Anda di halaman 1dari 30

Teori keunggulan komparatif (theory of comparative advantage) merupakan teori yang dikemukakan oleh David Ricardo.

Menurutnya, perdagangan internasional terjadi bila ada perbedaan keunggulan komparatif antarnegara. Ia berpendapat bahwa keunggulan komparatif akan tercapai jika suatu negara mampu memproduksi barang dan jasa lebih banyak dengan biaya yang lebih murah daripada negara lainnya. Sebagai contoh, Indonesia dan Malaysia sama-sama memproduksi kopi dan timah. Indonesia mampu memproduksi kopi secara efisien dan dengan biaya yang murah, tetapi tidak mampu memproduksi timah secara efisien dan murah. Sebaliknya, titMalaysia mampu dalam memproduksi timah secara efisien dan dengan biaya yang murah, tetapi tidak mampu memproduksi kopi secara efisien dan murah. Dengan demikian, Indonesia memiliki keunggulan komparatif dalam memproduksi kopi dan Malaysia memiliki keunggulan komparatif dalam memproduksi timah. Perdagangan akan saling menguntungkan jika kedua negara bersedia bertukar kopi dan timah. Dalam teori keunggulan komparatif, suatu bangsa dapat meningkatkan standar kehidupan dan pendapatannya jika negarai tersebut melakukan spesialisasi produksi barang atau jasa yang memiliki produktivitas dan efisiensi tingg

Definisi: Keunggulan Komparatif Keunggulan komparatif (comparative advantage) adalah prinsip dasar yang menyatakan setiap bangsa memiliki aktivitas produksi yang membutuhkan biaya peluang atau biaya kesempatan(opportunity cost) lebih rendah dibandingkan dengan bangsa lain, yang berarti bahwa perdagangan antar dua negara dapat menguntungkan keduanya jika masing-masing mengkhususkan diri dalam produksi barang dan jasa dengan biaya peluang yang relatif lebih rendah. Prinsip ini merupakan dasar perdagangan internasional, namun juga berlaku dalam spesialisasi dan pembagian kerja.

http://wawanhariskurnia.blogspot.com/2012/12/keunggulankomparatif.html KEUNGGULAN KOMPARATIF BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG keunggulan komparatif, bagaimana untuk mencapai tujuan bersama dengan segala keunggulan yang dimiliki baik oleh organisasi maupun terhadap organisasi lainnya, sedangkan keunggulan kompetitif, bagaimana memanfaatkan keunggulan yang dimiliki oleh organisasi untuk bisa mendapatkan tujuan organisasi, dengan cara berkompetisi dengan organisasi lainnyakarenaRicardo hanya melihat Inggris dan negara-negara maju plus Amerika Latindalam penyusunan teorinya tersebut.Pada masa Ricardo, belum ada pengamatan serius dan mendalam yangmengarah pada negara-negara di Dunia Ketiga. Wajar jika ketika negara-n e g a r a d i D u n i a K e t i g a mulai masuk dalam struktur ekonomip o l i t i k internasional ada beberapa hal dari teori perbandingan komparatif Ricardoyang menimbulkan berbagai kerugian di pihak negara-negara Dunia Ketiga. Keunggulan komparatif adalah konsepsi sentral dalam teori perdagangan internasional yang menyatakan bahwa sebuah negara atau wilayah mengkhususkan diri pada produksi dan mengekspor barang dan jasa yang dapat dihasilkan dengan biaya relatif lebih efisien daripada barang dan jasa lain dan mengimpor barang dan jasa yang tidak memiliki keunggulan komparatif itu (Rinaldy,2000). Sedangkan keunggulan kompetitif tercapai saat sebuah perusahaan menerapkan strategi biaya rendah, yang membuatnya mampu menawarkan produk yang mempunyai

kualitas sama dengan produk sejenis tetapi dengan harga yang lebih rendah dibandingkan pesaingnya. Keunggulan ini juga dapat diraih dengan strategi diferensiasi produk, sehingga pelanggan menganggap memperoleh manfaat unik yang sesuai dengan harga yang cukup (Porter dalam Keegan,1995).

B. 1. 2.

RUMUSAN MASALAH Apa pengertian keunggulan komparatif ? Bagaimanakah keunggulan komperatif di tinjau dari kamus bahasa Indonesia ? Bagaimanakah mengoptimalkan keunggulan komperatif ? Bagaimanakah contoh keunggulan komperatif yang di miliki Indonesia ?

3. 4.

C.

TUJUAN Adapun tujuan pembuatan makalah ini antara lain :

1. 2.

Untuk mengetahui tentang materi yang bersangkutan. Sebagai referensi belajar bagi mahasiswa, khususnya kelompok penyaji. Untuk memenuhi salah satu tugas kelompok dari mata kuliah yang bersangkutan. Sebagai bahan presentasi kelompok penyaji.

3.

4.

BAB II PEMBAHASAN

A. PENGERTIAN KEUNGGULAN KOMPARATIF

Keunggulan komparatif ini oleh Ricardo dan Viner disebabkan oleh adanya perbedaan dalam kepemilikan atas faktor-faktor produksi seperti: sumber daya alam, modal, tenaga kerja dan kemampuan dalam penguasaan teknologi.(Anderson,1995:71-73). Melalui spesialisasi sesuai dengan keungggulan komparatifnya, maka jumlah produksi yang dihasilkan bisa jauh lebih besar dengan biaya yang lebih murah dan pada akhirnya bisa mencapai skala ekonomi yang diharapkan. Pemikiran ini kemudian berkembang bahwa akan lebih menguntungkan jika arus perdagangan antara negara dibebaskan, tidak terhambat oleh kebijakan atau peraturan negara baik berupa proteksi, tariff maupun nontariff. Berdasarkan pemikiran ini, dirumuskan aturan perdagangan multilateral yang kemudian menjadi satu produk hukum internasional. Namun demikian negaranegara tersebut akan terikat dengan kepentingan nasionalnya yang menurut Morgenthau merujuk pada halhal yang dianggap penting bagi suatu negara, sehingga merujuk pada sasaran-sasaran politik, ekonomi, atau social yang ingin dicapai suatu negara.(Viooti,1993:584). Sehingga negara perlu memberikan prioritasnya yang diformulasikan dalam sasaran dan indikator bagi tercapainya kepentingan tersebut. Untuk mewujudkan kepentingan nasionalnya suatu negara harus memanfaatkan keunggulan komperatif guna meraih peluang dan mengurangi atau meniadakan kendala yang timbul sebagai konsekuensi logisnya.Keunggulan komparatif yang harus dimiliki suatu negara untuk dapat memenangkan dan memperoleh manfaat dari perdagangan internasional antara lain 1. Jumlah tenaga kerja yang relatif banyak. 2. Sumber daya alam yang melimpah. 3. Sumber modal yang besar. 4. Kemampuan dan penguasaan ilmu pengetahuan teknologi yang tinggi

5. Letak geografis yang cukup strategis. 6. Potensi pasar domestic/ dalam negeri yang cukup besar. 7. Jumlah pengusaha kecil, menengah dan koperasi yang besar. 8. Sektor agrobisnis yang mengandalkan lahan produktif yang luas. Di samping keunggulan komparatif diatas masih ada keunggulan kompetitif yang harus dimiliki suatu negara untuk dapat memenangkan dan memperoleh manfaat dari perdagangan internasional seperti : 1. Suatu negara harus memiliki produk (barang ataupun jasa) dengan kwantitas dan mutu (kwalitas) yang sesuai dengan standar internasional, disertai dengan ketepatan waktu penyerahannya. Tingkat harga produk juga harus lebih bersaing/ kompetitif dengan meningkatkan efisiensi dan produktivitas. Sumber daya manusia (SDM) pelaku bisnis harus bermutu tinggi dengan jiwa dan semangat kewirausahaan, disiplin, kemandirian, dan etos kerja, kemampuan manajemen, serta profesionalisme yang tinggi. Kwalitas (mutu) SDM yang dimaksud di sini berkaitan pula dengan daya kreatif, dinamika prakarsa dan daya saing. Dengan daya saing yang tinggi, dunia usaha nasional suatu negara dan produksi dalam negerinya akan mampu menguasai dan mengembangkan pasar dalam negeri dan sekaligus mampu melakukan transaksi ekspor yang lebih besar ke manca negara. Usaha yang ada juga harus lentur, lincah dan cepat tanggap terhadap perubahan permintaan pasar. Struktur dunia usaha nasional suatu negara harus kokoh dan efisien sehingga mampu menguasai dan mengembangkan pasar domestik serta sekaligus meningkatkan daya saing global.

