Anda di halaman 1dari 21

LI 1. Asam Basa LO 1.1 Definisi .

MENURUT ARRHENIUS Asam ialah senyawa yang dalam larutannya dapat menghasilkan ion H+. Basa ialah senyawa yang dalam larutannya dapat menghasilkan ion OH-. Contoh: 1) HCl(aq) H+(aq) + Cl-(aq)

2) NaOH(aq) Na+(aq) + OH-(aq)

B.

MENURUT BRONSTED-LOWRY Asam ialah proton donor, sedangkan basa adalah proton akseptor. Contoh: 1) HAc(aq) + H2O(l) asam-1 basa-2 asam-2 H3O+(aq) + Ac-(aq)

basa-1

HAc dengan Ac- merupakan pasangan asam-basa konyugasi. H3O+ dengan H2O merupakan pasangan asam-basa konyugasi. 2) H2O(l) + NH3(aq) asam-1 basa-2 NH4+(aq) + OH-(aq) basa-1

asam-2

H2O dengan OH- merupakan pasangan asam-basa konyugasi. NH4+ dengan NH3 merupakan pasangan asam-basa konyugasi. Pada contoh di atas terlihat bahwa air dapat bersifat sebagai asam (proton donor) dan sebagai basa (proton akseptor). Zat atau ion atau spesi seperti ini bersifat ampiprotik (amfoter). http://bebas.vlsm.org/v12/sponsor/SponsorPendamping/Praweda/Kimia/0192%20Kim%202-3a.htm LO 1.2 Klasifikasi Asam Basa a. Berdasarkan kekuatanya: Asam kuat Disebut asam kuat karena zat terlarut dalam larutan ini mengion seluruhnya ( = 1). Untuk menyatakan derajat keasamannya, dapat ditentukan langsung dari konsentrasi asamnya dengan melihat valensinya.

Contoh : x Hitung pH larutan dari 100 ml larutan 0.01 M HCl! Jawab :

x Hitung pH larutan dari 2 liter larutan 0.1 mol asam sulfat! Jawab :

Asam lemah Disebut asam lemah karena zat terlarut dalam larutan ini tidak mengion seluruhnya, 1, (0 < < 1). Penentuan besarnya derajat keasaman tidak dapat ditentukan langsung dari konsentrasi asam lemahnya (seperti halnya asam kuat). Penghitungan derajat keasaman dilakukan dengan menghitung konsentrasi [H+] terlebih dahulu dengan rumus :

di mana, Ca = konsentrasi asam lemah Ka = tetapan ionisasi asam lemah Contoh : Hitunglah pH dari 0,025 mol CH3COOH dalam 250 mL larutannya, jika Ka = 10-5! Jawab :

Basa kuat Disebut basa kuat karena zat terlarut dalam larutan ini mengion seluruhnya ( = 1). Pada penentuan derajat keasaman dari larutan basa terlebih dulu dihitung nilai pOH

dari konsentrasi basanya. Contoh : x Hitung pH dari 100 mL larutan KOH 0,1 M ! Jawab :

x Hitung pH dari 500 mL larutan Ca(OH)2 0,01 M ! Jawab :

Basa lemah Disebut basa lemah karena zat terlarut dalam larutan ini tidak mengion seluruhnya, 1, (0 < < 1). Penentuan besarnya konsentrasi OH- tidak dapat ditentukan langsung dari konsentrasi basa lemahnya (seperti halnya basa kuat), akan tetapi harus dihitung dengan menggunakan rumus :

di mana, Cb = konsentrasi basa lemah Kb = tetapan ionisasi basa lemah http://www.chem-is-try.org/materi_kimia/kimia-smk/kelas_xi/kekuatan-asam-danbasa/

b. Asam-asam yang berasal dari proses metabolisme i. Asam volatil adalah asam yang mudah menguap, dapat berubah bentuk menjadi bentuk cair maupun gas. Asam volatil merupakan hasil akhir dari metabolisme asam amino, lemak dan karbohidrat. Contoh : karbondioksida, asam karbonat

ii. Asam nonvolatil adalah asam yang tidak mudah menguap, tidak dapat berubah bentuk menjadi gas untuk diekskresi oleh paru-paru, tapi harus dieksresikan oleh ginjal. Contoh : asam organik, asam nonorganic

c. Berdasarkan kemampuan ionisasi asam dan basa i. Asam dan basa monoprotik adalah asam dan basa yang dapat melepaskan satu ion H atau ion OH (dikenal juga dengan ionisasi primer) Contoh : asam monoprotik [HCl, HN ,C COOH]

basa monoprotik [NaOH, KOH] ii. Asam dan basa diprotik adalah asam dan basa yang dapat melepaskan 2 ion H atau ion OH (dikenal dengan ionisasi sekunder) Contoh : asam diprotik [ S H2S]

basa diprotik [Mg(OH , Ca(OH)2, Ba(OH)2] iii. Asam dan basa poliprotik adalah asam dan basa yang dapat melepaskan 3 atau lebih ion H atau ion OH (dikenal juga dengan ionisasi tersier) Contoh : asam poliprotik [ P ]

basa poliprotik [Al(OH)3]

LI 2. Analisa gas darah LO 2.1 Definisi gas darah adalah pengambilan darah arteri melalui fungsi untuk memeriksa gasgas dalam darah yang berhubungan dengan fungsi respirasi dan metabolisma. Pemeriksaan gas darah dan PH digunakan sebagai pegangan dalam penanganan pasien-pasien penyakit berat yang akut dan menahun. Pemeriksaan gas darah dipakai untuk menilai: keseimbangan asam basa dalam tubuh, Kadar oksigenasi dalam darah, Kadar karbondioksida dalam darah. Ukuran-ukuran dalam analisa gas darah: PH normal 7,35-7,45 Pa CO2 normal 35-45 mmHg Pa O2 normal 80-100 mmHg Total CO2 dalam plasma normal 24-31 mEq/l HCO3 normal 21-30 mEq/l Base Ekses normal -2,4 s.d +2,3 Saturasi O2 lebih dari 90%.

