Anda di halaman 1dari 28

i

MAKALAH PERLINDUNGAN HUKUM TERHADAP LAKI-LAKI YANG MENJADI KORBAN KEKERASAN DALAM RUMAH TANGGA (studi kasus Marsiyati)

DOSEN PENGASUH : YURIKA F DEWI, S.H., MH Oleh:

NAMA NIM

: ERIK SOSANTO : EAA 110 039

KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN UNIVERSITAS PALANGKA RAYA FAKULTAS HUKUM 2013

LEMBAR PENGESAHAAN

DISUSUN OLEH :

NAMA

NIM

TTD

ERIK SOSANTO

EAA 110 039

............

ii

ii

KATA PENGANTAR

Dengan memanjatkan Puji dan Syukur atas limpahan berkat dan Rahmat-Nya dari Tuhan Yang Maha Esa karena atas izinnyalah penulis masih diberikan kesempatan atas selesainya penyusunan makalah ini sebagai tambahan ilmu, tugas dan pedoman yang berjudul Perlindungan Hukum Terhadap Laki-Laki Yang Menjadi Korban Kekerasan dalam Rumah Tangga (Studi Kasus Marsiyati). Dalam penyusunan makalah ini saya mengumpulkan dari berbagai sumber buku-buku dan sumber lainnya yang berhubungan dengan Perlindungan Hukum Terhadap Laki-Laki Yang Menjadi Korban Kekerasan dalam Rumah Tangga (Studi Kasus Marsiyati).yang memudahkan saya dalam menyelesaikan tugas ini. Adapun tujuan penulisan makalah ini adalah untuk memberikan pemahaman dan menambah wawasan bagi orang yang membacanya. Penulis menyadari bahwa dalam penulisan makalah ini masih banyak sekali kekurangan-kekurangan baik dalam penulisan, pemakaian kata, redaksional kalimat dan bahkan dalam penggunaan aturan-aturan tata bahasa Indonesia yang baik dan benar, hal mana ini disebabkan terbatasanya kemampuan dan pengetahuan penulis miliki, Untuk itu dengan segala kerendahan hati, penulis mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun dari semua pihak sangat penulis harapkan untuk penyempurnaan penulisan makalah lebih lanjut. Akhir kata penulis berharap semoga penyusunan dan penulisan makalah ini dapat memberikan manfaat bagi kita semua.

iii

iii

Palangka Raya, Penulis,

Oktober 2013

ERIK SOSANTO EAA 110 039

iv

iv

DAFTAR ISI Halaman HALAMAN JUDUL............................................................................................. HALAMAN PENGESAHAN ............................................................................... KATA PENGANTAR .......................................................................................... DAFTAR ISI ......................................................................................................... i ii iii v

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang ............................................................................................. 1.2. Perumusan Masalah ..................................................................................... 1.3. Tujuan Penulisan .......................................................................................... 1.4. Metode Penulisan ......................................................................................... 1.5. Manfaat Penulisan ........................................................................................ 1.6. Sistematika penulisan ................................................................................... BAB 2 PEMBAHASAN 2.1 2.2 Pengertian dan ruang lingkup Kekerasan dalam Rumah Tangga ................ Perlindungan Hukum Terhadap Laki-Laki Yang Menjadi Korban Kekerasan dalam Rumah Tangga (Studi Kasus Marsiyati)..................... .... 12 7 1 3 4 4 5 5

BAB 3 PENUTUP 3.1. Kesimpulan .................................................................................................. 3.2. Saran ............................................................................................................. DAFTAR PUSTAKA 20 21

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Salah satu kekerasan yang berbasis gender yang sering terjadi saat ini adalah tindak pidana kekerasan dalam rumah tangga. Tindak pidana tersebut memiliki karakteristik tersendiri, terletak pada subjeknya yang spesifik yaitu pelaku sekaligus korbannya berada pada lingkup rumah tangga. Diatur dalam pasal 2 UU No. 23 Tahun 2004. Makna sesungguhnya penghapusan kekerasan dalam rumah tangga menurut UU No. 23 Tahun 2004 adalah mencegah segala bentuk kekerasan dalam rumah tangga, melindungi korban kekerasan dalam rumah tangga, menindak pelaku kejahatan dalam rumah tangga, memelihara rumah tangga yang harmonis dan sejahtera yang merupakan perwujudan prinsip persamaan hak dan penghargaan terhadap martabat manusia. Makna sesungguhnya penghapusan kekersan dalam rumah tangga dalam undang-undang ini adalah mencegah segala bentuk kekerasan dalam rumah tangga (tujuan preventif), melindungi korban kekerasan dalam rumah tangga (tujuan Protektif), menindak pelaku kejahatan dalam rumah tangga (tujuan Represif), dan memelihara keutuhan rumah tangga yang harmonis dan sejahtera (tujuan konsolidatif) yang merupakan perwujudan prinsip persamaan hak dan penghargaan terhadap martabat manusia. Tindak kekerasan dalam masyarakat sebenarnya bukan suatu hal yang baru. Kekerasan sering dilakukan bersama dengan salah satu bentuk tindak pidana, seperti