2.

3.

4.

5.

Iklim ekonomi suatu negara yang kondusif serta sehat, di mana pertumbuhan ekonomi berjalan di atas landasan kebersamaan berusaha di antara berbagai pelaku ekonomi yang ada. Mekanisme pasar berfungsi secara efisien dan efektif. Dalam hal ini koreksi dari pemerintah terhadap pasar sangatlah berperan. Koreksi yang dilakukan pemerintah pada dasarnya bertujuan untuk mendorong dan melindungi agar mekanisme pasar dapat berjalan secara sempurna dan sehat. Kondisi dimana ada peluang dan kesempatan, membangkitkan, mengembangkan dan mendorong maju wirausaha nasional untuk mengadakan kerjasama sekaligus bersaing ketat dengan bangsa-bangsa yang lain. Adanya penguasaan dan kemampuan mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi. Adanya stabilitas politik dan kebijaksanaan pemerintah termasuk di dalamnya jaminan kepastian hukum dalam berusaha.

6.

7.

8.

9.

10. Adanya penegakan hak asasi manusia (HAM). 11. Adanya perhatian dan penanganan usaha dalam hal mutu lingkungan hidup. eori keunggulankomparatif.

B.

KEUNGGULAN KOMPERATIF DI TINJAU DARI KAMUS BAHASA INDONESIA

Pengertian Keunggulan Komparatif dapat dilihat pada kamus Bahasa Indonesia, oleh Badudu-Zain (1994), dimana komparatif diartikan bersifat perbandingan atau menyatakan perbandingan. Jadi keunggulan komparatif adalah suatu keunggulan yang dimiliki oleh suatu organisasi untuk dapat membandingkannya dengan yang lainnya. Dengan mengacu arti tersebut, kami berpendapat, bahwa

keunggulan komparatif, adalah keunggulan-keunggulan yang dimiliki oleh organisasi seperti SDM, fasilitas, dan kekayaan lainnya, yang dimanfaatkan untuk mencapai tujuan organisasi atau perpaduan keuanggulan beberapa organisasi untuk mencapai tujuan bersama. Contoh, beberapa instansi/lembaga pemerintahan, dengan memanfaatkan segala keuanggulan yang dimilikinya, dan mereka mempunyai satu tujuan bersama, yakni untuk mewujudkan VISI dan MISI yang telah dibuatnya bersama-sama Oleh sebab itu, jelaslah bahwa keunggulan komparatif, bagaimana untuk mencapai tujuan bersama dengan segala keunggulan yang dimiliki baik oleh organisasi maupun terhadap organisasi lainnya, sedangkan keunggulan kompetitif, bagaimana memanfaatkan keunggulan yang dimiliki oleh organisasi untuk bisa mendapatkan tujuan organisasi, dengan cara berkompetisi dengan organisasi lainnyakarenaRicardo hanya melihat Inggris dan negaranegara maju plus Amerika Latindalam penyusunan teorinya tersebut.Pada masa Ricardo, belum ada pengamatan serius dan mendalam yangmengarah pada negara-negara di Dunia Ketiga. Wajar jika ketika negara-n e g a r a d i Dunia Ketiga mulai masuk dalam struktur e k o n o m i - p o l i t i k internasional ada beberapa hal dari teori perbandingan komparatif Ricardoyang menimbulkan berbagai kerugian di pihak negara-negara Dunia Ketiga.

C.

MENGOPTIMALKAN KEUNGGULAN KOMPERATIF Pemerintah perlu mengoptimalkan keunggulan komparatif Indonesia untuk menumbuh kembangkan industri berbasis sumber daya lokal yang berdaya saing tinggi di pasar internasional. Kecepatan dan ketepatan pemerintah mengidentifikasi industri yang kompetitif dan memfasilitasi perkembangannya dapat memacu pertumbuhan jangka panjang ekonomi nasional.

Kepala Ekonom Bank Dunia Justin Yifu Lin menyampaikan hal itu di Jakarta, Selasa (28/6), saat bertemu Menteri Keuangan, Menteri Perdagangan, Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal, pengusaha, dan Komite Ekonomi Nasional dalam kunjungan dua hari di Indonesia.Indonesia dapat menjadi pusat pertumbuhan besar tahun 2025. Bahkan, Indonesia diprediksi menjadi salah satu dari enam negara dengan kontribusi separuh pertumbuhan ekonomi global. Akan tetapi, sebelum mencapai titik tersebut, pemerintah harus lebih intens membenahi upaya dalam mencapai target yang dibuat dalam sektor dengan keuntungan komparatif itu.Indonesia adalah negara dengan banyak keuntungan, misalnya, sumber daya alam, angkatan kerja berpendidikan yang besar, sektor swasta yang bergairah, dan pasar domestik yang besar. Kemampuan Indonesia membangun industri otomotif adalah contoh keberhasilan Indonesia mengelola potensinya sehingga bisa mengekspor ke negara lain, ujarnya. Contoh lainnya adalah Indonesia mengimpor kapas dari Amerika Serikat untuk diproduksi menjadi tekstil dan produk tekstil. Produk tersebut kemudian diekspor kembali ke Amerika Serikat.Angkatan kerja yang besar menjadikan Indonesia memiliki keunggulan komparatif di industri padat karya.Pemerintah perlu membenahi berbagai persoalan yang menyelimuti iklim investasi industri padat karya untuk mengembangkan industri lokal, menjaga pertumbuhan pendapatan, dan mengurangi kemiskinan, ujar Justin.Indonesia adalah negara dengan berbagai keunggulan, di antaranya angkatan kerja yang besar dan cukup terdidik, komunitas bisnis yang dinamis, dan secara geografis dekat dengan beberapa sentra pertumbuhan. Industri otomotif adalah contoh baik bagaimana semua keunggulan tersebut kemudian mendukung satu sektor

yang tepat, kata Justin.Mengikuti keunggulan komparatif adalah cara terbaik untuk memperluas industri lokal, mempertahankan pertumbuhan pendapatan, dan mengurangi kemiskinan, katanya (HAM) D. CONTOH KEUNGGULAN KOMPERATIF YANG DI MILIKI INDONESIA

