Anda di halaman 1dari 22

PRESENTASI KASUS SKIZOFRENIA TAK TERINCI Disusun Untuk Memenuhi Sebagian Syarat Kepaniteraan Klinik Bagian Ilmu Kedokteran

Jiwa RSJ Grhasia Pakem

Diajukan Kepada Yth : dr. Rukmi, Sp.KJ Disusun Oleh : Veri Ambar Sari (20080310216) KEPANITERAAN KLINIK BAGIAN ILMU KEDOKTERAN JIWA PROGRAM PENDIDIKAN PROFESI DOKTER UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA 2014

I. IDENTITAS PASIEN Nama : Ny. J Usia Jenis Kelamin Status Pernikahan Agama Pendidikan Suku Bangsa Alamat : 44 tahun : Wanita : Nikah : Islam : SD : Jawa : Ngentak RT 02, Mulyodadi, Bantul, DIY

Datang ke IGD Pada : 7 Februari 2014, pukul 22:30 Kunjungan No RM : Lama : 0064568

II. RIWAYAT PSIKIATRI Hasil didapatkan dari alloanamnesis di Rekam Medis : Nama Tn. Suhardjuno Umur 60 th Agama Islam Hubungan dengan pasien Kakak kandung Sifat perkenalan Akrab Pekerjaan Tidak ada info Pendidikan terakhir Tidak ada info Alamat

Griya Purwo Asri Blok B 701 Sangrahan 15/5 Purwomartani, Yogyakarta

-teriak, sulit tidur, minum obat tidak teratur, aktifitas menurun, rawat diri menurun.

kedelapan kalinya. Terakhir mondok pada tanggal 8 Mei 2012. 3

Riwayat trauma kepala/jatuh (-) Riwayat kejang (-) Riwayat demam tinggi (-) Penyalahgunaan obat dan alkohol: Keluarga pasien mengatakan bahwa pasien tidak mengonsumsi minuman beralkohol maupun obat-obatan terlarang.

Riwayat keagamaan: tidak ada info mengenai aktifitas peribadatannya Aktivitas sosial: Pasien jarang mau bergaul dengan tetangganya. Pasien cukup akrab dengan keluarganya. Pasien hanya mempunyai sedikit teman. Riwayat pekerjaan: Pasien adalah pembatik di wilayah Keraton Yogyakarta Riwayat pernikahan: Pasien pernah menikah satu kali dan bercerai.

sosial pasien dengan teman-temannya dari sebelum pasien mengalami gangguan jiwa cukup baik. luarga.

III. PEMERIKSAAN FISIK Keadaan Umum : tampak sakit jiwa Kesadaran : Compos mentis

Tekanan Darah : 150/70 mmHg Nadi Suhu : 80x/menit : -

Hasil pemeriksaan hematologi dan kimia darah dalam batas normal.

IV. PEMERIKSAAN PSIKIATRI Pemeriksaan status mental dilakukan tanggal rekam medis. A. Deskripsi Umum 1) Penampilan: Tampak laki-laki lebih tua dari umur sebenarnya, rawatan diri kurang. 2) Kesadaran Kuantitatif : compos mentis, GCS 15 Kualitatif : orientasi tempat, waktu, orang, dan situasi baik 4 21 Oktober 2012 berdasarkan dari

3) Perilaku dan aktivitas psikomotor: Normoaktif 4) Pembicaraan: Pembicaraan cukup, menjawab spontan. Tapi pada pertanyaanpertanyaan tertentu, pasien tidak menjawab spontan. 5) Sikap terhadap pemeriksa: Kooperatif B. Mood dan Afek

C. Fungsi intelektual 1. Taraf pendidikan, pengetahuan dan kecerdasan: Tamat SLTA, tingkat kecerdasan sesuai pendidikan dan intelegensi mampu berhitung, mampu menjawab pertanyaan-pertanyaan umum. 2. Daya konsentrasi: Cukup 3. Orientasi: - Waktu : baik - Tempat: baik - Orang : baik - Situasi : baik 4. Daya ingat - Segera : cukup

