Anda di halaman 1dari 105

INSTITUT TEKNOLOGI SEPULUH NOPEMBER FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI JURUSAN TEKNIK KIMIA

BAB I PENDAHULUAN

1.1

Latar Belakang Indonesia adalah salah satu negara penghasil minyak bumi, karena

terbatasnya jumlah kilang yang dimiliki untuk memproduksi bahan bakar minyak (BBM), Indonesia harus mengimpor BBM untuk kebutuhan transportasi,industri, pembangkit listrik dan sebagainya. Selain itu, cadangan minyak bumi yang dimiliki Indonesia semakin terbatas karena merupakan produk yang tidak dapat diperbarui. Permintaan bahan bakar minyak yang terus-menerus meningkat seiring dengan laju pertumbuhuan ekonomi dan pertambahan jumlah penduduk. Kebutuhan sarana trasportasi dan aktivasi industri semakin besar. Data tahun 2003 menunjukkan bahwa kebutuhan BBM tidak dapat dipasok sepenuhnya oleh kilang minyak dalam negeri. Untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri, pemerintah melakukan impor. Besar impor Indonesia diperkirakan akan terus meningkat. Dengan demikian, naiknya harga minyak dunia menjadi masalah tersendiri bagi pemerintah. Dalam rangka mengurangi ketergantungan BBM, penganekaragaman (deversifikasi) sumber energi merupakan keharusan. Salah satu energi alternatif yang dapat dikembangkan adalah biodiesel. Biodiesel merupakan bahan bakar minyak nabati yang memiliki sifat seperti miyak diesel atau solar. Bahan bakar ini lebih ramah lingkungan karena bersifat dapat diperbaharui. Tanaman yang bisa 1

INSTITUT TEKNOLOGI SEPULUH NOPEMBER FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI JURUSAN TEKNIK KIMIA

dikembangkan menjadi bahan baku biodiesel antara lain miyak kelapa sawit, kelapa, kapuk, jarak pagar dan lainnya. Biodiesel adalah suatu nama dari Alkyl Ester atau rantai panjang asam lemak yang berasal dari minyak nabati maupun lemak hewan. Biodiesel merupakan bioenergi atau bahan bakar nabati yang dibuat dari minyak nabati atau minyak yang dapat diperbaharui dan mengandung bahan kimia berupa methyl ester yang merupakan bahan bakar ideal untuk industri transportasi karena dapat digunakan pada berbagai mesin diesel konvensional tanpa memerlukan modifikasi mesin, termasuk mesin-mesin pertanian. Pada sifat-sifat kimia biodiesel adalah mono alkil ester atau methyl ester dengan rantai C antara 12-20 serta mengandung oksigen. Panjang rantai C inilah yang membedakan biodiesel dengan petrodiesel yang komponen utamanya hanya terdiri dari hidro karbon. Biodiesel secara nyata dapat mengurangi pencemaran, mengurangi hidrokarbon yang tidak terbakar, karbon monoksida, sulfat, polisiklikaromatik hidrokarbon, dan hujan asam. Biodiesel adalah senyawa mono alkil ester yang diproduksi melalui reaksi tranesterifikasi antara trigliserida (minyak nabati, seperti minyak sawit, minyak jarak dll) dengan metanol menjadi metil ester dan gliserol dengan bantuan katalis basa. Proses ini pada dasarnya adalah mereaksikan minyak nabati dengan metanol atau etanol yang dibantu dengan katalisator sodium metilat (NaOCH3), NaOH atau KOH. 1.2 Perumusan Masalah Semakin menipisnya persediaan minyak bumi di Indonesia menjadi pemicu untuk mencari sumber alternatif BBM dimana bahan bakunya dapat

INSTITUT TEKNOLOGI SEPULUH NOPEMBER FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI JURUSAN TEKNIK KIMIA

diperbaharui. Pembuatan biodisel yang dikonversi dari minyak kelapa atau rafined palm oil (RPO) dengan memanfaatkan katalis pada proses esterifikasi dapat membantu mengatasi maslalah tersebut. Oleh karena itu, perlu ditelaah pra rancangan pabrik pembuatan biodiesel dari RPO. 1.3 Tujuan Pra Rancangan Pabrik Tujuan Pra Perancangan Pabrik Pembuatan Biodiesel dari RPO ini adalah untuk menerapkan disiplin ilmu Teknik Kimia, khususnya di bidang Azas Teknik Kimia, Operasi Teknik Kimia dan Desain Alat Industri Kimia, sehingga akan memberikan gambaran kelayakan pra-peramcangan pendirian pabrik ini. Tujuan lain adalah untuk mengahsilkan bahan bakar alternatif ramah lingkungan dan tidak beracun, sehingga akan menghemat pengggunaan bahan bakar diesel dari minyak bumi. Berdasarkan tujuan yang telah diuraikan di atas, maka manfaat yang diperoleh dari Pra Rancangan Pabrik Biodiesel dari RPO ini adalah tersedianya informasi mengenai Pabrik Biodiesel dari RPO sehingga dapat dijadikan referensi untuk pendirian suatu pabrik biodiesel. Dismaping itu juga untuk memberikan gambaran mnegenai proses pembuatan biodiesel dari RPO serta memberikan nilai ekonomis pada bahan baku agar menjadi produk yang bermanfaat.

INSTITUT TEKNOLOGI SEPULUH NOPEMBER FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI JURUSAN TEKNIK KIMIA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1

Biodiesel Metil ester asam lemak adalah senyawa yang berumus molekul

Cn-1H2(n-1)CO-OCH3 dengan nilai n yang umum adalah angka genap diantara 8 sampai 24 dan nilai r (jumlah ikatan rangkap) lazimnya 0, 1, 2, dan 3. Pada awalnya metil ester dan turunannya dapat digunakan sebagai surfaktan untuk bahan makanan dan non-makanan. Beberapa industri hilir menggunakan metil ester sebagai bahan baku kosmetika, deterjen, sabun mandi, farmasi, plastik, dan barang jadi karet. Namun dalam dua dekade terakhir, metil ester banyak direkomendasikan sebagai komponen minyak diesel alternatif atau yang lebih dikenal dengan nama biodiesel. Biodiesel adalah bahan bakar dari minyak nabati yang memiliki sifat menyerupai minyak diesel atau solar. Secara kimia biodiesel termasuk dalam golongan monoalkil ester atau metil ester dengan panjang rantai karbon antara 12 samapi 20 yang mengandung oksigen. Pada prinsipnya biodiesel diproduksi melalui reaksi transesterifikasi antara trigliserida dengan metanol menjadi metil ester dan gliserol dengan bantuan katalis basa atau asam, sehingga secara alamiah biodiesel dikenal sebagai metil ester (Darmoko,2003). Biodiesel mempunyai sifat fisika dan sifat kimia yang sama dengan petroleum diesel sehingga dapat digunakan langsung pada mesin diesel atau di

INSTITUT TEKNOLOGI SEPULUH NOPEMBER FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI JURUSAN TEKNIK KIMIA

campur dengan petroleum diesel. Walaupun kandungan kalori biodiesel serupa dengan petroleum diesel, tetapi karena biodiesel mengandung oksigen, maka flash pointnya lebih tinggi sehingga tidak mudah terbakar. Disamping itu biodiesel tidak mengandung sulfur dan senyawa benzene yang karsinogenik sehingga biodiesel merupakan bahan bakar yang lebih bersih dan mudah ditangani daripada petroleum diesel. Adapun kelebihan biodiesel bila dibandingkan dengan petroleum diesel antara lain: 1. Merupakan bahan bakar yang ramah lingkungan karena menghasilkan emisi yang jauh lebih baik (free sulfur dan smoke number rendah). 2. 3. Merupakan renewable energy karena terbuat dari bahan yang terbarukan. Biodiesel jauh lebih aman dan tingkat toksisitasnya 10 kali lebih rendah dibandingkan dengan petroleum diesel. Biodiesel tidak menambah efek rumah kaca seperti halnya petroleum diesel karena emisi yang dihasilkan dapat terurai secara alamiah (biodegradable). 4. Mereduksi polusi tanah serta melindungi kelestarian peraiaran dan sumber air minum. 5. Cetana number lebih tinggi (51-62) dibandingkan dengan petroleum diesel (42) sehingga menghasilkan suara mesin yang elbih halus (Didiek, 2004). 2.1.1 Syarat Utama Biodiesel dari Metil Ester Syarat utama biodiesel menurut Badan Standardisasi Nasional dapat dilihat pada Tabel 2.1 sedangkan sifat-sifat metil ester dapat dilihat pada Tabel 2.2.

INSTITUT TEKNOLOGI SEPULUH NOPEMBER FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI JURUSAN TEKNIK KIMIA

Tabel 2.1 Syarat Utama Biodiesel menurut Badan Standardisasi Nasional

NO 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12

PARAMETER Massa jenis pada suhu 40oC Viskositas kinematik pada suhu 40oC Angka setana Titik nyala Belerang Fosfor Angka asam Gliserol bebas Gliserol total Kadar ester alkil Angka iodium Uji Halpen
o

SATUAN kg/m3 mm2/s(cSt)

NILAI 850-890 2,3-6,0 min.51

min.100 maks.100 maks.10 maks.0,8 maks.0,02 maks.0,24 min.96,5 maks.115 Negatif

ppm-m(mg/kg) ppm-m(mg/kg) Mg-KOH/g %-massa %-massa %-massa %-massa(g-I2/100g)

(Badan Standardisasi Nasional, 2006). Tabel 2.2 Sifat-sifat Metil Ester NO 1 2 3 4 5 6 7 Titik didih Titik nyala Titik embun Densitas pada suhu 25oC Viskositas pada suhu 25oC Spesifik gravity Angka asam PARAMETER >200oC 100oC -11-16oC 0,885 g/mL 7,5 cp 0,87-0,89 0,7-1 mg KOH/g (Perry, 1999). NILAI

INSTITUT TEKNOLOGI SEPULUH NOPEMBER FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI JURUSAN TEKNIK KIMIA

2.1.2 Sifat Fisika dan Kimia Biodiesel dan Petrodiesel Saat ini pengembangan produk biodiesel lebih diarahkan pada bnetuk metil ester dari minyak nabati. Dalam bentuk metil ester maka berat molekul, titik beku, titik didih, danj viskositas minyak akan menjadi lebih rendah. Teknologi produksi yang intensif dikembangkan adalh proses transesterifikasi antara minyak nabati dengan alkohol. Disamping produksi biodiesel, proses ini juga menghasilkan gliserol (12%) yang merupakan produksi samping yang bernilai ekonimis tinggi. Untuk mengetahui kualitas dari biodiesel dapat ditentukan dari sifat fisika dan kimia dari biodiesel itu sendiri. Sifat fisika dan kimia dari biodiesel dan petrodiesel dapat dilihat pada Tabel 2.3. Tabel 2.3. Sifat Fisika-Kimia Biodiesel dan Petrodiesel No 1 2 3 4 5 6 7 8 Sifat Fisika-Kimia Komposisi Densitas Viskositas, cSt Flash point, C Cetana number Engine power, BTU Engine Torque Emisivitas
o

Biodiesel Metil ester asam lemak 0,8624 5,55 172 62,4 128.000 128.000

Petrodiesel Hidrokarbon 0,8750 4,0 98 53 130.000 130.000 inggi CO2, hidrokarbon,

Lebih rendah CO2, total Lebih hidrokarbon, SO2, dan NOX total

SO2, dan NOX 9 Sifat Terbarukan Tidak terbarukan (Pakpahan, 2001).

INSTITUT TEKNOLOGI SEPULUH NOPEMBER FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI JURUSAN TEKNIK KIMIA

2.2

Minyak Kelapa Sawit Ide penggunaan minyak nabati sebagai pengganti untuk bahan bakar diesel

telah dipertunjukkan oleh seorang penemu mesin diesel, Rudolph Diesel, pada tahun 1900-an. Sejak itu, peneltian di daerah ini dilanjutkan dengan berbagai bahan bakar yang diturunkandari lemak hewani dan lemak nabati (biofuel) yang telah diuji secara luas sebagai bahan bakar alternatif (Foglia, 2000). Untuk mengatasi masalh-masalh (viskositas tinggi dan pengotoran atau penyumbatan injector bahan bakar) yang berhubungan dengan penggunaaan trigliserida secara utuh sebagai bahan bakar diesel, minyak atau lemak diubah menjadi alkil ester yang sederhana (yang paling umuadalah metil ester atau etil ester). Saat ini, biodiesel adalah istilah yang diterapkan untuk alkil ester asam lemak (FAME= fatty acid metil ester) yang digunakan sebagai penggnati bahan bakr diesel yang terbuat dari minyak bumi. Biodiesel sawit dapat dibuat dari hampir semua fraksi sawit seperti Crude Palm Oil (CPO), Palm Kernel Oil (PKO), Refined Bleached and Deodorized Palm Oil (RBDPO), Refined Palm Oil (RPO), dan olein. Faktor penting yang perlu diperhatikan dalam pemilihan bahan baku adalah kandungan asam lemak bebasnya dan harganya. Untuk minyak kelapa sawit yang mengandung asam lemak bebas > 1% perlu dilakukan perlakuan pendahuluan berupa penetralan atau penghilanagan asam lemak (deasidifikasi). Prosesini dapat dilakukan dengan penguapan, saponifikasi, atau esterifikasi asam dengan katalis padat

(Darmoko, 2003).

