Anda di halaman 1dari 6

Tinjauan Pustaka

Pil Kontrasepsi Laki-laki dengan Bahan Dasar Gandarusa (Justicia gendarussa Burm.F)

Lestari Handayani
Pusat penelitian dan Pengembangan Sistem dan Kebijakan Kesehatan

Abstrak: Tuntutan keterlibatan laki-laki dalam pengaturan jumlah anak dengan berkembangnya isu gender perlu ditunjang dengan ketersediaan alat kontrasepsi. Pil kontrasepsi laki-laki merupakan alat kontrasepsi yang belum ada di pasaran. Penelitian untuk mendapatkan pil kontrasepsi laki-laki yang efektif terus dilakukan untuk memenuhi kebutuhan program KB. Telah ditemukan pemanfaatan secara empiris terhadap tanaman Gandarusa (Justicia gendarussa Burm.F) yang diminum oleh oleh kaum pria di Papua bahan pencegah kehamilan. Penelitian tersebut dilanjutkan pada binatang coba dan ditemukan bahwa terdapat khasiat menurunkan aktivitas enzim hialuronidase yang reversibel sehingga terjadi gangguan penetrasi pada fertilisasi in vitro. Uji toksisitas menunjukkan keamanan bahan tersebut untuk dikonsumsi dalam jangka lama. Untuk menjadi suatu obat yang dapat dikonsumsi manusia, uji praklinik tentang Gandarusa harus dilanjutkan dengan uji klinik pada manusia yang terdiri dari beberapa tahap. Efek yang terlihat pada binatang harus diujikan kebenarannya bila akan digunakan oleh manusia. Dengan menemukan kebenaran khasiat, dosis, dan keamanannya Gandarusa akan menunjukkan potensi dari Gandarusa sebagai bahan pil kontrasepsi laki-laki. Kata Kunci: Gandarusa (Justicia gendarussa Burm.F), Pil Kontrasepsi Laki-laki, fitofarmaka

Maj Kedokt Indon, Volum: 57, Nomor: 8, Agustus 2007

279

Pil Kontrasepsi Pria dengan Bahan Dasar Gandarusa

A Male Contraceptive Pill Consist of Gandarusa (Justicia gendarussa Burm.F) Lestari Handayani
Health Policy and System Research and Development Centre

Abstract: The contribution of men to control the child birth came up since gender issue developed. On the other hand, there are limitations of male contraceptives. A male contraseptive pill is being developed in many countries but it have not been released in the market to fulfill the need of male contraceptives for family planning program. Empirically, Gandarusa (Justicia gendarussa Burm.F) have been used by men of Papua tribes to control their family size. Researchs on those medicinal herb in many aspects had been developed by many researchers and showed a good result. They found that Gandarusa reduced the activity of hyaluronidase enzym (reversible effect) which is important to help the sperm penetration during in vitro fertilization. Gandarusa is not toxic, so it is safe to be consumed. Developing a new drug needs a series of researchs start from the basic information of the substance, preclinic and clinical trial. Gandarusa should be investigated to see its effect on the human being. The information of its efficacy , dose, safety will prove whether Gandarusa is a potential medicinal herb to be used as male contraceptive pill. Key words: Gandarusa (Justicia gendarussa Burm.F), male contraceptive pill, phytopharamcy

Pendahuluan Keterlibatan laki-laki dalam keluarga berencana khususnya dalam pengaturan jumlah anak selama ini masih dirasakan kurang. Dalam hal ini laki-laki merupakan pihak yang hanya menikmati perilaku seksual dan hasilnya berupa keturunan tanpa harus terlibat langsung dalam mengatur jumlah anak. Berbagai alasan sebagai pembenar perilaku ini antara lain alat kontrasepsi yang tersedia sebagian besar ditujukan untuk perempuan. Program keluarga berencana, selama ini masih memfokuskan kepada alat KB untuk perempuan dan penekanan agar perempuan bertanggung jawab atas jumlah keluarga yang diinginkan oleh pasangan tersebut. Sehingga tanggung jawab sebagian besar dibebankan kepada perempuan yang pada akhirnya melenakan laki-laki untuk ikut bertanggung jawab. Oleh karena itu sudah selayaknya bila perempuan menuntut laki-laki berperan dalam pengaturan kehamilan. Hasil konferensi kependudukan Internasional tahun 1994 bab IV tentang Kesetaraan dan Pemberdayaan Perempuan menekankan perlunya peningkatan tanggungjawab dan peranserta laki-laki dalam kesehatan reproduksi. Laki-laki berperan kunci dalam upaya kesetaraan gender karena mereka memiliki kekuasaan hampir di semua bidang kehidupan. Sebagai kelompok dominan, laki-laki perlu memperoleh dorongan dan penguatan dalam kesehatan reproduksi yang efektif. Mereka perlu mengenal tanggung jawab dalam

