Anda di halaman 1dari 40

NUR HASANAH, S.

ked (09310101)

Pembimbing : dr. Oscar, Sp. A.

Asma dapat berdampak negatif pada anak

Prevalensi asma pada anak : Prevalensi total asma di dunia diperkirakan 7,2% (6% pada dewasa dan 10% pada anak). Di Indonesia, anak berusia 6-7 tahun sebesar 3% dan untuk usia 13-14 tahun sebesar 5,2%

APA ITU ASMA ????

DEFINISI
Origin dari Yunani, sthma = Terengah-

terengah) Asma merupakan penyakit saluran nafas kronis yang ditandai dengan penyempitan bronkus yang disertai suara wheezing (WHO) Dapat disebabkan karena alergi dan non-alergi

Etiologi
Meskipun etiologi asma belum jelas, namun penelitian terakhir menunjukkan adanya faktor genetik dan lingkungan yang saling mempengaruhi. Adanya hubungan yang erat antara asma pada anak dan kejadian alergi menunjukkan bahwa faktor lingkungan mempengaruhi berkembangnya sistem imunologi ke arah manifestasi asma secara fenotip pada individu yang rentan.

Faktor Resiko
Secara umum faktor risiko asma dibagi menjadi 2 kelompok,yaitu: 1. Faktor genetik - Hiperreaktivitas: Saluran pernapasan sensitif terhadap berbagai rangsangan alergen maupun iritan. - Atopi/Alergi bronkus: Hal yang diturunkan adalah bakat alerginya, meskipun belum diketahui bagaimana cara penurunannya. Penderita dengan penyakit alergi biasanya mempunyai keluarga dekat yang juga alergi. Dengan adanya bakat alergi ini, penderita sangat mudah terkena penyakit asma bronkial jika terpajan dengan faktor pencetus. - Jenis Kelamin : Perbandingan laki laki dan perempuan pada usia dini adalah 2:1 dan pada usia remaja menjadi 1:1. Prevalensi asma lebih besar pada wanita usia dewasa.

Lanjutan..
Ras/Etnik Obesitas : Obesitas atau peningkatan Body Mass Index (BMI) merupakan faktor resiko asma. Mediator tertentu seperti leptin dapat mempengaruhi fungsi saluran pernapasan dan meningkatkan kemungkinan terjadinya asma.

Lanjutan..
2. Faktor lingkungan :
- Alergen didalam ruangan (seperti: tungau, debu rumah, kucing, alternaria/jamur) - Alergen di luar ruangan (alternaria, tepung sari) - Makanan (misalnya bahan penyedap, pengawet, pewarna makanan, kacang, makanan laut, susu sapi, telur) - Obat-obatan tertentu (misalnya golongan aspirin, NSAID, beta-blocker dll) - Bahan yang mengiritasi (misalnya parfum, household spray dll)

Lanjutan.
Faktor-faktor yang mempengaruhi terjadinya asma: Pemicu: Alergen dalam ruangan seperti tungau, debu rumah, binatang berbulu (anjing, kucing, tikus), alergen kecoak, jamur, kapang, ragi, serta pajanan asap rokok. Pemacu: Rhinovirus, ozon, pemakaian 2 agonist. Pencetus: Infeksi viral saluran napas, aeroalergen seperti bulu binatang, alergen dalam rumah (debu rumat, kecoa, jamur), seasonal aeroalergen seperti serbuk sari, asap rokok, polusi udara, pewangi udara, alergen di tempat kerja, udara dingin dan kering, olahraga, menangis, tertawa, hiperventilasi, dan kondisi komorbid (rinitis, sinusitis, dan gastroesofageal refluks).

Perkembangan Teori Patofisiolgi Asma


60-an 70-an

Reaksi hipersentivitas bronkus

Reaksi Inflamatori Kronis


Reaksi Remodeling

90-an

Inflamasi Kronik pada Asma


Ditandai dengan adalah aktivasi eosinofil, sel mast, makrofag, dan sel limfosit T pada mukosa dan lumen saluran respiratorik Proses inflamasi ini terjadi meskipun asmanya ringan atau tidak bergejala

Reaksi Asma Cepat


(Immediate Asthma Reaction).

Melalui mekanisme IgE-dependent.


paparan dengan alergen pada awalnya menimbulkan fase

sensitisasi. Akibatnya terbentuk Ig E spesifik oleh sel plasma.

