Anda di halaman 1dari 50

STATUS PASIEN

I.

IDENTITAS PASIEN Nama Jenis Kelamin Usia Agama Suku Pendidikan Terakhir Status Pernikahan Pekerjaan Alamat Tanggal Pemeriksaan : Nn. Revhi : Perempuan : 18 tahun : Islam : Jawa : SMK : Belum Menikah : Tidak Bekerja : Cipari, Cilacap Jawa Tengah : 23 1 2014

II.

RIWAYAT PERAWATAN Rawat Inap Rawat Jalan : belum pernah : belum pernah

III.

RIWAYAT PSIKIATRI ALLOANAMNESIS dan AUTOANAMNESIS Tanggal: 23 1 2014 Nama dan Hubungan dengan pasien : Ny. M Bibi pasien.

A.

Keluhan Utama Tiba-tiba mengamuk tanpa sebab yang jelas.

B.

Riwayat Gangguan Sekarang ALLOANAMNESIS 5 hari yang lalu, hari minggu pagi 19-1-2014 pasien mengunjungi keluarga di Banjar, bibi pasien mengaku pasien berbicara tentang pacar terus menuerus, yang 1

dianggap bukan kebiasaan pasien karena pasien adalah anak yang dikenal sangat pendiam. Pada sore hari tiba-tiba pasien menangis dan mengamuk serta mencurigai sepupunya bahwa pasein mau merebut suami dari sepupunya tersebut. Pasien mengamuk dan merusak barang-barang disekitarnya.. Bibi pasien mengaku, setelah mengamuk pasien tampak sadar dan meminta maaf pada keluarga. 4 hari yang lalu, 20-1-2014 saat tiba di rumahnya di cipari pasien tampak gelisah, lebih banyak diam, berbicara melantur, menangis tiba-tiba dan sering mengamuk. Kadang pasien ketakutan karena merasa diikuti oleh beberapa ekor macan yang datang ke rumahnya bersama raja prabu siliwangi dan para pengawalnya. Bibi pasien mengaku pasien tidak tidur dan tidak mau makan selama 3 hari 3 malam. Bibi pasien mengatakan bahwa pasien merupakan anak yang selalu dimanja oleh ayah dan ibunya. Pasien selalu mendapat apa yang diminta dan akan marah bila tidak dikabulkan. Pasien memiliki temperamen yang keras. Ayah pasien sangat melarang pasien berpacaran yang membuat pasien menjadi terkekang. Pada hari rabu malam, bibi pasien mengatakan bahwa pasien mengamuk dan berperilaku seperti macan. Maka dari itu keluarga pasien membawa pasien ke RSUD Banjar keesokan harinya. AUTOANAMNESIS 1 tahun yang lalu pasien merasa selalu dikekang oleh ayahnya, terutama soal berhubungan dengan lawan jenis. Pasien mengaku teman laki-laki yang main ke rumah selalu diusir oleh ayahnya. Pasien juga merasa ada ketidakadilan dari sikap ayahnya yang lebih memperbolehkan kakaknya untuk berpacaran. Pasien mengaku memendam perasaan tidak suka pada ayahnya sejak saat itu. Pasien mengaku sejak saat itu sering didatangi oleh raja prabu siliwangi yang ingin melindunginya dari orang jahat. pasien mengaku bahwa prabu siliwangi hanya datang dan melindungi orang baik dan cantik saja.

Satu bulan terakhir pasien mengatakan prabu siliwangi lebih sering datang bersama para pengawalnya dan beberapa ekor macan yang berwarna warni. Pasien mengaku telah berteman dengan para macan tersebut dan meminta keluarganya juga dilindungi dari orang jahat. pasien mengatakan pernah dirasuki oleh macan berwarna putih. Dan pernah juga dirasuki oleh prabu siliwangi. Satu minggu terakhir pasien mengaku selalu didatangi macan putih dan prabu siliwangi setiap malam, yang menyebabkan pasien tidak tidur karena takut. C. Riwayat Gangguan Sebelumnya a. Gangguan psikiatrik Pasien belum pernah mengalami gangguan psikiatrik sebelumnya, jadi gangguan yang terjadi sekarang adalah gangguan psikiatrik yang pertama kali dan 1 episode. b. Gangguan Medik Pasien tidak memiliki riwayat trauma kepala, cidera kepala, demam, maupun kejang. c. Gangguan Zat Psikoaktif Merokok, minum alcohol dan mengkonsumsi obat-obatan terlarang disangkal. D. Riwayat Kehidupan Pribadi a. Riwayat Perkembangan Prenatal dan Perinatal Ibu pasien tidak mengalami trauma saat kehamilan dan tidak mengkonsumsi obat-obatan atau jamu apapun. Pasien dilahirkan secara normal (pervaginam) tidak ada kelainan atau penyulit dalam proses persalinan. Persalinan di bantu oleh Dukun. b. Riwayat Perkembangan Masa Kanak-kanak Awal (0 3 tahun) Perkembangan fisik pasien baik, pola perkembangan motorik juga baik. c. Riwayat Kanak-kanak Pertengahan ( 3 11 tahun) Sejak sekolah, pasien memiliki banyak teman, tidak pernah bermasalah di sekolah dan lingkungan tempat tinggal. Prestasi di sekolah baik dan tidak pernah tinggal kelas.

d. Riwayat Masa Pubertas dan Remaja Hubungan sosial Pasien dikenal sebagai anak yang manja yang segala permintaannya harus dituruti. Pasien juga dikenal pendiam dan jarang menceritakan masalah yang ada pada keluarga Sikap pasien terhadap kedua orang tua, kakak, saudara lain cukup baik. Hal ini tergambarkan dengan komunikasi pasien setiap harinya yang tidak terganggu dengan saudara saudaranya. Begitupun dengan tetangga dirumahnya, pasien tidak pernah memiliki masalah Riwayat pendidikan Pendidikan terakhir pasien adalah SMK. Perkembangan kognitif Pasien tidak memiliki gangguan belajar, pasien tidak pernah tinggal kelas meskipun pasien jarang mendapatkan peringkat lima besar selama sekolah. Perkembangan motorik Perkembangan fisik pasien selama ini normal. Pasien mampu melakukan aktivitas dan kegiatan sehari-hari dengan baik seperti makan, minum, toilet, dan kebersihan diri. Perkembangan emosi dan fisik Pasien dinilai memiliki emosi yang normal dan perkembangan fisik tidak ada gangguan, sesuai usia. Riwayat psikoseksual Pasien belum menikah

e.

Riwayat Masa Dewasa Riwayat pekerjaan Pasien belum memiliki pekerjaan tetap Riwayat kehidupan seksual dan perkawinan Pasien belum menikah Riwayat keagamaan 4

Pasien jarang beribadah Riwayat aktivitas sosial Pasien sering bergaul dengan tetangga dirumahnya. Pasien mau mengikuti aktivitas dilingkungan tempat tinggalnya dan pasien juga banyak memiliki teman (tetangga) yang akrab dengannya. Dilingkungan sekolah kerja pasien dikenal sebagai pribadi yang mudah bergaul, banyak teman dan tidak pernah membuat masalah baik kepada guru maupun teman Riwayat hukum Pasien tidak pernah terlibat masalah hukum.

f.

Riwayat Keluarga Ibu pasien bekerja sebagai TKW di Singapur sejak 3 tahun yang lalu. Ayah pasien bekerja sebagai petani

g.

Situasi Kehidupan Sekarang Pasien saat ini tinggal satu rumah dengan ayah dan kakak perempuannya. Pasien merupakan anak yang manja agak pendiam. Pasien kurang dekat dengan ayahnya. Pasien sehari-hari membantu mengurus rumah bersama kakak dan ayahnya. Menurut kerabatnya pasien merupakan anak yang keras kepala

Berdasarkan home visit ke rumah pasien pada hari minggu tanggal 26 Januari 2014, didapatkan : Rumah yang ditinggali pasien adalah milik keluarga pasien sendiri. Kondisi rumah pasien baik, rumah dengan luas 7,5 x 12 m, dengan halaman yang cukup luas. Beratapkan genteng, terdiri dari 3 kamar tidur, 1 ruang keluarga, 1 dapur,1 ruang makan, 1 kamar mandi.

Rumah terbilang cukup bagus untuk tempat tinggal yang dihuni oleh 4 orang. Lantai rumah sudah terpasang keramik (ubin) di seluruh ruangan. Perabotan rumah terbilang baik.

Sirkulasi udara didalam rumah terasa cukup. Akses jalan menuju rumah pasien dirasakan kurang memadai dikarenakan letak rumah di perbukitan. Pasien tidak mempunyai kendaraan. Jarak antara rumah pasien dengan tetangga sekitar 50-100 meter. Dipisahkan dengan kebun-kebun dan pepohonan.

Gambar 1. Rumah keluarga pasien (tampak depan)

Gambar 2. Tampak samping kanan

Gambar 3. Tampak samping kanan

Gambar 4. Halaman samping rumah

Gambar 5. Belakang rumah

10

Gambar 6. Ruang tamu rumah pasien h.Tanggapan keluarga setelah pasien dirawat Keluarga inti tidak merasa malu memiliki keluarga yang dirawat di RSUD Banjar. Keluarga menyadari sepenuhnya bahwa pasien sedang sakit dan perlu perawatan khusus di RSUD untuk penyakitnya. Keluarga optimis pasien akan sembuh dari gangguan jiwanya

i.Tanggapan tetangga sekitar rumah setelah pasien dirawat Tetangga sekitar rumah pasien mendukung pasien dan masih optimis bahwa pasien bisa sembuh. Tetangga sekitar mayoritas tidak menganggap pasien gila

11

III.

STATUS MENTAL A. Deskripsi Umum Penampilan Pasien seorang perempuan, berbadan agak gemuk, tinggi sekitar 150cm dan berat badan 57 kg, tidak ada kelainan bentuk tubuh. Pasien berkulit sawo matang, rambut berwarna hitam, agak sedikit ikal, dan pendek. Pasien memakai kaos dan celana jeans. Pakaian pasien terbilang rapih dan sesuai dengan usia sebenarnya. Perilaku dan aktivitas psikomotor Pasien nampak gelisah, perhatian kurang, tidak bisa diwawancara karena terus mengamuk dan memaki-maki orang sekitarnya Sikap terhadap pemeriksa Pada wawancara pertama, pewawancara kesulitan untuk menggali informasi perihal keluhan pasien, saat wawancara kedua pasien cukup kooperatif dalam menjawab, Pasien cukup perhatian dalam mendengarkan pertanyaan yang diberikan. Pembicaraan (speech) Cara berbicara Volume berbicara : Spontan, relevan : Normal, tidak keras

Kecepatan berbicara : normal Gaya berbicara Gangguan berbicara B. Alam Perasaan Mood Afek : sedih : luas 12 : Normal : tidak ada afasia, tidak ada disartria, tidak ada ekolalia.