Pemeriksaan analisa gas darah dikenal juga dengan nama pemeriksaan ASTRUP yaitu suatu pemeriksaan gas darah yang dilakukan melalui darah arteri. Lokasi pengambilan darah yaitu: Arteri radialis, A. brachialis, A. Femoralis http://www.scribd.com/doc/54667265/LP-Analisa-Gas-Darah LO 2.2 Langkah 1. Langkah pertama, tentukan pH normal atau tidak. Bila pH >7,45 adalah alkalosis dan jika pH <7,35 adalah asidosis. pH dalam keadaan kritis apabila >7,55 atau <7,20 2. Langkah kedua, periksa PaCO2, bila menyimpang dari 40 mmHg. PaCO2 dan pH arahnya berlawanan, jika PaCO2 meningkat maka pH menurun (Asidosis) dan sebaliknya. 3. Langkah ketiga, tentukan nilai HCO3-. Bila HCO3- menyimpang dari 24 mEq/L perhatikan derajat dan arah penyimpangan. HCO3 dab pH bergerak dalam arah yang sama. 4. Langkah keempat, bila PaCO2 dan HCO3 abnormal, tetapkan nilai mana yang berhubungan lebih erat dengan nilai pH. 5. Langkah kelima, periksa PaCO2 dan saturasi oksigen untuk menentukan apakah PaCO2 menurun, normal, atau meningkat. Penurunan PaCO2 dan saturasi O2 dapat menimbulkan asidosis laktat dan dapat menandakan perlunya peningkatan konsentrasi oksigen. Sebaliknya konsentrasi PaCO2 tinggi dapat menandakan kebutuhan untuk menurunkan konsenrasi oksigen yang diberikan. (Horne, swearing 2001) 1.Pertama-tama perhatikan pH (jika menurun klien mengalami asidemia, dengan dua sebab asidosis metabolik atau asidosis respiratorik; jika meningkat klien mengalami alkalemia dengan dua sebab alkalosis metabolik atau alkalosis respiratorik; ingatlah bahwa kompensasi ginjal dan pernafasan jarang memulihkan pH kembali normal, sehingga jika ditemukan pH yang normal meskipun ada perubahan dalam PaCO2 dan HCO3 mungkin ada gangguan campuran) 2.Perhatikan variable pernafasan (PaCO2 ) dan metabolik (HCO3) yang berhubungan dengan pH untuk mencoba mengetahui apakah gangguan primer bersifat respiratorik, metabolik atau campuran (PaCO2 normal, meningkat atau menurun; HCO3 normal, meningkat atau menurun; pada gangguan asam basa sederhana, PaCO2 dan HCO3 selalu berubah dalam arah yang sama; penyimpangan dari HCO3 dan PaCO2 dalam arah yang berla anan menunjukkan adanya gangguan asam basa campuran). 3.Langkah berikutnya mencakup menentukan apakah kompensasi telah terjadi (hal ini dilakukan dengan melihat nilai selain gangguan primer, jika nilai bergerak yang sama dengan nilai primer, kompensasi sedang berjalan). 4. uat penafsiran tahap akhir (gangguan asam basa sederhana, gangguan asam basa campuran) pH Rentang nilai normal : 7, 35-7, 45

TCO2

: 23-27 mmol/L

PCO2 PO2 HCO3

: 35-45 mmHg : 80-100 mmHg : 22-26 mEq/L

BE saturasi O2

: 0 2 mEq/L : 95 % atau lebih

Berdasarkan kemampuan ionisasi asam dan basa LO 2.3 Tujuan Untuk mengetahui keseimbangan asam basa dalam tubuh Untuk mengetahui kadar oksigen dalam tubuh Untuk mengetahui kadar CO2 dalam tubuh Menilai kondisi fungsi metabolisme tubuh http://staff.ui.ac.id/internal/132051049/material/AGD.pdf https://sites.google.com/site/asidosis/Home/analisis-gas-darah-agd LO 2.4 Parameter 1. Pengukuran pH dilakukan dengan elektroda pH 2. Pengukuran PaCO2 dilakukan dengan elektroda CO2. Elektroda berada dalam lingkungan buffer bikarbonat dan dipisahkan dari sampel darah oleh suatu membrane semipermeable untuk CO2. CO2 yang berdifusi kedalam buffer mengakibatkan perubahan pH dan nilai ini yang diukur oleh elektroda. 3. Pengukuran PaO2 dilakukan dengan elektroda O2. (Madjid.2008 Gangguan Keseimbangan cairan elektrolit asam basa FKUI) Parameter II pH darah -> hasil status metabolik & respiratorik N = 7,35 7,45 atau 44- 38mEq(mmol)H+/L pCO2 -> komponen respiratorik asam basa N = 35- 45 mmHg pO2: pO2 darah arteri N = 95 mmHg pO2 darah vena N = 40 mmHg HCO3 bikarbonat standar merupakan indeks komponen metabolik konsentrasi bikarbonat plasma dlm saturasi Hb jenuh O2, pCO2 40 mmHg & suhu 37C N= 22-26 mEq(mmol)/L plasma bikarbonat aktual pCO2 > 40 mmHg pCO2 < 40 mmHg

