Anda di halaman 1dari 30

Uji Fitokimia dan Antioksidan dari Ekstrak Kulit Batang Srikaya (Annona Squamosa L) dengan metode Maserasi, Fraksinasi

dan Sokletasi

Kelompok 8 Dea Justina (1111096000025) Lutfi Nugraha (1111096000029) Ardhanareswari Widaninggar (1111096000032)

Program Studi Kimia Fakultas Sains dan Teknologi Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta 2013 M/ 1434 H

DAFTAR ISI

Halaman I. PENDAHULUAN. 1 1.1 Latar Belakang.1 1.2 Rumusan Masalah1 1.3 Hipotesis...2 1.4 Tujuan Penelitian..2 1.5 Manfaat penelitian2 TINJAUAN PUSTAKA..3 2.1. Srikaya..3 2.2. Ekstraksi3 2.2.1. Maserasi3 2.2.2. Sokletasi4 2.3. Uji Fitokimia.4 2.3.1. Polifenol4 2.3.2. Tanin..5 2.3.3. Steroid5 2.3.4. Kuinon5 2.4. Uji Antioksidan.6 2.5. Fraksinasi...6 2.6. Spektrofotometer UV-VIS.7 METODE PENELITIAN..8

II.

III.

3.1 Lokasi dan waktu penelitian...8 3.2. Alat dan Bahan ...8 3.3. Cara Kerja8 3.3.1 Ekstraksi Senyawa Bahan Alam..8 3.3.2 Uji Fitokimia..8
3.3.2.1 Uji Tanin.8

3.3.2.2 Uji Steroid .9 3.3.2.3 Uji Kuinon..9

3.3.3 Uji Antioksidan..9 3.3.4 Sokletasi..9 3.3.5 Fraksinasi9


IV. HASIL DAN PEMBAHASAN...11 4.1 Preparasi Sampel ..11 4.2. Maserasi ..11 4.3 Sokletasi13 4.4 Uji Kandungan Fitokimia.13 4.5 Fraksinasi.17 4.6 Uji Antioksidan19

V.

KESIMPULAN...22

DAFTAR PUSTAKA..23

ii

DAFTAR TABEL

Halaman 1. Data hasil uji Fitokimia15 2. Data hasil pengamatan dari Fraksinasi.17 3. Tabel hasil absorbansi dan % Inhinibisi sampel Maserasi...19 4. Tabel hasil absorbansi dan % Inhinibisi

iii

DAFTAR GAMBAR

Halaman 1. Sampel Kering Kulit Batang Srikaya.11 2. (a) Maserasi sampel, (b) Hasil penyarian pertama, (c) Hasil penyarian keempat..12 3. Ekstrak pekat hasil maserasi...13 4. Sampel Sokletasi dibungkus Kertas Saring13 5. (kiri) ekstrak hsil sokletasi (kanan) ekstrak hasil maserasi 14 6. (a) Kontrol, (b) Sampel positif dari metode Sokletasi (Steroid, Kuinon dan Tanin), (c) Sampel positif Tanin dari metode Maserasi.15 7. Reaksi antara Steroid dan Lieberman-Burchard.16 8. Reaksi antara tanin dengan FeCl3...17 9. Fraksinasi antara Metanol dan Etil asetat...19 10. Kurva hubungan antara Konsentrasi dengan %Inhibisi.20 11. Struktur dasar Polifenol..21 12. Reaksi antara gugus hidroksil dengan senyawa Radikal Bebas.21 13. Reaksi antara tanin dan DPPH21

iv

BAB I PENDAHULUAN

1.4 Latar Belakang Srikaya termasuk pohon buah-buahan kecil yang tumbuh di tanah berbatu, kering, dan terkena cahaya matahari langsung. Nama latin dari srikaya yaitu Annona squamosa. Srikaya memang masih serumpun dengan sirsak. Tumbuhan yang asalnya dari Hindia Barat ini akan berbuah setelah berumur 3-5 tahun. Srikaya sering ditanam di pekarangan, dibudidayakan, atau tumbuh liar, dan bisa ditemukan sampai ketinggian 800 m dpi. Pohon Srikaya dikenal mempunyai banyak manfaat baik kulit batang, buahnya dan daunnya maka dari itu dilakukan penelitian untuk mengetahui kandungan senyawa kimia apa yang terdapat pada kulit batang pohon srikaya dan apa kulit batang pohon srikaya dapat dijadikan senyawa antioksidan. Pohon srikaya mengandung berbagai macam vitamin dan mineral yang memberikan berbagai manfaat kesehatan. United States Department of Agriculture (USDA) menyebutkan, srikaya mengandung vitamin C (mencegah asma), serat (mengontrol kadar gula darah), vitamin B6 (menjaga kesehatan jantung), potasium (menurunkan tekanan darah), thiamin (membantu memproduksi energi), riboflavin (memelihara cadangan vitamin B lain di dalam tubuh yang penting untuk pertumbuhan dan perkembangan fungsi-fungsi tubuh), magnesium (menjaga kekuatan tulang), niacin (membantu menurunkan kadar kolesterol), tembaga (memelihara kesehatan tiroid), folat (vitamin B9, yang membantu mencegah cacat tabung saraf pada bayi), serta dapat mengobati berbagai macam penyakit lainnya seperti antiradang, antidepresi, astringen, antiradang, peluruh cacing usus (antheimintik), serta mempercepat pemasakan bisul dan abses.

