Anda di halaman 1dari 19

BAB I PENDAHULUAN 1.

1 Latar Belakang Salah satu masalah yang sering dijumpai dalam dunia kedokteran gigi adalah hipersensitivitas dentin dengan keluhan sakit pada giginya pada saat-saat tertentu. Rasa sakit biasanya dialami oleh pasien pada waktu makan/minum panas atau dingin atau karena hembusan udara. Hipersensitif dentin merupakan suatu kondisi gigi yang umum terjadi dan menyakitkan. Hipersensitif dentin digambarkan sebagai rasa nyeri yang berlangsung singkat dan tajam yang timbul akibat dentin yang terpapar terkena rangsangan seperti panas, dingin, uap, sentuhan, atau kimiawi, yang tidak dapat dianggap berasal dari kerusakan gigi atau keadaan patologis gigi lainnya (Karies, fraktur, atau trauma karena oklusi). Secara klinis, didefinisikan sebagai rasa nyeri yang akut, terlokaliser, cepat menyebar, dan berdurasi singkat. Walaupun rangsangan yang memicu rasa nyeri tersebut bisa bermacam-macam, tetapi rangsangan dingin merupakan pemicu yang paling sering dikeluhkan. Secara makroskopis tidak terlihat adanya perbedaan antara dentin yang hipersensitif dengan dentin yang tidak sensitif. Hipersensitif dentin merupakan masalah yang sering terjadi dan sulit untuk diatasi. Masalah hipersensitif dentin telah dikenal sejak lama, namun sampai saat ini belum teratasi dengan sempurna. Banyak dokter gigi yang masih bingung mengenai etiologi dan penentuan diagnosa serta penanganan kasus tersebut. Walaupun gejala yang timbul hanya berupa rasa sakit dalam jangka waktu pendek, tapi rasa sakit tersebut bersifat tajam dan spontan. Sehingga mengganggu kenyamanan pasien. Saat ini, sekitar 30 % penduduk dunia mengalami hipersensitif dentin. Oleh karena itu, tim penulis membuat karya ilmiah tentang hipersensitif dentin agar pembaca dapat lebih memahaminya.

1.2 Rumusan Masalah 1. Apakah definisi hipersensitif dentin ? 2. Bagaimana mekanisme terjadinya hipersensitif dentin ? 3. Apa factor pemicu terjadinya hipersensitif dentin ? 4. Apakah kelainan yang menyebabkan hipersensitif dentin ? 5. Apakah factor predisposisi terjadinya hipersensitif dentin ? 6. Bagaimana hubungan prosedur bleaching dengan terjadinya hipersensitif dentin ? 7. Bagaimana perawatan hipersensitif dentin ? 1.3 Tujuan 1. Mengetahui definisi hipersensitif dentin. 2. Mengetahui dan memahami mekanisme terjadinya hipersensitif dentin 3 Mengetahui factor pemicu terjadinya hipersensitif dentin. 4. Mengetahui kelainan yang menyebabkan hipersensitif dentin. 5. Mengetahui factor predisposisi hipersensitif dentin 6. Mengetahui dan memahami prosedur beaching dengan terjadinya hipersensitif detin. 7. Mengetahui dan memahami perawatan hipersensitif dentin.

