Anda di halaman 1dari 29

PENGENALAN ALAT DAN TEKNIK KESELAMATAN KERJA DAN PEMBUATAN MEDIA, TEKNIK ASEPTIK, STERILISASI DAN DESINFEKSI RABU,

24 APRIL 2013

LAPORAN PRAKTIKUM MIKROBIOLOGI FARMASI

Oleh

Khurmatul Walidah Tahta Alfina Aisma Mirdhia H Arjun Nurfawaidi Gati Dwi Sulityaningrum Ninda Sukmaningrum

122210101009 122210101014 122210101017 122210101021 122210101026

BAGIAN BIOLOGI FARMASI FAKULTAS FARMASI UNIVERSITAS JEMBER 2013

BAB 1. PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG Pada saat sekarang ini alat merupakan salah satu pendukung dari pada keberhasilan suatu pekerjaan di laboratorium. Sehingga untuk memudahkan dan melancarkan berlangsungnya praktikum, pengetahuan mengenai penggunaan alat sangat diperlukan. Selain itu tata tertib juga sangat berpengaruh dalam lancarnya dan juga keberhasilan praktikum yang dilakukan. Pengenalan alat-alat laboratorium dan juga mengetahui tata tertib juga penting dilakukan untuk keselamatan kerja saat melakukan penelitian. Alat-alat laboratorium biasanya dapat rusak atau bahkan berbahaya jika penggunaannya tidak sesuai dengan prosedur. Pentingnya dilakukan pengenalan alat-alat laboratorium adalah agar dapat diketahui cara penggunaan alat tersebut dengan baik dan benar, sehingga kesalahan prosedur pemakaian alat dapat diminimalisasi sedikit mungkin. Hal ini penting supaya saat melakukan penelitian, data yang diperoleh akan benar pula. Data-data yang tepat akan meningkatkan kualitas penelitian seseorang. Selain itu, bahan dan peralatan yang digunakan dalam penelitian harus dalam kondisi steril. Untuk mencapainya, maka diperlukan teknik sterilisasi. Dimana sterilisasi ialah proses-proses untuk menjadikan peralatan dan bahan-bahan bebas dari semua bentuk kehidupan. Tujuan utamanya adalah supaya sebelum digunakan untuk praktikum terlebih dahulu dimatikan dulu mikroorganisme, karena kita ketahui bahwa alat-alat laboratorium mikrobiologi itu ada bakterinya atau miroorganisme yang hidup atau yang menempel, maka dari itu perlu dilakukan proses sterilisasi ataupun desinfeksi. Berdasarkan hal tersebut diatas, maka dilakukanlah percobaan ini untuk mengetahui teknik pengenalan, penyiapan dan penggunaan serta fungsi dan prinsip kerja setiap alat laboratorium mikrobiologi. Dan juga untuk meminimalisir terjadinya kecelakaan dalam praktikum yang dilakukan, untuk itu perlu halnya untuk mengetahui bagaimana cara memberikan pertolongan pertama pada kecelakaan kemungkinan terjadi dan juga cuci tangan aseptis yang benar agar tubuh kita steril dari mikroba (bakteri) yang menempel pada tubuh kita saat praktikum. Selanjutnya praktikum ini juga dilakukan untuk menambah pengetahuan tentang cara pembuatan medium dan juga cara menstrilisasikan medium tersebut.

1.2 RUMUSAN MASALAH 1.2.1 Pengenalan Alat dan Teknik Keselamatan Kerja 1.2.1.1 Apa saja tata tertib yang harus diperhatikan dalam melakukan praktikum mikrobiologi? 1.2.1.2 Bagaimana cara melakukan pertolongan pertama pada kecelakaan? 1.2.1.3 Apa saja alat-alat yang dibutuhkan dalam melakukan praktikum mikrobiologi serta apa kegunaannya? 1.2.1.4 Bagaimana cara mencuci tangan dengan baik dan benar? 1.2.2 Pembuatan Media, Teknik Aseptik, Sterilisasi Dandesinfeksi 1.2.2.1 Apa saja jenis-jenis medium yang digunakan untuk pertumbuhan dan perkembangbiakan mikroba serta bagaimana proses pembuatannya? 1.2.2.2 Bagaimanakah cara melakukan proses sterilisasi dan desinfeksi?

1.3 TUJUAN 1.3.1 Pengenalan Alat dan Teknik Keselamatan Kerja 1.3.1.1 Mahasiswa mengenal dan melaksanakan dengan baik tata tertib laboratorium mikrobiologi 1.3.1.2 Mahasiswa mengenal dan dapat melakukan pertolongan pertama pada kecelakaan 1.3.1.3 Mahasiswa dapat mengenal dan menggunakan alat-alat yang dibutuhkan dalam mikrobiologibeserta kegunaannya 1.3.1.4 Mahasiswa mampu mencuci tangan dengan baik dan benar 1.3.2 Pembuatan Media, Teknik Aseptik, Sterilisasi Dandesinfeksi 1.3.2.1 Mahasiswa mengenal jenis-jenis medium dan proses pembuatannya 1.3.2.2 Mahasiswa memahami proses sterilisasi dan desinfeksi

BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Tata Tertib Laboratorium Mikrobiologi Agar diri kita terlindungi dan bahan yang kita pakai tidak tercemar maka hal-hal yang penting untuk kita patuhi yaitu meletakkan tas dan barang-barang lain yang tidak diperlukan pada tempat yang tersedia. Benda-benda tersebut jangan diletakkan di atas meja laboratorium. memakai jas laboratorium selama bekerja di laboratorium. Menyeka meja laboratorium dengan desinfektan sebelum dan sesudah kegiatan praktikum. Mencuci tangan menggunakan sabun dan cairan antiseptik sebelum dan sesudah kegiatan laboratorium. Tidak merokok, makan, dan minum di laboratorium. Menjauhkan tangan dari mulut, hidung, dan telinga selama bekerja di laboratorium. Memperlakukan semua organisme yang ditangani sebagai pathogen. Membiakan mikroorganisme apapun tidak boleh dibawa keluar dari laboratorium. Apabila biakan mikroorganisme tumpah atau tercecer ke lantai atau meja maka segera tuangkan desinfektan ke atasnya dan bersihkan. Semua biakan yang tidak terpakai lagi dan akan dibuang maka harus diletakkan di tempat khusus. Menghubungi petugas laboratorium atau dosen jika terkontaminasi atau terluka. Sampah yang terkontaminasi harus dibuang di tempat yang disediakan. Lup inokulasi atau jarum inokulasi disterilkan dengan cara memijarkan seluruh panjang kawat sebelum dan sesudah setiap penggunaan. Setelah kegiatan selesai, alat-alat praktikum segera dibersihkan sesuai ketentuan di laboratorium Persiapan dan dokumentasi penting untuk mencapai tujuan praktikum, untuk itu halhal berikut penting untuk diperhatikan adalah praktikan harus membaca dan memahami apa yang harus dilakukan sebelum, saat, dan setelah bekerja di laboratorium. Praktikan wajib memahami tujuan dilaksanakannya setiap kegiatan praktikum. Hasil-hasil pengamatan baik berupa catatan, gambar, sketsa, dan foto selama praktikum harus didokumentasikan pada logbook dengan tepat, jelas, dan ringkas.

2.2. Tindakan dan Pertolongan Pertama pada Kecelakaan di Laboratorium Tindakan dan pertolongan pertama pada kecelakaan di laboratorium, antara lain menggunakan alat pemadam kebakaran api jika terjadi kebakaran. Kebakaran yang disebabkan cairan organik yang hidrofobik mungkin tidak dapat dipadamkan dengan air saluran ledeng. Pada kejadian ini dapat digunakan pasir kering untuk memadamkan apinya. Kain yang tebal (basah) dapat digunakan segera untuk menutup api agar tidak membesar. Cara yang baik jika (baju) kita sendiri terbakar atau terkena api adalah dengan bergulingguling di lantai untuk memadamkan api tersebut. Jika orang lain terkena api maka dibantu dengan menyelubunginya dengan handuk, karung dan sebagainya untuk memadamkan api tersebut. Apabila terjadi luka bakar besar maka secepatnya dibawa ke dokter atau fasilitas kesehatan terdekat. Luka bakar kecil bisa diberi air dingin dahulu untuk kemudian diberi salep untuk luka bakar. Jika terkena asam atau basa pada kulit, basuh dengan air sebanyak-banyaknya. Jika perlu, penetralan asam tersebut dapat menggunakan larutan amonia 5%, sedangkan penetralan basa bisa memakai asam borat 4% atau larutan asam asetat. Apabila mata terkena asam maka segera dicuci dengan air sebanyak-banyaknya, kemudian dapat dinetralkan dengan larutan natrium bikarbonat 5% memakai pencuci mata. Setelah itu mata ditetesi dengan "mineral oil". Jika mata terkena basa, secepatnya dibasuh dengan air sebanyak-banyaknya, kemudian dinetralkan dengan asam borat 4%. Setelah itu mata ditetesi dengan "mineral oil". Luka yang disebabkan benda tajam dibersihkan terlebih dahulu dengan cairan "rifanol". Setelah kering diberi antiseptik untuk luka.

2.3. Pengenalan Alat dan Penggunaannya Dalam mikrobiologi, peralatan laboratorium merupakan unsur penting yang harus ada. Peralatan yang ada dalam laboratorium pun haruslah steril agar dapat menunjang pekerjaan yang berhubungan dengan mikroorganisme dan hal tersebut merupakan syarat mutlak. Artinya, pada bahan atau peralatan yang akan digunakan harus bebeas dari mikroorganisme yang tidak diingikan yang dapat merusak media atau koloni suatu mikroorganisme yang diinginkan. Adapun peralatan yang umumnya digunakan di dalam laboratorium mikrobiologi antara lain : Media yaitu; cair, semi solid, solid (agak miring (siant), agak tegak (deep), pada cawan(plate)) dan peralatan yaitu; autoklaf, tabung kultur, cawan petri, jarum inokulasi, pipet, waterbath, inkubator, dan lemari pendingin. Autoklaf adalah alat pemanas tertutup yang digunakan untuk mensterilisasi suatu benda menggunakan uap bersuhu dan bertekanan tinggi (1210C, 15 lbs) selama kurang lebih 15 menit. Penurunan tekanan pada autoklaf tidak dimaksudkan untuk membunuh mikroorganisme, melainkan meningkatkan suhu dalam autoklaf. Suhu yang tinggi inilah yang akan membunuh microorganisme. Autoklaf terutama ditujukan untuk membunuh endospora, yaitu sel resisten yang diproduksi oleh bakteri, sel ini tahan terhadap pemanasan, kekeringan, dan antibiotik.

2.4. Cuci Tangan Aseptik Pada akhir tahun 1990an dan awal abad ke 21, diperkenalkan cairan alkohol untuk mencuci tangan (juga dikenal sebagai cairan pencuci tangan, antiseptik, atau sanitasi tangan) dan menjadi populer. Banyak dari cairan ini berasal dari kandungan alkohol atau etanol yang dicampurkan bersama dengan kandungan pengental seperti karbomer, gliserin, dan menjadikannya serupa jelly, cairan, atau busa untuk memudahkan penggunaan dan menghindari perasaan kering karena penggunaan alkohol. Cairan ini mulai populer digunakan karena penggunaannya yang mudah, praktis karena tidak membutuhkan air dan sabun. Penggunaan cairan sanitasi tangan berbentuk jel dan berbahan dasar alkohol dalam sebuah penelitian di Amerika pada 292 keluarga di Boston menunjukkan bahwa cairan ini mengurangi kasus diare di rumah hingga 59 persen. Dr. Thomas J. Sandora, seorang dokter di Divisi Penyakit Menular pada RS Anak-anak Boston (Division of Infectious Diseases at Children's Hospital Boston) dan juga penulis untuk buku "Tangan Sehat, Keluarga Sehat" ("Healthy Hands, Healthy Families.") mengemukakan bahwa penelitian ini adalah penelitian pertama yang menunjukkan bahwa penggunaan cairan sanitasi tangan menunjukkan bahwa perilaku ini mengurangi penyebaran kuman di rumah Cairan alkohol untuk mencuci tangan (juga dikenal sebagai cairan pencuci tangan, antiseptik, atau sanitasi tangan). Caramencuci tangan yang baik adalah tuangkan cairan antiseptik ke telapak tangan kira-kira sebanyak 5 ml (satu sendok teh penuh) atau secukupnya untuk melumuri seluruh permukaan tangan dan jari jemari. Gosokkanlah cairan tersebut dengan kedua telapak tangan. Gosoklah sela-sela jari punggung tangan dengan telapak tangan secara bergantian. Lanjutkan menggosok dengan posisi jari jemari kedua tangan mengait. Berikutnya ibu jari digosok secara bergiliran. Pertemukan ujung-ujung jari di satu tangan (seperti paruh burung) dan gosokkan ke telapak tangan yang lain secara bergantian. Gosoklah kedua tangan secara menyeluruh dan bergantian.