C.

Kesesuaian

: Sesuai

Gangguan Persepsi Halusinasi o Auditorik Visual : disangkal : ada (pasien sering melihat banyak macan yang

melindungi) D. Taktil Gustatorik : disangkal : disangkal : disangkal

Ilusi

Gangguan Pikir Proses Pikir o Produktivitas o Kontinuitas Inkoherensia Isi pikir Gangguan isi pikiran : Waham Curiga : Tidak ada 13 Assosiasi longgar Word salad Neologisme : Tidak ada : Tidak ada. : Tidak ada. : Normal

Flight of Idea : Tidak ada Sirkumstansial : Tidak ada.

Waham Kebesaran Waham dosa Thought of insertion

: Tidak ada : Tidak Ada : ada (pasien merasa dirasuki oleh raja prabu siliwangi)

Thought of broadcasting : Tidak ada Thought of withdrawal Thought of echo Delution of control : Tidak ada : Tidak ada : Ada (pasien merasa dirasuki oleh

macan putih) E. Sensorium dan Kognitif Kesadaran : Composmentis Orientasi : baik o Waktu (pasien mampu menyatakan sekarang ini siang/sore/malam) o Tempat (pasien dapat menyebutkan bahwa saat ini sedang berada di RS) o Orang (pasien tahu bahwa ia sedang diwawancarai oleh Dokter Muda) Daya ingat : Baik o Daya ingat jangka panjang (pasien dapat mengingat alamat rumah, nama sekolah SD) o Daya ingat jangka pendek (pasien dapat mengingat menu sarapan pagi tadi) o Daya ingat yang baru-baru ini terjadi (pasien dapat mengingat kapan ia datang ke rumah sakit)

14

o Daya ingat segera (pasien dapat mengingat nama dokter muda yang wawancara saat itu, dan dapat mengulang dengan baik urutan nama benda kursi, pulpen, buku) Konsentrasi : konsentrasi cukup baik Pasien masih bisa menghitung 100 dikurang 7. F. Daya Nilai Daya nilai sosial : Baik Menurut pasien mencuri adalah perbuatan tidak baik. Uji daya nilai : Baik Misalnya jika pasien menemukan dompet (dengan identitas pemilik) dijalan dan terdapat uang Rp. 1.000.000,- ia akan mengembalikan dompet beserta uang tersebut ke kantor Polisi Daya nilai realitas: Terganggu G. Reality Test Ability (RTA) : Terganggu

Karena sudah sejak lama pada pasien terdapat halusinasi visual, delution of control, waham curiga, dan waham paranoid maka pada pasien ini RTA dinilai tidak baik H. Tilikan : Tilikan derajat I

Pasien tidak menyadari bahwa dirinya sakit dan dia menganggap keluarganya menganggapnya gila IV IKHTISAR PENEMUAN YANG BERMAKNA RTA Mood Afek Gangguan persepsi : Terganggu : sedih : luas : Ilusi (-)/ Halusinasi (+) 15

Gangguan proses pikir Gangguan isi pikir Tilikan Faktor stressor

: autistic thinking : waham kontrol (+),Thought of insertion (+) : Tilikan derajat 1 : Pasien selalu merasa dikekang oleh ayahnya dan diperlakukan tidak adil

VI.

EVALUASI MULTIAKSIAL AKSIS I AKSIS II AKSIS III AKSIS IV AKSIS V : F31.3 Gangguan Afektif Bipolar episode kini depresif ringan atau sedang : F60.3 gangguan kepribadian emosional tidak stabil :Belum ada diagnosis : masalah dengan primary support group (keluarga) :Global Assesment of Functioning (GAF) SCALE 1 tahun 80-71 &GAF

pemeriksaan 70-61

VII.

DAFTAR PROBLEM a. b. c. d. Organobiologik : Tidak ada. Psikologi Sosial Keluarga : Halusinasi visual, delution of control, thought insertion : Masalah hubungan sosial tidak ada : Hidup sebagai anak bungsu di keluarga yang mendapat larangan

berlebihan dari ayahnya untuk berteman dengan lawan jenis. IX. PROGNOSIS Faktor - faktor yang mendukung ke arah prognosis baik: Keluarga pasien masih mendukung pasien untuk sembuh. Faktor - faktor yang mendukung ke arah prognosis buruk: Ayah pasien kurang memberikan kebebasan pasien untuk bergaul dengan lawan jenis

16

Keluarga dekat pasien tidak berani untuk membantu merubah persepsi ayahnya

Kesimpulan prognosisnya adalah: Quo ad vitam Quo ad functionam Quo ad sanationam : dubia ad bonam : dubia ad bonam : dubia ad bonam

X.

PENATALAKSANAAN Rawat ruang isolasi dengan fiksasi

1. Farmakoterapi Cepezet injeksi 50 mg ( 1 amp 0 1 amp ) selama 2 hari. Hari ke III diganti oral : R/ persidal 1,25 mg Kalsetin 7,5 mg Mf pulvus da in cap dtt No X S 2 dd 1

17

2. Terapi Psikoterapi a. Memotivasi pasien agar minum obat teratur dan kontrol rutin setelah pulang dari perawatan. b. Memberi dukungan dan perhatian kepada pasien dalam menghadapi masalah serta memberikan dorongan agar lebih terbuka bila mempunyai masalah dan jangan memperberat pikiran dalam menghadapi suatu masalah. c. Memberikan edukasi kepada pasien bahwa obat yang diminum tidak menimbulkan ketergantungan justru sebagai pengontrol zat kimia di otak agar gejala yang dialami pasien bisa terkontrol dan pasien bisa menjalani kehidupan sehari-hari seperti sebelum sakit 3. Terapi Kognitif Menjelaskan pada pasien tentang penyakit dan gejala-gejalanya, menerangkan tentang gejala penyakit yang timbul akibat cara berfikir, perasaan dan sikap terhadap masalah yang dihadapi. 4. Terapi Sosial Melibatkan pasien secara aktif dalam kegiatan terapi aktivitas kelompok di RS agar ia dapat beraktivitas dan berinteraksi dengan lingkungannya 5. Terapi Keluarga Menjelaskan kepada keluarga pasien mengenai penyakit pasien, penyebabnya, faktor pencetus, perjalanan penyakit dan rencana terapi serta memotivasi

keluarga pasien untuk selalu mendorong pasien mengungkapkan perasaaan dan pemikirannya. 6. Terapi Pekerjaan Memanfaatkan waktu luang dengan melakukan hobi atau pekerjaan yang bermanfaat.

18

Gangguan Afektif Bipolar a. Definisi Gangguan bipolar merupakan gangguan jiwa bersifat episodik dan ditandai oleh gejala-gejala manik, hipomanik, depresi dan campuran, biasanya rekuren serta dapat berlangsung seumur hidup. Kelainan fundamental pada kelompok gangguan ini adalah perubahan suasana perasaan (mood) atau afek, biasanya ke arah depresi (dengan atau tanpa anxietas yang menyertainya), atau ke arah elasi (suasana perasaan yang meningkat). Perubahan suasana perasaan ini biasanya disertai dengan suatu perubahan pada keseluruhan tingkat aktivitas, dan kebanyakan gejala lainnya adalah sekunder terhadap perubahan itu, atau mudah dipahami hubungannya dengan perubahan tersebut. Ada empat jenis GB tertera di dalam Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders IV-Text
Revision (DSM-IV TR)

yaitu GB I, GB II. gangguan siklotimia, dan GB yang tak dapat

dispesifikasikan. Gangguan Bipolar I adalah suatu perjalanan klinis yang dikarakteristikkan oleh terdapatnya satu atau lebih episode manik atau campuran, dimana individu tersebut juga mempunyai satu atau lebih episode depresi mayor. Kekambuhan ditunjukkan oleh perpindahan polaritas dari episode atau terdapatnya interval diantara episode-episode paling sedikit 2 bulan tanpa adanya gejala-gejala mania.

b. Etiologi Faktor biologi Hingga saat ini neurotransmitter monoamine seperti norepinefrin, dopamine, serotonin, dan histamine menjadi focus teori dan masih diteliti hingga saat ini. Sebagai biogenik amin norepinefrin dan serotonin adalah neurotransmitter yang paling berpengaruh dalam patofisiologi gangguan mood ini. Norepinefrin. Teori ini merujuk pada penurunan regulasi dan penurunan sensitivitas dari reseptor adrenergik dan dalam klinik hal ini dibuktikan oleh respon pada penggunaan anti depresan yang cukup baik sehingga mendukung adanya peran langsung dari system noradrenergik pada depresi. Bukti lainnya melibatkan reseptor 2 presinaps pada depresi karena aktivasi pada reseptor ini menghasilkan penurunan dari pelepasan norepinefrin. Reseptor 2 juga terletak pada neuron serotoninergic dan berperan dalam regulasi pelepasan serotonin. 19

Serotonin. Teori ini didukung oleh respon pengobatan SSRI (selective serotonin reuptake inhibitor) dalam mengatasi depress. Rendahnya kadar serotonin dapat menjadi factor resipitat depresi, beberapa pasien dengan dorongan bunuh diri memiliki konsentrasi serotonin yang rendah dalam cairan cerebropinalnya dan memiliki kadar konsentrasi rendah uptake serotonin pada platelet.