perilaku reproduksi serta peran sertanya dalam keluarga dan masyarakat seperti dinyatakan Green dan Biddlecom dalam Konferensi Kairo yang menekankan perlunya peranan lakilaki dalam Keluarga Berencana dalam ruang lingkup yang lebih luas.1 Pada kenyataan saat ini di Indonesia maupun di negara lain termasuk negara maju, pelayanan kesehatan dasar belum menyediakan pelayanan reproduksi bagi laki-laki. Pelayanan masih difokuskan kepada pelayanan kesehatan reproduksi perempuan. Hal ini dapat disebabkan terbatasnya pengetahuan tentang pelayanan kesehatan reproduksi khususnya keluarga berencana (KB) bagi laki-laki antara lain karena terbatasnya alat kontrasepsi laki-laki yang tersedia. Dengan berkembangnya pengetahuan, upaya untuk melibatkan lakilaki dalam KB semakin nyata. Indonesia kaya akan tanaman obat yang baru sebagian kecil dimanfaatkan. Peluang ini telah ditangkap sebagian ilmuwan Indonesia untuk mencoba menggali tanaman obat sebagai bahan pil kontrasepsi. Sudah banyak bukti tanaman obat asli Indonesia akhirnya berpindah tangan kepada peneliti asing yang lebih didukung oleh dana dan peralatan penelitian yang lebih canggih dan kemudian dipatenkan oleh perusahaan farmasi asing. Jika berlanjut Indonesia hanya berperan sebagai konsumen yang harus membayar mahal obat berbahan tanaman obat asli negeri sendiri. Oleh karena itu makalah ini berusaha mengkaji peluang tanaman gandarusa