INSTITUT TEKNOLOGI SEPULUH NOPEMBER FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI JURUSAN TEKNIK KIMIA

Adapun bahan baku berbasis CPO yang berpeluang menjadi bahan baku biodiesel adalah sebagai berikut: 1. CPO off grade/minyak kotor, dengan kadar FFA 5-20%. 2. CPO parit, dengan kadar FFA 20-70%. 3. Palm Fatty Acid Distillate (PFAD), dengan kadar FFA >70%. 4. Minyak goreng bekas. 5. Stearin dan crude stearine. Disamping CPO masih ada lebih dari 40 jenis minyak nabti yang memiliki potensial sebagai bahan baku biodiesel di Indonesia, misalnya minyak jarak pagar, minyak kelapa, minyakkedelai, minyak kapok, sehingga pengembanagn biodiesel dapat disesusaikan oleh potensi alam setempat (Darmoko, 2003). 2.3 Reaksi Transesterifikasi Proses transesterifikasi merupakan proses pembuatan biodiesel yang paling banyak dikembangkan. Tahapan reaksi transesterifikasi gliserida dengan metanol berlangsung denga skema yang dapat dilihat pada Gambar 2.1.

INSTITUT TEKNOLOGI SEPULUH NOPEMBER FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI JURUSAN TEKNIK KIMIA

Gambar 2.1. Skema Tahapan Proses Transesterifikasi Proses transesterifikasi pada suhu dan tekanan tinggi dengan katalis asam memiliki konversi yang tinggi dan sangat cocok untuk bahan baku minyak nabati yang mengandung asam lemak bebas tinggi, namun proses ini memerlukan biaya produksi yang tinggi. Proses tranesterifikasi pada suhu dan tekanan rendah (60oC-80oC) dan tekanan 10 bar merupakan proses produksi biodiesel yang paling sering digunakan. Katalis alkali merupakan yang paling cocok digunakan untuk proses ini. Transesterifikasi dengan menggunakan superctical metanol pada 350oC dan tekanan 43Mpa merupakan alternatif memperpendek rangkaian proses

esterifikasi-transesterifikasi minyak sawit mentah, disebutkan suhu dan tekanan reaksi yang tinggi tanpa katalis dapat menghasilkan metil ester dan gliserol tanpa memerlukan proses pemurnian, dan asam lemak bebas yang terdapat dalam kandungan minyak juga terkonversi menjadi ester. Pengendalian transesterifikasi dipertahankan tetap berlangsung untuk meningkatkan produk biodiesel. Reaksi dikendaliakan dengan menggunakan

10

INSTITUT TEKNOLOGI SEPULUH NOPEMBER FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI JURUSAN TEKNIK KIMIA

metanol berlebih dan memisahkan hasil samping gliserol yang terbentuk. Reaksi keseluruhan untuk trigliserida dapat dilihat pada Gambar 2.2.

Gambar 2.2 Reaksi Keseluruhan Transestrifikasi 2.4 Uraian Proses Pembuatan Biodiesel Bahan baku yang digunakan untuk pengolahan biodiesel yaitu : 1. Refined Palm Oil (RPO) merupakan minyak hasil kelapa sawit yang telah mengalami proses pemurnian di Revinery. 2. Metanol (CH3OH) merupakan senyawa alkohol yang digunakan sebagai pereaksi yang akan memberikan gugus alkil kepada rantai trigliserida dalam reaksi biodiesel. 3. Natrium metilat (NaOCH3) digunakan sebagai katalis (zat yang digunakan untuk mempercepat reaksi),merupakan katakis basa karena mengandung alkalinity 30%. 4. Asam klorida (HCl) digunakan dalam proses penetralan akatalis di dalam Heavy Phase (Glycerine - water - methanol) dengan kadar (>30%). Pada proses pembuatan minyak diesel dari minyak nabati yang biasanya dikenal dengan biodiesel ada beberapa tahapan proses yang harus dilalui. Tahapan

11

INSTITUT TEKNOLOGI SEPULUH NOPEMBER FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI JURUSAN TEKNIK KIMIA

proses dapat dilihat pada Lampiran 1. Berikut ini akan menguraikan pemilihan proses produksi. 2.4.1 Tahap Persiapan Tahap persiapan ini bertujuan untuk mencampurkan metanol, RPO, dan katalis agar dihasilkan campuran yang homogen. RPO pada Tangki RPO (TK-111) di pompa kemudian masuk ke Filter (FB-133). Setelah itu RPO dipompa ke Mixer (MX-201), pada Mixer terjadi pencampuran antara RPO, metanol 98% dari Tangki Metanol (TK-234), dan katalis natrium metilat (NaOCH3) dari Gudang Katalis (TK-212) yang dilairkan melalui Conveyor (C-223). Setelah didapatkan campuran yang homogen, kemudian campuran dari RPO, metanol 98%, dan katalis dipanaskan dalam Heater (XH-256) yang bertujuan untuk mengkondisikan suhu sebelum masuk Reaktor (R-301). Campuran RPO, metanol98%, dan katalis dipanaskan sampai suhu 60oC. 2.4.2 Tahap Transesterifikasi Didalam Reaktor (R-301) terjadi reaksi transesterifikasi dengan reaksi umum:

12

INSTITUT TEKNOLOGI SEPULUH NOPEMBER FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI JURUSAN TEKNIK KIMIA

Reaktor ini meenggunakan pengaduk dengan kecepatan pengadukan2rps. Lamanya pengadukan adalah 2 jam yang dilkukan pada suhu 60oC-65oC dan takanan 1 atm. Hasil konversi tahap ini dapat mencapai 99,9%. Adapun tahap transesterifikasi ini menghasilkan campuran metil ester, gliserol, metanol yang tidak bereaksi, air, dan katalis. 2.4.3 Tahap Pemisahan dan Pemurnian Metil Ester Produk intermediate hasil reaksi kemudian dipompakan menuju Separator (CF-401) pada suhu 65oC dan tekanan 1 atm yang berfungsi untuk memisahkan metil ester yang terbentuk dengan gliserol, katalis, air, dan metanol. Adapun di dalam Separator (CF-401) akan terbentuk dua lapisan yaitu lapisan light phase yang berupa metil ester dan juga terbentuk heavy phase yang berupa gliserol, metanol, dan air. Kemudian light phase dipompakan ke Tangki Washing (TK-501), lalu pada Tangki Washing (TK-501) metil ester yang terbentuk di cuci dengan air untuk memastikan metilester yang terbentuk sudah bebas dari campuran air, katalis, metanol, dan gliserol. Setelah itu metil ester dipanaskan dalam Heater (XH-512) sampai suhu 135oC yang bertujuan untuk

mengkondisikan suhu metil ester sebelum masuk ke Vacum Dryer (TK-601). Pada Vacum Dryer (TK-601) air yang rekandung pada metil ester hasil dari proses pencucian diuapkan, proses ini berlangsung pada tekanan vacum dan suhu operasi sebesar 135oC-137oC. Setelah itu metil ester yang terbebas dari air dipompakan ke dalam tangki penyimpan metil ester atau Tangki Biodiesel (TK-612).

13

INSTITUT TEKNOLOGI SEPULUH NOPEMBER FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI JURUSAN TEKNIK KIMIA

2.4.4 Tahap Pengolahan Gliserol Heavy phase yang terbentuk pada Separator (CF-401) dipompakan ke Netralizer (NR-701) yang bertujuan untuk menetralkan katalis natrium metilat (NaOCH3) dengan adanya penambahan asam klorida. Hasil reaksi dari natrium metilat dan asam kloroda adalah garam natrium klorida dan metanol. Setelah itu campuran dari gliserol, metanol, air, dan natrium klorida dipompakan ke Tangki Washing (TK-723) dengan penambahan air yang bertujuan untuk menghilangkan garam natrium klorida. Setelah itu campuran dari gliserol, metanol, dan air dipompa ke Kolom Distilasi (D-801) yang bertujuan untuk memisahkan metanol dari gliserol dan air, selain itu juga untuk me-recycle sisa metanol yang tidak bereaksi. Pada Kolom Distilasi (D-801) feed masuk pada suhu 27oC, kemudian metanol dengan kadar 98% akan keluar sebagai produk atas karena titik didih metanol lebih rendah dibandingkan dengan gliserol dan air. Bagian bawah Kolom Distilasi beroperasi pada suhu 107oC, dan sebagai produk bawah adalah gliserol dan air. Metanol hasil produk distilasi dialirkan ke Tangki Matanol (TK-234) dan produk bawah dari hasil proses ditilasi dialirkan ke Evaporator (EV-901) yang bertujuan untuk memekatkan gliserol sehingga dihasilka gliserol dengan konsentrasi 88%. Setelah itu gliserol yang terbentuk dialirkan ke Tangki Gliserol (TK-912).

14

INSTITUT TEKNOLOGI SEPULUH NOPEMBER FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI JURUSAN TEKNIK KIMIA

2.5

Sifat-sifat Bahan

2.5.1. Metil Ester (Biodiesel) 1. Berwujud cairan jernih tidak berwarna 2. Berat molekul 3. Spesifik gravity 4. Titik leleh 5. Titik didih : 214,344 d/mol : 0,87-0,89 (25oC) : 4,5oC (760 mm) : 148oC (18 mm) 261,5 oC (760 mm) 6. Nilai asam 7. Flash point 8. Angka setana 9. Titik asap : 1 max KOH/g : 130oC : 46-70 : -11-16oC (Wikipedia, 2013). 2.5.2. Refined Palm Oil (RPO) 1. Kandungan karbohidrat 2. Kandungan gula 3. Densitas 4. Lemak Jenuh Tidak jenuh tunggal Tidak jenuh poli 5. Protein Thiamin (vitamin B1) : 15,23 g : 6,23 g : 0,926g/mL : 33,49 gram : 29,70 gram : 1,43 gram : 0,37 gram : 3,3 gram : 0,066 mg (5%)

15

INSTITUT TEKNOLOGI SEPULUH NOPEMBER FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI JURUSAN TEKNIK KIMIA

Riboflavin (vitamin B2) Niasin (vitamin B3) Asam pantotenik (vitamin B5) Vitamin B6 Volat (vitamin B9) Vitamin C Kalsium Besi Magnesium Pospor Kalium Seng

: 0,02 mg (1%) : 0,54 mg (4%) : 0,300 mg (6%) : 0,054 mg (4%) : 26 g (6%) : 3,3 mg (6%) : 14 mg (1%) : 2,43 mg (19%) : 32 mg (9%) : 113 mg (16%) : 356 mg (8%) : 1,1 mg (11%) (Wikipedia, 2013).

2.5.3. Air (H2O) 1. Merupakan cairan yang tidak berwarna, tidak berasa, tidak berbau 2. Merupakan elektrolit lemah dan dapat terionisasi menjadi H2O+ dan OH3. Berat molekul 4. Densitas 5. Titik nyala 6. Viskositas 7. Panas spesifik 8. Tekanan uap 9. Tegangan permukaan : 18,016 g/mol : 1 g/mL : 0oC : 0,01002 cp : 1 cal/g : 760 mmHg : 73 dyne/cm

16

INSTITUT TEKNOLOGI SEPULUH NOPEMBER FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI JURUSAN TEKNIK KIMIA

10. Panas laten 11. Indeks bias

: 80 cal/g : 1,333

12. Mempunyai kemampuan katalitik tertentu,terutama pada oksidasi logam (Orthmer, 1987). 2.5.4. Metanol (CH3OH) 1. Warna tidak berwarna dalam cairan 2. Densitas 3. Titik beku 4. Titik didih 5. Keasaman 6. Berat molekul 7. Viskositas (20oC) : 0,7918 g/cm3 : -97oC (1 atm) : 64,7oC : 15,5 pKa : 32,04 g/mol : 0,59 mPa.s

8. Batas kemampuan terbakar (% volume di udara) 9. Titik nyala : 6,72%-36,5% : 11oC

10. Kapasitas panas cairan: Cp=0,54247+1314x10-6T+485x10-8T2 11. Cairan yang mudah menguap (volatile) 12. Mudah terbakar 13. Muerupakan bahan kimia beracun 14. Dapat digunakan sebagai bahan bakar, anti beku, denaturasi, dan pelarut (Wikipedia, 2013). 2.5.5. Gliserol 1. Titik beku : 18,17oC

17

INSTITUT TEKNOLOGI SEPULUH NOPEMBER FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI JURUSAN TEKNIK KIMIA

2. Titik didih 3. Densitas 4. Tekanan uap (50oC) 5. Viskositas (20oC) 6. Kapasitas panas (20oC) 7. Panas penguapan (55oC) 8. Panas pembentukan 9. Konduktivitas panas 10. Titik nyala 11. Titik api 12. Larut sempurna dalam air dan alkohol

: 147,9oC : 1,2582 g/mL : 0,0025 mmHg : 1499 cp : 0,5795 cal/g : 21,060 cal/mol : 159,60 kcal/mol : 0,00068 cal/cm2oC : 177oC (1 atm) : 204oC

13. Sedikit larut dalam eter, etil asetat, dioxine, tidak dapat larut dalam hidrokarbon. 2.5.6. Natrium Metoksida (NaOCH3) 1. Berbentuk serbuk putih 2. Berat molekul : 54,04 g/mol

3. Biasanya dilarutkan dalam pelarut metanol atau etanol dengan kadar 30% (Wikipedia, 2013).

18

INSTITUT TEKNOLOGI SEPULUH NOPEMBER FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI JURUSAN TEKNIK KIMIA

BAB III NERACA MASSA

Hasil perhitungan neraca massa pada proses pembuatan biodiesel dari RPO dengan kapasitas 330.200,64 ton/tahun diuraikan sebagai berikut: Kapasitas produksi = 330.200,64 ton/tahun

Pabrik berjalan selama 330 hari (1 hari, 24 jam) Kapasitas produksi 6 666 6 Basis Bahan baku yang diperlukan : RPO Metanol 98% Katalis (Sodium Metilat) 3.1 Mixer (MX-201) Fungsi: Mencampur semua bahan baku sebelum direaksikan ke dalam reaktor. = 39700 kg/jam = 4554 kg/jam =151,863 kg/jam g
g 2

= 1 jam produksi

19

INSTITUT TEKNOLOGI SEPULUH NOPEMBER FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI JURUSAN TEKNIK KIMIA

MIXER NM masuk aliran (2) : RPO 39700 Kg NM keluar aliran (5) : RPO Metanol aliran (3) : Metanol aliran (4) : NaOCH3 TOTAL 3.2 Heater (XH-256) Fungsi: Untuk mengkondisikan campuran RPO, metanol, dan katalis NaOCH3 sebelum masuk ke reaktor. 151,863 44405,86 TOTAL 44405,86 4554 NaOCH3 39700 4554 151,863 kg

HEATER NM masuk aliran (5) : RPO Metanol NaOCH3 Air 39700 4554 151,863 52,163 Kg NM keluar aliran (6) : RPO Metanol NaOCH3 39700 4554 151,863 52,163 Kg

TOTAL

44.458,026

TOTAL

44.458,026

20

INSTITUT TEKNOLOGI SEPULUH NOPEMBER FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI JURUSAN TEKNIK KIMIA

3.3

Reaktor (R-301) Fungsi: Mereaksikan RPO dan methanol dengan bantuan katalis NaOCH3

melalui reaksi transesterifikasi untuk menghasilkan metil ester (biodiesel) sebagai produk utama dan gliserol sebagai hasil samping.

