Anda di halaman 1dari 10

TUGAS INDIVIDU UNIT PEMBELAJARAN 2 BLOK 21 PENYAKIT UNGGAS

Disusun Oleh :
Cik Sasmi Budi Pra irasari 1!"#!!!$!"K%"!&&1! K'()m*)k 2

+AKULTAS KEDOKTERAN %E,AN UNIVERSITAS GADJA% MADA YOGYAKARTA 2!1#

L'ar-i-. O/0'12i3' 1. Penyaki bakterial, viral, parasit pada sistem pencernaan unggas meliputi etiologi, patogenesis, gejala klinis, diagnosis, penanganan danpencegahan! 2. agaimana pengaruh ayam broiler yang terkena penyakit dan obat yang diberikan saat sakit dengan kualitas karkas P'm/a4asa-5 16 P'-7aki2 sis2'm *'-1'r-aa- u-..as a. Penyaki bakterial pada sistem pencernaan unggas meliputi etiologi, patogenesis, gejala klinis, diagnosis, penanganan danpencegahan NE 1! "tiologi #lostridium per$ringens tipe % atau # dan toksin al$a dan beta yang dihasilkannya adalah penyebab dari &" pada ayam. akteri ini tergolong anaerobik, 'ram positi$, berbentuk batang dan menghasilkan double (oned hemolysis pada lempeng agar darah. #l. per$ringens tipe % menghasilkan toksin al$a yang merupakan phospholipase #, sedangkan #) per$ringens tipe # *nenghasilkan toksin al$a dan beta yang menyebabkan nekrose pada mukosa usus. akteri ini sebenarnya merupakan mikroorganisme normal yang berada dalam saluran usus. +ecara umum, belum banyak yang diketahui mengenai cara #l . per$ringens menyebabkan &" pada unggas, meskipun telah banyak diketahui tentang toksin yang dihasilkan bakteri ini . ,ntuk perkembangan biakan bakteri ini serta dihasilkannya toksin, diperlukan suatu kerusakan mukosa yang dapat terjadi oleh berbagai sebab. Peningkatan populasi #l. Per$ringens dalam usus akan disertai dengan pembentukan enterotoksin yang menyebabkan ematian ayam dan banyak menimbulkan kerugian ekonomis. Penelitianpenelitian telah membuktikan peranan toksin al$a dari #) per$ringens dalam kejadian &". .eskipun hampir se.ua pakan ayam dipanaskan dalam prosesnya, kemungkinan kontaminasi #l. per$ringens tetap tidak dapat diabaikan . #l. per$ringens merupakan bakteri pernbentuk spora, jadi cukup tahan terhadap lingkungan yang tidak menguntungkarinya. Pemberian pakan yang terkontaminasi pada tikus selama / sampai 0 minggu menunjukkan 123 mortalitas akibat &". Dalam beberapa laporan kasus &" pada ayam, pakan dan litter yang terkontaminasi juga diduga sebagai sumber in$eksi. Pakan yang terkontaminasi sebanyak 12 /- 120 spora #l. per$ringens akan menyebabkan &". &" biasanya dapat berkembang dalam beberapa kondisi4antara lain sebagai komplikasi akhir yang akut dari penyakit usus utama lain seperti koksidiosis, migrasi cacing ascaridia, in$eksi +almonela dan sebagainya. &" dapat juga terjadi dalam situasi keseimbangan mikro$lora ,+,+ yang terganggu, misal karena penggunaan antibiotik yang tidak tepat, atau pe5bahan kadar nutrisi atau tingkat protein pakan . &" dapat juga terjadi dalam keadaan ayam sedang terkena imunosupresi yang menurunkan resistensi terhadap in$eksi usus dan $aktor $isik yang merusak pertahanan usus 6&atalia, 2220!. 2! Patogenesis Pada umumnya predisposisi bagi terjadinya penyakit ini antara lain adalah $aktor yang menyebabkan adanya perlukaan pada mukosa usus seperti koksidiosis atau penggunaan vaksin hidup koksidia, in$eksi cacing ascaris. #l. per$ringens adalah anggota komunitas yang secara normal ada dalam jumlah yang rendah . Dalam keadaan ini, #l. per$ringens tetap bersi$at toksigenik dan mampu menyebabkan penyakit, tetapi keadaan lingkungan menyebabkan toksin tidak dihasilkan. 7etapi, jika lingkungan berubah, bakteri akan merubah metabolismenya dan muai menimbulkan kerusakan . 8aktor yang 2|Page