280

Maj Kedokt Indon, Volum: 57, Nomor: 8, Agustus 2007

Pil Kontrasepsi Pria dengan Bahan Dasar Gandarusa sebagai bahan pil kontrasepsi mengingat beberapa penelitian tentang gandarusa sudah dilakukan. Studi ini merupakan studi pustaka. Dikumpulkan tulisantulisan dari berbagai sumber yang sudah dipublikasi terkait dengan pil kontrasepsi laki-laki dan bahan tanaman obat gandarusa serta penelitian-penelitian terkait. Publikasi yang terkumpul ditelaah, disusun dan dikaji untuk memberikan gambaran prospek dari tanaman gandarusa untuk dikembangkan menjadi pil kontrasepsi laki-laki untuk memenuhi kebutuhan. Kajian ini merupakan salah satu informasi tentang tanaman obat yang menunjukkan betapa besarnya kekayaan bumi Indonesia yang sebenarnya bisa dikembangkan. Program Keluarga Berencana Meledaknya jumlah penduduk telah menjadi perhatian dunia mengingat semakin meningkatnya jumlah manusia maka dibutuhkan tempat yang cukup untuk keberadaannnya. Sedangkan saat ini bumi dengan luas yang terbatas adalah satu-satunya tempat yang bisa dihuni manusia dengan nyaman. Bumi selain sebagai tempat tinggal juga harus mampu memberikan makanan bagi manusia yang ada di dalamnya. Semakin tinggi populasi maka semakin tinggi kepadatan di setiap jengkal tanah di bumi yang akhirnya akan mengganggu kemampuan bumi dalam menyediakan makanan bagi manusia. Oleh karena itu untuk mempertahankan kelangsungan hidup manusia salah satunya dengan mengendalikan populasi manusia di bumi. Pengendalian jumlah penduduk dilakukan melalui program Keluarga Berencana (KB) di seluruh dunia. Program KB telah dikenal sejak lama dengan menggunakan berbagai alat kontrasepsi. Sejarah alat kontrasepsi mulai berkembang sejak berpuluh-puluh tahun yang lalu. Selama ini perempuan tanpa dapat menolak lagi harus bertanggung jawab terhadap peristiwa kehamilan. Telah ditemukan alat kontrasepsi perempuan yang tersedia dalam berbagai jenis alat kontrasepsi mulai dari yang bersifat hormonal berupa pil, suntikan atau depo yang ditanamkan di bawah kulit, atau intra uterine device (IUD) yang diletakkan ke dalam rahim dengan berbagai bentuk dan jenisnya. Bahkan kondom untuk perempuan diciptakan dalam melengkapi jenis alat kontrasepsi perempuan. Kontrasepsi mantap dengan cara operasi pembuntuan saluran ovum (tubektomi) merupakan cara pencegahan bagi perempuan yang telah mantap untuk tidak hamil lagi2. Pil kontrasepsi untuk perempuan mulai dipasarkan sejak tahun 1960 atau sekitar 47 tahun yang lalu. Cara KB hormonal terus berkembang dari semula hanya dengan cara diminum menjadi pemberian suntikan dan kemudian berkembang cara ditanam di bawah kulit. Semua perkembangan ini terkait dengan ditemukannya teknologi yang diperbaharui secara terus menerus disamping penerimaan masyarakat secara sosial, moral, dan agama terhadap cara ber-KB. Pencegahan Kehamilan Melalui Peran Laki-laki Perkembangan alat kontrasepsi selama ini masih terfokus kepada kaum perempuan, sedangkan pendekatan terhadap konteks pengendalian fertilitas laki-laki masih sangat kurang. Selama ini alat kontrasepsi untuk laki-laki yang tersedia hanya kondom atau dengan cara operasi (vasektomi). Dalam rangka memenuhi kebutuhan akan alat kontrasepsi laki-laki antara lain berupa pil kontrasepsi, maka telah dilakukan berbagai penelitian. Sejauh mana penelitian tersebut dan bagaimana prospek pil kontrasepsi untuk laki-laki di masa depan merupakan tantangan yang telah dijawab dengan diupayakannya penemuan pil kontrasepsi untuk laki-laki oleh ilmuwan di bidang kesehatan reproduksi. Penemuan pil kontrasepsi untuk laki-laki dapat dipandang dari dua sudut yaitu keuntungan dan kerugian3. a. Keuntungan Ketersediaan pil kontrasepsi untuk laki-laki yang efektif berarti telah memberikan kesempatan kepada laki-laki untuk berperan lebih aktif dalam pengaturan jumlah keluarga. b. Kerugian Pil kontrasepsi untuk laki-laki yang aman dan nyaman dapat mengganti penggunaan pelindung aman terhadap hubungan seksual seperti kondom. Pil untuk laki-laki dapat menggagalkan upaya perlindungan penularan penyakit seksual. Oleh karena itu pil untuk laki-laki hanya tepat digunakan pada pasangan setia untuk mengatur kehamilan dengan keamanan terhadap penularan penyakit seksual tidak terganggu. Laki-laki selama ini dianggap tidak ingin secara langsung berperan dalam penggunaan kontrasepsi dan perempuan oleh faktor budaya terpaksa menerima beban sebagai pengguna alat kontrasepsi. Dengan semakin berkembangnya isu kesetaraan antara laki-laki dan perempuan, maka laki-laki semakin dituntut untuk berperan aktif dalam perencanaan jumlah anak. Pemerintah Indonesia telah menetapkan keterlibatan laki-laki dalam promosi kontrasepsi sejak tahun 1960-an tapi masih jarang tercapai kesepakatan bagaimana laki-laki berperan dalam KB. Beberapa penelitian membuktikan hal ini. Kaiser Family Foundation4 di Amerika menemukan bahwa 50% responden laki-laki kurang memiliki informasi tentang pilihan kontrasepsi. Satu dari lima responden menyatakan memiliki sedikit sekali bahkan tidak sama sekali pengetahuan tentang topik tersebut. Padahal responden baik laki-laki maupun perempuan mengakui bahwa laki-laki seharusnya memainkan peran yang lebih besar dalam menentukan, memilih, dan menggunakan kontrasepsi. Di satu sisi, ternyata kesadaran laki-laki untuk berperan khususnya di negara maju semakin baik seperti yang terlihat dalam penelitian di Amerika. Dua per tiga laki-laki menyatakan bersedia untuk berpartisipasi dalam merencanakan, mengatur dan mengendalikan kehamilan dengan menggunakan pil

