Anda di halaman 1dari 35

Penirisan Tambang ( Water Drainage)

Buku Pegangan Peserta Hal. 1 - 35


Pusat Pengembangan Program OMTC Copyright OMTC 2002
Modul Teknologi Tambang Dalam
File : Makalah Drainase Tambang Bawah Tanah.doc
DRAINASE TAMBANG BAWAH TANAH BATU BARA
A. PENDAHULUAN
Salah satu faktor yang harus diperhatikan dalam penambangan batubara adalah
masalah penanganan air, atau lebih umum disebut dengan istilah penirisan tambang.
Dengan adanya perbedaan antara tambang terbuka dengan tambang bawah tanah,
maka cara penirisan tambangnya juga berbeda. Sebagai contoh pada tambang
terbuka, yang membedakannya dengan tambang bawah tanah adalah pengaruh iklim
pada kegiatan penambangan. Elemen-elemen iklim seperti hujan, panas/temperatur,
tekanan udara, dan lain-lain dapat mempengaruhi kondisi tempat kerja, unjuk kerja
alat dan kondisi pekerja, yang selanjutnya dapat mempengaruhi produktivitas
penambangan. Demikian juga dengan tambang bawah tanah, masalah air tanah akan
lebih dominan dibandingkan dengan air permukaan.
Berikut ini akan dibahas aspek-aspek hidrologi dan hidrogeologi yang mendasari
perencanaan sistem penirisan tambang. Aspek hidrologi akan mencakup
pembahasan mengenai elemen-elemen hidrologi penting, seperti hujan, penguapan,
infiltrasi dan limpasan. Sedangkan yang termasuk dalam cakupan higrogeologi akan
dibahas hal-hal yang berkaitan dengan air tanah.
Berdasarkan hidrologi dan hidrogeologi daerah tambang, diharapkan perilaku air
tambang (air yang masuk ke areal tambang) dapat diketahui sehingga dapat
dilakukan penanganan secara lebih baik.
Selanjutnya akan dibahas aspek perancangan sistem penirisan tambang, khususnya
tambang bawah tanah serta pembahasan tentang pompa.
B. PENGETAHUAN HIDROLOGI
1. Daur Hidrologi.
Secara keseluruhan jumlah air di bumi ini diperkirakan sebanyak 1.366 juta km
3
,
yang distribusinya dapat dilihat pada tabel 1 berikut.
Tabel 1
Distribusi Air di Bumi
Bagian dari
Hidrosfer
Jumlah
(km
3
)
Persentase
(%)
Lautan
Air bawah tanah
Air bawah tanah tawar
Kelembaban tanah
Salju, es, dan gletser
Danau air tawar
Danau air asin
Daerah rawa
Sungai
Air di atmosfer
1338.10
6
23,4.10
6
105,3.10
5
16.500
24,2.10
6
91.000
85.400
11.470
2.120
12.900
96,5
1,7
0,76
0,001
1,766
0,007
0,006
0,0008
0,0002
0,001
Dari jumlah tersebut hanya sekitar 2,5 % berupa air tawar, dan hanya sekitar
220 km
3
diantaranya yang dapat dimanfaatkan oleh manusia.
Penirisan Tambang ( Water Drainage)
Buku Pegangan Peserta Hal. 2 - 35
Pusat Pengembangan Program OMTC Copyright OMTC 2002
Modul Teknologi Tambang Dalam
File : Makalah Drainase Tambang Bawah Tanah.doc
Suatu bagian dari jumlah air diatas mengalami proses yang membentuk daur
dimana air mengalami perubahan bentuk dan tempat. Daur ini disebut daur
hidrologi atau daur air, dan dapat digambarkan seperti gambar 1. Pada umumnya
proses-proses yang berkaitan dengan daur air merupakan yang periodik terhadap
ruang dan waktu, yang bergantung pada pergerakan bumi terhadap matahari dan
rotasi bumi pada porosnya.
Cadangan air yang penting bagi manusia adalah air-air permukaan, seperti air
sungai, air danau, dan air tanah pada zona yang aktif. Hal tersebut disebabkan
oleh pertimbangan ketersediaan dan pembaharuannya.
Secara kuantitatif daur air digambarkan dalam neraca air yang merupakan
fungsi dari ruang dan waktu. Dalam neraca air digambarkan hubungan antara
presipitasi (P), penguapan (E), limpasan (R) dan perubahan penyimpanan (dS)
seperti berikut;
P = E + R + dS
Gambar 1. Daur Hidrologi
2. Curah Hujan
Uap air di atmosfer yang terkondensasi dan jatuh ke bumi secara umum disebut
presipitasi, yang dapat berbentuk hujan, salju, es, dan embun.
Satuan curah hujan adalah mm, yang berarti jumlah air hujan yang jatuh pada
satuan luas tertentu. Jadi 1 mm curah hujan berarti pada luasan 1m
2
jumlah air
hujan yang jatuh adalah sebanyak 1 liter ( 1000 cm
3
)
Derajat curah hujan dinyatakan dalam curah hujan per satuan waktu, dan disebut
intensitas hujan, yang menyatakan ukuran hujan.
Penirisan Tambang ( Water Drainage)
Buku Pegangan Peserta Hal. 3 - 35
Pusat Pengembangan Program OMTC Copyright OMTC 2002
Modul Teknologi Tambang Dalam
File : Makalah Drainase Tambang Bawah Tanah.doc
Tabel 2
Derajat dan Intensitas Hujan
Derajat Hujan Intensitas Curah
Huja
n
Kondisi
Hujan sangat
lemah
0,02 Tanah agak basah atau dibasahi sedikit
Hujan lemah 0,02-0,05 Tanah menjadi basah semua
Hujan normal 0,05-0,25 Bunyi curah hujan terdengar
Hujan deras 0,25-1,00 Air tergenang di seluruh permukaan
tanah dan terdengar bunyi dari
genangan
Hujan sangat deras >1,00 Hujan seperti ditumpahkan, seluruh
drainase meluap
Tabel 3
Keadaan dan Intensitas Curah Hujan
Keadaan Curah
Hujan
Curah Hujan
1 jam 24 jam
Hujan sangat ringan < 1 < 5
Hujan ringan 1 5 5 20
Hujan normal 5 10 20 50
Hujan lebat 10 20 50 100
Hujan sangat lebat > 20 > 100
Berdasarkan pergerakan udara penyebab hujan, dapat dibedakan tiga tipe hujan,
yaitu ;
- Hujan konvektif ; hujan yang diakibatkan oleh naiknya udara panas ke daerah
udara dingin. Udara panas tersebut mendingin dan terjadi kondensasi. Hujan
tipe ini umumnya berjangka waktu pendek, derah hujannya terbatas dan
intensitasnya bervariasi dari hujan sangat ringan sampai hujan sangat lebat.
Tipe hujan ini ditemui di daerah khatulistiwa.
- Hujan orografis ; yakni hujan yang terjadi di daerah pegunungan dan
disebabkan oleh naiknya massa udara lembab karena punggung pegunungan.
- Hujan siklon ; merupakan hujan yang berhubungan dengan front udara (front
udara panas dan front udara dingin).
a. Pengukuran Curah Hujan
Pengukuran curah hujan dilakukan dengan menggunakan alat pengukur
hujan, yang dapat dibedakan menjadi (seperti gambar 2 berikut);
Alat penakar hujan biasa mempunyai luas bukaan sebesar 200 cm
2
dan
diletakkan kurang lebih 1 m dari permukaan tanah. Pengukuran umumnya
dilakukan sekali dalam sehari, biasanya pukul 07.00. Dengan demikian
akan dihasilkan curah hujan harian.
Penirisan Tambang ( Water Drainage)
Buku Pegangan Peserta Hal. 4 - 35
Pusat Pengembangan Program OMTC Copyright OMTC 2002
Modul Teknologi Tambang Dalam
File : Makalah Drainase Tambang Bawah Tanah.doc
Alat penakar hujan otomatis, dimana pencatatan dilakukan otomatis
secara berkesinambungan sehingga dihasilkan data intensitas hujan yang
akurat.
Pertimbangan-pertimbangan dalam penempatan alah penakar hujan adalah:
Alat harus diletakkan di tempat yang terbuka, yang bebas dari pengaruh
pohon dan gedung. Standar yang ditetapkan oleh WMO (World
Meteorogical Organisation) adalah : d > 4 h , dengan h = tinggi
pohon atau gedung, dan d = jaraknya dengan alat penakar hujan.
Sedapat mungkin diharapkan jauh dari tempat dengan angin yang
kencang.
Juga dihidari daerah arus naik.
Gambar 2.: Alat Penakar Hujan
(a = alat penakar hujan biasa ; b = alat penakar hujan otomatis)
b. Analisis data Curah Hujan
- Data curah hujan umumnya disajikan dalam data curah hujan harian,
bulanan dan tahunan. Penyajian dapat dilakukan dalam bentuk tabel dan
grafik. Analisis data curah hujan sangat bergantung pada kegunaan hasil
analisis.
- Pada umumnya diperlukan data pengukuran jangka panjang karena
komponen cuaca dan hidrologi mempunyai sifat periodik.
1) Curah hujan suatu daerah
a) Metoda rata-rata aritmatis
Metoda ini banyak diterapkan pada daerah yang datar dengan titik
pengukuran yang terdistribusi baik serta perbedaan harga rata-ratanya
tidak terlalu besar.
n
P = E Pi / n
i = 1
dengan Pi = curah hujan suatu stasiun pengukuran dan
n = jumlah stasiun.
Penirisan Tambang ( Water Drainage)
Buku Pegangan Peserta Hal. 5 - 35
Pusat Pengembangan Program OMTC Copyright OMTC 2002
Modul Teknologi Tambang Dalam
File : Makalah Drainase Tambang Bawah Tanah.doc
Gambar 3. Metoda Perhitungan Curah Hujan Suatu Daerah
Penirisan Tambang ( Water Drainage)
Buku Pegangan Peserta Hal. 6 - 35
Pusat Pengembangan Program OMTC Copyright OMTC 2002
Modul Teknologi Tambang Dalam
File : Makalah Drainase Tambang Bawah Tanah.doc
b) Metoda Poligon (metoda Thiessen)
Dengan metode ini daerah yang akan dihitung curah hujannya dibagi
menjadi daerah-daerah pengaruh setiap statiun pengukuran.
P = E Pi.Ai/ At = [ 1/At ] E Pi.Ai
Dimana ; Ai = luas daerah pengaruh stasiun yang bersangkutan
At = luas daerah total
c) Metoda Isohyet
Garis Isohyet adalah garis yang menghubungkan titik-titik dengan
curah hujan yang sama. Dengan metoda ini luas daerah di antara dua
garis Isohyet dihitung. Curah hujan daerah tersebut adalah harga rata-
rata dari kedua Isohyet yang mengapitnya. Rumus yang dipakai sama
dengan rumus untuk metoda poligon.
Cara ini memerlukan waktu yang cukup panjang terutama dalam
menyiapkan peta Isohyet. Dilain pihak metoda ini memberi
kemungkinan untuk memperhitungkan faktor-faktor yang berpengaruh
pada curah hujan, seperti morfologi, dll.
d) Metoda Kurva Hypsometri
Metoda ini dapat digunakan pada daerah dimana variasi curah hujan
terhadap ketinggian tidak dapat diabaikan. Untuk metoda ini diperlukan
analisis yang berpengalaman dan hanya untuk suatu interval/ selang
waktu hujan yang panjang.
2) Periode ulang
Curah hujan akan menunjukkan suatu kecendrungan pengulangan. Hal ini
terlihat dari data yang dianalisis, yang mencakup suatu jangka waktu yang
panjang (misalnya 30 tahun). Sehubungan dengan hal tersebut, dalam
analisis curah hujan dikenal istilah perioda kemungkinan ulang (return
period), yang berarti kemungkinan/ probabilitas perioda terulangnya sutau
tingkat curah hujan tertentu. Satuan perioda ulang adalah tahunan.
Dalam perancangan suatu bangunan air, atau dalam hal ini sarana
penirisan/ penyaliran tambang, salah satu kriteria perancangan adalah
hujan rencana , yaitu curah hujan dengan periode ulang tertentu atau
curah hujan yang memiliki kemungkinan akan terjadi sekali dalam suatu
jangka waktu tertentu. Sebagai contoh, suatu sumuran dirancang untuk
hujan 10 tahunan.