Terjadi degranulasi sel mast & pelepasan mediator :


histamin, leukotrien C4(LTC4), prostaglandin D2(PGD2),

tromboksan A2, tryptase

Akibatnya
spasme otot bronkus, hipersekresi kelenjar, oedema,

peningkatan permeabilitas kapiler, disusul dengan akumulasi sel eosinofil.

Gambaran klinis yang timbul adalah serangan asma akut. Reversible spontan atau dengan pengobatan.

Reaksi Asma Lambat


(Late Asthma Reaction)

Setelah 6-8 Jam, Aktivasi sel-sel radang :


Limfosit Th1 : IL-2, IF gamma dan TNF beta Th2 : IL-4, IL-5, IL-9, IL-13, dan IL-16 Eosinofil LTC4, Eosinophil Peroxidase (EPX), Eosinophil Cathion Protein (ECP) dan Major Basic Protein (MBP). menimbulkan kerusakan jaringan.

Basofil
histamin, LTC4, PGD2. menimbulkan bronkospasme.

makrofag
IL8, platelet activating factor (PAF), regulated upon activation novel T cell expression and presumably secreted (RANTES) . Meningkatkan proses keradangan, mempertahankan proses inflamasi.

AKIBATNYA >>>>
kepekaan bronkus berlebihan, sehingga bronkus mudah konstriksi, kerusakan epitel, penebalan membrana basalis dan terjadi peningkatan permeabilitas bila ada rangsangan spesifik maupun non spesifik. Secara klinis, gejala asma menjadi menetap, penderita akan lebih peka terhadap rangsangan.

Bronkial Remodelling

Perubahan struktural dan fungsional bronkus


pelepasan epitel yang rusak, jaringan membrana

basalis mukosa menebal (pseudothickening), hiperplasia kelenjar, edema submukosa, infiltrasi sel radang dan hiperplasia otot. Perubahan semacam ini tidak memberikan perbaikan klinis, tetapi mengakibatkan penyempitan lumen bronkus yang persisten dan memberikan gambaran klinis asma kronis.

Sebab Remodelling Akibat Proses Inflamasi Kronis


Kerusakan epitel bronkus akibat dilepaskannya sitokin dari sel inflamasi seperti eosinofil. penumpukan kolagen di lamina propia.2 TGF beta merangsang sel fibroblast berproliferasi, epitel mengalami hiperplasia, pembentukan kolagen bertambah

Atopi
Temuan pada penelitan anak dengan riwayat atopi tanpa asma infiltrasi eosinofil dan penebalan lamina retikularis. proses remodeling telah terjadi sebelum atau bersamaan dengan proses inflamasi

DIAGNOSIS ASMA PADA ANAK

Gejala dan Tanda Asma

Kesulitan bernafas

Tampak sesak Peningkatan frekuensi nafas dan nadi Anak tampak gelisah Tanda Sianosis Tripod Position (posisi agak membungkuk dengan kedua tanganbertopang di tepi tempat tidur

Wheezing
Suara yang bernada tinggi yang terjadi

akibat aliran udara yang melalui saluran napas yang sempit Suara tambahan paru pada ekspirasi

BATUK
Pada anak dengan asma, batuk dapat merupakan gejala satusatunya Terjadi karena rangsangan sensorik batuk oleh mediator inflamasi Hati-hati untuk tetap mempertimbangkan Dx asma pada anak dengan batuk kronis / berulang

Adanya faktor pencetus serangan (pada Asma tipe alergic) Serangan yang bisa sembuh spotan atau dengan pengobatan

Pemeriksaan SPIROMETER Uji Respon terhadap pengobatan Uji Provokatif


Variabilitas pada PFR atau FEVI > 15 %
Variablitas harian adalah perbedaan nilai (peningkatan / penurunan) hasil PFR dalam satu hari. Penilaian yang baik dapat dilakukan dengan variabilitas mingguan yang pemeriksaan berlangsung > 2 minggu.

Reversibilitas pada PFR atau FEVI > 15%


Reversibilitas adalah perbedaan nilai (peningkatan) PFR atau FEVI setelah pemberian inhalasi bronkodilator.

Penurunan > 20 % pada FEVI (PD20 atau PC20) setelah provokasi bronkus dengan metakolin atau histamin.3

KLASIFIKASI ASMA ANAK


Klasifikasi Derajat Asma
GINA (Global Initiative for Asthma) 2006
Asma Intermiten, Asma Persisten Ringan, Asma Persisten Sedang, dan Asma Persisten Berat.