Maj Kedokt Indon, Volum: 57, Nomor: 8, Agustus 2007

281

Pil Kontrasepsi Pria dengan Bahan Dasar Gandarusa kontrasepsi. Bahkan seandainya tersedia kontrasepsi hormonal, 43% laki-laki bersedia menggunakan Depo Provera dan 36% menggunakan Norplant4. Dibutuhkan kemauan lakilaki yang besar untuk membuka diri dan berkomunikasi di bidang kesehatan reproduksi dengan pasangannya karena sesungguhnya masalah kesehatan reproduksi adalah masalah pasangan suami-istri dan bukan hanya salah satu darinya. Pil Kontrasepsi Laki-laki Peran laki-laki pada peristiwa konsepsi adalah sebagai penyumbang spermatozoa. Fertilisasi atau peristiwa konsepsi merupakan persatuan spermatozoa dengan ovum yang akan membentuk zigot5. Terdapat empat tahap selama fertilisasi yaitu: 5 1. Kontak, pengenalan spermatozoa dan sel telur merupakan kontrol kualitas 2. Regulasi penetrasi spermatozoa pada sel telur merupakan kontrol kualitas (spesies yang sama) 3. Fusi material genetik spermatozoa dan sel telur 4. Aktivasi metabolisme sel telur, awal mulai membelah. Selama ini telah dilakukan berbagai penelitian pil kontrasepsi untuk laki-laki. Pil kontrasepsi untuk laki-laki terus diteliti dan tahun 2005 pil diharapkan dapat diperoleh di pasaran. Dikenal dua cara dalam prototipe kontrasepsi untuk laki-laki, yaitu: 6,7 1. Menekan produksi sperma baik secara hormonal maupun nonhormonal Dari berbagai penelitian, telah terdeteksi beberapa jenis hormon yang dapat digunakan sebagai agen untuk kontrasepsi yaitu Gonadotropin releasing hormone (GnRH) berpasangan dengan protein, 7 alpha methyl19 nortestosterone (MENT), testosteron busiklat, testosteron undekanoat, testosterone enanthat (TE), kombinasi TE/progresteron. Sedang yang nonhormonal dikenal bahan aktif yang disebut gossipol. 2. Menghambat kemampuan sperma membuahi ovum. Pil kontrasepsi yang bekerja menghambat kemampuan fertilisasi sperma antara lain yang mengandung nifedipine, mifepristone (RU 486), sperm surface protein. Gandarusa (Justicia gendarussa Burm.F) Salah satu tanaman obat yang telah digali dari penggunaan empiris adalah gandarusa (Justicia gendarussa Burm.F) seperti yang telah digunakan oleh salah satu suku di Irian sebagai obat kontrasepsi. Gandarusa merupakan suku Acanthaceae yang dapat tumbuh dengan mudah dan banyak ditemui di dataran rendah sampai dengan ketinggian 500 m dari permukaan air laut8. Tanaman ini banyak dijumpai di Jawa baik sebagai tanaman pagar hidup atau tumbuh liar secara lokal di kawasan hutan dan tanggul sungai. Justicia gendarussa sering digunakan sebagai bahan obat tradisional, dan bagian tanaman yang digunakan adalah
282