yang diatur dalam Kitab Undang-undang Hukum Pidana (KUHP) misalnya pencurian dengan kekerasan (Pasal 365 KUHP, penganiayaan (Pasal 351 KUHP), perkosaan (Pasal 285).Tindak pidana tersebut dilakukan dengan kekerasan atau ancaman kekerasan, sedangkan cara bagaimana kekerasan dilakukan atau alat apa yang dipakai, masing-masing tergantung pada kasus yang timbul. Jadi, sifatnya kasuistis. Perbuatan tersebut dapat menimpa siapa saja, baik laki-laki maupun perempuan, dari anak-anak sampai dewasa. Namun, yang menarik perhatian publik adalah kekerasan yang menimpa kaum laki-laki (suami). Apalagi kalau kekerasan tersebut terjadi dalam ruang lingkup rumah tangga. Seringkali tindak kekerasan ini disebut hidden crime (kejahatan yang tersembunyi). Disebut demikian, karena baik pelaku maupun korban berusaha untuk merahasiakan perbuatan tersebut dari pandangan publik. Kadang juga disebut domestic violence (kekerasan domestic), karena terjadinya kekerasan di ranah domestic. Dalam kenyataannya sangat sulit untuk mengukur secara tepat luasnya kekerasan terhadap laki-laki, karena ini berarti harus memasuki wilayah peka kehidupan laki-laki, yang mana laki-laki sendiri enggan membicarakannya.Namun demikian, terdapat banyak studi yang melaporkan mengenai jenis kekerasan yang sangat meluas yaitu kekerasan dalam rumah tangga, khususnya kekerasan yang dilakukan oleh Istri atau pasangan terhadap suaminya dan sebaliknya. Hal ini menjadi sangat menarik untuk dibicarakan yang mana kasus kekerasan dalam rumah tangga tidak lagi didominasi oleh kaum laki-laki saja tetapi kaum perempuan pun dapat melakukan tindak perbuatan yang melawan hukum. Seperti

kasus Marsiyati (33), warga Dusun Langsar Laok, Desa Langsar, Kecamatan Saronggi, Sumenep, Madura, Jawa Timur, nekat memotong alat vital suaminya sendiri, Hasanah Riyadi (38). Kejadian tersebut membuka mata kita khususnya kaum laki-laki yang biasanya lebih berkuasa atau bisa disebut kuat dalam segala hal, Dibuat tidak percaya dengan tindakan kaum perempuan. Perempuan tidak lagi seperti yang kita bayangkan dengan sikap yang lembut hatinya. Semua itu membalikkan fakta bahwa tidak semua laki-laki yang selalu merupakan pelaku kekerasan dalam rumah tangga. Berdasarkan uraian singakt diatas tadi, maka penulis mencoba untuk sedikit menguraikan Permasalahan-Permasalahan yang berkaitan dengan kekerasan dalam rumah tangga yang tidak lagi korbannya perempuan, Dengan judul

PERLINDUNGAN HUKUM TERHADAP LAKI-LAKI YANG MENJADI KORBAN KEKERASAN DALAM RUMAH TANGGA (STUDI KASUS MARSIYATI) Yang merupakan gambaran dan fakta hukum yang terjadi dalam kehidupan kemasyarakatan dan ketimpangan-ketimpangan dalam kehidupan sosial dan bisa membuka mata kaum perempuan yang selama ini dikatakan selalu menjadi makhuk yang lemah. 1.2 Perumusan dan Batasan Masalah Berdasarkan latar belakang masalah yang telah diuraikan di atas dan isu hukum yang dikemukakan dalam penulisan ini, maka perumusan masalah yang dapat dirumuskan sebagai berikut:

1) Apakah Pengertian dan ruang lingkup Kekerasan dalam Rumah Tangga ?. 2) Bagaimana Perlindungan Hukum Terhadap Laki-Laki Yang Menjadi Korban Kekerasan dalam Rumah Tangga (Studi Kasus Marsiyati) ?. Terhadap dua rumusan masalah tersebut, penulis melakukan pembatasan dengan mengacu pada perspektif kajian Perlindungan Hukum Terhadap Laki-Laki Yang Menjadi Korban Kekerasan dalam Rumah Tangga (Studi Kasus Marsiyati). 1.3 Tujuan Penulisan Hakekat kegiatan penulisan adalah penyaluran hasrat ingin tahu manusia dalam taraf keilmuan, karena manusia pada dasarnya selalu ingin tahu sebab dari suatu rentetan akibat. Demikian pula halnya dengan penulisan karya bidang tulis hukum, berupa makalah, sesungguhnya tidak lepas dari adanya suatu tujuan yang ingin dicapai yaitu sebagi berikut : 1) Mengetahui dan memahami Pengertian dan ruang lingkup Kekerasan dalam Rumah Tangga. 2) Mengetahui dan memahami Bagaimana Perlindungan Hukum Terhadap LakiLaki Yang Menjadi Korban Kekerasan dalam Rumah Tangga (Studi Kasus Marsiyati). 1.4 Manfaat Penulisan Adapun manfaat makalah ini adalah sebagai berikut : 1) Sebagai media untuk menambah wawasan. 2) Bahan referensi aktual . 3) Bahan bacaan dan pengetahuan

1.5 Metode Penulisan Metode yang di gunakan dalam penulisan makalah ini yang bersumber pada buku-buku referensi yang berhubungan dengan hukum agrarian dan pertanahan dalam pembaruannya dan situs internet yang langsung mengangkat permasalahanpermasalahan tentang perspektif kajian Perlindungan Hukum Terhadap Laki-Laki Yang Menjadi Korban Kekerasan dalam Rumah Tangga (Studi Kasus Marsiyati). 1.6 Sistematika Penulisan Sistematiaka penulisan makalah ini mempunyai makna deskripsi secara garis besar akan hal-hal yang mendasari isu hukum berupa rumusan masalah untuk dilakukan analisis untuk selajutnya dikembangkan dan diberikan pemahaman bersifat komprehensif sebagimana tersarikan dalam 3 (BAB) yaitu sebagai berikut : BAB I PENDAHULUAN Bermaterikan latar belakang, rumusan dan batasan masalah, tujuan penulisan, manfaat penulisan,metodologi penulisan, dan sistematika penulisan. BAB II PEMBAHASAN Merupakan uraian dalam bentuk analisis hukum secara normatif yang ditujukan untuk memberikan penjelsan secara komprehensif terhadap 2(hal) permasalahan yang dirumuskan pada bab I yaitu : 1) Pengertian dan ruang lingkup Kekerasan dalam Rumah Tangga. 2) Perlindungan Hukum Terhadap Laki-Laki Yang Menjadi Korban Kekerasan dalam Rumah Tangga (Studi Kasus Marsiyati).

BAB III PENUTUP Pada BAB penutup ini penulis mencoba mensarikan hal-hal yang telah dideskripsikan pada BAB I-BAB II didepan, dalam bentuk suatu kesimpulan dan dilengkapi saran-saran sebagai masukan positif bagi semua pihak.

BAB II PEMBAHASAN 2.1 Pengertian dan ruang lingkup Kekerasan dalam Rumah Tangga. 2.1.1 Pengertian Kekerasan dalam Rumah Tangga. Kekerasan dalam Rumah Tangga seperti yang tertuang dalam Undangundang No.23 Tahun 2004 tentang Penghapusan Kekerasan dalam Rumah Tangga, memiliki arti setiap perbuatan terhadap seseorang terutama perempuan, yang berakibat timbulnya kesengsaraan atau penderitaan secara fisik, seksual, psikologis, dan/atau penelantaran rumah tangga termasuk ancaman untuk melakukan perbuatan, pemaksaan, atau perampasan kemerdekaan secara melawan hukum dalam lingkup rumah tangga. Masalah kekerasan dalam rumah tangga telah mendapatkan perlindungan hukum dalam Undang-undang Nomor 23 tahun 2004 yang antara lain menegaskan bahwa: a. Bahwa setiap warga negara berhak mendapatkan rasa aman dan bebes dari segala bentuk kekerasan sesuai dengan falsafah Pancasila dan Undang-undang Republik Indonesia tahun 1945. b. Bahwa segala bentuk kekerasan, terutama Kekerasan dalam rumah tangga merupakan pelanggaran hak asasi manusia, dan kejahatan terhadap martabat kemanusiaan serta bentuk deskriminasi yang harus dihapus. c. Bahwa korban kekerasan dalam rumah tangga yang kebanyakan adalah perempuan, hal itu harus mendapatkan perlindungan dari Negara dan/atau

