Anda di halaman 1dari 13

Jurnal Agrisistem, Desember 2009, Vol. 5 No.

ISSN 1858-4330

PRODUKSI TANAMAN KARET PADA PEMBERIAN STIMULAN ETEPHON


LATEX PRODUCTION IN RELATION TO ETEPHON APPLICATION Nasaruddin dan Deasy Maulana Jurusan Budidaya Tanaman Faperta Unhas Jl. Perintis Kemerdekaan KM 10 Tamalanrea, Makassar

ABSTRAK Penelitian ini dilaksanakan di perkebunan karet PT. PP London Sumatra, Balombissie Estate, Bulukumba yang berlangsung mulai Februari sampai April 2009. Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari pengaruh stimulan etephon terhadap produksi tanaman karet jika diberikan stimulan etephon dengan dosis yang berbeda. Praktik lapang ini dilaksanakan dalam bentuk percobaan berdasarkan rancangan acak lengkap. Pemberian etephon dilakukan sebanyak dua kali yaitu pemberian etephon pertama dilakukan tanggal 20 Februari 2009 dan pemberian etephon kedua tanggal 20 Maret 2009. Dengan lima ulangan dimana perlakuannya terdiri dari satu faktor dengan 5 taraf yaitu: kontrol (tanpa pemberian etephon), pemberian etephon dosis 0,3 cc pohon-1, pemberian etephon dosis 0,6 cc pohon-1, pemberian etephon dosis 0,9 cc pohon-1 dan pemberian etephon dosis 1,2 cc pohon-1 pada klon karet RRIM 600 dan klon PB 260. Hasil penelitian menunjukkan untuk klon PB 260 pada dosis 0,9 cc pohon-1 pada komponen lateks yang terbentuk 628 g (pemberian bulan pertama) dan 776 g (pemberian bulan kedua), lump yang terbentuk 120 g (pemberian bulan pertama) 128 g (pemberian bulan kedua). Untuk kadar karet kering hasil terbaik ditunjukkan pada tanaman kontrol yakni 29,40% (pemberian bulan pertama) dan 30% (pemberian bulan kedua). Kata kunci: Karet, stimulan stephon.

ABSTRACT This research was executed at rubber plantation PT's PP is Sumatra's London, Balombissie Estate, Bulukumba. Starting from February until April 2009. This research intent to study the effect of stimulan etephon's as stimulan on latex production under various dosage. The treatment was arranged in completely randomized design. Etephon's application is done as much two-time which is application etephon first done on 20 February 2009 and etephon's second applications on 20 March 2009. With five replication, where treatment consisted one factors with 5 levels i.e: control (without application etephon), etephon's application dose 0,3 cc plant-1, etephon's application dose 0,6 cc plant-1, etephon's application dose 0,9 cc plant-1 and etephon's application dose 1,2 cc plant-1 on RRIM'S 600 rubber clone and PB's 260 clones. On the other side PB's 260 clone on dose 0,9 cc plant-1 latex component 628 g (first application) and 776 g (second application), lump 120 g (first application) 128 g (second application). Highest dry rubber was on control's plant namely 29,40% (first application) and 30% (second application). Keywords: Rubber, stimulan stephon.

89

Jurnal Agrisistem, Desember 2009, Vol. 5 No. 2

ISSN 1858-4330

PENDAHULUAN Perekonomian Indonesia akan mendapat tekanan yang cukup berat sebagai imbas dari ancaman penurunan pertumbuhan ekonomi dunia akibat krisis keuangan. Penurunan pertumbuhan ekonomi di negaranegara industri memberikan tekanan yang cukup besar terhadap kinerja ekspor komoditas, namun diharapkan dengan pangsa pasar yang cukup besar dan adanya perbaikan perekonomian dunia dalam 2 3 tahun ke depan, ekspor komoditas masih tetap menjadi tumpuan perekonomian dalam jangka panjang. Adapun kinerja ekspor komoditas pertanian menunjukkan pertumbuhan yang cukup baik khususnya hasil-hasil perkebunan. Salah satu komoditas yang selama ini menjadi andalan ekspor adalah tanaman karet (Anonim, 2008a). Tanaman karet berasal dari bahasa latin Hevea yang berasal dari Negara Brazil. Karet merupakan kebutuhan vital bagi kehidupan manusia sehari-hari, hal ini terkait dengan mobilitas manusia dan barang yang memerlukan komponen yang terbuat dari karet seperti ban kendaraan, conveyor belt, sabuk transmisi, dock fender, sepatu dan sandal karet (Anwar, 2006). Karet merupakan salah satu komoditas pertanian di Indonesia. Komoditas ini dibudidayakan relatif lebih lama daripada komoditas perkebunan lainnya. Tanaman ini di introduksi pada tahun 1864. Dalam kurun waktu sekitar 150 tahun sejak dikembangkan pertama kalinya, luas areal perkebunan karet di Indonesia telah mencapai 3.262.291 hektar. Dari total area perkebunan di Indonesia tersebut 84,5% milik perkebunan rakyat, 8,4% milik swasta, dan hanya 7,1% merupakan milik negara (Heru dan Andoko, 2008). Karet merupakan komoditi ekspor yang mampu memberikan konstribusi di dalam upaya peningkatan devisa Indonesia. Eks-

