Anda di halaman 1dari 30

KEGIATAN II BAB I KARAKTERISTIK DEMOGRAFI KELUARGA

Nama Kepala Keluarga Alamat lengkap Bentuk Keluarga

: Tn. D : Ngablak RT/RW 02/11 Joho, Mojolaban, Sukoharjo : Nuclear Family

Tabel 1.Daftar anggota keluarga tinggal satu rumah No 1. Nama


Kedudukan

L/ P
L

Umur

Pendidikan Terakhir
D3

Pekerjaan
Pegawai

Pasien Klinik
Tidak

Ket

Tn. D

KK

32tahun

Pabrik Tekstil

2. 3. 4.

Ny. E An. V An. C

Istri Anak Anak

P L L

32 tahun 9 tahun 2 tahun

D3 Keperawatan SD -

Ibu rumah tangga -

Tidak Tidak Tidak

Pasien DBD -

Kesimpulan: Keluarga Tn. D(32 tahun) adalah nuclear family yang terdiri dari 4 orang. Penderita adalah Ny E (32 tahun) yang didiagnosis klinis dengan Demam Berdarah Dengue. Penderita tinggal bersama dengan suami (Tn. D) dan 2 anak ( An V, An C)

24

BAB II STATUS PASIEN A. IDENTITAS PENDERITA Nama Umur Jenis kelamin Agama Pekerjaan Status Tanggal pemeriksaan B. ANAMNESIS 1. Keluhan utama Perut terasa penuh 2. Riwayat Penyakit Sekarang Semenjak 4 hari sepulang dari rumah sakit, pasien masih merasakan lapang perut terasa penuh terutama di sebelah kanan atas. Perut terasa penuh, sebah, kadang disertai nyeri sampai di ulu hati. Nyeri terasa seperti benda tumpul yang hilang timbul. Terkadang disertai mual, tetapi tidak sampai muntah. Keluhan terasa semakin memberat setelah makan atau beraktivitas berat dan berkurang dengan istirahat. BAB dan BAK tidak ada keluhan. Kurang lebih 7 hari yang lalu sebelum dirawat di rumah sakit pasien merasakan demam. Demam dirasakan sejak hari jumat yaitu sehari setelah pasien pergi ke dokter gigi untuk mencabut gigi. Pasien merasakan demam menurun setelah minum obat penurun demam yang diberikan oleh dokter gigi namun kemudian timbul kembali. Setelah 3 hari demam pasien tidak kunjung turun, pasien pergi ke RS Kustati Sukoharjo untuk memeriksakan diri. Disana pasien melakukan pemeriksaan darah dan hasilnya normal. Lalu keesokan harinya pasien kembali ke rumah sakit dr Oen solo baru karena masih merasakan panas dan kembali melakukan pemeriksaan darah dan disarankan mondok karena dari hasil pemeriksaan lab ditemukan adanya penurunan leukosit dan trombosit.
25

: Ny. E : 31 tahun : Perempuan : Islam : Ibu rumah tangga : Menikah : 22 Januari 2014

3. Riwayat Penyakit Dahulu a. Riwayat keluhan serupa b. Riwayat tekanan darah tinggi c. Riwayat sakit gula d. Riwayat sakit maag : disangkal : disangkal : disangkal : (+) 2 tahun lalu, tetapi tidak pernah minum obat e. Riwayat alergi 4. Riwayat Penyakit Keluarga a. Riwayat tekanan darah tinggi : (+) ibu pasien meninggal karena hipertensi b. Riwayat sakit gula 5. Riwayat Kebiasaan Pasien jarang berolah raga dan tidak merokok. 7. Riwayat Gizi Pasien makan tiga kali dalam sehari dengan lauk tahu, tempe, telur, daging, dan sayur secara bergantian. Pasien jarang mengkonsumsi buah-buahan. 8. Anamnesis Sistem Keluhan Utama : perut terasa penuh a. Kulit b. Kepala c. Mata : gatal (-) : sakit kepala (-), leher cengeng (-), berputar (-), luka (-) : pandangan mata berkunang-kunang (-), penglihatan kabur (-) d. Hidung e. Telinga f. Mulut : tersumbat (-), mimisan (-) : pendengaran berkurang (-), berdenging (-), keluar cairan (-) : sariawan (-) : disangkal : disangkal