Salah satu metoda untuk menganalisis curah hujan adalah metoda
distribusi ekstrim I atau distribusi Gumbel. Jika T adalah periode ulang, n
adalah jumlah data hujan, m adalah ranking data dari terbesar ke terkecil,
maka :
X
T
= X + [ (Yr Ym)/ Sm ].S
Penirisan Tambang ( Water Drainage)
Buku Pegangan Peserta Hal. 7 - 35
Pusat Pengembangan Program OMTC Copyright OMTC 2002
Modul Teknologi Tambang Dalam
File : Makalah Drainase Tambang Bawah Tanah.doc
Dimana : X
T
= curah hujan untuk periode ulang T
X = curah hujan rata-rata
S = deviasi standar
Yr = reduce variate = -ln{-ln[(T-1)/T]}
Ym = -ln{-ln[(n+1-m) / (n+1)]}
Ym = Ym rata-rata
Sm = deviasi standar dari Ym
3. Penguapan
a. Penguapan dapat dibedakan menjadi :
1) Evaporasi : penguapan dari permukaan air yang terbuka (kolam, danau,
dll), tanah tanpa tanaman, dan air hujan yang tertangkap oleh tumbuhan
dan /atau yang tidak sampai kepermukaan tanah (=intersepsi).
2) Transpirasi : penguapan melalui tumbuh-tumbuhan.
b. Faktor-faktor yang mempengaruhi penguapan
1) Atmosfir
2) Tutupan tumbuh-tumbuhan
3) Tanah
c. Dalam banyak hal, evaporasi dan transpirasi tidak dapat dipisahkan, sehingga
dikenal istilah evapotranspirasi yaitu evaporasi dan transpirasi yang
merupakan proses penguapan atau perpindahan air ke atmosfir dari suatu
luas permukaan tertentu yang ditanami oleh tumbuh-tumbuhan.
Evapotranspirasi dapat dibedakan menjadi:
1) Evapotranspirasi aktual (nyata atau efektif), yang merupakan
evapotranspirasi nyata yang terjadi dari suatu permukaan yang ditanami
tumbuhan persatuan luas dan persatuan waktu pada kondisi klimatologi
dan meteorologi tertentu.
2) Evapotranspirasi potensial, yang merupakan evapotranspirasi maksimal
yang mungkin terjadi dari suatu permukaan yang ditanami tumbuhan bila
air tersedia dengan optimal.
d. Pengukuran Evapotranspirasi Secara Langsung
Penentuan keseluruhan penguapan secara kuantitatif sukar dilakukan karena
proses penguapan merupakan proses yang kompleks dan dipengaruhi
oleh
banyak faktor. Walaupun demikian beberapa metoda pengukuran langsung,
terutama untuk mengukur evapotranspirasi telah dikembangkan.
Cara pengukuran yang umum dikenal adalah pengukuran panci evaportasi
(evaporation pan) yang digunakan untuk mengukur evaporasi dari suatu
permukaan air yang terbuka. Salah satu panci evaporasi yang terkenal
adalah Class A Evaporation Pan yang berdiameter 121,9 cm (46,6) dan
tinggi 25,4 cm (10).
e. Penentuan Penguapan Secara Tidak Langsung
Karena pengukuran evapotranspirasi sangat sulit dilakukan, maka telah
dikembangkan cara-cara tidak langsung untuk menghitungnya, yaitu dari data
Penirisan Tambang ( Water Drainage)
Buku Pegangan Peserta Hal. 8 - 35
Pusat Pengembangan Program OMTC Copyright OMTC 2002
Modul Teknologi Tambang Dalam
File : Makalah Drainase Tambang Bawah Tanah.doc
meteorologi dan klimatologi. Secara garis besar rumus-rumus yang
dikembangkan untuk perhitungan penguapan dapat dibedakan menjadi :
1) Rumus empiris
Berdasarkan temperatur : rumus dari Thortnthwaite dan Blaney-
Criddle.
Berdasarkan keadaan kelembaban rumus dari Albercht dan Haude
Berdasarkan dari beberapa parameter : rumus dari Turc.
2) Rumus setengah empiris : rumus dari Penman
Gambar 4.: Alat Pengukur Penguapan (Panci Evaporasi)
Berikut ini akan ditampilkan rumus perhitungan yang umum digunakan, yaitu rumus
Thornthwaite ;
ETP = 0,533 f [10T/I]
a
Dimana : ETP = evepotranspirasi potensial (mm/d)
T = temperatur rata-rata bulanan (
o
C)
F = faktor koreksi yang tergantung pada jumlah hari per bulan
(28, 29, 30, dan 31) dan letak geografis
= N.D/360 (lihat tabel)
N = lamanya penyinaran matahari yang secara astronomis
mungkin (h/d)
D = jumlah hari per bulan
I = indeks panas
= E (T/5)
1.514
a = eksponen
= (0,0675.I
3
- 7.71 I
2
+ 1792 I + 49239) 10
5
Faktor koreksi f dapat pula dilihat pada tabel 4 berikut:
Penirisan Tambang ( Water Drainage)
Buku Pegangan Peserta Hal. 9 - 35
Pusat Pengembangan Program OMTC Copyright OMTC 2002
Modul Teknologi Tambang Dalam
File : Makalah Drainase Tambang Bawah Tanah.doc
Tabel 4
Faktoer Koreksi f
Letak
Geografis
BULAN
J F M A M J J A S O N D
10
o
LU
5
o
LU
0
o
5
o
LS
10
o
LS
1.00 0.91 1.03 1.03 1.08 1.06 1.08 1.07 1.02 1.02 0.98 0.99
1.02 0.93 1.03 1.02 1.06 1.03 1.06 1.05 1.01 1.03 0.99 1.02
1.04 0.94 1.04 1.01 1.04 1.01 1.04 1.04 1.01 1.04 1.01 1.04
1.06 0.95 1.04 1.00 1.02 0.99 1.02 1.03 1.00 1.05 1.03 1.06
1.08 0.97 1.05 0.99 1.01 0.96 1.00 1.01 1.00 1.06 1.05 1.10
4. Infiltrasi
- Infiltrasi adalah proses merembesnya air ke dalam tanah. Kapasitas infiltrasi
air hujan dari permukaan ke dalam tanah sangat bervariasi yang bergantung
pada kondisi tanah pada saat itu. Disamping itu infiltrasi dapat berubah-ubah
sesuai dengan intensitas curah hujan.
- Kecepatan infiltrasi semacam itu disebut laju infiltrasi. Sedangkan laju infiltrasi
maksimum yang terjadi pada kondisi tertentu disebut kapasitas infiltrasi.
- Faktor-faktor yang mempengaruhi infiltrasi adalah :
- Dalamnya genangan di atas permukaan tanah dan tebal lapisan yang jenuh
- Kelembaban tanah
- Pemempatan oleh curah hujan
- Penyumbatan ruang antara padatan di dalam tanah oleh bahan yang halus
- Pemampatan oleh manusia atau hewal
- Struktur tanah
- Tumbuh-tumbuhan
- Udara yang terdapat di dalam tanah
- Penentuan kapasitas infiltrasi dapat dilakukan dengan pengukuran langsung
dan dengan menggunakan analisis hidrograf.
Cara pengukuran langsung yang sering diterapkan adalah sebagai berikut:
Jenis permukaan air tetap atau alat ukur infiltrasi silinder yang terdiri dari 2
buah silinder yang berdiameter berbeda. Ujung bawah selinder dimasukkan
ke dalam tanah sampai sedalam lebih kurang 10 cm. Air dituangkan ke dalam
kedua selinder tersebut dengan tinggi muka air tetap. Variasi banyaknya air
yang ditambahkan ke dalam lingkaran tengah agar tinggi muka tetap adalah
variasi kapasitas infiltrasi.
5. Limpasan
- Faktor yang mempengaruhi limpasan dapat dibagi dalam 2 kelompok yaitu
faktor meteorologi serta faktor fisik daerah pengaliran.
- Faktor-faktor yang termasuk ke dalam faktor meteorologi adalah:
- Jenis presipitasi
- Intensitas hujan
- Lamanya curah hujan
- Distribusi curah hujan dalam daerah pengaliran
- Arah pergerakan hujan
- Curah hujan terdahulu dan kelembaban tanah
- Kondisi-kondisi meteorologi lainnya seperti suhu, kecepatan, angin,
kelembaban relatif dan lain-lain.
Penirisan Tambang ( Water Drainage)
Buku Pegangan Peserta Hal. 10 - 35
Pusat Pengembangan Program OMTC Copyright OMTC 2002
Modul Teknologi Tambang Dalam
File : Makalah Drainase Tambang Bawah Tanah.doc
- Faktor-faktor yang termasuk ke dalam faktor fisik daerah pengaliran adalah :
- Tata guna tanah (land use)
- Luas daerah
- Keadaan topografi
- Jenis tanah
- Faktor-faktor lain seperti karakteristik, jaringan sungai, saluran drainase
dan lain-lain.
- Hidrograf
Hidrograf merupakan diagram yang menggambarkan variasi debit air terhadap
waktu. Kurva tersebut memberi gambaran mengenai karakteristik daerah
pengaliran.
Umumnya hidrograf terdiri dari beberapa komponen yaitu:
- Curah hujan yang langsung jatuh di saluran
- Limpasan permukaan
- Aliran di bawah permukaan
- Aliran air tanah
Analisis hidrograf, yang berarti pula analisis komponen-komponen hidrograf,
sangat penting artinya dalam dalam analisis hidrologi.
C. AIR TANAH
- Secara hidrologis air di bawah tanah dapat dibedakan menjadi air pada daerah
yang tak jenuh dan air pada daerah jenuh. Daerah tak jenuh yang umumnya
terdapat pada bagian teratas dari lapisan tanah dicirikan oleh gabungan antra
material padatan, air dalam bentuk air absorpsi, air kapiler, dan air infiltrasi, serta
gas/udara. Daerah ini dipisahkan dari daerah jenuh oleh jaringan kapiler. Air yang
berada pada daerah jenuh disebut air tanah.
Beberapa Istilah Penting :
- Aqufer (akuifer) adalah lapisan batuan/tanah yang permeabel atau lulous air
sehingga dapat melewatkan atau meluluskan air. Tiga tipe aquifer yang dikenal
adalah:
Aquifer pori, yang kelulusannya disebabkan oleh pori-pori diantara butir-butir
padatan, umumnya lapisan sedimen.
Aquifer rekahan, yang kelulusannya dipengaruhi oleh rekahan-rekahan yang
terdapat pada lapisan batuan; misalnya batuan beku.
Karstaquifer yang merupakan lapisan batu gamping karst.
- Aquifuge, adalah lapisan batuan atau tanah yang impermiabel/ tidak lulus air
sehingga tidak memiliki kemampuan untuk menyimpan dan meluluskan air.
- Aquiclude (akuiklud), adalah lapisan batuan atau tanah yang dapat menyimpan
air, tetapi tidak dapat mengalirkannya.
- Aquitard (akuitar), adalah akuifer yang secara regional mempengaruhi neraca air,
tetapi tidak cukup untuk dapat dimanfaatkan.
1. Sifat-Sifat Akuifer
Penirisan Tambang ( Water Drainage)
Buku Pegangan Peserta Hal. 11 - 35
Pusat Pengembangan Program OMTC Copyright OMTC 2002
Modul Teknologi Tambang Dalam
File : Makalah Drainase Tambang Bawah Tanah.doc
a. Porositas/ Kesarangan;
Lapisan tanah yang porous (sarang) memiliki ruang-ruang di antara butir-butir
padatannta. Ruang-ruang itu disebut pori dan berisi fluida (cairan atau gas).
Jika Vo adalah volume medium porous, Vs adalah volume padatan dan Vp
adalah volume ruang/pori, maka Porositas atau Kesarangan yang dinyatakan
dalan %, adalah;
n = Vp/Vo
b. Permeabilitas/ Kelulusan
Permeabilitas adalah sifat spesifik dari suatu medium padat, dalam hal ini
lapisan batuan, untuk meluluskan fluida (cairan atau gas).
Percobaan yang dilakukan oleh DARCY pada tahun 1856 menggambarkan
aliran tanah serta pengertian tentang permeabilitas, yang dikenal sebagai
hukum DARCY;
Q = - KA dh/dl
dengan Q adalah jumlah air yang mengalir melalui suatu satuan luas A
dengan gradien hidrolik sebesar dh/dl.