por karet selama 20 tahun terakhir terus menunjukkan adanya peningkatan dari 1.0 juta ton pada tahun 1985 menjadi 1.3 juta ton pada tahun 1995 dan 1.9 juta ton pada tahu 2004. Pendapatan devisa dari komoditi ini pada tahun 2004 mencapai US$ 2.25 milyar, yang merupakan 5% dari pendapatan Negara (Anwar, 2006). Khusus di Provinsi Sulawesi Selatan salah satu daerah penghasil karet adalah Kabupaten Bulukumba. Daerah ini mempunyai kesesuaian lahan, iklim, dan topografi yang cocok untuk pertumbuhan tanaman karet. Posisi Kabupaten Bulukumba di jazirah selatan Provinsi Sulawesi Selatan, yang secara geografis wilayahnya berada pada 5,20 5,40 LS dan antara 119,58 120,28 BT dengan batas wilayah meliputi sebelah selatan dengan Kabupaten Selayar dan Laut Flores, sebelah Utara dengan Kabupaten Sinjai, Sebelah Timur dengan Teluk Bone, dan sebelah barat dengan Kabupaten Bantaeng (Anonim, 2007). Pada tahun 2006 luas areal tanaman karet di Sulawesi mencapai 19,475.00 ha dengan ketersediaan lahan di kabupaten Bulukumba 19,390 ha, produksi sekitar 7,958.00 ton sedangkan produktivitas yang dicapai sekitar 1.256,89 kg ha-1 (Anonim, 2007). Tanaman karet khusus PT. PP London Sumatra Indonesia divisi Balombissie Estate pada tahun 2007 sekitar 1.784,94 kg karet kering ha-1 dan produksi 3097 ton karet kering, dengan produksi 1,74 ton ha-1 (Anonim 2009). Hasil tanaman karet yang diambil berupa produksi lateks. Produksi lateks dari tanaman karet disamping ditentukan oleh keadaan tanah dan pertumbuhan tanaman, klon unggul, juga dipengaruhi oleh teknik dan manajemen penyadapan. Selama ini usaha peningkatan produksi lateks dilaksanakan melalui berbagai usaha antara lain melaksanakan teknis budidaya yang baik seperti menanam klon unggul, pemupukan dengan dosis yang tepat dan

90

Jurnal Agrisistem, Desember 2009, Vol. 5 No. 2

ISSN 1858-4330

teratur, sistem penanaman dan pemeliharaan yang baik dan sebagainya. Dalam dua sampai tiga dasa warsa terakhir ini telah dikembangkan pula penggunaan stimulan. Penggunaan stimulan bertujuan untuk menggenjot produksi lateks tanaman dan memperpanjang masa pengaliran lateks karet. Stimulan adalah suatu campuran yang terdiri dari minyak nabati (misalnya minyak kelapa sawit) dengan gemuk alami (disebut carrier stimulan) dan hormon atau bahan aktif lainnya (Setyamidjaja, 1993). Stimulasi lateks umumnya dilaksanakan pada tanaman karet yang telah dewasa dengan tujuan untuk mendapatkan kenaikan hasil lateks sehingga diperoleh tambahan keuntungan bagi pengusaha perkebunan karet. Pemberian stimulan tanpa menurunkan intensitas sadapan akan berpengaruh terhadap pertumbuhan tanaman, terutama tanaman yang masih muda. Karenanya tanaman karet hanya bisa dipacu produksinya dengan stimulan jika telah berumur 15 tahun atau 10 tahun jika disadap dengan intensitas rendah (Setyamidjaja, 1993). Bahan perangsang yang biasa dipakai untuk perangsangan dengan cara oles adalah stimulan berbahan aktif ethepon dengan berbagai merek dagang seperti Ethrel, ELS dan Cepha. Bahan aktif ini mengeluarkan gas etilen yang jika diaplikasikan akan meresap ke dalam pembuluh lateks. Di dalam pembuluh lateks gas tersebut menyerap air dari sel-sel yang ada di sekitarnya. Penyerapan air ini menyebabkan tekanan turgor naik yang diiringi dengan derasnya aliran lateks. Aplikasi stimulan pada tanaman karet, tidak semua memberikan respons yang diharapkan. Hal ini tergantung pada masing-masing klon karet. Menurut Heru dan Andoko (2006), sebagai ukuran jika kadar karet kering lateks lebih kecil dari 30% dengan pemberian stimulan artinya responnya terhadap stimulan kurang berarti.

Sehingga perlu diketahui jenis-jenis klon yang mempunyai respon yang baik terhadap stimulan berupa zat perangsang tumbuh ethrel yang berbahan aktif ethepon. Berdasarkan uraian yang telah dikemukakan maka dilakukan praktik lapang untuk mengetahui produksi dua klon karet terhadap pemberian berbagai dosis stimulan etephon.