HCO3 aktual > HCO3 standar HCO3 aktual < HCO3 standar

http://www.scribd.com/doc/104267465/Analisa-Gas-Dan-Keseimbangan-AirDan-Elektrolit

LI 3. Ukuran keasaman pH LO 3.1 definisi pH adalah derajat keasaman yang digunakan untuk menyatakan nilai keasaman atau kebasaan yang dimiliki suatu larutan. Unit pH diukur pada skala 0 14. Istilah pH berasal dari p, lambang matematika dari negatif logaritma dan H lambang kimia untuk unsur hidrogen. pH dibentuk dari informasi kuantitatif yang dinyatakan oleh tingkat derajat keasaman atau basa yang berkaitan dengan aktivitas ion hidrogen. Nilai pH dari suatu unsur adalah perbandingan antara konsentrasi ion hidrogen [H+] dengan konsentrasi ion hidroksil [OH-]. Jika konsentrasi H+ lebih besar dari OH-, material disebut asam. Yaitu nilai pH adalah kurang dari 7. Jika konsentrasi OHlebih besar dari H+, material disebut basa dengan suatu nilai pH lebih besar dari 7.

LO 3.2 cara menentukan larutan asam basa 1) Identifikasi larutan dengan larutan indikator Untuk mengidentifikasi sifat asam basa larutan, selain menggunakan kertas lakmus kita juga dapat menggunakan larutan yang berfungsi sebagai larutan indikator. Larutan indikator adalah larutan kimia yang akan berubah warna dalam lingkungan tertentu. Karena sifatnya yang dapat berubah warna inilah, larutan indikator dapat digunakan sebagai alat identifikasi larutan asam dan basa. Identifikasi larutan di laboratorium dapat menggunakan empat jenis larutan indikator, yaitu larutan fenolftalein, metil merah, metil jingga, dan bromtimol biru. Larutan indikator ini tidak seperti indikator lakmus yang mudah penggunaannya. Warna-warna yang terjadi pada larutan indikator jika dimasukkan ke dalam larutan asam dan basa, agak sulit diingat. Sebagai contoh, larutan fenolftalein. Pada lingkungan asam, larutan fenolftalein tidak berwarna, di lingkungan basa berwarna merah, sedangkan di lingkungan netral tidak berwarna. Berarti, untuk membedakan apakah suatu larutan bersifat asam atau netral, tidak cukup hanya dengan menggunakan larutan fenolftalein. Larutan metil merah dapat membedakan antara larutan asam dengan larutan netral. Larutan asam yang ditetesi metil merah akan tetap berwarna merah, sedangkan larutan netral berwarna kuning. Akan tetapi, metil merah juga akan menyebabkan larutan basa berwarna kuning, Berarti, untuk mengetahui apakah suatu larutan bersifat basa atau netral kita tidak dapat menggunakan metil merah. Untuk lebih jelasnya, perhatikan tabel warna larutan berikut ini. Warna Larutan Indikator pada Lingkungan Asam, Basa, dan Netral : 1. Fenolftalein Asam : tidak berwarna; Basa : merah; Netral: tidak berwarna 2. Metil merah

Asam : merah; Basa : kuning; Netral : kuning 3. Metil jingga Asam : merah; Basa : kuning; Netral : Kuning 4. Bromtimol biru Asam : Kuning; Basa : Biru; Netral : Biru agak kuning

Berbagai jenis Indikator

Indikator

Trayek pH

Perubahan warna (dari pH rendah ke pH tinggi)

Metil hijau

0.2 - 1.8

Kuning - biru

Timol hijau

1.2 - 2.8

Kuning - biru

Metil jingga

3.2 - 4.4

Merah - kuning

Metil merah

4.0 - 5.8

Tidak berwarna - merah

Metil ungu

4.8 - 5.4

Ungu - hijau

Bromokresol ungu

5.2 - 6.8

Kuning - ungu

Bromotimol biru

6.0 - 7.6

Kuning - biru

Lakmus

4.7 - 8.3

Merah - biru

Kresol merah

7.0 - 8.8

Kuning - merah

Timol biru

8.0 - 9.6

Kuning - biru

2) Identifikasi larutan dengan kertas lakmus Sifat asam atau basa suatu larutan dapat juga diidentifikasi menggunakan kertas lakmus. Ada dua jenis kertas lakmus yaitu:

