Anda di halaman 1dari 176

TUGAS AKHIR

PERENCANAAN GEDUNG BETON BERTULANG DENGAN MENGGUNAKAN BALOK-BALOK KANTILEVER

(STUDI KASUS GEDUNG BERBENTUK OVAL)

Diajukan sebagai syarat untuk meraih gelar Sarjana Teknik Strata 1 (S1)

NAMA

NIM

untuk meraih gelar Sarjana Teknik Strata 1 (S1) NAMA NIM Disusun oleh : : GABRIELLA MARIA

Disusun oleh :

: GABRIELLA MARIA MAGDALENA S.

: 41107010007

UNIVERSITAS MERCU BUANA

FAKULTAS TEKNIK SIPIL dan PERENCANAAN

PROGRAM STUDI TEKNIK SIPIL

2011

LEMBAR PENGESAHAN SIDANG SARJANA PROGRAM STUDI TEKNIK SIPIL FAKULTAS TEKNIK SIPIL DAN PERENCANAAN UNIVERSITAS MERCU

LEMBAR PENGESAHAN SIDANG SARJANA PROGRAM STUDI TEKNIK SIPIL FAKULTAS TEKNIK SIPIL DAN PERENCANAAN UNIVERSITAS MERCU BUANA

Q

Tugas akhir ini untuk melengkapi tugas-tugas dan memenuhi persyaratan dalam memeperoleh gelar Sarjana Teknik, jenjang pendidikan Strata 1 (S-1), Program studi Teknik Sipil, Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan, Universitas Mercu Buana, Jakarta.

Judul Tugas Akhir

:

Perencanaan

Struktur

Beton

Bertulang

Dengan

Menggunakan

Balok-Balok Kantilever (Studi Kasus : Gedung Berbentuk Oval)

Disusun oleh

:

Nama

:

Gabriella Maria Magdalena S.

NIM

:

41107010007

Jurusan/Program Studi

:

Teknik Sipil

Telah diperiksa dan disetujui untuk diajukan sidang sarjana :

Jakarta, 5 Agustus 2011

Mengetahui,

Pembimbing Tugas Akhir

Ir. Zainal Abidin Shahab, MT

Mengetahui,

Ketua Program Studi Teknik Sipil

Ir. Sylvia Indriani, MT

LEMBAR PENGESAHAN SIDANG SARJANA PROGRAM STUDI TEKNIK SIPIL FAKULTAS TEKNIK SIPIL DAN PERENCANAAN UNIVERSITAS MERCU

LEMBAR PENGESAHAN SIDANG SARJANA PROGRAM STUDI TEKNIK SIPIL FAKULTAS TEKNIK SIPIL DAN PERENCANAAN UNIVERSITAS MERCU BUANA

Q

Semester : Genap

Tahun Akademik : 2010/2011

Tugas akhir ini untuk melengkapi tugas-tugas dan memenuhi persyaratan dalam memeperoleh gelar Sarjana Teknik, jenjang pendidikan Strata 1 (S-1), Program studi Teknik Sipil, Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan, Universitas Mercu Buana, Jakarta.

Judul Tugas Akhir : Perencanaan Struktur Beton Bertulang Dengan Menggunakan Balok- Balok Kantilever (Studi Kasus : Gedung Berbentuk Oval)

Disusun oleh

:

Nama

:

Gabriella Maria Magdalena S.

NIM

:

41107010007

Jurusan/Program Studi

:

Teknik Sipil

Telah diajukan dan dinyatakan LULUS pada sidang sarjana pada tanggal 5 Agustus 2011

Mengetahui,

Ketua Penguji

Ir. Edifrizal Darma, MT

Pembimbing

Ir. Zainal Abidin Shahab, MT

Jakarta, 5 Agustus 2011

Mengetahui,

Ketua Program Studi Teknik Sipil

Ir. Sylvia Indriany, MT

LEMBAR PERNYATAAN SIDANG SARJANA PRODI TEKNIK SIPIL FAKULTAS TEKNIK SIPIL DAN PERENCANAAN UNIVERSITAS MERCU BUANA

LEMBAR PERNYATAAN SIDANG SARJANA PRODI TEKNIK SIPIL FAKULTAS TEKNIK SIPIL DAN PERENCANAAN UNIVERSITAS MERCU BUANA

Q

Yang bertanda tangan dibawah ini :

Nama

:

Gabriella Maria Magdalena S.

Nomor Induk Mahasiswa

:

41107010007

Program Studi

:

Teknik Sipil

Fakultas

:

Teknik Sipil dan Perencanaan

Menyatakan bahwa Tugas Akhir ini merupakan kerja asli, bukan jiplakan (duplikat) dari karya

orang lain. Apabila ternyata pernyataan saya ini tidak benar maka saya bersedia menerima sanksi

berupa pembatalan gelar kesarjanaan saya.

Demikian pernyataan ini saya buat dengan sesungguhnya untuk dapat dipertanggung jawabkan

sepenuhnya.

Jakarta, 5 Agustus 2011

Yang memberikan pernyataan

Gabriella Maria Magdalena S.

ABSTRAK

Judul: Perencanaan Gedung Beton Bertulang Dengan Menggunakan Balok-Balok Kantilever (Studi Kasus: Gedung Berbentuk Oval), Nama: Gabriella Maria Magdalena S. NIM:

41107010007, Dosen Pembimbing: Ir. Zainal Abidin Shahab, MT. Tahun : 2011.

Kemajuan teknologi dibidang ilmu struktur dan kostruksi yang membuat berbagai bentuk desain bangunan semakin beragam. Beragamnya desain yang ada juga membuat semakin membuat perhitungan dari desain tersebut semakin rumit. Dengan latar belakang itulah, perencanaan ini mempunyai maksud untuk mengetahui berbagai permasalahan dari segi kekuatan, kekakuan, dan stabilitas dari desain yang semakin maju saat ini.

Dalam metode perencanaan ini pertama-tama yang harus dilakukan adalah pengumpulan data tentang desain-desain yang akan di buat. Seperti misalnya kuat tekan beton berapa yang akan digunakan, kuat tarik berapa yang akan dipakai, desain akan dibangun diatas wilayah gempa berapa. Setelah keseluruhan data yang akan dipakai itu lengkap, mulai membuat desain gambar yang akan kita rencanakan. Desain gambar berupa denah tiap lantai beserta dengan ukuran- ukurannya, letak-letak kolom yang akan didesain, potongan-potongan struktur gedung yang akan didesain. Setelah semuanya lengkap, baru dapat mulai menghitung. Perhitungan awal dimulai dari prarencana, yang berisi perhitungan untuk menentukan dimensi-dimensi yang akan digunakan dalam desain.

Hasil dari perencanaan ini berupa dimensi-dimensi yang akan digunakan dalam desain. Seperti dimensi yang digunakan pada balok berdasarkan dari pembebanan-pembenanya didapat ukuran balok umum 350/700 mm, sedangkan untuk ukuran balok-balok kantilevernya adalah 450/800. Balok kantilever memiliki dimensi yang lebih besar dari balok umum dikarenakan karena pada balok kantilever memiliki deformasi akibat beban yang besar, maka dari itu perlu perhatian yang lebih. Dimensi kolom yang digunakan juga beragam, dibagi menurut lantai dan letak kolom iu sendiri. Seperti pada kolom pinggir ukuran kolom pinggir lantai 1-3 adalah 750/750, lantai 4-7 adalah 600/600, dan lantai 8-10 adalah450/450. Sedangkan pada kolom yang mengalami perkakuan dibagi menjadi 2 bagian menurut lantai. Lantai 1-5 menggunakan dimensi 900/900, dan kolom lantai 6-10 menggunakan dimensi 700/700. Pada perhitungan penulangan digunakan dua metode, manual dan hasil output dari ETABS, output dari ETABS sebagai koreksi dari hasil perhitungan manual. Desain penulangan diambil berdasarkan momen-momen paling ekstrim yang terjadi pada struktur. Sedangkan pada penulangan bagian kantilever digunakan dengan metode prategang, hal ini dikarenakan bentang balok kantilever yang sangat besar, dan agar menjadi lebih efisien dan aman.

Kata kunci : Kantilever, Oval, Prategang

KATA PENGANTAR

Tiada ada kata yang dapat saya ucapkan selain puji dan syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa

atas rahmat, karunia, dan ijin-Nyalah proses penyusunan Tugas Akhir ini dapat diselesaikan

dengan baik dan lancar. Tugas Akhir ini dibuat dalam rangka melengkapi salah satu syarat guna

mencapai jenjang strata 1 (S1) Sarjana Teknik Sipil Universitas Mercu Buana.

Pada kesempatan ini, saya mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu

proses penyusunan Tugas Akhir ini baik dari segi moril maupun segi materil dari secara

langsung maupun tidak secara langsung.

Terima kasih saya yang sebesar-besarnya kepada :

1. Seorang wanita yang telah Tuhan berikan kepada saya untuk mendidik, membesarkan,

dan menyayangi saya dengan setulus hati sampai saya berusia 20 tahun. Terima kasih ibu

buat semuanya, buat dukungan, semangat, dan doa yang selalu menyertai saya selama ini

sampai saat kau pergi. “Terima kasih” adalah kata yang belum sempat saya ucapkan

kepadamu. Miss u in every second i have mom, everything i do just to make you proud of

me

2. Ayah saya yang selalu mendukung setiap langkah dan keputusan yang saya ambil. Yang

selalu menjadi inspirasi saya dan semangat saya ketika saya sedang merasa tidak mampu.