Dopamine. Selain dari norepinefrin dan serotonin, dopamine juga diduga memiliki peran. Data memperkirakan bahwa aktivitas dopamine dapat mengurangi depresi dan meningkat pada mania. Dua teori mengenai dopamine dan depresi adalah bahwa jalur mesolimbic dopamine tidak berfungsi dopamine reseptor D1 hipoaktif pda keadaan depresi. terjadi pada depresi dan

Kelainan di otak juga dianggap dapat menjadi penyebab penyakit ini. Terdapat perbedaan gambaran otak antara kelompok sehat dengan penderita bipolar. Melalui pencitraan magnetic resonance imaging (MRI) dan positron-emission tomography (PET), didapatkan jumlah substansia nigra dan aliran darah yang berkurang pada korteks prefrontal subgenual. Tak hanya itu, Blumberg dkk dalam Arch Gen Psychiatry 2003 pun menemukan volume yang kecil pada amygdale dan hippocampus. Korteks prefrontal, amygdale, dan hippocampus merupakan bagian dari otak yang terlibat dalam respon emosi (mood dan afek). Penelitian lain menunjukkan ekspresi oligodendrosit-myelin berkurang pada otak penderita bipolar. Seperti diketahui, oligodendrosit menghasilkan membran myelin yang membungkus akson sehingga mampu mempercepat hantaran konduksi antar saraf. Bila jumlah oligodendrosit berkurang, maka dapat dipastikan komunikasi antar saraf tidak berjalan lancar.3

Faktor genetik Studi pada keluarga. Data dari studi ini mengatakan 1 orang tua dengan gangguan mood, anaknya akan memiliki risiko antara 10-25% untuk menderita gangguan mood. Jika kedua orang tuanya menderita gangguan mood, maka

kemungkinannya menjadi 2 kali lipat. Risiko ini meningkat jika ada anggota keluarga dari 1 generasi sebelumnya daripada kerabat jauh. Satu riwayat keluarga gangguan bipolar dapat meningkatkan risiko untuk gangguan mood secara umum, dan lebih spesifik pada kemungkianan munculnya bipolar. Studi pada anak kembar. Studi ini menunjukan bahwa gen hanya menjelaskan 5070% etiologi dari gangguan mood. Studi ini menunjukan rentang gangguan mood

20

pada monozigot sekitar 70-90% dibandingkan dengan kembar dizigot sekitar 1635%. Faktor psikososial Stress dari lingkungan dan peristiwa dalam hidup seseorang. Penelitian telah membuktikan faktor lingkungan memegang peranan penting dalam Gangguan perkembangan bipolar. Faktor lingkungan yang sangat berperan pada kehidupan psikososial dari pasien dapat menyebabkan stress yang dipicu oleh faktor lingkungan. Stress yang menyertai episode pertama dari Gangguan bipolar dapat menyebabkan perubahan biologik otak yang bertahan lama. Perubahan bertahan lama tersebut dapat menyebabkan perubahan keadaan fungsional berbagai neurotransmitter dan sistem pemberian signal intraneuronal. Perubahan mungkin termasuk hilangnya neuron dan penurunan besar dalam kontak sinaptik. Hasil akhir perubahan tersebut adalah menyebabkan seseorang berada pada resiko yang lebih tinggi untuk menderita Gangguan mood selanjutnya, bahkan tanpa adanya stressor eksternal. Faktor kepribadian. Tidak ada bukti yang mengindikasikan bahwa gangguan kepribadian tertentu berhubungan dengan berkembangnya gangguan bipolar I, walaupun pasien dengan gangguan distimik dan siklotimik berisiko untuk dapat berkembang menjadi depresi mayor atau gangguan bipolar I. Kejadian tiba-tiba yang memicu stress yang kuat adalah prediktor dari onset episode depresi.

c. Gambaran klinik atau manifestasi klinik Terdapat dua pola gejala dasar pada Gangguan bipolar yaitu, episode depresi dan episode mania. Episode manic: Paling sedikit satu minggu (bisa kurang, bila dirawat) pasien mengalami mood yang elasi, ekspansif, atau iritabel. Pasien memiliki, secara menetap, tiga atau lebih gejala berikut (empat atau lebih bila hanya mood iritabel) yaitu: a. Grandiositas atau percaya diri berlebihan b. Berkurangnya kebutuhan tidur c. Cepat dan banyaknya pembicaraan d. Lompatan gagasan atau pikiran berlomba e. Perhatian mudah teralih 21

f. Peningkatan energy dan hiperaktivitas psikomotor g. Meningkatnya aktivitas bertujuan (social, seksual, pekerjaan dan sekolah) h. Tindakan-tindakan sembrono (ngebut, boros, investasi tanpa perhitungan yang matang). Gejala yang derajatnya berat dikaitkan dengam penderitaan, gambaran psikotik, hospitalisasi untuk melindungi pasien dan orang lain, serta adanya Gangguan fungsi sosial dan pekerjaan. Pasien hipomania kadang sulit didiagnosa sebab beberapa pasien hipomania justru memiliki tingkat kreativitas dan produktivitas yang tinggi. Pasien hipomania tidak memiliki gambaran psikotik (halusinasi, waham atau perilaku atau pembicaraan aneh) dan tidak memerlukan hospitalisasi.

Episode Depresi Mayor Paling sedikit dua minggu pasien mengalami lebih dari empat symptom atau tanda yaitu : a. Mood depresif atau hilangnya minat atau rasa senang b. Menurun atau meningkatnya berat badan atau nafsu makan c. Sulit atau banyak tidur d. Agitasi atau retardasi psikomotor e. Kelelahan atau berkurangnya tenaga f. Menurunnya harga diri g. Ide-ide tentang rasa bersalah, ragu-ragu dan menurunnya konsentrasi h. Pesimis i. Pikiran berulang tentang kematian, bunuh diri (dengan atau tanpa rencana) atau tindakan bunuh diri. Gejala-gejala diatas menyebabkan penderitaan atau mengganggunya fungsi personal, sosial, pekerjaan.

Episode Campuran Paling sedikit satu minggu pasien mengalami episode mania dan depresi yang terjadi secara bersamaan. Misalnya, mood tereksitasi (lebih sering mood disforik), iritabel, marah, serangan panic, pembicaraan cepat, agitasi, menangis, ide bunuh diri, insomnia derajat berat, grandiositas, hiperseksualitas, waham kejar dan kadangkadang bingung. Kadang-kadang gejala cukup berat sehingga memerlukan perawatan

22

untuk melindungi pasien atau orang lain, dapat disertai gambaran psikotik, dan mengganggu fungsi personal, sosial dan pekerjaan.

Episode Hipomanik Paling sedikit empat hari, secara menetap, pasien mengalami peningkatan mood, ekspansif atau irritable yang ringan, paling sedikit terjadi gejala (empat gejala bila mood irritable) yaitu: a. Grandiositas atau meningkatnya kepercayaan diri b. Berkurangnya kebutuhan tidur c. Meningkatnya pembicaraan d. Lompat gagasan atau pemikiran berlomba e. Perhatian mudah teralih f. Meningkatnya aktifitas atau agitasi psikomotor g. Pikiran menjadi lebih tajam h. Daya nilai berkurang Tidak ada gambaran psikotik (halusinasi, waham, atau prilaku atau pembicaraan aneh) tidak membutuhkan hospitalisasi dan tidak mengganggu fungsi personal, sosial, dan pekerjaan. Sering kali dilupakan oleh pasien tetapi dapat dikenali oleh keluarga.

Sindrom Psikotik Pada kasus berat, pasien mengalami gejala psikotik. Gejala psikotik yang paling sering yaitu: a. Halusinasi (auditorik, visual, atau bentuk sensasi lainnya) b. Waham Misalnya, waham kebesaran sering terjadi pada episode mania sedangkan waham nihilistic terjadi pada episode depresi. Ada kalanya simtom psikotik tidak serasi dengan mood. Pasien dengan Gangguan bipolar sering didiagnosis sebagai skizofrenia. Ciri psikotik biasanya merupakan tanda prognosis yang buruk bagi pasien dengan Gangguan bipolar. Faktor berikut ini telah dihubungkan dengan prognosis yang buruk seperti: durasi episode yang lama, disosiasi temporal antara Gangguan mood dan gejala psikotik, dan riwayat penyesuaian social pramorbid yang buruk. Adanya ciri-ciri psikotik yang memiiki penerapan terapi yang penting, pasien dengan symptom psikotik hampir selalu memerlukan obat anti psikotik di samping anti

23

depresan atau anti mania atau mungkin memerlukan terapi antikonvulsif untuk mendapatkan perbaikan klinis.

d. Kriteria diagnosis Keterampilan wawancara dibutuhkan untuk menegakkan diagnosis. Informasi dari keluarga sangat diperlukan. Diagnosis ditegakkan berdasarkan criteria yang terdapat dalam DSM-IV atau ICD-10. Salah satu instrumen yang dapat digunakan untuk mengidentifikasi symptom Gangguan bipolar adalah The Structured clinical Interview for DSM-IV (SCID). The Present State Examination (PSE) dapat pula digunakan untuk mengidentifikasi symptom sesuai dengan ICD-10. Pembagian menurut DSM-IV: Gangguan mood bipolar I Gangguan mood bipolar I, episode manic tunggal A. Hanya mengalami satu kali episode manic dan tidak ada rwayat depresi mayor sebelumnya. B. Tidak bertumpang tindih dengan skizofrenia, skizofreniform, skizoafektif, Gangguan waham, atau dengan Gangguan psikotik yang tidak dapat diklasifikasikan. C. Gejala-gejala tidak disebabkan efek fisiologik langsung zat atau kondisi medic umum D. Gejala mood menyebabkan penderitaan yang secara klinik cukup bermakna atau menimbulkan hendaya dalam social, pekerjaan dan aspek fungsi penting lainnya. Gangguan mood bipolar I, episode manic sekarang ini A. Saat ini dalam episode manic B. Sebelumnya, paling sedikit, pernah mengalami satu kali episode manik, depresi, atau campuran. C. Episode mood pada kriteria A dan B bukan skizoafektif dan tidak bertumpang tindih dengan skizofrenia, skizofreniform, Gangguan waham, atau dengan Gangguan psikotik yang tidak dapat diklasifikasikan. D. Gejala-gejala tidak disebabkan oleh efek fisiologik langsung zat atau kondisi medik umum. 24