Gambar 5. Skema Percobaan Darcy
Faktor proporsionalitas K disebut permeabilitas atau Konduktivitas Hidrolik
yang memiliki satuan m/s. Harga permeabilitas bergantung pada ruang/pori,
sifat cairan, dan gravitasi. Beberapa contoh harga permeabilitas dapat dilihat
pada tabel berikut:
Tabel 5
Beberapa Harga K
c. Transmisibilitas
Jenis Bahan Nilai K (m/s)
Kerikil
Pasir
Pasir Halus/ Lempungan
Kaolinit
Montmorolinit
10
-2
- 1
10
-5
-10
-2
10
-8
10
-5
10
-8
10
-10
Penirisan Tambang ( Water Drainage)
Buku Pegangan Peserta Hal. 12 - 35
Pusat Pengembangan Program OMTC Copyright OMTC 2002
Modul Teknologi Tambang Dalam
File : Makalah Drainase Tambang Bawah Tanah.doc
Theis (1935) yang pertama kali mengajukan istilah trasmisivitas atau
trasmisibilitas untuk m enggambarkan sifat transportasi dari aquifer.
Transmisibilitas (m
2
/s) pada suatu medium porous yang isotrop dan cairan
yang homogen menggambarkan jumlah cairan dengan viskositas dan gradien
hidrolik tertentu yang mengalir tegak lurus melalui suatu bidang selebar 1 m
dan setinggi ketebalan lapisan jenuh/ aquifer.
Jadi transmisibuilitas (T) merupakan hasil perkalian dari permeabilitas K
dengan ketebalan lapisan jenuh
T = ( K dm = K m
d. Storage Coefficient dan Specific Yield
Koefisien penyimpanan (storage coefficient) adalah suatu perbandingan
antara volume air yang dikeluarkan dari atau dimasukkan ke dalam aquifer
melalui satu satuan luas sebesar 1 m2 jika terjadi perubahan muka air tanah
sebesar 1 m dengan volume 1 m3. untuk aquifer bebas definisi di atas disebut
specific yield.
Gambar 6. Skema Pengertian Permeabilitas dan Transmisibilitas
Penirisan Tambang ( Water Drainage)
Buku Pegangan Peserta Hal. 13 - 35
Pusat Pengembangan Program OMTC Copyright OMTC 2002
Modul Teknologi Tambang Dalam
File : Makalah Drainase Tambang Bawah Tanah.doc
Gambar 7.: Koefisien Penyimpanan
2. Jenis-Jenis Aquifer
a. Aquifer Tertekan (Confined aquifer)
Aquifer Tertekan (Confined aquifer) merupakan lapisan permeabel yang
sepenuhnya jenuh oleh air dan dibatasi oleh lapisan-lapisan impermeabel
(confining beds) baik di bagian atas maupun di bagian bawahnya. Aquifer
tersebut berada dalam kondisi tertekan sehingga jika terdapat sumur yang
menembus akuifer tersebut maka permukaan air akan lebih tinggi dari bagian
atas akuifer. Bila air pada sumur tersebut lebih tinggi dari permukaan tanah
maka hal ini disebut akuifer yang artesis.
b. Aquifer Setengah Tertekan (Semi-Confined Aquifer)
Akuifer setengah tertekan atau disebut juga leaky aquifer atau lapisan yang
jenuh air dan pada bagian atasnya dibatasi oleh lapisan yang semi-permiabel
dan pada bagian bawah dibatasi oleh lapisan impermeabel atai juga semi-
impermeabel. Pada akuifer ini dapat terjadi aliran air dengan arah vertikal
antara akuifer dan lapisan semi-permeabel di atasnya, fenomena ini disebut
leakage
c. Aquifer Setengan Bebas (Semi-Unconfined Aquifer)
Jika lapisan semi-permeabel yang berada diatas akuifer memiliki permeabilitas
yang cukup besar sehingga aliran horizontal pada lapisan tersebut tidak dapat
diabaikan, maka akuifer tersebut dinamakan akuifer setengah bebas.
d. Aquifer Bebas (Unconfined Aquifer)
Pada akuifer ini hanya sebagian dari ketebalan lapisan yang permeabel yang
terisi oleh air atau jenuh air. Lapisan tersebut dibatasi oleh lapisan
impermeabel di bawahnya. Batas atas akuifer berbentuk muka air tanah yang
dalam keadaan seimbang dengan tekanan udara.
3. Uji Aquifer
Untuk mengetahui karakteristik hidrolik akuifer serta potensi air tanah maka perlu
dilakukan pengujian. Jenis-jenis pengujian yang umum dilakukan adalah:
Penirisan Tambang ( Water Drainage)
Buku Pegangan Peserta Hal. 14 - 35
Pusat Pengembangan Program OMTC Copyright OMTC 2002
Modul Teknologi Tambang Dalam
File : Makalah Drainase Tambang Bawah Tanah.doc
a. Pengujian untuk menentukan permeabilitas/konduktivitas hidrolik K dari satu
lubang bor.
1) Uji Permukaan Tidak Tetap (Falling Head Tes)
Pertama-tama air diisikan pada sumur sehingga muka air dalam sumur lebih
tinggi h m dari muka air tanah statik. Penurunan muka air terhadap waktu
dicatat. Untuk lebih jelasnya bagaimana perhitungan pengujiannya dapat
dilihat pada lembar formulir untuk falling head test.
2) Uji Permukaan Tetap (Constant Head Permeability Test)
Cara pengujian dilakukan pada sumur-sumur yang dalam atau miring
(inclined) dan dianggap lebih akurat bila dibandingkan falling head test.
Cara ini dapat dilakukan dengan 2 cara yakni:
a) muka air pada sumur dibuat tetap pada tinggi tertentu dari tinggi muka
air tanah awal atau,
b) dengan memompa air dengan tekanan ke zona yang akan di tes, dengan
menggunakan packer, contoh perhitungan dapat dilihat pada blanko uji
constant head.
b. Uji Pemompaan
Uji pemompaan merupakan alat bantu yang terpenting dalam penyelidikan
hidrogeologi, dengan cara ini dapat ditentukan karakteristik kapasitas sumur
(well test) dan parameter hidrolik dari akuifer (aquifer test).
Untuk pengujian ini diperlukan satu sumur pemompaan dan paling sedikit satu
sumur pengamatan. Pada saat pemompaan muka air tanah baik pada sumur
uji maupun pada sumur pengamat diukur.
Jika sebuah sumur yang dipompa dengan debit konstan Q maka akan
terbentuk sebuah kerucut penurunan muka air tanah yang pada waktu t
mencapai jarak maksimal. Pada keadaan ini terdapat dua macam kondisi
yang mungkin terjadi yaitu;
Kondisi unsteady atau tidak tunak ( dimana muka air tanah merupakan
fungsi dari waktu.
Kondisi steady atau tunak ( dimana muka air tanah konstan terhadap
waktu.
Gambar 8. Jenis-Jenis Aquifer
Penirisan Tambang ( Water Drainage)
Buku Pegangan Peserta Hal. 15 - 35
Pusat Pengembangan Program OMTC Copyright OMTC 2002
Modul Teknologi Tambang Dalam
File : Makalah Drainase Tambang Bawah Tanah.doc
Gambar 9.: Gambaran Skematis Sistem Aquifer
D. Pentingnya Drainase Air Terowonan (Pit) Bawah Tanah
Pada tambang bawah tanah (pit) manapun, selalu dapat terjadi pancaran air
bawah tanah. Kalau dibiarkan, umumnya menjadi gangguan terhadap pekerjaan,
terutama bila ada pancaran air yang masuk dalam jumlah banyak, maka sebagian
atau seluruh pit bisa tenggelam di dalam air. Oleh karena itu, langkah pertama dari
sistem drainase air adalah memperjelas sumber air di dalam pit, dan mencegah agar
air tersebut tidak muncul. Usaha seperti ini dinamakan penahanan air pit bawah
tanah.
Namun demikian, air yang sudah muncul di dalam pit, harus dibuang keluar,
dimana air yang berada di atas level mulut pit segera dialirkan ke luar melalui saluran
air yang sesuai, sedangkan air yang berada pada level yang lebih rendah dari mulut
pit disalurkan ke penampung air yang dibuat ditempat yang sesuai, kemudian dari situ
dikeluarkan ke luar pit dengan mengangkatnya (memompa) sampai ketinggian yang
diperlukan dengan menggunakan pompa.
Pada penanganan air yang berada dibawah level mulut pit, tahap pertama
adalah merupakan tahap pengumpulan air, dan pada tahap kedua merupakan
pengangkatan (pemompaan) air. Pada umumnya masalah drainase air pit bawah
tanah terbagi menjadi tiga, yaitu penahanan air, pengumpulan air dan pengangkatan
(pemompaan) air.
Pada tahap penahanan air, pertama harus diperjelas tentang keberadaan air
bawah tanah yang merupakan sumber air bagi pancaran air di dalam pit, kemudian
memperjelas bagaimana proses air tersebut memancar keluar, dan menjadi
penyebab perembesan dan masuknya air permukaan ke dalam pit, dan kemudian
diambil tindakan yang sesuai.
Untuk tahap pengumpulan dan pengangkatan air, dua hal ini mempunyai
kaitan yang penting dengan sistem pengembangan pit bawah tanah. Dalam
perancangan struktur pit, seperti posisi bag dan dudukan pompa, harus dilakukan
dengan memperkirakan kemungkinan perkembangan pit dimasa depan.
Penirisan Tambang ( Water Drainage)
Buku Pegangan Peserta Hal. 16 - 35
Pusat Pengembangan Program OMTC Copyright OMTC 2002
Modul Teknologi Tambang Dalam
File : Makalah Drainase Tambang Bawah Tanah.doc
Selanjutnya untuk pengangkatan air, dilakukan dengan pompa dan pipa,
dimana pada saat membuat rencana pembangunan tambang batu bara, harus
diperkirakan jumlah air yang akan keluar dimasa depan, hal akan memberi
kelonggaran yang cukup dalam menyiapkan fasilitas yang diperlukan.
Sebagai bahan bandingan, pada tambang batu bara di Jepang banyak terjadi
pancaran air di dalam pit bawah tanah, yaitu antara 8-10 m
3
per ton produksi batu
bara, sehingga daya listrik yang diperlukan untuk mengoperasikan pompa untuk
drainase air juga menjadi besar, dan mendominasi bagian yang besar dari seluruh
penggunaan listrik di satu tambang batu bara, sehingga biaya drainase air
memberikan pengaruh yang besar kepada harga pokok produksi batu bara. Oleh
karena itu, penelitian mengenai rasionalisasi drainase air pit bawah tanah, untuk
selanjutnya tetap menjadi satu masalah yang sangat penting.
E. Air Bawah Tanah
1. Penyebab terjadinya air bawah tanah
Air yang jatuh ke permukaan bumi dalam bentuk hujan dan salju,
merupakan air yang jatuh secara alami, sebagian segera dilepas ke dalam
atmosfir karena menguap, sebagian lainnya merembes masuk ke dalam tanah,
bagian lain yang sisa mengalir menyusuri permukaan bumi, menjadi sungai yang
mengalir masuk ke laut. Presentase masing-masing bagian, berbeda menurut
daerah atau musim, sehingga tidak dapat dipertegas, namun ada pendapat yang
mengatakan masing-masing adalah 1/3, atau ada juga pendapat yang
mengatakan bagian yang menguap adalah - 4/5, dimana di dalamnya termasuk
air yang menguap dari tumbuhan. Diantara air jatuh alami, besarnya bagian yang
merembes ke dalam tanah sangat bervariasi, tergantung dari kemiringan tanah
serta sifat permukaan, namun air tersebut akan terhimpun di dalam berbagai
macam rongga besar dan kecil yang ada di dalam batuan yang membentuk kerak
bumi. Itulah air bawah tanah. Seperti terlihat disini, sebagian besar air bawah
tanah berasal dari air jatuh alami, tetapi selain itu terdapat juga air magma yang
menyebar keluar dari magma, serta connate water (atau fossil water) yang sejak
awal sudah berada di dalam rongga debris yang mengendap di dalam air.
Bagaimanapun juga, air bawah tanah bergerak mengalir di dalam tanah, atau
adakalanya memancar keluar ke permukaan bumi atau pada dasar aliran air,
namun masalah yang paling besar dalam pertambangan adalah memancar atau
keluarnya air ini ke dalam pit bawah tanah sehingga menjadi air pit bawah tanah.