masyarakat agar terhindar dan terbebas dari kekerasan atau ancaman kekerasan, penyiksaan, atau perlakuan yang merendahkan derajat dan martabat kemanusiaan. d. Bahwa berdasarkan pertimbangan sebagai dimaksud dalam huruf a, huruf b, huruf c, dan huruf d perlu dibentuk Undang-undang tentang penghapusan kekerasan dalam rumah tangga. 2.1.2 Bentuk-bentuk Kekerasan dalam Rumah Tangga. Menurut Undang-Undang No. 23 Tahun 2004 tindak kekerasan terhadap istri dalam rumah tangga dibedakan kedalam 4 (empat) macam : a. Kekerasan fisik Kekerasan fisik adalah perbuatan yang mengakibatkan rasa sakit, jatuh sakit atau luka berat. Prilaku kekerasan yang termasuk dalam golongan ini antara lain adalah menampar, memukul, meludahi, menarik rambut (menjambak), menendang, menyudut dengan rokok, memukul/melukai dengan senjata, dan sebagainya. Biasanya perlakuan ini akan nampak seperti bilur-bilur, muka lebam, gigi patah atau bekas luka lainnya. b. Kekerasan psikologis / emosional Kekerasan psikologis atau emosional adalah perbuatan yang

mengakibatkan ketakutan, hilangnya rasa percaya diri, hilangnya kemampuan untuk bertindak, rasa tidak berdaya dan / atau penderitaan psikis berat pada seseorang. Perilaku kekerasan yang termasuk penganiayaan secara emosional adalah penghinaan, komentar-komentar

yang menyakitkan atau merendahkan harga diri, mengisolir istri dari dunia luar, mengancam atau ,menakut-nakuti sebagai sarana memaksakan kehendak. c. Kekerasan seksual Kekerasan jenis ini meliputi pengisolasian (menjauhkan) istri dari kebutuhan batinnya, memaksa melakukan hubungan seksual, memaksa selera seksual sendiri, tidak memperhatikan kepuasan pihak istri. Kekerasan seksual berat, berupa: 1. Pelecehan seksual dengan kontak fisik, seperti meraba, menyentuh organ seksual, mencium secara paksa, merangkul serta perbuatan lain yang menimbulkan rasa muak/jijik, terteror, terhina dan merasa dikendalikan. 2. Pemaksaan hubungan seksual tanpa persetujuan korban atau pada saat korban tidak menghendaki. 3. Pemaksaan hubungan seksual dengan cara tidak disukai,

merendahkan dan atau menyakitkan. 4. Pemaksaan hubungan seksual dengan orang lain untuk tujuan pelacuran dan atau tujuan tertentu. 5. Terjadinya hubungan seksual dimana pelaku memanfaatkan posisi ketergantungan korban yang seharusnya dilindungi. 6. Tindakan seksual dengan kekerasan fisik dengan atau tanpa bantuan alat yang menimbulkan sakit, luka,atau cedera.

10

Kekerasan Seksual Ringan, berupa pelecehan seksual secara verbal seperti komentar verbal, gurauan porno, siulan, ejekan dan julukan dan atau secara non verbal, seperti ekspresi wajah, gerakan tubuh atau pun perbuatan lainnya yang meminta perhatian seksual yang tidak dikehendaki korban bersifat melecehkan dan atau menghina korban. Melakukan repitisi kekerasan seksual ringan dapat dimasukkan ke dalam jenis kekerasan seksual berat. d. Kekerasan ekonomi Setiap orang dilarang menelantarkan orang dalam lingkup rumah tangganya, padahal menurut hukum yang berlaku baginya atau karena persetujuan atau perjanjian ia wajib memberikan kehidupan, perawatan atau pemeliharaan kepada orang tersebut. Contoh dari kekerasan jenis ini adalah tidak memberi nafkah istri, bahkan menghabiskan uang istri. Kekerasan Ekonomi Berat, yakni tindakan eksploitasi, manipulasi dan pengendalian lewat sarana ekonomi berupa: 1. Memaksa korban bekerja dengan cara eksploitatif termasuk pelacuran. 2. Melarang korban bekerja tetapi menelantarkannya. 3. Mengambil tanpa sepengetahuan dan tanpa persetujuan korban, merampas dan atau memanipulasi harta benda korban. Kekerasan Ekonomi Ringan, berupa melakukan upaya-upaya sengaja yang menjadikan korban tergantung atau tidak berdaya secara ekonomi atau tidak terpenuhi kebutuhan dasarnya.