BAB II HIPERSENSITIF DENTIN 2.1 Definisi Hipersensitif Dentin Sensitivitas dentin adalah rasa yang tidak nyaman atau nyeri yang disebabkan rangsangan termal, kimiawi dan mekanik pada satu atau lebih gigi. Rasa sensitif ini terjadi apabila dentin terbuka yang disebabkan oleh resesi gingiva, abrasi, erosi, penyakit periodontal, kerusakan restorasi, atau karies. Tubulus pada daerah yang sensitif lebih lebar dan banyak daripada di area yang tidak sensitif. Daerah sensitif biasanya terletak pada permukaan servikal margin gigi. 2.2 Teori Hipersensitif Dentin Teori-teori terjadinya hipersensitif dentin, yaitu: 2.1.1 Teori transduser dengan odontoblas Transduser odontoblas mekanisme yang diajukan oleh Rappet al., menyatakan bahwa odontoblas bertindak sebagai reseptor sel, perubahan yang tidak langsung dalam potensi membran odontoblas melalui sambungan sinaptik dengan saraf. Hal ini dapat mengakibatkan rasa sakit dari ujung-ujung saraf yang terletak di batas pulpodentinal. Namun bukti dari teori transduser dengan odontoblas mekanisme ini kurang dan tidak meyakinkan 2.1.2 Teori hidrodinamik Sakit yang disebabkan oleh pergerakan cairan di dalam tubulus dentin, dapat dijelaskan dan dapat diterima secara luas yaitu teori hidrodinamik yang diusulkan oleh Brannstrom dan Astron pada tahun 1964. Menurut teori ini, lesi melibatkan enamel dan hilangnya sementum didaerah servikal dan akibatnya tubulus dentin terbuka di rongga mulut, di bawah rangsangan tertentu, yang memungkinkan pergerakan cairan di dalam tubulus dentin secara tidak langsung merangsang ektremitas dari saraf pulpa menyebabkan sensasi rasa sakit. Teori ini juga menyimpulkan bahwa hipersensitif dentin dimulai dari dentin
3

yang terpapar mengalami rangsangan, lalu cairan tubulus bergerak menuju reseptor syaraf perifer pada pulpa yang kemudian melakukan pengiriman rangsangan ke otak dan akhirnya timbul persepsi rasa sakit.

Dentin merupakan lapisan sensitif yang menutupi struktur jaringan pulpa dan memiliki hubungan fungsional dengan jaringan pulpa. Dentin terdiri dari ribuan struktur tubulus mikroskopis yang menghubungkan dentin dengan jaringan pulpa. Diameter tubulus dentin sekitar 0,5-2 mikron. Pemeriksaan mikroskopis pada pasien hipersensitif dentin menunjukkan bahwa tubulus dentin pada pasien hipersensitif dentin lebih besar dan banyak dibandingkan pada pasien yang tidak mengalami hipersensitif dentin.

2.3 Faktor yang Mempengaruhi Hipersensitif Dentin Terbukanya dentin disebabkan hilangnya enamel akibat dari proses atrisi, abrasi, erosi, atau abfraksi serta rangsangan terhadap permukaan akar yang tersingkap akibat dari resesi gingiva atau perawatan periodontal. Semua proses di atas merupakan faktor-faktor yang mempengaruhi terjadinya hipersensitif dentin. Terkikisnya lapisan enamel yang menutupi gigi dan tersingkapnya permukaan akar merupakan awal dari terjadinya hipersensitif dentin. Penyebab terkikisnya lapisan enamel antara lain erosi, abrasi dan atrisi. Bentuk-bentuk kerusakan gigi tersebut memiliki gambaran klinis dan etiologi yang berbeda-beda. Tersingkapnya permukaan akar akibat dari resesi gingiva juga merupakan penyebab hipersensitif dentin. Resesi gingiva adalah penurunan tinggi tepi gingiva/marginal gingiva ke arah apikal hingga ke bawah Batas Sementum Enamel (BSE). Resesi gingiva merupakan penyebab hipersensitif dentin yang paling sering terjadi. Resesi gingiva bisa bersifat lokalisata ataupun generalisata. Prevalensi terjadinya resesi gingiva pada usia tua lebih besar dibandingkan dengan usia muda. Jika dihubungkan dengan jenis kelamin, maka frekuensi terjadinya resesi gingiva lebih sering pada pria dibandingkan pada wanita. Permukaan akar gigi yang mengalami resesi gingiva bisa menjadi sensitif dikarenakan hilangnya lapisan sementum. Resesi gingiva yang terjadi bisa disertai kehilangan tulang alveolar ataupun tidak. Jika terjadi kehilangan tulang, maka jumlah tubulus dentin yang terbuka akan lebih banyak lagi. Penyebab terjadinya resesi gingiva antara lain erupsi pasif akibat aging, ukuran dan lokasi gigi di dalam alveolus, pengaruh genetik dan cara penyikatan yang salah. Selain resesi gingiva, tersingkapnya permukaan dentin akar juga dapat disebabkan oleh prosedur perawatan periodontal, seperti skeling dan penyerutan akar. Prosedur skeling dan penyerutan akar dapat menyebabkan hilangnya perlekatan jaringan periodontal dan terkikisnya sementum. Oleh karena itu, dokter gigi harus hati-hati dalam melakukan prosedur perawatan periodontal. Hipersensitif dentin juga dapat disebabkan oleh efek samping dari prosedur bleaching. Walaupun bersifat ringan, namun sering terjadi dan mengganggu pasien. Belakangan ini, sebuah penelitian klinis pada pasien yang melakukan bleaching menyatakan bahwa 54 % pasien mengalami sensitif ringan, 10 % pasien mengalami sensitif sedang dan 5 % pasien mengalami
5