E. Gejala mood menyebabkan penderitaan yang secara klinik cukup bermakna atau menimbulkan hendaya dalam social, pekerjaan dan aspek fungsi penting lainnya. Gangguan mood bipolar I, episode campuran saat ini A. Saat ini dalam episode campuran B. Sebelumnya, paling sedikit, pernah mengalami episode manik, depresi atau campuran C. Episode mood pada kriteria A dan B tidak dapat dikategorikan skizoafektif dan tidak bertumpang tindih dengan skizofrenia, skizifreniform, Gangguan waham, atau Gangguan psikotik yang tidak diklasifikasikan D. Gejala-gejala tidak disebabkan efek oleh fisiologik langsung zat atau kondisi medik umum E. Gejala mood menyebabkan penderitaan yang secara klinik cukup bermakna atau menimbulkan hendaya dalam social, pekerjaan, atau aspek fungsi penting lainnya. Gangguan mood bipolar I, episode hipomanik saat ini A. Saat ini dalam episode hipomanik B. Sebelumnya, paling sedikit, pernah mengalami satu episode manic atau campuran C. Gejala mood menyebabkan penderita yang secara klinik cukup bermakna atau hendaya social, pekerjaan atau aspek fungsi penting lainnya D. Episode mood pada kriteria A dan B tidak dapat dikategorikan sebagai skizoafektif dan tidak bertumpang tindih dengan skizofrenia, skizofreniform, Gangguan waham, dan dengan Gangguan psikotik yang tidak dapat diklasifikasikan. Gangguan mood bipolar I, episode depresi saat ini A. Saat ini dalam episode depresi mayor B. Sebelumnya, paling sedikit, pernah mengalami episode manik dan campuran C. Episode mood pada kriteria A dan B tidak dapat dikategorikan sebagai skizoafektif dan tidak bertumpang tindih dengan skizofrenia, skizofreniform, Gangguan waham, dan dengan Gangguan psikotik yang tidak dapat diklasifikasikan. D. Gejala-gejala tidak disebabkan efek fisiologik langsung zat atau kondisi medik umum 25

E. Gejala mood menyebabkan penderitaan yang secara klinik cukup bermakna atau menimbulkan hendaya dalam social, pekerjaan, atau aspek fungsi penting lainnya. Gangguan mood bipolar I, Episode Yang tidak dapat diklasifikasikan saat ini A. Kriteria, kecuali durasi, saat ini, memenuhi kriteria untuk manik, hipomanik, campuran atau episode depresi. B. Sebelumnya, paling sedikit, pernah mengalami satu episode manik atau campuran. C. Episode mood pada kriteria A dan B tidak dapat dikategorikan sebagai skizoafektif dan tidak bertumpang tindih dengan skizofrenia, skizofreniform, Gangguan waham, atau dengan Gangguan psikotik yang tidak dapat diklasifikasikan di tempat lain. D. Gejala mood menyebabkan penderitaan yang secara klinik cukup bermakna atau menimbulkan hendaya dalam social, pekerjaan, atau aspek fungsi penting lainnya. Ganggguan Mood Bipolar II Satu atau lebih episode depresi mayor yang disertai dengan paling sedikit satu episode hipomanik. Gangguan Siklotimia A. Paling sedikit selama dua tahun, terdapat beberapa periode dengan gejalagejala hipomania dan beberapa periode dengan gejala-gejala depresi yang tidak memenuhi criteria untuk Gangguan depresi mayor. Untuk anak-anak dan remaja durasinya paling sedikit satu tahun. B. Selama periode dua tahun di atas penderita tidak pernah bebas dari gejalagejala pada kriteria A lebih dari dua bulan pada suatu waktu. C. Tidak ada episode depresi mayor, episode manik, episode campuran, selama dua tahun Gangguan tersebut Catatan: setelah dua tahun awal, siklotimia dapat bertumpang tindih dengan manic atau episode campuran (diagnosis GB I dan Gangguan siklotimia dapat dibuat) atau episode depresi mayor (diagnosis GB II dengan Gangguan siklotimia dapat ditegakkan) D. Gejala-gejala pada criteria A bukan skizoafektif dan tidak

bertumpangtindih dengan skizofrenia, skizofreniform, gangguan waham, atau dengan Gangguan psikotik yang tidak dapat diklasifikasikan. 26

E. Gejala-gejala tidak disebabkan oleh efek fisiologik langsung zat atau kondisi medic umum F. Gejala-gejala di atas menyebabkan penderitaan yang secara klinik cukup bermakna atau menimbulkan hendaya dalam social, pekerjaan atau aspek fungsi penting lainnya. Pembagian menurut PPDGJ III: F31 Gangguan Afek bipolar a. Gangguan ini tersifat oleh episode berulang (sekurang-kurangnya dua episode) dimana afek pasien dan tingkat aktivitasnya jelas terganggu, pada waktu tertentu terdiri dari peningkatan afek disertai penambahan energi dan aktivitas (mania atau hipomania), dan pada waktu lain berupa penurunan afek disertai pengurangan energi dan aktivitas (depresi). Yang khas adalah bahwa biasanya ada penyembuhan sempurna antar episode. Episode manik biasanya mulai dengan tiba-tiba dan berlangsug antara 2 minggu sampai 4-5 bulan, episode depresi cenderung berlangsung lebih lama (rata-rata sekitar 6 bulan) meskipun jarang melebihi 1 tahun kecuali pada orang usia lanjut. Kedua macam episode itu seringkali terjadi setelah peristiwa hidup yang penuh stress atau trauma mental lainnya (adanya stress tidak esensial untuk penegakan diagnosis). b. Termasuk: gangguan atau psikosis manik-depresif Tidak termasuk: Gangguan bipolar, episode manic tunggal (F30). F31.0 Gangguan Afektif Bipolar, Episode Klinik Hipomanik a. Episode yang sekarang harus memenuhi criteria untuk hipomania (F30); dan b. Harus ada sekurang-kurangnya satu episode afektif lain (hipomanik, manik , depresif, atau campuran) di masa lampau. F31.1 Gangguan afektif Bipolar, Episode kini Manik Tanpa Gejala Psikotik a. Episode yang sekarang harus memenuhi kriteria untuk mania tanpa gejala psikotik (F30.1); dan b. Harus ada sekurang-kurangnya satu episode afektif lain (hipomanik, manik, depresif, atau campuran) di masa lampau. F31.2 Gangguan Afektif Bipolar, Episode Kini Manik dengan gejala psikotik a. Episode yang sekarang harus memenuhi kriteria untuk mania dengan gejala psikotik (F30.2); dan 27

b. Harus ada sekurang-kurangnya satu episode afektif lain (hipomanik, manik, depresif atau campuran) di masa lampau. F31.3 Gangguan Afektif Bipolar, Episode Kini Depresif Ringan atau Sedang a. Episode yang sekarang harus memenuhi kriteria untuk episode depresi ringan (F32.0) atau pun sedang (F32.1); dan b. Harus ada sekurang-kurangnya satu episode afektif hipomanik, manik, atau campuran di masa lampau. F31.4 gangguan afektif bipolar, episode kini depresif berat tanpa gejala psikotik a. Episode yang sekarang harus memenuhi kriteria untuk episode depresif berat tanpa gejala psikotik (F32.2); dan b. Harus ada sekurang-kurangnya satu episode afektif hipomanik, manik, atau campuran di masa lampau. F31.5 Gangguan Afektif Bipolar, Episode Kini Depresif Berat dengan Gejala Psikotik a. Episode yang sekarang harus memenuhi kriteria untuk episode depresif berat dengan gejala psikotik (F32.3);dan b. Harus ada sekurang-kurangnya satu episode afektif hipomanik, manik, atau campuran dimasa lampau. F31.6 Gangguan Afektif Bipolar Campuran a. Episode yang sekarang menunjukkan gejala-gejala manik, hipomanik, dan depresif yang tercampur atau bergantian dengan cepat (gejala

mania/hipomania dan depresif yang sama-sama mencolok selama masa terbesar dari episode penyakit yang sekarang, dan telah berlangsung sekurang-kurangnya 2 minggu); dan b. Harus ada sekurang-kurangnya satu episode afektif hipomanik, manik, atau campuran di masa lampau. F31.7 Gangguan Afektif Bipolar, kini dalam Remisi Sekarang tidak menderita gangguan afektif yang nyata selama beberapa bulan terakhir ini, tetapi pernah mengalami sekurang-kurangnya satu episode afektif hipomanik, manik atau campuran di masa lampau dan ditambah sekurang-kurangnya satu episode afektif lain (hipomanik, manik, depres if atau campuran). F31.8 Gangguan Afektif Bipolar Lainnya 28

F31.9 Gangguan Afektif Bipolar YTT. e. Pemeriksaan penunjang Darah lengkap Darah lengkap dengan diferensiasi digunakan untuk mengetahui anemia sebagai penyebab depresi. Penatalaksanaan, terutama dengan antikonvulsan, dapat mensupresi sumsum tulang, oleh karena itu diperlukan pemeriksaan sel darah merah dan sel darah putih untuk mengecek supresi sumsum tulang. Lithium dapat menyebabkan peningkatan sel darah putih yang reversibel. Elektrolit Konsentrasi elektrolit serum diukur untuk membantu masalah diagnostic, terutama dengan natrium, yang berkaitan dengan depresi. Hiponatremi dapat bermanifestasi sebagai depresi. Penatalaksanaan dengan lithium dapat berakibat pada masalah ginjal dan gangguan elektrolit. Kadar natrium rendah dapat berakibat pada peningkatan kadar lithium dan toxisitas lithium. Oleh karena itu, skrining kandidat untuk terapi litium maupun yang sedang dalam terapi lithium, mengecek elektrolit merupakan indikasi. Kalsium Kalsium serum untuk mendiagnosis hiperkalsemi dan hipokalsemi yang berkaitan dengan perubahan status mental (e.g hiperparatiroid). Hiperparatiroid, yang dibuktikan dengan peningkatan kalsium darah, mencetuskan depresi. Beberapa antidepresan, seperti nortriptyline, mempengaruhi jantung, oleh karena itu, mengecek kadar kalsium sangat penting. Protein Kadar protein yang rendah ditemukan pada pasien depresi sebagai hasil dari tidak makan. Kadar protein rendah, menyebabkan meningkatkan bioavailabilitas beberapa medikasi, karena obat-obat ini hanya memiliki sedikit protein untuk diikat. Hormone tiroid Tes tiroid dilakukan untuk menentukan hipertiroid (mania) dan hipotiroid (depresi). Pengobatan dengan lithium dapat menyebabkan hipotiroid, yang

berkontribusi pada perubahan mood secara cepat. Kreatinin dan blood urea nitrogen (BUN)

