Anda di halaman 1dari 36

Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Republik Indonesia

REGIONAL DEVELOPMENT

NILAI TAMBAH/ INOVASI

POTENSI/ KARAKTER DAERAH

KOORDINASI DUKUNGAN/ KOLABORASI USAHA

PENGANTAR RAPAT KOORDINASI TEKNIS KEBIJAKAN PENGUATAN KAWASAN PENGEMBANGAN EKONOMI TERPADU Jakarta, 30 Januari 2014

KERANGKA PAPARAN
DINAMIKA EKONOMI GLOBAL, POSISI EKONOMI NASIONAL TERKINI, DAN PEKERJAAN RUMAH

1.

2.

POLICY RESPONS TERHADAP DINAMIKA EKONOMI GLOBAL

3.

PROGRAM PENGUATAN KAPET SEBAGAI PEMACU PELAKSANAAN MP3EI

DINAMIKA EKONOMI GLOBAL, POSISI EKONOMI NASIONAL TERKINI, DAN PEKERJAAN RUMAH

EKSTER NAL

INTERNA L

EKSTER NAL

PERUBAHAN PUSAT PERTUMBUHAN DAN KELESUAN EKONOMI GLOBAL

Sumber: World Bank

Slide 4

EKSTER NAL

UPAYA KERJASAMA EKONOMI INTERNASIONAL DALAM PROSES INTEGRASI EKONOMI GLOBAL

Lembaga Pemerintah Pengatur: 1. PBB 2. WTO 3. WCO 4. ISO

Lembaga Pemerintah Pendukung: 1. Bank Dunia 2. IMF

Lembaga Kerjasama Swasta: 1. ICC 2. ITC 3. CODEX

Sifat Kerjasama Ekonomi Internasional: 1. Perluasan Pasar/FTA 2. Blok Pasar 3. Pertukaran Potensi Ekonomi

POSISI
Indikator Nilai Tukar

RINGKASAN PERKEMBANGAN PEREKONOMIAN DOMESTIK TERKINI


Kinerja

Per 31 Des 2012: Rp9.670/USD depresiasi 6,6 % (ytd) Per 31 Desember 2013 : Rp12.189/USD depresiasi 19,54%(ytd) Per 15 Januari 2014 : Rp12.085/USD apresiasi 0,71% (ytd) Per 31 Des 2012: 4.316,7 menguat 12,9% (ytd) Per 30 Desember 2013 : 4.274,18 melemah 0,98% (ytd) Per 15 Januari 2014 : 4.441,59 menguat 3,92% (ytd) Inflasi sepanjang tahun 2012 sebesar 4,30% (ytd, yoy), rata-rata inflasi 2012: 4,28%, lebih rendah dibandingkan rata-rata 2011: 5,38% Inflasi Desember 2013: 0,55% (mtm) atau 8,38% (ytd,yoy) Rata-rata ICP sepanjang tahun 2012 sebesar US$112,7 per barel. Per Desember 2013 ICP mencapai US$107,2 per barel. Rata-rata tahun 2013 sebesar US$105,9 per barel Total capital inflow Jan-27 Des 2013 sebesar Rp37,3T. Saham = net outflow 20,7T; SUN net inflow 53,7; SBI (s.d Okt) = net inflow 5T. Capital intflow per 15 Januari 2014 adalah sebesar Rp 1,08 Triliun. Sehingga akumulasi capital intflow pada bulan Januari adalah sebesar 2,84 Triliun. Sementara di pasar SUN, posisi kepemilikan asing per 13 Januari 2014 adalah sebesarRp325,73 T, lebih tinggi dari posisi 31 Desember yang sebesar 323,65T. Per 30 Des 2012: Yield SUN 10Y = 5,19%, sedangkan Yield SUN 5Y = 4,755% Per 30 Des 2013: Yield SUN 10Y berada pada posisi 8,47%, sedangkan Yield SUN 5Y berada pada posisi 8,07%. Per 15 Jan 2014 : Yiled SUN 10Y berada pada posisi 8,6 %, sedangkan Yield SUN 5Y berada pada posisi 8,03%. Slide 6