sensitif parah serta sisanya tidak mengalami sensitif. Bleaching juga memiliki efek samping yang lain diantaranya resesi gingiva, rasa gatal pada mukosa dan sakit pada kerongkongan. Hipersensitif dentin pada pasien yang melakukan perawatan bleaching dipengaruhi oleh faktor pasien, lamanya menerima perawatan, konsentrasi dan pH bahan bleaching. Konsentrasi bahan bleaching yang tinggi merupakan faktor resiko terbesar terjadinya hipersensitif dentin

BAB III PEMBAHASAN 3.1 Definisi Hipersensitif Dentin Hipersensitif dentin merupakan suatu kondisi gigi yang umum terjadi dan menyakitkan. Hipersensitif dentin digambarkan sebagai rasa nyeri yang berlangsung singkat dan tajam yang timbul akibat dentin yang terpapar terkena rangsangan seperti panas, dingin, uap, sentuhan, atau kimiawi, yang tidak dapat dianggap berasal dari kerusakan gigi atau keadaan patologis gigi lainnya (Karies, fraktur, atau trauma karena oklusi). Secara klinis, didefinisikan sebagai rasa nyeri yang akut, terlokaliser, cepat menyebar, dan berdurasi singkat.Walaupun rangsangan yang memicu rasa nyeri tersebut bisa bermacam-macam, tetapi rangsangan dingin merupakan pemicu yang paling sering dikeluhkan. Hipersensitif dentin bisa terjadi pada daerah gigi manapun, tetapi daerah yang paling sensitif adalah daerah servikal dan permukaan akar gigi. Secara makroskopis tidak terlihat adanya perbedaan antara dentin yang hipersensitif dengan dentin yang tidak sensitif. Secara histologis, dentin yang sensitif menunjukkan adanya pelebaran tubulus dentin dua kali lebih lebar dibandingkan tubulus pada dentin normal (Gambar 1).

Gambar 1. (A) Permukaan akar gigi dengan tubulus dentin yang tertutup dan (B) Permukaan akar gigi dengan tubululus dentin yang terbuka (Addy M. Int Dent J 2005; 55: 264)

3.2 Mekanisme Terjadinya Hipersensitivitas Dentin Beberapa hipotesa telah dipaparkan untuk menjelaskan mekanisme terjadinya hipersensitif dentin. Namun, teori hidrodinamik yang disampaikan Brnnstrm dan Astron pada tahun 1964 merupakan teori yang paling sering dipakai untuk menjelaskan mekanisme terjadinya hipersensitif dentin. Berdasarkan teori hidrodinamik tersebut, rasa nyeri terjadi akibat pergerakan cairan di dalam tubulus dentin (Gambar 2). Pergerakan cairan di dalam tubulus dentin diakibatkan adanya rangsangan yang mengakibatkan perubahan tekanan di dalam dentin dan mengaktifkan serabut syaraf tipe A yang ada disekeliling odontoblas atau syaraf di dalam tubulus dentin, yang kemudian direspon sebagai rasa nyeri (Gambar 3). Aliran hidrodinamik ini akan meningkat bila ada pemicu seperti perubahan temperatur (panas atau dingin), kelembaban, tekanan udara dan tekanan osmotik atau tekanan yang terjadi di gigi.

