Anda di halaman 1dari 8

Rinoskopi posterior dan nasoendoskopi

Oleh: Fatimah Jufria (2009730134)

Pemeriksaan Hidung
Pemeriksaan hidung luar
Kelainan kongenital (agenesis hidung,hidung bifida, atresis nares ant, kista dermoid, meningokel dan meningo-ensefalokel ) Radang Kelainan bentuk : Saddle nose, hump (betet) Trauma Tumor

Rinoskopi anterior Rinoskopi posterior Nasoendoskopi

Pemeriksaan hidung
Rinoskopi posterior : untuk melihat bagian belakang hidung dan nasofaring.

Tehnik pemeriksaan
Diperlukan spatula lidah dan kaca nasofaring yang telah dihangatkan dengan api lampu spirtus. Sebelum kaca dimasukkan, suhu kaca dites terlebih dahulu dengan menempelkannya pada kulit belakang tangan kiri pemeriksa. Pasien diminta membuka mulut, lidah 2/3 anterior ditekan dengan spatula lidah. Pasien bernapas melalui mulut supaya uvula terangkat ke atas dan kaca nasofaring yang menghadap ke atas dimasukan melalui mulut, kebawah uvula dan sampai nasofaring.

Setelah kaca berada di nasofaring, pasien diminta bernapas biasa melalui hidung, uvula akan turun kembali dan rongga nasofaring terbuka. Perhatikan bagian belakang septum dan koana. Kemudian kaca di putar ke lateral sedikit untuk melihat konka superior, media, dan inferior, serta meatus superior dan meatus media. Kaca diputar lebih ke lateral lagi sehingga dapat diidentifikasi torus tubarius, muara tuba eustachius dan fosa Rossenmuler.

Nasoendoskopi adanya fasilitas endeskop (teleskop) akan sangat membantu diagnosis kasus polip yang baru. Polip stadium 1 dan 2 kadang-kadang tidak terlihat pada pemeriksaan rinoskopi anterior tetapi tampak dengan pemeriksaan nasoendoskopi.1 Pada kasus polip koanal juga sering dapat dilihat tangkai polip yang berasal dari ostium asesorius sinus maksila.1

Daftar Pustaka

TERIMA KASIH