IHSG

Inflasi Harga Minyak Mentah Indonesia

Arus Modal Masuk

Yield SUN

POSISI
Indikator Pertumbuhan PDB

RINGKASAN PERKEMBANGAN PEREKONOMIAN DOMESTIK TERKINI (2)


Kinerja Q3-2013 : 5,62% (yoy) atau 2,96 (qoq). Jan-Sept 2013 : 5,83% (yoy) Sepanjang 2012 : 6,23% (yoy). PDB nonmigas 6,8%, PDB migas -3.3% Realisasi investasi Triwulan III 2013 sebesar Rp100,5T atau naik 22,9% (yoy) PMA : Rp 67T naik 18,4% (yoy) PMDN : Rp 33,5T naik 32,9%(yoy) Realisasi investasi Jan-Sept 2013 mencapai Rp293,3T atau naik 27,6% (yoy) PMA : Rp 199,2T naik 21,3% (yoy) PMDN : Rp 94,1T naik 43,2%(yoy) November 2013 : Ekspor turun 2,4% (yoy) menjadi US$15,92 miliar impor turun 10,5% (yoy) menjadi US$15,15 miliar Surplus perdagangan sebesar US$776,8 juta Jan Okt 2013 : Ekspor tumbuh -5.47% (ytd) Impor tumbuh -1,98% (ytd) Kumulatif defisit perdagangan hingga akhir Q313 USD6.4 miliar

Investasi Langsung

Perdagangan Internasional

Neraca Pembayaran

Defisit transaksi berjalan sedikit menurun dari US$9,95 miliar (-4,4% dari PDB) pada Q2-2013 menjadi US$8,45 miliar di Q3-2013 (-4,0% PDB) .
Transaksi modal dan finansial masih positif walau menurun dari US$8,4 miliar di Q213 menjadi US$4,9 miliar.
Slide 7

POSISI
(1) United States (2) China

TAHUN 2012 INDONESIA MENJADI PERINGKAT KE-16 BESAR DUNIA


2 9 7 6 2 2 2

(3) Japan
(4) Germany (5) France (6) United Kingdom (7) Brazil (8) Italy (9) Russia

18 26

16

16

24
28

26

China
1990 1995 2000 2005 2010

Indonesia
2011 2012

(10) India
(11) Canada (12) Australia (13) Spain (14) Mexico (15) South Korea (16) Indonesia

(17) Turkey
(18) Netherlands (19) Saudi Arabia (20) Switzerland (21) Sweden (22) Norway (23) Iran (24) Belgium (25) Argentina 0 2,000 4,000 6,000 8,000 10,000 12,000 14,000 16,000

Sumber: World Bank, CEIC, IMF

Pada tahun 2005, Indonesia masih di peringkat 26. Keberhasilan pembangunan ekonomi indonesia telah membawa Indonesia ke dalam kelompok G20. Survey terbaru dari JBIC menyatakan Indonesia adalah negara yang paling potensial Untuk Medium term bagi pelaku industri di Jepang McKinsey & Company, dalam The Archipelago Economy: Unleashing Indonesias Potentials, menyebutkan Indonesia akan menduduki urutan ke-7 dunia pada tahun 2030. Syaratnya: 1) peningkatan pesat produktivitas tenaga kerja; 2) perlunya mewujudkan pertumbuhan ekonomi yang berkualitas; dan 3) negara perlu meningkatkan kemampuan pengelolaan terhadap peningkatan yang pesat dari konsumen penduduk kelas menengah (efisiensi sistem logistik dsb.).
Slide 8

POSISI

Global Competitiveness Index (2013-2014)

Indonesia: dari urutan ke-50* (2012-2013) naik ke-38 (2013-14)


Innovation & Sophistication Factors (33)
12. Innovation (33) 11. Business sophistication (37)

Key for Innovationdriven

Efficiency Enhancers (52)

10. Market size (15) 9. Technological readiness (75) 8. Financial market dev. (60) 7. Labor market efficiency (103) 6. Goods market efficiency (50) 5. Higher education and training (64)

Key for Efficiency-driven

Basic Requirements (45)