paling berpengaruh terhadap lingkungan usus adalah enterocytes yaitu set yang ada dalam dinding usus induk semang. "nterocyte mampu berkomunikasi dengan set bakteri dengan cara tertentu sehingga bakteri usus dapat mengenali setiap hal yang berlangsung normal. Dalam situasi kerusakan usus, kerusakan $isik pada enterocyte 6terjadi dalam koksidiosis atau adanya abrasi usus karena serat dalam pakan yang tinggi!, ada pesan atau tanda dari set yang berubah ini 6secara kimia5i! dan bakteria mengenali pesan adanya tanda bahaya. %kibatnya bakteri akan berubah dari keadaan dormant menjadi agresi$ untuk mengkolonisasi dan berkembang dalamjaringan dinding usus yang rusak tadi. #l. per$ringens tipe % atau # menghasilkan toksin al$a yang merupakan en(im phospholipase # dan akti$ terhadap $os$atidilkolin dan s$ingomielin. 7oksin al$a ini bersi$at hemolissk dan berakti$itas menghidrolisis membran $os$olipid dari set darah merah, yang mengakibatkan hemolisis. ,nggas telah terbukti lebih sensiti$ 12 kali lipat dibanding he5an mamalia. 9al ini disebabkan karena set darah merah dari berbagai spesies berbeda kepekaannya terhadap lisis. :epekaan ditentukan oleh komposisi $os$olipid di lapisan luar membran set, yaitu jika kaya akan $os$atidilkolin dan s$ingomielin, maka set akan lebih sensiti$ atau mudah lisis. 9al yang sangat menarik adalah ayam cukup resisten terhadap toksin beta dan epsilon yang dihasilkan tipe lain dari #l. per$ringens . Oleh sebab itu, &" biasanya hanya disebabkan oleh #l. per$ringens tipe % atau # yang menghasilkan toksin al$a. /! 'ejala :linis Depresi, penurunan na$su pakan, malas bergerak, diare dan berbulu kusam. 'ejala klinis biasanya berlangsung singkat, seringkali ayam mati secara mendadak. Pada kasus yang biasa terjadi, kerusakan terutama ditemukan di daerah usus kecil umumnya jejunum dan ileum, tetapi kelainan pada sekum dapat juga dijumpai . ,sus sering menjadi rapuh dan berisi gas . .ukosa dilapisi oleh lapisan pseudomembran yang ber5arna kuning, kecoklatan atau hijau . ercak perdarahan dapat pula ditemui. +ecara eksperimental, penebalan mukosa duodenum dan jejunum dapat ditemui pada / jam setelah inokulasi #l. per$ringens. +etelah 1 jam, terjadi nekrosis mukosa usus yang akan berkembang menjadi $ibrinonecrotic enteritis yang parah dengan pembentukan membran diphteritic. +ecara histopatologik, ada kolonisasi #l. per$ringens pada epitel vili usus yang disertai nekrose koagulati$ dari mukosa. +ecara ultramikroskopik, perubahan utama yang terlihat pada membran set lumen adalah hilangnya vesikulasi dan kehilangan rhikrovili secara keseluruhan. Perubahan ini terutama terjadi pada daerah mukosa usus yang mengalami nekrose dan berhubungan erat dengan tipe #l. per$ringens yang mengin$eksi. %danya hidrolisis dari membran sel epitel oleh toksin bakterial juga penting dalam patogenesis &" 6&atalia, 2220!. 0! Diagnosis erdasarkan sejarah terjadinya penyakit, peningkatan kematian yang mencolok, gejala klinis, kelainan patologik yang ditemukan seperti kerusakan mukosa usus, hepatitis dan hasil isolasi agen penyebab di laboratorium dapat didiagnosis terjadinya &" pada he5an. Dalam kasus ini kita juga harus melakukan penyidikan tentang predisposisi terjadinya penyakit ini. Pada kasus &" subklinis, tidak terjadi kematian ayam dalam jumlah yang mencolok, tetapi terjadi diare pada sebagian ayam yang terserang, pertambahan berat badan yang tidak normal serta adanya $eed conversion ratio yang buruk. Dalam hal ini, &", subklinis dapat didiagnosa dengan peningkatan jumlah #l . per$ringens dalam jumlah besar pada usus. Dari gejala penyakit utama yang jelas dapat diamati adalah diare dan mortalitas. erikutnya adalah litter yang basah, ayam berkerumun, asupan pakan atau air yang tidak normal, dan bulu yang kusam. :on$irmasi diagnosis dapat dilakukan di laboratorium mikrobiologi yaitu dengan rnengisolasi 3|Page