29

Gagal ginjal dapat timbul sebagai depresi. Pengobatan dengan lithium dapat mempengaruhi klirens ginjal, dan serum kreatinin dan BUN dapat meningkat. Skrining zat dan alkohol Penyalahgunaan alkohol dan berbagai macam obat dapat memperlihatkan sebagai mania atau depresi. Contohnya, penyalahgunaan amfetamin dan kokain dapat timbul sebagai mania, dan penyalahgunaan barbiturate dapat timbul sebagai depresi. EKG Banyak antidepresan, terutama trisiklik dan beberapa antipsikotik, dapat berefek pada jantung dan membuat masalah konduksi. Lithium juga dapat berakibat pada perubahan reversibel flattening atau inversi pada T wave pada EKG. EEG Alasan untuk penggunaan EEG pada pasien bipolar: EEG menyediakan garis dasar dan membantu mengesampingkan masalah neurologi. Menggunakan tes ini untuk mengesampingkan kejang dan tumor otak. Bila dilakukan ECT. Monitoring EEG saat ECT digunakan untuk mendeterminasi timbulnya dan durasi kejang. Beberapa studi memperlihatkan abnormalitas dari penemuan EEG sebagai indikasi efektivitas antikonvulsan. Lebih spesifik, penemuan abnormal dari EEG dapat memprediksi respons dari asam valproate. Beberapa pasien dapat mengalami kejang saat pengobatan, terutama antidepresan.

f. Diffrensial diagnosis Skizofrenia Agak sulit membedakan episode manik dengan skizofrenia, sehingga dapat menjadi salah satu diagnosis banding. Gembira berlebihan, elasi, dan pengaruh mood lebih banyak ditemukan pada episode manik dibandingkan pada skizofrenia. Kombnasi dari mood manik, cara bicara yang cepat dan hiperaktivitas yang berlebihan daapt ditemukan dalam episode manik. Onset pada episode manik berlangsung cepat dan menimbulkan sebuah perubahan pada perubahan perilaku pasien. Sebagian dari pasien bipolar I memiliki riwayat keluarga dengan gangguan 30

mood. Kataonik dapat menjadi bagian dari fase depresif gangguan bipolar I. Saat mengevaluasi pasien dengan katatonia dokter harus teliti dengan riwayat sebelumnya untuk manik atau episode depresi serta riwayat keluarga dengan gangguan mood. Depresi berat Gangguan bipolar tipe I sering dapat bertumpang tindih dengan depresi berat, perlu dibedakan antara depresi berat yang berdiri sendiri atau depresi yang merupakan bagian dari gangguan bipolar. Gejala dari kedua gangguan ini hampir sama dimana seseorang mengalai afek depresi, kehilangan semangat, putus asa dan tidak bersemangat ditambah gelaja seperti sulit tidur, napsu makan menurun dan lain sebagainya. Sehingga teknik wawancara yang baik diperlukan untuk menggali apakah pasien memiliki episode manik atau hipomanik sebelumnya dan apakah pasien menunjukan gejala-gejala yang sesuai dengan episode manik, sehingga dapat dibedakan antara depresi yang berdiri sendiri dangan depresi yang menjadi bagian dari gangguan afek bipolar. Intoksikasi obat Penyalahgunaan obat seperti amfetamin dapat memicu keadaan manik. Selain itu, penyalahgunaan obat seperti benzodiazepine dapat memicu keadaan depresif. Hiper dan hipotiroid Gangguan bipolar dapat berupa epidose manik atau hipomanik maupun episode depresi. Kondisi hiper dan hipotiroid dapat memnyebabkan pasien menunjukan gejala-gejala yang mirip dengan gangguan bipolar. Pada hipertiroid pasien akan merasa mudah tersinggung, dan dapat terjadi hiperaktivitas yang harus dibedakan dengan episode manik pada gangguan bipolar. Sedangkan pada hipotiroid pasien dapat mengalami penurunan aktivitas, pasien menjadi lemas dan tidak bersemangat. Pemeriksaan fisik yang baik serta penggalian informasi pada anamnesis dapat membedakan gangguan bipolar dengan hiper atau hipotiroid, penemuan gejala lain gangguan pada tiroid seperti penurunan berat badan cepat adanya pembesaran pada leher maupun gejala hiper dan hipotiroid lainnya dapat membedakan kedua gangguan ini. Skizoafektif Diagnosis gangguan skizoafektif hanya dibuat apabila gejala-gejala definitif adanya skizofrenia dan gangguan afektif sama-sama menonjol pada saat yang bersamaan (simultaneously), atau dalam beberapa hari yang satu sesudah yang 31

lain, dalam satu episode penyakit yang sama, dan bilamana, sebagai konsekuensi dari ini, episode penyakit tidak memenuhi kriteria baik skizofrenia maupun episode manik atau depresif.

g. Penatalaksanaan Terapi psikososial Terapi kognitif (Aaron Beck) Tujuannya : a. Menghilangkan episode depresi dan mencegah rekurennya dengan membantu pasien mengidentifikasi dan uji kognitif negatif. b. Mengembangkan cara berpikir alternatif, fleksibel dan positif, serta melatih kembali respon kognitif dan perilaku yang baru. Terapi interpersonal (Gerrad Kleman) Memusatkan pada masalah interpersonal yang sekarang dialami oleh pasien dengan anggapan bahwa masalah interpersonal sekarang mungkin terlibat dalam mencetuskan atau memperberat gejala depresi sekarang. Terapi ini difokuskan pada problem interpersonal yang ada. Diasumsikan bahwa, pertama, problem interpersonal yang ada saat ini merupakan akar terjadinya disfungsi hubungan interpersonal. Problem interpersonal saat ini berperan dalam terjadinya gejala depresi. Biasanya sesi berlangsung antara 12 sampai 16 minggu dan ditandai dengan pendekatan terapeutik yang aktif. Tidak ditujukan pada fenomena intrapsikik seperti mekanisme defensi dan konflik internal. Keterbatasan asertif, gangguan kemampuan sosial, serta penyimpangan pola berpikir hanya ditujukan bila memang mempunyai efek pada hubungan interpersonal tersebut. Terapi perilaku Terapi didasarkan pada hipotesis bahwa pola perilaku maladaptif menyebabkan seseorang mendapatkan sedikit umpan balik positif dari masyarakat dan kemungkinan penolakan yang palsu. Dengan demikian pasien belajar untuk berfungsi di dunia dengan cara tertentu dimana mereka mendapatkan dorongan positif. Terapi berorientasi-psikoanalitik

32

Mencapai kepercayaan dalam hubungan interpersonal, keintiman, mekanisme penyesuaian, kapasitas dalam merasakan kesedihan serta kemampuan dalam merasakan perubahan emosional secara luas. Terapi keluarga Diindikasikan untuk gangguan yang membahayakan perkawinan pasien atau fungsi keluarga atau jika gangguan mood dapat ditangani oleh situasi keluarga. Terapi keluarga meneliti peran suasana hati teratur dalam keseluruhan kesejahteraan psikologis dari seluruh keluarga, tetapi juga mengkaji peran seluruh keluarga dalam pemeliharaan gejala pasien. Pasien dengan gangguan mood memiliki tingkat tinggi perceraian, dan sekitar 50 persen dari semua pasangan melaporkan bahwa mereka tidak akan menikah atau memiliki anak jika mereka tahu bahwa pasien akan mengembangkan gangguan mood. Rawat Inap Yang pertama dan paling penting keputusan dokter harus dibuat adalah apakah untuk memutuskan pasien rawat inap atau pasien rawat jalan. Jelas indikasi untuk rawat inap adalah risiko bunuh diri atau pembunuhan, pasien yang sangat berkurang kemampuannya untuk makan diagnostik. Suatu onset yang berkembang dan kebutuhan untuk prosedur cepat gejala juga dapat menjadi

indikasi untuk rawat inap. Seorang dokter dapat dengan aman mengobati depresi ringan atau hypomania dengan rawat jalan jika evaluasi pasien terus rutin dilakukan. Tanda-tanda klinis dari gangguan penilaian, penurunan berat badan, atau insomnia harus minimal. Sistem pendukung pasien harus kuat, tidak ada menarik diri dari pasien. Setiap perubahan negatif dalam gejala-gejala pasien atau perilaku mungkin cukup untuk menjadi indikasi rawat inap rawat inap. Pasien dengan gangguan mood sering tidak mau masuk rumah sakit secara sukarela, dan mungkin harus sengaja dimasukan. Pasien-pasien ini sering tidak dapat membuat keputusan karena pemikiran mereka melambat, Weltanschauung negatif (pandangan dunia), dan keputusasaan. Pasien yang manik sering memiliki seperti kurangnya wawasan gangguan mereka yang rawat inap tampaknya benar-benar tidak masuk akal bagi mereka. Terapi Fisik : Electro Convulsive Therapy (ECT)

33

Terapi dengan melewatkan arus listrik ke otak melalui 2 elektrode yang ditempatkan pada bagian temporal kepala. Sering digunakan pada kasus depresif berat atau mempunyai risiko bunuh diri yang besar dan respon terapi dengan obat antidepresan kurang baik (dengan dosis yang sudah adekuat). Farmakoterapi Pendekatan farmakoterapeutik terhadap gangguan bipolar telah menimbulkan perubahan besar dalam pengobatannya dan secara dramatis telah mempengaruhi perjalanan gangguan bipolar dan menurunkan biaya bagi penderita.1,2 Episode mania atau hipomania 1. Mood Stabilizer 2. Antipsikotik atipikal 3. Mood stabilizer +

antipsikotik atipikal.