kertas lakmus warna biru. Di dalam larutan asam, warna kertas berubah menjadi merah, sedangkan di dalam larutan netral atau basa, warna kertas tidak berubah (tetap biru) kertas lakmus warna merah. Di dalam larutan basa, warna kertas berubah menjadi biru, sedangkan di dalam larutan netral atau asam, warna kertas tidak berubah (tetap merah) (Johari, J, M, C, dan Rachmawati, M, 2004:162). 3) Identifikasi larutan dengan bahan alami Bahan-bahan yang dapat dijadikan untuk mengidentifikasi sifat keasaman atau kebasaan suatu zat dinamakan indikator. Bahan-bahan indikator biasanya akan berubah warna ketika berada pada larutan tertentu. Ada banyak bahan di sekitar kita yang dapat berfungsi sebagai indikator, misalnya kulit buah manggis. Kulit buah manggis yang berwarna ungu akan berubah menjadi cokelat kemerahan jika berada dalam lingkungan asam. Dalam lingkungan basa, ekstrak kulit buah manggis akan berubah menjadi warna biru kehitaman. Ekstrak kembang sepatu yang berwarna merah jika ditambahkan ke larutan asam akan tetap merah. Jika ditambahkan ke larutan basa akan berubah warna menjadi kuning kehijauan (Sumarwan, dkk, 2007:67). REFERENSI Johari, J, M, C dan Rachmawati. (2004). Kimia SMA untuk kelas XI. Jakarta : Erlangga Petrucci, R. H. dan Suminar. (1987). Kimia Dasar (Prinsip dan terapan Modern Edisi keempat jilid 2). Jakarta : Erlangga. Syukri. (1999). Kimia Dasar 2. Bandung : ITB. LO 3.4 Manfaat Dapat mengetahui pH berbagai substansi dalam tubuh Cairan getah lambung pH 1,0 2,0 Urine pH 4,8 7,5 Saliva (air liur) pH 1,5 1,9 Darah pH 7,25 7,75 Dapat lebih mudah untuk menunjang teori terapi Dapat dengan mudah menentukan kadar enzim untuk menentukan penyakit suatu organ tertentu Menyatakan konsentrasi ion hydrogen Mengatur mekanisme ion-ion dicairan ekstraselular Menentukan derajat keasaman dari suatu larutanmenyatakan suatu kondisi yang asidosis atau alkalosis Oxtobi, D. R. (1998). Prinsip-prinsip Kimia Modern Jilid 1. Jakarta : Erlangga. LO 3.5 penyebab perubahan pH Beban makanan dan beban metabolic Ion hydrogen ditambahkan atau dikurangi sebagai akibat makanmakanan tertentu atau akubat perubahan meabolik Beban respirasi Peningkatan laju pernapasan yang tidak disertai peningkatan aliran CO2 ke paru-paru akan mengurangi tekanan cO2 dalam alveoli. Begitu juga

pada darah yang kembali menuju ke jaringan perifer sehingga terjadi akibat respiratorik -> H+ menurun pH meningkat.

LI 4.Keseimbangan asam basa LO 4.1 definisi Keseimbangan asam basa adalah keseimbangan ion hydrogen, keseimbangan antara ion [H+] bebas dan [HCO3] dalam cairan tubuh sehingga keseimbangan tubuh yang harus dijaga kadar ion [H+] bebas dalam batas normal maupun pembentukan asam maupun basa terus berlangsung dalam kehidupan. LO 4.2 aspek biokimia dan fisiologis keseimbangan asam basa Cairan tubuh harus dilindungi dari perubahan pH karena sebagian besar enzim sangat peka terhadap perubahan pH. Mekanisme protektif harus berlangsung aktif dan secara terus menerus karena proses metabolisme juga menyebabkan terbentuknya asam dan basa secara terus menerus (asam karbonat, asam sulfat, asam fosfat, asam laktat, asam sitrat, asam asetoasetat, ion ammonium, -hidroksibutirat). Karena ion [ ] berpengaruh besar dalam keseimbangan asam-basa, maka faktor yang mempengaruhi [ ] juga mempengaruhi keseimbangan asam basa, yaitu : a) Lebihnya kadar [ ] yang ada dalam cairan tubuh, berasal dari Pembentukan C yang sebagian berdisosiasi menjadi H+ dan HC Katabolisme zat organik Disosiasi asam organik pada metabolisme intermedik, contoh pada metabolik lemak terbentuk asam lemak dan laktat yaitu melepaskan [H+] b) Keseimbangan intake dan output ion [H+] tubuh Bervariasi tergantung dari: Diet ( makanan ), H+ naik, jika kebanyakan makan asam (asidosis), sedangkan dengan mengkonsumsi sayur dan buah bersifat basa banyak menghasilkan HC . Aktivitas yaitu lari cepat membuat tubuh kita asam karena menghasilkan banyak CO2 sehingga pH turun Proses anaerob yaitu lebih banyak penumpukan asam laktat seperti olahraga berat sehingga menimbulkan reaksi asam dan membuat pH turun Pengaturan keseimbangan asam basa diselenggarakan melalui koordinasi dari tiga sistem,yaitu : 1. Sistem buffer 2. Sistem respiratorik (sistem paru) 3. Sistem metabolik (sistem ginjal)

