Anda di halaman 1dari 7

CANINE DISTEMPER

Oleh AMRUL ILMAN 1102101010055

Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Syiah Kuala 2014

CANINE DISTEMPER Canine Distemper merupakan salah satu penyakit penting pada anjing yang dapat menyebabkan kematian yang cukup tinggi. Tingkat kematian akibat Canine distemper pada anjing menempati urutan kedua setelah rabies (Deemet al. 2000). Penyakit distemper adalah salah satu penyakit menular pada anjing yang telah lama dikenal dan masih banyak ditemukan di dunia (Rikula, 2008)

ETIOLOGI Penyakit distemper pada anjing merupakan penyakit viral yang bersifat multisistemik diantaranya sistem pernafasan, pencernaan, urinaria, saraf pusat dan sistem lainnya. Penyakit ini disebabkan oleh Virus Canine Distemper (VCD) family virus morbili. Penyakit distemper memiliki angka morbiditas dan mortalitas yang tinggi terutama pada populasi anjing yang tidak divaksinasi (Apple dan Gillespie, 1972; Fenner et al., 1993) Anjing yang terserang penyakit distemper biasanya yang berumur muda, terutama anak anjing yang tidak divaksin secara lengkap. Anjing yang diserang umumnya berumur kurang dari satu tahun (Krakowka dan Koestner, 1976). Hal ini terjadi karena pada umur ini terjadi penurunan antibodi maternal, tingkat stres yang tinggi pada masa pertumbuhan, dan serangan penyakit lain yang menurunkan kondisi tubuh (Suartha et al., 2008). Tetapi belum ada laporan adanya perbedaan lesi histopatologi antara anjing muda dengan yang dewasa Penyakit distemper menyerang semua ras anjing, kecuali jenis anjing pomeranian dilaporkan merupakan jenis yang paling lemah daya tahan tubuhnya terhadap virus distemper (Cahyono, 2009). Tidak ada perbedaan kepekaan antara jenis kelamin jantan dan betina pada anjing terserang penyakit distemper (Suartha et al., 2008). Canine Distemper merupakan penyakit akut atau subakut yang disebabkan oleh Canine Distemper Virus (CDV). Canine Distemper Virus adalah Virus RNA strain- Negatif, famili Paramyxoviridea, Subfamili Paramyxovirinae, dan Genus Morbilivirus. Virus ini berukuran (100-250 nm) ( 150- 300 nm). Canine Distemper Virus ( CDV) merupakan virus dengan kemampuan infeksi (penularan) tinggi, menyebabkan kerusakan sistemik dan

merupakan penyakit fatal yang menyerang anjing domestik maupun jenis anjing liar. Virus CDV bereplikasi terutama dalam jaringan limfatik dari saluran pernafasan. Sementara demam

dan limfopenia muncul setelah terjadi infeksi 3 sampai 6 hari. Pada umumnya, Infeksi akut CDV menyebabkan gangguan pernafasan atau gangguan Gastrointestinal atau keduanya, dan juga menyebabkan gangguan pada Sistem Saraf Pusat.

GEJALA KLINIS ( CLINICAL SIGNS) Penyakit ini ditandai dengan demam, leukopenia, gangguan pencernaan serta sering disertai dengan komplikasi pneumonia dan gangguan saraf. Gejala klinis yang timbul bila telah berlanjut pada susunan syaraf pusat seperti kejang-kejang dan myoclonus yang disertai dengan depresi, ataksia, paresis, paralisis dan tremor. Hewan yang terlihat kejang-kejang menandakan bahwa infeksi telah menyebar sampai otak dan menyebabkan kerusakan saraf. Kerusakan yang terjadi pada neuron dan astrosit oleh virus distemper menyebar secara perlahan namun infeksi ini menyebabkan kematial sel secara besar-besaran termasuk pada sel neuron yang tidak terinfeksi. Konjungtivitis Raum merah di wajah Eksudat mukopurulen oculonasal (keluar eksudat mukopurulen dari mata dan hidung) Depresi, lesu Batuk Diare diare berdarah, muntah Limfopenia Sulit bernafas Suhu tubuh meningkat Penurunan berat badan Imunosupresi akibat apoptosis Gangguan Saraf ( kejang, gemetar, inkoordinasi, kelumpuhan paraparesis atau Tetraparesis, hyperesthesia, mioklonus) Pengerasan/ hiperkeratosis hidung dan bantalan kaki Kerusakan gigi pada anjing neonatal.