BAHAN DAN METODE Penelitian ini dilaksanakan di perkebunan PT. PP London Sumatra Indonesia Tbk, Divisi Balombissie Estate Kelurahan Tanete, Kecamatan Bulukumpa, Kabupaten Bulukumba, Sulawesi Selatan. Penelitian ini berlangsung dari bulan Februari sampai April 2009. Percobaan ini dilaksanakan dalam bentuk percobaan Rancangan gabungan dalam rancangan acak lengkap. Yang jika sidik ragam gabungannya tidak homogen maka dihomogenkan dengan indicator Fhomogen = Nilai KTgalat terbesar dibagi dengan nilai KTgalat terkecil. Pemberian etephon dilakukan sebanyak dua kali yaitu pemberian etephon pertama dilakukan tanggal 20 Februari 2009 dan pemberian etephon kedua tanggal 20 Maret 2009 Pada penelitian ini terdiri 5 perlakuan yang dicobakan pada Klon RRIM 600 dan Klon PB 260. Setiap perlakuan terdiri 5 ulangan dan setiap perlakuan digunakan 5 tanaman sehingga terdapat 125 unit tanaman Perlakuan yang dicobakan pada setiap klon adalah : - e0 = 0 cc klon-1 (0 cc pohon-1) - e1 = 7,5 cc klon-1 (0,3 cc pohon-1) - e2 = 15 cc klon-1 ( 0,6 cc pohon-1) - e3 = 22,5 cc klon-1 (0,9 cc pohon-1) - e4 = 30 cc klon-1 ( 1,2 cc pohon-1) Penelitian ini dimulai dengan penentuan pohon karet yang akan dijadikan sampel. 91

Jurnal Agrisistem, Desember 2009, Vol. 5 No. 2

ISSN 1858-4330

Pohon karet yang digunakan adalah pohon karet dengan sistem sadap normal (1/2 lilitan). Kemudian penempelan label pada pohon sampel. Pengenceran pada etephon yakni dengan mencampur ethrel konsentrasi 10% dengan air dengan perbandingan 3 : 1 menjadi konsentrasi 2,5 % kemudian mengambil spoit ukuran untuk mengukur dosis tersebut juga diberikan pada klon RRIM 600 dan klon PB 260, kemudian memasukkan dalam 4 wadah plastik untuk selanjutnya diaplikasikan. Pengaplikasian stimulan etephon dilakukan sehari setelah tanaman sampel di deres agar stimulan yang dioleskan meresap optimal masuk kedalam pembuluh lateks. Aplikasi dilakukan pada pagi hari untuk menghindari suhu udara (temperatur) dan penguapan air yang terlalu tinggi dan menggunakan sistem scrapping aplication yakni stimulan dioleskan menggunakan kuas kecil sesuai dengan dosis yang ditentukan. Aplikasi etephon dilakukan di awal pengamatan dan dilakukan lagi pada bulan kedua. Parameter pengamatan adalah sebagai berikut : 1. Lateks yang keluar (gram), yang dihitung setiap 3 hari sekali. 2. Lump yang terbentuk (gram), yang dihitung setiap 2 hari setelah pengambilan lateks. 3. Kadar karet kering (%) yang diukur 3 hari sekali, bersamaan dengan pengukuran lateks.

dengan dengan dosis etephon 0,6 cc pohon-1 (e2) dan 1,2 cc pohon-1 (e4). Sidik ragam gabungan menunjukkan bahwa hubungan dosis etephon dengan lateks yang keluar bersifat kuadratik, dan pengaruh dosis etephon tidak berbeda nyata dua klon tanaman karet. Hubungan antara dosis etephon dengan lateks yang keluar pada bulan pertama pada dua klon tanaman karet yang berbeda disajikan pada Gambar 1. Gambar 2 menunjukkan bahwa pengaruh dosis etephon terhadap lateks yang keluar dari pohon karet bersifat kuadratik. Dosis etephon maksimum pada klon RRIM 600 adalah 0,7646 cc pohon-1 yang menghasilkan lateks sebanyak 683,143 g (rklon I = 0.9975**), sedangkan pada Klon PB 260 dosis etephon maksimum adalah 0,8178 cc pohon-1 yang menghasilkan lateks sebanyak 709,076 g (rklon II = 0.8978*). Lump Tabel 1 menunjukkan dosis etephon 0,9 cc pohon-1 (e3) menghasilkan rata-rata lump yang terbentuk tertinggi pada klon RRIM 600 (58,00 g) dan sangat berbeda nyata dibandingkan dengan dosis etephon 0 cc pohon-1 (e0) dan 0,3 cc pohon-1 (e1) tetapi tidak berbeda nyata dengan dengan dosis etephon 0,6 cc pohon-1 (e2) dan 1,2 cc pohon-1 (e4). Demikian pula pada klon PB 260, dosis etephon 0,9 cc pohon-1 (e3) menghasilkan rata-rata lump yang terbentuk tertinggi (120,00 g) dan berbeda nyata dibandingkan dengan dosis etephon 0 cc pohon-1 (e0) dan 0,3 cc pohon-1 (e1) tetapi tidak berbeda nyata dengan dengan dosis etephon 0,6 cc pohon-1 (e2) dan 1,2 cc pohon-1 (e4). Sidik ragam gabungan II menunjukkan bahwa hubungan dosis etephon dengan lump yang terbentuk pada bersifat linear dan pengaruh dosis etephon berbeda nyata terhadap dua klon. Hubungan antara dosis etephon dengan lump yang terbentuk pada

HASIL DAN PEMBAHASAN Lateks Pada Tabel 1 menunjukkan bahwa dosis etephon 0,9 cc pohon-1 (e3) menghasilkan rata-rata lateks yang keluar tertinggi pada klon RRIM 600 (654,00 g) dan sangat berbeda nyata dibandingkan dengan dosis etephon 0 cc pohon-1 (e0) dan 0,3 cc pohon-1 (e1) tetapi tidak berbeda nyata 92

Jurnal Agrisistem, Desember 2009, Vol. 5 No. 2

ISSN 1858-4330

bulan pertama pada dua klon tanaman karet yang berbeda disajikan pada Gambar 3. Gambar 3 menunjukkan bahwa pengaruh dosis etephon terhadap lump yang terbentuk pada pohon karet pada bersifat linear artinya semakin tinggi dosis etephon yang diberikan akan semakin me-

ningkatkan lump yang terbentuk. Setiap penambahan 0,1 cc dosis etephon pada klon RRIM 600 akan menghasilkan lump 10,333 g (rklon I = 0.6011), sedangkan pada klon PB 260 dengan setiap penambahan 0,1 cc dosis etephon akan menghasilkan lump 22 g (rklon II = 0.8909*).