Sektor pertanian adalah sektor yang banyak memanfaatkan keunggulan komparatif. Kegiatan ekonomi di sektor pertanian diharapkan mampu mendayagunakan keunggulan komparatif menjadi keunggulan kompetitif jika disertai dengan pengembangan industri hulu pertanian, industri hilir pertanian serta jasa-jasa pendukung secara harmonis dan simultan artinya sektor pertanian secara terpisah tidak akan mampu menjadi penggerak ekonomi masa depan. Pertanian dapat menjadi kekuatan yang besar apabila dikombinasi dengan agroindustri, perdagangan dan jasa-jasa penunjang. Agroindustri merupakan sub sistem agribisnis pengolahan yang mengolah produk pertanian primer menjadi produk olahan baik produk antara maupun produk akhir.Agroindustri terkait erat ke sisi hulu maupun ke hilir dalam produksi pertanian primer.Dalam era globalisasi diharapkan agroindustri Indonesia memiliki daya saing di pasar internasional. Produk kakao (kakao biji) merupakan salah satu produk agroindustri yang diekspor oleh Indonesia, disamping jenis produk kakao lain yang diekspor dalam jumlah kecil. Jenis produk kakao yang diekspor oleh Indonesia dapat dilihat pada tabel 1

Tabel 1. Jenis Kakao Yang Diekspor Indonesia Tahun 2003-2004 (kg) No Jenis Kakao 2003 1 2 3 4 5 Kakao Biji Kakao Pasta Lemak Kakao Kakao Bubuk Lain-lain 265.838.100 1.954.609 20.854.210 18.456.780 2.088.601 % 85,98 0,63 6,74 5,97 0,68 Tahun 2004 %

275.484.500 86,44 863.466 22.726.313 17.078.752 2.557.769 0,27 7,13 5,36 0,80

Sumber : BPS, 2006 Indonesia berpotensi sebagai pemasok utama kakao dunia (10,96%). Pada tahun 2003, Indonesia merupakan negara pemasok kakao ketiga di dunia setelah Pantai Gading (39,08%) dan Ghana (14,79%). Dalam persaingan di pasar dunia yang semakin ketat, peningkatan produksi kakao di Indonesia manghadapi tantangan yang semakin keras dari segi rendahnya mutu, produktivitas dan efisiensi mulai dari produksi sampai dengan pemasaran. Kakao biji Indonesia harus mampu bersaing dengan produk kakao sejenis dari negara lain. Jika kakao biji Indonesia memiliki daya saing di pasar internasional diharapkan akan lebih banyak lagi negara yang membutuhkan kakao biji dari Indonesia dan produsen akan lebih bersemangat untuk memproduksi kakao biji dengan mutu yang lebih baik dan biaya produksi yang cukup rendah sehingga pada harga-harga yang terjadi di pasar internasional dapat diproduksi dan dipasarkan oleh produsen dengan memperoleh laba yang mencukupi, sehingga dapat mempertahankan kelangsungan produksinya.

BAB III

PENUTUP A. KESIMPULAN keunggulan komparatif adalah suatu keunggulan yang dimiliki oleh suatu organisasi untuk dapat membandingkannya dengan yang lainnya. Dengan mengacu arti tersebut, kami berpendapat, bahwa keunggulan komparatif, adalah keunggulan-keunggulan yang dimiliki oleh organisasi seperti SDM, fasilitas, dan kekayaan lainnya, yang dimanfaatkan untuk mencapai tujuan organisasi atau perpaduan keuanggulan beberapa organisasi untuk mencapai tujuan bersama. Contoh, beberapa instansi/lembaga pemerintahan, dengan memanfaatkan segala keuanggulan yang dimilikinya, dan mereka mempunyai satu tujuan bersama, yakni untuk mewujudkan VISI dan MISI yang telah dibuatnya bersama-sama Oleh sebab itu, jelaslah bahwa keunggulan komparatif, bagaimana untuk mencapai tujuan bersama dengan segala keunggulan yang dimiliki baik oleh organisasi maupun terhadap organisasi lainnya, sedangkan keunggulan kompetitif, bagaimana memanfaatkan keunggulan yang dimiliki oleh organisasi untuk bisa mendapatkan tujuan organisasi, dengan cara berkompetisi dengan organisasi lainnyakarenaRicardo hanya melihat Inggris dan negaranegara maju plus Amerika Latindalam penyusunan teorinya tersebut.Pada masa Ricardo, belum ada pengamatan serius dan mendalam yangmengarah pada negara-negara di Dunia Ketiga. Wajar jika ketika negara-n e g a r a d i Dunia Ketiga mulai masuk dalam struktur e k o n o m i - p o l i t i k internasional ada beberapa hal dari teori perbandingan komparatif Ricardoyang menimbulkan berbagai kerugian di pihak negara-negara Dunia Ketiga.

B.

SARAN Di dalam penulisan makalah ini sangat banyak sekali yang harus di perhatikan contohnya di dalam pembangunan

ekonomi kita seharusnya terapan yang harus di perhatikan adalahbagaimana pemerintah dan masarakat membangun ekonomi yang lebih baik, karena di sinilah kita dapat mengetahui apa yang harus di lakukan atau upayah-upayah yang di lakukan pemerintah dalam meningkatkan ekonomi kita

PRINSIP KEUNGGULAN KOMPARATIF

Manajemen usaha tani adalah aplikasi dari prinsip-prinsip ekonomi dan ilmuproduksi dalam suatu organisasi usaha pertanian. Prinsip penting dari manajemenusaha tani berkembang dari kaidah-kaidah dasar teori ekonomi.

Pengembangan danperbaikan fungsi manajemen melalui penggabungan antar fakta-fakta, dan teori sertahukum ekonomi yang diterjemahkan dalam bahasa pertanian. Prinsip-prinsip tersebutdiantaranya adalah prinsip krunggulan komparatif. Konsep daya saing berpijak darikonsep keunggulan komparatif yang pertama kali dikenal dengan model Ricardian.Hukum keunggulan komparatif (The Low of Comparative Advantage) dari Ricardomenyatakan bahwa sekalipun suatu negara tidak memiliki keunggulan absolut dalammemproduksi dua jenis komoditas jika dibandingkan negara lain, namun perdaganganyang saling menguntungkan masih bisa berlangsung, selama rasio harga antar negaramasih berbeda jika dibandingkan tidak ada perdagangan. Ricardo menganggapkeabsahan teori nilai berdasar tenaga kerja ( labor theory of value ) yang menyatakanhanya satu faktor produksi yang penting yang menentukan nilai suatu komoditas yaitutenaga kerja. Nilai suatu komoditas adalah proporsional (secara langsung) dengan jumlah tenaga kerja yang diperlukan untuk menghasilkannya. Salah satu k elemahanteori Ricardo adalah kenapa tenaga kerja adalah satu-satunya faktor produksi, kenapaoutput persatuan input tenaga kerja dianggap konstan, dan tenaga kerja hanyadipandang sebagai faktor produksi.Teori keunggulan komparatif Ricardo disempurnakan oleh G. Haberler yangmenafsirkan bahwa labor of value hanya digunakan untuk barang antara, sehinggamenurut G. Haberler teori biaya imbangan ( theory opportunity cost ) dipandang lebihrelevan. Argumentasi dasarnya adalah bahwa harga relatif dari komoditas yangberbeda ditentukan oleh perbedaan biaya. Biaya disini menunjukkan produksikomoditas alternatif yang harus dikorbankan untuk menghasilkan komoditas yangbersangkutan.Menurut Simatupang (1991) serta Sudaryanto dan Simatupang (1993) konsep keunggulan komparatif merupakan ukuran dayasaing (keunggulan) potensial dalamartian daya saing yang akan dicapai apabila perekonomian tidak mengalami distorsisama sekali. Komoditas yang memiliki keunggulan komparatif dikatakan jugamemiliki efisiensi secara ekonomi. Selanjutnya Simatupang (1995) mengemukakanbahwa untuk meningkatkan daya saing produk pertanian dapat dilakukan denganstrategi pengembangan agribisnis melalui koordinasi vertikal sehingga produk akhirdapat dijamin dan disesuaikan preferensi konsumen akhir. Implementasinya dilapangan oleh pelaku agribisnis dilakukan dengan membangun kelembagaankemitraan usaha dalam berbagai pola kemitraan usaha. Terkait dengan konsepkeunggulan komparatif adalah kelayakan ekonomi, dan terkait dengan keunggulankompetitif. Kelayakan finansial melihat manfaat proyek atau aktivitas ekonomi darisudut lembaga atau