Gambar I. Gejala Klinis yang khas pada anjing yang terinfeksi CDV: (A) Eksudat mukopurulen pada mata; (B) Wajah dipenuhi ruam merah;

(C) Pengerasan bantalan kaki pada anjing yang terinfeksi; (D) Diare berdarah

TRANMISI Penularan terjadi pada anjing yang tidak divaksinasi yang bersentuhan

dengan hewan yang terinfeksi. Canine distemper virus disebarkan paling sering oleh kontak dengan sekret saluran pernapasan dari hewan yang terinfeksi. Kontak melalui mulut, respirasi, eksudat cairan dari mata atau mulut, dan juga feses. Selain itu,

potensi sumber infeksi juga bisa akibat kontak dengan jaringan tubuh yang terinfeksi dan sekresi seperti urin. Anjing hamil yang tertular virus dapat menginfeksi

anak anjing yang berada dalam kandungan. Anjing yang terinfeksi CDV bersin mengeluarkan sekret hidung ke udara, sehingga menyebarkan virus. Virus ini menetap di dalam saluran hidung anjing dan menyebar ke

seluruh tubuh. Anjing akan mengalami demam seminggu setelah infeksi tetapi demam ini mungkin tidak terlalu terlihat. Dua minggu setelah infeksi, virus menghasilkan kerusakan parah pada sel-sel dari bagian hidung, mata, paru-paru, dan saluran pencernaan. Jaringan yang rusak sering diikuti infeksi sekunder oleh bakteri. Infeksi virus dan bakteri menyebabkan gangguan pada fungsi tubuh, ditandai dengan timbulnya gejala klinis. Jika infeksi ini tidak ditangani akan terjadi gangguan pada sistem saraf. Rute infeksi yang paling umum adalah melalui saluran pernafasan bagian atas karena menghirup udara yang sudah terkontaminasi virus distemper. Infeksi juga dapat terjadi dari menelan materi yang sudah terinfeksi virus. Jika jalan masuk virus melalui saluran pernafasan bagian atas, virus akan masuk dan menginfeksi kelenjar pertahanan sistem pernafasan dan disana akan terjadi replikasi virus. Virus kemudian memasuki aliran darah dan ditransportasikan ke sel-sel epitel di seluruh tubuh, termasuk epitel pernapasan dan pencernaan. Dalam 3-6 hari setelah hewan terinfeksi virus distemper suhu badan akan meninggi dan virus mulai masuk ke dalam peredaran darah. Dalam minggu kedua dan ketiga setelah infeksi, anjing mulai membentuk zat kebal untuk merespon infeksi dan jika mampu mengatasi virus distemper anjing tersebut akan sembuh tanpa menunjukkan gejala klinis. Apabila anjing tidak mampu mengatasi virus tersebut maka anjing tersebut akan memperlihatkan penyakit baik dalam bentuk akut atau subakut. Derajat viremia dan kemampuan penyebaran virus dipengaruhi oleh tingkat kekebalan yang terdapat pada tubuh anjing.