4. Health & primary education(72) 3. Macroeconomic environment (26) 2. Infrastructure (61) 1. Institutions (67)

Key for Factor -driven


Slide 9

* Dari 148 Negara

INTERNA BEBERAPA PEKERJAAN KEDEPAN L

RUMAH

DOMINASI P. JAWA DALAM PEMBENTUKAN PDB NASIONAL PDB Nasional (BPS, Des 2012) ~ US$ 910 B

Sumatera
23,8%

Sulawesi 4,8% Kalimantan 9,3%


Papua-Maluku

2,1%

57,5 %

Jawa

Bali-NT
2,5%

Slide 10

INTERNA MASALAH INFRASTRUKTUR MASIH MENJADI BEBAN DAYA SAING EKONOMI NASIONAL L

42

52

42

57

85

75

59

Slide 11

INTERNA L
NAD 91,06% Sumut 88,69% Riau 86,10%

RASIO ELEKTRIFIKASI AKHIR TAHUN 2013


Kepri 84,50%

Kaltim 73,69%
Kalteng 80,41% Gorontalo 66,03% Sulut 77,90% Malut 79,74%

Category :

> 60 % 41 - 60 %

Kalbar 76,37%

20 - 40 %
Papua Barat 71,49%

Sumbar 78,72% Jambi 75,30% Bengkulu 79,88% Lampung 77,39%

Sumsel 74,50% Babel 94,77%

Sulbar 75,01%

Sulteng 70,40%

Sultra 66,93% Kalsel 77,71% Bali 77,35% Maluku 75,92% Papua 50,20%

Jakarta 99,99% Banten 80,20%


Jabar 77,36% Jateng 83,98%

Sulsel 78,77%

DIY 81,43%

Jatim 77,15%

NTB 62,86%

NTT 60,78%

REALISASI (Tahun) 2006 Rasio Elektrifikasi 63% 2007 2008 2009 2010 2011 2012 2013 80,4%

RENCANA 2014 81,5%

64,3% 65,1% 65,8% 67,2% 72,95% 76,56%

INTERNA L

URJENSI MENINGKATKAN DAYA SAING SUMBER DAYA MANUSIA

PENDUDUK YANG BEKERJA MENURUT PENDIDIKAN

Sumber: Berita Resmi Statistik No. 35/05/Th. XVI, 6 Mei 2013

Penyerapan tenaga kerja hingga Februari 2013 masih di dominasi oleh penduduk bekerja berpendidikan rendah.
Slide 13

INTERNA L

INCOME DISTRIBUTION GAP


Laju Pertumbuhan Pengeluaran Per Kapita, 2008-2012
+Rp 370.000/kap/bl 40% +Rp750.000/kap/bl 80%

+Rp 250.000/kap/bl 12%

Miskin 29 juta
Penanggulangan Kemiskinan
Sumber: BPS & TNP2K

Rentan 70 juta
&
Perlindungan Sosial

Menengah 100 juta


Perlindungan Sosial, Iklim Usaha & Akses Pasar

Atas 50 juta
Iklim Usaha

Pemberdayaan Masyarakat
Slide Slide 14 29

POLICY RESPONS TERHADAP DINAMIKA EKONOMI GLOBAL

STRATEGI NEGARA ASEAN: PROMOSI EKONOMI, BUKAN PROTEKSI

Malaysia

Progressive liberalization FDI liberalization process Enhancing FTA Learning from foreign best practices: Adopt Quality Standards for Goods and Services and Convert Existing Malaysian Standards into International Standards Promotion agencies . Enhancing Economic Development Zone Export Processing Implementing FTA to reduce trade barriers Developing Technology Economic Development Zone, removing barrier entry. Enhancing Services in all business cycles Triying to remove discriminatory pre-investment conditions in all sectors Investment facilitation (more transparent, consistent and predictable investment rules, regulations, policies and procedures.) Promote the growth and development of SMEs and MNEs . Introduce a new Customs and Tariff Modernization Act to comply with the Revised Kyoto Convention (RKC) Reduce Regulatory Bottlenecks, Entry Barriers and Discriminatory Provisions to Investment Promote joint investment missions that focus on regional clusters and production networks. FDI liberalization process Enhancing step up efforts to ease the way of doing business, to comply with international business best practices and to increase investors confidence

