Anda di halaman 1dari 11

6

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Tanaman Sawi Pakcoy 2.1.1. Morfologi Sawi Pakcoy (Brassica rapa L.) Pakcoy (Brassica rapa L.) adalah jenis tanaman sayur-sayuran yang termasuk keluarga Brassicaceae. Tumbuhan pakcoy berasal dari China dan telah dibudidayakan setelah abad ke-5 secara luas di China selatan dan China pusat serta Taiwan. Sayuran ini merupakan introduksi baru di Jepang dan masih sefamili dengan Chinese vegetable. Saat ini pakcoy dikembangkan secara luas di Filipina dan Malaysia, di Indonesia dan Thailand ( Anonim, 2012a). Adapun klasifikasi tanaman sawi pakcoy adalah sebagai berikut : Kingdom Divisio Kelas Ordo Famili Genus Spesies : Plantae : Spermatophyta : Dicotyledonae : Rhoeadales : Brassicaceae : Brassica : Brassica rapa L

Gambar 2.1.1.Tanaman Sawi Pakcoy (Brassica rapa L.) Anonim (2012a) Yogiandre,dkk.,(2011) menyatakan tanaman pakcoy merupakan salah satu sayuran penting di Asia, atau khususnya di China. Daun pakcoy bertangkai, berbentuk oval, berwarna hijau tua, dan mengkilat, tidak membentuk kepala,

tumbuh agak tegak atau setengah mendatar, tersusun dalam spiral rapat, melekat pada batang yang tertekan. Tangkai daun, berwarna putih atau hijau muda, gemuk dan berdaging, tanaman mencapai tinggi 1530 cm. Keragaman morfologis dan periode kematangan cukup besar pada berbagai varietas dalam kelompok ini. Terdapat bentuk daun berwarna hijau pudar dan ungu yang berbeda. Lebih lanjut dinyatakan pakcoy kurang peka terhadap suhu ketimbang sawi putih, sehingga tanaman ini memiliki daya adaptasi lebih luas. Vernalisasi minimum diperlukan untuk bolting. Bunga berwarna kuning pucat (Hernowo, 2010). 2.1.2. Syarat Tumbuh Menurut Sutirman (2011) pakcoy bukan tanaman asli Indonesia, menurut asalnya di Asia. Karena Indonesia mempunyai kecocokan terhadap iklim, cuaca dan tanahnya sehingga dikembangkan di Indonesia ini. Daerah penanaman yang cocok adalah mulai dari ketinggian 5 meter sampai dengan1.200 meter di atas permukaan laut. Namun biasanya dibudidayakan pada daerah yang mempunyai ketinggian 100 meter sampai 500 meter dpl.Tanaman pakcoy dapat tumbuh baik di tempat yang berhawa panas maupun berhawa dingin, sehingga dapat diusahakan dari dataran rendah maupun dataran tinggi. Meskipun demikian pada kenyataannya hasil yang diperoleh lebih baik di dataran tinggi. Tanaman pakchoy tahan terhadap air hujan, sehingga dapat di tanam sepanjang tahun. Pada musim kemarau yang perlu diperhatikan adalah penyiraman secara teratur (Anonim, 2012 b). Pakcoy ditanam dengan benih langsung atau dipindah tanam dengan kerapatan tinggi; yaitu sekitar 20 25 tanaman/m2, dan bagi kultivar kerdil ditanam dua kali lebih rapat. Kultivar genjah dipanen umur 40-50 hari, dan kultivar lain memerlukan waktu hingga 80 hari setelah tanam. Pakcoy memiliki umur pasca panen singkat, tetapi kualitas produk dapat dipertahankan selama 10 hari, pada suhu 0. Media tanam adalah tanah yang cocok untuk ditanami sawi adalah tanah gembur, banyak mengandung humus, subur, serta pembuangan airnya baik.