dan mengidenti$ikasi agen penyebab dari daerab kerusakan usus yang ditimbulkan . 7oksin al$a biasanya dapat dideteksi dari usus ayam yang terserang &". Di$$erential Diagnosa: ulcerative enteritis oleh #lostridium colinum dan koksidiosis 6&atalia, 2220!. 1! Penanganan dan pencegahan a! .anajemen kelembaban alas kandang Dijaga kebersihan, kelembaban dan juga didesin$ektan agar oocyst yang di luar tidak dapat mengkontaminasi. Penggunaan antikoksidia dalam pakan 6terutama ionophore!, dan pembantu pencegahan seperti en(im dapat menekan pertumbuhan bakteri yang berlebihan dalam usus. ;angan melakukan perubahan pakan secara mendadak baik komposisi maupun bentuk pakan. Penentuan $aktor predisposisi yang menyebabkan terjadinya penyakit akan menentukan pengobatan yang harus dilakukan b! Penggunaan antibiotik dan resistensi terhadap antibiotik +elama ini, penanggulangan &" dilakukan dengan pemberian berbagai macam antibiotika seperti basitrasin, penisilin dan lincomisin dari dosis rendah 6untuk pencegahan! dan dosis tinggi 6untuk pengobatan! . Penggunaan antibiotika dalam pakan untuk pencegahan penyakit telah banyak menimbulkan pertentangan pendapat yang ditimbulkannya . Dari laporan kasus di lapangan, sudah sering ditemukan #l. per$ringens yang resisten terhadap berbagai antibiotik seperti bacitracin, lincomycin dan +ebagainya. c! Prebiotik Prebiotik adalah gula-gula yang dapat di$ermentasi, dan dimasukkan dalam pakan atau air minum ayam untuk merangsang pertumbuhan bakteri yang menguntungkan. d! #ompetiti$ e<clusion Pemberian kultur hidup mikroorganisme yang diperoleh dari ayam de5asa sehat pada anak ayam untuk mengatasi kolonisasi bakteri pathogen diistilahkan sebagai competitive e<clusion . Penggunaan atau pemberian mikro$lora normal dari usus ayam de5asa yang sehat untuk memperbaiki per$ormans ayam telah dilakukan dan memberikan hasil yang sangat baik. Pemberian mikro$lora tersebut dapat e$ekti$ untuk mengurangi pengaruh buruk dari &" pada ayam. eberapa penelitian menyatakan bah5a pemberian %viguard, .+# 63ultur competitive e<clusion komersil!, dapat mengurangi keparahan akibat &" pada ayam pedaging, dan mengurangi proli$erasi #l. per$ringens dalam usus dan ternyata lebih e$ekti$ dibanding pemberian antibiotik seperti virginiamisin dan basitrasin untuk mengatasi &". e! Preparat en(im Pemberian preparat en(im jika digunakan,pakan ayam berbahan gandum dan biji-bijian sejenis dapat mengurangi atau menghilangkan si$at antinutriti$ dari polisakarida yang kental . $! .ineral dan vitamin Penambahan vitamin %, ", :/, # dan selenium pada pakan ayam pedaging tidak secara nyata mempengaruhi jumlah #) per$ringens dalam sekum, demikian juga penambahan para-amino ben(oic acid atau betaine. g! =aksinasi 6&atalia, 2220! b. Penyaki virus pada sistem pencernaan unggas meliputi etiologi, patogenesis, gejala klinis, diagnosis, penanganan danpencegahan, IBD 1! "tiologi 4|Page