individu yang terlibat dalam aktivitas tersebut, sedangkan analisaekonomi menilai suatu aktivitas atas manfaat bagi masyarakat secara keseluruhan.Keunggulan komparatif berubah karena faktor yang mempengaruhinya diantaranyaadalah ekonomi dunia, lingkungan domestik dan teknologi. B. Analisis Masalah Terdapat beberapa contoh kasus yang berkaitan dengan keunggulan komparatif dalambidang pertanian/peternakan contohnya pada komoditas padi, palawija, holtikultura,perkebunan, dan peternakan. Komoditas Padi Untuk komoditas padi, meskipun hingga saat ini tetap memiliki keunggulankomparatif dan kompetitif, namun keunggulan yang dimiliki semakin rendah danrentan terhadap perubahan eksternal. Sebagai ilustrasi nilai koefisien DRCR (Domestic Resource Cost Ratio) dan PCR (Private Cost Ratio) untuk komoditas padipada berbagai tipe irigasi dibeberapa wilayah memberikan gambaran sebagai berikut(Rachman, dkk, 2004): (1) Nilai koefisen DRCR padi daerah sentra produksi di PulauJawa dengan mengambil kasus di Kabupaten Indramayu dan Majalengka, Jawa Baratdiperoleh nilai kisaran antara 0,78-0,99; sedangkan di Klaten, Jawa tengah berkisarantara 0,74-0,96; sementara itu di Kediri dan Ngawi Jawa Timur berkisar antara 0,70-1,00; (2) Nilai koefisen PCR padi wilayah sentra produksi di Pulau Jawa, untuk Kabupaten Indramayu dan Majalengka, Jawa Barat diperoleh nilai kisaran antara 0,70-0,88; sedangkan di Klaten, Jawa tengah berkisar antara 0,76-0,94; sementara itu diKediri dan Ngawi Jawa Timur berkisar antara 0,69-94; (3) Nilai koefisien DRCR padibeberapa wilayah sentra produksi Luar Jawa, untuk Kabupaten Sidrap, SulawesiSelatan berkisar antara 0,56-0,88; sedangkan di Kabupaten Agam Sumatera Barat berkisar antara 0,70-0,98; dan (4) Nilai koefisien PCR padi beberapa wilayah sentraproduksi Luar Jawa, untuk Kabupaten Sidrap, Sulawesi Selatan berkisar antara 0,55-0,87; sedangkan di Kabupaten Agam Sumatera Barat berkisar antara 0,68-0,79. Hasilanalisis tersebut menunjukkan bahwa keunggulan komparative dan kompetitif padiatau beras relatif rendah, keunggulan komparatif tersebut masih dapat diwujudkanmenjadi keunggulan kompetitif karena masih adanya proteksi pemerintah baik berupasubsidi input maupun melalui kebijakan tarif impor beras. Komoditas Palawija Untuk komoditas kedelai tidak memiliki keunggulan komparatif dan kompetitif.Hasil kajian analisis keunggulan komparatif dan kompetitif untuk komoditas kedelaidi lahan sawah pada berbagai tipe irigasi mefefleksikan beberapa hal pokok

sebagaiberikut (Rusastra, dkk., 2004) : (1) Nilai koefisen DRCR kedelai di Kabupaten Klaten,Jawa Tengah diperoleh nilai kisaran antara 0,92-0,99; (2) Nilai koefisen PCR kedelaidi Kabupaten Klaten, Jawa Tengah berkisar antara 0,94-1,04; (3) Nilai koefisienDRCR kedelai di Kabupaten Ngawi, Jawa Timur berkisar antara 0,75-1,15; dan (4)Nilai koefisien PCR kedelai di Kabupaten Ngawi Jawa Timur berkisar antara 1,00-1,05. Artinya untuk komoditas kedelai tidak atau kurang memiliki komparatif dankompetitif lagi. Hal inilah yang menjadi penjelas begitu kran impor dibuka secara luasdan perlindungan kepada petani dilonggarkan maka petani banyak meninggalkankomoditas kedelai dan melakukan substitusi ke komoditas lain yang dipandang lebihmenguntungkan, serta meningkatnya volume impor kedelai baik dari Amerika maupunRRC. Untuk komoditas jagung memiliki status keunggulan komparatif dan kompetitif yang relatif baik. Hasil kajian analisis keunggulan komparatif dan kompetitif untuk komoditas jagung pada berbagai tipe lahan sawah mefefleksikan beberapa hal pokok sebagai berikut (Rusastra, dkk., 2004) : (1) Nilai koefisen DRCR jagung di KabupatenKlaten, Jawa Tengah diperoleh nilai kisaran antara 0,30-0,50, sedangkan di Kediri,Jawa Timur berkisar antara 0,37-0,56; (2) Nilai koefisen PCR jagung di KabupatenKlaten, Jawa Tengah berkisar antara 0,52-0,84; sedangkan Kediri, Jawa Timurdiperoleh nilai kisaran antara 0,65-0,80; (3) Nilai koefisien DRCR jagung diKabupaten Sidrap, Sulawesi Selatan berkisar antara 0,56-0,65; dan (4) Nilai koefisienPCR jagung di lahan sawah untuk Kabupaten Sidrap, Sulawesi Selatan berkisar antara0,80-0,85. Untuk komoditas kacang tanah status keunggulan komparatif dankompetitif yang cukup baik. Hasil kajian analisis keunggulan komparatif dankompetitif untuk komoditas Kacang tanah pada berbagai jenis lahan sawah adalah Bogor dan Tasikmalaya, Jawa Barat memiliki keunggulan komparatif, namunkeunggulan yang dimiliki relatif rendah dengan nilai koefisien DRCR 0,720,82 dan0,72-0,78, namun kurang atau tidak memilki keunggulan kompetitif lagi masing-masing dengan nilai PCR 0,85-1,14; dan (2) Usahaternak ayam ras pedaging DiKabupaten Bogor dan Tasikmalaya, Jawa Barat memiliki keunggulan komparatif yangrendah dan atau tidak memiliki keunggulan komparatif lagi dengan nilai koefisienDRCR 0,83-1,92 dan 0,79-0,88 dan juga kurang atau hampir tidak memilkikeunggulan kompetitif lagi masing-masing dengan nilai PCR 0,92-0,99.Hasil analisis tersebut menunjukkan bahwa keunggulan