akar dan daun. Daun digunakan sebagai obat nyeri antara lain encok, sakit kepala, sakit pinggang, bisul, memar, kesleo, dan rematik. Akar sebagai obat cupak, upas putih, dan malaria9 Akar dan daun sebagai obat kontrasepsi untuk laki-laki dalam ramuan dibuat dengan cara merebus akar dan daun gandarusa dan airnya diminum dua kali dalam sebulan8. Di India digunakan sebagai obat sakit kepala, hemiplegi, kelumpuhan otot wajah, rematik kronis, bengkak, nyeri telinga, perdarahan dalam10. Kandungan kimia yang terdapat pada gandarusa antara lain flavonoid. Isolasi flavonoid gandarusa mengandung flavonol-3-glikosida. Pada ekstrak methanol diketahui mengandung 8 komponen flavonoid.11 Hasil ekstraksi dihasilkan fraksi-n-butanol (1,2%) yang termasuk golongan polifenol dengan kadar flavonoid total 0,9%. Seperti diketahui flavonoid adalah senyawa fenol yang banyak ditemukan di alam. Senyawa ini merupakan zat warna merah, ungu, biru dan sebagian zat warna kuning yang ditemukan dalam tumbuhtumbuhan. Banyaknya senyawa flavonoid bukan disebabkan oleh banyaknya variasi struktur, akan tetapi lebih disebabkan oleh berbagai tingkat hidroksilasi, alkoksilasi atau glikolasi dari struktur tersebut12. Standarrisasi gandarusa yang berasal dari daerah Mojokerto telah dilakukan, dan dihasilkan informasi yang sama dengan Materia Medika Indonesia (MMI) serta adanya informasi baru terhadap kadar flavonoid total, alkaloid total, air, tannin, dan minyak atsiri13. Studi aktivitas gandarusa menemukan bahwa infus gandarusa diketahui menurunkan testosteron dan mempengaruhi spermatogenesis tikus13. Ekstrak diklorometan dan methanol menurunkan motilitas, viabilitas spermatozoa mencit14. Demikian juga pada manusia seperti yang dilakukan oleh Reny et al15 dan Sri et al16 menemukan bahwa gandarusa menurunkan daya dispersi kumulus oovorus manusia in vitro. Selain itu ekstrak methanol menghambat penetrasi spermatozoa mencit, menurunkan aktivitas akrosin dan a-glukosidase kelinci, dan LD 50 adalah 180 mg (20 g BB mencit p.o) dan termasuk praktis tidak toksik.17 Dalam upaya pendekatan mekanisme, telah dilakukan studi hesperidine yang dapat mencegah penetrasi spermatozoa mencit dalam proses IVF dan hisperidin juga dapat menurunkan aktivitas enzim hialuronidase spermatozoa mencit serta bersifat inhibitor hialuronidase testis sapi. Namun demikian pemberian hesperetin yang merupakan senyawa aglikon dari hesperidin ternyata tidak mampu mencegah penetrasi spermatozoa mencit serta tidak bersifat inhibitor hialuronidase testis sapi.18 Penelitian J. gendarussa dari fraksi n-butanol dapat dibuktikan adanya kandungan aktif yang dapat mencegah penetrasi spermatozoa mencit pada proses fertilisasi in vitro (IVF)19. Di samping itu, dalam penelitian ini juga diketahui bahwa hialuronidase spermatozoa epididimis mencit tetap ada dengan aktivitas menurun13. Hal ini menunjukkan pada binatang coba dapat digunakan untuk mencegah terjadinya
Maj Kedokt Indon, Volum: 57, Nomor: 8, Agustus 2007