DIAGNOSA
Seorang dokter hewan dapat mendiagnosa kasus distemper berdasarkan gejala klinis yang tampak pada anjing dan hasil pemeriksaan laboratorium (cek darah dan test kit distemper). Infeksi virus distemper pada anjing dapat mengakibatkan berbagai perubahan patologis pada organ dan jaringan. Perubahan secara makroskopis pada organ paru-paru berupa adanya perubahan warna dan ukuran walaupun secara konsistensi masih relatif normal, sedangkan secara histopatologi organ ini banyak diinfiltrasi sel-sel radang, terutama di daerah interstitial paru-paru (Kardena et al., 2011).

PENGOBATAN
Tidak ada obat spesifik yang dapat digunakan untuk membunuh virus distemper yang sudah menginfeksi seekor anjing. Tindakan yang dapat dilakukan ialah untuk mencegah infeksi sekunder, mengendalikan muntah, diare dan gejala syaraf yang muncul, menangani kondis dehidrasi dengan memberikan cairan infus. Anjing yang terinfeksi distemper harus dijaga supaya tetap hangat, mendapatkan nutrisi yang cukup serta dipisahkan dari anjinganjing lainnya. Anjing yang sembuh dari distemper akan mengalami kejang atau gangguan sistem saraf pusat yang mungkin akan muncul setelah bertahun-tahun kemudian (pada usia tua). Anjing juga dapat mengalami kerusakan otak dan saraf permanen. Distemper sabikanya dirawat oleh dokter hewan. Antibiotik harus digunakan untuk mencegah infeksi bakteri sekunder. Pengobatan suportif, termasuk cairan intravena untuk mengoreksi dehidrasi, obat-obatan untuk mencegah muntah dan diare dan antikonvulsan dan obat penenang untuk mengontrol kejang. Hasilnya tergantung pada seberapa cepat pemilik hewan mencari bantuan profesional, virulensi dari strain distemper, usia anjing, vaksin, dan kemampuan hewan untuk pembentukan imun yang cepat dan efektif untuk menghadapi virus.

PENCEGAHAN
Vaksinasi terhadap distemper hampir 100% melindungi. Semua anak-anak anjing harus divaksinasi usia 8 minggu. Anjing betina yang hamil harus diberikan DHPP

(distemper, hepatitis, parvovirus, parainfluenza dan kombinasi) suntikan booster dua sampai empat minggu sebelum melahirkan. Hal ini memastikan bahwa tingkat antibodi tinggi akan hadir dalam kolostrum. Namun, beberapa dokter hewan percaya booster ini vaksin tambahan tidak diperlukan. Semua anak-anak anjing harus divaksinasi usia 8 minggu. Anjing betina yang hamil harus diberikan DHPP (distemper, hepatitis, parvovirus, parainfluenza dan kombinasi) suntikan booster dua sampai empat minggu sebelum melahirkan Beberapa Jenis Vaksinasi Anjing Jenis Vaksinasi Penyakit-penyakit Waktu

Vaksinasi DP Vaksinasi PiBr

Distemper dan Parvovirus Parainfluenza dan Bordetella Distemper, Hepatitis, Leptospirosis dan

6-8 minggu 10-12 minggu

Vaksinasi DHLPI Vaksinasi DHLPII+R

Parvovirus Distemper, Hepatitis, Leptospirosis, Parvovirus dan Rabies

14-16 minggu

20 minggu

Referensi
Dharmojono H. 2011. Kapita Selekta Kedokteran Veteriner 1. Jakarta: Pustaka Populer Obor Veronica

Fraser CM et al. 1991. The Merck Veterinary Manual. USA: Merck & Co., Inc

Tilley LP. FWK Smith. 2010. The 5 Minute Veterinary Consult, Canine and Feline. Baltimore : Wiliams & Wilkins Company.

Vetcentric. 2012. Canine Distemper Virus, Hard Pad Disease.

Yesi., I Made Kardena., I Ketut Berata. 2013. Gambaran Histopatologi Penyakit Distemper pada Anjing Umur 2 sampai 12 bulan. Indonesia Medicus Veterinus 2013 2(5) : 528 - 537 ISSN : 2301-7848