Satu-satunya laki-laki yang tidak pernah meninggalkan saya dalam keadaan sedih

ataupun senang. Lav u so much dad

3. Bapak Ir. Zainal Abidin Shahab, MT. Selaku dosen pembimbing dalam Tugas Akhir ini.

Yang dengan sabar membimbing saya dalam menyelesaikan Tugas Akhir ini. Terima

kasih bapak buat ilmunya.

4.

Ibu Dr. Ir. Resmi Bestari Muin, MT. Selaku dosen pembimbing saya dalam Tugas Akhir

ini, Terima kasih ibu, untuk kesabaran dan pengertiannya dalam mengajarkan dan

membimbing saya selama ini.

5. Ibu Ir. Sylvia Indriani, MT. Selaku Kepala Program Studi Teknik Sipil yang selalu

membimbing saya dengan sabar.

6. Bapak Ir. Zaenal Arifin, MT. Selaku dosen pembimbing akademik saya, selama saya

menuntut ilmu di Teknik Sipil Mercu Buana ini. Terima Kasih Pak Jefri.

7. Bapak dan Ibu dosen Teknik Sipil Mercu Buana yang telah dengan sabar dan tulus

membekali

saya

dengan

ilmu-ilmu

yang

akan

menjadi

modal

utama

saya

untuk

dikemudian hari nanti. Terima kasih bapak. Terima kasih ibu.

8. Pak Kadi, selaku tata usaha Teknik Sipil yang selalu dengan sabar dan perhatian

memberikan berbagai informasi-informasi penting tentang informasi perkuliahan dan

masalah administrasi saya. Maaf ya pak selama ini saya selalu menyusahkan bapak,

terima kasih.

9. Pak Harri, selaku kepala tata usaha Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan yang selalu

ramah dan ceria kepada saya yang dapat merubah suasana hati saya terutama saat suasana

hati saya sedang tidak baik. Terima Kasih juga karena sudah mau memfoto-foto saya

dalam setiap acara-acara yang berlangsung.

10.Saudara sepupu-sepupu saya yang selalu memberikan saya motivasi, dorongan, doa, dan

yang tidak pernah henti-hentinya kepada saya dalam menyusun Tugas Akhir ini. Lav u

sist

11. Kak Ika Rahmawati, Sipil 2005, yang selalu dengan sabar menjawab segala pertanyaan-

pertanyaan urgent saya, walau sudah malam sekalipun. Terima kasih kakak, maaf sudah

banyak merepotkan kakak.

12. Kak Suteni, Sipil 2004, yang dengan sabar dan setia menjawab segala masalah-masalah

dalam tugas akhir ini dengan setia. Terima kasih ya kak teni buat semua refrensi-refrensi

yang kakak berikan untuk saya.

13.Seluruh sahabat-sahabat sipil 2007. Mas Yanto “K-Link” terima kasih yang sebesar-

besarnya buat semuanya. Buat perhatiannya, buat pengertiannya, buat semangatnya, buat

motivasinya yang selalu anda beri kepada saya. Ayo link

September pasti bisa!!!!. To

all My beloved WTS 2007. Tante Pie, Bounce, Ais, thanks for all ya, Terima kasih buat

dukungannya selama ini dan buat keyakinan yang sudah kalian beri buat saya. Terima

kasih untuk semangat yang selalu kalian tularkan untuk saya ketika saya merasa tidak

mampu. Terima kasih karena telah selalu bersabar dan perhatian menghadapai teman

seperti saya, sedih banget kita tidak bisa menyusun Tugas Akhir bersama-sama. Tayo

“Risti” Irawan. *sigh. Sahabat senasib dan seperjuangan saya. Terima kasih buat

kekonyolan, keceriaan, keautisan, dan kegoblokan yang sudah anda beri untuk saya. 4

hari

anda

berturut-turut

bermalam

dirumah

sebenarnya anda itu “berbeda”. Hahahaha

saya

sudah

dapat

membuktikan

kalau

Hendra “Birong beiber” May Rahman.

Terima kasih untuk canda tawa yang anda berikan kepada saya. Anda adalah satu-satunya

sahabat

yang

dapat

membuat

saya

tertawa

sendiri

dengan

hanya

melihat

atau

mendengarkan

anda

berbicara.

“Ayooo

ndraaa

mainkan

tanahmu!!!!”.

Chandra

“uncle” Kurniawan. Terima Kasih untuk semangat dan nasihat hidup sehat yang selalu

om kasih untuk saya. “Ayoo

om, kapan mulai T.A nya??”

Bang Dafi, yang selalu

menjadi inspirasi saya dalam melakukan usaha, makasih bang buat segala keceriaan yang

sudah anda berikan kepada saya. My beloved son Taqbir Ronie, Makasih ya nak buat

semuanya yang udah kamu beri untuk saya. “ayooo donk

mana semangaaadnya

nak???”. Saeful “Aa Ipunk” Bokhari tersayank, yang selalu memberi saya pencerahan

dalam

setiap

perkataanmu

aa

*lebay.

Hehehe

Lav

u

so

much

aa.

My

teddy

“Mengkel”, terima kasih buat semuanya ya kel, buat keceriaan yang selalu dirimu

ciptakan ditengah-tengah kita semua. “Ayo kuliah lagi, jangan keenakan cari duit

muluuuu”. Ari “Blay” Yulianto, makasih buat semuanya yaaa, buat segala kegokilan

yang sudah kita lewatin bersama. Septian “KoDog” Kisprabowo. Terima kasih untuk

semuanya ya dog, buat segala nasehat, kegokilan, dan cerita-cerita yang bisa menjadi

inspirasi untuk saya. Rusman “Ucok” Lubis. Makasih ya ucok buat cerita-cerita

inspiratif tentang kehidupan yang telah dirimu ceritakan kepada saya, anda membuka

mata saya tentang rahasia “warteg” yang sebenarnya. Hehehe

Untuk Rezza Jatnika,

sahabat kami tercinta, semangat ya T.Anya. Thanks for all everybody

I’m

nothing

without you guys, Thanks for our friendship. Lav u all

14.Terima kasih untuk semua sahabat-sahabat terbaik saya. Anak XII-IPA tahun ajaran

2006/2007 SMA. KARTIKA X-1 Bintaro, especially my lovely bear “Fariza ‘mimi’

Rahmi Rusdi” yang walau sekarang kita sudah terpisah dengan ruang dan waktu masih

bisa dapat saling menyemangati satu sama lain sampai saat ini. Proud of you guys, keep

it!!!!!

15. Terima kasih untuk sahabat-sahabat masa kecil saya sejak saya duduk dibangku SD,

Debby Cyntia. Terima kasih beb untuk persahabatan kita selama 16 tahun, untuk

pengertiannya dan kesabarannya selama ini, dan untuk dukungan yang selalu kamu

berikan kepada saya. Lav u so much

16. Semua abang-abang dan kakak-kakak sipil 2003, 2004, 2005, 2006, yang selalu perhatian

dan baik kepada saya. Saya sudah menganggap kalian seperti abang saya sendiri. Terima

kasih buat semuanya yaaaa bang, kak!!!

17.WTS PSK 2008,,, terima kasih ya buat dukungannya selama ini. Buat my hunny Wita,

my lovely Yaya, kokoh Ronny, Iwan, Choyeeeeh, Staciaaaa, Amed, Dodoy, Agoes, Riza,

Yarnas, Ipenk, Adit,,, semangaaad ya KP nya!!! Saya hanya dapat membantu doa untuk

kalian. Buat yang lainnya “Ayooooooooooo

who’s next??”

18. Adik-adik

sipil

2009 dan

2010, terima

kasih

ya

buat

semuanya

perjalanan kalian masih panjang!!!! Lav u all

Semangat

ya,

19. The Last but not Least, babeh ipin (betul betul betul

hehehe) makasih ya beh buat

semangat dan dukungannya yang buat aku bisa tetep survive di sipil sampai saat ini.

Mang Aseeep, makasih iaaah buat somay yang palingg enaaak yang selalu menemani

saya selama 4 tahun ini, MU makasih buat gado-gadonya, mang Eben “pesen teh

manisnya 2, ga pake gelas” hehehe

20. Dan semua pihak yang tidak dapat saya ucapkan satu persatu, yang telah membantu

dalam memberikan motivasi, dorongan, semangat, inspirasi yang dapat menjadi bekal

untuk saya dikemudian hari.

Semoga Tuhan melimpahkan segala rezeki dan karunia kepada mereka semua. Banyak hal yang

telah saya lakukan untuk menjadikan Tugas Akhir ini menjadi sempurna, namun ibarat kata “No

Body’s perfect” , mungkin jika nantinya akan ditemukan banyak kekurangan disana-sini. Karena

itu segala saran dan kritik akan sangat berarti guna memperbaiki dimasa yang akan datang.

Akhir kata, Penyusunan Tugas ini masih jauh dari kata sempurna. Walaupun demikian, semoga

laporan Tugas Akhir ini dapat bermanfaat dan menjadi inspirasi bagi kita semua. Amin.

