Anda di halaman 1dari 46

1.

ANALISIS KEMANTAPAN LERENG DENGAN METODA JANBU


DAN PROYEKSI STEREOGRAFIS DI TAMBANG TERBUKA
BATUBARA
1.1. UMUM
Melihat kondisi di lapangan, keadaan perlapisan batuan dan struktur geologi
di tambang terbuka batubara ini, maka bentuk longsoran yang mungkin
terjadi adalah :
Longsoran dimana bentuk bidang luncurnya berupa busur lingkran
(circular failure) dan tidak berupa busur lingkaran (Gambar 1).
Longsoran baji (wedge failure) jika ada bidang-bidang diskontinu yang
saling berpotongan satu sama lain (Gambar ).
!nalisis kemantapan lereng unuk longsoran yang mempunyai bentuk bidang
luncur berupa busur "lingkaran dapat dihitung dengan cara #ishop dan
menggunakan paket program $%!#&L yang dibuat oleh %.'. (el) #elanda.
(isamping itu dapat juga menggunakan perhitungan cara *oek dan #ray
dengan menggunakan gra)ik-gra)ik yang sudah dibuat. +edua cara
pehitungan ini mengasumsikan batuan homogen dan kontinu serta banyak
mengandung fractured (heavily fractured).
,enggalian yang dibantu dengan peledakan akan mengakibatkan rekahan-
rekahan atau retakan-retakan pada massa batuan sehingga perhitungan
cara #ishop serta *oek dan #ray masih dapat diterapkan.
(ata-data yang diperlukan dalam perhitungan dengan kedua cara tersebut
adalah :
%inggi lereng
$udut kemiringan lereng
$i)at )isik batuan yang berupa berat persatuan -olume
Studi Kasus - 1
$i)at mekanik batuan yang berupa kohesi dan sudut geser dalam yang
mempunyai harga puncak danm harga sisa
$truktur geologi yang meliputi fracture di tambang
+ondisi air tanah.
Gambar 1 Longsoran dengan bidang berupa dan tidak berupa busur lingkaran
2
Gambar Longsoran baji (wedge failure)
!nalisi kemantapan lereng untuk longsoran yang mempunyai bentuk bidang
luncur tidak berupa busur lingkaran dapat dihitung dengan cara janbu dan
menggunakan paket program berdasarkan cara perhitungan .anbu. /ara
perhitungan ini dapat digunakan untuk lereng yang terdiri dari berbagai jenis
Studi Kasus - 3
batuan yang berlapis (tidak homogen). (ata-data yang diperlukan dalam
perhitungan sama dengan cara #ishop maupun *oek dan #ray, hanya
karakteristik )isik dan mekanik dari tiap jenis batuan harus diketahui dan
juga )aktor struktur geologi sangat diperlukan seperti kondisi dari bidang-
bidang perlapisan.
!nalisis kemantapan lereng untuk longsoran baji dihitung dengan cara *oek
dan #ray.
(ata-data yang diperlukan dalam perhitungan longsoran baji adalah :
.urus (strike) dan kemiringan (dip) dari bidang-bidang diskontinu yang
saling berpotongan.
+ohesi dan sudut geser dalam dari bidang-bidang diskontinu tersebut.
#erat persatuan -olume batuan dan air.
%inge total baji (wedge).
'ntuk analisis kemantapan lereng di tambang terbuka batubara ini,
perhitungan cara .anbu dianggap yang paling sesuai karena lereng terdiri
dari berbagai jenis batuan yang berlapis. $ebagai pembanding dilakukan
juga perhitungan cara #ishop serta *oek dan #ray. (isamping itu karena
ditemukan bidang-bidang diskontinu yang saling berpotongan, maka
dilakukan perhitungan untuk longsoran baji dengan cara *oek dan #ray.
(alam perhitungan, kija digunakan harga kuat geser puncak (kohesi dan
sudut geser dalam puncak), diambil 0aktor +eamanan (0+) 1 1,2. $edang
jika digunakan harga kuat geser sisa (kohesi dan sudut geser dalam sisa),
diambil 0aktor +eamanan (0+) 1 1,3.
1.2. ANALISIS KEMANTAPAN LERENG DENGAN CARA JANBU
4
,erhitungan cara .anbu adalah metoda untuk menganalisis kemantapan
lereng dimana permukaan bidang luncurnya tidak berupa busur lingkaran
dan lereng terdiri dari berbagai jenis batuan yang berlapis (tidak homogen).
,erhitungan cara .anbu ini sangat sesuai untuk menganalisis kemantapan
lereng di tambang terbuka batubara ini baik untuk teras indi-idu maupun
keseluruhan tinggi bukaan.
0aktor +eamanan (0+) dihitung dengan rumus sebagai berikut :
( )
[ ]
( )
0+
)o
4

+
5
16 y 7 0+
8
dimana (Gambar 3) :
5 1 [ ] { }
{ }
c9 tan + . h - h
:
9 16tan

( ) 5
y 1
tan ( ) . tan ( 9 )
8 1
. h tan ( ) 5
4 1
1

:
. 8
:

)aktor koreksi : )o 1 1 6 +
d
L
d
L

1
]
1

'

1;

,
untuk c< 1 = " + 1 =,31
c< > = " > = " + 1 =,2=
dimana :
c< 1 kohesi sisa material
< 1 sudut geser dalam sisa material
1 sudut kemiringan segmen
1 density material "
:
1 density air
8
:
1 tinggi muika air di tension crack
L 1 panjang miring dari longsoran
d 1 tebal longsoran
h 1 tinggi segmen " h
:
1 tinggi muka air pada segmen
Studi Kasus - 5
Gambar 3 +eterangan pemakaian metoda .anbu
,ada persamaan )aktor keamanan di atas, 0+ terdapat ruas kiri dan kanan
persamaan. 'ntuk mendapatkan nilai 0+ yang tepat harus dilakukan iterasi,
dengan memasukkan nilai 0+ coba-coba pada ruas kanan sampai diperoleh
0+ pada ruas kiri 1 0+ coba-coba pada ruas kanan.
,erhitungan kemiringan teras indi-idu (Individual slope) dan kemiringan
keseluruhan bukaan tambang (overall slope) di tambang terbuka batubara
ini menggunakan data parameter batuan seperti tertulis pada %abel 1
berdasarkan penampang lubang bor #2? dan #?@ menurut potongan 3;
serta hasil pengujian di laboratorium.
6
%abel 1 (ata parameter batuan yang digunakan untuk perhitungan
indi-idual slope dan o-erall slope dengan metode .anbu
/atatan : - urutan batuan pada model dapat dilihat pada Gambar ? dan Gambar A
- g 1 A,?1 m7det

Geometri teras penambangan adalah sebagai berikut :


a. (i atas batubara ! diambil tingi teras indi-idu (*) 1 = m dan kemiringan
teras indi-idu (Individual Slope) ind 1 B=.
b. !ntara batubara ! dan #, diambil ind 1 B= karena ketebalan kelompok
batuan di daerah ini lebih kecil dari 12 m (potongan 3;).
c. !ntara batubara # dan / diambil * 1 = m dan ind 1 B=.
Studi Kasus -
%inggi total tambang terbuka ini dari batubara / sampai permukaan tanah
kurang lebih 11= m. (engan mengingat lebar !er" yang akan diperoleh
nanti, makaoverall slope yang akan dihitung adalah 1 3= dan 1 ;2.
*asil perhitungan kemantapan lereng di tambang terbuka ini dengan cara
janbu untuk Individual slope dan #verall slope diberikan pada %abel dan
geometri teras penambngan diberikan pada Gambar ;, 2, B, @, ?, A.
%abel *asil perhitungan kemantapan lereng tanpa memperhitungkan
)aktor getaran di tambang terbuka batubara dengan cara .anbu
untuk overall slope dan individual slope
Lereng FK
= 30

= !"

1. C-erall slope
a. Lereng di atas batubara ! (Gambar ; dan 2) ;,@3 3,A@
b. Lereng di atas batubara # (Gambar B dan @) ;,= ,??
c. Lereng di atas batubara / (Gambar ? dan A)
&) Longsor pada kaki lereng
ii) Longsor pada baas perlapisan batubara
/
3,;
,;
,;2
,?@
. &ndi-idual slope
a.
&$! . 1 . 3= ( ind 1 B=
o
) (Gambar B)
?,3B -
b. &$! . 1 . ;2 ( ind 1 B=
o
) (Gambar @) - @,B;
c.
&$! . . 3= ( ind 1 B=
o
) (Gambar B)
@,B2 -
d. &$! . . ;2 ( ind 1 B=
o
) (Gambar @) - ?,3
e.
&$! . . 3= ( ind 1 B2
o
- @=
o
) (Gambar @)
11,2? -
). &$! . . ;2 ( ind 1 B2
o
- @=
o
) (Gambar @) - 13,12
8
Gambar ; Lereng di atas batubara ! ( 1 3=
o
)
Gambar 2 Lereng di atas batubara ! ( 1 ;2
o
)
Studi Kasus - $
Gambar B Lereng di atas batubara # ( 1 3=
o
)
Gambar @ Lereng di atas batubara # ( 1 ;2
o
)
10
Gambar ? #verall slope 3=
o
potongan 3;
Gambar A #verall slope ;2
o
potongan 3;
Gambar 1= ,arameter sudut-sudut untuk perhitungan longsoran baji
(*oek dan #ray)
(ari hasil perhitungan dengan cara .anbu dapat disimpulkan bah:a lereng
sangat stabil untuk keseluruhan tinggi teras maupun teras indi-idu.
#verall slope 3=, 0aktor +eamana 1 3,;, tinggi teras indi-idu antara
12m sampai = m, lebar !er" antara m sampai A m dan Individual
slope antara B= sampai @= jika longsoran akan terjadi pada batas
perlapisan batuan /, maka 0aktor +eamananan menjadi ,;.
#verall slope ;2, 0aktor +eamanan 1 ,;2, tinggi teras indi-idu antara
1 m sampai = m, lebar !er" antara @ m sampai ? m dan Individual
slope antara B= sampai @= jika longsoran akan terjadi pada batas
perlapisan batubara /, maka 0aktor +eamanan menajdi 1,?@.
1.3. ANALISIS KEMANTAPAN LERENG UNTUK LONGSORAN BAJI
(ari hasil pengamatan struktur geologi di lapangan, terlihat bah:a
kemungkinan terjadinya longsoran baji sedikit sekali karena kekar-kekar
yang ada meskipun saling berpotongan tetapi arah garis perpotongan dua
bidang kekar berla:anan dengana kemiringan lereng.
+ecuali di daerah G, ! dan di daerah adanya sinklin sekitar #?B di peta
pengamatan struktur geologi, terdapat kecenderungan longsoran baji.
1.3.1. Ke#$ng%&n'n Lng(r'n B')& *& D'er'+ G
#aji dibentuk oleh sesar dengan arah D 1? E7 B= dan kekar dengan arah
umum D?= E7?3 (Gambar 11). (apat membentuk baji bila lereng B= atau
lebih (dihubungkan dengan rencana lereng yang ada).
1.3.2. Ke#$ng%&n'n Lng(r'n B')& *& D'er'+ A
#aji dibentuk oleh bidang perlapisan D ?B E71= dan kekar D 3 E7@3
(Gambar 1). Letak baji masih di atas batubara ! dapat membentuk baji
dengan lereng yang bersudut 1= - A=.
1.3.3. Ke#$ng%&n'n Lng(r'n B')& *& D'er'+ A*'n,' S&n%-&n B ./
a. #aji di atas batubara !.
#aji dibentuk oleh sayap sinklin D B2 E713 dan D =B E71; (Gambar
13).
b. #aji diantara batubara ! dan #.
#aji dibentuk oleh sayap sinklin D @= E712 dan D 1B E73 (Gambar
1;).
F'M'$ hal. &-1?
Gambar 11 +emungkinan longsoran baji di daerah G
F'M'$ hal. &-=
Gambar 1 +emungkinan longsoran baji di daerah !
F'M'$ hal. &-1
Gambar 13 +emungkinan longsoran baji di daerah adanya sinklin di atas
batubara !
F'M'$ hal. &-3
Gambar 1; +emungkinan longsoran baji di daerah adanya sinklin di antara
batubara ! dan #
(ari hasil perhitungan dengan cara *oek dan #ray ternyata kelongsoran baji
kemungkinannya kecil sekali dapat terjadi di daerah G, ! dan daerah
adanya sinklin sekitar # ?B.
+arena di daerah G dengan tinggi lereng = m, 0aktor +eamanan 1 A;,A,
di daerah ! dengan tinggi lereng 1 m untuk overall slope dengan 1 3=,
0aktor +eamanan 1 1;,2A dan untuk individual slope dengan 1 B=, 0aktor
+eamanan 1 12,B.
$edangkan di daerah adanya sinklin di atas batubara ! dengan tinggi lereng
= m untuk overall slope dengan 1 3=, 0aktor +eamanan 1 A,A; dan
untuk individual slope dengan 1 B=, 0aktor +eamanan A,31. (iantara
batubara ! dan # dengan tinggi lereng 12 m untuk overall slope 1 3=,
0aktor +eamanan 1 13,; dan untuk individual slope dengan 1 B=, 0aktor
+eamanan 1 1,;B.
2. ANALISIS KEMANTAPAN LERENG BATUAN DENGAN
METODA ELEMEN 0INGGA DI TAMBANG TERBUKA
BATUBARA
2.1. UMUM
$ejalan dengan berkembangnya pemakaian komputer, maka pemakaian
metoda rumerik semakin banyak diterapkan pada pemecahan masalah-
masalah geoteknik. $alah satu metoda numerik yang paling dikenal adalah
Metoda Elemen *ingga. (isamping itu analisis kemantapan lereng dapat
dilakukan dengan Metoda ,ersamaan +eseimbangan #atas.
.a:aban yang diperoleh dari pendekatan-pendekatan numerik ini sudah
cukup memuaskan meskipun pendekatan-pendekatan numerik ini sudah
cukup memuaskan meskipun pendekatan-pendekatan yang dilakukan
berubah secara parsial, karena memang masalah geoteknik mempunyai
ruang lingkup yang cukup rumit, antara lain :
+etidakhomogenan tanah dan batuan
$i)at material yang tidak elastik linier
+eadaan lahan lapangan yang beragam
!ir tanah yang dipengaruhi keadaan sekelilingnya.
Metoda yang telah banyak dikembangkan untuk maksud-maksud konstruksi
ba:ah tanah adalah Metoda Elemen *ingga (%inite &le"ent 'ethod).
(engan metoda ini, model yang akan dianalisis (domain) dibagi menjadi
berhingga yang meliputi bagian-bagian kecil (subdomain) yang disebut
elemen. %iap-simpul (nodal) dan membentuk rangkaian yang secara
keseluruhan mendekati bentuk model semula. ,ada titik simpul, besaran
yang ingin diketahui digunakan sebagai -ariabel dan untuk menentukan
besaran ini di dalam elemen digunakan )ungsi interpolasi.
0ungsi interpolasi adalah )ungsi yang menyatakan perpindahan setiap titik
pada elemen. $elanjutnya dengan )ungsi ini dirumuskan matriks yang
menyatkan si)at dan keadaan setiap elemen. (engan menggabungkan
matriks kekakuan lokal seluruh elemen, maka akan diperoleh matriks
kekauan global.
Metoda elemen hingga ini dapat menangani semua masalah yang tidak
terpecahkan oleh cara analisis yang berpegang pada bentuk geomtri yang
tertur, beban yang seragam dan material yang homogen. ,enerapan metoda
ini pada persoalan teknik mempunyai kelebihan antara laian :
bentuk dan ukuran elemen dapat ber-ariasi.
tidak terbatas untuk benda-benda dengan bentuk geometri yang teratur
kondisi batas pembebanan yang sembarang bukan merupakan kesulitan
yang berarti
dengan sedikit perubahan pada parameter tertentu, program komputer
dapat digunkan untuk setuap macam persoalan pada bidang tertentu.
Langkah-langkah yang digunakan dalam memecahakan persoalan dengan
menggunakan metoda elemen hingga adalah sebagai berikut :
a. Membagi model menjadi elemen-elemen.
b. Memilih )ungsi interpolasi.
c. Menentukan matriks kekakuan lokal.
d. Menentukan matriks kekauan global.
e. Menentukan -ektor beban.
). Menentukan kondisi batas
g. Menyelesaikan persamaan simultan linear
h. Menyelesaikan perhitungan lainnya, seperti tegangan, regangan dan
gaya pada elemen.
'ntuk analisis kemantapan lereng batuan di tambang terbuka batubara ini
digunakan paket program komputer F*EC-$%!'# yang dibuat oleh Fock
Engineering (epartment E%* Gurrich, $:iss. *al ini mengingat akan
besarnya :altu dan biaya yang harus dialokasikan bilamana program untuk
keperluan tersebut harus disusun sendiri.
$i)at-si)at material (material properties) yang dibutuhkan untukperhitungan
dengan paket program F*EC-$%!'# adalah :
E 1 modulus elastisitas batuan
1 ,oisson<s ratio batuan
1 bobot isi batuan
/ 1 kohesi batuan
1 sudut geser dalam batuan
Ga 1 modulus geser anisotropik batuan
(untuk perhitungan-perhitungan anisotrop)
.ika perhitungan dilanjutkan dengan model Fheologi, maka parameter
berikut ini diperlukan :
1 -iskositas
m 1 thi5otropy
!nalisis kemantapan lereng cara kon-ensional didasarkan pada besarnya
gaya yang akan menahan longsoran dibanding dengan gaya yang
menyebabkan kelongsoran. (engan cara ini, maka hasil analisis
kemantapan lereng hanya berupa pengujian stabil atau tidaknya lereng
melalui bidang longsor yang ditentukan sebelumnya secara coba-coba,
sehingga tidak memungkinkan untuk mengetahui atau menganalisis
besarnya tegangan, regangan serta de)ormasi pada bagian-bagian lereng.
(engan analisa metoda elemen hingga, maka dimungkinkan menganalisa
tegangan, regangan serta de)ormasi pada bagian-bagian lereng, disamping
itu dapat dihitung )aktor keamanan pada setiap elemen pada lereng.
2.2. PERMODELAN DENGAN METODA ELEMEN 0INGGA
,ada hakekatnya solusi yang didapat dari analisis dengan menggunakan
elemen hingga adalah solusi pendekatan, karena perpindahan yang ada di
setiap titik simpul merupakan nilai pendekatan. !nalisis dengan metoda
elemen hinga memerlukan permodelan-permodelan yang meliputi :
- permodelan sistem statika
- permodelan pembebanan
- permodelan material
2.2.1. Per#*e-'n S&(1e# S1'1&%' Lereng B'1$'n
,ermodelan sistem lereng dimaksudkan untuk mempresentasikan keadaan
sistem struktur dengan penampang lereng batuan di lapangan dengan
memperhatikan gaya dalam yang bekerja pada lereng, kon)igurasi
ketidakhomogenan material, struktur permodelan sistem statika lereng
batuan dapat dilihat pada Gambar 12. (alam permodelan sistem statika
lereng batuan, maka perlu diperhatikan adanya bidang diskontinu dan
bidang perlemahan yang diakibatkan oleh adanya bidang perlapisan batuan,
(oint (kekar), rekahan, sesar. !da dua cara permodelan sistem statika
bidang diskontinu, yaitu :
- permodelan bidang diskontinu dengan menganggap elemen interface.
- permodelan bidang diskontinu dengan menganggap bah:a bidang
diskontinu terisi dengan material yang mempunyau modulus elastisitas
yang relati) kecil dibanding dengan modulus elastisitas batuan.
!. Lereng terisolasi
#. Lereng simetri
Gambar 12 ,ermodelan sistem statika lereng batuan
2.2.2. Per#*e-'n M'1er&'- Lereng
,ermodelan material mencakup permodelan perilaku hubungan tegangan-
regangan dari material lereng batuan. 'ntuk kepentingan analisis
kemantapan lereng ini, maka material lereng batuan dimodelkan dengan
model material elastik dan isotrop. Model ini memungkinkan dilakukannya
analisis dengan cara elastis sampai terjadinya kehancuran elemen di
beberapa bagian lereng. &n)ormasi daerah kehancuran sangat dibutuhkan
terutama untuk mengetahui konsentrasi tegangan dari bagian lereng yang
mempunyai gradien tegangan yang sangat tinggi. (ari in)ormasi ini juga
dapat diketahui permulaan kelongsoran lereng, sehingga )aktor keamanan
dapat dihitung untuk daerah tersebut. +riteria keruntuhan yang dipakai
adalah kriteria leruntuhan geser dari Mohr-/oulumb. +euntungan dengan
pemakaian kriteria Mohr-/oulumb adalah dapat dilakukannya pengecekan
secara gra)is.
'ntuk kepentingan analisis kemantapan lereng batuan, maka besarnya
kohesi batuan (/) dan sudut geser dalam batuan () merupakan parameter
apparent (/
app
dan
app
).
2.2.3. Per#*e-'n Pe#2e2'n'n P'*' Lereng
,ermodelan pembebanan dimaksudkan untuk mengimplementasikan jenis
beban yang ada adalah beban yang diakibatkan oleh beban gra-itasi.
#esarnya beban gra-itasi pada lereng merupakan )ungsi dari kedalaman
suatu titik serta besarnya bobot isi batuan. $ecara teoritis permodelan
pembebanan pada sistem persamaan berikut :


5
5
5y
y
58
8
+ + sin

5y
5
y
y
y8
8
+ + =


58
5
y8
y
5
8
+ + cos
'ntuk kasus plane strain, dengan memperhatikan Gambar 1B, maka
persamaan di atas dapat dimodi)ikasi menjadi :


5
5
58
8
+ sin


58
5
8
8
+ cos
(engan memperhatikan persamaan di atas, maka permodelan pembebanan
lereng batuan di suatu titik tertentu mempunyai besar sebagai berikut :
8 8 cos
58 8 sin
Gambar 1B ,ermodelan kasus plane strain
2.3. PER0ITUNGAN FAKTOR KEAMANAN
0aktor keamanan dihitung dengan cara menggambar lingkaran Mohr
tegangan utama hasil eksekusi (1 atau major prinsipal stress dan atau
minor prinsipal stress), lihat Gambar 1@.
Gambar 1@ Lingkaran Mohr tegangan utama
#esarnya )aktor keamanan adalah merupakan perbandingan antara jarak !
dibanding jarak #, secara matematis dapat di)ormulasikan sebagai berikut :
t 1 / 7 tan
0+ 1 !7 #
1
( ) ( )
( )


t + + =2 1
= 2
,
,
sin
1-
0aktor keamanan dapat dihitung pada setiap elemen lereng, tetapi
disarankan dilakukan perhitungan )aktor keamanan di daerah yang
mempunyai konsentrasi tegangan yang sangat tinggi, yaitu untuk elemen-
elemen di daerah toe. *al ini sesuai dengan analisis yang didapat dari
analisis elastik, bah:a elemen-elemen yang pertama-tama mengalami
kehancuran adalah elemen-elemen di daerah toe serta elemen-elemen yang
berada di daerah akti). (engan demikian )akor keamanan yang dihitung
untuk elemen di daerah toe dan di daerah akti) dapat dijadikan tolok
ukur atau dapat me:akili angka keamanan kemantapan lereng secara
keseluruhan.
2.!. 0ASIL ANALISIS KEMANTAPAN LERENG DENGAN METODA
ELEMEN 0INGGA
2.!.1. Lereng *& B-% "13 P&1 1.
Lereng di #lok 21 terdiri dari batuan mudstone, sandstone, siltstone,
batubara, shale dengan si)at )isik dan si)at mekanik yang digunakan di
dalam analisis kemantapan lerreng seperti terlihat pada %abel 3.
%abel 3 $i)at )isik dan si)at mekanik batuan di lereng blok 21
B'1$'n
('1 4
E C'55 '55 6

7
61n8#
3
7 6MP'7 6MP'7 6MP'7
Mudstone ,=2 ;,13 =,3; 122 =,1 12,;
$andstone ,13 3,A= =,3; 1?= =,= 1=,B
$iltstone ,=3 ,A =,33 BA =,3 B,2
#atubara 1,31 ;,=3 =,3 1;A =,12 31,?
$hale ,=2 ;,13 =,3; 122 =,1 12,;

Gambar 1? memperlihatkan model dari lereng di blok 21.
(ari hasil eksekusi dengan tinggi lereng (*) 1 3=,2 m dan kemiringan lereng
() 1 @=
o
terdapat 1@ elemen yang hancur (0+ H 1) di mudstone setebal
1,2 m dan elemen di batubara setebal ,= m (Gambar 1A, %abel ;).
.umlah elemen dengan 1 H 0+ H 1,3 sebanyak = terdapat di mudstone,
sandstone, dan batubara (Gambar 1A, %abel ;).
.ika kemiringan lereng diubah menjadi B=
o
dengan ketinggian lereng
3=,@2 m terdapat A elemen yang hancur (0+ H 1) di mudstone setebal =,2 m,
1 elemen di batubara dan 1 di shale dengan 0+ terkecil =,@;B di mudstone
setebal =,2 m (Gambar =, %abel ;).
Gambar 1? Model lereng di blok 21
Gambar 1A +eadaan elemen untuk * 1 3= m dan 1 @=
o
%abel ; *asil eksekusi lereng di blok 21
Ge#e1r& -ereng
0 = 30 # 0 = 30 # M'1er&'-
= 90

= /0

.umlah elemen hancur 1@ A Mudstone


0+ H 1 2 - $andstone
1 #atubara
1 1 $hale
.umlah elemen dengan 1 ; Mudstone
1 H 0+ H 1,3 B - $andstone
; #atubara
- 1; $hale
0+ terendah =,B=3 =,@;B Mudstone
Meskipun masih ada elemen yang hancur pada kemiringan lereng B=
o
tetapi
lereng relati) lebih mantap dibandingkan dengan kemiringan @=
o
.
!gar tidak ada elemen yang hancur dan lereng lebih mantap, maka
disarankan untuk membagi dua lereng tersebut dengan ketinggian masing-
masing 12 m.
Gambar = +eadaan elemen untuk * 1 3= m dan 1 B=
o
2.!.2. Lereng *& B-% "/3 P&1 1:
Lereng di blok 2B terdiri dari batuan sandstone, siltstone, mudstone,
batubara, si)at )isik dan si)at mekanik dari batuan tersebut yang digunakan
di dalam analisis diperlihatkan pada %abel 2.
%abel 2 $i)at )isik dan si)at mekanik batuan di lereng blok 2B
B'1$'n ('1
61n8#
3
7
4
6MP'7
E
6MP'7
C'55
6MP'7
'55 6

7
$andstone 1 ,13 3,A= =,3; 1?= =,;3 3,2
$iltstone ,13 1,2@ =,31 B@ =,=3 3
#atubara 1 1,31 3,2= =,3 1;A =,B2 1,2
Mudstone 1 ,=2 ;,13 =,3; 122 =,3 1,B
$andstone ,=? 1,A =,3 13A =,3 =,
#atubara 1,31 ,3 =,31 A; =,B2 1,2
Mudstone ,=2 3,2 =,3= 1 =,3 1,B
Gambar 1 memperlihatkan model dari lereng di blok 2B.
(ari hasil eksekusi dengan tinggi lereng 1 (*1) 1 ?,1 m dan tinggi lereng
(*) 1 ? m, kemiringan lereng () 1 @=
o
terdapat elemen yang hancur
(0+ H 1) sebanyak ; elemen di siltstone setebal 3 m, B elemen di mudstone
setebal =,2 m.
.umlah elemen dengan 1 H 0+ H 1,3 sebanyak 3 terdapat di mudstone
setebal 3,2 m, ? elemen di sandstone setebal 1 m, A elemen di siltstone
setebal 1 m, B elemen di mudstone setebal =,2 m, ;= elemen di
sandstone setebal B,2 m, 13 elemen di siltstone setebal 3 m, 12 elemen di
mudstone setebal =,2 m, ; elemen di batubara setebal m, B elemen di
mudstone setebal ,2 m dan ; elemen di sandstone setebal 3,2 (Gambar ,
%abel B).
Gambar 1 Model lereng di blok 2B
Gambar +eadaan elemen untuk *1 1 ?,1 m, * 1 ? m, dan 1 @=
o
.ika kemiringan lereng diubah menjadi B=
o
dengan ketinggian lereng
*1 1 A m, * 1 ?,@2 m maka hanya tinggal 1 elemen yang hancur
(0+ H 1) di mudstone dan elemen dengan 1 H 0+ H 1,3 tinggal @ elemen
(Gambar 3, %abel B).
(engan demikian maka lereng di blok 2B dapat dianggap mantap pada
kemiringan B=
o
dan ketinggian *1 1 A m, * 1 ?,@2 m. karena 1 elemen
yang hancur seperti yang disebutkan di atas hanya bersi)at lokal.
%abel B *asil eksekusi lereng di blok 2B
Ge#e1r& -ereng
0 = 30 # 0 = 30 # M'1er&'-
= 90

= /0

.umlah elemen hancur ; - $iltstone


0+ H 1 B 1 Mudstone
.umlah elemen dengan 3 1 Mudstone
1 H 0+ H 1,3 ? - $andstone
A - $iltstone
B 2 Mudstone
;= - $andstone
13 - $iltstone
12 1 Mudstone
; - #atubara
B - Mudstone
; - $andstone
0+ terendah =,@=3 1,=@23 Mudstone
Gambar 3 +eadaan elemen untuk *1 1 A m, * 1 ?,@2 m, dan 1 B=
o
2.!.3. Lereng *& B-% /:3 P&1 21
Lereng di blok BA terdiri dari batuan sandstone, siltstone, mudstone,
batubara mudstone, sandstone, coally shale.
$i)at )isik dan si)at mekanik batuan tersebut yang digunakan di dalam
analisis diperlihatkan pada %abel @.
%abel @ $i)at )isik dan si)at mekanik batuan di lereng blok BA
B'1$'n ('1
61n8#
3
7
4
6MP'7
E
6MP'7
C'55
6MP'7
'55 6

7
$andstone ,31 2,?; =,3 3?; =,3@ B
$iltstone ,1@ ,?A =,3 3 =,;B 33,2
Mudstone ,; ,23 =,3 A= =,B; 3;
#atubara 1,31 3,? =,3 1;A =,23 3B,1
Gambar ; memperlihatkan model dari lereng di blok BA.
(ari hasil eksekusi dengan tinggi lereng 1 (*1) 1 1 m, * 1 31 m,
*3 1 1;,2 m, *; 1 ,2 m, dan kemiringan () 1 @=
o
, tidak terdapat elemen
hancur (0+ H 1), sedangkan elemen dengan 1 H 0+ H 1,3 sebanyak
; elemen di sandstone setebal 1,2 m dan 3 elemen di sandstone setebal
; m (Gambar 2, %abel ?). 0aktor keamanan terkecil adalah 1,=?@B.
(engan demikian mak alereng di blok BA mantap pada kemiringan @=
o
dengan tinggi *1 1 1 m , * 1 31 m, *3 1 1;,; m, *; 1 ,2 m seperti
diperlihatkan pada Gambar ;.
Gambar ; Model lereng di blok BA
Gambar 2 +eadaan elemen untuk *1 1 1 m, * 1 31 m, *3 1 1;,2, *;
1 ,2 m, dan 1 @=
o
2.!.!. Lereng *& B-% 9!89"3 P&1 21
Lereng di blok @;7@2 terdiri dari batuan sandstone, mudstone, siltstone,
batubara.
$i)at )isik dan si)at mekanik batuan tersebut yang digunakan di dalam
analisis diperlihatkan pada %abel ?.
%abel ? $i)at )isik dan si)at mekanik batuan di lereng blok @;7@2
B'1$'n ('1
61n8#
3
7
4
6MP'7
E
6MP'7
C'55
6MP'7
'55 6

7
$andstone 1 ,3@ 2,=3 =,3 1;; =,?B 2,A
Mudstone 1 ,;B ,?B =,31 A; 1,=? 1B
$iltstone 1 ,1@ ,A =,33 BA =,B2 @,
$andstone ,11 1,A =,3 13A =,2= ?
Mudstone ,;B ,2= =,31 ?= =,B 3=
#atubara 1,31 ;,=1 =,31 A3 =,?A 33,3
$andstone ,31 2,?; =,3 3?; =,3@ B
$iltstone ,1@ ,23 =,3= 1@ =,?= 3?,A
Mudstone 3 ,=2 3,2 =,3= 1 =,3 1,B
Gambar B memperlihatkan model dari lereng di blok @;7@2.
(ari hasil eksekusi dengan tinggi lereng 1 (*1) 1 @,2 m, * 1 1B,@2 m
dengan kemiringan B=
o
, ternyata tidak ada elemen yang hancur (0+ H 1) dan
tidak ada elemen dengan 1 H 0+ H 1,3 (Gambar @). 0aktor keamanan
terkecil adalah 1,;1;1.
(engan demikian maka lereng di blok @;7@2 mantap pada kemiringan B=
o
dengan tinggi lereng *1 1 @,2 m dan * 1 1B,@2 m seperti diperlhtakan
pada Gambar 2.
Gambar B Model lereng di blok @;7@2
Gambar @ +eadaan elemen untuk *1 1 @,2 m, * 1 1B,@2 m, dan 1 B=
o