman 1dari 6

Analisis Pemasaran Sawi Hijau di Desa Balun Ijuk Kecamatan Merawang Kabupaten Bangka ( Studi Kasus Kelompok Tani Sepakat Maju)

Analysis of Green Mustard Marketing in Balun Ijuk Village, Merawang, Bangka (A case Study of Farmer Group of Sepakat Maju)

Desy Sundari, Mirza Antoni 1 , Evahelda 2

1 Program Studi Agribisnis, Fakultas Pertanian, Universitas Sriwijaya, Inderalaya, OKI 2 Program Studi Agroteknologi, FPPB, Universitas Bangka Belitung, Jl. Diponegoro No.1 Sungailiat Bangka 33125

ABSTRACT

There are three channels in marketing of mustard at the farmer group of Sepakat Maju in Balun Ijuk, Merawang sub district. First, channel A is from merchant of village trader, then to retailer. Second, channel B is from merchant of sub district, then to retailer, and channel C is from merchant of district collecting trader, then to retailer. The biggest margin in marketing of channel A belongs to the retailer, that is Rp.1.500/kg. Merchant of village trader is about Rp.1.000/kg, and the smallest one belongs to the district merchant about Rp.500/kg. At channel B, the biggest margin belongs to a retailer that is Rp.1.500/kg, and the smallest one is for sub district merchant about Rp.1000/kg. At channel C, the biggest margin belongs to retailer about Rp.2.000/kg and the smallest is district merchant about Rp.1.000/kg. The most efficient channel in marketing mustard is channel A, belongs to the merchant of district about 0,01. Efficient channel in marketing mustard is channel A, belongs to the merchant of district about 0,01, artinya semakin angkanya mendekati 0 maka saluran pemasaran tersebut semakin efisien.

Keyword : Marketing, Mustard, Bangka.

PENDAHULUAN

Keadaan alam Indonesia secara klimatologis sangat potensial dilakukannya pembudiyaan berbagai jenis tanaman sayuran, baik yang lokal maupun yang berasal dari luar negeri. Di antara bermacam-macam jenis sayuran, sawi adalah komoditi yang memiliki nilai komersial dan prospektif secara teknis, ekonomis serta sosial yang mendukung sehingga memiliki kelayakan untuk diusahakan di Indonesia (Haryanto et al. 2002). Sawi merupakan jenis sayur yang digemari oleh masyarakat Indonesia. Konsumennya mulai dari golongan masyarakat kelas bawah hingga golongan masyarakat kelas atas. Sayuran sawi yang dikonsumsi, baik setelah diolah maupun sebagai lalapan, mengandung beragam zat makanan yang esensial bagi kesehatan tubuh. Selain itu memiliki kandungan vitamin dan zat gizi yang penting bagi kesehatan (Haryanto et al. 2002). Menurut Dinas Pertanian dan Kehutanan Kabupaten Bangka 2007, luas areal pertanian komoditi sawi di Kabupaten Bangka tersebar di beberapa sentra produksi. Pada tahun tersebut, harga sawi di tingkat petani berkisar antara Rp 3.500/Kg hingga Rp 4.000/Kg. Sedangkan harga ditingkat pedagang berkisar antara Rp 7.000/Kg hingga Rp

8.000/Kg.

Berdasarkan hasil survei lapangan kelompok tani Sepakat Maju di Balun Ijuk Kecamatan Merawang, produksi rata-rata per hektar adalah 7-8 ton. Usahatani sawi di Kecamatan Merawang Kabupaten Bangka diusahakan oleh petani secara berkelompok. Kelompok tani ini dibentuk dengan tujuan untuk mengembangkan lahan yang tidak produktif. Alasan inilah yang mendorong Kelompok Tani Sepakat Maju yang ada di Desa Balun Ijuk Kecamatan Merawang untuk melakukan penanaman sawi. Disamping itu, ada permintaan sawi yang cukup tinggi di kalangan masyarakat yang merupakan salah satu faktor pendorong usaha tani ini menjadi peluang usaha yang cukup besar.

Tabel

1.

Luas

Kabupaten Bangka tahun 2007

areal

dan

produksi

komoditi

sawi

 

Luas

Luas

No.