Derajat kemasaman (pH) tanah yang optimum untuk pertumbuhannya adalah antara pH 5 sampai pH 7. 2.1.3. Manfaat dan Kandungan Tanaman Sawi Menurut Fahrudin (2009) manfaat sawi sangat baik untuk menghilangkan rasa gatal di tenggorokan pada penderita batuk. Penyembuh penyakit kepala, bahan pembersih darah, memperbaiki fungsi ginjal, serta memperbaiki dan memperlancar pencernaan, bijinya dimanfaatkan sebagai minyak serta pelezat makanan. Sedangkan kandungan yang terdapat pada sawi adalah kalori, protein, lemak, karbohidrat, serat, Ca, P, Fe, Vitamin A, Vitamin B, dan Vitamin C. Tabel 2.1. Kandungan gizi setiap 100 g sawi No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 Komposisi Jumlah Kalori 22,00 k Protein 2,30 g Lemak 0,30 g Karbohidrat 4,00 g Serat 1,20 g Kalsium (Ca) 220,50 mg Fosfor (P) 38,40 mg Besi (Fe) 2,90 mg Vitamin A 969,00 SI Vitamin B1 0,09 mg Vitamin B2 0,10 mg Vitamin B3 0,70 mg Vitamin C 102,00 mg Sumber: Direktorat Gizi, Departemen Kesehatan RI, 1979.

Kadar vitamin A pada sawi sangat tinggi.Vitamin A berperan menjaga kornea mata agar selalu sehat. Mata yang normal biasanya mengeluarkan mukus, yaitu cairan lemak kental yang dikeluarkan sel epitel mukosa, sehingga membantu mencegah terjadinya infeksi. Kandungan vitamin E pada sawi dapat berfungsi sebagai antioksidan utama di dalam sel. Sawi termasuk dalam kategori sangat baik sebagai sumber vitamin E. Kebutuhan rata-rata vitamin E mencapai 10-12 mg/hari. Kandungan vitamin E pada sawi juga berperan baik untuk mencegah penuaan (Anonim, 2012 a).

Menurut Eko (2007) Kandungan vitamin K pada sawi sangat tinggi, yaitu mencapai 419,3 mkg. Vitamin K sangat berguna untuk membantu proses pembekuan darah, sehingga sering disebut sebagi vitamin koagulasi. Vitamin K mempunyai potensi dalam mencegah penyakit-penyakit serius, seperti penyakit jantung dan stroke, karena efeknya mengurangi pengerasan pembuluh darah oleh faktor timbunan plak kalsium. Kandungan kalsium yang tinggi pada sawi dapat mengurangi hilangnya bobot tulang yang biasa terjadi pada usia lanjut. Tekanan darah tinggi juga dapat disebabkan oleh rendahnya kadar kalsium di dalam darah. Mineral lain yang cukup berarti pada sawi adalah magnesium. Kandungan magnesium pada sawi sangat berguna untuk mereduksi stres dan membantu membentuk pola tidur yang baik (Sutirman, 2011). 2.2. Lamtoro (Leucaena leucocephala L.) Lamtoro dalam istilah ilmiah bernama Leucaena leucocephala L. Lamtoro umumnya berasal dari Filipina dengan nama giant ipil-ipil yang apabila diterjemahkan secara bebas berarti giant adalah raksasa sedangkan ipil-ipil berasal dari bahasa Filipina yang berarti lamtoro. Jadi giant ipil-ipil berarti lamtoro raksasa, tetapi lamtoro di Indonesia menjadi lamtoro gung

(Suprayitno,dkk.,1995). Adapun sistematika tanaman lamtoro adalah sebagai berikut : Kerajaan Divisi Kelas Ordo Famili Genus Spesies : Plantae : Magnoliophyta : Magnoliopsida : Fabales : Fabaceae : Leucaena : Leucaena leucocephala L. (Suprayitno,dkk.,1995)

2.2.1. Morfologi Lamtoro Menurut Steines (1972) bahwa lamtoro mudah beradaptasi dan segera saja tanaman ini menjadi liar di berbagai daerah tropis di Asia dan Afrika termasuk pula di Indonesia.Tanaman semak atau pohon tingggi sampai 2-10 m, bercabang