2. Permukaan air bawah tanah
Batuan yang memiliki rongga, diantara batuan yang menyusun kerak bumi,
dibawah level tertentu umumnya mengalami kejenuhan oleh air bawah tanah.
Bagian itu disebut zona jenuh, kemudian permukaan air zona jenuh disebut
permukaan air bawah tanah dan pertengahan antara permukaan air bawah tanah
dan permukaan bumi disebut zona ventilasi. Di zona ventilasi juga bukannya tidak
ada air, tetapi air disitu adalah air yang terpeliharan oleh gejala pembuluh kapiler,
yang disebut air bawah tanah tidak tetap.
Terhadap air bawah tanah juga bekerja gaya gravitasi, maka apabila air
dapat mengalir bebas, permukaan air bawah tanah menjadi permukaan datar,
sehingga untuk suatu daerah seharusnya permukaan air bawah tanah sampai
levelnya. Namun, terhadap gerakan aliran tersebut bekerja berbagai tahanan di
jalur aliran, sehingga pada permukaan air bawah tanah umumnya ada kemiringan
sebatas tertentu. Sedangkan tahanan tersebut berubah menurut permeabilitas
batuan yang menjadi jalur air, dimana dibagian yang tahanannya besar
kemiringannya curam, dan dibagian yang tahanannya kecil kemiringannya landai.
Pada kenyataannya, permukaan air bawah tanah juga naik turun sesuai topografi,
Penirisan Tambang ( Water Drainage)
Buku Pegangan Peserta Hal. 17 - 35
Pusat Pengembangan Program OMTC Copyright OMTC 2002
Modul Teknologi Tambang Dalam
File : Makalah Drainase Tambang Bawah Tanah.doc
dimana menjadi tinggi di daerah pegunungan dan menjadi rendah didaerah
lembah. Kemudian, ditempat pertemuan antara permukaan air bawah tanah di
lokasi tersebut, dimana kalau air ditimba banyak dari sumur tersebut, permukaan
air bawah tanah disekitarnya akan turun. Apabila air bawah tanah banyak
memancar keluar, misalnya ke pit bawah tanah tambang batu bara, permukaan
air bawah tanah di sekitarnya akan turun, sehingga adakalanya air sumur menjadi
kering.
Kedalaman dari permukaan bumi sampai ke permukaan air bawah tanah
juga bertambah dan berkurang karena curah air yang berubah menurut daerah
dan musim, dimana didaerah Jepang yang banyak curah air, umumnya 2-3 m,
namun di daerah yang curah airnya sedikit mencapai lebih dari 20 m.
3. Lapisan permeabel dan lapisan inpermeabel
Pada umumnya, tergantung dari sifatnya ada batuan yang relatif mudah
dilewati air dan ada batuan yang sulit dilewati air. Lapisan batuan yang tersusun
dari batuan yang mudah dilewati air disebut lapisan permeabel, dan lapisan
batuan yang tersusun dari batuan yang sulit dilewati air disebut lapisan
inpermeabel. Kemudian sifat batuan dapat dijelaskan dari besar kecilnya
porositas dan permeabilitas. Batuan yang porositasnya besar menyerap banyak
air, batuan yang permeabilitasnya besar melewatkan banyak air, tetapi kedua
pengertian ini tidak sama. Yang pertama, yaitu porositas, adalah perbandingan
volume berbagai rongga besar dan kecil dibagian dalam batuan terhadap volume
batuan itu sendiri, dalam persen, yang dapat dinyatakan dengan rumus berikut.
Kemudian absorbsi air oleh batuan bertambah dan berkurang sebanding dengan
persentase porositas ini.
P = 100 (W-D)/(W-S) %
Dimana : P = Porositas
W = Berat batuan yang mengalami kejenuhan oleh air
D = Berat batuan kering
S = Berat batuan jenuh di dalam air.
Porositas tidak berhubungan dengan besar kecilnya partikel batuan, tetapi
berubah menurut keseragaman partikel, serta gaya kohesi dan kekuatan
perekatan. Artinya kalau partikelnya seragam, porositas akan selalu tetap tanpa
berkaitan dengan besar kecilnya partikel. Akan tetapi kalau partikelnya tidak
seragam, walaupun tampaknya batuan yang partikelnya kasar, porositasnya lebih
rendah dari pada batuan yang berpartikel halus dan seragam. Misalnya, kalau
gravel bercampur pasir dibandingkan dengan tanah liat, porositas yang pertama
lebih rendah dari yang kedua. Selain itu, walaupun ukuran partikelnya sama,
namun sandstone yang berkohesi kuat karena penekanan serta sandstone yang
celah partikelnya ditutup oleh zat perekat, porositasnya lebih rendah dari pada
sandstone yang kohesi partikelnya kurang kuat. Satu contoh hasil pengukuran
porositas batuan adalah sebagai berikut.
Jenis batuan Granite Limestone Sandstone Shale Sand Clay
Porositas (%) 1,20 4,85 15,89 3,95 35,00 45,00
Rasio absorpsi air batuan berbanding lurus dengan porositas, tetapi
walaupun batuan berporositas rendah, apabila batuan tersebut kaya akan rongga
khusus, dapat mengandung air yang banyak.
Yang kedua, yaitu permeabilitas, menyatakan tinggi rendahnya sifat dapat
dilewati air pada batuan. Seperti ditulis di atas, rongga di dalam batuan
mengizinkan penyusupan semua air, namun untuk itu ada yang mengizinkan dan
Penirisan Tambang ( Water Drainage)
Buku Pegangan Peserta Hal. 18 - 35
Pusat Pengembangan Program OMTC Copyright OMTC 2002
Modul Teknologi Tambang Dalam
File : Makalah Drainase Tambang Bawah Tanah.doc
tidak mengizinkan air lewat, dimana pembuluh kapiler termasuk yang belakang.
Keduanya diukur satu per satu, kemudian apabila dihitung persennya terhadap
batuan itu sendiri, maka diperoleh permeabilitas dan rasio air menetap. Jumlah
keduanya merupakan porositas. Jadi, disatu pihak permeabilitas bertambah dan
berkurang sesuai tinggi rendahnya porositas, dan dilain pihak bertambah dan
berkurang menurut besar kecilnya partikel. Stau contoh hasil pengukuran
porositas dan permeabilitas terhadap gravel, pasir dan clay yang menyusun suatu
lapisan sedimen adalah sebagai berikut:
Jenis batuan Gravel Pasir Sandy
Gravel
Pasir
halus
Sandy
clay
Clay
Porositas (%)
Permeabilitas (%)
40,0
36,0
38,0
34,2
35,0
31,5
35,0
10,5
30,0
4,5
32,0
3,0
Seperti ditunjukkan oleh tabel di atas, permeabilitas gravel dan pasir
tinggi, hampir mendekati porositas, sedangkan pada pasir halus (di bawah 0,5
mm) permeabilitasnya turun mendadak. Umumnya, permeabilitas cepat turun
kalau diameter partikel menjadi lebih kecil dari batas tertentu. Kalau kita lihat clay
(lempung) porositasnya lumayan tinggi, namun karena partikelnya sangat halus,
permeabilitasnya sangat rendah, bahkan kadang-kadang menjadi nol. Jadi gravel
serta pasir dengan partikel menengah ke atas, mempunyai porositas dan juga
permeabilitas yang tinggi, sehingga bebas dilewati air. Selain itu, conglomerate
dan sandstone dengan partikel menengah ke atas juga mempunyai permeabilitas
yang relatif tinggi. Pada umumnya, lapisan batuan yang terbentuik dari batuan
yang permeabilitasnya tinggi adalah lapisan permeabel, dan apabila lapisan ini
mengandung banyak air disebut akuifer. Kebalikan darinya, batuan bersifat tanah
lempung seperti clay, mudstone dan shale mempunyai rasio air menetap yang
tinggi, sehingga tidak begitu banyak melewatkan air. Lapisan batuan yang
terbentuk dari batuan seperti inilah yang merupakan lapisan inpermeabel.
Pada umumnya air bawah tanah bergerak mengalir di dalam lapisan
permeabel, dengan kecepatan yang tergantung dari perbedaan tinggi permukaan
air bawah tanah dan tahanan jalur aliran, dimana secara lokal ada perbedaan
yang cukup nyata. Secara umum kecepatan tersebut sangat lambat, dimana
menurut buku referensi dikatakan sekitar 3-4 m setiap jam, atau ada juga yang
mengatakan 1 m per hari, jadi tidak ada kecepatan yang tertentu.
4. Struktur bertingkat lapisan permeabel
Lapisan batuan pada batuan sedimen merupakan tumpukan berbagai
jenis lithofacies yang berbeda, jadi merupakan tumpukan lapisan permeabel yang
dipisahkan oleh lapisan inpermeabel.
Apabila lapisan permeabel yang membentuk struktur bertingkat ini
seluruhnya mengalami kejenuhan oleh air, akan terjadi bertingkat-tingkat
permukaan air bawah tanah, asalkan saling tidak berhubungan, misalnya karena
ada patahan.
Walaupun lapisan permeabel menampilkan struktur bertingkat seperti ini,
adakalanya setiap tingkat saling tidak berhubungan, sehingga misalkan pada
penggalian vertical shaft, di lapisan atas kita dibuat pusing oleh banyaknya
pancaran air, tetapi kalau sudah melewati lapisan inpermeabel di bawahnya, di
lapisan permeabel di bawah kadang-kadang jarang melihat pancaran air.
Kebalikan darinya, adakalanya lapisan di atas dapat dilewati dengan selamat
tanpa pancaran air yang berarti, namun di lapisan bawah dipersulit oleh pancaran
air yang banyak. Akan tetapi, pad aumumnya makin dalam pit bawah tanah,
jumlah pancaran air dibagian itu normalnya akan berkurang, dan pengurangan
tersebut tampak jelas karena tebalnya lapisan inpermeabel yang dilewati.
Penirisan Tambang ( Water Drainage)
Buku Pegangan Peserta Hal. 19 - 35
Pusat Pengembangan Program OMTC Copyright OMTC 2002
Modul Teknologi Tambang Dalam
File : Makalah Drainase Tambang Bawah Tanah.doc
Mengenai batas yang dicapai oleh rembesan air bawah tanah pada
lapisan batuan sedimen, yakni batas kdalaman dimana air bawah tanah biasa
dapat berada, ada satu contoh terdapatnya banyak air pada kedalaman 1.800 m
dibawah permukaan bumi. Kedalaman rembesan air yang mampu dicapai,
dimana secara umum batuannya mempunyai retakan, diperkirakan sekitar
3.000 m. Pada kedalaman antara 600-900 m di bawah permukaan bumi, telah
diketahui air bawah tanah tidak begitu sulit untuk mengalir.
5. Peredaran air akibat patahan
Pada umumnya, karena perubahan struktur geologi, terutama karena
gerakan kerak bumi, terjadi berbagai jenis retakan. Terutama patahan dapat
menjadi jalur lewat (jalur air) bagi air bawah tanah, sehingga dapat mengundang
semburan air besar tak terduga di dalam pit. Artinya kalau terjadi patahan besar,
buan disitu saja, tetapi batuan disekitarnya akan dirusak dan disitu juga banyak
terjadi retakan, yang berarti daerah tersebut menjadi jalur lewat bagi air, sehingga
dapat membawa banyak air dari tempat jauh, atau menjadi jalur air penghubung
dari akuifer yang dipisahkan oleh lapisan inpermeabel. Pada tambang batu bara
di Jepang juga ada contoh, sering dijumpainyafenomena seperti ini. Di ujung
lubang maju yang selama ini digali dengan selamat, ketika mendekati patahan
seperti ini, mengundang semburan air, ditambah lagi karena patahan tersebut
bersambung dengan lapisan kuarter, sehingga menjadi penyebab masuknya
banyak air laut. Akan tetapi biasanya dengan berjalan waktu, jalur air tersebut
juga dialiri masuk oleh tanah lumpur dari dasar laut, sehingga akhirnya tertutup
sendiri.