g. Tenggorokan : sakit menelan (-), serak (-) h. Pernafasan :sesak nafas (-), batuk (-), nyeri dada (-)

i. Kardiovaskuler : berdebar-debar (-) j. Gastrointestinal: perut terasa penuh (+), mual (+), muntah (-),nafsu makan menurun (+), nyeri ulu hati (+), diare (-), BAB tidak ada keluhan. k. Genitourinaria : BAK 4-5 kali sehari warna kuning jernih dan jumlah dalam batas normal.
26

l. Muskuloskeletal : nyeri sendi (-), nyeri otot (-) m. Ekstremitas : Atas :bengkak (-), luka (-), ujung jari tangan dingin (-) Bawah :bengkak (-), luka (-), ujung jari kaki dingin(-) C. PEMERIKSAAN FISIK Tanggal 22 Januari 2014 1. Keadaan Umum Baik, kesadaran compos mentis (GCS E4V5M6), status gizi kesan cukup 2. Tanda Vital BB TB BMI Tensi Nadi Pernafasan Suhu 3. Kulit Sawo matang, rambut hitam, turgor baik, ikterik (-), sianosis (-), pucat (-), venektasi (-), petechie (-), spider nevi (-). 4. Kepala Bentuk mesocephal, tidak ada luka, rambut sukar dicabut. 5. Mata Konjungtiva pucat (-/-), sklera ikterik (-/-), pupil isokor (3mm/3mm), reflek kornea (+/+) 6. Hidung Nafas cuping hidung (-), sekret (-), epistaksis (-), deviasi septum (-) 7. Mulut Bibir pucat (-), bibir kering (-), mukosa basah (+), papil lidah atropi (-), gusi berdarah tidak valid dinilai karena post cabut gigi 8. Telinga Membran timpani intak, sekret (-) 9. Tenggorokan Tonsil membesar (-), faring hiperemis (-) 10. Leher
27

: 45 kg : 150 cm : BB/TB2 = 50/(1,5)2= 20 kg/m2status gizi kesan cukup : 130/80 mmHg : 80 x/menit, irama reguler, isi cukup : 22 x/menit : 36,0oC per axiler

JVP tidak meningkat, trakea di tengah, KGB tidak membesar 11. Thoraks Normochest,simetris, pernapasan thoracoabdominal, retraksi (-), spider nevi (-), pulsasi infrasternalis (-), sela iga melebar (-) - Cor : I : ictus cordis tak tampak P : ictus cordis tak kuat angkat P : batas kiri atas batas kanan atas batas kiri bawah : SIC II LPSS : SIC II LPSD : SIC V 1 cm medial LMCS

batas kanan bawah : SIC IV LPSD pinggang jantung : SIC III LPSS batas jantung kesan tidak melebar A: BJ III intensitas normal, regular, bising (-) -Pulmo : I : pengembangan dada kanan = dada kiri P : fremitus raba kanan = kiri P : sonor/sonor A: suara dasar vesikuler (+ N/+ N) ronkhi basah kasar (-/-), wheezing (-/-) 12. Abdomen I: dinding perut sejajar dinding dada, venektasi (-) A: bising usus (+) normal P: supel, nyeri tekan epigastrium (+), hepar teraba tepi tumpul (+) dan lien tak teraba P: timpani seluruh lapang perut

13. Ektremitas

: palmar eritema (-/-) oedem -

akral dingin -

28

D. PEMERIKSAAN PENUNJANG Pemeriksaan laboratorium darah rutin 18 Januari 2014 Hb 14,0 mg/dl Hct 40,7% Trombosit 357.000 ribu Leukosit 7.600/mm2