Gambar 2. Timbulnya rasa nyeri disebabkan oleh pergerkan cairan dalam tubulus dentin ( Chu CH,Lo EC. Hong Kong Dent 2010;7: 18)

Gambar 3. Teori hidrodinamik menjelaskan aspirasi odontoblas ke dalam tubulus dentin sebagai efek dari rangsangan yang mengenai tubulus yang terbuka (Strassler HE. http://images.benco.com/pdf_files/cecourses/inoffice_mgmnt _dentin.pdf 3 Oktober 2010)

3.3 Faktor Pemicu Hipersensitif dentin terjadi ketika terpaparnya dentin ke lingkungan rongga mulut akibat hilangnya enamel dan atau sementum. Hal tersebut menimbulkan rasa tidak nyaman pada pasien, baik secara fisik maupun psikologis, dan didefinisikan sebagai rasa nyeri akut berdurasi pendek yang disebabkan oleh terbukanya tubulus dentin pada permukaan dentin yang terpapar tadi. Rangsangan yang memicu timbulnya rasa nyeri dapat berupa rangsangan panas atau dingin, kimiawi, taktil atau sentuhan, serta rangsangan udara atau uap. Rangsangan dingin

Rangsangan dingin merupakan pemicu utama terjadinya hipersensitivitas dentin (Gambar 4). Berdasarkan teori hidrodinamik, aliran cairan tubulus dentin akan meningkat keluar menjauhi pulpa sebagai respon dari rangsangan dingin dan menstimulus rasa nyeri (Gambar 5). Perangsangan tersebut terjadi melalui respon mekanoreseptor yang mengubah syaraf pulpa.

Gambar 4. Contoh minuman dingin sebagai pemicu terjadinya hipersensitif dentin (http://www.google.co.id/images?client=firefoxa&rls=org.mozilla:en

Gambar 5. Teori hidrodinamik menunjukkan pergerakan cairan menjauhi pulpa sebagai respon dari rangsangan dingin ( Addy, M.Int Dent J 2002;52:369 )

Rangsangan panas Selain rangsangan dingin, hipersensitif dentin juga dipicu oleh rangsangan panas (Gambar

6). Rangsangan panas akan menyebabkan pergerakan cairan ke dalam menuju pulpa. Meskipun demikian, rangsangan panas sebagai pemicu hipersensitif dentin lebih jarang dilaporkan, kemungkinan karena pergerakan cairan tubulus dentin akibat rangsangan panas relatif lebih lambat dibandingkan dengan rangsangan dingin (Gambar 7).

10

Gambar 6. Contoh minuman panas sebagai pemicu terjadinya hipersensitif dentin

Gambar 7. Teori hidrodinamik menunjukkan pergerakan cairan menuju pulpa sebagai respon dari rangsangan panas (Addy M.Int Dent J 2002;52:369)

Rangsangan kimiawi Rasa nyeri juga dapat dipicu oleh rangsangan kimiawi seperti mengkonsumsi makanan

yang mengandung asam yaitu buah-buahan terutama buah jeruk; minuman bersoda yang mengandung asam karbonat dan asam sitrat; saus salad; teh herbal; dan alkohol (Gambar 8). Bahan-bahan dengan pH rendah tersebut dapat menyebabkan hilangnya jaringan keras gigi (enamel dan dentin) melalui reaksi kimia tanpa melibatkan aktivitas bakteri, yang disebut erosi (Gambar 9).

11

Lingkungan rongga mulut yang asam juga akan menyebabkan terbukanya terbuka dentin lebih banyak lagi yang mengakibatkan terjadinya peningkatan sensitivitas gigi.

Gambar 8. Contoh makanan yang mengandung asam

Gambar 9. Erosi pada gigi akibat sering mengkonsumsi minuman yang asam (Chu CH, Lo EC. Hong Kong Dent J 2010; 7: 18)

Rangsangan taktil atau sentuhan Rasa nyeri biasanya terjadi ketika pasien menyentuh daerah sensitif dengan kuku jari atau

bulu sikat selama penyikatan gigi. Selain itu, pemeriksaan gigi dengan alat-alat tertentu yang terbuat dari logam, seperti sonde dan eksplorer, juga dapat meningkatkan sensitivitas pada gigi.