- Jangka pendek : cukup

- Jangka panjang : cukup 5. Pikiran abstrak: Baik 6. Kemampuan menolong diri sendiri: Pasien mampu melakukan activity daily living. D. Gangguan persepsi Halusinasi dan ilusi - Halusinasi visual : tidak ada - Halusinasi auditorik : tidak ada - Halusinasi olfaktori : tidak ada - Halusinasi taktil : tidak ada - Ilusi : tidak ada 5

E. Proses pikir Progresi pikir - Kualitatif : Koheren - Kuantitatif : Blocking Isi pikiran o Waham Bizzare: -

o Tought of echo : o Waham magic mistik : o Waham curiga :-

o Waham kebesaran : o Waham kejar :-

o Waham cemburu : o Waham bersalah : o Waham somatic : o Waham tak berguna : Bentuk pikir : Autistik

F. Perhatian: Mudah ditarik dan sulit dicantum G. Insight: Jelek

V. HASIL VISITASI DOKTER Pemeriksaan pada tanggal 22 Oktober 2012 S: tidur kurang O: halusinasi dengar (+), ide curiga (+). Bentuk pikir autistik A : F 20.3 P : stelazin 5mg (1-0-1) : haloperidol 1.5mg (1-0-1) : chlorpromazine 100mg ( 0-0-1/2) : Triheksifenidil 2mg (1-0-1) 6

Pemeriksaan pada tanggal 23 oktober 2012 S: mondar mandir, bicara sendiri O : ide curiga (+), agak gelisah, autistik ringan, halusinasi dengar berkurang A : F 20.3 P : terapi lanjut

Pemeriksaan pada tanggal 30 Oktober 2012 S : Tidur agak sulit, bicara sendiri O : halusinasi dengar (+) A : F20.3 P : Terapi lanjut

Pemeriksaan pada tanggal 2 November 2012 S: setiap malam sulit tidur O: halusinasi dengar (+), progresi pikir kualitatif koheren, relevan A: F 20.3 P: diazepam 2mg (0-0-1) : Terapi lanjut VI. IKHTISAR PENEMUAN AUTOANAMNESIS (24 dan 30 Oktober 2012) Pasien laki-laki usia 51 tahun, suku Jawa, beragama Islam, pernah menikah sudah

bercerai, pendidikan terakhir SLTA. Pasien datang diantar keluarga dengan keluhan tidak mau minum obat, sering teriak-teriak dan sulit tidur. Gejala yang didapat saat sekarang : a. Perilaku dan Aktifitas Psikomotor Hipoaktif b. Keadaan afektif Mood: disforik Afek: menyempit Roman muka: hipomimik Keserasian: apropiate c. Proses pikir 7

Progresi pikir:

Isi pikir o Waham bizarre :o Waham curiga :-

o Waham kebesaran o Waham kejar o Ide curiga :+ :-

:-

Bentuk pikir: Autistik d. Gangguan persepsi Halusinasi visual : Halusinasi auditorik : + Halusinasi taktil : Halusinasi olfaktori :Ilusi :e. Insight: derajat II (ambivalensi terhadap penyakitnya)

VII. SINDROM YANG DIDAPAT Saat dilakukan pemeriksaan pada tanggal 24 dan 30 Oktober 2012 1. Sindroma psikotik a. Sakit sudah lebih dari 1 bulan karena sudah ada riwayat yang sama sebelumnya dan mondok di RSJ Grasia b. Adanya hendaya/disfungsi c. Adanya distress d. Adanya gangguan dalam berperilaku, pola pikir dan perasaan 2. Sindroma skizofrenia a. Halusinasi auditorik (perkataannya tidak jelas).

b. Ide curiga 8

VIII. DIAGNOSIS BANDING 1. Skizofrenia tak terinci (F 20.3) 2. Skizofrenia paranoid (F20.0) 3. Skizoafektif tipe depresif (F 25.1)