1.5 Rumusan Masalah Apakah kulit batang pohon srikaya sebagai senyawa antioksidan ? Adakah senyawa aktif yang terkandung didalam kulit batang pohon srikaya ?
1

1.3 Hipotesis Kulit batang pohon srikaya sebagai antioksidan

1.6 Tujuan Penelitian Mengisolasi senyawa bahan alam dalam jaringan tumbuhan melalui metode ekstraksi maserasi, dan sokletasi Mengetahui senyawa apa yang terkandung didalam sampel kulit batang pohon srikaya Mengetahui aktivitas antioksidan pada ekstrak

1.7 Manfaat penelitian Manfaat dilakukan penelitian ini yaitu dapat mengetahui kandungan senyawa-senyawa kimia dalam kulit batang srikaya, serta dapat mengetahui tanaman srikaya sebagai tanaman antioksidan.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Srikaya Srikaya termasuk pohon buah-buahan kecil yang tumbuh di tanah berbatu, kering, dan terkena cahaya matahari langsung. Buah tropis ini punya banyak nama, tergantung asalnya. Di Surabaya, buah ini lebih populer dengan nama menuo. Orang Malaysia menyebutnya serikaya (yang artinya penuh rahmat). Di Guatemala, namanya cherimoya. Selain itu juga sharifa (India), noi na (Thailand), mang cau te (Kamboja), fan li chi (China), aajaa thee (Myanmar), sakya (Taiwan), sweetsop (Karibia), atau sugar apple (Amerika). Nama latinnya sendiri Annona squamosa, namun sering dicampuradukkan dengan Annona reticulata (custard apple, alias sirsak). Srikaya memang masih serumpun dengan sirsak. Tumbuhan yang asalnya dari Hindia Barat ini akan berbuah setelah berumur 3-5 tahun. Akar dan kulit kayunya mengandung flavonoida, borneol, kamphor, terpene, dan alkaloid anonain.

2.2. Ekstraksi Ekstraksi adalah proses pemisahan suatu komponen yang diingingkan dalam suatu campuran, biasanya digunakan pelarut tetapi juga dapat dengan cara mekanis (pemerasan). Pemisahan terjadi atas dasar kemampuan kelarutan yang berbeda dari komponen-komponen yang terdaoat di dalam campuran (Bernasconi, et al, 1987). Menurut Lenny (2006), secara umum ekstraksi senyawa metabolit sekunder dari seluruh bagian tumbuhan, seperti bunga, buah, ddaun, kulit batang, dan akar dapat menggunakan system maserasi dengan pelarut polar seperti methanol. Prinsip ekstraksi adalah melarutkan senyawa polar dalam pelarut polar dan senyawa non polar dalam pelarut non polar ( Departemen Kesehatan RI, 1986). 2.2.1. Maserasi Maserasi merupakan proses ekstraksi yang cukup terkenal, sebelum dikenalnya proses menggunakan pelarut yang bersifat volatiil. Maserasi adalah proses perendaman sampel dengan pelarut organic yang digunakan pada temperatur ruang (Guenther, 1987). Keuntungan cara penyarian menggunakan maserasi adalah cara pengerjaan dan peralatan yang digunakan sederhana dan mudah diusahakan. Pada penyarian dengan cara maserasi, perlu dilakukan 3

pengadukan. Pengadukan diperlukan untuk meratakan konsentrasi larutan di luar butir serbuk simplisia, sehingga dengan pengadukan tersebut tetap terjaga adanya derajat konsentrasi yang sekecil-kecilnya antara larutan di dalam sel dengan larutan di luar sel (Departemen Kesehatan RI, 1986). 2.2.2. Sokletasi Menurut Sudjadi (1986), sokletasi merupakan metode penarikan komponen kimia yang dilakukan dengan cara serbuk sampel ditempatkan dalam selonsong berupa kertas saring sedemikian rupa, cairan penyari atau pelarut dipanaskan dalam labu alas bulat sehingga menguap dan dikondensasikan oleh kondensor menjadi molekul-molekul cairan penyari yang jatuh ke dalam selonsong menyari zat aktif di dalam sampel dan jika pelarut telah mencapai permukaan sifon, maka seluruh cairan akan turun kembali ke labu alas bulat melalui pipa kapiler hingga terjadi sirkulasi. Proses ini akan berlangsung terus-menerus secara otomatis sampai ektraksi sempurna. Ekstraksi sempurna ditandai bila cairan di kertas selonsong tidak berwarna, tidak tampak noda jika di KLT, atau sirkulasi telah mencapai 20-25 kali.

2.3. Uji Fitokimia Fitokimia berasal dari kata phytochemical, phyto adalah tumbuhan dan chemical adalah zat kimia. Dengan demikian fitokimia merupakan zat kimia alami yang terdapat di dalam tumbuhan dan dapat memberikan rasa, aroma, atau warna pada tumbuhan itu. Senyawa fitokimia tidak termasuk ke dalam zat gizi karena bukan berupa karbohidrat, protein, lemak, vitamin, mineral, maupun air. Sampai sekarang sudah sekitar 30.000 jenis fitokimia yang ditemukan dan sekitar 10.000 terkandung dalam makanan (Arnelia, 2004). Secara garis besar, fitokimia terdiri dari alkaloid, flavanoid, terpenoid, steroid, saponin, kuinon, dan tannin. Menurut Moelyono (1996) analisis fitokimia merupakan bagian dari ilmu farmakognosi yang mempelajari metode atau cara analisis kandungan kimia yang terdapat dalam tumbuhan atau hewan secara keseluruhan atau bagian-bagiannya, termasuk cara isolasi atau pemisahannya. 2.3.1. Polifenol Polifenol ditemukan secara alami pada tumbuhan. Jenis polifenol yang paling sering ditemukan pada tanaman adalah flavonoid, asam fenolat, catechin, anthocyanin, isoflavon, quercetin, dan resveratrol. Beberapa polifenol penting seperti flavon, flavonoid, resveratrol, dan 4

