Anda di halaman 1dari 7

Miopia atau bahasa inggris myopia berasal dari bahasa Yunani yang artinya Pandangan Dekat (, mupia, nearsightedness).

Ini karena kerusakan mata yang menghasilkan fokus pandangan di depan retina.(22) Penderita Miopia bisa melihat benda dari jarak dekat dengan jelas. Namun pada jarak jauh benda tampak kabur sehingga membuat kepala menjadi pusing. Jika seorang anak merasa pusing ketika melihat tulisan di papan tulis di ruangan kelasnya dan pandangannya kabur, kemungkinan dia menderita Miopia.(29) Prevalensi Di negara maju, persentase penduduk yang menderita miopia biasanya lebih tinggi. Di Amerika Serikat, sekitar 25% dari penduduk dewasa menderita miopia. Di Jepang, Singapura, dan Taiwan, persentasenya jauh lebih besar, yakni mencapai sekitar 44%.(1) Insiden miopia sering dalam populasi sampel bervariasi dengan usia, negara, jenis kelamin, ras, etnis, pekerjaan, lingkungan, dan faktor lainnya. Variabilitas dalam pengujian dan metode pengumpulan data membuat perbandingan prevalensi menjadi sangat sulit.(5) Sebuah studi baru-baru tahun pertama yang melibatkan mahasiswa sarjana di Inggris menemukan bahwa 50% dari kulit putih Inggris dan 53,4% dari Asia Inggris yang rabun.(8) Di Australia, secara keseluruhan prevalensi miopia (lebih buruk dari -0,50 dioptri) telah diperkirakan 17%.(9) Dalam sebuah studi baru-baru ini, kurang dari 1 dari 10 (8,4%) anakanak Australia berusia antara 4 dan 12 orang ditemukan memiliki miopia lebih besar dari 0,50 dioptri. Sebuah tinjauan baru-baru ini menemukan bahwa 16,4% orang Australia berusia 40 atau lebih memiliki minimal -1,00 dioptri dari miopia dan 2,5% memiliki setidaknya -5,00 dioptri.(11) Di Brazil, sebuah studi tahun 2005 diperkirakan bahwa 6,4% dari Brasil antara usia 12 dan 59 memiliki -1,00 diopter dari miopia atau lebih, dibandingkan dengan 2,7% dari orang-orang pribumi di barat laut Brasil.(13) Di Yunani, prevalensi miopia di antara 15-18 siswa tahun ditemukan untuk menjadi 36,8%.(14) Di India, prevalensi miopia pada populasi umum telah dilaporkan hanya 6,9%. Sebuah tinjauan baru-baru ini menemukan bahwa 26,6% dari Eropa Barat yang berusia 40 atau lebih memiliki minimal -1,00 dioptri dari miopia dan 4,6% memiliki setidaknya -5,00 dioptri.(35) Di Amerika Serikat, prevalensi miopia telah diperkirakan 20%(1). Hampir 1 dari 10 (9,2%) anak-anak Amerika yang berusia antara 5 dan 17 memiliki miopia(16). Sekitar 25% dari Amerika antara usia dari 12 dan 54 memiliki kondisi(17). Sebuah tinjauan baru-baru ini

menemukan bahwa 25,4% orang Amerika berusia 40 atau lebih memiliki minimal -1,00 dioptri dari miopia dan 4,5% memiliki setidaknya -5,00 dioptri.(11) Diperkirakan penderita Miopia antara 800 juta hingga 2,3 milyar (ini karena jarang ada yang merasa menderita Miopia)(3). Di negara-negara seperti Cina, India, dan Malaysia, 41% dari orang dewasa menderita Miopia hingga -1.00.(6,7) Di Indonesia prevalensi kelainan refraksi menempati urutan pertama pada penyakit mata. Kasus kelainan refraksi dari tahun ke tahun terus mengalami peningkatan. Ditemukan jumlah penderita kelainan refraksi di Indonesia hampir 25% populasi penduduk atau sekitar 55 juta jiwa.(39) Beberapa Bentuk Miopia Dikenal beberapa bentuk miopia seperti : 1. Miopia refraktif, bertambahnya indeks bias media penglihatan seperti terjadi pada katarak intumesen dimana lensa menjadi lebih cembung sehingga pembiasan lebih kuat. Sama dengan miopia bias atau miopia indeks, miopia yang terjadi akibat pembiasan media penglihatan kornea dan lensa yang terlalu kuat. 2. Miopia aksial, miopia akibat panjangnya sumbu bola mata, dengan kelengkungan kornea dan lensa yang normal. Menurut derajat beratnya miopia dibagi dalam: 1. Miopia ringan, dimana miopia kecil daripada 1-3 dioptri. 2. Miopia sedang, dimana miopia lebih antara 3-6 dioptri. 3. Miopia berat atau tinggi, dimana miopia lebih besar dari 6 dioptri. 4. Miopia sangat berat, diatas 10 dioptri. Menurut perjalanan miopia dikenal bentuk : 1. Miopia stasioner, miopia yang menetap setelah dewasa. 2. Miopia progresif, miopia yang bertambah terus pada usia dewasa akibat bertambah panjangnya bola mata. 3. Miopia maligna, miopia yang berjalan progresif, yang dapat mengakibatkan ablasio retina dan kebutaan atau sama dengan miopia pernisiosa atau miopia degeneratif. Pembagian berdasar kelainan jaringan mata:

a. Miopia Simpleks tahun. Berat kelainan refraktif biasanya kurang dari -5 D atau -6 D. Dimulai pada usia 7-9 tahun dan akan bertambah sampai anak berhenti tumbuh + 20

b. Miopia progresif Miopia bertambah secara cepat (-4 Dioptri / tahun). Sering disertai perubahan vitreo-retina. Biasanya terjadi bila miopia lebih dari -6 D.

Menurut tipe (bentuknya) miopia dikenal beberapa bentuk : 1. Miopia Axial, miopia akibat diameter sumbu bola mata (diameter antero-posterior) > panjang. Dalam hal ini, terjadinya myopia akibat panjang sumbu bola mata (diameter Antero-posterior), dengan kelengkungan kornea dan lensa normal, refraktif power normal dan tipe mata ini lebih besar dari normal. 2. Miopia Kurvartura, diakibatkan oleh perubahan dari kelengkungan kornea & kelengkungan lensa. Dalam hal ini terjadinya myopia diakibatkan oleh perubahan dari kelengkungan kornea atau perubahan kelengkungan dari pada lensa seperti yang terjadi pada katarak intumesen dimana lensa menjadi lebih cembung sehingga pembiasan lebih kuat, dimana ukuran bola mata norma 3. Miopia Indeks Refraksi, bertambahnya indeks bias media penglihatan. Perubahan indeks refraksi atau myopia refraktif, bertambahnya indeks bias media penglihatan seperti yang terjadi pada penderita Diabetes Melitus sehingga pembiasan lebih kuat. 4. Perubahan posisi lensa, pergerakan lensa yang lebih ke anterior. setelah operasi glaucoma berhubungan dengan terjadinya miopia.(29) Pada miopia degeneratif atau miopia maligna bila lebih dari 6 dioptri disertai kelainan pada fundus okuli dan panjangnya bola mata sampai terbentuk stafiloma postikum yang terletak pada bagian temporal papil disertai dengan atrofi korioretina. Atrofi retina berjalan kemudian setelah terjadinya atrofi sklera dan kadang-kadang terjadi ruptur membran Bruch yang dapat menimbulkan rangsangan untuk terjadinya neovaskularisasi subretina. Pada miopia dapat

terjadi bercak Fuch berupa hiperplasi pigmen epitel dan perdarahan, atrofi lapis sensoris retina luar, dan dewasa akan terjadi degenerasi papil saraf optik.(29,30)

Referensi 1. Verma A, Singh D. Myopia, Phakic IOL. eMedicine.com. August 19, 2005. 2. Morgan I, Rose K (January 2005). How genetic is school myopia?. Prog Retin Eye Res 24 (1): 138. doi:10.1016/j.preteyeres.2004.06.004. PMID 15555525. 3. Dunaway D, Berger I. Worldwide Distribution of Visual Refractive Errors and What to Expect at a Particular Location. Retrieved August 31, 2006. 4. Fredrick DR (May 2002). Myopia. PMID BMJ 324 (7347): 11959. PMC

doi:10.1136/bmj.324.7347.1195.

12016188.