1. Sistem buffer

Sistem buffer disebut juga sistem penahan atau sistem penyangga, karena dapat menahan perubahan pH. Sistem buffer merupakan larutan yang mengandung asam dan basa konjugasinya. Sistem buffer kimia hanya mengatasi ketidakseimbangan asam basa sementara. Jika dengan buffer kimia tidak cukup memperbaiki, maka pengontrolan pH akan dilanjutkan oleh paru paru yang merespon secara cepat terhadap perubahan ion H+ dalam darah karena rangsangan kemoreseptor dan pusat pernafasan mempertahankan kadar [H+] sampai ginjal menghilangkan ketidakseimbangan tersebut, ginjal mampu meregulasi ketidakseimbangan ion H+ dengan mensekresikan ion H+ dan menambahkan HC baru dalam darah karena memiliki dapar fosfat. Didalam tubuh terdapat beberapa sistem buffer, yaitu : Sistem buffer asam karbonat-bikarbonat Sistem buffer hemoglobin Sistem buffer protein Sistem buffer fosfat Fungsi utama sistem buffer ini adalah mencegah perubahan pH yang disebabkan oleh pengaruh asam fixed dan asam organik pada cairan ekstraseluler. Sistem ini memiliki keterbatasan, yaitu : Tidak dapat mencegah perubahan pH di cairan ekstraseluler yang disebabkan karena peningkatan CO2 Sistem ini hanya berfungsi bila sistem respirasi dan pusat pengendali sistem pernafasan bekerja normal. Kemampuan menyelenggarakan sistem buffer tergantung pada tersedianya ion bikarbonat. Sistem buffer asam karbonat-bikarbonat Sistem buffer ini merupakan suatu komponen yang paling penting pada pengaturan pH cairan ekstraseluler. Sistem buffer bikarbonat merupakan sistem buffer istimewa, sistem buffer tetap merupakan sistem buffer terbaik pada pH 7.4 walaupun Pka nya 6.1, karena dapat mengeluarkan CO2 melalui paru dan jumlahnya banyak. Tubuh mempertahankan sistem buffer bikarbonat ini dengan pengaturan kadar karbondioksida di paru dan bikarbonat di ginjal. H2O + CO2 H2CO3 H+ + HCO3CO2 bereaksi dengan H2O membentuk CO3 yang kemudian berdisosiasi menjadi ion hidrogen dan ion bikarbonat melalui reaksi reversibel. Bila terjadi peningkatan ion hidrogen, terjadi interaksi dengan ion bikarbonat sehingga terbentuk asam karbonat. Berarti dalam hal ini ion bikarbonat bertindak sebagai basa lemah yang menerima kelebihan ion hidrogen. Asam karbonat yang terbentuk akan mengalami disosiasi menjadi CO2 dan air, dan CO2 yang dihasilkan akan dikeluarkan melalui paru. Sistem buffer hemoglobin Buffer hemoglobin (Hb) merupakan buffer intraseluler yang bekerja di dalam sel darah merah. Hb dapat berfungsi sebagai buffer karena mengandung residu histidin, yaitu asam amino yang dapat berikatan secara reversibelion hidrogen, menghasilkan Hb bentuk berproton dan tidak berproton. Na+ + HCO3 NaHCO3

Hb- + H+ HHb (PK 7-8) Pada sel darah merah, Hb dapat mengikat karbondioksida dan mengubahnya menjadi karbonat karena di dalam sitoplasma terkandung anhidrase karbonat, dan proses pengikatan terjadi dengan cepat karena CO2 berdifusi cepat melintasi membran sel darah merah tanpa memerlukan mekanisme transport aktif membran sel. Kemampuan pengaturan ini dikenal sebagai sistem buffer hemoglobin. Buffer utama cairan ekstraseluler adalah sistem bikarbonat dan hemoglobin. Hb penting untuk pengangkutan oksigen ke jaringan, pengangkut CO2 dan sebagai sistem buffer yang kuat. Sistem buffer protein Sistem buffer protein berfungsi mengatur pH cairan ekstraserselular dan interstitial. Protein sebagai buffer berinteraksi secara ekstentif dengan sistem buffer lainnya. Protein tersusun oleh asam amino yang mempunyai sifat amfoter, yaitu asam amino akan bersifat sebagai kation pada suasana asam dan bersifat sebagai anion pada suasana basa. Fungsi pengaturan buffer protein: - Bila terjadi penurunan pH, gugus amino (-NH2) dari asam amino akan bertindak sebagai basa lemah dengan mengikat ion hidrogen dan membentuk ion amonium. Gugus amino bertindak sebagai akseptor proton. - Bila terjadi peningkatan pH, gugus karboksil (-COOH) dari asam amino mengalami disosiasi dan berubah menjadi ion karboksil dan ion H+. Gugus karboksil bertindak sebagai donor proton. Cairan interstitium yang mengandung protein dan asam amino terdisosiasi ikut berperan mengatur pH. Protein mengandung asam amino histidin yang mempunyai cincin imitazol dengan Pka = 6.0. Pada kebanyakan protein Pk sekitar 7.0-7.4. Proses pengaturan melalui sistem buffer protein berjalan lambat karena ion hidrogen harus melalui proses difusi membran sel yang dipengaruhi oleh pompa natrium. Sistem buffer Fosfat Sistem dapar ini berperan penting dalam pendaparan cairan tubulus ginjal dan cairan intrasel Pada cairan intra sel, kehadiran penyangga fosfat sangat penting dalam mengatur pH darah. Penyangga ini berasal dari campuran dihidrogen fosfat (H2PO4-) dengan monohidrogen fosfat (HPO32-). Sistem penyangga fosfat bekerja dalam cara yang serupa untuk mengubah asam kuat menjadi asam lemah dan basa kuat menjadi basa lemah. Natrium hidrogen fosfat ( ) adalah basa lemah dan natrium dihidrogen fosfat ( Na P ) adalah asam lemah HCl + Na2HPO4 NaH2PO4 + NaCl NaOH + NaH2PO4 Na2HPO4 + H2O H2PO4 - (aq) + H + (aq) H 2 PO 4(aq) H2PO4 - (aq) + OH - (aq) --> HPO4 2- (aq) ) + H2O (aq)