700.00 600.00
Lateks (g)

700.00 600.00
Lateks (g)

500.00 400.00 300.00 200.00 100.00 0 0.3 0.6 0.9 1.2 1.5 y = 323.49 + 543.43x - 298.41x r = 0.8742
tn 2

500.00 y = 424.74 + 435.71x - 271.43x 400.00 300.00 0 0.3 0.6 0.9 r = 0.9625**

1.2

1.5

(1a)

-1 Dosis Etephon (cc pohon ) Dosis Ethreel (cc pohon-1)

(1b)

Dosis Etephon Dosis Ethreel (cc (cc pohon )

-1 -1 pohon )

Gambar 1. Hubungan rata rata lateks yang keluar dari pohon karet dengan dosis etephon klon RRIM 600 (a) dan PB 260 (b) pada bulan pertama.

700.00
Lateks (g)
Lateks (g)

800.00 700.00
y = 452.17 + 606.86x - 396.83x r = 0.9975**
2

600.00 500.00 400.00 300.00 0 0.3 0.6 0.9


-1

600.00 500.00 400.00 300.00 y = 479.49 + 560.76x - 342.86x r = 0.8978*


2

1.2
-1

1.5

0.3

0.6

0.9

1.2
-

1.5

(2a)

Dosis Etephon pohon Dosis Ethreel (cc (cc pohon ) )

(2b)

-1 Dosis Etephon (cc pohon Dosis Ethreel (cc pohon ) 1 )

Gambar 2. Hubungan rata-rata lateks yang keluar dari pohon karet dengan dosis etephon klon RRIM 600 (a) dan PB 260 (b) pada bulan kedua.

93

Jurnal Agrisistem, Desember 2009, Vol. 5 No. 2

ISSN 1858-4330

Tabel 1. Rata-rata lateks yang keluar, lump yang terbentuk dan kadar karet kering pada tanaman karet klon RRIM 600 dan klon PB 260
Rata-rata lateks (g) yang keluar bulan pertama
Klon RRIM 600

Perlakuan
Dosis etephon 0 cc pohon-1 (e0) 0,3 cc pohon-1 (e1) 0,6 cc pohon-1 (e2) 0,9 cc pohon-1 (e3) 1,2 cc pohon-1 (e4) NP BNT0,01/0,05

Rata-rata lateks (g) yang keluar bulan kedua


Klon RRIM 600 Klon PB 260

Rata-rata lump (g) yang terbentuk bulan pertama


Klon RRIM 600 Klon PB260

Rata-rata lump (g) yang terbentuk bulan kedua


Klon RRIM 600 Klon PB 260

Rata-rata kadar karet kering (%) yang terbentuk bulan pertama


Klon RRIM 600 Klon PB 260

Rata-rata kadar karet kering (%) yang terbentuk bulan kedua


Klon RRIM 600 Klon PB 260

354,00c 406,00bc 520,00ab 654,00a 508,00abc 212,7569

452,00b 596,00ab 682,00a 668,00a 612,00a 154,2497

490,00c 612,00bc 644,00ab 776,00a 632,00b 140,4971

37,00c 43,00bc 52,00ab 58,00a 45,00abc 13,4642

92,00c 98,00bc 112,00ab 120,00a 114,00ab 19,1262

58,00c 70,00bc 92,00ab 106,00a 80,00abc 27,7705

86,00b 106,00ab 116,00a 128,00a 108,00ab 28,5282

30,00a 29,60ab 28,20bc 27,60c 29,40ab 1,6089

29,40a 28,40ab 28,00abc 26,60c 27,40bc 1,7300

31,80a 30,40ab 28,60bc 27,20c 29,00bc 1,8005

30,00a 29,20ab 27,00b 27,00b 27,60ab 2,5729

Keterangan : Angka-angka yang diikuti oleh huruf yang sama berarti tidak berbeda nyata pada taraf uji BNT

=0,05/0,01

94

Jurnal Agrisistem, Desember 2009, Vol. 5 No. 2

ISSN 1858-4330

140.00 120.00 100.00 80.00 60.00 40.00 20.00 0.00 0

y klon II = 94 + 22x , r = 0.8909*

Lump (g)

y klon I = 40.8 + 10.333x , r = 0.6011

tn

0.3

0.6

0.9
-1 -1

1.2

Dosis Etephon (cc pohon Dosis Ethreel (cc pohon ) )

Keterangan :

= Klon I

= Klon II

Gambar 3. Hubungan rata-rata lump yang terbentuk pada pohon karet dengan dosis etephon klon RRIM 600 dan klon PB 260 pada bulan pertama