Reaksi: Trigliserida + 3 CH3OH ----> Gliserol + 3 ME REAKTOR NM masuk aliran (6) : RPO Metanol NaOCH3 Air 39700 4554 151,863 52,163 Kg NM keluar aliran (7) : Metanol NaOCH3 ME Gliserol Air TOTAL Metanol sisa ME yang terbentuk 3.4 Separator (CF-401) Fungsi: Untuk memisahkan fase berat (gliserol, metanol, dan air) dan fase ringan (biodiesel) dari reaksi yang terbentuk di dalam reaktor. 44.458,026 : 44,3542 kg : 41692 kg TOTAL 44,354 151,863 41692,021 4316,848 52,055 44.458,026 Kg

21

INSTITUT TEKNOLOGI SEPULUH NOPEMBER FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI JURUSAN TEKNIK KIMIA

SEPARATOR NM masuk aliran (7) : Metanol NaOCH3 ME Gliserol Air 44,35 151,86 41692,03 4316,85 52,16 aliran (9) : Metanol NaOCH3 Gliserol Air TOTAL 46.257,26 TOTAL 44,354 151,863 4316,848 52,055 46.257,14 Kg NM keluar aliran (8) : ME 41692,021 Kg

3.5

Washing (TK-501) Fungsi: Untuk memastikan bahwa light fase (biodiesel) sudah terbebas dari

zat-zat lainnya seperti metanol, katalis NaOCH3 dan pengotor lainnya.

22

INSTITUT TEKNOLOGI SEPULUH NOPEMBER FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI JURUSAN TEKNIK KIMIA WASHING NM masuk aliran (8) : ME 41692,03 Kg NM keluar aliran (11) : ME Air aliran (10) Air TOTAL 3.6 Heater (XH-512) Fungsi: Untuk memanaskan biodiesel yang sudah terbentuk atau mengkondisikan suhu biodiesel sebelum masuk ke vacum dryer. 1000 42.692,03 aliran (12) : Air TOTAL 710 42.692,03 41692,03 290 Kg

HEATER NM masuk aliran (11) : ME Air TOTAL 3.7 Vacum Dryer (TK-601) Fungsi: Untuk menghilangkan kandungan air yang terdapat pada biodiesel. 41692,03 290 41.982,03 Kg NM keluar aliran (13) : ME Air TOTAL 41692,03 290 41.982,03 Kg

23

INSTITUT TEKNOLOGI SEPULUH NOPEMBER FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI JURUSAN TEKNIK KIMIA

DRYER NM masuk aliran (13) : ME Air 41692,03 290 aliran (14b) : Air 290 Kg NM keluar aliran (14a) : ME 41692,03 Kg

TOTAL 3.8 Netralizer (NR-701)

41.982,03

TOTAL

41.982,03

Fungsi : Untuk menetralkan katalis NaOCH3 dengan penambahan HCl sehingga dihasilkan garam natrium klorida (NaCl) dan metanol.

Reaksi: NaOCH3 + HCl NaCl + CH3OH NETRALIZER NM masuk aliran (9) : Metanol NaOCH3 Gliserol Air aliran (15) HCl TOTAL 102,64817 4.667,88 TOTAL 4.667,88 44,35 152 4316,85 52,16 Kg NM keluar aliran (16) : ME Gliserol Air NaCl 134,35 4316,85 52,16 164,52 Kg

24

INSTITUT TEKNOLOGI SEPULUH NOPEMBER FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI JURUSAN TEKNIK KIMIA

3.9

Washing (TK-723) Fungsi : Menghilangkan garam NaCl yang terbentuk dari hasil reaksi

netralisasi dengan menggunakan air.

WASHING NM masuk aliran (16) : Metanol Gliserol Air NaCl 134,35 4316,85 52,16 164,52 aliran (19) : Metanol aliran (17) : Air TOTAL 3.10 Distilasi (D-801) Fungsi : Untuk memisahkan metanol dari gliserol dan air. 1000 4.667,88 TOTAL Gliserol 134,35 4316,85 342,16 4.667,88 Kg NM keluar aliran (18) : Air NaCl 710 164,52 Kg

25

INSTITUT TEKNOLOGI SEPULUH NOPEMBER FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI JURUSAN TEKNIK KIMIA

DISTILASI NM masuk aliran (19) : Metanol Gliserol Air 134,35 4316,85 342,16 aliran (23) : Gliserol Air TOTAL 4.667,88 TOTAL 4316,85 340,62 4.667,88 Kg NM keluar aliran (21) : Metanol Air 134,35 1,54 Kg

3.1.1 Evaporator (EV-901) Fungsi: Memekatkan gliserol sehingga dihasilkan gliserol dengan konsentrasi 88%.

EVAPORATOR NM masuk aliran (23) : Gliserol Air 4.316,848 340,621 aliran (25) : Gliserol Air TOTAL 4.657,469 TOTAL 4.316,85 142,117 4.657,469 Kg NM keluar aliran (24) : Air 198,5045 Kg

26

INSTITUT TEKNOLOGI SEPULUH NOPEMBER FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI JURUSAN TEKNIK KIMIA

BAB IV NERACA PANAS

Hasil perhitungan neraca panas pada proses pembuatan biodiesel dari RPO dengan kapasitas 330.200,64 ton/tahun diuraikan sebagai berikut: Kapasitas produksi 41692 kg/hr Basis: 1 jam produksi Waktu operasi: 330 hari/tahun, 24 jam/hari Satuan perhitungan kcal/jam Suhu referensi: 25oC Asumsi pada : 1. Kondisi Steady State, E = 0

2. Tak ada perubahan energi kinetik, K = 0 3. Tak ada perubahan energi potensial, P = 0 4. Tidak terjadi kerja dalam sistem, W = 0 4.1 Mixer (MX-201)

27

INSTITUT TEKNOLOGI SEPULUH NOPEMBER FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI JURUSAN TEKNIK KIMIA

MIXER NP masuk aliran (2) RPO H (kcal) NP keluar aliran (5) 763.731.181,96 RPO Metanol aliran (3) Metanol Air aliran (4) NaOCH3 TOTAL 4.2 Heater (XH-256) 245,9340475 77.864.130,64 TOTAL 77.864.130,64 1.120.872,7 11.830,031 Air NaOCH3 763.731.181,96 1.120.872,7 11.830,031 245,934 H (kcal)

HEATER NP masuk aliran (5) RPO Metanol NaOCH3 Air H (kcal) NP keluar aliran (6) 77.864.130,64 RPO 1.120.872,7 245,934 11.830,031 Metanol NaOCH3 Air 537.000.000 57.461.845 1.721,538 580.762,2 H (kcal)

Steam TOTAL

517.298.471,4 595.162.602,1 TOTAL 595.162.602,1

28

INSTITUT TEKNOLOGI SEPULUH NOPEMBER FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI JURUSAN TEKNIK KIMIA

4.3

Reaktor (R-301)

REAKTOR NP masuk aliran (6) RPO Metanol NaOCH3 Air H (kcal) NP keluar aliran (7) 537.118.273,7 Biodiesel 57.461.845 1.721,5383 580.762,1687 Metanol Gliserol Air NaOCH3 Steam TOTAL 139.236.379 Panas Reaksi 636.137.426,2 738.526,017 96.779.882 758.783,05 1.967,4724 -17.603,525 734.398.981,2 H (kcal)

734.398.981,2 TOTAL

4.4

Heater (XH-256)

29

INSTITUT TEKNOLOGI SEPULUH NOPEMBER FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI JURUSAN TEKNIK KIMIA

HEATER NP masuk aliran (11) ME Air Steam TOTAL 480.000.000 2.371.386,7 809.715.997,4 1.289.190.454 TOTAL 1.289.190.454 H (kcal) NP keluar aliran (13) ME Air 1.272.274.852 16.915.601,3 H (kcal)

4.5

Vacum Dryer (TK-601)

105oC

DRYER NP masuk aliran (13) ME Air H (kcal) NP keluar aliran (14a) 1.272.274.852 ME 16.915.601,3 aliran (14b) Air Qlost TOTAL 525.214.085,1 1.814.404.539 TOTAL 1.814.404.539 33.219.745,45 1.781.184.793 H (kcal)

30

INSTITUT TEKNOLOGI SEPULUH NOPEMBER FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI JURUSAN TEKNIK KIMIA

4.6

Netralizer (NR-701)

NETRALIZER NP masuk aliran (9) Metanol Gliserol NaOCH3 Air aliran (15) HCl Steam TOTAL 2.209,50186 13.967.963,3 99.795.940,9 TOTAL 99.795.940,9 Panas Reaksi 14.077,6296 560.887,686 84.682.396,7 1.721,538 580.762,169 H (kcal) NP keluar aliran (16) Metanol NaCl Gliserol Air 2.236.966,37 6231,9532 96.779.882 758.783,049 H (kcal)

4.7

Distilasi (D-801)

31

INSTITUT TEKNOLOGI SEPULUH NOPEMBER FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI JURUSAN TEKNIK KIMIA

DISTILASI NP masuk aliran (19) Metanol Gliserol Air 5.280,136967 H (kcal) NP keluar aliran (21) Metanol 66.165,56187 22.144,8878 H (kcal)

4.838.994,097 Air 1.084.008,661 aliran (23) Gliserol Air

198.398.758 20.876.713,56

Steam TOTAL

21.451.823,9 219.363.782 TOTAL 219.363.782

4.8

Evaporator (EV-901) 110oC 107oC

148oC

EVAPORATOR NP masuk aliran (23) Gliserol Air 198.398.758 H (kcal) NP keluar aliran (24) Air 127.638,241 H (kcal)

20.876.713,56 aliran (25) Air 19.647.556,9 236.577.381 256353350,6

Steam TOTAL

37.077.879,07 Gliserol 256353350,6 TOTAL

32

INSTITUT TEKNOLOGI SEPULUH NOPEMBER FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI JURUSAN TEKNIK KIMIA

BAB V SPESIFIKASI ALAT

5.1

Tangki Penampung RPO Fungsi Bentuk Bahan konstruksi Jumlah Kapasitas : Tempat penyimpanan bahan baku RPO : Silinder tegak tutup ellipszoidal, alas datar : Carbon Steel, SA-283 grade C :1 : 39700 kg 1591,95 ft3 Kondisi penyimpanan P = 1 atm T = 30oC Kondisi Fisik - Silinder Diameter Tinggi Tebal - Tutup Diameter Tinggi Tebal : 7,153 m : 1,78 m : 1,75 inch = 0,044 m : 7,153 m : 14,306 m : 1,75 inch = 0,044 m

5.2

Filter Fungsi Type Bahan Kapasitas : Memisahkan pengotor yang ada pada RPO : Gravity : Carbon steel : 39700 kg 1591,95 ft3 Jumlah : 1 unit

33

INSTITUT TEKNOLOGI SEPULUH NOPEMBER FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI JURUSAN TEKNIK KIMIA

Area 5.3

: 50 ft2

Tangki Penampung Metanol Fungsi : Tempat menampung methanol dan hasil recycle dari proses distilasi Type : Silinder vertikal dengan tutup bawah flat dan tutup atas standar dished. Kapasitas : 4554 kg 202,64 ft3 Jumlah Ukuran Diameter tangki Tinggi tangki Tebal silinder Bahan konstruksi : 5,33 ft : 12,57405 ft : 3/16 in : Carbon steel SA-283 Grade C : 1 buah

5.4

Screw Conveyor Fungsi Type Kapasitas Kecepatan angkut Daya Jumlah : Mengangkut kalatlis menuju mixer : Horizontal screw conveyer : 151,863 kg/jam : 100 s.d. 600 ft/min : hp : 1 unit

5.5

Mixer Fungsi : Mencampurkan Bahan baku RPO, metanol, dan katalis NaOCH3 Type Bahan konstruksi Jumlah Kapasitas : silinder vertikal dengan alas dan tutup Ellipszoidal : Carbon steel : 1 unit : 1906,499 ft3

5.6

Heater Fungsi Type : sebagai pemanas untuk menaikan suhu biodiesel. : Shell dan Tube 1 2 HE 34

INSTITUT TEKNOLOGI SEPULUH NOPEMBER FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI JURUSAN TEKNIK KIMIA

Jumlah Diameter shell Pitch Diameter tube Jenis tube Jumlah tube Panjang tube 5.7 Reaktor Fungsi Jenis Bentuk Bahan konstruksi Jumlah Kapasitas

: 1 unit : 12 in : 1 in square pitch : in : 12 BWG : 60 : 20 ft

: tempat terjadi reaksi transterifikasi : Batch Reaktor : silinder vertikal dengan alas dan tutup Ellipszoidal : carbon steel SA-203, grade A :1 : 44.458,026 kg 2506,06 ft3

Kondisi operasi : P = 1 atm T = 65oC Kondisi Fisik : - Silinder diameter tinggi tebal - Tutup Diameter tinggi tebal 5.8 Separator Fungsi Type Bentuk : memisahkan gliserol dan katalis dari biodiesel : Separator overflow : silinder vertikal dengan dasar dan tutup ellipzoidal 35 : 3,352 m : 0,838 m : 0,5 inch = 0,0127 m : 3,352 m : 4,469 m : 0,5 inch = 0,0127 m