BAB 3. METODOLOGI

3.1 ALAT DAN BAHAN 3.1.1 Alat Baju praktikum Spidol permanen Masker (sekali pakai) Sarung tangan karet (glove) Buku kerja (logbook) Sabun antiseptik Handsainitaizer Alkohol Tabung reaksi Rak tabung reaksi Batang pengaduk Gelas ukur Erlenmeyer Beaker glass Timbangan analitik digital Vortex mixer Pipet tetes Cawan petri Autoclave Oven Tissue 3.1.2 Bahan Nutrient Agar (NA) Nutrient Broth (NB) Aquadest

3.2 CARA KERJA 3.2.1 PENGENALAN ALAT DAN TEKNIK KESELAMATAN KERJA 3.2.1.1 Tata kerja di laboratorium Meletakan barang yang tidak diperlukan pada tempat yang telah disediakan

Memakai jas laboratorium selama bekerja di laboratorium

Mencuci tangan menggunakan antiseptic ataupun sabun

Tidak merokok, makan ataupun minum dilaboratorium

Menjauhkan tangan dari mulut, hidung, dan telinga selama bekerja di laboratorium

Memperlakukan semua organism sebagai patogen

Biakan mikroorganisme apapun tidak boleh dibawa keluar dari laboratorium

Jika biakan mikroorganisme tumpah atau tercecer di lantai atau meja maka segera tuangkan desinfektan ke atasnya dan bersihkan

Menghubung petugas jika terkontaminasi atau terluka

Sampah yang terkontaminasi dibuang ditempat yang disediakan

Lup inokulasi disterilkan dengan cara memijarkan seluruh panjang kawat sebelum dan sesudah setiap penggunaan

Setelah kegiatan selesai, alat-alat praktikum segera dibersihkan sesuai ketentuan di laboratorium

3.2.1.2 Perlengkapan dan dokumentasi Membaca dan memahami apa yang harus dilakukan sebelum, saat, dan setelah bekerja di laboratorium

Memahami tujuan dilaksanakannya setiap kegiatan praktikum

Hasil-hasil pengamatan baik berupa catatan, gambar, sketsa, dan foto selama praktikum didokumentasikan pada logbook dengan tepat, jelas, dan ringkas

3.2.1.3 Tindakan Pertolongan Pertama pada Kecelakaan di Laboratorium Menggunakan alat pemadam kebakaran api jika terjadi kebakaran

Kebakaran yang disebabkan cairan organik yang hidrofobik digunakan pasir kering untuk memadamkan apinya

Kain yang tebal (basah) dapat digunakan segera untuk menutup api Berguling-guling di lantai untuk memadamkan api tersebut jika kita agar tidak terkena api membesar (terbakar)

Jika orang lain terkena api maka dibantu dengan menyelubunginya dengan handuk, karung dan sebagainya untuk memadamkan api tersebut

Luka yang disebabkan benda tajam dibersihkan terlebih dahulu dengan cairan "rifanol".Setelah kering diberi antiseptik untuk luka

Apabila terjadi luka bakar besar maka secepatnya dibawa ke dokter atau fasilitas kesehatan terdekat.

Jika terkena asam atau basa pada kulit, basuh dengan air sebanyakbanyaknya. Jika perlu, penetralan asam tersebut dapat menggunakan larutan amonia 5%, sedangkan penetralan basa bisa memakai asam borat 4% atau larutan asam asetat 3.2.1.4 Penanganan dan pemeliharaan mikroskop Mikroskop dibawa dengan dalam posisi tegak dimana satu tangan memegang statif dan tangan yang lain menyangga dasar mikroskop

Mikroskop ditutup dengan kover khusus jika tidak digunakan

Mikroskop harus dicegah dari benturan spontan

Apabila pada pentas dan penjepit kaca objek terdapat minyak maka segera bersihkan dengan kertas halus
dengan kertas halus

Jangan menyentuh lensa dengan tangan

Penyetelan mikroskop dilakukan secara halus dan bertahap. Jangan menyetel dengan paksa

Objektif maupun okular tidak boleh dipertukarkan dengan objektif dan okular mikroskop lain

Lensa okular harus segera dibersihkan setiap setelah penggunaan dengan kertas lensa

3.2.1.4.1 Penggunaan mikroskop SEM TM3000 ( bahan dan sampel dalam keadaan siap )

Nyalakan desktop SEM hingga dalam keadaan stabil dimana lampu indikator vakum sudah tidak berkedip lagi

Nonaktifkan fungsi vakum dengan menekan tombol on/off vakum sampai indikator "Air"
menyala

Tempatkan spesimen pada holder yang sudah diberi carbo tape dan kondisikan kering serta setipis mungkin Kalibrasikan tinggi holder dengan kalibratornya

Tempatkan holder di desktop lalu tutup

Pada laptop, klik "Run" untuk mulai menjalankan proses vakum hingga spesimen siap diamati

Lakukan perbesaran secara bertahap melalui aplikasi di laptop

Posisi spesimen diatur secara manual melalui tombol-radio yang ada pada desktop

Simpan gambar sesuai kebutuhan 3.2.1.5 Cuci tangan antiseptic

Jika tangan tampak kotor sebaiknya lakukan cuci tangan dengan sabun sebelum menggunakan
cairan (penggosok) antiseptik