Penyangga fosfat dapat mempertahankan pH darah 7,4. Penyangga di luar sel hanya sedikit jumlahnya, tetapi sangat penting untuk larutan penyangga urin. (Guyton, 2008) 2. Sistem respiratorik (sistem paru) Sistem pernapasan berperan penting bagi keseimbangan asam-basa karena kemampuannya mengubah ventilasi paru-paru sehingga dapat mengubah kecepatan ekskresi C penghasil yang diatur oleh konsentrasi arteri. Pengaturan pernapasan terhadap keseimbangan asam basa merupakan tipe sistem penyangga fisiologis. Seluruh tenaga penyangga sistem pernapasan adalah 1 atau 2 kali lebih besar daripada tenaga penyangga kimia. Rata-rata secara normal terdapat sekitar 1,2 mmol/liter C yang terlarut dalam cairan ekstraseluler yang sama dengan 40mmHg PC . Bila pembentukan C metabolik meningkat, cairan ekstraseluler PC juga meningkat. Jika konsentrasi meningkat, pusat pernapasan di batang otak secara refleks terangsang untuk meningkatkan C ventilasi paru-paru yang mengakibatkan kedalaman nafas meningkat sehingga lebih banyak yang dikeluarkan sehingga jumlah yang ditambahkan ke dalam cairan tubuh berkurang. Karena C membentuk asam, pengeluaran C pada dasarnya adalah pengeluaran asam dari tubuh. Jadi, pH tubuh dapat kembali ke pH normal. Jadi, peningkatan ventilasi alveolus menurunkan konsentrasi ion hidrogen cairan ekstraseluler dan meningkatkan pH. Begitu pula sebaliknya. Konsentrasi ion hidrogen juga berpengaruh terhadap kecepatan ventilasi alveolus. Sewaktu kecepatan alveolus menurun karena disebabkan oleh peningktan pH dan penurunan konsentrasi hidrogen, jumlah oksigen yang ditambahkan ke dalam darah menurun dan tekanan parsial oksigen di dalam darah juga menurun sehingga memberikan efek merangsang kecepatan ventilasi. Paru-paru sangat penting dalam mempertahankan konsentrasi plasma. Setiap hari, paru-paru mengeluarkan yang berasal dari asam karbonat dari cairan tubuh , lebih banyak daripada jumlah yang dikeluarkan oleh ginjal. Sistem pernapasan juga dapat menyesuaikan jumlah yang ditambahkan ke cairan tubuh dari sumber sesuai dengan kebutuhan untuk memulihkan pH ke arah normal apabila terjadi fluktuasi konsentrasi dari sumber-sumber asam non-karbonat. Pengaturan oleh sistem pernapasan bekerja dengan kecepatan sedang dan hanya aktif berperan jika sistem penyangga kimiawi saja tidak mampu meminimalkan perubahan konsentrasi . Jika kelainan non-respiratorik mengubah konsentrasi , sistem pernapasan hanya akan dapat mengembalikan pH 50-75% dari normal karena gaya pendorong yang mengatur respon ventilasi kompensatorik lenyap apabila pH bergeser ke arah normal. Jika perubahan konsentrasi , terjadi akibat fluktuasi konsentrasi C yang timbul dari gangguan pernapasan, mekanisme pernapasan sama sekali tidak dapat berperan mengontrol pH.

3. Sistem metabolik (sistem ginjal) Ginjal tidak saja dapat mengubah-ubah pengeluaran menahan atau mengeliminasi HC

, tetapi juga dapat

Ginjal mampu memulihkan pH hampir tepat ke normal walaupun membutuhkan yang lebih lama. Ginjal mengontrol pH cairan tubuh dengan menyesuaikan 3 faktor yaitu : a. Ekskresi ion hidrogen Paru-paru hanya mampu mengeluarkan asam karbonat melalui eliminasi C . Tugas untuk mengeliminasi yang berasal dari asam sulfat, fosfat, laktat dan asam lain terletak di dalam ginjal. Ginjal tidak saja secara kontinu mengeluarkan dalam jumlah normal yang terus menerus dihasilkan dari sumber-sumber asamnon-karbonat, tetapi, juga mengubah-ubah kecepatan sekresinya untuk mengkompensasi perubahan konsentrasi yang timbul dari kelainan konsentrasi asam karbonat. Besarnya sekresi bergantung pada status asam basa pada sel tubulus ginjal dan tidak dipengaruhi oleh pengaruh hormonal. Proses sekresi berawal di sel-sel tubulus dengan C yang datang dari 3 sumber yaitu C yang berdifusi dari plasma atau dari cairan tubulus atau C yang diproduksi secara metabolis di dalam sel tubulus. Lalu C dan O membentuk yang akan berdisosiasi membentuk dan HC . Suatu pembawa yang bergantung energi di membran luminal kemudian mengangkut keluar sel ke dalam lumen tubulus. Di bagian nefron, pembawa ini mengangkut yang berasal dari filtrat glomerulus ke arah yang berlawanan. Karena reaksi ini diawali dengan C jadi kecepatannya bergantung pada konsentrasi C , jika konsentrasi C meningkat, maka reaksi akan berlangsung cepat.