Episode depresi 1. Antidepresan 2. Mood stabilizer 3. Antipsikotik atipikal 4. Mood stabilizer + antidepresan 5. Antipsikotik atipikal + antidepresan

34

Table 1 Penatalaksanaan kedaruratan agitasi akut. Lini I Injeksi IM Aripiprazol efektif untuk pengobatan agitasi pada pasien dengan episode mania atau campuran akut. Dosis adalah 9,75mg/injeksi. Dosis maksimum adalah 29,25mg/hari (tiga kali injeksi per hari dengan interval dua jam). Berespons dalam 45-60 menit. Injeksi IM Olanzapin efektif untuk agitasi pada pasien dengan episode mania atau campuran akut. Dosis 10mg/ injeksi. Dosis maksimum adalah 30mg/hari. Berespons dalam 15-30 menit. Interval pengulangan injeksi adalah dua jam. Sebanyak 90% pasien menerima hanya satu kali injeksi dalam 24 jam pertama. Injeksi lorazepam 2 mg/injeksi. Dosis maksimum Lorazepam 4 mg/hari. Dapat diberikan bersamaan dengan injeksi IM Aripiprazol atau Olanzapin. Jangan dicampur dalam satu jarum suntik karena mengganggu stabilitas antipsikotika Lini II Injeksi IM Haloperidol yaitu 5 mg/kali injeksi. Dapat diulang setelah 30 menit. Dosis maksimum adalah 15 mg/hari. Injeksi IM Diazepam yaitu 10 mg/kali injeksi. Dapat diberikan bersamaan dengan injeksi haloperidol IM. Jangan dicampur dalam satu jarum suntik.

Rekomendasi terapi pada mania akut Tabel 2 Terapi mania. Lini I Litium, divalproat, olanzapin, risperidon, quetiapin, quetiapin XR, aripiprazol, litium atau divalproat + risperidon, litium atau divalproat + quetiapin, litium atau divalproat + olanzapin, litium atau divalproat + aripiprazol Lini II Lini III Karbamazepin, ECT, litium + divalproat, paliperidon Haloperidol, klorpromazin, litium atau divalproat haloperidol, litium + karbamazepin, klozapin Tidak direkomendasikan Gabapentin, topiramat, lamotrigin, risperidon + karbamazepin, olanzapin + karbamazepin

35

Penatalaksanaan pada Episode Depresi Akut, GB I Tabel 3 Penatalaksanaan episode depresi akut. Lini I Litium, lamotrigin, quetiapin, quetiapin XR, litium atau divalproat + SSRI, olanzapin + SSRI, litium + divalproat Lini II Lini III Quetiapin + SSRI, divalproat, litium atau divalproat + lamotrigin Karbamazepin, olanzapin, litium + karbamazepin, litium atau divalproat + venlafaksin, litium + MAOI, ECT, litium atau divalproat atau AA + TCA, litium atau divalproat atau

karbamazepin + SSRI + lamotrigin, penambahan topiramat Tidak direkomendasikan Gabapentin monoterapi, aripiprazol monoterapi

Tabel 4 Terapi rumatan GB I. Lini I Litium, lamotrigin monoterapi, divalproat, olanzapin, quetiapin, litium atau divalproat + quetiapin, risperidon injeksi jangka panjang (RIJP), penambahan RIJP, aripirazol Lini II Karbamazepin, litium + divalproat, litium + karbamazepin, litium atau divalproat + olanzapin, litium + risperidon, litium + lamotrigin, olanzapin + fluoksetin Lini III Penambahan fenitoin, penambahan olanzapin, penambahan ECT, penambahan topiramat, penambahan asam lemak omega-3, penambahan okskarbazepin Tidak direkomendasikan Gabapentin, topiramat atau antidepresan monoterapi Rekomendasi terapi akut depresi, GB II Tabel 5 Terapi akut depresi, GB II. Lini I Lini II Quetiapin Litium, lamotrigin, divalproat, litium atau divalproat + antidepresan, litium + divalproat, antipsikotika atipik + antidepresan Lini III Antidepresan monoterapi (terutama untuk pasien yang jarang mengalami hipomania)

36

Rekomendasi terapi rumatan GB II Tabel 6 Terapi Rumatan GB II. Lini I Lini II Litium, lamotrigin Divalproat, litium atau divalproat atau antipsikotika atipik + antidepresan, kombinasi dua dari: litium, lamotrigin, divalproat, atau antipsikotika atipik Lini III Karbamazepin, antipsikotika atipik, ECT

Tidak direkomendasikan Gabapentin

Berikut adalah obat-obatan yang dapat digunakan pada gangguan bipolar: Mood stabilizer Litium Litium sudah digunakan sebagai terapi mania akut sejak 50 tahun yang lalu. Memiliki efek akut dan kronis dalam pelepasan serotonin dan norepineprin di neuron terminal sistem saraf pusat. Farmakologi Sejumlah kecil litium terikat dengan protein. Litium diekskresikan dalam bentuk utuh hanya melalui ginjal. Indikasi Episode mania akut, depresi, mencegah bunuh diri, dan bermanfaat sebagai terapi rumatan GB. Dosis Respons litium terhadap mania akut dapat dimaksimalkan dengan menitrasi dosis hingga mencapai dosis terapeutik yang berkisar antara 1,0-1,4 mEq/L. Perbaikan terjadi dalam 7-14 hari. Dosis awal yaitu 20 mg/kg/hari. Dosis untuk mengatasi keadaan akut lebih tinggi bila dibandingkan dengan terapi rumatan. Untuk terapi rumatan, dosis berkisar antara 0,4-0,8 mEq/L. Dosis kecil dari 0,4 mEq/L, tidak efektif sebagai terapi rumatan. Sebaliknya, gejala toksisitas litium dapat terjadi bila dosis 1,5 mEq/L.

37

Perbaikan klinis 7-14 hari Efek samping Efek samping yang dilaporkan adalah mual, muntah, tremor, somnolen, penambahan berat badan, dan penumpulan kognitif. Neurotoksisitas, delirium, dan ensefalopati dapat pula terjadi akibat litium. Neurotoksisitas bersifat irreversible. Akibat intoksikasi litium, deficit neurologi permanen dapat terjadi misalnya, ataksia, deficit memori, dan gangguan pergerakan. Untuk mengatasi intoksikasi litium, hemodialisis harus segera dilakukan. Litium dapat merusak tubulus ginjal. Factor resiko kerusakan ginjal adalah intoksikasi litium, polifarmasi dan adanya penyakit fisik yang lainnya. Pasien yang mengkonsumsi litium dapat mengalami poliuri. Oleh karena itu, pasien dianjurkan untuk banyak meminum air. Pemeriksaan laboratorium Sebelum memberikan litium, fungsi ginjal (ureum dan kreatinin) dan fungsi tiroid, harus diperiksa terlebih dahulu. Untuk pasien yang berumur di atas 40 tahun, pemeriksaan EKG harus dilakukan. Fungsi ginjal harus diperiksa Setiap Setiap 2-3 bulan dan fungsi tiroid dalam enam bulan pertama. Setelah enam bulan, fungsi ginjal dan tiroid diperiksa sekali dalam 6-12 bulan atau bila ada indikasi. Wanita hamil Penggunaan litium pada wanita hamil dapat menimbulkan malformasi janin. Kejadiannya meningkat bila janin terpapar pada kehamilan yang lebih dini. Wanita dengan GB yang derajatnya berat, yang mendapat rumatan litium, dapat melanjutkan litium selama kehamilan bila ada indikasi klinis. Kadar litium darahnya harus dipantau dengan seksama. Pemeriksaan USG untuk memantau janin, harus dilakukan. Selama kehamilannya, wanita tersebut harus disupervisioleh ahli kebidanan dan psikiater. Sebelum kehamilan terjadi, risiko litium terhadap janin dan efek putus litium terhadap ibu harus didiskusikan.

38

Valproat Valproat merupakan obat antiepilepsi yang disetujui oleh FDA sebagai antimania. Valproat tersedia dalam bentuk: 1. Preparat oral; a. Sodium divalproat, tablet salut, proporsi antara asam valproat dan sodium valproat adalah sama (1:1) b. Asam valproat c. Sodium valproat d. Sodium divalproat, kapsul yang mengandung partikel-partikel salut yang dapat dimakan secara utuh atau dibuka dan ditaburkan ke dalam makanan. e. Divalproat dalam bentuk lepas lambat, dosis sekali sehari. 2. Preparat intravena 3. Preparat supositoria Farmakologi Terikat dengan protein. Diserap dengan cepat setelah pemberian oral. Konsentrasi puncak plasma valproat sodium dan asam valproat dicapai dalam dua jam sedangkan sodium divalproat dalam 3-8 jam. Awitan absorbsi divalproat lepas lambat lebih cepat bila dibandingkan dengan tablet biasa. Absorbsi menjadi lambat bila obat diminum bersamaan dengan makanan. Ikatan valproat dengan protein meningkat bila diet mengandung rendah lemak dan menurun bila diet mengandung tinggi lemak. Dosis Dosis terapeutik untuk mania dicapai bila konsentrasi valproat dalam serum berkisar antara 45 -125 mg/mL. Untuk GB II dan siklotimia diperlukan divalproat dengan konsentrasi plasma < 50 mg/mL. Dosis awal untuk mania dimulai dengan 15-20 mg/kg/hari atau 250 500 mg/hari dan dinaikkan setiap 3 hari hingga mencapai konsentrasi serum 45- 125 mg/mL. Efek samping, misalnya sedasi, peningkatan nafsu makan, dan penurunan leukosit serta trombosit dapat terjadi bila konsentrasi serum > 100 mg/mL. Untuk terapi rumatan, konsentrasi valproat dalam plasma yang dianjurkan adalah antara 75-100 mg/mL. Indikasi

39

Valproat efektif untuk mania akut, campuran akut, depresi mayor akut, terapi rumatan GB, mania sekunder, GB yang tidak berespons dengan litium, siklus cepat, GB pada anak dan remaja, serta GB pada lanjut usia. Efek Samping Valproat ditoleransi dengan baik. Efek samping yang dapat terjadi, misalnya anoreksia, mual, muntah, diare, dispepsia, peningkatan (derajat ringan) enzim transaminase, sedasi, dan tremor. Efek samping ini sering terjadi pada awal pengobatan dan bekurang dengan penurunan dosis atau dengan berjalannya waktu. Efek samping gastrointestinal lebih sering terjadi pada penggunaan asam valproat dan valproat sodium bila dibandingkan dengan tablet salut sodium divalproat.