10

banyak dan kuat, dengan kulit batang abu-abu dan 10enticels yang jelas. Daun bersirip dua dengan 3-10 pasang sirip, bervariasi dalam panjang sampai 35 cm, dengan glandula besar (sampai 5 mm) pada dasar petiole, helai daun 11-22 pasang/sirip, 8-16 mm x 1-2 mm, akut. Bunga sangat banyak dengan diameter kepala 2-5 cm,stamen (10 per bunga) dan pistil sepanjang 10 mm. Buah polong 14-26 cm x 1,5-2 cm,coklat pada saat tua. Jumlah biji 15-30 per buah polong, berwarna coklat. Petai cina oleh para petani di pedesaan sering ditanam sebagai tanaman pagar, pupuk hijau dan segalanya. Petai cina cocok hidup di dataran rendah sampai ketinggian 1500 meter di atas permukaan laut. Petai cina di Indonesia hampir musnah setelah terserang hama wereng. Pengembangbiakannya selain dengan penyebaran biji yang sudah tua juga dapat dilakukan dengan cara stek batang (Anonim, 2011). 2.2.1.1. Akar Lamtoro Lamtoro mempunyai akar yang sangat kokoh, karena akar tunggangnya menembus kuat ke dalam tanah, sehingga pohon tidak mudah tumbang oleh tiupan angin. Akar rambutnya tidak terlalu besar dan semrawut sehingga tidak menonjol ke permukaan tanah, tetapi berfungsi untuk mencengkram tanah sehingga dapat merupakan pencegah kelongsoran tanah di sekitar pohon tersebut. Oleh karena itu lamtoro sangat baik bila ditanam di pinggir saluran-saluran irigasi (Anonim, 2011). Suprayitno,dkk., (1995) Akar lamtoro menembus ke dalam tanah, semakin besar pohonnya semakin dalam akar tunggangnya menembus kedalam tanah, sedangkan akar lainnya tetap seperti akar rambut yang perkembangannya tidak terlalu besar. Akar pohon lamtoro tidak bersifat merusak, karena akar rambut yang kurang semrawut tersebut dimanfaaatkan oleh pohon induknya, untuk menyimpan zat nitrogen dalam butiran-butiran yang dapat dilihat pada akar rambutnya. Butiran-butiran tersebut berisi nitrogen yang semula diserap dari udara bebas dan dari dalam tanah. Inilah sebabnya mengapa akar lamtoro agak kurang perkembangannya untuk menjadi besar dan tidaak menonjol keluar tanah.Karena akar lamtoro mengikat zat nitrogen, maka tanah disekitar pohon lamtoro akan

11

menjadi subur. Sebabnya ialah karena nitrogen berfungsi menyuburkan tanah. Lamtoro kerap ditanam sebagai tanaman sela untuk mengendalikan hanyutan tanah (erosi) dan meningkatkan kesuburan tanah. Perakaran lamtoro memiliki nodul-nodul akar tempat mengikat nitrogen. 2.2.1.2.Batang Lamtoro Pohon lamtoro mempunyai batang yang kuat dan elastik, sehingga tidak mudah patah.Warna batang kecoklatan, semu kemerah-merahan sehingga sangat menarik untuk dipandang. Batang lamtoro daalam waktu satu tahun dapat mencapai garis tengah (middle line) 10-15 cm. Jadi merupakan pembesaran yang sangat cepat dibandingkan dengan jenis pohon lainnya (Suprayitno,dkk., 1995). 2.2.1.3.Daun Menurut Anonim (2011) daun lamtoro berbentuk simestris kecil-kecil berpasangan tetapi tidak pernah gugur.Warna daun hijau pupus dan berfungsi untuk memasak makanan sekaligus sebagai penyerap nitrogen (N 2) dan karbon dioksida (CO2) dari udara bebas. Nitrogen dan karbon dioksida ini berasal dari sisa-sisa pembakaran yang kemudian mengotori udara (populasi). Daun-daun lamotoro juga kerap digunakan sebagai mulsa dan pupuk hijau. Daun-daun lamtoro lekas mengalami dekomposisi.

