Anda di halaman 1dari 17

LAPORAN PENDAHULUAN ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN TRAUMA MEDULA SPINALIS A. KONSEP DASAR PENYAKIT I.

Definisi Tulang belakang (vertebrae) adalah tulang yang memanjang dari leher sampai ke selangkangan. Tulang vertebrae terdiri dari 33 tulang, antara lain : 7 buah tulang servikal, 12 buah tulang torakal, lumbal, membentuk buah tulang sa!ral. "iskus intervertebrale tulang buah tulang merupakan dan

penghubung antara dua korpus vertebrae. #istem otot ligamentum jajaran barisan (aligment) belakang memungkinkan mobilitas vertebrae. "i dalam susunan tulang tersebut terangkai pula rangkaian syara$%syara$, yang bila terjadi !edera di tulang belakang maka akan mempengaruhi syara$%syara$ tersebut (&ansjoer, 'ri$, 2(((). Trauma medula spinalis adalah trauma yang terjadi pada jaringan medulla spinalis yang dapat menyebabkan $raktur atau pergeseran satu atau lebih tulang vertebra atau kerusakan jaringan medulla spinalis lainnya termasuk akar%akar sara$ yang berada sepanjang medulla spinalis sehingga mengakibatkan de$isit neurologi. ()ynda *uall dan +arpenito, 2((7). Trauma medula spinalis adalah kehilangan sensasi $ungsi motorik volunteer total dan tidak komplet,!ampuran kehilangan sensasi dan $ungsi motorik volunteer (&aryilynn -."oenges, 1...). &enurut /runner 0 #uddarth (2((1) Trauma medula spinalis adalah suatu kerusakan $ungsi neurologis yang disebabkan oleh benturan pada daerah medulla spinalis. II. Epidemiologi #etiap tahun di 'merika #erikat, sekitar 7.1(( sampai 1(.((( individu mengalami !edera medula spinalis. #ampai tahun 1..., diperkirakan 2(3.((( orang yang hidup dengan ada sebanyak 123.((( sampai

!edera medula spinalis di negara tersebut, kira%kira 1(.((( orang meninggal karena komplikasi yang berhubungan dengan trauma medula spinalis. 3asus baru trauma medula spinalis terjadi sekitar 1 % ( per

sejuta penduduk, sementara angka prevalensi sekitar .(( per sejuta. Trauma medula spinalis 2(4 terjadi pada pria usia sekitar 1 %3( tahun /ila dibandingkan dengan negara maju, insiden trauma medula spinalis lebih tinggi di negara yang sedang berkembang. 5enyebab trauma medula spinalis di negara berkembang bervariasi dari satu negara ke negara lain. 3e!elakaan lalu lintas men!akup sebesar 6.4 penyebab trauma medula spinalis di 7igeria, 62,24 di Turki dan 3(4 di Tai8an. *atuh dari ketinggian me8akili penyebab trauma medula spinalis lainnya dengan angka sebesar 31, 4 di Turki dan 21,24 di *ordania. "i /angladesh, penyebab trauma medula spinalis yang paling sering adalah jatuh saat memba8a beban berat di kepala dan ke!elakaan lalu lintas. 5enyebab lainnya yaitu luka tembak (antara 1,.4 dan 2.,34 di Turki), luka tusuk (antara 1,324 dan 3,334 di Turki, 2 ,24 di *ordania) dan ke!elakaan saat menyelam. "i 9ndonesia, menurut 5rihardadi dan 5rijambodo (1..(), trauma tulang belakang yang masuk di :#;" "r. #oetomo rata%rata 111 kasus per tahun. #ejak tahun 1.23%1..7 terdapat 1 .2 kasus yang dira8at di :#;" "r. #oetomo #urabaya. III. Etiologi Trauma medula spinalis terjadi akibat patah tulang belakang dan terbanyak mengenai daerah servikal dan lumbal.!edera terjadi akibat hiper$leksi, struktur medula hiperekstensi, <raktur dapat kompressi, dapat berupa berupa atau patah rotasi tulang tulang belakang.didaerah torakal tidak banyak terjadi karena terlindung dengan thoraks. spinalis sederhana, pada kerusakan dapat kompressi, kominuti$, dan dislokasi, sedangkan memar, pada kerusakan

!ontusio,

melintang, laserasi dengan atau tanpa gangguan peredaran darah, atau perdarahan. 3elainan sekunder medula spinalis disebabkan hipoksemia dan iskemia. 9skemia disebabkan hipotensi, oedema, atau kompressi. 5enyebab dari !idera medulla spinalis yaitu : 3e!elakaan lalulintas, ke!elakaan dapat menyebabkan benturan yang hebat pada pada tulang belakang sehingga menyebabkan !edera pada medulla spinalis.