isoflavon diketahui memiliki sifat antioksidan. Adanya antioksidan diyakini memiliki khasiat meningkatkan kemampuan anti-inflamasi dan kekebalan tubuh. 2.3.2. Tanin Tanin merupakan salah satu jenis senyawa yng termasuk ke dalam golonganpolifenol. Senyawa tanin ini banyak di jumpai pada tumbuhan. Tanin dahulu digunakan untuk menyamakkan kulit hewan karena sifatnya yang dapat mengikat protein. Selain itu juga tanin dapat mengikat alkaloid dan glatin.Tanin secara umum didefinisikan sebagai senyawa polifenol yang memiliki berat molekul cukup tinggi (lebih dari 1000) dan dapat membentuk kompleks dengan protein. Berdasarkan strukturnya, tanin dibedakan menjadi dua kelas yaitu tannin terkondensasi (condensed tannins) dan tannin terhidrolisiskan (hydrolysabletannins) (Hagerman et al., 1992; Harbone, 1996). 2.3.3. Steroid Steroid adalah senyawa organik lemak sterol tidak terhidrolisis yang dapat dihasil reaksi penurunan dari terpena atau skualena. Steroid merupakan kelompok senyawa yang penting dengan struktur dasar sterana jenuh (bahasa Inggris: saturated tetracyclic hydrocarbon : 1,2cyclopentanoperhydrophenanthrene) dengan 17 atom karbon dan 4 cincin. Senyawa yang termasuk turunan steroid, misalnya kolesterol, ergosterol, progesteron, dan estrogen. Pada umunya steroid berfungsi sebagai hormon. Steroid mempunyai struktur dasar yang terdiri dari 17 atom karbon yang membentuk tiga cincin sikloheksana dan satu cincin siklopentana. Perbedaan jenis steroid yang satu dengan steroid yang lain terletak pada gugus fungsional yang diikat oleh ke-empat cincin ini dan tahap oksidasi tiap-tiap cincin. Flavonoid adalah pigmen tumbuhan yang paling penting untuk warna bunga yang memproduksi pigmentasi kuning atau merah/biru di kelopak yang dirancang untuk menarik pollinator hewan. 2.3.4. Kuinon Nama kuinon diturunkan dari anggota yang paling sederhana, p-benzoquinon,yang ditemukan oleh Woskresnsky pada tahun 1838 sebagai hasil oksidasi asamquinat. Struktumya terdapat dalam bagian pigmen, antibiotik, vitamin K, koenzim (ubiquinon dan

plastoquinon).Senyawa-senyawa kuinon merupakan zat warna yang terdapat dalam tumbuhtumbuhan yang berasal dari turunan senyawa aromatik. Menurut Hart (1983: 273) Kuinon merupakan golongan senyawa karbonil yang unik. Senyawa ini merupakan diketon terkonjugasi siklik. Contoh paling sederhana ialah 1,4-benzokuinon. Semua kuinon berwarna dan banyak 5

diantaranya berupa pigmen alami yang digunakan sebagai zat warna.Warna pigmen kuinon alam beragam, mulai dari kuning pucat sampai kehampir hitam, dan struktur yang telah dikenal jumlahnya lebih dari 450. Walaupun mereka tersebar luas dan strukturnya sangat beragam, sumbangannya terhadap warna tumbuhan tinggi nilai nisbi kecil. Jadi, pigmen ini sering terdapat dalam kulit, galihatau akar, atau dalam jaringan lain (misalnya daun), tetapi pada jaringan tersebut warnanya tertutupi pigmen lain.

2.4. Uji Antioksidan Antioksidan adalah senyawa yang dapat menunda, memperlambat, dan mencegah terjadinya reaksi oksidasi. Winarno (1992) menyatakan antioksidan adalah suatu zat yang dapat menghentikan reaksi pembentukan radikal bebas. Mekanisme kerja antioksidan antara lain: a. Pemberi atom hidrogen (antioksidan primer). Senyawa ini dapat memberikan atom hidrogen secara cepat ke radikal lipida (R*, ROO*) atau mengubahnya ke bentuk lebih stabil, sementara turunan radikal antioksidan (A*) tersebut memiliki keadaan lebih stabil dibanding radikal lipida. b. Memperlambat laju autooksidasi dengan berbagai mekanisme di luar mekanisme pemutusan rantai autooksidasi dengan pengubahan radikal lipida ke bentuk lebih stabil.

2.5. Fraksinasi Fraksinasi merupakan suatu prosedur yang digunakan untuk memisahkan golongan utama kandungan yang satu dari kandungan golongan utama yang lainnya. Fraksinasi merupakan prosedur pemisahan komponen-komponen berdasarkan perbedaan kepolaran tergantung dari jenis senyawa yang terkandung dalam tumbuhan. Dalam metode fraksinasi pengetahuan mengenai sifat senyawa yang terdapat dalam ekstrak akan sangat mempengaruhi proses fraksinasi. Oleh karena itu, jika digunakan air sebagai pengekstraksi maka senyawa yang terekstraksi akan bersifat polar, termasuk senyawa yang bermuatan listrik. Jika digunakan pelarut non polar misalnya heksan, maka senyawa yang terekstraksi bersifat non polar dalam ekstrak (Harborne, 1987).

2.6. Spektrofotometer UV-VIS Sesuai dengan namanya spektrofotometer UV-Vis merupakan gabungan antara spektrofotometer UV dan Visible. Pada spektrofotometer UV-Vis menggunakan dua buah sumber cahaya berbeda yakni sumber cahaya UV dan sumber cahaya visible. Spektrofotometer UV-Vis merupakan spektrofotometer berkas ganda sedangkan pada spektrofotometer VIS ataupun UV termasuk spektrofotometer berkas tunggal. Pada spektrofotometer berkas ganda blanko dan sampel dimasukan atau disinari secara bersamaan, sedangkan spektrofotometer berkas tunggal blanko dimasukan atau disinari secara terpisah. Zat yang dapat dianalisis dengan spektrofotometri UV-Vis yaitu zat dalam bentuk larutan dan zat yang tampak berwarna maupun berwarna.

BAB III METODE PENELITIAN

3.1 Lokasi dan waktu penelitian Penelitian ini dilakukan di Pusat Laboraturium Terpadu Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta selama 2 bulan terhitung dari September hingga Oktober.

3.2. Alat dan Bahan Alat yang digunakan pada penelitian ini antara lain erlenmeyer, cawan petri, batang pengaduk, corong, corong pisah, gelas beker, labu ukur, gelas ukur, tabung reaksi, pipet mikro, labu destilat, kertas saring, penangas dan spektroskopi UV-Vis. Bahan yang digunakan antara lain sampel kulit batang pohon srikaya, metanol, etanol, nheksan, kloroform, etil asetat, larutan DPPH 0,002%, FeCl3 1%, HCl 2%, dan aquades.

3.3. Cara Kerja 3.3.1 Ekstraksi Senyawa Bahan Alam Uji ini bertujuan untuk pemisahan suatu komponen yang diinginkan dalam suatu campuran. Sampel tanaman kulit batang pohon srikaya dikeringkan. Sampel yang sudah kering ditimbang sebanyak 50 gram. Kulit batang pohon sirsak dimasukkan kedalam erlenmayer dan ditambahkan larutan metanol untuk dimaserasi selama 3X24 jam. Hasil maserasi, sampel dilakukan 3 kali penyaringan menggunakan metanol.