INSTITUT TEKNOLOGI SEPULUH NOPEMBER FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI JURUSAN TEKNIK KIMIA

Bahan konstrksi : baja karbon SA-283 grade C Kapasitas Kondisi operasi ; P=1 atm T = 65oC Kondisi Fisik : - Silinder Diameter tinggi tebal - Tutup : Diameter tinggi tebal 5.9 : 1,976 m : 0,494 m : 0,75 inch = 0,0191 m : 1,976 m : 5,93 m : 0,75 inch = 0,0191 m : 46257 Kg = 2907,243 ft3

Tangki Washing Fungsi Jenis Bentuk Jumlah Bahan konstruksi Kapasitas : Mencuci Biodiesel dengan air : Tangki berpengaduk : Silinder vertical dengan alas dan tutup ellipsoidal : 1 unit : Carbon Steel, SA-113 Grade C : 42692 kg 1832,906 ft3 Kondisi operasi : P =1 atm T = 30oC Kondisi Fisik : - Silinder Diameter tinggi tebal - Tutup : 36 : 2,11 m : 2,82 m : 1,5 inch = 0,0381 m

INSTITUT TEKNOLOGI SEPULUH NOPEMBER FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI JURUSAN TEKNIK KIMIA

diameter tinggi tebal 5.10 Heater Fungsi Type Jumlah Diameter shell Pitch Diameter tube Jenis tube Jumlah tube Panjang tube 5.11 Vacum Dryer Fungsi Type Bahan konstruksi Jumlah Kapasitas

: 2,11 m : 0,7052 m : 1,5 inch = 0,0381 m

: sebagai pemanas untuk menaikan suhu biodiesel. : Shell dan Tube 1 2 HE : 1 unit : 12 in : 1 in square pitch : in : 12 BWG : 60 : 20 ft

: Menghilangkan air pada biodiesel : Drum vacum : Carbon steel : 1 unit : 41982 kg 788,58 ft3 : 50 ft2 : Menyimpan Biodiesel pada 30oC; 1 atm : Silinder vertikal dengan tutup atas datar dan bawah konis

Surface area 5.12 Tangki Biodiesel Fungsi Type

Bahan konstruksi Jumlah Kapasitas Kondisi operasi : P=1 atm T = 30oC

: Carbon steel, SA-53 grade C : 1 unit : 1692,283 ft3

37

INSTITUT TEKNOLOGI SEPULUH NOPEMBER FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI JURUSAN TEKNIK KIMIA

Kondisi Fisik : - Silinder Diameter tinggi tebal - Tutup : Diameter tinggi tebal 5.13 Netralizer Fungsi Type : Untuk menetralkan katalis dengan penambahan HCl : Silinder tegak berpengaduk dengan tutup atas berbentuk dishead dan tutup bawah berbentuk konis Bahan konstruksi Jumlah Kapasitas Kondisi operasi : P=1 atm T = 30oC Kondisi Fisik : - Silinder Diameter tinggi tebal - Tutup : diameter tinggi tebal : 14,9203 in : 7,460148 in : 3 in : 14,9203 in : 22,3804 in : 3 in : Carbon steel, SA-53 grade C : 1 unit : 4667,88 kg : 4,507 m : 1,126 m : 0,5 inch = 0,0127 m : 4,507 m : 13,52 m : 0,5 inch = 0,0127 m

38

INSTITUT TEKNOLOGI SEPULUH NOPEMBER FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI JURUSAN TEKNIK KIMIA

5.14 Kolom Distilasi Fungsi Type Spesifikasi : Kolom : Diameter Jarak tray Tray : Bentuk aliran Diameter lubang Tebal plate Tinggi tray Downcomers : Weir : - Tinggi = 3 in - Panjang = 7,2 in 5.15 Evaporator Fungsi Jenis Jumlah Diameter sheel Pitch Diameter tube Jenis tube Jumlah tube Panjang tube 5.16 Tangki Gliserol Fungsi Type bawah konis Bahan konstruksi Jumlah : Carbon steel, SA-53 grade C : 1 unit 39 : Menyimpan Gliserol pada 30oC; 1 atm : Silinder vertikal dengan tutupatas datar dan : Memekatkan gliserol menjadi 88% berat : 1-2 Shell and tube Exchanger : 1 unit : 17,25 in : 1 insquare pitch : 1 in : 18 BWG : 78 : 16 ft : Reverse flow : 1/8 in = 0,125 in : 0,4375 in : 6,83 ft : 1 ft = 12 in : 0,8333 ft : untuk memisahkan alkohol dengan gliserol : Sieve tray multistage

INSTITUT TEKNOLOGI SEPULUH NOPEMBER FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI JURUSAN TEKNIK KIMIA

Kapasitas Kondisi operasi : P =1 atm T = 30oC Kondisi Fisik : - Silinder Diameter tinggi tebal - Tutup : diameter tinggi tebal 5.17 Pompa RPO Fungsi Jenis Jumlah Bahan konstruksi Kapasitas Daya motor 5.18 Pompa Metanol Fungsi Jenis Jumlah Bahan konstruksi Kapasitas Daya motor 5.19 Pompa Mixer Fungsi Jenis Jumlah

: 4316,85 kg

: 4,507 m : 13,52 m : 0,5 inch = 0,0127 m

: 4,507 m : 1,126 m : 0,5 inch = 0,0127 m

: Memompa RPO ke dalam tangki : Pompa sentrifugal : 1 unit : Commercial steel : 0,442 ft3/s : 0,4698 hp

: Memompa RPO ke dalam tangki : Pompa sentrifugal : 1 unit : Commercial steel : 0,056 ft3/s : 0,0453 hp

: Memompa RPO ke dalam tangki : Pompa sentrifugal : 1 unit 40

INSTITUT TEKNOLOGI SEPULUH NOPEMBER FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI JURUSAN TEKNIK KIMIA

Bahan konstruksi Kapasitas Daya motor

: Commercial steel : 0,473 ft3/s : 0,418 hp

41

INSTITUT TEKNOLOGI SEPULUH NOPEMBER FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI JURUSAN TEKNIK KIMIA

BAB VI ANALISA EKONOMI

Untuk mengevaluasi kelayakan berdirinya suatu pabrik dan tingkat pendapatannya, maka dilakukan analisa perhitungan secara teknik. Selanjutnya perlu juga dilakukan analisa terhadap aspek ekonomi dan pembiayaannya. Dari hasil analisa tersebut diharapkan berbagai kebijaksanaan dapat diambil untuk pengarahan secara tepat. Suatu rancangan pabrik dianggap layak didirikan bila dapat beroperasi dalam kondisi yang memberikan keuntungan. Berbagai parameter ekonomi digunakan sebagai pedoman untuk

menentukan layak tidaknya suatu pabrik didirikan dan besarnya tingkat pendapatan yang dapat diterima dari segi ekonomi. Parameter-parameter tersebut antara lain: 1. Modal investasi / Capital Investment (CI) 2. Biaya produksi total / Total Cost (TC) 3. Marjin keuntungan / Profit Margin (PM) 4. Titik impas / Break Even Point (BEP) 5. Laju pengembalian Modal / Return On Investment (ROI) 6. Waktu pengembalian Modal / Pay Out Time (POT) 7. Laju pengembalian internal / Internal Rate of Return (IRR)

42

INSTITUT TEKNOLOGI SEPULUH NOPEMBER FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI JURUSAN TEKNIK KIMIA

6.1

Modal Investasi Modal investasi adalah seluruh modal untuk mendirikan pabrik dan mulai

menjalankan usaha sampai mampu menarik hasil penjualan. Modal investasi terdiri dari: 6.1.1 Modal Investasi Tetap (MIT) / Fixed Capital Investment (FCI) Modal investasi tetap adalah modal yang diperlukan untuk menyediakan segala peralatan dan fasilitas manufaktur pabrik. Modal investasi tetap ini terdiri dari: 1. Modal Investasi Tetap Langsung (MITL) / Direct Fixed Capital Investment (DFCI), yaitu modal yang diperlukan untuk mendirikan bangunan pabrik, membeli dan memasang mesin, peralatan proses, dan peralatan pendukung yang diperlukan untuk operasi pabrik. Modal investasi tetap langsung ini meliputi: - Modal untuk tanah - Modal untuk bangunan dan sarana - Modal untuk peralatan proses - Modal untuk peralatan utilitas - Modal untuk instrumentasi dan alat kontrol - Modal untuk perpipaan - Modal untuk instalasi listrik - Modal untuk insulasi - Modal untuk investaris kantor - Modal untuk perlengkapan kebakaran dan keamanan

43

INSTITUT TEKNOLOGI SEPULUH NOPEMBER FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI JURUSAN TEKNIK KIMIA

- Modal untuk sarana transportasi 1. Estimas Harga Peralatan Proses Alat Tangki RPO Tangki Metanol Filter Mixer Heater Reaktor Separator Washing tank Dryer Distilasi Evaporator Tangki Gliserol Tangkibiodiesel Pompa Conveyor Netralizer Tangki HCl Kondensor Reboiler Tangki H2O Harga 2009 US $/unit 56.100,00 47.600,00 52.400,00 69.000,00 2.800,00 138.300,00 28.700,00 77.600,00 217.700,00 108.300,00 107.600,00 35.230,00 50.460,00 3.700,00 28.000,00 21.200,00 1.500,00 21.300,00 551.000,00 33.100,00 Total: Harga 2015 US $/unit 56.953,74 48.324,39 53.197,44 70.050,06 2.842,61 140.404,69 29.136,76 78.780,94 221.013,02 109.948,14 109.237,48 35.766,14 51.227,91 3.756,31 28.426,11 21.522,63 1.522,83 21.624,15 559.385,26 33.603,72 Jumlah 1 1 1 1 2 1 1 2 1 1 1 1 1 9 1 1 1 1 1 2 Harga Total US $ 56.953,74 48.324,39 53.197,44 70.050,06 5.685,22 140.404,69 29.136,76 157.561,87 221.013,02 109.948,14 109.237,48 35.766,14 51.227,91 33.806,77 28.426,11 21.522,63 1.522,83 21.624,15 559.385,26 67.207,45 1.822.002,06

Dari Tabel di atas didapat harga peralatan proses= $ 1.822.002,06 Diasumsikan kurs dollar pada tahun 2015= Rp 12.250,00

44

INSTITUT TEKNOLOGI SEPULUH NOPEMBER FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI JURUSAN TEKNIK KIMIA

Harga Total Peralatan Proses= Rp 1.648.447.962,56 2. Alat Boiler Tk. Bahan bakar Generator Set Total Estimasi Harga Peralatan Utilitas Harga 2009 US $/unit 12.000,00 2.000,00 10.100,00 Harga 2015 US $/unit 12.182,62 2.030,44 10.253,70 Jumlah 1 1 1 Harga Total US $ 12.182,62 2.030,44 10.253,70 134.567,18

Dari Tabel di atas didapat harga peralatan proses= $ 134.567,18 Diasumsikan kurs dollar pada tahun 2015= Rp 12.250,00 Harga Total Peralatan Proses= Rp 1.648.447.962,56 Harga Total Peralatan Proses= Harga peralatan Proses + Harga peralatan Utilitas = Rp 124.405.836.921,81 No Direct Cost (biaya Langsung) Rp Rp Rp Rp Rp Rp Rp Rp Rp Rp Harga 124.405.836.921,81 49.762.334.768,72 24.881.167.384,36 87.084.085.845,26 62.202.918.460,90 16.378.000.000 18.660.875.538,27 49.762.334.768,72 4.200.000.000 437.337.553.688,05

1 Harga Peralatan (FOB) 2 Pemasangan Alat 40% 3 Instrumentasi dan Control 20% 4 Perpipaan 70% 5 Listrik 50% 6 Bangunan 20% 7 Pengembangan yard 15% 8 Fasilitas Pelayanan 40% 9 Tanah Total Direct cost

45

INSTITUT TEKNOLOGI SEPULUH NOPEMBER FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI JURUSAN TEKNIK KIMIA

Dari hasil perhitungan diperoleh modal investasi tetap langsung, MITL sebesar Rp 437.337.553.688,05 3. Modal Investasi Tetap Tak Langsung (MITTL) / Indirect Fixed Capital Investment (IFCI), yaitu modal yang diperlukan pada saat pendirian pabrik (construction overhead) dan semua komponen pabrik yang tidak berhubungan secara langsung dengan operasi proses. Modal investasi tetap tak langsung ini meliputi: - Modal untuk pra-investasi - Modal untuk engineering dan supervisi - Modal biaya legalitas - Modal biaya kontraktor (contractors fee) - Modal untuk biaya tak terduga (contigencies) Tabel Perhitungan biaya tak langsung N0 Indirect cost (Biaya Tak Langsung) Rp Rp Rp Rp 41.053.926.184,20 124.405.836.921,81 49.762.334.768,72 215.222.097.874,73

1 Teknik Pengawasan 33% 2 Biaya Konstruksi dan kontaktor 100% 3 Biaya tak terduga 40% Total indirect cost

Dari perhitungan diperoleh modal investasi tetap tak langsung, MITTL sebesar Rp 215.222.097.874,73 Maka total modal investasi tetap, MIT = MITL + MITTL = Rp 437.337.553.688,05 + Rp 215.222.097.874,73