komparatif dan kompetitif komoditas peternakan ayam ras relatif rendah dan kurang atau tidak memilikikeunggulan kompetitif, terutama semenjak krisis ekonomi, karena sebagian besarbahan baku pakan adalah impor. Hal ini juga menjadi salah satu faktor penjelaskenapa berbagai pola kemitraan seperti KINAK SUPER yang ditujukan untuk segmenpasar ekspor sulit diwujudkan. C. Pembahasan Secara empirik usaha pertanian di Indonesia baik hasil kajian di Pulau Jawamaupun Luar Jawa memiliki keunggulan komparatif, tetapi apabila tidak dilakukanbeberapa langkah pembenahan maka tidak akan lagi memiliki kompetitif, terutama jika orientasinya adalah pasar ekspor. Untuk orientasi substitusi impor-pun kondisinyarawan karena petani mengalami disinsentif dalam berusahatani komoditas pertanian.Jika kondisi disinsentif tersebut berlangsung permanen dalam jangka waktu 2-3 tahunmendatang, barangkali pengusahaan beberapa komoditas pertanian di Indonesia tidak akan berkelanjutan. Beberapa titik-titik kelemahan yang perlu segera dibenahimencakup aspek produktivitas, kualitas hasil, dan masalahan ketidak stabilan hargabaik output dan terus meningkatnya harga input produksi. Tingkat produktivitasusahatani, yang sangat terkait dengan adopsi teknologi baik teknologi pembibitan,budidaya, serta panen dan pasca panen, serta perlunya teknologi usahatani konservasi.Kebijaksanaan insentif untuk mendukung peningkatan keunggulan komparatif dankompetitif difokuskan pada kebijakan penelitian dan pengembangan teknologi(pembibitan, budidaya, serta teknologi panen dan pascapanen) yang bersifat spesifik lokasi, spesifik komoditas, dan spesifik segmen dan tujuan pasarnya. Di samping itukebijakan revitalisasi kelembagaan penyuluhan dan peningkatan konsolidasi kelembagaan di tingkat petani, serta pengembangan kelembagaan kemitraan usahayang saling menguntungkan, membutuhkan, dan memperkuat akan menentukan upayapeningkatan dayasaing komoditas pertanian. Pengembangan kemitraan usahadiharapkan terbangunnya Supplay Chain Management (SCM) melalui perencanaandan pengaturan keseimbangan supplay dan demand di antara pelaku yang bermitradengan segmen dan tujuan pasar yang jelas. Komoditas Padi Implemtasi peraturan tersebut memunculkan berbagai kelembagaan kemitraanusaha. Pada komoditas padi terjadi hubungan kemitraan antara PT Pertani dengankelompok tani padi dalam penyediaan bahan baku bibit padi bersertifikat, seperti yangdijumpai di daerah-daerah sentra produksi padi di Majalengka, Jawa Barat; Klaten,Jawa Tengah; Kediri, Jawa Timur; Sidrap, Sulawesi Selatan, dan Agam, SumateraBarat. Di samping itu PT Pertani juga

bekerjasama dengan kelompok tani kasus diSidrap, Enrekang dan Pinrang dalam penyediaan bahan baku gabah untuk menghasilkan beras berkualitas (branded rice). Selain itu, juga dijumpai kelembagaankemitraan usaha antara petani dan kelompok kerja pemanen (pengusaha powerthresher) yang dilengkapi power thresher di pedesaan Sulawesi Selatan. Komoditas Palawija Pada komoditas palawija dijumpai kelembagaan kemitraan usaha antaraPerusahaan Pembibitan (breeding Farm) dari berbagai perusahaan seperti Arjuna BC,Charoen Phokpand, dengan petani baik secara individu maupun kelompok dalammenyediakan bahan baku bibit jagung hibrida dan jagung composit. Di samping itu juga dijumpai kemitraan usaha antara Perusahan Pakan Ternak dengan petani b aik secara individu maupun kelompok tani melalui Pola PIR, seperti yang di jumpai dipedesaan Jawa Timur dan Lampung. Sementara itu, untuk komoditas kedelai pernahterjalin beberapa model kemitraan usaha namun tidak berkelanjutan. Komoditas Hortikultura Pengembangan kelembagaan kemitraan usaha pada komoditas hortikulturamengemukakan terdapat lima skenario pengembangan model usaha hortikultura yaitu :(1) usaha perorangan; (2) usaha patungan; (3) usaha koperasi, dan (4) kerjasama ataukemitraan; dan (5) model manajemen satu atap. Dalam Model Kemitraan Petani Pengusaha, pengusha pengusaha besar, pengusaha pengolahan hasil, eksportir ataupedagang hasil hortikultura melakukan kemitraan dengan petani produsen, denganmembentuk kesepakatan harga dan kualitas pembelian produk. Kemitraan dilakukan dengan kelompok tani, sehingga kegiatan produksi dapat dilakukan secara lebihterkoordinir dalam satu kawasan atau hamparan dengan skala usaha tertentu. Namundalam prakteknya dijumpai kontrak kerjasama baik secara individu maupunkelompok. Seperti yang dijumpai kerjasama usaha antara Perusahaan Daerah ProvinsiBali dengan petani penggarap, PT Bayu Jaya Kusuma dengan kelompok tani Straberydi Sukasada, Buleleng, PT Putra Agro Sejati dengan petani secara individu untuk komoditas lobak, pueleng, gobo, dan wortel, serta ubijalar dan PT Select Tani denganpetani kentang, kubis, cabe merah dan tomat di Tanah Karo, Sumatera Utara. Disamping itu, juga terdapat kemitraan usaha dalam kerangka pengembangan SubTerminal Agribisnis, seperti STA di Bali dan Jawa Barat baik untuk memasok pasallokal, pasar induk, konsumen hotel dan restarant. Komoditas Perkebunan

Pola kemitraan usaha dalam bentuk Perusahaan Inti Rakyat (PIR) dikembangkanpada berbagai komoditas perkebunan Karet, Kopi, Kakao, Kelapa Sawit, dan Tebu.Salah satu Pola Kemitraan Usaha yang berhasi hingga kini adala pada PIR kelapasawit. Beberapa factor utama yang menyebabkan keberhasilan PIR Kelapa Sawitadalah (Erwidodo, dkk., 1996) : (1) Usaha komoditas perkebunan memiliki economicof scale sehingga pengembangan agribisnis dengan pola PIR yang mencakup arealrelatif luas mampu menekan ongkos produksi, dengan kata lain meningkatkankeuntungan; (2) Pelaksanaan PIR perkebunan pada umumnya dilakukan pada lahantransmigrasi yang baru dibangun, sehingga dapat dirancang lebih mudah ukran usahayang menguntungkan perusahaan inti yang menjadi mitra petani; dan (3) Perusahaaninti tertarik untuk melakukan kemitraan dengan petani karena pasar bahan baku bagiindustri pengolahan yang dibangunnya dapat dikuasai, dan adanya pembagian resikoantara perusahaan inti, petani dan pemerintah. Sedang bagi petani, kemitraan tersebutmenguntungkan karena komoditas perkebunan yang dikembangkan menjadi miliki jangkauan pasar lebih luas akibat dikembangkannya pabrik pengolahan dan pasarproduk yang dihasilkan petani lebih terjamin. Komoditas Peternakan Dalam operasionalnya pada komoditas peternakan dengan mengambil kasuskasuskemitraan yang terjadi pada peternakan ayam ras petelur dan pedaging di Jawa Baratdijumpai adanya Pola Inti Rakyat Perunggasan (PIR-Perunggasan). Hasil kajianSaptana (1999) dikenal tiga bentuk PIR-Perunggasan, yaitu: (1) pola PIR denganplasma kesepakatan, yaitu jaminan penyediaan sapronak dan pemasaran hasil; (2) pola PIR dengan plasma rasio, yaitu kerjasama inti plasma dengan sistem rasio harga,antaraa harga pakan, doc dan obat-obatan dengan harga jual hasil; dan (3) pola PIRdengan plasma mandiri (tanpa kesepakatan dan rasio harga). Dengan dikeluarkannyaKeppres 22/1990 yang pada dasarnya berisi pembebasan skala usaha, membukakesempatan bagi pemosal besar untuk bergerak dalam bidang budidaya dengan syarat65 persen dari produksinya ditujuakan ekspor (PMA) dan melakukan pembinaanterhadap peternakan rakyat melalui kemitraan usaha. Kemitraan tersebut dilakukanmelalui KINAK PRA, KINAK PIR dan KINAK SUPER. Bersadarkan uraian diatasmerefleksikan beberapa hal sebagai berikut: (1) pada periode sebelum terjadinyuakrisis moneter di Jawa Barat terdapat kemitraan usaha ayam ras dalam bentuk KINAKPRA dan KINAK PIR baik untuk ayam ras petelur maupun pedaging; (2) setelahterjadinya krisis moneter hanya teedapat kemitraan usaha ayam ras dalam bentuk KINAK PRA untuk ayam ras pedaging saja; (3) terdapat penurunan secara tajam baik perusahaan peternakan sebagai inti yaitu turun 25 persen, jumlah peternak plasmayang terlibat turun sebesar 40 persen dan jumlah terrnak yang diusahakan turunseebesar 60 persen untuk KINAK PRA ayam ras pedaging. Hasil kajian Saptana(1998) diperoleh hasil bahwa kemitraan usaha setelah terjadinya krisis mengalamikemerosotan baik dari