3.3.2

Uji Fitokimia 3.3.2.1 Uji tanin Uji ini bertujuan untuk mengetahui senyawa apa yang terkandung dalam tanaman tersebut. Ekstrak tanaman sebanyak 2 mL dimasukkan kedalam tabung reaksi. Kemudian ditambahkan 2-3 tetes FeCl3 1% kedalam tabung tersebut dan dikocok.

3.3.2.2 Uji Steroid Ekstrak tanaman sebanyak 2 mL dimasukkan kedalam tabung reaksi. Kemudian ditambahkan beberapa tetes reagen Liberman-Burchard kedalam tabung. 3.3.2.3 Uji kuinon Ekstrak tanaman sebanyak 2 mL dimasukkan kedalam tabung reaksi. Lalu ditambahkan NaOH 2N kedalam tabung tersebut dan dikocok. 3.3.3 Uji Antioksidan Ekstrak larutan sampel dipekatkan sebanyak 0,1 gram dan dilarutkan dalam metanol kemudian dibuat larutan sampel berbagai konsentrasi antara lain 1; 2; 4; 6 dan 8 ppm dan dibuat lagi konsentrasi 0.1 ; 0,5, ; 1 ; 2 dan 4 ppm. Masing-masing larutan sampel dipipet sebanyak 2 mL DPPH 0,002% dimasukkan kedalam tabung reaksi berbagai konsentrasi. Lalu larutan sampel dikocok sampai homogen pada suhu 37oC selama 30 menit, dan diukur dengan spektrofotometer Uv-Vis dengan panjang gelombang larutan DPPH yaitu 528 nm untuk pengukuran 1; 2; 4; 6 dan 8 ppm dan 519 nm untuk pengukuran 0.1 ; 0,5, ; 1 ; 2 dan 4 ppm. Dilakukan dalam ruangan gelap dan dilakukan duplo.

3.3.4 Sokletasi Sampel tanaman yang sudah kering dan halus ditimbang sebanyak 18 gram dibungkus dengan kertas saring dan dimasukkan kedalam selongsong alat soklet. Pelarut etanol dimasukkan sebanyak 250 mL kedalam 500 mL distilation flask. Lalu sampel diekstraksi selama beberapa jam hingga larutan bening. Cairan hasil ekstraksi dipekatkan hingga diperoleh ektrak yang kental untuk kemudian dilakukan uji fitokimia.

3.3.5 Fraksinasi Ditimbang sebanyak 1 gram sampel yang sudah dipekatkan, kemudian 50 ml metanol dan 50 ml aquades dimasukkan kedalam gelas beker dan dicampurkan dengan sampel yang sudah dipekatkan lalu diaduk dan disaring hingga homogen dan dimasukkan

dalam corong pisah serta dilakukan pengocokan selama 15 menit hingga terbentuk 2 fase. Selanjutnya dilakukan penyaringan, filtrat dan n-heksan dengan perbandingan 1 : 1 dimasukkan dalam corong pisah dan dilakukan pengocokan kembali selama 15 menit hingga terbentuk 2 fase lalu dipisahkan. Larutan hasil metanol dan air ditambahkan dengan larutan kloroform dan di kocok serta dipisahkan kembali lalu fase metanol dan aquades ditambahkan dengan etil asetat kemudian dikocok hingga terpisah. Lalu hasil dari fraksinasi dilakukan untuk uji antioksidan.

10

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Preparasi Sampel Sampel berupa kulit batang srikaya sebelum diolah lebih lanjut dikeringkan terlebih dahulu dengan cara di jemur dengan tidak dibiarkan kontak langsung dengan matahari atau dikeringkan dengan menggunakan oven dalam suhu < 60-70oC. Suhu yang diberikan pada tahap ini tak diberikan melebihi 70oC dengan tujuan untuk menghindari rusaknya metabolit sekunder yang terkandung didalam sel pada sampel. Tujuan dari pengeringan sampel ini adalah untuk menghilangkan kadar air yang terkandung didalam sampel, sehingga pertumbuhan jamur dan mikroorganisme dapat dicegah, menghentikan reaksi enzimatis serta mencegah terjadinya perubahan kimiawi (Indah, 2008). Selanjutnya sampel ini dihaluskan dengan menggunakan blender sebelum dapat digunakan sebagai sampel ekstraksi. Simplisia kering ini diserbukan dengan tujuan agar luas permukaan kontak antara simplisia dengan pelarut semakin besar sehingga proses ekstraksi yang berlangsung dapat memperoleh hasil yang maksimal.

Gambar 1 Sampel Kering Kulit Batang Srikaya

4.2. Maserasi Salah satu metode yang digunakan untuk ekstraksi senyawa dalam sampel batang kulit srikaya adalah maserasi. Maserasi ini dilakukan dengan menggunakan pelarut berupa methanol selama 3x24 jam pada penyarian pertama. Selanjutnya proses maserasi ini dilanjut dengan kembali merendam sampel dalam methanol sebanyak 3 kali perendaman secara berulang-ulang dengan waktu 10 menit setiap kali perendaman. Senyawa methanol dipilih sebagai pelarut didalam proses maserasi ini karena kepolaran dari

11

methanol berada ditengah-tengah sehingga dapat menyari metabolit yang relative polar maupun nonpolar. Selain itu methanol memiliki titik didih yang rendah sehingga dapat diuapkan dengan mudah ketika ingin didapatkan ekstrak pekatnya. Proses maserasi yang dilakukan berulang-ulang ini dilakukan dengan tujuan agar mendapat senyawa ekstrak secara maksimal dan menyeluruh, karena apabila hanya dilakukan satu kali perendaman ditakutkan terjadi kejenuhan pada pelarut dalam melarutkan senyawa ekstrak, maka senyawa yang belum dapat dilarutkan oleh pelarut methanol dalam penyarian pertama dapat terekstrak didalam penyarian kedua. Didalam proses maserasi terjadi pemecahan dinding dan membrane sel akibat perbedaan tekanan didalam dan diluar sel sehingga metabolit sekunder yang terkandung dalam sitoplasma akan terlarut dalam pelarut organic (Darwis, 2000). Hasil penyarian pertama diperoleh warna hijau gelap. Warna yang pekat ini tampak karena senyawa ekstrak yang larut dalam methanol mencapai mada titik maksimum, atau mencapai titik jenuh. Agar senyawa yang tersisa didalam sampel dapat larut, maka diberikan penyarian kedua dengan mengunakan pelarut methanol yang baru. Pada penyarian kedua dapat dengan lebih mudah menarik senyawa ekstrak karena pelarut methanol yang ditambahkan masih baru sehingga masih jauh dari titik jenuh, jadi senyawa dapat larut dengan lebih mudah. Selanjutnya, penyarian ketiga dilakukan hingga sampai pada penyarian yang keempat. Pada penyarian keempat ini diperoleh warna bening kehijauan. Warna yang relatif bening ini menandakan bahwa sudah terekstrak sempurna seluruh senyawa yang terkandung didalam sampel batang kulit srikaya.