IX. PEMBAHASAN DIAGNOSIS Pedoman diagnostik skizofrenia ada sedikitnya satu gejala berikut ini yang amat jelas (dan biasanya 2 gejala atau lebih bila gejala-gejala itu kurang tajam atau kurang jelas): a. thought echo = isi pikiran dirinya sendiri yang berulang atau bergema dalam kepalanya (tidak keras), dan isi pikiran ulangan, walaupun isinya sama, namun kualitasnya berbeda; atau thought insertion or withdrawal = isi pikiran yang asing dari luar masuk ke dalam pikirannya (insertion) atau isi pikirannya diambil keluar oleh sesuatu dari luar dirinya (withdrawal); dan thought broadcasting = isi pikirannya tersiar keluar sehingga orang lain atau umum mengetahuinya; b. delusion of control = waham tentang dirinya dikendalikan oleh suatu kekuatan tertentu dari luar; atau

delusion of influence = waham tentang dirinya dipengaruhi oleh suatu kekuatan tertentu dari luar; atau delusion of passivity = waham tentang dirinya tidak berdaya dan pasrah terhadap suatu kekuatan dari luar; (tentang dirinya = secara jelas merujuk ke pergerakan tubuh atau anggota gerak atau ke pikiran, tindakan, atau penginderaan khusus); delusional perception = pengalaman inderawi yang tak wajar, yang bermakna sangat khas bagi dirinya, biasanya bersifat mistik atau mukjizat; c. Halusinasi auditorik: Suara halusinasi yang berkomentar secara terus menerus terhadap perilaku pasien, atau 9

Mendiskusikan perihal pasien diantara mereka sendiri (diantara berbagai suara yang berbicara), atau Jenis suara halusinasi lain yang berasal dari salah satu bagian tubuh d. Waham-waham menetap jenis lainnya, yang menurut budaya setempat dianggap tidak wajar dan sesuatu yang mustahil, misalnya perihal keyakinan agama atau politik tertentu, atau kekuatan dan kemampuan diatas manusia biasa (misalnya mampu mengendalikan cuaca atau berkomunikasi dengan makhluk asing dari dunia lain).

e. Halusinasi yang menetap dari panca-indera apa saja, apabila disertai baik oleh waham yang mengambang maupun yang setengah berbentuk tanpa kandungan afektif yang jelas, ataupun disertai oleh ide-ide berlebihan (overvalued ideas) yang menetap, atau apabila terjadi setiap hari selama berminggu-minggu atau berbulan-bulan terus menerus; f. Arus pikiran yang terputus (break) atau yang mengalami sisipan (interpolation), yang berakibat inkoherensi atau pembicaraan yang tidak relevan, atau neologisme; g. Perilaku katatonik, seperti keadaan gaduh-gelisah (excitement), posisi tubuh tertentu (posturing), atau fleksibilitas cerea, negativisme, mutisme dan stupor; h. Gejala-gejala negatif, seperti sikap sangat apatis, bicara yang jarang dan respons emosional yang menumpul atau tidak wajar, biasanya yang mengakibatkan penarikan diri dari pergaulan sosial dan menurunnya kinerja sosial; tetapi harus jelas bahwa semua hal tersebut tidak disebabkan oleh depresi atau medikasi neuroleptika; -gejala khas tersebut diatas telah berlangsung selama kurang waktu satu bulan lebih (tidak berlaku untuk setiap fase nonpsikotik prodromal)

keseluruhan (overall quality) dari beberapa aspek perilaku pribadi (personal behaviour), bermanifestasi sebagai hilangnya minat, hidup tak bertujuan, tidak berbuat sesuatu, sikap larut dalam diri sendiri (self absorbed attitude), dan

penarikan diri secara sosial. 10

1. Skizofrenia Tak Terinci (F 20.3) No Kriteria diagnosis Pasien 1 Memenuhi kriteria umum untuk diagnosis skizofrenia Terpenuhi 2 Tidak memenuhi kriteria untuk diagnosis skizofrenia paranoid, hebefrenik, atau katatonik Terpenuhi 3 Tidak memenuhi kriteria untuk skizofrenia residual atau depresi pasca skizofrenia Terpenuhi

2. Skizofrenia paranoid (F 20.0) No Kriteria diagnosis Pasien 1 Memenuhi kriteria umum diagnosis skizofrenia Terpenuhi 2 Sebagai tambahan: a. Halusinasi dan atau waham menonjol: Suara-suara halusinasi yang mengancam pasien atau memberi perintah, atau halusinasi auditorik

tanpa bentuk verbal berupa bunyi pluit (whistling), mendengung (humming), atau bunyi tawa (laughing)