Lamotrigin Lamotrigin efektif untuk mengatasi episode bipolar depresi. Ia menghambat kanal Na+. Selain itu, ia juga menghambat pelepasan glutamat. Farmakokinetik Lamotrigin oral diabsorbsi dengan cepat. Ia dengan cepat melewati sawar otak dan mencapai konsentrasi puncak dalam 2-3 jam. Sebanyak 10% lamotrigin dieksresikan dalam bentuk utuh. Indikasi Efektif untuk mengobati episode depresi, GB I dan GB II, baik akut maupun rumatan. Lamotrigin juga efektif untuk GB, siklus cepat. Dosis Berkisar antara 50-200 mg/hari. Efek Samping Sakit kepala, mual, muntah, pusing, mengantuk, tremor, dan berbagai bentuk kemerahan di kulit.

Antipsikotika Atipik Antipsikotika atipik, baik monoterapi maupun kombinasi terapi, efektif sebagai terapi lini pertama untuk GB. Beberapa antipsikotika atipik tersebut adalah olanzapin, risperidon, quetiapin, dan aripiprazol. 40

Risperidon Risperidon adalah derivat benzisoksazol. Ia merupakan antipsikotika atipik pertama yang mendapat persetujuan FDA setelah klozapin. Absorbsi Risperidon diabsorbsi dengan cepat setelah pemberian oral. Ia dimetabolisme oleh enzim hepar yaitu CYP 2D6. Dosis Untuk preparat oral, risperidon tersedia dalam dua bentuk sediaan yaitu tablet dan cairan. Dosis awal yang dianjurkan adalah 2 mg/hari dan besoknya dapat dinaikkan hingga mencapai dosis 4 mg/hari. Sebagian besar pasien membutuhkan 4-6 mg/hari. Risperidon injeksi jangka panjang (RIJP) dapat pula digunakan untuk terapi rumatan GB. Dosis yang dianjurkan untuk orang dewasa atau orang tua adalah 25 mg setiap dua minggu. Bila tidak berespons dengan 25 mg, dosis dapat dinaikkan menjadi 37,5 mg - 50 mg per dua minggu. Indikasi Risperidon bermanfaat pada mania akut dan efektif pula untuk terapi rumatan. Efek Samping Sedasi, fatig, pusing ortostatik, palpitasi, peningkatan berat badan, berkurangnya gairah seksual, disfungsi ereksi lebih sering terjadi pada risperidon bila dibandingkan dengan pada plasebo. Meskipun risperidon tidak terikat secara bermakna dengan reseptor kolinergik muskarinik, mulut kering, mata kabur, dan retensi urin, dapat terlihat pada beberapa pasien dan sifatnya hanya sementara. Peningkatan berat badan dan prolaktin dapat pula terjadi pada pemberian risperidon.

Olanzapin Olanzapin merupakan derivat tienobenzodiazepin yang memiliki afinitas terhadap dopamin (DA), D2, D3, D4, dan D5, serotonin 2 (5-HT2); muskarinik, histamin 1(H1), dan a1- adrenergik. Indikasi Olanzapin mendapat persetujuan dari FDA untuk bipolar episode akut mania dan campuran. Selain itu, olanzapin juga efektif untuk terapi rumatan GB. 41

Dosis Kisaran dosis olanzapin adalah antara 5-30 mg/hari. Efek Samping Sedasi dapat terjadi pada awal pengobatan tetapi berkurang setelah beberapa lama. Efek antikolinergik dapat pula terjadi tetapi kejadiannya sangat rendah dan tidak menyebabkan penghentian pengobatan. Risiko terjadinya diabetes tipe-2 relatif tinggi bila dibandingkan dengan antipsikotika atipik lainnya. Keadaan ini dapat diatasi dengan melakukan psikoedukasi, misalnya merubah gaya hidup, diet dan latihan fisik.

Quetiapin Quetiapin merupakan suatu derivat dibenzotiazepin yang bekerja sebagai antagonis 5HT1A dan 5 -HT2A, dopamin D1, D2, histamin H1 serta reseptor adrenergik a1 dan a2. Afinitasnya rendah terhadap reseptor D2 dan relatif lebih tinggi terhadap serotonin 5-HT2A. Dosis Kisaran dosis pada gangguan bipolar dewasa yaitu 200-800 mg/hari. Tersedia dalam bentuk tablet IR (immediate release) dengan dosis 25 mg, 100 mg, 200 mg, dan 300 mg, dengan pemberian dua kali per hari. Selain itu, juga tersedia quetiapin-XR dengan dosis 300 mg, satu kali per hari. Indikasi Quetiapin efektif untuk GB I dan II, episdoe manik, depresi, campuran, siklus cepat, baik dalam keadaan akut maupun rumatan. Efek Samping Quetiapin secara umum ditoleransi dengan baik. Sedasi merupakan efek samping yan sering dilaporkan. Efek samping ini berkurang dengan berjalannya waktu. Perubahan dalam berat badan dengan quetiapin adalah sedang dan tidak menyebabkan penghentian pengobatan. Peningkatan berat badan lebih kecil bila dibandingkan dengan antipsikotika tipikal.

Aripiprazol Aripiprazol adalah stabilisator sistem dopamin-serotonin. Farmakologi 42

Aripiprazol merupakan agonis parsial kuat pada D2, D3, dan 5-HT1A serta antagonis 5- HT2A. Ia juga mempunyai afinitas yang tinggi pada reseptor D3, afinitas sedang pada D4, 5-HT2c, 5-HT7, a1-adrenergik, histaminergik (H1), dan serotonin reuptake site (SERT), dan tidak terikat dengan reseptor muskarinik kolinergik. Dosis Aripiprazol tersedia dalam bentuk tablet 5,10,15,20, dan 30 mg. Kisaran dosis efektifnya per hari yaitu antara 10-30 mg. Dosis awal yang direkomendasikan yaitu antara 10 - 15 mg dan diberikan sekali sehari. Apabila ada rasa mual, insomnia, dan akatisia, dianjurkan untuk menurunkan dosis. Beberapa klinikus mengatakan bahwa dosis awal 5 mg dapat meningkatkan tolerabilitas. Indikasi Aripiprazol efektif pada GB, episode mania dan episode campuran akut. Ia juga efektif untuk terapi rumatan GB. Aripiprazol juga efektif sebagai terapi tambahan pada GB I, episode depresi. Efek Samping Sakit kepala, mengantuk, agitasi, dispepsia, anksietas, dan mual merupakan kejadian yang tidak diinginkan yang dilaporkan secara spontan oleh kelompok yang mendapat aripiprazol. Efek samping ekstrapiramidalnya tidak berbeda secara bermakna dengan plasebo. Akatisia dapat terjadi dan kadang-kadang dapat sangat mengganggu pasien sehingga sering mengakibatkan penghentian pengobatan. Insomnia dapat pula ditemui. Tidak ada peningkatan berat badan dan diabetes melitus pada penggunaan aripiprazol. Selain itu, peningkatan kadar prolaktin juga tidak dijumpai. Aripiprazol tidak menyebabkan perubahan interval QT. Antidepresan 1) Derivat trisiklik Imipramin (dosis lazim : 25-50 mg 3x sehari bila perlu dinaikkan sampai maksimum 250-300 mg sehari) Amitriptilin ( dosis lazim : 25 mg dapat dinaikan secara bertahap sampai dosis maksimum 150-300 mg sehari). 2) Derivat tetrasiklik

43

Maproptilin, Mianserin ( dosis lazim : 30-40 mg malam hari, dosis maksimum 90 mg/ hari).

3) Derivat MAOI (MonoAmine Oksidase-Inhibitor) Moclobemide (dosis lazim : 300 mg/ hari terbagi dalam 2-3 dosis dapat dinaikkan sampai dengan 600 mg/ hari). 4) Derivat SSRI (Selective Serotonin Reuptake Inhibitor) Sertralin (dosis lazim : 50 mg/hari bila perlu dinaikkan maksimum 200 mg/hr) Fluoxetine ( dosis lazim : 20 mg sehari pada pagi hari, maksimum 80 mg/hari dalam dosis tunggal atau terbagi) Fluvoxamine (dosis lazim : 50mg dapat diberikan 1x/hari sebaiknya pada malam hari, maksimum dosis 300 mg) Paroxetine, Citalopram (dosis lazim : 20 mg/hari, maksimum 60 mg /hari).

5) Derivat SNRI (Serotonin Norepineprin Reuptake Inhibitor) Venlafaxine (dosis lazim : 75 mg/hari bila perlu dapat ditingkatkan menjadi 150-250 mg 1x/hari), Duloxetine.

h. Prognosis Pasien dengan gangguan bipolar I memiliki prognosis yang kurang baik dibandingkan depresi mayor. Sekitar 40-50% pasien dengan bipolar 1 memiliki kemungkinan mengalami episode manik kedua dalam 2 tahun episode pertama. Walaupun dnegan penggunaan litium sebagai profilaksis meningkatkan prognosis bipolar I, kemungninan hanya 50-60% pasien mencapai control signifikan akan gejala mereka dengan litium. Pasien bipolar I dengan premorbid status pekerjaan yang tidak mendukung, ketergantungan alkohol, gejala psikotik, gejala depresi dan jenis kelamin laki-laki juga mempengaruhi prognosis yang kurang baik. Durasi pendek dari manik, usia yang tidak terlalu muda saat onset menghasilkan prognosis yang lebih baik. Sekitar 7% pasien dengan gangguan bipolar tidak memiliki gejala rekuren; 45% memilii lebih dari 1 episode, dan 40% memiliki gangguan kronik. Pasien mungkin memiliki 2 hingga 30 episode, walaupun angka rata-ratanya adalah 9 episode. Sekitar 40% dari keseluruhan pasien mengalami lebih dari 10 episode. Pada follow up jangka panjang 15% dari seluruh pasien dengan bipolar I dapat hidup dengan baik, 45% hidup dengan baik namun 44

memiliki multirelaps, 30% pasien dengan remisi parsial, dan 10% pasien dengan sakit kronis. Untuk prognosis bipolar II, sampai saat ini masih dilakukan penelitian. Bipolar II adalah penyakit kronik dimana memerlukan strategi penatalaksana jangka panjang.