(a)

(b)

(c)

Gambar 2. (a) Maserasi sampel, (b) Hasil penyarian pertama, (c) Hasil penyarian keempat

Selanjutnya jumlah dari seluruh larutan ekstrak disatukan dan diambil sedikit untuk dilakukan uji fitokimia. Kemudian larutan ekstrak ini diuapkan agar diperoleh ekstrak pekat. Pemekatan ini dilakukan agar pelarut methanol menguap hingga hanya menyisakan berupa senyawa ekstrak murni tanpa kandungan metanol dari pelarut pada ekstrak pekat. Selanjutnya ekstrak pekat yang didapat ditimbang agar diperoleh nilai rendemen dari hasil maserasi. Dari 50 gram sampel serbuk kulit batang srikaya, 12

diperoleh ekstrak pekat sebanyak 4.79 gram, dan didapat rendemen dengan metode maserasi sebesar 9.58 %.

Gambar 3. Ekstrak pekat hasil maserasi

4.3 Sokletasi Pada proses ekstraksi dengan menggunakan metode sokletasi ini digunakan pelarut berupa Etanol 70%. Sampel yang digunakan adalah berupa kulit batang srikaya yang telah dikeringkan dan dihaluskan sebanyak 12 gram. Selanjutnya sampel ini dibungkus dengan menggunakan kertas saring sebelum dimasukan kedalam alat soklet.

Gambar 4. Sampel Sokletasi dibungkus Kertas Saring

Proses sokletasi ini dilakukan hingga sampel terekstrak seluruhnya yaitu hingga warna larutan ekstrak pada extraction chamber menjadi bening. Pada metode sokletasi ini diharapkan dapat diperoleh 13

hasil ekstrak yang lebih tinggi karena pada metode ini diberikan sedikit pemanasan, yang mana pemanasan dapat meningkatkan kelarutan senyawa ekstrak. Selain itu, karena pelarut yang dipakai berasal dari hasil penguapan dan kondensasi berarti pelarut yang digunakan merupakan pelarut yang baru dan tidak jenuh sehingga pelarut dapat menarik senyawa yang terkandung didalam sampel dengan lebih maksimal. Dari hasil yang didapatkan pun hasil ekstrak dengan sokletasi tampak lebih pekat daripada hasil ekstrak dengan metode maserasi (gambar 6) yang berarti senyawa yang didapat pada sokletasi lebih banyak. Yang mana selanjutnya dilakukan uji fitokimia terhadap kedua larutan hasil ekstraksi ini.

Gambar 5. (kiri) ekstrak hsil sokletasi (kanan) ekstrak hasil maserasi

4.3 Uji Kandungan Fitokimia Uji kandungan senyawa fitokimia didalam ekstrak kulit batang srikaya diidentifikasi dengan cara kualitatif dengan cara penambahan reagen-reagen tertentu pada sampel. Dengan cara ini, senyawa metabolit sekunder didalam sampel yang telah diekstrak akan berinteraksi dengan reagen yang akan menunjukan perubahan pada larutan uji yang dapat diamati. Uji fitokimia dilakukan pada ekstrak sampel hasil sokletasi dan maserasi dengan menguji kandungan Alkaloid, Flavonoid, Triterpenoid, Kuinon dan Tanin. Pada percobaan yang telah dilakukan, didapatkan hasil sebagai berikut:

14

Ekstrak Sampel No. Pengujian Reagen Sokletasi Dragendroff 1 Alkaloid Mayer 2 3 4 5 6 Flavonoid Triterpenoid Steroid Kuinon Tanin Mg(s) + HCl LiebermanBurchard NaOH FeCl3
Tabel 1 Data hasil uji Fitokimia

Maserasi +

+ ++ ++++

(a)

(b)

(c)

Gambar 6. (a) Kontrol, (b) Sampel positif dari metode Sokletasi (Steroid, Kuinon dan Tanin), (c) Sampel positif Tanin dari metode Maserasi

Pada ekstrak sampel dengan metode Sokletasi tampak terkandung senyawa metabolit sekunder berupa Steroid (sedikit), Kuinon dan Tanin. Sementara pada ekstrak sampel dengan metode maserasi didapatkan hanya senyawa Tanin dalam jumlah yang sedikit. Hasil yang berbeda yang didapat dari kedua metode ini dapat disebabkan oleh pelarut yang berbeda yang digunakan didalam mengekstrak sampel, yang mana pada ekstrak sokletasi digunakan pelarut berupa etanol 70% dan pada metode maserasi digunakan pelarut methanol. Jadi terjadi perbedaan kemampuan didalam mengekstrak senyawa dalam sampel. Dapat terlihat bahwa pelarut berupa etanol dapat mengekstrak senyawa metabolit sekunder 15

dengan lebih baik. Selain itu dimungkinkan factor lain seperti metode yang digunakan lebih baik, yaitu dengan metode sokletasi. Pada metode sokletasi pelarut yang digunakan adalah pelarut yang telah diuapkan lalu dikondensasikan, sehingga tidak tingkat kejenuhan pelarut sangat rendah, jadi pelarut ini sangat baik digunakan untuk mengekstrak senyawa dalam sampel. Sementara didalam metode maserasi dapat dimungkinkan terjadi kejenuhan larutan dalam mengekstrak senyawa, maka senyawa yang dihasilkan relative lebih sedikit. Pada pengujian kandungan Steroid dengan menggunakan reagen berupa Lieberman-Burchard didapatkan hasil pada ekstrak kengan metode maserasi. Hasil yang didapat sangat sedikit yang ditunjukan dengan warna larutan yang tampak sedikit lebih hijau dari pada sebelumnya. Warna hijau yang timbul disebabkan oleh gugus hidroksil (-OH) dari steroid bereaksi dengan reagen yang menyebabkan peningkatan konjugasi dari ikatan tak jenuh dari penyatuan ikatan rangkap yang berdekatan. Berikut ini merupakan reaksi yang terjadi antara senyawa Steroid dan reagen Lieberman Burchard:

Gambar 7. Reaksi antara Steroid dan Lieberman-Burchard

Selanjutnya diuji kandungan kuinon didalam sampel dengan menggunakan reagen berupa NaOH 2N. Hasil positif tampak apabila terbentuk pewarnaan merah pada sampel. Pada percobaan yang telah dilakukan, tampak sedikit perubahan yang terjadi pada sampel dengan metode sokletasi dengan perubahan warna dari hijau ke coklat kemerahan. Maka karena itu tampak terdeteksi kuinon didalam sampel kulit batang srikaya dalam intensitas sedang. Kandungan Tanin yang diuji pada sampel memberikan hasil positif pada kedua sampel, sampel dengan metode maserasi maupun sokletasi. Hasil pada sampel dengan metode sokletasi tampak mengandung Tanin dalam jumlah yang tinggi karena warna yang ditimbulkan adalah warna hijau yang sangat gelap, sementara pada sampel dengan metode maserasi hanya terjadi pengelapan sampel pada tingkat yang sedikit yang berarti sampel yang diekstrak hanya sedikit mengandung Tanin. Pada uji ini ditambahkan reagen berupa FeCl3. Pereaksi FeCl3 dipergunakan secara luas untuk mengidentifikasi senyawa fenol termasuk tannin (Robinson, 1995). Pada penambahan larutan FeCl3 1% pada sampel akan menyebabakan larutan ini bereaksi dengan salah satu gugus hidroksil yang ada pada senyawa tannin hingga terbentuk senyawa Fe(OH)3 yang berwarna hitam. Reaksi yang terjadi adalah sebagai berikut:

16

Gambar 8. Reaksi antara tanin dengan FeCl3

4.4 Fraksinasi Didalam ekstraksi dengan menggunakan metode fraksinasi dilakukan suatu ekstraksi cair-cair dengan menggunakan beberapa pelarut dengan nilai kepolaran yang berbeda-beda. Pelarut-pelarut yang digunakan didalam proses fraksinasi ini adalah methanol, n-heksan, kloroform, dan etil asetat. Pelarutpelarut yang digunakan ini memiliki tingkat kepolaran yang berbeda-beda, sehingga senyawa yang terkandung didalam sampel kulit batang srikaya dapat terlarut didalam pelarut yang sesuai dengan kepolarannya. Fraksinasi ini dilakukan dengan menggunakan corong pisah. Didalam ekstraksi cair-cair ini zat terlarut dari ekstrak terdistribusi diantara dua cairan yang tidak bercampur (Sastrohamidjojo, 1985). Pada tahap pertama, digunakan sampel pekat hasil maserasi sebanyak 1 gram. Lalu sampel ini dilarutkan didalam 60 mL methanol, kemudian disaring hingga diperoleh larutan homogen. Selanjutnya sampel ini dimasukkan kedalam corong pisah bersama dengan larutan n-heksan dengan perbandingan (1:1), yaitu sebanyak 40 mL. Selama proses fraksinasi yang dilakukan dengan pelarut n-heksan, kloroform, dan etil asetat, didapatkan hasil sebagai berikut: Tabel 2. Data hasil pengamatan dari Fraksinasi Pelarut Warna larutan ekstrak n-heksan Kloroform Etil Asetat Kuning Bening Orange Bening Kuning Pucat Bening Hasil endapan yang didapat (gram) 0.0176 0.098 1.76 9.8 Rendemen (%)

Tabel 2. Data hasil pengamatan dari Fraksinasi

17

Pada ekstraksi pertama, dilakukan pengkocokan corong pisah yang berisi ekstrak methanol dan sampel yang telah homogen dan n-heksan. Terjadi pemisahan dalam tahap ini berupa larutan warna kuning bening n-heksan yang terdapat di bagian atas, dan ekstrak methanol berwarna coklat keruh dibagian bawah. N-heksan merupakan pelarut organic yang sangat non-polar (konstanta dielektrik: 2.0), maka karena itu apabila didalam sampel terkandung senyawa non-polar maka senyawa tersebut akan terdistribusi kedalam pelarut n-heksan, sementara untuk senyawa sampel yang bersifat polar akan tetap berada di fraksi pelarut methanol. Untuk membuktikan keberadaan senyawa non-polar dari sampel yang dapat terlarut didalam n-heksan maka kedua pelarut ini dipisahkan. Larutan dari fraksi n-heksan selanjutnya diuapkan dan diperoleh hasil pekat sebanyak 0.0176 gram dengan rendemen 1.76%. Hasil yang didapatkan ini sangat sedikit, hal ini berarti hanya terdapat sedikit senyawa yang bersifat non-polar yang terkandung didalam sampel. Selanjutnya, dilanjutkan kembali ekstraksi dari sampel dengan pelarut methanol yang sebelumnya telah dipisahkan dari n-heksan. Methanol kembali dimasukan kedalam corong pisah dan ditambahkan pelarut berupa kloroform. Kloroform merupakan pelarut non-polar yang lebih lemah daripada n-heksan (cenderung lebih polar) dengan konstanta dielektrik sebesar 4.8. Dengan ini maka diharapkan senyawa yang terkandung didalam sampel yang memiliki nilai kepolaran mendekati kloroform dapat terlarut didalam pelarut ini. Dari hasil pengocokan maka didapatkan larutan dapat berpisah dengan fraksi methanol berwarna kuning dan fraksi kloroform berwarna orange. Selanjutnya kloroform ini dipisahkan dan selanjutnya diuapkan. Setelah penguapan sampel kloroform didapatkan hasil pekat sebanyak 0.098 gram, dengan nilai rendemen sebesar 9.8%. Nilai rendemen yang didapatkan ini terbilang cukup tinggi, hal ini berarti senyawa yang terkandung didalam sampel sebagian besar memiliki nilai kepolaran yang mendekati kloroform, karena didapatkan banyak senyawa yang dapat terlarut didalam pelarut kloroform. Karena sampel pekat yang didapat cukup banyak maka dapat selanjutnya digunakan untuk uji antioksidan. Fraksi methanol yang telah dipisahkan kembali dimasukan kedalam corong pisah dan ditambahkan dengan pelarut berupa Etil Asetat. Pelarut etil asetat ini memiliki sifat non-polar yang mendekati semi polar. Ketika dilakukan pengocokan, diperoleh fraksi larutan methanol dan etil asetat dapat bercampur membentuk larutan homogen berwarna kuning pucat bening. Hal ini dimungkinkan dapat terjadi karena kepolaran antara methanol dan etil asetat relative dekat, maka larutan ini dapat bercampur dan sulit untuk dipisahkan.