=irus penyebab * D yang dikenal saat ini terdiri dari 2 serotipe yaitu serotipe 1 dan serotipe 2 yang dapat mengin$eksi ayam dan kalkun. +erotipe 1 yang pertama kali ditemukan disebut dengan strain klasik yang bersi$at patogen dan strain yang ditemukan kemudian di daerah %merika merupakan strain varian yang sangat ganas yaitu very virulent * D 6vv* D!. =irus * D tersebut merupakan hasil mutasi dari virus klasik, sementara serotipe 2 tidak bersi$at ganas. :edua serotipe dapat dibedakan dengan uji virus netralisasi 6=&! tetapi tidak dapat dibedakan dengan Flourescent Antibody Technique 68%7! dan Enzyme Linked Immunosorbent Assay 6")*+%!. =irus * D berdiameter 11 nm, merupakan virus yang tidak memiliki amplop dan dikelilingi oleh protein capsid yang berbentuk ikosahedral. =irus ini tergolong dalam $amili Birnaviridae. +esuai dengan namanya, ds >&%. .orbiditas dan mortalitas * D bervariasi tergantung strain * D dan species unggas yang terserang. urung unta, itik, angsa, burung puyuh, kalkun dan burung merpati dilaporkan dapat terin$eksi virus * D. &amun, lesi yang ditimbulkan pada itik dan burung puyuh yang diin$eksi dengan vv* Dv, lebih ringan dibandingkan dengan lesi yang terjadi pada ayam. Odema, $ibrosis dan kista tidak ditemukan pada kalkun dan itik. 9al ini menunjukkan bah5a ayam lebih peka dari pada unggas yang lain 6?ahyu5ardani dkk, 2211!. 2! Patogenesis Penyakit * D menyerang ayam umur / @ A minggu pada saat perkembangan bursa Fabricius mencapai optimum. Pada saat yang sama antibodi asal induk mulai menurun, sehingga ayam rentan terhadap in$eksi virus * D. +ebaliknya, penyakit * D tidak membahayakan bagi ayam yang telah mengalami regresi bursa Fabricius, karena target sel virus * D adalah sel lim$oid bursa Fabricius yang sudah matang. *n$eksi * Dv menyebabkan kerusakan pada bursa Fabricius yang berupa nekrosis dan apoptosis pada sel limosit . *n$eksi pada umumnya melalui oral bersama pakan yang tercerna virus masuk ke dalam usus. =irus kemudian ditangkap oleh sel makro$ag atau lim$osit sebagai Antigen recenting !ell 6%P#!. :eberadaan* D dapat dideteksi 1/ jam pi pada sebagian besar $olikel. Proses apoptosis mulai terjadi setelah makro$ag yang teraktivasi virus * D melepaskan sitokin yaitu "aktor tumor nekrosis a 67&8a! dan interleukin 12 6*)12! yang memicu 7h 67 helper! untuk berdi$erensiasi menjadi 7h1. +el 7h1 memproduksi *)2 dan *8&-B. Interleukin#$ bersama 7&8a meningkatkan aktivitas sel natural killer 6&:!. +ementara itu, *)2 bersama inter$eron *&8-B memicu aktivasi cytoto%ic T lymphocyt 6#7)! yang kemudian mengekspresikan Fibrosis associated substrate 68as! ligan yang dapat menimbulkan apoptosis pada sel target yang mengekspresikan 8as. +etelah 1A jam pi terjadi viremia kedua dan replikasi sekunder pada organ lainnya yang dapat menimbulkan kematian. Penyebab kematian belum diketahui secara pasti. &amun demikian pada $ase akut teramati sindroma septic shock, dimana terjadi respon imun yang berlebihan, yang ditandai dengan peningkatan konsentrasi 7&8-a yang berlebihan di dalam serum darah ayam, yang kemudian diikuti terjadinya kematian. *n$eksi virus * D yang ganas menyebabkan kerusakan yang parah hingga terjadi deplesi sel lim$oid pada $olikel bursa Fabricius, sehingga ukuran bursa terlihat mengecil, hingga mencapai 1C0 @ 1C1 dari ukuran bursa Fabricius pada ayam kontrol. ila tidak terjadi penyembuhan pada bursa Fabricius ayam, akan menyebabkan hambatan produksi antibodi yang dibentuk oleh sel . +elain itu pada in$eksi * D banyak sel makro$ag dan sel hetero$il yang mengalami nekrosis dan apoptosis menyebabkan $ungsi $agositosis. :edua kondisi tersebut menyebabkan ayam yang terin$eksi * D menjadi imunosupresi$ 6?ahyu5ardani, 2211!. /! 'ejala :linis 5|Page

