Anda di halaman 1dari 9

KELOMPOK 4: 1. 2.

Ummi Hasanah (0813021012) Putty Lugita (0813021046)

Mate i !"#"$"gi %a isan


&e'inisi: Suatu (a isan (pada bilangan real) adalah sutu fungsi pada himpuan bilangan asli dengan range-nya (daerah hasilnya) dalam . Dengan kata lain barisan pada . memasangkan setiap bilangan asli ke suatu bilangan real. Bilangan real yang diperoleh disebut nilai dari barisan. Umumnya suatu bilangan real yang dipasangkan ke suatu dinotasikan . Sedangkan barisan dinotasikan . )"nt"h adalab barisan 2, 6, , !", # adalah barisan !, !$2, !$%,# adalah barisan konstantanta %, %, %,..

D&'()(S( B*+(S*) Barisan bilangan real ( barisan di + ) adalah fungsi pada himpunan bilangan asli ( ) ) yang ,angkauannya termuat pada +. Dalam kaitan barisan sebagai fungsi, dalam pengertian sebelumnya dapat ditulis barisan adalah fungsi f- ) . +. )amun karena kekhususan barisan sebagai fungsi dengan daerah asal himpunan bilangan asli ( ) ), dengan sifat ) yang terhitung (/ountable) perlu disepakati hal-hal sebagai berikut. !. Untuk mengantisipasi kekhususan ini biasanya fungsi-fungsi ini dinyatakan dengan notasi huruf besar 0, 1, 2 dan seterusnya.

2. 3emudian berkenaan dengan nilai-nilai fungsi dalam barisan maksimal hanyalah terhitung, karena daerah asalnya adalah ), sehingga range dari fungsi yang berupa barisan dapat dapat ditulis sebagai 4a!, a2,#,an,#5 atau 46!, 62,#,6n,#5 atau 4y!, y2,#,yn,#5. 7uga dengan kekhususan ini seringkali yang diton,olkan adalah nilai fungsinya bukan fungsinya (ba/a aturannya), sehingga seringkali yang ditulis adalah nilai fungsinya. %. Untuk membedakan antara himpunan dan barisan maka himpunan yang menyatakan nilai fungsi dari suatu barisan tidak ditulis dalam notasi himpunan (anggota dibatasi kurung kura8al tetapi kurung biasa), karena dalam himpunan nilai fungsi yang sama tetap harus ditulis tidak seperti pada himpunan yang mana unsure yang sama hanya ditulis sekali. *kibatnya dalam penulisan bias seperti berikut. Barisan 0 dengan nilai fungsi yang berturut-turut bersesuaian dengan bilangan asli !,2,%,#,n,# ditulis sebagai 09(6!,62, 6%,#,6n,#). Sehingga ,ika 0-).+, suatu barisan penulisan selan,utnya seringkali sebagai barisan (6n) atau ( 6n - n:)), 8alaupun penulisan 0 sebagai barisan ,uga digunakan. Se/ara umum penulisan rumus$aturan barisan ada dua ma/am

;ertama nilai fungsi ( suku ) berdasarkan letak barisan berdasarkan sukunya, misal 09( 2n ) , 19. 3edua yaitu barisan yang nilainya tidak bergantung pada suku ke-n nya tetapi ditentukan pada suku sebelumnya. <ontohnya barisan fibona//i (!,!,2,%,=, ,#), ,uga barisan yang didefinisikan sebagai berikut - >isal barisan 0 adalah barisan dengan 6!9%, 6n?!9 6n? 2.( barisan rekursif)

>asalah menarik dalam bahasan barisan adalah kemanakah barisan itu suku-sukunya menu,u@ Dalam analisis masalah ini disebut masalah limit barisan.

K"n*e gen
;ara matematika8an menyadari ada barisan-barisan yang mempunyai sifat semakin besar maka nilai akan mendekati suatu nilai . Sebagai /ontoh . Semakin besar maka akan mendekati nol tetapi tidak pernah men/apai nol. (kenapa@). 7ika mendekati seiring membesarnya lalu kita notasikan sebagai ,arak antara dengan , dengan mudah kita ketahui nilai akan semakin ke/il ,ika membesar. Begitu pula sebaliknya akan membesar ,ika menge/il. ;ertanyaannya adalah berapa minimal sedemikan hingga tidak peduli betapa ke/ilnya , ,arak dengan akan selalu kurang dari @ ;ertanyaan inilah yang merupakan konsep dasar dari konAergen, untuk selan,utnya Bminimal C akan dinotasikan