F. Air Di Dalam Pit Bawah Tanah
1. Sumber Air Pit Bawah Tanah
Apabila air pit bawah tanah digolongkan berdasarkan sumber air atau
proses muncul, maka dapat digolongkan dalam 5 jenis, yaitu air tanah,
perembesan air permukaan bumi, mengalir masuknya air permukaan bumi, air
yang dikirim masuk untuk pekerjaan dan semburan air tak disangka.
a. Air Tanah
Air bawah tanah yang memancar keluar di pit bawah tanah disebut air
tanah, dimana pada umumnya sebagian besar air pit bawah tanah adalah air
tanah ini. Di semua tambang batu bara di Jepang, penambangan dilakukan
pada kedalaman di bawah permukaan air bawah tanah, sehingga tidak ada
tambang batu bara yang tidak mengalami pancaran air tanah. Mengenai
fenomena pancaran air ini bermacam-macam sumbernya, ada yang langsung
memancar dari terowongan yang digali, ada yang jatuh dari atap lapisan batu
bara karena atap runtuh dan turun atau terjadi keretakan akibat penambangan
batu bara, kemudian ada yang memancar dari lantai lapisan batu bara yang
retak akibat lantai mengembung naik (floor lift), atau ada yang mengalir keluar
dari patahan yang terkena galian. Tetapi bagaimanapun juga, yang paling
mengerikan adalah pancaran yang keluar dari akuifer. Pada umumnya, tidak
ada pertambahan dan pengurangan yang drastis dari jumlah pancaran air
tanah, dimana jumlah pancaran itu terus menerus hampir sama. Akan tetapi
dengan adanya perubahan geologi serta pertambahan luas dan kedalaman
akibat perkembangan pit, jumlah pancaran ini juga mengalami perubahan
yang lumayan. Maka dilapisan batuan yang banyak sandstone berpartikel
kasar, pancaran air di dalam pitnya lebih banyak daripada lapisan yang
banyak shale, dan jumlah pancaran air akan meningkat mengikuti
pertambahan luas pengembangan pit bawah tanah. Sedangkan dengan
bertambah dalamnya pit bawah tanah, sudah seharusnya jumlah pancaran air
Penirisan Tambang ( Water Drainage)
Buku Pegangan Peserta Hal. 20 - 35
Pusat Pengembangan Program OMTC Copyright OMTC 2002
Modul Teknologi Tambang Dalam
File : Makalah Drainase Tambang Bawah Tanah.doc
secara lokal berkurang, tetapi jumlah air keseluruhan untuk seluruh pit tidak
akan berkurang. Sumber air tanah ini adalah air bawah tanah, dimana pada
waktu air tersebut memancar keluar di dalam pit, yang mempunyai pengaruh
besar adalah head air bawah tanah, yakni kedalaman di bawah permukaan air
bawah tanah. Pada pit di daerah yang permukaan air bawah tanahnya telah
turun karena drainase air dari pit di sekitarnya, pancaran airnya lebih sedikit
daripada pit yang sama didaerah perawan.
Selama ini di Jepang, jumlah pancaran air yang dinyatakan terhadap 1
ton produksi batu bara, namun antara produksi batu bara dan jumlah air
pancar memang tidak ada keterkaitan langsung, sehingga bukan merupakan
pernyataan yang tepat.
b. Perembesan air permukaan bumi
Ini adalah air yang merembes ke dalam pit karena terjadinya retakan
yang mencapai permukaan bumi atau dasar air akibat atap dibekas
penambangan batu bara rusak dan turun, sehingga air permukaan bumi, yakni
air hujan, air salju cair, atau air kolam penampung dan laut masuk
melewatinya. Hal yang membedakannya dengan pancaran air bawah tanah
adalah pada umumnya ada batas jumlah air sumbernya, sehingga
perembesannya mungkin hanya untuk sementara, atau jumlah air tersebut
berubah menurut musim, misalnya pada musim hujan dan musim salju cair
terjadi peningkatan yang besar, sementara perembesan dibagian dangkal dari
pit, terutama tampak besar di bekas penambangan batu bara pada bagian
yang dekat ke singkapan lapisan batu bara, namun tidak jelas sampai dimana
batas kedalaman hingga perembesan tidak terjadi lagi. Pada umumnya,
dikatakan bahwa apabila batuan atap banyak yang bersifat permeabel, batas
kedalaman tersebut bertambah.
c. Mengalir masuknya air permukaan bumi.
Ini adalah air permukaan bumi yang mengalir masuk ke dalam pit dari
mulut pit pada waktu hujan lebat atau kasus khusus lainnya, dimana apabila
jumlahnya banyak dan mendadak, dapat menjadi bencana air di dalam pit
bawah tanah, sama seperti semburan air yang tak disangka.
d. Air yang dikirim masuk untuk pekerjaan
Sebagai air yang dikirim ke dalam pit karena keperluan untuk
pekerjaan dahulu di Jepang banyak didominasi oleh air yang digunakan untuk
penambangan batu bara hidrolik, pengisian (filling, back filling) dan
transportasi. Sedangkan saat ini didominasi oleh air penyemprotan untuk
mengendalikan debu termasuk debu batu bara, atau air untuk pendingin di
dalam pit, namun jumlahnya sedikit, sehingga tidak menjadi masalah besar
dalam drainase air. Selain itu, sebagai kasus terburuk, pada waktu kebakaran
di dalam pit bawah tanah, ada kemungkinan mengirim masuk air dari luar pit,
untuk menenggelamkan bagian tertentu atau satu blok tertentu dengan tujuan
memadamkan api. Dalam hal ini, apabila air hanya untuk penyemprotan,
jumlahnya sedikit, namun apabila untuk menenggelamkan, jumlah air menjadi
banyak, sehingga untuk membuka kembali blok tersebut, masalah drainase air
ini tidak dapat dipandang ringan.
e. Semburan air tak disangka
Adakalanya sejumlah besar air yang tidak disangka tiba-tiba muncul di
dalam pit bawah tanah, yang mengakibatkan sebagian atau seluruh pit
tenggelam di bawah air. Sumber dari air seperti ini ada yang berasal dari
bawah tanah dan ada yang berasal dari permukaan bumi.
Penirisan Tambang ( Water Drainage)
Buku Pegangan Peserta Hal. 21 - 35
Pusat Pengembangan Program OMTC Copyright OMTC 2002
Modul Teknologi Tambang Dalam
File : Makalah Drainase Tambang Bawah Tanah.doc
Sumber air yang ada di bawah tanah terutama adalah air yang ada di
dalam akuifer yang memiliki banyak air serta air genangan di dalam
terowongan lama. Air tersebut dapat keluar ke dalam pit bawah tanah tanpa
disangka, pertama karena air genangan langsung terkena penggalian, dan
kedua karena patahan yang berhubungan dengan air genangan tersebut
terkena penggalian. Sumber air yang ada dipermukaan bumi adalah air yang
ada di kolam penampung, danau dan rawa, sungai, serta genangan air bekas
tamang terbuka yang tiba-tiba jatuh ke dalam pit bawah tanah, kemudian
peningkatan air sungai yang tidak normal, atau ada juga kasus pada tamang
batu bara yang mulut pitnya dibuat di dekat pantai, dimana pada waktu laut
bercuaca sangat buruk, air sungai atau air laut mengalir masuk dari mulut pit.
Yang paling mengerikan diantara bencana air di dalam pit bawah tanah
adalah air yang menyusup masuk dari dasar air pada tambang batu bara yang
melakukan penambangan di bawah sungai atau di bawah tanah yang
tenggelam di bawah air, pada waktu melakukan penambangan bagian
dangkal di bawah dasar laut atau di bawah sungai.
2. Sifat Air Pit Bawah Tanah
Di dalam air pit bawah tanah tercampur atau terlarut berbagai macam zat,
jadi air pit bawah tanah pada dasarnya tidak murni. Diantara zat tidak murni
(impurity) tersebut yang paling umum dan merugikan dari segi drainase air adalah
lumpur, asam dan garam. Pada waktu mendorong naik air yang tercampur lumpur
dengan pompa, akan mempercepat keausan bagian yang bergerak di dalam
pompa, sehingga adalah penting air seperti ini dibersihkan dulu dari lumpur
melalui cara filtrasi atau cara sedimentasi. Diantara jenis asam yang paling umum
adalah asam sulfat, dimana air yang mengandung asam ini akan membuat korosi
setiap bagian pompa, dan asam yang parah dapat dengan cepat membuat pompa
menjadi barang rongsokan. Untuk mengurangi kerugian tersebut, digunakan
pompa yang bagian pentingnya terbuat dari logam khusus. Selain itu, apabila sifat
asam pada air sangat kuat, adakalanya dinetralkan dulu memakai air kapur/susu
kapur, dan diendapkan sebagai kalsium sulfat, baru dilakukan pemompaan. Asam
sulfat di dalam air pit bawah tanah, umumnya terbentuk dari proses oksidasi besi
sulfida yang berada di dalam lapisan batu bara atau di dalam lapisan batuan di
sekitarnya. Apabila air yang mengandung oksigen bekerja terhadap besi sulfida,
maka dari reaksi
2FeS
2
+ 2H
2
O + 70
2
= 2FeSO
4
+ 2H
2
SO
4
terbentuk asam sulfat. Tetapi, apabila disitu terdapat garam dapur (NaC), maka
melalui pertukaran
H
2
SO
4
+ 2 NaCl = Na
2
SO
4
+ 2HCl
terbentuk asam klorida, sehingga proses korosi semakin meningkat. Sedangkan
efek netralisasi susu kapur terhadap asam sulfat adalah sebagai berikut.
H
2
SO
4
+ Ca (OH)
2
= CaSO
4
+ 2H
2
O
Kandungan garam di dalam air pit bawah tanah pada tambang batu bara
di Jepang, terutama adalah garam dapur (NaCl). Air yang mengandung garam
dapur bukan hanya terjadi apabila air laut merembes ke dalam pit, tetapi juga
karena ada pancaran air syngenetic dari endapan laut ke dalam pit. Air yang
mengandung garam dapur dapat mempercepat korosi pompa dan pipa, namun
sampai saat ini belum ada metode penyingkiran yang ilmiah untuk
menghadapinya. Oleh karena itu, sebagai metode untuk mengurangi kerugian ini,
Penirisan Tambang ( Water Drainage)
Buku Pegangan Peserta Hal. 22 - 35
Pusat Pengembangan Program OMTC Copyright OMTC 2002
Modul Teknologi Tambang Dalam
File : Makalah Drainase Tambang Bawah Tanah.doc
paling-paling dengan cara membuat bagian penting di dalam pompa dari logam
yang tahan korosi, seperti perunggu misalnya.
Selain itu, massa jenis air yang mengandung garam dapur dapat
meningkat hingga 21%, sehingga peningkatan beban pompa yang mendorongnya
juga tidak dapat dipandang enteng.
Kemudian, adakalanya zat yang terlarut di dalam air memisahkan diri dan
mengendap, dimana kalau hal ini terjadi di dalam pompa atau pipa air sangat
merugikan. Gejala yang paling lazim adalah pengendapan kalsium karbonat,
yakni air yang di dalamnya terlarut kalsium karbonat keluar ke dalam pit, dimana
kalau tekanannya berkurang, sehingga sebagian zat terlarut mengalami
presipitasi dan mengendap. Persamaan kimianya adalah sebagai berikut:
CaH
2
(CO
3
)
2
= CaCO
3
+ H
2
O + CO
2
Kalsium karbonat ini kadang-kadang mengendap di dalam pompa dan
pipa air drainase, yang dapat memperkecil diameter dalamnya, sehingga
menurunkan kemampuan pemompaan.
Pada kebanyakan tambang batu bara diperlukan sejumlah besar air untuk
industri dan untuk para pekerja. Air untuk industri antara lain adalah air untuk
preparasi batu bara, air untuk penyemprotan, air untuk pendinginan mesin dan air
untuk kegiatan pendukung lainnya. Sedangkan air untuk pekerja antara lain
adalah untuk kamar mandi dan kegiatan rumah tangga lainnya. Penyediaan air ini
adalah masaah yang besar buat perusahaan, dimana adakalanya harus
mempertimbangkan kemungkinan pemanfaatan air pit bawah tanah. Diantara
berbagai macam peruntukan, air untuk preparasi batu bara tidak terlalu
memasalahkan kualitas air, sehingga air yang dipompa dari dalam pit seringkali
langsung digunakan untuk itu.