segi jumlah maupun kualitasnya. Pola kemitraan yang semuladalam bentuk KINAK PRA atau PIR kesepakatan mengalami pergeseran kearah polakerjasama sewa kandang ( contract farm) sekaligus jasa tenaga kerja. Artinya peternak hanya sebagai pengelola ayasm ras dengan memperoleh imbalan uang sewa kandangsebesar Rp. 50-75/ekor dan upah kerja Rp. 200-225/ekor, sehingga peternak memperoleh penghasilan sebesar Rp. 250300/ekor per siklus. Sebagian hanyadisewakan saja dimana perusahaan peternakan menaruh buruh dikandang yangdisewanya. Sementara itu pola kemitraan usaha KINAK PIR pada kenyataannya hanyamerupakan buruh ataau karyawan yang dibayar secara bulanan, meskipun dalamperjanjian ada hak atas pemilikan kandang setelah kredit dari Bank dimana perusahaanpeternakan (inti) sebagai penjamin. D. Kesimpulan Prinsip keunggulan komparatif didefinisikan sebagai kecenderungan seseoranguntuk memproduksi barang-barang dengan sumber-sumber yang didapatkannya yengmemberikan keunggulan terbesar. Prinsip ini merupakan dasar dalam menentukanpilihan spesialisasi dalam pertanian maupun peternakan komersil atau penentuanseleksi usaha bidang pertanian/peternakan dan merupakan dasar dalam menentukanpersaingan regional dari berbagai perusahaan dalam bidang pertanian dan peternakan.Pada analisa dan pembahasan kasus diketahui bahwa secara umum telah terbangunkelembagaan kemitraan usaha pertanian antara petani baik secara individu maupunkelompok dengan perusahaan pertanian. Namun belum terbangun kelembagaankemitraan yang saling membutuhkan, saling memperkuat, dan saling menguntungkan,serta tidak berkelanjutan. Kelemahan mendasar yang ada antara lain adalah rendahnyakomitmen antara pihak-pihak yang bermitra, bargaining positition yang tidak seimbang, serta kurang transparansinya dalam penetapan harga dan pembagian nilaitambah atau keuntungan. DAFTAR PUSTAKA Erwidodo.1995. Transformasi Struktural dan Industrialisasi Pertanian dalam ProsidingAgribisnis; Peluang dan Tantangan Agribisnis Perkebunan, Peternakan dan Perikanan.Pusat Penelitian Sosial Ekonomi Pertanian. Badan Penelitian dan PengembanganPertanian. Bogor.Rachman, B., P. Simatupang dan T. Sudaryanto. 2004. Efisiensi dan Dayasaing UsahataniPadi dalam

Efisiensi dan Daya Saing Sistem Usahatani Beberapa Komoditas Pertaniandi Lahan Sawah. Pusat Penelitian dan Pengembangan Sosial Ekonomi Pertanian.Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian. Bogor.Rusastra I.W. B. Rachman, dan S. Friyatno. 2004. Efisiensi dan Dayasaing UsahataniPalawija dalam Efisiensi dan Daya Saing Sistem Usahatani Beberapa KomoditasPertanian di Lahan Sawah. Pusat Penelitian dan Pengembangan Sosial EkonomiPertanian. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian Bogor.Saptana. 1999. Dampak Krisis Moneter dan Kebijaksanaan Pemerintah TerhadapProfitabilitas dan Dayasaing Sistem Komoditi Ayam Ras di Jawa Barat. Tesis S2.Program Studi Ilmu Ekonomi Pertanian, Program Pasca Sarjana, Institut PertanianBogor.Saptana. 2001. Keunggulan Komparatif-Kompetitif Dan Strategi Kemitraan. Pusat Penelitiandan Pengembangan Sosial Ekonomi Pertanian Badan Litbang Pertanian, DepartemenPertanian RI.Simatupang, P. 1991. The Conception of Domestic Resource Cost and Net Economic Benefitfor Comparative Advantage Analysis Agribusiness Division Working Paper No. 2/91,Centre for Agro-Socioeconomic Research. Bogor.Simatupang, P. 1995. Industrialisasi Pertanian Sebagai Strategi Agribinis dan PembangunanPertanian Dalam Era Globalisasi. Orasi Pengukuhan Ahli Peneliti Utama. PusatPenelitian Sosial Ekonomi Pertanian. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian.Departemen Pertanian. Bogor.

Teori Keunggulan Komparatif : David Ricardo Penjelasan mengenai hukum keunggulan komparatif dikemukakan oleh David Ricardo dalam bukunya Principles of Political Economy and Taxation (1817). Menurut hukum keunggulan komparatif, meskipun sebuah negara kurang efisien dibanding (atau memiliki kerugian absolut terhadap) negara lain dalam memproduksi kedua jenis komoditi yang dihasilkan, namun masih tetap terdapat dasar untuk melakukan perdagangan yang menguntungkan kedua belah pihak. Negara A misalnya harus melakukan spesialisasi dalam memproduksi dan mengekspor komoditi yang memiliki kerugian absolut lebih kecil (yang merupakan komoditi yang memiliki keunggulan komparatif) dan mengimpor komoditi yang memiliki kerugian absolut cukup besar (komoditi yang memiliki kerugian komparatif). Jadi harga sesuatu barang tergantung dari banyaknya tenaga kerja yang dicurahkan untuk memproduksi barang tersebut. Teori keunggulan absolut tidak dapat digunakan sebagai dasar dalam perdagangan internasional apabila salah satu negara memiliki keunggulan absolut atas kedua jenis komoditi. Atau dengan kata lain bahwa bila salah satu negara memiliki keunggulan absolut atas kedua jenis komoditi, maka perdagangan tidak akan terjadi. Namun dengan teori keunggulan komparatif, perdagangan internasional antara dua negara masih dapat berlangsung walaupun salah satu negara memiliki keunggulan absolut atas kedua jenis komoditi. Hal tersebut dapat dijelaskan pada contoh di bawah ini. Tabel 3 : Keunggulan komparatif berdasarkan jam kerja per satuan output : David Ricardo
Negara India Permadani 30 menit/meter 40 Sutra 24 menit/meter 50 Dasar Tukar Domestik (DTD) 1 meter sutra = 0,8 meter permadani 1 meter sutra = 1,25