Kecamatan

Lahan

(Ha)

Panen

(Ha)

Produksi

(Ton)

1

Sungailiat

8,00

12,00

120,00

2

Pemali

28,00

37,00

370,00

3

Bakam

1,00

1,00

10,00

4

Merawang

244,00

238,00

2380,00

5

Belinyu

5,00

6,00

60,00

6

Riau Silip

14,00

14,00

140,00

Jumlah

300,00

308,00

3080,00

Sumber: Dinas Pertanian dan Kehutanan Kabupaten Bangka, 2007

Keterangan :

Pemasaran sawi yang dilakukan oleh kelompok

Mki

= Margin Keuntungan

tani Sepakat Maju di Desa Balun Ijuk sebagian besar

Mpi

= Margin Pemasaran

melalui pedagang perantara. Cara penyalurannya

Bpi

= Biaya Pemasaran

tergantung dari jenis dan sifat serta sasaran pemasaran

i

= Lembaga pemasaran

sayuran sawi tersebut. Pada sistem ini belum diketahui

apakah pemasaran sawi sudah efisien atau belum.

BAHAN DAN METODE

Penelitian ini dilaksanakan di Desa Balun Ijuk Kecamatan Merawang Kabupaten Bangka. Lokasi penelitian dipilih secara sengaja (purposive) dengan pertimbangan bahwa Desa Balun Ijuk merupakan sentra sayuran terbesar yang ada di Kabupaten Bangka. Pengumpulan data di lapangan dilakukan pada bulan April sampai September 2008. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode studi kasus (Case Study). Fokus penelitian ditujukan pada kelompok tani Sepakat Maju, pedagang pengumpul desa, pedagang kecamatan, pedagang kabupaten dan pedagang pengecer di Kabupaten Sungailiat. Sampel yang diambil yaitu 10 anggota kelompok tani Sepakat Maju, 2 pedagang pengumpul desa, 2 pedagang pengumpul kecamatan, 2 pedagang pengumpul kabupaten dan 1 pedagang pengecer yang ada di Kecamatan Sungailiat. Metode pengumpulan data yang digunakan

adalah metode wawancara dan observasi langsung

terhadap masalah yang berhubungan dengan penelitian ini. Data yang dikumpulkan meliputi data primer dan data sekunder. Data primer diperoleh dengan cara melakukan observasi dan wawancara terhadap subjek penelitian. Sedangkan data sekunder diperoleh melalui literatur dari dinas atau instansi terkait. Data yang diperoleh di lapangan diolah secara matematis, dianalisis dijelaskan secara deskriptif Rumus matematis yang digunakan untuk menghitung margin pemasaran menurut (Limbong 2000) adalah:

Margin Pemasaran (MP)=Hji-Hbi

Keterangan :

MP

= Margin Pemasaran

Hj

= Harga Jual

Hb

= Harga Beli

i

= Lembaga pemasaran

Sedangkan

untuk

menghitung

besar

kecilnya

margin keuntungan digunakan rumus:

Margin Keuntungan: Mki=Mpi-Bpi

Menurut Soekartawi (2002), untuk menghitung

efisiensi pemasaran dapat dihitung dengan rumus :

Efisiensi pemasaran : Ep= Bp/TNP x 100%

Keterangan :

Ep

= Efisiensi pemasaran

Bp

= Biaya pemasaran (Rp)

TNP

= Total Nilai Produk (Rp)

Lembaga pemasaran dikatakan efisien bila memenuhi

kriteria 0<Ep<1.

Nilai

total

produk

atau

nilai

barang

yang

dipasarkan atau dijual dapat dihitung dengan cara :

TNP = Hj x Jp

Keterangan :

TNP

= Total nilai produk (Rp)

Hj

= Harga jual (Rp/Kg)

J

= Volume Penjualan (Kg)