E. RESUME Anamnese didapatkan lapang perut terasa penuh terutama di sebelah kanan atas. Kurang lebih 7 hari yang lalu sebelum dirawat di rumah sakit pasien merasakan demam. Pasien merasakan demam menurun setelah minum obat penurun demam namun kemudian timbul kembali. Kemudian dirawat di RS Dr. Oen Solo Baru selama 5 hari dengan diagnosis demam dengue karena hasil pemeriksaan penunjang yang dilakukan selama rawat inap menunjukkan adanya demam berdarah dengue (IgG dan IgM dengue positif). Saat ini pasien mengeluhkan Perut terasa penuh, sebah, kadang disertai nyeri sampai di ulu hati. Nyeri terasa seperti benda tumpul yang hilang timbul. Terkadang disertai mual, tetapi tidak sampai muntah. Keluhan terasa semakin memberat setelah makan atau beraktivitas berat dan berkurang dengan istirahat. BAB dan BAK tidak ada keluhan. Pada pemeriksaan fisik didapatkan keadaan umum tampak baik, compos mentis, status gizi kesankurang.Tanda vital T: 130/70 mmHg, N: 80x/menit, RR:22x/menit, S:36,0C peraxiller, BB: 45kg, TB:150 cm (BMI=20 kg/m2). Pemeriksaan status lokalis di daerah thoraks dan pulmo dalam batas normal. Pada daerah abdomen ditemukan adanya nyeri tekan epigastrium dan hepar teraba dengan tepi tumpul. F. PATIENT CENTERED DIAGNOSIS 1. Diagnosis Holistik Ny E yang didiagnosis klinis dengan hepatomegali post demam berdarah dengue berada dalam nuclear family yang tinggal bersama 3 anggota keluarga lainnya yaitu suami dan 2 anak. Keluarga Ny E berinteraksi dengan tetangga
29

dengan cukup baik serta aktif mengikuti kegiatan kemasyarakatan. Keluarga Ny E tidak ada yang menjabat sebagai pengurus pemerintahan dalam lingkungan tempat tinggalnya. Sumber penghasilan keluarga berasal dari Tn. D yang berprofesi sebagai pegawai swasta dan hasil jualan di toko kelontong Ny E. 2. Diagnosis Biologis Hepatomegaly post demam berdarah dengue 3. Diagnosis Psikologis Hubungan diantara anggota keluarga Ny E berjalan harmonis, pengertian dan saling mendukung satu dengan yang lain. 4. Diagnosis Sosial Ekonomi dan Budaya Keluarga Ny E cukup aktif dalam kegiatan kemasyarakatan, seperti mengikuti kerja bakti, dan kunjungan ke rumah tetangga bila ada tetangga yang sakit atau punya hajat. Penghasilan keluarga bersumber dari pendapatan Tn D yang bekerja sebagai pegawai swasta dan hasil jualan di toko kelontong Ny E . Beban keluarga berupa kebutuhan makan sehari-hari, listrik, uang sekolah An V , dan susu untuk An. Na. Dalam pengelolaanya dicukup-cukupkan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

G. PENATALAKSANAAN

a. Medikamentosa Aspar K 1 x 1 Cefixim 2 x 1 Gastridin 2 x 1 Parasetamol (kalau demam)

b. Non Medikamentosa Edukasi : a. Edukasi kepada keluarga jika mempunyai gejala yang sama dengan Ny E segera dibawa ke rumah sakit
b. Edukasi kepada keluarga dan lingkungan berkenaan dengan

kebersihan lingkungan dan pemberantasan jentik nyamuk


30

H. Follow Up Nama : Ny. E

Diagnosis: hepatomegali post dengue fever


Nadi / Abdomen RR/ T 130 N: 80 I:dinding perut /80 RR: 22 //dinding dada T: A: bising usus (+) normal 36,0C P: supel, nyeri tekan epigastrium(+), hepar teraba tepi tumpul (+) dan lien tak teraba P: timpani TD 120 N: 72 I:dinding perut /80 RR: 20 //dinding dada T: A: bising usus (+) normal 36,5C P: supel, nyeri tekan (-), hepar teraba tepi tumpul (+) dan lien tak teraba P: timpani Planni ng

NO Tgl 1 22/1/ 2014

Keluhan -perut terasa penuh -nyeri ulu hati

Terapi Medikamentosa: Non Medikamentosa: a. Edukasi mengenai pembesaran organ akibat DBD b. Edukasi kepada keluarga dan lingkungan sekitar mengenai pencegahan DBD c. Edukasi mengenai pentingnya pola hidup sehat.