Jika konsentrasi di plasma tinggi, sel-sel tubulus akan berespon dengan mensekresikan dalam jumlah yang lebih untuk disekresikan ke dalam urin, begitu pula sebaliknya. Ginjal tidak dapat meningkatkan konsentrasi plasma dengan mereabsorpsi yang sudah difiltrasi karena tidak terdapat mekanisme tersebut di dalam ginjal.

b. Ekskresi bikarbonat Sebelum dibuang oleh ginjal, yang dihasilkan dari asam nonkarbonat disangga oleh HC plasma. Ginjal mengatur konsentrasi HC plasma melalui 2 mekanisme yaitu : 1. Reabsorpsi HC yang difiltrasi kembali ke plasma Ion bikarbonat tidak mudah menembus membran luminal selsel tubulus ginjal sehingga tidak dapat difiltrasi dan direabsorpsi secara langsung. Ion hidrogen yang disekresikan ke luar sel tubulus berikatan dengan HC yang difiltrasi untuk membentuk C . Lalu di bawah pengaruh karbonat anhidrase, C tersebut teruari menjadi O dan C . Lalu C masuk kembali ke dalam sel tubulus karena C mampu dengan mudah menembus membran sel tubulus. Di dalam sel, di bawah pengaruh karbonat anhidrase intrasel, C bergabung kembali dengan H2O membentuk C yang akan terurai menjadi dan HC . Karena dapat menembus membran basolateral sel tubulus, HC secara pasif berdifusi keluar sel masuk ke dalam plasma kapiler-peritubulus. HC ini seolah-olah direabsorpsi padahal sebenarnya tidak. Dalam keadaan normal, ion hidrogen yang disekresikan ke dalam lumen tubulus lebih banyak dibandingkan dengan ion bikarbonat yang difiltrasi. Sehingga semua ion bikarbonat yang difiltrasi biasanya direabsorpsi karena tersedia di lumen tubulus untuk berikatan dengannya. 2. Penambahan HC yang baru ke dalam plasma Pada saat semua HC yang difiltrasi telah direabsorpsi dan sekresi tambahan telah dihasilkan oleh disosiasi C , HC yang dihasilkan berdifusi ke dalam plasma sebagai HC yang baru. Disebut baru karena kemunculannya di dalam plasma tidak berikatan dengan reabsorpsi HC yang difiltrasi. Sementara itu, yang dihasilkan bergabung dengan penyangga fosfat basa dan kemudian dieksresi di urin.

Selama asidosis, ginjal melakukan kompensasi sebagai berikut : Meningkatkan sekresi dan ekskresi di urin sehingga kelebihan dapat dieliminasi dan konsentrasi di plasma menurun. Mereabsorpsi semua ion bikarbonat yang difiltrasi disertai dengan penambahan ion bikarbonat baru ke plasma sehingga konsentrasi ion bikarbonat plasma meningkat. Begitu pula sebaliknya pada alkalosis. c. Sekresi amonia Terdapat dua penyangga urin yang penting yaitu penyangga fosfat (yang difiltrasi) dan amonia (NH3) yang disekresi. Dalam keadaan normal, ion hidrogen yang disekresikan, pertama disangga oleh sistem penyangga fosfat, yang berada di dalam lumen tubulus karena kelebihan ingesti fosfat telah difiltrasi tetapi tidak direabsorpsi. Jika sekresi ion hidrogen meningkat, kapasitas fosfat urin untuk menyangga akan terlampaui,tetapi ginjal tidak dapat mengeluarkan lebih banyak fosfat basa, maka semua ion fosfat basa akan diekskresikan agar berikatan dengan ion hidrogen. Lalu sel-sel tubulus mensekresikan N ke dalam lumen tubulus setelah penyangga fosfat urin menjadi jenuh. Lalu, ion Hidrogen akan terus berikatan dengan N untuk membentuk ion amonium (N ) Ion amonium akan keluar melalui urin setiap ia mengangkut ion hidrogen. N sengaja disintesis dari asam amino glutamin (setiap satu molekul glutamin menghasilkan dua ion N yang akan dieksresikan melalui urin dan ion bikarbonat yang akan dikembalikan ke darah) di dalam sel tubulus kemudian berdifusi mengikuti penurunan gradien konsentrasike dalam lumen tubulus. Kecepatannya diatur oleh jumlah kelebihan ion hidrogen yang akan diangkut di urin. Untuk setiap N yang dieksresikan, dihasilkan HC yang baru untuk ditambahkan ke dalam darah. Sekresi N selama asidosis berfungsi untuk menyangga kelebihan ion hidrogen di dalam lumen tubulus, sehingga ion hidrogen dapat disekresikan dalam jumlah besar ke dalam urin sebelum pH semakin menurun sampai batas 4,5. (Sherwood, 2004)