HASIL DAN PEMBAHASAN

Pemasaran atau tata niaga pertanian adalah suatu

proses perpindahan fisik dan milik hasil-hasil

pertanian dari produsen ke konsumen. Kegiatan ini

melalui tahapan-tahapan yang di kenal dengan saluran

pemasaran, yang menghubungkan dan menggerakkan hasil pertanian tersebut dari titik produksi ke titik konsumsi. Saluran pemasaran sawi yang terjadi di Desa Balun Ijuk Kecamatan Merawang yaitu Kelompok Tani Sepakat Maju pada saluran A pedagang pengumpul desa membeli sawi dari kelompok tani kemudian langsung dijual ke pedagang pengumpul kabupaten. Pedagang pengumpul kabupaten langsung menjual ke pedagang pengecer sekaligus melayani juga masyarakat yang ada di sekitarnya dalam jumlah kecil (Gambar 1). Pada saluran B, pembelian sawi yang dilakukan oleh pedagang pengumpul kecamatan serta sawi di jual langsung ke pedagang pengecer, akan tetapi juga melayani masyarakat di sekitarnya. Pembelian sawi dilakukan oleh pedagang kecamatan yakni dengan mendatangi langsung ke lokasi tanaman sawi. Karena

mereka

sudah menjalin hubungan baik antar pedagang

dengan

kelompok tani sawi.

Saluran C, pembelian sawi yang dilakukan pedagang pengumpul kabupaten serta tanaman sawi langsung dijual ke pedagang pengecer, tetapi juga

melayani masyarakat di sekitarnya. Pembelian sawi dilakukan oleh pedagang pengumpul kabupaten dengan cara mendatangi langsung ke lokasi tanaman sawi tersebut.

Kelompok Tani 50% 15 35% % Saluran Saluran Saluran Pemasaran A Pemasaran B Pemasaran C
Kelompok
Tani
50%
15
35%
%
Saluran
Saluran
Saluran
Pemasaran A
Pemasaran B
Pemasaran C
Pedagang
Pedagang
Pedagang
Pengumpul Desa
Pengumpul
Pengumpul
Balun Ijuk
Kecamatan
Kabupaten

Pedagang

Pedagang

Pedagang

Pengumpul

Pengecer

Pengecer

Kabupaten

Kecamatan

Kabupaten

Pengecer Pengecer Kabupaten Kecamatan Kabupaten Pedagang Konsumen Konsumen Pengecer Kabupaten

Pedagang

Konsumen

Konsumen

Pengecer

Kabupaten

 
Konsumen Keterangan : Menjual ------- : Terdapat
Konsumen
Keterangan
: Menjual
-------
: Terdapat

Gambar 1.

Saluran Pemasaran Sawi oleh kelompok tani Sepakat Maju

Saluran pemasaran yang terlibat di dalam pemasaran sawi yang ada di Desa Balun Ijuk Kecamatan Merawang Kabupaten Bangka yang paling utama adalah pedagang pengumpul tingkat desa, pedagang pengumpul tingkat kecamatan dan pedagang pengumpul tingkat kabupaten. Dan pedagang pengecer yang berhubungan langsung dengan konsumen akhir. Pedagang Pengumpul Tingkat Desa. Di Desa Balun Ijuk kelompok tani bebas menjual hasil produksinya kepada pedagang pengumpul desa sesuai dengan harga pasar, kemudian pedagang pengumpul tingkat desa tersebut mengantar hasil produksi sawi ke tingkat kabupaten. Pembelian sawi dilakukan hampir setiap hari sampai habis waktu panen, kemudian harga beli ditentukan oleh kelompok tani sawi sesuai dengan harga pasar sehingga terjadi tawar menawar antara petani dengan pedagang. Cara pembelian sawi dari petani dalam satuan Kg. Harga yang dijual petani sawi yaitu Rp.4.000/Kg dengan volume pembelian rata-rata 335 Kg.

Pedagang Pengumpul Tingkat Kecamatan. Pedagang pengumpul tingkat kecamatan membeli hasil produksi sawi dari kelompok tani dengan cara mendatangi langsung ke lokasi tersebut. Harga beli ditentukan oleh kelompok tani sawi, akan tetapi terjadi tawar menawar antara kedua belah pihak yakni kelompok tani sawi dengan pedagang pengumpul tingkat kecamatan. Harga beli Rp.4.000/Kg dengan

volume rata-rata 125 Kg. Hasil produksi sawi tersebut

yang di beli pedagang pengumpul tingkat kecamatan sebagian di jual ke masyarakat sekitar kenanga dan sebagian lagi di jual ke pedagang pengecer. Pedagang Pengumpul Tingkat Kabupaten.