1123161. http://bmj.com/cgi/pmidlookup?view=long&pmid=12016188. > 5. National Research Council Commission. Myopia: Prevalence and Progression. Washington, D.C. : National Academy Press, 1989. ISBN 0-309-04081-7 6. Chandran S, Comparative study of refractive errors in West Malaysia, J Brit Ophthalmol 1972; 56: 492495, and 7. Wu HM, et al. Does education explainethnic differences in myopia prevalence? A population-based study of young adult males in Singapore. Optom Vis Sci 2001;78:234239 8. Logan NS, Davies LN, Mallen EA, Gilmartin B (April 2005). Ametropia and ocular biometry in a U.K. university student population. Optom Vis Sci 82 (4): 2616.

doi:10.1097/01.OPX.0000159358.71125.95. PMID 15829853. http://meta.wkhealth. com/pt/ptcore/templatejournal/lwwgateway/media/landingpage.htm?issn=10405488&v olume=82&issue=4&spage=261. 9. Wensor M, McCarty CA, Taylor HR (May 1999). Prevalence and risk factors of myopia in Victoria, Australia. Arch. Ophthalmol. 117 (5): 65863. PMID 10326965.

10. Junghans BM, Crewther SG (2005). Little evidence for an epidemic of myopia in Australian primary school children over the last 30 years. BMC Ophthalmol 5: 1. doi:10.1186/1471-2415-5-1. PMID 15705207. PMC

552307. http://www.biomedcentral.com/1471-2415/5/1. 11. Kempen JH, Mitchell P, Lee KE, Tielsch JM, Broman AT, Taylor HR, Ikram MK, Congdon NG, OColmain BJ (April 2004). The prevalence of refractive errors among adults in the United States, Western Europe, and Australia. Arch. Ophthalmol. 122 (4): 495505. doi:10.1001/archopht.122.4.495. PMID 15078666. 12. Thorn F, Cruz AA, Machado AJ, Carvalho RA (April 2005). Refractive status of indigenous people in the northwestern Amazon region of Brazil. Optom Vis Sci 82 (4): 267 72. doi:10.1097/01.OPX.0000159371.25986.67. PMID

15829854.http://meta.wkhealth.com/pt/ptcore/templatejournal/lwwgateway/media/landingpa ge.htm?issn=1040-5488&volume=82&issue=4&spage=267. 13. Garcia CA, Orfice F, Nobre GF, Souza Dde B, Rocha ML, Vianna RN (2005). Prevalence of refractive errors in students in Northeastern Brazil. (in Portuguese). Arq Bras Oftalmol 68 (3): 3215. doi:/S0004-27492005000300009. PMID

16059562. http://www.scielo.br/scielo.php?script=sci_arttext&pid=S000427492005000300009&lng=en&nrm=iso&tlng=en. 14. Mavracanas TA, Mandalos A, Peios D, et al. (December 2000). Prevalence of myopia in a sample of Greek students. Acta Ophthalmol Scand 78 (6): 6569. doi:10.1034/j.16000420.2000.078006656.x. PMID 11167226. http://www3.

interscience.wiley.com/resolve/openurl?genre=article&sid=nlm:pubmed&issn=13953907&date=2000&volume=78&issue=6&spage=656. 15. Mohan M, Pakrasi S, Zutshi R (1988). Myopia in India. Acta Ophthalmol Suppl 185: 1923. PMID 2853533. 16. Kleinstein RN, Jones LA, Hullett S, et al. (August 2003). Refractive error and ethnicity in children. Arch. Ophthalmol. 121 (8): 11417. doi:10.1001/archopht.121.8.1141. PMID 12912692. 17. Sperduto RD, Seigel D, Roberts J, Rowland M (March 1983). Prevalence of myopia in the United States. Arch. Ophthalmol. 101 (3): 4057. PMID 6830491. 18. Mallen EA, Gammoh Y, Al-Bdour M, Sayegh FN (July 2005). Refractive error and ocular biometry in Jordanian adults. Ophthalmic Physiol Opt 25 (4): 3029. doi:10.1111/j.1475-1313.2005.00306.x. PMID 15953114. http://www3.