Pil Kontrasepsi Pria dengan Bahan Dasar Gandarusa konsepsi dengan mencegah penetrasi spermatozoa pada fertilitasasi in vitro melalui penurunan aktivitas enzim hialuronidase. Tetapi juga diperkirakan bersifat reversibel mengingat enzim hialuronidase tetap ada. Pengembangan Gandarusa sebagai Bahan Pil Kontrasepsi laki-laki Potensi gandarusa sebagai bahan obat kontrasepsi untuk laki-laki telah diteliti dalam berbagai aspek oleh banyak peneliti. Penelitian dasar sampai dengan penelitian praklinik telah dilakukan dan saling melengkapi satu sama lain mengikuti aturan dalam uji klinik obat tradisional20, sehingga dirasakan potensi ini dapat dikembangkan terus secara berkelanjutan untuk dijadikan salah satu alat kontrasepsi untuk laki-laki di masa depan. Penelitian klinis merupakan tahap lanjut dari uji praklinis. Dalam penelitian klinis akan melibatkan manusia sebagai subyek menggunakan bahan yang akan diuji coba. Uji klinik dapat dilakukan apabila tahap uji praklinik telah memberikan hasil yang mendukung, yaitu bahan atau calon obat yang akan diterapkan pada manusia telah dilakukan kajian literatur yang mendalam, tersedia sarana dalam pelaksanaan penelitian termasuk laboratorium yang baik, teruji efektivitasnya sebagai calon obat dan terjamin keamanannya terhadap organ tubuh. Uji klinik harus dilakukan berpedoman pada Declaration of Helsinki yang diadopsi sebagai peraturan dalam melakukan penelitian yang melibatkan manusia sebagai subyek yang isinya menghendaki bahwa kesehatan pasien (dalam hal ini subyek penelitian) merupakan prioritas utama yang menjadi kepedulian dari peneliti21. Pedoman uji klinik harus mengikuti aturan yang telah ditetapkan, antara lain harus ada kajian etik terhadap protokol uji klinik dari komisi etik untuk disetujui atau tidak.22 Semua adverse event harus segera dilaporkan. Bila berakibat buruk pada subyek penelitian maka harus segera diberikan penanganan sebaik-baiknya.21 Subjek uji klinik dan peneliti apabila dibiayai oleh sponsor, harus dilindungi dengan asuransi untuk uji klinik obat baru.21 Dalam melakukan uji klinik, maka subjek perlu mendapat penjelasan tentang tujuan penelitian, perlakuan yang akan diberikan, kemungkinan risiko yang terjadi, keuntungan yang dirasakan (bila ada), prosedur alternatif, tindakan yang akan diberikan apabila terjadi risiko yang tidak diharapkan, kompensasi yang diperoleh, dan alamat dari peneliti. Subjek merupakan sukarelawan yang mengikuti penelitian tersebut tanpa paksaan dan dapat menghentikan penelitian apabila menghendaki tanpa dikenai sangsi apapun. Oleh karena itu harus tersedia inform consent.22 Pengembangan obat bukan hal yang mudah. Beberapa fase penelitian harus dilalui sebelum calon obat tersebut dapat dilepas ke pasar. Setelah suatu bahan obat lolos pada fase penelitian praklinik, maka dapat dilanjutkan ke fase penelitian klinik yang dibagi lagi menjadi fase I, II, III, dan IV23. Pada fase praklinik, telah diteliti sifat-sifat farmakologi
Maj Kedokt Indon, Volum: 57, Nomor: 8, Agustus 2007

suatu obat baru. Namun, tidak semua sifat farmakologik yang terlihat pada hewan juga akan terlihat pada manusia. Misalkan Litchfield dalam penelitiannya pada tahun 1962 dalam Suharto et al24 menemukan bahwa dari 89 pengaruh obat yang berbeda pada binatang coba, hanya 33 yang terlihat pada manusia. Tujuan fase I dari uji klinik adalah mengetahui efek terapeutik maksimal. Fase ini menggunakan sukarelawan sehat. Hubungan fase ini dengan fase uji pada hewan berkaitan erat, sehingga hasil dari fase ini mungkin akan merangsang penelitian-penelitian lain pada hewan23. J.gendarusa harus melalui fase I setelah berhasil dibuktikan bahwa tanaman tersebut mengandung bahan yang dapat digunakan sebagai pencegah kemampuan sperma melakukan fertilisasi melalui gangguan penetrasi sperma pada ovum. Spermatozoa merupakan struktur yang cukup padat dan tidak mudah terdispersi kecuali membran plasma. Bila terjadi reaksi akrosom, membran plasma lepas dan hilang dari permukaan anterior akrosom. Kejadian tersebut diikuti dengan pelepasan enzim akrosom sedikit demi sedikit yang potensial untuk fertilisasi. Enzim hialuronidase berfungsi mendispersikan kumulus ooforus dan dengan demikian memungkinkan spermatozoa menembus lapisan terluar ovum13. Pada proses fertilisasi, kepala spermatozoa menempel pada permukaan ovum supaya proses selanjutnya terjadi. Segera atau sesaat sebelumnya, terjadi reaksi akrosom. Pada reaksi ini terjadi fusi antara membran akrosom luar dengan membran plasma sehingga terbentuk pori-pori, akibatnya enzim akrosom dapat keluar dan menghidrolisis lapisanlapisan yang menyelimuti ovum. Ovum mengandung asam hialuronat yang merupakan suatu asam dari mukopolisakarida. Asam hialuronat berfungsi sebagai perekat sel penyusun matriks kumulus ooforus. Enzim haluronidase merupakan enzim yang mempunyai aktivitas pada asam hialuronat dan tidak aktif pada substrat yang lain13. Proses yang telah dibuktikan pada hewan coba belum tentu memberikan efek yang sama apabila diterapkan pada manusia. Oleh karena itu pada fase I ini merupakan analogi dari kejadian pada binatang coba yang akan membuktikan bahwa laki-laki yang minum ekstrak J.gendarusa, enzim hialuronidase spermanya akan terganggu aktivitasnya (berkurang atau hilang), keadaan tersebut menyebabkan sperma tidak mampu melakukan penetrasi ke dinding ovum yang diselimuti oleh matrik-matrik yang mengandung asam hialuronat13. Bila fase I menunjukkan hasil yang baik maka dapat dilanjutkan ke fase II. Fase II adalah uji klinik pada manusia untuk melihat apakah obat baru berguna untuk satu (atau lebih) indikasi klinis dan mengetahui lebih awal keuntungan dan kerugian sedini mungkin. Dilanjutkan fase III yang bertujuan untuk mengetahui rasio manfaat artinya kemungkinan obat baru tersebut dapat diterima di masyarakat pengguna. Pada fase ini harus sudah ada bukti-bukti tentang indikasi dan dosis obat dan keamanannya dalam jangka