Gambar 2.2.1. Lamtoro (Leucaena leucocephala L.) (Anonim, 2011) Dalam penelitian Laconia, dkk., (2010) bahwa daun lamtoro (petai cina) mengandung zat aktif yang berupa alkaloid, saponin, flavonoid, mimosin, leukanin, protein, lemak, kalsium, fosfor, besi, vitamin A dan vitamin B. Berbagai

12

kandungan yang terdapat dalam tanaman petai cina yang diperkirakan sebagai antiinflamasi adalah flavonoid. Flavonoid dalam bentuk aikon bersifat nonpolar, sedangkan dalam bentuk glikosida bersifat polar. Berdasarkan sifat flavonoid tersebut, maka untuk ekstraksi dapat digunakan etanol 70% sebagai bahan penyarinya, karena etanol 70% bersifat semi polar yang dapat melarutkan senyawa yang bersifat polar maupun non-polar. Selain itu, etanol 70% tidak menyebabkan pembengkakan membran sel dan memperbaiki stabilitas bahan obat terlarut. Biji dari buah petai cina yang sudah tua setiap 100 g mempunyai nilai kandungan kimia berupa zat kalori sebesar 148 kalori, protein 10,6 g, lemak 0,5 g, hidrat arang 26,2 g, kalsium 155 mg, besi 2,2 mg, vitamin A, Vitamin BI 0,23 mg. Daun lamtoro mempunyai kandungan unsur-unsur kimia. Menurut Thomas (1992) daun dari lamtoro (Leucaena leucocephala L.) mengandung zatzat yang tertera dalam tabel 2.1 berikut: Tabel 2.2.Kandungan Daun Lamotoro (Leucaena leucocephlala L. ) Zat Abu (%) Nitrogen (%) Protein (%) Serat kasar (%) Calcium (%) Kalium (%) Fosfor (%) Beta karoten (mg/kg) Energi kotor (KJ/g) Tannin (mg/g) Komposisi 11,00 4,20 25,90 20,40 2,36 1,3-4,0 0,23 536,00 20,10 10,15

Menurut penelitian Widiarti dan Alrasjid (1998) bahwa serasah daun lamtoro dapat meningkatkan kesuburan tanah akan memperkaya tanah yang sejumlah unsur hara protein dan karbohidrat melalui dekomposisi serasah. Daur ulang unsur hara dari beberapa jenis pohon dalam upaya memelihara tingkat kesuburan tanah. Hasil dekomposisi menunjukkan jumlah unsure hara.Nitrogen dihasilkan selama dekomposisi lebih besar daripada pohon kaliandra dan gamal. Adapun unsur hara yang terkandung adalah Nitrogen, Besi , Kalium dan Pospor dengan urutan hasil unsur hara yang diperoleh adalah N> P> K> Fe.

13

Dengan kandungan unsur kimia yang ada pada daun lamtoro sangat bermanfaat sekali sebagai pupuk hijau yang dibutuhkan oleh setiap jenis tumbuhan-tumbuhan lainnya. Daun lamtoro yang mempunyai unsur kimia di atas, setelah gugur akan merupakan humus atau bunga tanah (Suprayitno,dkk., 1995). Menurut Lingga (1997) bahwa lamtoro dimanfaatkan sebagai pupuk hijau yaitu untuk memupuk tanah yakni bagian-bagian muda seperti daun,tangkai dan batang.Untuk menambah bahan organik bagi tanah dan unsur-unsur lainnya terutama nitrogen (N). Lamtoro dikategorikan sebagai pupuk hijau karena mempunyai bakteribakteri rhizobium yang menempel pada akar tanaman tersebut.Bentuknya berupa bintil-bintil berwarna keputihan, sehingga dinamai pula bakteri bintil/kutil akar. Bintil-bintil akar yang umumnya terdapat pada tanaman dari famili leguminosae ini jika bersimbiosis dengan tanaman dimana lamtoro menempel mempunyai kesanggupan mengikat nitrogen N dari udara bebas.Hal ini tentu amat menguntungkan.Sebab kecuali memperkaya hara N pada tanah, juga sekaligus memenuhi kebutuhan N bagi tanaman tersebut. Dengan demikian tak perlu mengisap N dari tanah sebagaimana tanaman umumnya tapi bisa mencukupi kebutuhan sendiri lewat bantuan bintil akar. 1.3.1. Pupuk Organik Penggunaan pupuk organik mampu menjadi solusi dalam mengurangi aplikasi pupuk anorganik yang berlebihan dikarenakan adanya bahan organik yang mampu memperbaiki sifat fisika, kimia, dan biologi tanah. Perbaikan terhadap sifat fisik yaitu menggemburkan tanah, memperbaiki aerasi dan drainase, meningkatkan ikatan antar partikel, meningkatkan kapasitas menahan air, mencegah erosi dan longsor, dan merevitalisasi daya olah tanah. Fungsi pupuk organik terhadap sifat kimia yaitu meningkatkan kapasitas tukar kation, meningkatkan ketersediaan unsur hara, dan meningkatkan proses pelapukan bahan mineral. Adapun terhadap sifat biologi yaitu menjadikan sumber makanan bagi mikroorganisme tanah seperti fungi, bakteri, serta mikroorganisme