Sabun yang digunakan untuk cuci tangan sebaiknya berwujud cair

Hindari mencuci tangan di waskom walaupun sudah ditambahkan bahan antiseptik

Cuci tangan dengan sabun biasa sama efektifnya dengan cuci tangan menggunakan sabun
antiseptik

Sebaiknya gunakan cairan antiseptik berbasis alkohol yang mengandung pelembut tangan (gliserin, propilen glikol, atau sorbitol)

Mengeringkan tangan sebaiknya menggunakan kertas lap atau lap kering bersih khusus (tidak dipakai bersama-sama)

3.2.1.5.1 Cara cuci tangan dengan antiseptic Tuangkan cairan antiseptik ke telapak tangan teh penuh) atau secukupnya untuk melumuri seluruh permukaan tangan dan jari jemari

Gosokkanlah cairan dengan kedua telapak tangan

Gosoklah sela-sela jari punggung tangan dengan telapak tangan secara bergantian

Lanjutkan menggosok dengan posisi jari jemari kedua tangan mengait


Berikutnya ibu jari digosok secara bergiliran

Pertemukan ujung-ujung jari di satu dan gosokkan ke telapak tangan yang lain secara bergantian

Gosoklah kedua tangan secara menyeluruh dan bergantian

3.2.2 PEMBUATAN MEDIUM, STERILISASI, DAN DESINFEKTAN 3.2.2.1 Pembuatan medium padat 3.2.2.1.1 Penyiapan medium Mengambil bahan medium nutrient agar (NA). Perhatikan formula atau petunjuk pembuatannya

Menimbang medium NA sekian gram untuk dilarutkan dalam 250 ml aquades.

Memasukan aquades ke dalam erlenmeyer 500 ml kemudian didihkan selama 15


menit di atas hotplate atau kompor.

Selama pendidihan, tambahkan NA sedikit demi sedikit sambil diaduk hingga homogen.

Menyiapkan 2 cawan petri dan 4 tabung reaksi untuk setiap kelompok.

Menuangkan10 ml medium NA ke dalam dua tabung reaksi dan 5 ml ke dalam dua tabung reaksi yang lain. Hal ini harus dilakukan sebelum medium NA mengental dan menjadi dingin.

Sumbatlah semua tabung reaksi dengan kapas.

Sterilkan dalam autoklaf pada 121 . selama 15 menit. 3.2.2.1.2 Pembuatan medium agar cawan dan medium agar miring Setelah dikeluarkan dari autoklaf, letakkanlah tabung-tabung reaksi yang memuat 10 ml medium ke dalam penangas air bersuhu 50. dan biarkan selama 5 menit.

Ambillah tabung reaksi yang berisi 5 ml medium dan langsung letakkan tabung tersebut
pada papan miring hingga memadat dan menjadi dingin

Mengambil tabung yang berisi 10 ml medium dan menuangkan satu per satu ke dalam cawan petri steril secara aseptik. Pastikan seluruh permukaan cawan tertutup rata oleh medium.

Mebiarkan medium tersebut menjadi dingin dan memadat. Menunggu selama 24 jam. Apabila medium tetap bersih dan tidak ditumbuhi bakteri atau jamur maka medium tersebut bisa dipakai.

3.2.2.1.3 Sterilisasi Medium Cair 3.2.2.1.3.1 Sterilisasi Bahan dan Alat Menyiapkan tabung-tabung reaksi berisi medium yang telah dikemas sedemikian rupa. Perhatikan cara pengemasannya.

Menuangkan aquades secukupnya ke dalam autoklaf

Menata bahan atau wadah yang akan disterilisasi sedemikian sehingga tersedia ruang bebas untuk gerak uap air. Menutup autoklaf dengan benar.

Mengatur suhu sterilisasi pada 121 selama 15 menit.


Menjalankan autoklaf

Pada akhir proses, matikan pemanasan dan tunggu hingga tekanan dalam autoklaf menjadi nol

Mengamati lama proses mulai dari awal menjalankan alat hingga pendinginan

3.2.2.1.3.2 Sterilisasi panas kering Perhatikan oven yang tersedia dan pelajari bagianbagiannya.

Siapkan peralatan gelas yang hendak disterilisasi hingga dikemas dengan baik.

Masukkan peralatan tersebut ke dalam oven dan tempatkan secara merata.

Tutuplah oven dengan baik.

Atur temperatur sterilisasi pada 1700 Cselama 1 jam.

Jalankan oven.

Pada akhir proses, matikan pemanasan dan tunggu hingga oven menjadi dingin. Amati lama proses mulai dari awal menjalankan alat hingga pendinginan 3.2.2.1.3.3 Desinfektan Menyiapkan lempeng agar dan bagi ke dalam 4 sektor atau kuadran.

Remas-remaslah jari jemari dan telapak tangan kiri atau tangan kanan kemudian biarkan dalam posisi terbuka. Ambil lidi kapas steril dan usapkan pada telapak tangan lalu oleskan pada sektor I dari permukaan agar.

Cuci ibu jari tangan dengan sabun biasa dan air, kemudian ulangi langkah ke-2 pada permukaan sektor II.

Cuci jari telunjuk dengan sabun antiseptik dan air, selanjutnya ulangi langkah ke-2 pada permukaan sektor III

Cuci jari kelingking dengan larutan alkohol 70%, lalu ulangi langkah ke-2 pada permukaan sektor IV.

Inkubasikan lempeng agar pada suhu 370 C selama 24 jam.

