Anda di halaman 1dari 29

6

BAB II
KONSEP DASAR

A. Pengertian
Demam thypoid adalah penyakit infeksi akut yang biasanya mengenai
saluran pencernaan dengan gejala demam yang lebih dari 1 minggu, gangguan
pada pencernaan dan gangguan kesadaran (Mansjoer, 2000).
Demam typoid dan demam paratypoid adalah infeksi akut usus halus
(J uwono, 1996).
Demam thypoid adalah infeksi demam sistemik akut yang nyata pada
fogosit mononuclear dan membutuhkan tatanama yang terpisah (Smeltzer,
2001)
Berdasarkan berbagai definisi tersebut dapat disimpulkan bahwa
thypoid adalah penyakit infeksi akut yang disebabkan oleh kuman Salmonela
typhosa ditandai dengan demam satu minggu.









7

B. Anatomi dan Fisiologi
















Gambar 1. Sistem Pencernaan Tubuh Manusia
(Sumber: Syaifuddin, 1997)
Sistem pencernaan atau sistem gastrointestinal (mulai dari mulut
sampai anus) adalah sistem organ dalam manusia yang berfungsi untuk
menerima makanan, mencernanya menjadi zat-zat gizi dan energi, menyerap
J ejunum

8
zat-zat gizi ke dalam aliran darah serta membuang bagian makanan yang tidak
dapat dicerna atau merupakan sisa proses tersebut dari tubuh.
Saluran pencernaan terdiri dari mulut, tenggorokan (faring),
kerongkongan, lambung, usus halus, usus besar, rectum dan anus. Sistem
pencernaan juga meliputi organ-organ yang terletak di luar saluran
pencernaan, yaitu pankreas, hati dan kandung empedu.
1. Usus Halus (usus kecil)
Usus halus atau usus kecil adalah bagian dari saluran pencernaan
yang terletak di antara lambung dan usus besar. Dinding usus kaya akan
pembuluh darah yang mengangkut zat-zat yang diserap ke hati melalui
vena porta. Dinding usus melepaskan lendir (yang melumasi isi usus) dan
air (yang membantu melarutkan pecahan-pecahan makanan yang dicerna).
Dinding usus juga melepaskan sejumlah kecil enzim yang mencerna
protein, gula dan lemak.
Lapisan usus halus : lapisan mukosa (sebelah kanan), lapisan otot
melingkar (M sirkuler), lapisan otot memanjang (M longitudinal) dan
lapisan serosa (sebelah luar).
Usus halus terdiri dari tiga bagian yaitu usus dua belas jari
(duodenum), usus kosong (jejenum) dan usus penyerapan (ileum).
Villi usus halus terdiri dari : Pipa berotot (>6 cm), pencernaan
secara kimiawi, penyerapan makanan. Terbagi atas : Usus 12 jari
(duodenum), usus tengah (jejenum), usus penyerapan (ileum).


9
a. Usus dua belas jari (Duodenum)
Usus dua belas jari atau duodenum adalah bagian dari usus
halus yang terletak setelah lambung dan menghubungkannya ke usus
kosong (jejenum). Bagian usus dua belas jari merupakan bagian
terpendek dari usus halus, dimulai dari bulbo duodenale dan berakhir
di ligamentum Treitz.
Usus dua belas jari merupakan organ retroperitoneal, yang
tidak terbungkus seluruhnya oleh selaput peritoneum. pH usus dua
belas jari yang normal berkisar pada derajat sembilan. Pada usus dua
belas jari terdapat dua muara saluran yaitu dari pancreas dan kantung
empedu. Nama duodenum berasal dari bahasa Latin duodenum
digitorum, yang berarti dua belas jari.
Lambung melepaskan makanan ke dalam usus dua belas jari
(duodenum), yang merupakan bagian pertama dari usus halus.
Makanan masuk ke dalam duodenum melalui sfingter pylorus dalam
jumlah yang bisa dicerna oleh usus halus. J ika penuh, duodenum akan
mengirimkan sinyal kepada lambung untuk berhenti mengalirkan
makanan.
b. Usus Kosong (jejenum)
Usus kosong atau jejenum (terkadang sering ditulis yeyunum)
adalah bagian dari usus halus, diantara usus dua belas jari (duodenum)
dan usus penyerapan (ileum). Pada manusia dewasa, panjang seluruh
usus halus antara 2-8 meter, 1-2 meter adalah bagian usus kosong.

