Anda di halaman 1dari 1

Mimpi adalah kunci, untuk kita menaklukkan dunia

Mimpi, menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah sesuatu yang terlihat atau dialami dalam tidur; angan-angan. Sedangkan cita-cita adalah keinginan (kehendak) yg selalu ada di dl pikiran; tujuan yg sempurna (yg akan dicapai atau dilaksanakan). Saya sebenarnya kurang setuju jika sesuatu yang ingin kita raih itu disebut mimpi, karena mimpi yang selama ini saya tahu terjadi saat kita tertidur lelap dan hanya berupa bayang-bayang saat tidur. Dan juga, setelah kita terbangun, sebagian besar orang akan terlupa dengan mimpi yang dialaminya barusan. Apakah sesuatu yang ingin kita raih pantas kita lupakan begitu saja ketika kita terbangun? Bagi saya, sesuatu yang ingin kita raih lebih tepat jika disebu t sebagai cita-cita. Mendengar kata cita-cita serasa teringat oleh kalimat gapailah cita-citamu setinggi langit. Kalimat sederhana tetapi sangat mengandung makna di dalamnya. Sesuatu yang kita ingin kita raih seharusnya bukanlah hanya sekedar dalam angan-angan. Mereka harus tampak nyata, fokus, dan hebat. Mereka harus dapat kita gambarkan, seperti apakah sesuatu itu, seberapa besarkah sesuatu itu, dan bagaimana usaha kita untuk meraih sesuatu itu. Tentu semua hal itu tidak dapat kita lakukan saat kita tidur, bukan? Dari kecil, saya bukanlah orang yang mudah bercita-cita. Bisa dibilang juga, takut untuk bercita-cita dan saya iri terhadap orang yang memiliki cita-cita. Kenapa? Karena saya terlalu takut untuk jatuh dan kecewa, jika sesuatu yang saya inginkan tidaklah sama dengan sesuatu yang kita dapatkan. Dan juga, saya percaya takdir. Saya berfikir, toh, seberapa pun besar usaha saya, Allah telah mentakdirkan sesuatu, dan itu pasti yang terbaik untuk saya. Itu pun terjadi. Dalam kehidupan setiap orang, pastilah akan mengalami dimana mereka tidak diberikan pilihan, namun disodorkan sebuah keputusan. Kemudian apakah yang bisa kita perbuat? Buat apa kita bercita-cita dan berusaha ketika garis takdir telah ditentukan? Akan tetapi, setelah saya melihat, mendengar dan merasakan selama 18 tahun ini, kita memang tidak bisa mengubah takdir, tapi kita masih bisa berusaha, bagaimana takdir itu menjadi baik untuk kita. Allah itu Maha Adil, dan Allah itu tidak buta. Dia tahu mana yang terbaik untuk kita. Dia tahu hamba-Nya yang jujur dan sedang berusaha. Ketika saya masih di sekolah dasar, saya diajarkan sebuah ayat. Innallaha laa yughoyyiru maa biqawmin

hattaa yughoyyiruu maa bianfusihim. Waktu itu, saya hanya menghafalkan saja. Saya tahu akan artinya,
tapi saya baru memahami maknanya kini. Allah tidak akan merubah nasib suatu kaum, sampai mereka berusaha mengubah nasibnya sendiri. Subhanallah. Sebuah memori yang membuat mata saya terbuka, tidak ada usaha yang sia-sia. Meskipun kadang takdir berkehendak tidak sesuai dengan apa yang kita citacitakan, tetaplah berusahalah di jalan itu. Sebuah awal selalu akan sangat berat, terlebih-lebih jika dalam keterpaksaan. Tetapi sebuah penyesalan akan lebih berat, jika kita tidak memanfaatkan segala sesuatu yang kita punya saat ini.