Anda di halaman 1dari 2

February 18, 2008

Perguruan Tinggi Kelas Dunia dari Jatim

Oleh Supriyoko

Akhir Januari 2008 Centro de Información y Documentación (CINDOC) yang bermarkas di Spanyo merilis hasil pemeringkatan perguruan tinggi (PT) berkelas dunia. Ratusan juta masyarakat dunia, khususnya dunia pendidikan tinggi, merasa "plong" atas publikasi tersebut, meskipun tidak menafikan sebagian anggota masyarakat yang justru menjadi penasaran.

Publikasi rutin CINDOC memang dinantikan banyak orang. Sebab, publikasi itu dianggap sangat kredibel dan spesifik oleh masyarakat pendidikan tinggi selain dua publikasi lainnya yang dilakukan Times di Inggris dan Shanghai Jiao Tong University (SJTU) di Tiongkok.

Kespesifikasian publikasi CINDOC yang tidak dimiliki Times dan SJTU ialah tingginya skor atas familiaritas warga kampus terhadap pemanfaatan internet untuk melaksanakan pembelajaran.

Untuk menentukan peringkat PT, CINDOC mendasarkan pada aksesabilitas dan visibilitas pendidikan melalui internet pada PT yang bersangkutan dalam berkomunikasi akademis melalui web (website). Itulah sebabnya publikasi CINDOC memiliki trade mark Webometrics.

Prestasi Jawa Timur

Sebagaimana diperkirakan banyak orang, peringkat tinggi PT berkelas dunia versi CINDOC didominasi PT dari Amerika Serikat (AS). Dari daftar 50 perguruan tinggi terbaik, ternyata 42 atau 84 persen di antaranya adalah PT yang berkiprah di AS.

Dominasi itu wajar. Sekarang perangkat hotspot yang memungkinkan orang untuk mengakses internet sudah dipasang di mayoritas perguruan tinggi di AS. Dosen dan mahasiswa bebas mengakses internet setiap saat untuk menarik informasi dari seluruh penjuru dunia dan/atau memublikasi informasi bagi masyarakat dunia. Aksesabilitas seperti itulah yang mempertinggi nilai PT di AS.

CINDOC memang berhasil menyajikan informasi sebanyak lima ribu PT berkelas dunia, Top 5.000 Universities in The World, berdasar peringkatnya. Kalau kita cermati satu per satu, ternyata terdapat 17 perguruan tinggi Indonesia dalam daftar tersebut.

Angka 17 itu mengindikasi kebelumberhasilan sistem pengembangan pendidikan tinggi di Indonesia. Mengapa? Kalau kita hitung secara matematis dengan asumsi negara anggota PBB yang ikut berlomba mendapatkan "kursi bergengsi" dari CINDOC ada 200, rata-rata setiap negara akan meraih 25 kursi dalam daftar lima ribu PT terbaik. Jadi, kalau Indonesia hanya berhasil meraih 17 kursi, itu berarti peraihannya masih jauh dari optimal.

Kalau kemudian secara internal diperhatikan, ternyata Jawa Timur memiliki prestasi yang dapat dibanggakan; Jatim mampu meraih 5 di antara 17 kursi dalam daftar lima ribu PT berkelas dunia tersebut.

Adapun nama-nama PT-nya adalah Unibraw Malang di peringkat ke-2.472, Universitas Petra Surabaya (ke- 2.841), ITS Surabaya (ke-2.981), Unair Surabaya (ke-3.544), dan Politeknik Elektronika Negeri Surabaya

(ke-3.778).

Keberhasilan Jawa Timur dengan memasok lima PT tersebut dapat dilogika dengan pendekatan matematis. Mengapa? Kalau kita hitung secara matematis dengan jumlah provinsi yang ikut berlomba mendapatkan "kursi bergengsi" dari CINDOC ada 33, rata-rata setiap provinsi akan meraih 1 kursi atau tidak sama sekali dari 17 kursi yang diperebutkan. Dengan demikian, kalau Jawa Timur berhasil meraih lima kursi, hal itu merupakan prestasi tersendiri, bahkan prestasi yang luar biasa.

Meski peringkat PT di Jawa Timur umumnya di papan tengah, hal itu tak mengurangi kebanggaan karena"mengalahkan" PT terbaik dari negara-negara lain. Misalnya, China Medical University Hospital (Tiongkok), Hochschule Vechta (Jerman), Estonian Information Technology College (Estonia), Universiti Malaysia Perlis (Malaysia), Institut Universitaire de Technologie de Toulouse (Prancis), Copenhagen Polytechnic (Canada), Australian Defence Force Academy at UNSW (Australia), Chinese Peoples Public Security University (Taiwan), Sul Ross State University (AS), dan Hiroshima Shudo University (Jepang). PT tersebut umumnya berada di atas peringkat ke-3.900.

Jadi, kelima PT di Jawa Timur mampu mengalahkan PT-PT berkelas dunia dari negara-negara hebat, seperti Tiongkok, Jerman, Estonia, Malaysia, Prancis, Kanada, Australia, Taiwan, AS, dan Jepang.

Kurang Beruntung

Meski lima PT berkelas dunia di Jawa Timur tersebut berhasil mengangkat nama Indonesia di mata masyarakat pendidikan tinggi dunia, nasibnya kurang beruntung.

Kekurangberuntungan itu, pertama, karena banyak masyarakat kita, termasuk masyarakat Jawa Timur, kurang mengetahui prestasi internasional yang dicapai. Mayoritas anggota masyarakat Indonesia memang sangat tidak familier dengan internet, majalah bergengsi seperti Globe Asia, serta koran bergengsi seperti Times (Inggris), U.S. News (AS), dan Jawa Pos (Indonesia) sehingga tidak membaca publikasi pemeringkatan PT berkelas dunia tersebut. Bahkan, bisa dipastikan sebagian civitas akademika universitas bersangkutan tidak mengetahui prestasi yang dicapai lembaganya.

Kedua karena tidak disosialisasikannya pencapaian prestasi tersebut oleh Depdiknas, khususnya Direktorat Pendidikan Tinggi (Dikti). Padahal, sudah berkali-kali Mendiknas selalu mendorong pengelola PT untuk meraih prestasi internasional di berbagai kesempatan.

Awal Februasi lalu Mendiknas Bambang Sudibyo dalam forum rembuk nasional menyerahkan Anugerah Anindyaguna kepada enam pimpinan universitas yang lembaganya berhasil meraih predikat PT berkelas dunia versi Times. Dalam kesempatan tersebut, kelima PT di Jawa Timur tidak satu pun yang diberi anugerah atas prestasinya masuk daftar lima ribu PT berkelas dunia versi CINDOC.

Sebaiknya Depdiknas memang memberikan anugerah dan sekaligus menyosialisasikan prestasinya. Sebab, hal itu akan merangsang PT yang bersangkutan dan PT lain untuk meningkatkan prestasi internasionalnya.

Prof Dr Ki Supriyoko MPd, wakil presiden Pan-Pacific Association of Private Education (PAPE) di Tokyo, Jepang