=lahraga,

dimana

olahraga

yang

ekstrim

dapat

menyebabkan

trauma pada tulang belakang serta olahraga yang memilki keamaan pada saat melakukan olahraga 3riminalitas, pada kasus kriminal seperti penusukan yang dilakukan pada daaerah punggung atau memukul punggung dapat

menyebabkan trauma pada tulang punggung yang se!ara otomatis dapat menjadi trauma spinalis. Tumor, tumor dapat menyebabkana trauma medulla spinalis dimana tumor mendesak medulla spinalis sehingga dapat menyebabkan trauma spinalis. Terjatuh dan dijatuhi benda keras, jatuh pada posisi duduk atau kepala jatuh terlebih dahulu dapat menyebabkan trauma pada medulla spinalis, dijatuhi benda keras juga dapat menyebabkan trauma medulla spinalis. &enurut #ylvia '. 5ri!e 0 )orainne &. >ilson (2((3), &edula spinalis dapat rusak melalui 6 mekanisme berikut : 3ompresi oleh tulang, ligamentum, herniasi diskus intervertebralis dan hematom. ?ang paling berat adalah kerusakan akibat kompresi tulang dan kompresi oleh korpus vertebra yang mengalami dislokasi tulang dan kompresi oleh korpus vertebra yang mengalami dislokasi ke posterior dan trauma hiperekstensi. 3ompresi medula spinalis dapat terjadi akibat dislokasi vertebra maupun perdarahan. :egangan jaringan yang berlebihan akan menyebabkan gangguan pada jaringan, hal ini biasanya terjadi pada hiper$leksi. Toleransi medula spinalis terhadap regangan akan menurun dengan bertambahnya usia. /eban $leksi, ekstensi, dan rotasi bersama dengan kelemahan relative sendi%sendi vertebra, menyebabkan $raktur dan dislokasi paling sering terjadi pada titik pertemuan antara bagian kolumna vertebralis yang relative selalu bergerak (mobile) dengan ruas yang relati$e ter$iksasi, yaitu antara daerah servikal ba8ah dan sgmen torakal atas, antara segmen torakal bagian ba8ah dan sa!rum. -dema medula spinalis yang timbul segera setelah trauma

menyebabkan gangguan aliran darah kapiler dan vena.

I .

P!tofisiologi Trauma spinal !ord terjadi akibat patah tulang belakang, dan kasus terbanyak trauma spinal !ord mengenai daerah servikal dan lumbal. Trauma dapat terjadi akibat hiper$leksi, hiperekstensi, kompresi atau rotasi pada tulang belakang. <raktur pada !edera spinal !ord dapat berupa patah tulang sederhana, kompresi, kominuti$, dan dislokasi. #edangkan kerusakan pada !edera spinal !ord dapat berupa memar, kontusio, kerusakan melintang laserasi dengan atau tanpa gangguan peredaran darah, dan perdarahan. 3erusakan ini akan memblok syara$ parasimpatis untuk melepaskan mediator kimia, kelumpuhan otot pernapasan, sehingga mengakibatkan respon nyeri hebat dan akut anestesi. 9skemia dan hipoksemia syok spinal, gangguan $ungsi rektum serta kandung kemih. Temuan $isik pada spinal !ord injury sangat bergantung pada lokasi yang terkena : jika terjadi !edera pada +%1 sampai +%3 pasien akan

mengalami tetraplegia dengan kehilangan $ungsi pernapasan atau sistem muskular total, jika !edera mengenai sara$ +%6 dan +% akan terjaditetraplegia

dengan kerusakan, menurunnya kapasitas paru, ketergantungan total terhadap aktivitas sehari%hari,

jika terjadi !edera pada +%1 dan +%7 pasien akan mengalami tetraplegia dengan beberapa gerakan lengan atau tangan yang memungkinkan untuk melakukan sebagian aktivitas sehari%hari,

jika terjadi kerusakan pada spinal +%7 sampai T%1 seseorang akan mengalami tetraplegia dengan keterbatasan menggunakan jari

tangan, meningkat kemandiriannya, pada T%2 sampai )%1 akan terjadi paraplegia dengan $ungsi tangan dan berbagai $ungsi dari otot interkostal dan abdomen masih baik, jika terjadi !edera pada )%1 dan )%2 atau diba8ahnya, maka orang tersebut akan kehilangan $ungsi motorik dan sensorik, kehilangan $ungsi de$ekasi dan berkemih.