46

INSTITUT TEKNOLOGI SEPULUH NOPEMBER FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI JURUSAN TEKNIK KIMIA

= Rp 652.559.651.562,78 6.1.2 Modal Kerja / Working Capital (WC) Modal kerja adalah modal yang diperlukan untuk memulai usaha sampai mampu menarik keuntungan dari hasil penjualan dan memutar keuangannya. Jangka waktu pengadaan biasanya antara 3 4 bulan, tergantung pada cepat atau lambatnya hasil produksi yang diterima. Dalam perancangan ini jangka waktu pengadaan modal kerja diambil 3 bulan. Modal kerja ini meliputi: - Modal untuk biaya bahan baku proses dan utilitas - Modal untuk kas Kas merupakan cadangan yang digunakan untuk kelancaran operasi dan jumlahnya tergantung pada jenis usaha. Alokasi kas meliputi gaji pegawai, biaya administrasi umum dan pemasaran, pajak, dan biaya lainnya. - Modal untuk mulai beroperasi (start-up) - Modal untuk piutang dagang Piutang dagang adalah biaya yang harus dibayar sesuai dengan nilai penjualan yang dikreditkan. Besarnya dihitung berdasarkan lamanya kredit dan nilai jual tiap satuan produk. Rumus yang digunakan:

PD

IP xHPT 12
= piutang dagang = jangka waktu yang diberikan (3 bulan) = hasil penjualan tahunan

Dengan: PD IP HPT

47

INSTITUT TEKNOLOGI SEPULUH NOPEMBER FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI JURUSAN TEKNIK KIMIA

Harga Bahan baku dn harga penjualan produk: Bahan Baku RPO Methanol NaOMe HCl Rp Rp Rp Rp 3.480 2.025 8.400 1.000 Harga Keperluan (kg/jam) 39700 4544 151,863 102,64817 Keperluan (kg /tahun) 314424000 35988480 1202754,96 812973,5064 1.094.195.520.000 72.876.672.000 10.103.141.664 812.973.506 Total

Rp Hasil produksi Harga Jumlah produksi (kg/jam) Biodiesel Gliserol Rp Rp 9.220 7.550 41692,03 4316,85 330200877,6 34189452 Jumlah Produksi (kg/tahun)

1.177.175.333.664 Total Harga

3.044.452.091.472 258.130.362.600 Rp 3.302.582.454.072

Dari hasil perhitungan diperoleh modal kerja sebesar Rp 825.645.613.518 Maka, total modal investasi = Modal Investasi Tetap + Modal Kerja = Rp 652.559.651.562,78 + Rp 825.645.613.518 = Rp 1.478.205.265.080,78 Modal investasi berasal dari : Modal sendiri adalah Rp 886.923.159.048,47 - Pinjaman dari bank sebanyak 40 % dari modal investai total Pinjaman bank adalah Rp 591.282.106.032,31 2 Biaya Produksi Total (BPT) / Total Cost (TC)

48

INSTITUT TEKNOLOGI SEPULUH NOPEMBER FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI JURUSAN TEKNIK KIMIA

Biaya produksi total merupakan semua biaya yang digunakan selama pabrik beroperasi. Biaya produksi total meliputi: 6.2.1 Biaya Tetap / Fixed Cost (FC) Biaya tetap adalah biaya yang jumlahnya tidak tergantung pada jumlah roduksi, meliputi: - Gaji tetap karyawan - Bunga pinjaman bank - Depresiasi dan amortisasi - Biaya perawatan tetap - Biaya tambahan industri - Biaya administrasi umum - Biaya pemasaran dan distribusi - Biaya laboratorium, penelitian dan pengembangan - Biaya hak paten dan royalti - Biaya asuransi - Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) 1. Biaya Produksi Langsung a. Bahan Baku dan bahan pembantu b. Gaji Karyawan c. Utilitas d. Pemeliharaan dan Perbaiakn 6%FCI e. Laboratory Charge: 0,5% (a) f. Penyediaan Operasi: 0,75%FCI Rupiah Rp Rp Rp Rp Rp Rp Rp Rp 1.177.175.333.664 4.582.500.000 206.720.249.688,35 7.464.350.215,31 5.885.876.668 933.043.776,91 687.375.000 1.403.448.729.013

g. Gaji Supervisi: 15%(b) Total

49

INSTITUT TEKNOLOGI SEPULUH NOPEMBER FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI JURUSAN TEKNIK KIMIA

2. Biaya Tetap (FC) a. Depresiasi Alat: 10%FCI b. Depresiasi Bangunan: 2%FCI c. Pajak: 2%FCI d. Asuransi: 1%FCI e. Bunga Bank: 20% Pinjaman Total Rp Rp Rp Rp Rp Rp 3. Plant Overhead Cost 60% (c) Total Rp Rp 4. Pengeluaran umum a. Administrasi: 8% (b+d) b. Distribusi & Pemasaran: 2%FCI c. R and D: 2%FCI d. Financing: 0,4%FCI Total Rp Rp Rp Rp Rp 963.748.017,22 2.488.116.738,44 2.488.116.738,44 497.623.347,69 6.437.604.841,78 124.032.149.813,01 124.032.149.813,01 12.440.583.692,18 2.488.116.738,44 2.488.116.738,44 1.244.058.369,22 11.708.784.651,46 30.369.660.189,74

Dari hasil perhitungan diperoleh biaya tetap (FC) adalah sebesar Rp 30.369.660.189,74. 6.2.2 Biaya Variabel (BV) / Variable Cost (VC) Biaya variabel adalah biaya yang jumlahnya tergantung pada jumlah produksi. Biaya variabel meliputi: - Biaya bahan baku proses dan utilitas - Biaya variabel tambahan, meliputi biaya perawatan dan penanganan lingkungan, pemasaran dan distribusi. - Biaya variabel lainnya

50

INSTITUT TEKNOLOGI SEPULUH NOPEMBER FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI JURUSAN TEKNIK KIMIA

A. Biaya Variabel (VC) Bahan Baku Biaya Utilitas Total

Rupiah Rp Rp Rp 1.177.175.333.664 206.720.249.688,35 1.383.895.583.352

B. Biaya Semi Variabel (SVC) Gaji Karyawan Laboratorium Pemeliharaan dan perbaiakn Operating Supplies Biaya Pengeluaran umum Plant Overhead cost Gaji supervisi Total C. Biaya tetap (FC) Total D. Hasil Penjualan (S) Total Rp 3.302.582.454.072 Rp 30.369.660.189,74 Rp Rp Rp Rp Rp Rp 7.464.350.215,31 933.043.776,91 6.437.604.841,78 124.032.149.813,01 687.375.000 150.022.900.315 Rp Rp 4.582.500.000 5.885.876.668

Dari hasil perhitungan diperoleh biaya variabel (VC) adalah sebesar Rp 1.383.895.583.352 Maka, biaya produksi total, = Biaya Tetap (FC) + Biaya Variabel (VC) = Rp 30.369.660.189,74. + Rp 1.383.895.583.352 = Rp 1.414.265.243.000

51

INSTITUT TEKNOLOGI SEPULUH NOPEMBER FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI JURUSAN TEKNIK KIMIA

6.3 Total Penjualan (Total Sales) Penjualan diperoleh dari hasil penjualan produk biodiesel, metanol dan gliserol, yaitu sebesar Rp. 3.302.582.454.072. Maka laba atas penjualan adalah sebesar Rp 1.914.104.370.720,6.4 Perkiraan Rugi/Laba Usaha Dari hasil perhitungan pada Lampiran E diperoleh: 1. Laba sebelum pajak (bruto) = Rp 1.042.976.586.128,75 2. Pajak penghasilan (PPh) = Rp 208.595.317.225,75 3. Laba setelah pajak (netto) = Rp 834.381.268.903 6.5 Analisa Aspek Ekonomi 6.5.1 Profit Margin (PM) Profit Margin adalah persentase perbandingan antara keuntungan sebelum pajak penghasilan PPh terhadap total penjualan. PM =

Laba sebelum pajak 100 % Total Penjualan

PM = 32% Dari hasil perhitungan diperoleh profit margin sebesar 32 %, maka pra rancangan pabrik ini memberikan keuntungan. 6.5.2 Break Even Point (BEP) Break Even Point adalah keadaan kapasitas produksi pabrik pada saat hasil penjualan hanya dapat menutupi biaya produksi. Dalam keadaan ini pabrik tidak untung dan tidak rugi. BEP =

Biaya Tetap 100 % Total Penjualan Biaya Variabel


52

INSTITUT TEKNOLOGI SEPULUH NOPEMBER FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI JURUSAN TEKNIK KIMIA

BEP = 15% Kapasitas produksi pada titik BEP = 15 % 156.600.000 kg = Rp 3.955.909.575 Nilai penjualan pada titik BEP = 15 % Rp 2.097.342.926.639,= Rp 524.335.731.660,Dari data feasibilities, (Timmerhaus, 1991) : - BEP 5 % p b - BEP % p b l y u (feasible) gl y (infeasible).

Dari perhitungan diperoleh BEP = 25 %, maka pra rancangan pabrik ini layak. 6.5.3 Return on Investment (ROI) Return on Investment adalah besarnya persentase pengembalian modal tiap tahun dari penghasilan bersih. ROI =

Laba setelah pajak 100 % Total Modal Investasi Rp.668.722.766.149 100 % = 61,4337846 % Rp.1.088.526.078.179

ROI =

Analisa ini dilakukan untuk mengetahui laju pengembalian modal investasi total dalam pendirian pabrik. Kategori resiko pengembalian modal tersebut adalah: ROI 5 % es pe ge b l pe ge b l d l d l e d d l gg -rata.

5 ROI 5 % es ROI 5 % es

pe ge b l

Dari hasil perhitungan diperoleh ROI sebesar 64,5 %; sehingga pabrik yang akan didirikan ini termasuk resiko laju pengembalian modal tinggi. 6.5.4 Pay Out Time (POT) 53

INSTITUT TEKNOLOGI SEPULUH NOPEMBER FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI JURUSAN TEKNIK KIMIA

Pay Out Time adalah angka yang menunjukkan berapa lama waktu pengembalian modal dengan membandingkan besar total modal investasi dengan penghasilan bersih setiap tahun. Untuk itu, pabrik dianggap beroperasi pada kapasitas penuh setiap tahun. POT =

1 1 tahun ROI

POT =

1 1 tahun 0,6143

= 1,6277 tahun Dari hasil perhitungan, didapat bahwa seluruh modal investasi akan kembali setelah 1,6277 tahun operasi. 6.5.5 Return on Network (RON) Return on Network merupakan perbandingan laba setelah pajak dengan modal sendiri. RON =

Laba setelah pajak 100 % Modal sendiri

RON =

Rp. 668.722.766.149 100 % = 102,389641 % Rp. 653.115.646.908

6.5.6 Internal Rate of Return (IRR) Internal Rate of Return merupakan persentase yang menggambarkan keuntungan rata-rata bunga pertahunnya dari semua pengeluaran dan pemasukan besarnya sama. Apabila IRR ternyata lebih besar dari bunga riil yang berlaku, maka pabrik akan menguntungkan tetapi bila IRR lebih kecil dari bunga riil yang berlaku maka pabrik dianggap rugi. Dari perhitungan Lampiran E diperoleh IRR =

54

INSTITUT TEKNOLOGI SEPULUH NOPEMBER FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI JURUSAN TEKNIK KIMIA

73,82 %, sehingga pabrik akan menguntungkan karena lebih besar dari bunga bank saat ini sebesar 31 % (Bank Mandiri, 2008).

55

INSTITUT TEKNOLOGI SEPULUH NOPEMBER FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI JURUSAN TEKNIK KIMIA

BAB VII KESIMPULAN

Dari hasil yang telah diuraikan pada bab-bab sebelumnya, maka dapat disimpulkan sebagai berikut : 1. Perencanaan operasi 2. Kapasitas produksi Biodiesel Kapasitas produksi Gliserol 3. Bahan baku, RPO Bahan baku, Metanol 4. Massa konstruksi 5. Analisa ekonomi - Analisa NPV IRR pada tahun ke sepuluh POT BEP 73,82 % 1,672 tahun 15 % : kontinyu, 24 jam/hari, selama 320 hari : 41692 kg / jam : 13,370.4 kg/jam : 39700 kg / jam : 4554 kg/jam : 2 tahun : = 330.200,64 ton/thn = 105,893 ton/thn

- Analisa Kepekaan Dari ketiga parameter sensitifitas yaitu fluktuasi biaya investasi, harga bahan baku, dan harga jual dari produk, terlihat bahwa ketiganya tidak memberikan pengaruh yang cukup signifikan terhadap kenaikan atau penurunan nilai IRR pabrik. Sehingga pabrik Hidrogen ini layak untuk didirikan.