S
E A N

Thailand

Singapura

Philipina

Vietnam

INDONESIA: Sedang dibahas Instruksi Presiden mengenai strategi masing-masing sektor dalam menghadapi Komunitas Ekonomi ASEAN 2015. Namun demikian MP3EI merupakan strategi dalam menghadapi dinamika ekonomi global termasuk Komunitas Ekonomi ASEAN 2015. Oleh karena itu Program Enhanching Global Competitiveness untuk SDM, Wirausaha, dan Produk Barang dan Jasa ditujukan juga untuk menghadapi Komunitas Slide 16

PEDOMAN MEMBANGUN KETAHANAN EKONOMI NASIONAL


TUJUAN
Menuju negara maju yang lebih sejahtera (High Growth dan National Competitiveness) Percepatan dan perluasan pembangunan Ekonomi di seluruh wilayah Tanah Air (Memperkuat Integrasi Ekonomi Domestik)

3 PILAR STRATEGI
1 PENGEMBANGAN POTENSI EKONOMI MELALUI KORIDOR EKONOMI Pengembangan (dan revitalisasi) pusat-pusat pertumbuhan Luar Jawa 2 PENGUATAN KONEKTIVITAS NASIONAL Sinergi antar-pusat pertumbuhan dan pemerataan infrastruktur dasar 3 PENGUATAN KEMAMPUAN SDM DAN IPTEK NASIONAL Mendorong ke arah innovation driven economy

PRASYARAT
1. Perubahan mindset 2. Pengembangan Mutu Modal Manusia 3. Pemanfaatan seluruh sumber Pembiayaan Pembangunan 4. Pola pengelolaan Anggaran & Kekayaan Negara yang lebih baik. 5. Konsistensi kebijakan yang mendorong transformasi sektoral 6. Keberlanjutan Jaminan Sosial & Penanggulangan Kemiskinan 7. Ketahanan Pangan & Air. 8. Ketahanan Energi 9. Reformasi Birokrasi
Slide 17

PENGEMBANGAN KAWASAN-KAWASAN EKONOMI


KAPET BANDAR ACEH DARUSSALAM
KEK SEI MANGKEI KPBPB SABANG KAPET KHATULISTIWA KAPET SASAMBA KAPET MANADO BITUNG KEK BITUNG

KAPET PALAPAS KAPET SERAM KAPET BIAK

KPBPB BATAM, BINTAN, KARIMUN KEK TANJUNG LESUNG

KEK PALU KAPET DAS KAKAP

: KEK : KPBPB : KAPET

KAPET BATU LICIN KAPET BIMA KAPET MBAY KAPET PARE-PARE

KAPET BANK SEJAHTERA

Kawasan Perhatian Investasi (KPI)


Gambar : Ilustrasi Kawasan Perhatian Investasi

NO 1 2 3 4 5 6

KORIDOR EKONOMI Sumatera Jawa Kalimantan Sulawesi Bali Nusa Tenggara Papua Kep. Maluku TOTAL

JUMLAH KPI 19 34 37 31 24 22 167

KPI PRIORITAS 13 28 16 15 8 12 92

MODALITAS BANGSA
1 Sumber Daya Manusia 3 Negara Demokrasi Terbesar ke-3 di Dunia

4 2 Sumber Daya Alam

Letak Geografis dan Maritim (Geo Strategis)

Slide 20

PROGRAM PENGUATAN KAPET SEBAGAI PEMACU PELAKSANAAN MP3EI

KAPET
1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12.

PERTIMBANGAN PENGUATAN KAPET

Reformasi yang merubah tatanan kehidupan bernegara (Remodeling Statehood): desentralisasi, demokratisasi, reposisi peran Pemerintah/Corporate-state run economy. Meningkatkan tertib pemanfaatan ruang sesuai dengan rencana tata ruang nasional.