Kl!sifi"!si 3lasi$ikasi +edera medula spinalis berdasarkan penyebabnya dapat dibagi menjadi dua jenis: #ede$! med%l! spin!lis t$!%m!ti" +edera medula spinalis traumatik, terjadi ketika benturan $isik eksternal seperti yang diakibatkan oleh ke!elakaan kendaraan bermotor, jatuh atau kekerasan, merusak medula spinalis. +edera medula spinalis traumatik sebagai lesi traumatik pada medula spinalis dengan beragam de$isit motorik dan sensorik atau paralisis. #esuai dengan 'meri!an /oard o$ 5hysi!al &edi!ine and :ehabilitation -@amination =utline $or #pinal +ord 9njury &edi!ine, !edera medula spinalis traumatik men!akup $raktur, dislokasi dan kontusio dari kolum vertebra. #ede$! med%l! spin!lis non t$!%m!ti" +edera medula spinalis non traumatik, terjadi ketika kondisi

kesehatan seperti penyakit, in$eksi atau tumor mengakibatkan kerusakan pada medula spinalis, atau kerusakan yang terjadi pada medula spinalis yang bukan disebabkan oleh gaya $isik eksternal. <aktor penyebab dari !edera medula spinalis men!akup penyakit motor neuron, myelopati spondilotik, penyakit in$eksius dan in$lamatori, penyakit neoplastik, penyakit vaskuler, kondisi toksik dan metabolik dan gangguan kongenital dan perkembangan. 'da 2 jenis grading pada !edera medula spinalis, yaitu klasi$ikasi <rankel yang biasa digunakan oleh bagian orthopaedi dan klasi$ikasi '#9' ('meri!an #pinal 9njury 'sso!iation) yang di anut oleh bagian bedah sara$. "erajat keparahan !edera medula spinalis dapat dibagi menjadi beberapa grade menurut <rankel, yaitu : <rankel ' : kehilangan $ungsi motorik dan sensorik <rankel / : ada $ungsi sensorik, motorik tidak ada <rankel + : $ungsi motorik ada tetapi tidak ber$ungsi <rankel " : $ungsi motorik ada tetapi tidak sempurna <rankel - : $ungsi sensorik dan motorik baik, hanya ada re$leks abnormal

/erikut adalah klasi$ikasi !edea medula spinalis oleh '#9'

menurut

5enurunan #kala (dimodi$ikasi dari klasi$ikasi <rankel), dengan menggunakan kategori berikut : &RADE ' / + " TIPE 3omplit 9nkomplit 9nkomplit 9nkomplit 7ormal &!ngg%!n Med%l! Spin!lis ASIA Tidak ada $ungsi motorik dan sensorik sampai #6%# <ungsi sensorik masih baik tapi motorik terganggu sampai segmen sa!ral #6%# <ungsi motorik terganggu di ba8ah level tapi otot%otot motorik utama masih punya kekuatan A 3 <ungsi motorik terganggu diba8ah level, otot%otot motorik utama punya kekuatan B 3 <ungsi motorik dan sensorik normal

I.

M!nifest!si Klinis 1. Trauma segmen servikalis +1 dan +2 menyebabkan ventilasi spontan tidak e$ekti$. +1 sampai + (dengan +3%+ menyebabkan respiratori paralisis dan Cuadriplegia

dis$ungsi kedua lengan, kedua kaki, de$ekasi, dan

berkemih ), dapat terjadi kerusakan nervus $renikus sehingga dapat

terjadi hilangnya inervasi otot perna$asan aksesori dan otot interkostal yang dapat menyebabkan komplien!e paru menurun. + %+7 dapat mempengaruhi inter!ostal, parasternal, s!alenus, otot%otot abdominal. + dan +1 dapat menyebabkan paralisis kaki, tangan, pergelangan, abduksi bahu dan $leksi siku yang lemah, kehilangan re$leks bra!hioradialis +7 dan +2 dapat menyebabkan paralisis kaki dan tangan.