Pedagang pengumpul tingkat kabupaten membeli hasil produksi sawi dari kelompok tani yakni dengan cara mendatangi langsung ke areal lokasi tersebut. Pembelian hasil produksi sawi dilakukan dengan satuan Kg. Pedagang pengumpul tingkat kabupaten yang membeli langsung ke kelompok tani dikarenakan pedagang ini telah mengetahui bahwa dengan membeli langsung ke lokasi akan lebih murah di bandingkan membeli ke pedagang pengumpul desa. Harga beli dari kelompok tani yaitu Rp.4.000/kg dengan volume pembelian rata-rata 225 Kg. Pedagang pengumpul tingkat kabupaten menjual hasil produksi sawi ke pedagang pengecer.

Tabel 2. Rata-rata

margin

saluran pemasaran

pemasaran

di

tingkat

Harga

Harga

Margin Pemasaran

No

Lembaga

Jual (Rp)

Beli (Rp)

(Rp/Kg)

1

Saluran A

a. Pedagang

5.000

4.000

1.000

pengumpul desa

b. Pedagang

5.500

4.500

500

kabupaten

c. Pedagang pengecer

7.000

5.500

1.500

2

Saluran B

a.Pedagang

5.000

4.000

1.000

kecamatan

b.Pedagang pengecer

6.500

5.000

1.500

3

Saluran C

d. Pedagang

5.000

4.000

1.000

kabupaten

e. Pedagang pengecer

7.000

5.000

2.000

Sumber : Hasil Olahan Data Primer, Tahun 2008.

Pedagang Pengecer. Pedagang pengecer membeli hasil produksi sawi dari pedagang pengumpul kecamatan dan kabupaten. Harga beli sawi pada saluran pemasaran A yaitu Rp.5.500/Kg dan pada saluran pemasaran B sebesar Rp.5.000/Kg, saluran pemasaran C Rp.5.000/Kg, perbedaan ini disebabkan panjang pendeknya saluran pemasaran yang terjadi. Margin dan Keuntungan di Setiap Saluran Margin Pemasaran. Margin pemasaran yang merupakan selisih antara masing-masing pedagang dengan harga beli (Tabel 2). Margin pemasaran yang terdapat pada saluran A yang mempunyai pemasaran tertinggi ada pada pedagang pengecer dengan margin pemasaran Rp.1.500/Kg. Pada Saluran B terdapat

pada pedagang pengecer dengan margin pemasaran sebesar Rp.1.500/Kg, serta saluran C pada pedagang pengecer sebesar Rp.2.000/Kg. Besarnya suatu margin pemasaran pada pedagang pengecer yang terdapat pada saluran A, B dan C dikarenakan naiknya suatu harga jual produsen ke konsumen, hal ini disebabkan dalam bentuk kerugian yang akan di tanggung pedagang pengecer yaitu sawi yang tidak layak untuk dikonsumsi atau dijual. Biaya Pemasaran. Biaya pemasaran yang di keluarkan terdiri dari biaya angkut, karung kosong, biaya lain-lain(seperti tali rapiah), dan biaya susut sawi.

Tabel 3. Rata-rata Biaya Pemasaran yang dikeluarkan saluran pemasaran.

Biaya

Volume

Biaya rata-rata

No

Lembaga

pemasaran

pembelian

Pemasaran

 

(Rp)

(Kg)

(Rp/Kg)