'ejala klinis yang terlihat sangat tergantung dari strain virus yang mengin$eksi ayam, jumlah virus, umur, galur ayam, rute inokulasi dan keberadaan antibodi penetralisasi. =irus yang masuk ke dalam tubuh ayam ditangkap makro$ag, yang kemudian melepaskan sitokin yang menimbulkan respon in$lamasi. 'ejala klinis yang parah kemungkinan disebabkan respon proin$lamasi yang tinggi pada saat in$eksi. 'ejala klinis ditimbulkan oleh in$eksi * D adalah ayam lesu, na$su makan menghilang dan sayap menggantung. +elain itu juga sering ditemukan gejala diare, serta kotoran yang menempel pada kloaka. Pada ayam muda tanpa antibodi maternal, gejala klinis mulai terlihat pada 0D jam pi dan gejala klinis semakin parah pada 1A @ E2 jam pi. +ementara itu, pada ayam yang divaksinasi, gejala klinis terlihat / hari pascatantang, dan ayam-ayam tersebut mati setelah 2 @ / hari memperlihatkan gejala klinis. %yam yang bertahan hidup, pertumbuhan menjadi terhambat dan sering kali ditemukan in$eksi sekunder seperti &e'castle (isease, !oli Bacillosis dan !occidiosis. ?abah * D akut yang disebabkan virus * D klasik yang menyerang ayam pedaging umur F / minggu ditandai dengan angka morbiditas yang tinggi namun secara klinis terlihat ada penyembuhan setelah 1 @ E hari ayam sakit. *n$eksi pada ayam yang mempunyai antibodi maternal menunjukkan gejala subklinis, namun lesi dapat diamati secara histopatologik 6?ahyu5ardani dkk, 2211!. 0! Diagnosis Diagnosis * D dapat ditegakkan berdasarkan pada gejala klinis, perubahan patologi anatomi dan histopatologi. Perubahan patologi yang patognomonik adalah perubahan yang ditemukan pada bursa Fabricius) &amun demikian, diagnosis * D sebagai penyebab primer perlu ditunjang dengan teknik diagnosis yang lain karena gejala in$eksi virus * D mirip dengan &D atau penyakit lain penyebab imunosupresi$. 9al ini bisa diatasi dengan pe5arnaan imunohistokimia, untuk mendeteksi keberadaan antigen virus * D pada organ bursa 8abricius) %ntigen virus * D dapat dideteksi / jam pi pada bagian korteks $olikel lim$oid bursa Fabricius. %ntigen dapat dideteksi pada makro$ag di dalam $olikel bursa Fabricius dan pada sel epitel GA jam pi. :eberadaan antigen * D pada bursa Fabricius berkorelasi positi$ dengan terjadinya lesi pada bursa Fabricius) %ntigen virus * D juga terdeteksi pada organ timus, limpa, secal tonsil, sel epitel tubulus dan glomerulus ginjal, lapisan mukosa dan glandula pada proventrikulus serta pada sel *up""er pada hati. %ntigen virus * D juga dapat dideteksi pada itik dan kalkun yang diin$eksi dengan virus * D, namun demikian jumlah antigen yang dideteksi relati$ lebih sedikit 6?ahyu5ardani, 2211!. 1! Penanganan dan pencegahan Pengendalian terhadap penyakit * D yang e$ekti$ adalah dengan melakukan program vaksinasi yang teratur disertai dengan program biosekuritas, diikuti dengan deteksi titer antibodi untuk mengetahui keberhasilan vaksinasi dengan uji serum netralisasi atau ")*+% 6O*", 222D!. =aksinasi pada ayam pembibit merupakan langkah terpenting untuk mengendalikan * D, karena antibodi yang diproduksi induk akan diturunkan melalui telur kepada anak. %ntibodi maternal dengan titer yang baik akan memproteksi ayam mela5an penyakit * D. +ebagai contoh, program vaksinasi pada ayam petelur dapat dilakukan pada umur 12 sampai 11 hari dengan vaksin * D akti$. Pada umur /2 @ // hari dengan vaksin * D akti$ dan pada umur D1 hari dengan vaksin inakti$, serta pada umur 122 hari dengan vaksin inakti$. =aksinasi ulang pada umur /D @ 02 minggu dengan vaksin inakti$ perlu dilakukan jika ayam pembibit mempunyai titer antibodi yang rendah atau tidak seragam. .onitoring titer antibodi perlu dilakukan secara rutin untuk mengetahui apakah ayam telah memberikan respon yang baik atau untuk mengetahui aplikasi vaksin sudah dilakukan dengan benar atau belum. Pencegahan dan pengendalian penyakit * D pada ayam pedaging komersial diperlukan untuk mencegah penyakit * D yang bersi$at klinis. %da tiga kategori vaksin yang digolongkan berdasarkan patogenisitasnya yaituH mild, intermediate dan virulent. 7ipe vaksin * D intermediate paling umum 6|Page

digunakan. =aksin ini dapat menstimulasi ayam pedaging dalam memproduksi antibodi lebih a5al dari pada tipe vaksin mild, tanpa menyebabkan kerusakan bursa Fabricius seperti pada tipe vaksin virulen 6O*", 222D!. ?aktu vaksinasi tergantung pada titer antibodi maternal pada anak ayam. 7iter antibodi maternal yang tinggi akan menetralisasi virus yang berasal dari vaksin. ;adi hanya sedikit respon kekebalan akti$ yang akan dihasilkan, sehingga ayam akan mudah terin$eksi penyakit karena antibodi menurun, dan vaksinasi kemungkinan menjadi tidak e$ekti$ jika ayam terkontaminasi dengan virus * D lapang yang lebih virulen 6?ahyu5ardan dkk, 2211!. c. Penyaki parasit pada sistem pencernaan unggas meliputi etiologi, patogenesis, gejala klinis, diagnosis, penanganan danpencegahan K)ksidi)sis 1! "tiologi %vian #occidiosis merupakan penyakit usus yang disebabkan oleh proto(oa parasit 'enus "imeria. "imeria berkembang biak di saluran pencernaan dan menyebabkan kerusakan jaringan. :oksidiosis pada ayam berlokasi pada dua tempat yaitu di sekum 6caecal coccidiosis! yang disebabkan oleh ". tenella dan di usus 6intestinal coccidiosis! yang disebabkan oleh delapan jenis lainnya 6>ohayati dkk, 2211!. :erugian yang ditimbulkan meliputi kematian 6mortalitas!, penurunan berat badan, pertumbuhan terhambat, na$su makan menurun, produksi daging turun 6>ohayati dkk, 2211!. 2! Patogenesis Penularan terjadi secara hori(ontal, baik melalui peralatan 6tempat ransum, minum!, ransum, air minum maupun $eses yang telah tercemar oleh kedua agen penyakit tersebut. +elain itu, penularan kedua penyakit tersebut dapat terjadi secara langsung, yaitu dari ayam sakit ke ayam yang sehat. +emua jenis ayam pada semua umur dapat terin$eksi koksidiosis