11

2.1.3

Faktor-faktor penyebab Kekerasan dalam Rumah Tangga. Strauss A. Murray mengidentifikasi hal dominasi pria dalam konteks struktur masyarakat dan keluarga, yang memungkinkan terjadinya kekerasan dalam rumah tangga (marital violence) sebagai berikut: a. Pembelaan atas kekuasaan laki-laki Laki-laki dianggap sebagai superioritas sumber daya dibandingkan dengan wanita, sehingga mampu mengatur dan mengendalikan wanita. Diskriminasi dan pembatasan dibidang ekonomi. Diskriminasi dan pembatasan kesempatan bagi wanita untuk bekerja mengakibatkan wanita (istri) ketergantungan terhadap suami, dan ketika suami kehilangan pekerjaan maka istri mengalami tindakan kekerasan. b. Beban pengasuhan anak Istri yang tidak bekerja, menjadikannya menanggung beban sebagai pengasuh anak. Ketika terjadi hal yang tidak diharapkan terhadap anak, maka suami akan menyalah-kan istri sehingga tejadi kekerasan dalam rumah tangga. c. Wanita sebagai anak-anak Konsep wanita sebagai hak milik bagi laki-laki menurut hukum, mengakibatkan kele-luasaan laki-laki untuk mengatur dan mengendalikan segala hak dan kewajiban wanita. Laki-laki merasa punya hak untuk melakukan kekerasan sebagai seorang bapak melakukan kekerasan terhadap anaknya agar menjadi tertib.

12

d.

Orientasi peradilan pidana pada laki-laki Posisi wanita sebagai istri di dalam rumah tangga yang mengalami kekerasan oleh suaminya atau sebaliknya, diterima sebagai pelanggaran hukum, sehingga penyelesaian kasusnya sering ditunda atau ditutup. Alasan yang lazim dikemukakan oleh penegak hukum yaitu adanya legitimasi hukum bagi suami melakukan kekerasan sepanjang bertindak dalam konteks harmoni keluarga.

2.2

Perlindungan Hukum Terhadap Laki-Laki Yang Menjadi Korban Kekerasan dalam Rumah Tangga (Studi Kasus Marsiyati). Dari pengertian dan ruang lingkup diatas terkait kekerasan dalam Rumah Tangga, Undang-undang No.23 Tahun 2004 sangat bersifat diskriminasi seolaholah hanya perempuan lah yang menjadi korban dari kekerasan dalam Rumah Tangga tersebut. Hal tersebut terlihat jelas dalam bunyi pasal 1 butir 1 kekerasan dalam Rumah Tangga adalah setiap perbuatan terhadap seseorang terutama perempuan, yang berakibat timbulnya kesengsaraan atau penderitaan secara fisik, seksual, psikologis, dan/atau penelantaran rumah tangga termasuk ancaman untuk melakukan perbuatan, pemaksaan, atau perampasan kemerdekaan secara melawan hukum dalam lingkup rumah tangga. Dari bunyi pasal di atas dengan kata-kata terutama perempuan, sangat tidak dibenarkan. Jikalau alasan hanya karena perempuan adalah makhuk yamg lemah, yang selama ini banyak eluk-elukkan oleh kaum perempuan itu sendiri. Penulis sangat tidak tidak sependapat.

12

13

kekerasan dalam Rumah Tangga dapat menimpa siapa saja, bahkan bisa jadi dia dapat berposisi sebagai pelaku juga sekaligus korban. Seperti kasus Marsiyati (33), warga Dusun Langsar Laok, Desa Langsar, Kecamatan Saronggi, Sumenep, Madura, Jawa Timur, nekat memotong alat vital suaminya sendiri, Hasanah Riyadi (38). Berikut kita kaji kasus posisinya sebagai berikut : Bahwa pelaku Marsiyati (33), warga Dusun Langsar Laok, Desa Langsar, Kecamatan Saronggi, Sumenep, Madura, Jawa Timur, Cemburu suaminya berselingkuh, nekat memotong alat vital suaminya sendiri, Hasanah Riyadi (38). Celakanya lagi, alat vital yang sengaja dipotong oleh sang istri, hilang entah kemana. Kini, korban kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) yang tengah menjalani perawatan intensif di unit bedah RSUD dr H Moh Anwar, Sumenep, itu hanya bisa meratapi nasib. Ini dikarenakan 'kelelakiannya' itu tak bisa dioperasi untuk disambung apalagi tumbuh kembali. Karena tak ditemukan, tim dokter RS Haji Moh Anwar, Sumenep, terpaksa akan membuatkan alat kelamin palsu atau dalam istilah medis disebut proteasa. (GORIAU.COM) Kejadian memilukan ini terjadi pada Kamis (21/2) pagi sekitar pukul 04.00 WIB dini hari. Ceritanya, istri korban yang dibakar api cemburu itu mendekati korban yang sedang tertidur lelap di kursi panjang yang terletak di ruang tamunya. Tanpa pikir panjang, perempuan berusia 33