2. Trauma pada segmen torakal T2 dan T1 dapat menyebabkan paralisis otot%otot kaki, hilangnya sensasi di ba8ah putting, dan gerakan normal pada bahu dan siku. T %T2 dapat menyebabkan kelumpuhan kaki dan bagaian yang lebih rendah dan hilangnya sensasi di ba8ah tulang rusuk

T1 dapat menyebabkan paraplegia (dis$ungsi ektrimitas ba8ah, de$ekasi, dan berkemih ) T.%T11 dapat menyebabkan kelumpuhan kaki dan hilangnya sensasi di ba8ah pusar

3. Trauma pada segmen lumbal )1%)2 dapat menyebakan mengakibatkan anaestesia perianal, gangguan $ungsi de$ekasi, miksi, impotensi serta hilangnya re$leks anal dan re$leks bulboka$ernosa. )1 dapat menyebabkan paraplegia (dis$ungsi ektrimitas ba8ah, de$ekasi, dan berkemih) 6. Trauma pada segmen sa!ral #2%#6 dapat menyebakan penurunan penis ereksi #2%#3 dapat menyebabkan gangguan berkemih dan de$ekasi #3%# dapat menyebabkan mati rasa pada perineum

II.

Peme$i"s!!n 'isi"

5emeriksaan pada sistem persara$an se!ara menyeluruh meliputi : tanda%tanda vital status mental, komunikasi dan bahasa, pengkajian sara$ kranial, respon motorik, dan respon sensorik. #e!ara umum dalam pemeriksaan pemeriksaan : Tanda%tanda vital meliputi : tekanan darah, nadi, suhu, laju pernapasan, nyeri #tatus mental : #tatus mental, termasuk kemampuan berkomunikasi dan berbahasa serta tingkat kesadaran dilakukan dengan $isik klien gangguan sistem persara$an, dilakukan

pemeriksaan Dlasgo8 +oma #!ale (D+#). <ungsi sensorik : Dejala paresthesia (keluhan sensorik) oleh klien digambarkan sebagai perasaan geli (tingling), mati rasa (numbless), rasa terbakarEpanas (burning), rasa dingin (!oldness) atau perasaan% perasaan abnormal yang lain. /ahkan tidak jarang keluhan motorik (kelemahan otot, t8it!hing E kedutan, miotonia, !ramp dan sebagainya) disajikan oleh klien sebagai keluhan sensorik. #istem &otorik : 5emeriksaan motorik dilakukan dengan !ara observasi dan pemeriksaan kekuatan diantaranya &assa otot, Tonus otot dan 3ekuatan otot 'kti$itas re$leks : 5emeriksaan akti$itas re$leks dengan ketukan pada tendon menggunakan re$leks hammer. :e$leks%re$leks yang diperiksa adalah : :e$leks patella, :e$leks bi!eps, :e$leks tri!eps, :e$leks '!hilles, :e$leks abdominal dan :e$leks /abinski III.Peme$i"s!!n Pen%n(!ng #T S#AN : 5emeriksaan ini dapat memberikan visualisasi yang baik komponen tulang servikal dan sangat membantu bila ada $raktur akut. 'kurasi 5emeriksaan +T berkisar antara 72 %.1 4 dalam mendeteksi adanya herniasi diskus. 'kurasi dapat men!apai .1 4 bila mengkombinasikan +T dengan myelogra$i. MRI : 5emeriksaan ini sudah menjadi metode imaging pilihan untuk daerah servikal . &:9 dapat mendeteksi kelainan ligamen maupun diskus. #eluruh daerah medula spinalis , radiks sara$ dan tulang vertebra dapat divisualisasikan. 7amun pada salah satu penelitian didapatkan adanya abnormalitas berupa herniasi diskus

pada sekitar 1( 4 subjek tanpa keluhan , sehingga hasil pemeriksaan ini tetap )EM&* harus : dihubungkan 5emeriksaan dengan -&D ri8ayat perjalanan penyakit , keluhan maupun pemeriksaan klinis. Ele"t$omiog$!fi membantu

mengetahui apakah suatu gangguan bersi$at neurogenik atau tidak, karena pasien dengan spasme otot, artritis juga mempunyai gejala yang sama. #elain itu juga untuk menentukan level dari iritasiEkompresi radiks, membedakan lesi radiks dan lesi sara$ peri$er, membedakan adanya iritasi atau kompresi.