PANN (Pedoman Nasional Asma Anak) 2004


Asma Episodik Jarang, Asma Episodik Sering, Asma Persisten

Konsensus Internasional III & Melbourne asthma Study Group.


Asma episodik jarang (75 % populasi anak asma), Asma episodik sering (20 %), dan Asma persisten (5 %)

Klasifikasi Berat ringannya derajat asma

KLASIFIKASI PNAA 2004


Parameter klinis Kebutuhan obat, dan faal paru 1.Frekuensi serangan 2.Lama serangan 3.Intensitas serangan 4.diantara serangan 5.Tidur dan aktivitas 6.Pemeriksaan fisis diluar serangan 7.Obat pengendali Asma episodic jarang Asma episodic sering (asma ringan) (asma sedang) 3-4x /1tahun <1 minggu Ringan Tanpa gejala Tidak terganggu <3x/minggu Normal, tidak ditemukan kelainan Tidak perlu 1x/bulan 1 minggu Sedang Sering ada gejala Sering terganggu >3x/minggu Mungkin terganggu (ditemukan kelainan) Perlu, non steroid/ steroid inhalasi dosis 100-200 g PEF/FEV1 60-80% 30% Asma persisten (asma berat) 1/bulan Hampirsepanjang tahun, tidak ada remisi Berat Gejala siang dan malam Sangat terganggu Tidak pernah normal Perlu, steroid inhalasi Dosis 400 g/hari PEF/FEV1 < 60% Variabilitas 20-30% 50%

8.Uji faal paru (di luar serangan0 9.Variabilitas faal paru

PEF/FEV1 >80% 20%

KLASIFIKASI DERAJAT SERANGAN


Parameter klinis, Fungsi paru, Laboraturium Ringan Berjalan Bayi : Menangis keras Sedang Berbicara Bayi : Tangis pendek & lemah Kesulitan menetek dan makan Lebih suka duduk Penggal kalimat Biasanya irritable Tidak ada Nyaring, Sepanjang ekspirasi inspirasi Berat Istirahat Bayi : Tidak mau minum / makan Ancaman henti napas

Sesak (breathless)

Posisi Bicara Kesadaran Sianosis Wheezing

Bisa berbaring Kalimat Mungkin irritable Tidak ada Sedang, sering hanya pada akhir ekspirasi

Duduk bertopang Lengan Kata-kata Biasanya Irritable Ada Sangat nyaring, Terdengar tanpa Stateskop Ya kebingungan Nyata Sulit / Tidak terdengar

Penggunaan otot Bantu respiratorik

Biasanya tidak

Biasanya ya

Gerakan paradox TorakoAbdominal

KLASIFIKASI DERAJAT SERANGAN (lanjutan)


Parameter klinis, Fungsi paru, Laboraturium
Retraksi Frekuensi napas Ringan Dangkal, Retraksi Interkosta Takipnu
Usia <2 bulan 2-12 bulan

Sedang Sedang, ditambah Retraksi Suprasternal Takipnu


frekuensi napas normal <60 /menit <50 /menit

Berat Dalam, ditambah Napas cuping Hidung Takipnu


Usia 1-5 tahun 6-8 tahun

Ancaman henti napas Dangkal/ Hilang Bradipnu

Pedoman nilai baku frekuensi napas pada anak sadar: Frekuensi Nafas normal <40 /menit <30 / menit

Frekuensi nadi

Normal

Takikardi

Takikardi

Bradikardi

Pedoman nilai baku frekuesi nadi pada anak : Usia Frekuensi nadi normal 2-12 bulan < 160 / menit 1-2 tahun < 120 / menit

3-8 tahun

<110 / menit

Pulsus paradoksus
PEFR atau FEV1
Prabronkodilator Pascabronkodilat or

Tidak ada <10 mmHg (% Nilai dugaan/ >60% >80%


>95% Normal <45 mmHg

Ada 10-20 mmHg Nilai terbaik) 40-60% 60-80%


91-95% > 60 mmHg <45 mmHg

Ada >20 mmHg <40% <60% Respon < 2 jam


<90% <60 mmHg <45 mmHg

Tidak ada,

SaO2 % PaO2 PaCO2

TATALAKSANA

Tatalaksana Asma pada Anak


Komunikasi, informasi, dan edukasi (KIE) pada penderita dan keluarganya,

Medikamentosa.

