Anda di halaman 1dari 5

Menyoal Shalat Sunnah Qobliyah Jum’at

Penulis: Buletin Jum’at Al-Atsariyyah

Ibadah merupakan suatu perkara yang sangat urgen dalam kehidupan seorang muslim,
sebab jika seseorang melazimi suatu ibadah, itu menunjukkan adanya alamat dan
tanda kebaikan pada dirinya. Namun yang sangat perlu diperhatikan dalam ibadah ada
dua perkara. Dua perkara ini merupakan syarat terpenuhinya dan terkabulnya ibadah
seseorang di hadapan Allah -Azza wa Jalla-, yaitu:

* Pertama : Mengikhlaskan (Mengkhususkan) Ibadah Hanya kepada Allah

Jika seorang ingin diterima amalnya di sisi Allah, maka ia harus mengikhlaskan
amalnya dari noda-noda syirik dengan mengharapkan pahala kepada Allah dalam
beribadah kepada-Nya saja. Namun jika ia menodainya dengan riya’ (mau dipuji dan
diperhatikan), maka ia terkena firman Allah -Ta`ala-,

“Dan sesungguhnya telah diwahyukan kepadamu dan orang-orang sebelum kamu: Apabila
kamu berbuat syirik(tidak ikhlas), maka amalanmu benar-benar akan hilang dan akan
menjadi orang-orang yang merugi.Bahkan sembahlah Allah saja, dan menjadilah orang-
orang yang bersyukur”. (QS.Az-Zumar : 65-66)

Allah -Ta`ala- berfirman:

“Sembahlah Allah,dan janganlah kalian memperserikatkan sesuatu dengan-Nya”. (QS.


An-Nisaa’: 36)

Syaikh Al-AllamahAbdur Rahman bin Hasan Alusy-Syaikh -rahimahullah- berkatadalam


mengomentari ayat di atas, ”Ayat ini menerangkan tentang ibadah yang mereka
diciptakan karenanya. Sungguh Allah -Ta`ala- menggandengkan perintah ibadah yang
diwajibkan dengan larangan berbuat syirik yang telah diharamkan,yaitu kesyirikan
dalam beribadah. Maka ayat ini menunjukkan bahwa menjauhi kesyirikan merupakan
syarat sahnya suatu ibadah. Maka pada asalnya,tidaklah sah suatu ibadah tanpa
adanya syarat tersebut”. [Lihat Fathul Majid (hal.24), cet. Darus Salam]

* Kedua : Mutaba`ah (Mengikuti) Sunnah Rosululloh Shallallahu 'Alaihi


Wasallam

Ibadah yang dilakukan oleh seorang muslim, selain harus ikhlas, juga harus
mutaba’ah (mengikuti) sunnah Nabi Shollallahu alaihi wa sallam-. Jika sekedar
ikhlas, namun tidak mengikuti sunnah, maka ibadah itu tertolak. Nabi -Shollallahu
alaihi wa sallam- bersabda,

‫َد‬
ّ
ٌ ‫َ ر‬
‫ُو‬‫َه‬
‫ُ ف‬
‫ْه‬‫ِن‬
‫َ م‬
‫ْس‬‫َي‬
‫ما ل‬ ََ
َ ‫ذا‬‫نا ه‬ ‫َم‬
َِ‫ْر‬ ‫ِيْ أ‬ ‫َث‬
‫َ ف‬ ‫َحْد‬
‫َنْ أ‬
‫م‬

“Barang siapa yang mengadakan suatu perkara (baru) dalam urusan (agama) kami ini
yang bukan termasuk darinya,maka perkara itu tertolak”. [HR. Al-Bukhory dalam Ash-
Shohih (2697)]
Al-Imam Ibnu Daqiq Al-Ied-rahimahullah- berkata,“Hadits ini merupakan kaidah yang
sangat agung diantara kaidah-kaidah agama. Dia termasuk "Jawami’ Al-Kalim"

(Ucapan yang ringkas, padat maknanya) yang diberikan kepada Al-Mushthofa


-Shollallahu ‘alaihi wasallam-, karena hadits ini jelas sekali dalam menolak
segala bentuk bid`ah dan perkara-perkara baru”.[Lihat Syarah Al-Arba`in An-
Nawawiyah (hal.43), Cet.Dar Ibnu Hazm]

Jadi, seorang muslim yang memiliki perhatian terhadap segala amalan dan ibadahnya,
akan senantiasa menjaga dua perkara tersebut, yaitu mengikhlashkan ibadahnya
semata kepada Allah Robbul alamin dan mutaba`ah (mengikuti) sunnah Rasulullah
-Shollallahu alaihi wa sallam- . Dengan ini, dia akan selalu berusaha mengilmui
dan mengetahui sejauh mana tingkat keikhlasan dan mutaba`ah-nya kepada Nabi
-Shollallahu ‘alaihi wasallam-.