18

Gambar 9. Fraksinasi antara Metanol dan Etil asetat

4.4 Uji Antioksidan Pada ekstrak sampel dari metode maserasi dan fraksinasi dilakukan uji antioksidan. Pada uji ini digunakan larutan DPPH (1, 1-Difenil-2-Pikril Hidrazil). DPPH merupakan senyawa radikal bebas

berwarna ungu yang apabila direaksikan dengan senyawa peredam radikal bebasnya akan mengurangi intensitas warna ungu dan apabila senyawa peredam radikal bebas yang bereaksi dalam jumlah besar maka DPPH dapat berubah menjadi warna kuning (Christina, 2009). Sampel yang digunakan adalah sampel yang telah dipekatkan, dan diencerkan kembali dengan pelarutnya kedalam konsentrasi tertentu dalam satuan ppm. Pada pengujian ini digunakan konsentrasi larutan yaitu 0.1; 0.5; 1; 2 dan 4 ppm. Hasil yang didapatkan dari hasil percobaan adalah sebagai berikut:

Sampel Absorban 0.1 ppm 0.5 ppm 1 ppm 2 ppm 4 ppm

Ulangan Ulangan pertama kedua 0.47 0.235 0.183 0.183 0.182 0.158 0.153 0.179 0.138 0.156 0.13 0.132

Rata-rata 0.3525 0.183 0.17 0.166 0.147 0.131

%inhibisi 48.0% 51.8% 52.9% 58.3% 62.8%

Tabel 3. Tabel hasil absorbansi dan % Inhinibisi sampel Maserasi

Keterangan: maks = 528 nm

19

Sampel Absorban 1 ppm 2 ppm 4 ppm 6 ppm 8 ppm Keterangan: maks = 519 nm

Ulangan pertama 0.319 0.235 0.192 0.183 0.142 0.129

Ulangan kedua 0.415 0.204 0.188 0.181 0.146 0.136

Rata-rata 0.367 0.2195 0.19 0.182 0.144 0.1325

%inhibisi 40.2 48.2 50.4 60.8 63.9

Tabel 4. Tabel hasil absorbansi dan % Inhinibisi sampel Fraksinasi

Uji Antioksidan Hasil Maserasi dengan Metanol


80 %inhibisi 60 40 20 0 0 2 4 6 Series1 Linear (Series1) y = 3.628x + 49.24 R = 0.946

konsentrasi (ppm)

Uji Antioksidan Hasil Fraksinasi dengan Kloroform


80 %inhibisi 60 40 20 0 0 5 konsentrasi (ppm) 10 Series1 Linear (Series1) y = 3.281x + 38.87 R = 0.945

Gambar 10. Kurva hubungan antara Konsentrasi dengan %Inhibisi

Dari nilai yang telah didapat, dapat dihitung nilai IC50 dari kedua sampel. Setelah dilakukan perhitungan didapatkan Nilai IC50 dari hasil maserasi adalah sebesar 0.2 ppm dan nilai IC50 sampel hasil Fraksinasi adalah 3.39 ppm. Hal ini menunjukan bahwa aktifitas dari senyawa yang didapat dari ekstraksi dengan metode maserasi lebih baik dari pada sampel dengan metode fraksinasi karena memiliki nilai IC 50 20

yang lebih rendah. Suatu zat dapat memiliki sifat antioksidan apabila memiliki nilai IC 50 lebih rendah daripada 200 ppm (Molyneux, 2004). Zat yang memiliki aktifitas antioksidan yangtinggi akan memiliki nilai IC50 (Inhibition Concentration) atau EC50 (Efficient Concentration) yang rendah (Brand-Williams, 1995). Senyawa yang berperan didalam aktifitas antioksidan dalam sampel kulit batang srikaya ini adalah polifenol. Seperti yang telah teridentifikasi didalam uji fitokimia, sampel kulit batang srikaya ini mengandung senyawa tannin yang termasuk kedalam senyawa polifenol. Struktur dasar polifenol adalah sebagai berikut:

Gambar 11. Struktur dasar Polifenol

Senyawa polifenol ini dapat menstabilkan senyawa radikal bebas dengan cara melengkapi kekurangan electron yang dimiliki radikal bebas. Didalam reaksi yang terjadi, apabila gugus hidroksil bertemu dengan senyawa radikal maka gugus OH akan terpecah dengan lepasnya ion H+, selanjutnya atom hydrogen akan ditangkap oleh senyawa radikal bebas yang akan membuat senyawa itu stabil. Mekanisme kerja dari reaksi penstabilan berlangsung sebagai berikut:

Gambar 12. Reaksi antara gugus hidroksil dengan senyawa Radikal Bebas

Reaksi yang tang terjadi antara DPPH dan senyawa tannin dapat digambarkan sebagai berikut:

Gambar 13. Reaksi antara tanin dan DPPH

21

BAB V KESIMPULAN

Menurut uji kandungan fitokimianya, kulit batang srikaya mengandung senyawa Steroid, Kuinon dan Tanin. Selain itu kulit batang srikaya juga mengandung senyawa antioksidan. Senyawa yang berperan didalam aktifitas antioksidan dalam sampel kulit batang srikaya ini adalah polifenol. Suatu zat dapat memiliki sifat antioksidan apabila memiliki nilai IC50 lebih rendah daripada 200 ppm. Nilai IC50 dari hasil maserasi adalah sebesar 0.2 ppm dan nilai IC50 sampel hasil Fraksinasi adalah 3.39 ppm. Hal ini menunjukan bahwa aktifitas dari senyawa yang didapat dari ekstraksi dengan metode maserasi lebih baik dari pada sampel dengan metode fraksinasi.