Pada Tabel 4 menunjukkan bahwa dosis etephon 0,9 cc pohon-1 (e3) menghasilkan rata-rata lump yang terbentuk tertinggi pada klon RRIM 600 (106,00 g) dan sangat berbeda nyata dibandingkan dengan dosis etephon 0 cc pohon-1 (e0) dan 0,3 cc pohon-1 (e1) tetapi tidak berbeda nyata dengan dengan dosis etephon 0,6 cc pohon-1 (e2) dan 1,2 cc pohon-1 (e4). Demikian pula pada klon PB 260, dosis etephon 0,9 cc pohon-1 (e3) menghasilkan rata-rata lump yang terbentuk tertinggi (128,00 g) dan sangat berbeda nyata dibandingkan dengan dosis etephon 0 cc pohon-1 (e0), tetapi tidak berbeda nyata dengan dengan dosis etephon 0,3 cc pohon-1 (e1), 0,6 cc pohon-1 (e2) dan 1,2 cc pohon-1 (e4). Sidik ragam gabungan menunjukkan bahwa hubungan dosis etephon dengan lump yang terbentuk bersifat kuadratik, pengaruh dosis etephon tidak berbeda nyata terhadap dua klon. Hubungan antara dosis etephon dengan lump yang terbentuk pada bulan kedua pada dua klon tanaman karet yang berbeda disajikan pada Gambar 4. Gambar 4 menunjukkan bahwa pengaruh dosis etephon terhadap lump yang terbentuk pada pohon karet bersifat kuadratik.

Dosis etephon maksimum pada klon RRIM 600 adalah 0,80 cc pohon-1 yang menghasilkan lump 95,861 g (rklon I = 0.9050*), sedangkan pada klon PB 260 dosis etephon maksimum adalah 0,777 cc pohon-1 yang menghasilkan lump 121,897 g (rklon II = 0.9577*). Kadar Karet Kering (DRC) Tabel 5 menunjukkan bahwa pemberian dosis etephon 0,9 cc pohon-1 (e3) menghasilkan rata-rata kadar karet kering terendah pada klon RRIM 600 (27,60 %) dan berbeda nyata dibandingkan dengan dosis etephon 0 cc pohon-1 (e0), 0,3 cc pohon-1 (e1) dan 0,6 cc pohon-1 (e2) tetapi tidak berbeda nyata dengan dengan dosis etephon dan 1,2 cc pohon-1 (e4). Demikian pula pada klon PB 260, dosis etephon 0,9 cc pohon-1 (e3) menghasilkan rata-rata kadar karet kering terendah (26,60%) berbeda nyata dibandingkan dengan dosis etephon 0 cc pohon-1 (e0) dan 0,3 cc pohon-1 (e1), tetapi tidak berbeda nyata dengan dengan dosis etephon 0,6 cc pohon-1 (e2) dan 1,2 cc pohon-1 (e4). Sidik ragam gabungan menunjukkan bahwa hubungan dosis etephon dengan kadar karet kering yang terbentuk bersifat 95

Jurnal Agrisistem, Desember 2009, Vol. 5 No. 2

ISSN 1858-4330

kuadratik dan pengaruh dosis etephon tidak berbeda nyata terhadap dua klon pada. Hubungan antara dosis etephon dengan kadar karet kering yang terbentuk pada bulan pertama pada dua klon tanaman karet yang berbeda disajikan pada Gambar 5. Gambar 5 menunjukkan bahwa pengaruh dosis etephon terhadap kadar karet kering yang terbentuk pada pohon karet pada bersifat kuadratik. Dosis etephon maksimum pada klon RRIM 600 adalah 0,7292 cc pohon-1 yang menghasilkan kadar karet kering 28,1484 % (rklon I = 0.8478tn), sedangkan pada klon PB 260 dosis etephon maksimum adalah 1,069 cc pohon-1 yang menghasilkan kadar karet kering 31,847 % (rklon II = 0.9317*)

Tabel 1 menunjukkan bahwa dosis etephon 0,9 cc pohon-1 (e3) menghasilkan rata-rata kadar karet kering terendah pada klon RRIM 600 (27,20) dan sangat berbeda nyata dibandingkan dengan dosis etephon 0 cc pohon-1 (e0) dan 0,3 cc pohon-1 (e1), tetapi tidak berbeda nyata dengan dengan dosis etephon dan 0,6 cc pohon-1 (e2) dan 1,2 cc pohon-1 (e4). Demikian pula pada klon PB 260, dosis etephon 0,9 cc pohon-1 (e3) menghasilkan rata-rata kadar karet kering terendah (27,00 %) sangat berbeda nyata dibandingkan dengan dosis etephon 0 cc pohon-1 (e0), tetapi tidak berbeda nyata dengan dengan dosis etephon 0,3 cc pohon-1 (e1), 0,6 cc pohon-1 (e2) dan 1,2 cc pohon-1 (e4).

125.00 100.00
Lump (g)

150.00 125.00
Lump (g)

75.00 50.00 25.00 0 0.3 0.6 0.9


-1

100.00 75.00 50.00 25.00 y = 84.457 + 96.286x - 61.905x r = 0.9577*


2

y = 53.2 + 106.67x - 66.667x r = 0.9050*

1.2
-1

1.5

0.3

0.6

0.9

1.2
-1

1.5

(4a)

Dosis Dosis Etephon (cc pohon ) Ethreel (cc pohon )

(4b)

-1 Dosis Etephon cc pohon Dosis Ethreel (cc pohon ) )

Gambar 4. Hubungan rata-rata lump yang terbentuk pada pohon karet dengan dosis etephon klon RRIM 600 (a) dan PB 260 (b) pada bulan kedua

Sidik ragam gabungan menunjukkan bahwa hubungan dosis etephon dengan kadar karet kering yang terbentuk bersifat kuadratik dan pengaruh dosis etephon tidak berbeda nyata terhadap dua klon. Hubungan antara dosis etephon dengan kadar karet kering yang terbentuk pada bulan kedua pada dua klon tanaman karet yang berbeda disajikan pada Gambar 6.