1

Saluran A

a. Pedagang

68.000

335

203,5

pengumpul

desa

b. Pedagang

20.000

335

60,06

kabupaten

c. Pedagang

14.000

40

350

pengecer

Total

613,56

2

Saluran B

a. Pedagang

35.750

125

286

kecamatan

b. Pedagang

13.000

15

866,6

pengecer

Total

1152

3

Saluran C

a. Pedagang

90.250

225

408,5

kabupaten

b. Pedagang

11.000

20

550

pengecer

Total

958,5

Sumber: Hasil Olahan Data Primer, Tahun 2008

Biaya rata-rata pemasaran pada saluran A yang tertinggi ada pada pedagang pengecer sebesar Rp. 350/Kg hal ini disebabkan volume pembelian sebanyak 40 Kg dan biaya pemasaran sebesar Rp. 14.000/Kg, sedangkan pada pedagang pengumpul desa biaya rata-rata pemasaran sebesar Rp. 203,5/Kg dengan volume pembelian sebanyak 335 Kg dan besarnya biaya pemasaran sebesar Rp. 68.000/Kg, dan pedagang kabupaten biaya rata-rata pemasaran Rp. 60,06/Kg dengan volume pembelian 335 Kg dengan biaya pemasaran sebesar Rp. 20.000/Kg (Tabel 3). Pada saluran B, rata-rata biaya pemasaran terbesar ada pada pedagang pengecer sebesar Rp. 866,60/Kg dengan volume pembelian 15 Kg dan biaya pemasaran sebesar Rp. 13.000/Kg, dan pada pedagang pengumpul kecamatan rata-rata biaya pemasaran Sebesar Rp.286/Kg dengan volume pembelian sebanyak 125 Kg dengan biaya pemasaran sebesar Rp. 35.750/Kg. Sedangkan pada saluran C biaya rata-rata pemasaran terbesar terdapat pada pedagang pengecer

sebesar Rp.550/Kg dengan volume pembelian sebanyak 20 Kg, biaya pemasaran sebesar Rp.11.000/Kg pedagang kabupaten biaya rata-rata pemasaran sebesar Rp.408,5/Kg dengan volume pembelian sebanyak 225 Kg, biaya pemasaran sebesar Rp. 90.250/Kg. Tingginya suatu biaya pemasaran disebabkan jauhnya jarak tempuh dari daerah sentra produksi ke tempat dimana sawi akan dijual. Oleh karena itu pada saluran A mengeluarkan biaya yang cukup besar dibandingkan saluran lainnya. Marjin Keuntungan di Tingkat Lembaga pemasaran. Margin keuntungan yang merupakan margin pemasaran yang di kurangi dengan biaya pemasaran yang di keluarkan oleh saluran pemasaran.

Tabel 4. Rata-rata Margin Keuntungan di Tingkat Lembaga Pemasaran

Volume

Margin

Rata-rata

Biaya

Rata-Rata

Margin

No

Lembaga

Pembelian

Pemasaran

 

(Kg)

(Rp/Kg)

Pemasaran Keuntungan

(Rp/Kg)

(Rp/Kg)

1.

Saluran A

Pedagang

335

1.000

203,5

796,5

Pengumpul Desa

Pedagang

335

500

60,06

439,9

Kabupaten

Pedagang

40

1.500

350

1.150

Pengecer

Total

2.386,4

2.

Saluran B

Pedagang

125

1.000

286

714

Kecamatan

Pedagang

15

1.500

866,6

633,4

Pengecer

Total

1.347,4

3.

Saluran C

Pedagang

225

1.000

408,5

591,5

Kabupaten

Pedagang

20

1.500

550

1.450

Pengecer

Total

2.041,5

Sumber : Hasil Olahan Data Primer, Tahun 2008

Margin keuntungan yang terbesar terdapat pada saluran A sebesar Rp. 2.386,4/kg dan margin terkecil terdapat pada saluran B dan C masing-masing yaitu Rp. 1.347,4/kg dan Rp 2.041,5/kg (Tabel 4). Perbedaan margin keuntungan pada saluran A, B dan C disebabkan perbedaan biaya pemasaran yang dikeluarkan, margin pemasaran, volume pembelian dan adanya lembaga pemasaran yang terlibat dalam saluran. Apabila dilihat dari margin keuntungan, maka saluran pemasaran A menunjukkan keuntungan terbesar dibandingkan dengan kedua salurannya. Dimana saluran pemasaran A ini dilakukan dari kelompok tani Sepakat Maju, pedagang desa kemudian pengumpul kabupaten, pedagang pengecer dan langsung ke tangan konsumen. Besarnya margin keuntungan pada saluran pemasaran ini disebabkan jauhnya jarak sentra produksi dengan tempat penjualan

ke konsumen akhir dan kompleknya rantai pemasaran yang ada. Hal ini sesuai dengan Mubyarto (1994), semakin komplek rantai pemasaran maka semakin tinggi keuntungan saluran pemasaran. Efisiensi Pemasaran. Efisiensi Pemasaran menurut Shepherd dalam Soekartawi (1993), adalah nisbah antara total biaya pemasaran dengan total nilai produk yang dipasarkan. Efisiensi terjadi apabila biaya pemasarannya semakin kecil dan nilai produksi yang dipasarkan semakin besar. Efisien tidaknya suatu sistem pemasaran tidak terlepas dari kondisi persaingan pasar yang bersangkutan. Pasar yang bersaing sempurna dapat menciptakan sistem pemasaran yang efisien karena pasar yang bersaing sempurna memberikan insentif bagi partisipasi pasar, yaitu produsen, lembaga pemasaran dan konsumen (Rahim 2007).