Terpenuhi Halusinasi pembauan atau pengecapan rasa, atau bersifat seksual , atau lain-lain perasaan tubuh, halusinasi visual mungkin ada tetapi jarang menonjol. Tidak terpenuhi Waham dapat berupa hampir setiap jenis, tetapi waham dikendalikan (delusion of control), dipengaruhi (delusion of influence) atau passivity (delussion of passivity), dan keyakinan dikejarTidak terpenuhi 11

kejar yang beraneka ragam, adalah yang paling khas; b. Gangguan afektif, dorongan kehendak dan pembicaraan, serta gejala katatonik secara relatif

tidak nyata / tidak menonjol. Tidak terpenuhi

3. Skizoafektif tipe depresif (F 25.1) No Kriteria diagnosis Pasien 1 Kategori ini harus dipakai baik untuk episode skizoafektif tipe depresif yang tunggal, dan untuk gangguan berulang dimana sebagian besar episode didominasi oleh skizoafektif tipe depresif Tidak Terpenuhi 2 Afek depresif harus menonjol, disertai oleh sedikitnya dua gejala khas, baik depresif maupun kelainan perilaku terkait seperti tercantum dalam uraian untuk episode depresif. Gejala utama depresi: afek depresif, kehilangan minat dan kegembiraan, berkurangnya energi yang menuju meningkatnya keadaan mudah lelah (rasa lelah yang nyata sesudah kerja sedikit saja ) dan menurunnya aktivitas. Gejala lain depresi: konsentrasi dan perhatian

berkurang, harga diri dan kepercayaan diri berkurang, gagasan tentang rasa bersalah dan tidak berguna, pandangan masa depan yang suram dan pesimistis, gagasan atau perbuatan membahayakan diri atau bunuh diri, tidur terganggu, nafsu makan berkurang. Tidak Terpenuhi 3 Dalam episode yang sama, sedikitnya harus jelas Terpenuhi 12

ada satu, dan sebaiknya ada dua, gejala khas skizofrenia

X. DIAGNOSIS MULTIAKSIAL Aksis I : Skizofrenia tak terinci (F 20.3) Aksis II : Cenderung skizoid Aksis III : Hipertensi grade I Aksis IV : Tidak jelas Aksis V : GAF 60-51 (gejala sedang, disabilitas sedang)

XI. PENATALAKSANAAN A. Farmakoterapi

Haloperidol 1,5mg ( 1-0-1) Chlorpromazine 100mg (0-0-1/2) Stelazin 5mg (1-0-1) Trihexifenidil 2mg (1-0-1)

B. Psikoterapi

1. Bantu problem solving : pasien dibimbing untuk menceritakan tentang kehidupannya dengan membangun rasa percaya pasien terhadap orang lain (terapis) serta mengungkapkan segala permasalahannya. 2. Persuasi : penjelasan yang masuk akal mengenai timbulnya gejala serta baik buruknya. 3. Sugesti : membangkitan kepercayaan diri pasien bahwa dia dapat sembuh dan masalah yang dihadapinya dapat diatasi, memberikan motivasi dan semangat pasien agar menjalani kehidupan lebih baik, berarti dan bahagia, serta menganjurkan pasien melakukan aktivitas di luar aktivitas sehari-hari sesuai dengan hobinya. 4. Terapi reduktif terdiri dari: a.Terapi kerja : melatih pasien untuk bekerja guna mengembalikan fungsi psikomotor dan memberikan kesibukan pada pasien, melatih pasien 13

bekerja dalam kelompok untuk menumbuhkan rasa percaya pasien

terhadap rekan kerjanya. b. Terapi keluarga dan relaksasi : keluarga diberikan informasi tentang sakit yang diderita pasien, diajarkan cara merawat, memperlakukan pasien dengan benar, keluarga dianjurkan mengawasi pasien pada saat minum obat dan memastikan pasien minum obat dengan rutin di rumah.

