Anda di halaman 1dari 4

Teori Biocentrism Membuktikan Adanya Kehidupan Setelah Kematian

Oleh : A. Prasetya Bagaimanakah kesadaran kita setelah kita mati nanti? Apakah kesadaran kita akan lenyap mengikuti berhentinya fungsi otak kita? Atau kesadaran tersebut ikut hilang ketika tubuh kita sudah hancur? Demikianlah pertanyaan-pertanyaan yang sering berada di benak kita tentang kematian. Di kalangan agamawan banyak yang menjelaskan bahwa tubuh kita hanyalah sebuah materi saja yang pada saat kita mati nanti akan hancur, namun ruh kita tetap ada dan tidak hancur, ruh itulah yang merupakan kesadaran kita demikian menurut berdasarkan dari penjelasan para agamawan. Namun bagaimana menurut penjelasan ilmuwan sains sendiri? Beberapa waktu yang lalu sempat terjadi sebuah kehebohan manakala salah seorang ilmuwan menerbitkan sebuah buku yang fenomenal berjudul Biocentrism: How Life and Consciousness are the Keys to Understanding the True Nature of the Universe oleh seorang ahli Kedokteran di bidang regeneratif sel dan merupakan juga seorang direktur dari Advanced Cell Company yang bergerak dalam bidang penelitian biologi. Dalam buku tersebut Robert Lanza menjelaskan gagasannya bahwa kehidupan tidak berakhir pada saat tubuh mati, kehidupan akan tetap berlanjut ketika tubuh kita mati. Demikian sebuah gagasan yang menggemparkan di kalangan para ilmuwan, Robert Lanza tidak memiliki keraguan dalam gagasannya, bahwa hal tersebut adalah hal yang sangat mungkin terjadi. Sebelum Robert Lanza dikenal luas, ia telah dikenal dalam penelitian di bidang kedokteran yang berhubungan dengan sel induk, ia juga terkenal dengan hasil percoaannya yang berhasil dalam kloning hewan spesies yang terancam hampir punah. Tak lama setelah hal tersebut, Robert Lanza terlibat langsung dengan penelitian di bidang fisika kuantum dan astrofisika, dari ketika disiplin ilmu tersebut, ia mengintegrasikan dan melahirkan sebuah teori baru yaitu Biocentrism. Teori Biocentrism ini menyatakan gagasan bahwa kematian itu pada dasarnya tidak ada, kematian hanyalah sebuah ilusi saja yang muncul dari pikiran manusia itu sendiri. Manusia percaya bahwa kesadaran mereka cepat atau lambat akan lenyap ikut bersamaan ketika tubuh mereka hancur pada saat mereka mati. Menurut Lanza dalam teori Biocentrism kesadaran manusia ada di luar batasan ruang dan waktu. Hal ini dapat berada dimana saja, bisa diluar maupun di dalam tubuh manusia itu sendiri. Hal ini cocok dengan hukum-hukum mekanika kuantum, yang menurutnya suatu partikel dapat hadir dimana saja dan kapan saja, bahkan di ruang hampa sekalipun, jumlah partikelpartikel tersebut tak terhitung jumlahnya.

Lanza percaya bahwa di lain tempat alam semesta yang dihuni manusia, terdapat suatu alam semesta yang lain, dan alam semesta tersebut eksis secara bersamaan dengan alam semesta yang dihuni oleh manusia. Dalam alam semesta tersebut terdapat suatu skenario kehidupan dimana pada suatu alam semesta tubuh bisa saja mati, kemudian hancur terurai, namun kesadaran manusia berpindah ke alam semesta yang lain. Hal ini berarti seseorang yang sudah mati melakukan suatu perjalanan ke alam semesta yang lain bukan ke surga atau neraka, melainkan dunia yang sama pernah ia huni semasa hidupnya, tapi lain halnya sebelumnya, disini ia hidup dan seterusnya tak terhingga. Menurut Robert Lanza Teori Biocentrism merupakan suatu harapan bagi manusia, meskipun teori ini masih sangat kontroversial, Lanza berpendapat bahwa seseorang dapat hidup untuk selamanya, para ilmuwan fisika dan astrofisika cenderung mendukung teori ini dengan akan keberadaan akan alam semesta yang lain (multi-universe), para ilmuwan tersebut yakin bahwa tidak ada hukum fisika yang melarang akan adanya keberadaan alam semesta yang paralel. Pada awalnya, gagasan sebuah alam semesta yang paralel pertama kali diperkenalkan oleh seorang penulis fiksi ilmiah bernama HG Wells, pada tahun 1895 dalam karyanya yang berjudul The Door in the Wall. Dan setelah 62 tahun, gagasan ini kemudian dikembangkan oleh Hugh Everett dalam tesisnya ketika sedang menyelesaikan studi pascasarjananya di Universitas Princeton. Hugh Everett berpendapat bahwa pada dasarnya alam semesta terbagi menjadi contoh yang serupa hingga tak terhitung jumlahnya. Menurut Hugh Everett pada saat alam semesta baru terbentuk dibagi dengan cara yang sama. Dalam beberapa alam semesta ini, mungkin manusia dapat hadir di alam semesta sedang membaca buku, sedangkan di alam semesta lain sedang menonton televisi. Pada sekitar tahun 1980, seorang ilmuwan dari Institut Lebedev yang merupakan seorang professor di bidang fisika pada Universitas Stanford, Andrei Linde menjelaskan bahwa ruang pada alam semesta terdiri berupa banyak bidang yang menggembung seperti buih dan menimbulkan bidang yang sama, dan pada gilirannya buih-buih tersebut menyatu satu persatu kemudian menghasilkan bola dalam ukuran yang lebih besar, dan seterusnya hingga tidak memiliki batas. Di alam semesta, buih-buih tersebut ditempatkan secara terpisah dan tidak menyadari keberadaan satu dengan yang lain, namun buih-buih tersebut mewakili bagian dari alam semesta fisik yang sama. Beberapa fakta yang mengungkapkan bahwa alam semesta yang dihuni oleh manusia tidak sendirian didukung oleh data yang diterima dari pengamatan ruang teleskop Plack. Dengan menggunakan data-data tersebut, para ilmuwan menciptakan peta yang paling akurat dari latar belakang gelombang mikro yang disebut sebagai radiasi yang tetap sejak awal alam semesta ini ada. Para ilmuwan tersebut