interscience.wiley.com/resolve/openurl?genre=article&sid=nlm:pubmed&issn=02755408&date=2005&volume=25&issue=4&spage=302. 19. Kleinstein, RN; Jones LA, Hullett S, Kwon S, Lee RJ, Friedman NE, Manny RE, Mutti DO, Yu JA, Zadnik K (2003). Refractive error and ethnicity in children. Arch. Ophthalmol. 121 (8): 11411147. doi:10.1001/archopht.121.8.1141. PMID 12912692. 20. SL, Beedle; Young FA (1976). Values, personality, physical characteristics, and refractive error. Am J Optom Physiol Opt. 53 (11): 735

9. http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/998715. 21. Mutti, Donald O.; G. Lynn Mitchell, Melvin L. Moeschberger, Lisa A. Jones, and Karla Zadnik (2002). Parental Myopia, Near Work, School Achievement, and Childrens Refractive Error. Investigative Ophthalmology & Visual Science 43 (12). 22. Online Etymology Dictionary. http://www.etymonline.com/index.php?term=myopia. 23. Benvenuto, Ananta Fittonia . 2009. Anatomi Mata. http://doctorology.net/? page_id=112. Pebruari 2010. 24. Bintang, Nasrul. 2008. Miopia. http://nasrulbintang.wordpress.com/definisi-miopia-

astigmat-hipermetropy-dan-presbiopy/. Pebruari 2010. 25. Brian J, Curtin. 1985. Basic Science and Clinical Management. The Myopias. Harper & Row, Publishers, Philadelphia, Cambridge, London, New York, Mexico City, Hagerstown, Sao Paolo, San Francisco, Sydney. 26. Farmacia. 2007. LASIK Baru untuk Problem Mata Berbeda. http://www.majalahfarmacia.com/rubrik/one_finenews.asp?IDNews=72. Pebruari 2010. 27. Goss, David A. 2006. Optometric Clinical Practice Guideline Care of The Patient With Myopia. St. Louis. American Optometric Association. 28. Harris, Paul. 2005. Management of Myopia. Optometric Extension Program Foundation (OEPF).http://www.oepf.org/Presentations/Management%20of%20 Myopia.pdf. 2010. 29. Ilyas, Sidarta. 2009. Ilmu Penyakit Mata. Edisi Ke-III. Jakarta: Balai Penerbit FKUI. 30. James, Bruce. 2006. Lecture Notes Oftalmologi. Edisi 9. Jakarta. Erlangga Medical Press. 31. Nature Publishing Group. 2009. Intravitreal Injection of Bevacizumab for Myopic Choroidal Neovascularization: Results. Medscape. http://www.medscape.com. Pebruari 2010. 32. Sativa, Oriza. 2003. Tekanan Intraokular Pada Penderita Myopia Ringan Dan Sedang. Bagian Ilmu Penyakit Mata Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara. Pebruari

33. Saw, Seang-Mei Saw. 1996. Epidemiology of Myopia. The Johns Hopkins University School of Hygiene and Public Health. Epidemiol Rev Vol. 18, No. 2, 1996. 34. Schmid, Klaus. 2004. Myopia Manual an impartial documentation of all the reasons, therapies and recommendations summary of scientific publications, status February 2009, printed version ISBN 158961271X (2004). http://www.myopia-manual.de/. Pebruari 2010. 35. Tiharyo, Imam. 2007. Pertambahan Miopia Pada Anak Sekolah Dasar Perkotaan Dan Pedesaan Di Yogyakarta. Karya Akhir. Program Studi Ilmu Kedokteran Klinik Minat Utama Ilmu Penyakit Mata. Program Pasca Sarjana Universitas Gadjah Mada Yogyakarta. 36. Vaughan, Daniel G. 2000. Oftalmologi Umum (General Ophtalmology). Edisi 14. Alih bahasa oleh dr. Jan Tambajong. Jakarta: Widya Medika. 37. Yani, Ahmad Dwi. 2010. Kelainan Refraksi Dan Kacamata. Surabaya Eye

Clinic. http://www.surabaya-eye-clinic.com. Pebruari 2010. 38. American Journal of Ofthalmologi. 2010. LASIK Works Well, According to Long-Term Study of Highly Myopic Patients. http://www.ajo.com/. Pebruari 2010. 39. Suharjo. 2006. Penanganan Glaucoma dan Miopia Dengan Teknologi

Laser. http://www.ugm.ac.id, Pebruari 2010. 40. Dr Andrew Fink MD. 2006. What Causes Myopia? Couldnt My Parents Have Prevented It?.http://eyedoctor.homestead.com/Myopia.html. Maret 2006.