Anda di halaman 1dari 5

Sediaan Obat Padat Tablet dan Pil Andreas Kurniawan 1106052940 Kelompok 1

Abstraksi Sediaan obat merupakan salah satu bentuk untuk mengkemas obat sehingga mudah digunakan dan memberikan efek yang dikehendaki di dalam tubuh. Sediaan obat terbagi menjadi 3 berdasarkan bentuknya yaitu padat, setengah padat dan cair. Tablet dan pil merupakan salah satu jenis sediaan obat padat. Tablet dan pil terdiri atas dua bahan yaitu bahan obat dan bahan penambah atau eksipien. Bahan eksipien digunakan untuk memenuhi standar dan meningkatkan kualitas serta kemampuan obat seperti bahan pengisi, bahan pemecah, bahan penabur, dan bahan penyalut. Bahan-bahan tersebut mempunyai fungsi tertentu sesuai dengan efek yang di kehendaki. Kata Kunci : tablet, pil, eksipien, bahan obat

Bentuk Sediaan Obat Padat Bentuk sediaan obat atau BSO terbagi menjadi 3 jenis yaitu padat, setengah padat, dan cair. Bentuk sediaan obat padat antara lain seperti serbuk atau powder (pulvis dan pulveres), granul, tablet, pil, dan kapsul. Bentuk sediaan cair seperti potiones, elixir, sirup, guttae (drop atau obat tetes), injeksi, dll. Bentuk sediaan setengah padat biasanya krim, gel, pasta, dan salep.

1. Tablet Tablet merupakan bahan obat dalam bentuk sediaan padat yang biasanya dibuat dengan penambahan bahan tambahan yang sesuai. Tablet dapat berbeda-beda dalam ukuran, bentuk, berat, kekerasan, ketebalan, daya hancurnya, dan dalam aspek lainya tergantung pada cara pemakaian dan metode pembuatan tablet tersebut. Kebanyakan tablet digunakan pada pemberian obat secara oral. 1.1 Jenis-jenis Tablet Macam-macam jenis tablet berikut ini: 1. Tablet Kompresi, yaitu tablet kompresi yang dibuat dengan mencetak pada punch dan die dengan sekali tekanan menjadi berbagai bentuk tablet dan ukuran, biasanya ke dalam bahan obatnya, diberi tambahan sejumlah bahan pembantu antara lain: a. Pengenceran atau pengisi yang ditambahkan jika perlu ke dalam formulasi supaya membentuk ukuran tablet yang diinginkan. b. Pengikat atau perekat, yang membantu pelekatan partikel dalam formulasi, memungkinkan granul dibuat dan dijaga keterpaduan hasil akhir tabletnya. c. Penghancur atau bahan yang dapat membantu penghancuran, akan membantu memecah atau menghancurkan tablet setelah pemberian sampai menjadi partikelpartikel yang lebih kecil, sehingga lebih mudah diabsorpsi. d. Antirekat pelincir atau zat pelincir yaitu zat yang meningkatkan aliran bahan memasuki cetakan tablet dan mencegah melekatnya bahan ini pada punch dan die serta membuat tablet-tablet menjadi bagus dan berkilat. e. Bahan tambahan lain seperti zat warna dan zat pemberi rasa. 2. Tablet Kompresi Ganda, yaitu tablet kompresi berlapis, dalam pembuatannya memerlukan lebih dari satu kali tekanan. Tablet berlapis dibuat dengan cara memasukkan satu campuran obat ke dalam cetakan dan ditekan, demikian pula campuran obat sebagai lapisan berikutnya dimasukkan ke dalam cetakan yang sama dan ditekan lagi, untuk membentuk dua atau tiga lapisan tergantung pada jumlah obat yang ditambahkan secara terpisah dalam satu tablet berlapis.