Jakarta, Agustus 2011

Penulis

LEMBAR PENGESAHAN

LEMBAR PERNYATAAN

ABSTRAK

KATA PENGANTAR

DAFTAR ISI

DAFTAR ISI

DAFTAR GAMBAR

DAFTAR TABEL

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

I-1

1.2 Tujuan

I-2

1.3 Ruang Lingkup Pembahasan dan Batasan Masalah

I-2

1.4 Metodelogi Perencanaan

I-3

1.5 Sistematika Penulisan

I-4

BAB II

TINJAUAN UMUM PROYEK

2.1 Umum

II-1

2.2 Pelat

II-10

2.3 Balok

II-13

2.3.1 Lokasi Tulangan

II-13

2.3.2 Tinggi Balok

II-15

2.3.3 Selimut Beton dan Jarak Tulangan

II-16

2.4 Kolom

II-18

2.5 Kelengkungan Pada Struktur

II-22

2.6 Baja Tulangan

II-23

2.7 Dasar-dasar Perencanaan Gedung Bertingkat Banyak

II-23

2.7.1 Perbedaan Antara Beban Statik dan

Beban Dinamik

II-23

2.8

Faktor Beban Ultimit

II-27

 

2.9

Analisis Struktur

II-28

BAB III

METODELOGI PERENCANAAN

3.1 Langkah Kerja

III-1

3.2 Metode Analisis

III-2

 

3.2.1 Pengumpulan Data ……………………

III-2

3.2.2 Desain Gambar

III-2

3.2.3 Desain Pendahuluan ……………………………

III-2

3.2.4 Menghitung Beban

III-3

3.2.5 Desain Tulangan Lentur dan Geser

III-3

3.2.6 Gambar Tulangan

III-10

BAB IV

ANALISA STRUKTUR

4.1 Data-data Struktur

IV-1

4.2 Perencanaan Awal

IV-2

4.2.1 Prarencana Pelat

IV-2

4.2.2 Prerencana Balok

IV-8

4.2.3 Prarencana Kolom

IV-23

4.3 Analisis Struktur

IV-45

4.3.1

Data Beban Untuk Input Etabs

IV-46

4.3.3

Perhitungan Gaya Geser Akibat Gempa

IV-49

 

4.3.4

Permodelan Pembebanan Struktur

IV-55

BAB V

PENULANGAN ELEMEN VERTIKAL DAN HORIZONTAL.

5.1

Desain Penulangan Elemen Struktur

V-1

 

5.1.1

Penulangan Pelat

V-1

5.1.2

Penulangan Balok

V-13

5.1.3

Penulangan Kolom

V-21

5.1.4

Diagram Interaksi

V-26

5.15

Perhitungan Penulangan Balok Kantilever

 

dengan beton prategang

V-27

BAB VII

KESIMPULAN DAN SARAN

6.1 Kesimpulan

 

VI-1

6.2 Saran

VI-3

LAMPIRAN

DAFTAR PUSTAKA

DAFTAR GAMBAR

Gambar 2.1

Strong column weak beam

II-6

Gambar 2.2

Peta wilayah gempa Indonesia

II-7

Gambar 2.3

Respons Spektrum Gempa Rencana (SNI 03-1726-2002)

II-11

Gambar 2.4

Balok diatas dua tumpuan

II-14

Gambar 2.5

Balok Kantilever

II-15

Gambar 2.6

Balok Menerus

II-15

Gambar 2.7

Selimut Beton

II-17

Gambar 2.9

Diagram interaksi untuk tekan dengan lentur P n dan M n

II-21

Gambar 3.1

Bagan Alir Perencanaan

III-1

Gambar 3.2

Hubungan Tegangan dan Regangan Pada Beton

III-3

Gambar 4.1

Denah Lantai

IV-2

Gambar 4.2

Dimensi Satu Pelat

IV-2

Gambar 4.3

Diagram Letak α

IV-3

Gambar 4.4

Bentang Balok Pada As. E

IV-8

Gambar 4.5

Penyebaran Pembebanan Pada As. E

IV-10

Gambar 4.6

Penyebaran Beban Pada As. E

IV-11

Gambar 4.7

Bentang Balok Pada As. C

IV-14

Gambar 4.8

Penyebaran Pembebanan Pada As. C

IV-16

Gambar 4.9

Penyebaran Beban Pada As. C

IV-16

Gambar 4.10

Bentang Balok Pada As. B

IV-19

Gambar 4.11

Penyebaran Pembebanan Pada As. B

IV-20

Gambar 4.12

Penyebaran Beban Pada As. B

IV-21

Gambar 4.13

Denah Lantai dan As

IV-45

Gambar 4.14

Denah Gedung Dengan Beban Tiap Lantai

IV-45

Gambar 4.16

Permodelan Beban Gempa Arah X

IV-56

Gambar 4.17

Model Struktur 3D

IV-57

Gambar 4.18

Denah Letak Kolom Yang Diperbesar

IV-58

Gambar 4.19

Denah Lantai 9 Letak Balok Yang Diperbesar

IV-58

Gambar 4.20

Denah Lantai

IV-59

Gambar 4.21

Pembebanan Beban Mati As. B

IV-60

Gambar 4.22

Pembebanan Beban Mati As. C

IV-60

Gambar 4.23

Pembebanan Beban Mati As. D

IV-61

Gambar 4.24

Pembebanan Beban Mati As. E

IV-61

Gambar 4.25

Pembebanan Beban Mati As. F

IV-62

Gambar 4.26

Pembebanan Beban Mati As. G

IV-62

Gambar 4.27

Pembebanan Beban Mati As. H

IV-63

Gambar 4.28

Deformasi Akibat Beban Mati Pada As. C

IV-64

Gambar 4.29

Gaya Normal Untuk Beban Mati

IV-64

Gambar 4.30

Gaya Geser Untuk Beban Mati

IV-65

Gambar 4.31

Gaya Momen Untuk Beban Mati

IV-66

Gambar 4.32

Pembebanan Beban Hidup As. B

IV-67

Gambar 4.35

Pembebanan Beban Hidup As. D

IV-68

Gambar 4.36

Pembebanan Beban Hidup As. E

IV-69

Gambar 4.37

Pembebanan Beban Hidup As. F

IV-69

Gambar 4.38

Pembebanan Beban Hidup As. G

IV-70

Gambar 4.39

Pembebanan Beban Hidup As. H

IV-70

Gambar 4.40

Deformasi Akibat Beban Hidup

IV-71

Gambar 4.41

Gaya Normal Akibat Beban Hidup

IV-72

Gambar 4.42

Gaya Geser Akibat Beban Hidup

IV-73

Gambar 4.43

Gaya Momen Akibat Beban Hidup

IV-74

Gambar 4.44

Pola Pembebanan Untuk Gempa Statik Arah X

IV-75

Gambar 4.45

Deformasi Untuk Gempa Statik EY As. C

IV-76

Gambar 4.46

Gaya Normal Akibat Beban Gempa Y As. C

IV-77

Gambar 4.47

Gaya Momen Akibat Beban Gempa Y As. C

IV-78

Gambar 4.48

Gaya Geser Akibat Beban Gempa Y As. C

IV-79

Gambar 4.49

Deformasi Untuk Gempa Statik EX As. C

IV-80

Gambar 4.50

Deformasi Untuk Gempa Statik EX As. C

IV-81

Gambar 4.51

Gaya Normal Akibat Beban Gempa X As. C

IV-81

Gambar 4.53

Gaya Momen Akibat Beban Gempa X As. C

IV-84

Gambar 4.54

Deformasi Akibat Combo 6 As. C

IV-85

Gambar 4.55

Gaya Normal Akibat Combo 6 As. C

IV-86

Gambar 4.56

Gaya Geser Akibat Combo 6 As. C

IV-87

DAFTAR TABEL

2.1

Faktor Keutamaan I untuk berbagai kategori gedung dan bangunan

II - 8

2.2

Parameter Daktilitas Struktur Gedung

II - 9

2.3.

Jenis – jenis tanah

II - 10

2.4.Tabel Tebal Selimut Beton

II - 18

2.5.

Perbedaan Over Reinforced dan Under Reinforced

II - 23

4.1.

Tabel besar pembebanan balok As E

IV - 12

4.2.

Tabel besar pembebanan balok As C

IV - 17

4.3.

Tabel besar pembebanan balok As B

IV - 22

4.4.

Tabel dimensi ukuran kolom

IV - 34

4.5.

Tabel beban statis

IV - 37

4.6.

Tabel Beban gempa Horizontal

IV - 39

4.7. Tabel Rasio Balok Kolom

IV - 41

4.8. Tabel Luas Lantai

IV - 50

4.9. Tabel Beton Ultimated

IV - 52

4.10. Tabel Distribusi beban gempa horizontal gempa statis arah XY

IV - 54

4.11. Tabel deformasi akibat beban mati

IV - 64

4.12. Tabel gaya Normal akibat beban mati

IV - 65

4.13. Tabel gaya geser (D) akibat beban mati

IV - 65

4.14. Momen Akibat beban mati

IV - 66

4.15. Deformasi akibat beban hidup

IV - 71

4.16. Gaya normal akibat beban hidup

IV

- 72

4.17. Gaya geser akibat beban hidup

IV

- 73

4.18. Gaya momen akibat beban hidup

IV - 74

4.19. Deformasi akibat beban gempa Y

IV -76

4.20. Gaya normal akibat beban gempa EY pada As c

IV - 77

4.21. Gaya geser akibat beban gempa EY pada As c

IV - 78

4.22. Gaya momen akibat beban gempa EY pada As c

IV - 78

4.23. Deformasi akibat gempa X

IV - 80

4.24. Gaya normal akibat beban gempa EX pada As c

IV - 81

4.25. Gaya geser akibat gempa X pada As c

IV - 82

4.26. Deformasi combo 6 pada As c

IV -84

4.27. Gaya Normal akibat combo 6 pada As c

IV - 85

4.28. Gaya geser akibat combo 6 pada As 6

IV - 86

4.29. Gaya momen akibat pada As c

IV - 87

1.1 Latar Belakang

BAB I

PENDAHULUAN

Dengan kemajuan ilmu dalam bidang konstruksi, bentuk dan desain bangunan semakin

bervariasi dan beragam. Sebagai teknik sipil, hal tersebut merupakan sebuah tantangan baru

untuk mewujudkannya. Hal ini membuat perencana harus mencari solusi dalam menterjemahkan

gambar arsitek ke gambar struktural sehingga dapat menjadi sebuah proyek konstruksi.