Artinya, ia selalu mengilmui suatu amalan ibadahnya sebelum ia mengerjakannya,


apakah ikhlas dan sudah cocok dengan sunnah Nabi -Shollallahu ‘alaihi wasallam-.
Bukan hanya sekedar mengerjakan suatu ibadah, tanpa berusaha lebih dahulu untuk
mengilmuinya !!

Betapa banyak orang yang mengerjakan ibadah -sedangkan ia tidak memiliki ilmu
tentang ibadah tersebut- lalu ia menyangka bahwa dirinya telah memperoleh pahala
di sisi Allah -Ta’ala-, padahal ia tidak mendapatkan sesuatu apapun di sisi-Nya,
kecuali penyesalan.

Dirinya laksana orang kehausan melihat fatamorgana disangkanya air, bisa


menghilangkan dahaganya. Ternyata setelah ia menghampirinya, tiada lain kecuali
bayangan semu yang tiada artinya. Oleh karena itu, diantara ciri khas Ahlis Sunnah
adalah menggabungkan antara ilmu dan ibadah. Yaitu mereka tidak mengerjakan suatu
ibadah, kecuali setelah mereka mengetahui dan megilmui urusan ibadah tersebut.

Syaikh Muhammad ibnu Ibrohim Al-Hamed -hafizhohullah- berkata, “Diantara ciri khas
Ahlis Sunnah, (mereka) menggabungkan antara ilmu dan ibadah. Berbeda dengan
kelompok diluar mereka, adakalanya mereka sibuk ibadah, akan tetapi melalaikan
ilmu; atau adakalanya sibuk dengan ilmu, akan tetapi lalai beribadah . Adapun
Ahlis Sunnah wal Jama`ah, mereka itu menggabungkan antara dua perkara tersebut”.
[Lihat Aqidah Ahlis Sunnah wal Jama`ah (hal.46), Cet Dar Ibnu Khuzaimah]

Jalan dan manhaj beginilah yang seyogyanya ditempuh oleh setiap muslim;

selain ia beribadah, ia juga menyibukkan dan menghiasi dirinya dengan ilmu yang
bermanfaat dari Al-Kitab dan Sunnah berdasarkan bimbingan para salaf. Jangan
seperti sebagian orang jahil yang sibuk dengan ibadah, namun ibadahnya tidak
dilandasi dengan ilmu, bahkan berdasarkan perasaan dan taqlid buta kepada sebagian
orang yang dianggap berilmu alias kiyai !!

Ini banyak terjadi di kalangan para ahli ibadah dan orang-orang sufi. Ibnul Jauzy
-rahimahullah- berkata, ”Diantara tipu daya iblis atas orang-orang zuhud, mereka
meremehkan dan mencela para ulama`.Mereka mengatakan, "Tujuan yang paling utama
sebenarnya adalah beramal". Mereka ini tidak memahami bahwa ilmu itulah pelita
hati.” [Lihat Al Muntaqo An-Nafis min Talbis Iblis (hal.204) karya Syaikh Ali bin
Hasan Al-Halaby As-Salafy,Cet 3 Dar Ibnil Jauzy 1419H ]
Diantara fenomena seperti ini, yaitu beribadah, tanpa dasar ilmu, apa yang
dilakukan oleh sebagian orang pada hari ini saat mereka menghadiri shalat jum’at,
maka kita akan menyaksikan mereka melaksanakan 2 raka’at qobliyyah jum’at,
selain shalat sunnat tahiyatul masjid. Ketika mu’adzdzin berkumandang pada adzan
pertama atau kedua, ada sebagian orang bangkit dengan keyakinan ia akan
melaksanakan shalat 2 raka’at qobliyyah jum’at.
Padahal semua itu tak ada asalnya dalam sunnah. Karenanya, para ulama’ kita
berikut ini mengingkari hal ini:

Al-Hafizh Abu Syamah Abdur Rahman bin Isma’il Al-Maqdisiy -rahimahullah- berkata,

Ini-yakni hadits Ibnu Umar-merupakan dalil yang membuktikan bahwa jum’at menurut
mereka bukan zhuhur. Kalaulah tidak demikian, maka beliau-Ibnu Umar- tak perlu
menyebutkan jum’at, karena sudah masuk definisi zhuhur. Kemudian tatkala beliau
tidak menyebutkan shalat sunnah qobliyah jumat, hanya ba`diyahnya saja, maka ini
membuktikan bahwa tak ada shalat sunnah qobliyah jumat”. [Lihat Al-Ba`its ala
Inkaril Bida wal Hawadits ( hal.159)]