G. Penahanan Air Pit Bawah Tanah
Sebagai sumber air pit bawah tanah, terdapat air bawah tanah dan air
permukaan bumi. Kedua air itulah yang keluar di dalam pit bawah tanah. Yang
menjadi jalur air adalah rongga di dalam lapisan permeabel, patahan, serta berbagai
macam retakan yang terjadi pada atap atau lantai lapisan batu bara sebagai akibat
penambangan batu bara. Oleh karena itu, tindakan untuk menahan air pit bawah
tanah adalah sedapat mungkin tidak melakukan penggalian yang mengenai jalur air,
tidak membiarkan perkembangan pembentukan jalur air, serta menutup (menyumbat)
jalur air yang sudah terbentuk. Untuk air yang terdapat dipermukaan bumi, yang
dikhawatirkan akan merembes ke dalam pit bawah tanah, sedapat mungkin
dipindahkan ketempat lain. Jadi tindakan untuk menahan air pit bawah tanah terbagi
menjadi tindakan yang dilakukan di permukaan bumi dan tindakan yang dilakukan di
bawah tanah.
1. Penahanan Air Di Permukaan Bumi
Sebagai tindakan penahanan terhadap air permukaan bumi yang
dikhawatirkan menyusup masuk ke dalam pit bawah tanah, terdapat tindakan
memindahkan air tersebut ke tempat lain dan tindakan menutup jalur air yang
menyusup ke dalam pit. Yang termasuk ke dalam kelompok pertama antara lain
adalah pengeringan kolam penampung di permukaan, pengalihan aliran sungai
dan pengeringan laut disekitar pantai, yang semuanya dilakukan sebelum
penambangan batu bara. Diantaranya, yaitu pengalihan aliran sungai, dilakukan
juga setelah penambangan batu bara. Dengan melakukan pengalihan aliran
tersebut, dapat memindahkan sungai di blok yang keadaannya tidak
menguntungkan ke blok lain, atau dengan meluruskan bagian lengkung dari
aliran, maka selain dapat memperkecil blok yang terkena kerugian, juga berakibat
Penirisan Tambang ( Water Drainage)
Buku Pegangan Peserta Hal. 23 - 35
Pusat Pengembangan Program OMTC Copyright OMTC 2002
Modul Teknologi Tambang Dalam
File : Makalah Drainase Tambang Bawah Tanah.doc
mempercepat aliran sungai, sehingga dapat menahan (mengurangi) perembesan
air dari dasar sungai ke dalam pit bawah tanah. Pekerjaan penahanan semacam
ini ada yang dilakukan dengan pekerjaan besar yang mencakup blok yang luas di
dalam satu lapangan batu bara. Di Jepang juga pernah dilakukan pengeringan
bagian yang dangkal dari laut di dekat pantai dan drainase air di sebelah dalam
tanggul, agar dapat menambang batu bara secara aman. Dalam hal ini, lahan
yang dikeringkan tersebut dimanfaatkan sebagai lahan pertanian atau lahan
industri.
Berikutnya adalah mengenai penutupan jalur air. Apabila air hujan, air
salju cair atau air sungai merembes ke dalam pit bawah tanah melalui retakan di
permukaan bumi atau retakan di dasar air, sebagai akibat penambangan batu
bara, maka retakan tersebut disumbat dengan tanah lempung atau dasar air dicor
dengan beton. Tindakan tersebut kelihatannya hanya tindakan darurat, namun
tindakan ini telah sering dilakukan di Jepang, apabila akan menambang bagian
yang dekat ke singkapan batu bara.
Dan masalah yang penting adalah pemilihan letak mulut pit pada waktu
memulai pembangunan. Dalam hal apapun, letak mulut pit harus dipilih tempat
yang tidak ada resiko air mengalir masuk ke dalam pit. Dala hal ini, untuk daerah
pedalaman harus mempertimbangkan peningkatan air yang tidak normal, dan
untuk daerah pantai harus mempertimbangkan cuaca buruk yang tidak normal.
Apabila mulut pit sulit diletakkan di tempat tinggi yang aman karena tanahnya
datar, maka dalam hal ini yang penting mulut pit dibangun sampai tinggi yang
memadai, atau dibangun tanggul penahan air yang kokoh sekeliling mulut pit,
untuk bersiap menghadapi keadaan darurat.
2. Penahan Air Di Bawah Tanah
Langkah pertama dari tindakan ini adalah apabila akan melewati akuifer
pada saat penggalian vertical shaft, dilakukan dulu injeksi semen di bagian
tersebut untuk menahan pancaran air pada waktu penggalian maju, atau
menembus paksa akuifer pada waktu penggalian maju dan membangun dinding
penahan air dibagian tersebut. Walaupun pekerjaan penggalian sudah selesai
dan telah tiba waktu untuk melakukan penambangan batu bara, penambangan
sekitar singkapan batu bara atau blok yang dekat ke permukaan bumi, yang
mudah dirembesi oleh air permukaan bumi, sebaiknya dilakukan belakangan.
Kemudian, pada penambangan di bawah sungai harus menyisakan safety pillar,
dan kalau bisa penambangan blok tersebut juga sebaiknya dilakukan pada akhir
penambangan pit tersebut.
Setelah dimulai penambangan di bawah sungai, kadangkala diperlukan
pengisian kembali (backfilling) yang sempurna setelah dilakukan penambangan
batu bara, terutama untuk menahan air. Pada gambar di bawah ditunjukkan
keuntungan dari pengisian kembali yang sempurna.
Penirisan Tambang ( Water Drainage)
Buku Pegangan Peserta Hal. 24 - 35
Pusat Pengembangan Program OMTC Copyright OMTC 2002
Modul Teknologi Tambang Dalam
File : Makalah Drainase Tambang Bawah Tanah.doc
Gambar 10.
Efek Penahanan Air dari Pengisian Gob
Pada atap lapisan batu bara berturut-turut bertumpuk lapisan permeabel b,
lapisan inpermeabel a dan akuifer c. Apabila bekas penambangan batu bara tidak
diisi kembali atau pengisiannya tidak sempurna hingga terjadi penurunan atap
yang besar, maka lapisan inpermeabel a disekitar situ terputus sama sekali, dan
akuifer c dengan lapisan permeabel b langsung berhubungan, sehingga air di
dalam akuifer jatuh menuju ke dalam pit, seperti terlihat pada gambar 1 di atas.
Sedangkan, apabila bekas penambangan batu bara diisi kembali secara
sempurna pada gambar 2, penurunan atap sangat sedikit, lapisan inpermeabel a
tetap terjaga kontinuitasnya, dan akuifer c dan lapisan permeabel b tetap terpisah
satu sama lain, sehingga air di dalam akuifer tidak jatuh ke dalam pit.
a. Safety Pilar Untuk Penahanan Air
Safety pillar untuk penahanan air adalah pilar batu bara yang disisakan
sebagai batar dua blok penambangan yang saling berdekatan, dengan
maksud memutuskan peredaran air. Misalkan akan dibangun bagian dalam
dari blok penambangan lama sebagai blok penambangan baru, seperti
gambar di atas, maka sebagai batas kedua blok tersebut disisakan safety
pillar, agar di blok baru dapat dilakukan penambangan tanoa dibuat pusing
oleh air seperti pada blok lama. Pada kasus ini, dapat diperkirakan, bahwa air
yang memancar di bekas penambangan blok lama ditahan oleh safety pillar,
sehingga tidak mengalir masuk ke dalam blok baru. Akan tetapi, di bekas
penambangan batu bara di blok lama, ruang tersebut tertutup akubat atap
yang runtuh atau turun, dan bersama itu terbentuk rongga baru, sehingga
permukaan air genangan blok ini perlahan-lahan akan naik. Selain itu, bidang
patah atap bc yang terjadi di sekitar safety pillar blok tersebut, makin lama
tumbuh ke atas. Kemudian hal yang sama terjadi juga di blok baru. Akibat
penambangan batu bara di blok baru, terjadi pemisahan antar lapisan serta
perusakan batuan pada atap, dan bersama itu terbentuk bidang patah ac di
sekitar safety pillar. Bidang patah ini dan bidang patah bc dari blok lama saling
berpotongan di titik c membentuk satu garis. Dengan demikian, kenaikan
permukaan air genangan pada blok lama akan terhenti pada bidang datar cd,
dimana air yang lebih tinggi darinya akan melewati titik c dan meluap menuju
blok baru. Walaupun zona rusak pada atap kedua blok tersebut tidak langsung
saling berhubungan seperti ini, apabila permukaan air genangan di blok lama
naik hingga mencapai lapisan permeabel di atasnya, maka air genangan
tersebut dapat mengalir menuju ke blok baru melalui lapisan permeabel
tersebut.
Kalau kita lihat hasil dari safety pillar penahan air yang dilakukan
diberbagai tempat, sangat jarang upaya tersebut mencapai efek sempurna
seperti yang direncanakan. Artinya, pada tahap awal penambangan di blok
baru, air pancar memang sedikit, namun biasanya suatu saat air akan
bertambah hingga sama dengan jumlah di blok lama atau bahkan
melebihinya. Oleh karena itu, safety pillar penahan air semacam ini mungkin
cukup efektif kalau hanya untuk mengeluarkan air pancar di blok lama yang
aliran di lantainya tertahan, namun safety pillar ini tidak mungkin untuk
menahan air pancar di blok baru.
Penirisan Tambang ( Water Drainage)
Buku Pegangan Peserta Hal. 25 - 35
Pusat Pengembangan Program OMTC Copyright OMTC 2002
Modul Teknologi Tambang Dalam
File : Makalah Drainase Tambang Bawah Tanah.doc
Gambar 11.
Efek Safety Pilar Penahan Air
b. Advenced Boring
Advenced boring sangat penting pada saat bertemu dengan semburan
dan pancaran air, dan pada saat mendekati daerah dengan kondisi geologi
yang tidak jelas atau pit lama, dan paling efektif untuk eksplorasi pit lama,
patahan, akuifer dan lain-lain.
Dengan melaksanakannya, akan didapat efek seperti berikut:
a) Dapat menemukan patahan
b) Dapat mengetahui perubahan lapisan batuan
c) Dapat menemukan pit lama dan jalur air
d) Dapat melakukan drainase air dan injeksi semen
Peraturan tambang batu bara di Jepang menetapkan, bahwa untuk
blok yang tidak jelas kondisi geologinya serta pit lama, harus dilakukan
advenced boring lebih dari 40 m, namun untuk maksud berjaga diri,
diharapkan melakukan advanced boring dengan inisiatif diri. Sebagai
masalah yang nyata, apabila mendekati akuifer atau pit lama, diperlukan
paling tidak 2 buah pemboran menyusuri garis perpanjangan terowongan.
Apalagi, disekitar patahan, selain itu harus ditambah juga pemboran ke arah
atas dan ke arah bawah terowongan.
Tidak jarang terjadi kasus yang mengundang kecelakaan karena
hanya mengandalkan data masa lalu seperti gambar pengukuran (survei) dan
terlalu memanfaatkannya. mEnangani masalah berdasarkan data terbaru
adalah suatu prinsip dasar, dan untuk tujuan ini advanced boring adalah
metode yang paling tepat. Namun bukan hanya berhenti pada pengecekan
posisi seperti ditulis di atas, tetapi jangan melupakan juga mengamati dan
memeriksa baik-baik perubahan tingkat kekeruhan, rasa, temperatur, warna
dan lain-lain dari air lumpur dan air bersih yang keluar dari lubang bor, untuk
dijadikan bahan pertimbangan.
c. Injeksi Semen
Selama penggalian terowongan, pada waktu melewati patahan yang
ada bahaya semburan air atau akuifer, air dikendalikan dengan injeksi semen.
Pada pekerjaan injeksi, dilakukan pemboran lubang menyusuri retakan yang
dituju, kemudian pipa injeksi dimasukkan ke dalamnya dan cement milk
ditekan masuk dengan pompa tekanan tinggi dengan tekanan sekitar 100
kg/cm
2
. Namun efektifitas injeksi sangat sulit diperkirakan, karena kondisi
geologi yang sebenarnya berbeda-beda.