56

INSTITUT TEKNOLOGI SEPULUH NOPEMBER FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI JURUSAN TEKNIK KIMIA

LAMPIRAN 1 PERHITUNGAN NERACA MASSA

Kapasitas produksi Basis Waktu operasi Bahan baku yang diperlukan : RPO Metanol 98% Katalis (Sodium Metilat) 1. Mixer (MX-201)

= 41692 kg/hr = 1 jam produksi = 330 hari/tahun, 24 jam/hari

= 39700 kg/hr = 4554 kg/hr =151,863 kg/hr

MIXER NM masuk aliran (2) : RPO aliran (3) : Metanol aliran (4) : NaOCH3 TOTAL 151,863 44405,863 TOTAL 44405,86 4554 39700 Kg NM keluar aliran (5) : RPO NaOCH3 Metanol 39700 151,863 4554 Kg

57

INSTITUT TEKNOLOGI SEPULUH NOPEMBER FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI JURUSAN TEKNIK KIMIA

Neraca RPO : F2 RPO = F5 RPO = 39700 kg

Neraca Metanol : F2 metanol = F5 metanol = 4554 kg

Neraca NaOCH3 : F2NaOCH3 = F5NaOCH3 = 151,863 kg

Neraca Massa Total : F5 = F5 RPO + F5 metanol + F5NaOCH3 = 39700 kg + 4554 kg + 151,863 kg = 44405,863 Kg 2. Heater (XH-256)

HEATER NM masuk aliran (5) : RPO Methanol NaOCH3 Air 39700 4554 151,863 52,163 Kg NM keluar aliran (6) : RPO Metanol NaOCH3 39700 4554 151,863 52,163 Kg

TOTAL Neraca RPO : F5 RPO

44.458,026

TOTAL

44458,026

= F6 RPO

= 39700 kg

58

INSTITUT TEKNOLOGI SEPULUH NOPEMBER FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI JURUSAN TEKNIK KIMIA

Neraca Metanol : F5 metanol = F6 metanol = 4554 kg

Neraca NaOCH3 : F5NaOCH3 = F6NaOCH3 = 151,863 kg

Neraca Air : F5air = F6air = 52,163 kg

Neraca Massa Total :

F6 = F6 RPO + F6 metanol + F6NaOCH3 + F6air


= 39700 kg + 4554 kg + 151,863 kg + 52,163 kg = 44.458,026 kg 3. Reaktor (R-301)

Reaksi: Trigliserida + 3 CH3OH ----> Gliserol + 3 ME REAKTOR NM masuk aliran (6) : RPO Methanol NaOCH3 Air 39700 4554 151,863 52,163 Kg NM keluar aliran (7) : Metanol NaOCH3 ME Gliserol Air TOTAL 44.458,026 TOTAL 44,354 151,863 41692,021 4316,848 52,163 44.458,026 kg

59

INSTITUT TEKNOLOGI SEPULUH NOPEMBER FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI JURUSAN TEKNIK KIMIA

Metanol sisa ME yang terbentuk

: 44,3542 Kg : 41692 Kg

Bahan baku minyak kelapa yang dipakai adalah F6 = 39700 kg F6 RPO N6 RPO = = 39700 kg

39700 kg = 46,8713 kgmol 847 kg / kgmol

F5 Metanol = 4554 kg N6 metanol =

4544 kg = 142 kgmol 32 kg / kgmol

Konversi = 100% Reaksi : Mula-mula Reaksi Setimbang Neraca RPO : F6 RPO Neraca Metanol : F6 metanol F7 metanol = 4554 kg
=

Trigliserida + 3 CH3OH ----> Gliserol 46,8713 46,8713 0 142 140,614 1,386 0 46,8713 46,8713

+ 3 ME 0 140,614 140,614

= 39700 kg

1,386 kgmol x 32kg/kgmol = 44,354 kg

Neraca NaOCH3 : F6NaOCH3 = F7NaOCH3 = 151,863 kg

Neraca Gliserol : F7gliserol = 46,8713kgmol x 92,1 kg/kgmol = 4316,848 kg

Neraca ME : 60

INSTITUT TEKNOLOGI SEPULUH NOPEMBER FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI JURUSAN TEKNIK KIMIA

F7ME

140,614kgmol x 296,5kg/kgmol = 41692,021 kg

Neraca Air : F6air = F7air = 52,163 kg

Neraca Massa Total : F7 = F7 metanol + F7NaOCH3 + F7gliserol + F7ME + F7air = 44,354 kg + 151,863 kg + 4316,848 kg + 41692,021 kg + 52,163 kg = 44.458,026 Kg 4. Separator (CF-401)

SEPARATOR NM masuk aliran (7) : Metanol NaOCH3 ME Gliserol Air 44,35 151,86 41692,03 4316,85 52,16 aliran (9) : Metanol NaOCH3 Gliserol Air TOTAL Neraca Metanol : F7 metanol = F9 metanol = 44,35 kg 46.257,14 TOTAL 44,354 151,863 4316,85 52,055 46.257,14 Kg NM keluar aliran (8) : ME 41692,03 Kg

61

INSTITUT TEKNOLOGI SEPULUH NOPEMBER FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI JURUSAN TEKNIK KIMIA

Neraca NaOCH3 : F7NaOCH3 = F9NaOCH3 = 151,863 kg

Neraca Metyl Ester : F7 Metyl Ester = F8 Metyl Ester = 41692,03 kg Neraca Gliserol : F7 Gliserol = F9 Gliserol = 4316,848

Neraca Air : F7air = F9air = 52,055 kg

Neraca Massa Total : F6 = F9 metanol + F9NaOCH3 + F8 Metyl Ester + F9 Gliserol + F9air = 44,35 kg + 151,863 kg + 41692,03 kg + 4316,848 + 52,055 kg = 44.458,026 Kg 5. Washing (TK-501)

WASHING NM masuk aliran (8) : ME aliran (10) Air TOTAL 1000 42.692,03 41692,03 Kg NM keluar aliran (11) : ME aliran (12) : Air TOTAL 1000 42.692,03 41692,03 Kg

62

INSTITUT TEKNOLOGI SEPULUH NOPEMBER FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI JURUSAN TEKNIK KIMIA

Neraca Metyl Ester : F8 Metyl Ester = F11 Metyl Ester = 41692,03 kg Neraca Air : F10air = F12air = 1000 kg

Neraca Massa Total :

F11+12 = F11 Metyl Ester + F12air


= 41692,03 Kg + 1000 Kg = 42.692,03 Kg 6. Heater (XH-512)

HEATER NM masuk aliran (11) : ME Air 41692,03 290 Kg NM keluar aliran (13) : ME Air 41692,03 290 Kg

TOTAL Neraca Metyl Ester : F11 Metyl Ester Neraca Air : F11air = F13air

41.982,03

TOTAL

41.982,03

= F13 Metyl Ester = 41692,03 kg

= 290 kg

Neraca Massa Total : F13 = F13 Metyl Ester + F13air = 41692,03 Kg + 1000 Kg = 42.692,03 K

63

INSTITUT TEKNOLOGI SEPULUH NOPEMBER FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI JURUSAN TEKNIK KIMIA

7. Dryer (TK-601)

DRYER NM masuk aliran (13) : ME Air 41692,03 290 aliran (14b) : Air 290 Kg NM keluar aliran (14a) : ME 41692,03 Kg

TOTAL Neraca Metyl Ester : F13 Metyl Ester Neraca Air : F13air

41.982,03

TOTAL

41.982,03

= F14(a) Metyl Ester

= 41692,03 kg

= F14(b)air

= 290 kg

Neraca Massa Total : F14 = F14(a) Metyl Ester + F14(b)air = 41692,03 Kg + 290 Kg = 41.982,03 Kg

64

INSTITUT TEKNOLOGI SEPULUH NOPEMBER FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI JURUSAN TEKNIK KIMIA

8. Netralizer (NR-701)

NM masuk aliran (9) : Metanol NaOCH3 Gliserol Air aliran (15) HCl TOTAL

NETRALIZER Kg NM keluar aliran (16) : 44,35 Metanol 152 Gliserol 4316,85 Air 52,16 NaCl

Kg 134,35 4316,85 52,16 164,52

102,64817 4.667,88

TOTAL

4.667,88

Bahan baku minyak kelapa yan gdipakai adalah F5 = 39700 kg F15 HCl N15 HCl F9 NaOCH3 = 102,64817 kg =

102,64817 kg = 2,81228 kgmol 36,5 kg / kgmol

= 152 kg

N9 NaOCH3 =

152 kg = 2,81228 kgmol 54 kg / kgmol

65

INSTITUT TEKNOLOGI SEPULUH NOPEMBER FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI JURUSAN TEKNIK KIMIA

Konversi = 100% Reaksi : Mula-mula Reaksi Setimbang Neraca Metanol : F9 metanol F16 metanol = 44,35 kg = 44,35 + (2,81228 x 32) = 134,35 kg HCl 2,81228 2,81228 0 + NaOCH3 ----> NaCl 2,81228 2,81228 0 0 2,81228 2,81228 + CH3OH 0 2,81228 2,81228

Neraca Gliserol : F9gliserol Neraca HCl : F16 NaCl Neraca Air : F6air = F7air = 52,16 kg = 2,81228 kgmol x 58,5 kg/kgmol = 164,52 kg = F16gliserol = 4316,848 kg

Neraca Massa Total : F16 = F16 metanol + F16gliserol + F16air + F16NaCl = 134,35 kg + 4316,848 kg + 164,52 kg = 4.667,88 Kg + 52,16 kg

66

INSTITUT TEKNOLOGI SEPULUH NOPEMBER FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI JURUSAN TEKNIK KIMIA

9. Washing (TK-723)

WASHING NM masuk aliran (16) : Metanol Gliserol Air NaCl 134,35 4316,85 52,16 164,52 aliran (19) : metanol aliran (17) : Air TOTAL Neraca Metanol : F16 Metanol = F19 Metanol = 134,35 kg 1000 4.667,88 Gliserol Air TOTAL 134,35 4316,85 342,16 4.667,88 Kg NM keluar aliran (18) : Air NaCl 710 164,52 Kg

Neraca Gliserol : F16Gliserol Neraca air : F16 air F17 air F18 air F19 air = 52,16 kg = 1000 kg = 0,71 x F17 air = 0,71 x 1000 =710 kg = 52,16 + (1000-710) = 342,16 kg = F19gliserol = 4316,85 kg

67

INSTITUT TEKNOLOGI SEPULUH NOPEMBER FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI JURUSAN TEKNIK KIMIA

Neraca NaCl : F16NaCl = F18Nacl = 164,52 kg

Neraca Massa Total : F = F18 air + F18Nacl + F19 Metanol + F19gliserol + F19 air = 710 kg + 164,52 kg + 134,35 kg + 4316,85 kg + 342,16 kg = 4.667,88 kg 10. Distilasi (D-801)

DISTILASI NM masuk aliran (19) : Metanol Gliserol Air 134,35 4316,85 342,16 aliran (23) : Gliserol Air 4316,85 340,62 Kg NM keluar aliran (21) : Metanol Air 134,35 1,54 Kg

TOTAL Neraca Metanol : F19 Metanol = F21 Metanol

4.667,88

TOTAL

4.667,88

= 134,35 kg

Neraca Gliserol :

68

INSTITUT TEKNOLOGI SEPULUH NOPEMBER FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI JURUSAN TEKNIK KIMIA

F19Gliserol Neraca Air :

= F23gliserol

= 4316,85 kg

F19 air = 342,16 kg F21 air = 1,54 kg F21 air = 340,62 kg Neraca Massa Total : F = F21 Metanol + F21 air + F23gliserol + F23 air

= 134,35 kg + 1,54 kg + 4316,85 kg + 340,62 kg = 4.667,88 kg 11. Evaporator (EV-901)

EVAPORATOR NM masuk aliran (23) : Gliserol Air 4.316,848 340,621 aliran (25) : Gliserol Air TOTAL 4.657,469 TOTAL 4.316,85 142,117 4.657,469 Kg NM keluar aliran (24) : Air 198,5045 Kg

69

INSTITUT TEKNOLOGI SEPULUH NOPEMBER FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI JURUSAN TEKNIK KIMIA

Neraca Gliserol : F23Gliserol = F25gliserol = 4316,85 kg

Konsentrasi gliserol pada aliran 23 = 1

340,621 kg = 0,92 = 92%-wt 4567,469 kg 142,117 kg = 0,97 = 97%-wt 4567,469 kg

Konsentrasi gliserol pada aliran 25 = 1 Neraca Air : F21 air = 340,621 kg F24 air = 198,5045 kg F25 air = 142,117kg Neraca Massa Total : F = F24 air + F25gliserol + F25 air

= 198,5045 kg + 4316,85 kg + 142,117kg = 4.657,469 kg

70

INSTITUT TEKNOLOGI SEPULUH NOPEMBER FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI JURUSAN TEKNIK KIMIA

LAMPIRAN 2 PERHITUNGAN NERACA PANAS

Basis perhitungan Satuan

: 1 jam operasi : kcal

Temperatur referensi : 25oC atau 298 K Neraca panas ini mengggunakan rumus-rumus perhitungan sebagai berikut: 1. Perhitungan panas sensible untuk aliran masuk dan keluar

pd
e 25

2. Perhitungana panas reaksi

3. Perhitungan panas penguapan/laten

Data-data yang diambil untuk perhitungan pada neraca panas ini adalah: 1. Cp untuk liquid
p

R a. Air: A= 8,712 B= 1,25.10-3 C= -1,80.10-7 b. Metanol: A= 13,431 B= -5,13.10-2

71

INSTITUT TEKNOLOGI SEPULUH NOPEMBER FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI JURUSAN TEKNIK KIMIA

C= 1,31.10-4
pd e

Keterangan: Bed e
p

lp sp u s

l u l g

p s su u

Asumsi pada: 1. 2. 3. 4. Kondisi Steady State, E = 0 Tak ada perubahan energi kinetik, K = 0 Tak ada perubahan energi potensial, P = 0 Tidak terjadi kerja dalam sistem, W = 0

Menghitung Cp dari masing-masing komponen a) Air A= 8,712 B= 1,25.10-3 C= -1,80.10-7


pd e

- Pada suhu 30oC

72

INSTITUT TEKNOLOGI SEPULUH NOPEMBER FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI JURUSAN TEKNIK KIMIA

Dilakukan perhitungan yang sama untuk mendapatkan Cp dari air pada setiap suhu. Dapat dilihat Cp air untuk masing-masing suhu pada Tabel.1. Tabel 1 Cp Air pada berbagai suhu

T, oC
60 65 55 135 27 107 148 110

Tref, oC
25 25 25 25 25 25 25 25

Cp, kcal/kgoC
318,1013 363,6578 272,5732 1004,389 18,13966 747,4409 1123,981 774,9294

b) Metanol A= 13,431 B= -5,13.10-2 C= 1,31.10-4


pd e

- Pada suhu 30oC

73

INSTITUT TEKNOLOGI SEPULUH NOPEMBER FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI JURUSAN TEKNIK KIMIA

Dilakukan perhitungan yang sama untuk mendapatkan Cp dari metanol pada setiap suhu. Dapat dilihat Cp metanol untuk masing-masing suhu pada Tabel 2. Tabel 2 Cp metanol pada berbagai suhu

T, oC
60 65 135 137 27 5. Cp untuk komponen lain

Tref, oC
25 25 25 25 25

Cp, kcal/kgoC
361,3044 416,2662 1298,831 1327,634 19,6511

Cp untuk RPO, Metil Ester, Gliserol, NaOCH3, HCl, dan NaCl dapat dilihat pada Tabel 3 Tabel 3 Cp untuk Komponen lain Komponen RPO NaOCH3 Metil Ester Gliserol HCl NaCl Cp, kcal/kgoC 386,5551 0,32389 381,45025 560,47774 0,615 0,947 (Reklaitis, 1983). 6. P s pe be u (
o f)

Panas pembentukan pada setiap komponen dapat dilihat pada Tabel 4.