+,R!- spin!l : menentukan lokasi dan jenis !edera tulang ($raktur ataudislokasi) Mielog$!fi untuk memperlihatkan kolumna spinalis (kanal

vertebral) jika $aktorpatologisnya tidak jelas atau di!urigai adannya dilusi pada ruang subarakhnoid medulla spinalis (biasanya tidak akan dilakukan setelahmengalami luka penetrasi). 'oto $ongent t.o$!" : mengetahui keadaan paru (!ontoh : perubahan padadia$ragma, atelektasis) Peme$i"s!!n f%ngsi p!$% (kapasitas vital, volume tidal) : mengukur volumeinspirasi maksimal khususnya pada pasien

dengan trauma servikat bagianba8ah atau pada trauma torakal dengan gangguan pada sara$ $renikus Eototinterkostal). A&D : menunjukkan kee$ekti$an pertukaran gas dan upaya ventilasi (&arilyn -. "oengoes, 1...) I+. Kompli"!si S-o" ne%$ogeni" #yok neurogenik merupakan hasil dari kerusakan jalur simpatik yang desending pada medulla spinalis. 3ondisi ini mengakibatkan kehilangan tonus vasomotor dan kehilangan persara$an simpatis pada jantung sehingga menyebabkan vasodilatasi pembuluh darah vis!eral serta ekstremitas ba8ah maka terjadi penumpukan darah dan konsekuensinya terjadi hipotensi. S-o" spin!l #yok spinal merupakan depresi tiba%tiba aktivitas pada medula spinalis di ba8ah tingkat !edera. "alam kondisi ini, otot%otot yang

dipersara$i oleh bagian segmen medula yang ada di ba8ah tingkat lesi menjadi paralisis komplet dan $laksid, dan re$leks%re$leks tidak ada. Tekanan darah turun dan bagian dari tubuh di ba8ah tingkat lesi medula paralisis dan tanpa sensasi. 3arena !edera pada servikal dan medula spinalis torakal atas, persara$an pada otot aksesori mayor perna$asan hilang dan terjadi masalah perna$asan: penurunan kapasitas vital, retensi sekresi, peningkatan parsial karbon dioksida (5+=2), penurunan g5=2, kegagalan pernapasan, dan edema pulmonal. :e$leks yang merangsang $ungsi berkemih dan de$ekasi dipengaruhi. "istensi usus dan ileus paralitik disebabkan oleh depresi re$leks yang dapat diatasi dengan dekompresi usus. 5asien tidak berkeringat pada bagian tubuh yang paralisis, karena aktivitas simpatis dihambat sehingga observasi ketat diperlukan untuk deteksi dini terhadap a8itan demam tiba%tiba.5ertahanan tubuh pasien disokong dan dipertahankan sampai syok spinal mereda dan sistem telah pulih dari traumatik (3 sampai 1 minggu). 5erhatian khusus juga harus diarahkan pada sistem pernapasan. 5asien mungkin tidak dapat men!iptakan tekanan intratorakal yang !ukup untuk batuk se!ara e$ekti$. Terapi $isik dada dan pengisapan dapat membantu dalam pembersihan sekresi pulmonal. T.$om/osis 0en! p$of%nd! Thrombosis vena pro$unda (TF5) adalah komplikasi umum dari imobilitas dan umumnya pada pasien !edera medula spinalis. 5asien 5FT beresiko mengalami embolisme pulmonal (-5), suatu komplikasi yang mengan!am hidup. &ani$estasi -5 meliputi nyeri dada pleuritis, !emas, napas pendek, dan nilai gas darah abnormal (peningkatan 5+=2) dan penurunan 5=2). 5engkajian pada paha dan betis dilakukan setiap hari. 5asien akan dievaluasi terhadap adanya TF5, jika hal itu terlihat signi$ikan meningkat di salah satu ekstermitas. Terapi antikoagulan dosis rendah biasanya dimulai untuk men!egah stoking elastis dari paha atas alat yang menekan pneumatik. Hipo0entil!si