BAB 4. HASIL

4.1 HASIL PENGAMATAN Hari,Tanggal : Rabu, 24 April 2013

1. Fungsi sabun yaitu untuk megurangi Kandungan lemak dan protein serta mikroba pada tangan 2. Fungsi antiseptik yaitu untuk menghilangkan Kandungan lemak dan protein serta mikroba pada tangan 3. Mencuci tangan (Sebelum dan sesudah mengerjakan suatu kegiatan) Tahap-tahap memncuci tangan: - Menuangkan cairan sabun / antiseptik pada tangan - Mengosok telapak tangan - Mengosok sela- sela jari dan punggung tangan - Mengosok dengan posisi jari saling terkait. - Mengosok ibu jari bergantian. - Mengosokan ujung jari ke telapak tangan. - Mengosok menyluru dan bergantian seluruh bagian tangan. 4. Pembuatan Medium NAS , NAP , dan NB NAS dan NAP bahan dasar pembuatannya berasal dari NA ( Nutrient Agar) NB bahan dasar pembuatannya adalah NB (Nutrient Broth) -Bahan NA (Nutrient Agar) yang tersedia di dalam labratorium sudah dalam sebuh kemasan yang memiliki takaran : 28 gram per 1.000 mililiter. Sehingga kita harus melakukan perhitungan terlebih dahulu sebelum menimbang bahan. -Bahan NB yang tesedia di dalam labratorium sudah dalam sebuh kemasan yang memiliki takaran : 13 Gram per 1.000 miligram. 5. Jumlah medium yang dibuat : NAS 1 kelompok : 1 Tabung @5ml NAP 1 kelompok : 2 Tabung @10 ml >> Total : 25 mililiter Perhitungan : NA yang ada : 20 gram/1 liter NA yang dibutuhkan : ??? / 25 mililiter >> 0,7 gram untuk pembuatan 2 tabung NAP an 1 tabung NAS NB 2 Kelompok : 1 Tabung @ 5 ml >> Total : 10 mililiter. Perhitungan : NB yang ada : 13 gram/ 1 liter NB yang dibutuhkan : ????/ 10 mililiter >> 0,13 gram untuk pembuatan 1 tabung NB 6. NAP merupakan medium agar yang berbentuk lempeng yang diletakan dicawan petri Cara kerja secara singkat : a. Menimbang bahan yang sudah di perhitungkan

b. Mencampurka bahan dengan air dierlemeyer (untuk NB) dibeaker glass ( untuk NA) c. Dipanaskan ( dimasak) d. Dituangkan ke tabung-tabung atau tempat yang dikehendaki (NAS: menggunakan tabung reaksi. NAP mengguakan cawan petri. NB menggunakan tabung reaksi kecil) e. Tutup tutup tabung disumbat oleeh kapas f. Memberi nama setiap tabung g. Khusus untuk cawan petri, sebelum digunakan harus di sterilisasikan terlebih dahulu. (Dibungkus mengunakan kertas khusus kemudian di masukkan ke dalam ovens selama 1 jam denga temperatur di atas 1210 C ) h. Setelah semua bahan sudah di tempat masing-masing. Bahan di sterilisasi menggunakan autoclave. i. Membiarkan medium menggeras (untuk NAS , Tabung reaksi dimiringkan karena NAS merupakan medium agar miring)

4.2 GAMBAR

STERIL

TERKONTAMINASI

STERIL

TERKONTAMINASI

STERIL

STERIL

STERIL

BAB 5. PEMBAHASAN

Keamanan dan pengamanan kerja di laboratorium perlu diinformasikan, setiap akan melakukan kegiatan praktik. Beberapa hal yang penting dalam keamanan dan pengamanan kerja di laboratorium harus sudah disampaikan kepada praktikan secara tertulis untuk menghindari hal-hal yang dapat membahayakan keselamatan praktikan. Selama bekerja di laboratorium, faktor disiplin sangat perlu diperhatikan. Disiplin yang baik merupakan faktor yang penting dalam memelihara keselamatan kerja di laboratorium. Pencegahan lebih penting daripada pemeliharaan setelah terjadi kecelakaan. Salah satu tindakan untuk mencegah terjadinya kecelakaan adalah penyusunan tata tertib laboratorium. Setiap pemakai laboratorium hendaknya mematuhi tata tertib yang telah disusun. Selain tata tertib, ada beberapa peringatan yang perlu diperhatikan, sebagai upaya untuk mencegah terjadinya berbagai kecelakaan di laboratorium. Persiapan sebelum praktikum juga penting dilakukan oleh praktikan. Persiapan tersebut dapat berupa membaca dan memahami tentang materi yang akan dipraktikumkan atau alat dan bahan serta bagaimana saja cara kerja yang akan dilakukan oleh praktikan selama praktikum berlangsung agar tak terjadi kesalahan selama praktikum berlangsung. Kemudian juga penting bagi praktikan untuk mendokumentasikan segala hal yang dianggap perlu selama praktikum. Dokumen itu dapat berupa catatan, gambar, sketsa, atau foto. Kegiatan dokumentasi sangat diperlukan oleh praktikan untuk mendukung bukti atau dapat dijadikan bukti dalam suatu persoalan masalah. Dokumentasi juga bisa menjadi penolong saat terjadi suatu masalah, dokumentasi akan berfungsi sebagai referensi untuk memandu kita dalam melakukan atau mencari penyelesaian suatu masalah. Cara mendokumentasikan hal hal observasi dengan baik yaitu dimana kita harus memiliki prinsip bahwa tujuan dari dokumentasi adalah untuk mengkomunikasikan, mengambil suatu informasi dari suatu masalah atau kegiatan dan menyajikannya ke seseorang yang kurang familiar sehingga orang tersebut bisa tahu tentang apa yang kita ketahui. Dokumentasi yang baik juga harus memenuhi beberapa tujuan dokumentasi yang lainnya, yaitu : sebagai tanggung jawab, sebagai informasi statistik, sebagai sarana pendidikan, sebagai sumber data penelitian, sebagai jaminan kualitas pelayanan, sebagai sumber data perencanaan. Cara mencuci tangan yang baik adalah pada air yang mengalir. Disarankan pula menggunakan sabur cair karena kondisinya tertutup dan sekali tuang. Sehingga mengurangi terjadinya kontaminasi akibat pemakaian ulang. Sama halnya dengan mencuci tangan di waskom meskipun ada antiseptiknya. Namun dalam penggunaan waskom, bakteri akan larut dalam air yang tidak mengalir, sehingga bakteri tersebut dapat mengkontaminasi tangan kita kembali. Selain itu, mengeringkan tangan setelah dicuci lebih baik menggunakan tissue towel atau yang tebal dan tidak mudah hancur. Bahan-bahan aktif antiseptik yang umum digunakan adalah Chlorhexidine Gluconate , Benzalkonium Chloride , dan Benzyl Alcohol. Chlorhexidine Gluconate adalah bahan kimia pembunuh kuman yang sensitif untuk semua jenis kuman, berefek mematikan dan melemahkan pergerakan kuman. Sementara penambahan Benzalkonium Chloride dan Benzyl Alcohol berfungsi untuk meningkatkan potensi dan mengurangi reaksi iritasi pada penggunaannya. Kandungan lainnya adalah Sodium Lauryl Ether Sulfat ( surfactant), Coconut diethanolamide ( penstabil busa ), Cocamidopropyl betaine ( mild surfactant), Citric acid ( pengatur pH ), Glycerin ( emolient/ pelembut ). Dalam melakukan pembuatan medium untuk pertumbuhan mikroba harus memenuhi syarat-syarat sebagai berikut : 1. Harus mengandung nutrisi yang mudahdigunakanolehmikroorganisme. 2. Harus mempunyai tekanan osmose, tegangan permukaandan pH yang steril