22

DAFTAR PUSTAKA

Al-Muttaqii, Muhammad. 2013. Uji Antioksidan Fraksi Etil Asetat Kulit Batang Manggis Liar (Garcinia cymosa). Fakultas Keguuan dan Ilmu Kependidikan Universitas Jambi.

DJAJANEGARA, IRA dan PRIO WAHYUDI. 2009. Pemakaian Sel HeLa dalam Uji Sitotoksisitas Fraksi Kloroform dan Etanol Ekstrak Daun (Annona squamosa). P3 Teknologi Bioindustri BPPT, Jakarta.

Diastuti, Hartiwi dan Suwandri. 2009. FRAKSINASI DAN IDENTIFIKASI SENYAWA ANTIKANKER EKSTRAK KULIT BATANG Rhizopora mucronata SERTA UJI TOKSISITASNYA TERHADAP LARVA UDANG (Artemia salina Leach). Fakultas Sains dan Teknik, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto.

Fidrianny, Irda ,dkk. 2003. Efek Antihipertensi dan Hipotensi beberapa Fraksi dari Ekstrak Etanol Umbi Lapis Kucai (Allium schoenoprasum L., Lliliaceae). Departemen Farmasi, Institut Teknologi Bandung

Hagerman, Ann E. 2011. The Tannin Handbook. http://www.users.muohio.edu/hagermae/. Diakses pada tanggal 19 Oktober 2013 pada pukul 21:26 WIB.

Leopoldini, Monica dan Nino Russo. 2011. The molecular basis of working mechanism of natural polyphenolic antioxidants. review. Elsevier journal of Food Chemistry.

http://www.sciencedirect.com/science/article/pii/S0308814610009982#gr6. Diakses pada tanggal 19 Oktober 2013 pada pukul 21:23 WIB.

Marlinda, Mira. 2012. Analisis Senyawa Metabolit Sekunder dan Uji Toksisitas Ekstrak Etanol Biji Buah Alpukat (Persea americana Mill.). Unsrat, Manado

Miranti, Mira. 2004. Ekstraksi dan Praksinasi Komponen Antiagregasi Platelet dari Daun Kedondong (Spondias acida Blume). Tesis. Institut Pertanian Bogor.

23

Pambayun, Rindit . dkk. 2007. Kandungan fenol dan sifat antibakteri dari berbagai jenis ekstrak produk gambir (Uncaria gambir Roxb). Universitas Sriwijaya Palembang

Purwaningsih, Yuliana dan Taslim Ersam. 2007. Senyawa Santon Sebagai Antioksidan dari Kayu Batang Garcinia tetranda Pierre. Jurusan Kimia, Institut Teknologi Sepuluh Nopember, Surabaya.

Purwati dan Undri Rastuti. 2009. SKRINING SENYAWA METABOLIT SEKUNDER DAN UJI AKTIVITAS ANTIOKSIDAN EKSTRAK ETILASETAT DAUN WEDUSAN (Eupatorium odoratum). Fakultas Sains dan Teknik UNSOED

Rohman, Abdul dan Sugeng Riyanto. 2005. Daya antioksidan ekstrak etanol Daun Kemuning (Murraya paniculata (L) Jack) secara in vitro. Fakultas Farmasi Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.

Tensiska. Dkk.

2007. PENGARUH JENIS PELARUT TERHADAP AKTIVITAS ANTIOKSIDAN

EKSTRAK KASAR ISOFLAVON DARI AMPAS TAHU. Universitas Padjadjaran- Sumedang

Setyowati, Erna Prawita.dkk. 2007. Isolasi senyawa sitotoksik spons Kaliapsis. Universitas Gadjah Mada Yogyakarta

Sihombing, Christina Noventy. Dkk. FORMULASI GEL ANTIOKSIDAN EKSTRAKBUAH BUNCIS (Phaseolus vulgaris L.) DENGAN MENGGUNAKAN BASIS AQUPEC 505 HV. Universitas Padjadjaran- Sumedang

SIMANJUNTAK, MEGAWATI R. 2008. SENDUDUK (Melastoma malabathricum.L) SERTA PENGUJIAN EFEK SEDIAAN KRIM TERHADAP PENYEMBUHAN LUKA BAKAR. Skripsi. Universitas Sumatera Utara, Medan.

Sulistyani, Nanik . 2009. Aktivitas antiviral ekstrak etanolik biji srikaya (Annona squamosa L.) terhadap virus newcastle disease pada telur ayam berembrio. Universitas Ahmad Dahlan

Sunarni, Titik. 2007. Flavonoid antioksidan penangkap radikal dari daun kepel (Stelechocarpus burahol (Bl.) Hook f. & Th.). Universitas Setia Budi, Surakarta

24

Wahdaningsih, Sri. Dkk. 2013. ISOLASI DAN IDENTIFIKASI SENYAWA ANTIOKSIDAN DARI BATANG PAKIS (ALSOPHILA GLAUCA J.SM) DENGAN METODE DPPH (2,2-DIFENIL-1 PIKRILHIDRAZIL. Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta

Wijayanti, Wahyu Agustina. Dkk. MINYAK ATSIRI DARI KULIT BATANG Cinnamomum burmannii (KAYU MANIS) DARI FAMILI LAURACEAE SEBAGAI INSEKTISIDA ALAMI, ANTI BAKTERI, DANANTIOKSIDAN. Institut Teknologi Sepuluh Nopember

MARDISADORA, OLGA. IDENTIFIKASI DAN POTENSI ANTIOKSIDAN FLAVONOID KULIT KAYU MAHONI ( Swietenia macrophylla King). Skripsi. INSTITUT PERTANIAN BOGOR, BOGOR

WINDARWATI, SRI. 2011. PEMANFAATAN FRAKSI AKTIF EKSTRAK TANAMAN JARAK PAGAR (Jatropha curcas Linn.) SEBAGAI ZAT ANTIMIKROBA DAN ANTIOKSIDAN DALAM SEDIAAN KOSMETIK. Tesis. SEKOLAH PASCASARJANA INSTITUT PERTANIAN BOGOR, BOGOR

Zuhra, Cut Fatimah. Dkk. AKTIVITAS ANTIOKSIDAN SENYAWA FLAVONOID DARI DAUN KATUK (Sauropus androgunus (L) Merr.). Universitas Sumatera Utara, Medan.

25

Anda mungkin juga menyukai