Gambar 6 menunjukkan bahwa pengaruh dosis etephon terhadap dari kadar karet kering yang terjadi pada pohon karet bersifat kuadratik. Dosis etephon maksimum pada klon RRIM 600 adalah 0,9561 cc pohon-1 yang menghasilkan kadar karet kering 27,6398 % (rklon I = 0.9232*), sedangkan pada klon PB 260 dosis etephon maksimum adalah 0,9325 cc pohon-1 yang menghasilkan kadar karet kering 26,7333 % (rklon II = 0.9661**).

96

Jurnal Agrisistem, Desember 2009, Vol. 5 No. 2

ISSN 1858-4330

Kadar Karet Kering (DRC)

32.00 30.00 28.00 26.00 24.00 0 0.3

y = 30.343 - 6.019x + 4.127x r = 8478


tn

Kadar Karet Kering (DRC)

34.00

34.00 32.00 30.00 28.00 26.00 24.00 0 0.3 0.6 0.9


-1 -1

y = 29.491 - 4.4095x + 2.0635x r = 0.9317*

0.6

0.9
-1
-1

1.2

1.5

1.2

1.5

(5a)

Dosis Ethreel (cc (cc pohon ) ) Dosis Etephon pohon

(5b)

Dosis Ethreel (ccpohon pohon ) ) Dosis Etephon (cc

Gambar 5. Hubungan rata-rata kadar karet kering yang terbentuk pada pohon karet dengan dosis etephon klon RRIM 600 (a) dan PB 260 (b)

Kadar Karet Kering (DRC)

Kadar Karet Kering (DRC)

34.00 32.00 30.00 28.00 26.00 24.00 0 0.3 0.6 0.9 1.2
-1

31.00 30.00 29.00 28.00 27.00 26.00 25.00 24.00 0 0.3 0.6 0.9
-1

y = 32.131 - 9.4095x + 5.3968x r = 0.9439*

y = 30.274 - 7.0952x + 3.9683x r = 0.9459*

1.5

1.2

1.5

(6a)

Dosis Etephon (cc pohon ) Dosis Ethreel (cc pohon-1)

(6b) (43b)

-1 Dosis Etephon pohon Dosis Ethreel (cc (cc pohon ) )

Gambar 6. Hubungan persentase rata-rata kadar karet kering pada pohon karet dengan dosis etephon klon RRIM 600 (a) dan PB 260 (b).

Klon RRIM 600 Hasil analisis statistik menunjukkan bahwa pemberian dosis etephon 0,9 cc pohon-1 memberikan hasil terbaik pada parameter jumlah lateks yang keluar, lump yang terbentuk, sedangkan pada parameter kadar karet kering (Tabel 1) memberikan hasil terbaik tanpa pemberian dosis etephon baik pada bulan I dan ke II. Pemberian dosis etephon 0,9 cc pohon-1 menunjukkan hasil terbaik dibandingkan dosis yang lain pada pengamatan lateks yang keluar, hal ini disebabkan karena adanya pemberian stimulan pada tanaman

karet yang dapat menggenjot produksi lateks tanaman karet. Hal ini sesuai dengan pendapat Setyamidjaja (1993) yakni dosis stimulan pada tiap pohon tergantung pada besarnya bagian pohon yang distimulasi dan sistem sadapnya. Secara umum pada sistem panel aplikasi: 0,6 1,0 gram pohon-1. Hal ini sesuai dengan pendapat Siregar (1995) bahwa pemberian stimulansia berfungsi memperpanjang masa pengaliran lateks sehingga produksi yang diperoleh pada penyadapan d/3 dan d/4 masih lebih tinggi dibandingkan dengan penyadapan d/2,

97

Jurnal Agrisistem, Desember 2009, Vol. 5 No. 2

ISSN 1858-4330

apalagi jika didukung dengan dosis yang tepat untuk memenuhi persyaratan. Hal ini juga sesuai dengan pendapat Heru dan Andoko (2008), bahwa bahan aktif stimulan mengeluarkan gas etilen yang jika diaplikasikan akan meresap ke dalam pembuluh lateks. Di dalam pembuluh lateks, gas tersebut menyerap air dari sel sel yang ada di sekitarnya. Penyerapan air ini menyebabkan tekanan turgor naik yang diiringi dengan derasnya aliran lateks. Tekanan turgor adalah tekanan pada dinding sel oleh isi sel, banyak sedikitnya isi sel berhubungan dengan besar kecilnya tekanan pada dinding sel (Siregar, 1995). Berdasarkan hasil pengamatan lateks yang keluar memperlihatkan adanya respon tanaman karet terhadap pemberian stimulan etephon. Hal ini memperjelas bahwa pertumbuhan suatu tanaman dapat diatur melalui pengaturan lingkungan tumbuh dan pemberian unsur hara, selain itu tanaman mempunyai kemampuan internal untuk mengatur pertumbuhan dan perkembangan melalui zat pengatur tumbuh. Zat pengatur tumbuh merupakan senyawa atau zat yang dibutuhkan oleh tanaman, namun karena tidak semua kondisi hormon yang ada pada suatu tanaman tersedia cukup maka penambahan ZPT sangat dibutuhkan untuk meningkatkan kerja hormon tersebut (Heddy, 1996). Stimulasi lateks umumnya dilaksanakan pada tanaman karet yang telah dewasa dengan tujuan untuk mendapatkan kenaikan hasil lateks sehingga dapat diperoleh tambahan keuntungan bagi pengusaha perkebunan karet. Pada perkebunan rakyat penggunaan stimulan mungkin belum biasa karena adanya kekurangtahuan terhadap stimulan tersebut sehingga hanya menerapkan sistem eksploitasi konvensional (Setyamidjaja 1993). Pemberian etephon 0,9 cc-1 memberikan hasil terbaik pada pengamatan lump. Ini terlihat dengan banyaknya lump yang

terbentuk. Hal ini disebabkan karena lateks yang keluar biasanya sebanding tidak jauh berbeda dengan lump yang dihasilkan. Hal ini sesuai dengan pendapat Heru dan Andoko (2008) semakin banyak lateks yang keluar maka lump yang terbentuk akan semakin banyak. Pengamatan kadar karet kering tidak memperlihatkan adanya respon dengan pemberian dosis etephon. Hal ini karena pemberian stimulan dapat menurunkan kadar karet kering. Hal ini sesuai dengan pendapat Siregar (1995) yakni aplikasi stimulansia akan mengurangi kebutuhan air dan menaiknya tekanan turgor sehingga dapat mengakibatkan pengurasan lateks apabila diaplikasikan terhadap areal pertanaman karet yang disadap dengan frekuensi tinggi seperti satu kali dua hari. Lateks yang dieksploitasi secara berlebihan akan memicu proses transpirasi lebih cepat sehingga tanaman menjadi kerdil dan mudah terserang hama penyakit. Hal ini sesuai dengan Dwidjoseputro (1984), bahwa Jika proses transpirasi ini cukup besar dan penyerapan air tidak dapat mengimbanginya, maka tanaman tersebut akan mengalami kelayuan sementara (transcient wilting), sedang tanaman akan mengalami kelayuan tetap, apabila keadaan air dalam tanah telah mencapai permanent wilting percentage. Tanaman dalam keadaan ini sudah sulit untuk berproduksi karena sebagaian besar selselnya telah mengalami plasmolisis. Klon PB 260 Hasil analisis statistik menunjukkan bahwa pemberian stimulan pada dosis ethrel 0,9 cc pohon-1 memberikan hasil terbaik pada parameter jumlah lateks yang keluar (g), lump yang terbentuk (g), sedangkan tanpa pemberian dosis etephon memberikan hasil terbaik pada pengamatan kadar karet kering (%) pada Tabel 1.

98

Jurnal Agrisistem, Desember 2009, Vol. 5 No. 2

ISSN 1858-4330

Pengamatan lateks yang keluar memberikan hasil terbaik pada pemberian dosis etephon 0,9 cc pohon-1. Hal ini dipengaruhi oleh adanya faktor-faktor yang mempengaruhi produksi lateks Hal ini didukung oleh (Anonim, 2009) Produksi lateks per satuan luas dalam kurun waktu tertentu dipengaruhi oleh beberapa faktor antara lain klon karet yang digunakan, kesesuaian lahan dan agroklimatologi, pemeliharaan tanaman belum menghasilkan, sistem dan manajemen sadap, dan lainnya Produksi tanaman karet pada pengaplikasian ke dua tidak jauh berbeda dengan pengaplikasian pertama, ini disebabkan dosis yang diberikan pada pengaplikasian kedua sama dengan pengaplikasian bulan I dapat dilihat bahwa nilai rata rata klon PB 260 lebih tinggi dibandingkan klon RRIM 600 hal ini disebabkan perbedaan jenis klon yang digunakan. Klon PB 260 adalah klon penghasil lateks dengan daya metabolisme tinggi, cepat mencapai puncak produksi, memungkinkan untuk disadap pada umur yang lebih muda tanpa harus menunggu ukuran lilit batang terlebih dahulu (Anonim, 2007). Penggunaan klon dapat menaikkan produksi yang cukup tinggi dibandingkan dengan tanaman asal biji. Pusat penelitian perkebunan Sembawa (1990), menetapkan anjuran bahan tanaman karet yang berguna bagi praktisi perkebunan, para penyuluh lapangan, dan petani. Klon-klon yang dianjurkan tersebut terbagi menjadi tiga kelompok yaitu klon skala besar, skala kecil dan skala percobaan. (Djoehana, 1993). Pengamatan Lump yang terbentuk menunjukkan bahwa hasilnya sama antara klon RRIM 600 dan PB 260. Hal ini disebabkan karena lateks yang keluar biasanya tidak jauh berbeda dengan lump yang dihasilkan. Hal ini sesuai dengan pendapat Heru dan Andoko (2008) Jenis Klon yang

