Anda di halaman 1dari 3

Potensi Energy panas bumi Indonesia, berapa besar prospeknya?

created by: Rovicky Dwi Putrohari

Secara umum ada tiga model reservoir panas bumi yaitu :

1.

CGS (Conventional Geothermal System), geothermal yang ber-assosiasi

dengan volcanic belt misal, Indonesia, Jepang, New Zealand dll, temperature relatip lebih tinggi (geothermal field yang berproduksi di Indonesia biasanya punya temp >200 deg C), dan reservoirnya relative shallow (cetek) relative terhadap model lain.

2.

HAS (Hot Sedimentary Aquifer), air yang terperangkap di sedimentary

basin, dipanaskan dari bawah perut bumi, di German dan AS reservoir in sudah di produksi dengan menggunakan binary plant, temperature berkisar antara 140-180 deg C, konon katanya banyak oil field di Indonesia mempunyai aquifer sampai 150 deg C.

3.

EGS (Enhance Geothermal System), atau hot fractured rock,

reservoirnya di buat oleh manusia (man made), model ini sangat menantang dari segi engineeringnya, karena heat di perut bumi relative dalam dan media (air) untuk extract panas harus di inject dari surface, reservoirnya harus dibuat sendiri dengan hydro fracture. Di Australia sekarang EGS dan HAS ini lagi getol-getolnya dilakukan, karena ada support yang kuat dari pemerintah, konon katanya untuk mengantisipasi Climate Change, pemerintah

Australia akan menerapkan peraturan yang di sebut Clean Coal Power Plant, cost untuk CCPP ini akan bisa bersaing dengan HAS maupun EGS. Type power plant untuk EGS sejauh ini Binary, karena temperature memang relative low (120 -180 deg C). Lihat cartoon EGS dibawah.

Salah satu coy yang sedang melakukan EGS secara intensive di Australia adalah Geodynamics dengan produksi Perdana 1-MW dari rencana 25 MW total, untuk 1-MW pertama mereka harus mengebor 2-wells (injection dan production) ke Granite body dari Cooper Basin di South Australia sampai kedalaman 5-km untuk mendapatkan temperature yang kemudian di convert ke listrik.

Pertanyaan yang muncul adalah: apakah harga EGS bisa bersaing dengan CPP??, dan siapa pembelinya??, EGS power harganya berkisar antara USD135-150/MWh, CPP mungkin berkisar antara USD 60-80/MWh?, disitulah peran pemerintah sebagai regulator, melihat strategy pengelolaan energy secara longterm dan ter-integrated dan tidak kaku, subsidi untuk remote area kenapa tidak?.

Kita di Indonesia CGS sangat melimpah, konon katanya mempunyai potential 20.000-27.000 MW, keunggulannya, reservoirnya relative dangkal, dan banyak high temp, begitu juga dengan HAS yang belum di evaluasi berapa potensinya?, oil field yang sudah tidak produksi lagi, mungkin perlu di evaluasi potensinya. Jangan lupa technology Binary plant sudah sangat maju sekarang mereka bisa design powerplant dari hotwater 91 -150 deg C.

Dengan kondisi alam Indonesia yang sangat banyak potensi panas buminya,

sangat-sangat memungkinkan kita bisa menaikkan ratio-elekrifikasi di daerah remote di Negara tercinta ini amin. Untuk sekarang tidak perlu mencari EGS model, karena CGS sangat melimpah.

your contact:

Source : http://scientificindonesia.wordpress.com/potensi-energy-panas-bumi-indonesia-berapa-besarprospeknya/