283

Pil Kontrasepsi Pria dengan Bahan Dasar Gandarusa panjang. Fase IV mencakup semua penelitian yang dilakukan setelah obat baru mendapat izin untuk pemasarannya23. Tampaknya perjalanan gandarusa sebagai bahan pil kontrasepsi masih membutuhkan jalan panjang. Ketekunan peneliti mendalami penelitian tersebut membutuhkan bantuan pemerintah dalam memberikan bantuan berupa dukungan moril dan materiil, dukungan prakondisi penelitian berupa etika penelitian dan dana untuk pelaksanaannya. Sudah banyak bukti penelitian tanaman obat Indonesia yang berhenti di tengah jalan dalam upaya pengembangannya menjadi fitofarmaka. Berbagai kendala dialami peneliti mulai dari terganjalnya pada persetujuan di komisi etik penelitian sampai dengan alasan klasik yaitu minimnya biaya penelitian. Kesimpulan Gandarusa (Justicia gendarussa Burm.F) merupakan salah satu tanaman obat Indonesia yang telah diteliti pada binatang coba sebagai tanaman yang mengandung zat berkhasiat mencegah penetrasi pada fertilisasi in vitro. Penelitian penunjang menunjukkan keamanan melalui uji toksisitas akut dan kronis pada organ tubuh serta efeknya yang reversibel. Hal ini membuktikan bahwa gandarusa mempunyai potensi untuk terus dikembangkan sebagai bahan obat. Mengingat pil kontrasepsi laki-laki belum ada sedang keberadaannya sangat dibutuhkan, maka potensi ini sangat penting untuk dikembangkan terus sampai ke uji klinis sehingga dapat ditemukan pil kontrasepsi yang berbahan alam. Dengan penemuan ini selain membantu pemenuhan kebutuhan program KB juga lebih meningkatkan pemanfaatan tanaman obat yang menjadi kekayaan bangsa Indonesia. Daftar Pustaka
1. United Nation Population Information Network. UN Populatio Division, Departement of Economic and Social Affairs, with Support from the UN Population Fund (UNFPA). Report of The International Conference on Population and Development. Cairo: 1994. Newton, Marisha; Shakuntala Kotari. Female contraception update. The Cleveland Clinic Foundation; 2005. (Diakses 23 April 2007). Diperoleh dari: http://www.clevelandclinicmeded.com/ diseasemanagement/women/contraceptive/contraceptive.htm. Newcombe, Rachel. Male pill on the way?. BUPA investigative news; 2003 (diakses 23 April 2005). Diunduh dari: http:// w w w.bupa.co.uk/health_information/html/health_news/ 131003malepill.html Henry J. Kaiser Family Foundation (HJKFF). A New National Survey on Males Role in Preventing Pregnancy HJKFF: Menlo Park, California; 1997. Gilbert SF. Development Biology, 2 nd. Ed. Sinauer Association, Inc Publisher. Sunderland, Massachusetts; 1988.p.399-401. Macnair, Trisha. 1997. The male contraceptive pill. BBC. Co: UK; 1997 (Diakses 21 April 2007). Diunduh dari: http:// www.bbc.co.uk/health/mens_health/body_sexpill.shtml FHI. Experimental Male Contraceptives. FHI organization. 1998. (Diakses 21 April 2007). Diperoleh dari: http://www.fhi.org/en/ rh/pubs/network/v18_3/nw183ch5a.htm. 20. 8. 