3. Harus tidak mengandungtoksin. 4. Harus steril 5. Harus mengandung semua unsur makanan yang diperlukan untuk pertumbuhan dan perkembangbiakan mikroorganisme. 6. Harus mempunyai tekanan osmosa, tegangan permukaan, dan pH yang sesuai dengan kebutuhan mikroorganisme. 7. Harus dalam keadaan steril sebelum ditanami mikroorganisme yang dimaksud, jadi tidak ditumbuhi oleh mikroorganisme yang lain yang tidak diharapkan. 8. Tidak mengandung zat penghambat. 9. Temperature / suhu sesuai. Nutrient agar adalah medium pertumbuhan mikrobiologi umum digunakan untuk budidaya rutin non-pemilih bakteri. Hal ini berguna karena tetap solid bahkan pada suhu relatif tinggi. Juga, bakteri tumbuh di nutrient agar tumbuh di permukaan, dan jelas terlihat sebagai koloni kecil. Dalam kaldu nutrisi, bakteri tumbuh dalam cairan, dan dipandang sebagai zat pekat, bukan rumpun sejelas dibedakan. Nutrient Broth (NB) adalah medium yang berbentuk cair dengan bahan dasar adalah ekstrak beef dan peptone. Perbedaan konsentris antara Nutrient Agar dengan Nutrient Broth yaitu nutrient agar berbentuk padat dan Nutrient Broth berbentuk cair. Susunan kimia sama-sama sintetik. Fungsi kimia dari nutrient agar dan nutrient broth sebagai medium umum. Medium Nutrient Broth (NB) merupakan medium yang berwarna coklat yang memiliki konsistensi yang cair dimana medium ini berasal dari sintetik dan memiliki kegunaan sebagai medium untuk menumbuhkan bakteri sama seperti medium NA. Pada praktikum pembuatan medium, kami menggunakan bahan Nutrient Agar sebagai bahan yang akan diuji dengan cara penggunaan medium agar cawan dan dengan penggunaan medium agar miring. Penggunaan medium agar cawan menggunakan alat berupa cawan yang terbentuk dari kaca dan terdapat penutup cawan, sedangkan penggunaan medium agar miring menggunakan alat tabung reaksi dengan keadaan dimiringkan supaya Nutrient Agar terlihat dalam keadaan miring di dalam tabung reaksi. Tujuan penggunaan medium agar cawan adalah untuk mengetahui pertumbuhan mikroba pada medium agar cawan, sedangkan tujuan penggunaan medium agar miring adalah untuk mengetahui pertumbuhan mikroba pada medium agar miring. Sebelumnya wadah atau alat yang akan digunakan sebagai medium disterilisasi terlebih dahulu. Sterilisasi itu sendiri ada sterilisasi kering dan ada sterilisasi basah. Sterilisasi dalam mikrobiologi adalah suatu proses untuk mematikan semua organisme yang terdapat pada atau di dalam suatu benda. Ketika untuk pertama kalinya melakukan pemindahan biakan bakteri secara aseptic, sesungguhnya hal itu telah menggunakan salah satu cara sterilisasi, yaitu pembakaran. Namun, kebanyakan peralatan dan media yang umum dipakai di dalam pekerjaan mikrobiologi akan menjadi rusak bila dibakar. Untungnya tersedia berbagai metode lain yang efektif Sterilisasi basah biasanya dilakukan di dalam autoklaf atau sterilisator uap yang mudah diangkat (portable) dengan menggunkan uap air jenuh bertekanan pada suhu 121 oC selama 15 menit. Sterilisasi ini dapat digunakan untuk mensterilkan bahan apa saja yang dapat ditembus uap air dan tidak rusak bila dipanaskan dengan suhu yang berkisar antara 110 oC dan 121 oC. Bahan-bahan yang biasa disterilkan dengan cara ini antara lain medium biakan yang umum, air suling,peralatan laboratorium, biakan yang akan dibuang, medium tercemar, dan bahanbahan dari karet . Ada 4 hal utama yang harus diingat bila melakukan sterilisasi basah ; 1. Sterilisasi bergantung pada uap, karena itu udara harus dikosongkan betul-betul dari ruang sterilisator.