14

tahun itu nekat memotong alat kelamin suaminya dengan pisau dapur yang telah dipersiapkannya. Kress dan korban pun menjerit. Menurut Kabag Ops Polres Sumenep, Kompol Edy Purwanto, kejadian itu bermula ketika tersangka Marsiyati cemburu kepada suaminya. ''Untuk sementara, motif aksi nekat yang dilakukan tersangka adalah karena cemburu suaminya punya WIL (wanita idaman lain). Menurut pengakuan tersangka sendiri, dia mendengar sendiri hubungan suaminya dengan WIL tersebut, dia memergoki suaminya saat meloud speaker

handphonenya ketika menelpon dengan wanita lain,'' terang Edy saat dihubungi Jumat malam. Kini akibat perbuatan pelaku di kenakan UU 23/2004 tentang Penghapusan Kekerasan dalam Rumah Tangga (KDRT) Pasal 44. a. Pasal 44 Ayat (1) menyatakan, jika setiap orang yang melakukan perbuatan kekerasan fisik dalam lingkup rumah tangga sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 huruf a dipidana dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun atau denda paling banyak Rp 15.000.000,00 (lima belas juta rupiah). b. Sedangkan Pasal 2 berbunyi, dalam hal perbuatan sebagaimana dimaksud pada Ayat (1) mengakibatkan korban mendapat jatuh sakit atau luka berat, dipidana dengan pidana penjara paling lama 10

15

(sepuluh) tahun atau denda paling banyak Rp 30.000.000,00 (tiga puluh juta rupiah). saat ini polisi belum bisa menjawab apakah Hasanah benar-benar selingkuh ataukah tidak. Oleh karena itu kasus ini masih dikembangkan. Saat ini jajaran Satreskrim Polres Sumenep menggelar olah tempat kejadian perkara (TKP) dan membantu mencari potongan alat vital milik korban. 2.2.1 Upaya perlindungan hukum terhadap Hasanah Riyadi (korban) kekerasan dalam Rumah Tangga Dari uraian singkat kasus posisi diatas, ada beberapa Upaya perlindungan hukum terhadap Hasanah Riyadi (korban) kekerasan dalam Rumah Tangga menurut Undang-undang No.23 Tahun 2004 tentang Penghapusan Kekerasan dalam Rumah Tangga. 1) Hak-Hak Korban. UU PKDRT ini juga mengatur mengenai hak-hak korban, korban berhak mendapatkan (Pasal 10): a. Perlindungan dari pihak keluarga, kepolisian, kejaksaan, pengadilan, advokat, lembaga sosial, atau pihak lainnya baik sementara maupun berdasarkan penetapan perintah perlindungan dari pengadilan. b. c. Pelayanan kesehatan sesuai dengan kebutuhan medis. Penanganan secara khusus berkaitan dengan kerahasiaan korban.

16

d.

Pendampingan oleh pekerja sosial dan bantuan hukum pada setiap tingkat proses

e.

pemeriksaan undangan.dan

sesuai

dengan

ketentuan

peraturan

perundang-

f.

Pelayanan bimbingan rohani. Selain itu, korban juga berhak untuk mendapatkan pelayanan demi

pemulihan korban dari (Pasal 39): a. b. c. d. Tenaga kesehatan; Pekerja sosial; Relawan pendamping; dan/atau Pembimbing rohani. Melalui Undang-Undang ini pemerintah bertanggung jawab dalam upaya pencegahan Kekerasan dalam Rumah Tangga. Untuk itu pemerintah harus (Pasal 12): a. Merumuskan kebijakan tentang penghapusan kekerasan dalam rumah tangga; b. Menyelenggarakan komunikasi informasi, dan edukasi tentang kekerasan dalam rumah tangga; c. Menyelenggarakan sosialisasi dan advokasi tentang kekerasan dalam rumah tangga; dan d. Menyelenggarakan pendidikan dan pelatihan sensitif jender dan isu kekerasan dalam rumah tangga serta menetapkan standar dan

17

e.