Target

29/1/ 2014

-perut terasa penuh

Medikamentosa: Non Medikamentosa: a. Edukasi mengenai pembesaran organ akibat DBD b. Edukasi kepada keluarga dan lingkungan sekitar mengenai pencegahan DBD c. Edukasi mengenai pentingnya pola hidup sehat. Medikamentosa: Non Medikamentosa: a. Edukasi mengenai pembesaran organ akibat DBD b. Edukasi kepada keluarga dan lingkungan sekitar mengenai pencegahan DBD c. Edukasi mengenai pentingnya pola hidup sehat.

3/2/2 014

120 N: 76 I:dinding perut /80 RR: 24 //dinding dada T: A: bising usus (+) normal 36,5C P: supel, nyeri tekan (-), hepar dan lien tak teraba P: timpani

Pasien mengetah ui perilaku Pemant untuk auan menghin sekitar dari rumah penularan pasien DBD selama Memaha 3 mi dan minggu melaksan akan pola hidup yang lebih sehat.

31

BAB III IDENTIFIKASI FUNGSI - FUNGSI KELUARGA A. FUNGSI HOLISTIK 1. Fungsi Biologis Keluarga Ny. E (32 tahun) merupakan tipe nuclear family yang terdiri atas 4 orang anggota keluarga. Pasien tinggal satu rumah bersama suami dan kedua anaknya, Tn. D (32 tahun) dan anak pertamanya An V (9 tahun) serta anak keduanya An. C (2 tahun). Seluruh anggota keluarga yang tinggal satu rumah dengan pasien tampak sehat. Seluruh anggota keluarga tinggal dalam satu rumah dan memiliki banyak waktu untuk berkumpul bersama setiap harinya karena pekerjaan Ny. E adalah membuka warung kelontong untuk berjualan di rumah dan pekerjaan Tn. D adalah pegawai pabrik tekstil yang berkerja secara bergantian. Kedua anak tampak sehat dan ceria. Kegiatan rutin Ny. E setiap hari yaitu mengantar anak pertama yang sudah bersekolah di SD Joho, membersihkan rumah, mengurus anak kedua dan menjaga toko. Semua anggota keluarga inti Ny. E secara keseluruhan memiliki hubungan yang harmonis.

2. Fungsi Psikologis Hubungan antar anggota keluarga yang tinggal dalam satu rumah tampak baik, bahagia dan saling mendukung satu sama lain. Komunikasi antar anggota keluarga juga terjalin dengan baik. Pemecahan masalah dalam keluarga dilakukan secara bersama-sama.

3. Fungsi Sosial Keluarga ini tidak mempunyai kedudukan sosial tertentu dalam masyarakat, hanya sebagai anggota masyarakat biasa. Tidak ada hambatan hubungan penderita dan keluarga dengan masyarakat disekitar rumah. Keluarga ini cukup aktif mengikuti kegiatan kemasyarakatan di lingkungannya, misalnya kerja bakti dan membantu tetangga yang sedang hajatan. 4. Fungsi Ekonomi Penghasilan keluarga Ny.E berasal dari gaji suami yaitu Tn.D yang
32

bekerja sebagai pegawai swasta di sebuah pabrik tekstil. Gaji Tn. D sebesar Rp.1.200.000,00 serta tambahan dari toko kelontong di rumah dianggap cukup untuk kebutuhan keluarga sehari hari.