Dalam tugas akhir ini penulis akan mencoba merancang dan mendesain bangunan dengan

bentuk oval berdiri. Bentuk oval sendiri dipilih karena dari bentuk struktural bangunan bentuk

oval adalah bentuk yang unik. Dengan menggunakan sistem perkakuan pembesaran kolom dan

balok-balok oversteek diharapkan dapat memikul gaya-gaya yang bekerja. Pada desain bangunan

ini, selain menggunakan pembesaran kolom sebagai sistem perkakuannya juga menggunakan

kolom-kolom yang berada disekitarnya untuk membantu menahan beban-beban vertikal dari

balok. Yang kemudian menyalurkannya ke tanah melalui pondasi. Kegunaan lain dari kolom-

kolom tersebut juga untuk memperpendek bentang dari balok kantilever yang digunakan sebagai

bagian dari struktural bangunan. Penggunaan balok-balok kantilever tersebut digunakan sebagai

pembentuk dari desain bangunan tersebut. Kantilever pada desain bangunan ini adalah sebagai

pengikat bagian luar dari bangunan. Hal ini memerlukan suatu desain yang lebih intensif

mengingat selama ini kantilever hanya digunakan sebagai teras, balkon atau bagian tambahan

pada bangunan.

Dalam tugas akhir ini penulis mencoba mendesain bangunan berbentuk oval

yang mempunyai keunikan tersendiri dengan menggunakan banyak balok oversteek dengan

menggunakan sistem perkakuan perbesaran kolom.

1.2

Tujuan

Tujuan penulisan Tugas Akhir ini meliputi :

 

1.

Merancang bangunan gedung beton bertulang berlantai banyak dengan menggunakan

banyak

balok ovesteek untuk tampilan fasade (finishing luar) pada bangunan

berbentuk oval.

 

2.

Menganalisa perkakuan dengan mengunakan sistem perbesaran kolom pada bangunan

berbentuk oval.

 

3.

Memeriksa

kekuatan

dan

kekakuan

dari

bangunan

yang

menggunakan

struktur

kantilever.

1.3

Ruang Lingkup Pembahasan dan Batasan Masalah

 

Ruang lingkup dari kajian ini adalah :

 

1.

Model struktur yang direncanakan adalah struktur dengann tapak simetris, lingkaran

dengan model oval sesuai dengan gambar rencana.

2.

Bagian bangunan yang dirancang hanya pada struktur bagian atas (upper

structure)

3.

Perencanaan gempa dengan menggunakan Peraturan Perencanaan

Ketahanan

Gempa

Untuk Rumah dan Gedung SNI 03-1726-2002 dan

refrensi yang disyaratkan.

4.

Analisis struktur beton bertulang menggunakan Tata Cara Perhitungan Struktur Beton

Untuk Bangunan Gedung SNI 03-2847-2002 dan refrensi

yang disyaratkan.

 

5.

Analisis struktur dengan menggunakan software ETABS v.9.0

6.

Bangunan dengan sistem struktur rangka beton bertulang dengan

menggunakan

sistem

perkakuan perbesaran kolom.

7.

Perencanaan meliputi perhitungan kolom, balok, pelat.

8.

Gambar struktur meliputi kolom, balok, dan pelat di beberapa lantai.

8.

Lokasi bangunan di wilayah gempa 5.

1.4

Metodologi Perencanaan

Metodologi perencanaan yang digunakan adalah sebagai berikut :

1.

Tinjauan

pustaka dengan mempelajari literatu-literatur dari beberapa refrensi yang

berkaitan dengan analisis yang dilakukan, yaitu berupa teori dan rumus-rumus yang ada.

2.

Perhitungan desain kolom, balok, pelat, yang sesuai dengan perencanaan.

 

3.

Dilakukan diskusi dan asistensi dengan dosen pembimbing dan dosen-dosen lain yang

terlibat dalam penyelesaian Tugas Akhir ini.

1.5

Sistematika Penulisan

Laporan Tugas Akhir ini terdiri atas enam bab dengan Bab I Pendahuluan yang berisi latar

belakang, ruang lingkup, metodologi, dan sistematika penulisan. Bab II Tinjauan pustaka yang

merupakan dasar teori sebagai rujukan dari perencanaan

ini. Bab III Membahas diagram alir

metodologi analisis dan desain. Bab IV Analisis struktur. Bab V Penulangan elemen vertikal dan

horizontal dalam struktur. Bab VI Kesimpulan dan Saran.

BAB II

DASAR TEORI PERENCANAAN STRUKTUR GEDUNG

2.1

Umum

Dalam mendesain suatu struktur sebelumnya harus ditetapkan komponen-komponen yang akan

digunakan sebagai ukuran maupun yang dapat menentukan apakah gedung tersebut sesuai atau layak

dengan ketentuan-ketentuan yang berlaku. Dalam perencanaan yang akan dibahas pada Tugas Akhir ini

adalah perencanaan dengan menggunakan struktur beton bertulang. Beton bertulang adalah bahan

bangunan yang digunakan seluruh dunia. Beton yang ditulangi dengan luas dan jumlah tulangan tidak

kurang dari nilai minimum yang disyaratkan dengan atau tanpa prategang dan direncanakan berdasarkan

asumsi bahwa

kedua material bekerja bersama-sama dalam

menahan

gaya

yang bekerja.

Alasan

digunakan beton bertulang sebagai bahan baku utama dalam perencanaan struktur adalah karena lebih

efisien (murah), mudah dibentuk, mempunyai ketahanan terhadap api yang tinggi, mempunyai kekakuan

yang tinggi, mudah dalam perawatannya dan relatif murah, dan material dalam pembuatannnya mudah

didapatkan. Namun, ada kekurangan dari material beton itu sendiri dibandingkan dengan material

bangunan lainnya, antara lain mempunyai daya kekuatan tarik yang rendah, membutuhkan bekisting dan

penumpu sementara selama proses konstruksi, rasio kekuatan terhadap berat yang rendah dan stabilitas

volumenya relatif rendah. Hal-hal yang harus diperhatikan dalam pencanaan desain suatu struktur

diantaranya :

1. Kemampuan layan

Dalam perencanaan, struktur yang di desain tersebut harus dapat menahan beban

tegangan pada material dan mempunyai deformasi yang masih

dalam

batas-batas

tanpa kelebihan

yang

diijinkan.

Pemilihan ukuran dan elemen yang dipilih

layan tersebut.

merupakan penentu utama dalam menahan kemampuan

Prinsip utama perencanaan desain struktur dalam bidang konstruksi adalah

bagaimana

mendesain bangunan yang kuat dan aman namun dengan biaya yang relatif ekonomis.

3. Konstruksi

Tinjauan konstruksi sering dipengaruhi pilihan struktural dimana penggunaan elemen-elemen

struktural akan efisien apabila material yang digunakan mudah

Desain struktural harus mencakup :

a. Keamanan

didapat dan dibuat.

Struktur yang didesain harus aman dan kuat. Pada Struktur akan mencakup beban-

beban yang bekerja padanya desain. Yaitu beban mati (berat sendiri), beban hidup

(manusia, angin, dll) dan beban gempa.

b. Kekakuan

Dalam perencanaan suatu gedung perlu diperhitungkan kekakuannya agar didapat struktur yang

kaku dan dapat memperkuat struktur saat terjadi gempa. Kekakuan merupakan syarat mutlak

yang harus sangat dipikirkan oleh perencana dalam merencanakan suatu bangunan struktur.

Karena suatu struktur tidak akan dapat

sangat kuat.

diterima jika bangunan tersebut tidak kaku walaupun

Beberapa jenis perkakuan dari suatu gedung adalah :

1. Dinding pendukung sejajar (parallel bearing wall)

Perkakukan ini terdiri dari unsur-unsur bidang vertikal yang dipratekan

oleh bera sendiri,

sehingga menyerap gaya aksi lateral secara efisien.

Dinding sejajar ini terutama digunakan

untuk bangunan apartemen yang tidak memerlukan ruang

bebas

yang

luas

dan

sistem

mekanisnya tidak memerlukan struktur inti.

2.

Inti dan dinding pendukung kulit luar (core and facade bearing wall)

Unsur bidang vertikal membentuk dinding luar yang mengelilingi sebuah struktur

inti, hal

ini memungkinkan ruang interior yang terbuka, yang bergantung pada

kemampuan

bentangan

dari

struktur lantai. Intinya adalah membuat sistem

transportasi mekanis vertikal serta menambah kekakuan

bangunan.

3. Pelat rata (flat slab)

Sistem bidang horizontal terdiri dari pelat lantai dengan tebal yang rata dan

kolom.

ditumpu

pada

4. Rangka kaku (rigid frame)

Sambungan kaku yang digunakan antara susunan unsur linear atau membentuk

bidang

vertikal

dan horizontal. Pengaturan bidang vertikal terdiri dari balok dan kolom,

pada

grid

horizontal

terdiri dari balok dan gelagar. Dengan keterpaduan

dari

semuanya

menjadi

penentu

pertimbangan rancangan.