Tabel 4 P

s pe be u

f)

untuk setiap komponen

74

INSTITUT TEKNOLOGI SEPULUH NOPEMBER FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI JURUSAN TEKNIK KIMIA

Komponen Metanol Air RPO Metil Ester Gliserol HCl NaCl

Hof, kcal/kg -1502,5 -3211,11 -7691,94 -10786,9 -25743,5 -605,0275 -1680,565 (Himmelblau, 1996).

7.

Steam yang digunakan pada setiap proses yaitu saturated steam pada suhu 120oC dan tekanan 198,54 kPa. Hv= 2202,2 kJ/kg = 526,3258 kcal/kg.

8.

Panas Laten HVL HVL,CH3OH= 35,270 kJ/mol = 263,4228 kcal/kg HVL,H2O= 40,6562 kJ/mol = 539,82 kcal/kg Perhitungan neraca panas pada setiap alat sebagai berikut:

1.

Mixer (MX-201) (3) Metanol Air T=30oC

(2) RPO T=30oC

(5) NaOCH3, RPO, Metanol, Air T=30oC

MX-201
(4) NaOCH3 T=30oC 75

INSTITUT TEKNOLOGI SEPULUH NOPEMBER FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI JURUSAN TEKNIK KIMIA

E= Ein-Eout 0 = (H2 + H3 + H4) (H5+Q) Q = H2 + H3 + H4 H5 Untuk menentukan panas dari setiap stream digunakan rumus sebagai berikut:

Cp pada setiap stream dapat dilihat pada Tabel.1, Tabel.2 dan Tabel.3. Dari hasil perhitungan didapatkan: H2= HRPO= 76.731.181,96 kcal/hr H3= Hmetanol + H air = 1.120.872,7kcal/hr + 11.830,03 kcal/hr = 1132702,7 kcal/hr H4= HNaOCH3= 245,9340475 kcal/hr H5= HRPO + HMetanol + HAir + HNaOCH3 = 763.731.181,96 kcal/hr + 1.120.872,7 kcal/hr + 11.830,031 kcal/hr + 245,934 kcal/ hr = 77.864.130,64 kcal/hr Didaptkan nilai Q= 0, karena tidak ada panas yang keluar ataupun panas yang masuk di dalam Mixer.

76

INSTITUT TEKNOLOGI SEPULUH NOPEMBER FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI JURUSAN TEKNIK KIMIA

2.

Heater (XH-256)

(5) NaOCH3, RPO, Metanol, Air T=30oC

Condensate T=120oC

(6) NaOCH3, RPO, Metanol, Air T=60oC

XH-256
Steam T=120oC

E= Ein-Eout 0 = H5 +Q- H6 Q = H6 H5 Untuk menentukan panas dari setiap stream digunakan rumus sebagai berikut:

Cp pada setiap stream dapat dilihat pada Tabel.1, Tabel.2 dan Tabel.3. Dari hasil perhitungan didapatkan: H5= HRPO + HMetanol + HAir + HNaOCH3 = 763.731.181,96 kcal/hr + 1.120.872,7 kcal/hr + 11.830,031 kcal/hr + 245,934 kcal/ hr = 77.864.130,64 kcal/hr H6= HRPO + HMetanol + HAir + HNaOCH3 = 537.000.000 kcal/hr + 57.461.845 kcal/hr + 580.762,2 kcal/hr + 1.721,538 kcal/hr = 595.162.602 kcal/hr 77

INSTITUT TEKNOLOGI SEPULUH NOPEMBER FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI JURUSAN TEKNIK KIMIA

Didaptkan nilai Q= 517.298.471,4 kcal/hr Menghitung kebutuhan massa steam yang dibutuhkan:
se

msteam=98.188,521 kg/hr Jadi massa steam yang dibutuhkan sebanyak 98.188,521 kg/hr untuk menaikan suhu campuran RPO, metanol, NaOCH3, dan air. 3. Reaktor (R-301)

(6) NaOCH3, RPO, Metanol, Air T=60oC

Condensate T=120oC

(7) NaOCH3, Metanol, Air, Metil Ester, Gliserol T=65oC

R-301
Steam T=120oC

E= Ein-Eout 0 = H6 +Q- (H7 + panas reaksi) Q = Panas reaksi + H7 H6 Untuk menentukan panas dari setiap stream digunakan rumus sebagai berikut: Perhitungan panas sensible untuk aliran masuk dan keluar

pd
e 25

78

INSTITUT TEKNOLOGI SEPULUH NOPEMBER FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI JURUSAN TEKNIK KIMIA

Perhitungana panas reaksi

Cp pada setiap stream dapat dilihat pada Tabel.1, Tabel.2 Tabel.3 dan Tabel.4. Dari hasil perhitungan didapatkan: H6= HRPO + HMetanol + HAir + HNaOCH3 = 537.000.000 kcal/hr + 57.461.845 kcal/hr + 580.762,2 kcal/hr + 1.721,538 kcal/hr = 595.162.602 kcal/hr H7= HMetil Ester + HGliserol + HMetanol + HAir + HNaOCH3 = 636.137.426,2 kcal/hr + 96.779.882 kcal/hr + 738.526,017 kcal/hr + 758.783,05 kcal/hr + 1.967,4724 kcal/hr = 734.398.981,2 kcal/hr Panas reaksi: Konversi 100% Reaksi: RPO + 3CH3OH Reaksi: Mula-mula Reaksi Setimbang RPO 46,871 46,871 0 + 3CH3OH 142 140,61 2,8123 140,61 140,61 46,871 46,871 NaOCH3 3ME + Gliserol

Data dalam satuan kmol 2


2

pRPO

p l se l

l se l

RPO

79

INSTITUT TEKNOLOGI SEPULUH NOPEMBER FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI JURUSAN TEKNIK KIMIA

(-25

5 5) (- 6

- 5 2 5)

= -5306,6472 kcal/kg 5 Didaptkan nilai Q = Panas reaksi + H7 H6 Q = -17603,525 kcal/hr + 734.398.981,2 kcal/hr - 595.162.602 kcal/hr = 139.236.379 kcal/hr Menghitung kebutuhan massa steam yang dibutuhkan:
se

66

l g

62

25

l g

msteam= 63.226,0372 kg/hr Jadi massa steam yang dibutuhkan sebanyak 63.226,0372 kg/hr. 4. Heater (XH-512)

(11) Metil Ester, air T=55oC

Condensate T=120oC

(13) Metil Ester, Air T=105oC

XH-512
Steam T=120oC

E= Ein-Eout 0 = H11 +Q- H13

80

INSTITUT TEKNOLOGI SEPULUH NOPEMBER FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI JURUSAN TEKNIK KIMIA

Q = H13 H11 Untuk menentukan panas dari setiap stream digunakan rumus sebagai berikut:

Cp pada setiap stream dapat dilihat pada Tabel.1, Tabel.2 dan Tabel.3. Dari hasil perhitungan didapatkan: H5= HME + HAir = 477.103.069,7 kcal/hr + 2.371.386,7 kcal/hr = 479.474.456 kcal/hr H6= HME + HAir = 1.272.274.852kcal/hr + 16.915.601,3 kcal/ = 1.289.190.454 kcal/hr Didaptkan nilai Q= 809.715.997,4 kcal/hr Menghitung kebutuhan massa steam yang dibutuhkan:
se

msteam= 367.685,041 kg/hr Jadi massa steam yang dibutuhkan sebanyak 367.685,041 kg/hr untuk menaikan suhu ME atau biodiesel.

81

INSTITUT TEKNOLOGI SEPULUH NOPEMBER FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI JURUSAN TEKNIK KIMIA

5.

Vacum Dryer (TK-601)

(13) Metil Ester, Air T=105oC

Condensate T=120oC

(14a) Metil Ester T=137oC

TK-601
Steam T=120oC E= Ein-Eout 0 = H13 + Q - H14a + H14b Q = H14a + H14b H13 Untuk menentukan panas dari setiap stream digunakan rumus sebagai berikut:

Cp pada setiap stream dapat dilihat pada Tabel.1, Tabel.2 dan Tabel.3. Dari hasil perhitungan didapatkan: H13= HME + HAir = 1.272.274.852 kcal/hr + 16.915.601,3 kcal/hr = 1.289.190.454 kcal/hr H14a= HME + HAir = 1.781.184.793 kcal/hr H14b= HME + HAir = 33.219.745,45 kcal/hr Didaptkan nilai Q= 525.214.085,1 kcal/hr Qlostnya yaitu sebesar 525.214.085,1 kcal/hr

82

INSTITUT TEKNOLOGI SEPULUH NOPEMBER FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI JURUSAN TEKNIK KIMIA

6.

Netralizer (NR-701) (9) NaOCH3, Gliserol, Metanol, Air T=60oC (15) HCl T=60oC

Condensate T=120oC

(16) NaCl, Metanol, Air,Gliserol T=65oC

NR-701
Steam T=120oC

E= Ein-Eout 0 = H9 + H15 + Q- (H16 + panas reaksi) Q = Panas reaksi + H16 H15 H9 Untuk menentukan panas dari setiap stream digunakan rumus sebagai berikut: Perhitungan panas sensible untuk aliran masuk dan keluar
pd
e 25

Perhitungana panas reaksi

Cp pada setiap stream dapat dilihat pada Tabel.1, Tabel.2 Tabel.3 dan Tabel.4. Dari hasil perhitungan didapatkan: H9= HGliserol + HMetanol + HAir + HNaOCH3 = 84.682.396,7 kcal/hr + 560.887,686 kcal/hr + 580.762,169 kcal/hr + 1.721,538 kcal/hr = 85.825.768,1 kcal/hr H15 = HHCl

83

INSTITUT TEKNOLOGI SEPULUH NOPEMBER FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI JURUSAN TEKNIK KIMIA

= 2.209,50186 kcal/hr H16= HGliserol + HMetanol + HAir + HNaCl = 96.779.882 kcal/hr + 2.236.966,37kcal/hr + 758.783,049 kcal/hr + 6231,9532 kcal/hr = 99781863,3 kcal/hr Panas reaksi: Konversi 100% Reaksi: Mula-mula Reaksi Setimbang HCl 2,8213 2,8213 0 + NaOCH3 2,8213 2,8213 0 2,8213 2,8213 2,8213 2,8213 NaCl + CH3OH

Data dalam satuan kmol 2


2 p l p O p l p e l

2 (- 6

l 56 5 5)

l )

O ( )

(- 5 2 5) (-6 5 2 5

= -2578,0371 kcal/kg 25 Didaptkan nilai Q = Panas reaksi + H16 H15 H9 Q = 14.077,6296 kcal/hr + 99.781.863,3 kcal/hr - 2.209,50186 kcal/hr 85.825.768,1 kcal/hr = 13.967.963 kcal/hr l g 666 l g

84

INSTITUT TEKNOLOGI SEPULUH NOPEMBER FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI JURUSAN TEKNIK KIMIA

Menghitung kebutuhan massa steam yang dibutuhkan:


se

msteam= 6.342,73152 kg/hr Jadi massa steam yang dibutuhkan sebanyak 6.342,73152 kg/hr. 7. Distilasi (D-801) (21) Metanol, Air T=65oC

(19) Metanol, Gliserol, Air T=27oC

D-801
(25) Gliserol, Air T=107oC

E= Ein-Eout 0 = H19 + Q- (H21 + H25) Q = H21 H23 H19 Untuk menentukan panas dari setiap stream digunakan rumus sebagai berikut: Perhitungan panas sensible untuk aliran masuk dan keluar

pd
e 25

Perhitungana panas laten

85

INSTITUT TEKNOLOGI SEPULUH NOPEMBER FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI JURUSAN TEKNIK KIMIA

Cp pada setiap stream dapat dilihat pada Tabel.1, Tabel.2 Tabel.3 dan Tabel.4. Dari hasil perhitungan didapatkan: H19= HGliserol + HMetanol + HAir = 4.838.994,097 kcal/hr + 5.280,136967 kcal/hr + 1.084.008,661 kcal/hr = 4.845.545,12 kcal/hr H21 = (HMetanol + HVLMetanol ) +( HAir + HVLAir) = 66.165,56187 kcal/hr + 22.144,8878 kcal/hr = 88.310,4497 kcal/hr H25= HGliserol + HAir = 198.398.758 kcal/hr + 20.876.713,56 kcal/hr = 219.275.472 kcal/hr Didaptkan nilai Q = H21 + H23 H19 Q = 88.310,4497 kcal/hr + 219.275.472 kcal/hr - 4.845.545,12 kcal/hr = 21.451.823,9 kcal/hr Menghitung kebutuhan massa steam yang dibutuhkan:
se

msteam= 97 410,8786 kg/hr Jadi massa steam yang dibutuhkan sebanyak 97 410,8786 kg/hr.

86

INSTITUT TEKNOLOGI SEPULUH NOPEMBER FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI JURUSAN TEKNIK KIMIA

8.

Evaporator (EV-901)

(23) Gliserol 92%-wt, Air T=107oC

(24) Air T=110oC

(25) Gliserol 97%-wt, Air T=148oC

EV-901

E= Ein-Eout 0 = H23 + Q- (H24 + H25) Q = H24 + H25 H23 Untuk menentukan panas dari setiap stream digunakan rumus sebagai berikut: Perhitungan panas sensible untuk aliran masuk dan keluar

pd
e 25

Perhitungana panas laten

Cp pada setiap stream dapat dilihat pada Tabel.1, Tabel.2 Tabel.3 dan Tabel.4. Dari hasil perhitungan didapatkan: H23= HGliserol + HAir = 198.398.758 kcal/hr + 20.876.713,56 kcal/hr = 219275471,5 kcal/hr H24 = 127.638,241 kcal/hr H25= HGliserol + HAir

87

INSTITUT TEKNOLOGI SEPULUH NOPEMBER FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI JURUSAN TEKNIK KIMIA

= 236.577.381 kcal/hr + 19.647.556,9 kcal/hr = 256.224.937,4 kcal/hr Didaptkan nilai Q = H24 + H25 H23 Q = 127.638,241 kcal/hr + 256.224.937,4 kcal/hr - 219275471,5 kcal/hr = 37.077.879,07 kcal/hr Menghitung kebutuhan massa steam yang dibutuhkan:
se

msteam= 4255,17423 kg/hr Jadi massa steam yang dibutuhkan sebanyak 4255,17423 kg/hr.