2. Semua bagian bahan yang disterilkan harus terkenai uap, karena itu tabung dan labu kosonga harus diletakkan dalam posisi tidur agar udara tidak terperangkap di dasarnya. 3. Bahan-bahan yang berpori atau berbentuk cair harus permeabel terhadap uap. 4. Suhu sebagaimana yang terukur oleh thermometer harus mencapai 121 oC dan dipertahankan stinggi itu 15 menit. Proses sterilisasi panas kering terjadi melalui mekanisme konduksi panas. Panas akan diabsurpsi oleh permukaan luar alat yang disterilkan, lalu merambat ke bagian dalam permukaan sampai akhirnya suhu untuk sterilisasi tercapai. .Sterilisasi panas kering dapat digunakan pada apa saja yang tidak merusak, menyala, hangus, dan menguap pada suhu tinggi ,Sterilisasi ini juga digunakan untuk alat-alat atau bahan dengan uap tidak dapat penetrasi secara mudah atau untuk peralatan yang terbuat dari kaca, antara lain pecah belah seperti pipet, tabung reaksi, cawan petri dari kaca, botol sampel, juga peralatan seperti jarum suntik, dan bahan-bahan yang tidak tembus uap seperti gliserin, minyak, vaselin, dan bahan-bahan berupa bubuk. Bahan-bahan yang disterilkan harus dilindungi dengan cara membungkus, menyumbat atau menaruhnya dalam suatu wadah tertutup untuk mencegah kontaminasi setelah dikeluarkan dari oven. Pada sterilisasi panas kering, pembunuhan mikroorganisme terjadi melalui mikanisme oksidasi sampai-sampai terjadinya koagulasi protein sel. Karena panas dan kering kurang efektif dalam membunuh mikroba dari autoklaf, maka sterilisasi memerlukan temperature yang lebih tinggi dan waktu yang lebih panjang. Selain itu terdapat faktor faktor kritis yang menentukan kesuksesan sterilisasi panas basah dan sterilisasi panas kering, yaitu: -Penentuan temperatur yang digunakan dalam proses sterilisasi. -Penentuan lama waktu yag digunkan dalam proses sterilisasi. -Pemilihan alat-alat ataupun bahan yang digunakan / bisa dilakukan Sterilisasi panas basah maupun panas kering . -Perlindungan yang diberikan kepada alat atau bahan untuk mecegah kontaminasi setelah dikeluarkan dari alat sterilisasi. Dalam praktikum kali ini juga perlu diketahui perbedaan desinfektan dan antiseptik. Antiseptik adalah agen kimia yang mencegah, memperlambat atau menghentikan pertumbuhan mikroorganisme (kuman) pada permukaan luar tubuh dan membantu mencegah infeksi. Beberapa antiseptik mampu membunuh kuman (bakteriosida), sedangkan yang lain hanya mencegah atau menghambat pertumbuhan mereka (bakteriostatik). Antiseptik berbeda dengan antibiotik, yang menghancurkan kuman di dalam tubuh, dan dari disinfektan, yang menghancurkan kuman pada benda mati. Antiseptik biasanya mengandung alkohol, chlorhexidine dan anilides. Desinfektan adalah bahan kimia yang digunakan untuk mencegah terjadinya infeksi atau pencemaran jasad renik seperti bakteri dan virus, jugauntuk membunuh atau menurunkan jumlah mikroorganisme atau kuman penyakit lainnya. Disinfektan digunakan untuk membunuh mikroorganisme pada benda mati.Desinfeksi adalah membunuh mikroorganisme penyebab penyakit dengan bahan kimia atau secara fisik, hal ini dapat mengurangi kemungkinan terjadi infeksi dengan jalam membunuh mikroorganisme patogen. Desinfeksi dilakukan apabila sterilisasi sudah tidak mungkin dikerjakan, meliputi : penghancuran dan pemusnahan mikroorganisme patogen yang ada tanpa tindakan khusus untuk mencegah kembalinya mikroorganisme tersebut. Perbedaan antara antisptik dan disinfektan biasanya terletak pada dosis atau konsentrasi aplikasi. Larutan 0,02% sodium hipoklorit (pemutih) mampu membunuh mikroba patogen dan aman bagi manusia (jika ditelan). Namun pada dosis 6% tidak ada seorangpun yang mau menelannya.

Contoh Antiseptik dan desinfektan berserta penggunaan. Antiseptik Etanol (50-70%) Penggunaan Antiseptik untuk kulit Aksi Mendenaturasi protein dan melarutkan lipid Mendenaturasi protein dan melarutkan lipid Menonaktifkan protein

Isopropanol (50-70%)

Antiseptik untuk kulit

Larutan iodine (2% in 70% Antiseptik untuk kulit alcohol) Silver nitrat (AgNO3) Antiseptik umum, biasanya digunakan pada mata bayi Antiseptik kulit

Mempresipitasi protein

Detergen (ammonium kuarterner) Senyawa fenolat ( karbol, lisol, heksilresorsinol, heksaklorofen) Disinfektan Formalin (8%)

Merusak membran sel

Antisptik pada dosis rendah

Mendenaturasi protein dan merusak membran

Disinfektan, membunuh spora Disinfeksi air minum, disinfektan umum

Bereaksi dengan gugus NH2, SH dan COOH Membentuk asam hipoklorida (HClO; pengoksidasi kuat) Menonaktif protein (bereaksi dengan gugus sulfida) Merusak membran sel

Klorin (Cl2)

Merkuri klorida

Disinfektan, tetapi terkadang digunakan sebagai antiseptik Pada dosis tinggi dan bersama kemikalia lain bersifat disinfeksi Disinfektan pada dosisi tinggi

Detergen (senyawa ammonium kuarterner)

Senyawa fenolat ( karbol, lisol, heksilresorsinol, heksaklorofen) Etylen oksida (gas)

Mendenaturasi protein dan merusak membran

Disinfektan, biasanya Agen alkilasi untuk menstrilisasi substansi tidak tahan panas seperti karet dan plastic

Setelah mengerti dan memahami perbedaan dari antiseptic dan desinfektan, selanjutnya mekanisme kerja dari bahan antiseptic atau desinfektan, yaitu : aktivitas