5. Rangka kaku dan inti (rigid frame and corewall)

Rangka kaku bereaksi terhadap bidang lateral, terutama melalui lentur balok dan kolom. Perilaku

demikian berakibat ayunan lateral yang besar pada bangunan

dengan

ketinggian

tertentu.

Akan tetapi, apabila dilengkapi struktur inti,

ketahanan

lateral

bangunan

akan

sangat

meningkat karena interaksi inti dan

rangka mengalami fungsi untuk menambah kekakuan

dan menyerap bidang geser

pada bangunan tersebut. Sistem ini memuat sistem mekanis dan

transportasi

vertikal. Pada kondisi struktur dengan lantai banyak, efektifitas struktur inti

(corewall)

hanya

dapat

terjadi

80%

hingga

90%

dari

jumlah

lantai

yang

ada,

sehingga pada lantai atas atau 20% dari lantai keseluruhan akan tidak berfungsi

secara

nilai kekakuan terhadap struktur bangunan, bahkan ada kemungkinan akan

menambah

bidang geser pada lantai tersebut.

c. Stabilitas

Faktor stabilitas harus diperhatikan dalam mendesain struktur. Stabilitras diperlukan

untuk

dapat

menghitung momen-momen yang bekerja pada struktur. Stabilitas

juga

harus

diperhatikan

agar

mencegah bangunan mengalami guling. Momen-momen yang bekerja pada struktur adalah momen

geser dan momen

uplift.

4. Beban-Beban Pada Struktur

Dalam perencanaan desain struktur, perlu memperkirakan secara mendalam mengenai beban-beban

yang bekerja pada struktur serta besarnya beban-beban yang bekerja pada struktur tersebut. Perencanaan

bangunan konstruksi pada umumnya berdasarkan pada keadaan batas atau ultimit.

1. Beban Mati

Beban mati merupakan berat struktur gedung itu sendiri, yang memiliki besar

yang

kostan

dan terdapat pada satu posisi tertentu. Berat sendiri struktur bangunan

beton bertulang adalah pelat,

balok, kolom, dinding, tangga, langit-langit, dan saliran

air. Semua metode untuk menghitung beban

mati adalah untuk menghitung elemen

didasarkan atas peninjauan berat suatu material yang terlibat

berdasarkan volume

elemen tersebut. Struktur luar dari desain menggunakan elemen kaca sebagai

pembentuk dari struktur bangunan. Pembebanan elemen kaca harus diperhatikan, mengingat desain

berbentuk oval yang mempunyai perhitungan lebih detail akibat kelengkungan dari struktur.

2. Beban Hidup

Beban hidup adalah beban yang letaknya dapat berubah atau berpindah, beban

ada ataupun tidak ada. Beban hidup pada perencana struktur adalah

beban

orang,

tersebut

dapat

barang-barang,

beban angin, ataupun mesin-mesin yang sedang bekerja pada struktur. Walaupun beban hidup ini dapat

ada atau tidak, beban hidup harus

tetap menjadi perhatian dala perancanaan karena beban tersebut

bekerja perlahan-

lahan dalam struktur.

3. Beban Gempa

Gempa merupakan fenomena alam yang tidak dapat dihindari. Didunia ini banyak

daerah

yang menjadi daerah langganan gempa. Indonesia merupakan salah satunya.

Oleh karena itu daerah

yang merupakan daerah rawan gempa perlu memperhitungkan

beban gempa dalam desain semua jenis

struktur. Menurut SNI-03-1726-2002 sub bab

4.1.1,

peraturan

ini

menentukan

pengaruh

gempa

rencana yang harus ditinjau dalam

perencanaan struktur gedung. Gempa rencana merupakan beban

gempa yang

ditetapkan mempunyai periode ulang 500 tahun, agar probabilitas

terjadinya terbatas

pada 10% selama umur gedung 50 tahun.

Untuk struktur beton bertulang yang berada di wilayah rawan gempa harus didesain

khusus

sebagai

struktur strong column weak beam (gambar 2.1). Yang bertujuan agar

kuat dari balok, agar jika saat terjadi gempa yang

cukup

kuat,

kolom yang didesain harus lebih

walaupun

balok

mengalami

kerusakan yang cukup parah, kolom masih

bekerja.

tetap berdiri dan mampu menahan beban-beban yang

cukup parah, kolom masih bekerja. tetap berdiri dan mampu menahan beban-beban yang Gambar 2.1 Strong column

Gambar 2.1 Strong column weak beam

Menurut peraturan SNI-03-1726-2002 sub bab 4.7.1 Indonesia ditetapkan terbagi

dalam 6

wilayah gempa, dimana wilayah gempa 1 adalah wilayah dengan rasio

dan wilayah gempa 6 dengan rasio kegempaannya

paling tinggi.

kegempaannya

paling

rendah,

kegempaannya paling tinggi. kegempaannya paling rendah, Gambar 2.2 Peta wilayah gempa Indonesia Menurut peraturan

Gambar 2.2 Peta wilayah gempa Indonesia

Menurut peraturan SNI-03-1726-2002 untuk menentukan beban gempa diperlukan data-data

antara lain :

1. Faktor keutamaan (I)

I = I 1 • I 2

dimana :

I

I

I

1

1

=

faktor keutamaan

=

faktor keutamaan untuk menyesuaikan periode ulang gempa

berkaitan dengan penyesuaian probabilitas terjadinya gempa

selama umur gedung.

=

faktor keutamaan untuk menyelesaikan periode ulang gempa

berkaitan dengan penyesuaian umur gedung.

Adapun faktor-faktor keutamaan I 1 , I 2, I sebagai berikut :

   

Faktor

 

Kategori Gedung

Keutamaan

I

1

I

2

I

Gedung umum seperti untuk penghunian, perniagaan, dan perkantoran

1.0

1.0

1.0

Momen dan bangunan monumental

1.0

1.6

1.6

Gendung penting pasca gempa seperti rumah sakit, instalasi air bersih, pembangkit tenaga listrik, pusat penyelamatan dalam keadaan darurat, fasilitas radio dan televisi

1.4

1.0

1.4

Gedung untuk menyimpan bahan berbahaya seperti gas, produk minyak bumi, asam, bahan beracun

1.6

1.0

1.6

Cerobong, tangki diatas menara

1.5

1.0

1.5

Tabel 2.1 Faktor keutamaan I untuk berbagai kategori gedung dan bangunan

2. Faktor reduksi gempa (R)

1,6 ≤ R = μ • f 1 ≤ R m

dimana :

R

=

faktor reduksi gempa

μ

=

faktor daktilitas untuk struktur gedung

f 1

=

faktor kuat lebih beban beton dan bahan 1,6

R m

=

faktor reduksi gempa maksimum

Nilai R dan µ ditetapkan berdasarkan tabel :

Taraf Kinerja Struktur Gedung

µ

R

Elastik Penuh

1.0

1.6

Daktail Parsial

1.5

2.4

2.0

3.2

2.5

4.0

3.0

4.8

3.5

5.6

4.0

6.4

4.5

7.2

5.0

8.0

Daktail Penuh

5.3

8.5

Tabel 2.2 Parameter Daktilitas Struktur Gedung

3. Faktor respon gempa (C 1 )

Nilai repon gempa didapat dari spektrum respon gempa rencana untuk

waktu getar alami fundamental (T) dari struktur gedung. Nilai tersebut

bergantung pada :

1. Waktu getar alami struktur (T), dinyatakan dalam detik

dimana :

T = 0,06 H 3/4

2. Nilai respons gempa juga tergantung dari jenis tanah. Berdasarkan SNI-

03-1726-2002, jenis tanah dibagi menjadi tiga bagian yaitu tanah keras,

sedang dan lunak.

menjadi tiga bagian yaitu tanah keras, sedang dan lunak. Tabel 2.3 Jenis-jenis tanah Berdasarkan SNI 03-1726-2002

Tabel 2.3 Jenis-jenis tanah

Berdasarkan SNI 03-1726-2002 nilai respons gempa bergantung pada waktu getar alami struktur

dan kurvanya ditampilkan dalam spektrum respons gempa.

nilai respons gempa bergantung pada waktu getar alami struktur dan kurvanya ditampilkan dalam spektrum respons gempa.
Gambar 2.3 Respons Spektrum Gempa Rencana (SNI 03-1726-2002) 2.2 Pelat Pelat merupakan suatu bagian struktur
Gambar 2.3 Respons Spektrum Gempa Rencana (SNI 03-1726-2002) 2.2 Pelat Pelat merupakan suatu bagian struktur
Gambar 2.3 Respons Spektrum Gempa Rencana (SNI 03-1726-2002) 2.2 Pelat Pelat merupakan suatu bagian struktur

Gambar 2.3 Respons Spektrum Gempa Rencana (SNI 03-1726-2002)

2.2

Pelat

Pelat merupakan suatu bagian struktur yang kaku secara khas terbuat dari material monolit yang

tingginya lebih kecil dibandingkan dengan dimensi-dimensi lainnya.