88

INSTITUT TEKNOLOGI SEPULUH NOPEMBER FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI JURUSAN TEKNIK KIMIA

LAMPIRAN 3 SPESIFIKASI DAN DESAIN ALAT UTAMA

1. Reaktor Fungsi Jenis Bentuk : Tempat terjadinya reaksi transesterifikasi : Batch reaktor terhubung parallel : Silinder vertikal dengan alas dan tutup ellipsoidal

Bahan Konstruksi : Carbon steel SA-203 Grade A Jumlah : 2 Unit 2C13H20O2 + Gliserol

Reaksi yang terjadi : C12H22O2 + 3CH3OH Tekanan Operasi Temp. Masuk Temp. Keluar : 1 atm : 30oC : 65oC

Komposisi Umpan : Senyawa RPO CH3OH H2O Katalis(NaOMe) Total De s sl u Laju Alir Laju alir Massa(kg/jam) molar(kmol/jam) 39699,6626 4544,003396 52,15186764 151,8323346 44447,6502 46,87091216 142,0001061 2,89732598 2,8117099 194,582 Mr 847 32 18 54 Fraksi Mol 0,24088 0,72977 0,01489 0,01445 (kg/ltr) 880 794,5 997,08 1100 campuran 211,9744 579,8023 14,84652 15,895 822,5182

s = 822,5182 kg/m3 = 52,1879 lb/ft3

89

INSTITUT TEKNOLOGI SEPULUH NOPEMBER FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI JURUSAN TEKNIK KIMIA

lu e Re

u s

65 2 22 5 2
g

Laju Alir mol RPO,Fa0 = 46,8709 kmol/jam l RPO 6 5 e 2 2 6 5 (


l

se

l RPO

u lu e

gg l e u e

d l

su u 6

p l2

Ruang bebas reaktor direncanakan 20% dari volume minimum reaktor, campuran keluar reaktor secara over flow. lu e e a. 2 2 2 6 2

Volume Reaktor lu e e 6 2 6

Volume Larutan = V = 108,0770 m3 Volume Tangki = 129,6924 m3 b. Diameter dan tinggi shell Di : Hs = 3:4 s D2 D D D

s 2

90

INSTITUT TEKNOLOGI SEPULUH NOPEMBER FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI JURUSAN TEKNIK KIMIA

D s D

2 6 2

5 5 6

5 226

c.

Diameter dan tinggi tutup Diameter tutup = Diameter tangki = Di = 4,7934 m gg g D 2 6

Rasio Axis = 2:1 gg u up d. g D 2 2

Tebal Shell tangki PD E 6P dimana: t = Tebal shell (in) P = Tekanan desain (psia) D = Diameter dalam Tangki (in) S = Allowable stres (psia) E = joint Efficiency Volume Campuran dalam tangki = 108,0770 m3 lu e s ell gg d l D g 5 52 2 gg g 2 gg u up B ell 5 l 25

s ell

91

INSTITUT TEKNOLOGI SEPULUH NOPEMBER FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI JURUSAN TEKNIK KIMIA

gg e

d l d s

g s gl

52 2 22 5 2 626

6 2P

6 26

Tekanan Udara Luar = 1 atm = 101,325 kPa P operasi = P udara luar + P Hidrostatis = 101,325 + 36,2608 = 137,5857 kPa Faktor kelonggaran = 20% = 0,2 Maka, P design = 1,2 x 137,5857 kPa = 165,1029 kPa Joint Efficiency (E) = 0,8 (Brownell, 1959) (Brownell, 1959) 5 (( 2 ( 6 65 2 )))

Allowable stress = 112039,8834 kPa eb l s ell g 65 2

Faktor korosi = 0,125 in Maka, tebal shell yang dibutuhkan = 0,3480 + 0,125 = 0,473 in Menghitung Jaket pemanas Q reaktor = 734.398.981,20 kcal/hr = 175.521.356,5 kJ/hr se p d 120oC= 2202,59 kJ/kg (dari steam table)

Diameter luar reaktor = Di + (2 x tebal dinding) = (15,7276 x 12) + ( 2 x 0,473) = 189,6664 in

92

INSTITUT TEKNOLOGI SEPULUH NOPEMBER FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI JURUSAN TEKNIK KIMIA

Tinggi jaket = Tinggi reaktor = 2,3967 m = 94,3599 in Asumsi jarak jaket = 3 in Diameter dalam jaket = 94,3599 + ( 2 x 3) = 100,3599 in

Luas yang dilalui steam (A) D2


2

Kecepatan superficial steam (V) p 5 5 5 26

Tebal dinding jaket (tj) Bahan Stainless steel plate tipe SA-240 grade 314 H jaket = 65,984 in = 5,4987 ft P 62 2 5 lb 5
3

62 2 5

55 ps

Pdesign reaktor = 165,1029 kPa = 23,9528 psi P design jacket= PH + Pdesign = 23,9528 + 1,9455 = 25,8983 psi PD E 6P 25 5 5 6 25 s 25 5

Maka, dipilih tebal jaket standart = 1,75 in Perancangan sistem pengadukan Jenis pengaduk : Turbin impeller daun enam

93

INSTITUT TEKNOLOGI SEPULUH NOPEMBER FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI JURUSAN TEKNIK KIMIA

Jumlah baffle

: 4 buah

Untuk turbine standar (Mc cabe, 1993), diperoleh: D D D E D E D 52 5 6 D 5 226 5 2 5 6

D D 52 2

52

D
2

2 D
2

5 226

2 ft

Dimana: Dt = Diameter tangki Da = Diameter impeller sE = tinggi turbin dari dasar tangki L = panjang blade pada turbin J = lebar baffle Kecepatan Pengadukan, N = 120 rpm = 2 rps

94

INSTITUT TEKNOLOGI SEPULUH NOPEMBER FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI JURUSAN TEKNIK KIMIA

Viskositas cairan = 0,788 cP = 0,000788 kg/m.s Bl g P p D


5 5

Rey

ld Re

D2 e

22 5

22

5 6

5 2 2 5

pl s
5

5 66 2 5 2 2 55

Efisiensi motor penggerak = 80% D y pe gge P E se s 6 6 2 P

2. Tangki Penyimpanan RPO Fungsi Bentuk : Tempat/Wadah penyimpanan bahan baku RPO : Silinder tegak, tutup ellipzoidal, alas datar

Bahan Konstruksi : Carbon Stell SA-283, Grade C Jumlah : 2 Unit

Kondisi Penyimpanan Tekanan, Temperatur: 1 atm (14,696 psi), 30oC Laju alir massa (F) Densitas () Lama penyimpanan 39700 880 24 kg/hr kg/m3 jam

Faktor keamanan = 15 % = 0,15

95

INSTITUT TEKNOLOGI SEPULUH NOPEMBER FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI JURUSAN TEKNIK KIMIA

e. Diameter dan Tinggi Shell Direncanakan: Tinggi shell : Diameter = Hs : Dt = 2 : 1 Tinggi Head : Diameter = Hh : Dt = 1 : 4

Vt = Vs + Vh = 1,57.Dt3 + 0,138.Dt3 = 1,7003.Dt3 D 622 56 2 5 2 6 2

Hs = 2.Dt = 2. 7,1533 = 14,3066 m Hh = (1/4) . Dt = 0,25 . 7,1533 = 1,7883 m Diameter tutup = Diameter tangki = 7,1533 m Tinggi Tangki = Hs + Hh = 14,3066 + 1,7883 = 16,0950 m f. Tebal Dinding Silinder Tangki Dari tabel 13.1 (Brownell,1959), diperoleh data: Allowable working stress (S) = 12650 psi Efisiensi sambungan (E) = 0,8 Corrosion allowance (C) = 0,125 in/thn Umur Alat (A) = 10 tahun

96

INSTITUT TEKNOLOGI SEPULUH NOPEMBER FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI JURUSAN TEKNIK KIMIA

gg e

d l d s s

g g

5 6 6 622 56 2 6 5

2 P

6 2 ps

Tekanan Operasi = Tekanan Hidrostatis + Tekanan kondisi penyimpanan = 20,1317 + 14,696 = 34,8277 psi Tebal Dinding Silinder tangki:

2 2 265

6 2 2 2

25

Dari tabel 5.4 (brownell,1959), diperoleh tebal tangki 1,75 in (range 1,5-4,5). Tutup tangki terbuat dari bahan yang sama dengan dinding tangki dan ditetapkan tebal tutup 1,75 in. 3. Tangki penyimpanan Methanol (TK234) Fungsi Bentuk bahan konstruksi Jumlah : Tempat penyimpanan methanol : Silinder tegak, tutup ellipzoidal, alas datar : Carbon steel, SA-283, grade C : 1 Unit

Kondisi Penyimpanan: Tekanan, Temperatur = 1 atm (14,696 psi), 30oC Laju Alir massa (F) Densitas () Lama penyimpanan 4544 kg/jam 794,5 kg/m3 24 Jam

Faktor Keamanan = 20 % = 0,2

97

INSTITUT TEKNOLOGI SEPULUH NOPEMBER FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI JURUSAN TEKNIK KIMIA

Volume Methanol

Volume Tangki

98

INSTITUT TEKNOLOGI SEPULUH NOPEMBER FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI JURUSAN TEKNIK KIMIA

a. Diameter dan Tinggi Shell Direncanakan: Tinggi shell : Diameter = Hs : Dt = 2 : 1 Tinggi Head : Diameter = Hh : Dt = 1 : 4

Vt = Vs + Vh = 1,57.Dt3 + 0,138.Dt3 = 1,7003.Dt3 D 6 6 5 22

Hs = 2.Dt = 2. 4,5922 = 9,1845 m Hh = (1/4) . Dt = 0,25 . 4,5922 = 1,1481 m Diameter tutup = Diameter tangki = 4,5922 m Tinggi Tangki = Hs + Hh = 9,1845 + 1,1481 = 10,3326 m g. Tebal Dinding Silinder Tangki Dari tabel 13.1 (Brownell,1959), diperoleh data: Allowable working stress (S) = 12650 psi Efisiensi sambungan (E) = 0,8 Corrosion allowance (C) = 0,125 in/thn Umur Alat (A) = 10 tahun

99

INSTITUT TEKNOLOGI SEPULUH NOPEMBER FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI JURUSAN TEKNIK KIMIA

gg e

d l d s s

g g

s 5

26 6 6 65

5 5 5 2

65 P 6 ps

Tekanan Operasi = Tekanan Hidrostatis + Tekanan kondisi penyimpanan = 8,643 + 14,696 = 23,339 psi Tebal Dinding Silinder tangki:

2 2 265 2 2

25

Dari tabel 5.4 (Brownell,1959), diperoleh tebal tangki 1,5 in (range 1,5-4,5). Tutup tangki terbuat dari bahan yang sama dengan dinding tangki dan ditetapkan tebal tutup 1,5 in. 4. Pompa RPO L F Densitas RPO viskositas RPO v 30 45,11 m3/h 880 kg/m3 0,11549114 kg/m.hr 1,525

Menghitung Luasan Area 2

6 Menghitung ID

Menghitung Reynold Number

100

INSTITUT TEKNOLOGI SEPULUH NOPEMBER FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI JURUSAN TEKNIK KIMIA

ID

Menghitung Heat Loss 5 2 ID Isolation valve CL = 2


2 2

ID

22

Asumsi check valve


2

ID Asumsi Orifice Cd = 0,62 A0 = 0,4

5252 2

d2 Entrance Loss
2

5 Exit loss
2

2 P l

5 56

101

INSTITUT TEKNOLOGI SEPULUH NOPEMBER FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI JURUSAN TEKNIK KIMIA

Menghitung kinerja pompa 6

l P

5 l

26

2 W

5. Pompa Mixer L F Densitas viskositas v 30 54,0511 822,518 0,1155 1,8268

m3/h kg/m3 kg/m.hr m/s

Menghitung Luasan Area

Menghitung ID

Menghitung Reynold Number e ID

Menghitung Heat Loss 2 2 2 ID


2

102

INSTITUT TEKNOLOGI SEPULUH NOPEMBER FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI JURUSAN TEKNIK KIMIA

Isolation valve CL = 2
2

Asumsi check valve


2

ID Asumsi Orifice Cd = 0,62 A0 = 0,4


2

5252 2

d2 Entrance Loss
2

5 Exit loss
2

2 P l

Menghitung kinerja pompa 6

l P

5 l

103

INSTITUT TEKNOLOGI SEPULUH NOPEMBER FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI JURUSAN TEKNIK KIMIA

6. Pompa Methanol L F Densitas Viskositas V 30 5,69424 798 0,00125 1,8268

m3/h kg/m3 kg/m.hr m/s

Menghitung Luasan Area

Menghitung ID

Menghitung Reynold Number e ID 25

Menghitung Heat Loss 2 2 2 ID


2

2 2

Isolation valve CL = 2
2

2265

Asumsi check valve

104

INSTITUT TEKNOLOGI SEPULUH NOPEMBER FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI JURUSAN TEKNIK KIMIA

ID Asumsi Orifice Cd = 0,62 A0 = 0,4


2

5252 2

d2 Entrance Loss
2

5 Exit loss
2

2 P l 6

Menghitung kinerja pompa 6

l P

5 l

66

55 6

55

105