Penghindaran terhadap faktor pencetus,

TERAPI MEDIKAMENTOSA Controller & Reliever


Controller Pengobatan jangka panjang Mencegah kekambuhan dan inflamasi kronis Sesuai derajat asma untuk asma episode sering & persisten , evaluasi 1-3 bulan kemudian untuk menaikkan/menurunkan dosis

RELIEVER Pengobatan jangka pendek Menormalkan paru secepatnya untuk mencegah hipoksia Sesuai derajat asma untuk asma episode sering & persisten , evaluasi 1-3 bulan kemudian untuk menaikkan/menurunkan
dosis

Terapi Reliever Asma

Bronkodilator
Short-acting 2

agonist Methyl xanthine

Anticholinergics Kortikosteroid inhalasi dan sistemik

Terapi Controller Asma

glukokortikoid, Leukotrien Receptor Antagonis (LTRA), long acting 2-agonist (LABA), theofilin, cromones,

Terapi serangan akut

nebulisasi agonis 1-3x, selang 20 menit nebulisasi ketiga + antikolinergik jika serangan berat, nebulisasi 1x (+antikolinergik)

Tatalaksana awal

Serangan sedang (nebulisasi 2-3x,

Serangan ringan
(nebulisasi 1x, respons baik, gejala hilang) observasi 1-2 jam jika efek bertahan, tetap baik boleh pulang jika gejala timbul lagi, perlakukan sebagai serangan sedang

respons parsial) berikan oksigen nilai kembali derajat serangan, jika sesuai dengan serangan sedang, observasi di Ruang Rawat Sehari

Serangan berat (nebulisasi 3x, respons buruk) sejak awal berikan O2 saat/ di luar nebulisasi pasang jalur parenteral nilai ulang klinisnya, jika sesuai dengan serangan berat, rawat di Ruang Rawat Inap foto Rntgen toraks

Cara Pemberian
UMUR < 2 tahun 2-4 tahun ALAT INHALASI Nebuliser, Aerochamber, babyhaler Nebuliser, Aerochamber, babyhaler Alat Hirupan (MDI/ Metered Dose Inhaler) dengan alat perenggang (spacer) Nebuliser MDI dengan spacer Alat hirupan bubuk (Spinhaler, Diskhaler, Rotahaler, Turbuhaler) Nebuliser MDI (metered dose inhaler) Alat Hirupan Bubuk Autohaler

5-8 tahun

>8 tahun

Terapi Controller
ASMA EPISODE JARANG Obat Pereda saat serangan : -agonis atau Teofilin (hirup/oral) saat serangan
>3 dosis/minggu

Evaluasi 4-6 minggu

ASMA EPISODE JARANG

Berikan obat controler : Streoid hirupan dosis rendah


Respon Buruk
Stabil 1-2 bulan

Evaluasi 6-8 minggu

ASMA EPISODE JARANG

Steroid hirupan dosis rendah ditambah : LABA/Teofilin/LTRA atau Steroid dosis medium
Respon Buruk Stabil 1-2 bulan

Evaluasi 6-8 minggu

Tambahkan Steroid Oral

Diagnosis Banding
Pada bayi adanya benda asing di saluran napas dan esophagus atau kelenjar timus yang menekan trakea. Penyakit paru kronik yang berhubungan dengan bronkiektasis dan fibrosis kistik. Kelainan trakea dan bronkus misalnya laringotrakeomalasia dan stenosis bronkus. Tuberkulosis kelenjar limfe di daerah trakeobronkial

Bronkitis. Tidak ditemukan eosinofilia, suhu biasanya tinggi dan tidak herediter. Bila sering berulang dan kronik biasanya disebabkan oleh asma. Bronkiolitis akut, biasanya mengenai anak di bawah umur 2 tahun dan terbanyak di bawah umur 6 bulan dan jarang berulang. Asma kardial. Sangat jarang pada anak. Dispnea paroksismal terutama malam hari dan biasanya didapatkan tanda-tanda kelainan jantung.

Komplikasi
Berbagai komplikasi yang mungkin timbul adalah : Status asmatikus Atelektasis Hipoksemia Pneumothoraks Emfisema

Prognosis
Prognosis

jangka panjang asma anak pada umumnya baik. Sebagian besar asma anak hilang atau berkurang dengan bertambahnya usia. Secara keseluruhan dapat dikatakan 7080% asma anak bila diikuti sampai dengan umur 21 tahun asma sudah menghilang.