B. FUNGSI FISIOLOGIS Untuk menilai fungsi fisiologis digunakan APGAR score. APGAR score adalah skor yang digunakan untuk menilai fungsi keluarga ditinjau dari sudut pandang setiap anggota keluarga terhadap hubungannya dengan anggota keluarga yang lain, meliputi adaptation, partnership, growth, affection, dan resolve. Skoring : Hampir selalu/sering Kadang kadang : 2 poin : 1 poin

Hampir tak pernah/jarang: 0 poin Kriteria nilai APGAR : 8 10 : baik 6-7 1 -5 : cukup : buruk

33

Tabel 3. Skor APGAR keluarga Tn. M Kode A P A.P.G.A.R Saya puas bahwa saya dapat kembali ke keluarga saya bila saya menghadapi masalah Saya puas dengan cara keluarga saya membahas dan membagi masalah dengan saya Saya puas dengan cara keluarga saya menerima dan mendukung keinginan saya untuk melakukan kegiatan baru atau arah hidup yang baru Saya puas dengan cara keluarga saya mengekspresikan kasih sayangnya dan merespon emosi saya seperti kemarahan, perhatian dll Saya puas dengan cara keluarga saya dan saya membagi waktu bersama-sama Jumlah Tn. D 2 2 Ny. E 2 2

2 10

2 10

APGAR score keluarga Ny. E adalah (10+10) :2= 10 Kesimpulan : Fungsi fisiologis keluarga Ny. E baik

34

C. FUNGSI PATOLOGIS SCREEM Tabel 4. SCREEM SUMBER SOCIAL CULTURAL PATOLOGI Ikut berpartisipasi dalam kegiatan di lingkungannya Menggunakan aturan-aturan sesuai masyarakat dalam kehidupan sehari-hari RELIGION ECONOMY EDUCATION MEDICAL Menjalankan Ibadah ke masjid secara teratur Penghasilan di bawah UMR Tingkat pendidikan keluarga tergolong sedang Dalam mencari pelayanan kesehatan keluarga Ny. E pergi ke Puskesmas KET -

Kesimpulan:Fungsi patologis keluarga Ny. E tidak mengalami gangguan dari berbagai segi

35

D. GENOGRAM

Tn D

Ny E

An V

An C

Gambar 1. Genogram keluarga Ny. E

Keterangan : : Pasien

: Laki-laki hidup : Perempuan hidup : Perempuan meninggal : Tinggal dalam satu rumah

36

Kesimpulan : Ny. E tinggal bersama suaminya Tn. D dan kedua anaknya (An. V dan An. C). Dari genogram tidak dapat dilihat adanya penyakit yaitu demam berdarah dengue.

E. POLA INTERAKSI KELUARGA Ny. E Tn. D

An. V

An. C

Gambar 2. Pola interaksi keluarga Ny. E

Keterangan: : Hubungan Harmonis : Hubungan Tidak Harmonis Kesimpulan:Hubungan antara Ny. E dengan seluruh anggota keluarganya harmonis.

F. FAKTOR-FAKTOR PERILAKU YANG MEMPENGARUHI KESEHATAN 1. Pengetahuan Ny. E diketahui menderita DBD pada 2 minggu yang lalu. Ny.E dan keluarganya memiliki pengetahuan yang cukup tentang kesehatan. Ny. E juga merupakan lulusan berlatar belakang kesehatan yang sudah cukup sadar akan pentingnya kesehatan, kebersihan lingkungan dan dasar dasar penyakit dalam hal ini DBD. Hanya saja keluarga Ny, E sering mendapat informasi - informasi kesehatan yang keliru oleh masyarakat sekitar. 2. Sikap Kegiatan sanitasi dalam keluarga ini telah dilakukan dengan cukup baik, sumber air untuk kebutuhan sehari-hari menggunakan sumber air dari sumur. Sisa dari kegiatan sehari-hari juga dialirkan ke selokan yang ada di belakang dan depan
37

rumahnya. Sikap keluarga dan penderita sendiri terhadap penyakit yang dideritanya cukup positif. Penderita sangat menyadari bahwa sakit yang dideritanya memerlukan banyak istirahat dan mengkonsumsi makanan sehat bergizi. Hal ini juga disadari oleh keluarga, sehingga keluarga juga berusaha mendukung penderita. Keluarga ini menyadari pentingnya kesehatan karena memiliki latar belakang pendidikan kesehatan yang cukup baik. 3. Tindakan Penderita dan keluarga cukup menyadari pentingnya kesehatan sehingga ketika sakit, anggota keluarga ini dengan sadar berobat ke praktek dokter swasta yang kebetulan letaknya dekat dengan rumah dan dapat diakses dengan menggunakan sepeda motor.