Gal ini disebabkan karena paralisis otot interkostal yang merupakan hasil dari !edera yang mengenai medulla spinalis bagian di daerah servikal ba8ah atau torakal atas. Hipe$fle"si! !%tonomi1 "ikarakteristikkan oleh sakit kepala berdenyut , keringat banyak, kongesti nasal, bradikardi dan hipertensi. +. Pen!t!l!"s!n!!n Tind!"!n T.e$!p2. Pen!t!l!"s!n!!n "ed!$%$!t!n 5enatalaksanaan pasien segara di tempat kejadian adalah sangat penting, karena penatalaksanaan yang tidak tepat dapat menyebabkan kerusakan dan kehilangan $ungsi neurologi!. 3orban kek!elakaan bermotor atau berkendara , jatuh, olah raga atau traum langsung pada kepala dan leher dipertimbangkan mengalami !edera spinalis. "i tempat ke!elakaan, korban harus dimobilisasi pada papan spinal (punggung) dalam kepala dan leher dalam posisi netral, untuk men!egah !edera komplit Tangan ditempatkan pada kedua sisi dekat telinga untuk

mempertahankan traksi dan kesejajaran sementara papan spinal atau alat imobilisasi servikal dipasang. 5aling sedikit empat orang harus mengangakat dengan hati%hati keatas utuk memendahkan merusak kerumah sakit. 'danya geraka yang

memutar

atau

medulla

spinali

irreversible

menyebabkan $ragmen tulang vertebrata terputus patah atau memotong medulla spinalis. 5rioritas pengelolaan selalu mengikuti 5rimary #urvey serta urutan '/+"- : '%'ir8ay, membebaskan jalan na$as dengan melindungi tulang leher (!ervi!al spine) /%/reathing, bantuan perna$asan +%+ir!ulation, bantuan untuk sirkulasi dan pemantauan tekanan darah "%"isability, pemantauan kesadaran dan kerusakan syara$ pusat

-%-@posure, melepas baju lengkap semua kerusakan.

pasien untuk

memeriksa se!ara

3. T$!nspo$t!si p!sien 5asien harus selalu diperthankan dalam posisi ekstensi. Tidak ada bagian tubuh yang terpuntir atau tertekuk juga jangan biarkan pasien mengambil posisi duduk. *angan memindahkan E memba8a pasien dengan dugaan trauma tulang leher pada posisi duduk atau tengkurap. 5astikan dulu pasien dalam kondisi stabil sebelum transportasi. 4. Medi"!si 5enggunaan metil prednisolon <armakologi 5 &etilprednisolon merupakan kortikosteroid dengan kerja intermediate yang termasuk kategori adrenokortikoid, antiin$lamasi dan imunosupresan.

Ad$eno"o$ti"oid #ebagai adrenokortikoid, metilprednisolon berdi$usi mele8ati membran sel, dan membentuk dengan "7', komplek dan dengan reseptor rekaman sitoplasmik spesi$ik. 3omplek tersebut kemudian memasuki inti berikatan menstimulasi messenger :7' (m:7') dan selanjutnya sintesis protein dari berbagai enHim akan bertanggung ja8ab pada e$ek sistemik adrenokortikoid. /agaimanapun, obat ini dapat menekan perekaman m:7' di beberapa sel (!ontohnya: lim$osit).

Efe" &l%"o"o$ti"oid Anti,infl!m!si )ste$oid!l* Dlukokortikoid menurunkan atau men!egah respon jaringan terhadap proses in$lamasi, karena itu menurunkan gejala in$lamasi leukosit dan atau tanpa pada dipengaruhi lokasi penyebabnya. Dlukokortikoid juga menghambat akumulasi sel in$lamasi, termasuk makro$ag dan in$lamasi. beberapa yang e$eknya &etilprednisolon kimia menghambat $agositosis, pelepasan enHim lisosomal, sintesis pelepasan mekanisme kemungkinan mediator belum melalui in$lamasi. se!ara $aktor &eskipun lengkap, pasti diketahui blokade

penghambat

makro$ag

(&9<),

menghambat

lokalisasi

makro$ag : reduksi atau dilatasi permeabilitas kapiler yang terin$lamasi dan mengurangi lekatan leukosit pada endotelium kapiler, suatu menghambat inhibitor pembentukan edema dan migrasi asam leukosit, dan meningkatkan sintesis lipomodulin (macrocortin), $os$olipase '2%mediasi pelepasan arakhidonat dari membran $os$olipid, dan hambatan selanjutnya terhadap sintesis asam arakhidonat%mediator in$lamasi derivat (prostaglandin, tromboksan dan leukotrien). 3erja immunosupresan juga dapat mempengaruhi e$ek antiin$lamasi.