1.2 Cara Penggunaan Tablet Cara penggunaan tablet dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut: 1. Tablet Oral a) Tablet biasa yaitu tablet yang dicetak, tidak disalut diabsorpsi disaluran cerna dan pelepasan obatnya cepat untuk segera memberikan efek terapi. Contoh: tablet parasetamol b) Tablet Kunyah, dikunyah dulu baru ditelan. Contoh: Antasida. 2. Tablet penggunaannya melalui rongga mulut a) Tablet Bukal, disisipkan diantara gusi dan pipi. Contoh: Tablet Progesteron b) Tablet Sublingual, diletakkan dibawah lidah. Tablet ini cepat melarut dan bahan obatnya cepat diabsorpsi. Contoh: Tablet Isosorbit dinitrat c) Tablet Hisap = Troches = LozengsTablet dihisap dan obatnya terlarut sedikit demi sedikit dan diserap di rongga mulut. Contoh: Antiseptika dan Local anestesi. 3. Tablet penggunaannya di bawah kulit a) Tablet Implantasi, ditanamkan didalam jaringan di bawah kulit. Tujuannya untuk pemakaian tempo lama. Contoh: Tablet Hormon KB b) Tablet Hipodermik, tablet ini sebelum digunakan dilarutkan dulu dalam pelarutnya.Contoh: Atropin Sulfat 4. Tablet Everfessen, tablet ini dilarutkan dulu dalam air kemudian diminum. Contoh: Tablet Ca Sandoz 5. Tablet Vagina, pemakaiannya melalui vagina. Bentuknya pipih oval ujungnya lebih kecil. Tablet ini mengandung antibiotika dan antibakteri.

1.3 Bahan Penambah Pada pembuatan tablet, bahan-bahan aditif yang ditambahkan antara lain : Zat pengisi untuk memperbesar volume tablet. Misalnya : saccharum Lactis, Amylum Manihot, Calcii Phoshas, Calcii Carbonas dan zat lain yang cocok. Zat pengikat, berfungsi agar tablet tidak pecah atau retak, dapat merekat. Biasanya digunakan mucilage Gummi Arabici 10-20 % (panas), Solution Methylcelloeum 5 % Zat pemecah, berfungsi agar tablet dapat hancur dalam perut. Biasanya digunakan : Amylum Manihot kering, Gelatinum, Agar- agar, Natrium Alginat Zat pelicin, Dimaksudkan agar tablet tidak lekat pada cetakan. Biasanya digunakan Talcum 5 %, Magnesii Streras, Acidum Strearicum Zat Penyalut atau coating berfungsi untuk menghilangkan rasa atau bau dari bahanobat, melindungi obat. Zat yang digunakan antara lain : a. Sugar coating : digunakan untuk menutupi rasa dan bau yang tidak enak serta melindungi zat yang berkhasiat agar tidak mudah rusak b. Film coated : lapisan sekaput tipis film untuk melindungi obat terhadap kelembaban selama penyimpanan juga untuk menutupi rasa dan bau yang tidak enak. c. Enteric coated : zat yang melapisi berfungsi agar obat tidak hancur dalam asam lambung namun hancur dan larut dalam usus halus. Tujuannya antara lain agar : Obat tidak mengiritasi lambung. Menghindari dekomposisi dan pengrusakan obat oleh enzim pencernaan. Obat dapat bekerja ditempat yang dikehendaki (usus). Mencegah netralisasi asam lambung.

1.4 Kelebihan dan Kekurangan Kelebihan jenis obat tablet adalah : a. b. c. d. Berupa unit dose system Praktis (mudah dibawa dan disimpan) Mudah memberikan bahan khasiatnya sehingga memberikan efek terapi yang diinginkan. Stabil secara kimia dan fisika selama penyimpanan, transportasi dan terkendali (yaitu tetap utuh dan tidak pecah atau cacat bentuknya sampai waktu pemakaian. e. Tidak mengandung bahan penambah yang tidak diperlukan atau berlebihan. f. Usia obat yang lebih panjang dibanding jenis sediaan lain Kekurangan jenis obat tablet adalah: a. Menyulitkan terapi individual b. Sasaran kadar obat dalam plasma lebih sulit tercapai 2. Pil Pil atau Pillula Suatu sediaan yang bulat (biasanya berbentuk bola kecil) mengandung satu atau lebih bahan obat terdiri dari remedia dan bahan tambahan. Bahan tambahan mempunyai lima komponen antara lain : zat pengisi, zat pengikat, zat pembasah, zat penabur dan zat penyalut. Pillula bentuknya kecil, bulat dan juga dapat berupa oval berisi 100-300mg. Penampangnya kurang dari 5mm. 2.1 Jenis Sediaan Pil Macam-macam jenis pil menurut beratnya: a. b. c. d. Bolus : pil dengan massa > 300 mg Pil : 60-300 mg Granul : 1/3 1 grain (1 grain =64,8 mg) Parvul : 1/3 grain