&e'inisi: Diberiksan suatu barisan , suatu bilangan real dikatakan $imit dari barisan , ,ika untuk sebarang bilangan positif terdapat suatu bilangan asli sedemikain hingga untuk semua bilangan asli dengan berlaku . 7ika merupakan limit dari barisan maka dikatakan +"n*e gen ke . 7ika barisan tidak mempunyai nilai limit maka dikatakan barisan tersebut ,i*e gen. 1ang perlu diperhatikan adalah . )otasi menandakan bah8a pemilihan nilai tergantung dari pemilihan . 7ika suatu barisan konAergen ke maka dinotasikan

)"nt"h
!. Buktikan Darus dibuktikan untuk setiap untuk semua bilangan asli dengan *mbil sebarang bilangan asli . 7adi untuk semua terdapat suatu bilangan asli berlaku . sedemikain hingga

maka . Berdasarkan sifat *r/himedean maka terdapat . Untuk semua bilangan asli maka , diperoleh berlaku

Eerbukti barisan konAergen ke ". 3arena untuk semua bilangan asli dengan , ,arak dengan " akan selalu kurang dari tidak peduli berapapun nilainya.

D&'()(S( F(>(E B*+(S*) >isalkan 09(6n) suatu barisan. Bilangan real 6 disebut limit barisan 09(6n), ,ika untuk setiap eG", terdapat bilangan asli 3(e) sehingga untuk setiap nH3(e), suku-suku 6n berada pada lingkungan- e dari 6 ( Ie(6)). Selan,utnya ,ika barisan 0 memenuhi definisi di atas, dikatakan 09(6n) konAergen ke 6 atau lim096 atau lim (6n) 9 6 atau 6n .6. Dari definisi barisan dapat diperoleh hasil bah8a ,ika ada, LIMIT BARISAN adalah UNIK. Dan TIDAK SEMUA BARISAN PUNYA LIMIT. Definisi barisan di atas hanyalah untuk mengu,i apakah suatu titik merupakan limit barisan atau bukan. Sehingga dengan mengambil pernyataan kontraposisi dari definisi

diperoleh, Bilangan t bukan limit dari barisan 09(6n) ,ika terdapat bilangan positif tertentu d sedemikian sehingga untuk sebarang bilangan asli 3, terdapat bilangan asli mG 3, sedemikian sehingga J 6m K t J H d. Eeorema ( untuk memudahkan mengidentifikasi suatu bilangan merupakan limit barisan atau bukan ) >(S*F 09(6n) barisan, dan 6 bilangan real. ;B& (a) 0 konAergen ke 6 (b) Untuk setia lin!kun!an" e da#i $ ( %e($))& te#da at bilan!an asli K(e) sehin!!a untuk setia n'K(e)& suku"suku $n be#ada ada lin!kun!an" e da#i $ ( %e($)). (/) Untuk setiap eG", terdapat bilangan asli 3(e) sehingga untuk setiap nH3(e), suku-suku 6n memenuhi J6n-6J Le. (d) Untuk setia e()& te#da at bilan!an asli K(e) sehin!!a untuk setia n'K(e)& suku" suku $n *e*enuhi $"e+ $n+$,-e. Dengan teorema ini dapat di,elaskan mengapa, , , ,uga dengan menentukan negasi dari teorema ini dapat digunakan untuk men,elaskan bah8a barisan ( ",M,",M,",#) tidak konAergen ke ", atau M atau bahkan ke suatu bilangan real manapun. Untuk mengidentifikasi limit barisan selain menggunakan definisi dapat dilakukan dengan mendefinisikan &3N+ D*+( SU*EU B*+(S*). D&'()(S( 09(6n) 9 ( 6!, 62, #) barisan dan m suatu bilangan asli, ekor-m dari 0 adalah barisan yang ditulis sebagai 0m9 (6m?n - n:)) Eeorema (yang mengait+an +e+"n*e genan (a isan ,an e+" nya) Suatu barisan konAergen ,ika dan hanya ,ika ekor barisannya konAergen. (ni berguna salah satunya untuk mengu,i kekonAergenan barisan 09( %,=,6,O,!,P=,6O, Q , !$% , R, !$= , !$6 ,# ) Eeorema ( mengu,i konAergensi barisan dengan dominasi barisan yang menu,u " mulai suku tertentu)

>isal *9 (an) dan 09(6n) barisan, dan 6 bilangan real . 7ika <G" dan untuk suatu bilangan asli m, dipenuhi ,$n . $,/0,an, untuk setiap bilangan asli n yang lebih besar atau sama dengan m, dan li*(an)1 ), maka li*($n)1$. (ni berguna untuk menyelidiki kekonAergenan barisan 19 atau barisan 19. 7uga untuk menun,ukkan bah8a lim(bn)9", untuk "LbL!, ,uga lim9!, untuk /G". B&B&+*;* E&N+&>* E&)E*)S F(>(E Definisi barisan terbatas Barisan 09(6n) disebut terbatas ,ika terdapat bilangan real >G", sehingga J6nJT> untuk setiap n:)

Teorema
Ba#isan k2n3e#!en adalah te#batas. Sedan!kan ba#isan te#batas belu* tentu k2n3e#!en. Eeorema 7ika 09(6n) dan 19(yn) barisan bilangan real yang konAergen ke 6 dan y, / :+ dan 29(Un) suatu barisan yang semua sukunya tak nol yang konAergen ke U , maka lim0?19 6?y, lim 0196y, lim0-19 6-y, lim/09 /6 , dan lim0$29 6$U.