Terutama di daerah remuk pada lapisan sandstone, setelah semen
yang diinjeksi mengeras masih dapat terjadi kebocoran air karena hujan, dan
Penirisan Tambang ( Water Drainage)
Buku Pegangan Peserta Hal. 26 - 35
Pusat Pengembangan Program OMTC Copyright OMTC 2002
Modul Teknologi Tambang Dalam
File : Makalah Drainase Tambang Bawah Tanah.doc
banyak kasus dimana diperlukan injeksi yang mencapai puluhan kali hanya
untuk melakukan penggalian maju yang tidak seberapa. Namun apabila
kondisi penahanan air seperti posisi lubang injeksi, kekentalan (konsentrasi)
cement milk dan waktu pengerasannya kebetulan pas dengan kondisi
setempat, maka metode ini akan sangat efektif. Apabila cement milk mengalir
keluar karena rongganya besar, maka dengan menginjeksi serbuk kayu
gergaji bersamanya, dapat diharapkan efek pencegahan aliran keluar cement
milk akibat rongga yang tersumbat.
d. Dam Penahan Air
Prinsip dasar dari tindakan pada waktu terjadi semburan air di dalam
pit bawah tanah adalah melakukan tindakan penahanan air secara cepat yang
sedapat mungkin dekat ke lokasi penyemburan air, untuk menghentikan
pembesaran lubang air sembur sekecil mungkin. Untuk itu, sering kali dibuat
dam di terowongan.
Bentuk dan jenis dam ada bermacam-macam, dimana sebagai
metode yang pengerjaannya mudah dan efektif terhadap lapisan lunak dan
lemah ada yang dinamakan Dam Tumpukan Kayu. Pada dam ini, kayu
dengan diameter bagian kecil 15 cm dan panjang 1,8 m dijejerkan sejajar
dengan terowongan, dan disela batuan dan kayu diisi pakis atau jerami,
kemudian ditancapkan lagging untuk menguatkan tumpukan kayu itu sendiri.
Kekuatan satu det tumpukan kayu terhadap tekanan konon sekitar 24 kg/cm
2
.
Kemudian, sebagai dam permanen ada dam beton, dimana ketebalan yang
diperlukannya berubah menurut lebar terowongan dan tekanan air. Pada
gambar dibawah ini ditunjukkan diagram hitungan ketebalan dam.
Gambar 12.
Diagram Perhitungan Dam Beton Tanpa Tulang
Penirisan Tambang ( Water Drainage)
Buku Pegangan Peserta Hal. 27 - 35
Pusat Pengembangan Program OMTC Copyright OMTC 2002
Modul Teknologi Tambang Dalam
File : Makalah Drainase Tambang Bawah Tanah.doc
Gambar 13.
Diagram Perancangan Dam Beton Tulang Besi
Pokok perhatian pada waktu melakukan konstruksi dam.
1) Pada waktu membuat dam, sedapat mungkin dipilih tempat yang
landasannya baik.
2) Melakukan penggalian pondasi dengan sempurna.
3) Bagian belakang dam dilakukan cogging atau packing yang cocok untuk
menegah batuan runtuh.
4) Pipa drainase air dimasukkan dibagian bawah dam, dan pipa kecil untuk
pengukuran tekanan air atau untuk mengeluarkan udara dimasukkan
dibagian atas dam dan dipasangi gate valve.
5) Pada pengerjaan sekitar atap, adonan mortar yang kental dimasukkan
sempurna.
6) Jangan memberi tekanan air sampai beton mengeras sempurna.
e. Drainase Air Pit Lama
Apabila akan menambang dengan mendekat ke pit lama, maka untuk
mencegah semburan air yang tak disangka, perlu mengetahui posisi dan
kondisi pit lama setepat mungkin. Di Jepang, peraturan keselamatan tambang
batu bara menetapkan hal-hal berikut.
1) Pada waktu mendekati pit lama, harus dilakukan advenced boring dari
posisi lebih dari 50 m dari pit lama untuk meneliti kondisi geologi, dan
bersamaan dengan itu harus memeriksa keadaan air genangan, serta ada
tidaknya penimbunan gas mudah terbakar dan lain-lain.
2) Pada waktu melakukan advenced boring, terowongan penggalian maju
tidak boleh mendekat kurang dari 5 m dari dasar lubang bor.
3) Pada waktu terdapat kemungkinan bahaya semburan air besar, selain
melakukan tindakan advenced boring, harus membuat dam penahan air
dan fasilitas penahanan air yang lain.
f. Drainase Air Sebelum Penambangan
Ini adalah metode drainase air dengan melakukan pemboran dari
gateway atau airway sampai ke akuifer, pada waktu penggalian maju atau
mendahului permuka kerja penambangan batu bara sebelum penambangan,
untuk mencegah semburan air besar selama penambangan batu bara,
terutama pada penambangan batu bara sistem lorong panjang dengan full
caving di gob. Pada lubang bor dimasukkan slang karet atau pipa, dan apabila
pancaran airnya banyak, kadang-kadang dilakukan cara drainase air sambil
mengatur jumlah air dengan memasang sluice valve. Akan tetapi, pada
metode drainase air ini ada kemungkinan terjadi pancaran air yang banyak
dan keluar secara putus-putus. Kalau terjadi seperti ini, penerapan metode ini
perlu hati-hati, karena ada masalah seperti penggelaran pipa untuk
pemompaan air dan biaya listrik untuk pemompaan air.
H. Metode Drainase Air dan Fasilitas Drainase Air
1. Drainase Air dengan Saluran Air Drainase
Pada tambang bawah tanah yang membuka pit dengan membuat adit dan
beroperasi pada tempat yang lebih tinggi dari level, air pancar dapat dikumpulkan
di adit ini dan dialirkan ke luar pit. Pada tambang logam, banyak tambang yang
Penirisan Tambang ( Water Drainage)
Buku Pegangan Peserta Hal. 28 - 35
Pusat Pengembangan Program OMTC Copyright OMTC 2002
Modul Teknologi Tambang Dalam
File : Makalah Drainase Tambang Bawah Tanah.doc
beroperasi didaerah yang lebih tinggi dari adit tersebut, sehingga ditambang-
tambang tersebut umumnya digunakan metode drainase air ini. Pada metode ini,
sama sekali tidak diperlukan fasilitas mesin dan juga tenaga penggerak, serta
pekerjaannya juga mudah. Dan walaupun pit berkembang di bawah level tersebut,
sebatas masih diizinkan oleh topografinya, drainase air dilakukan juga dengan
menggali terowongan khusus untuk drainase. Terowongan khusus ini umumnya
menjadi panjang dan besar, serta diperlukan biaya penggalian yang besar, namun
karena biaya drainase air berkurang, pada tambang logam dimanfaatkan secara
luas. Terowongan semacam ini umumnya di Jepang disebut terowongan kanal.
Apabila jumlah air pancar sedikit, tidak dibuat terowongan kanal yang
khusus, tetapi dibuat saluran/selokan samping terowongan transportasi utama,
dan drainase air dilakukan oleh aliran air secara alami dengan membuat
kemiringan pada jalur air. Dari sudut pandang transportasi dan pengaliran air,
biasanya kemiringan tersebut dibuat miring 1/200-1/300, tanpa membedakan
apakah itu tambang logam atau tambang batu bara.
Kemudian, apabila kecepatan aliran terlalu lambat, debu, tanah dan pasir
akan mengendap, yang menyebabkan penampang jalur air mengecil, sehingga
harus dipertahankan kecepatan aliran minimum lebih dari 7,2 m/menit untuk
membawa pergi endapan tersebut.
Perhitungan kapasitas saluran drainase air dinyatakan dengan luas aliran
(m
2
) x kecepatan aliran (m/detik), dimana pada perhitungan kecepatan aliran
sering digunakan rumus Kutta.
V = C S R.
Dimana;
V = Kecepatan aliran rata-rata (m/detik)
C = Koefisien kecepatan aliran
R = Kedalaman jalur
S = kemiringan permukaan air (=tan u, u. Sudut kemiringan)
Tabel 6
Nilai Koefisien Kecepatan Aliran, C (Kutta)
Kedalaman jalur Saluran beton Saluran batuan apa
adanya.
0,05
0,10
0,15
0,20
0,25
36
42
44
47
50
30
34
36
37
39
Yang dimaksud kedalaman jalur adalah pada suatu penampang yang
tegak lurus aliran air, luas penampang aliran dibagi dengan panjang keseluruhan
dinding jalur air yang bersentuhan dengan air, misalnya pada gambar di bawah
adalah
b a
axb
R
2 +
=
a
b
Penirisan Tambang ( Water Drainage)
Buku Pegangan Peserta Hal. 29 - 35
Pusat Pengembangan Program OMTC Copyright OMTC 2002
Modul Teknologi Tambang Dalam
File : Makalah Drainase Tambang Bawah Tanah.doc
Koefisien kecepatan aliran ditentukan oleh kedalaman jalur dan jenis
saluran drainase, yang nilainya ditunjukkan pada tabel di atas.
2. Drainase Air dengan Pompa
Kenyataannya, drainase air yang dilakukan hanya dengan metode aliran
turun alami seperti dijelaskan pada pasal sebelumnya sangat jarang, dimana
hampir pada semua tambang, air yang timbul seiring dengan penambangan di
bawah level mulut pit, dibuang dengan mengangkat (memompa) air dengan
tenaga penggerak mesin. Pompa adalah alat untuk maksud tersebut.
a. Pemilihan pompa
Di Jepang telah digunakan berbagai macam pompa untuk drainase air
pit bawah tanah, yang mana konstruksi, penggerak yang digunakan dan
kapasitasnya tergantung dari tempat dan tujuan penggunaan, tetapi pokoknya
yang penting adalah menggunakan pompa yang paling sesuai dengan
kapasitas fasilitas dan kondisi di dalam pit. Karakter dan kemampuan pompa
berdasarkan jenisnya yang digunakan di Jepang adalah seperti tabel 2
berikut.
Dewasa ini sebagai pompa drainase air di tambang, yang umum
digunakan adalah pompa sentrifugal, terutama multi stage turbine pump dan
multi stage volute pump yang mempunyai head tinggi. Dan sebagai pompa
lokal digunakan pompa bolak-balik kecil (small size reciprocating pump), serta
akhir-akhir ini adalah pompa dalam air tahan tekanan dan tahan ledakan
untuk tambang batu bara tipe X. Dalam pemilihan pompa, harus dilakukan
pertimbangan dengan membandingkan efisiensi, sifat dan kemampuan,
bentuk, pemeliharaan, sulit tidaknya penanganan, dan kondisi penggunaan.
Tabel 7
Karakter dan Kemampuan Pompa
Jenis Kemampuan Penggerak Penggunaan Penanganan
Worthington
Pump
Kapasitas kecil,
head sedang
Udara
kompresi
Penggalian
Maju
Sulit
Turbine
Pump
Kapasitas
besar,
Head besar
Listrik Pompa
Tetap
Mudah
Volute
Pump
Kapasitas
besar,
Head kecil
Listrik Sda Sda
Air pump Kapasitas kecil,
Head kecil
Udara
kompresi
Penggalian
Maju
Sulit
Jet pump sda Air
bertekanan
sda Mudah
Gambar berikut menunjukkan mekanisme umum pengangkatan air
dengan pompa. Pompa mengisap masuk air ke dalam pompa sendiri dari
penampung air B melalui pipa air S, kemudian melalui pipa air D
mengangkatnya sampai ketinggian yang diperlukan. Pipa air untuk mengisap
itu disebut pipa isap (suction pipe) dan pipa air untuk mengangkat itu disebut
pipa kirim (delivery pipe). Kemudian, jarak tegak lurus dari permukaan air di
penampung air sampai pusat pompa, Hs, disebut head air isap dan jarak
tegak lurus dari pusat pompa sampai mulut keluar pipa kirim, Hd, disebut head
air kirim. Jumlah head air isap dan head air kirim, Hs + Hd, disebut head air
sebenarnya. Apabila kepadanya ditambahkan tahanan friksi di dalam pipa
isap, h2, dan tahanan friksi di dalam pipa kirim, h
1
, akan menjadi head air total
(angkatan total), Ht.
Penirisan Tambang ( Water Drainage)
Buku Pegangan Peserta Hal. 30 - 35
Pusat Pengembangan Program OMTC Copyright OMTC 2002
Modul Teknologi Tambang Dalam
File : Makalah Drainase Tambang Bawah Tanah.doc
Ht = Hs + h
2
+ Hd + h
1
Dimana;
Ht = head air total (angkatan total)
Hs = head air isap
h
2
= tahanan friksi di dalam pipa isap
Hd = Head air kirim
h
1
= tahanan friksi di dalam pipa
kirim (perhatikan tabel dibawah ini.
Gambar 14.
Mekanisme Pemompaan Air
Tabel 8
Kerugian Head (Hr) per 100 m Pipa Besi Cor Baru
(untuk c = 0,0005 m, temperatur Air 15
o
C)
Penirisan Tambang ( Water Drainage)
Buku Pegangan Peserta Hal. 31 - 35
Pusat Pengembangan Program OMTC Copyright OMTC 2002
Modul Teknologi Tambang Dalam
File : Makalah Drainase Tambang Bawah Tanah.doc
b. Daya pompa
Np = QH/75
Dimana;
Np = daya pompa (HP)
= berat air per satuan volume (1000 kg/m
3
)
Q = jumlah angkatan air sebenarnya (m
3
/detik)
H = head total (m)
c. Daya poros pompa
N = Np/q
Dimana;
q = head tinggi 0,65-0,75
head sedang 0,70-0,85
head rendah 0,75-0,85
Daya motor listrik adalah 10-20% lebih besar dari pada daya poros.
(KW motor listrik didapat dari daya motor listrik dikalikan 0,736)
Tabel 9
Spesifikasi Pompa Turbin Tipe MTE
Penirisan Tambang ( Water Drainage)
Buku Pegangan Peserta Hal. 32 - 35
Pusat Pengembangan Program OMTC Copyright OMTC 2002
Modul Teknologi Tambang Dalam
File : Makalah Drainase Tambang Bawah Tanah.doc
d. Kapasitas drainase air
Berbeda dengan pabrik produksi lain, pada tambang sulit diperkirakan
jumlah air drainase pada tahap awal pembangunan. Selain itu, ketinggian
pengangkatan (head) yakni berapa banyak air harus diangkat dari kedalaman
berapa, pada awalnya juga tidak jelas. Apalagi kalau sumber air yang harus
didrainase banyak berasal dari perembesan air permukaan, maka jumlah air
drainase antara musim hujan dan musim kering sangat berbeda.
Apabila menghadapi kesulitas seperti ini, dimana harus ditetapkan
kapasitas pompa drainase dan jumlah pompa, serta lokasi pemasangannya,
maka untuk memutuskannya tidak ada jalan lain selain mengacu kepada
survei geologi serta survei kondisi drainase air tambang batu bara dan
tambang lain yang seruoa yang saat ini sedang beroperasi.
Secara ideal, apabila misalnya kapasitas fasilitas dibuakt 4 kali jumlah
air yang dikeluarkan pada waktu normal, dimana pompa yang dipasang
mempunyai kapasitas yang sama, maka dalam hal ini 1 unit digunakan untuk
operasi normal, dan sisa yang 3 unit sebagai cadangan yang dapat
digerakkan setiap saat, atau diharapkan paling tidak kemampuannya
mencapai 1,3-1,5 kali jumlah semburan air maksimum yang diperkirakan.
Selain itu, jalur distribusi listrik sampai ke lokasi perubahan tegangan di luar
pit, serta dari lokasi perubahan tegangan sampai ke motor listrik penggerak
pompa di dalam pit, diharapkan masing-masing dibuat lebih dari 2 jalur, untuk
bersiap-siap menghadapi kemungkinan mati listrik pada salah satu jalur yang
tidak disangka. Kapasitas fasilitas pipa untuk sistem drainase juga sebaiknya
dipasang dengan pola pikir yang sama. Penambahan pipa dan sistem
distribusi listrik memerlukan waktu dan tenaga kerja yang jauh lebih banyak
dari pada pemasangan pompa, dimana dikhawatirkan tidak keburu pada
waktu keadaan darurat, sehingga sebaiknya diberi kelonggaran yang
memadai. (Di Jepang, pancaran air rata-rata per ton produksi batu bara
adalah 8-10 m
3
).
e. Bag pada pit bawah tanah
Tujuan dari bag (kantung) adalah tempat memasukkan pipa isap
pompa, dan tempat mengendapkan tanah lumpur yang bercampur di dalam
air pit, serta melakukan penyelarasan yang pantas antara jumlah air yang
dikumpulkan ke dalam bag dan jumlah air yang dikeluarkan oleh pompa. Hal-
hal yang harus dipertimbangkan pada waktu menentukan letak dan kapasitas
bag adalah sebagai berikut:
1) Untuk memperpendek dan mengurangi belokan pipa isap, sedapat
mungkin mendekati kedudukan pompa.
2) Tidak menghalangi kemajuan penambangan (memindahkan dudukan bag
berkali-kali berarti tidak ekonomis)
3) Dibuat ditempat yang memudahkan pengumpulan air di dalam pit, dan
berbeda di dalam batuan kokoh untuk mencegah air bocor.
4) Hubungannya dengan jumlah air drainase pompa reguler, serta ada
tidaknya pompa cadangan dan jumlahnya.
Penirisan Tambang ( Water Drainage)
Buku Pegangan Peserta Hal. 33 - 35
Pusat Pengembangan Program OMTC Copyright OMTC 2002
Modul Teknologi Tambang Dalam
File : Makalah Drainase Tambang Bawah Tanah.doc
5) Perubahan jumlah air pancar di dalam pit (menurut musim hujan dan
musim kering).
6) Kelonggaran/toleransi terhadap saat pemompaan air terhenti, misalnya
karena mati listrik dan kerusakan fasilitas.
7) Untuk mengantisipasi berkurangnya kapasitas efektif bag yang disebabkan
oleh pengendapan tanah lumpur yang tercampur di dalam air pit,
ditempatkan pompa tanah lumpur untuk menjaga kapasitas efektif bag,
dengan senantiasa melakukan penyingkiran tanah lumpur. (Salah satu
tindakan yang dapat diambil adalah membuat bag lain untuk pengendapan
tanah lumpur agar memudahkan penyingkiran tanah lumpur).
Demikianlah pokok perhatian untuk bag, dimana yang penting adalah
menentukan bag dengan kapasitas yang diperlukan, tetapi juga terkecil.
Walaupun pompa biasa dam cadangan keduanya tersedia, namun bila
keadaannya memungkinkan, sebaiknya bag mempunyai volume yang cukup
untuk menampung jumlah air pancar selama 12-24 jam.
f. Pemipaan
Berbeda dengan bagian mesin, pipa itu sederhana, sehingga sering
dipandang ringan. Tetapi karena ada juga masalah air bocor dan korosi, maka
penempatannya terutama perlu dilakukan dengan hati-hati.
Hal-hal yang harus dipertimbangkan pada pemipaan adalah:
1) Memasang pipa isap dengan tidak membebani seluruh bobot pipa kepada
bagian sambungannya dengan pompa.
2) Bagian yang datar pada pipa isap dibuat miring naik sedikit mengarah ke
pompa (agar tidak terjadi air pocket).
3) Penyambungannya dikerjakan dengan baik agar dipastikan tidak
mengisap masuk udara melalui bagian sambungan pipa isap.
4) Bagian datar pipa kirim (delivery pipe) juga sebaiknya ditempatkan dengan
miring sedikit ke atas mengarah ke arah pengiriman.
5) Dalam kasus apapun, pemipaan direncanakan dengan sedapat mungkin
mengurangi katup, pipa cabang dan bagian belok.
Pipa air yang digunakan sebagai pipa distribusi, umumnya
menggunakan pipa baja. Dibandingkan dengan pipa dari besi cor, pipa baja
lebih mudah korosi oleh asam dan garam, namun karena mempunyai
keuntungan seperti kekuatan mekanik yang tinggi, dan mudah ditangani
karena ringan, dan lagi sambungannya cukup sedikit saja karena dapat
diperoleh pipa yang panjang, maka pipa baja digunakan secara luas. Apabila
tekanan tidak terlalu tinggi, yaitu dibawah 10 atmosfir, digunakan pipa gas,
dan terhadap tekanan yang lebih dari itu, digunakan pipa baja tanpa
sambungan (seamless pipe).
Apabila dilakukan pemompaan volume tertentu air dengan
menggunakan pipa berdiameter kecil, maka tahanan friksi di dalam pipa
menjadi besar, sehingga kerugian energinya menjadi besar dan biaya
penggeraknya bertambah.
Berlawanan dengannya, apabila digunakan pipa dengan diameter
besar, maka biaya penggeraknya berkurang, tetapi fasilitas pemipaannya
bertambah besar. Olah kerena itu untuk memperoleh ukutan pipa air yang
paling sesuai, harus dipilih yang paling ekonomis, dengan mempertimbangkan
biaya penggerak, biaya fasilitas pemipaan, lamanya waktu operasi, dan lain-
lain. Akan tetapi, kenyataannya sulit untuk menentukan masing-masing
pemipaan berdasarkan perhitungan. Untuk itu, sebagai patokan, biasanya
dilakukan perhitungan diameter pipa dengan merencanakan agar kecepatan
Penirisan Tambang ( Water Drainage)
Buku Pegangan Peserta Hal. 34 - 35
Pusat Pengembangan Program OMTC Copyright OMTC 2002
Modul Teknologi Tambang Dalam
File : Makalah Drainase Tambang Bawah Tanah.doc
aliran rata-rata di dalam pipa menjadi 1-3 m/detik. Antara diameter pipa dan
jumlah air terdapat hubungan sebagai berikut:
d =
v
Q
.
4
t
dimana;
d = diameter dalam pipa air (m)
Q = jumlah aliran air per menit (m
3
/menit)
v = kecepatan aliran rata-rata per menit (m/menit)
Patokan hubungan antara diameter dalam pipa drainase air dan
kapasitas alirannya adalah seperti tabel di bawah.
Tabel 10
Hubngan Diemeter Pipa Dengan Kapasitas Aliran
Diameter Dalam Pipa Kapasitas
Inch Mm M
3
/menit
2
4
6
8
10
12
50
100
150
200
250
300
0,17
1,13
2,85
4,25
7,10
11,4
Pada tambang yang jumlah air yang dipompanya banyak atau pada
tambang dengan kualitas air yang sangat korosif terhadap pipa air, untuk
mencegah korosi dilakukan berbagai tindakan pencegahan korosi, seperti
menggunakan pipa air yang permukaan dalamnya atau kedua permukaannya
diberi lining karet (rubber lining).
I. Pengukuran Jumlah Aliran
Pada waktu berpikir mengenai masalah yang berhubungan dengan air, yang
paling penting adalah melakukan pengukuran jumlah air secara tepat. Ada berbagai
macam metode pengukuran, diantaranya metode memakai tanki pengukuran atau
mengukur jumlah aliran dengan dam (weir) merupakan yang paling mudah untuk
penggunaan di tambang dan relatif tepat.
1. Metode Memakai Tanki Pengukuran
Pada metode ini biasanya digunakan drum minyak, dimana air
ditampungnya dan diukur waktu hingga air penuh, atau beberapa drum yang
dipenuhi dalam selang waktu tertentu. Metode ini dapat mengukur dengan tepat
apabila jumlah aliran airnya sedikit. Tetapi, pada metode ini pengukuran hanya
dapat dilakukan secara terputus-putus, dimana kalau diperlukan pengawasan
kontinu terhadap jumlah aliran air, maka lebih mudah menggunakan pengukur
jumlah aliran dengan Dam.
2. Pengukur Jumlah Aliran Dengan Dam
Pengukur jumlah aliran dengandam (weir) ini ada yang seperti gambar. Air
yang hendak diukur, melewati pipa r, dan mengalir masuk ke dalam saluran A
yang dipasang datar sempurna. Setelah permukaan air stabil dengan melewati
jaring logam yang dipasang di dalam aliran air, air jatuh dari dam B. Dalam kasus
ini, ketinggian dari dasar dam B sampai permukaan atas air menjadi patokan
Penirisan Tambang ( Water Drainage)
Buku Pegangan Peserta Hal. 35 - 35
Pusat Pengembangan Program OMTC Copyright OMTC 2002
Modul Teknologi Tambang Dalam
File : Makalah Drainase Tambang Bawah Tanah.doc
jumlah aliran, dimana jumlah aliran dapat dihitung dari masing-masing rumus
yang berbeda menurut bentuk potongan penahan (segi tiga atau segi empat),
seperti berikut ini.
Gambar 15.
Pengukuran Jumlah Aliran Dengan Dam (Weir)
Q = K.h
5/2
(dam segi 3)
Q = K.bh
3/2
(dam segi 4)
Q = jumlah aliran (m
3
/detik)
h = kedalaman air pada mulut dam (m)
b = lebar dam (m)
Dimana K adalah koefisien jumlah aliran yang berubah menurut lebar jalur
air, lebar dam dan kedalaman air, dimana nilainya menjadi, K = 1,44 untuk dam
segi 3, dan K = 1,8 untuk dam segi 4.

Anda mungkin juga menyukai