12

Rangsangan udara Terhirupnya udara bebas pada pasien dengan kebiasaan bernapas melalui mulut, terutama

pada cuaca dingin atau semprotan udara dari syringe atau kompresor ketika prosedur pengeringan permukaan gigi, juga dapat memicu timbulnya rasa nyeri pada kasus hipersensitif dentin. 3.4 Kelainan Memungkinkan Terjadinya Hipersensitif Dentin Kelainan yang memungkinkan terjadinya hipersensitif dentin dibatasi dengan yang ada kaitan dengan kelainan periodonsium, yaitu: Resesi gingiva Mula-mula hipersensitif dentin diakibatkan oleh resesi gingiva. Dimana menurut Loe et al. menyatakan bahwa resesi dapat dijumpai pada penduduk negara industry maupun non industry dan mendefinisikan resesi gingiva sebagai pergeseran tepi gingiva dari posisi normal pada permukaan mahkota gigi ke arah apikal (permukaan akar) di bawah Batas Sementum Enamel (BSE). Resesi gingiva menyebabkan tersingkapnya akar gigi terhadap kontaminasi lingkungan rongga mulut. Akibat kelainan ini dentin akan menjadi hipersensitif yang disebut dengan hipersensitif dentin. Dimana hipersensitif dentin ini adalah keausan sementum akar yang menjadi tersingkap oleh resesi akan menyingkapkan permukaan dentin yang sangat sensitif, terutama terhadap sentuhan dan menyebabkan rasa tidak nyaman sampai timbulnya rasa sakit. Penyakit periodontal Selain resesi gingiva, tersingkapnya permukaan akar gigi juga dapat disebabkan oleh prosedur perawatan periodontal, seperti skeling dan penyerutan akar. Prosedur skeling dan penyerutan akar dapat menyebabkan hilangnya perlekatan jaringan periodontal dan terkikisnya sementum. Oleh karena itu, dokter gigi harus hati-hati dalam melakukan prosedur perawatan periodontal. 3.5 Faktor Predisposisi Dari hasil penelitian para ahli di USA, sebanyak 50-90%, penderita memberikan tekanan besar/berlebih pada saat menggosok gigi. Kebiasaan menggosok gigi dengan tekanan berlebih dapat membuat gusi mengalami iritasi atau gusi menurun dari leher gigi, lama kelamaan akar gigi
13

akan terbuka (resesi gingiva), leher gigi berlubang, lapisan email pun akan berkurang ketebalannya sehingga bila minum air dingin, asam/manis atau bahkan tersentuh bulu sikat gigi pun akan terasa ngilu. Oral hygiene/keadaan rongga mulut yang buruk, penumpukan plak/karang gigi, yang merupakan "rumah" tinggalnya berjutajuta kuman dalam rongga mulut. Lambat laun karang gigi pun dapat mengiritasi gusi sehingga gusi akan mudah berdarah, timbul pula bau mulut yang tidak "segar". Pembentukan lapisan email gigi yang kurang sempurna (ename hypoplasia) dapat pula terjadi pada individu-individu tertentu. Keadaan ini pun akan menjadikan gigi menjadi sensitif. Food impaksi/penumpukan sisa-sisa makanan di daerah pertemuan gigi dengan gigi/kontak gigi. Sisa makanan ini menyusup masuk melalui leher gigi dan sulit terjangkau sikat gigi sehingga akan sulit dibersihkan, lama kelamaan penumpukannya akan semakin banyak, menekan saku gusi semakin dalam dari keadaan normal. Secara garis besar penyebab dentin hypersensitivity antara lain: 1. Penurunan gusi 2. Buruknya oral hygiene 3. Bleaching/pemutihan gigi 4. Terkikisnya email 5. Penyikatan gigi yang terlalu keras 3.6 Prosedur Bleaching
Hipersensitif dentin juga dapat disebabkan oleh efek samping dari prosedur bleaching. Walaupun bersifat ringan, namun sering terjadi dan mengganggu pasien. Belakangan ini, sebuah penelitian klinis pada pasien yang melakukan bleaching menyatakan bahwa 54 % pasien mengalami sensitif ringan, 10 % pasien mengalami sensitif sedang dan 5 % pasien mengalami sensitif parah serta sisanya tidak mengalami sensitif. Bleaching juga memiliki efek samping yang lain diantaranya resesi gingiva, rasa gatal pada mukosa dan sakit pada kerongkongan. Hipersensitif dentin pada pasien yang melakukan perawatan bleaching dipengaruhi oleh faktor pasien, lamanya menerima perawatan, konsentrasi dan pH bahan bleaching. Konsentrasi bahan bleaching yang tinggi merupakan faktor resiko terbesar terjadinya hipersensitif dentin.