9. Moeso S, Agus P. Laporan perjalanan ke Jayapura Sentani (Irian Jaya) Yogyakarta: Fakultas Biologi UGM; 1985.p.19. Syamsuhidayat, Sri S, Johnny Ria Hutapea. Inventaris Tanaman Obat Indonesia. Jakarta: Departemen Kesehatan, Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan; 1991. Wahl SP, Wahi AK, Kapoor, R. Chemical study of the leaf of Justicia gendarussa Burm. Journal Res Medicine 1974;9(1):65-6. Bambang Prajogo E.W, Suwijiyo Pramono. Isolasi glikosida flavonoid dalam daun gandarusa (Justicia gendarussa Burm.F). Surabaya: Lembaga Penelitian Unair; 1988. Harborne, J.B. Metode Fitokimia. Penuntun cara modern menganalisa tumbuhan. Cetakan ke 2. Bandung, Institut Teknologi Bandung; 1987. Bambang Prajogo EW. 2002. Aktivitas Antifertilitas flavonoid daun Justicia gendarussa Brm.F. Penelitian eksperimental pencegahan penetrasi spermatozoa mencit dalam proses fertilisasi in vitro. Disertasi. Universitas Airlangga; 2002. Bambang Prajogo E.W, Hery AH, Aucky H. Efek inhibitor fraksi diklormetan dan methanol dari Justicia gendarussa Burm.F terhadap enzim hialuronidase mencit. Lembaga Penelitian UNAIR; 1998. Reny Wahyudi, Sutarjadi, Bambang Prajogo E.W Aucky H. Pengaruh ekstrak diklormetan dan metanol daun Gendarussa vulgaris Ness terhadap motilitas dan viabilitas spermatozoa manusia in vitro. Yogyakarta: Simposium Bahan Obat Alami IX, Yogyakarta;1997. Sri Lestari, Sutarjadi, Aucky H, Bambang Prajogo E.W. Pengaruh ekstrak diklormetan dan metanol daun Gendarussa vulgaris Ness terhadap aktivitas kumulus ooforus ovum manusia in vitro. Yogyakarta: Simposium Penelitian Bahan Alami IX, Yogyakarta; 1997. Bambang Prajogo EW, Widjiati dan Epy ML. Uji Toksisitas daun Gendarussa vulgaris Ness terhadap gambaran darah dan histopatologi hati, ginjal dan usus mencit jantan. Surabaya: Lembaga Penelitiam Unair; 1999. Susie Amilah.. Pengaruh Hisperitin terhadap fungsi penetrasi spermatozoa mencit secara in vivo dan in vitro (Penelitian eksperimental Laboratorik). Surabaya: Thesis program Pascasarjana Unair; 2000. Bambang Prajogo EW, Eka YM, Hamdani L, Widjiati, Noor Cholies Z. Pengaruh Hisperidine pada aktivitas hialuronidase spermatozoa mencit ( Mus musculus ). Media Kedokteran Hewan, Vol.17, No.1. April, 2001.p.1-8. Departemen Kesehatan RI, Pedoman Pelaksanaan Uji Klinik Obat Tradisional. Jakarta, Departemen Kesehatan RI. Direktorat Jenderal Pengawasan Obat dan Makanan. Direktorat Pengawasan Obat Tradisional; 2000. Departemen Kesehatan dan Kesejahteraan Sosial Direktorat Jenderal Pengawasan Obat dan Makanan. Cara Uji Klinik yang Baik (CUKB) di Indonesia. Jakarta: Departemen Kesehatan dan Kesejahteraan Sosial; 2001. Departemen Kesehatan. Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan. Pedoman Operasional Komisi Etik Penelitian Kesehatan di Indonesia. Jakarta: Departemen Kesehatan; 2002. Harun SR, Putra ST, Wiharta AS, Chair I. Uji Klinis. Dalam: Sudigdo S, Sofyan I, editor. Dasar-dasar Metodologi Penelitian Klinis Edisi-2. Jakarta: CV Sagung Seto; 2002;145-64. Suharto, Bambang. Titik Lemah dalam Percobaan Klinik. Cermin Dunia Kedokteran No.25, 1982.p.22-6.

10. 11.

12.

13.

14.

15.

16.

17.

18.

19.

2.

21.

3.

22.

23.

4.

24.

5. 6.

HH

7.

284

Maj Kedokt Indon, Volum: 57, Nomor: 8, Agustus 2007