Pelat dapat dianalisis sebagai grid-grid menerus. Pelat adalah elemen struktur beton bertulang

yang secara langsung menahan beban-beban vertikal. Jika kita meninjau pelat dan memperhatikan

bagaimana berbagai jenis pelat memberikan momen dan gaya geser internal yang mengimbangi momen

dan geser eksternal kita dapat mendapatkan lebih banyak manfaat dari pelat tersebut. Beban umum yang

bekerja pada pelat mempunyai sifat banyak arah dan tersebar. Pelat dapat ditumpu diseluruh tepinya, atau

hanya pada titik-titik tertentu atau campuran antara tumpuan menerus dan titik. Pelat sebagai penahan

beban lateral, juga dapat menjadi bagian dari pengaku lateral struktur. Gaya dalam yang dominan dalam

pelat adalah momen lentur, sehingga perancangan tulangannya relatif sederhana. Dalam perencanaan,

pelat dapat dipermodelkan searah maupun dua arah

Syarat-syarat untuk menentukan tebal minimum pelat (SK SNI T-15-1991-03) :

Rumus 1

Rumus 2

Rumus 3

dimana :

h

h

h

fy Ln 0,8 + 1500 (36 + 9 )
fy
Ln
0,8 +
1500
(36 +
9
)

Ln

0,8 +

h h ≥ fy Ln 0,8 + 1500 (36 + 9 ) Ln 0,8 + fy

fy

1500

Ln

36

0,8 +

0,8 + 1500 (36 + 9 ) Ln 0,8 + fy 1500 Ln 36 0,8 +

fy

1500

36

+

5

m

0,12

1

+

1
1

Ln

:

panjang bentang bersih pelat setelah dikurangi tebal balok (cm)

fy

:

tegangan leleh baja untuk pelat

h

:

tebal pelat

α m

:

koefisien jepit pelat

n

:

jumlah tepi pelat

β

:

Ln memanjang (cm)

Ln melintang (cm)

Pada SK SNI T – 15 – 1991 – 03 pasal 3.6.6 mengijinkan untuk menentukan distribusi gaya dengan

menggunakan koefisiensi momen yang dapat dilakukan dengan mudah. Untuk menentukan momen lentur

maksimumnya dapat mempergunakan tabel 14 SK SNI T – 15 – 1991 – 03. Setelah menentukan syarat-

syarat batas, bentang dan tabel pelat kemudian beban-beban dapat dihitung. Untuk pelat sederhana

berlaku rumus :

Wu = 1,2 Wd + 1,6 Wl

Menurut SK SNI T – 15 – 1991 – 03 tebel 3.2.5 (b), batas lendutan maksimum adalah

480

bentang. Lendutan yang terjadi akibat beban merata (Timoshenko dkk, 1998) adalah :

D

Ec

H

3

=

=

2

b

(

)

4

12 1

Wu

D

dimana :

 
 

=

lendutan yang terjadi

α

= koefisien lendutan

Wu

= beton ultimate (kg/cm 2 )

μ

= nilai poison rasio

D

= momen akibat lentur untuk pelat (kg.cm)

Ec

= modulus elastisitas beton

h

= tebal pelat

b

= lebar pelat

2.3

Balok

Balok adalah bagian dari struktur bangunan yang berfungsi untuk menopang lantai diatasnya. Balok

dikenal sebagai elemen lentur yaitu elemen struktur yang dominan memikul gaya dalam berupa momen

lentur dan juga geser. Balok dapat terdiri dari balok anak (joint) dan balok induk (beam). Perencanaan

balok beton bertulang bertujuan untuk menghitung tulangan dan membuat detail-detail konstruksi untuk

menahan momen-momen lentur ultimit, gaya-gaya lintang, dan momen-momen puntir lengan cukup kuat.

Kekuatan suatu balok lebih banyak dipengaruhi oleh tinggi daripada lebarnya. Lebarnya dapat sepertiga

sampai setengah dari tinggi ruangan.

Ada bebrapa hal yang perlu diperhatikan dan perlu menjadi pertimbangan dalam mendesain balok beton

bertulang, yaitu :

1. Lokasi tulangan

2. Tinggi minimum balok

3. Selimut beton (concrete cover) dan jarak tulangan

2.3.1 Lokasi Tulangan

Tulangan dipasang dibagian struktur yang membutuhkan, yaitu pada lokasi dimana beton tidak

sanggup melakukan perlawanan akibat beban, yakni di daerah tarik (karena beton lemah dalam menerima

tarik). Sehingga dapat dilihat pada gambar serat yang tertarik.

Gambar 2.4 Balok diatas dua tumpuan sedangkan pada balok kantilever dibutuhkan tulangan pada bagian atas,

Gambar 2.4 Balok diatas dua tumpuan

sedangkan pada balok kantilever dibutuhkan tulangan pada bagian atas, karena serat yang tertarik adalah

pada bagian atas.

atas, karena serat yang tertarik adalah pada bagian atas. Gambar 2.5 Balok Kantilever Untuk balok menerus

Gambar 2.5 Balok Kantilever

Untuk balok menerus diatas beberapa tumpuan, maka di daerah lapangan dibutuhkan tulangan dibagian

bawah, sedangkan di daerah tumpuan dibutuhkan tulangan utama dibagian atas balok.

Gambar 2.6 Balok menerus 2.3.2 Tinggi Balok Untuk menentukan ukuran penampang menurut SNI Beton pada

Gambar 2.6 Balok menerus

2.3.2 Tinggi Balok

Untuk menentukan ukuran penampang menurut SNI Beton pada pasal 9.5 terdapat tabel tinggi

minimum (H min ) balok terhadap panjang bentang :

1.

2.

3.

4.

1

L

16 untuk balok sederhana (satu tumpuan)

1

18 .5

1

21

L

L untuk balok menerus bentang ujung

untuk balok menerus bentang tengah

1

8

L

untuk balok kantilever

Namun, sacara umum dimensi balok diperkirakan dengan :

H =

1

10

L sampai dengan

1

12

L dengan L = bentang pelat terpanjang.

Jika H min telah diketahui, dapat diperkirakan tinggi balok yang akan didesain.

B

=

1

H

sampai dengan

2

H

dengan H = tinggi balok

 

2

3

2.3.3

Selimut Beton dan Jarak Tulangan

 

Selimut beton adalah bagian terkecil yang melindungi tulangan. Fungsi dari selimut beton itu

sendiri

untuk memberikan daya

lekat

tulangan ke

beton,

melindungi

tulangan dari

korosi,

serta

melindungi

tulangan

dari

panas

tinggi

jika

terjadi

kebakaran

(panas

tinggi

dapat

menyebabkan

menurun/hilangnya kekuatan baja tulangan secara tiba-tiba)

tinggi dapat menyebabkan menurun/hilangnya kekuatan baja tulangan secara tiba-tiba) Gambar 2.7 Selimut Beton

Gambar 2.7 Selimut Beton

Tebal minimum selimut beton adalah 40 mm ( SNI Beton pasal 9.7)

Sedangkan jarak antar tulangan adalah ≤ 25 mm atau ≥ d b dan ≥25 mm

tulangan adalah ≤ 25 mm atau ≥ d b dan ≥25 mm Gambar 2.8 Jarak Antar

Gambar 2.8 Jarak Antar Tulangan

Dalam SNI 03-2847-2002 disebutkan bahwa tebal selimut beton minimum yang harus disediakan untuk

tulangan harus memenuhi ketentuan sebagai berikut :

   

Tebal selimut

No.

Kondisi Beton

minimum

(mm)

1

Beton dicor langsung diatas tanah dan selalu berhubungan langsung dengan tanah

75

2

Beton yang berhubungan dengan tanah atau berhubungan dengan cuaca

 

> Batang D-19 hingga D-56…………………………………………………………

50

> Batang D-16 jaringan kawat polos P16 atau kawat ulir D-16 dan yang lebih

kecil……………………………………………………

………………………………

40

3

Beton yang tidak berhubungan langsung dengan cuaca ateu beton tidak lansung

 

berhubungan dengan tanah :

> Pelat,dinding, pelat berusuk :

Batang D-44 dan D-56………………………………………………………………

40

Batang D-36 dan yang lebih kecil…………………… ……………………………

20

> Balok, kolom :

Tulang utama, pengikat, sengkang, lilitan spiral……………………………………

40

> Komponen struktur cangkang, pelat lipat :

Batang D-19 dan yang lebih besar…………………………………………………

20

Batang D-16 jaring kawat polos P-16 atau ulir D-16 dan yang lebih kecil………

15

Tabel 2.4 Tebal selimut beton

Untuk memeriksa kekakuan balok terhadap lendutan, lendutan maksimum yang terjadi pada tengah

bentang bila balok dianggap sendi dan rol pada ujung-ujungnya (Timoshenko dkk, 1998) adalah :

dimana :

=

5

Wu

4

L

384 EI

L

= panjang bentang balok

E

= modulus elastisitas balok

Dalam merencanakan penulangan balok harus dapat memenuhi persyaratan dibawah ini :

1.

B

H

>

0.3

2. b min > 25 cm

3. ρ min ≤ ρ ≤ ρ maks

Menentukan tulangan tekan

As

As '

=

<

1

Koefisien balok dengan pelat, α m merupakan nilai rata-rata α untuk semua balok. Untuk mencari lebar

efektif balok dengan menggunakan rumus sebagai berikut :

2.4

Kolom

b

eff

b

eff

b eff

1 = bw + L 2 1 = bw + 8 hf L =
1
=
bw
+
L
2
1
=
bw
+ 8
hf
L
=

8

1 + L 2 2 + 8 hf
1
+
L
2
2
+ 8
hf

Kolom merupakan batang tekan vertikal dari suatu rangka struktur yang memikul beban dari

balok. Kolom merupakan suatu elemen struktur tekan yang sangat memegang peranan penting dalam

suatu struktur. Keruntuhan kolom merupakan lokasi kritis yang dapat menyebabkan runtuhnya lantai yang

bersangkutan dan juga dapat terjadi keruntuhan total dalam seluruh struktur. Menurut SNI 03-1726-2002

pada pasal 10.8 mengatakan bahwa kolom harus direncanakan untuk memikul beban aksial terfaktor yang

bekerja pada semua lantai atau atap dan momen maksimum yang berasal dari beban terfaktor pada satu

bentang terdekat dari lantai atau atap yang ditinjau. Kombinasi pembebanan yang menghasilkan rasio

maksimum dari momen terhadap beban aksial juga harus diperhitungkan.