akreditasi pelayanan yang sensitif gender. Selain itu, untuk penyelenggaraan pelayanan terhadap korban,

pemerintah dan pemerintah daerah dapat melakukan upaya: a. Penyediaan ruang pelayanan khusus (RPK) di kantor kepolisian; Penyediaan aparat, tenaga kesehatan, pekerja sosial dan pembimbing rohani; b. Pembuatan dan pengembangan sistem dan mekanisme kerjasama program pelayanan yang mudah diakses korban; c. Memberikan perlindungan bagi pendamping, saksi, keluarga dan teman korban. Undang-Undang ini juga menyebutkan bahwa setiap orang yang mendengar, melihat, atau mengetahui terjadinya kekerasan dalam rumah tangga wajib melakukan upaya-upaya sesuai dengan batas

kemampuannya untuk (Pasal 15): a. b. c. d. Mencegah berlangsungnya tindak pidana; Memberikan perlindungan kepada korban; Memberikan pertolongan darurat; dan Membantu proses pengajuan permohonan penetapan perlindungan. Namun untuk kejahatan kekerasan psikis dan fisik ringan serta kekerasan seksual yang terjadi dalam relasi antar suami istri, maka yang berlaku adalah delik aduan. Maksudnya adalah korban sendiri yang melaporkan secara langsung kekerasan dalam rumah tangga kepada

18

kepolisian (pasal 26 ayat 1). Namun korban dapat memberikan kuasa kepada keluarga atau orang lain untuk melaporkan kekerasan dalam rumah tangga kepada pihak kepolisian (pasal 26 ayat 2). Dalam hal korban adalah seorang anak, laporan dapat dilakukan oleh orang tua, wali, pengasuh atau anak yang bersangkutan (pasal 27). 2) Sanksi Pidana Sanksi Pidana Yang dikenakan pada Pelaku : Hal ini tercantum dalam pasal 44 sampai dengan pasal 53 yang intinya adalah : a. b. c. Ketentuan pidana yang mengatur tentang kekerasan fisik : Pasal 44 . Ketentuan pidana yang mengatur tentang kekerasan psikis : Pasal 45 . Ketentuan pidana yang mengatur tentang kejahatan seksual : Pasal 46, 47 dan 48. d. Ketentuan pidana-pidana yang mengatur tentang penelantaran rumah tangga : Pasal 49. Ketentuan pidana penjara atau denda diatur dalam:Bab VIII mulai dari pasal 44 - Pasal 53. Lama waktu penjara dan juga besarnya denda berbeda-beda sesuai dengan tindak kekerasan yang dilakukan. Dalam proses pengesahan UU ini, bab mengenai ketentuan pidana sempat dipermasalahkan karena tidak menentukan batas hukuman minimal, melainkan hanya mengatur batas hukuman maksimal. Sehingga dikhawatirkan seorang pelaku dapat hanya dikenai hukuman percobaan saja. Meskipun demikian, ada dua pasal yang mengatur mengenai

19

hukuman minimal dan maksimal yakni pasal 47 dan pasal 48. Kedua pasal tersebut mengatur mengenai kekerasan seksual. Pasal 47: Setiap orang yang memaksa orang yang menetap dalam rumah tangganya melakukan hubungan seksual sebagaimana dimaksud dalam pasal 8 huruf b dipidana dengan pidana penjara paling singkat 4 tahun dan pidana penjara paling lama 15 tahun atau denda paling sedikit Rp 12.000.000 atau denda paling banyak Rp 300.000.000.

Pasal 48: Dalam hal perbuatan kekerasan seksual yang mengakibatkan korban mendapatkan luka yang tidak memberi harapan akan sembuh sama sekali, mengalami gangguan daya pikir atau kejiwaan sekurang-kurangnya selama 4 minggu terus menerus atau 1 tahun tidak berturut-turut, gugur atau matinya janin dalam kandungan, atau mengakibatkan tidak berfungsinya alat reproduksi, dipidana dengan pidana penjara paling singkat 5 tahun dan pidana penjara paling lama 20 tahun atau denda paling sedikit Rp 25.000.000 dan denda paling banyak Rp 500.000.000. 3) Pembuktian Mengenai pembuktian kasus Kekerasan Dalam Rumah Tangga dalam UU ini dikatakan bahwa sebagai salah satu alat bukti yang sah, keterangan seorang saksi korban saja sudah cukup untuk membuktikan bahwa terdakwa bersalah, apabila disertai dengan suatu alat bukti yang sah lainnya (Pasal 55). Alat bukti yang sah lainnya itu adalah: a. b. c. d. Keterangan saksi; Keterangan ahli; Surat; Petunjuk dan Keterangan terdakwa.