8aktor disposisi: a! 7idak ada antibodi maternal terhadap &" dan koksidiosis menyebabkan kedua penyakit tersebut lebih mudah menyerang, terutama saat masa starter 6masa a5al! b! )emahnya sanitasi dan desin$eksi kandang. +eperti yang telah disampaikan sebelumnya, baik bakteri !) per"ringens dan Eimeria sp. dapat mencemari litter, ransum, air minum maupun peralatan kandang 6tempat ransum dan air minum!. )emahnya sistem sanitasi dan desin$eksi akan menyebabkan populasi kedua agen penyakit tersebut meningkat 6sangat tinggi! sehingga serangan &" dan koksidiosis lebih mudah terjadi. 8enomena ini, sering kali terjadi saat masa gro'er dimana manajemen pemeliharaan relati$ lebih IlonggarJ sehingga saat ayam petelur mulai berproduksi 6masa produksi! outbreak &" dan koksidiosis dapat terjadi c! .anajemen litter yang teledor. :ondisi litter yang lembab karena tumpukan litter yang terlalu banyak yang ditambah dengan tumpahan ransum, air minum maupun air hujan akan sangat mendukung perkembangbiakan bakteri !) per"ringens dan Eimeria sp. .enjaga kondisi litter tetap kering dengan mengatur kepadatan kandang, menjaga kualitas ransum 6tidak 7|Page

terlalu tinggi kadar garam, protein kasar! maupun mencegah heat stress 6stres panas! menjadi langkah yang tepat d! Penggunaan obat yang kurang tepat. %plikasi obat &" dan koksidiosis yang kurang tepat, yaitu dosis tidak tepat dan lama pemberian yang tidak sesuai aturan pakai akan menurunkan e$ikasi 6keampuhan! obat yang digunakan. Pemberian obat &" dan koksidiosis yang sama dalam 5aktu yang lama juga bisa menyebabkan terjadinya resistensi sehingga obat tersebut tidak e$ekti$. 6%nonim, 222D! /! 'ejala :linis *n$eksi dini koksidiosis biasanya ditunjukkan adanya $eses ayam yang ber5arna coklat gambir dengan konsistensi semacam pasta atau sedikit encer. +elain itu na$su makan turun, pertumbuhan terhambat, ayam terlihat pucat, bulunya kusam dan depresi. 'ejala klinis ayam terserang koksidiosis tersebut mirip dengan gejala klinis serangan &" kronis, yaitu penurunan atau kehilangan na$su makan, depresi, bulu berdiri dan ayam bergerombol. +elain itu, baik serangan koksidiosis dan &" akan menyebabkan ayam mengalami diare. +aat bentuk in$ekti$ Eimeria sp. termakan ayam, dimulailah siklus hidup parasit bersel satu ini. Di gizzard6tembolok! dinding kista ookista terkikis sehingga keluarlah sporozoit yang langsung menuju ke usus untuk melangsungkan siklus hidupnya. %kibatnya terjadi luka, perdarahan dan kerusakan jaringan usus. Perubahan patologis dan kerusakan mukosa usus, Perdarahan di usus itu disebabkan robeknya pembuluh darah di epithel oleh schizont atau merozoit saat menembus menuju lumen usus. Perdarahan ini biasanya terlihat pada hari ke-0 pasca in$eksi dan hari ke-1-A perdarahan terlihat lebih banyak 6terjadi perdarahan hebat di usus!. ;ika tidak mati, ayam akan memasuki $ase penyembuhan pada hari ke-D-G. )okasi dan tingkat keparahan perdarahan berbeda-beda antar spesies Eimeria sp. +ecara lengkap, kerusakan usus akibat ke-A spesies Eimeria sp. tercantum pada cover dalam depan *n$o .edion edisi ini 622C2D!. >usaknya usus akibat serangan Eimeria sp. tersebut menjadi tempat yang sangat cocok bagi bakteri !) per"ringens untuk berkembang biak dan berkolonisasi. 7erbentuknya koloni bakteri ini akan menghasilkan suatu toksik, yaitu toksik al$a 6!) per"ringens tipe % dan #! maupun toksik beta 6!) per"ringens tipe #! yang mampu menimbulkan nekrosa pada mukosa usus halus sehingga disebut necrotic enteritis. 0! Diagnosis *solasi dan identi$ikasi langsung dari sampel $eses unggas. 1! Penanganan dan pencegahan Pengendalian koksidiosis pada ayam di *ndonesia umumnya dilakukan dengan pemeliharaan kebersihan, pemberian koksidiostat yang dicampurkan dalam makanan atau air minumnya, dan penggunaan vaksin koksidia. Pengendalian koksidiosis dengan pemberian koksidiostat harus diikuti cara dan takaran yang telah ditentukan agar tidak menimbulkan e$ek samping, bah5a pemakaian satu macam koksidiostat yang terus menerus dalam pakan ayam dapat menimbulkan galur coccidia yang tahan terhadap kokidiostat tersebut. %ntikoksidia dapat menimbulkan resistensi terhadap koksidiosis 67abbu, 222A!. 26 P'-.aru4 a7am /r)i('r 7a-. 2'rk'-a *'-7aki2 da- )/a2 7a-. di/'rika- saa2 saki2 d'-.akua(i2as karkas6 .isal pada kasus +almonellosis, :ontaminasi pada ternak unggas dapat terjadi sebelum disembelih yaitu akibat kontaminasi hori(ontal eksternal pada telur-telur saat pengeraman telur ayam 8|Page