juga menemukan bahwa alam semesta memiliki banyak ruang relung gelap yang diwakili oleh beberapa lubang dan kesenjangan yang luas. Seorang fisikawan teoritis Laura Mersini-Houghton dari North Carolina University bersama dengan rekan-rekannya berpendapat bahwa terdapat suatu anomali dari latar belakang gelombang mikro yang disebabkan karena adanya fakta bahwa alam semesta yang dihuni oleh manusia ini dipengaruhi oleh alam semesta lain yang terdapat di dekatnya. Begitu juga terdapatnya lubang dan kesenjangan disebabkan langsung alam semesta yang ada di dekat alam semesta yang dihuni oleh manusia. Menurut teori Biocentrism, ada banyak alam semesta lain dimana jiwa kita kelak akan berpindah setelah kematian kita. Tapi apakah jiwa itu sebenarnya ada? Menurut seorang professor dari Universitas Arizona Stuart Hameroff pada tahun lalu ia menemukan bukti bahwa kesadaran tidak akan binasa setelah kematian tubuh manusia. Hameroff melanjutkan lagi bahwa otak manusia merupakan komputer komputer kuantum yang sempurna dan jiwa atau kesadaran hanyalah sebuah informasi yang tersimpan pada tingkat kuantum. Jiwa atau kesadaran akan berpindah ke alam lain manakala tubuh dan otak telah berhenti berfungsi. Informasi kuantum diwakili oleh kesadaran yang kemudian akan menyatu dengan alam semesta kita dan apa yang disana tidak terbatas. Dalam The Huffington Post dan Daily Mail, Hameroff memberikan contoh, Katakanlah jantung berhenti berdetak. Darah berhenti mengalir, mikrotubulus kehilangan keadaan kuantum mereka. Informasi kuantum dalam mikrotubulus tidak hancur dan tidak dapat dihancurkan, itu hanya berpindah dan menghilang ke alam semesta pada umumnya, jika pasien disadarkan, dihidupkan kembali, informasi kuantum ini dapat kembali, informasi kuantum ini dapat kembali ke mikrotubulus dan masien mengatakan aku hampir mati itulah yang memberikan kemungkinan bahwa informasi kuantum ini bisa eksis di luar tubuh tanpa batas sebagai jiwa. Hameroff percaya temuan baru tersebut tentang peran fsika kuantum dalam ilmu biologi. Dalam teori Biocentrism pun Robert Lanza membuktikan bahwa jiwa berpindah ke alam semesta lain. Itulah yang membedakan Lanza dengan rekan-rekannya. Seorang fisikawan asal Inggris yang terkenal di bidang matematika Universitas Oxford, Sir Roger Penrose mendukung teori ini, ia dalam penelitiannya menemukan adanya jejak kontak kontak dengan alam semesta lain. Ia bersama-sama dengan para ilmuwan lain berusaha mengembangkan teori kuantum untuk menjelaskan tentang fenomena kesadaran. Mereka mempercayai bahwa pembawa kesadaran ditemukan pada unsur-unsur yang mengumpulkan informasi selama manusia hidup, kemudian setelah kematian tubuh tersebut, kesadaran akan menuju alam semesta lain. Unsur-unsur ini terletak di dalam protein mikrotubulus neuron di dalam otak yang sebelumnya dikaitkan erat dengan peran sederhana penguatan dan transportasi penyaluran di dalam sel yang hidup. Berdasarkan struktur mikrotubulus

tersebut berfungsi sebagai membawa kesadaran dalam manusia semasa hidupnya dan membawa sifat kuantum di dalam otak. Itu karena mereka mampu mempertahankan keadaan kuantum dalam waktu yang sangat lama yang berarti mereka dapat berfungsi sebagai elemen dari sebuah komputer kuantum otak sendiri.

Sumber: http://www.hameroff.com#sthash.12tex9xN.dpuf http://www.dailymail.co.uk#sthash.12tex9xN.dpuf http://www.learning-mind.com#sthash.12tex9xN.dpuf http://www.spiritscienceandmetaphysics.com/