10
Usus kosong dan usus penyerapan digantungkan dalam tubuh dengan
mesenterium.
Permukaan dalam usus kosong berupa membran mukus dan
terdapat jonjot usus (vili), yang memperluas permukaan dari usus.
Secara histologis dapat dibedakan dengan usus dua belas jari, yakni
berkurangnya kelenjar Brunner. Secara hitologis pula dapat dibedakan
dengan usus penyerapan, yakni sedikitnya sel goblet dan plak Peyeri.
Sedikit sulit untuk membedakan usus kosong dan usus penyerapan
secara makroskopis.
J ejunum diturunkan dari kata sifat jejune yang berarti lapar
dalam bahasa inggris modern. Arti aslinya berasal dari bahasa Latin,
jejunus, yang berarti kosong.
c. Usus Penyerapan (ileum)
Usus penyerapan atau ileum adalah bagian terakhir dari usus
halus. Pada sistem pencernaan manusia, ini memiliki panjang sekitar
2-4 m dan terletak setelah duodenum dan jejunum, dan dilanjutkan
oleh usus buntu. Ileum memiliki pH antara 7 dan 8 (netral atau sedikit
basa) dan berfungsi menyerap vitamin B12 dan garam-garam empedu.
2. Usus Besar (Kolon)
Usus besar atau kolon dalam anatomi adalah bagian usus antara
usus buntu dan rektum. Fungsi utama organ ini adalah menyerap air dari
feses.

11
Usus besar terdiri dari : kolon asendens (kanan), kolon transversum, kolon
desendens (kiri), kolon sigmoid (berhubungan dengan rectum).
Banyaknya bakteri yang terdapat didalam usus besar berfungsi
mencerna makanan beberapa bahan dan membantu penyerapan zat-zat
gizi.
Bakteri didalam usus besar juga berfungsi membuat zat-zat
penting, seperti vitamin K. Bakteri ini penting untuk fungsi normal dari
usus. Beberapa penyakit serta antibiotik bisa menyebabkan gangguan pada
bakteri-bakteri didalam usus besar. Akibatnya terjadi iritasi yang bisa
menyebabkan dikeluarkannya lendir dan air, dan terjadilah diare.
3. Usus Buntu (sekum)
Usus buntu atau sekum (Bahasa Latin : caecus, buta) dalam
istilah anatomi adalah suatu kantung yang terhubung pada usus
penyerapan serta bagian kolon menanjak dari usus besar. Organ ini
ditemukan pada mamalia, burung, dan beberapa jenis reptil. Sebagian
besar herbivore memiliki sekum yang besar, sedangkan karnivora ekslusif
memiliki yang kecil, yang sebagian atau seluruhnya digantikan oleh umbai
cacing.
4. Umbai Cacing (Appendix)
Umbai cacing atau apendiks adalah organ tambahan pada usus
buntu. Infeksi pada organ ini disebut apendisitis atau radang umbai cacing.
Apendisitis yang parah dapat menyebabkan apendiks pecah dan

12
membentuk nanah di dalam rongga abdomen atau peritonitis (infeksi
rongga abdomen).
Dalam anatomi manusia, umbai cacing atau dalam bahasa Inggris,
vermiform appendix (atau hanya appendix) adalah ujung buntu tabung
yang menyambung dengan caecum.
Umbai cacing terbentuk dari caecum pada tahap embrio. Dalam
orang dewasa, umbai cacing berukuran sekitar 10 cm tetapi bisa bervariasi
dari 2 sampai 20 cm. walaupun lokasi apendiks selalu tetap, lokasi ujung
umbai cacing bisa berbeda-beda di retrocaecal atau di pinggang (pelvis)
yang jelas tetap terletak di peritoneum.
Banyak orang percaya umbai cacing tidak berguna dan organ
vestigial (sisihan), sebagian yang lain percaya bahwa apendiks mempunyai
fungsi dalam sistem limfatik. Operasi membuang umbai cacing dikenal
sebagai appendiktomi.
5. Rektum dan Anus
Rectum (Bahasa Latin : regere, meluruskan, mengatur) adalah
sebuah ruangan yang berawal dari usus besar (setelah kolon sigmoid) dan
berakhir di anus. Organ ini berfungsi sebagai tempat penyimpanan
sementara feses. Biasanya rektum ini kosong karena tinja disimpang
ditempat yang lebih tinggi, yaitu pada kolon desendens. J ika kolon
desendens penuh dan tinja masuk ke dalam rektum, maka timbul
keinginan untuk buang air besar (BAB). Mengembangnya dinding rektum
karena penumpukan material didalam rectum akan memicu sistem saraf

13
yang menimbulkan keinginan untuk melakukan defekasi. J ika defekasi
tidak terjadi, seringkali material akan dikembalikan ke usus besar, dimana
penyerapan air akan kembali dilakukan. J ika defekasi tidak terjadi untuk
periode yang lama, konstipasi dan pengerasan feses akan terjadi.
Orang dewasa dan anak yang lebih tua bisa menahan keinginan ini,
tetapi bayi dan anak yang lebih muda mengalami kekurangan dalam
pengendalian otot yang penting untuk menunda BAB.
Anus merupakan lubang di ujung saluran pencernaan, dimana
bahan limba keluar dari tubuh. Sebagian besar anus terbentuk dari
permukaan tubuh (kulit) dan sebagian lainnya dari usus. Pembukaan dan
penutupan anus diatur oleh otot spinter. Feses dibuang dari tubuh melalui
proses defekasi (buang air besar BAB), yang merupakan fungsi utama
anus.

C. Etiologi dan Predisposisi
1. Etiologi
Penyebab demam thypoid adalah Salmonella thyposa, basil gram
negatif, bergerak dengan rambut getar, tidak berspora, mempunyai
sekurang-kurangnya empat macam antigen yaitu antigen O (somatic), H
(flagella), Vi, dan protein membran hialin (Mansjoer, Arief, 2000).
2. Predisposisi
Menurut Sarwono (1996) penyebaran thypoid tidak bergantung pada
iklim, tetapi banyak di jumlah di negara yang beriklim tropis. Hal ini

14
disebabkan karena penyediaan air bersih, sanitasi lingkungan dan
kebersihan individu dan lingkungan.

D. Patofisiologi
Kuman Salmonella typosa masuk melalui mulut, setelah melewati
aliran selanjutnya akan kedinding usus halus melalui aliran limfa ke kelenjar
mesentrium mengadakan multipikasi (bakteremia). Biasanya pasien belum
tampak adanya gejala klinik (asimtomatik) seperti mual, muntah, tak enak
badan, nafsu makan menurun, pusing karena segera diserbu sel sistem retikulo
endotetial. Tetapi kuman masih hidup, selanjutnya melalui duktus toraksikus
masuk ke dalam peredaran darah mengalami bakteremia sehingga tubuh
merangsang untuk mengeluarkan sel pirogen akibatnya terjadi lekositopenia.
Sel pirogen inilah yang mempengaruhi pusat termoregulasi di
hipotalamus sehingga timbul gejala demam dan apabila demam tinggi tidak
segera diatasi maka dapat terjadi gangguan kesadaran dalam berbagai tingkat.
Setelah dari peredaran darah, kuman menuju ke organ-organ tersebut (hati,
limfa, empedu), sehingga timbul peradangan yang menyebabkan
membesarnya organ tersebut dan nyeri tekan, terutama pada folikel limfosial
dan apabila kuman tersebut dihancurkan oleh sel-sel tersebut maka penyakit
berangangsur-angsur mengalami perbaikan dan apabila tidak dihancurkan
akan menyebar keseluruh organ sehingga timbul komplikasi dapat
memperburuk kondisi pasien.
(Rahmat J uwono, 1996).

15
E. Manifestasi Klinik
Gejala dapat timbul secara tiba-tiba / berangsur-angsur yaitu antara 10
sampai 14 hari. Mulainya samar-samar bersama nyeri kepala, malaise,
anoreksia dan demam, rasa tidak enak di perut dan nyeri di seluruh badan.
Minggu pertama keluhan dan gejala serupa dengan penyakit infeksi akut pada
umumnya yaitu : demam, nyeri kepala, pusing, nyeri otot, anoreksia, mual,
muntah, konstipasi /diare, perasaan tidak enak pada perut, batuk dan
epistaksis.
Pada minggu kedua gejala-gejala menjadi lebih jelas yaitu : demam,
bradikardi relatif, lidah yang khas (kotor ditengah, tepi dan ujung merah dan
tremor), hepatomegali, splenomegali, meteorismus, gangguan mental.
(Sarwono, 1996).

F. Penatalaksanaan
Penalaksanaan thypoid terdiri dari 3 bagian yaitu :
1. Perawatan
Penderita thypoid perlu dirawat di rumah sakit untuk isolasi, observasi dan
pengobatan. Penderita harus tirah baring absolut sampai minimal 7 hari.
Besar demam / kurang lebih selama 14 hari. Maksud tirah baring adalah
untuk mencegah komplikasi perdarahan / perforasi usus. Penderita dengan
kesadaran menurun, posisi tubuhnya harus diubah-ubah pada waktu
tertentu untuk menghindari komplikasi pneumonia hipostaltik dan
dekubitus.

16
2. Diet
Dimasa lalu penderita tifoid diberi bubur saring, kemudian bubur kasar
dan akhirnya nasi sesuai tingkat kesembuhan penderita. Pemberian bubur
saring ini dimaksudkan untuk menghindari komplikasi perdarahan usus,
karena ada pendapat bahwa ulkus-ulkus perlu diistirahatkan. Banyak
penderita tidak menyukai bubur saring karena tidak sesuai dengan selera
mereka. Karena mereka hanya makan sedikit dan ini berakibat keadaan
umum dan gizi penderita semakin mundur dan masa penyembuhan
menjadi lama.
Makanan padat dini, yaitu nasi dengan lauk pauk rendah selulosa (pantang
sayuran dengan serat kasar) dapat diberikan dengan aman pada penderita
tifoid.
3. Obat
Obat obat anti mikroba yang sering dipergunakan ialah:
a. Kloramfenikol
Belum ada obat anti mikroba yang dapat menurunkan demam lebih
cepat dibandingkan dengan kloramfenikol. Dosis untuk orang dewasa
4x.500 mg sehari oral atau intravena sampai 7 hari bebas demam.
Dengan penggunan kloramfenikol, demam pada demam tifoid turun
rata-rata setelah 5 hari.
b. Tiamfenikol
Dosis dan efektivitas tiamfenikol pada demam thypid sama dengan
kloramfenikol komplikasi pada hematologis pada penggunan

17
tiamfenikol lebih jarang dari pada kloramfenikol. Dengan tiamfemikol
demam pada demam tifoid turun setelah rata-rata 5-6 hari.
c. Ko-trimoksazol (kombinasi dan sulfamitoksasol)
Dosis itu orang dewasa, 2 kali 2 tablet sehari, digunakan sampai 7 hari
bebas demam (1 tablet mengandung 80 mg trimitropin dan 400 mg
sulfametoksazol). Dengan kontrimoksazol demam pada demam tifoid
turun rata-rata setelah 5-6 hari.
d. Ampicillin dan Amoksilin
Indikasi mutlak pengunaannya adalah pasien demam thypid dengan
leokopenia. Dosis yang dianjurkan berkisar antara 75-150 mg/kg berat
badan sehari, digunakan sampai 7 hari bebas demam. Dengan
ampicillin dan amoksisilin demam pada demam tifoid turun rata-rata
setelah 7-9 hari.
e. Sefalosforin generasi ketiga
Beberapa uji klinis menunjukan sefalosporin generasi ketiga amtara
lain sefiperazon, seftriakson dan cefotaksim efektif untuk demam
thypoid, tatapi dan lama pemberian yang oktimal belum diketahui
dengan pasti.
f. Fluorokinolon
Fluorokinolon efektif untuk untuk demam thypoid, tetapi dosis dan
lama pemberian yang optimal belum diketahui dengan pasti.



18
Obat-obat Simtomatik:
a. Antipiretika
Antipiretika tidak perlu diberikan secara rutin pada setiap pasien
demam thypoid, karena tidak dapat berguna.
b. Kortikosteroid
Pasien yang toksik dapat diberikan kortikosteroid oral atau parenteral
dalam dosis yang menurun secara bertahap (Tapering off) selama 5
hari. Hasilnya biasanya sangat memuaskan, kesadaran pasien menjadi
jernih dan suhu badan cepat turun sampai normal. Akan tetapi
kortikosteroid tidak boleh diberikan tanpa indikasi, karena dapat
menyebabkan perdarahan intestinal dan relaps.

G. Komplikasi
Komplikasi yang dapat terjadi dari demam thypoid menurut Rahmat J uwono
(1996), adalah:
1. Komplikasi pada usus halus : perdarahan usus, perforasi usus, dan
peritonitis.
2. Komplikasi di luar usus halus : bronkhitis dan bronkopneumoni,
kolesistitis, thypoid ensefalopati, meningitis, miokarditis, karier kronik.

H. Pengkajian Fokus
1. Identitas
Didalam identitas meliputi nama, umur, jenis kelamin, alamat, pendidikan,
no. registrasi, status perkawinan, agama, pekerjaan, tinggi badan, berat
badan, tanggal masuk RS.

19
2. Riwayat kesehatan
a. Keluhan utama
Pada pasien Thypoid biasanya mengeluh perut merasa mual dan
kembung, nafsu makan menurun, panas dan demam.
b. Riwayat penyakit dahulu
Apakah sebelumnya pasien pernah mengalami sakit Thypoid, apakah
tidak pernah, apakah menderita penyakit lainnya.
c. Riwayat penyakit sekarang
Pada umumnya penyakit pada pasien Thypoid adalah demam,
anorexia, mual, muntah, diare, perasaan tidak enak di perut, pucat
(anemi), nyeri kepala pusing, nyeri otot, lidah tifoid (kotor), gangguan
kesadaran berupa somnolen sampai koma.
d. Riwayat kesehatan keluarga
Apakah dalam kesehatan keluarga ada yang pernah menderita Thypoid
atau sakit lainnya.
3. Pola-pola Fungsi Kesehatan
a. Pola Persepsi dan Pemeliharaan Kesehatan
Perubahan penatalaksanaan kesehatan yang dapat menimbulkan
masalah dalam kesehatannya.
b. Pola nutrisi dan metabolisme
Adanya mual dan muntah, penurunan nafsu makan selama sakit, lidah
kotor, dan rasa pahit waktu makan sehingga dapat mempengaruhi
status nutrisi tubuh.


20
c. Pola aktifitas dan latihan
Pasien akan terganggu aktifitasnya akibat adanya kelemahan fisik serta
pasien akan mengalami keterbatasan gerak akibat penyakitnya.
d. Pola istirahat dan tidur
Kebiasaan tidur pasien akan terganggu dikarenakan suhu badan yang
meningkat, sehingga pasien merasa gelisah pada waktu tidur.
e. Pola Persepsi Sensori dan Kognitif
Perubahan kondisi kesehatan dan gaya hidup akan mempengaruhi
pengetahuan dan kemampuan dalam merawat diri.
f. Pola Hubungan dengan orang lain
Adanya kondisi kesehatan mempengaruhi terhadap hubungan
interpersonal dan peran serta mengalami tambahan dalam menjalankan
perannya selama sakit.
g. Pola reproduksi dan seksualitas
Pada pola reproduksi dan seksual pada pasien yang telah atau sudah
menikah dan terjadi perubahan.
h. Persepsi diri dan konsep diri
Didalam perubahan apabila pasien tidak efektif dalam mengatasi
masalah penyakitnya.
i. Pola mekanisme koping
Stress timbul apabila seorang pasien tidak efektif dalam mengatasi
masalah penyakitnya.


21
j. Pola Nilai Kepercayaan / Keyakinan
Timbulnya distress dalam spiritual pada pasien, maka pasien akan
menjadi cemas dan takut akan kematian, serta kebiasaan ibadahnya
akan terganggu.
4. Pemeriksaan Fisik
a. Keadaan Umum
Biasanya pada pasien thypoid mengalami badan lemah, panas, pucat,
mual, perut tidak enak, anorexia.
b. Kepala dan leher
Biasanya pada pasien thypoid yang ditemukan adanya konjungtiva
anemia, mata cowong, bibir kering, lidah kotor ditepi dan ditengah
merah.
c. Dada dan abdomen
Didaerah abdomen ditemukan nyeri tekan.
d. Sistem integumen
Kulit bersih,turgor kulit menurun, pucat, berkeringat banyak.
5. Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan penunjang pada klien dengan thypoid adalah pemeriksaan
laboratorium, yang terdiri dari :
a. Pemeriksaan leukosit
Didalam beberapa literatur dinyatakan bahwa demam thypoid terdapat
leukopenia dan limposistosis relatif tetapi kenyataannya leukopenia
tidaklah sering dijumpai. Pada kebanyakan kasus demam thypoid,

22
jumlah leukosit pada sediaan darah tepi berada pada batas-batas
normal bahkan kadang-kadang terdapat leukosit walaupun tidak ada
komplikasi atau infeksi sekunder. Oleh karena itu pemeriksaan jumlah
leukosit tidak berguna untuk diagnosa demam thypoid.
b. Pemeriksaan SGOT dan SGPT
SGOT dan SGPT pada demam thypoid seringkali meningkat tetapi
dapat kembali normal setelah sembuhnya typoid.
c. Biakan darah
Bila biakan darah positif hal itu menandakan demam thypoid, tetapi
bila biakan darah negatif tidak menutup kemungkinan akan terjadi
demam thypoid. Hal ini dikarenakan hasil biakan darah tergantung dari
beberapa faktor :
1) Teknik Pemeriksaan Laboratorium
Hasil pemeriksaan satu laboratorium berbeda dengan laboratorium
yang lain, hal ini disebabkan oleh perbedaan teknik dan media
biakan yang digunakan. Waktu pengambilan darah yang baik
adalah pada saat demam tinggi yaitu pada saat bakteremia
berlangsung.
2) Saat pemeriksaan selama perjalanan penyakit
Biakan darah terhadap salmonella thypi terutama positif pada
minggu pertama dan berkurang pada minggu-minggu berikutnya.
Pada waktu kambuh biakan darah dapat positif kembali.


23
3) Vaksinasi dimasa lampau
Vaksinasi terhadap demam thypoid di masa lampau dapat
menimbulkan antibodi dalam darah klien, antibodi ini dapat
menekan bakteremia sehingga biakan darah negatif.
4) Pengobatan dengan obat anti mikroba
Bila klien sebelum pembiakan darah sudah mendapatkan obat anti
mikroba pertumbuhan kuman dalam media biakan terhambat dan
hasil biakan mungkin negatif.
d. Uji Widal
Uji widal adalah suatu reaksi aglutinasi antara antigen dan
antibodi (aglutinin). Aglutinin yang spesifik terhadal salmonella thypi
dalam serum klien dengan thypoid juga terdapat pada orang yang
pernah divaksinasikan. Antigen yang digunakan pada uji widal adalah
suspensi salmonella yang sudah dimatikan dan diolah di laboratorium.
Tujuan dari uji widal adalah untuk menentukan adanya aglutinin dalam
serum klien yang disangka menderita thypoid. Akibat infeksi oleh
salmonella thypi, klien membuat antibodi atau aglutinin yaitu :
1) Aglutinin O, yang dibuat karena rangsangan antigen O (berasal
dari tubuh kuman)
2) Aglutinin H, yang dibuat karena rangsangan antigen H (berasal
dari flagel kuman)
3) Aglutinin Vi, yang dibuat karena rangsangan antigen Vi (berasal
dari simpai kuman)

24
Dari ketiga aglutinin tersebut hanya aglutinin O dan H yang
ditentukan titernya untuk diagnosa, makin tinggi titernya makin besar
klien menderita thypoid.
Faktor-faktor yang mempengaruhi uji widal :
1) Faktor yang berhubungan dengan klien :
a) Keadaan umum : gizi buruk dapat menghambat pembentukan
antibodi
b) Saat pemeriksaan selama perjalanan penyakit : aglutinin baru
dijumpai dalam darah setelah klien sakit 1 minggu dan
mencapai puncaknya pada minggu ke-5 atau ke-6
c) Penyakit-penyakit tertentu : ada beberapa penyakit yang dapat
menyertai demam thypoid yang tidak dapat menimbulkan
antibodi seperti agamaglobulinemia, leukemia dan karsinoma
lanjut
d) Pengobatan dini dengan antibiotika : pengobatan dini dengan
obat anti mikroba dapat menghambat pembentukan antibodi
e) Obat-obatan imunosupresif atau kortikosteroid : obat-obat
tersebut dapat menghambat terjadinya pembentukan antibodi
karena supresi sistem retikuloendotelial
f) Vaksinasi dengan tipa : seseorang yang divaksinasi dengan
kotipa atau tipa, titer aglutinin O dan H dapat meningkat.
Aglutinin O biasanya menghilang setelah 6 bulan sampai 1
tahun, sedangkan titer aglutinin H menurun perlahan-lahan

25
selama 1 atau 2 tahun. Oleh sebab itu titer aglutinin H pada
orang yang pernah divaksinasi kurang mempunyai nilai
diagnostik.
g) Infeksi klien dengan klinis / subklinis oleh salmonella
sebelumnya : keadaan ini dapat mendukung hasil uji widal
yang positif, walaupun dengan hasil titer yang rendah
h) Reaksi anamnesa : keadaan dimana terjadi peningkatan titer
aglutinin terhadap salmonella thypi karena penyakit infeksi
dengan demam yang bukan thypoid pada seseorang yang
pernah tertular salmonella di masa lalu
2) Faktor-faktor Teknis
a) Aglutinasi silang : beberapa spesies salmonella dapat
mengandung antigen O dan H yang sama, sehingga reaksi
aglutinasi pada suatu spesies dapat menimbulkan reaksi
aglutinasi pada spesies yang lain
b) Konsentrasi suspensi antigen : konsentrasi ini akan
mempengaruhi hasil uji widal
c) Strain salmonella yang digunakan untuk suspensi antigen : ada
penelitian yang berpendapat bahwa daya aglutinasi suspensi
antigen dari strain salmonella setempat lebih baik dari suspensi
dari strain lain

26
I. Pathways keperawatan












Air dan makanan yang mengandung kuman Salmonela typhosa
Mulut
Saluran pencernaan
J aringan tubuh
Peradangan
Pelepasan zat pytogen
Proses termoregulasi tubuh
Peningkatan suhu tubuh
Hipermetabolisme
Output berlebihan
Defisit volume cairan
Limfoid plague payeri
Di ileum terminalis
Perdarahan dan perforasi
intestinal
Lamina propia
Kuman masuk aliran limfe
mesentrial
Menuju limfe dan hati
Kuman berkembangbiak
Peradangan usus
Nyeri tekan
Gangguan rasa
nyaman nyeri
Demam
Usus
Proses infeksi
Merangsang
peristaltik usus
Diare
Diet rendah serat
Penurunan absorbsi pada usus
Konstipasi
Perasaan tidak enak diperut,
mual, muntah, anoreksia
Intake tidak adekuat
Perubahan nutrisi kurang
dari kebutuhan
Kelemahan fisik Keterbatasan aktifitas
Tirah baring lama
Intoleransi aktifitas
(Sumber : Mansjoer, 2000)
2
6


27
J. Diagnosa Keperawatan
1. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan mual
muntah, nafsu makan menurun.
2. Defisit volume cairan berhubungan dengan output yang berlebihan.
3. Gangguan rasa nyaman: nyeri berhubungan dengan nyeri tekan
(peradangan pada usus).
4. Gangguan eliminasi BAB : konstipasi berhubungan dengan penurunan
absorpsi dinding usus.
5. Gangguan eliminasi BAB : diare berhubungan dengan absorbsi dinding
usus sekunder, infeksi salmonella thyposa.
6. Peningkatan suhu tubuh berhubungan dengan proses peradangan pada usus
halus.
7. Intoleransi aktifitas berhubungan dengan kelemahan fisik.

K. Fokus Intervensi dan Rasional
1. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan mual
muntah, nafsu makan menurun.
Tujuan : Setelah dilakukan tindakan 3x24 jam pemenuhan
kebutuhan nutrisi pasien terpenuhi.
Kriteria Hasil : BB stabil / peningkatan BB, tidak ada tanda malnutrisi,
nafsu makan meningkat.
Intervensi :
a. Timbang berat badan tiap hari.

28
Rasional : Memberikan informasi tentang kebutuhan diet /
keefektifan therapi.
b. Dorong tirah baring / pembatasan aktivitas selama fase sakit akut.
Rasional : Menurunkan kebutuhan metabolik untuk mencegah
penurunan kalori dan simpanan energi.
c. Anjurkan klien istirahat sebelum makan.
Rasional : Menenangkan peristaltik dan meningkatkan energi untuk
makan.
d. Sediakan makanan dalam ventilasi yang baik, lingkungan
menyenangkan, dengan situasi tidak terburu-buru.
Rasional : Lingkungan yang menyenangkan menurunkan stress dan
lebih kondusif untuk makan.
e. Catat masukan dan perubahan symtomologi.
Rasional : Memberikan rasa kontrol pada klien dan memberikan
kesempatan untuk memilih makanan yang diinginkan,
dinikmati, dapat meningkat masukan.
f. Berikan nutrisi parental total, therapi IV sesuai indikasi.
Rasional : Dapat mengistirahatkan saluran sementara memberikan
nutrisi penting.
2. Defisit volume cairan berhubungan dengan output yang berlebihan.
Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan 2x24 jam
kebutuhan cairan terpenuhi.
Kriteria Hasil : Mempertahankan volume cairan adekuat.

29
Intervensi :
a. Kaji tanda-tanda vital
Rasional : Hipotensi, takikardi, demam, dapat menunjukkan respon
terhadap efek kehilangan cairan.
b. Observasi kulit kering berlebihan dan membran mukosa, penurunan
turgor kulit.
Rasional : Dapat mengetahui kehilangan cairan berlebihan atau
dehidrasi.
c. Pertahankan pembatasan per oral, tirah baring, hindari kerja / batasi
aktifitas.
Rasional : Kolon diistirahatkan untuk penyembuhan dan untuk
menurunkan kehilangan cairan usus.
d. Observasi perdarahan dan tes feses tiap hari untuk adanya darah samar.
Rasional : Diet tak adekuat dan penurunan absorbsi dapat
memasukan defisiensi vitamin K dan merusak koagulasi,
potensial resiko perdarahan.
e. Berikan cairan parenteral, tranfusi darah sesuai indikasi.
Rasional : Mempertahankan istirahat usus akan memerlukan
penggantian cairan untuk memperbaiki kehilangan /
anemia.
3. Gangguan rasa nyaman, nyeri berhubungan dengan nyeri tekan
(peradangan pada usus).

30
Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan nyeri hilang /
berkurang.
Kriteria Hasil : Klien hilang / berkurang.
Klien tampak rileks.
Intervensi :
a. Dorong klien untuk melaporkan nyeri.
Rasional : Untuk dapat mentoleransi nyeri.
b. Kaji laporan kram abdomen / nyeri, catat lokasi, lamanya intensitas
(skala 0-10). Selidiki dan laporkan perubahan karakteristik nyeri.
Rasional : Nyeri selama defekasi seiring terjadi pada klien dengan
tiba-tiba dimana dapat berat dan tidak dimana dapat berat
dan terus menerus. Perubahan pada karakteristik nyeri
dapat menunjukkan penyebaran penyakit / terjadi
komplikasi.
c. Tentukan stres luar, misal keluarga, teman, lingkungan kerja / sosial.
Rasional : Stres dapat mengganggu respon saraf otonomik dan
mendukung eksasereasi penyakit. Meskipun tujuan
kemandirianlah pada klien menjadi penambah stressor.
d. Anjurkan klien istirahat / tidur yang cukup.
Rasional : Kelelahan karena penyakit cenderung menjadi masalah
berarti, mempengaruhi kemampuan mengatasinya.
e. Dorong penggunaan ketrampilan manangani stres misal teknik
relaksasi, latihan nafas dalam.

31
Rasional : Memberatkan kembali perhatian, meningkatkan relaksasi
dan meningkatkan kemampuan koping.
f. Berikan obat sesuai indikasi.
Rasional : Bantuan dalam istirahat psikologi / fisik, menghemat
energi, dan dapat menguatkan kemampuan koping.
4. Gangguan eliminasi BAB : konstipasi berhubungan dengan penurunan
absorpsi dinding usus.
Tujuan : Selama dalam perawatan kebutuhan eliminasi terpenuhi.
Kriteria Hasil : Tidak terjadi gangguan pada eliminasi, BAB kembali
normal.
Intervensi :
a. Kaji pola BAB pasien.
Rasional : Untuk mengetahui pola BAB pasien.
b. Pantau dan catat BAB setiap hari.
Rasional : Mengetahui konsistensi dari feses dan perkembangan
pola BAB pasien.
c. Pertahankan intake cairan 2-3 liter / hari.
Rasional : Memenuhi kebutuhan cairan dan membantu memperbaiki
konsistensi feses.
d. Kolaborasi dengan ahli gizi pemberian diet tinggi serat tapi rendah
lemak.
Rasional : Serat menahan enzim pencernaan dan mengabsorbsi air
dalam alirannya sepanjang traktus intestinal.

32
e. Kolaborasi dengan dokter untuk pemberian obat pencahar.
Rasional : Obat itu untuk melunakkan feses yang keras sehingga
pasien dapat defekasi dengan mudah.
5. Gangguan eliminasi BAB : diare berhubungan dengan absorbsi dinding
usus sekunder, infeksi salmonella thyposa.
Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3x24 jam
klien tidak mengalami diare, BAB normal.
Kriteria Hasil : BAB normal 1-2x/hari, konsistensi berbentuk, perut tidak
mulas.
Intervensi :
a. Kaji frekuensi, bau, warna feses.
Rasional : Untuk mengetahui adakah perdarahan.
b. Observasi tanda dehidrasi.
Rasional : Untuk mengetahui tanda dehidrasi.
c. Observasi peristaltik usus.
Rasional : Untuk mengetahui perubahan peristaltik usus.
d. Observasi / monitor intake output cairan.
Rasional : Untuk mengetahui balance cairan.
e. Anjurkan klien untuk banyak minum.
Rasional : Untuk mengganti cairan tubuh yang hilang melalui diare.
f. Hindarkan pemberian makanan / minuman yang dapat menimbulkan
diare.
Rasional : Mengurangi resiko diare.

33
6. Peningkatan suhu tubuh berhubungan dengan proses peradangan pada usus
halus.
Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan suhu tubuh
normal.
Kriteria Hasil : Suhu tubuh normal (36-37
o
C).
Intervensi :
a. Kaji peningkatan suhu.
Rasional : Suhu 38,9 menunjukkan proses penyakit infeksi akut.
b. Pantau suhu lingkugan, batasi / tambah linen tempat tidur sesuai
indikasi.
Rasional : Suhu lingkungan / jumlah selimut harus dibatasi untuk
mempertahankan suhu mendekati normal.
c. Berikan kompres air hangat, hindari penggunaan air es.
Rasional : Membantu mengurangi demam (penggunaan air es
menyebabkan peningkatan suhu secara actual).
d. Kolaborasi pemberian antipiretik.
Rasional : Digunakan untuk mengurangi demam.
7. Intoleransi aktifitas berhubungan dengan kelemahan fisik.
Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan aktifitas sehari-
hari kembali normaldan mengharapkan penurunan rasa
letih.
Kriteria Hasil : Klien melaporkan kemampuan untuk melakukan aktifitas
sehari-hari dan mengharapkan penurunan rasa letih.

34
Intervensi :
a. Kaji derajat kelemahan, perhatikan ketidakmampuan untuk
berpartisipasi dalam aktivitas sehari-hari.
Rasional : Untuk mengetahui tingkat kemampuan klien dalam
melakukan aktivitas.
b. Berikan lingkungan tenang dan periode istirahat tanpa gangguan,
dorong istirahat sebelum makan.
Rasional : Menghemat energi untuk istirahat dan regenerasi seluler /
penyambungan jaringan.
c. Dekatkan alat yang dibutuhkan klien dalam tempat yang mudah
dijangkau.
Rasional : Untuk menghemat energi klien.
d. Ajarkan teknik penghemat energi, misal lebih baik duduk daripada
berdiri, penggunaan kursi untuk mandi, dsb.
Rasional : Memaksimalkan sediaan energi untuk tugas perawatan
diri.