Malaysia

menit/meter

menit/meter

meter permadani

Pada tabel 3 bila dilihat jumlah jam (waktu) yang digunakan tanpa memperhatikan perbandingan dasar tukar domestik antara permadani dan sutra di kedua negara, tampaknya India memiliki keunggulan absolut atas permadani dan sutra, karena India dapat menghasilkan permadani dalam waktu 30 menit/meter, sedangkan Malaysia menggunakan waktu yang lebih banyak 40 menit/meter, begitu pula sutra, India hanya menggunakan waktu 24 menit/meter, sedangkan Malaysia menggunakan 50 menit/meter. Dengan demikian berdasarkan teori keunggulan absolut, perdagangan antara India dan Malaysia tidak akan terjadi, karena India memiliki keunggulan absolut atas kedua jenis komoditi. Bila didasarkan pada teori keunggulan komparatif, perdagangan antara India dan Malaysia masih tetap akan terjadi, karena secara komparatif India memiliki keunggulan atas sutra dan Malaysia memiliki keunggulan atas permadani. Hal tersebut dapat dilihat berdasarkan dasar tukar domestik masing-masing negara, yaitu DTD di India adalah 1 meter sutra dapat ditukar dengan 0,8 meter permadani, sementara di Malaysia 1 meter sutra dapat ditukar dengan 1,25 meter permadani. Atau dengan kata lain bahwa di India harga sutra lebih murah di banding harga permadani (karena ongkos produksinya hanya 24/50 atau 48 % dari ongkos produksi sutra di Malaysia, sedang ongkos produksi permadani 30/40 atau 75 % dari ongkos produksi permadani di Malaysia). Sebaliknya di Malaysia harga permadani lebih murah dibandingkan harga sutra (karena ongkos produksi permadani adalah 40/30 atau 133,33 % dari ongkos produksi di India, sedangkan ongkos produksi sutra adalah 208,33 % dari ongkos produksi di India). Perbedaan harga komoditi di kedua negara dapat pula dijelaskan sebagai berikut : harga relatif sutra terhadap permadani di India sebesar (24/30 = 0,8) adalah lebih rendah di banding Malaysia sebesar ( 50/40 = 1,25), dan harga relatif permadani terhadap sutra di Malaysia sebesar (40/50 = 0,8) adalah lebih rendah di banding India sebesar (30/24 = 1,25).

Menurut Ricardo bahwa keuntungan perdagangan dapat diperoleh kedua negara yang melakukan hubungan perdagangan apabila dasar tukar internasional (DTI) 1 : 1. Dengan DTI 1 : 1, maka India akan memperoleh keuntungan sebanyak 0,2 meter permadani, karena di domestiik 1 meter sutra dapat ditukar dengan 0,8 meter permadani, tetapi melalui perdagangan internasional 1 meter sutra dapat ditukar dengan 1 meter permadani. Selanjutnya, Malaysia memperoleh keuntungan sebanyak 0,25 meter sutra, karena di domestik 1 meter sutra dapat ditukar dengan 1,25 meter permadani, tetapi dengan perdagangan internasional 1 meter sutra dapat ditukar dengan 1 meter permadani, dalam hal ini keuntungan Malaysia adalah berupa efisiensi dalam menukarkan permadani, yaitu dari 1,25 meter permadani menjadi hanya 1 meter permadani untuk memperoleh 1 meter sutra. Selanjutnya dalam bentuk lain, yaitu banyaknya komoditi yang dapat dihasilkan per tenaga kerja dalam satu hari dengan jumlah jam kerja 8 jam per hari adalah sebagaimana pada tabel berikut : Tabel 4 : Keunggulan komparatif berdasarkan output per tenaga kerja per hari (8jam kerja) : David Ricardo
Negara India Permadani 16 meter Sutra 20 meter Dasar Tukar Domestik (DTD) 1 meter sutra = 0,8 meter permadani 20 meter sutra = 16 meter permadani 1 meter sutra = 1,25 meter permadani 9,6 meter sutra = 12 meter permadani

Malaysia

12 meter

9,6 meter

Berdasarkan tabel 4 setiap tenaga kerja di India dapat menghasilkan permadani dalam sehari sebanyak 16 meter dan sutra sebanyak 20 meter, sedangkan Malaysia dapat menghasilkan 12 permadani dan 9,6 meter sutra. Apabila kedua negara melakukan perdagangan dengan DTI 1 : 1, maka India dapat memperoleh permadani

sebanyak 20 meter (ada tambahan 4 meter permadani, yaitu dari 16 meter menjadi 20 meter), dan Malaysia dapat memperoleh sutra sebanyak 12 meter (ada tambahan sebanyak 2,4 meter sutra, yaitu dari 9,6 meter menjadi 12 meter). Apabila DTD kedua negara atau salah satu negara sama dengan DTI 1 : 1, maka perdagangan antara kedua negara kecil kemungkinan untuk terjadi karena perdagangan luar negeri menghasilkan keuntungan sama dengan perdagangan domestik. Demikian halnya bila DTD kedua negara adalah 1 : 1, maka perdagangan juga tidak terjadi karena salah satu negara akan memperoleh kerugian. Jadi perdagangan yang akan memberi keuntungan kedua negara apabila DTI 1 : 1 berada di antara DTD masing-masing negara.

Teori Keunggulan komparatif : Jhon Stuart Mill Teori ini menyatakan bahwa nilai suatu barang ditentukan oleh banyaknya tenaga kerja yang dicurahkan untuk memproduksi barang tersebut. Makin banyak tenaga kerja yang digunakan untuk memproduksi suatu barang, makin mahal harga barang tersebut. Suatu negara akan memproduksi dan mengekspor barang yang memiliki keunggulan komparatif terbesar dan mengimpor barang yang memiliki relatif kerugian komparatif. Atau dengan kata lain suatu negara akan memproduksi dan mengekspor barang yang dapat dihasilkan dengan harga relatif murah dan mengimpor barang yang apabila diproduksi sendiri menggunakan ongkos produksi yang relatif lebih besar. Pada dasarnya teori keunggulan komparatif yang dikemukakan David Ricardo dan J.S. Mill sama, yang membedakan adalah penentuan dasar tukar internasional (DTI). Menurut Ricardo bahwa perdagangan yang dapat memberikan keuntungan kedua belah pihak adalah DTI 1 : 1, sedangkan J.S. Mill DTI tidak perlu 1 : 1, asalkan DTI berada di antara DTD masingmasing negara, maka perdagangan kedua belah pihak dapat dilaksanakan dengan memberikan keuntungan kedua-duanya. Tabel 5 : Keunggulan komparatif berdasarkan jam kerja per satuan output : J.S. Mill.
Negara Iran Indonesia Sutra 2 jam/meter 1 jam/meter Permadani 4 jam/meter 5 jam/meter Dasar Tukar Domestik (DTD) 1 meter permadani = 2 meter sutra 1 meter permadani = 5 meter sutra

Berdasarkan tabel 5 apabila DTI 1 : 1, maka perdagangan antara Iran dan Indonesia tidak akan terjadi, karena kedua negara hanya bersedia menukarkan sutra untuk memperoleh permadani. Jika Iran berspesialisasi pada permadani, maka dengan DTI 1 meter permadani = 1 meter sutra berarti dalam perdagangan internasional Iran akan mengalami kerugian sebesar 1 meter sutra (yaitu dari 2 meter sutra yang dapat ditukarkan dengan 1 meter permadani di dalam negeri, sedangkan di luar negeri Iran hanya akan memperoleh 1 meter sutra). Sebaliknya, Indonesia jika berspesialisasi pada sutra, maka akan mengalami keuntungan sebanyak 4 meter sutra (yaitu dari 5 meter sutra yang dapat ditukarkan dengan 1 meter permadani di dalam negeri, maka di luar negeri hanya ditukarkan