XII. OBAT ANTI-PSIKOTIK Obat antipsikotik yang beredar dipasaran dapat dikelompokkan menjadi dua yaitu antipsikotik tipikal dan antipsikotik atipikal. Antipsikotik tipikal bekerja dengan memblok reseptor dopamine pada reseptor pasca-sinaptik neuron di otak, khususnya di sistem limbik dan sistem ekstrapiramidal, sehingga efektif untuk gejala positif. Sedangkan obat antipsikotik atipikal disamping berafinitas terhadap reseptor dopamine juga terhadap reseptor serotonin, sehingga juga efektif untuk gejala negatif, dan interaksi serotonin dan dopamin pada ke empat jalur dopamin di otak menyebabkan rendahnya efek samping extrapiramidal. Gejala positif antara lain gangguan asosiasi pikiran (inkoherensi), gangguan perasaan (tidak sesuai dengan situasi), perilaku yang aneh atau tidak terkendali (disorganized), dan gejala negatif antara lain gangguan perasaan (afek tumpul, respons emosi minimal),

gangguan hubungan sosial (menarik diri, pasif, apatis), gangguan proses pikir (lambat, terhambat), isi pikiran yang stereotipi dan tidak ada inisiatif, perilaku yang sangat terbatas dan cenderung menyendiri (abulia). Antipsikotik tipikal dapat dibagi lagi menjadi potensi tinggi bila dosis yang digunakan kurang atau sama dengan 10 mg diantaranya adalah trifluoperazine, fluphenazine, haloperidol dan pimozide. Obat-obat ini digunakan untuk mengatasi sindrom psikosis dengan gejala dominan apatis, menarik diri, hipoaktif, waham dan halusinasi. Potensi rendah bila dosisnya lebih dan 50 mg diantaranya adalah Chlorpromazine dan thiondazine digunakan pada penderita dengan gejala dominan gaduh gelisah, hiperaktif dan sulit tidur. Obat yang tersedia untuk golongan antipsikotik atipikal adalah clozapine, olanzapine, quetiapine dan risperidon. Pemakaian lama antipsikotik tipikal dapat memberikan efek samping berupa: gangguan ekstrapiramidal (distonia akut, akathisia, sindrom parkinson: tremor, bradikinesia, rigiditas), tardive dyskinesia (gerakan berulang involunter pada: lidah, wajah, mulut/ rahang, dan anggota gerak, dimana pada waktu tidur gejala tersebut menghilang), peningkatan kadar 14

prolaktin yang akan menyebabkan disfungsi seksual / peningkatan berat badan dan memperberat gejala negatif maupun kognitif. Selain itu juga menimbulkan efek samping antikolinergik seperti mulut kering pandangan kabur gangguaniniksi, defekasi dan hipotensi. Antikolinergik (triheksifenidil, orfenadrin) dan beta-blokers (propanolol) sering ditambahkan untuk menanggulangi efek samping antipsikotika, terutama extrapiramidal sindrom. Benzodiazepin diberikan guna mengatasi kegelisahan dan kecemasan.

XIII. PROGNOSIS Indikator Baik Buruk Faktor Premorbid 1. Faktor kepribadian: 2. Faktor genetik 3. Faktor organik 4. Socioekonomi 5. Faktor pencetus

6. Status perkawinan Faktor Morbid 1. Onset usia 2. Perjalanan penyakit

3. Respon terhadap terapi

4. Riwayat rutin kontrol 5. Riwayat disiplin minum obat

6. Riwayat peningkatan gejala Kesimpulan: dubia ad malam

DAFTAR PUSTAKA Maslim R. Buku saku diagnosis gangguan jiwa. Jakarta: Bagian Ilmu Kedokteran Jiwa FKUnika Atmajaya; 2003. h. 46-7.3. Maslim R. Panduan praktis penggunaan klinis obat psikotropik edisi ketiga. Jakarta: BagianIlmu Kedokteran Jiwa FK Unika Atmajaya; 2007. h. 14-5.6.

Sadock BJ, Sadock VA. Schizophrenia. Sadock BJ, Sadock VA, editors. In: Kaplan &sadock's synopsis of psychiatry: behavioral sciences/clinical psychiatry, 10th edition. NewYork: Lippincott William & Wilkins; 2007. p. 25-6