Syarat-syarat dalam mendesain kolom antara lain :

1. Kolom harus direncanakan untuk memikul beban aksial terfaktor yang bekerja pada

semua

lantai atau atap dan momen maksimum yang berasal dari beban terfaktor pada satu bentang terdekat dari

lantai atau atap yang ditinjau. Kombinasi

pembebanan yang mengahasilkan rasio maksimum dari

momen terhadap beban aksial juga harus diperhitungkan.

2.

Pada

konstruksi

rangka

atau

struktur

menerus,

pengaruh

dari

adanya

beban

yang

seimbang pada lantai atau atap terhadap kolom luar ataupun dalam harus

diperhitungkan.

Demikian pula pengaruh dari beban eksentrisitas karena sebab

lainnyajuga harus diperhitungkan.

tak

3. Dalam menghitung momen akibat bebabn gravitasi yang bekerja pada kolom,

terjauh kolom dapat dianggap terjepit, selama ujung-ujung tersebut

komponen struktur lainnya.

menyatu

ujung-ujung

(monolit)

dengan

4. Momen-momen yang bekerja pada setiap level lantai atau atap harus didistribusikan

kolom diatas atau dibawah lantai tersebut berdasarkan kekakuan relatif kolom

dengan

memperhatikan kondisi kekangan pada ujung kolom.

pada

juga

Fungsi kolom adalah sebagai penerus beban seluruh bangunan ke pondasi. Kolom berfungsi sangat

penting, agar bangunan tidak runtuh. Beban bangunan dimulai dari atap dan akan diteruskan ke kolom.

Keruntuhan

kolom

merupakan

hal

yang

perlu

dihindari

dalam

perncanaan

struktur

bangunan.

Perencanaan kolom harus memperhatikan keadaan batas tegangan (kekuatan) dan kekakuan untuk

menghindari deformasi berlebihan dan tekuk. Daktail tulangan yang benar dan penutup beton yang cukup

adalah hal yang penting. Perbandingan

dari kolom tidak boleh dari 0,4

b

h

Syarat untuk menetukan dimensi kolom (Kusuma dan Andriono, 1996) yaitu :

N u

A gross

A

gross

0,2 fc '

N

u

0,2 fc '

dimana :

N u = W u

= beban ultimate yang dipikul kolom (kg)

A gross

Fc’

=

luas kolom yang dibutuhkan (cm 2 )

= mutu beton (Mpa)

Untuk batang-batang eksentrisitas

yang sangat

besar

atau yang sangat

kecil,

pedoman mengatur

ketentuan-ketentuan keamanan tambahan, yang akan dikemukakan dibawah ini.

keamanan tambahan, yang akan dikemukakan dibawah ini. Gambar 2.9 Diagram interaksi untuk tekan dengan lentur P

Gambar 2.9 Diagram interaksi untuk tekan dengan lentur P n dan M n

Compression failure

= keruntuhan tekan

Tension failure

= keruntuhan tarik

Balanced failure

= keruntuhan seimbang

2.5 Kelengkungan Pada Struktur

Pada

desain

struktur

berbentuk

oval

ini,

kelengkungan

pada

struktur

luar

(fasade)

perlu

diperhatikan. Hal ini dikarenakan finishing bentuk luar dari bangunan menggunakan material dari kaca

yang rentan terhadap pemuaian. Kelengkungan pada fasade struktur juga mempunyai rentan yang tinggi

akibat getaran yang dapat menyebabkan elemen pecah atau patah.

Kelengkungan bentuk luar (fasade) merupakan diambil dari busur lingkaran dengan jari-jari

setengah dari diameter gedung yaitu sepanjang 22m, dan dengan titik pusat lingkaran berada pada lantai 5

struktur gedung. Dengan panjang oversteek pada tiap-tiap lantai mengikuti pendekatan .

2.6 Baja Tulangan

Beton yang digunakan sebagai bahan utama dalam struktur sangat kuat menahan tekan, namun

tidak kuat dalam menahan tarik. Maka dari itu beton menggunakan tulangan baja dalam mengatasi

masalah itu. Baja yang terdapat pada beton berfungsi untuk memikul tegangan tarik pada struktur. Agar

penggunaan tulangan dapat berjalan dengan efektif, harus diusahakan agar tulangan dan beton dapat

mengalami deformasi bersama-sama, yang bertujuan untuk agar ikat-ikatan yang cukup kuat diantara

kedua material tersebut untuk memastikan tidak terjadinya gerakan relatif (slip) dari tulangan dengan

beton yang terdapat disekelilingnya. Menurut peraturan SNI 03-2847-2002 pada pasal 5.5 mengatakan

baja tulangan yang digunakan harus tulangan ulir, kecuali baja polos diperkenankan untuk tulangan spiral

atau tendon.

Dalam perencanaan, sering digunakan tulangan yang bersifat balance reinforced atau tulangan yang

berimbang, artinya tulangan leleh pada saat bersamaan dengan hancurnya beton. Perbedaan Over

Reinforced dan Under Reinforced adalah :

Over Reinforced

Under Reinforced

Tulangan banyak

Tulangan sedikit

Momen nominal (Mn) besar

Momen nominal (Mn) kecil

Garis netral besar

Garis netral kecil

Tulangan belum leleh saat beton hancur

Tulangan sudah hancur saat beton hancur

Keruntuhan tekan

Keruntuhan tarik

 

Keruntuhan bersifat perlahan

Keruntuhan bersifat tiba-tiba

(didahului retak-retak)

Brittle failure

Dactile failure

Tabel 2.5 Perbedaan Over reonforced dan Under reinforced

Dari dua kondisi tersebut, dalam perancangan beton bertulang tidak disarankan

dalam

reinforced, perancangan didesain harus dalam kondisi

keruntuhan under reinforced.

kondisi

over

Banyaknya tulangan ditunjukan oleh luas penampang tulangan (As)

=

As

b

d

dimana :

 

ρ

=

angka tulangan (tanpa dimensi)

As

=

luas tulangan

ρ b

=

angka tulangan dalam keadaan seimbang (balance)

ρ

> ρ b =

over reinforced

ρ

> ρ b =

under reinforced

dalam perancangan :

ρ < 0,75 ρ b

b

=

0,85

fc

'

1

( fy + 6000 )

Kapasitas momen akan meningkat dengan semakin banyaknya tulangan, tetapi tulangan yang

semakin banyak juga akan menyebabkan penampang semakin besar yang akan menyebabkan over

reinforced. Dalam perancangan, penampang dengan kapasitas besar akan tetapi tetap mengalami under

reinforced. Cara terbaik untuk mengatasinya dengan menggunakan tulangan rangkap, tulangan atas

(tekan) dan tulangan bawah (tarik).

2.7 Dasar-dasar Perencanaan Gedung Bertingkat Banyak

Metode yang digunakan dalam menganalisa perencanaan bangunan pada Tugas Akhir ini yaitu,

Analisis beban statik ekuivalen dan Analisis dinamis. Umumnya untuk bangunan sederhana, simetris dan

beraturan, metode statik ekuivalen cukup efektif digunakan.

2.7.1 Perbedaan Antara Beban Statik dan Beban Dinamik

1. Analisis Beban Statik Ekuivalen

Analisis beban statik ekuivalen adalah suatu cara analisa statik struktur,

dimana

pengaruh gempa pada struktur dianggap sebagai beban-beban statik

horizontal

untuk

menirukan

pengaruh gempa yang sesungguhnya akibat pergerakan

tanah. Analisis beban gempa statik ekuivalen

pada struktur gedung beraturan yaitu

suatu cara analisis statik 3 dimensi linier dengan meninjau

beban-beban gempa

statik ekuivalen, sehubungan dengan sifat struktur gedung beraturan yang

praktis

berperilaku

sebagai

struktur

2

dimensi,

sehingga

respon

dinamiknya

praktis

hanya

ditentukan oleh respon ragamnya yang pertama dan dapat ditampilkan sebagai

akibat

dari

beban gempa statik ekuivalen.

 

Setiap struktur gedung harus direncanakan dan dilaksanakan untuk menahan suatu beban

geser

dasar akibat gempa dalam arah-arah yang ditentukan.