Adanya MP3EI yang mendorong penguatan integrasi ekonomi domestik, pengembanatgan potensi ekonomi daerah, dan peningkatan SDM, IPTEK, Teknologi, dan Inovasi. Adanya perbedaan karakter dan potensi sumber daya ekonomi diberbagai daerah yang menjadi unggulan dan andalan kegiatan ekonomi masyarakat. Perlunya mendorong pengembangan investasi dan ekspor daerah yang manfaat ekonominya dinikmati oleh Pemerintah dan masyarakat setempat termasuk mempercepat penyerapan tenaga kerja lokal.
Perlunya mendorong produk-produk unggulan ekspor baru yang mampu bersaing di pasar global. Perlunya memperluas kegiatan pengolahan SDA di luar pulau Jawa, khususnya wilayah bagian timur Indonesia. Sebagai pelaksanaan kebijakan pengembangan Sistim Logistik Nasional yang menterhubungkan antar potensi kawasan/koridor ekonomi yang sekaligus memiliki jaringan ke pasar global. Pengembangan digital government (e-gov) seperti INSW, E-Proc, E-Catalog, dsb untuk efisiensi pelayanan publik. Mempercepat pembangunan infrastruktur, air, dan energi secara luas di berbagai wilayah timur, khususnya remote area yang memiliki keungulan komparatif, dsb. Adanya program-program K/L yang dikonsentrasikan di daerah, seperti Minapolitan, Terminal Agro, Agro-teknopolitan, Pengembangan daerah tertinggal, ekonomi masyarakat hutan, dsb. Mempermudah pelaksanaan dan pengawasan berbagai fasilitas pengembangan kawasan termasuk pengembangan fasilitas kawasan berikat, Inland-FTA, dsb.

KAPET

ISU-ISU PEMBANGUNAN EKONOMI

Infrastruktur Energi Penguatan Otonomi Daerah Tata Ruang Sustainable Production and Consumption

Ketahanan Pangan Peningkatan Nilai Tambah Sektor Pemerataan Distribusi Pendapatan Daya Saing Global: SDM, Korporasi, dan Produk

Peningkatan Ekspor Perluasan Investasi Memperkecil ketertinggalan dan keterisolasian daerah tertentu

POTENSI UNGULAN YANG MENJADI FOKUS DI 13 KAPET


KAPET KAPET ACEH KOMODITAS UNGGULAN Padi, Sapi, Kelap,a, Kopi, Ikan, Kelapa Sawit, dan Perkayuan (Rotan), Sektor Industri Padi, Jagung, Kelapa sawit, dan Karet Kelapa sawit dan Perkayuan Padi, Karet, Sapi, Ikan, dan Rotan Kelapa sawit dan Perkayuan Pariwisata (bahari, ekowisata, MICE), Kelapa, Ikan pelagis, dan Rumput laut Kakao dan Rumput laut Padi, Kopi, Kakao, Udang, dan Sapi Kakao, dan Padi sawah Sapi, Jagung, dan Rumput laut Sapi, Garam, Rumput Laut, MICE dan Jagung Perikanan tangkap, Kelapadalam, dan Koridor Ekonomi Papua Pusat Pengembangan Pangan, Cengkeh Kep. Maluku Perikanan, Energi dan Jeruk manis, Rumput laut, Udang, Teripang Pertambangan Nasional dan Pariwisata Koridor Ekonomi Bali Pintu Gerbang Nusa Tenggara Pariwisata dan Pendukung Pangan Nasional Koridor Ekonomi Sulawesi KORIDOR EKONOMI Koridor Ekonomi Sumatera Koridor Ekonomi Kalimantan TEMA PEMBANGUNAN KORIDOR Sentra Produksi dan Pengolahan Hasil Bumi dan Lumbung Energi Nasional Pusat Produksi dan Pengolahan Hasil Tambang & Lumbung Energi Nasional

KAPET Khatulistiwa KAPET Sasamba KAPET Das Kakab KAPET Batu Licin KAPET Manado Bitung KAPET Palapas KAPET Pare Pare KAPET Bank Sejahtera KAPET Bima KAPET Mbay KAPET Seram KAPET Biak

Pusat Produksi dan Pengolahan Hasil Pertanian, Perkebunan, dan Perikanan serta Pertambangan Nikel Nasional

KAPET

KORIDOR EKONOMI SUMATERA


KOMODITAS UNGGULAN
Padi

Sapi
Kelapa Kopi Ikan Kelapa Sawit dan Perkayuan (Rotan) Sektor Industri

BANDA ACEH Sentra Produksi dan Pengolahan Hasil Bumi dan Lumbung Energi Nasional

KAPET
KALIMANTAN Pusat Produksi dan Pengolahan Hasil Tambang & Lumbung Energi Nasional
A. KAPET KHATULISTIWA

KORIDOR EKONOMI KALIMANTAN


Padi Jagung Kelapa sawit
D. KAPET SASAMBA

Padi Karet Sapi

Ikan
Rotan

Karet Kelapa sawit dan Perkayuan

Kelapa sawit D dan Perkayuan

B. KAPET DAS KAKAP C. KAPET BATU LICIN

KAPET

KORIDOR EKONOMI SULAWESI


SULAWESI Pusat Produksi dan Pengolahan Hasil Pertanian, Perkebunan, dan Perikanan serta Pertambangan Nikel Nasional
Kakao
Rumput laut

A. KAPET PALAPAS

B. KAPET MENADO BITUNG

Pariwisata (bahari, kowisata, MICE) Kelapa Ikanpelagis

C. KAPET BANK SEJAHTERA

Kakao
D. KAPET KAPET PARE-PARE

Rumput laut Padi Kopi Kakao Udang

Padi sawah

Sapi

KAPET

KORIDOR EKONOMI BALI NUSA TENGGARA


A B

BALI NUSA TENGGARA Pintu Gerbang Pariwisata dan Pendukung Pangan Nasional

Sapi

Sapi Garam

Jagung
Rumput Laut Rumput laut MICE Jagung
A. KAPET BIMA B. KAPET MBAY

KAPET
Perikanan tangkap

KORIDOR EKONOMI PAPUA KEP. MALUKU


A PAPUA KEP. MALUKU Pusat Pengembangan Pangan, Perikanan, Energi dan Pertambangan Nasional

Kelapa dalam Cengkeh

Jeruk manis Rumput laut Udang Teripang Pariwisata

A. KAPET SERAM

B. KAPET BIAK

KAPET

KUNCI REVITALISASI KAPET

Desentralisasi institusi pengelola KAPET

Legitimasi manajemen KAPET

Penguatan koordinasi dan sinergitas dukungan K/L, Pemda, Pelaku Usaha, dan Pemangku Kepentingan Lainnya dalam penyediaan lahan, infrastruktur (Hard dan Soft), Air, Listrik, Pelaksanaan program pengembangan sektor, dan komitmen pelaku usaha

KAPET

TINDAK LANJUT

Revisi KEPPRES No. 150/2000 tentang KAPET dalam rangka Revitalisasi KAPET untuk:

menetapkan unit kerja di tingkat nasional (Seknas) yang berfungsi koordinasi kebijakan dan sinkronisasi program, serta pengawasan pelaksanaan pengembangan KAPET. Sedangkan badan pengelola di Daerah membuat rencana kerja/program dan mendukung pelaksanaan kegiatan bisnis di masing-masing KAPET. Menegaskan penyusunan RTR KAPET sebagai acuan spasial selama 20 tahun; Menyusun Roadmap/Masterplan KAPET untuk mengidentifikasi arah, strategi, kebijakan, program/kegiatan KAPET. K/L dan SKPD menyusun program/kegiatan yang dituangkan dalam RENSTRA dan RENJA;
Melakukan Sosialisasi dan branding KAPET;

Memulai pilot project pembangunan KAPET Parepare (Sebagai model) yang dimuat dalam development Package sebagai upaya perwujudan dari sinergitas program K/L.

KAPET REVITALISASI INSTITUSI PENGELOLA KAPET


MEKANISME KERJA STRUKTUR ORGANISASI KETERANGAN
Kebijakan Nasional berorientasi kawasan berbasis: RPJP RTR/RTRWN Policy dituangkan dalam RPJMN 2015- 2019 Peran Seknas : 1. Penggerakan K/L dalam KSN KAPET 2. Memberikanmasukan dalam penyusunan Renstra dan Renja K/L (2015-2019) dalam mendukung program untuk KSN KAPET 3. Mengintegrasikan seluruh kebijakan sektor di PusatDaerah 4. Mengevaluasi dukungan K/L dalam pengembangan KSN 5. Menciptakan ruang kondusif bagi iklim investasi (pemerintah dan Swasta) 6. Mensinergikan program pembangunan kawasan dalam kerangka mendorong MP3EI dan KEK

SEKNAS

PUSAT

SEKNAS

PMU
A B C

K/L Terkait

GUBERNUR
A
Kab/Kota Terkait

DAERAH

GUBERNUR
BADAN PENGELOLAA KAPET

Gubernur membentuk gugus tugas (c/ Badan Pengelolaa KAPET ) di daerah dalam rangka: 1. Mengonsolidasikan program di tingkat provinsi (antar SKPD dan integrasi antar kabupaten/kota) 2. Menetapkan alokasi ruang di KAPET 3. Kemudahan dan perijinan investasi

Kab/Kota Terkait

KAPET
RTRWN

PENYUSUNAN ROAD MAP KAPET 2015-2019

RTR KSN KAPET

RPJP/D 2005-2025

GRAND DESIGN PENGELOLAAN KAWASAN STRATEGIS NASIONAL

Jk panjang

Jk menengah RPI2JM (KSN )

ROAD MAP KAPET NASIONALDAERAH

RPJMN/D 2015-2019

Kebijakan, Strategi, Sasaran, Target Outcome, Agenda Program, Rencana Kebutuhan Anggaran

Renstra K/L SKPD 20152019

CATATAN: Road Map dan Masterplan sebagai instrumen keterpaduan secara menyeluruh

RKP/D TAHUNAN

RENCANA AKSI NASIONALDAERAH TAHUNAN MUSRENBANG DA/NAS FORUM K/L (KONREG PU)

Tahunan

Renja K/LSKPD RKA K/LSKPD

KAPET

GAMBARAN KOORDINASI DAN SINERGITAS PENGUATAN KAPET


SKPD
DINAS PEKERJAAN UMUM DINAS PERHUBUNGAN KEM. PEKERJAAN UMUM

Kementerian / Lembaga

KEM. PERHUBUNGAN KEM. PERTANIAN KEM. KELAUTAN DAN PERIKANAN KEM. DALAM NEGERI KEM. PERINDUSTRIAN KEM. PERDAGANGAN KEM. ESDM KEM. PEMBANG DATING BKPM

Minapolitan

KI
KSCT

DINAS PERTANIAN DINAS KELAUTAN DAN PERIKANAN

Agropolitan

KAWASAN PENGEMBANGAN EKONOMI TERPADU

BAPPEDA

RM
DINAS PERINDUSTRIAN DINAS PERDAGANGAN

Kompetensi Inti Industri Daerah

DINAS ESDM BKPMD


34

KAPET
Kluster pengembangan kawasan peruntukan pertanian pangan berkelanjutan
Agropolitan

Sinergitas Program Pengembangan Ekonomi Berbasis Kawasan (KAPET Pare-pare RM Aksess KSCT KAB.Pare-pare)

Kluster pengembangan kawasan peruntukan agropolitan perkebunan

Minapolitan

Kluster pengembangan kawasan minapolitan berbasis masyarakat kegiatan perikanan budi daya (udang, rumput laut)

Kluster pengembangan kawasan peruntukan peternakan berbasis agrobisnis dan breeding center Kluster pengembangan sentra industri pengolahan pertanian tanaman pangan padi dan jagung, perkebunan kakao yang bernilai tambah tinggi dan ramah lingkungan Kluster pengembangan simpul distribusi Garongkong sebagai simpul distribusi hasil olahan industri turunan perkebunan, pertanian, dan perikanan

Koridor Ekonomi RM Aksess


Rumput Laut dan Jagung

Pusat Koridor Pusat KAPET Kawasan KSCT (Minapolitan) Kawasan KSCT (Agropolitan)

...... bangunlah jiwanya, bangunlah badannya untuk Indonesia Raya ............ (W.R. Supratman)

www.ekon.go.id