Imm%nos%p$es!n &ekanisme kerja immunosupresan belum dimengerti se!ara lengkap tetapi kemungkinan dengan pen!egahan atau penekanan sel mediasi (hipersensitivitas tertunda) reaksi imun seperti halnya tindakan yang lebih spesi$ik yang mempengaruhi respon imun, Dlukokortikoid mengurangi konsentrasi lim$osit timus (T%lim$osit), monosit, dan eosino$il. &etilprednisolon juga menurunkan ikatan immunoglobulin ke reseptor permukaan sel dan menghambat sintesis dan atau pelepasan interleukin, sehingga T%lim$osit blastogenesis menurun dan mengurangi perluasan respon immun primer. Dlukokortikoid juga dapat menurunkan lintasan kompleks immun melalui dasar membran, konsentrasi komponen pelengkap dan immunoglobulin.

"osis &etilprednisolon yaitu 3( mgEkg// se!ara bolus intravena, dilakukan pada saat kurang dari 2 jam setelah !edera. *ika terapi tersebut dapat dilakukan pada saat kurang dari 3 jam setelah !edera, terapi tersebut dilanjutkan dengan metilprednisolon intravena kontinu dengan dosis ,6 mgEkg//Ejam selama 23 jam

kemudian. *ika terapi bolus metilprednisolon dapat dikerjakan pada 8aktu antara 3 hingga 2 jam setelah !edera maka terapi tersebut dilanjutkan dengan metilprednisolon intravena kontinu dengan dosis ,6 mgEkg//Ejam selama 62 jam kemudian. Terapi ini e$ekti$ dimana terjadi peningkatan $ungsi sensorik dan motorik se!ara signi$ikan dalam 8aktu 1 minggu pada !edera parsial dan 1 bulan

pada !edera total. -$ek dari metilprednisolon ini kemungkinan berhubungan dengan e$ek inhibisi terhadap peroksidasi lipid dibandingkan e$ek glukokortikoid. 6. Tind!"!n Respi$!to$i /erikan oksigen untuk mempertahankan 5= arterial yang tinggi. Terapkan pera8atan yang sangat berhati%hati untuk

menghindari $leksi atau ekstensi leher bila diperlukan intubasi endotrakeal. 5ertimbangkan alat pa!u dia$ragma (stimulasi listrik sara$ $renikus) untuk pasien dengan lesi servikal yang tinggi. (/aughman 0 Ga!kley, 2((() 7. KONSEP DASAR ASUHAN KEPERAWATAN I. Peng"!(i!n IDENTITAS RIWAYAT KEPERAWATAN Kel%.!n %t!m! 5 5era8at memperoleh gambaran se!ara detail pada kondisi yang utama dialami klien. &emperoleh in$ormasi tentang perkembangan, tanda%tanda dan gejala%gejala : onset (mulainya), $aktor pen!etus dan lamanya. 5erlu menentukan kapan mulainya gejala tersebut serta perkembangannya. Ri8!-!t "ese.!t!n m!s! l!l% 5 &en!akup penyakit yang pernah dialami sebelumnya, penyakit in$eksi yang dialami pada masa kanak%kanak, pengobatan, periode perinatal, tumbuh kembang, ri8ayat keluarga, ri8ayat psikososial dan pola hidup. 5enyakit sara$ sering mempengaruhi kemampuan $ungsi%$ungsi tubuh. 5era8at perlu menanyakan perubahan tingkat kesadaran, nyeri kepala, kejang%kejang, pusing, vertigo, gerakan dan postur tubuh. M!s!l!. "ese.!t!n %t!m! d!n .ospit!lis!si 5 /erbagai penyakit yang berhubungan dengan perubahan akibat gangguan persara$an misalnya diabetes mellitus, anemia pernisiosa, kanker, berbagai penyakit in$eksi dan hipertensi.