14

3.7 Perawatan Hipersensitivitas Dentin Hipersensitif dentin mempunyai beberapa gejala yang sama dengan penyakit gingiva dan karies gigi. Oleh karena itu, diagnosa dan penyebab hipersensitif dentin harus ditegakkan dengan tepat agar perawatan yang diberikan memberikan efek yang tepat pula. Ada dua cara utama perawatan hipersensitif dentin yaitu pertama menghalangi syaraf merespon rasa nyeri (Gambar 10) dan yang kedua menutup tubulus dentin untuk mencegah terjadinya mekanisme hidrodinamik (Gambar 11). Perawatan tersebut juga harus dapat menghilangkan faktor-faktor predisposisi penyebab hipersensitif dentin, sekaligus mencegah terjadinya rekurensi. Perawatan hipersensitivitas dentin bisa bersifat non invasif dan invasif

15

Perawatan yang Bersifat Non-Invasif

Perawatan non-invasif bisa dilakukan sendiri oleh pasien di rumah, dan bisa pula dilakukan oleh dokter gigi. Perawatan yang dilakukan yang dirumah meliputi penggunaan pasta gigi desensitisasi, obat kumur dan permen karet. Pasta gigi desensitisasi mengandung potassium nitrate, potassium chloride atau potassium citrate. Banyak pasta gigi yang juga mengandung bahan aktif lain seperti fluoride dan bahan antiplak. Aplikasi fluor topikal membuat adanya penghalang di permukaan gigi dengan terbentuknya presipitat kalsium florida (CaF2) sehingga tubuli dentin tertutup. Akibatnya hipersensitivitas dentin dapat berkurang. Cara menyikat gigi juga patut diperhatikan. Kebanyakan orang banyak berkumur-kumur setelah menggosok gigi. Sebetulnya kumur-kumur tidak perlu terlalu banyak karena kumur dengan air dapat menyebabkan bahan aktif menjadi larut dan terbuang dari mulut sehingga efektifitas dari pasta gigi menjadi berkurang. Perawatan hipersensitivitas dentin oleh dokter gigi di klinik, yaitu dengan mengaplikasikan bahan desensitisasi yang tujuannya untuk menutup tubuli dentin sehingga mengurangi hipersensitifitas. Bahan tersebut dapat mengandung fluoride, atau potassium nitrate, atau bahan aktif lainnya. Namun, agen desensitisasi tersebut biasanya tidak bertahan terlalu lama, efeknya hanya sementara.

16

Perawatan yang Bersifat Invasif

Perawatan yang bersifat invasif dengan menggunakan bahan adhesive, atau bagian dentin yang terbuka di daerah leher dan akar gigi ditutup dengan bahan tambal. Karena resesi gingiva dan terpaparnya permukaan akar gigi merupakan faktor utama terjadinya hipersensitif dentin, maka dapat dilakukan cangkok gingiva sebagai rencana perawatan, terutama pada resesi yang progresif. Ketika terpaparnya permukaan akar yang sensitif juga diikuti dengan kehilangan permukaan akibat abrasi, erosi, dan abfraksi, maka dipertimbangkan pula pemberian bahan restorasi resin atau ionomer kaca (glass ionomer). Restorasi tersebut akan mengembalikan kontur gigi dan menutup tubulus dentin yang terbuka.

17

BAB IV PENUTUP 4.1 Kesimpulan

4.2 Saran

18

DAFTAR PUSTAKA http://bbpkmakassar.or.id/index.php/Umum/Info-Kesehatan/HIPERSENSITIVITAS-DENTIN.phd Dorland, W.A Newman. 2006. Kamus Kedokteran Dorland, 29th ed. Jakarta: EGC http://luphlytraitor.blogspot.com/2013/02/hipersensitivitas-dentin.html http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/22693/3/Chapter%20II.pdf http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/23674/3/Chapter%20II.pdf http://www.scribd.com/doc/137161115/Hipersensitivitas-dentin-pdf http://www.scribd.com/doc/57369433/Dentin-Hipersensitifiti#download Saylor, C. D., dan Overman, P. R., 2011, Dentinal Hypersensitivity: A Review, The Academy of Dental Therapeutica and Stomatology, 1-16.

19