20

BAB III

PENUTUP

3.1 Kesimpulan. Kekerasan dalam rumah tangga tidak lagi hanya dilakukan oleh laki-laki, tetapi laki-laki pun dapat menjadi korban dari tindak kekerasan terutama oelh perempuan. Banyak laki-laki malu menceritakan kekerasan yang mereka alami Penelitian baru tentang kekerasan rumah tangga mengungkapkan bahwa ini adalah bentuk kekerasan paling tidak lazim dalam kehidupan laki-laki. Dan kekerasan itu juga mempunyai dampak jangka panjang yang sangat serius terhadap terutama kesehatan fisik dari korban. Dengan kita memahami bentuk-bentuk kekerasan dalam rumah tangga, kita bisa mengantisipasi dan bisa melakukan advokasi sepenuhnya. Sehingga hak-hak korban bisa terlindungi dengan baik. Bahkan bisa meminimalisir segala bentuk kekerasan, sehingga tercipta ketenangan dan ketertiban di tengah masyarakat. Terkait dengan kasus Marsiyati (33) warga Dusun Langsar Laok, Desa Langsar Kecamatan Saronggi, Sumenep yang memotong penis suaminya sendiri, telah divonis penjara selama empat tahun, Selasa (16/07/2013). Vonis majelis itu, lebih rendah tiga tahun dari tuntutan Jaksa Penuntut Umum (JPU) Teddy Roomius yang menuntut Marsiyati 7 tahun penjara.

21

Menurut kuasan hukum terdakwa, Risvandi SH, lebih rendahnya putusan hakim dari pada tuntutan JPU karena terdakwa telah menunjukkan bukti-bukti dalam bentuk flasdisk tentang kelakukan suaminya sehingga terdakwa nekat memotong alat kelaminnya ( TRIBUNNEWS.COM, SUMENEP) 3.2 Saran KDRT adalah persoalan yang rumit untuk dipecahkan. Ada banyak alasan. Boleh jadi, pelaku KDRT benar-benar tidak menyadari bahwa apa yang telah ia lakukan adalah merupakan tindak KDRT. Atau, bisa jadi pula, pelaku menyadari bahwa perbuatan yang dilakukannya merupakan tindakan KDRT. Hanya saja, ia mengabaikannya lantaran berlindung diri di bawah norma-norma tertentu yang telah mapan dalam masyarakat. Sehingga menganggap perbuatan KDRT sebagai hal yang wajar dan pribadi . oleh karena itu aturan UU No. 23 tahun 2004 Harus dipertegas lebih dalam lagi. Dan sudah selayaknya kalau kejahatan KDRT diperlakukan sama dengan kejahatan pada umumnya. KDRT diubah jadi delik aduan relatif (bukan delik aduan absolut seperti saat ini), sehingga pencabutan pengaduan tidak otomatis menghentikan proses hukum alias kasusnya jalan terus. Atau, kapan perlu menjadi tindak pidana biasa yang tidak perlu disyaratkan adanya pengaduan, kepolisian dapat langsung bertindak pada saat mengetahui ada KDRT. Sebab, mensyaratkan pengaduan sama halnya dengan membirokratisasi penegakan hukum KDRT.

22

UU PKDRT sendiri sudah menegaskan bahwa KDRT merupakan kejahatan terhadap martabat kemanusiaan (Pasal 20 huruf b). Merupakan pelanggaran terhadap hak asasi manusia (HAM) dan bentuk diskriminasi yang harus dihapus (vide Pasal 21, Pasal 28A, Pasal 28B, Pasal 28D ayat (1) dan ayat (2), Pasal 28E, Pasal 28F, Pasal 28G, Pasal 28H, Pasal 28I, Pasal 28J dan Pasal 29 UUD 1945, sebagaimana dikutip pada bagian Mengingat UU PKDRT). Maka oleh karena itu UU PKDRT harus bisa melidungi segenap hak asasi manusia (HAM) tanpa memandang status gender semua sama dihadapan hukum. Mengingat kaitan sepeti kasus Marsiyati (33) warga Dusun Langsar Laok, Desa Langsar Kecamatan Saronggi, Sumenep yang memotong penis suaminya sendiri. Semua pelaku harus dihukum berat sebagaimana hukum kita menghendaki keadilan yang seadil-adilnya. Semoga kasus Marsiyati ini jadi pelajaran buat kita semua dan menjadi kasus terakhir dalam kekerasan dalam rumah tangga.

23

DAFTAR PUSTAKA Marlyn Jane Alputila, Peran Kepolisian Dalam Proses Penyidikan Kasus Kekerasan Dalam Rumah Tangga Di Polres Ambon, Jurnal Fakultas Hukum, Universitas Hasanuddin, Makassar, 2012

Midwifejaniezt

(2012),

Makalah

Kdrt,

midwifejaniezt.blogspot.com/2012/12

/makalah-kdrt.html di akses tanggal 24 oktober 2013

www.tribunnews.com (2013), Marsiyati Divonis 4 Tahun Penjara karena Potong Penis Suami, www.tribunnews.com Regional Jawa di akses tanggal 24 oktober 2013

kdrt.webs.com/hakhakkorbansanksi.htm l di akses tanggal 24 oktober 2013