menguntungkan lainnya, sehingga perkembangannya menjadi lebih cepat . Pupuk organik disamping dapat menyuplai hara NPK, juga dapat menyediakan unsur

14

hara mikro sehingga dapat mencegah kahat unsur mikro pada tanah marginal atau tanah yang telah diusahakan secara intensif dengan pemupukan yang kurang seimbang. Umunnya pupuk organik yang berbentuk cair berasal dari hasil ekstrak bahan organik yang telah dilarutkan seperti pelarut air, alkohol, dan minyak. Senyawa organik mengandung karbon, vitamin atau metabolit sekunder dapat berasal dari ekstrak tanaman, kotoran ternak atau sampah (Rino, 2009). Menurut Lawati dan Iskak (2009) bahwa pupuk organik yang cair adalah pupuk yang dapat memberikan hara yang sesuai dengan kebutuhan tanaman pada tanah, karena bentuknya yang cair, maka jika terjadi kelebihan kapasitas pupuk pada tanah maka dengan sendirinya tanaman akan mudah mengatur penyerapan komposisi pupuk yang dibutuhkan. Pupuk organik yang berbentuk cair (ekstrak) dalam pemupukan jelas lebih merata, tidak akan terjadi penumpukan konsentrasi pupuk di satu tempat,sebab itu tadi pupuk ini 100 persen larut dan merata juga pupuk organik cair ini mempunyai kelebihan dapat secara cepat mengatasi defesiensi hara dan mampu menyediakan hara secara cepat. Tanaman menyerap hara terutama melalui akar, namun daun juga punya kemampuan menyerap hara. Sehingga ada manfaatnya apabila pupuk cair berupa ekstrak tidak hanya diberikan di sekitar tanaman, tapi juga di atas daun-daun. Hal ini dipertegas oleh Rino (2009) dalam penelitiannya mengenai pupuk cair pada tanaman coklat bahwa penggunaan pupuk cair ekstrak lebih memudahkan pekerjaan, dan penggunaan pupuk cair ekstrak berarti kita melakukan tiga macam proses dalam sekali pekerjaan, yaitu : memupuk tanaman, menyiram tanaman, mengobati tanaman. 1.3.2. Pupuk Anorganik Menurut Isnaini (2006) bahwa pupuk anorganik merupakan pupuk hasil proses rekayasa secara kimia, fisik dan atau biologis yang wujudnya padat atau cair dan merupakan hasil industri atau pabrik pembuat pupuk dengan kadar hara tinggi, Misalnya pupuk urea yang kadar hara nitrogennya, 45-46%. Artinya setiap 100 kg urea didalamnya terdapat 45-46 kg hara N (nitrogen). Pemupukan dengan pupuk tertentu (terutama pupuk kimia,anorganik) mengakibatkan tanah menjadi