antibakteri diantaranya dipengaruhi oleh faktor potensi dari obat antibakteri dan faktor yang menyangkut sifat dari bakteri itu sendiri khususnya susunan kimia dinding sel bakteri tersebut. Mekanisme kerja antibakteri dan antiseptik dapat dijelaskan sebagai berikut. Mekanisme kerja antibakteri adalah mengganggu bagian bagian yang ada di dalam sel, yaitu : a. Sintesis dinding sel Mencegah sintesis dinding sel dan merusak dinding sel, menyebabkan tekanan osmotik dalam sel lebih tinggi daripada lingkungan luar sel sehingga sel akan mengalami lisis. b. Fungsi membrane Merusak atau memperlemah satu atau lebih dari fungsi membran. Sehingga berbagai komponen penting dari dalam sel bakteri akan keluar yaitu protein, asam nukleat dan nukleotida. c. Sintesis Protein Sintesis protein berlangsung di ribosom, dengan bantuan mRNA dan tRNA. Pada bakteri, ribosom terdiri atas dua subunit yang berdasarkan konstanta sedimentasi dinyatakan sebagai ribosom 30S dan 50S. Untuk berfungsi pada sintesis protein kedua komponen ini akan bersatu pada pangkal rantai mRNA yang menjadi ribosom 70S. Sintesis protein merupakan hasil akhir dari dua proses utama yaitu : 1. Transkripsi sintesis asam ribonukleat yang DNA-dependent dan 2. Translasi atau sintesis protein yang RNA- dependent. Apabila salah satu dari dua proses ini dihambat maka tidak akan terjadi sintesis protein. d. Metabolisme asam nukleat DNA dan RNA memegang peranan penting di dalam proses kehidupan normal sel. Hal ini berarti bahwa gangguan apapun yang terjadi pada pembentukan atau pada fungsi zat-zat tersebut dapat mengakibatkan kerusakan total pada sel e. Penginaktifan enzim tertentu. Penginaktifan enzim tertentu adalah mekanisme umum dari senyawa antiseptika, seperti turunan aldehid, etilen oksida. Aldehida dan etilen oksid bekerja dengan mengalkilasi secara langsung gugus nukleofil seperti gugus gugus amino, karboksil, hidroksil, fenol dan tiol dari protein sel bakteri. f. Denaturasi protein Turunan alkohol, turunan fenol bekerja sebagai antiseptik dengan cara denaturasi dan koagulasi protein sel bakteri. Senyawa alkohol dapat menimbulkan denaturasi protein sel bakteri dan proses tersebut memerlukan air. Hal ini ditunjang oleh fakta bahwa alkohol absolut, yang tidak mengandung air, mempunyai aktivitas antibakteri jauh lebih rendah disbanding alkohol yang mengandung air. Selain itu turunan alkohol juga menghambat sistem fosforilasi dan efeknya terlihat jelas pada mitokondria, yaitu pada hubungan substrat nikotinamid adenine nukleotida (NAD). Turunan fenol berinteraksi dengan sel bakteri melalui proses absorbsi yang melibatkan ikatan hidrogen. Pada kadar rendah terbentuk kompleks protein fenol dengan ikatan yang lemah dan segera mengalami peruraian, diikuti penetrasi

fenol ke dalam sel menyebabkan presipitasi serta denaturasi protein. Pada kadar tinggi fenol menyebabkan koagulasi protein dan sel membran mengalami lisis. g. Mengubah permeabilitas Turunan fenol dapat mengubah permeabilitas membran sel bakteri, sehingga menimbulkan kebocoran konstituen sel yang esensial dan mengakibatkan bakteri mengalami kematian. h. Interkalasi ke dalam AND Beberapa zat warna, seperti turunan trifenilmetan dan akridin, bekerja sebagai antibakteri dengan mengikat secara kuat asam nukleat, menghambat sintesis ADN dan menyebabkan perubahan kerangka mutasi pada sintesis protein. Turunan trifenil metan seperti gentian violet adalah kation aktif, dapat berkompetisi dengan ikatan hidrogen membentuk kompleks yang tak terionisasi dengan gugus bermuatan negatif dari konstituen sel, terjadi pemblokan proses biologis yang penting untuk kehidupan bakteri sehingga bakteri mengalami kematian (Siswandono dan Soekardjo, 2000). i. Pembentukan kelat Beberapa turunan fenol seperti heksaklorofen dan oksikuinolin, dapat membentuk kelat dengan ion Fe danCu, kemudian bentuk kelat tersebut dialihkan ke dalam sel bakteri. Kadar yang tinggi dari ion ion logam didalam sel menyebabkan gangguan fungsi enzim enzim sehingga mikroorganisme mengalami kematian (Siswandono dan Soekardjo, 2000).

BAB 6. PENUTUP

6.1 KESIMPULAN Dari pelaksanaan kegiatan pengenalan alat-alat laboratorium dan teknik praktikum ini, dapat disimpulkan beberapa hal: Setiap alat yang digunakan untuk praktikum mikrobiologi harus dalam keadaan steril. Meja kerja, tangan dan media lain pun harus diusahakan sesteril mungkin saat pelaksanaan praktikum. Setiap praktikan harus mengenal dan terampil menggunakan alat-alat laboratorium. 6.2 SARAN Pada praktikum ini, kinerja mahasiswa kurang efektif. Kendalanya dalam pembagian tugas, banyak mahasiswa yang belum mengetahui apa yang harus dikerjakan. Selain itu karena ruangan yang digunakan begitu sempit sedangkan jumlah praktikan yang begitu yang banyak kami rasa kurang efektif sehingga dari sebagian praktikan ada yang tidak mendengarkan bahkan ada yang mengobrol sendiri serta karena ruangan yang sempit tersebut pula dalam bergerak praktikan sangat kesulitan. Disarankan saat praktikum mikrobiologi berlangsung jumlah teknisi ditambah atau bisa menanmbah dengan adanya kehadiran asisten dosen, Dengan demikian diharapkan pelaksanaan praktikum lebih baik dan terkontrol.

DAFTAR PUSTAKA

Anonim.2011.pembuatan medium dan sterilisasi. http://noberanagbio.blogspot.com/2011/11/bab-i-pendahuluan_5438.html [diakses pada tanggal 23 April 2013] Anonim. 2013. Autoklaf. http://id.wikipedia.org/wiki/Autoklaf Anonim. 2013. Mencuci Tangan. http://id.wikipedia.org/wiki/Mencuci_tangan Huda, Samsul. 2011. Pengenalan Alat Dan Teknik Sterilisasi. http://SyamsulhudaFst09.Web.Unair.Ac.Id/Artikel_Detail-38709-KuliahPENGENALAN%20ALAT%20DAN%20TEKNIK%20STERILISASI.Html Indra. 2008. Media Pertumbuhan. http://ekmon-saurus.com Pratiwi Sylvia T.2008.Mikrobiologi Farmasi.Penerbit Erlangga.Jakarta . Suswanti Eny dkk.2010.Petunjuk praktikum mikrobiologi .Jember. Tandra rian.Laporan tetap praktikum mikrobiologi umum pengenalan alat. http://rianrtandra.wordpress.com/tag/pengenalan-alat-mikrobiologi/ [Diakses pada tanggal 23 April 2013] Volk & Wheeler, 1993, Mikrobiologi Dasar Jilid 1 Edisi kelima,Erlangga,Jakarta.