Teorema
Li*it ba#isan n2n ne!ati4 adalah n2n ne!ati4. Eeorema 7ika dua barisan 09(6n) dan 19(yn) masing-masing konAergen dan 6n T yn untuk setiap bilangan asli n, maka limit (0)T lim(1). Te2#e*a 5ika 61($n) ba#isan k2n3e#!en den!an a/$n/b& untuk setia bilan!an asli n& *aka a/li*($n)/b

!e" ema
7ika 09(6n) dan 19(yn) 29(Un) barisan bilangan real dengan 6n T yn TUn untuk setiap bilangn asli n, dan lim(6n)9lim(yn), maka 1 konAergen dan lim(6n)9lim(yn)9lim (Un)

Dari teorema-teorema tersebut dapat dika,i kekonAergenan barisan-barisan berikut. !. Barisan (n) adalah diAergen 2. Barisan ((-!)n) diAergen %. lim92 d. lim92 e. lim9" f. lim9" Te2#e*a Misalkan ba#isan 61($n) k2n3e#!en ke $& *aka ba#isan (,$n,) k2n3e#!en ke ,$,. Eeorema >isalkan barisan 09(6n) konAergen ke 6 dan 6n H ", maka barisan () konAergen ke . Te2#e*a Li*it 7asil Ba!i Suku"suku Ba#isan Misalkan ba#isan 61($n) be#nilai 2siti4 ada tia sukun8a dan ada. 5ika L + 9& *aka ba#isan ($n) k2n3e#!en ke ). Soal se/tion %.2 !. Selidiki kekonAergenan barisan berikut. (a) 6n 9(b) 6n 9 (/) 6n 9(d) 6n 9 !. 2. %. P. Beri /ontoh dua barisan diAergen yang ,umlahnya konAergen. Beri /ontoh dua barisan diAergen yang hasilkalinya konAergen. Eun,ukkan bah8a ,umlah dua barisan konAergen selalu konAergen. 7ika barisan 0 konAergen ke suatu bilangan yang tidak nol, hasilkalinya dengan barisan 1, konAergen, maka barisan 1 konAergen. =. Eentukan limit barisan berikut. (a) 6n9 (b)6n9 (/)6n9(d)6n 9 O. Dari barisan yn9 untuk n:), tun,ukkan bah8a barisan (yn) dan (yn) konAergen. !. 7ika "LaL!, dan bG!, selidiki kekonAergenan barisan (a) 6n9(an) (b) 6n9 (/) 6n9 (d) 6n9 !. :. Misalkan ba#isan 61($n) be#nilai 2siti4 ada tia sukun8a dan ( 9& *aka ba#isan ($n) *e#u akan ba#isan di3e#!en. Ba!ai*ana ;ika L19 <

2. 7ika "LaL!, dan bG!, selidiki kekonAergenan barisan (a) 6n9(n2an) (b) 6n9 (/) 6n9 (d) 6n9

BARISAN MONOTON
Untuk menyelidiki kekonAergenan suatu barisan dapat ,uga dikaitkan dengan sifat kemonotonan barisan tersebut. Berikut ini bebrapa hasil hubungan antara kemonotonan barisan dengan karakteristik kekonAergenannya. Definisi Suatu barisan 09(6n) disebut barisan naik ,ika memenuhi 6! T 62 T #T6n T #, sedangkan disebut barisan turun ,ika memenuhi 6! H 62 H #H 6n H#. 3emudian suatu barisan disebut monoton ,ika barisan tersebut naik atau turun sa,a. Eeorema 3onAergensi >onoton Barisan bilangan real monoton merupakan barisan konAergen ,ika dan hanya ,ika barisan tersebut terbatas.Selan,utnya (a) 7ika 69(6n) merupakan barisan naik yang terbatas , maka lim(6n) 9 sup46n5. (b)7ika 19(yn) merupakan barisan turun dan terbatas, maka lim(yn) 9 inf4yn5. Beberapa keguanaan teorema tersebut adalah sbb. SUBB*+(S*) Setelah ditin,au tentang hubungan kekonAergenan suatu barisan dengan sifat kemonotonannya, salah satu karakteristik barisan yang dapat dipakai untuk menin,au kekonAergenannya adalah dengan melihat karakteristik subbarisannya. Berikut ini definisi dan teorema tentang hal tersebut. Definisi subbarisan >isalkan 09(6n) suatu barisan dan r! L r2 L #L rn L # barisan bilangan asli yang naik murni. Suatu barisan 0V yang didefinisikan sebagai disebut sebagi subbarisan dari barisan 0. 3aitan kekonAergenan dari barisan dan subbarisannya dinyatakan dalam teorema berikut. Eeorema >isalkan barisan bilangan real 09(6n) konAergen ke bilangan real 6, maka setiap subbarisan dari 0 ,uga konAergen ke 6.