15

asam, meningkatkan konsentrasi kadar garam dalam larutan tanah sehingga meningkatnya tekanan osmosis larutan tanah sehingga berpengaruh pada penyerapan unsur hara. Penggunaan pupuk anorganik (pupuk kimia) pada tanaman dengan menyemprotkan secara langsung pada tanaman melalui daun,dan tanah dalam jangka panjang akan menyebabkan kadar bahan organik tanah menurun, struktur tanah rusak, pencemaran lingkungan dan tanaman yang dipoleh tidak sehat karena unsur hara berupa bahan kimia tersebut di serap oleh daun tanaman maupun akar. Jika hal ini terus berlanjut akan menurunkan kualitas tanah dan kesehatan lingkungan serta menyebabkan terganggunya kesehatan yang mengkonsumsi suatu tanaman tersebut. Pupuk anorganik diberikan kepada tanah dengan jalan menaburkan atau dibenamkan secara merata dekat tanaman, kini ada pupuk akar yang harus ditumpuk di bawah atau sekitar akar,diselipkan dekat akar dan yang paling banyak jenisnya pupuk buatan yang diberikan lewat daun (Lingga, 1997). 1.3.3. Pupuk Ekstrak Menurut Rino (2009) pupuk cair ekstrak dapat berasal dari berbagai macam kotoran ternak, kompos, limbah alam, hormon tumbuhan berupa dedaunan antara lain daun tembakau, kenikir, mengkudu, mahkota dewa, daun awar awar, daun kelor, daun brotowali , daun gamal, daun sirsak dan masih banyak lainnya. Menurut Rimungbuloeh (2011) Ekstrak daun lamtoro berbentuk cair lebih mudah di manfaatkan oleh tanaman karena unsur-unsur di dalamnya mudah terurai dan tidak dalam jumlah yang terlalu banyak sehingga manfaatnya lebih cepat terasa . Bahan baku Ekstrak daun lamtoro berasal ekstrak daun lamtoro yang telah

mengalami perlakuan penyaringan dari ektrak daun yang di blender ataupun di tumbuk. Penggunaan pupuk cair dapat memudahkan dan menghemat tenaga. 2.4. Pupuk Ekstrak Daun Lamtoro Menurut Rimungbuloeh (2011) salah satu pupuk cair yang alami yaitu ekstrak daun lamtoro yang berasal dari alam yaitu dari daun - daun lamtoro yang di ambil pati airnya saja dan di semprotkan pada tanaman karena banyak mengandung unsur hara baik makro maupun mikro, yang di butuhkan oleh

16

tumbuhan, supaya dapat tumbuh dengan subur. Paling baik diberikan pada tanaman yang sedang dalam masa vegetatif dan masa perkembangan biakan, pasalnya ketika masa perkembangbiakan tanaman sedang banyak membutuhkan. Keuntungan pupuk cair ekstrak lamtoro antara lain: a. Pengerjaan pemupukan akan lebih cepat b. Penggunaannya sekaligus melakukan perlakuan penyiraman sehingga dapat menjaga kelembaban tanah c. Aplikasi bersama peptisida organik berfungsi sebagai pencegah dan pemberantas pengganggu tanaman d. Penggunaan ekstrak daun lamtoro baik bagi tanaman dan ramah akan lingkungan. e. Pada ekstrak daun lamtoro terdapat unsur hara (N,P,K) dengan jumlah yang sesuai yang dibutuhkan oleh tanaman pada saat mengalami pertumbuhan.

2.5. Hipotesis 1. Hipotesis Penelitian adalah: a. Hipotesis Nihil (Ho). Tidak ada pengaruh pemberian ekstrak daun lamtoro ( Leucaena leucocephala L.) terhadap hasil tanaman sawi pakcoy (Brassica rapa L.) dengan pemberian konsentrasi yang berbeda. b. Hipotesis Alternatif (Ha). Terdapat pengaruh pemberian ekstrak daun lamtoro (Leucaena leucocephala L.) terhadap hasil tanaman sawi (Brassica rapa L.) dengan pemberian

konsentrasi yang berbeda. 2.Hipotesis Statistik a. Hipotesis Nihil (Ho) So= S1 = S2 = S3 = S4 = S5 b. Hipotesis Alternatif (Ha) So S1 S2 S3 S4 S5