G.

FAKTOR-FAKTOR KESEHATAN 1. Lingkungan

NON

PERILAKU

YANG

MEMPENGARUHI

Rumah yang dihuni keluarga ini adalah rumah sendiri dengan kondisi cukup memadai, ukuran 200 m2. Kebersihan lingkungan rumah terjaga cukup baik, namun pada beberapa bagian rumah kebersihan kurang terjaga dan beberapa sampah masih tampak berserakan di samping rumah.Tempat sampah yang seharusnya digunakan hanya berisi tanah, sementara sampahnya sendiri berceceran di sekitar tempat sampah. Lingkungan dalam rumah cukup bersih, pencahayaan sudah baik dan ventilasi sudah cukup baik. 2. Keturunan Ibu kandung penderita menderita hipertensi, sehingga faktor tersebut mungkin bisa berpengaruh terhadap kondisi kesehatan pasien yang lebih berisiko untuk menderita penyakit yang sama. Oleh karena itu, pengaturan pola makan dan gaya hidup perlu dilakukan sebagai upaya pencegahan penyakit hipertensi. Penyakit DBD yang baru saja diderita oleh pasien bukan termasuk penyakit yang diturunkan, tetapi merupakan penyakit yang dapat ditularkan melalui virus yang dibawa nyamuk Aedes

38

aegypti sehingga keluarga dan lingkungan sekitar harus memiliki kesadaran dalam menjaga kesehatan dan melakukan tindakan pencegahan. 3. Pelayanan Kesehatan Ketersediaan sarana dan prasarana kesehatan sudah cukup baik. Letak Puskesmas cukup dekat dengan rumah ditambah kemudahan aksesnya yang bisa ditempuh dengan sepeda motor menyebabkan keluarga ini merasa nyaman berobat di Puskesmas. Namun keluarga ini tidak memiliki kartu Jamkesmas.

Pemahaman: Keluarga cukup memahami penyakit penderita Sikap: Keluarga cukup perhatian terhadap penyakit penderita Tindakan: Pasien sudah control setelah mondok dan menjaga pola makan

Lingkungan: Kebersihan lingkungan rumah belum sepenuhnya terjaga Keturunan: DBD tidak berhubungan dengan keturunan Pelayanan Kesehatan: Jika sakit keluarga Ny. E berobat ke dokter praktik swasta

Ny. E

: Faktor Perilaku : Faktor Non Perilaku Gambar 3. Faktor Perilaku dan Non Perilaku

39

IDENTIFIKASI INDOOR DAN OUTDOOR 1. Indoor Keluarga ini tinggal di sebuah rumah berukuran 10 x 20m menghadap ke utara, dalam lingkungan pemukiman biasa. Rumah terdiri dari 2 kamar tidur yang terpisah, dapur, ruang makan, kamar mandi, tempat mencuci baju, ruang keluarga, ruang tamu, dan warung. Pekarangan ada di depan rumah dan di samping rumah. Lantai rumah sudah berkeramik, ventilasi rumah cukup, penerangan cukup, dinding rumah dari tembok yang sudah dicat,atap dari genteng dengan langit-langit.

Denah Rumah Keterangan : A :Halaman B :Teras Rumah C :Warung D :Ruang Tamu E :Ruang Keluarga F :KamarTidurAnak G :KamarTidurUtama H :Ruang Makan I :Tempat Cuci Baju J :Kamar Mandi K :Dapur

2 0 m e t e r

10 meter

2. Outdoor Rumah ini dikelilingi rumah tetangga yang letaknya bersebelahan. Di depan dan di samping rumah terdapat halaman, langsung menuju jalan yang cukup lebar. Warga disekitar rumah Ny E (20 rumah) masih terdapat adanya jentik-jentik nyamuk di tempat penampungan air seperti bak air, tempayan, dan lain sebagainya. Masih
40

banyak warga yang kurang sadar akan pentingnya kebersihan lingkungan untuk kesehatan anggota keluarga.

41

BAB IV DIAGNOSIS HOLISTIK A. Diagnosis Biologis Hepatomegaly post demam berdarah dengue

B. Diagnosis Psikologis Hubungan antar anggota keluarga cukup baik.

C. Diagnosis Sosial Ekonomi dan Budaya serta Pendidikan Kehidupan social tampak baik Kehidupan ekonomi cukup baik Pendidikan terakhir D3 Perilaku hidup kurang sehat, yaitu: o Kebersihan terutama tempat tidur dan dapur yang belum sepenuhnya dilakukan. Kesadaran warga disekitar rumah Ny E akan kebersihan rumah dan kesehatan masih kurang. Ditandai dengan masih banyaknya warga yang membuang sampah tidak pada tempatnya, jarang menguras bak mandi yang mengakibatkan adanya jentik-jentik nyamuk.

42

BAB V PEMBAHASAN DAN SARAN KOMPREHENSIF

A. PEMBAHASAN

Pada pasien ini kejadian demam berdarah dengue terjadi akibat terkena infeksi yang disebabkan virus dengue oleh gigitan nyamuk Aedes Aegypthi pada tubuh pasien. Walaupun lingkungan sekitar rumah pasien tampak bersih, pasien sering berpergian ke pasar, mengantar anak ke sekolah dan lain sebagainya yang dapat menyebabkan pasien tertular demam berdarah dengue. Penanganan kasus demam berdarah dengue ini memerlukan kerjasama antara keluarga terutama orang tua dan dokter maupun kader untuk meningkatkan kebersihan lingkungan sekitar. Namun dalam pelaksanaannya ada beberapa masalah yang dihadapi, antara lain seperti masih kurangnya kesadaran masyarakat akan kebersihan lingkungan, masih banyaknya keluarga yang malas menguras tempat penampungan air. Keluhan yang di derita oleh Ny E setelah keluar dari rumah sakit sekitar 4 hari ini adalah perut sebah dan penuh. Untuk mengurangi keluhan yang dideritanya pasien selama ini hanya mengkonsumsi makanan lunak yaitu seperti bubur dengan sayur lodeh. Hal ini diulang terus menerus hingga kunjungan ketiga kami. Namun perbedaannya terletak pada setiap kunjungan. Gizi yang didapat oleh pasien sudah tidak hanya bubur dan sayur lodeh, namun sudah bertambah dengan ayam dan ikan yang lunak. Hal ini dimaksudkan agar selama proses penyembuhan pasien, pasien tidak kekurangan gizi yang sangat dibutuhkannya. Dalam riwayat keluarga juga disebutkan mengenai ibu Ny E yang meninggal karena hipertensi. Ini menyebabkan Ny E sangat menjaga makanan yang dikonsumsinya. Ny E percaya dengan menjaga makanan yang dikonsumsinya dan berolahraga maka Ny E dan keluarga akan terhindar dari hipertensi. Ny E sadar betul akan hal ini karena Ny E mempunyai latar belakang pendidikan sebagai D3 keperawatan. Namun dalam hal berolahraga, Ny E mengaku tidak berolahraga rutin. Olahraga yang dilakukan Ny E
43

digantikan dengan mengantar anak sekolah dan melakukan pekerjaan ibu rumah tangga disamping menjaga toko kelontong miliknya. Untuk kesadaran masyarakat mengenai kebersihan lingkungan, telah banyak penyuluhan-penyuluhan mengenai demam berdarah dengue yang telah dilakukan oleh tenaga medis baik puskemas mojolaban maupun di daerah lain. Seperti saat diadakannya pertemuan masyarakat di balai desa. Pihak puskesmas dengan sigap melakukan penyuluhan. Tidak hanya mengenai demam berdarah dengue tapi juga masalah keersihan dan kesehatan lainnya. Banyak juga promosi-promosi kesehatan yang dilakukan oleh tenaga medis mengenai penyakit ini seperti dengan memasang baliho mengenai kebersihan dan kesehatan masyarakat. Namun masih banyak masyarakat yang belum memiliki kesadaran mengenai kebersihan rumah dan kesehatan sekitarnya. Sebagai contoh saat kelompok kami melakukan penyelidikan epidemiologi di sekitar rumah Ny E (pasien demam berdarah dengue) yaitu ke 20 rumah disekitar rumah Ny E ( lima rumah di depan, lima rumah disamping kanan, lima rumah disamping kiri dan lima rumah dibelakang rumah pasien) ditemukan masih banyak jentik yang hidup di tempat-tempat penampungan air warga. Dari 20 rumah yang kami kunjungi, ternyata lebih dari 5 rumah yang memiliki jentikjentik di bak mandi, kolam, ataupun tempat penampungan air lainnya. Banyaknya warga yang kurang memahami pentingnya menguras bak mandi atau tempat-tempat penampungan air, mengubur sampah, dan membuang sampah pada tempatnya menyebabkan nyamuk dengan bebas berkembang biak. Maka dari itu sangat diperlukan kesadaran masyarakat akan kebersihan lingkungan guna memberantas sarang-sarang nyamuk. Saat home visit, penulis telah mencoba melakukan edukasi secara langsung kepada keluarga pasien dan 20 kepala keluarga disekitar rumah pasien untuk; 1) menyadari kebersihan rumah dan lingkungan guna menjamin kesehatan anggota keluarga. 2) jika terjadi panas yang tidak kunjung sembuh walaupun telah mengkonsumsi obat, maka segera periksa ke dokter 3) melakukan abatesasi pada sumur-sumur dan tempat penampungan air yang dimiliki warga 4) edukasi untuk Ny E mengenai pembesaran organ pasca demam berdarah dan pengobatannya.
44

A. SARAN KOMPREHENSIF 1. Promotif Edukasi kepada keluarga dan lingkungan sekitar untuk membersihkan tempattempat penampungan dan melakukan abatesasi pada sumur-sumur di dekat rumah. 2. Preventif Melakukan penyemprotan obat nyamuk secara berkala, menguras tempat penampungan air setiap 3 hari. 3. Kuratif Kontrol ke dokter atau layanan kesehatan secara teratur. 4. Rehabilitatif Terapi psikology

45

DAFTAR PUSTAKA
KEGIATAN I Kementrian Kesehatan Republik Indonesia. 2011. Pedoman Pelayanan Anak Gizi Buruk. Jakarta :Direktoral Jenderal Bina Gizi dan Kesehatan Ibu dan Anak pp 5-76

Pudjladi A. 2010. Pedoman Pelayanan Medis Ikatan Dokter Anak Indonesia jilid 1. Jakarta :IDAI pp:14-25

Soetjiningsih. 2002. Tumbuh Kembang Anak. Jakarta :EGC pp:37-62 Tim Field Lab FK UNS. 2008. Manual Field Lab Ketrampilan Pemantauan Status Gizi Balita dan Ibu Hamil.Surakarta :Field Lab Fakultas Kedokteran UNS pp 4-42

KEGIATAN II Djunaedi, D. 2006. Demam Berdarah Dengue (DBD). Malang : Penerbit Universitas Muhammadiyah Malang pp 5-27.

Suroso. T. Hadinegoro SR, Wuryadi S, Simanjuntak G, Umar AI, Pitoyo PD, et.al. 2002. Penyakit Demam Berdarah Dengue dan Demam Berdarah Dengue. WHO dan Depkes RI, Jakarta 2000. pp:3-58

WHO, 1999. Demam Berdarah Dengue : diagnosis, treatment, prevention and control, 2nd edition. Geneva. http://www.who.int. Diakses februari 2014

46

LAMPIRAN

KEGIATAN I Gizi buruk pada An Na

47

48

49

KEGIATAN II Demam Berdarah Dengue Ny E

50

51

52

53