dipasarkan oleh balai benih merupakan jenis klon yang tahan terhadap beberapa jenis penyakit dan menunjukkan peningkatan produksi lateks jika diberikan stimulan. Kadar karet kering pada klon RRIM 600 dan PB 260 menunjukkan hasil yang hampir sama yaitu memperlihatkan respon yang baik tanpa pemberian dosis etephon (Tabel 5 dan Tabel 6). Ini dikarenakan tidak adanya pengaruh stimulan pada tanaman tersebut. Klon PB 260 menunjukkan hasil yang lebih rendah dibanding klon RRIM 600. Hal ini sesuai dengan Anonim (2007), bahwa untuk menghindari penyadapan yang terlalu sering dan mengurangi pemakaian Etephon terutama pada klon yang rentan terhadap penyakit kering alur sadap (KAS) yaitu BPM 1, PB 235, PB 260, PB 330, PR 261, dan RRIC 100. Bila terjadi penurunan kadar karet kering yang terus menerus pada lateks yang dipungut serta peningkatan jumlah pohon yang terkena kering alur sadap sampai 10% Pada seluruh areal pertanaman. Stimulan memperpanjang waktu aliran dan menghambat pembentukan sumbat pada akar sadap. Karena waktu mengalirnya lateks diperpanjang, maka volume lateks menjadi lebih besar dan bertambahnya volume cairan maka jumlah kadar karet kering juga bertambah. Menurut Daryanto (1990) bahwa hubungan antara pengaruh stimulan dengan Kadar Karet Kering (KKK) berbanding terbalik.

KESIMPULAN 1. Pemberian dosis etephon 0,9 cc pohon-1 memberikan hasil terbaik pada jumlah lateks yang keluar serta lump yang terbentuk baik pada klon RRIM 600 dan Klon PB 260 dan bersifat kuadratik baik pada pemberian etephon bulan pertama maupun bulan kedua.

99

Jurnal Agrisistem, Desember 2009, Vol. 5 No. 2

ISSN 1858-4330

2. Tanpa pemberian stimulan etephon memberikan hasil terbaik pada pengamatan kadar karet kering pada klon RRIM 600 dan PB 260 serta bersifat kuadratik baik pada pemberian etephon bulan pertama maupun bulan kedua.

//arwansp.wordpress.com/2008/11/0 4/kajian-fisiologi-dan-sifat-karetklon-pb-260-menjelang-bukasadap/]. Darjanto, 1989. Tinjauan Problema dalam Perbanyakan Vegetatif pada Tanaman Karet. Menara Perkebunan 2 (43) : 93 104. Dewi, A, I, R. 2008. Peranan dan Fungsi Fitohormon bagi Pertumbuhan Tanaman. Makalah pada Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran Bandung (Tidak dipublikasikan) Dewilde. 1990. Practical Application of Ethrel in Agricultural Production. information Sheet. Amchem Product, Inc. Ambler. Bondad, N.D. 1996. Respon of Some Tropical and Subtropical Fruit to Pre and Post Harvest Applications of Ethephon. Economic Botany 30: 67 80. Heru, D.S dan A. Andoko. 2005. Petunjuk Lengkap Budidaya Karet. Agromedia Pustaka, Jakarta. _____. 2008. Petunjuk Lengkap Budidaya Karet Edisi Revisi. Agromedia Pustaka, Jakarta. Widyastuti, N., dan D. Tjokrokusumo. 2007. Peranan Beberapa Zat Pengatur Tumbuh (ZPT) Tanaman Pada Kultur In Vitro. J. Sains dan Teknologi Indonesia 3 (5); 55 63. Setyamidjaja, D. 1993. Karet Budidaya Dan Pengolahan. Kanisius, Yogyakarta. Sophian, T, 2008. Produksi Tanaman Karet (Hevea Brasiliensis) Di Daerah Bercurah Hujan Tinggi Di Kabupaten Bogor. [diakses 22 Januari 2009 pada situs http://io.ppi jepang.org/article.php?id=242]. Santoso, B dan Basuki, 1992. Masalah pengawetan dan Penyimpanan Biji

DAFTAR PUSTAKA Anonim, 2005. Deskripsi Klon. [diakses 13 Juli 2009 pada situs http: //www.worldagroforestry.org/sea/Pr ojects/CFC/Downloadle/Leaflet%20 4-Deskripsi.pdf. ______, 2007, Statistik Perkebunan Indonesia, Departemen Pertanian Direktorat Jendral Perkebunan. [diakses 20 Juli 2009 pada situs http://www.bulukumbakab.go.id/?id =72#13]. ______, 2008a. Potret Karet Alam Di Indonesia. [diakses 22 Januari 2009 pada situs http://www.bni.co.id/ Portals/0/Document/Ulasan%20Eko nomi/Artikel%20Ekonomi%20dan %20Bisnis/Karet-sep08.pdf.]. ______, 2008b. Karet. [diakses tanggal 22 Januari 2009 pada situs http:// id.wikipedia.org/wiki/Karet]. ______, 2009. Pengelolaan Penyakit KAS, Peningkatan Produksi dan Kualitas Tanaman Lateks. [Diakses 17 Juli 2009 pada situs http: //abuumayah.blogspot.com/2009/02/ pengelolaan-penyakit-kas peningkatan.html] Anwar, C. 2006. Manajemen dan Teknologi Budidaya Karet. Pusat Penelitian Karet Medan. [diakses 22 Januari 2009 pada situs http: //www.ipard.com/art_perkebun. Arief, S dan Sumarmadji, 2007. Kajian Fisiologi dan Sifat Karet Klon PB 260 Menjelang Buka Sadap.[diakse 22 Januari 2009 pada situs http: 100

Jurnal Agrisistem, Desember 2009, Vol. 5 No. 2

ISSN 1858-4330

Karet. Pertemuan Teknik Perkebunan II, Surakarta. Siregar, T. 1995. Tekhnik Penyadapan Karet. Kanisius, Yogyakarta

Weaver, R.J. 1992. Plant Growth Substance in Agriculture. W.H. Freeman and Company. San Fransisco.

101