5enyakit hati dan ginjal yang menahun akan mengakibatkan gangguan metabolisme misalnya gangguan keseimbangan !airan elektrolit dan asam basa akan mempengaruhi $ungsi mental. 5era8at juga akan memperoleh in$ormasi mengapa klien dira8at di rumah sakit, ke!elakaan atau pembedahan sehubungan dengan sistem persara$an seperti trauma kepala, kejang, stroke atau luka akibat ke!elakaan. Ri8!-!t Pengo/!t!n 5 5era8at akan memperoleh in$ormasi sehubungan dengan obat%obatan yang diperoleh klien. /anyak obat%obat anti alergi dan pilek yang bisa dikomsumsi dapat mengakibatkan klien mengantuk. 5era8at harus mengkaji obat yang digunakan, jenis obat, e$ek terapinya, e$ek samping yang ditimbulkan dan lamanya digunakan. Ri8!-!t "el%!$g! 5 5era8at akan menanyakan pada keluarga sehubungan dengan gangguan persara$an guna menentukan $aktor%$aktor resiko E genetik yang ada. &isalnya epilepsi, hipertensi, stroke, retardasi mental dan gangguan psikiatri. PEN&KA9IAN &ORDON 5 G-')TG 5-:+-5T9=7 I G-')TG &'7'D-&-7T : :i8ayat ganguan neurologik, terjatuhEtrauma, atau pembedahan, pernah mengalami masalah%masalah yang berhubungan dengan kemampuan pergerakan bagian%bagian tubuhnya. 7;T:9T9=7') I &-T'/=)9+ : 'danya kesukaran mengunyah atau menelan -)9&97'T9=7 : 'danya perubahan pada kebiasaan / ' 3 atau / ' / '+T9F9T? I -J-:+9#- : &engalami kesulitan terhadap keseimbangan, koordinasi atau berjalan. 'pakah klien menggunakan alat bantu jalan, &engalami kelemahan pada lengan atau kaki #-J;')9T?%:-5:=";+T9F- : 'danya masalah akti$itas se@ual klien mengalami gangguan oleh adanya masalah neurologi! PEMERIKSAAN 'ISIK 5emeriksaan pada sistem persara$an se!ara menyeluruh meliputi : NEUROLO&IK 7ERDASARKAN POLA 'UN&SI

tanda%tanda vital status mental, komunikasi dan bahasa, pengkajian sara$ kranial, respon motorik, dan respon sensorik PEMERIKSAAN DIA&NOSTIK +T #+'7 &:9 -lektromiogra$i (-&D) J%:ay spinal &ielogra$i <oto rongent thoraks 5emeriksaan $ungsi paru (kapasitas vital, volume tidal) 'D" II. Di!gnos! Kepe$!8!t!n 7yeri akut 3etidake$ekti$an pola na$as 9nkontinensia de$ekasi Gambatan mobilitas $isik 9nkontinensia urinarius $ungsional "is$ungsi seksual

(&arilyn -. "oengoes, 1...)

DA'TAR PUSTAKA /aughman, +. "iane 0 Ga!kley *o'nn. 2(((. 3epera8atan &edikal bedah /uku #aku untuk /runner dan #uddarth. -disi 1. *akarta : -D+ /runner 0 #uddart. 2((2. 3epera8atan &edikal /edah. -disi 2. *akarta: -D+. Geater Gerdman,T.2(12. Nanda Internasional Diagnosa keperawatan Definisi dan Klasifikasi 2012-2014. *akarta: -D+. *ohnson, &, dkk. 2((6. Nursing Outcome 5hiladelphia )ynda *uall dan +arpenito. 2((7. /uku #aku "iagnosis 3epera8atan -disi 1(. *akarta : -D+ &aryilynn -."oenges. 1.... :en!ana 'suhan 3epera8atan. *akarta : -D+ &!+loskey, dkk .2((6. Nursing inter"ention 5hiladelphia &#3T+ -@perts. 5ain a$ter #pinal +ord 9njury. http:EE888.mskt!.orgEs!iE$a!tsheetsE5ain. diakses tanggal 1 <ebruari 2(16 &uttaCin, 'ri$. 2((2. /uku 'jar 'suhan 3epera8atan "engan Dangguan #istem 5ersara$an. *akarta : 5enerbit #alemba &edika #pinal !ord medi!ine :espiratory &anagement <ollo8ing #pinal +ord 9njury: >hat ?ou #hould 3no8. 5aralyHed Feterans o$ 'meri!a. http:EE888.learni!u.orgEdo!sEguidelinesE!spmrespiratorymanagement.p d$. diakses tanggal1 <ebruari 2(16 #pinal !ord injury. &ayo !lini! sta$$. http:EE888.mayo!lini!.!omEhealthEspinal%!ord% injuryE"#((61(E"#-+T9=7Ksymptoms. diakses tanggal 1 <ebruari 2(16 #ylvia '. 5ri!e 0 )orainne &. >ilson. 2((3. 5ato$isiologi : 3onsep 3linis 5roses%5roses 5enyakit. -disi 1 Folume 2. *akarta : -D+ #ymptoms o$ #pinal sho!k. Gealth Drades 9n!. http:EE888.rightdiagnosis.!omEsEspinalLsho!kEsymptoms.htm. diakses tanggal 1 <ebruari 2(16 lassification (NI )! &osby: lassification (NO )! &osby: