Anda di halaman 1dari 26

PERKEMBANGAN BAHASA PESERTA DIDIK MAKALAH

Disusun untuk tugas mata kuliah Perkembangan Peserta Didik

DISUSUN OLEH : KELOMPOK VIII ANGGOTA: 1. 06101011017 HERVIN NURANDI 2. 06101011028 SULASTRI WAHYUNINGSIH 3. 06101011030 SEPTIANA SARI DOSEN PENGASUH: Drs. ROMLI MANARUS, SU.Kons.

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS SRIWIJAYA 2011

KATA PENGANTAR
Assalamualaikum wr.wb Dengan memanjatkan puji dan syukur ke hadirat Allah swt, penyusun telah dapat menyelesaikan makalah Ilmu Sosial dan Budaya Dasar yang berjudul Perkembangan Bahasa Peserta Didik dengan tepat waktu. Tujuan utama penyusunan makalah ini adalah selain untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah Perkembangan Peserta Didik, juga untuk membantu para pembaca khususnya remaja agar lebih mengetahui tentang perkembangan bahasa sebagai alat komunikasi bagi peserta didik. Dengan demikian, diharapkan para calon pendidik dapat melaksanakan tugasnya dengan sebaik mungkin untuk menyongsong masa depan peserta didiknya sebagai generasi muda yang akan menjadi motor pengerak pembangunan bangsa di masa yang akan datang. Dalam penyusunan makalah ini penyusun mengucapkan terima kasih kepada Dosen Pengasuh Mata Kuliah Perkembangan Peserta Didik, Bapak Drs. Romli Manarus, SU.Kons., kedua orangtua kami yang senantiasa memberikan dukungan dan nasihatnya, serta sahabat-sahabat kami tercinta keluarga besar Bugafis 2010 yang selalu memberikan dukungan serta semangatnya dalam penyusunan makalah ini. Meskipun telah berusaha dengan segenap kemampuan, namun penyusun menyadari bahwa makalah ini masih belum sempurna. Oleh karena itu, segala tegur sapa, kritik, serta saran yang diberikan pembaca akan penyusun terima dengan kelapangan hati guna perbaikan pada masa yang akan datang. Akhir kata, penyusun berharap semoga makalah ini dapat memberikan manfaat bagi para pembaca. Wassalamualaikum wr.wb Palembang, April 2011

Penyusun

DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL............................................................................................... 1 KATA PENGANTAR ............................................................................................2 DAFTAR ISI ...........................................................................................................3 BAB I PENDAHULUAN 1.1 1.2 1.3 1.4 Latar Belakang.............................................................................................4 Rumusan Masalah........................................................................................5 Tujuan Penulisan..........................................................................................5 Manfaat Penulisan........................................................................................6

BAB II ISI 2.1 2.2 2.3 2.4 2.5 2.6 2.7 Pengertian Perkembangan Bahasa...............................................................7 Karakteristik Perkembangan Bahasa Remaja............................................10 Faktor-Faktor yang Mempengaruhi...........................................................14 Pengaruh Terhadap Kemampuan Berpikir.................................................17 Pengaruh Pola Asuh Terhadap Perkembangan Bahasa..............................18 Perbedaan Individual dalam Kemampuan dan Pekembangan Bahasa.......21 Implementasi Pengembangan Bahasa, Upaya serta Implikasinya dalam

Penyelenggaraan Pendidikan.................................................................................22 BAB III PENUTUP 3.1 3.2 Kesimpulan ...............................................................................................25 Saran...........................................................................................................25

DAFTAR PUSTAKA............................................................................................26

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Sasaran pendidikan adalah manusia. Pendidikan bermaksud membantu peserta didik untuk menumbuhkembangkan potensi-potensi kemanusiaannya. Potensi kemanusiaan merupakan benih kemungkinan untuk menjadi manusia seutuhnya. Tugas mendidik hanya mungkin dilakukan dengan benar dan tepat tujuan, jika pendidik memiliki gambaran yang jelas tentang siapa manusia itu sebenarnya. Manusia memiliki ciri khas yang disebut sifat hakikat manusia. Disebut sifat hakikat manusia karena secara hakiki sifat tersebut hanya dimiliki oleh manusia, yang tidak dimiliki oleh makhluk lain seperti hewan dan tumbuhan. Pemahaman pendidik terhadap sifat hakikat manusia akan membentuk peta karakteristik manusia. Peta ini akan menjadi landasan serta memberi acuan bagi pendidik dalam bersikap, menyusun strategi, metode, dan teknik, serta memilih pendekatan dan orientasi dalam merancang dan melaksanakan komunikasi transaksional di dalam interaksi edukatif. Dengan kata lain, dengan menggunakan peta tersebut sebagai acuan pendidik tidak mudah terkecoh ke dalam bentuk-bentuk transaksional yang patalogis dan berakibat merugikan peserta pendidik sebagai subjek didik. Sebagai seorang calon pendidik hendaknya harus melaksanakan tugas sebaik mungkin. Karena pendidikan merupakan modal utama bangsa untuk menyongsong masa depan generasi muda yang akan menjadi motor penggerak pembangunan bangsa di masa yang akan datang. Mengingat begitu pentingnya pendidikan, maka para calon pendidik diharapkan dapat mengetahui dan memahami proses perkembangan peserta didik yang meliputi perkembangan intelek, emosional, nilai, moral, sikap, sosial dan bahasa yang terdapat pada peserta didik. Dalam hal ini akan membahas mengenai perkembangan bahasa peserta didik.

Proses perkembangan bahasa peserta didik, meliputi: pengertian perkembangan bahasa, karakteristik, faktor-faktor yang mempengaruhi, pengaruh kemampuan berbahasa terhadap kemampuan berpikir, perbedaan individual dalam kemampuan dan perkembangan bahasa serta upaya pengembangan kemampuan bahasa remaja dan implikasinya dalam penyelenggaraan pendidikan.

1.2

Rumusan Masalah Beberapa rumusan masalah dalam makalah ini diantaranya:

1) Apa pengertian perkembangan bahasa? 2) Bagaimana karakteristik perkembangan bahasa remaja? 3) Faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi perkembangan bahasa? 4) Apa pengaruh kemampuan berbahasa terhadap kemampuan berpikir? 5) Bagaimana perbedaan individual dalam kemampuan dan perkembangan bahasa? 6) Apa saja upaya pengembangan kemampuan bahasa remaja dan implikasinya dalam penyelenggaraan pendidikan?

1.3 Tujuan Penulisan Adapun tujuan dalam penyusunan makalah diantaranya: 1) Penulis dapat menjelaskan tentang pengertian perkembangan bahasa. 2) Penulis dapat menjelaskan tentang karakteristik perkembangan bahasa remaja. 3) Penulis dapat menjelaskan tentang faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi perkembangan bahasa. 4) Penulis dapat menjelaskan tentang pengaruh kemampuan berbahasa terhadap kemampuan berpikir. 5) Penulis dapat menjelaskan tentang perbedaan individual dalam kemampuan dan perkembangan bahasa. 6) Penulisan dapat menjelaskan tentang upaya pengembangan kemampuan bahasa remaja dan implikasinya dalam penyelenggaraan pendidikan.

1.4 Manfaat Penulisan Adapun manfaat penulisan makalah ini adalah sebagai berikut. 1) Manfaat untuk mahasiswa Penulis melakukan penulisan makalah ini diharapkan dapat bermanfaat bagi para mahasiswa, diantaranya dapat dijadikan sebagai salah satu solusi yang bisa menjembatani permasalahan yang dialami peserta didik mengenai proses perkembangannya terutama perkembangan bahasa , sehingga nantinya dapat mengurangi dampak negatif dari perkembangan peserta didik yang menyimpang tersebut ketika akan menjadi seorang calon pendidik.

2) Manfaat untuk penulis Manfaat untuk penulis yaitu memperluas wawasan dan pengetahuan tentang perkembangan peserta didik, terutama perkembangan bahasa sebagai bahan acuan dalam pembuatan makalah selanjutnya. serta

3) Manfaat untuk penulis selanjutnya Manfaat penulisan makalah ini untuk penulis selanjutnya adalah dapat digunakan sebagai contoh dalam pembuatan makalah yang akan datang.

BAB II ISI
2.1 Pengertian Perkembangan Bahasa Bahasa (language) merupakan suatu bentuk komunikasi, baik lisan, tertulis, maupun isyarat yang didasarkan pada sebuah sistem simbol. Bahasa terdiri atas kata kata yang digunakan oleh masyarakat (perbendaharaan kata) dan aturan aturan untuk memvariasikan dan mengombinasikan kata kata tersebut (tata bahasa dan sintaksis). Semua bahasa manusia mempunyai sejumlah karakteristik yang umum (Waxman & Lidz, 2006). Karakteristik tersebut meliputi generativitas yang tidak terbatas dan aturan aturan organisasional. Generativitas yang tidak terbatas (infinite generativity) adalah kemampuan untuk menghasilkan kalimat bermakna yang tidak terbatas jumlahnya dengan menggunakan serangkaian kata kata dan aturan yang tidak terbatas. Sesuai dengan fungsinya, bahasa merupakan alat komunikasi yang digunakan oleh seseorang dalam pergaulannya atau hubungannya dengan orang lain. Bahasa merupakan alat bergaul. Oleh karena itu, penggunaan bahasa menjadi efektif sejak seorang individu memerlukan berkomunikasi dengan orang lain. Sejak seorang bayi mulai berkomunikasi dengan orang lain, sejak itu pula bahasa diperlukan. Sejalan dengan perkembangan hubungan sosial, maka perkembangan bahasa seseorang dimulai dengan meraba (suara atau bunyi tanpa arti) dan diikuti dengan bahasa satu suku kata, dua suku kata, menyusun kalimat sederhana, dan seterusnya melakukan sosialisasi dengan menggunakan bahasa yang kompleks sesuai dengan tingkat perilaku sosial. Bahasa melibatkan lima sistem aturan yaitu fonologi, morfologi, sintaksis, semantik dan pragmatik. Fonologi (phonology) adalah sistem bunyi dari sebuah bahasa, termasuk bunyi yang digunakan dan bagaimana bunyi bunyi tersebut dapat dikombinasikan (Menn & Stoel-Gammon, 2005). Fonem adalah satuan dasar dari bunyi dalam sebuah bahasa, fonem adalah satuan terkecil dari bunyi yang mempengaruhi makna. Morfologi (morphology) merujuk pada satuan makna yang terlibat dalam pembentukan kata. Morfem adalah satuan minimal dari 7

makna, morfem adalah sebuah kata atau bagian dari sebuah kata yang tidak dapat dipecah menjadi bagian yang lebih kecil yang mempunyai makna. Sintaksis (syntax) melibatkan cara mengombinasikan kata kata untuk menyusun frase dan kalimat yang dapat diterima. Semantik (semantics) merujuk pada makna kata dan kalimat. Setiap kata mempunyai seperangkat ciri ciri semantik atau atribut atribut yang dibutuhkan terkait dengan makna. Pragmatik (pragmatics) merupakan sistem dari penggunaan percakapan dan pengetahuan yang sesuai, mengenai bagaimana menggunakan bahasa secara efektif dalam konteks. Terkait dengan pengaruh Biologis dan Lingkungan, seorang ahli bahasa terkenal, Noam Chomsky (1957) menyatakan bahwa manusia mempunyai susunan syaraf dan otak untuk belajar bahasa pada waktu tertentu dan dalam cara tertentu. Beberapa ahli bahasa melihat adanya kemiripan yang luar biasa dalam cara anak anak menyerap bahasa diseluruh dunia, meskipun ada variasi yang sangat luas dalam input bahasa yang diterima, sebagai bukti kuat bahwa bahasa mempunyai dasar biologis. Anak anak juga bervariasi dalam akuisisi bahasa mereka dengan cara yang tidak dapat dijelaskan oleh faktor lingkungan saja. Roger Brown (1973), seorang pelopor peneliti bahasa, mencari bukti bahwa orang tua mendorong anak anak mereka untuk berbicara dengan tata bahasa yang benar. Ia menemukan bahwa pada orang tua kadang tersenyum dan memuji anak anak mereka karena mengucapkan kalimat kalimat yang gramatikal, tetapi mereka juga menguatkan kalimat kalimat yang tidak gramatikal. Brown menyimpulkan bahwa proses proses yang terjadi di dalam seorang anak lebih penting daripada penguatan faktor lingkungan. Perkembangan bahasa dapat dipelajari dalam kejadian pada masa bayi, masa kanak kanak awal, pertengahan dan akhir masa anak anak, serta masa remaja. Masa Bayi, pengenalan bahasa mengalami kemajuan melalui sejumlah kejadian dalam masa bayi (Edwards, 2004; Waxman & Lidz, 2006). Celotehan dimulai pada usia 3-6 bulan. Bayi biasanya mengutarakan kata pertama mereka pada usia 10-13 bulan. Pada usia 18-24 bulan, bayi biasanya telah mulai merangkai dua kata bersama sama. Masa Kanak kanak Awal, seiring anak anak meninggalkan tahapan dua kata, mereka bergerak lebih cepat ke dalam

kombinasi tiga, empat, dan lima kata. Transisi dari kalimat sederhana untuk mengekspresikan proposi tunggal menjadi kalimat kompleks, dimulai antara umur 2-3 tahun dan berlanjut ke tahun tahun sekolah dasar (Bloom, 1998). Perubahan substansial dalam pragmatik terjadi selama masa kanak kanak awal. Sekitar umur 3 tahun, anak anak meningkatkan kemampuan mereka untuk berbicara mengenai hal hal yang tidak hadir secara fisik. Artinya, mereka mengalami kemajuan dalam penguasaan atas karakteristik - karakteristik bahasa yang dikenal sebagai pemindahan (displacement). Masa Kanak kanak Pertengahan dan Akhir, perkembangan perbendaharaan kata-kata terus berlanjut pada tingkat yang sangat mengagumkan, bagi sebagian besar anak pada usia usia sekolah dasar. Anak anak menjadi semakin mampu untuk memahami dan menggunakan tata bahasa yang kompleks. Kesadaran metalinguistik (metalinguistic awareness) juga meningkat selama tahun tahun sekolah dasar. Kesadaran metalinguistik merujuk pada pengetahuan mengenai bahasa, yang memungkinkan anak anak untuk berpikir mengenai bahasa mereka, mamahami apakah kata itu, dan bahkan mendefinisikannya (Berko Gleason, 2005, hal. 4). Anak anak juga membuat kemajuan dalam memahami bagaimana cara menggunakan bahasa dalam cara yang sesuai kultural-pragmatik. Masa Remaja, perkembangan bahasa selama masa remaja meliputi peningkatan kompleksitas dalam penggunaan kata kata. Seiring dengan berkembangnya pemikiran abstrak, remaja menjadi jauh lebih baik dibandingkan anak anak dalam menganalisis fungsi yang dimainkan sebuah kata dalam sebuah kalimat. Remaja juga mengembangkan kemampuan yang lebih cerdik dalam menggunakan kata kata. Pada masa remaja, perubahan bahasa meliputi penggunaan kata yang lebih efektif, peningkatan dalam kemampuan untuk memahami metafora, sindiran, dan karya sastra orang dewasa, serta menulis. Perkembangan bahasa terkait dengan perkembangan kognitif, yang berarti faktor intelek atau kognisi sangat berpengaruh terhadap perkembangan berbahasa. Bayi, tingkat intelektualnya belum berkembang dan masih sangat sederhana. Semakin bayi itu tumbuh dan berkembang serta mulai mampu memahami lingkungan, maka bahasa mulai berkembang dari tingkat yang sangat sederhana

menuju ke bahasa yang kompleks. Perkembangan bahasa dipengaruhi oleh lingkungan, karena bahasa pada dasarnya merupakan hasil belajar dari lingkungan. Anak belajar bahasa seperti halnya belajar hal yang lain, meniru dan mengulang hasil yang telah didapatkan merupakan cara belajar bahasa awal. Anak belajar menambah kata-kata dengan meniru bunyi-bunyi yang didengarkannya. memperjelas. Bahasa memegang peranan penting dalam kehidupan bermasyarakat. Perkembangan bahasa dimulai dari tingkat yang sederhana yang didasari oleh kebutuhan yang sederhana. Semakin dewasa, kebutuhan manusia menjadi kompleks. Dengan demikian, tingkat perkembangan bahasa juga berkembang dari tingkat yang sangat sederhana menuju ke bahasa yang kompleks . Pada jenjang perkembangan remaja, seorang remaja bukan saja memerlukan orang lain demi memenuhi kebutuhan pribadinya, tetapi mengandung maksud untuk disimpulkan bahwa pengertian perkembangan bahasa adalah meningkatnya kemampuan penguasaan alat komunikasi, baik alat komunikasi lisan, tertulis, maupun menggunakan tanda-tanda isyarat. Mampu dan menguasai alat komunikasi di sini diartikan sebagai upaya seseorang untuk dapat memahami dan dipahami oleh orang lain. Manusia dewasa di sekelilingnya membetulkan dan

2.2 Karakteristik Perkembangan Bahasa Remaja Bahasa remaja adalah bahasa yang telah berkembang. Anak remaja telah banyak belajar dari lingkungan, dan dengan demikian bahasa remaja terbentuk oleh kondisi lingkungan. Lingkungan remaja mencakup lingkungan keluarga, masyarakat, dan khususnya pergaulan teman sebaya dan lingkungan sekolah. Pola Bahasa yang dimiliki adalah bahasa yang berkembang di dalam keluarga atau bahasa ibu. Perkembangan bahasa remaja dilengkapi dan diperkaya oleh lingkungan masyarakat di mana mereka tinggal. Hal ini berarti proses pembentukan kepribadian yang dihasilkan dari pergaulan dengan masyarakat sekitar akan

10

memberi ciri khusus dalam perilaku berbahasa. Bersamaan dengan kehidupannya di dalam masyarakat luas, anak (remaja) mengikuti proses belajar di sekolah. Sebagaimana diketahui, di lembaga pendidikan diberikan rangsangan yang terarah sesuai dengan kaidah-kaidah yang benar. Proses pendidikan bukan memperluas dan memperdalam cakrawala ilmu pengetahuan semata, tetapi juga secara berencana merekayasa perkembangan sistem budaya, termasuk perilaku berbahasa. Pengaruh pergaulan di dalam masyarakat (teman sebaya) terkadang cukup menonjol, sehingga bahasa anak (remaja) menjadi lebih diwarnai pola bahasa pergaulan yang berkembang di dalam kelompok sebaya. Dari kelompok itu berkembang bahasa sandi, bahasa kelompok yang bentuknya amat khusus. Bahasa prokem tercipta secara khusus untuk kepentingan khusus pula. Pengaruh lingkungan yang berbeda antar keluarga, masyarakat, dan sekolah dalam perkembangan bahasa, akan menyebabkan perbedaan antar anak yang satu dengan yang lain. Hal ini ditunjukkan oleh pemilihan dan penggunaan kosakata sesuai dengan tingkat sosial keluarganya. Keluarga dari masyarakat lapisan berpendidikan rendah atau buta huruf, akan menggunakan bahasa pasar, bahasa sembarangan, dengan istilah-istilah yang kasar. Masyarakat terdidik yang pada umumnya memiliki status sosial lebih baik, akan menggunakan istilahistilah lebih efektif, dan pada umumnya anak-anak remajanya juga akan berbahasa secara lebih baik pula. Dalam perkembangannya, secara umum komunikasi dapat dilakukan dengan 2 cara, yaitu bahasa tubuh (body language) dan bicara (speech). a. Bahasa Tubuh Bahasa tubuh adalah cara seseorang berkomunikasi dengan

mempergunakan bagian-bagian dari tubuh, yaitu melalui gcrak isyarat, ekspresi wajah. sikap tubuh, langkah serta gaya tersebut pada umumnya disebut bahasa tubuh. Bahasa tubuh sering kali dilakukan tanpa disadari. Sebagaimana fungsi bahasa Iain, bahasa tubuh juga merupakan ungkapan komunikari anak yang paling nyata, knrena merupakan ekspresi perasaan serta keinginan mereka terhadap orang lain, misalnya terhadap orang tua (ayah dan ibu) saudara dan orang lain yang d.ipat mememihi atau mengcrti akan pikiran anak. Melalui bahasa tubuh

11

anak, orang tua dapat mtmpclnjari apaknh anaknya mcnangis knrena lapar, sakit, kcsepian atau bosan pada waklu tcrtcntu. b. Bicara Bicara merupakan salah satu alat komunikasi yang paling efektif. Semenjak anak masih bayi string kali menyadari bahwa dengan mempergunakan bahasa tubuh dapat terpenuhi kebutuhannya. Namun hal tersebut kurang mengerti apa yang dimaksud oleh anak. Oleh karena itu baik bayi maupun anak kecil stlalu berusaha agar orang lain mengcrti maksudnya. Hal ini yang mendorong orang untuk belajar berbicara dan membuktikan bahwa berbicara merupakan alat komunikasi yang paling efektif dibandingkan dengan bentuk-bcntuk komunikasi yang lain yang dipakai anak sebelum pandai berbicara. Oleh karena bagi anak bicara tidak sekedar merupakan prestasi akan tetapi juga birfungsi untuk mencapai tujuannya, misalnya: 1) Sebagai pemuas kebutuhan dan keinginan Dengan berbicara anak mudah untuk mcnjclaskan kebtitihan dan keinginannya tanpa harus menunggu orang lain mengerti tangisan, gerak tubuh atau ekspresi wajahnya. Dengan demikian kemampuan berbicara dapat mengurangi frustasi anak yang disebabkan oleh orang tua atau lingkungannya tidak mengerti apa saja yang dimaksudkan oleh anak. 2) Sebagai alat untuk menarik perhatian orang lain Pada umumnya setiap anak merasa senang menjadi pusat perhatian orang lain. Dengan melalui keterampilan berbicara anak berpendapat bahwa perhatian Orang lain terhadapnya mudah diperoleh melalui berbagai pertanyaan yang diajukan kepada orang tua misalnya apabila anak dilarang mengucapkan kata-kata yang tidak pantas. Di samping itu berbicara juga dapat untuk menyatakan berbagai ide, sekalipun sering kali tidak masuk akal-bagi orang tua, dan bahkan dengan mempergunakan keterampilan berbicara anak dapat mendominasi situasi sehingga terdapat komunikasi yang baik antara anak dengan teman bicaranya. 3) Sebagai alat untuk membina hubungan sosial Kemampuan anak berkomunikasi dengan orang lain merupakan syarat penting untuk dapat menjadi bagian dari kelompok di lingkungannya. Dengan

12

keterampilan berkomunikasi anak-anak Icbih mudah diterima oleh kelompok sebayanya dan dapat mempcroleh kescmpatan Icbih banyak untuk mendapat peran sebagai pcmimpin dari suatu kelompok, jika dibandingkan dengan anak yang kurang terampil atau tidak memiliki kemampuan berkomunikasi dengan baik. 4) Scbagai alat untuk mengevaluasi diri sendiri Dari pernyataan orang lain anak dapat mengetahui bagaimana perasaan dan pendapat orang tersebut terhadap sesuatu yang telah dikatakannya. Di samping anak juga mendapat kesan bagaimana lingkungan menilai dirinya. Dengan kata lain anak dapat mengevaluasi diri mclalui orang lain. 5) Untuk dapat mcmpengaruhi pikiran dan peiasaan orang lain Anak yang suka,berkomentar, menyakiti atau mengucapkan sesuatu yang tidak menyenangkan tentang orang lain dapat menyebabkan anak tidak populer atau tidak disenangi lingkungannya. Sebaliknya bagi anak yang suka mcngucapkan kata-kata yang menyenangkan dapat merupakan medal utama .bagi anak agar diterima dan mendapat simpati dari lingkungannya. 6) Untuk mempengaruhi perilaku orang lain Dengan kemampuan berbicara dengan baik dan penuh rasa percaya diri anak dapat mempengaruhi orang lain atau teman sebaya yang berperilaku kurang baik menjadi teman yang bersopan santun. Kemampuan dan keterampilan berbicara dengan baik juga dapat merupakan modal utama bagi anak untuk menjadi pemimpin di lingkungan karena teman sebryanya menaruh kepercayaan dan simpatik kepadanya. Sedangkan diantaranya. 1) Kematangan alat berbicara Kemampuan berbicara juga tergantung pada kematangan alat-alat berbicara. Misalnya tenggorokan, langit-langit, lebar rongga mulut dan Iain-lain dapat mempengaruhi kematangan berbicara. Alat-alat tersebut baru dapat berfungsi dengan baik setelah sempirpa dan dapat membentuk atau memproduksi suatu kata dengan baik scbagai permulaan berbicara. 2) Kesiapan berbicara potensi anak berbicara didukung oleh beberapa hal,

13

Kesiapan mental anak sangat berganrung pada pertumbuhan dan kematangan otak. Kesiapan dimaksud biasanya dimnlai sejak anak berusia antara 12-18 bulan, yang discbut teachable moment dari perkembangan bicara. Pada saat inilah anak betul-betul sudah siap untuk belajar. bicara yang sesungguhriya. Apabila tidak ada gangguan anak akan segera dapat berbicara sekalipun belum jelas maksudnya. 3) Kesempatan berlatih Apabila anak kurang mendapatkan latihan keterampilan berbicara akan timbul frustasi dan bahkan sering kali marah yang tidak dimengerti penyebabnya oleh orang tua atau lingkungannya. Pada gilirannya anak kurang memperoleh motivasi untuk belajar berbicara yang pada umumnya disebut anak ini lamban bicaranya.

2.3 Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Berbahasa erat kaitannya dengan kondisi pergaulan. Oleh sebab itu, perkembangannya dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu: umur anak, kondisi lingkungan, kecerdasan anak, status sosial ekonomi keluarga, kondisi fisik anak, kognisi (proses memperoleh pengetahuan), pola komunikasi dalam keluarga, jumlah anak atau jumlah keluarga, posisi urutan kelahiran, kedwibahasaan (pemakaian dua bahasa). a. Umur Anak Manusia bertambah umur akan semakin bertambah matang pertumbuhan fisiknya, bertambah pengalaman, dan meningkat kebutuhannya. Bahasa seseorang akan berkembang sejalan dengan pertambahan pengalaman dan kebutuhannya. Faktor fisik akan ikut mempengaruhi sehubungan semakin sempurnanya pertumbuhan organ bicara, kerja otot-otot untuk melakukan gerakan-gerakan dan isyarat. Pada masa remaja perkembangan biologis yang menunjang kemampuan berbahasa telah mencapai tingkat kesempurnaan. Dengan dibarengi oleh perkembangan tingkat intelektual anak akan mampu menunjukkan cara berkomunikasi dengan baik.

14

b. Kondisi Lingkungan Lingkungan tempat anak tumbuh dan berkembang memberi andil yang cukup besar dalam berbahasa. Perkembangan bahasa di lingkungan perkotaan akan berbeda dengan di lingkungan pedesaan. Begitu pula perkembangan bahasa di daerah pantai, pegunungan, dan daerah- daerah terpencil dan di kelompok sosial yang lain. c. Kecerdasan Anak Untuk meniru lingkungan tentang bunyi atau suara, gerakan, dan mengenal tanda-tanda, memerlukan kemampuan motorik yang baik. Kemampuan motorik seseorang berkorelasi positif dengan kemampuan intelektual atau tingkat berpikir. Ketepatan meniru, memproduksi pembendaharaan kata-kata yang diingat, kemampuan menyusun kalimat dengan baik, dan memahami maksud suatu pernyataan pihak lain, amat dipengaruhi oleh kerja pikir atau kecerdasan seorang anak. d. Status Sosial Ekonomi Keluarga Keluarga yang berstatus sosial ekonomi baik akan mampu menyediakan situasi yang baik bagi perkembangan bahasa anak-anak dan anggota keluarganya. Rngsangan untuk dapat ditiru oleh anak-anak dari anggota keluarga yang berstatus sosial tinggi berbeda dengan keluarga yang berstatus sosial rendah. Hal ini akan lebih tampak perbedaan perkembangan bahasa anak yang hidup di dalam keluarga terdidik dan tidak terdidik. Dengan kata lain pendidikan keluarga berpengaruh pula terhadap perkembangan bahasa. e. Kondisi Fisik Kondisi fisik di sini dimaksudkan kondisi kesehatan anak. Seseorang yang cacat yang terganggu kemampuannya untuk berkomunikasi seperti bisu, tuli, gagap, atau organ suara tidak sempurna akan mengganggu perkembangan berkomunikasi dan tentu saja akan menggangu perkembangannya dalam berbahasa. f. Kognisi (Proses Memperoleh Pengetahuan) Tinggi rendahnya kemampuan kognisi individu akan mempengaruhi cepat lambatnya perkembangan bahasa individu. Ini relevan dengan pembahasan

15

sebelumnya bahwa terdapat korelasi yang signifikan antara pikiran dengan bahasa seseorang. g. Pola Komunikasi Dalam Keluarga Dalam suatu keluarga yang pola komunikasinya banyak arah akan mempercepat perkembangan bahasa keluarganya. Keluarga yang menerapkan komunikasi partisipatif akan menghasilkan tipe kepribadian anak yang memiliki kreativitas dan menghargai orang lain. Sedangkan komunikasi represif akan menghasilkan kepribadian anak yang menunggu perintah dan kurang memiliki inisiatif. Dengan demikian, kemampuan berbahasa pada anak dalam keluarga yang menerapkan komunikasi partisifatif akan lebih cepat berkembang daripada anak dalam keluarga yang menerapkan komunikasi represif. h. Jumlah Anak Atau Jumlah Keluarga Suatu keluarga yang memiliki banyak anggota keluarga, perkembangan bahasa anak lebih cepat, karena terjadi komunikasi yang bervariasi dibandingkan dengan yang hanya memiliki anak tunggal dan tidak ada anggota lain selain keluarga inti. i. Posisi Urutan Kelahiran Perkembangan bahasa anak yang posisi kelahirannya di tengah akan lebih cepat ketimbang anak sulung atau anak bungsu. Hal ini disebabkan anak sulung memiliki arah komunikasi ke bawah saja dan anak bungsu hanya memiliki arah komunikasi ke atas saja. j. Kedwibahasaan (Pemakaian dua bahasa) Anak yang dibesarkan dalam keluarga yang menggunakan bahasa lebih dari satu atau lebih bagus dan lebih cepat perkembangan bahasanya ketimbang yang hanya menggunakan satu bahasa saja karena anak terbiasa menggunakan bahasa secara bervariasi. Misalnya, di dalam rumah dia menggunakan bahasa sunda dan di luar rumah dia menggunakan bahasa Indonesia. Dalam bukunya Psikologi Perkembangan Anak dan Remaja Syamsu Yusuf mengatakan bahwa perkembangan bahasa dipengaruhi oleh 5 faktor, yaitu: faktor kesehatan, intelegensi, status sosial ekonomi, jenis kelamin, dan hubungan keluarga. Karakteristik perkembangan bahasa remaja sesungguhnya didukung oleh

16

perkembangan kognitif yang menurut Jean Piaget telah mencapai tahap operasional formal. Sejalan dengan perkembangan kognitifnya, remaja mulai mampu mengaplikasikan prinsip-prinsip berpikir formal atau berpikir ilmiah secara baik pada setiap situasi dan telah mengalami peningkatan kemampuan dalam menyusun pola hubungan secara komperhensif, membandingkan secara kritis antara fakta dan asumsi dengan mengurangi penggunaan symbol-simbol dan terminologi konkret dalam mengomunikasikannya.

2.4 Pengaruh Terhadap Kemampuan Berpikir Kemampuan berbahasa dan kemampuan berpikir saling berpengaruh satu sama lain. Bahwa kemampuan berpikir berpengaruh terhadap kemampuan berbahasa dan sebaliknya, kemampuan berbahasa berpengaruh terhadap kemampuan berpikir. Seseorang yang rendah kemampuan berpikirnya akan mengalami kesulitan dalam menyusun kalimat yang baik, logis, dan sistematis. Hal ni akan berakibat sulitnya berkomunikasi, bahkan dapat sering terjadi misscomunication (kesalahan komunikasi). Bersosialisasi berarti melakukan konteks dengan yang lain. Seseorang menyampaikan ide dan gagasannya dengan berbahasa dan menangkap ide dan gagasan orang lain melalui bahasa. Menyampaikan dan mengambil makna ide dan gagasan itu merupakan proses berpikir yang abstrak. Ketidaktepatan menangkap arti bahasa akan berakibat ketidaktepatan dan kekaburan persepsi yang diperolehnya. Akibat lebih lanjut adalah bahwa hasil proses berpikir menjadi tidak tepat benar. Ketidaktepatan hasil pemrosesan pikir ini diakibatkan

kekurangmampuan dalam bahasa. Seseorang yang memiliki kemampuan bahasa yang baik memiliki kecenderungan kemampuan berpikir yang baik pula, begitupun sebaliknya terhadap seseorng yang memiliki kemampuan bahasa yang kurang baik memiliki kecenderungan kemampuan berpikir yang kurang baik.

17

2.5 Pengaruh Pola Asuh Terhadap Perkembangan Bahasa Setiap insan memiliki potensi yang sama untuk menguasai bahasa. Proses dan sifat penguasaan bahasa setiap orang berlangsung dinamis dan melalui tahapan berjenjang. Dalam hal ini dikenal dua istilah yakni pemerolehan dan pembelajaran bahasa. Kridalaksana (2001: 159) mendefinisikan pemerolehan bahasa (language acquisition) sebagai proses pemahaman dan penghasilan bahasa pada manusia melalui beberapa tahap, mulai dari meraban sampai kefasihan penuh; sedangkan pembelajaran bahasa (language learning) diartikan sebagai proses dikuasainya bahasa sendiri atau bahasa lain oleh seorang manusia. Krashen (dalam Johnson & Johnson, 1999: 4) menyifati pemerolehan sebagai proses alami yang berlangsung tanpa adanya perhatian secara sadar terhadap bentuk-bentuk linguistis; kondisi minimal pemerolehan ialah partisipasi dalam situasi komunikasi yang alami. Adapun pembelajaran merupakan proses yang terjadi secara sadar yang oleh Krashen ditandai dengan dua karakteristik: adanya umpan balik dan pengisolasian kaidah. Sebagian ahli mengeritik gagasan Krashen karena dianggap tidak mampu membedakan kedua proses tersebut secara memuaskan (Johnson & Johnson, 1999: 4). Terlepas dari itu, para ahli bersepakat bahwa aspek yang terpenting dalam pemerolehan bahasa adalah fungsi bahasa. Salah satu fungsi bahasa adalah alat berkomunikasi. Karena itu, seseorang yang sering menggunakan bahasa untuk berkomunikasi akan semakin tinggi tingkat kompetensi dan performansinya. Dengan kata lain, faktor interaksi akan lebih menentukan keberhasilan seseorang dalam penguasaan bahasa. Secara mentali, pemerolehan bahasa bisa dimulai sejak bayi masih berada dalam kandungan. Sang ibu bisa mengajak bayi berkomunikasi tentang hal yang positif. Kontak batin antara ibu dan janin akan tercipta dengan baik bila kondisi psikis ibu dalam keadaan stabil. Keharmonisan yang terjalin lewat komunikasi bisa memengaruhi kejiwaan anak. Orangtua bisa mengajak anak bercerita tentang kebesaran Sang Pencipta dan alam ciptaan-Nya; mengenalkannya pada kicau burung, kokok ayam, rintik hujan, desir angin; memperdengarkan Kalam Ilahi atau membacakan kisah-kisah bijak. Yudibrata dkk. (1998: 65-72) menjelaskan bahwa selama bulan-bulan pertama pascalahir atau sebelum seorang anak

18

mempelajari

kata-kata

yang

cukup

untuk

digunakan

sebagai

sarana

berkomunikasi, anak secara kreatif terlebih dahulu akan menggunakan empat bentuk komunikasi prabicara (preespeech). Keempat prabicara itu adalah tangisan, ocehan/celoteh/meraban, isyarat, dan ungkapan emosional. Menurut para pakar, perkembangan pemerolehan bahasa pada anak sangat berhubungan dengan kematangan neuromoskularnya yang kemudian dipengaruhi oleh stimulus yang diperolehnya setiap hari (Yudibrata, 1998: 72-73). Awalnya, tidak ada kontrol terhadap pola tingkah laku termasuk tingkah laku verbalnya. Vokal anak dan otototot bicaranya bergerak secara refleks. Pada bulan-bulan pertama otaknya berkembang dan mengatur mekanisme saraf sehingga gerakan refleks tadi sudah dapat dikontrol. Refleks itu berhubungan dengan gerakan lidah atau mulut. Misalnya, anak akan mengedipkan mata kalau melihat cahaya yang berubah-ubah atau bibirnya akan bergerak-gerak ketika ada sesuatu disentuhkan ke bibirnya. Selanjutnya, dalam rangka memerikan perkembangan pemerolehan bahasa, Stork dan Widdowson (dalam Yudibrata, 1998: 73) membedakan antara kematangan menyimak (receptive language skills) dan kematangan mengeluarkan bunyi bahasa atau berbicara (expressive language skills). Seiring dengan perkembangannya, anak akan mencari dan menemui wahana lain yang membuka peluang lebih untuk mengekspresikan keterampilan yang telah ada. Mengenal dunia baru melalui bahasa nonverbal ini akan atau bisa menjadi keasyikan tersendiri bagi anak. Adanya perpustakaan mini di salah satu sudut ruang rumah akan memancing anak untuk mengunjungi wisata ilmu. Dengan buku, anak mempunyai berbagai perspektif atau sudut pandang yang luas mengenai suatu objek. Untuk permulaan, orangtua bisa memilih buku yang sesuai dengan usia perkembangan dan daya nalar anak. Jika anak memunyai ketertarikan pada sebuah buku, maka berikanlah selama muatan buku tersebut masih wajar bagi anak. Jika anak menanyakan sesuatu yang terdapat di dalam buku, maka jawablah dengan menggunakan bahasa yang mudah dipahami anak. Keterlibatan orangtua dengan mendemontrasikan kegiatan membaca di depan anak merupakan stimulus yang baik bagi anak. Sesuai dengan naluri anak yang memiliki

19

kecenderungan ingin meniru hal yang orang lain lakukan, hendaknya hal yang menjadi refleksi sikap anak adalah sesuatu yang bernilai positif. Jika anak ingin mengolaborasikan keterampilan ini dengan menyimak dan berbicara, berilah kesempatan kepadanya untuk menjadi seorang pembaca ulung, sekalipun terhadap boneka-bonekanya. Hal ini tidak akan menjadi kebiasaan karena hanya bersifat temporal. Pada dasarnya anak ingin melakukan interaksi dengan sesuatu yang bisa memengaruhi atau dipengaruhinya. Keterampilan tertinggi dalam keterampilan berbahasa adalah keterampilan menulis. Ini merupakan produk akhir dari keterampilan sebelumnya. Dengan menulis, anak bisa mengekspresikan hasil menyimak, berbicara, dan membacanya ke dalam sebuah tulisan. Orangtua bisa melatih keterampilan anak dengan memberi rangsangan berupa poster aksi yang bisa mendorong minat anak untuk merespon dengan mencoba meniru objek yang sudah ada. Pada usia pertumbuhan, pemahaman anak tentang bahasa masih berada dalam tahap abstrak. Misalnya, ketika mendengar kata anjing, yang terekam dalam skemata anak adalah anjing menggonggong. Pada tahap ini pandangan anak terhadap kata belum meluas pada penganalogian, masih terbatas pada apa yang terlihat atau terdengar. Berilah pengertian tentang satu contoh tulisan dengan objek benda yang berwujud dan bisa dibayangkan oleh imajinasi anak. Misalnya, menganalogikan huruf vokal <o> dengan sebuah kue donat. Cara demikian akan mempermudah pemahaman anak sekaligus membantu mengasah daya ingatnya. Pola asuh seperti dipaparkan di atas akan berhasil bilamana orangtua mampu menciptakan lingkungan yang kondusif bagi perkembangan bahasa anak. Para ahli sepakat bahwa pemerolehan bahasa sangat dipengaruhi oleh penggunaan bahasa sekitar. Dengan kata lain, perjalanan pemerolehan bahasa seorang anak akan sangat bergantung pada lingkungan bahasa anak tersebut (Yudibrata, 1998: 65). Sebelum anak memasuki lingkungan sosial yang lebih luas, masa bermain dan bersekolah, lingkungan keluarga seyogianya bisa menjadi arena yang menyenangkan bagi proses perkembangan anak. Rumah adalah sekolah pertama bagi anak, dan orangtua adalah guru pertama yang bisa mengantar anak menuju 20

gerbang pendidikan formal. Sebagai guru, orangtua memiliki andil yang besar dalam pendidikan anaknya, baik dalam segi waktu, materi, dan tenaga. Penyediaan sarana dan prasarana pendidikan di lingkungan rumah merupakan hal penting bagi proses perkembangan anak. Proses ini semestinya tidak terhambat oleh masalah finansial. Yang penting, bagaimana orangtua membuat kondisi rumah sedemikian rupa agar mampu menghasilkan stimulus positif sebanyak dan sevariatif mungkin. Sesuai dengan nalurinya, anak senantiasa ingin mengetahui segala hal dan mencoba sesuatu yang baru. Pemberian stimulus akan memengaruhi perubahan perilaku anak. Stimulus yang diberikan orangtua akan terbingkai dalam pola pikir, pola tindak, dan pola ucap anak. Jika orangtua menginginkan anaknya santun berbahasa, maka berikan stimulus yang positif. Setiap aktivitas yang ada dan terjadi di lingkungan rumah merupakan rangkaian dari proses pemerolehan yang sifatnya berkala dan berkesinambungan. Dalam hal ini orangtua berperan sebagai motor penggerak yang memegang kendali pertama dan utama dalam perkembangan bahasa anak melalui (salah satunya) pola asuh yang mendidik.

2.6 Perbedaan Individual dalam Kemampuan dan Perkembangan Bahasa Menurut Chomsky (Woolflok,dkk., 1984:70) anak dilahirkan ke dunia telah memiliki kapasitas berbahasa. Akan tetapi seperti dalam bidang yang lain, faktor lingkungan akan mengambil peranan yang cukup menonjol dalam mempengaruhi perkembangan bahasa anak tersebut. Mereka belajar makna kata dan bahasa sesuai dengan apa yang mereka dengar, lihat, dan mereka hayati dalam hidupnya sehari-hari. Perkembangan bahasa anak terbentuk oleh lingkungan yang berbeda-beda. Kemampuan berpikir pada setiap anak berbeda-beda, sedang berpikir dan bahasa mempunyai korelasi tinggi; anak dengan IQ tingi akan memiliki berkemampuan bahasa yang tinggi pula. Nilai IQ menggambarkan adanya perbedaan individual anak. Dengan demikian kemampuan mereka dalam berbahasa juga bervariasi sesuai dengan variasi kemampuan mereka berpikir.

21

Bahasa berkembang dipengaruhi oleh faktor lingkungan, karena kekayaan lingkungan akan merupakan pendukung bagi perkembangan peristilahan yang sebagian besar dicapai dengan proses meniru. Dengan demikian, remaja yang berasal dari lingkungan yang berbeda juga akan berbeda-beda pula kemampuan dan perkembangan bahasanya.

2.7 Implementasi Pengembangan Bahasa, Upaya serta Implikasinya dalam Penyelenggaraan Pendidikan Implementasi pengembangan bahasa pada anak tidak terlepas dari berbagai teori yang dikemukakan para ahli. Berbagai pendapat tersebut tentu saja tidak semuanya sama, namun perlu dipelajari agar pendidik dapat memahami apa saja yang mendasari dalam penerapan pengembangan bahasa pada anak usia dini. Pemahaman akan berbagai teori dalam pengembangan bahasa dapat

mempengaruhi dalam menerapkan metoda yang tepat bagi implementasi terhadap pengembangan bahasa anak itu sendiri sehingga diharapkan pendidik mampu mencari dan membuat bahan pengajaran yang sesuai dengan tingkat usia anak. Adapun beberapa teori yang dapat dijadikan rujukan dalam implementasi pembelajaran bahasa adalah: 1) Teori behaviorist oleh Skinner, mendefinisikan bahwa pembelajaran dipengaruhi oleh perilaku yang dibentuk oleh lingkungan eksternalnya, artinya pengetahuan merupakan hasil dari interaksi dengan lingkungannya melalui pengkondisian stimulus yang menimbulkan respon. Perubahan lingkungan pembelajaran dapat mempengaruhi pikiran, perasaan, dan perilaku anak secara bertahap. Perilaku positif jika diperkuat cenderung untuk diulangi lagi karena pemberian penguatan secara berkala dan disesuaikan dengan kemampuan anak akan efektif untuk membentuk perilaku anak. Latihan yang diberikan kepada anak harus dalam bentuk pertanyaan (stimulus) dan jawaban (respon) yang dikenalkan anak melalui tahapan-tahapan, mulai dari yang sederhana sampai pada yang lebih rumit contoh: sistem pembelajaran drilling. Anak akan memberikan respon pada setiap pembelajaran dan dapat segera memberikan balikan. Di sini Pendidik perlu

22

memberikan penguatan terhadap hasil kerja anak yang baik dengan pujian atau hadiah. 2) Teori Nativist oleh Chomsky, mengutarakan bahwa bahasa sudah ada di dalam diri anak. Pada saat seorang anak lahir, dia telah memiliki seperangkan kemampuan berbahasa yang disebut Tata Bahasa Umum atau Universal Grammar. Meskipun pengetahuan yang ada di dalam diri anak tidak mendapatkan banyak rangsangan, anak akan tetap dapat mempelajarinya. Anak tidak sekedar meniru bahasa yang dia dengarkan, tapi ia juga mampu menarik kesimpulan dari pola yang ada, hal ini karena anak memiliki sistem bahasa yang disebut Perangkat Penguasaan Bahasa (Language Acquisition Devise/LAD). Teori ini berpengaruh pada pembelajaran bahasa dimana anak perlu mendapatkan model pembelajaran bahasa sejak dini. Anak akan belajar bahasa dengan cepat sebelum usia 10 tahun apalagi menyangkut bahasa kedua (second language). Lebih dari usia 10 tahun, anak akan kesulitan dalam mempelajari bahasa. 3) Teori Constructive oleh Piaget, Vigotsky dan Gardner, menyatakan bahwa perkembangan kognisi dan bahasa dibentuk dari interaksi dengan orang lain sehingga pengetahuan, nilai dan sikap anak akan berkembang. Anak memiliki perkembangan kognisi yang terbatas pada usia-usia tertentu, tetapi melalui interaksi sosial anak akan mengalami peningkatan kemampuan berpikir. Pengaruhnya dalam pembelajaran bahasa adalah anak akan dapat belajar dengan optimal jika diberikan kegiatan sementara anak melakukan kegiatan perlu didorong untuk sering berkomunikasi. Adanya anak yang lebih tua usianya atau orang dewasa yang mendampingi pembelajaran dan mengajak bercakap-cakap akan menolong anak menggunakan kemampuan berbahasa yang lebih tinggi atau melejitkan potensi kecerdasan bahasa yang sudah dimiliki anak. Oleh karena itu pendidik perlu menggunakan metode yang interaktif, menantang anak untuk meningkatkan pembelajaran dan menggunakan bahasa yang berkualitas. Kelas atau kelompok belajar terdiri dari siswa-siswi yang bervariasi bahasanya, baik kemampuannya maupun polanya. Menghadapi hal ini guru harus mengembangkan strategi belajar mengajar bidang bahasa dengan memfokuskan pada potensi dan kemampuan anak.

23

1) Anak perlu melakukan pengulangan (menceritakan kembali) pelajaran yang telah diberikan dengan kata dan bahasa yang disusun oleh murid-murid sendiri. Dengan cara ini senantiasa guru dapat melakukan identifikasi tentang pola dan tingkat kemampuan bahasa murid-muridnya. 2) Berdasarkan hasil identifikasi itu guru melakukan pengembangan bahasa murid dengan menambahkan pembendaharaan bahasa lingkungan yang telah dipilih secara tepat dan benar oleh guru. Cerita murid tentang isi pelajaran yang telah diperkaya itu diperluas untuk langkah-langkah selanjutnya, sehingga para murid mampu menyusun cerita lebih komprehensif tentang isi bacaan yang telah dipelajari dengan menggunakan pola bahasa mereka sendiri.

Perkembangan bahasa yang menggunakan model pengekspresian secara mandiri, baik lisan maupun tertulis, dengan mendasarkan pada bahan bacaan akan lebih mengembangkan kemampuan bahasa anak dan membentuk pola bahasa masing-masing. Dalam penggunaan model ini guru harus banyak memberikan rangsangan dan koreksi dalam bentuk diskusi atau komunikasi bebas. Dalam pada itu sarana perkembangan bahasa seperti buku-buku, surat kabar, majalah dan lainlain hendaknya disediakan di sekolah maupun di rumah.

24

BAB III PENUTUP

3.1 Kesimpulan Berdasarkan uraian-uraian di atas penulis menyimpulkan bahwa: 1) Perkembangan bahasa adalah meningkatnya kemampuan penguasaan alat berkomunikasi, maupun menggunakan tanda-tanda dan isyarat. Mampu dan menguasai alat komunikasi di sini diartikan sebagai upaya seseorang untuk dapat memahami dan dipahami orang lain. 2) Perkembangan bahasa dipengaruhi oleh beberapa faktor, yakni umur anak, kondisi lingkungan, kecerdasan anak, status sosial ekonomi keluarga, kondisi fisik anak, kognisi (proses memperoleh pengetahuan), pola komunikasi dalam keluarga, jumlah anak atau jumlah keluarga, posisi urutan kelahiran, kedwibahasaan (pemakaian dua bahasa).

3.2 Saran Setelah membahas dan mengkaji tentang perkembangan bahasa peserta didik, Adapun beberapa saran yang ingin disampaikan penulis dari pembahasan materi ini diantaranya: 1. Dengan mengetahui perkembangan bahasa peserta didik ini, ksebagai calon pendidik bisa lebih proaktif dalam menanggulangi permasalahan peserta didik serta dapat mengurangi dampak negatif dari penyimpangan perkembangan bahasa tersebut. 2. Khususnya bagi orang tua, sebaiknya benar-benar memperhatikan perkembangan anak sampai mereka mampu membedakan dan memilih mana yang baik dan buruk untuk dirinya sendiri. Tetapi tidak dengan bersikap otoriter terhadap anak, supaya anak merasa nyaman dan tidak takut untuk menceritakan konflik-konflik yang terjadi selama masa perkembangannya.

25

DAFTAR PUSTAKA
Hartinah, Sitti. 2008. Perkembangan Peserta Didik. Bandung: Refika Aditama Sunarto, H, dan B. Agung Hartono. 2008. Perkembangan Peserta Didik. Jakarta: Rineka Cipta. Tirtahardja, Umar. 2008. Pengantar Pendidikan. Jakarta: Rineka Cipta.

Balai Pengembangan Pendidikan Non Formal dan Informal (BPPNFI) Regional I. 2009. Rangkuman materi pelatihan TOT Program PAUD; Implementasi perkembangan bahasa anak usia dini (Online), (file:///D:/PPD/read.php.htm, diakses tanggal 28 Maret 2011) Fatimah, Siti. 2010. Perkembangan Bahasa Pada Anak (Online), (file:///D:/PPD/Perkembangan Bahasa pada Anak.htm, diakses tanggal 28 Maret 2011) Fithriani, Popi. 2008. Pengaruh Pola Asuh terhadap Perkembangan Bahasa Anak (Online), (file:///D:/PPD/pengaruh-pola-asuh-terhadap-perkembanganbahasa -anak.html,diakses tanggal 26 Maret 2011) Mulyani dan Nana Syaodih. Tanpa Tahun. Perkembangan Bahasa Anak (Online), (file:///D:/PPD/Perkembangan Bahasa Anak CARI ILM ONLINE BORNEO.htm, Posted on 29 April 2008 by Pakde sofa diakses tanggal 26 Maret 2011) (file:///D:/PPD/makalah-perkembangan-bahasa-anak.html, diposkan oleh Giel di Senin, Januari 25, 2010 diakses tanggal 26 Maret 2011)

26

Anda mungkin juga menyukai