 

Gaya

lateral direncanakan dan dilaksanakan dan dilaksanakan untuk menahan suatu

 

beban

geser dasar akibat gempa (V) dalam arah-arah yang ditentukan. Besarnya

beban

lateral

menurut

peraturan SNI-03-1726-2002 dapat dinyatakan sebagai

berikut :

dimana :

V =

C

1

1

W

R t

V

=

Gaya geser horizontal total akibat gempa

R

=

Faktor reduksi gempa

C 1

=

Faktor respon gempa

1

=

Faktor keutamaan

W t

=

Berat total bangunan termasuk beban hidup yang sesuai

Beban geser dasar nominal V harus dibagikan sepanjang tinggi struktur gedung menjadi beban-

beban

gempa

persamaan :

nominal

statik

ekuivalen

Fi

yang

menangkap

F

i

W

i

Z

i

=

n

W

i

Z

i

i

l

=

V

pada

pusat

massa

lantai-1

menurut

dimana :

Wi

=

Berat lantai tingkat-1

Zi

=

Ketinggian lantai

2. Analisis Beban Gempa Dinamik

Analisa dinamik adalah untuk menetukan pembagian gaya geser tingkat akibat

gerakan

tanah oleh gempa dan dapat dilakukan dengan cara analisa ragam spectrum

analisa respon riwayat waktu.

respon atau dengan cara

Salah satu aspek penting dalam analisa dinamik adalah periode dan pola getar

yang menghasilkan frekuensi dan periode.

alami,

Analisa dinamik harus dilakukan untuk struktur gedung-gedung berikut :

1. Gedung-gedung yang tingginya lebih dari 40 m

2. Gedung-gedung yang memiliki lebih dari 10 lantai

3. Gedung-gedung yang strukturnya tidak beraturan

4. Gedung-gedung yang bentuk, ukuran, dan peraturannya tidak umum

5. Gedung-gedung dengan kekakuan tingkat yang tidak merata

Analisa dinamik yang ditentukan didasarkan atas prilaku struktur yang bersifat elastik penuh dengan

meninjau gerakan gempa dalam satu arah. Salah satu aspek penting dalam analisa dinamik adalah periode

dan pola getar alami. Dalam hal ini dapat dilakukan analisis modal untuk mode getaran dengan

menggunakan eigenvector. Struktur dengan jumlah bentang dan kolom tersebar dapat diidealisasikan

hubungan massa dan periode, sehingga dapat dianggap:

1. Massa terpusat pada bidang lantai

2. Balok pada lantai, kaku tak hingga dibandingkan kolom

3. Deformasi struktur tak dipengaruhi gaya aksial yang terjadi pada struktur

2.8 Faktor Beban Ultimit

Ketentuan desain gempa SNI 2847 memakai dasar desain kekuatan terbatas dan bukan desain

tingkat layan (elastis)

Menurut SNI beton 2002 pasal 11.2 secara umum ada 6 macam kombinasi beban yang harus

dipertimbangkan,

1. 1.4 D

2. 1.2 D + 1.6 L

3. 1.2 D + 1.0 L ± 1.0 (Ex ± 0.3 Ey)

4. 1.2 D + 1.0 L ± 1.0 (0.3 Ex ± Ey)

5. 0.9 D ± 1.0 (Ex ± 0.3 Ey)

6. 0.9 D ± 1.0 (0.3 Ex ± Ey)

Beban gempa nominal E adalah kombinasi beban pada SNI 2847 ini, memakai

terfaktor = 1,0 karena E adalah beban Ultimate.

beban

2.9 Analisis Struktur

Struktur dengan menggunakan beton bertulang berlantai banyak merupakan kombinasi dari balok,

kolom, pelat dan dinding yang dihubungkan satu sama lain untuk membentuk suatu kerangka monolitis.

Setiap bagian harus mampu menahan gaya yang bekerja padanya.

Analisis dimulai dengan menghitung seluruh beban yang dipikul oleh konstruksi, termasuk berat

sendiri konstruksi. Selanjutnya parameter-parameter penampang seperti luas dan momen inersia dihitung.

Gaya-gaya dapat dihitung dengan berbagai metode analisin struktur statis tak tentu, baik secara manual

maupun software komputer. Pada Tugas Akhir ini digunakan program komputer ETABS.

Beban yang terima struktur direncanakan sebagai pembebanan vertikal gravitasi dan pembebanan

leteral gempa. Pembebanan vertikal gravitasi terdiri atas beban mati dan beban hidup.

BAB III

METODELOGI PERENCANAAN

3.1 Langkah Kerja

Dalam melakukan perencanaan struktur dengan menggunakan balok-balok kantilever dibuat

langkah kerja dalam bentuk flow chart atau bagan alur seperti dibawah ini :

MULAI

MULAI
MULAI
MULAI
MULAI
MULAI
MULAI
MULAI
MULAI
MULAI
MULAI
MULAI PENGUMPULAN DATA DESAIN GAMBAR PERENCANAAN AWAL : ∑ Pelat Tidak ∑ Balok ∑ Kolom PERHITUNGAN

PENGUMPULAN DATA

PENGUMPULAN DATA
PENGUMPULAN DATA
PENGUMPULAN DATA
PENGUMPULAN DATA
PENGUMPULAN DATA
PENGUMPULAN DATA
PENGUMPULAN DATA
PENGUMPULAN DATA
PENGUMPULAN DATA
PENGUMPULAN DATA
MULAI PENGUMPULAN DATA DESAIN GAMBAR PERENCANAAN AWAL : ∑ Pelat Tidak ∑ Balok ∑ Kolom PERHITUNGAN

DESAIN GAMBAR

DESAIN GAMBAR
DESAIN GAMBAR
DESAIN GAMBAR
DESAIN GAMBAR
DESAIN GAMBAR
DESAIN GAMBAR
DESAIN GAMBAR
DESAIN GAMBAR
DESAIN GAMBAR
DESAIN GAMBAR
MULAI PENGUMPULAN DATA DESAIN GAMBAR PERENCANAAN AWAL : ∑ Pelat Tidak ∑ Balok ∑ Kolom PERHITUNGAN
PERENCANAAN AWAL : ∑ Pelat Tidak ∑ Balok ∑ Kolom PERHITUNGAN BEBAN MANUAL : ANALISA
PERENCANAAN AWAL
:
∑ Pelat
Tidak
∑ Balok
∑ Kolom
PERHITUNGAN BEBAN MANUAL
:
ANALISA STRUKTUR DENGAN ETABS
∑ Beban Mati
Beban Mati
∑ Beban Hidup
Beban Hidup
∑ Beban Gempa
Beban Gempa
Hidup Beban Hidup ∑ ∑ Beban Gempa ∑ Beban Gempa   ∑   DESAIN TULANGAN LENTUR
 

 

DESAIN TULANGAN LENTUR Pelat

& G

Balok

Balok

 

Kolom

 
 

Tidak

   

PERIKSA TULANGAN

 

Tulangan perlu

< Tulangan terpasa

TULANGAN   Tulangan perlu < Tulangan terpasa GAMBAR TULANGAN ∑ Pelat ∑ Balok : Gambar 3.1

GAMBAR TULANGAN

Pelat

Balok

:

Gambar 3.1 Bagan Alur Perencanaan

3.2

Metodologi Analisis

3.2.1

Pengumpulan Data

Pengumpulan

data

dimaksudkan

untuk

mendapatkan

data-data

yang

akan

diolah

dalam

perhitungan, data-data tersebut akan menjadi acuan dalam melakukan perencanaan struktur. Data-data

yang dibutuhkan seperti kegunaan dari bangunan itu sendiri, lokasi struktur, jumlah lantai, tinggi lantai,

tingkat daktalitas struktur, kuat tekan beton yang digunakan, tinggi leleh baja tulangan yang digunakan,

modulus elastisitas, dan gambar struktur dari desain.

3.2.2

Desain Gambar

Desain gambar bertujuan untuk mengetahui model dari desain struktur yang akan direncanakan.

Dalam tugas akhir ini penulis merencanakan denah gambar dengan permodelan gedung berbentuk oval

(tube).

Pemilihan bentuk tersebut dikarenakan karena penulis ingin mengamati perilaku dari stabilitas

struktur terhadap gempa. Karena desain bentuk struktur yang mengecil dibagian bawah dan atas serta

melebar dibagian tengahnya.

3.2.3 Desain Pendahuluan (Preeliminary Design)

Perhitungan prarencana bertujuan untuk menghitung dimensi rencana seperti pelat, balok, dan

kolom agar memperoleh suatu nilai yang optimal.

3.2.4 Menghitung Beban

Dalam

perhitungan

beban,

digunakan

dua

metode.

Metode

manual

dan

metode

dengan

menggunakan software ETABS. Penggunaan dua metode ini dimaksudkan agar mendapatkan perhitungan

beban yang lebih akurat dan teliti dalam perencanaan. Metode manual menggunakan cara konvensional

dengan

menerapkan

rumus-rumus

yang

ada.

Sedangkan

metode

dengan

menggunakan

software

menggunakan permodelan struktur ETABS yang dihitung secara otomatis menurut beban-beban yang kita

masukan.

1. Desain Balok Terhadap Lentur

Jika balok dibebani secara bertahap mulai dari beban yang ringan sampai qu sebagai beban batas,

penampang balok mengalami keadaan lentur. Proses peningkatan beban berakibat terjadinya korosi

tegangan dan regangan yang berbeda pada tahapan pembebanan.

tegangan dan regangan yang berbeda pada tahapan pembebanan. Gambar 3.2 Hubungan Tegangan dan Regangan Pada Beton

Gambar 3.2 Hubungan Tegangan dan Regangan Pada Beton

Desain tulangan lentur ini bertujuan untuk mengetahui jumlah dan besar tulangan yang optimal

dalam menahan gaya lentur. Sifat tulangan terlebih dahulu mencapai titik leleh sebelum kehancuran beton

inilah yang dikehendaki dalam desain dan disebut perencanaan tulangan lemah penampang. Sebaliknya

perencanaan tulang kuat didefinisikan bila terlebih dahulu beton mencapai tegangan batas sebelum

terjadinya kelelehan baja tulangan. Desain dengan tulangan yang kuat sedapat mungkin dihindari dalam

perencanaan, karena akan terjadi keruntuhan secara mendadak yang sifatnya destruktif dan berakibat fatal

bagi pengguna.

Jenis-jenis keruntuhan lentur

Dengan data-data penampang yang didapat, mutu beton, dan tulangan yang digunakan, terdapat 3

kemungkinan keruntuhan yang akan terjadi