pedaging sehingga akan dihasilkan daging ayam yang terkontaminasi oleh +. enteritidis, selama penyembelihan dan selama atau setelah pengolahan mengemukakan bah5a proses produksi di rumah pemotongan ayam tidak dapat menjamin produk akhir produksi tersebut bebas +. enteritidis. Daging ayam yang tercemar +. enteritidis selain sebagai penyebab $oodborne disease karena dikonsumsi, juga berpotensi sebagai sumber kontaminasi silang terhadap makanan lain . &amun kontaminasi silang ini sulit dideteksi . Pada beberapa kejadian mungkin tidak diketahui dan tidak dilaporkan 6%riyanti dan +upar, 2221!. :ontaminasi terjadi melalui kontak langsung dengan daging ayam atau perkakas dapur yang tercemar +. enteritidis atau tangan yang tidak dicuci bersih . :ontaminasi silang ini sering ditemukan di dapur-dapur rumah makan, hotel, rumah sakit atau pengusaha katerin. :ontaminasi +. enteritidis pada makanan secara tidak langsung dapat diperantarai oleh vektor mekanik dan biologik seperti rodensia, burung-burung kecoa, kumbang, kutu, parasit maupun manusia . Pupuk dilaporkan dapat sebagai sarana kontaminasi +. enteritidis di peternakan . :eberadaan +. enteritidis juga dapat ditemukan di tanah, air, udara, kayu, debu, $eses dan tanaman seperti buah-buahan dan sayuran. )ebih dari 003 5abah salmonellosis yang terjadi di dunia melibatkan konsumsi telur, produk asal telur yang terkontaminasi akibat kontaminasi pada saat telur diinkubasi selama pengeraman dan cara memasak telur yang kurang sempurna seperti dimasak setengah matang atau dikonsumsi masih mentah . 7elur-telur yang telah dibekukan atau dikeringkan, telur-telur utuh yang tidak disimpan dalam re$rigerator baik selama di pengecer, di rumah-rumah atau pada usaha katering juga dapat mengkontaminasi makanan 6%riyanti dan +upar, 2221!. .anusia yang terin$eksi oleh bakteri +. "nteritidis biasanya bersi$at khas dengan masa inkubasi antara 1-E2 jam, tetapi gejala umumnya terjadi dalam 5aktu 12-/A jam setelah menelan makanan atau minuman yang terkontaminasi . Penyakit dia5ali dengan diare, dehidrasi, sakit perut, mual-mual, dan muntah, kadangkadang demam ringan. ,mumnya, gejala berlangsung selama 2-E hari dan seringkali penderita sembuh tanpa pengobatan antibiotika . +almonella umumnya diekskresi dalam jumlah besar dalam $eses pada a5al terjadinya keracunan . +elanjutnya, jumlah +almonella yang diekskresi menurun dan status karier pada in$eksi ini umumnya jarang terjadi dibandingkan dengan in$eksi oleh +. typhi . &amun pada usia yang lebih muda, bayi, orang-orang tua dan orangorang dengan sistem imun lemah, penyakit ini dapat menjadi parah. Pada pasien ini, in$eksi dapat meluas dari usus ke sirkulasi darah dan menyebar ke bagian tubuh lain dan dapat menyebabkan kematian jika tidak diobati dengan antibiotik yang tepat 6%riyanti dan +upar, 2221!. .enurut :omisi Obat he5an Departemen Pertanian, pemerintah memperbolehkan penggunaan antibiotika pada ternak dengan ketentuan, antibiotika yang digunakan pada manusia tidak boleh digunakan pada ternak, antibiotika yang digunakan harus aman bagi manusia, he5an, lingkungan. .enurut %dam 62222! residu antibiotika terjadi akibat penggunaan antibiotika untuk kontrol atau mengobati penyakit in$eksi tidak memperhatikan 5aktu henti obat, penggunaan antibiotika yang melebihi dosis yang dianjurkan, penggunaan antibiotika sebagai $eed additive dalam pakan he5an. Pada pangan asal he5an residu meliputi senya5a asal yang tidak berubah 6nonaltered parent drug!, metabolit dan atau konyugat lain. eberapa metabolit obat diketahui bersi$at kurang atau tidak toksik dibandingkan senya5a asalnya, namun beberapa diketahui lebih toksik 6Phillips, 2220!. 8aktor-$aktor yang mempengaruhi distribusi obat dalam tubuh 6$ase $armakokinetika! yaitu, per$usi darah melalui jaringan, kadar gradien, p9 dan ikatan (at dengan makromolekul, partisi ke dalam lemak, transpor akti$, barier 6sa5ar! dan ikatan obat dengan protein plasma atau jaringan 6%dam 2222!. +ecara umum $ase $armakokinetik obat dipengaruhi oleh: keragaman dalam satu spesies, perbedaan spesies, interaksi antar obat, $aktor-$aktor bio$armasetik, keberadaan kinetika non linear dan penyakit. 9|Page