3emudian untuk menyatakan ketidak konAergenan suatu barisan dapat dipergunakan kriteia kediAergenan barisan yang mengkaitkannya dengan subbarisannya, seperti dalam teorema berikut. Eeorema 3riteria DiAergensi Barisan >isalkan 09(6n) suatu barisan bilangan real. ;ernyataan berikut ekiAalen. (!)Barisan 09(6n) tidak konAergen pada bilangan real 6. (2)Eerdapat suatu e G " sedemikian sehingga untuk setiap k: ), terdapat m: ) sedemikian sehingga mH 3 dan J 6m K 6 J H e. (%)Eerdapat suatu e L ", dan subbarisan 0V 9 dari 0 sedemikian sehingga berlaku , untuk setiap n:). Untuk mengkaitkan subbarisan, kemonotonan barisan dan kekonAergenan suatu barisan, berikut teorema tentang ,aminan adanya subbarisan yang monoton. 1ang pertama 8alaupu barisannya tidak terbatas tetap mempunyai subbarisan yang terbatas, ini penting karena dengan adanya sifat terbatas ada kemungkinan barisannya konAergen. Eeorema Subbarisan yang >onoton >isalkan 09(6n) suatu barisan bilangan real, maka terdapat subbarisan dari 0 yang terbatas. Berdasarkan teorema ini diperoleh ,aminan adanya subbarisan yang konAergen, 8alaupun mungkin barisan tersebut tidak konAergen. Eeorema BolUano-Weierstrass Barisan bilangan real yang terbatas selalu mempunyai subbarisan yang konAergen. >elengkapi teorema hubungan antara barisan dan subbarisannya dalam kaitan dengan kekonAergenannya yang telah diungkap di depan, diperoleh teorema berikut. Eeorema >isalkan 0 barisan bilangan real yang terbatas dan misalkan 6: +, serta memenuhi kondisi untuk setiap subbarisan dari barisan 0 konAergen ke 6, maka barisan 0 konAergen ke 6. Dari teorema ini, dengan kata lain bah8a kekonAergenan suatu barisan dapat diperoleh dari kekonAergenan subbarisannya asalkan memenuhi kondisi setiap subbarisan dari barisan 0 konAergen ke suatu bilangan tertentu yang sama.

KRITERIA CAUCHY
Dalam membahas kekonAergenan barisan, terdapat satu ,enis barisan yang dapat membantu dalam penentuan kekonAergenan suatu barisan. Barisan ini seringkali disebut sebagai barisan <au/hy. Berikut definisi serta karakteristik barisan <au/hy dan ,uga kaitannya dengan kekonAergenan barisan. Definisi Barisan <au/hy Suatu barisan bilangan real 09(6n) disebut barisan <au/hy, ,ika untuk setiap e G ", terdapat bilangan asli D, sedemikian sehingga untuk setiap bilangan asli n,m HD , maka berlaku J 6n K 6mJ L e. Eeorema 7ika 09(6n) suatu barisan bilangan real yang konAergen, maka barisan 0 merupakan barisan <au/hy. Eeorema Setiap barisan <au/hy merupakan barisan yang terbatas. 3riteria 3ekonAergenan <au/hy Barisan bilangan real 0 konAergen ,ika dan hanya ,ika barisan 0 merupakan barisan <au/hy. Satu ,enis barisan lagi yang berkaitan erat dengan kekonAergenan adalah barisan 3ontraktif. Berikut definisi dan teorema yang berkaitan dengan karakteristik kekonAergenan barisan. Definisi Barisan 3ontraktif Barisan bilangan real 09(6n) disebut barisan kontraktif, ,ika terdapat kontanta <, dengan " L < L !, sedemikian sehingga J 6n?2 K 6n?! J T <J 6n?! K 6nJ untuk setiap bilangan asli n. Dan bilangan < disebut konstanta dari barisan kontraktif. Eeorema Setiap barisan kontraktif merupakan barisan <au/hy, sehingga merupakan barisan konAergen.