sebanyak 1 meter sutra untuk memperoleh 1 meter permadani, yang berarti Indonesia akan memperoleh efisiensi sebanyak 4 meter sutra). Selanjutnya, jika diandaikan Iran berspesialisasi pada sutra, maka dengan DTI 1 meter permadani : 1 meter sutra, Iran akan memperoleh keuntungan sebesar 1 meter sutra, karena di dalam negeri untuk memperoleh 1 meter permadani harus ditukarkan dengan sutra sebanyak 2 meter. Sebaliknya, jika Indonesia berspesialisasi pada permadani, maka dengan DTI 1 meter permadani = 1 meter sutra, Indonesia akan mengalami kerugian sebanyak 4 meter sutra, karena di dalam negeri jika 1 meter permadani ditukar dengan sutra, maka akan diperoleh sebanyak 5 meter sutra. Berdasarkan dua kondisi yang digambarkan di atas, maka hubungan perdagangan antara dua Iran dan Indonesia tidak akan terjadi. Hal tersebut disebabkan karena, ada negara yang mengalami keuntungan, tetapi negara lainnya mengalami kerugian. Menurut J.S. Mill, berdasarkan data pada tabel 5, perdagangan antara Iran dan Indonesia dapat terjadi dan memberikan keuntungan kedua belah pihak apabila DTI berada di antara DTD masing-masing negara, misalnya DTI 1 meter permadani = 3 meter sutra. Tabel 5 menunjukkan bahwa Iran memiliki keunggulan komparatif atas permadani, karena waktu yang dibutuhkan untuk memproduksi permadani lebih sedikit dibanding waktu yang digunakan untuk memproduksi sutra. Sebaliknya Indonesia memiliki keunggulan komparatif atas sutra. Apabila kedua negara melakukan perdagangan, maka Iran akan berspesialisasi pada produksi permadani dan mengekspornya ke Indonesia kemudian akan mengimpor sutra dari Indonesia. Sebaliknya dengan Indonesia akan mengekspor sutra dan mengimpor permadani. Melalui perdagangan internasional Iran akan memperoleh 3 meter sutra yang ditukar dengan 1 meter permadani, sehingga memperoleh keuntungan sebanyak 1 meter sutra. Di pihak lain, Indonesia akan memperleh keuntungan dengan hanya menukarkan 3 meter sutra untuk memperoleh 1 meter permadani, yang berarti Indonesia akan memperoleh efisiensi yang setara dengan 2 meter sutra. Tabel 6 : Keunggulan komparatif berdasarkan output per jam kerja tenaga kerja (8 jam kerja/hari) : J.S. Mill.
Negara Iran Indonesia Sutra 4 meter 8 meter Permadani 2 meter 1,6 meter Dasar Tukar Domestik (DTD) 1 meter permadani = 2 meter sutra; 2 meter permadani = 4 meter sutra 1 meter permadani = 5 meter sutra; 1,6 meter permadani = 8 meter sutra

Berdasarkan tabel 6 apabila Iran dan Indonesia melakukan perdagangan dengan DTI 1 meter permadani = 3 meter sutra, maka bila Iran mengekspor permadani sebanyak 2 meter, ia akan memperoleh sutra sebanyak 6 meter, sedangkan perdagangan domestik 2 meter permadani hanya bernilai 4 meter sutra. Selanjutnya Indonesia bila mengekspor sutra sebanyak 8 meter, ia akan memperoleh permadani sebanyak 2,67 meter, sedangkan di domestik 8 meter sutra hanya bernilai 1,6 meter permadani. Dengan demikian perdagangan internasional akan memberikan manfaat bagi kedua negara yang berdagang, baik dalam bentuk peningkatan produksi, konsumsi maupun kesejahteraan masyarakat di kedua negara.

eunggulan Komparatif
Teori keunggulan komparatif (theory of comparative advantage) merupakan teori yang dikemukakan oleh David Ricardo. Menurutnya, perdagangan internasional terjadi bila ada perbedaan keunggulan komparatif antarnegara. Ia berpendapat bahwa keunggulan komparatif akan tercapai jika suatu negara mampu memproduksi barang dan jasa lebih banyak dengan biaya yang lebih murah daripada negara lainnya. Sebagai contoh, Indonesia dan Malaysia sama-sama memproduksikopi dan timah. Indonesia mampu memproduksi kopi secara efisien dan dengan biaya yang murah, tetapi tidak mampu memproduksi timah secara efisien dan murah. Sebaliknya, Malaysia mampu dalam memproduksi timah secara efisien dan dengan biaya yang murah, tetapi tidak mampu memproduksi kopi secara efisien dan murah. Dengan demikian, Indonesia memiliki keunggulan komparatif dalam memproduksi kopi dan Malaysia memiliki keunggulan komparatif dalam memproduksi timah. Perdagangan akan saling menguntungkan jika kedua negara bersedia bertukar kopi dan timah. Dalam teori keunggulan komparatif, suatu bangsa dapat meningkatkan standarkehidupan dan pendapatannya jika negara tersebut melakukan spesialisasi produksi barang atau jasa yang memiliki produktivitas dan efisiensi tinggi. Teori ini berlandaskan pada asumsi:

Labor Theory of Value, yaitu bahwa nilai suatu barang ditentukan oleh jumlah tenaga kerja yang dipergunakan untuk menghasilkan barang tersebut, dimana nilai barang yang ditukar seimbang dengan jumlah tenaga kerja yang dipergunakan untuk memproduksinya.

Perdagangna internasional dilihat sebagai pertukaran barang dengan barang. Tidak diperhitungkannya biaya dari pengangkutan dan lain-lain dalam hal pemasaran Produksi dijalankan dengan biaya tetap, hal ini berarti skala produksi tidak berpengaruh. Faktor produksi sama sekali tidak mobile antar negara. Oleh karena itu , suatu negara akan melakukan spesialisasi dalam produksi barangbarang dan mengekspornya bilamana negara tersebut mempunyai keuntungan dan akan mengimpor barang-barang yang dibutuhkan jika mempunyai kerugian dalam memproduksi.

Teori keunggulan komparatif (theory of comparative advantage) merupakan teori yang dikemukakan oleh David Ricardo pada tahun 1817. Teori keungulan komparatif melihat kuntungan atau kerugian dari perdagangan internasional dalam perbandingan relatif. Hingga saat ini, teori keunggulan komparatif merupakan dasar utama yang menjadi alasan negara melakukan perdagangan internasional. David Ricardo berpendapat bahwa meskipun suatu negara mengalami kerugian mutlak (dalam artian tidak mempunyai keunggulan mutlak dalam memproduksi kedua jenis barang bila dibandingkan dengan negara lain), namun perdagangan internasional yang saling menguntungkan kedua belah pihak masih dapat dilakukan, asal negara tersebut melakukan spesialisasi produksi terhadap barang yang memiliki biaya relatif terkecil dari negara lain.

Dalam menggunakan teori keunggulan komparatif, kita akan berpijak pada asumsi berikut :

Perdagangan melibatkan dua negara Ada dua barang berbeda yang diperdagangkan

Berlaku teori nilai tenaga kerja, yaitu nilai atau harga suatu barang dapat dihitung dari jumlah waktu (jam kerja) tenaga kerja yang dipakai dalam memproduksi barang tersebut.

Negara

Jumlah jam kerja per satu unit kemeja sepatu 2 3

Perbandingan efisiensi tenaga kerja

kemeja 1/4 4

sepatu 2/3 3/2

Indonesia malaysia

1 4

Dari tabel diatas, indonesia punya keunggulan komparatif dalam produksi kemeja, sedangkan malaysia masih punya kesempatan memperoleh keuntungan dari perdagangan internasional jika berspesialisasi dalam produksi sepatu. Dasar pemikiran Ricardo mengenai penyebab terjadinya perdagangan antarnegara pada prinsipnya sama dengan dasar pemikiran dari Adam Smith, namun berbeda pada cara pengukuran keunggulan suatu negara, yakni dilihat komparatif biayanya, bukan perbedaan absolutnya. Jadi, beda dari kedua teori diatas terletak pada biaya mutlak dan biaya relatif untuk memproduksi barang/ jasa.