2.2 Formula sediaan pil Syarat sediaan pil yang baik : a. Homogen (ukuran, bentuk, warna, dosis) b. Mempunyai kekenyalan, daya rekat, dan kekerasan tertentu c. Mempunyai waktu hancur tertentu. Pil secara umum terdiri dari bahan obat dan bahan tambahan. Bahan obat biasanya berwujud padat, setengah padat ataupun cair. Sementara bahan tambahan seperti bahan pengisi,pengikat, pembasah, penabur, pemecah, dan penyalut (coating). Bahan Pengisi

Bahan pengisi berfungsi memperbesar massa pil seperti liquritiae radix, saccharum album, dan bolus alba. Bahan pengisi dipakai apabila jumlah bahan obat yang dipakai terlau kecil untuk dibuat sebagai pil. Bahan Pengikat

Bahan pengikat berfungsi untuk jenis bahan obat yang tidak dapat bercampur atau non kohesif. Jenis yang dipakai antara lain : a. b. c. d. Succus liquiritiae Succus dan Sacch. album aa Gliserin cum tragacantha Adeps lanae atau vaselin album Bahan Pembasah

Bahan pembasah seperti air, aqua gliserinaat, madu, adeps lanae Bahan Pemecah

Pil dengan bahan pengikat adeps lance atau vas album sulit dipecah atau larut dalam lambung sehingga ditambahakan zat pemecah seperti NaHCO3 Bahan Penabur

Berfungsi agar pil tidak lengket dengan kemasan atau dengan pil lainnya. Bahan yang ditambahkan seperti likopodium, talk, amylum oryzae, MgCO3, Liquiritiae radix. Bahan Penyalut (coating)

Berfungsi untuk menjaga stabilitas bahan obat dan menutupi rasa atau bau dari bahan obat yang tidak enak. Selain itu bahan penyalut juga berfungsi memperbaiki bentuk pil serta untuk jenis tertentu mencegah pil pecah atau larut di lambung. Jenis-jenis bahan penyalut a. Penyalut gula: Sacch. Album b. Penyalut selaput : CMC-Na, Balsamum tolutanum, PEG, Carbowax 6000, Perak c. Penyalut enterik : salol, schellak, C.A.P 2.3 Kelebihan dan Kekurangan Kelebihan pil: a. b. c. d. Mudah digunakan atau di telan. Rasa obat dapat ditutupi dengan zat penyalut (coating). Lebih stabil. Baik untuk sediaan yang penyerapannya dikehendaki secara lambat.

Kekurangan Pil a. b. c. d. Tidak dapat digunakan pada obat yang dikehendaki bereaksi cepat. Bahan Obat padat/serbuk yang voluminous dan Bahan Obat cair dalam jumlah besar Penyimpanan lama sering menjadi keras Ada kemungkinan ditumbuhi jamur (dapat diatasi dengan bahan pengawet)

Kesimpulan Sediaan obat terbagi menjadi 3 berdasarkan bentuknya padat, setengah padat dan cair, Tablet dan pil merupakan jenis sediaan padat yang pengunaannya sebagai jenis obat oral atau minum. Secara umum bahan penyususn tablet dan pil terbagi menajadi dua yaitu bahan obat (zat kimia aktif) dan bahan penambah atau eksipien. Bahan obat merupakan zat kimia aktif atau zat yang berfungsi utama untuk menyembuhkan penyakit. Sementara bahan eksipien adalah bahan-bahan yang ditambahkan kedalam bahan obat untuk menigkatkan kualitas serta fungsi obat dan memenuhi standar yang tersedia. Bahan-bahan eksipien secara umum terbagi atas bahan pengisi, pengikat, pemecah, penabur, dan penyalut. Kelebihan dari sediaan tablet dan pil adalah mampu bertahan dalam waktu yang cukup panjang, bersifat stabil, praktis, mudah digunakan, dan rasa atau bau bahan obat dapat dihilangkan.

Daftar Pustaka

Ditjen POM Depkes RI, "Farmakope Indonesia", ed. IV, Departemen Kesehatan RI, Jakarta, 1995, hlm. 1024. Loke, E. and Wee A. (Eds.), "Indonesia Index of Medical Specialities", MIMS Asia, Wanchai, Hongkong, 1996. Reynolds, J.E.F. (Ed.), "Martindale The Extra Pharmacopoeia", 29th ed., The Pharmaceutical Press, London, 1989, p. 12.

Anda mungkin juga menyukai