Pakan yang mengandung antibiotika akan berinteraksi dengan jaringan 6organ! dalam tubuh ternak, meskipun dalam jumlah yang kecil pengaruh yang ditimbulkan tidak secara langsung tetapi akan bere$ek kronis dan tetap berada dalam tubuh ternak 6%dam, 2222!. +enya5a induk dan metabolitnya sebagian akan dikeluarkan dari tubuh melalui air seni dan $eces, tetapi sebagian lagi akan tetap tersimpan di dalam jaringan 6organ tubuh! yang disebut sebagai residu. ;ika pakan yang dicampur antibiotika secara terus menerus, maka residu antibiotika tersebut akan terakumulasi di dalam jaringan dengan konsentrasi yang bervariasi antara organ tubuh. %ntibiotika yang paling sering dideteksi dalam daging yaitu, penisilin 6termasuk ampisilin!, tetrasiklin 6termasuk khlortetrasiklin dan oksitetrasiklin!, sul$onamida 6termasuk sul$adimethoksin, sul$ametha(in dan sul$amethoksa(ol!, neomisin, gentamisin dan streptomisin 6Phillips et al), 2220!. >esidu dari semua jenis obat he5an paling tinggi terdapat dihati dan ginjal dibandingkan pada jaringan otot. 9asil analisis menunjukkan bah5a kadar residu beberapa antibiotika berbeda pada jaringan berbeda dalam tubuh ayam. +ecara $armakokinetik dapat dijelaskan mengenai metabolisme dan distribusi jenis obat pada he5an yang berbeda, pada $ase ini juga dapat diperkirakan 5aktu henti obat untuk menghilangkan kadar obat pada jaringan yang berbeda 6%dam, 2222!. Dampak negati$ keberadaan residu antibiotika yaitu, reaksi alergi, toksisitas, mempengaruhi $lora usus, respon immun, resistensi terhadap mikroorganisme, pengaruh terhadap lingkungan dan ekonomi.

Da82ar Pus2aka %dam >. 2222. +eterinary harmacology and Therapeutics. *O?% +tate ,niversity Press %mes: ,+% %nonim. 222D. *oksidiosis , &ecrotic Enteritis. http:CCin$o.medion.co.idCinde<.phpCartikelCbroilerCpenyakitCkoksidiosis-a-ne %riyanti, 7 dan +upar. 2221. Peranan +alomonella "nteritidis Pada %yam dan Produknya. -urnal .artazoa +ol #/ &o $ &atalia, ). 2220. #lostridial &ecrotic "nteritis Pada %yam. -urnal .artazoa +ol #0 &o 0 Phillips *, #ase5ell ., #o< 7, 'root , 8riis #, ;ones >, &ightingale #, Preston > and ?addell ;. 2220. Does the ,se o$ %ntibiotics in 8ood %nimals Pose % >isk to 9uman 9ealthK. -ournal 1" Antimicrobial !hemotherapy. 1/H2D 7abbu #. >. 222A. enyakit Ayam dan enanggulangannya +olume $. Logyakarta: :anisiu >ohayati, "+H >ahma5ati, DH +ahara, %H +utrisno, . 2211. Pengaruh 7emperatur 7erhadap Patogenesis OOsista "imeria tenella Pada %yam Pedaging. -urnal 2ain +et +ol) $3 &o) #

10 | P a g e