Syaikhul Islam Ahmad bin Abdul Halim Al Harrony -rahimahullah- berkata, ”Oleh
karena ini, jumhur ulama sepakat tidak adanya shalat sunnah yang ditentukan waktu
dan bilangannya. Karena semua itu harus ditetapkan berdasarkan sabda dan perbuatan
Nabi -Shollallahu Alaihi Wasallam-. Beliau tak pernah menetapkan sunnahnya hal itu
(sunnah qobliyyah Jum’at), baik berdasarkan ucapan ataupun perbuatan beliau.Inilah
madzhab Malik, Asy Syafi’i, dan sebagian besar pengikutnya serta pendapat yang
masyhur dalam madzhab Ahmad”. [Lihat Majmu’ Fatawa (1/136), dan Majmu’ah Ar
Rosa’il Al Kubro (2/167-168)]

Al-Allamah Abdur Rahim Ibnul Husain Al-Iroqy Al-Atsariy -rahimahullah- berkata,


“Saya belum pernah menjumpai di dalam pendapat para fuqoha` dari kalangan madzhad
Hanafi, Maliki , dan Hanbali adanya sunnah qobliyah jumat. Yang lain berpendapat
adanya qobliyah jumat, diantaranya An-Nawawy”. [Lihat Thorh At-Tatsrib (3/41)]

Syaikh Muhammad bin Ahmad bin Muhammad Abdus Salam Asy-Syuqoiriy -rahimahullah-
berkata, “Sesungguhnya pada asalnya, tak ada dalil yang menunjukkan shalat sunnah
rowatib qobliyyah Jum’at. Paling tinggi yang ada pada mereka adalah qiyas yang
tertolak tersebut. Dia (Fairuz Abadiy) berkata dalam Safar As-Sa’adah, “Dulu Bilal
apabila selesai adzan, maka Nabi -Shollallahu alaihi wa sallam- mulai berkhutbah,
dan tak ada seorangpun yang bangkit melaksanakan shalat sunnah. Sebagian ulama’
berpendapat tentang shalat sunnah qobliyyah Jum’at dengan mengqiyaskannya dengan
shalat Zhuhur. Penetapan shalat sunnah berdasarkan qiyas merupakan perkara yang
tidak boleh.
Para ulama’ yang memiliki perhatian dengan sunnah, mereka tidaklah meriwayatkan
sesuatu apapun tentang shalat sunnah qobliyyah Jum’at”.”. [Lihat As-Sunan wa Al-
Mubtada’at (hal.161), cet. Dar Ar-Royyan]

Al-Lajnah Ad-Da’imah li Al-Buhuts Al-‘Ilmiyyah wa Al-Ifta’

(Komite Tetap Riset Ilmiah dan Fatwa) di sebuah negeri Timur Tengah mengeluarkan
fatwa tentang tidak adanya shalat qobliyyah jum’at, “Shalat Jum’at tidak memiliki
shalat sunnah qobliyyah dan tidak ada dari Nabi -Shollallahu alaihi wa sallam-
(sepanjang pengetahuan kami) sesuatu yang menunjukkan tentang disyari’atkannya.
Adapun hadits Ibnu Mas’ud, maka ia diriwayatkan oleh At-Tirmidziy secara mu’allaq
dengan bentuk “tamridh”(istilah lemahnya hadits, pen), dan mauquf (terhenti) pada
Ibnu Mas’ud. Dinukil dalam Kitab Tuhfah Al-Ahwadziy
(3/79- cet. Dar Ihya’ At-Turots Arobiy, pen) dari Al-Hafizh, bahwa Abdur Rozzaq
dan Ath-Thobroniy telah mengeluarkan hadits ini secara marfu’, sedang pada
sanadnya terdapat kelemahan dan keterputusan.
Hadits sejenis ini tidak bisa dijadikan hujjah. Adapun hadits Abu Hurairah tentang
perkara Sulaik, maka haditsnya shohih. Akan tetapi, hadits itu dalam perkara
tahiyyatul masjid, bukan sunnah qobliyyah Jum’at. Adapun hadits, “Diantara dua
adzan ada shalat”,