i. Komplikasi Gangguan emosi atau gangguan neurologik Pasien dengan bipolar, terutama tipe II atau siklotimik, memiliki episode depresi berat yang sering. Gangguan anxietas, seperti panik, juga sering timbul pada pasien ini. Pasien dengan bipolar, terutama tipe II, juga sering menderita fobia. Suicide Risiko untuk suicide sangat tinggi pada pasien dengan bipolar dan yang tidak menerima tindakan medis. 10-15% pasien dengan Bipolar I melakukan percobaan bunuh diri, dengan risiko tertinggi saat episode depresi atau campuran. Beberapa studi memperlihatkan risiko suicide pada pasien dengan bipolar II lebih tinggi dibanding bipolar I atau depresi berat. Pasien yang menderita gangguan anxietas juga memiliki resiko tinggi untuk suicide. Masalah memori dan berpikir Studi menunjukkan bahwa pasien dengan bipolar bisa memiliki masalah yang bervariasi pada ingatan jangka pendek dan panjang, kecepatan memproses informasi, dan fleksibilitas mental. Masalah seperti ini bahkan dapat muncul diantara episode. Masalah ini cenderung lebih parah ketika seseorang memiliki episode manik lebih sering. Efek perilaku dan emosional saat fase manik pada pasien Dalam persentase kecil dari pasien bipolar mendemonstrasikan kenaikan produktivitas dan kreativitas saat episode manik. Kelainan cara berpikir dan penilaian yang merupakan karakterisik dari episode manik dapat berujung pada perilaku berbahaya seperti: Mengeluarkan uang dengan ceroboh, yang dapat menghancurkan finansial Mengamuk, paranoid, dan bahkan kekerasan Perilaku keinginan untuk sex terhadap banyak orang

45

Perilaku seperti di atas sering diikuti dengan rasa bersalah dan penurunan harga diri, yang diderita saat fase depresi. Penyalahgunaan zat Merokok merupakan salah satu hal tersering yang digunakan pada pasien bipolar, dibandingkan mereka yang memiliki gejala psikotik. Beberapa dokter berspekulasi, dalam skizofren, nikotin digunakan sebagai self-medication karena efek spesifik pada otak. Sampai 60% pasien dengan gangguan bipolar menyalahgunakan zat lain (paling sering merupakan alcohol, diikuti marijuana atau kokain) pada suatu titik dalam perjalanan penyakitnya. Beberapa factor resiko untuk alkoholisme dan penyalahgunaan zat pada pasien dengan bipolar: Memiliki episode campuran dibandingkan pasien dengan mania murni Laki-laki dengan bipolar.

Efek pada orang yang disayangi Pasien tidak mengembangkan perilaku negatif dalam sekejap. Mereka memiliki efek langsung pada orang sekitar mereka. Sangat sulit bahkan bagi keluarga atau pengasuh untuk objektif dan secara konsisten simpatis dengan individu yang secara periodic dan tidak terduga membuat kekacauan disekitar mereka. Banyak pasien dan keluarga mereka merasa sulit untuk menerima episode ini sebagai bagian dari penyakit dan bukan hal ekstrim, tapi normal, karakteristik. Penyangkalan seperti itu sering dibesar-besarkan oleh pasien yang pintar, yang dapat menjustifikasi kelakuan destruktif mereka, tidak hanya kepada orang lain, namun juga kepada diri mereka sendiri. Anggota keluarga juga dapat merasakan dikucilkan secara sosial dengan fakta bahwa memiliki kerabat dengan gangguan jiwa, dan merasa dipaksa untuk menyembunyikan informasi ini dari kenalan mereka. Asosiasi dengan gangguan fisik Orang dengan gangguan mental memiliki insiden lebih tinggi pada banyak kondisi medis, termasuk penyakit jantung, asma dan masalah paru lainnya, kelainan gastrointestinal, infeksi kulit, diabetes, hipertensi, migraine, sakit kepala, hipotiroid, dan 46

kanker. Pasien dengan bipolar lebih jarang mendapatkan penanganan medis dibanding orang dengan gangguan mental. Penyalahgunaan zat, termasuk merokok, alcohol, dan penyalahgunaan obat, juga berkontribusi untuk masalah penyakit ini, termasuk mengurangi akses kepada penanganan medis. Pengobatan untuk bipolar bisa meningkatkan resiko untuk masalah medis. Diabetes didiagnosa hamper 3x lebih sering pada orang dengan bipolar dibanding pada populasi umum. Banyak pasien dengan biporal mengalami overweight, dengan 25%-nya berkriteria obesitas. Mengalami overweight merupakan factor resiko besar untuk diabetes. Obat yang digunakan untuk menangani bipolar bisa juga menyebabkan kenaikan berat badan dan diabetes. Factor genetic dalam diabetes dan bipolar dapat menyebabkan gangguan yang jarang seperti wolfram syndrome dan masalah lainnya yang terkait metabolisme karbohidrat. Hipertensi. Pasien dengan bipolar dapat beresiko tinggi untuk hipertensi dibanding pasien tanpa bipolar. Tingginya prevalensi dari hipertensi diantara pasien dengan bipolar juga memperbesar resiko untuk penyakit dan kematian akibat kondisi yang berkaitan dengan jantung. Migraine. Migraine merupakan masalah umum pada pasien dengan gangguan mental, tapi lebih sering terjadi pada gangguan bipolar II. Pasien dengan bipolar II menderita dari migraine lebih sering dibanding pasien bipolar I, diperkirakan bahwa berbagai factor biologis dapat terlibat dengan berbagai bentuk bipolar. Hipotiroid. Hipotiroid merupakan efek samping yang sering terjadi pada lithium, penanganan standar untuk bipolar. Namun, bukti juga menyatakan bahwa pasien, terutama wanita, memiliki resiko lebih besar untuk memiliki kadar tiroid rendah terlepas dari obat apa yang digunakan. Hipotiroidism dapat menjadi factor resiko untuk bipolar pada beberapa pasien. Beban ekonomi. Beban ekonomi pada bipolar sangat signifikan. Diperkirakan bahwa gangguan tersebut menimbulkan kerugian pada sector industry di US sebesar 14,1 miliar dollar per tahun akibat hilangnya produktivitas, sebagian besar akibat rendahnya fungsi kerja. Berdasarkan studi pada tahun 2006 yang disponsori US National Institute of Mental Health, bipolar 2x lebih besar menimbulkan hilangnya produktivitas sebagai Major Depressive Disorder (MDD). Walau nyatanya MDD lebih sering terjadi. Setiap 47

pekerja dengan bipolar kehilangan 66 hari kerja setahun dibandingkan 27 hari kerja setahun orang dengan MDD. Penelitian memperlihatkan episode depresi pada bipolar lebih merusak produktivitas dibanding episode manik.

j. Peran dokter umum dalam penanganan gangguan bipolar Dokter umum saat ini dituntun untuk melihat pasien sebagai mahluk biopsikososial sehingga dalam memberi penanganan dan pelayanan kesehatan dokter tidak hanya mengobati gangguan fisik pasien saja melainan juga melihat masalah atau gangguan pada psikologis dan masalah sosial yang mungkin mempengaruhi pasien. Sesuai dengan Standar Kompetensi Dokter Indonesia (SKDI) tugas dokter umum dalam peran menangani gangguan afektif bipolar adalah mendeteksi gangguan afektif tersebut. Sebagai lini pertama dalam pemberian pelayanan kesehatan dokter umum dan puskesmas akan menjadi yang pertama dalam menangani gangguan afektif karena pada umumnya tidak semua orang peka terhadap adanya gangguan afektif. Gangguan afektif bipolar dengan episode manik apalagi disertai dengan gejala psikotik sering disalahartikan dengan gejala skizofrenia. Pada lini inilah seorang dokter umum bertugas mendeteksi apakah sesorang menderita gejala bipolar. Tugas dokter umum sesuai dengan SKDI termasuk dalam mampu membuat diagnosis klinik berdasarkan pemeriksaan fisik dan pemeriksaan- pemeriksaan tambahan yang diminta oleh dokter (misalnya : pemeriksaan laboratorium sederhana atau X-ray). Dokter dapat memutuskan dan memberi terapi pendahuluan, serta merujuk ke spesialis yang relevan baik dalam keadaan darurat pada episode manik gangguan bipolar dan dalam keadaan tidak darurat pada episode depresi gangguan bipolar. Dokter umum dan puskesmas dapat menjadi yang pertama mendeteksi gangguan afektif, selain itu dokter umum dan puskesmas dapat memberikan pengobatan pendahuluan seperti pemberian obat antipsikotik atau mood stabilizer yang tersedia, dokter umum diharusnya dapat memahami gejala dan membuat diagnosis gangguan bipolar dan dapat membuat rujukan pada psikiatri untuk penanganan lebih lanjut. Selain pada pemberian obat dokter umum dan puskesmas sebagai lini pertama dapat memberikan informasi mengenai gangguan ini, hingga saat ini di Indonesia paradigma masyarakat terhadap pasien gangguan jiwa masih buruk, tidak jarang pandangan dan paradigma masyarakat terhadap pasien gangguan jiwa menjadikan sering 48

terjadinya pemasungan terhadap pasien. Dokter puskesmas dan dokter umum dapat berperan sebagai pemberi informasi dan mediator dengan tokoh masyarakat lainnya untuk menyebarluarkan informasi yang benar mengenai gangguan jiwa terutama dalam hal ini gangguan afektif bipolar sehingga masyarakat dapat lebih meyadari dan mengetahui keadaan serta mengenali gejala sehingga pasien-pasien gangguan jiwa dapat ditolong dan mendapatkan penanganan yang tepat sedini mungkin dan mengurangi sikap yang memusuhi apalagi memasung pasien dengan gangguan jiwa.

49

DAFTAR PUSTAKA
1.

Amir N. Gangguan mood bipolar: kriteria diagnostic dan tatalaksana dengan obat antipsikotik atipik. Jakarta: Badan Penerbit Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2010. h. 3-32.

2.

Konsesus Nasional Terapi Gangguan Bipolar. Panduan tatalaksana gangguan bipolar. Jakarta: Konsesus Nasional Terapi Gangguan Bipolar; 2010.hlm.2-21.

3.

Simon H, Zieve D. Bipolar Disorder. 22 Januari 2009. Diunduh dari www.umm.edu, 13 Desember 2013.

4.

Fakultas Kedokteran Universiats Indonesia. Buku ajar psikiatri. Jakarta: Badan Penerbit FKUI; 2010.hlm.197-208.

5.

Kaplan HI, Sadock BJ, Grebb JA. Kaplan-sadock sinopsis psikiatri: ilmu pengetahuan perilaku psikiatri klinis. Jilid satu. Jakarta: Binarupa Aksara; 2010.hlm.791-853.

50