LI 5 Gangguan asam basa Asidosis Metabolik Penyebab


Pembentukan asam yang berlebihan di dalam tubuh

Asidosis Respiratorik

Alkalosis Metabolik

Alkalosis Respiratorik

Hambatan a. terbuangnya ion a. rangsangan pada pusat H+ hipoksemik ( pernafasan di melaluisaluran penykit paru medula cerna atau dengan gradient oblongata melalui ginjal A-a, penyakit Berkurangnya dan jantung dengan kadar ion Gangguan berpindahnya right to lefy HC O dalam pada otot-otot ion H+ masuk shunt, penykit tubuh pernafasan kedalam sel. jantung dengan b. Terbuangnya edema paru, Retensi ion H+ Gangguan cairan bebasanemia gravis ) dalam tubuh. pertukaran bikarbonat dari gas dalam tubuh b. stimulasi pusat Penambahan (emfisema c. Pemberian pernafasan asam dan bronkitis, bikarbonat dimedula Pengurangan edema paru berlebihan. (kelaunan bikarbonat : akut, neurologis, asidosis pneumonia, psikogenik tubulus ginjal, pneumotorak misalnya diare, s) serangan panic, kolostomi, dan nyeri, gagal hati Obstruksi ileostomi dengan saluran nafas ensefalopati, Berbagai atas akut kehamilan) gangguan, (aspirasi seperti gagal benda asing ginjal, asidosis atau muntah, laktat, langiospasme produksi atau edema badan keton laring) naik, hyperaldostero n, keracunan

Ion H+

Naik

Naik

Turun

Turun

pH

kurang dari 7.35

Kurang (pH kurang dari 7.35)

Tinggi (lebih besar dari 7.45)

Tinggi (pH >7,45)

CO2 total

HCO3

kurang dari 22 mEq/L

Normal (1925 mEq/L)

Tinggi (lebih besar dari 26 mEq/L)

Normal (19-25 mEq/L)

pCO2

Normal (3842 mmHg)

Tinggi (lebih besar dari 45 mmHg)

Normal

Rendah (PaCO2 <35)

Kompensa si

P CO darah akan menurun, dan ini tentu berakibat kenaikan pH (lihat persamaan Henderson). Jadi, penurunan pH pada asidosis metabolic akan dikompensasi oleh suatu reaksi alkalosis respiratorik(p H PCO).

Asidosis respiratorik, akan menimbulka n peningkatan reabsorbsi HCOdi ginjal, akibatnya kadar HCOdidarah akan meningkat dan pH juga akan naik. Jadi, asidosis respiratorik akan dikompensa si oleh suatu alkalosis metabolic

Alkalosis metabolik, akan menimbulkan depresi pernapasan sehingga P CO darah akan meningkat, yang ini tentunyaakan mengakibatkan penurunan pH. Jadi kenaikan pH pada alkalosis metabolik akan dikompensasi oleh suatu reaksi asidosis respiratorik.

Alkalosis respiratorik, akan menurunkan reabsorbsi HCO3 di ginjal. Akibatnya kadar HCO3 darah akan menurun dan dengan sendirinya nilai pH akan turun pula. Artinya, alkalosis respiratorik di tubuh akan dikompensasi oleh suatu asidosis metabolic.

(pH , HCO3).

Mekanism e

Terapi

Dokter biasanya melakukan tes darah seperti gas darah arteri dan analisis jumlah sel darah untuk mendiagnosa kondisi ini. Pengobatan asidosis metabolik akan tergantung pada penyebab yang mendasariny a. Jika pH darah turun hingga di bawah 7,1, pemberian bikarbonat secara intravena mungkin diperlukan untuk menetralisir asam.

Diberikan cairan yang mengandung bikarbonat. Bila berat dengan pH < 7,10 segera diberikan bikarbonat 2-4 mEq/kgBB. Bila mungkin lakukan pemeriksaan analisis gas darah dengan memakai rumus berikut: Bikarbonat yang diperlukan (mEq) = BE x BB x 0,3

Pengobatan alkalosis metabolic adalah dengan pemberian ammonium klorida dengan dosis dihitung menurut rumus:

Disebabkan oleh hipoksemia diatasi dengan memberikan terapi oksigen.

Disebabkan serangan panic diatasi dengan memberikan Amonium pernapasan klorida yang menggunakan diperlukan (mEq) system air = (Ki-Ku) x BB x rebreathing. fd Overventilasi pada Keterangan: pasien dengan Ki = Konsentrasi ventilasi makanik bikarbonat diatasi dengan natrikus yang mengurangi minute diinginkan ventilation atau dengan menambah Ku = Konsentrasi dead space. bikarbonat natrikus yang Disebabkan oleh diukur hipoksemia diterapi dengan oksigen dan BB = Berat memperbaiki badan dalam kg penyebab gangguan fd = Faktor pertukaran gas. distribusi dalam tubuh, untuk ammonium klorida adalah 0,2 0,3

Keadaan Pada kasus yang berat, dialisis diperlukan untuk mengobati asidosis metabolik. Ventilasi mekanis juga bisa digunakan untuk meringankan masalah pernapasan. Memantau dan mengendalik an faktor yang menyebabka n asidosis metabolik adalah cara terbaik mencegah memburukny a kondisi. Seperti misalnya, mengendalik an penyebab seperti diabetes dapat membantu mengontrol asidosis metabolik pada pasien diabetes. terkompensa si (pH normal) berikan separuh cairan secara cepat dan sisanya dengan infus.

Bila terdapat gangguan fungsi ginjal pemberian natrium bikarbonat harus hatihati, karena natrium dapat meningkatka n volume cairan ekstraselular .

Buku gangguan keseimbangan air-elektrolit dan asam basA FKUI

http://bumbata.co/18430/asidosis-metabolik-penyebab-gejala-danpengobatannya/