maka ini tidak cocok pada shalat Jum’at, karena Rasulullah -Shollallahu alaihi wa
sallam- dulu memulai dengan khutbah, setelah usai adzan.
Tidak boleh melaksanakan shalat sunnah, sedang imam berkhutbah, kecuali tahiyyatul
masjid. Adapun qiyas, maka itu terlarang dalam ibadah-ibadah, karena ibadah
terbangun di atas tauqif (penetapan berdasarkan dalil). Kemudian, ia merupakan
“qiyas ma’al fariq”(qiyas batil). Akan tetapi bagi orang yang datang ke masjid
untuk shalat Jum’at, disyari’atkan untuk shalat (sunnah muthlaq,pen) sebagaimana
yang telah ditetapkan (ditaqdirkan) baginya, tanpa ada pembatasan dengan bilangan
tertentu, karena shohihnya hadits-hadits dalam perkara itu”.[Lihat Fatawa Al-
Lajnah Ad-Da’imah (8/260-261) (no. fatwa:7798), kumpulan Syaikh Ahmad bin Abdur
Razzaq Ad-Duwaisy, cet. Dar Balansia, 1421 H. Lajnah ketika itu beranggotakan:

Syaikh Abdul Aziz bin Baz (ketua), Abdur Razzaq ‘Afifi (wakil), dan

Abdullah Al-Ghudayyan (anggota)]

Muhaddits Negeri Syam, Syaikh Abu Abdir Rahman Muhammad Nashiruddin Al-Albany
-rahimahullah- berkata ketika mengomentari ucapan Al-Iroqy di atas, “Karenanya
shalat sunnah ini tidak tersebut dalam kitab Al-Umm karya Al-Imam Asy-Syafi’i,
tidak juga dalam kitab-kitab Al-Masa’il yang berisi pertanyaan kepada Imam Ahmad,
ataupun ulama-ulama mutaqoddimin selain mereka berdasarkan pengetahuan saya.Karena
ini saya katakan, "Sesungguhnya orang-orang yang mengerjakan shalat sunnah ini,
bukanlah Rosulullah -Shollallahu alaihi wasallam- yang mereka ikuti,
dan bukan pula para ulama yang mereka taklidi, bahkan mereka taklid kepada orang-
orang mutakhirin, bukan mujtahidin, sama-sama bertaklid.
Maka sungguh heran orang-orang bertaklid mengikuti sesamanya”.[Lihat Al-Ajwibah
An-Nafi’ah (hal.32)]

Syaikh Masyhur Hasan Salman-hafizhohullah- berkata, “Berangkat dari pembahasan


sebelumnya, maka jelaslah bagi anda kekeliruan orang-orang yang mengerjakan shalat
sunnah antara dua adzan di hari jumat, baik itu dua rokaat, empat rakaat, dan
seterusnya, karena meyakini bahwa itu merupakan shalat sunnah qobliyah jumat
-seperti halnya mereka melaksanakan shalat qobliyah zhuhur- dan mereka meniatkan
dalam hati mereka bahwa itu adalah shalat qobliyah Jum’at.!!
Sesungguhnya nas-nas sangat gamblang menjelaskan bahwa yang benar adalah Jumat itu
tak ada shalat sunnah qobliyahnya dan tak ada lagi setelah kebenaran itu kecuali
kesesatan…”.[Lihat Al-Qoul Al-Mubin (hal.361)]

Setelah kita mendengarkan fatwa-fatwa para ulama’ di atas, maka kita mengetahui
bahwa tak ada tuntunannya seorang muslim melakukan shalat sunnah 2 raka’at
qobliyyah jum’at. Namun jika seorang masuk ke masjid, boleh baginya shalat 2
raka’at walaupun sebelum dan sesudah adzan jum’at atau khotib sedang khutbah. Tapi
tentunya ini bukan shalat qobliyah jum’at, tapi disebut "shalat tahiyyatul
masjid". Demikian pula disyari’atkan shalat sebanyak-banyaknya sebelum datangnya
naik mimbar, tanpa terbatas dan terikat dengan bilangan tertentu. Ini yang disebut
"shalat sunnat muthlaq", bukan shalat Sunnah qobliyah jum’at !!

Sumber : Buletin Jum’at Al-Atsariyyah edisi 57 Tahun I. Penerbit : Pustaka Ibnu


Abbas. Alamat : Pesantren Tanwirus

Sunnah, Jl. Bonto Te’ne No. 58, Kel. Borong Loe, Kec. Bonto Marannu, Gowa-Sulsel.
HP : 08124173512 (a/n Ust. Abu Fa’izah). Pimpinan Redaksi/Penanggung Jawab : Ust.
Abu Fa’izah Abdul Qadir Al Atsary, Lc.
Dewan Redaksi : Santri Ma’had Tanwirus Sunnah – Gowa. Editor/Pengasuh : Ust. Abu
Fa’izah Abdul Qadir Al Atsary, Lc. Layout : Abu Dzikro. Untuk
berlangganan/pemesanan hubungi : Ilham Al-Atsary (085255974201). (infaq Rp.
200,-/exp)

http://almakassari.com/?p=244