Tabel 5. Efisiensi Pemasaran

Pemasaran

di

Tingkat

Lembaga

No

Lembaga

Bp (Rp) TNP (Rp) Ep

1

Saluran A Pedagang Pengumpul Desa Pedagang Kabupaten

68.000

1.675.000

0,04

20.000

1.842.500

0,01

Pedagang Pengecer

14.000

280.000

0,05

2

Saluran B Pedagang Kecamatan Pedagang Pengecer

35.750

625.000

0,05

13.000

97.500

0,13

3

Saluran C Pedagang Kabupaten

90.250

1.125.000

0,08

Pedagang Pengecer

11.000

140.000

0,07

Sumber : Hasil Olahan Data Primer, Tahun 2008

Berdasarkan hasil perhitungan didapat hasil nisbah efisiensi pada saluran pemasaran A yang terdapat pada pedagang pengumpul desa yaitu sebesar 0,04, pedagang pengumpul kabupaten sebesar 0,01 dan pedagang pengecer sebesar 0,05. Sedangkan pada saluran B yaitu pada pedagang kecamatan sebesar 0,05, pedagang pengecer 0,13, dan pada saluran pemasaran C pedagang kabupaten sebesar 0,08, dan pedagang pengecer sebesar 0,07. Efisiensi pemasaran yang terkecil terjadi pada saluran pemasaran A yaitu pada pedagang kabupaten. Hal ini dikarenakan biaya yang dikeluarkan untuk memasarkan sawi sebesar Rp. 20.000 bila dibandingkan dengan total nilai produk yang di terima pedagang kabupaten yaitu sebesar Rp. 1.842.500 (Tabel 5). Hal ini menunjukkan bahwa pedagang kabupaten tersebut sudah efisiensi dalam memasarkan sawinya, karena nilai efisiensi pemasarannya sudah mendekati nol yaitu sebesar 0,01. Nilai efisiensi pemasaran pada saluran B cukup tinggi bila di bandingkan dengan saluran A yaitu sebesar 0,05. Hal ini disebabkan oleh biaya yang dikeluarkan oleh pedagang kecamatan cukup tinggi yaitu sebesar Rp. 35.750, sedangkan nilai total produk

yang diterima sebesar Rp. 625.000. Hal ini bukan tidak efisien, hanya nilai efisiensi pemasarannya saja yang lebih besar dari pedagang kabupaten yang ada pada saluran A. Sedangkan pada saluran C efisiensi pemasaran terkecil terdapat pada pedagang pengecer yaitu sebesar 0,07. Hal ini dikarenakan biaya yang dikeluarkan oleh pedagang pengecer untuk memasarkan sawinya sebesar Rp. 90.250 sedangkan nilai total produk yang diterima pedagang pengecer adalah sebesar Rp.1.125.000. Di tingkat pedagang ini pun nilai efisiensi pemasarannya hampir mendekati nol. Hal ini berarti bahwa pedagang pengecer pada saluran C dalam memasarkan komoditi sawi sudah cukup efisien.

DAFTAR PUSTAKA

Dinas Pertanian dan Kehutanan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. 2007. Buku Statistik Pertanian dan Kehutanan 2005-2007. Pangkalpinang :

Dinas Pertanian dan Kehutanan Provinsi Bangka Belitung.

Dinas Pertanian. 2007. Buku Tahunan Holtikultura. Bangka. Departemen

Haryanto E. Suhartini T. dan Rahayu, E. 2002. Sawi

dan Selada. Jakarta : PT Penebar Swadaya.

Limbong. 2000. Saluran Pemasaran. Jakarta : PT Raja Grafindo Persada. Mubyarto. 1994. Pengantar Ekonomi Pertanian. Jakarta : LP3ES.

Rahim A. 2007. Ekonomika Pertanian .Jakarta :

Penebar Swadaya.

Soekartawi. 2002. Manajemen Pemasaran Hasil- Hasil Pertanian. Jakarta : PT Raja Grafindo Persada.